• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PEMBERDAYAAN PEKERJA SEKTOR INF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI PEMBERDAYAAN PEKERJA SEKTOR INF"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk

222 juta jiwa, dengan luas wilayah daratan yakni 1.904.345 km². Pada saat ini

Indonesia mengalami kesulitan dalam mencari lapangan pekerjaan sehingga banyak

yang menganggur, untuk itu Indonesia perlu adanya peningkatkan lapangan

pekerjaan. Lapangan pekerjaan dapat dibagi menjadi 2 yaitu; lapangan kerja formal

dan lapangan kerja informal. Lapangan kerja formal adalah lapangan kerja yang

keberadaannya diatur dan dilindungi oleh peraturan ketenagakerjaan, misalnya

Pegawai Negeri Sipil (PNS), ABRI, karyawan swasta dan Badan Usaha Milik

Negara (BUMN). Sedangkan lapangan kerja informal adalah lapangan kerja yang

keberadaannya atas usaha sendiri dan upah tidak terjangkau oleh peraturan

ketenagakerjaan, termasuk didalamnya usaha mandiri, seperti; pedagang, peternak,

petani, nelayan, tukang kayu / bangunan, tukang jahit, jasa profesi mandiri, dan

masih banyak lagi. Konsep sektor informal pertama kali dikemukakan oleh seorang

ahli antropolog asal Inggris yaitu Keith Hart (1971) dengan menggambarkan sektor

informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang berada diluar pasar tenaga

terorganisasi. (Mulyana, 2011)

Berdasarkan penelitian yang didapat, kerja informal menduduki persenan nilai sebesar 51.85% dari jumlah penduduk. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa pekerja sektor informal perlu adanya pemberdayaan. Sektor informal yang

paling banyak bekerja sebagai agriculture dan mampu berkontribusi dengan nilai

(2)

peternakan, dan perkebunan. Disini kami tertarik untuk meneliti agriculture

(perkebunan) yang ada di Kabupaten Bandung barat.

Kabupaten Bandung Barat memiliki luas perkebunan kurang lebih sekitar

15,972 Ha, tetapi dengan luas tersebut masih kurangnya perhatian dari pemerintah

baik dari pusat maupun daerah. Selain dari pemerintah ada juga dampak lain yaitu

yang disebabkan oleh pemanasan global yang menjadikan lahan itu gagal panen,

dan pada akhirnya timbul suatu kerugian. Rata-rata sektor perkebunan di Kabupaten

Bandung sebagian besar dikelola oleh masyarakat setempat. Padahal sektor

perkebunan merupakan sektor vital dalam suatu perekonomian karena hasil dari

sektor perkebunan ini adalah makanan pokok yang dibutuhkan oleh masyarakat

sekitar, khususnya yang berada di kampung Cireyod (Cikole) yang kurang

diberdayakan perkebunanya. Kampung Cireyod (Cikole) merupakan salah satu

perkebunan yang memiliki potensi. Jika perkebunan tersebut mampu dikelola

dengan baik oleh pemerintah dan juga masyarakat, dapat menjadi sektor yang

strategis untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan menambah pendapataan

masyarakat lokal. Maka dari itu kami melakukan penelitiaan terhadap sekor

perkebunan Cireyod (Cikole) sehingga untuk kedepannya masyarakat dapat

sejahtera.

1.2 Hipotesis

Berlandaskan dengan melihat dan mendengar issue yang ada, hipotesis atau

dugaan sementara kami ialah bahwa petani kebun sayur tidak mendapatkan

keuntungan yang setimpal dengan kerja kerasnya. Mungkin, pihak lain-lah yang

(3)

dugaan sementara ini akan dibuktikan di sub-bab ‘hasil’ setelah pembahasan

dilakukan.

1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah terwujudnya pemberdayaan petani kebun sayur

Kampung Cireyod, Cikole yang mandiri dengan metode yang tepat.

1.4 Sasaran

Pada penelitian ini terdapat 4 sasaran yaitu:

1. Teridentifikasinya peran petani kebun sayur Kampung Cireyod, Cikole

terhadap sediaan sayur di pasaran Kabupaten Bandung Barat.

2. Teridentifikasinya karakteristik petani kebun sayur Kampung Cireyod, Cikole

sebagai salah satu sektor informal.

3. Teridentifikasinya permasalahan-permasalahan dan kendala yang dialami

petani kebun sayur Kampung Cireyod, Cikole dalam kegiatan bercocok tanam

dan mendistribusikan hasil taninya.

4. Terumuskannya metode pemberdayaan yang tepat untuk petani kebun sayur

(4)

BAB 2. METODE PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah seorang ibu bernama Ibu Pipih dan objek

penelitian ini adalah sektor informal sub-pertanian yang juga sebagai profesi Ibu

Pipih. Lokasi penelitian kami berada di Kampung Cireyod, Cikole, Lembang yang

juga merupakan tempat tinggal Ibu Pipih tersebut. Ibu Pipih berusia 40 tahun dan

pendidikan terakhirnya adalah tingkat Sekolah Dasar. Sehari – hari Ibu Pipih dan

suami berkebun di kebun milik pribadi yang berada di sebrang rumah mereka.

Sayur yang diatanam dikebun adalah buncis, tomat, cabe dan berbagai macam sayur

lainnya.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian

kualitatif merupakan suatu pendekatan yang juga disebut juga pendekatan

investigasi karena biasanya para peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap

muka langsung dan berinteraksi dengan orang-orang ditempat penelitiaan.

(McMillan & Schumacher. 2003)

Sesuai dengan definisinya, pengumpulan data dalam penelitian ini lebih

banyak dengan bertatapan muka langsung dan berinteraksi dengan narasumber

yaitu Ibu Pipih selalu pelaku sektor informal sub-pertanian yang lebih tepatnya

pertanian kebun sayur.

Tabel 1.1 Kebutuhan Alat Penelitian

No. Tahapan Kebutuhan Alat

(5)

Sumber: Hasil Analisis, 2017

Gambar 1.1 Bagan Alir Metedologi Penelitian Pengumpulan Data

Survey Primer Survei Sekunder

-Wawancara -Literatur

-Observasi

Pengolahan Data

Data yang didapat dari survey primer diolah untuk bahan pembahasan. Data yang didapat dari survey sekunder-pun

diolah untuk menjadi landasan pembahasan.

. Pembahasan

Data yang sudah diolah baik dari survei primer maupun dari survei sekunder,

Konsep atau strategi ini berisikan solusi untuk memecahkan permasalahan yang

(6)

BAB 3. PEMBAHASAN

Ibu Pipih dan suami bukanlah satu – satunya petani kebun sayur yang berada

di Kampung Cireyod, tetapi mayoritas penduduk Kampung Cireyod merupakan

petani kebun sayur pula. Kebun yang digunakan oleh penduduk Kampung Cireyod

berstatus macam – macam, ada yang milik pribadi, ada yang menyewa ataupun

menggunakan sistem penggadaian kepada bandar sayur. Ibu Pipih membeli pupuk,

bibit, obat – obatan, pembasmi hama dan kebutuhan lainnya dengan modal pribadi.

Jika tidak memiliki modal, Ibu Pipih meminjam modal ke bandar sayur yang ada

dan akan dibayar dengan cara memotong harga penjualan hasil panennya kelak.

Kampung Cireyod tidak memiliki Koprasi peminjaman modal bagi petani – petani

seperti Ibu Pipih.

Selama menjadi petani kebun sayur yang Ibu Pipih lakukan hanyalah

berkebun dan menunggu bandar sayur datang untuk membeli sayuran hasil

panennya. Jika hasil panen sedang baik, semua hasil panen sayur Ibu Pipih akan

dibeli oleh bandar sayur dengan harga yang lumayan menguntungkan untuk Ibu

Pipih sekitar Rp. 2.500.000 / 2 bulan, tetapi jika hasil panen sedang kurang baik

maka pemborong akan membeli hasil panen Ibu Pipih dengan sistem perkilo

sehingga kurang menguntungkan bagi Ibu Pipih karena harga yang ada akan jauh

lebih murah dari harga normal. Jika memang hasil panen sedang kurang baik sekali

atau sedang turun harga dipasaran maka Ibu Pipih lebih memilih memberikan hasil

panennya kepada tetangga – tetangganya yang membutuhkan walaupun itu

merugikan Ibu Pipih.

Harga yang ditetapkan oleh bandar sayur terkadang amatlah murah, seperti

(7)

paling baik hasil panennya hanya dijual dengan harga Rp. 90.000 / 1 kg oleh Ibu

Pipih kepada bandar sayur, tetapi entah mengapa harga di pasaran (lebih tepatnya

di Pasar Lembang) yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kampung Cireyod mecapai

(8)

BAB 4. HASIL

Hasil dari pembahasan ini ialah bahwa peran Ibu Pipih sebagai sektor

informal sub-pertanian sangat penting bagi masyarakat terutama masyarakat sekitar

Lembang karena pasokan utama sayuran yang dijual di Pasar Lembang berasal dari

perkebunan Kampung Cireyod, Cikole, Lembang. Dari pembahasan di atas didapat

pula karakteristik Ibu Pipih sebagai sektor informal yaitu diantaranya memiliki

modal yang rendah, menggunakan teknologi yang rendah, tidak memiliki keahlian

khusus dalam bidangnya, tidak memiliki pendapatan yang pasti, status pendidikan

yang rendah, jam kerja yang tak menentu dan Ibu Pipih tidak terdaftar sebagai

pekerja khusus serta tidak dikelola oleh lembaga khusus. Permasalahan –

permasalahan yang didapatkan dari pembahasan ialah bahwa Ibu Pipih kekurangan

modal untuk menjalankan aktivitasnya sebagai petani kebun sayur, tidak adanya

koperasi atau lembaga yang mendukung Ibu Pipih sebagai petani kebun sayur, tidak

adanya pendidikan atau pelatihan Ibu Pipih sebagai petani kebun sayur dan masalah

utamanya ialah Ibu Pipih dan petani kebun sayurnya seringkali mengalami kerugian

dalam panen yang mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka dapatkan.

Mengingat pentingnya peran Ibu Pipih dan para petani kebun sayur lainnya

di Kampung Cireyod, Cikole, Lembang maka diperlukannya konsep / strategi untuk

mengatasi permasalahan – permasalahan yang Ibu Pipih dan petani kebun sayur

lainnya alami. Berlandaskan Undang – Undang No. 19 Tahun 2003 tentang

Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, berikut strategi – strategi guna mengatasi

permasalahan – permasalahan tersebut:

 Pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang bagi

(9)

 Pemerintah harus memberikan kepastian usaha kepada para petani kebun

sayur dengan cara menjamin penjualan dan pemasaran sayur yang

dihasilkan sehingga para petani tidak perlu memikirkan penjualan sayur –

sayur tersebut.

 Pemerintah harus memberikan standar harga tiap jenis komoditas pertanian

agar meminimalisir kerugian yang dialami para petani kebun sayur.

 Jika ada kejadian luar biasa seperti longsor, angin topan atau hama yang luar

biasa dan menyebabkan gagal panen, maka pemerintah harus memberi ganti

rugi kepada para petani kebun sayur.

 Pemerintah bekerja sama dengan ahli cuaca dan iklim untuk memberi info

kepada para petani kebun sayur jika ada tanda – tanda perubahan cuaca atau

iklim yang akan berdampak besar ke kebun sayur para petani.

 Para petani kebun sayur harus diberikan asuransi pertanian untuk menjamin

keselamatan para petani kebun sayur.

 Para petani diberikan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan tentang cara

bertani yang baik sehingga para petani kebun sayur menjadi ahli di

bidangnya.

 Pemerintah harus menyediakan fasilitas pembiayaan dan pemodalan bagi

para petani kebun sayur yang ingin meminjam modal. Fasilitas tersebut

dapat berupa koperasi.

 Mengingat pentingnya peran petani kebun sayur seperti Ibu Pipih tersebut,

seharusnya pemerintah dapat mendaftarkan atau memformalkan para petani

(10)

BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan dari penelitian ini bahwa masalah utama Ibu Pipih sebagai petani

kebun sayur di Kampung Cireyod, Cikole, lembang adalah keuntungan yang

didapat tidak sesuai dengan hasil kerja keras Ibu Pipih. Untuk mengatasi persoalan

– persoalan yang menunjang masalah utama tersebut, didapatlah 9 strategi yang

berlandaskan Undan – Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Perlindungan dan

Pemberdayaan Petani.

Saran dari penelitian ini ialah pemeintah dapat mempertimbangkan strategi

– strategi yang dijabarkan guna agar terwujudnya kedaulatan dan kemandirian

petani dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas dan kehidupan

yang lebih baik sesuai dengan tujuan Undang – Undang No. 19 Tahun 2003 tentang

Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Anggota : Annisa, Marisa, Yanne, Kahfi

Gambar

Tabel 1.1 Kebutuhan Alat Penelitian
Gambar 1.1 Bagan Alir Metedologi Penelitian

Referensi

Dokumen terkait