PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN

18 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN

Dipresentasikan Untuk Memenuhi Tugas

MATA PELAJARAN SKI

KELAS XII IPA 1

Guru Mata Pelajaran :

Ahmad Ihwanul Muttaqin,

M

.Pd

.I

Disusun Oleh :

1. Achmad Faris Fauzi

2. Erna Nisful Laili

3. Ifatul Febriyani

4. Lutfiatun Nisa

5.

Nihayah Saefil Ikhsan

6. Riky Ardiansyah

7. Siti Nur Jannah

MADRASAH TERPADU MODEL PONDOK PESANTREN

MADRASAH ALIYAH NEGERI LUMAJANG

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI...

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH... 3

B. RUMUSAN MASALAH...3

C. TUJUAN MASALAH...3

BAB II PEMBAHASAN A. SEJARAH BERDIRINYA DINASTI BANI ABBASIYAH...4

B. MASA KEJAYAAN BANI ABBASIYAH...6

C. KEKHALIFAHAN...8

D. FAKTOR-FAKTOR...13

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN...16

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmad dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan “Makalah Perkembangan Islam Pada Masa Modern”ini.

Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing dan pihak lain nya yang telah membantu dan banyak memberika pengarahan dan bimbingan dalam pembuatan “Makalah Perkembangan Islam Pada Masa Modern”.

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatanyakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.

Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia. Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim. Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran negara Muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat.

Pembaruan dalam Islam yang timbul pada periode sejarah Islam mempunyai tujuan, yakni membawa umat Islam pada kemajuan, baik dalam ilmu pengetahuan maupun kebudayaan. Perkembangan Islam dalam sejarahnya mengalami kemajuan dan juga kemunduran. Bab ini akan menguraikan perkembangan Islam pada masa pembaruan. Pada masa itu, Islam mampu menjadi pemimpin peradaban. Mungkinkah Islam mampu kembali menjadi pemimpin peradaban? Dalam bahasa Indonesia, untuk merujuk suatu kemajuan selalu dipakai kata modern, modernisasi, atau modernisme. Masyarakat barat menggunakan istilah modernisme tersebut untuk sesuatu yang mengandung arti pikiran, aliran atau paradigmabaru. Istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan, baik oleh ilmu pengetahuan maupun tekhnologi. Untuk mengetahui lebih lanjut akan dibahas dalam makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH

(5)

C. TUJUAN MASALAH

1. Menjelaskan Gambaran Dunia Islam Abad Pertengahan

2. Menjeleskan keadaan sosial ekonomi dan kebudayaannya

(6)

PEMBAHASAN

A. DUNIA ISLAM ABAD MODERN

1. Pengantar

Ditinjau dari sisi teori, sejarah islam modern dimulai sejak tahun 1800 M. hingga sekarang. Secara politis pada Abad 18 M dunia islam hampir di bawah kendali bangsa Barat. Namun baru Abad 20 M mulai bermunculan kesadaran di dunia islam untuk bangkit melawan penjajah Barat. Dalam sejarah islam periode islam disebut dengan kebangkitan dunia islam karena ditandai banyaknya bermunculan pemikiran pembaharuan dalam dunia islam.

Munculnya gerakan pembaharuan disebabkan oleh dua faktor, pertama timbulnya kesadaran dikalangan umat islam , telah dijumpai nilai – nilai ajaran asing yang telah masuk kedunia islam dan umat islam mengang gapnya sebagai ajaran islam. Ajaran – ajaran tersebut kalau dirujuk kepada Al-qur’an dan hadist justru banyak bertentangan dengan ajaran islam seperti takhayul, bit’ah dan khurafat. Kedua Hegomoni dan Domonasi dunia barat terhadap dunia islam hampir menguasai disegala bidang baik ekonomi, perdagangan maupun peradaban. Dua faktor inilah yang menginspirasi umat islam untuk melakukan reformasi dan mengadakan gerakan – gerakan dengan tujuan mengmbalikan ajaran islam yang sesuai dengan Al-qur’an dn Sunnah serta meraih kejayaan islam yang telah hilang.

2. Gambaran Islam Abad pertengahan

Jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M. ketangan bangsa mongol bukan saja mengakhiri sistem pemerintahan kekhalifahan Abbasiyah, tetapi juga merupakan masa awal kemunduran politik dan peradaban islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban islam yang sangat kaya dengan ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumi yang dihanguskan oleh pasukan mongol yang dipimpin Hulgu Khan.

(7)

Utara yang dikomandoi oleh Said Muhammad Sanusi dari Al Jazair, Gerakan penerjemahan karya-karya Barat kedalam bahasa Islam dan pengiriman para pelajar muslim untuk belajar ke Eropa dan Inggris.

Dalam gerakan pembaharuan sangat lekat dengan politik. Ide politik yang pertama muncul yaitu Pan Islamisme atau persatuan Islam sedunia yang digencarkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah, setelah itu diteruskan dengan lebih gencar oleh tokoh pemikir Islam yang bernama Jamaluddin Al Afghani (1839-1897).

3. Keadaan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan

Pada awal kebangkitannya, Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat, dihadapannya masih terdapat kekuatan – kekuatan perang islam yang sulit dikalahkan, terutama kerjaan Usmani yang berpusat di Turki.

B. MASA KEJAYAAN BANI ABBASIYAH

1. Kemajuan – kemajuan Dinasti Abbasiyah

Sebagai sebuah dinasti, kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad, telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa, terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, serta berbagai bidang lainnya, seperti bidang-bidang sosial dan budaya.

(8)

Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan

Bani Umayyah. Di samping itu, ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah. Yaitu pertama, dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini, kedua

dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah dan

ketiga, ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional.

Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Pada masa inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal, seperti Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al Mutanabby, Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini, seperti kitab Kalilah wa Dimna. Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad, pencipta teori musik Islam, Al farabi dan lain-lainnya.

Selain bidang –bidang tersebut diatas, terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah, telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi.

a. Kemajuan Dalam Bidang Politik Dan Militer

(9)

dilakukan. Untuk itu, pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran.

Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik, maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan, yang disebut diwanul jundi. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Pembentuka lembaga ini didasari atas kenyataan polotik militer bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, banyak terjadi pemebrontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasyi Abbasiyah.

b. Kemajuan Dalam Bidang Ilmu Pengetahuan

Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh, tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Di antaranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ), yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Mereka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini.

Dengan demikian, banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun, seperti Filsafat, filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). Abu Nasr al-faraby, ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah, ilmu bumi, astronomi dan sebagainya. Diantara sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. 152 H / 768 M ).

c. Kemajuan Dalam Ilmu Agama Islam

(10)

dalam bidang ilmu agama, tidak lepas dari peran serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat, baik dukungan moral, material dan finansial, kepada para ulama. Perhatian yang serius dari pemerintah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat, sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. Diantara ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist, ilmu tafsir, ilmu fiqih dan tasawuf.

C. KEKHALIFAHAN

1. Para Penguasa Dan Kebijakannya

a. Abbul Abbas as –Saffah (133-137 H/750-754 M)

Abbul Abbas as-Saffah dinobatkan sebagai khalifah pertama dinasti Abbasiyah oleh pengikutnya pada tahun 133 H/ 720 M. Tindakan pertama yang ditempuhnya adalah menyapu bersih keturan dinasti Umayyah dari muka bumi. Atas perintahnya, sang paman yang bernama Abdullah membantai keturunan dinasti Umayyah secara licik. Agen-agen rahasia Abbul Abbas tersebar diseluruh wilayah negeri untuk memburu pelarian keturunan Umayyah. Salah satu keturunan Umayyah yang berhasil melarikan diri yakni Abdur Rahman, cucu Hisyam. ia berhasil mendirikan kekuasaan bani Umayyah di Spanyol.

Perlakuan kejam Abbul Abbas tidak hanya terbatas pada mereka yang masih sidup saja, bahkan ia menodai makam-makam keturunan Umayyah. Ia mengeluarkan jenazah mereka dari kuburan lalu membakarnya menjadi abu. Dengan cara demikian Abbul Abbas membuktikaan gelar dirinya sebagai as-Saffah (si pernumpah darah atau si haus darah) dan sekaligus merealisasikan sumpahnya suaktu penobatan sebagai khalifah. Masa pemerintahan Abbul Abbas tidak berjalan lama, hanya sekitar lima tahun. Ia meninggal di istana Ambariyah pada tahun 133 H/ 754 M. Akibat serangan penyakit cacar. Namun sebelum meninggal, ia telah menunjuk saudaranya yang bernama Abul Jaa’far sebagai pengganti tahta kerajaan. Sekalipun ia terkenal kejam. namun masa pemerintahannya dipandang sebagai pemerinyahan yang disiplin. Ia diakui sebagai penguasa yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.

b. Abu Ja’far al-Mashur (137-159 H/754-775 M)

(11)

tenaga dan pikirannya demi kemajuan dan kesejahteraan bangsanya. Al-Manshur tidak pernah tidak kejam terhadap musuh-musuh yang menyebabkan kepentingan dinasti terancam bahaya.

Terdapat beberapa pemberontakan yang cukup besar namun semuanya dapat ditaklukan dengan mudah oleh Al-Mashur. diantaranya ialah:

1) Pemberontakan yang dilakukan oleh Abdullah Ibn Ali yakni paman al-Mashur yang menjadi gubernur di syiria

2) pemberontakan yang lakukan oleh sekte persia yang bernama “ Rawandiyah” 3) Pemberontakan yang dilakukan oelh gubernur Khurasan

Setelah berhasil mengamankan situasi politik dalam negeri, al-Manshur merencanakan pembangunan kota Baghdad. Ia memulainya pada abad 145 H/762 M. Dan merampungkannya selama empat tahun. Baghdad menjadi pusat ibu kota Imperium Abbasiyah dan merupakan kota yang paling megah pada abad pertengahan. Dalam masa al-Manshur ini terdapat keluarga Barmakhiyang dibentuk oleh Khalid Ibn Barmaki mulai memrankan peran utama dilingkungan istana.

Al-Manshur menguasai pemerintahan selama 22 tahun telah membuktikan prestasi besar dalam mengkonsolidasikan situasi politik. Pada masa pemerintahannya, berbagai disiplin ilmu seperti kepustakaan, sejarah, kedokteran, dan khususnya astronomi dipelajari dan berkembang dengan pesat.

c. Al-Mahdi (159-169 H/ 755-785)

(12)

Pada sekitar tahun 163 M. pasukan Romawi menyerbu beberapa wilayah muslim perbatasan. mereka berhasil menaklukan kembali bebrapa wilayah peerbatasan bagian barat.

Masa pemerintahan Al-Mahdi merupakan era kemakmuran. Ia telah berbuat banyak dami ketertiban imperium. pertanian dan perdagangan dengan pesat. Ia berusaha menyelamatkan ajaran ortodok dan menindas segala macam sekte-sekte sesat, dan ia juga tidak memberikan kesepatannya berkembangannya pemikiran bebas.

d. Musa Al-Hadi (169-170 H/785-786 M)

Sepeninggalan al-Mahdi tahta kerajaan Abbasiyah dijabat oleh putera yang tertua, Musa al-Hadi. Sekalipun Harun adik Musa menyatakan persetujuan dan dukungan atas penobatan Musa, namun sang kakak tidak menaruh kepercayaan terhadap dukungan Harun. Musa mengatur rencana mendepak Harun dan berusaha memindahkan Khalifah kepda puteranya yang bernama Ja’far. Demi terwujudnya rencana ini Musa memenjarakan penasehat utama Harun yang bernama Yahya Ibn Khalid al-Barmaki, dan beberapa pendukung Harun yang dipandang membahayakan kedudukan Musa. Ketika konflik sudah semakin kritis, Harun meninggalkan istana demi untuk menyelamatkan diri dari ancaman Musa al-Hadi. Musa al-Hadi meninggal setelah memegang pemerintahan tidak lebih dari dua tahun.

e. Harun Al-Rasyid (170-194 H/786-809 M)

Sesuai dengan amanat al-Mahdi, Harun al-rasyid segera menduduki tahta kerajaan sepeninggal saudaranya yakni al-hadi. Ia berkuasa selama 23 tahu. penobatan ini mengantarkan dinasti Abbasiyah pada kemajuan yang gemilang.

Kebijakan pertama yang ditempuh Harun adalah melantik seorang penasehat pribadinya yang bernama yahya ibn Khalid al-Barmaki sebagai perdana mentri dan sekaligus mengangkat dua putera yahya yang bernama fadl dan ja’far sebagai pejabat tinggi Harun. Harun sangat dikenal sebagai penguasda yang taat terhadap ajaran agama, dan sangat dermawan. Atas pengaruh isterinya Zubaidah, Harun menunjuk tiga anaknya sekaligus sebagai penggantinya secara berurutan yakni: al-amin, al-Makmun dan al-Ma’tasim.

(13)

pengetahuan dan peradaban memasuki era kemajuan yang menakjubkan. Untuk melengkapi kesejahteraan rakyat, ia mendirikan rumah sakit, sekolahan, perguruan tinggi, membangun masjid, jalan,irigasi dan menetapkan tunjangan fakir miskin. Bidang tulis menulis merupakan kegiatan yang paling menonjol kemajuannya.

f. Al-Amin (194-198 H/809-813 M)

Sepeninggal Harun, puteranya yang tertua yakni Al-Amin meneruskan kedudukan ayahnya. Ia adalah pemuda yang suka kemewahan dan kesenangan dunia. ia menyerahkan urusan pemerintahan kepada perdana menterinya, yakni Fazl Ibn rabi, sedangkan ia tetap sibuk dengan urusan peribadinya. pada saat itu al-Makmun, saudara al-Amin,menjabat gubernur untuk wilayah-wilayah timur. Ia sangat dipuja oleh masyarakat karena sikapnya sangat bertolak belakang dengan al-Amin, maka ada kecemasan pada diri al-Amin sehingga ia memecatnya dari jabatan gubernur, dan secara curang ia menunjuk puteranya yang bernama masa sebagai putera mahkota dan menghianati amanat ayahnya.

g. Al-Makmun (198-318 H/813-933 M)

Dengan kemenangan dalam perang saudara, al-Makmun menduduki tahta kerajaan Abbasiyah. Namun ia tidak segera menjalani kehidupan istana di baghdad, melainkan tetap menyibukan diri dengan kajian filsafatnya di Merv. karena itu ia menyerahkan urusan pemerintahan kepada wakilnya yakni Fadl Ibn Sahal. Sementara itu di Merv al-Makmun menetapkan keputusan yang membuat keluarga Abbasiyah bagai tersambar petir yakni pada tahun 202 H. Makmun menunjuk Imam Ali Ridha Ibn Musa al-Kadzim,seorang keturunan keluarga Ali,sebagai pengganti kedudukan Khalifah kelak. Ia juga melarang memakai pakaian hitam,yakni warna yang melambangkan semangat perjuangan Abbasiyah dan menggantinya dengan warna hijau, yakni warna yang mnelambangkan perjuangan keluarga Ali.

Al-Makmun berkuasa selama 21 tahun. Masa pemerintahannya meninggalkan warisan kemajuan intelektual Islam yang sangat berharga,dalam bisang pemikiran, matematika, astronomi, kedokteran dan filsafatmencapai kemajuan yang hebat pada masa ini. Masa pemerintahan al-makmun diwarnai dengan gerakan pendidikan, baik di wilayah timur maupun barat. Masa pemerintahan al-Makmun merupakan kejayaan sejarah bangsa Arab dan dapat disebut dengan “ zaman Agustan islam”.

(14)

Al-mu’tasim mengklaim dirinya sebagai khalifah ketika al-Makmun sedang dalam keadaan sakit. Banyak tentara yang tidak sepakat atas tindakannya itu. Untuk mengamankan rakyat baghdad, al- mu’tasim memindahkan ibukota kerajaan ke Samarra tahun 836, sekitar 95 km dari arah hulu sungai Tigris. Di kota ini ia membangun istana kerajaan dan perkampungan untuk 250.000 tentara, dan tidak lama kemudian samarra menjadi semegah kota Baghdad, kecuali ia tidak mampu menandingi baghdad sebagi pusat perkembangan intelektual muslim. Al-Mu’tasim meninggal pada tahun 842 H. Menurut Gibbon, “ pada masa pemerintahan al-Mu’tasim ini kebesaran Abbasiyah dan bangsa Arab mulai mundur”

2. Bidang Pemerintahan

Pada masa Abbasiyah I (750-847 M), kekuasaan kholifah sebagai kepala negarasangat terasasekali dan benar seorang kholifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan negara. Sedang masa Abbasiyah II 847-946 M) kekuasaan kholifah sedikit menurun, sebab Wazir (perdana mentri) telah mulai memiliki andil dalam urusan negara. Dan pada masa Abbasiyah III (946-1055 M) dan IV (1055-1258 M), kholifah menjadi boneka saja, karena para gubernur di daerah-daerah telah menempatkan diri mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa penuh. Dengan demikian pemerintah pusat tidak ada apa-apanya lagi.

3. Bangunan Tempat Pendidikan dan Peribadatan

Antara bentuk bangunan yang dijadikan lembaga pendidikan adalah madrasah. Terdapat juga Kuttab, sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah. Majlis Muhadhoroh sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai perpustakaan. Ada juga bangunan berupa tempat-tempat peribadatan, seperti masjid. Masjid saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat, tetapi juga sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di antaranya adalah masjid Cordova, Ibnu Toulun, Al-Azhar dan lain sebagainya.

Masa pemerintahan Abul Abbas As-Saffah sampai Kholifah Al-Watsiq Billah agama Islam mencapai zaman keemasan (132 – 232 H / 749 – 879 M). Namun, pada masa kholifah Al-Mutawakkil sampai Al-Mu’tashim, Islam mengalami kemunduran dan keruntuhan. Kehancuran Dinasti Abbasiyah melalui proses panjang yang diawali oleh berbagai pemberontakan dari kelompok yang tidak senang terhadap kepemimpinan kholifah Abbasiyah. Selain kelemahan Khalifah, beberapa alasan lainnya.

(15)

1. Faktor Internal Dan Eksternal Runtuhnya Dinasti Abbasiyah

a. Faktor Internal

1) Persaingan antar Bangsa.

Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal Khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, para Khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan sehingga stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Daulah Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir.

2) Kemerosotan Ekonomi.

Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.

3) Konflik Keagamaan.

Konflik yang melatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara Muslim dan Zindik atau Ahlussunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antaraliran dalam Islam.

4) Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan.

Kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, yang kemudian ditiru oleh para haratawan dan anak-anak pejabat sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.

b. Faktor Eksternal 1) Perang Salib

(16)

beberapa peraturan yang dirasakan sangat menyulitkan orang-orang Kristen yang ingin berziarah kesana. Oleh karena itu pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II menyerukan kepada ummat kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib.

Perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang atau peride telah banyak menelan korban dan menguasai beberapa wilaya Islam. Setelah melakukan peperangan antara tahun 1097-1124 M mereka berhasil menguasai Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli dan kota Tyre. Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancur leburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki Yerussalem.

2) Serangan Mongolia Ke Negeri Muslim dan Berakhirnya Dinasti Abbasiyah

Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia Tengah. Sebuah kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang kemudian disatukan oleh Jenghis Khan (603-624 H). mereka adalah orang-orang Badui-sahara yang dikenal keras kepala dan suka aberlaku jahat.Sebagai awal penghancuran Bagdad dan Khilafah Islam, orang-orang Mongolia menguasai negeri-negeri Asia Tengah Khurasan dan Persia dan juga menguasai Asia Kecil. Pada bulan September 1257, Hulagu mengirimkan ultimatum keada Khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota sebelah luar diruntuhkan.

(17)

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pada Dinasti Bani Abbasiyah inilah dimana peradaban islam berada pada masa keemasannya, dengan lahirnya para ilmuan dan para sarjawan serta budayawan. Dimasa ini islam lebih maju dan berkembang dari pada masa sebelumnya. Meski pada akhirnya terjadi keruntuhan dan kemunduran yang diakibatkan dari berbagai faktor internal dan eksternal.

B. SARAN – SARAN

1. Dalam mencari bahan untuk membuat makalah dapat merefrensi buku dan mencari di internet

(18)

GAMBAR Kekhalifahan Abbasiyah

ةيسابعلا ةافللا

Empire

750–1258

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibukota Bagdad, Kairo

Bahasa

Arab(resmi), Aram,

Armenia, Berber,

Georgia, Yunani,

Yahudi, Persia Tengah,

Turkik

Agama Islam

Pemerintahan Monarki

Sejarah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...