• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lowering Blood Cholesterol Levels Resulted from Sea-Shrimp’s Shell Supple- mentation (Palaemon Sp) in Rats Fed on Pig Oil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Lowering Blood Cholesterol Levels Resulted from Sea-Shrimp’s Shell Supple- mentation (Palaemon Sp) in Rats Fed on Pig Oil"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Penurunan Kadar Kolesterol Darah Akibat Suplementasi

Cangkang Udang Laut (

Palaemon

Sp) pada Tikus yang juga

Mendapatkan Minyak Babi

Lowering Blood Cholesterol Levels Resulted from Sea-Shrimp’s Shell

Supple-mentation (Palaemon Sp) in Rats Fed on Pig Oil

Taufiq R. Nasihun1* dan Eni Widayati2

ABSTRACT

Background: Hypercholesterolemia is the most important risk factor for coronary heart disease. Chitosan dietary supplementations demonstrate that the cholesterol decreases after binding lipid and cholesterol and inhibiting their absorption. Effect of CUL to lower cholesterol levels is still unclear. The aim of the present study was to prove that total cholesterol (CT), Low Density Lipoprotein (LDLc), Triglyceride (TG), and increasing of High Density Lipoprotein (HDLc) level are resulted from CUL supplementation which is given with pig oil simultaneously.

Design and Method: Twenty seven rats (200 gr) were included in a Post Test Control Group Design study. The rats wererandomly divided into 3 groups of 9 rats each . Group A was as a control, group B was treated with 15% CUL supplementation, and group C was treated with 30% CUL supplementation. A week after rat’s acclimatization, the CUL supplementation was given for 45 consecutive days in ad libitum manner. Measurement of the CT, LDLc, HDLc, and TG levels were undertaken at the final day of CUL supplementation.

Results: The present study demonstrated that CT, LDLc, and TG levels in CUL 15% and 30% supplementation ware significantly lower (p = 0.000) compared to that of un-supplemented group. Meanwhile HDLc levels underwent significant elevation (p = 0.000) compared to the un-supplemented group. The discriminant analysis showed that CT and LDLc were the discriminant variables among four dependent variables. This result suggested that CT and LDLc variables having a direct correlation were resulted from CUL supplementation. Thus, elevation of CT levels was followed by the increase in LDLc levels. On the other hand lowering of CT was followed by decrease in LDLc. Because of univariate analysis upon HDLc and TG level resulted in significant difference, so elevation of HDLc and decrease in TG remain the importance parameters for dyslipidemia.

Conclusion: Lowering of CT, LDLc, TG and enhancing HDLc level are resulted from supplementation with CUL 15% and 30% for 45 consecutive days in rats has been proven (Sains Medika, 2(2):134-150).

Key Words: sea-shrimp’s shell, CT, LDLc, HDLc, TG

ABSTRAK

Pendahuluan: Hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko yang sangat penting untuk PJK. Suplementasi chitosan mampu menurunkan kadar kolesterol setelah mengikat dan menghambat absorbsi lemak dan kolesterol. Efek cangkang udang laut (CUL) untuk menurunkan kadar kolesterol masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan penurunan kadar kolesterol total (CT), Low Density Lipoprotein (LDLc), Trigliserid (TG), dan peningkatan kadar High Density Lipoprotein (HDLc) akibat suplementasi CUL yang diberikan bersama dengan minyak babi.

Metode Penelitian: Dua puluh tujuh ekor tikus umur 60 hari dengan berat badan (BB) + 200 gram dimasukkan sebagai sampel dalam penelitian Post Test Control Group Design. Tikus dibagi menjadi 3 group masing-masing terdiri dari 9 ekor. Group A sebagai kontrol, group B suplementasi CUL 15%, dan group C suplementasi CUL 30%. Setelah satu minggu aklimatisasi tikus diberi pakan sesuai groupnya secara ad libitum selama 45 hari berturut-turut. Pengukuran kadar CT, LDLc, HDLc, dan TG dilakukan di akhir suplementasi CUL.

Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar CT, LDLc, dan TG pada suplementasi CUL 15% dan 30% lebih rendah secara bermakna (p = 0.000) dibanding tanpa suplementasi. Di sisi lain kadar HDLc

Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang Email: [email protected]

Bagian Kimia Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang 1

(2)

mengalami peningkatan yang bermakna (p = 0.000) dibanding tanpa suplementasi. Analisis diskriminan menunjukkan bahwa kadar CT dan LDLc merupakan faktor diskriminan diantara empat variabel. Analisis pola hubungan menunjukkan bahwa peningkatan kadar CT diikuti oleh peningkatan kadar LDLc. Sebaliknya penurunan kadar CT diikuti oleh penurunan kadar LDLc. Mengingat HDLc dan TG secara univariat masing-masing menunjukkan peningkatan dan penurunan yang bermakna (p = 0.000) maka kedua variabel tersebut tetap menjadi parameter dislipidemia.

Kesimpulan: Penurunan kadar CT, LDLc, TG, dan peningkatan kadar HDLc akibat suplementasi CUL sebanyak 15% dan 30% terbukti (Sains Medika, 2(2):134-150).

Kata Kunci: Cangkang udang laut (CUL), CT, LDLc, HDLc, TG

PENDAHULUAN

Penyakit jantung koroner (PJK), penyakit cerebrovaskuler, dan penyakit vaskuler

perifer masih merupakan penyebab kematian yang menonjol. Berbagai faktor risiko

yang mendasari adalah hiperkolesterolemia, merokok, hipertensi, insulin resisten dengan

atau tanpa diabetes mellitus, umur, dan riwayat keluarga (genetik) (Mahley et al., 2008).

Hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko yang sangat penting dari berbagai faktor

risiko yang ada. Penurunan kadar kolesterol total sampai 160 mg/dl mampu menurunkan

risiko PJK sampai 85%, meskipun terdapat faktor risiko lain (Greenland et al., 2003; Khot

et al., 2003). Peran kolesterol sebagai faktor risiko PJK yang dominan menyebabkan

konsep diet rendah kolesterol diterima secara international. Hal ini disebabkan karena

diet tinggi kolesterol dan lemak terutama lemak jenuh binatang menyebabkan peningkatan

kadar kolesterol darah, begitu pula sebaliknya. Di sisi lain konsekuensi dari kadar

kolesterol darah yang rendah menyebabkan risiko PJK juga rendah. Cangkang udang laut

(CUL) yang sering dibuang sebagai limbah ternyata mengandung kitin-kitosan yang cukup

tinggi (Kurita, 2006; Yin et al., 2009). Kitin-kitosan adalah campuran kitin 20% dan kitosan

80% (Han et al., 1999). Kitosan adalah polisakarida D glukosamin yang mudah diperoleh

dari deasetilasi kitin (Kato et al., 2003). Kitosan sering dipromosikan sebagai produk

untuk menurunkan kadar kolesterol darah dan penurunan berat badan dengan cara

mengikat dan mengendapkan lemak dalam usus serta menurunkan absorbsinya (Shields

dan Pharm, 2003). Cara kerja kitosan tersebut memicu banyak penderita

hiperkolesterolemia dan overweight berminat menggunakannya, mengingat tanpa harus

merubah gaya hidup. Sayangnya hasil studi tentang efek kitosan apalagi CUL untuk

menurunkan kadar kolesterol darah masih belum sepenuhnya jelas.

Pembuktian efek penurunan kolesterol oleh CUL menjadi sangat penting, mengingat

(3)

yang dikeluarkan oleh National Health and Nutrition Survey (NHANES) menunjukkan bahwa

13,7 juta orang di USA menderita PJK, separuh dari mereka menderita miocard infark dan

separuhnya menderita angina pectoris. Prevalensi ini makin meningkat sesuai dengan

pertambahan usia dan jenis kelamin. Peningkatan tersebut berkisar antara 7% pada

usia 40 th – 49 th dan 22% pada usia 70 th – 79 th pada pria. Sedangkan pada wanita

sedikit lebih rendah yaitu masing-masing 5% pada usia 40 th – 49 th dan 14% pada usia

70 th – 79 th (Wilson & Douglas, 2010). Angka prevalensi ini diduga kuat juga berlaku di

Indonesia, mengingat sebagian besar gaya hidup orang Indonesia sudah menyerupai

gaya hidup orang USA. Olah raga teratur dengan diet rendah lemak dan kolesterol mampu

menurunkan kadar kolesterol darah, namun sebagian besar orang gagal melaksanakan,

sehingga tetap perlu menggunakan obat penurun cholesterol (Bokura dan Kobayashi,

2003). Obat yang sering digunakan adalah golongan Hydroksi Methyl Glutaryl Co.A (HMG.

Co.A) reduktase inhibitor. Obat ini terbukti mampu mengurangi risiko PJK atau penyakit

serebrovaskuler melalui penurunan kadar kolesterol darah. Selain mahal, ternyata HMG

Co.A reduktase inhibitor mempunyai efek samping myopathy dengan atau tanpa

rabdomyolysis (Lee dan Maddix, 2001). Oleh karena itu pengobatan hiperkolesterolemia

dengan CUL yang mengandung kitin-kitosan ini akan menjadi alternatif yang murah dan

lebih aman, tanpa direpotkan oleh pengaturan jadwal olah raga maupun diet yang ketat.

Kitosan adalah polisakarida alam yang tersusun dari ikatan β 1,4 residu

glukosamin, suatu biopolymer yang banyak terdapat pada ekoskeleton crustacea. Oleh

karena itu untuk memperoleh kitosan cukup dengan menghidrolisis kitin dari udang

sehingga menyebabkan deasetilasi group aminoasetyl dan menghasilkan kitosan (Yin et

al., 2009; Muzarrelli et al., 1994; Sugano et al., 1980). Kitin-kitosan adalah polimer yang

masing-masing mengandung lebih dari 5000 gugus glukosamin dan acetylglukosamin

dengan berat molekul lebih dari satu juta Dalton. Kitin-kitosan adalah polisakarida

yang tersedia berlimpah di alam, jumlahnya hanya sedikit di bawah selulosa (Han et al.,

1999; Kato et al., 2003). Sebagaimana sifat selulosa, kitosan adalah bahan yang larut

air dan mempunyai susunan kimia seperti selulosa (Shields dan Pharm, 2003). Kitosan

yang mengandung gugus amino adalah bahan yang bermuatan positif pada saluran

cerna yang mampu melakukan ikatan ionik (DerMardoresian dan Beutler, 2002).

(4)

sehingga memungkinkan pembentukan ikatan ionik tersebut (Fruda dan Brine, 1990).

Oleh karena itu kitosan akan mampu mengikat molekul yang bermuatan negatif seperti

lemak dan asam empedu sehingga mengurangi absorbsi dan deposit lemak dalam tubuh.

Ketika dimakan dan masuk ke dalam lambung, kitosan berkembang menjadi partikel

lapis HCL. Setelah sampai di duodenum partikel HCL yang terbungkus kitosan mengalami

pelarutan. Akibat pelarutan tersebut partikel kitosan menyebar, kemudian mengadakan

ikatan dengan lemak dan kolesterol untuk membentuk endapan. Konsekuensi dari

pembentukan endapan tersebut, maka absorbsi lemak dan kolesterol dalam usus tidak

dapat berlangsung, bahkan diekresikan melalui faeses (Bokura dan Kobayashi, 2003).

Berbagai studi pada binatang coba menunjukkan bahwa pemberian kitosan dapat

meningkatkan jumlah lemak yang dibuang melalui faeses (Sugano et al., 1980). Studi

secara in vitro bahkan membuktikan bahwa kitosan mampu mengendapkan misel lipid

sebanyak 4 – 5 kali berat kitosan, termasuk garam empedu, cholesterol, dan trigliserid.

Studi pada tikus juga memberikan gambaran bahwa pemberian kitosan mampu

menunjukkan aktivitas penurunan kadar kolesterol darah (Kanauchi et al., 1995). Hasil

studi Bokura dan Kobayashi secara double blind, placebo controlled pada wanita juga

menunjukkan penurunan kadar kolesterol darah meskipun ringan (Bokura & Kobayashi,

2003). Mengacu pada hasil studi tersebut, maka pemberian CUL yang mengandung

kitin-kitosan sebagai suplemen makanan diduga kuat mampu menurunkan kadar kolesterol

darah.

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Post Test only Control Group Design

dengan sampel 27 ekor tikus jantan dan betina galur Wistar umur 2 bulan dengan berat

badan (BB) + 200 gram. Sampel dibagi menjadi 3 group secara random masing-masing

terdiri dari 9 ekor (ditentukan menurut formula Federer). Group A, mendapatkan ransum

makanan yang terdiri dari tepung beras 60%, susu skim laktona 30%, minyak babi 10%

dan sedikit garam dapur per 100 gram pakan (kontrol). Group B, mendapatkan ransum

makanan terdiri dari tepung beras 60%, susu skim laktona 15%, tepung CUL 15%, minyak

babi 10% dan sedikit garam dapur per 100 gram pakan (perlakuan satu). Group C,

(5)

babi 10% dan sedikit garam dapur per 100 gram pakan, (perlakuan dua). Tikus kemudian

dimasukkan ke dalam kandang secara koloni sesuai dengan group masing-masing selama

satu minggu untuk menjalani aklimatisasi pada temperatur 20°C – 25°C. Selama

aklimatisasi makanan yang diberikan adalah makanan tikus sehari-hari dan air berasal

dari Perusahaan Daerah Air Minum yang disediakan untuk air minum tikus secara ad

libitum. Setelah satu minggu aklimatisasi tikus diberi pakan yang telah disiapkan secara

ad libitum selama 45 hari berturut-turut. Di akhir penelitian pada setiap tikus dilakukan

pengambilan darah dengan tabung mikrohematokrit sebanyak 2 ml melalui sinus orbitalis

kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi. Tabung reaksi kemudian disentrifugasi

dengan kecepatan 3000 rpm untuk memisahkan serum dengan berbagai sel darah. Kadar

Kolesterol total (CT), Low Density Liporotein Cholesterol (LDLc), High Density Lipoprotein

Chlesterol(HDLc) dan Trigliserida (TG) kemudian diperiksa.

Untuk membedakan apakah terdapat perbedaan kadar TC, LDL, HDL, dan TG secara

bermakna di antara group dilakukan analisis statistik Manova, kemudian dilanjutkan

dengan uji poshoct HSD Tukey. Untuk menentukan variabel CT, LDLc, HDLc, dan TG sebagai

pembeda dilakukan uji diskriminan. Sedangkan untuk melihat pola hubungan antara

dua variabel pembeda dilakukan dengan mengalikan rerata CT dan LDLc dengan model

fisher linier. Semua analisis dilakukan dengan metode SPSS 13 dengan taraf kepercayaan

95%.

HASIL PENELITIAN

Tikus yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus jantan dan betina galur

Wistar umur 2 bulan yang dibiakkan secara inbreed, sehingga variabilitas umur dan

genetik dapat diabaikan. Sedangkan BB tikus bervariasi sehingga perlu diseimbangkan

dengan melakukan penimbangan sebelum dilakukan penelitian. Hal ini perlu dilakukan

mengingat BB dapat mempengaruhi kadar CT, HDL, LDL, TG, dan dosis suplementasi CUL.

Hasil penimbangan menunjukkan bahwa BB tikus berkisar antara 230 gram sampai 250

gram. Tikus tersebut kemudian dibuat group secara multi stagerandom sampling menjadi

3 group masing-masing terdiri dari 9 ekor, sehingga tiap group mempunyai rerata BB

(6)

Tabel 1. Data Dasar BB Sampel Sebelum Diberi Perlakuan

Untuk menentukan bahwa rerata BB dalam tiap group tersebut adalah sebanding,

maka perlu dilakukan uji statistik. Mengingat uji normalitas dan homogenitas terhadap

data BB masing-masing dengan Kolmogorov Smirnov goodness of fit dan Levene test

menunjukkan angka yang tidak bermakna (p = 0.479; 0.742) berarti data tersebut normal

dan homogen. Merujuk pada uji statistik tersebut maka uji yang tepat adalah uji anova.

Hasil uji anova memperlihatkan bahwa ketiga group tersebut tidak menunjukkan

perbedaan rerata BB yang bermakna (p = 0.911). Hal ini menggambarkan bahwa 3 group

tersebut mempunyai BB yang setara sehingga memungkinkan untuk dibandingkan. Seluruh

tikus yang terlibat dalam penelitian dapat diamati hingga selesai, tidak ada yang sakit

menurut pengamatan luar. Setelah pemberian suplementasi selama 45 hari didapatkan

hasil rerata kadar CT, HDLc, LDLc, dan TG seperti tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Rerata CT, HDLc, LDLc, dan TG tiap Group

Hasil pada Tabel 2 tersebut memperlihatkan bahwa rerata CT, HDLc, LDLc, dan TG

pada masing-masing kelompok adalah berbeda. Hasil analisis uji Manova dengan

prosedur Wilk Lambda pada tiga kelompok menunjukkkan F hitung = 0.000 yang berarti

sangat bermakna. Hal ini menggambarkan bahwa rerata CT, HDLc, LDLc, dan TG di antara

group terdapat perbedaan yang sangat bermakna. Empat variabel tersebut secara

univariat juga menunjukkan perbedaan yang bermakna seperti yang diuraikan di bawah

(7)

Perbedaan Kolesterol Total

Hasil pemeriksaan terhadap CT tikus seperti tertera pada tabel 2 memperlihatkan

bahwa rerata CT tertinggi adalah group A yang diikuti oleh group group B, dan terendah

adalah group C. Untuk mengetahui tingkat kemaknaan perbedaan kadar CT tersebut

digunakan uji statistik Post Hoct Tukey HSD.

Hasil uji statistik Post Hoct Tukey HSD menunjukkan bahwa kadar CT pada group

A lebih tinggi secara bermakna (p = 0.000) dibanding group B dan C. Hal ini

menggambarkan bahwa group A yang mendapatkan ransum yang terdiri dari tepung

beras 60%, susu skim laktona 30%, dan minyak babi 10% per 100 gram pakan benar dan

dapat dipakai sebagai standar baku emas (kontrol). Kadar CT pada group B lebih rendah

secara bermakna (p = 0.000) dibanding group A dan lebih tinggi secara bermakna (p =

0.000) dibanding group C. Hasil ini menunjukkan bahwa group B dengan ransum makanan

yang mengandung suplemen tepung CUL 15% dari total volume makanan mampu

menurunkan kadar CT setelah selama 45 hari mengkonsumsi, yang diberikan bersama

dengan minyak babi sebanyak 10%.

Perbedaan HDLc

Hasil pemeriksaan terhadap HDLc seperti tertera pada Tabel 2 memperlihatkan

bahwa rerata HDLc tertinggi terjadi pada group C yang diikuti oleh group group B, dan

terendah adalah group A.

Hasil uji statistik Post Hoct Tukey HSD menunjukkan bahwa kadar HDLc pada

group C lebih tinggi secara bermakna (p = 0.000) dibanding group B dan A. Kadar HDLc

pada group B lebih tinggi bermakna (p = 0.000) dibanding group A, tetapi lebih rendah

secara bermakna (p = 0.000) dibanding group C. Sementara kadar HDLc pada group A

lebih rendah bermakna (p = 0.000) dibanding group B maupun A. Hal ini menggambarkan

bahwa group B dan C yang mendapatkan suplemen CUL sebanyak 15% dan 30% dari total

volume makanan mampu meningkatkan kadar HDLc. Keseluruhan hasil ini

menggambarkan bahwa mengkonsumsi suplemen CLU sebanyak 15% dan 30% dari total

ransum perhari selama 45 hari mampu meningkatkan kadar HDLc yang rendah karena

(8)

Perbedaan LDLc

Pemeriksaan terhadap kadar LDLc darah memperlihatkan bahwa rerata LDLc

terendah terjadi pada group C yang diikuti oleh group group B, dan tertinggi adalah

group A.

Hasil uji statistik Post Hoct Tukey HSD menunjukkan bahwa kadar LDLc pada

group C lebih rendah secara bermakna (p = 0.000) dibanding group A dan B. Kadar LDLc

pada group B lebih rendah bermakna (p = 0.000) dibanding group A, tetapi lebih tinggi

secara bermakna (p = 0.000) dibanding group C. Sementara kadar LDLc pada group A

lebih tinggi bermakna (p = 0.000) dibanding group B maupun C. Hal ini menggambarkan

bahwa group B dan C yang mendapatkan suplemen tepung CUL sebanyak 15% dan 30%

dari total volume makanan mampu menurunkan kadar LDLc. Keseluruhan hasil ini

menggambarkan bahwa mengkonsumsi suplemen tepung CLU sebanyak 15% dan 30%

dari total ransum perhari selama 45 hari pada tikus galur Wistar mampu menurunkan

kadar LDLc yang tinggi akibat mengkonsumsi minyak babi sebanyak 10%.

Perbedaan Trigliserida (TG)

Hasil pemeriksaan terhadap kadar TG darah memperlihatkan bahwa rerata kadar

TG terendah terjadi pada group C yang diikuti oleh group group B, dan tertinggi adalah

group A.

Hasil uji statistik Post Hoct Tukey HSD menunjukkan bahwa kadar TG pada group

C lebih rendah secara bermakna (p = 0.000) dibanding group A dan B. Kadar TG pada

group B lebih rendah bermakna (p = 0.000) dibanding group A, tetapi lebih tinggi secara

bermakna (p = 0.000) dibanding group C. Sementara kadar TG pada group A lebih tinggi

bermakna (p = 0.000) dibanding group B maupun C. Hal ini menggambarkan bahwa

group B dan C yang mendapatkan suplemen tepung CUL sebanyak 15% dan 30% dari total

volume makanan mampu menurunkan kadar TG. Keseluruhan hasil ini menggambarkan

bahwa mengkonsumsi suplemen tepung CLU sebanyak 15 dan 30% dari total ransum per

hari selama 45 hari pada tikus galur Wistar mampu menurunkan kadar TG yang tinggi

(9)

Faktor Pembeda

Hasil analisis statistik manova menunjukkan bahwa terjadi perbedaan kadar

CT, HDLc, LDLc, dan TG yang sangat bermakna di antara 3 group. Untuk menentukan

variabel mana yang menjadi faktor diskriminan di antara group perlu dilakukan analisis

diskriminan.

Hasil analisis diskriminan (data lengkap tidak ditunjukkan) menggambarkan

bahwa variabel yang dimasukkan pertama kali adalah CT yang mempunyai angka Wilk’s

ë paling tinggi 0.000, kemudian diikuti oleh variabel LDLc (0.000). Hal ini menggambarkan

bahwa varians yang tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan antar group makin kecil

sesuai dengan prinsip model diskriminan. Selain itu secara statistik terbukti mempunyai

tingkat kebermaknaan yang sangat tinggi (p = 0.000). Hasil analisis ini menggambarkan

bahwa kedua variabel (CT dan LDLc) tersebut sangat berbeda pada tiap group. Mengacu

pada hasil tersebut maka dapat disusun model regresi fisher linier seperti tertera pada

Tabel 3.

Tabel 3. Persamaan Fungsi Fisher’s Linier Discriminant

Tabel 3 tersebut memperlihatkan bahwa di antara empat variabel tergantung

dalam penelitian ini, yang menjadi faktor diskriminan atau menjadi pembeda di antara

group adalah variabel CT dan LDLc, sedangkan variabel TG dan HDLc bukan merupakan

faktor diskriminan. Penetapan ini menjadi lebih kuat dan pasti setelah dilakukan uji

Kelayakan Fungsi Diskriminan. Jumlah group yang telah ditetapkan adalah 3 group,

setiap group terdiri dari 9 anggota group. Hasil analisis tersebut memperlihatkan bahwa

100% dari 27 data yang diolah telah sesuai dengan group pada awal penetapan group.

Validasi silang dari analisis tersebut juga menunjukkan angka 100%, jauh di atas 50%

sebagai batas (standar). Hasil ini memberi gambaran bahwa 100% dari 27 data yang

(10)

maka penentuan fungsi diskriminan yang dipakai untuk membedakan ketiga group adalah

tepat dan layak.

Hal lain yang menarik dan perlu diketahui adalah bagaimana pola hubungan

antara kedua variabel yang menjadi faktor pembeda tersebut pada tiap group. Merujuk

pada analisis diskriminan sebagaimana tersebut di atas, maka pola hubungan antara

kedua variabel tersebut dapat disusun berdasarkan perkalian antara rerata kadar CT

dan LDLc dengan model fisher linier (data tidak ditunjukkan) dengan hasil seperti terlihat

pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Pola hubungan CT dan LDLc di antara Group

Kadar CT pada group A yang tinggi diikuti oleh kadar LDLc yang tinggi pula.

Sementara pada group B dan C memperlihatkan bahwa penurunan kadar CT juga diikuti

oleh penurunan kadar LDLc. Berdasarkan pada hasil pola tersebut maka dapat dinyatakan

bahwa pemberian suplementasi tepung CLU sebesar 15% dan 30% pada tikus galur Wistar

dapat menurunkan kadar CT dan diikuti oleh kadar LDLc. Sementara kadar HDLc dan TG

tidak termasuk sebagai faktor diskriminan sehingga tidak mempunyai korelasi langsung

dengan kadar CT dan LDLc.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pemberian suplementasi

tepung CUL sebanyak 15% dan 30% selama 45 hari pada tikus galur Wistar yang secara

(11)

mampu menurunkan kadar CT, LDLc, TG, dan meningkatkan kadar HDLc. Hasil penelitian

ini sejalan dengan penelitian yang dilaporkan oleh Bokura dengan menggunakan kitosan

murni. Laporan tersebut menyatakan bahwa pemberian kitosan dengan dosis 1.2 g perhari

selama 8 minggu mampu menurunkan kadar CT. Penurunan CT dan LDLc bahkan sangat

bermakna pada wanita usia tua (> 60 th) (Bokura dan Kobayashi, 2003). Pilot study yang

dilakukan oleh Maezaki pada 8 pria sehat juga menunjukkan hasil yang sama. Delapan

pria diberi suplementasi kitosan satu gram bersama dengan 3 biskuit perhari selama 7

hari setelah 3 hari sebelumnya mendapatkan plasebo. Setelah itu sampel mendapatkan

6 biskuit per hari selama 7 hari, kemudian diikuti oleh pemberian plasebo dan biskuit

selama 3 hari. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar CT dan

peningkatan kadar HDLc selama pemberian suplementasi kitosan. Kadar CT dan HDLc

kembali meningkat pada 3 hari terakhir yaitu pada pemberian plasebo dan biskuit.

Sedangkan TG dan asam empedu yang dikeluarkan bersama feses tidak menunjukkan

perbedaan (Maezaki et al., 1993). Studi lain yang dilakukan oleh Woulijoki et al. pada 53

wanita sehat menunjukkan bahwa pemberian kitosan microcrystalline dengan dosis 1.2

gr perhari selama 8 minggu secara double blind tidak memberikan hasil yang berbeda

pada kadar CT, LDLc, TG, dan BB antara kitosan dengan plasebo. Di sisi lain kadar HDLc

pada pemberian kitosan menunjukkan peningkatan yang bermakna pada sampel yang

mempunyai body mass index (BMI) lebih dari 30 kg/m2 (Woulijoki et al., 1999). Berbagai

studi lain dengan metode plasebo-control, double blind trial yang melibatkan 80-90 orang

dewasa sehat dengan obesitas ringan yang disertai dengan pembatasan kalori sampai

1000 kkal per hari menunjukkan bahwa pemberian kitosan dua kapsul per hari mampu

menurunkan kadar CT, LDLc, TG, dan meningkatkan kadar HDLc. Sayangnya dalam

penelitian tersebut tidak menyebutkan jumlah gram kitosan yang digunakan (Veneroni et

al., 1996; Colombo dan Sciutto, 1996).

Pertanyaan yang muncul adalah apakah perbaikan profil lipid pada penelitian

tersebut lebih disebabkan oleh kitosan atau oleh restriksi kalori. Pertanyaan tersebut

terjawab oleh hasil studi yang dilakukan oleh Macchi. Hasil studi Macchi secara

randomized control trial, double blind pada 30 sampel obes dengan membandingkan

group yang mendapatkan kitosan 1.2 gr dengan diet biasa dan diet hipokalori (1200

(12)

gambaran bahwa terjadi penurunan kadar CT pada group kitosan baik group dengan

diet biasa maupun diet hipokalori. Sementara kadar TG mengalami penurunan hanya

pada group yang mendapatkan diet hipokalori (Macchi, 1996). Hasil studi ini menegaskan

bahwa kitosan dapat menurunkan CT baik dengan diet biasa maupun diet hipokalori.

Sedangkan penurunan kadar TG yang terjadi hanya pada diet hipokalori kembali

menegaskan bahwa chilomicron (CLM) mempunyai kontribusi yang cukup bermakna

pada sintesis TG. TG yang terbentuk dari esterifikasi asam lemak dan gliserol 3 fosfat,

adalah lemak cadangan yang disimpan dalam jaringan adiposa. Sumber utama TG adalah

CLM dari usus dan Very Low Density Lipoprotein (VLDL) dari hati yang dihidrolisis oleh

enzym lipoprotein lipase (LPL) menjadi asam lemak bebas (ALB). Enzim LPL disintesis sel

adiposa yang kemudian diangkut menuju ke permukaan sel endotel. TG dalam jaringan

adiposa secara terus-menerus mengalami pergantian melalui lipolisis membentuk ALB

dan gliserol fosfat, yang kemudian diambil kembali oleh jaringan adiposa untuk

membentuk TG baru (Botham dan Mayes, 2009).

Dalam keadaan istirahat asam lemak yang dilepas dalam sirkulasi melebihi

kemampuan oksidasinya, oleh karena itu selalu tersedia ALB dalam sirkulasi. Tujuan

dari penyediaan ALB dalam darah adalah untuk penyediaan energi yang diperlukan

pada saat aktifitas fisik yang terjadi sewaktu-waktu (Klein dan Romijn, 2008).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar TG mengalami penurunan yang

bermakna. Penurunan kadar TG ini diduga kuat lebih disebabkan oleh sifat tepung CLU

yang dapat mengendapkan lemak dan asam empedu dalam usus melalui ikatan ionik

(DerMardoresian dan Beutler, 2002; Furda dan Brine, 1990).

Konsekuensi dari pengendapan lemak tersebut, maka absorbsi dan sintesis CLM

dihambat sehingga kadar TG menurun. Kelemahan pada penelitian ini tidak sekaligus

mengukur jumlah endapan lemak dalam usus yang diekresikan bersama dengan feses.

Namun hasil studi yang dilakukan oleh Han et al. memperkuat dugaan tersebut. Hasil

studi Han et al. menunjukkan bahwa pemberian kitin-kitosan pada tikus yang

mendapatkan diet tinggi lemak mampu memperbaiki profil lipid dan penurunan BB

melalui hambatan absorbsi lemak dari usus (Han et al., 1999). Efek kitosan terhadap

pengendapan lemak dan hambatan absorbsi lemak dalam usus memang belum kongklusif.

(13)

pada tujuh pria sehat menunjukkan bahwa suplementasi kitosan tidak menunjukkan

peningkatan jumlah lemak yang dikeluarkan bersama feses, demikian pula dengan

hambatan absorbsinya (Gades dan Stern, 2002).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Ho et al. menunjukkan hasil yang tidak berbeda.

Penelitian yang dilakukan pada 88 sampel wanita obes dan hiperkolesterolemia secara

randomized control trial, double blind menunjukkan hasil bahwa pemberian shellfish

chitosan 257 mg 3 kali per hari selama 12 minggu tidak mampu memperbaiki profil lipid

dan penurunan BMI (Ho et al., 2001). Hasil studi Ho juga didukung oleh studi yang

dilakukan oleh Pittler pada 34 sampel overweight secara randomized placebo-controlled,

double blind selama 28 hari. Hasil studi ini memberi gambaran bahwa pemberian kitosan

1000 mg per hari selama 28 hari yang tidak disertai dengan merubah diet, tidak mampu

menurunkan BB maupun profil lipid (Pittler et al., 1999).

Hasil analisis diskriminan pada penelitian ini menunjukkan bahwa di antara 4

variabel kadar CT, HDLc, LDLc, dan TG yang menjadi faktor diskriminan adalah kadar CT

dan LDLc, sedangkan kadar TG dan HDLc tidak. Hal ini menggambarkan bahwa kadar CT

dan LDLc mempunyai korelasi langsung, sedangkan kadar TG dan HDLc tidak. Analisis

pola hubungan antara kadar CT dan LDLc menunjukkan bahwa penurunan kadar CT

diikuti oleh penurunan kadar LDLc, sedangkan peningkatan kadar HDLc dan penurunan

kadar TG tidak mengikuti pola tersebut. Mengingat secara univariat maupun multivariat

kadar HDLc dan TG menunjukkan hasil yang lebih tinggi secara bermakna, maka kadar

HDLc dan TG tetap mempunyai peran penting sebagai parameter dislipidemia. Berbagai

studi menunjukkan bahwa kadar TG mempunyai korelasi positif dengan insiden PJK. Di

sisi lain kadar HDLc mempunyai korelasi negatif dengan insiden PJK (Genest et al., 1991).

Efek provokatif TG lebih berhubungan dengan sintesis LDL dari VLDL yang di keluarkan

oleh hati ke dalam sirkulasi. Sedangkan efek protektif HDLc lebih disebabkan oleh peran

HDLc dalam reverse cholesterol transport. Tambahan lagi, HDLc juga berpotensi untuk

menghambat adhesi monosit dan bertindak sebagai antioksidan yang mencegah oksidasi

LDLc. Hal ini disebabkan karena HDLc mengandung paraoxonase dan PAF-AH yang bersifat

antioksidan. Di antara berbagai HDLc yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat

adalah HDL

3 (Mahley et al., 2008). Sebagai parameter dislipidemia seharusnya kadar CT,

(14)

gambaran yang berbeda. Sesuai dengan prinsip metode statistik, apabila tidak terjadi

korelasi langsung terhadap variabel yang secara biologis seharusnya berkorelasi, maka

untuk menimbulkan korelasi tersebut diperlukan unsur atau mekanisme lain yang

berperan sebagai perantara.

Terhadap kadar TG, yang dimaksud dengan unsur atau mekanisme lain diduga

kuat adalah peran sintesis CLM dalam usus. Bukti menunjukkan bahwa sumber TG dalam

sirkulasi adalah CLM dan VLDL. CLM dan sebagian kecil VLDL disintesis dalam usus,

sedangkan CT dan LDLc lebih dominan bersumber dari VLDL yang disintesis dalam hati

(Klein dan Komijn, 2008).

Terhadap kadar HDLc yang dimaksud dengan unsur atau mekanisme lain diduga

kuat adalah sintesis HDLc. Bukti menunjukkan bahwa HDL berasal dari tiga sumber.

Sumber pertama HDL adalah hati yang memproduksi HDL nascent (pre β HDL). Sumber

kedua adalah usus yang mensintesis secara langsung apo A1 yang mengandung partikel

HDL. Sumber yang ketiga adalah apo-A1 dan fosfolipid yang berasal dari permukaan

CLM dan VLDL yang mengalami lipolisis oleh enzim lipo protein lipase (LPL). Ketika CLM

dan VLDL mengalami lipolisis oleh LPL, TG inti dihidrolisis menjadi ALB dan gliserol,

sedangkan bahan sisa seperti fosfolipid, kolesterol, apo-A1 membentuk cakram HDL

kecil. Akibat pengendapan lemak dan hambatan absorbsi lemak oleh usus pada

suplementasi CUL menyebabkan sintesis CLM dan laju sintesis apo-A1 yang mengandung

partikel HDL usus menurun atau bahkan terhenti (Mahley et al., 2008). Konsekuensi dari

penurunan sintesis CLM dan HDL usus menyebabkan sumber TG dan HDLc hanya berasal

dari hati (pre β HDL) dan pemecahan sisa CLM maupun VLDL. Hal ini menyebabkan

reverse transport kolesterol dari jaringan ekstra hepatik ke hepar yang dimediasi oleh

scavenger receptor B1 (SR-B1) serta ATP binding cassete transporter A1 menjadi lebih

besar (Botham & Mayes, 2009), sehingga kadar HDLc

2 menjadi lebih tinggi, sementara

kadar TG menjadi sangat rendah. Mengacu pada uraian tersebut, maka mekanisme lain

yang dimaksud adalah sintesis CLM, VLDL, dan cakram HDL dalam usus yang oleh

pengendapan lemak dan hambatan absorbsinya akibat suplementasi CUL menyebabkan

TG dan HDL mempunyai pola yang berbeda dengan CT dan LDLc. Mengingat penelitian ini

tidak memeriksa jumlah lemak yang diekresikan melalui feses, sehingga tidak dapat

(15)

Namun berdasarkan pada studi yang dilakukan oleh Kobayashi et al. pada ayam broiler

menunjukkan bahwa pemberian kitosan menyebabkan penurunan aktivitas enzim lipase

dan absorbsi lemak dengan konsekuensi penurunan deposisi lemak tubuh (Kobayashi et

al., 2002). Di sisi lain hasil pilot study yang dilakukan oleh Maezaki memberi gambaran

yang berbeda bahwa jumlah TG dan asam empedu yang dikeluarkan bersama faeses

tidak menunjukkan perbedaan pada periode kitosan dan pada periode plasebo (Maezaki

et al., 1993). Tinjauan dari sisi rancangan studi hasil study Kobayashi et al. mungkin

lebih dapat diterima. Oleh karena itu untuk memastikan unsur atau mekanisme lain

yang menjadi perantara dalam penentuan korelasi antara CT dan LDLc dengan HDLc dan

TG masih perlu diteliti lebih lanjut.

KESIMPULAN

Berdasar pada hasil penelitian dan pembahasan tersebut di atas maka dapat

disimpulkan bahwa suplementasi CUL sebanyak 15% dan 30% dari total volume makanan

bersama dengan minyak babi sebanyak 10% selama 45 hari mampu menurunkan kadar

CT, LDL, TG, dan meningkatkan kadar HDLc. Variabel yang menjadi pembeda di antara

group adalah CT dan LDLc, sedangkan TG dan HDLc tidak. Hal ini menggambarkan bahwa

penurunan kadar CT akan diikuti oleh penurunan kadar LDLc, sedangkan kadar TG dan

HDLc tidak. TG dan HDLc tetap mempunyai arti penting, mengingat analisis multivariat

maupun univariat menunjukkan hasil yang sangat bermakna.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Rani Oktaviani NF, Lale Muliya,

Pamela, dan Sri Permanti yang telah mengizinkan datanya untuk dianalisis kembali

sehingga tulisan ini dapat diselesaikan. Semoga amal dan budi baik mereka diterima

oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa.

DAFTAR PUSTAKA

Bokura H, Kobayashi S., 2003, Chitosan Decreases Total Cholesterol in Women: a Randomize, Double Blind, Placebo-Controlled Trial, European Journal of Clinical Nutrition, 57; p. 721 - 25

(16)

Store of Tracylclycerol in The Body. In: Murray K, Bender DA, Botham KM, et al. Eds. Harper’s Illustrated Biochemistry, 28th edition. The McGraw-Hill Companies, p. 220

- 21

Botham KM, Mayes PA., 2009, Lipid Transport and Storage: HDL Takes Part in Both Lipoprotein Triacylglycerol and Cholesterol Metabolism, In: Murray K, Bender DA, Botham KM, et al. Eds. Harper’s Illustrated Biochemistry, 28th edition,The

McGraw-Hill Companies p. 216 - 17

Colombo P, Sciutto AM., 1996, Nutritional Aspect of Chitosan Employment In Hypocaloric Diet, Acta Toxicol Ther, 16; p. 287 – 302

DerMardoresian A, Beutler JA eds. Facts and Comparison: The Review of Natural Products, St Louis: Wolter Kluwer, 2002. Cited from ref. 8

Furda I, Brine CJ., 1990, New Developments In Dietary Fiber: Physiological and Analytical Aspect; American Chemical Society Meeting, Plenum Press: New York.

Gades MD, Stern JS., 2002, Chitosan Suplementation Does not Affect Fat Absorbtion in Healthy Males Fed a High-fat Diet, a Pilot Study, International Journal of Obesity, 26; p. 119 – 22.

Genest JJ, McNamara JR, Salem DN, Schaefer EJ., 1991, Prevalence of Risk Factor in Men with Premature Coronary Artery Disease, Am J Cardiol, 67; p. 1185 - 89

Greenland P, Knoll MD, Stamler J, et al., 2003, Major Risk Factor as Antecedents of Fatal and Nonfatal coronary Heart Disease Events, Jama, 290; p. 891 – 97.

Han LK, Kimura Y, Okuda H., 1999, Reduction in Fat Storage During Chitin-chitosan Treatment in Mice Fed a High Fat Diet, International Journal of Obesity, 23; p. 174 – 79

Ho SC, Tai ES, Eng PHK, et al., 2001, In the Ansence of Dietary Surveillance, Chitosan Does not Reduce Plasma Lipids or Obesity In Hypercholesterolemic Obese Asian subjects, Singgapore Med Journal, 42; p. 6 – 10

Kanauchi O, Deuchi K, Shizukuishi M, et al., 1995, Mechanism for inhibition of Fat by Chitosan and for The synergistic Efect of Ascorbat, Biosci Biotechmol Biochem, 59; p. 786 – 90.

Kato Y, Onishi H, Machida Y., 2003, Aplication of Chitin and Chitosan Derivatives in Pharmaceutical Firld, Current Pharmaceutical Biotechnology, 4; p. 303 – 09

Khot UN, Khot MB, Bajzer CT et al., 2003, Prevalence of Conventional Risk Factors in Patiens with Coronary Heart Disease, Jama, 290; p. 898 – 904

Klein S, Romijn JA., 2008, Adipose Tissue and Triglyceride Metabolism: Obesety. In: Kronenberg HM, Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR Eds. Williams Textbook of Endocrinology, Elsevier, p. 1567 - 69

Kobayashi S, Terashima Y, Itoh H., 2002, Effects of Dietary Chitosan on Fat Deposition and Lipase Activity in Digesta in Briler Chickens, British Poultry Science, 43; p. 270 - 73

(17)

Lee AJ, Maddix DS., 2001, Rhabdomyolysis Secundary to a Drug Interaction beween Simvastatin and Clarithromycin, Ann. Pharmacother, 35; p. 26 - 31

Macchi G., 1996, A New Approach to The Treatment of Obesity: Chitosan Effect on Bodyweight Reduction and Plasma Cholesterol levels, Acta Toxicol Ther, 16; p. 303 – 20.

Maezaki Y, Tsuji K, Nakagawa Y, et al., 1993, Hypercholesterolemic Effect of Chitosan in Adult Male, Biosci Biotech Biochem, 57; p. 1439 – 44

Mahley RW, Weisgraber KH, Bersot TP., 2008, Disorders of Lipid Metabolism: High Density Lipoprotein. In: Kronenberg HM, Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR Eds. Williams Textbook of Endocrinology, Elsevier, p. 1608 - 10

Mahley RW, Weisgraber KH, Bersot TP., 2008, Disorders of Lipid Metabolism: Lipid and Atherosclerosis. In: Kronenberg HM, Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR Eds. Williams Textbook of Endocrinology, Elsevier, p. 1610

Muzarrelli RA, Hari P, Petrarulo M., 1994, Solubility and Structure of N Carboxymethylchitosan, Int. J. Biol. Macromol, 16; p. 177 - 80

Pittler MH, Abbot NC, Harkness EF, Ernst E., 1999, Randomized, Double-blind Trial of Chitosan for Body Weight Reduction, European J of Clin Nutr, 53; p. 379 – 81.

Shields KM, Pharm D., 2003, Chitosan for Weight Loss and Cholesterol Management, Am J Health-Syst Pharm, 60; p. 1310 – 11

Sugano M, Fujikawa T, Hiratsuji Y, et al., 1980, A Novel Use of Chitosan as Hypocholesterolemic Agent in Rats, Am J Clin Nutr, 33; p. 787 – 93.

Veneroni G, Veneroni F, Contos S, et al., 1996, Effect of a New chitosan Dietary Integrator and Hypocaloric Diet on Hyperlipidemia and Overweight in Obese Patiens, Acta Toxicol Ther, 16; p. 53 – 70

Wilson PWF, Douglas PS., 2010, Epidemiology of Coronary Heart Disease, In: Gresh BJ,Pellika PA, Kaski JC, Saperia GM.Eds. Up to date.

Wuolijoki E, Hirvela T, Ylitalo P., 1999, Decrease in Serum LDL cholesterol with Microcrystalline Chitosan, Methods Find Exp Clin Pharmacol, 21; p. 357 – 61

Gambar

Gambar 1.Pola hubungan CT dan LDLc di antara Group

Referensi

Dokumen terkait

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai kaum pelajar untuk selalu mengingatkan kepada masyarakat guna dapat menggunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan

Toll-like receptors (TLR) termasuk kelompok glikoprotein yang berfungsi sebagai reseptor permukaan transmembran dan terlibat dalam respons imun alami terhadap mikroorganisme

Maka peneliti mendapatkan hasil mengenai strategi Try Out Online dari apa yang telah SMK Wikrama manfaatkan dari keunggulan teknologi informasi baik

Peran guru pada saat berlangsungnya ekspresi tersebut adalah mendampingi siswa untuk memberikan bantuan dan pujian bila diperlukan, Dalam kaitannya dengan penilaian karya siswa,

Iiya tadinya dia pengen aku berubah, tapi kayak aku bilang kayak iya sih, ya emang seperti ini kodratnya dia bilang, nggak lah kodrat itu Cuma, makanya kita

membandingkan besarnya taraf signifikan sebesar 0,05 maka 0,000 < 0,05 berarti dapat dikatakan bahwa ada pengaruh positif antara variabel total persediaan, total aktiva dan

Apakah selama ini kita udah ngejalani hidup ini dengan senantiasa melakukan gerakan secara mandiri yang punya arah tertentu, punya tujuan tertentu sehingga gerak kita pun