12
BAB II
BAB II
DESKRIPSI PROYEK
2.1. Tinjauan Umum
2.1.1. Pengertian Masjid Sebagai Lembaga Pendidikan Islam
Masjid berasal dari kata Sajada yang artinya tempat sujud. Secara teknis sujud (sujudun) yaitu meletakkan dahi ke tanah. Sujud mengandung arti hormat kepada sesuatu yang dipandang besar atau agung1. Sajada dari kata sajjadatun mengandung arti tempat yang banyak digunakan untuk sujud, kemudian mengerucut artinya selembar kain atau karpet yang dibuat khusus untuk salah orang per orang. Dengan demikian masjid menjadi tempat orangorang bersujud atau shalat. kotoran manusia dan hewan) seperti kuburan dan toilet. Sedangkan masjid dalam arti khusus adalah tempat atau bangunan yang dibangun khusus untuk menjalankan ibadah, terutama shalat berjamaah. Masjid bukan hanya untuk tempat bersujud, pensucian, tempat shalat dan bertayamum, masjid juga sebagai tempat melaksanakan aktivitas kaum muslim berkaitan dengan kepatuhan kepada
1
Tuhan yaitu tempat membina umat muamalah. Al Quran menyebutkan fungsi masjid antara lain dalam firman Allah:
“Bertasbihlah kepada Allah di majid-masjid yang telah diperintahkan untuk memuliakan dan disebut-sebut nama-Nya di
dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli, atau
aktivitas apapun dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat,
membayar zakat, mereka takut pada suatu hari yang (hari itu) hati
dan penglihatan menjadi terguncang” (QS. An-Nur 24.36-37)
Semakin berkembangnya kegitan-kegiatan di dalam masjid telah menyebabkan ruang-ruang pada bangunan masjid tersebut bertambah pula ukuran luas dan jumlahnya. Sebagai gabungan dari ruang-ruang yang semakin bertambah itu maka masjid menjadi bangunan yang mempunyai ukuran besar dengan penampilan ekspresif yang menunjukkan kekhususannya sebagai tempat pelaksanaan ajaran Islam. Hal itu yang kemudian menjadi watak penampilan dari masjid sebagai bagian dari perkembangan arsitektur Islam. Dengan demikian masjid merupakan tempat umat muslim beribadah secara berjamaah dan merupakan bangunan yang mempengaruhi arsitektur Islam di tempat masjid itu didirikan.
2.1.2. Klasifikasi Masjid
masjid atau pulang dari masjid, maka Allah menyediakan untuknya jamuan dalam surga setiap pergi dan pulang itu.” (HR. Bukhari dan Ahmad bin Hambali).
Fungsi masjid sesuai dengan maknanya sebagai tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam. Ibadah dalam Islam mencakup antara lain2 :
Hubungan manusia dengan Tuhannya: Shalat, I‟tikaf, dan lain-lain
Hubungan manusia dengan manusia: zakat, fitrah, nikah, dan lain-lain
Hubungan manusia dengan dirinya sendiri: mencari ilmu, mengaji, dan lain-lain
Hubungan manusia dengan alam: memelihara, memanfaatkan dan tidak merusak alam.
Namun di antara fungsi yang tersebut di atas, fungsi utama masjid adalah sebagai tempat shalat dan tempat beribadah kepada Allah seperti yang dinyatakan pada ayat berikut:
“Kerjakanlah shalat dengan sempurna.
Sesungguhnya shalat itu diwajibkan untuk melakukannya
pada waktunya atas kalian mukmin.” (QS. An Nissa‟: 105)
“Kerjakanlah shalat dan bayarkanlah zakat.” (QS. Al Baqarah: 42) “Diwajibkan atasmu puasa, sebagaimana diwajibkan atas orangorang
sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Fungsi masjid sebagai pusat kebudayaan Islam maksudnya adalah masjid menampung semua jenis kegiatan kemasyarakatan yang berada dalam batas-batas takwa atau yang menunjang tercapainya kondisi rohani dan takwa, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam pendirian Masjid Quba (masjid pertama
2
Islam) dan masjid-masjid selanjutnya dalam kurun Rasulullah. Urusan duniapun asal berada dalam batas-batas takwa patut diadakan di dalam komplek masjid.
Pada masa Rasulullah masjid sebagai pusat kebudayaan berfungsi: 1. Sebagai pusat pemerintahan
-Tempat administrasi pemerintahan -Tempat peradilan
-Tempat mengadakan musyawarah baik mengenai masyarakat islam maupun yang berhubungan dengan pemerintahan
2. Sebagai tempat pendidikan -Tempat belajar dan mengajar
-Perpustakaan sebagai himpunan khasanah ilmu pengetahuan 3. Sebagai pusat urusan kemasyarakatan
-Tempat kesenian -Tempat pernikahan
-Tempat mengurus barang wakaf dan zakat -Tempat bermalam bagi musafir
-Tempat kegiatan lainnya yang berhubungan dengan umat Islam
Keberadaan sebuah masjid pada suatu wilayah dapat mempengaruhi pembangunan mental spiritual dan penyebaran agama Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda:“ Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka baginya
Allah akan membangunkan gedung di surga.” Hadist-hadist Rasul yang lain pun banyak yang memerintahkan umat Islam untuk membangun masjid. Telah dijelaska pada Al Qur‟an Surat At Taubah:
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian ,
serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut
(kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orangorang
yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk”( At Taubah: 9 :18)
Berdasarkan hadist Nabi Muhammad dan Surat At Taubah dapat disimpulkan bahwa orang-orang dan daerah yang memuliakan masjid adalah yang dilindungi dan disayang oleh Allah.
Gambar 2.1 Diagram fungsi masjid yang saling berhubungan
Sumber : Penulis, 2015
Berdasarkan Dewan Masjid Indonesia yang telah tertulis dalam buku Memakmurkan Masjid, masjid terbagi menjadi beberapa kelas atau strata. Kelas atau strata masjid ini ditentukan berdasarkan fungsi masjid, fasilitas masjid dan juga lokasi masjid. Klasifikasi masjid berdasarkan statusnya dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Masjid Negara, masjid ini berada di daerah pusat pemerintahan Negara kedudukannya sebagai Masjid yang straranya paling tinggi di Negara tersebut
2. Masjid Nasional / Akbar, masjid ini berada di ibukota Negara 3. Masjid Raya, masjid ini berada di tingkat provinsi
4. Masjid Agung, masjid ini berada di tingkat kabupaten 5. Masjid Besar, masjid ini berada di tingkat Kecamatan 6. Masjid Jami‟, masjid ini berada di tingkat kelurahan 7. Masjid / surau, masjid ini berada di tingkat RW
Klasifikasi masjid di atas dapat digambarkan dalam piramida strata masjid. Masjid
Fungsi keagam
Negara Masjid Negara
Sumber: http://memakmurkan masjid.com/ modul (diakses pada tanggal 21 Maret 2010)
Berdasarkan klasifikasi masjid tersebut, maka dapat disusun berdasarkan tipe masjid sebagai berikut:
dapat terus meningkat menjadi Tipe Eb2 atau Tipe Eb3 jika fasilitas yang dimiliki terus bertambah.
Fasilitas setiap masjid berbeda-beda disesuaikan dengan strata atau tingkatan masjid tersebut. Masjid Negara atau Masjid Nasional merupakan masjid yang memilki fasilitas paling lengkap dibandingkan dengan jenis masjid lainnya. Tetapi pengadaan fasilitas masjid disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat dan pemerintah. Dengan kata lain fasilitas yang diuraikan pada Tabel 2.1 merupakan fasilitas yang maksimal yang dapat dimiliki oleh suatu masjid sesuai dengan stratanya.
“Fasilitas masjid pada umumnya dapat digolongkan dengan fasilitas utama dan fasilitas pendukung. Fasilitas utama seperti mimbar,
mihrab, tempat adzan, tempat wudhu‟, kamar mandi, toilet, menara, dan lain-lain.
Selain itu, ada fasilitas pendukung yaitu kantor pengurus, majelis taklim,
perpustakaan poliklinik, baitul mal, UPZ, Asy-Syifa, dan lain-lain.”3
Berikut ini tabel fasilitas masjid berdasarkan strata masjid tersebut Tabel 2.1 Fasilitas Masjid Berdasarkan Strata Masjid
Sumber: http://memakmurkan masjid.com/ modul (diakses pada tanggal 21 Maret 2010)
3
Berdasarkan tabel tersebut lebih terlihat jelas mengapa masjid tersebut dapat berbeda strata. Fasilitas masjid dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kelengkapan fasilitas masjid tersebut untuk memenuhi kebutuhan kaum muslim dan masjid sebagai pusat kegiatan.
2.1.3. Kegiatan di dalam Masjid
Pada umumnya kegiatan di dalam masjid merupakan kegiatan ibadah seperti shalat dan mengaji yang biasanya dilakukan pada ruang shalat berupa ruang yang besar dan kosong, tetapi ada pula yang melakukannya di serambi masjid. Mengaji dalam hal ini ada dua macam yakni mengaji secara berkelompok maupun mengaji perorangan dengan membaca Al Quran.
Setelah melakukan ibadah di dalam masjid, orang-orang biasanya memberikan infak pada kotak yang sudah disiapkan oleh pengurus masjid. Masjid juga digunakan sebagai tempat merenung, kondisi masjid yang tenang dapat menjerihkan pikiran dan berkonsentrasi.
Masjid sebagai tempat orang-orang menimba ilmu salah satunya dengan mendengarkan ceramah atau khotbah dan juga pendalaman ilmu agama. Biasanya masjid yang dekat dengan pemukiman penduduk mengadakan TPA (Taman Pendidikan Al Quran) bagi anak, tak jarang pula terdapat pendidikan formal di dalam kompleks masjid dan menyelipkan pendidikan agama. Masjid menjadi tempat memperoleh informasi ilmu agama dan juga ilmu pengetahuan umum.
karena pada bulan itu pahala orang yang beribadah berlipat ganda, sehingga beberapa orang ingin lebih taat menunaikan ibadah. Pada saat bulan puasa semakin banyak orang yang mendatangi masjid. Masjid menjadi fasilitas yang menampung banyak kegiatan di dalamnya terutama pada saat bulan Ramadhan.
Fungsi masjid sebagai tempat yang mencakup hubungan manusia dengan manusia seperti nikah juga menjadi kegiatan yang cukup sering dilakukan di dalam masjid. Akad nikah yang dilakukan secara teknis dihadiri oleh keluarga dekat kedua pengantin dan dihadiri serta disahkan oleh pejabat KUA (Kantor Urusan Agama). Akad nikah menjadi salah satu contoh interaksi antar umat manusia yang terjadi di dalam masjid. Dengan demikian kegiatan di masjid. merupakan interaksi secara hablumminallah dan hablumminannas, karena hubungan yang terjadi merupakan hubungan kepada Tuhan dan hubungan kepada sesama.
2.1.4. Prinsip Bangunan Masjid
Prinsip bangunana masjid merupakan pembeda dengan bangunan lainnya. Prinsip bangunan masjid yang paling utama adalah perletakan masjid, bentuk masjid, arah kiblat, ruang shalat, dan beberapa bagian bangunan pelengkap masjid. Prinsip bangunan masjid berikut meliput prinsip-prinsip arsitektural secara umum mengenai peruangan pada bangunan masjid.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai penemapatan masjid adalah:
- Apabila Masjid merupakan milik seseorang / badan hokum, dalam keadaan demikian Masjid boleh dipindah dan di bongkar atas persetujuan pemiliknya dengan pemberian ganti rugi dan lain sebagainya.
- Apabila Masjid itu telah dinyatakan sebagai wakaf, sedangkan tanah tempat Masjid itu di dirikan tidak diwakafkan, dalam keadaan demikian Masjid boleh dipindahkan atau dibongkar tetapi struktur utama Masjid harus dipindahkan dan dipergunakan di tempat baru.
- Apabila Masjid dan tanahnya telah diwakafkan maka dalam keadaan demikian Masjid tidak dapat dipindahkan dan apabila bangunan ini telah runtuh sekalipun, di atas tanah wakaf inipun tidak dapat dibangun bangunan baru. Dengan demikian wakaf yang demikian dapat berlaku hingga akhir jaman.
- Perletakan Masjid harus netral terhadap tempat-tempat ibadah agama lain untuk dapat menciptakan kekhusyukan. Serta menciptakan kerukunan umat beragama
Di dalam Al Quran dan Hadist tidak ditentukan mengenai bentuk masjid. Bentuk masjid berkaitan dengan fungsi yang sangat dipengaruhi oleh tempat di dirikan dan waktu pendirian bangunan masjid. Di dalam Al Quran dan Hadist tidak ditentukan mengenai bentuk masjid. Bentuk masjid berkaitan dengan fungsi yang sangat dipengaruhi oleh tempat di dirikan dan waktu pendirian bangunan masjid.
saja yang mereka kehendaki. Kemudian atas permintaan Nabi Muhammmad SAW, arah kiblat ini ditentukan di Masjidil Aqsa di Jerusalem, tetapi kemudian diubah kea rah yang sekarang yakni di Masjidil Haram di Makkah.
“Sesuai dengan ketentuan solat yang harus mengadap ke
kiblat, maka masjidpun senantiasa mempunyai arah kiblat ini, yakni
salah satu sisi dari dindingnya menghadap ke kiblat, yakni kea rah
masjidil Haram tempat Ka‟bah berada. Oleh sebab itulah pada
dinding arah kiblat ini akann selalu tidak berubah dan biasanya pada
dinding arah kiblat itu dilengkapi dengan mihrab, sedangkan dinding
yang berlawanan dengannya menjadi bagian muka masjid.”4
Ruang salat adalah ruang yang paling penting pada sebuah masjid. Ruang ini berupa ruang kosong tanpa prabot, lantainya dilapisi sajada atau karpet sebagai alas shalat tapi ada pula masjid yang sejak awal lantainya telah diberi pola sebagai pengganti sajada.
Bentuk ruang shalat ada dua kemungkinan berkaitan dengan arah kiblat, kemungkinan pertama berbentuk bujur sangkar, bentuk ini banyak dijumpai pada masjid-masjid tradisional, karena panjang masing-masing sisinya sama maka penghargaan terhadap keemapt sisinya sama. Sebenarnya berntuk ini merupakan bentuk yang memusat.
Bentuk denah ruang shalat yang kedua yaitu bentuk empat persegi panjang, bentuk ini mempunyai dua varian pokok dalam perletakkannya yaitu sisi panjang mengarah sejajar arah kiblat dan yang kedua sisi panjangnya tegak lurus arah kiblat.
4
2.1.5. Perkembangan Arsitektur Masjid
Ada tiga kebudayaan yang berpengaruh pada zaman sebelum kebudayaan Islam lahir. Kebudayaan-kebudayaan ini ikut serta mewarnai kebudayaan Islam yang muncul kemudian. Berikut ini penjelasan tentang tiga kebudayaan yang mempengaruhi kebudayaan Islam.
Kebudayaan yang pertama yaitu Kebudayaan Romawi berlangsung pada tahun 142SM- 550M, bangsa Romawi menaklukkan bangsa dan wilayah Yunani yang sudah memilki kebudayaan yang bermutu tinggi. Hasil kebudayaan ini adalah kesenian dan kesusastraan maju dengan amat pesat, dibangunnya sebuah gereja dengan beratapkan kubah yaitu Gereja Aya Sophia. Hal ini yang kemudian menjadi pengaruh kebudayaan Islam menggunakan kubah.
Kedua, Kebudayaan Persia. Istana-istana bergaya Iwan menggunakan kubah dan bangsa ini menghasilkan barang-barang berukir dan tenunan dari sutera. Kebudayaan ini kemudian memberikan ide penggunaan barang-barang berukir pada bangunan Islam.
Ketiga, Kebudayaan Arab Jahiliyah, kebudayaan ini merupakan kebudayaan Arab sebelum lahirnya agama Islam. Tata masyarakatnya masih cenderung membangkang dari kebenaran meskipun mereka tahu bahwa hal itu tidak benar. Hal ini yang mempengaruh kebudayaan Islam meluruskan tatanan masyarakat yang cenderung membangkang dengan mengenal agama.
Astronomi, Ilmu Tenung, Ilmu Kesehatan, serta kepandaian berpidato dan sebagainya.
Masjid pertama yang didirikan yaitu masjid Quba pada tahun 622M bersamaan dengan hari pertama datangnya Nabi dalam rangka Hijrah dari Mekah ke Madinah. Masjid ini memiliki bentuk yang sangat sederhana dengan denah berbentuk segi empat, berdinding pagar batu gurun, bagian tengah masjid berupa lapangan terbuka dibuat sumur sebagai tempat mengambil air wudhu.
Selanjutnya pembangunan masjid pada jaman Nabi Muhammad SAW mencontoh dasar-dasar pendirian Masjid Quba yaitu:
- Atas dasar taqwa terhadap Allah
- Cara pembangunan gotong royong dan penggunaan material setempat - Kegiatan-kegiatan mencakup penyatuan fungsi ibadah dan muamalah
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW perkembangan masjid dipengaruhi oleh pasang surutnya dunia Islam akibat pemahaman tentang hukum Islam.
Perkembangan masjid di Indonesia dimulai dengan dibangunnya masjid tradisional. Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-14. Faktor cultural sangat mempengaruhi bentuk-bentuk masjid tradisional. Berawal dari cara walisongo menyebarkan agama Islam yang menggunakan seni yang bersifat tradisional agar mudah diterima. Tradisional merupakan sesuatu yang bersifat lokal. Hal yang penting mengenai masjid tradisional sebagai berikut:
- Masjid hanya sebagai tempat ibadah
- Gaya arsitekturalnya mengikuti gaya setempat
- Biasanya mempunyai atap susun yang memusat ke atas ( tajug / tajub ) Sedangkan ciri-ciri masjid tradisional Jawa yaitu:
- Hanya sebagai tempat ibadah
- Denah persegi empat dengan dilengkap ruang-ruang seperti serambi, ruang wanita dan mihrab
- Adanya kolam yang mengelilingi bangunan
- Adanya makam yang diletakkan pada sisi Barat (sebagai usaha peningkatan sacral)
- Bangunan menghadap tepat ke timur
- Tidak memiliki menara ( kecuali masjid Kudus )
- Gaya arsitektur dipengaruhi oleh arsitektur hindu sebagai tradisi asli yang lebih dahulu hidup di masyarakat
Sedangkan masjid modern dirasakan oleh umat Islam di Indonesia pada abad ke-19 Masehi. Adanya masjid modern dipengaruhi oleh masyarakat Indonesia yang sudah behubungan dengan dunia luar. Masjid modern yang berkembang di Indonesia memilki ciri:
- Masjid berfungsi sebagai pusat kegiatan ibadah dan muamalah - Adanya kecenderungan megikuti pola masjid kuno
- Biasanya beratap datar ( pengaruh gaya arsitektur dari dunia islam ) - Mengarah ke arah ka‟bah ( kiblat ) secara tepat
Perkembangan masjid secara umum tergolong lambat karena sudah memiliki kaidah-kaidah atau prinsip baku tetapi dalam penampilan bangunan masjid disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuannamun tidak meninggalkan sesuatu yang baik dari masa lalu dan tetap mempertahankan nilai lokalitas.
2.2. Tinjauan Khusus
2.2.1. Pengertian Islamic Research and Education Centre
Islamic
Islamic berarti Islam;bernafaskan Islam. Islam menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Badudu-Zain ) berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Islam menurut Al-Quran adalah agama yang dianut oleh umat muslim. Firman Allah SWT : “Hari ini aku sempurnakan agamamu dan aku akan lengkapkan nikmatKu padamu dan rela Islam itu sebagai agamamu”.
Research
Education
Menurut Kamus Lengkap Bahasa Inggris ( Prof.Drs. S. Wojowasito – WJS. Poerwadaminta ) berarti pendidikan. Pendidikan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Badudu-Zain ) berarti hal, cara, hasil, atau proses kerja mendidik.
Centre
Menurut Kamus Lengkap Bahasa Inggris ( Prof.Drs. S. Wojowasito – WJS. Poerwadaminta ) berarti pusat, pokok. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia pusat berarti segala sesuatu yang dianggap berada atau terletak di tengah, atau bagian yang berada di tengah suatu benda. Pusat dapat juga berarti tempat yang mempunyai konsentrasi tinggi dalam hal aktifitasnya sehingga menarik orang-orang untuk mendatanginya tempat tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, pengertian Islamic Research and Education Centre adalah :
“Suatu tempat yang merupakan pusat kegiatan pendidikan, pengkajian dan dakwah yang berorientasi pada islam, dimana di samping pelaksanaan
pendidikan agama sebagai dasar, pusat pendidikan dan pengkajian islam ini juga
menyelenggarakan pendidikan / pelatiahan ilmu pengetahuan dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat korban relokasi bencana Gunung Sinabung.” 2.2.2. Fungsi Islamic Research and Education Centre
pengetahuan serta kegiatan pengkajian / penelitian agama Islam. Adapun fungsi-fungsinya dapat diuraikan sebagai berikut :
Tempat ibadah / Masjid
Sebuah tempat yang digunakan oleh umat beragama untuk beribadah menurut ajaran agama atau kepercayaan mereka masing-masing. Masjid mempunyai dua arti, yaitu arti umum dan khusus. Dalam arti umum, Masjid adalah semua tempat yang digunakan untuk sujud, sedangkan dalam arti khusus masjid adalah tempat yang dibangun khusu untuk menjalankan ibadah, terutama shalat berjamaah.
Pendidikan
Menyelenggarakan pendidikan bagi umat atau generasi muda islam untuk mempersiapkan diri dalam menatap dimulainya era perdagangan bebas dengan tetap menekankan ilmu keagamaan di atas segala-galanya sebagai dasar atau modal awal untuk mencapai insan yang soleh dan menguasai ilmu pengetahuan.
Dakwah
Informasi
Fungsi informasi ini dalam pengertian yang luas memberikan informasi kalangan internal Islamic Research and Education Centre juga bagi masyarakat luas akan segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan serta informasi mengenai agama terutama agama islam. Fungsi diwujudkan dalam bentuk pengadaan perpustakaan yang dapat digunakan oleh siapa pun bagi kebutuhan pendidikan yang terutama, juga bagi kebutuhan fungsi dakwah di atas.
2.2.3. Site Perencanan
2.2.3.1. Lokasi
Pada tahap ini perancang melakukan survey di daerah Kabanjahe,Berastagi untuk mengidentifikasikan lokasi perancangan. Perancang mengambil daerah tersebut karena daerah tersebut telah terjadi bencana alam yaitu gunung meletus. Gunung Sinabung yang merupakan gunung berapi aktif di daerah tersebut terus-menerus mengeluarkan debu-debu vulkanik dan awan panas yang mengakibatkan warga sekitaran gunung berapi tersebut harus berpindah tempat untuk beberapa waktu atau mengungsi ke tempat daerah yang aman. Pemerintah sudah melakukan tidakan seperti bantuan sandang pangan untuk korban sinabung, tapi itu saja belum cukup karena tempat tinggal mereka yang dulu sudah tidak ada lagi akibat peristiwa bencana alam tersebut.
resmi dari daerah setempat dan merupakan satu-satunya alternative lokasi perancangan untuk pemukiman baru relokasi masyarakat sekitaran daerah gunung sinabung.
Gambar2.3 Peta Lokasi Perancangan - Hutan Siosar
Gambar 2.4 Site Perancangan – Hutan Siosar Sumber : Penulis
relokasi masyarakat Gunung Sinabung. Adapun tinjauan eksisting yang dilakukan oleh perancang yaitu kondisi aksesbilitas, kondisi lingkungan, dan kondisi fisik bangunan yang sudah dibangun.
Kondisi Aksesibilitas
Setelah melakukan survey langsung di Hutan Siosar tempat pemukiman relokasi masyarakat Gunung Sinabung. Hanya terdapat satu jalur utama untuk bisa masuk ke pemukiman relokasi masyarakat Gunung Sinabung ini, yaitu dengan dari jalur masuk dari Kabanjahe dengan jarak tempuh sekitar 5 Km. Kondisi site yang berkontur megakibatkan jalan akses kesana sedikit berliuk-liuk sebagai solusi terhadap lahan berkontur. Dan kondisi fisik jalan menurut perancang sudah memasuki tahap finishing perkerasan. Berdasarkan survey pengamatan perancang, jalur aksesibilitas hanya berupa tanah keras yang sudah dilapisi oleh agregat kasar (bahan kasar), yang dimana karateristik dari bahan kasar ini merupakan komposisi dari jalan Aspal, yang akan diselesaikan nantinya oleh anggota TNI yang perancang wawancarai di Hutan Siosar tersebut.
Gambar 2.5 Kondisi fisik permukaan jalan menuju Hutan Siosar
Gambar2.6 Kondisi jalan yang berliku-liku dan naik turun
Sumber : Data Penulis Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan Hutan Siosar yang merupakan tempat pemukiman relokasi Gunung Sinabung setelah perancang melakukan survey langsung memiliki ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa, sangat bagus untuk pemulihan psikologo warga korban bencana Gunung Sinabung.
Gambar 2.7 Signage Entrance Perkampungan Siosar
Sumber : Data Penulis
Gambar2.8 Kondisi Lingkungan Perkampungan Siosar dalam tahap konstruksi
Fasilitas-fasilitas umum dan fasilitas-fasilitas sosial belum ada di bangun di site lokasi yang akan menjadi tempat pemukiman relokasi masyarakat Gunung Sinabung. Hanya ada beberapa pemukiman rumah tinggal yang sudah dibangun saat ini.
Gambar 2.9 Hunian yang sedang dalam proses konstruksi
Sumber : Data Penulis
Adapun pepohonan di sekitar site yaitu pohon pinus yang berfungsi sebagai bantuan dari pekerjaan konstruksi pekerjaan pemukiman, pohon pinus sendiri hanya bisa di pakai untuk futniture bangunan, tidak bisa jadi bahan konstruksi pada bangunan.
Gambar 2.10 Pohon pinus di sekitaran site
Kondisi Fisik Bangunan Yang Telah Di Bangun
Pada saat perancang survey di hutan Siosar, banyak pertanyaan yang timbul dengan kondisi fisik bangunan yang telah dibangun. Kondisi fisik bangunan yang telah dibangun pada saat perancang survey adalah rumah tinggal penduduk relokasi. Banyak beberapa pertanyaan yang timbul tentang kodisi fisik rumah tinggal tersebut antara lain adalah mulai dari karateristik pemukiman mereka yang dulu dengan yang sekarang, pola pemukiman yang berbeda, menggunankan material yang berbeda, dan karateristik ruang yang berbeda. Dan sampai saat ini hanya rumah tinggal aja yang masih dibangun saat perancang survey ke hutan Siosar.
Gambar 2.11 Rumah tinggal bagi masyarakat relokasi
Sumber : Data Penulis
2.2.3.2. Batas-batas Tapak Yang Akan Mau Dirancang
Sebelah Utara : Sekolah
Sebelah Selatan : Rumah Tinggal Penduduk
Sebelah Barat : Puskesmas
2.2.3.3. Kondisi Fisik
Luas Tapak : 13702m2
Topografi : Kondisi Tanah Berkontur
Sarana utilitas seperti listrik, dan air sudah cukup memadai 2.2.3.4. Program Kegiatan
Islamic Research and Education Centre ini menampung berbagai macam kegiatan. Secara garis besar, di bawah ini akan diuraikan kegiatan-kegiatan tersebut berdasarkan jenisnya :
1. Pengkajian
-Pengkajian ilmu Al-Quran dan Hadist dan sejarah ke-Islaman -Diskusi / seminar permasalahan ke-Islaman
2. Dakwah dan Ibadah
-Pelaksanan ibadah dan dakwah / pengajian yang terbuka bagi masyarakat 3. Pendidikan
Pelatihan bahasa dan sastra Arab
4. Penyediaan Informasi
-Pengadaan kepustakaan yang bebas diakses oleh masyarakat luas disamping kalangan kompleks Islamic Research and Education Centre sendiri.
5. Kegiatan Pameran
-Pelaksanaan pameran seni kaligrafi Islam secara temporer serta pameran / kegiatan eksibisi lain.
Pengguna bangunan dapat dikelompokkan menurut kategori kegiatan yang ada pada bangunan Islamic Research and Education Centre. Kegiatan dan pengguna bangunan tersebut dapat diuraikan seperti pada table berikut ini :
Tabel 2.2 Pengguna bangunan Islamic Research and Education centre
Kegiatan Pelaku kegiatan sekaligus pengguna bangunan 1. Pengkajian 1. Pengajar ataupun kalangan internal Islamic Research
and Education Centre umumnya dan Masyarakat luas. 2. Ibadah dan Dakwah 2. Masyarakat luas serta sarana dakwah dapat digunakan
oleh kalangan internal Islamic Research and Education Centre.
3. Pendidikan 3. Anak usia sekolah baik putra mupun putri dan pengajar. 4. Penyediaan Informasi 4. Kalangan internal Islamic Research and Education
5. Kegiatan Pameran 5. Kalangan internal Islamic Research and Education Centre dan masyarakat luas.
6. Kegiatan Pendukung 6. Pengelola, pengajar, siswa, pelayan bangunan, dan masyarakat luas/
2.3. Studi Banding
2.3.1. Mesjid Besar Kauman Semarang
Masjid Besar Kauman Semarang adalah sebuah masjid yang berada di Semarang. Dahulu masjid ini bernama Masjid Agung Semarang sesuai dengan nama yang tertulis di gerbang Masjid dan tertulis di fasad depan masjid. Tulisan dengan aksara arab cukup besar, namun masyarakat lebih mengenal masjid ini dengan sebutan Masjid Besar Kauman Semarang.
Lokasi Mesjid Besar Kauman Semarang
Letak Masjid Besar Kauman Semarang tadinya berdiri megah di depan alun-alun kota Semarang. Namun, sejak tahun 1938 alun alun tersebut beralih fungsi menjadi kawasan komersil yaitu dengan adanya Pasar Johar , Pasar Yaik, gedung BPD dan Hotel Metro yang kemudian menjadi area Kawasan Perdagangan Johar. Masjid Besar Kauman Semarang kini terjepit di antara bangunan tinggi yang mengepungnya. Masjid Kauman beralamat di Jl. Alun-alun Barat Nomor 71 Semarang. Sekarang Masjid Kauman atau Masjid Besar Semarang letaknya tidak lagi berada dalam wilayah Kampung (Kelurahan) Kauman, tetapi masuk dalam wilayah Kelurahan Bangunharjo Semarang Tengah.
Gambar 2.12 Alun-alun kota Semarang
Sumber:http://4.bp.blogspot.com/_Xpmm0Inq_hI/TQTzLfdaYiI/AAAAAAAABS8/h
Eye2fCIkcw/s1600/alun-alun-semarang-th-35.jpg
Masjid Besar Kauman Semarang dengan latar depan Alun Alun Kota Semarang, tahun 1935 . Alun alun kota Semarang sendiri sudah beralih fungsi sejak tahun 1938 kini sudah penuh sesak menjadi kawasan pertokoan Pasar Yaik, Pasar Johar, gedung BPD dan Hotel Metro
Sejarah Mesjid Besar Kauman Semarang
Menurut inskripsi berbahasa dan berhuruf jawa yang terpatri di batu marmer tembok bagian dalam gerbang masuk ke Masjid Besar Kauman Semarang, masjid ini dibangun pada tahun 1170 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1749M. lengkapnya inskripsi tersebut berbunyi seperti berikut :
“Tanda peringatan ketika kanjeng Tuan Nicoolass Hartingh,
Gubernur serta Direktur tanah Jawa pada saat Kanjeng Kyai Adipati Suramanggala
membangun hingga jadinya masjid ini pada tahun 1170 Hijrah”
Nagari menjadi wilayah kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat berpusat di Yokyakarta dan Kasunanan Surakarta. Atas upayanya Nicoolas Hartingh kemudian dihadiahi rumah dinas oleh pemerintah penjajahan Belanda (VOC) di daerah tugu muda dengan nama De Vredestein atau Wisma Perdamaian.
Masjid Besar Kauman Semarang ini yang kini masih berdiri kokoh adalah bangunan yang didirkan oleh Adipati Suradimanggala (Kiai Terboyo) menggantikan masjid lama yang rusak parah akibat kebakaran selama geger pecinan di Semarang tahun 1741. Lokasi masjid lama ini berada di sebelah timur alun alun diseberang barat kali Semarang. Masjid tua ini pernah dipugar pada masa penjajahan, pada tahun 1889 sampai 1904 dikarenakan pernah terjadi kebakaran pada masjid tersebut. Pada waktu pemugaran Masjid Kauman ditangani seorang arsitek Belanda bernama Gakampiyan.
Gambar 2.13 Masjid Kauman Semarang tahun 1953
Sumber: wisatanesia.com
Arsitektur
penduduknya tidak berkembang masjid dipindahkan ke Bubakan yang penduduknya lebih ramai sehubungan kawasan ini telah berkembang menjadi kota pelabuhan. Bersamaan timbulnya pemberontakan orang-orang Cina terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, terjadi kebakaran yang menimpa perumahan termasuk bangunan masjid.
Atas pertimbangan lokasi masjid yang terlalu dekat dengan perkampungan Cina, maka oleh Bupati Semarang Suro Hadimenggolo II (1713 - 1751) pembangunannya kembali dipindahkan ke kawasan Kanjengan,. Pembangunan masjid selesai tahun 1760, di masa pemerintahan Bupati Suro Hadimenggolo III (1751-1773). Namun bangunan masjid baru ini pada tahun 1885 kembali mendapat musibah, terbakar karena disambar petir. Pembangunan kembali masjid di lokasi yang sama baru dimulai pada tahun 1889 atas bantuan Bupati Raden Tumenggung Tjokrodipuro, dan selesai pada tahun 1890.
Gambar 2.14 Gerbang Mesjid Besar Kauman Semarang
Sumber: http://1.bp.blogspot.com/_Xpmm0Inq_hI/TQT01LsJnzI/AAAAAAAABTE/
Arsitektur Masjid Besar Kauman Semarang ini sering disebut dengan konsep tektonika. Sistem yang mirip dengan struktur tumpang pada bangunan tumpang berpenyangga berpilar lima pada bangunan bangunan pra Islam di tanah Jawa. Menurut Ir. Totok Roesmanto, diterapkannya sistem tektonik dalam pembangunan Masjid Besar Kauman Semarang ini bukan menggunakan soko guru layaknya Masjid Agung Demak, menunjukkan ketidakmampuan ahli bangunan Belanda pada masa itu mencerna aplikasi sistem konstruksi brunjung empyak pada bangunan tajuk tradisional.
Penggunaan sistem tektonik ini mengarah kepada struktur bangunan yang rigid. Empat sokoguru digantikan dengan pilar pilar bata penopang rangkaian pilar dan balok kayu di atasnya. Pada rangkaian bangunan ini juga dikenal sistem dhingklik yang menopang pilar pilar balok kayu yang lebih kecil di atasnya dan bntuk bangunan itu dan seterusnya. Dari tahun pendirian Masjid Besar Kauman Semarang ini, menjadikan Masjid Kauman Semarang sebagai masjid pertama di Jawa yang bercitra tradisional, namun menggunakan konstruksi modern. Karya demikian dikenal dengan sebutan arsitektur masjid modern tradisionalistik.
pada tradisi Arab atau Persia. Ornamen seperti ini hampir serupa pada Masjid Agung Demak.
Gambar 2.15 Interior Masjid Kauman Semarang
Sumber:
http://seputarsemarang.com/masjid-besar-kauman-4059/interior-masjid/
Secara keseluruhan masjid kauman ini mencirikan bangunan tradisional Jawa. Dengan atap limas besusun tiga yang mempunyai arti filosofi Iman, Islam, dan Ikhsan. Bentuknya seperti bangunan Majapahit, disokong 36 pilar. Tajug paling bawah menaungi tempat ibadah, tajug kedua lebih kecil, dan tajug tertinggi berbentuk limas. Limas tersebut berhias mustika, sementara pintunya dari rangkaian daun waru. Semua tajug ini ditopang kayu jati. Ciri khas yang mengacu pada tradisi Arab atau Persia. Ornamen seperti ini hampir serupa pada Masjid Agung Demak.
Untuk mencapai ruang salat utama, jamaah melewati beberapa pintu di sisi kanan dan kiri (bagi perempuan). Barisan pintu ini pun terbuat dari kayu jati bermotif pahatan kotak-kotak sederhana.
Masjid aslinya sendiri kini cukup sulit untuk dilihat karena sudah tertutup oleh bangunan masjid baru dibagian depan masjid asli ditambah dengan himpitan gedung gedung disekitarnya.aslinya masjid ini beratap seng, kini sudah diganti dengan genteng beton. Sebuah menara yang cukup tinggi juga sudah menjadi pelengkap bagi Masjid Besar Kauman Semarang ini. Tampakan depan nya sudah jauh lebih modern tanpa kehilangan keaslian bangunan aslinya.
2.3.2. Masjid Al-Irsyad Bandung
Masjid Al-Irsyad merupakan sebuah masjid yang terletak di Bandung, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 2009 dan selesai pada tahun 2010. Bentuk masjid sekilas hanya seperti kubus besar laiknya bentuk bangunan Kubah di Arab Saudi. Dengan konsep ini, dari luar terlihat garis-garis hitam di sekujur dinding masjid.
Masjid Al-Irsyad diresmikan pada 17 Ramadan 1431 Hijriah tepatnya 27 Agustus 2010 silam. Bangunannya unik, megah, dan kokoh. Beberapa bulan setelah dibangun, masjid yang memiliki arsitektur memukau ini langsung menyabet penghargaan bergengsi tingkat dunia.
Arsitektur
masjid ini diarsiteki oleh Ridwan Kamil. Dia menciptakan desain unik sebuah masjid yang memanfaatkan sinar matahari. Pembangunan masjid menghabiskan dana sebesar Rp 7 miliar. Desain arah kiblat dibuat terbuka dengan pemandangan alam. Saat senja, semburat matahari akan masuk dari bagian depan masjid yang tak berdinding itu. Dilihat dari kejauhan, akan menghadirkan lafaz Arab yang terbaca sebagai dua kalimat tauhid, Laailaha Ilallah Muhammad Rasulullah, yang artinya Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kekuatan desain Masjid Al-Irsyad tampak pada embedding teks kaligrafi Arab dengan jenis tulisan khat kufi. Bentuknya, dua kalimah tauhid yang melekat pada tiga sisi bangunan dalam bentuk susunan batu bata, yang dirancang sebagai kaligrafi tiga dimensi raksasa.
baik, sehingga tidak terasa gerah atau panas meski tak dipasangi AC atau kipas angin. Di Bagian imam sengaja tanpa dinding artinya menggambarkan bahwa setiap makhluk yang salat dia akan menghadap Allah. Lanskap dan ruang terbuka, sengaja dirancang berbentuk garis-garis melingkar yang mengelilingi bangunan masjid. Lingkaran-lingkaran yang mengelilingi masjid itu terinspirasi dari konsep tawaf yang mengelilingi Kakbah.
Analisis Ruang Luar Bangunan Masjid
1. Perencanaan Tapak
Masjid Al – Irsyad sebagai bangunan peribadatan yang ikonik pada kawasannya, yaitu dengan pemilihan site yang tepat (site choosing), memanfaatkan keadaan topografi lahan sebagai hirarki bangunan masjid yang terletak lebih tinggi dibandingkan dengan bangunan sekitarnya. Tujuannya untuk kedudukan bangunan peribadatan yang memiliki fungsi dan peranan penting. Ruang luarnya menerapkan gaya/langgam dari kontemporer dengan perpaduan dari unsur tradisional dan modern sebagai bangunan peribadatan yang ikonik pada kawasannya.
Gambar 2.16 Konfigurasi Masjid Al-Irsyad
Konfigurasi Masjid Al-Irsyad terdiri atas:
- Bangunan diapit oleh Geding Islamic School Al-Irsyad.
- Bangunan Masjid Al-Irsyad paling kontras dengan bengunan sekitarnya. Lembah hijau yang indah tepat berada di depan bangunan di manfaatkan secara maksimal untuk view pada bangunan, juga berfungsi sebagai orientasi bangunan masjid yang mengarah ke barat.
1. Tatanan Bentuk
Gambar 2.17 Arah Orientasi Bangunan
Sumber: PT. Urbane, 2010, diolah
Gambar 2.18 Fasad Arah Timur dan Arah Barat
Sumber: PT. Urbane, 2010, diolah
Orientasi pada bangunan Masjid Al-Irsyad ini yaitu mengarah ke Barat didasari adanya kiblat yang menjadikan muka masjid Al-Irsyad menghadap ke Timur yang memiliki potensi yaitu main entrance yang mengarah langsung ke site entrance. Pada sisi bangunan arah timur dan utara terdapat olahan fasad berupa ruang transisi bangunan yang berfungsi sebagai wind scoop dan juga sebagai entrance bangunan.
Gambar 2.19 Transisi Bangunan
Wind scoop berbentuk portal berfungsi untuk mengendalikan arah aliran angin yang masuk ke dalam bangunan.
2. Fasad Bangunan
Gambar 2.20 Fasad Bangunan
Sumber: PT. Urbane, 2010, diolah
Konsep yang digunakan pada fasade bangunan adalah penerapan supergrafik fasad bangunan Masjid Al-Irsyad, terlihat dengan penerapan prinsip desain yang simetris berupa penempatan kolom-kolom secara modular dan bukaan bangunan dengan ritme yang berulang dengan pola la ilaha illallah.
Gambar 2.21 Pola Supergrafik Pada Fasad Bangunan
3. Material Fasad
Gambar 2.22 Detail Fasad Bangunan
Sumber: Archdaily, 2010, diolah
Unsur sustainable pada fasad bangunan terlihat dengan penggunaan bahan material local setempat yaitu penggunaan bahan material roster/batu Cisangkan dari Karawang yang tidak jauh dari lokasi Masjid Al -Irsyad. Fasad bangunan ini didesain dengan maksud tersendiri pada tampilan fasade nya yang disebut super grafik, yang memiliki pola-pola khusus, sehingga material batu Cisangkan ini harus produksi per modul secara khusus yang dapat digunakan untuk pola-pola super grafik tersebut.
Warna pada fasad Masjid Al-Irsyad memiliki daya serap kalor yang besar, sehingga panas yang diterusakan kedalam ruang akan besar, namun adanya insulasi pada kulit bangunan dan cross ventilation akan menghantarkan angin yang optimal kedal am ruangan dan radiasi panas akan mudah keluar.
Analisis Ruang Dalam Bangunan Masjid
Ekspresi ruang dalam dari bentukan lantai, dinding, dan atap menjadikan suasana ruangan menjadi lebih dramatis yang dapat menambahkesan meruang dalam beribadah.
Gambar 2.23 Elemen Pembentuk Ruang Bangunan
Sumber: PT. Urbane, 2010, diolah
Pengolahan lantai pada Masjid Al – Irsyad terbagi menjadi 2 bagian yaitu lantai utama dan lantai sekunder. Lantai utama berfungsi sebagai tempat beraktifitas dalam masjid, sedangkan lantai sekunder sebagai ornamen dalam ruang.
Gambar 2.24 Zoning Bangunan
Sumber: PT. Urbane, 2010, diolah
batu – batu koral sebagai ornamentasi pengolahan lantai sekaligus sebagai area resapan cipratan air hujan yang berasal dari bukaan udara di area bawa fasad bangunan.
- Pengolahan Dinding
Gambar 2.25 Mihrab Masjid
Sumber: PT. Urbane, 2010, diolah
Pada bagian mihrab terdapat teknik pasif berupa patio yang berfungsi sebagai cooling effect yaitu mereduksi radiasi matahari yang masuk ke dalam bangunan. Dinding terbuka menjadi sumber cahaya dan udara untuk operasional bangunan setiap harinya, oleh karena itu bangunan masjid ini tidak menggunakan AC dan pencahayaan buatan pada pagi hingga sore hari.
- Pengolahan Atap
Gambar 2.26 Plafond Bangunan
Olahan pada plafon memberikan tambahan estetis pada ruangan masjid. Meski siang hari lampu tidak dinyalakan namun pembayangan dari sinar yang datang dari arah mihrab yang mengenai box – box lampu tersebut menjadi lebih dramatis, dan mampu mencapai IEQ (indoor environment quality) untuk kenyamanan pengguna dan kenyamanan visual, hal tersebut menjadikan para pengguna masjid menjadi lebih khusu dalam melaksanakan ibadah.
Pengaruh Terhadap Ekologi, Sosial, dan Ekonomi
Masjid Al - Irsyad didesain untuk tanggap terhadap ekologi/lingkungan sekitar. Hal tersebut terlihat dalam pemilihan site yang tepat berada lebih atas dari jalan tanpa merubah kontur pada lingkungan tersebut dengan begitu keanekaragaman organisme hidup dapat dipertahankan.
Konsep bangunan Masjid Al - Irsyad yang hemat energi teraplikasi pada penggunaan material lokal yaitu batu cisangkan dari karawang. Dengan menggunakan material tersebut pada pengolahan fasade bangunan Masjid Al - Irsyad mampu mencapai kenyamanan thermal tanpa menggunakan teknologi bantuan seperti AC dan lampu pada siang hari. Lalu material tersebut sangat dekat lokasi pembuatannya dari bangunan yang memudahkan dalam proses pendistribusian material.
2.3.3. Al-Azhar Islamic Education Center Mojokerto
Pondok Pesantren Al-Azhar didirikan oleh KH. M. Ma‟shum Maulani. Dirintis sejak tahun 2000 dengan awal berdirinya sebagai pendidikan Islam formal yang menerapkan program Full Day School (Pendidikan Sepanjang Hari) bertempat di Jalan Bromo Kelurahan Wates Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Kemudian seiring dengan berkembangnya jumlah siswa yang ada dan masukan dari berbagai pihak maka diwujudkanlah sebuah sistem Boarding School (asrama) dengan harapan lebih bisa mengawasi anak didik secara maksimal.
Karena lokasi awal berdirinya Al-Azhar dirasa sempit sehingga tidak memungkinkan lagi untuk mengembangkan asrama guna menampung jumlah anak didik yang semakin lama semakin bertambah, maka beliau bersama istri (Ibu Hj. Chilyatuzzahro) membeli lahan seluas 1 (satu) hektar yang berlokasi di Jalan Al-Azhar Kedundung Magersari Kota Mojokerto yang berjarak 1 km sebelah selatan dari lokasi pertama.
Pada tahun 2005 dimulailah pembangunan di lokasi yang baru sebagai cabang dari Al-Azhar 1 dengan mendirikan sebuah masjid dan 12 (dea belas) lokal kelas dan beberapa lokal asrama yang pada awalnya hanya ditempati belasan santri putri.
Visi
Terwujudnya generasi yang bertaqwa kepada Allah SWT, yang berakhlaq
al karimah dan mampu mengemban amanah, mengajak dan mengajarkan
kebaikan serta amar ma’ruf nahi munkar. Misi
Mewujudkan cita-cita luhur pesantren berupa:
- Terbinannya mental spiritual santri sebagai wujud penghambatan kepada Allah SWT.
- Terbinanya moral dan etika sebagai santri sebagai makhluk social beradab.
- Meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan serta wawasan intektual Islamiyyah hingga terciptanya kader dan pemimpin yang handal dari pesantren.
SD Islam Plus Al-Azhar
- Kurikulum
Kurikulum yang digunakan di SD Islam Plus Al-Azhar adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dipadukan dengan Kurikulum Mandiri serta diperkaya dengan pengetahuan Agama Islam melalui materi-materi tambahan. Adapun penambahan materi Agama Islam, yaitu Al Qur‟an (Juz „Amma), hafalan surat dan do‟a-do‟a pendek, Hadist serta Asma‟ul Husna yang setiap hari dilaksanakan oleh seluruh siswa/i.
o Sistem pembelajaran ditekankan pada belajar aktif dan learning by doing. Posisi meja dan bangku siswa yang selalu berubah setiap bulan sesuai dengan pola pembelajarannya.
o Full Day School (5 hari sekolah).
o Setiap siswa memiliki Buku Penghubung, Kartu Ibadah Amaliah, dan Buku Harian Siswa.
o Pembiasaan hidup bersih & sehat setiap hari.
o Ruang Perpustakaan o Armada Antar Jemput & Katering o Akses Internet ( hotspot )
o Kolam renang dan sarana olah raga - Program Unggulan
Program-program yang diadakan di SD Islam Plus Al-Azhar bertujuan untuk mengembangkan bakat dan potensi anak, serta memberikan bekal di masa depan dengan melibatkan anak secara aktif dalam setiap kegiatannya.
- Kegiatan Intrakurikuler
o Pembelajaran Tilawati & Al-Quran
o Hafalan Surat Pendek, Doa, Hadist, Asmaul Husna o Praktek Ibadah Amaliah
- Kegiatan-kegiatan lain:
o Peringatan Hari Besar Nasional o Peringatan Hari Besar Islam
o Pesantren Kliat & Buka Puasa Bersama o Manasik Haji
o Lomba Kompetisi Akademik
o Beladiri o Menari o Melukis o Science Club o Dokter kecil o Art & Craft o Pramuka o Basket o Sepak bola o Jurnalis Cilik
SMP Pesantren
- Program Unggulan
o Tahfidh Al-Qur‟an ( anak-anak / dewasa )
o Tahsin Al-Qur‟an ( Pembinaan bacaan Al-Qur‟an ) o Kajian Kitab kuning
o Program Bahasa ( Arab dan Inggris ) - Kurikulum Pendidikan
- Sistem Pendidikan
Salah satu upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan serta wawasan intelektual siswa adalah dengan membuat program madrasah diniyyah. Disinilah para santri dibimbing dan dibina untuk dapat menguasai pengetahuan dari kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang sesuai dengan ajaran ahl sunnah wa
al-jama’ah. Metode pembelajaran yang diterapkan adalah sorogan (guru membaca makna/arti, santri menulis), musyawarah, serta muhafadhoh (hapalan).
Kegiatan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Azhar diselenggarakan melalui sejumlah kegiatan harian, mingguan dan bulanan serta kegiatan tahunan.
Kegiatan harian meliputi:
Tabel 2.3 Kegiatan Harian
Sumber: http://alazharmojokerto.sch.id/wp-content/uploads/2015/04/Kegiatan-harian-png.png
Sedangkan kegiatan tahunan berupa ta‟aruf santri baru, wisuda tahfidzul Qur‟an, wisuda sekolah formal, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Isra‟ Mikraj, serta kegiatan ekstra kurikuler lainnya yang disesuaikan jadwal
pelaksanaannya.
Sedangkan kurikulum pesantren adalah sebagai berikut: Tabel 2.4 Kurikulum Pesantren
Sumber:
http://alazharmojokerto.sch.id/wp-content/uploads/2015/04/Kurikulum-pesantren-png.png
- Ekstrakurikuler
Tabel 2.5 Ekstrakurikuler Pesantren
- Kesejahteraan
o Sistem Keuangan Santri
Untuk mengoptimalkan pendidikan di SMP Pesantren Al-Azhar maka para santri diharapkan bisa optimal dan konsentrasi penuh dalam belajar di pondok dengan tidak memikirkan pengaturan financial yang rawan dengan hal-hal yang tidak diinginkan, maka dalam hal ini pengasuh memberi instruksi kepada pembimbing untuk mengelola seluruh keuangan santri baik yang berkaitan dengan sekolah, pondok, maupun kebutuhan santri sehari-hari.
o Tujuan
Agar santri dapat lebih memaksimalkan konsentrasi dalam belajar
Mengantisipasi terjadinya kehilangan uang
Mengantisipasi santri yang biasa menunda pembayaran o Sistem Pengelolaan
Uang kiriman dari Wali santri seluruhnya disetorkan ke pembimbing
Setelah itu, di salurkan untuk pembayaran wajib ( meliputi SPP, dll )
Uang sisa pembayaran, dijadikan uang saku yang akan dipakai santri untuk kebutuhanya selama satu bulan
Nominal uang saku disesuaikan dengan permintaan Wali santri
Batas maksimal nominal uang saku perhari adalah Rp. 20.000,-