• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendorong Perencanaan Partisipatif di De

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mendorong Perencanaan Partisipatif di De"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Mendorong Perencanaan Desa Partisipatif

Pengalaman Pendampingan Penyusunan RPJM-Desa di Desa

Demen, Kulon Progo, DIY

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar [email protected]

Lebih dari satu milyar orang masih belum mendapatkan akses untuk memperoleh air yang aman, dan setiap tahun 2,4 juta anak meninggal akibat penyakit yang menular melalui air…” (JohnWolfensohn, dikutip dari Coen Husain Pontoh dkk.)

A. Latar Belakang

Di aras yang kita sebut sebagai ‘pasca-reformasi’, masalah sosial kian bergerak dengan berbagai kompleksitasnya. Kita tak hanya disuguhi oleh masalah politik yang semakin liar mendekati 2013, tetapi juga masalah-masalah pembangunan yang dihadapi oleh massa rakyat di akar rumput.

Setelah Soeharto jatuh pada tahun 1998, pemerintah mulai memperkenalkan skema desentralisasi atas nama “otonomi daerah”. Skema desentralisasi yang mulai diberlakukan pada permulaan era reformasi tersebut memberi dampak yang besar bagi tata perencanaan pembangunan daerah, tak terkecuali desa. Sistem perencanaan pembangunan yang pada awalnya bersifat top-down, berubah lambat laun menjadi bottom-up dengan model perencanaan berbasis Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) secara berjenjang.

Model baru tersebut mengharuskan Desa untuk membuat kerangka perencanaan tersendiri, baik secara jangka pendek (RKP-Desa) maupun jangka menengah (RPJM-Desa). Proses perencanaan desa dimulai dari pembuatan RPJM-Desa setelah Kepala Desa terpilih untuk merumuskan rencana pembangunan desa selama 5-6 tahun kepemimpinan Kepala Desa.

Tulisan ini bermaksud untuk memberi alternatif “cara baru” secara praktis kepada mahasiswa dalam memandang advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Kami berangkat dari pengalaman ketika KKN mendampingi warga desa Demen di Kulon Progo menyusun RPJM Desa secara partisipatif.

B. Mengapa Advokasi Perencanaan?

Mansour Fakih dan Roem Pattimasang mendefinisikan advokasi sebagai usaha sistematis dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya perubahan dalam kebijakan publik secara bertahap-maju (incremental). Advokasi bukanlah mendesakkan perubahan secara revolusioner. Ia bekerja justru dari dalam sistem. Oleh sebab itu, advokasi pada dasarnya bekerja dengan memahami sistem yang berjalan pada ranahnya.

KAMMI men-tanfidz-kan dirinya sebagai ‘Gerakan Sosial Independen’. Format paradigm gerakan ini meniscayakan KAMMI tidak hanya tampil dalam aksi-aksi politik jalanan, tetapi juga politik sosial. KAMMI sebagai gerakan sosial independen berarti menjadi sebuah gerakan kultural yang memperjuangkan hak-hak rakyat. Ini juga merupakan manifestasi Al-Qur’an Surah Al-Ma’un yang menjadi dasar teologis Muhammadiyah memberdayakan masyarakat, dan menjadi dasar teologis KAMMI membela hak umat.

(2)

dianggarkan setiap tahun oleh pemerintah sebagai anggaran pendapatan dan belanja negara, di setiap level. Oleh sebab itu, partisipasi umat dalam proses perencanaan, penganggaran, dan pengawasan publik menjadi penting.

Dengan munculnya skema desentralisasi, semakin terbuka kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan penganggaran. Namun, kapasitas masyarakat tentu saja berbeda-beda. Sebagian masyarakat masih menggunakan logika ‘Orde Baru’ bahwa perencanaan pembangunan adalah wilayah kerja birokrasi. Padahal, ruang partisipasi sudah dibuka sampai tingkat dukuh.

Salah satu contoh dapat kita lihat dalam penyusunan RPJM Desa. Menyusun RPJM Desa, jika tidak dilaksanakan secara hanya mengandalkan prosedur standard dari PP 66/2007 tentang penyusunan RPJMDes, akan berakibat pada beberapa hal. Pertama, perencanaan desa bisa menjadi sesuatu hal yang sangat memusingkan, tidak hanya bagi perangkat desa apalagi bagi warga desa, tetapi juga bagi mahasiswa. Sebab, selain prosedurnya sangat birokratis, prosesnya juga susah dipahami oleh warga desa yang umumnya berprofesi sebagai petani.

Kedua, proses akan diikuti hanya oleh elit-elit desa yang berkepentingan. Sebab, masyarakat selain tidak berkepentingan, juga bersikap acuh dengan prosedur yang sangat berbelit-belit tersebut. Akibatnya, proses akan sangat rawan dengan kooptasi elit, bahkan bisa menjadi potensi korupsi baru di pedesaan.

Ketiga, proses penyusunan RPJMDesa akhirnya tidak memperkuat dimensi citizenship, di mana masyarakat tidak dapat merumuskan, menegosiasikan, atau menuntut hak-haknya untuk dimasukkan ke dalam agenda pembangunan. Ini akan membuat warga tidak mandiri dan hak-hak warga tidak akan sampai ke tangan yang berhak. Akibatnya, proses perencanaan tidak representatif terhadap kepentingan masyarakat di akar rumput.

Oleh sebab itu, peran mahasiswa sangat penting sebagai fasilitator untuk membangun dan memperkuat kesadaran warga akan hak-hak dasar mereka. Kesadaran warga untuk tahu dan berpartisipasi dalam proses pembangunan akan menentukan posisi politik mereka dalam pengambilan keputusan, sehingga kooptasi elit baik di desa, kecamatan, maupun kabupaten dapat dikurangi.

Untuk itulah perlu ada proses penyadaran terus-menerus kepada masyarakat. Agar, masyarakat bisa memahami bahwa pada sebagian proses perencanaan penganggaran publik yang ada di desa/daerah, terselip sebagian hak mereka yang harus sampai ke tangan yang benar. Karena anggaran adalah bagian dari hak umat yang mesti disampaikan ke jalan yang benar, dan tak boleh diambil tanpa kebutuhan yang tepat.

Pada titik inilah warga akan belajar mengenai demokrasi secara praktis. Tugas mahasiswa tak lain adalah membangun kesadaran serta memfasilitasi proses pembelajaran tersebut. Sehingga, peran mahasiswa dalam aktivitas advokasi dan pemberdayaannya juga dapat ‘ bernilai lebih’ di mata masyarakat.

C. Mengenal Perencanaan Partisipatif

(3)

Cerita sukses perencanaan partisipatoris dapat dilihat di Porto Allegre, Brazil. Di sana, anggaran ternyata tidak hanya dibuat secara top-down seperti diterapkan di Indonesia, tetapi juga secara bottom-up, di mana masyarakat juga turut berpartisipasi memberikan usulan, draft, dan kontrol atas anggaran yang ada. Artinya, dengan model bottom-up

tersebut, anggaran pembuatan dan pengawasan anggaran dapat melibatkan segenap

stakeholders untuk berpartisipasi.

Mengapa perencanaan pembangunan perlu partisipasi masyarakat? Perencanaan pembangunan akan menentukan seberapa besar dana yang akan dibutuhkan oleh masyarakat dalam melaksanakan pembangunan di daerahnya. Dana pembangunan tersebut tentu saja akan dibiayai oleh Anggaran Pembiayaan dan Belanja pemerintah (APBDes/APBD/APBN). Proses penganggaran yang dilakukan hanya secara teknokratik (oleh pemda) tanpa mempertimbangkan usulan masyarakat akan menyebabkan salah kelola pembangunan.

Tania Murray Li mencatat bahwa proses perencanaan yang dilakukan hanya dengan pendekatan teknokratis (oleh pemerintah) cenderung tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selama bertahun-tahun, masyarakat diberikan dana pembangunan dengan menyesuaikan kepentingan rezim politik. Ini yang disebut oleh Li sebagai technicality dan menyebabkan konflik serta ketergantungan di masyarakat. Dalam paradigma demokrasi, cara untuk mengurangi konflik dan ketergantungan tersebut adalah dengan memperkuat partisipasi masyarakat (modal sosial).

Di Indonesia, proses perencanaan partisipatif mulai digunakan seiring dengan dimulainya proses desentralisasi. Sistem perencanaan pembangunan yang pada awalnya bersifat top-down, berubah lambat laun menjadi bottom-up melalui beberapa perangkat hukum, di antaranya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Proses perencanaan berbasis

Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) secara berjenjang tersebut mempengaruhi model penganggaran yang digunakan.

Secara umum, proses perencanaan pembangunan di Indonesia dilakukan ke dalam tiga tahap. Pertama, proses partisipatif. Proses ini melibatkan warga dalam pengusulan program pembangunan yang akan dibiayai baik pada level desa maupun daerah. Kedua, proses teknokratik. Hasil usulan prioritas yang dibahas pada level partisipatif akan dibawa ke tingkat SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) untuk dimasukkan ke dalam draft RAPBD. Proses ini dilakukan oleh masing-masing satuan kerja dan menyesuaikan visi kepala daerah.

Ketiga proses politik. Setelah SKPD memasukkan usulan ke program mereka, RAPBD akan dibahas oleh DPRD dan akan disahkan pada masa persidangan.

Proses ini menempatkan perencanaan di tingkat paling bawah pada wilayah partisipatif. Artinya, semua usulan akan berasal dari masyarakat. Oleh sebab itulah partisipasi masyarakat dalam mengajukan usulan sangat penting. Usulan tersebut tak hanya diajukan, tetapi juga mesti dikawal dan diperjuangkan sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Sebab, kepastian apakah proyek pembangunan yang diusulkan akan didanai akan ditentukan pada proses teknokratis dan politis di atasnya.

D. Mengenal Perencanaan Desa

(4)

Keharusan desa untuk memiliki RPJMDes dikuatkan dengan adanya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa. Pada peraturan tersebut, dijelaskan di pasal 2 ayat 3 bahwa RPJMDes memuat: 1) arah kebijakan keuangan desa, 2) strategi pembangunan desa, dan 3) program kerja indikatif desa. RPJMDes memuat rencana kegiatan selama 5 tahun ke depan.

Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2007, proses penyusunan RPJM-Desa dimulai dari penggalian aspirasi dan usulan masyarakat di tingkat terbawah. Skema RPJM-Desa yang ditawarkan oleh Permendagri tersebut disusun dari proses penggalian aspirasi di tingkat basis terkecil melalui mekanisme Musyawarah Dukuh, kemudian dikaji melalui alat kajian partisipatif (sketsa desa, kalender musim, dan analisis bagan kelembagaan).

Setelah itu, proses masuk pada pra-Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang Desa) untuk melakukan pemeringkatan masalah dan penentuan program indikatif. Proses ini akan melihat program mana saja yang akan jadi prioritas serta berapa besaran dana yang akan diperlukan. Setelah itu, RPJM-Desa disahkan pada Musrenbang Desa atas persetujuan dari Badan Permusyawaratan Desa.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa akan dijabarkan menjadi Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP-Desa), yaitu dokumen perencanaan untuk periode 1 (satu) tahun yang merupakan penjabaran dari RPJM-Desa. RKP-Desa memuat rancangan kerangka ekonomi desa dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan yang dimutakhirkan, program prioritas pembangunan desa, rencana kerja dan pendanaan serta perkiraan maju, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah desa maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat dengan mengacu kepada RPJM-Desa. RKP-Desa selanjutnya akan dijabarkan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

Oleh sebab itu, penyusunan dokumen perencanaan membutuhkan partisipasi dan pelibatan masyarakat hingga tingkat terbawah. Metode penyusunan ini memungkinkan semua kelompok sosial untuk terlibat dalam perencanaan. Kendala yang mungkin muncul adalah kendala birokratis dan teknis. Di sinilah peran mahasiswa diperlukan.

E. Pengalaman Mendampingi Penyusunan RPJM Desa Demen

Penyusunan RPJM di Desa Demen merupakan program KKN PPM UGM Unit 058. Program ini pada awalnya diinisiasi oleh Pusat Studi Perencanaan dan Pembangunan Regional (PSPPR) UGM. KKN ini dilatarbelakangi oleh belum adanya proses perencanaan desa secara partisipatif di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Berdasarkan data PNPM Mandiri Perdesaan, dari 15 desa yang ada di Kecamatan Temon dan memiliki RPJM Desa, hanya seperduanya saja yang dinyatakan lolos penilaian PNPM karena ketidaksesuaian penyusunan dengan pedoman yang ada.

Tim KKN berjumlah 30 mahasiswa dari berbagai fakultas, utamanya Perencanaan Wilayah, Geografi, dan hukum. Hanya 1 mahasiswa yang berlatar Fisipol (saya sendiri). KKN ini bertempat di Desa Demen dan Kebonrejo, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. KKN ini diberi tugas untuk menyusun draft RPJM Desa di kedua desa.

(5)

Selain itu, di Desa Demen, perencanaan desa secara partisipatif juga belum dikenal. Desa memang memiliki dokumen RPJM Desa yang dibuat pada kepemimpinan desa sebelumnya. Akan tetapi, dari hasil assessment kami, terungkap bahwa RPJM Desa tersebut dibuat hanya oleh perangkat desa untuk keperluan pencairan dana Alokasi Dana Desa (ADD). Sebab itu, kebutuhan untuk memperkenalkan perencanaan ke masyarakat menjadi penting, karena masyarakat harus dilibatkan dalam proses penyusunan RPJM Desa dan proses perencanaan penganggaran selanjutnya.

Pada mulanya, proses penyusunan RPJM Desa dimulai dari assessment. Kami menghadapi sebuah problem bahwa proses perencanaan partisipatif sama sekali belum dikenal baik oleh masyarakat maupun perangkat desa. Proses perencanaan dianggap sebagai ‘pekerjaan perangkat desa’, sehingga musyawarah untuk membuat dokumen perencanaan belum pernah dilakukan sebelumnya.

Assessment di Desa Demen sudah dilakukan beberapa pekan sebelum KKN resmi dimulai. Dari assessment pertama, terungkap bahwa Kepala Desa yang terpilih belum punya pengalaman pemerintahan di Desa, dengan tingkat pendidikan yang tidak sebaik kepala desa sebelumnya. Selain itu, dari assessment yang kami lakukan terhadap dokumen perencanaan, terungkap bahwa dokumen RPJM Desa sebelumnya banyak yang merupakan

copypaste dokumen perencanaan dari daerah lain. Hal ini juga dikonfirmasi oleh hasil penilaian Fasilitator Kecamatan PNPM Mandiri Perdesaan yang menilai dokumen tersebut di bawah standard PNPM.

Setelah assessment, kami bergerak ke tahap penjadwalan. Normalnya, penjadwalan dimulai dari pembentukan tim penyusun RPJM Desa. Namun, kami terkendala pada waktu yang sudah mulai mendekati Ramadhan dan belum ada tim yang terbentuk. Oleh sebab itu, tim berinisiatif untuk langsung melakukan penjadwalan Musyawarah di masing-masing dukuh. Musyawarah dukuh tidak mudah untuk dijadwalkan. Sebab, kami menghadapi waktu yang cukup sulit, yaitu bulan Ramadhan dan musim tanam. Banyak warga yang menghabiskan waktu malam di sawah. Oleh sebab itu, perlu waktu yang tepat untuk mengorganisir pertemuan warga.

Proses pengorganisasian Musyawarah Dukuh dilakukan dengan didampingi oleh perangkat desa. Di beberapa dukuh, Musyawarah dilakukan dengan menggunakan acara arisan (Bapak dan Ibu). Ada pula yang menggunakan momen selepas tarawih, dan beberapa dilakukan pada saat pertemuan selapanan warga. Ibu-ibu difasilitasi forum sendiri, yaitu ketika pertemuan kader-kader PKK dan Posyandu untuk memastikan usulan kelompok perempuan terakomodasi. Musyawarah dipimpin oleh Pak Dukuh dan difasilitasi oleh mahasiswa.

Musyawarah Dukuh menjaring problem-problem yang dirasakan di masyarakat. Setelah melakukan pemetaan problem, dengan difasilitasi mahasiswa, forum diarahkan untuk melihat langkah apa yang akan diambil untuk menanggulangi masalah yang ada. Langkah-langkah tersebut akan dimasukkan sebagai usulan program indikatif desa. Setelah ada langkah, forum juga membuat prioritas, mana yang akan dilaksanakan pada tahun pertama, kedua, dan seterusnya.

Setelah Musyawarah Dukuh selesai, baru dibentuk Tim Penyusun RPJM Desa di tingkat desa. Tim ini dibentuk atas fasilitasi tim KKN dan dipimpin oleh Kabag Pembangunan (Pak Makmur –sebutan warga untuk perangkat). Tim ini bertugas untuk menyusun RPJM Desa sesuai dengan kerangka kerja yang ditetapkan.

(6)

Pelatihan Pembuatan RPJM Desa; (7) Penyusunan Draft Awal RPJM Desa; (8) Lokakarya Desa dan Penyusunan Program Indikatif; serta (9) Pengesahan RPJM Desa.

Kajian terhadap Visi, Misi dan Prioritas Pembangunan diambil dari dokumen visi dan misi Kepala Desa terpilih serta mempertimbangkan kondisi di Desa Demen sendiri. Hasilnya, tim perumus sepakat untuk memilih visi “Terwujudnya Desa Demen yang Religius, Sejahtera, Berbasis Pertanian, dan Mandiri”. Visi tersebut juga disinkronkan dengan dokumen RPJM Daerah yang sudah ada. Analisis Keuangan Desa dilihat dari dana ADD dan APBDes tahun sebelumnya.

Sementara itu, Profil Desa disusun dengan menggunakan form yang diberikan oleh Pemerintah Daerah. Tim Mahasiswa melakukan fasilitasi untuk mengisi dokumen tersebut dengan mewawancarai beberapa narasumber penting. Setelah itu, tim penyusun RPJM Des melakukan pembahasan hasil musyawarah dukuh dan melakukan pemeringkatan berdasarkan kriteria yang diberikan oleh Permendagri 66/2007 serta prioritas tindakan pemecahannya.

Untuk memastikan tim penyusun RPJM Desa, perangkat desa, dan kader-kader pembangunan lebih memahami perencanaan dan penganggaran desa, Tim Mahasiswa menggelar pelatihan penyusunan perencanaan dan penganggaran partisipatif. Pelatihan tersebut menghadirkan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dari Pemkab Kulon Progo, tim fasilitator dari Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional UGM, dan IDEA Yogyakarta, LSM yang bergerak di bidang advokasi anggaran.

Pelatihan ini memberikan dasar-dasar kepada perangkat desa untuk melakukan perencanaan secara partisipatif. Setelah menggelar pelatihan, proses penyusunan RPJM Desa dilanjutkan dengan lokakarya desa. Proses ini membahas program indikatif pemerintah desa selama lima tahun. Program indikatif ini disusun berdasarkan pemeringkatan dan prioritas yang sudah ditentukan.

Lokakarya ini mengundang semua stakeholder yang berkepentingan dengan pembangunan desa, baik dari perempuan (kader PKK & Posyandu), kelompok tani, organisasi masyarakat (Muhammadiyah & NU), ta’mir mesjid, hingga pegiat lembaga simpan pinjam desa. Tak mudah mengagendakan lokakarya, karena harus berkompromi dengan jadwal-jadwal warga yang lain. Tetapi, di luar dugaan, warga justru banyak yang menghadiri undangan, terutama dari kelompok perempuan.

Lokakarya diformat dalam bentuk FGD dan pleno. Masing-masing undangan dibagi ke dalam 7 urusan wajib dan 1 urusan pilihan (pertanian) sesuai dengan kapasitas peserta. Masing-masing kelompok itu antara lain: (1) Perangkat Desa; (2) Anggota BPD; (3) Pengurus LPMD; (4) Kelompok Masyarakat (Karang Taruna, Takmir Mesjid, Kelompok Tani, dsb.); (5) Kader Perempuan (PKK, Posyandu); dan (6) Perwakilan Dukuh dengan mempertimbangkan keseimbangan gender

Pembentukan Tim Penyusun RPJMDes

Kajian Visi-Misi & RPJMD

Kajian Masalah & Potensi Desa

Penyusunan Draft Awal RPJMDes

FGD Pembahasan

Draft Penajaman

Substansi Musrenbang

(7)

Lokakarya menjadi penting karena di sini kelompok-kelompok yang selama ini marjinal dan tidak mengakses proses perencanaan dapat bersuara. Selama ini, menurut pengakuan salah satu tokoh perempuan di desa model Musrenbang yang digelar pemerintah desa jarang mengakomodasi suara perempuan. Bahkan, hanya sedikit perempuan yang diundang di forum, sehingga anggarannya tidak responsif gender. Lokakarya membuka sedikit ruang partisipasi untuk perempuan.

Di Lokakarya juga dibahas draft awal dari RPJM Desa. Setelah lokakarya yang hasilnya adalah mengesahkan program indikatif pembangunan beserta prioritas-prioritasnya, draft

awal tersebut dikonsultasikan dengan beberapa stakeholder, antara lain Fasilitator PNPM Mandiri dan Pemerintah Daerah. Draft yang sudah dikonsultasikan tersebut kemudian disahkan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai Peraturan Desa Demen.

F. Beberapa Catatan Penting: Strategi Pengorganisasian

Proses panjang perencanaan partisipatif di atas membutuhkan ‘energi’ yang cukup besar, terutama dalam hal pengorganisasian. Ada beberapa catatan penting yang saya kumpulkan dari hasil evaluasi mengenai pengorganisasian warga dalam penyusunan RPJM Desa di Demen, Kulon Progo

1. Assessment dan Pemetaan

Pada aktivitas manapun, assessment (penjajakan) dan pemetaaan terhadap kondisi lapangan selalu menjadi hal penting. Assessment dan pemetaan akan menentukan langkah dan strategi advokasi apa yang akan ditempuh oleh tim dalam melaksanakan tugasnya.

Assessment adalah menjajaki ‘medan’ advokasi sebelum merancang strategi. Assessment

bisadilakukan melalui observasi, silaturrahmi informal, wawancara, hingga ikut pertemuan-pertemuan warga.

Setelah assessment, tim perlu melakukan pemetaan. Hal paling penting yang perlu dipetakan adalah: (1) politik desa; (2) tokoh-tokoh berpengaruh; (3) latar belakang budaya; (4) preferensi keagamaan; dan (5) institusi-institusi yang berada di desa, formal maupun informal. Assessment dan pemetaan akan menjadi acuan untuk merumuskan strategi apa yang akan dilakukan untuk mengadvokasi di desa.

Pengalaman kami di lapangan, assessment yang terlambat akan mengakibatkan tim menjadi ‘salah langkah’ dan kesulitan mengendalikan situasi. Karena assessment yang tidak lengkap, kami sempat salah dalam melakukan penjadwalan Musyawarah Dukuh, karena tidak adanya peta dan tidak tahu ‘siapa’ yang mengendalikan proses-proses birokratis-politis di desa. Akibatnya, lobi dan komunikasi sempat mengalami kebuntuan di pekan pertama. Beruntung, lobi yang kami lakukan kepada pak Carik (sekretaris desa) bisa mengondisikan situasi di desa.

2. Mendekati Tokoh Kunci

Setelah tokoh-tokoh kunci di-assess dan dipetakan, perlu adanya pendekatan. Mendekati mereka bisa dengan silaturrahmi informal (cara yang paling biasa dilakukan) atau pada forum-forum formal maupun informal. Mendekati tokoh kunci akan memudahkan tim untuk membangun komitmen dan kepercayaan, serta menjadi modal untuk lobi dan negosiasi.

Di Demen, tokoh kunci selain perangkat dan pak dukuh adalah tokoh perempuan (Wakil Ketua BPD) dan tokoh keagamaan (imam masjid serta Ketua Ranting Muhammadiyah). Selain memudahkan komunikasi, pendekatan yang kami bangun juga memudahkan kami dalam menjadwalkan Musyawarah dan memobilisasi warga.

(8)

Setelah mendekati tokoh tersebut, penting untuk masuk pada langkah selanjutnya: membangun komitmen dan kepercayaan pada isu yang kita advokasi. Membangun komitmen adalah menjadikan isu tersebut sebagai ‘isu bersama’, bukan isu mahasiswa atau isu elit desa. Membangun komitmen dilakukan secara perlahan, sedikit-demi-sedikit, dengan memberikan pemahaman bahwa isu advokasi penting bagi desa.

Komitmen akan susah dibangun tanpa kepercayaan. Oleh sebab itu,penting agar tim advokasi dipercaya oleh warga. Mahasiswa bisa melakukan beberapa cara agar dipercaya, bisa dengan memanfaatkan kedekatan identitas kultural, srawung dengan warga, dan berkomunikasi secara baik dan intens.

Pengalaman di Desa Demen, kepercayaan terbangun lewat kedekatan kultural dan srawung.

Kami hampir selalu hadir di acara-acara warga, terutama ketika bulan Ramadhan. Terlebih, secara kebetulan beberapa di antara kami juga merupakan warga Muhammadiyah sehingga kami diberi kepercayaan untuk mengisi ceramah tarawih. Dengan srawung dan pembangunan kepercayaan, warga akan lebih mudah membangun komitmen dengan program yang kita tawarkan.

4. Mengoptimalkan Pertemuan Warga

Bagi sebagian warga desa, mencari waktu lowong bukan sesuatu yang mudah. Terutama jika waktu sedang menginjak musim tanam. Seluruh pikiran warga (jika komunitasnya adalah petani) akan tercurah ke sawah. Oleh sebab itu, waktu-waktu untuk musyawarah perlu menyesuaikan dengan warga.

Sebetulnya, tim advokasi tidak perlu mencari waktu khusus untuk melakukan musyawarah. Biasanya warga sudah punya jadwal pertemuan sendiri yang rutin, entah melalui pengajian, arisan, selapanan, Posyandu, atau pertemuan lain. Tim advokasi bisa menggunakan momen-momen itu, sehingga tidak perlu bersusah-payah menyediakan waktu kosong untuk musyawarah.

Pengalaman kami di Demen, Musyawarah Dukuh dilaksakan dengan menggunakan momen arisan bapak-bapak, rehat selepas tarawih, temu kader perempuan desa, Posyandu, hingga arisan selapanan. Asalkan diundang, jika waktunya tepat, warga pasti datang.

5. Pelatihan & Sosialisasi

Selain mengorganisasi pertemuan-pertemuan warga, perlu juga penguatan kapasitas serta distribusi informasi. Terutama, bagi para ‘pemangku kepentingan’ dan pemegang amanah publik. Oleh sebab itu, perlu adanya sosialisasi dan pelatihan kepada warga terkait perihal perencanaan.

Pelatihan bisa diformat beberapa hari, bisa juga satu hari. Materi yang diberikan sebisa mungkin disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Paling tidak, warga diberi pemahaman mengenai pentingnya partisipasi dalam anggaran. Dalam hal sosialisasi, perlu juga menggunakan undangan langsung kepada warga agar semua warga bisa mengetahui dan bisa datang pada acara yang kita selenggarakan.

6. Menginisiasi Community Centre

Agar proses advokasi berjalan, perlu dibuat sebuah komunitas informal yang memang menjadi wadah untuk berdiskusi tentang isu advokasi yang sedang diangkat. Kalau ukurannya adalah advokasi anggaran, maka perlu dibuat komunitas warga yang memang belajar anggaran. Ini penting, agar masyarakat bisa memahami isu ini secara mandiri tanpa harus tergantung pada tim advokasi.

(9)

Sebab, selain susah mengorganisir warga, juga pemuda di sana tidak banyak. Ini jadi catatan penting bagi kami karena akhirnya setelah KKN selesai, proses pendidikannya tersendat. KAMMI mungkin bisa lebih baik dari itu.

Pengalaman menginisiasi Community Centre bisa belajar dari pengalaman Amin Sudarsono di Pekalongan. Untuk memfasilitasi warga NU belajar anggaran, Pattiro di sana menginisiasi

Nahdhiyin Centre. Tentu tidak 1-2 bulan lantas langsung selesai. Ada proses yang diperlukan untuk men-sustain-kan komunitas itu. Di Yogyakarta, yang cukup leading adalah IDEA Yogyakarta yang punya program Sinau Anggaran dan menjadi alat untuk membentuk beberapa Community Centre.

7. Lobi & Negosiasi

Jika komunikasi dengan tokoh agak tersendat, tim advokasi bisa menggunakan mekanisme lobi. ‘Lobi’ berarti meyakinkan stakeholder untuk melakukan sesuatu hal, bahwa hal itu memang penting bagi warga. Lobi dan negosiasi menjadi penting. Sebisa mungkin, tim advokasi melobi pada orang yang tepat. Kalau memungkinkan, tidak melobi sendirian, tetapi juga melibatkan warga lain.

Pengalaman kami, sempat di minggu pertama komunikasi tersendat di tataran perangkat desa. Lobi dilakukan kepada Carik atau Sekretaris Desa agar memfasilitasi beberapa program. Beruntung, pak Carik bisa dilobi dan bisa memfasilitasi scenario yang kami rancang. Setidaknya, ada satu perangkat desa yang bisa diajak diskusi untuk mengegolkan program.

8. Membangun Jejaring Strategis

Selain membangun lobi ke tokoh-tokoh kunci di desa, penting juga bagi tim advokasi untuk membangun jejaring strategis di luar. Ada banyak tokoh dan lembaga yang bisa diajak untuk berpartner. Mereka bisa membantu kita di bagian-bagian yang susah dijangkau, karena keterbatasan-keterbatasan tim. Pihak yang bisa membantu itu bisa saja Pemda, LSM, lembaga pemerintah, atau jaringan-jaringan lain.

Berdasarkan pengalaman, kami menggandeng beberapa pihak untuk menyukseskan aktivitas kami di desa. Kami berjejaring dengan Fasilitator Kecamatan & Teknis PNPM Mandiri Perdesaan untuk menghimpun beberapa data dan menjalin komunikasi dengan Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) PNPM di Desa Demen. Selain itu, tentu saja Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMPDPKB) Kulon Progo yang menyambut baik.

9. Melanjutkan Advokasi Hingga Tingkat yang Lebih Tinggi

Setelah RPJM Desa selesai, apa yang perlu dilakukan selanjutnya? Tentu saja, setelah draft rancangannya disahkan jadi Perdes, perlu ada tindak lanjut. Jangan sampai, setelah RPJM Desa selesai, partisipasinya bubar. Proses penganggaran setelah RPJM Desa yang cukup panjang perlu dikawal juga, bahkan sampai ke Musrenbang tingkat Kabupaten.

Kelemahan dari KKN kami adalah tidak adanya desan tindak lanjut yang berkelanjutan. Mungkin, karena tidak semua anggota punya sense advokasi sehingga setelah selesai KKN atau selesai proyeknya, selesailah pekerjaan. Padahal, kalau diteruskan ke advokasi anggaran akan lebih menantang. Saat ini, saya sedang berupaya untuk mengawal sampai ke Musrenbang Kabupaten yang akan digelar bulan ini.

(10)

Secara umum, proses perencanaan penganggaran tahunan meliputi: (1) Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) yang berisi program kerja tahunan pemerintah desa; (2) Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang berisi anggaran tahunan pemerintah desa. Pembiayaan pembangunan desa akan bergantung pada APBDes. Dua dokumen tersebut akan dibahas dan disahkan pada Musrenbang Desa. Di beberapa daerah, proses musrenbang sudah diintegrasikan dengan prosedur PNPM Mandiri Perdesaan. Proses ini perlu dikawal agar partisipatif.

Jika ternyata dana APBDes tidak cukup (mungkin karena Pendapatan Asli Desa kecil), usulan bisa dimasukkan di Musrenbang Kabupaten dan dipertarungkan dengan usulan lain (baik dari desa lain ataupun SKPD) agar jadi prioritas daerah. Usulan-usulan tersebut bisa disampaikan di Musrenbang Kabupaten. KAMMI bisa berperan mengawalnya dengan melakukan analisis anggaran dan mengawal proses Musrenbang agar sesuai dengan aspirasi masyarakat dan tidak kalah dengan usulan-usulan SKPD.

Di sinilah peran KAMMI, untuk memastikan proses penganggaran daerah (1) partisipatif, (2) sampai ke tangan yang berhak, dan (3) bisa diakses oleh masyarakat. Ini akan membutuhkan kolaborasi dari Departemen Sosmas dan Departemen Kebijakan Publik untuk proses advokasi anggaran.

G. Ikhtitam: Refleksi bagi KAMMI

…Oleh karena itu, sesungguhnya masjid adalah miniatur organisasi.Organisasi adalah masjid virtual. Dengan organisasi, kita ‘menjamaahkan’ amal shaleh demi tujuan bersama organisasi” (Masdar Farid Mas’udi)

Paradigma gerakan sosial independen KAMMI telah menyatakan bahwa KAMMI adalah gerakan kultural yang berdasarkan kesadaran dan kesukarelaan yang berakar pada nurani kerakyatan. Konsekuensi dari paradigma gerakan ini adalah bahwa KAMMI mesti menjelma pada masyarakat (gerakan kultural) atas dasar keikhlasan untuk membantu umat (nurani kerakyatan). Dua dasar inilah yang menjadi panduan gerak bagi KAMMI.

Yang membedakan KAMMI dan organisasi lain yang juga bergerak di bidang advokasi anggaran adalah nawaitu-nya. Ini yang akan menjadi ‘privilege’ KAMMI. Jika kami dulu mendorong perencanaan karena tuntutan akademik, yang menjadi ‘energi’ bagi gerak kami waktu itu, KAMMI perlu mengembangkan sumber energi lain, yaitu ‘ikhlas’. Artinya, dengan keikhlasan, advokasi akan benar-benar sampai pada dimensi epistemologisnya, yang telah digariskan oleh Al-Qur’an Surah Al-Ma’un.

Advokasi pada dasarnya bukanlah sesuatu yang perlu di-‘bangga’-kan. Tetapi, ia adalah konsekuensi logis dari posisi manusia sebagai ‘makhluk sosial’. Artinya, sudah selayaknya advokasi jadi ajang pembelajaran. Beberapa kawan sudah memulai dari pendidikan (GKM, LH), pelayanan sosial (SSC), dll. Mungkin, KAMMI perlu juga masuk ke bidang anggaran, agar tidak terputus dengan problem structural yang Indonesia hadapi saat ini.

Nashrun Minallah wa Fathun Qariib….

Referensi

Dokumen terkait

Alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai kegiatan atau proram pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan

1. Proses; Proses sosialisasi Perencanaan Partisipatif Penatagunaan Lahan Desa yang dilakukan di lima desa prioritas secara umum berjalan dengan baik. Penggunaan media

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bimana implementasi perencanaan partisipatif dalam mewujudkan pembangunan desa dan mengetahui bagaimana kelibatan masyarakat

Iya, setiap usulan dan aspirasi yang digagaskan oleh masyarakat semua di akomodir serta dimasukkan di dalam dokumen untuk menjadi dasar perencanaan pembangunan sebab kalau

Pertama, Fokus perencanaan, berdasarkan pada masalah dan kebutuhan yang dihadapi masyarakat serta memperhatikan aspirasi masyarakat yang memenuhi sikap saling percaya

Dalam pelaksanaan proses perencanaan tersebut kepala desa harus melibatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan, proses yang melibatkan masyarakat

Ada banyak aktor yang terlibat dalam proses perencanaan pembangunan baik dari pihak pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta sektor swasta, dari keikutsertaan partisipasi para

6 Kabupaten Musi Banyuasin sebagai fasilitator kegiatan perencanaan pembangunan dalam melibatkan masyarakat untuk memberikan aspirasinya terhadap kebutuhan dan kepentingan daerah di