Hak Suami dan Isteri dalam Hal Jima

16 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pernikahan merupakan hak bagi setiap orang, dalam ajaran islam menganjurkan manusia untuk menikah. Karena, dalam berbagai literatur hadis maupun literature lainnya, menyebutkan bahwa menikah merupakan separoh agama, maknanya adalah begitu penting bagi manusia untuk menikah. Suatu pernikahan pasti memiliki tujuan, dan umumnya tujuan dari pernikaahn tersebut adalah untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Disamping itu, dalam suatu rumah tangga memiliki aturan khusus agar tujuan dari pernikahan tersebut dapat terwujud. Islam pun juga mengajarkan, bahwa aturan atau kedudukan tersebut yaitu adanya hak dan kewajiban, dan itu berlaku bagi seluruh anggota keluarga, baik suami, istri maupun anak. Adapun persoaln yang masih menjadi ikhtilaf diantara para ulama adalah masalah jima’. Pada dasarnya, dalil secara eksplisit yang menyebutkan kedudukan suami dan istri adalah jima’ meruapakn hak bagi seorang istri dan kewajiban bagi seorang istri. namun, disisi lain muncul pemahaman bahwa adanya unsur ketidakadilan apabila masalah jima’ merupakan hak istri, sedangkan istri hanya memberikan pelayanan atau tempat menyalurkan syahwat suaminya. padahal, islam tidak pernah mengajarkan penganutnya untuk bersifat diksriminasi atau bersikap tidak adil. Oleh karena itu, apakah ada hak istri dalam jima’.untuk mengetahui hal tersebut lebih lanjut dan jelas dapat dilihat dalam makalh ini.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah hak suami dalam hal jima’ ? 2. Bagaimanakah hak istri dalam hal jima’ ?

3. Apakah seorang istri boleh menolak ajakan suaminya untuk berjima’ ? C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui hak seorang suami dalam hal jima’ 2. Untuk mengetahui hak seorang istri dalam hal jima’

3. Untuk mengetahui boleh atau tidak seorang menolak suami untuk berjima’

(2)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Jima’

Dalam Bahasa Arab, kata jima’ berarti hubungan seksual, senggama, atau bersetubuh. Kata

jima’ disebut juga dengan al-wath’u seperti yang ditulis dalam kitab mu’jam lughat al-fuqaha

yaitu memasukan zakar kedalam farji. Para ulama Ushul Fiqh selalu mengaitkan kata al-wath’u

atau jima’ dalam konteks nikah. Dengan kata lain, yaitu jima’ antara laki-laki dan wanita yang dihalalkan ketika sudah menikah atau jima’ yang dilakukan oleh suami dan isteri, bila tidak demikian maka dihukum zina. 1

B. Hak Suami dalam Jima’

Diantara hak suami yang paling besar yang harus ditunaikan isteri adalah hak suami untuk menggaulinya. Jika isteri menolak ajakan suami tanpa sebab yang syar’i, berarti ia telah melakukan dosa besar. Karena, dalam ajaran islam mengajarkan bahwa persoalan jima’ sudah menjadi hak bagi suami dan kewajibaan bagi istri. Adapun hadis nabi yang berbicara tentang hak suami dalam masalah jima’.

1. Shahih Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan Makhluq, Bab Penjelasan tentang Malaikat No. Hadist : 29982

ِ اا ُلو ُسسسَر َلاسسَق َلاسسَق ُهسسْنَع ُ اا َي ِسسضَر َةَرسسْيَرُه يِبَأ ْنَع ٍمِزاَح يِبَأ ْنَع ِشَمْعَ ْلا ْنَع َةَناَوَع وُبَأ اَنَثادَح ٌدادَسُم اَنَثادَح

َحِبْصُت ىاتَح ُةَكِئ َلَمْلا اَهْتَنَعَل اَهْيَلَع َناَبْضَغ َتاَبَف ْتَبَأَف ِهِشاَرِف ىَلِإ ُهَتَأَرْما ُلُجارلا اَعَد اَذِإ َمالَسَو ِهْيَلَع ُ اا ىالَص

“Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Abu 'Awanah dari Al A'masy dari Abu Hazim dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu istrinya menolaknya sehingga dia melalui malam itu dalam keadaan marah, maka malaikat melaknat istrinya itu hingga shubuh".

1 Gus Arifin, Menikah Untuk Bahagia (Jakarta: Quanta, 2013), hlm. 188

2 Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), hlm. 680

(3)

2. Shahih Muslim, Kitab Nikah, Bab larangan bagi wanita untuk menolak saat diajak bersetubuh, No. Hadist : 25943

َةَداسسَتَق ُتْعِم َسسس َلاسسَق ُةَبْعُش اَنَثادَح ٍرَفْعَج ُنْب ُدامَحُم اَنَثادَح َلاَق ىانَثُمْلا ِنْب ِل ُظْفاللاَو ٍرااشَب ُنْباَو ىانَثُمْلا ُنْب ُدامَحُم اَنَثادَح

َشاَرسسِف ًةَرِجاسسَه ُةَأ ْرسسَمْلا ْتَتاسسَب اَذِإ َلاَق َمالَسَو ِهْيَلَع ُ اا ىالَص ّيِبانلا ْنَع َةَرْيَرُه يِبَأ ْنَع ىَفْوَأ ِنْب َةَراَرُز ْنَع ُثّدَحُي

َحِبْصُت ىاتَح ُةَكِئ َلَمْلا اَهْتَنَعَل اَهِجْوَز

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar sedangkan lafazhnya dari Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; Saya pernah mendengar Qatadah telah menceritakan dari Zurarah bin Aufa dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila seorang istri enggan bermalam dengan

memisahkan diri dari tempat tidur suaminya, maka Malaikat akan melaknatnya sampai pagi

".

3. Abu Daud, Kitab Nikah, Bab Hak suami atas isteri, No. Hadist : 18294

ُ اا ىال َسسص ّيِبانلا ْنَع َةَرسسْيَرُه يِبَأ ْنَع ٍمِزاسسَح يِبَأ ْنَع ِشَمْعَ ْلا ْنَع ٌرسسيِرَج اَنَثادسسَح ّيِزاارسسلا وٍرْمَع ُنْب ُدامَحُم اَنَثادَح

َحِبْصُت ىاتَح ُةَكِئ َلَمْلا اَهْتَنَعَل اَهْيَلَع َناَبْضَغ َتاَبَف ِهِتْأَت ْمَلَف ْتَبَأَف ِهِشاَرِف ىَلِإ ُهَتَأَرْما ُلُجارلا اَعَد اَذِإ َلاَق َمالَسَو ِهْيَلَع

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amr Ar Razi, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al A'masy, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila seorang laki-laki memanggil isterinya ke ranjangnya (mengajak melakukan hubungan badan), kemudian sang istri menolak dan tidak datang kepadanya sehingga suaminya melewati malam (tidur) dalam keadaan marah, maka Malaikat akan melaknatnya hingga pagi."

Menurut Ibn Abu Jamrah, lafal ِهِشاَرِف ىَلِإ ُهَتَأَرْما ُلُجارلا اَعَد اَذِإ (Apabila seseorang laki-laki memanggil istrinya ke tempat tidurnya) secara zhahir kata ”tempat tidur” di sini merupakan kiasan dari perbuatan jima’. Hal ini didukung pleh sabdanya شارفلل دلولا yang berarti suami yang sah, yakni untuk mereka melakukan hubungan intim di tempat tidur. “makna zhahir hadis adalah pengkhususan laknat kepada mereka yang melakukan hal itu semalaman berdasarkan perkataannya’hingga subuh’. Seakan-akan rahasianya adalah penekanan bagi hal itu di waktu

3 Muhammad Fuad Abdul Baqi, Shahih Muslim. Jilid 2 (Jakarta: Pustaka As-Sunnah, 2010), hlm. 761

4 A. Syinqithy Djamaluddin, Sunan Abu Daud. jilid 3 (Semarang: CV. Asy-syifa, 1992), hlm. 60

(4)

malam dan kuatnya dorongan kepadanya. Namun, tidak berarti istri boleh menolak di siang hari. Hanya saja malam disebutkan secara khusus., karena ia merupakan waktu dimana banyak terjadi perbuatan tersebut.5

َحِب ْصُت ىاتَح ُةَكِئ َلَمْلا اَهْتَنَعَل (Malaikat melaknatnya sampai subuh). Dalam hadis ini dikatakan bahwa malaikat mendoakan kecelakaan bagi pelaku maksiat selama mereka berada dalam kemaksiatannya. Ini menunjukan mereka juga mendoakan kebaikan bagi pelaku ketaatan selama mereka berada dalam ketaatan. Demikian dikatakan Al-Muhallab, namun juga perlu ditinjau kembali. Ibn Abi Jamrah berkata, “apakah malaikat yang melaknatnya adalah para pemelihara atau selain mereka? Ada dua kemungkinan. “saya berakata, kemungkinan ada sebagian malaikat yang ditugaskan khusus untuk itu. Kemungkinan ini diindikasikan pernyataan umum dalam riwayat Muslim, yaitu kalimat, “yang berada di langit”, jika yang dimaksudkan adalah penghuninya.6

Imam Nawawi ra berkata, “ini adalah dalil diharamkannya isteri menolak saat diajak melakukan hubungan intim tanpa alasan syar’i, dan haid bukanlah alasan untuk menolak, sebab suami tetap berhak menikmati tubuh isterinya di bagian selain kemaluan.” Selain itu, hadis tersebut juga bermakna bahwa laknat akan jatuh kepadanya sampai maksiatnya hilang dengan datangnya pagi. Untuk menghapuskan laknat itu, ia harus bertobat dan mau diajak melakukan hubungan intim kembali”7. Hak besar dapat merusak rumah tangga, bahkan tak jarang wanita

bisa menjadi penyebab suami kabur dari rumah dan terjerumus ke lembah nista yang penuh dosa. Jika seorang lelaki berhasrat terhadap seorang wanita di luar, ia akan pulang ke rumah menjumpai isterinya. Apabila ia telah menggauli isterinya, lenyaplah segala keinginan yang ada dalam hatinya terhadap wanita lain itu, sebab apa yang ada pada diri wanita lain itu juga ada pada isterinya. Sebaliknya, jika isteri menolak maka hasratnya akan makin menggebu.

Dengan demikian, persoalan jima’ merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diapahami oleh seorang istri dalam menjalankan kewajibannya, serta menekankan sikap ketaatan total seorang istri kepada suaminya. Hal ini menunjukan bahwa kewajiban istri yang hakiki adalah selalu berupaya membahagiakan hati suaminya dengan tidak menolak bila dibutuhkan kapan saja oleh suaminya.8 Sehingga, pentingnya jima’ dalam hubungan suami dan istri, para

ualam berbeda pendapat.

5 Ibn Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari. jilid 25 (Jakarta: pustaka azzam, 2007),hlm 6 Ibn Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari. jilid 25 (Jakarta: pustaka azzam, 2007),hlm.

7 Syaikh Mahmud Al-Mashri, Perkawinan Idaman (Jakarta: Qisthi Press, 2011), hlm.74

8 Muhammad Asmawi, Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan (Yogyakarta: Darussalam, 2001), hlm. 210

(5)

Menurut Syafi’I dan Hanbali, seorang istri tidak wajib melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari, juga tidak perlu mengurusinya, karena yang benar-benar menjadi kewajiban bagi seorang sitri adalah memberikan pelayanan dan servis yang bagus kepada suaminya. Jadi, seorang istri itu tidak wajib memasak nasi, air, mencucui pakaian, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Demikian juga, tidak wajib pergi ke sawah, belanja ke pasar dan sebagainya.

Tetapi, menurut Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Ishak al-Juzjani, bahwa seorang istri harus punya peran dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan keperluan sehari-hari rumah tangganya. Ini berlandaskan kepada kisah ‘Ali bin Abi Thalib dan Siti Fatimah ketika mengadu permasalahn rumah tanggannya kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau memutuskan, bahwa Siti Fatimah bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga, sedangkan ‘Ali bin Abu Thalib bertanggung jawab terhadap pekerjaan diluar rumah tangga, yaitu mencari nafkah untuk kelangsungan dan kesempurnaan rumah tangga yang didirikan bersama. Ini yang menjadi perbedaan dengan pendapat Syafi’I dan Hanbali, bahwa peran seorang istri yang berkaitan dengan pekerjaan urusan rumah tangga bukan merupakan kewajiaban dan tanggung jawabnya, tetapi hanya merupakan tradisi yang erlaku pada suatu negeri tertentu, yang berkaiatan dengan sopansantun dan tata cara pergaulan yang biasa dilakukan oleh suami istri untuk saling tolong-menolong dan bantu membantu dalam urusan rumah tangga.9

Mengenai hal tersebut, dalam kitab Syarah Riyadhus Shalihin Imam Nawawi karya Dr. Musthafa Dib al-Bugha menyebutkan bahwa, inti sari dari hadis tersebut adalah tentang kewajiban seorang isteri mematuhi suaminya apabila ia membutuhkannya kalau tidak ada udzur. Penolakan isteri terhadap ajakan suaminya termasuk dosa besar yang dapat menjauhkannya dari rahmat Allah swt. serta penolakn isteri terhadap ajakan suaminya terkadang dapat menyebabkan suami terjerumus ke dalam maksiat.10

C. Hak Istri dalam Jima’

9 Muhammad Asmawi, Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan (Yogyakarta: Darussalam, 2001), hlm. 211

10 Dr. Musthafa Dib Al-Bugha, Syarah Riyadhush Shalihin Imam An-Nawawi (Jakarta: Gema Insani, 2012), hlm.

301-302

(6)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa masalah jima’ pada umumnya merupakan salah satu kajian hukum keluarga tentang hak suami dan istri, yang mana, jima’

meruapakan hak bagi suami dan kewajiban bagi istri. Hal ini secara tidak langsung memberikan pemahan bahwa kedudukan istri bagi suami dalam masalah jima’ merupakan tempat bagi suami untuk menyalurkan hawa nafsunya dan tempat untuk mendapatkan kenikmatan secara individual, tanpa memikirkan pihak istri, apakah ia juga mendapatkan hal yang sama atau tidak. Sehingga, ini akan menimbulkan kesalah pahaman dan unsur ketidakadilan antara suami dan istri. Padahal, dalam masalah jima’ ini walaupun secara eksplisit merupakan hak suami dan kewajiban istri, bukan berarti istri tidak memiliki hak terhadap hal tersebut. Rasulullah saw. bersabda:

اًّقَح ْمُكْيَلَع ْمُكِئاَسِنِلَو اًّقَح ْمُكِئاَسِن ىَلَع ْمُكَل انِإ َلَأ

“Ketahuilah, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri kalian, dan isteri kalian juga mempunyai hak atas kalian” (H.R Tirmidzi, Kitab Penyusuan, Bab Hak istri atas suami, No. Hadist : 1083)

Juga terdapat dalam Firman Allah Swt.,

 “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf” (al-Baqarah:228)

Imam al-Qurthubi menafsrikan bahwa istri memiliki hak yang serupa dengan hak yang dimiliki oleh para suami, begitu juga dengan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan keduanya. Karena ayat inilah Ibn Abbas pernah mengatakan : aku selalu menghias diri (terlihat rapi untuk istriku, sebagaimana ia juga selalu menghias dirinya untukku. Karena aku sangat senang untuk menerima hakku atasnya, maka begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, aku akan selalu melakukan semua kewajibanku atasnya, agar istriku pun dapat berbuat yang sama, yakni menghias diri dengan sesuatu yang tidak diharamkan dan tidak berlebih-lebihan.11

Disamping itu, at-Thabari juga menafsirkan ayat ini yaitu mereka berhak tidak disakiti sebagaimana mereka juga berkewajban tidak menyakiti. Ibn Zaid juga menafsirkan yaitu hendaknya mereka bertakwa kepada Allah atas apa yang mereka lakukan kepada sumai-suami mereka, sebagaimana suami-suami mereka juga berkewajiban memperlakukan istrinya atas dasar ketakwaan kepada Allah swt. 12

11 Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), hlm. 271

12 Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), hlm. 271

(7)

Dengan demikian, persoalan jima’ bukanlah semata-mata merupakan kewajiban bagi istri untuk melayani suaminya, akan tetapi ia juga memiliki hak yang sama dengan suaminya. Oleh sebab itu, menurut penulis ada beberapa hal yang menjadi hak istri dalam masalah jima’.

1. Menggaulinya dengan cara yang baik serta memberikan kepuasan yang sama

Allah swt. memerintahkan untuk menjaga hubungan yang baik antara pasangan suami dan istri. Suami harus mempergauli istrinya dengan baik dan penuh kelembutan, menyanyanginya, dan menjauhkan penderitaan darinya. Hukum suami tersebut adalah, wajib. Allah swt. berfirman dalam Surat an-Nisa’ ayat 19 :

 “Dan bergaulah dengan mereka secara patut,”

Ayat di atas menyatakan “Dan bergaullah dengan mereka secara patut” ini bermakna gunakankanlah tutur kata yang baik kepada istri dan baguskanlah perliaku dan tindakanmu terhadap istri sesuai dengan kemampuanmu. Pendapat ini diperkuat dengan sabda Rasulullah saw. “Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Aku adalah orang yang paling baik diantara kamu terhadap keluargaku.”

Diantara akhlak Rasulullah saw. adalah beliau bergaul dengan baik, bermuka manis, mencumbui istrinya, bersikap lembut terhadap mereka bahkan beliau pernah mengalah dalam balap lari guna menyenangkan Aisyah. Setiap malam, beliau mengumpulkan seluruh istrinya di rumah istri yang menjadi giliran beliau untuk menginap. Kadang-kadang beliau makan malam bersama mereka. Kemudian para istrinya itu kembali ke rumahnya masing-masing. Apabila beliau telah shalat isya dan masuk rumah, maka sebelum tidur beliau mengajak istri untuk mengobrol guna menyenangkan mereka.13 Pendapat ini diperkuar dalam Surat al-Ahdzab ayat

21, ‘Sesungguhnya pada diri Rasulullah benar-benar terdapat suri tauladan yang baik bagimu.”

Selaian itu, seperti yang terdapat dalam al-Qur’an tentang keseimbangan hak antara suami dan istri, dimana kepuasan yang diperoleh dalam jima’ bukan hanya milik oleh suami saja, akan tetapi istri juga memiliki hak untuk mendapatkan hal tersebut. Hal ini menurut Ibn Qudamah dalam bukunya al-mughni menyebutkan bahwa para suami perlu mengetahui mengamalkan perkataan dari Umar bin Abdul Aziz

غارفلاب اهقبست ليكل اتأ ام لثم ةوهشلا نم اهاتأ دقو لإ اهعقاوت ل

13 Muhammad Nasin ar-Rifa’I, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 1 (Jakarta: Gema Insani,

2011), hlm. 509.

(8)

”Janganlah kamu menjima’ istrimu, kecuali dia (istrimu) telah mendapatkan syahwat seperti yang engkau dapatkan, supaya engkau tidak mendahului dia menyelesaikan jima’nya (maksudnya engkau mendapatkan kenikmatan sedangkan istrimu tidak).”14

2. Mengajak Suami Berjima’

Dalam hadis tentang larangan istri menolak ajakan suami berjima’ menjelaskan bahwa

jima’ merupakan hak suami dan kewajiban istri, karena itu kapanpun dan dimanapun istri harus melayani suaminya, apabila istri menolak maka ia akan rugi dan celaka baik di dunia dan di akhirat. Di dunia akan dilaknat dan di akhirat ia akan di seret ke neraka bersama dengan setan-setan yang menghinakan15. Namun, golongan-golongan yang mengatasnamakan keadilan

mengatakan bahwa ini merupakan bias gender dan diskriminasi terhadap perempuan, lalu mereka mengatakan bagaimana jika seorang istri mengajak jima’ dan suami menolak, apakah hukuman akan sama dengan penolakan istri terhadap ajakan suami ?

Untuk memahami persoalan ini, perlu merujuk kembali kepada dalil al-Qur’an dan Hadis Nabi yang menjelaskan bahwa antara suami dan istri memiliki hak yang sama, dan untuk mendapatkan jawaban dalam masalah ini dapat menggunakan kaidah ushul fiqh tentang “Dalalah ad-Dalalah,” yaitu petunjuk lafal bahwa hukum yang ada pada teks itu berlaku juga pada sesuatu yang tidak disebutkan dalam teks, karena ada kesamaan ‘illah yang dipahami dari konteks bahasa.16

Berdasarkan kaidah ushul al-fiqh Dalalah ad-Dalalah tersebut ketika memahami teks yang ada dalam hadits tentang laknat malaikat pada istri yang tidak mau melayani kemauan suami untuk berhubungan seksual, disisi lain apabila menggunakan teori hukum Islam Dalalah ad-Dalalah, maka laknat malaikat juga akan berlaku pada suami yang yang menolak tanpa alasan yang syar’i.17

Persoalan ini, Para ulama mazhab berbeda pendapat dalam memahami kewajiban suami untuk menggauli istrinya. Mazhab Maliki berpendapat, persetubuhan wajib dilakukan oleh suami kepada istrinya jika tidak ada halangan. Mazhab Syafi’I berpendapat, persetubuhan hanya diwajibkan sekali saja karena ini adalah hak milik suami. Karena yang mengajak kepada

14 Ibn Qudamah, Al-Mughni (Beirut: Darul Fikr, tt), hlm. 136

15 Hamim Ilyas, dkk, Perempuan Tertindas ? Kajian Hadits-Hadits “Misoginis” (Yogyakarta: elSAQ Press, 2008),

hlm. 218

16 Ali Hasaballah, Usul al-Tasyri al-Islami (Mesir: Dar al-Ma’arif, 1964), hlm 240.

17 Hamim Ilyas, dkk, Perempuan Tertindas ? Kajian Hadits-Hadits “Misoginis” (Yogyakarta: elSAQ Press, 2008),

hlm. 221.

(9)

persetubuhan adalah nafsu syahwat dan rasa cinta. Oleh karena itu tidak mungkin diwajibkan. Sedangkan madzhab Hambali berpendapat, suami wajib menggauli istrinya dalam setiap empat bulan sekali, jika tidak ada halangan.18

Ibnu Qudamah: “Berhubungan seks wajib bagi suami jika tidak ada udzur”. Maksud dari Ibnu Qudamah tersebut adalah bahwasanya wajib bagi suami untuk memuaskan istrinya karena ini hak istri atas suami. Sebagaimana diketahui bahwa wanita teramat tersiksa bilamana hak ini (hubungan badan) tidak terpenuhi karena pada umumnya fitrah wanita sangat besar nafsunya.

Oleh sebab itu, wajib yang dimaksud dalam persoalan ini adalah wajib disini adalah apabila perkara ini tidak ditunaikan maka akan mendatangkan dosa atas pelanggaran syara’ dalam hak dan kewajiban dalam pernikahan. Dan hendaknya seorang istri menuntut haknya dan suami menuruti tuntutan istrinya atas haknya dan menjalankan kewajibanya selaku suami.

3. Hak Istri Menolak untuk Berjima’

Melayani kemauan suami untuk berjima’ merupakan kewajiban bagi seorang istri, jika ia menolak maka ia akan berdosa, akan tetapi, seorang istri dapat menolak ajakan suami selama itu merupakan alasan yang syar’i. banyak ulama menyarankan untuk tidak memahami hadis secara harfiah.

Menurut Syeikh Sa’ad Yusuf Abdul Aziz dalam Shahih Washaya ar-Rasul lin Nisa, seorang istri boleh saja menolak ajakan suaminya berhubungan badan sepanjang hal itu merupakan udzur syar’i atau sesuatu yang dibolehkan agama. Musatafa Muhammad ‘Imarah mengatakan bahwa laknat malaikat hanya terjadi jika penolakan istri dilakukan dengan tanpa alasan. Dan Wahbah az-Zuhaili juga mengatakan bahwa laknat dalam hadis terebut harus diberi catatan, yaitu selagi istri longgar dan tidak dalam ketakutan.19

Oleh sebab itu, menurut penulis ada beberapa keadaan yang membolehkan istri untuk menolak ajakan suami untuk berjima’

a. Dalam Keadaan Haid

Jima’ dalam kondisi istri sedang haid hukumnya adalah haram. Karena, Islam melarang telah suami untuk melakukan hubungan badan dengan istri dalam keadaan haid, hal ini seperti yang terdapat dalam firman Allah swt.

18 Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jilid 9 (Jakarta: Gema Insani, 2011), hlm. 297.

19.Hamim Ilyas, dkk, Perempuan Tertindas ? Kajian Hadits-Hadits “Misoginis” (Yogyakarta: elSAQ Press, 2008),

hlm. 219

(10)

             

Mereka bertanya kepadamu tentang hadh, kataakanlah: “ haidh itu adalah suatu kotoran “. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.. (QS. Al-Baqarah :222)

Rasulullah saw bersabda:

َحاَكّنلا الِإ ٍء ْيَش الُك اوُعَن ْصا

“perbuatlah segala sesuatu kecuali nikah (bersenggama)”(H.R Muslim, kitab haid, bab bolehnya wanita haid membasuh kepala suami, menyisir dan menggunakan sisa bekas airnya, No. Hadis 445)

Ahli tafsir menyebutkan sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang di riwayatkan Imam Ahmad dari Anas bahwa Yahudi ketika seorang wanita di antara mereka menstruasi tidak boleh makan bersama mereka dan tidak boleh berkumpul dalam rumah, sahabat bertanya kepada Nabi saw., turunlah ayat tersebut. Beliau bersabda sesuai dengan hadis diatas yaitu:“Buatlah segala sesuatu kecuali nikah”.

As-Syaukani rahimahullah berkata, “Tak ada pertentangan di antara ulama dalam hal keharamman mendatangi wanita tengah haid. Ini termasuk hal yang sudah mutlak dalam agama dan tak bisa disanggu gugat (ma’lum min ad-din bi adh-dharurah)20

Sudah sangat jelas pengharaman menggauli istri yang sedang haid, dan para ulama fiqih menyepakati atas haramnya menggauli yang sedang haid, karena hal ini memiliki dampak buruk yang besar sekali, begitupun juga dari aspek medis, para dokter umumnya menyatakan bahwa menggauli istri yang sedang haid, akan mendatangkan bahaya buruk bagi kesehatan, baik wanita maupun pria. Perbuatan ini dapat mendatangkan kemandulan bagi suami, karena masuknya partikel-partikel haid yang membawa kuman-kuman yang sangat berbahaya kepada suami, atau paling tidak sekurangnya dia akan mendatangkan infeksi berbahaya pada kedua biji pelir. Hal itu juga akan mengakibatkan infeksi berbahaya bagi sang istri, di sebabkan masuknya kuman-kuman menuju kedalam vagina, sehingga pada akhirnya mengakibatkan infeksi dalam melahirkan serta menyebabkan kemandulan pada wanita.” Disamping itu, mereka menyarankan, untuk menjauhi istri dalam masa itu, sampai dia bersih dan bersuci setelah darahnya berhenti. Tidak di bolehkan

20 Syaikh Mahmud Al-Mashri. Bekal Pernikahan (Jakarta: Qisthi Press, 2012), hlm. 406

(11)

menggauli istri sebelum bersuci dari haid sampai haid itu harus benar-benar berhenti, kemudian dia bersuci dengan mandi wajib.21

b. Dalam Keadaan Sakit

Dalam kondisi sakit, seorang istri boleh menolak ajakan suami untuk jima’. Karena, seandainya seorang istri memaksakan keinginannya untuk melayani suaminya, maka akan dapat menimbulkan kemudharan bagi dirinya. Rasulullah saw bersabda:

راَرِض َلَو َرَرَض َل

"Tidak boleh membahayakan (orang lain) dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya. ( H.R Ahmad. Kitab musnad bani hasyim, bab awal musnad Abdullah bin abbas, No. Hadis 2719)

Inilah yang menjadi sandaran bagi beberapa para ulama, bahwa seorang istri yang sedang sakit boleh menolak ajakan suami untuk berjima’, demi menghindari kemudharatan atau bahaya bagi istri.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin pernah ditanya, “Apakah seseorang wanita berdosa jika menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim karena ada kondisi psikologi tertentu yang tengah melandanya, atau karena penyakit yang ia derita ?” Beliau menjawab, “Seseorang wanita wajib memenuhi ajakan suaminya untuk berhubungan intim. Namun, jika ia menderita sakit yang tidak memungkinkan untuk berjima’, atau gangguan psikologi, dalam kondisi ini suami tidak bolek melaksanakannya, sesuai dengan hadis diatas “tidak ada bahaya dan tidak ada yang dibahayakan”. Dan ia boleh menahan diri atau menikmati istrinya dengan cara yang baik yang tidak menimbulkan bahaya baginya. 22

Selain itu, al-Syirazi juga mengatakan, meskipun pada dasarnya istri wajib melayani permintaan suami, akan tetapi jika memang tidak terangsang untuk melayaninya ia boleh menawarnya atau menangguhkannya sampai batas tiga hari. Dan bagi istri yang sedang sakit atau tidak enak badan, maka tidak wajib baginya untuk melayani ajakan suami sampai sakitnya hilang. Jika suami tetap memaksa pada hakikatnya ia telah melanggar prinsip mu’asyarah bil ma’ruf, dengan berbuat aniaya kepada pihak yang justru seharusnya ia lindungi. 23

21 Adil Fathi Abdullah, Ketiaka Suami Istri Hidup Bermasalah (Jakarta: Gema insani, 2005), hlm. 30

22 Syaikh Mahmud Al-Mashri, Perkawinan Idaman (Jakarta: Qisthi Press, 2011), hlm. 75

23 Dr. Tutik Hamidah, Fiqh Perempuan Berwawasan Keadilan Gender (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), hlm. 109

(12)

Dari Fatawa al-Mar’ah, Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan seorang istri wajib memenuhi ajakan suaminya bila ia mengajak berhubungan badan. Tapi jika si istri sedang sakit tubuhnya yang menyebabkannya tidak mampu melayani suaminya atau karena menderita penyakit batin, maka dalam kondisi seperti ini suami tidak boleh memintanya, berdasarkan sabda Nabi saw.,

“Tidaklah boleh membahayakannya (diri sendiri) dan tidak boleh menimbulkan bahaya (bagi orang lain).” Hendaknya ia menahan diri dan cukup dengan cara yang tidak menimbulkan bahaya.24

c. Dalam Keadaan Hamil

Dari berbagai literatur yang penulis temukan, tidak adanya dalil yang menjelaskan larangan bagi suami menggauli istri dalam keadaan hamil. Sehingga, para ulama memiliki perbedaan pendapat dalam hal tersebut, ada yang melarang dan ada juga yang membolehkan.

1. Yang Melarang

Menurut fatwa Syaikh Ibn Utsaimin dalam buku fatwa ulama mengatakan jika hal itu bisa membahayakan dirinya atau janinnya maka hal itu dilarang bagi suami untuk melakukan sesuatu yang membahayakan istrinya. Kemudian, jika dalam kondisi tidak membahayakan, hanya saja sangat memberatkan istrinya maka yang lebih baik adalah tidak melakukan hubungan intim. Karena tidak melakukan sesuatu yang memberatkan sang istri, merupakan bentuk pergaulan yang baik kepada istri. dan ini sesuai dengan firman Allah swt tentang mu’asyarah bil ma’ruf.

Akan tetapi, terdapat hadis yang menyebutkan larangan menggauli wanita hamil.

َعَضَت ىاتَح ٌلِماَح ُأَطوُت َل

“wanita hamil tidak boleh digauli hingga melahirkan”(H.R Abu Daud, Kitab Nikah, Bab Mensetubuhi tawanan wanita, No. Hadist 1843)

Yang dimaksud dari hadis ini adalah seperti yang dijelaskan dalam Musnad ar-Rabi’ bin Habib yaitu wanita hamil pada hadis ini bukan istri, tapi wanita tawanan perang atau budak yang hamil dari suami pertama.

2. Yang Membolehkan

Pada dasarnya tidak aada dalil dalam al-qur’an maupun hadis yang menyebutkan larangan menggauli istri saat hamil. Dalam kaidah ushul fiqh hal ini termasuk kedalam perkara mubah (boleh)

24 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Fatwa-Fatwa Terkini (Jakarta: Darul Haq, 2003), hlm. 527

(13)

ةحاإبلا ءايأشلا يف لأصلا

“hukum asal urusan dunia adalah mubah/boleh”

Menurut Syaikh Khatib asy-Syarbaini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj menyebutkan "Disunnahkan agar tidak meninggalkan senggama disaat pulang dari bepergian dan tidak haram bersenggama disaat istri hamil dan menyusui”,Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (komite Fatwa di Saudi) dijelaskan:

ضيحلا ةلاح يف لإ ةجوزلا ءطو مرحي مل ا نل أنلل؛ب سأب لف لماحلا هتجوزل جوزلا ءطو دصقلا ناك نإو

.مارحلا وأ سافنلا وأ

“Adapun jika yang dimaksudkan adalah seorang suami menyetubuhi istrinya yang hamil, maka tidak mengapa/boleh. Karena Allah tidaklah melarang mencampuri istri kecuali pada masa haidh, nifas dan ihram.”25

Kalau dilihat dari susut pandang ilmu medis, Menurut ahli andrologi dan seksologi, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, hubungan seksual selama hamil tetap boleh dilakukan. “Tapi, pada tiga bulan pertama kehamilan, sebaiknya frekuensi hubungan seksual tak dilakukan sesering seperti biasanya,” ujar peneliti di bidang reproduksi dan seksualitas manusia ini. Pasalnya, jika hubungan seksual dipaksakan pada masa tiga bulan pertama usia kehamilan, dikhawatirkan bisa terjadi keguguran spontan.

Disamping itu, berdasarkan informasi yang penulis kutip dari sriwijaya

post online menyebutkan manfaat atau keuntungan melakukan hubungan intim saat hamil yaitunya: menhilangkan stress, mengurangi nyeri, meningkatkan kekebalan tubuh, membakar kalori, meningkatkan kesehatan jantung, meningkatkan rasa percaya diri, mempererat hubungan, meningkatkan kualitas tidur, mengurangi risiko kanker prostat, memperkuat otot panggul.

Dengan demikian, menurut penulis, walaupun tidak adanya dalil yang menjelaskan tentang larangan maupun membolehkan suami menggauli istrinya dalam keadaan hamil, perlunya melihat dari sisi medis, dengan cara melakukan konsultasi dengan dokter atau orang yang ahli dalam persoalan tersebut, apakah berjima’ dengan istri hamil berdampak buruk atau tidak.

25Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, Fatwa no. 16591

(14)

D. Analisis Masalah

Pada umunya, persoalan jima’ merupakan hak bagi seorang suami dan kewajiban bagi istri. dalam beberapa dalil menunjukan bahwa apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berjima’ maka seorang istri harus melayaninya, kalau ia menolak maka ia akan dilaknat di dunia dan di akhirat. Sehingga, pemahaman seperti ini yang dapat menimbulkan kontroversi diantara para ulama maupun cendikiwan, khsusunya bagi mereka yang berasal dari gerakan tokoh-tokoh perempuan yang mengatakan bahwa adanya ketidakadilan dan diskriminasi bagi perempuan.

Dalam menanggapi masalah ini, penulis lebih cenderung memahami dengan mengedepankan sikap adil, yaitu adanya persamaan hak antara suami dan istri, walaupun secara eksplisit dalil yang menunjukan bahwa masalah jima’ merupakan hak suami dan kewajiban istri. Namun, hal itu bukan berarti istri hanya berkewajiban untuk melayani suaminya tanpa memperoleh hak dari kewajiban tersebut. Padahal, dalam sumber ajaran islam telah menyebutkan adanya kesamaan hak antara suami dan istri, seperti dalam Al-Qur’an surat al-baqarah ayat 228 tentang keseimbangan hak bagi perempuan. Serta hadis nabi yang juga menyebutkan hal yang sama. Dan adapun hak istri dalam jima’ seperti menggaulinya (istri) dengan cara yang ma’ruf dan hak untuk menolak ajakan dengan udzur yang syar’i. dan tidak menutup kemungkinan juga, seorang istri juga memiliki hak mengajak suaminya untuk berjima’.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan makalah diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa persoalan jima’

meruapakan salah satu tujuan dari pernikahan, tidak hanya menambah keturunan akan tetapi

(15)

saling memberikan kenikmatan bathin antara suami dan istri. akan tetapi masalah jima’ masih menjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang kedudukan suami dan istri dalam masalah

jima’ ini. Umunya, masalah jima’ merupakan hak seorang suami dan kewajiban bagi istri. Sehingga, pemahaman seperti ini banyak menimbulkan kontroversi, khususnya bagi mereka yang berasal dari golongan feminis, sebab adanya unsur ketidakadilan serta bias gender. Seolah-olah kedudukan istri dalam masalah ini hanya menjadi kewajiban untuk melayani suami tanpa adanya timbal balik dari kewajiban yang ia lakukan yaitu berupa hak yang dapat diperoleh. Oleh karena itu, hal ini yang masih menjadi perdebatan bagi para ulama. Padahal, dalam berbagai dalil yang ada secara implisit mengandung bahwa persoalan jima’ bukan hanya menjadi hak suami dan kewajiban istri akan tetapi juga merupakan kewajiban suami dan hak bagi istri. Sebab, jima’

adanya unsur yang sama antara suami dan istri, yang mana suami memiliki hak dan istri juga memiliki hak.

B. Saran

Penulis merasa, makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, demi kesempurnaan makalah ini penulis mengaharapkan kritikan dan saran dari pembaca yang mendukung kesempurnaan makalah ini kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Albani, Muhammad Waminuddin, Ringkasan Shahih Bukhori Jilid 3. Jakarta: Pustaka Azzam, 2013.

Al-Mashri, Syaikh Mahmud, Perkawinan Idaman. Jakarta: Qisthi Press, 2010.

Arifin, Gus, Menikah untuk Bahagia. Jakarta: Quanta, 2013.

(16)

As-Subki, Ali Yusuf, Fiqh Keluarga (Pedoman berkeluarga dalam Islam). Jakarta: Pustaka Amzah. 2010.

Azzam, Abdul Aziz Muhammad, Fiqh Munakahat: Khitbah, Nikah, dan Talak. Jakarta: Amzah, 2009.

Az-Zuhaili, Wahbah, Fiqih Islam Wa Adillatuhu. Jakarta: Gema Insani, 2010.

Baqi, Muhammad Fuad Abdul, Shahih Muslim Jilid 2. Jakarta: As-Sunnah, 2010.

Djamluddin, Bey Arifin Asy-Syingity, Sunan Abu Daud jilid 3. Semarang. CV. Asy-Syifa’, 1992.

Mas’udi, Masdar F., Islam dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan Dialog Fiqih Pemberdayaan. Bandung: Mizan, 1997.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...