BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Good Corporate Governance 2.1.1.1 Pengertian Good Corporate Governance - Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tah

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Good Corporate Governance

2.1.1.1 Pengertian Good Corporate Governance

Istilah corporate governance pertama sekali diperkenalkan

oleh Cadbury Comitee pada tahun 1992, dimana mereka

menggunakan istilah tersebut dalam laporan keuangannya yang

dikenal dengan Cadbury Report. Cadbury Report menjelaskan

corporate governance sebagai seperangkat aturan yang

merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manajer,

kreditor, pemerintah, karyawan, dan pihak–pihak yang

berkepentingan lainnya, baik internal maupun eksternal

sehubungan dangan hak – hak dan tanggung jawab mereka.

Good corporate governance dijelaskan oleh IICG

(Indonesian institute of Corporate Governance) sebagai proses dan

struktur yang diterapkan dalam menjalankan perusahaan, dengan

tujuan utama meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka

panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders

yang lain. Good corporate governance juga mensyaratkan adanya

struktur perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas

(2)

hukum, peraturan dan kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat

mendorong kinerja perusahaan bekerja secara efisien,

menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang

berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat

sekitar secara keseluruhan.

Pengertian tentang good corporate governance dapat

dimasukkan dalam dua kategori. Kategori pertama, lebih condong

pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui

kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap

para pemegang saham, dan stakeholders. Kategori kedua lebih

melihat pada kerangka secara normatif, yaitu segala ketentuan

hukum baik yang berasal dari sistem hukum, sistem peradilan,

pasar keuangan, dan sebagainya yang mempengaruhi perilaku

perusahaan.

Menurut IICG dalam Sari (2010) (The Indonesian Institute

for Corporate Governance) terdapat 7 dimensi/ konsep penerapan

GCG, yang diambil dari panduan yang telah ditetapkan oleh OECD

dan KNKCG. Tujuh dimensi tersebut yaitu:

1. Komitmen terhadap tata kelola perusahaan-sistem manajemen yang mendorong anggota perusahaan menyelenggarakan tata kelola perusahaan yang baik

2. Tata kelola dewan komisaris-sistem manajemen yang memungkinkan optimalisasi peran anggota dewan komisaris dalam membantu penyelenggaraan tata kelola perusahaan yang baik

(3)

fungsional dalam penyelenggaraan tata kelola perusahaan yang baik

4. Dewan direksi-sistem manajemen yang memungkinkan optimalisasi peran anggota dewan direksi dalam penyelenggaraan tata kelola perusahaan yang baik

5. Transparansi dan Akuntabilitas, sistem manajemen yang mendorong adanya pengungkapan informasi yang relevan, akurat, dan dapat dipercaya, tepat waktu,jelas, konsisten dan dapat diperbandingkan tentang kegiatan perusahaan

6. Perlakuan terhadap pemegang saham-sistem manajemen yang menjamin perlakuan yang setara terhadap pemegang saham dan calon pemegang saham

7. Peran pihak berkepentingan lainnya (stakeholders), sistem

manajemen yang dapat meningkatkan peran pihak

berkepentingan lainnya

2.1.1.2 Prinsip-Prisip Good Corporate Governance

Pada dasarnya prinsip-prinsip dasar dari good corporate

governance (GCG) memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan

terhadap kinerja perusahaan. Secara umum, penerapan corporate

governance secara konkret, memiliki tujuan terhadap perusahaan

sebagai berikut:

1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing.

2. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah.

3. Memberi kepuasan yang lebih baik dalam meningkatkan

kinerja ekonomi perusahaan.

4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan diri stakeholder

terhadap perusahaan.

5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.

(4)

fungsinya masing-masing dalam suatu perusahaan, merupakan

tujuan utama yang hendak dicapai. Prinsip-prinsip dari corporate

governance yang menjadi indikator, sebagaimana dijelaskan oleh

Organization for Economic Cooperation and Development

(OECD) dalam Sari (2010), adalah:

1. Fairness (Keadilan)

Prinsip keadilan (fairness) merupakan prinsip perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang saham. Keadilan disini diartikan sebagai perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing dari kecurangan, dan kesalahan perilaku insider. Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.

2. Transparency (Transparansi)

Transparansi adalah adanya pengungkapan suatu informasi yang terbuka, tepat waktu, serta jelas dan dapat dibandingkan dengan keadaan yang menyangkut tentang keuangan, pengelolaan perusahaan dan kepemilikan perusahaan. Untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang materiil dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemakai kepentingan. 3. Accountability (Akuntabilitas)

Akuntabilitas menekankan pada pentingnya penciptaan sistem pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian kekuasaan antara komisaris, direksi, dan pemegang saham yang meliputi monitoring, evaluasi, dan pengendalian terhadap manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan pihak-pihak berkepentingan lainnya.

4. Responsibility (Pertanggungjawaban)

Responsbilitas adalah adanya tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen serta pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham. Prinsip ini mewujudkan dengan kesadaran bahwa tanggungjawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang, menyadari akan adanya tanggung jawab sosial, menghindari penyalahgunaan wewenang kekuasaan, menjadi profesioanal dan menjunjung etika dan memelihara bisnis yang kuat.

5. Independency (Independensi)

(5)

perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Independen diperlukan untuk menghindari adanya potensi konflik kepentingan yang mungkin timbul oleh para pemegang saham mayoritas. Mekanisme ini menuntut adanya rentang kekuasaan antara komposisi komite dalam komisaris, dan pihak luar seperti auditor. Keputusan yang dibuat dan proses yang terjadi harus obyektif tidak dipengaruhi oleh kekuatan pihak-pihak tertentu.

Prinsip-prinsip transparansi, keadilan, akuntabilitas,

responsibilitas dan independen GCG dalam mengurus perusahaan,

sebaiknya diimbangi dengan goodfaith ( bertindak atas itikad baik)

dan kode etik perusahaan serta pedoman GCG, agar visi dan misi

perusahaan yang berwawasan internasional dapat terwujud.

Pedoman GCG yang telah dibuat oleh Komite Nasional Corporate

Governance hendaknya dijadikan kode etik perusahaan yang dapat

memberikan acuan pada pelaku usaha untuk melaksanakan GCG

secara konsisten dan konsekuen. Hal ini penting mengingat

kecenderungan aktivitas usaha yang semakin mengglobal dan dapat

dijadikan sebagai ukuran perusahaan untuk menghasilkan suatu

kinerja perusahaan yang lebih baik.

2.1.1.3 Tujuan Penerapan Good Corporate Governance

Tujuan penerapan Good Corporate Governance antara

lain :

a. mengoptimalkan pemberdayaan sumber daya ekonomis dari

(6)

b. melindungi kepentingan pemegang saham dan memperhatikan

kepentingan stakeholder lainnya

c. meningkatkan iklim investasi nasional

d. memperbesar keuntungan secara nasional dari sebuah usaha

yang dikelola secara baik. Pencapaian prestasi yang lebih baik

dan penghematan sumber daya dan modal secara ekonomis

akan meningkatkan produktivitas dalam negeri ketika bersaing

di pasar internasional.

2.1.1.4 Manfaat penerapan Good Corporate Governance

Dengan melaksanakan Corporate Governance, menurut

Forum of Corporate Governance in Indonesia (FCGI) ada

beberapa manfaat yang diperoleh, antara lain :

a. meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses

pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan

efisiensi operasional perusahaan, serta lebih meningkatkan

pelayanan kepada stakeholder

b. mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih

murah dan tidak rigid (karena faktor kepercayaan) yang pada

akhirnya akan meningkatkan Corporate Value

c. mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan

(7)

d. pemegang saham akan puas dengan kinerja perusahaan karena

sekaligus akan meningkatkan shareholder Value dan deviden

Dari tujuan dan manfaat di atas maka dapat disimpulkan

bahwa perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance

akan selalu melindungi kepentingan para pemegang sahamnya

serta pihak-pihak yang juga terkait dalam pengelolaan perusahaan.

Selain itu, dengan adanya penerapan Good Corporate Governance

dapat lebih meningkatkan nilai tambah perusahaan tersebut di mata

publik karena kinerja perusahaan juga lebih terarah dan dapat

meningkatkan laba perusahaan.

2.1.2 Dewan Komisaris

Dewan komisaris merupakan organ peranan penting dalam

pengimplementasian good corporate governance di suatu perusahaan.

Komisaris merupakan organ yang mengawasi kebijaksanaan direksi dalam

menjalankan perusahaan serta memberikan nasihat kepada direksi. Untuk

menjamin pelaksanaan Good Corporate Governance berjalan dengan baik

diperlukan anggota dewan komisaris yang berintegritas tinggi, tidak cacat

hukum, serta mampu bekerja secara profesional tanpa memihak dengan

salah satu pemegang saham pengendali (mayoritas) secara langsung maupun

tidak langsung. Di Indonesia, dewan komisaris merupakan organ yang

bersifat pasif dan tidak dapat menjalankan fungsi pengawasannya secara

(8)

dalam perusahaan, sehingga sering kali melakukan intervensi terhadap

kebijakan direksi. Fenomena ini menjadi masalah pada perusahaan yang

sudah go public, sikap pasif dewan komisaris dapat merugikan kepentingan

pemegang saham serta para stakeholder lainnya.

2.1.3 Komisaris Independen

Keberadaan Komisaris Independen adalah sangat diperlukan.

Secara langsung keberadaan Komisaris Independen menjadi penting, karena

didalam praktek sering ditemukan transaksi yang mengandung benturan

kepentingan yang mengabaikan kepentingan pemegang saham publik

(pemegang saham minoritas) serta stakeholder lainnya, terutama pada

perusahaan di Indonesia yang menggunakan dana masyarakat didalam

pembiayaan usahanya. Adanya komisaris independen yang berasal dari luar

perusahaan diharapkan akan direaksi positif oleh pasar (investor), karena

kepentingan investor akan lebih dilindungi.

2.1.4 Dewan Direksi

Dewan direksi sangat berperan penting dalam pengelolaan

perusahaan. Dewan direksi merupakan organ yang berperan penting dalam

perusahaan yang bertindak sebagai agen para pemegang saham untuk

memastikan sutu perusahaan dikelola sesuai dengan tujuan perusahaan.

Menurut Undang-undang Perseroan Terbatas, direksi merupakan organ

(9)

kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam

maupun di luar pengadilan dengan ketentuan anggaran dasar. Dewan direksi

bertanggung jawab penuh atas manajemen perusahaan serta memastikan

perusahaan telah sepenuhnya menjalankan seluruh ketentuan dalam

Anggaran Dsar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.1.5 Komite Audit

Komite audit adalah organ tambahan yang diperlukan dalam

pelaksanaan prinsip good corporate governance. Komite audit dibentuk

oleh dewan komisaris untuk melakukan pemeriksaan atau penelitian yang

dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam melaksanakan

pengelolaan perusahaan serta melaksanakan tugas penting berkaitan dengan

sistem pelaporan keuangan perusahaan. Anggota komite audit diharuskan

mempunyai keahlian yang memadai, karena komite ini memiliki

kewenangan dalam mengakses fasilitas dan data perusahaan, selain itu

komite audit dituntut harus memiliki sikap yang independen. Hal ini perlu

didasari dikarenakan komite audit merupakan pihak yang menjembatani

antara eksternal auditor dan perusahaan yang juga sekaligus menjembatani

antara fungsi pengawasan dewan komisaris dengan internal auditor.

Keberadaan komite audit dalam suatu perseroan terbatas untuk membantu

pemberdayaan (empowerment) dewan komisaris. Oleh karena itu,

(10)

2.1.6 Kinerja Perusahaan

Pengukuran kinerja merupakan analisis data serta pengendalian

bagi perusahaan. Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk

melakukan perbaikan diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing

dengan perusahaan lain. Bagi investor informasi mengenai kinerja

perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan

mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari

alternatif lain. Selain itu pengukuran juga dilakukan untuk memperlihatkan

kepada penanam modal maupun pelanggan atau masyarakat secara umum

bahwa perusahaan memiliki kreditibilitas yang baik (Munawir,1995).

Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain

terkonsentrasi atau tidaknya terkonsentrasinya kepemilikan, manipulasi

laba, serta pengungkapan laporan keuangan. Kepemilikan yang banyak

terkonsentrasi oleh institusi akan memudahkan pengendalian sehingga akan

meningkatkan kinerja perusahaan.

Dalam hubungannya dengan kinerja suatu perusahaan dapat dilihat

dari laporan keuangan yang sering dijadikan dasar untuk penilaian kinerja

perusahaan. Salah satu jenis laporan keuangan yang mengukur keberhasilan

operasi perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan laba rugi.

Akan tetapi angka laba yang dihasilkan dalam laporan laba rugi seringkali

dipengaruhi oleh metode akuntansi yang digunakan. Disclosure laporan

keuangan akan memberikan informasi yang berguna bagi pemakai laporan

(11)

diharapkan dapat menjadi dasar untuk melihat baik tidaknya kinerja

perusahaan.

Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam indikator

atau variabel untuk mengukur keberhasilan perusahaan, pada umumnya

berfokus pada informasi kinerja yang berasal dari laporan keuangan.

Laporan keuangan tersebut bermanfaat untuk membantu investor, kreditor,

calon investor dan para pengguna lainnya dalam rangka membuat keputusan

investasi, keputusan kredit, analisis saham serta menentukan prospek suatu

perusahaan di masa yang akan datang.

Return On Equity (ROE) merupakan salah satu pengukuran kinerja

keuangan perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur kinerja

perusahaan dalam mengelola modal yang tersedia untuk menghasilkan laba

setelah pajak. Semakin besar ROE, semakin besar pula tingkat keuntungan

yang dicapai perusahaan sehingga kemungkinan suatu perusahaan dalam

kondisi bermasalah semakin kecil. Investor lebih tertarik pada seberapa

besar kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan terhadap modal

yang ia tanamkan. Alasannya adalah rasio ini banyak diamati oleh para

pemegang saham serta para investor di pasar modal yang ingin membeli

saham bank yang bersangkutan. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi

kenaikan laba bersih perusahaan, kenaikan tersebut akan menyebabkan

kenaikan harga saham perusahaan dan meningkatkan kinerja perusahaan.

Penilaian kinerja perusahaan dilakukan bertujuan untuk

(12)

mematuhi standar perilaku yang ditetapkan sebelumnya agar tercapai tujuan

perusahaan yang baik. Melalui penilaian kinerja, maka perusahaan dapat

memilih strategi dan struktur keuangannya.

2.2 Tinjauan Peneliti Terdahulu

Tabel 2.1

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti

Judul Variabel Penelitian Hasil Penelitian

1. Rudi Isnanta,

2008

Pengaruh Corporate Governance dan Struktur

Variabel independen : kepemilikan manajerial, proporsi dewan

komisaris, komite audit, struktur audit, struktur kepemilikan

Variabel dependen : manajemen laba dan kinerja keuangan

Good Corporate Governance tidak berpengaruh

Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan

Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Variabel independen : Good corporate

Governance

(13)

3. Daniel Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Variabel dependen : Kinerja keuangan perusahaan

Secara parsial variabel ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen, dan komite audit tidak berpengaruh

Pengaruh Corporate Governance

terhadap kinerja keuangan perusahaan

Variabel independen : dewan komisaris, dewan komisaris independen, dewan direksi, komite audit dan kepemilikan institusional

Variabel dependen : Kinerja keuangan perusahaan

Kepemilikan institusional, dewan komisaris dan dewan direksi berpengaruh

1. Rudi Isnanta (2008)

Penelitian yang dilakukan oleh Rudi Isnanta (2008) berjudul “Pengaruh Good Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan terhadap

(14)

adalah struktur kepemlikan, kepemilikan manajerial, proporsi dewan

komisaris dan komite audit. Variabel dependen yang digunakan dalam

penelitian ini adalah manajemen laba dan kinerja perusahaan. Objek

penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dengan

rentang waktu 2003-2006. Hasil penelitian ini menemukan bahwa

kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris dan komite audit tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba tetapi berpengaruh terhadap kinerja

perusahaan. Perbedaan penulis dengan penelitian Rudi Isnanta (2008) terdapat pada variabel independennya yaitu kepemilikan manajerial, struktur

audit dan struktur kepemilikan serta variabel dependen yang digunakan

adalah manajemen laba dan kinerja keuangan di ukur dengan CFROA.

2. Nanik Nurhayati, (2010)

Nanik Nurhayati (2010) melakukan analisa penelitian berjudul “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Variabel independen yang digunakan

pada penelitian ini antara lain kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris independen,

dan ukuran perusahaan, Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

kinerja keuangan perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI pada tahun 2006 – 2008.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel kepemilikan institusional

mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan. Sedangkan kepemilikan

(15)

independen tidak mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan. Terdapat

perbedaan penelitian penulis dengan Nanik Nurhayati (2010) yaitu pada variabel independen dimana beliau memproksikannya dalam kepemilikan

institusional dan kepemilikan manajerial serta variabel dependen yang

diukur dengan kinerja keuangan perusahaan.

3. Daniel Pasarella Tarigan, (2011)

Daniel Pasarella Tarigan (2011) membahas “Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, Dan Praktek Corporate Governance

Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di

Bursa Efek Indonesia”. Variabel independen dalam penelitian ini adalah

Ukuran dewan Komisaris, Proporsi dewan komisaris independen, komite

audit, struktur kepemilikan, ukuran perusahaan. Variabel dependen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah cash flow return on asset (CFROA).

Secara parsial variabel ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris

independen, dan komite audit tidak berpengaruh keuangan perusahaan,

tetapi secara simultan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Variabel

yang menjadi pembeda antara penulis dengan Daniel Pasarella Tarigan (2011) terdapat pada struktur kepemilikan dan ukuran perusahaan sebagai variabel indepeden serta pengukuran kinerja perusahaan sebagai variabel

dependen dengan menggunakan CFROA.

4. Sawitri Sekar Edi, (2011)

(16)

yang digunakan dalam penelitian ini adalah dewan komisaris, dewan

komisaris independen, dewan direksi, komite audit dan kepemilikan

institusional. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitiaan ini

adalah kinerja keuangan perusahaan. Objek penelitian adalah perusahaan

yang terdaftar di LQ45 dengan rentang waktu 2005-2009. Hasil penelitian

ini menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif

signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan, dewan komisaris

independen berpengaruh negatif signifikan, dewan komisaris berpengaruh

positif tidak signifikan, dewan direksi berpengaruh positif tidak signifikan

terhadap pasar sedangkan terhadap kinerja operasional berpengaruh negatif

signifikan, dan komite audit berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap

pasar sedangkan berdasarkan operasional perusahaan berpengaruh negatif

signifikan. Perbedaan antara penulis dengan Sawitri Sekar Edi (2011) terlihat pada variabel independen yaitu kepemilikan institusional dan

(17)

2.3 Kerangka Konseptual

H1

H2

H3

H4

H5

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Good Corporate Governance memiliki tujuan yaitu untuk menciptakan nilai

tambah bagi semua pihak yang berkepentingan. Apabila Good Corporate

Governance dapat berjalan dengan baik maka dapat meningkatkan keberhasilan

usaha dan akuntabilitas perusahaan kemudian kemungkinan kinerja perusahaan

akan meningkat sehingga dapat menarik investor lainnya untuk menanamkan

investasinya di perusahaan tersebut. Variabel good corporate governance yang

diproksikan kedalam dewan komisaris, komisaris independen, dewan direksi, dan

komite audit sebagai variabel independen serta kinerja perusahaan sebagai

variabel dependen. Dalam pengukuran kinerja perusahaan peneliti menggunakan

alat pengukuran yaitu Return Of Equity (ROE).

Variabel Dependen Variabel Independen

Good Corporate Governance:

Dewan Komisaris

(X1)

Kinerja Perusahaan

(Y)

Komite Audit

(X4) Dewan Direksi

(X3)

Komisaris Independen

(18)

Good corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada teori

keagenan. Hal ini diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan

keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana

yang telah mereka investasikan. Perspektif hubungan keagenan dapat dijadikan

dasar yang digunakan untuk memahami good corporate governance. Manajer

(agen) memiliki kewajiban untuk memaksimalkan kesejahteraan para pemilik

(prinsipal). Namun disisi lain, manajer juga memiliki kepentingan untuk

memaksimalkan kesejahteraan mereka.

Tujuan utama dari teori keagenan adalah untuk menjelaskan bagaimana

pihak-pihak yang melakukan hubungan kontrak dapat mendesain kontrak tersebut

untuk meminimalisir cost sebagai dampak adanya informasi yang tidak simetris

dan kondisi yang mengalami ketidakpastian. Teori keagenan juga berusaha untuk

menjawab masalah keagenan yang terjadi jika pihak-pihak yang saling bekerja

sama memiliki tujuan dan pembagian kerja yang berbeda.

Dewan komisaris dikatakan dapat meningkatkan kinerja perusahaan

karena apabila dewan komisaris melaksanakan tugasnya dengan baik akan dapat

meningkatkan kepercayaan investor bahwa mereka akan menerima return atas

dana yang telah mereka investasikan. Semakin besar ukuran dewan komisaris,

maka pengawasan yang mereka lakukan akan semakin efektif dan kinerja akan

semakin baik.

Komisaris Independen memiliki tanggung jawab pokok untuk mendorong

diterapkannya prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate

(19)

dapat melakukan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada Direksi secara

efektif dan lebih memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Dewan direksi juga memiliki peranan yang memberikan pengaruh terhadap

kinerja perusahaan karena proporsi dewan direksi dalam suatu perusahaan akan

menentukan kebijakan yang akan diambil atau strategi perusahaan secara jangka

pendek maupun jangka panjang.

Komite Audit merupakan organ pendukung Dewan Komisaris yang bekerja

secara kolektif dan berfungsi membantu Dewan Komisaris dalam melaksanakan

tugasnya. Peranan Komite audit yang berjalan dengan baik dapat memberikan

pengaruh kinerja perusahaan dan membuat citra perusahaan baik di mata para

investor sehingga meningkatkan kepercayaan investor bahwa mereka akan

menerima return atas dana yang telah mereka investasikan.

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian teoritis dan kerangka konseptual, maka hipotesis

penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

H1: Dewan komisaris berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

H2: Komisaris Independen berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

H3: Proporsi dewan direksi berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

H4: Jumlah komite audit berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

H5: Dewan komisaris, komisaris independen, proporsi dewan direksi dan

komite audit secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja

Figur

Tabel 2.1

Tabel 2.1

p.12
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual p.17

Referensi

Memperbarui...