Kerugian ekonomi pada usahatani akibat e

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MERAPI

Kerugian ekonomi pada usaha tani akibat erupsi Merapi dapat berupa kerugian langsung karena tanaman dan ternak mati, penurunan produksi, dan turunnya harga jual pada kondisi bencana. Kerugian pada tingkat petani mencapai puluhan juta rupiah, sedangkan tingkat regional mencapai triliunan rupiah..

Saat bencana Merapi setidaknya ada tiga faktor utama yang dihadapi petani, yaitu kondisi tempat tinggal yang rusak, lahan usaha yang rusak dan tidak berproduksi dan berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga dan kelembagaan usaha tidak berfungsi.

Kerusakan atau kerugian yang dialami petani menimbulkan berbagai permasalahan yang penting segera ditangani, terutama perubahan ekonomi, pola hidup berubah sehingga penanganan dan pendekatan bukan saja secara akademik tetapi secara kultural dalam relokasi korban/berpindah pemukiman maupun peralihan sistem usahatani, dari tanaman pangan ke tanaman perkebunan.

Dengan lahan yang sempit produksi pertanian akan tidak mampu untuk mencukupi biaya hidup keluarga tani. Tanah yang sempit menyebabkan biaya produksi terlalu tinggi (high cost) dibanding dengan per satuan tanah yang luas, baik ditinjau dari segi tenaga kerja, penggunaan bibit, pemupukan, biaya penanggulangan hama dan penyakit maupun biaya peralatan dengan daya manfaat rendah.

Tanah yang sempit menyebabkan efisiensi penggunaan mekanisasi pengolahan tanah tidak efektif. Banyaknya pematang, salah satu faktor mengurangi lahan efektif. Dapat dibayangkan dengan luasan 1000 m2, dengan lebar pematang 40 cm, kali panjang luasan tanah 1000 m2 dengan pematang dapat mencapai 240 m Sehingga luas tanah untuk pematang mencapai 96 m2 sendiri yang tidak berfungsi sebagai lahan penghasil produk pertanian.

Selain tersebut diatas kehilangan produksi dapat mencapai 20% sehingga biaya produksi bila dikurangi dengan hasil panen yang dicapai rata-rata 4,53 ton/Ha, maka akan mengalami pendapatan yang minus.

(2)

Dalam kasus erupsi merapi, faktor yang paling dominan adalah adanya perubahan lingkungan akibat bencana alam dan perubahan kuantitas dan kualitas sumberdaya.

DAMPAK PADA SEKTOR PERTANIAN

Material erupsi Merapi yang memengaruhi pertanian, terdiri atas (1) pasir abu vulkanis yang terdeposit dilahan pertanian, atau menutupi pertnaman; (2) lahar dingin, yang secara fisik langsung merusak pertanaman; dan (3) awan atau lahar panas.

Dampak erupsi Merapi menyebabkan kerugian pada berbagai komoditas pertanian, dan yang terbesar penyebab kerusakan adalah banjir lahar dingin.

Kerusakan atau kerugian yang dialami petani menimbulkan berbagai permasalahan yang penting segera ditangani, terutama perubahan ekonomi, pola hidup berubah sehingga penanganan dan pendekatan bukan saja secara akademik tetapi secara kultural dalam relokasi korban/berpindah pemukiman maupun peralihan sistem usaha tani, dari tanaman pangan ke tanaman perkebunan.

Berdasarkan landasan teori yang sudah diuraikan, maka diajukan hipotesis untuk diuji sebagai berikut :

1) Terdapat perbedaan yang nyata pendapatan usahatani kopi petani kopi sebelum dan sesudah erupsia Gunung Sinabung.

2) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental keluarga petani kopi terhadap hakekat pendidikan sebelum dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.

(3)

4) Terdapat perbedaan yang nyata orientasi nilai budaya dan sikap mental keluarga petani kopi terhadaphakekat perumahan sebelum dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.

5) Terdapat perbedaan yang nyataorientasi nilai budaya dan sikap mental nyata keluarga petani kopi terhadaphakekat kepemilikan lahan sebelum dan sesudah erupsi Gunung Sinabung.

Menurut catatan BPPTKG, tidak semua peristiwa erupsi Gunung Merapi mengakibatkan kerugian yang besar meskipun tetap ada kerusakan yang diakibatkan oleh material vulkanik. Kegiatan erupsi Gunung Merapi yang sehebat erupsi tahun 1930an adalah kegiatan erupsi ditahun 1960an, kemiripan ini bukan karena banyaknya korban jiwa, namun karena kekuatan erupsi itu sendiri, yaitu banyaknya material vulkanik yang dikeluarkan pada saat erupsi maupun lahar dingin. Pada erupsi 1960an banyak desa-desa di wilayah Kabupaten Magelang, tanah-tanah pertanian dan fasilitas publik yang rusak.

(Siti Alfiah Mukmin, “Kondisi Sosial Ekonomi Penduduk Sleman di Sekitar Gunung Merapi Tahun 1930-1969”. Skripsi, (Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM, 2003), tidak diterbitkan).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...