• Tidak ada hasil yang ditemukan

A 38 Years Old Man with Pterygium Temporalis Grade 3 Os

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "A 38 Years Old Man with Pterygium Temporalis Grade 3 Os"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Laki-laki 38 Tahun dengan Pterigium Temporalis Grade 3 OS

Toni Alie Ngena Pinem

Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak

Pterigium adalah kelainan pada konjungtiva bulbi, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif yang ditandai dengan keluhan mata iritatif, gatal, merah, sensasi benda asing dan mungkin menimbulkan astigmatisme atau obstruksi aksis visual yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan. Etiologi pasti pterigium masih belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor resiko pterigium antara lain adalah paparan ultraviolet, mikro trauma kronis pada mata, infeksi mikroba atau virus. Laki-laki, 38 tahun, datang dengan keluhan mata merah sejak 10 tahun yang lalu. Keluhan disertai mata berair dan perih ketika terkena angin dan seperti ada yang mengganjal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, compos mentis, tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 88 x/menit, pernafasan 22 x/menit. Pada status oftalmologis oculi dextra didapatkan visus 6/6, konjungtiva bulbi hiperemi (-) tampak selaput berwarna putih kemerahan berbentuk segitiga dari temporal dan apex melewati limbus dan tepi pupil. Pasien didiagnosis sebagai pterigium stadium III oculi sinistra, dengan penatalaksanaan non-medikamentosa dilakukan edukasi agar lindungi mata dari sinar matahari, debu, dan udara kering, dan dilakukan tindakan operatif. Prognosis pasien ini secara umum baik.

Kata kunci: oculi sinistra, Ptregium

A 38 Years Old Man with Pterygium Temporalis Grade 3 Os

Abstract

Pterygium is a disorder of the conjunctiva bulbi, conjunctival fibrovascular growth which is degenerative and invasive that marked by eye complaints irritating, itchy, red, foreign body sensation and may cause astigmatism or obstruction of the visual axis that will provide visual disturbance complaint. The etiology of pterygium is still not known certainty. Some risk factors for pterygium include ultraviolet exposure, chronic micro trauma to the eye, microbial or viral infection. Male, 38 years old, came with red eyes since 10 years ago. The complain accompanied with watery eyes, sore when exposed to wind and uncomfort sensation in the eye. On physical examination found a good general condition, compos mentis, blood pressure 120/70 mm Hg, pulse 88 x/min, breathing 22 x/min. At the ophthalmological status oculi sinistra 6/6 on vision, conjunctival hyperemia bulbi (-) appear reddish white membrane of the temporal and triangular apex passing the limbus and the edge of the pupil. Patients diagnosed as pterygium temporalis grade III oculi sinistra, the management of non-medical education is education in order to protect the eyes from sunlight, dust, dry air, and operative action. The prognosis of these patients is generally good.

Keywords: oculi sinistra, pterygium

Korespondensi: Toni Alie Ngena Pinem, S.Ked, e-mail [email protected]

Pendahuluan

Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Diduga penyebab pterigium adalah exposure atau sorotan berlebihan dari sinar matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet, baik UVA ataupun UVB, berperan penting dalam hal ini. Selain itu dapat pula dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti zat alergen, kimia, dan pengiritasi lainnya. Secara geografis, pterigium paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. Karena Indonesia beriklim tropis, penduduknya memiliki risiko tinggi mengalami pterigium.1,2,3

Di daerah tropis seperti Indonesia, dengan paparan sinar matahari tinggi, risiko timbulnya pterigium 44 kali lebih tinggi dibandingkan daerah non-tropis dengan prevalensi untuk orang dewasa > 40 tahun adalah 16,8 %; laki-laki 16,1 % dan perempuan 17,6 %. Hasil survei morbiditas oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1993-1996 angka kejadian pterigium sebesar 13,9 % dan menempati urutan kedua penyakit mata di Indonesia.2

(2)

rate pada pasien berusia kurang dari 40 tahun adalah 65 % dan pada pasien berusia lebih dari 40 tahun adalah 12,5 %. Selain itu, pterigium menimbulkan masalah kosmetik dan berpotensi mengganggu penglihatan bahkan berpotensi menjadi penyebab kebutaan pada stadium lanjut. Penegakan diagnosis dini pterigium diperlukan agar gangguan penglihatan tidak semakin memburuk dan dapat dilakukan pencegahan terhadap komplikasi.2,3

Kasus

Pria usia 38 tahun, datang ke poli mata RSAM dengan keluhan mata merah. Mata merah telah dirasakan 3 minggu sebelum masuk RS. Sebelumnya pasien mengatakan mata pasien timbul selaput pada mata kanan dan kiri pada 10 tahun yang Lama kelamaan selaput makin melebar dan sampai ke tengah mata. Tiga minggu SMRS keluhan bertambah, os mengeluh penglihatan mata kiri kabur, perih (+), berair (+), silau saat melihat (+). Os mengatakan matanya tidak pernah luka atau tergores, os keseharian selalu menggunakan motor dan sering terpapar debu dan cahaya matahari ditambah lokasi rumah di dekat pantai sehingga selalu terkena angin dan mata os semakin perih. Lalu os datang ke poliklinik mata RSUD H. Abdul Moeloek dan disarankan untuk operasi.

Pasien datang dengan kesadaran kompos mentis, tekanan darah 120/70 mmHg, laju nadi 88 x/menit, pernafasan 22 x/menit, suhu afebris. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pada status generalis tidak didapatkan kelainan. Pada status oftalmologis oculi sinistra didapatkan visus 6/6, palpebra superior: tidak edem, tidak ada spasme, palpebra inferior: tidak edem, tidak ada spasme, gerak bola mata baik ke segala arah, bulbus oculi ortoforia, eksoftalmus (-) endoftalmus (-), konjungtiva bulbi hiperemi (-) tampak selaput berwarna putih kemerahan berbentuk segitiga dari temporal dan apex melewati limbus dan tepi pupil, konjungtiva fornix hiperemi (-), konjungtiva palpebra hiperemi (-), sikatrik (-), sklera siliar injeksi (-), kornea jernih infiltrat (-) ulkus (-), kamera oculi anterior kedalaman cukup, bening, iris kripta (+) berwarna coklat, pupil bulat, regular, sentral, ± 3 mm, refleks cahaya (+), lensa jernih, tensio oculi dalam batas normal, sistem kanalis lakrimalis diperiksa secara digital

normal. Tes sondase serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan patologi anatomi tidak dilakukan.

Diagnosis kerja pada pasien adalah pterigium lateralis stadium 3 okuli sinistra. Penatalaksanaan non-medikamentosa lindungi mata dari sinar matahari, debu, dan udara kering, Medikamentosa tetes mata campuran antiobiotik dan antiinflamasi 6 kali sehari selama 5-7 hari dan Operatif yaitu autograf konjungtiva. Prognosis pasien ini secara umum baik.

Pembahasan

Pterigium adalah kelainan pada konjungtiva bulbi berupa pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. Gejala yang timbul adalah mata merah, gatal, panas, perih dan mata kabur pada satu mata atau kedua mata, timbulnya bentukan daging yang menjalar ke kornea.

Pada kasus ini pasien laki-laki usia 38 tahun, dari anamnesis didapatkan gejala subjektif berupa mata perih dan nyeri hal ini dapat terjadi karena iritasi pada permukaan mata akibat terpapar oleh benda asing dari lingkungan seperti asap, debu, atau angin kencang. Pada anamnesis diketahui bahwa pasien sering terpapar debu dan sinar matahari karena sering menggunakan sepeda motor saat bepergian. Hal ini sesuai dengan salah satu faktor resiko dari pterigium. Etiologi pasti pterigium masih belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor resiko pterigium antara lain adalah paparan ultraviolet, mikro trauma kronis pada mata, infeksi mikroba atau virus. Selain itu beberapa kondisi kekurangan fungsi lakrimal baik secara kuantitas maupun kualitas, konjungtivitis kronis dan defisiensi vitamin A, fenomena iritatif akibat pengeringan dan lingkungan dengan banyak angin,penuh sinar matahari, berdebu dan berpasir. Dan berdasarkan penelitian menunjukkan riwayat keluarga dengan pterigium, kemungkinan diturunkan autosom dominan.

(3)

media, perdarahan dalam vitreus, gangguan fungsi retina, nervus optikus atau jaras visual intrakranial atau pembentukan fibrovaskular. Pada pasien tidak ada ditemukan lensa yang keruh, TIO yg tinggi, perdarahan. Pada pasien hanya ditemukan adanya pembentukan fibrovaskular. Disini dapat dilihat bahwa pasien ini mengalami pterigium dimana penyakit ini bisa membuat penglihatan kabur apabila pertumbuhan fibrovaskularnya sudah mencapai kornea (zona optik).

Perasaan yang mengganjal bisa diakibatkan adanya peradangan di palpebra, adneksa,ataupun segmen anterior. Pada pasien tidak ditemukan adanya edema pada palpebra dan adneksa, ataupun peradangan pada konjungtiva. Tidak ditemukan adanya secret yang berlebih. Pada pasien ditemukan adanya penebalan konjungtiva bulbi hingga kornea dimana hal ini dapat mengakibatkan ada rasa ganjalan pada mata saat berkedip.

Pertumbuhan jaringan pada konjungtiva bulbi bisa diakibatkan oleh suatu penyakit akibat pinguekula, pseudopterigium, dan pterigium. Pinguekula dapat disingkirkan karena pinguekula tidak bisa tumbuh hingga kornea, sedangkan pada pasien ditemukan pertumbuhan jaringan hingga kornea. Sedangkan pseudopterigium terjadi akibat adanya tukak kornea. Pterigium merupakan diagnosis yang tepat pada pasien ini karena Tampak penebalan pada konjungtiva bulbi dari arah temporal yang berbentuk segitiga dengan bagian puncak p terigi um h amp ir m el ewati pi nggi r p upil . Tampakan klinis ini merupakan gambaran khas dari Pterigium, yang pertumbuhannya biasanya dari arah nasal (paling sering) dan dari arah temporal dengan apex atau puncaknya tumbuh ke arah sentral (ke arah kornea).

Pasien didiagnosa sebagai pterigium stadium 3. Karena pada pemeriksaan fisik didapatkan selaput berwarna putih kemerahan berbentuk segitiga dari nasal dan apex melewati limbus dan tepi pupil. Derajat pterigium berdasarkan perkembangannya adalah derajat I jika hanya terbatas pada limbus kornea, derajat II jika sudah melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2 mm melewati kornea, derajat III jika telah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggir pupil mata dalam keadaan cahaya (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm), dan derajat IV jika pertumbuhan pterigium sudah

melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan

Gambar 1. Stadium pterigium.15

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis adalah dengan pemeriksaan patologi anatomi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat sel pada jaringan yang diambil setelah dilakukan operasi. Pemeriksaan tersebut dapat menghasilkan dan menjelaskan apakah sel tersebut ganas atau tidak, sehingga diagnosis dapat lebih jelas apakah ke arah keganasan atau bukan.

(4)

matahari bukan faktor resiko penyebab pinguekula. Sedangkan pada pseudopterigium terbentuk jaringan parut fibrovaskular yang timbul pada konjungtiva bulbi menuju kornea, penyebabnya adalah akibat inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, trauma bedah atau ulkus perifer kornea, dan konjungtivitis sikatrikal. 11,17,12,4

Penatalaksanaan pada pasien ini dinilai sudah tepat, dimana terapi medikamentosa di tujukan untuk mengurangi gejala yang muncul, sehingga diberikan obat antiinflamasi dan antibiotik jika diperlukan. Pada pterigium yang ringan tidak perlu diobati. Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 6 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.20,13,4,7

Teknik pembedahan pterigium dapat dilkukakan dengan beberapa cara yaitu Bare sclera berupa tidak adanya jahitan dan benang absorabable yang digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke supervisial sclera didepan insersi tendon rectus, Simple closure berupa tepi konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif jika hanya defek konjungtiva sangat kecil), Sliding flap berupa suatu insisi berbentuk L dibuat di sekitar luka kemudian flap konjungtiva digeser untuk menutup defek, Rotational flap berupa insisi berbentuk U dibuat sekitar luka untuk membentuk lidah konjungtiva yang dirotasi pada tempatnya, Conjungtiva graft berupa suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior, dieksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipidahkan dan dijahit, Amnion membran transplantasi yaitu mengurangi frekuensi rekuren dan mengurangi fibrosis, Lamellar keratoplasty berupa terapi baru dengan menggunakan gabungan angiostatik dan steroid. Teknik yang dapat digunakan adalah teknik bare sclera karena pada teknik operasi ini tidak perlu dilakukan pejahitan meskipun tingkat rekuren masih sekitar 40-50 %.24,25,13,16

Pada pasien ini dilakukan tindakan bedah yaitu autograf konjungtiva berupa avulsi pterigium yang dinilai paling baik untuk pasien usia dewasa muda. Setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas

pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin, angka kekambuhan yang rendah. Pada pasien ini tidak diberikan mitomycin C karena penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.23,12,4,7

Faktor risiko yang mempengaruhi antara lain usia (banyak ditemui pada usia dewasa), pekerjaan (pertumbuhan pterigium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV), tempat tinggal (gambaran yang paling mencolok dari pterigium adalah distribusi geografisnya), jenis kelamin (tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan), herediter (pterigium dipengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan), dan infeksi (Human Papiloma Virus (HPV) dinyatakan sebagai faktor penyebab pterigium). Faktor risiko lainnya antara lain kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap rokok, pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterigium.13,14,15

Komplikasi yang muncul baik sebelum dilakukan insisi adalah merah, iritasi, dapat menyebabkan diplopia. Sedangkan jika sudah dilakukan insisi adalah dapat terjadi infeksi, diplopia, scar cornea, perforasi bola mata, dan komplikasi yang terbanyak adalah rekurensi pterigium post operasi.26,7,12

Prognosis dari pasien adalah quo ad vitam: Bonam, quo ad fungsionam: dubia ad bonam, dan quo ad sanationam: bonam. Sedangkan secara keseluruhan prognosis pada pasien baik. Didukung oleh kepustakaan yang mengatakan bahwa kebanyakan kasus kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata atau beta radiasi.7

Simpulan

(5)

Daftar Pustaka

1. Bruce J, Chris C, Anthony B. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi ke-9. Jakarta: Erlangga; 2006.

2. Hartono. Buku Saku Ringkasan Anatomi dan Fisiologi Mata. Yogyakarta: FK UGM; 2007.

3. Chanda DW, dkk. Effctiveness of subconjunctival mitomycin-C compared with subconjunctival tiamcinolon acetonide on the recurrence of progresive primary pterigium which underwent Mc Reynolds method. Berkala Ilmu Kedokteran. 2007; 39(4):186-19.

4. Ilyas S, Mailangkay HBB, Taim HS, Simarwata R, Widodo MPS, editors. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: Sagung Seto; 2010.

5. Garcia-Ferrer FJ, Schwab IR, Shetlar DJ. Conjunctiva. Dalam: Riordan-Eva P, WhitcherJP, editors. Vaughan

&Asburry’s General Opthalmology. Edisi ke-17. USA: McGraw.

6. Voughan, Asbury. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC; 2010.

7. Komaratih E, Nurwasis. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bagian Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-III. Surabaya: Penerbit Airlangga; 2006.

8. Gazzard G, Saw SM, Farook M, Koh D, Widjaja D, Chia SE, dkk. Pterigium in indonesia: prevalence, severity and risk factors. Br J Ophthalmol. 2005; 86:1341-6.

9. Ardalan A, Ravi S, David L. Management of Pterigium: Opthalmic Pearls. 2010. 10. Tan THD, dkk. Pterigium clinical

Ophtalmology- An Asian Perspective, Chapter 3.2. Singapore: Saunders Elsevier. 2005. hlm. 207-214.

11. Chui J, Coroneo TM, Tat LT, Crouch R, Wakefield D, Girolamo ND. Ophtalmic Pterigium A Stem Cell Disorder With Premlignant Features. The American Journal Of Pathology. 2011; 178(2):817-27.

12. Ikatan Dokter Indonesia. Buku Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter Pelayanan Primer. Edisi ke-1. Jakarta: IDI; 2013. 13. James B, Chris C, Anthony B.

Konjungtiva, Kornea, Sklera. Dalam: Oftalmologi. Edisi ke-9. Jakarta:

Erlangga Medical Science.; 2006. hlm. 66-7.

14. Amadi A, dkk. Common Ocular Problems in Aba metropolis of Albia State, Eastern Nigeria. Federal Medical Center Owerri [Internet]. 2009; 6(1):32-35.

15. Saerang, Josefien. Vascular Endothelial Growth Factor Air Mata Sebagai Faktor Resiko Tumbuh Ulang Pterigium. Journal Indonesian medical Association. 2013; 7(4):139-143.

16. Ang KPL, Chua LLJ, Dan HTD. 2Current Concepts and Techniques in Pterigium Treatment. Curr Opin Ophthalmol. 2006.

17. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach; Edisi ke-6. Philadelphia: Butterworth Heinemann Elsevier; 2006. hlm. 242-244.

18. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea Section 11. San Fransisco: MD Association; 2006. 19. American Academy of Ophtalmology.

Basic and Clinical Science Course section 8 External Disease and Cornea. 2007-2008. hlm. 344, 405.

20. Skuta, Gregory LC, Louis BW, Jayne S. Clinical Approach to Depositions and Degenerations of the Conjungtiva, Cornea, and Sclera. Dalam: External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2008. hlm. 8-13, 366.

21. Tasman W, Jaeger EA. Pathology of Conjungtiva. Dalam: Duane’s Ophtalmology. New York: Lippincott William and Wilkins; 2007.

22. Dzunic B, Jovanovic P, Veselinovic D, Petrovic AS, Stefanofic I, Kovacevic I. Analysis Of Pathohistological characteristiics Of Pterigium. Bosnian Journal Of Basic Medical Science. 2010; 10(4):308-13.

23. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Bagian Ilmi Penyakit Mata FK UGM.

24. D Gondhowiardjo T, Simanjuntak WS G. Ptrygium: Panduan Manajemen Klinis Perdami. Jakarta: CV Ondo; 2006. hlm. 56-58.

(6)

ke-4. New Delhi: New Age International Limitid publisher; 2007. hlm. 443-57. 26. Tortora GJ, Derrickson BH. The Special

Sense. Dalam: Tortora, Gerard J.

Gambar

Gambar 1. Stadium pterigium.15

Referensi

Dokumen terkait