Pengaruh Jaringan Transportasi Terhadap id

Teks penuh

(1)
(2)

2 | P a g e Kata Pengantar

Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat dan

hidayah-Nya makalah Morfologi Kota ini dapat terselesaikan. Makalah ini berbicara mengenai

aspek transportasi pada salah satu kota sedang atau kota menengah di Indonesia.

Dengan acuan studi kasusnya adalah “Kota Pekanbaru”. Jenis transportasi yang akan

dibahas disesuaikan dengan keadaan eksisting Kota Pekanbaru itu sendiri. Yaitu

Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Jalan, Pertumbuhan yang

Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Laut, Pertumbuhan yang Didorong

oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Rel, Pertumbuhan yang Didorong oleh

Perkembangan Jaringan Transportasi Udara.

Terima kasih untuk dosen pembimbing terkait pembuatan makalah ini yaitu Rulli

Pratiwi Setiawan ST. MT dan Winni Sharfina, ST.MT yang telah memberikan arahan dalam

pembuatan tugas Morfologi Kota ini. Serta beberapa referensi lainnya yang menjadi

acuan makalah ini. Makalah ini jauh dari kata sempurna, sehingga masih membutuhkan

pembenahan dan kritik saran dari para pembaca. Untuk kebaikan makalah Morfologi ke

depannya.

Surabaya, 3 Nopember 2014

(3)

3 | P a g e Daftar Isi

Kata Pengantar ...1

Daftar Isi ...3

BAB I ...4

Pendahuluan ...4

1.1 Latar Belakang...4

1.2 Tujuan Penulisan ...4

1.3 Sistematika Pelaporan ...5

BAB II ...6

Aspek Transportasi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kota ...6

2.1 Gambaran Umum Sejarah Pertumbuhan Kota ...6

2.2 Pertumbuhan Kota ...8

2.2.1 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Jalan ...8

2.2.2 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Laut ...9

2.2.2.1 Pelabuhan Sungai Duku ... 11

2.2.2.2 Pelabuhan Perawang ... 12

2.2.3 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Rel ... 14

2.2.3.1 Sejarah Pengembangan Jalur Kereta Api ... 14

2.2.3.2 Kondisi Eksisting Sisa-Sisa Jalur Kereta Api ... 17

2.2.3.3 Hubungan Jalur Kereta Api dengan Perkembangan Bentuk Kota Pekanbaru ... 17

2.2.4 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Udara ... 18

BAB III ... 20

Kesimpulan ... 20

(4)

4 | P a g e BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan sebuah kota selain ditinjau dari sejarah dan periodesasinya dapat

pula dilihat dari tahapan bentuk pertumbuhannya. Kota tumbuh sepanjang waktu dengan

berbagai cara karakteristik serta kekuatan yang mendorong pertumbuhannya. Salah

satunya adalah perkembangan transportasi. Terdapat beberapa pandangan yang

berkaitan dengan perubahan suatu kawasan dan sekitarnya sebagai bagian dari suatu

kawasan perkotaan yang lebih luas. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perubahan

akibat pertumbuhan daerah di kota tersebut, apabila terletak di daerah pantai yang

landai, pada jaringan transportasi dan jaringan hubungan antar kota, maka kota akan

cepat tumbuh sehingga beberapa elemen kawasan kota akan cepat berubah.

Dan inilah yang terjadi pada Kota Pekanbaru. Kota Pekanbaru berkembang dengan

eksistensi transportasinya yaitu dimulai dari tepian Sungai Siak. Pelabuhannya yang

sangat ramaii serta diperkuat dengan sektor baharinya membuat Kota Pekanbaru

dijadikan pusat perdagangan dari Selat Malaka hingga Petapahan. Sarana transportasi

yang digunakan adalah transportasi air. Seiring majunya pertumbuhan kota, maka

berkembanglah jalan-jalan sebagai perluasan kota seperti Jalan Sudirman dan lain-lain.

Perkembangan Kota Pekanbaru bertambah pesat selama orde baru. Dari data statistik

Kota Pekanbaru memiliki sektor perdagangan terlihat dominan dalam penyumbang PDRB

kotamadya yaitu 39,17%. Pertumbuhan kota Pekanbaru yang sangat pesat ini sangat

dipengaruhi oleh perkembangan transportasinya sendiri.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui pertumbuhan di suatu kota yang dipengaruhi oleh aspek

transportasi.

2. Mengidentifikasi aspek dan jenis transportasi utama pada Kota Menengah di

(5)

5 | P a g e 1.3 Sistematika Pelaporan

Bab I berisi mengenai pendahuluan yaitu latar belakang, tujuan penulisan dan sistematika pelaporan.

Bab II berisi mengenai pembahasan dan di dalamnya terdapat Aspek Transportasi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kota.

Bab III berisi Gambaran Umum Sejarah Pertumbuhan Kota, dan pertumbuhan kota yang

dipengaruhi oleh:

a. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Jalan

b. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Laut

c. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Rel

d. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Udara

(6)

6 | P a g e BAB II

Aspek Transportasi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kota

2.1 Gambaran Umum Sejarah Pertumbuhan Kota

Pertumbuhan dan perkembangan suatu kota, bisa dipengaruhi oleh banyak aspek

yang salah satunya adalah transportasi. Seperti kita lihat sejarah tumbuhnya Kota

Pekanbaru sangat dipengaruhi oleh kegiatan transportasi dimana dari fungsi Sungai Siak

sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman dan

dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah

Senapelan di tepi sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang. Seiring dengan

berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat pemukiman yang ramai. Pada

tanggal 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak,

yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar),

kawasan ini dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi

kota ini.

(7)

7 | P a g e Untuk jenis tranportasi lainnya yaitu penghubung jalan. Jalan yang mulai dirintis

yaitu Jalan Asia (Jalan Sudirman), serta jalan-jalan penghubung lainnya. Seiring

berjalannya waktu, pembukaan jalan ini terus berkembang dan membawa dampak

pertumbuhan Kota Pekanbaru itu sendiri. Dimana tidak hanya bergantung pada

transportasi airnya saja namun angkutan daratnya berkembang pesat.

Selepas kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatera di

Medan tanggal 17 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang

disebut Haminte atau Kotapraja. Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru (Pakanbaru)

menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.

Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19

Tahun 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau yang

baru terbentuk. Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada tanggal 20

Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25. Sebelumnya yang

menjadi ibu kota adalah Tanjungpinang (kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau).

Pekanbaru dihubungkan oleh jaringan jalan yang tersambung dari arah Padang di

sebelah barat, Medan di sebelah utara, dan Jambi di sebelah selatan. Terminal Bandar

Raya Payung Sekaki merupakan pusat pelayanan transportasi antar kota dan antar

provinsi, yang telah direncanakan pemerintah setempat menjadi sarana orientasi dan

perpindahan antar moda transportasi dengan akses ke sistem jaringan transportasi

regional, bandara, dan pelabuhan.

Bandara Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu bandar udara tersibuk di

Sumatera dan dicanangkan akan menjadi salah satu bandara internasional di pulau

Sumatera. Berdasarkan data yang diperoleh dari Angkasa Pura II pada tahun 2011

penumpang yang melalui bandara ini mencapai angka 1.259.993 penumpang per tahun.

Pelabuhan Pekanbaru yang terletak di tepi Sungai Siak dan berjarak 96 mil ke

muara sungai, menjadi sarana transportasi untuk komoditi ekspor seperti kelapa sawit.

Selain itu, pelabuhan ini juga menghubungkan Pekanbaru dengan kawasan di Kepulauan

(8)

8 | P a g e Selain itu, Transmetro Pekanbaru merupakan sarana transportasi massal jalur

darat di Kota Pekanbaru, sekaligus sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi tingkat

kemacetan di kota ini. Namun pada masa pendudukan tentara Jepang, dilakukan

pembangunan rel kereta api yang menghubungkan Pekanbaru menuju Padang melalui

Sawahlunto. Proyek ini sebelumnya telah direncanakan pada masa pemerintahan

Hindia-Belanda dan diselesai pada 15 Agustus 1945 walau sampai sekarang jalur ini tidak pernah

diaktifkan lagi.

2.2 Pertumbuhan Kota

2.2.1 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Jalan

Di zaman penjajahan Jepang yaitu pada tahun 1942, terjadi perluasan Kota

Pekanbaru ke arah timur. Jalan yang mulai dirintis Jalan Asia (sekarang, Jalan Sudirman),

serta penghubung jalan lainnya seperti sekarang bernama Jalan Ir.Juanda, Jalan Setia

Budi, Jalan Hasanudin, Jalan Tengku Umar, Jalan HOS, Cokroaminoto, Jalan Gatot Subroto,

Jalan Imam Bonjol dan sebagian Jalan Sisingamangaraja. Pembukaan jalan ini

mengakibatkan berkembangnya sistem transportasi, dimana awalnya hanya

menggunakan angkutan air tetapi dengan adanya pembukaan jalan mengakibatkan

pemanfaatan sarana angkutan darat baik mobil, bendi, ataupun sepeda.

Pekanbaru dihubungkan oleh jaringan jalan yang tersambung dari arah kota

Padang di sebelah barat, Medan disebelah utara, dan Jambi di sebelah selatan . Adapun

Terminal Bandar Raya Payung Sekaki merupakan pusat layanan transportasi antar kota

dan antar provinsi, baik di Pulau Sumatra maupun Pulau Jawa. Terminal ini juga dirancang

dengan sistem perpindahan antar moda transportasi, dengan akses ke sistem jaringan

transportasi regional, bandar udara dan pelabuhan. Selain oplet, bus kota, ojek , dan

taksi, transportasi lokal juga dilayani oleh transmetro. Transmetro Kota Pekanbaru, yang

mulai beroperasi pada tanggal 18 juni 2009, merupakan sarana transportasi cepat masal

jalur darat di , yang juga berfungsi sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi tingkat

kemacetan kota.

Pada tahun 1997, Kota Pekanbaru masih relatif terbelakang dalam hal

(9)

9 | P a g e Namun pada Tahun 2014, Jalan Jenderal Soedirman menjadi pusat kota terdapat hotel

dan perkantoran dan juga apartemen bertingkat. Pasar modern juga berkembang juga

berada di jalan jendral soedirman banyak masyarakat yang berdagang sekitar jalan

tersebut dan pendapatanya dari tahun ke tahun semakin meningkat .

Dijalan utama Soedirman juga telah dibangun 2 fly over. Yang terletak dipersimpangan

Tuanku Tambusai dan Imam Munandar jalan layang ini bertujuan untuk mengurai arus

kendaraan dari arah bandara menuju pusat kota ataupun sebaliknya . Selain itu untuk

mengembangkan wilayah Rumbai dibagian timur juga dibangun jembatan tambahan yang

melintasi sungai Siak .

Selain jalan layang di Kota Pekanbaru juga terdapat Riau Main Stadium yang

berada di Jalan Ahmad Yani dengan adanya stadium ini Jalan Ahmad Yani menjadi

berkembang karena banyak masyarakat yang berdagang di daerah itu.

2.2.2 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Laut

Kota Pekanbaru tidak terlepas dari keberadaan Sungai Siak sebagai sarana

transportasi yang menunjang pertumbuhan kota tersebut. Sejak dulu, sungai Siak

merupakan urat nadi ekonomi di dataran Riau terutama Pekanbaru. Transportasi melalui

Sungai Siak merupakan salah satu transportasi andalan. Sebagai sarana transportasi,

pelabuhan tentu ikut terlibat di dalam rantai perniagaan. Keberadaan pelabuhan penting

juga bagi roda perekonomian pada wilayah-wilayah di sekitarnya.

(10)

10 | P a g e Pekanbaru memiliki sebuah pelabuhan konvensional yang diusahakan pemerintah

sebagai pelabuhan kelas II berfungsi sebagai pintu gerbang perdagangan di Provinsi Riau.

Pelabuhan Pekanbaru adalah pelabuhan sungai terletak di bagian Timur Pulau Sumatera,

secara administrative merupakan bagian dari Kota Pekanbaru. Secara geografis berada

pada posisi 000 32’ 29’’ LU dan 101026’ 21’’ BT. Alur pelayarannya cukup panjang dengan

jarak tempuh ± 160 Km (96 mil) dari muara Sungai Siak. Pelabuhan Pekanbaru telah

berperan sejak lama mendukung perekonomian Pemerintah Kota Pekanbaru serta

pengembangan moda transportasi laut yang menghubungkan pulau-pulau dan pelabuhan

di kawasan Indonesia bagian Barat.

Gambar 2 2. Sungai Siak

Peta 2.2 Posisi Sungai Siak Sumber: Google.com

(11)

11 | P a g e Komoditi hinterland yang menonjol berasal dari sektor pertanian dengan berbagai

jenis produksi antara lain hasil perkebunan, kehutanan dan tanaman pangan.

Pengembangan hinterland-nya mengarah ke sektor industri dan perdagangan kelapa

sawit.

Namun demikian bila ditinjau dari lokasinya, pengembangan pelabuhan yang

terletak di tengah Kota Pekanbaru ini akan sulit dilakukan karena kendala lahan yang

sangat terbatas. Karena alas an tersebut, maka pada Tahun 2005 Pemerintah Kota Pekan

baru bersama instansi terkait membuat suatu kebijakan dalam mengembangkan

Pelabuhan Pekanbaru dengan membangun infrastruktur pelabuhan di Kecamatan Lima

puluh yang bernama Pelabuhan Sungai Duku demi menunjang kegiatan naik turun

penumpang. Untuk menunjang kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas

dikembangkannya Pelabuhan Perawang dengan pembangunan lapangan penumpukan

peti kemas.

2.2.2.1 Pelabuhan Sungai Duku

Pelabuhan Sungai Duku adalah pelabuhan pemberangkatan yang terletak di

jantung Kota Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan

pemberangkatan domestic dan internasional. Pelabuhan ini dilengkapi dengan adanya

terminal penumpang dan dermaga. Terminal Pelabuhan Sungai Duku adalah prasarana

transportasi untuk keperluan singgah, menurunkan penumpang dan atau barang dari

kapal atau sebaliknya dan mengatur kedatangan dan pemberangkatan penumpang pada

jalur lalulintas Sungai Siak di daerah Pekanbaru. Dari segi arsitektural, terminal ini bukan

hanya sebagai tempat transisi, melainkan juga berfungsi sebagai landmark atau pintu

gerbang Kota Pekanbaru.

Gambar 2 6. Suasana penumpang di Pelabuhan Sungai Duku, Kota Pekanbaru

Gambar 2 5. Pelabuhan Sungai Duku

(12)

12 | P a g e Pemberangkatan domestik di pelabuhan ini dengan tujuan Kabupaten Bengkalis,

Kota Selat Panjang, Kabupaten Siak dan sekitarnya. Untuk internasional, pelabuhan ini

melayani pelayaran internasional seperti ke Malaka dan Malaysia.

Pelabuhan ini memiliki areal parkir yang memadai. Setiap harinya pelabuhan ini

melayani kapal-kapal yang berangkat dan berlabuh di Kota Pekanbaru. Kapal-kapal yang

dating ke pelabuhan ini berasal dari dalam dan luar negeri. Untuk dalam negeri,

kapal-kapal tersebut dating dari Batam, Selat Panjang, Tanjung Balai Karimun dan lain-lain.

Armada yang terdapat di pelabuhan ini antaralain, speedboat Alita Ekspress, Bengkalis

Wisata Ekspress, Siak Wisata, Trubuk Ekspress, Jelatik, Garuda dan Forti.

2.2.2.2 Pelabuhan Perawang

Pelabuhan Perawang adalah pelabuhan yang dikhususkan sebagai tempat bongkar

muat barang dan peti kemas yang ada di Pekanbaru. Setelah Pemerintah Kabupaten

membangun Jembatan Sungai Siak, maka kapal besar tidak dapat lagi merapat di

Pelabuhan Pekanbaru. Oleh karena itu, pelabuhan yang akan mendorong perekonomian

masa depan Propinsi Riau selain Pelabuhan Sungai Duku adalah Pelabuhan Perawang.

Asset-asset di Pelabuhan Perawang berupa dermaga dengan panjang 88 m2,

lapangan penumpukan (container yard) seluas 5.000 m2 serta kantor dan sebuah mess.

Realisasi arus bongkar muat peti kemas konvensional dermaga umum Perawang tahun

2007 pada Dermaga Umum (isi) sebesar 5.565 box darianggaran 7.489 box atau sebesar

73,41% sedangan Dermaga Umum (kosong) sebesar 3.891 box darianggaran 3.319 box

atausebesar 117,23%.

(13)

13 | P a g e Rencana kedepan untuk meningkatkan fasilitas pelabuhan di Perawang dalam

jangka waktu dekat atau menengah diprioritaskan adalah pembangunan perpanjangan

dermaga, penambahan luas lapangan penumpukan (container yard), pembuatan talud

serta pengaspalan jalan masuk areal pelabuhan sepanjang 1 Km.

Pada Mei 2012 lalu, telah diresmikannya Terminal Petikemas Perawang.

Pengoperasian Terminal Peti kemas ini menjawab tuntutan perkembangan perekonomian

di daerah Pekanbaru yang semakin pesat pertumbuhan industrinya serta jawaban atas

pemberlakuan Undang-Undang Nomor 17/2088 tentang pelayaran yang membuka

kompetisi bisnis pelabuhan. Terminal yang berlokasi di Sungai Siak, Kecamatan Tualang

Siak ini merupakan wujud dukungan implementasi program Pemerintah yaitu Program

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Keberadaan Terminal Peti kemas Perawang ini sekaligus sebagai upaya

memperkuat konektivitas nasional, yang terintegrasi secara local dan terhubung secara

global (locally integrated globally connected) dalam mendukung percepatan ekonomi

nasional. Harapannya, Terminal Petikemas Perawang yang merupakan Terminal Peti

kemas pertama di Pekanbaru ini akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi

Provinsi Riau.

(14)

14 | P a g e 2.2.3 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi

Rel

2.2.3.1 Sejarah Pengembangan Jalur Kereta Api

Berawal dari masa kependudukan Jepang pada tahun 1942 di Indonesia. Berlanjut

pada tahun 1943 dimana Jepang mulai melakukan pembangunan jalur kereta api

Pekanbaru(Riau)Muaro Sijunjung (Sumatera Barat). Sebelumnya pihak Belanda juga

merencanakan jaringan rel kereta api Pekanbaru–Muaro di tahun 1920, tetapi

dikarenakan kondisi lapangan yang cukup sulit dilakukan pembangunan sehingga tidak

terlaksana sampai akhirnya terjadi Perang Dunia II pada 1945. Rencana pemerintah

kolonial Belanda yaitu melakukan pembangunan jaringan rel kereta api yang

menghubungkan pantai timur dan pantai barat Pulau Sumatera. Salah satunya adalah

jalur PekanbaruMuaro.

Namun hambatan yang begitu berat sehingga membutuhkan banyak terowongan,

menembus hutan dan sungai serta harus membangun banyak jembatan sehingga rencana

tersebut sekedar tersimpan di arsip Perusahaan Negara Kereta Api Hindia Belanda

(Nederlands-Indische Staatsspoorwegen).

Kemudian Jepang merealisasikannya dengan pertimbangan pada saat itu bahwa

banyak kapal-kapal jepang yang berhasil ditenggelamkan oleh kapal selam sekutu

sehingga dengan jalur kereta ini, jepang ingin menghubungkan antara Samudera Hindia

dan Selat Malaka. Maka pengangkutan logistik dan tentara melalui laut dapat

dikurangi.Sebab Jepang membutuhkan jalur transportasi yang menghindari Padang dan

Samudera India karena dijaga ketat kapal perang Sekutu. Selain itu, Jepang perlu

angkutan yang efektif dan efisien untuk mengangkut batubara dari Ombilin ke Pekanbaru

untuk selanjutnya dibawa ke Singapura. Keyakinan Jepang juga didasari pengalaman

mereka dalam proyek Death Railways Burma-Siam yang dapat selesai dalam 18 bulan.

Pembangunan dimulai pada September 1943. Tenaga kerja yang digunakan oleh jepang

adalah tenaga kerja Romusha yang didatangkan dari Jawa dan daerah lainya serta para

tawanan perang sekutu. Para Romusha membangun fasilitas perkeretaapian dan badan

jalan rel di Pekanbaru. Kemudian pada Mei 1944 para tawanan perang mulai

(15)

15 | P a g e Pekanbaru karena terbunuh ketika kapal yang mereka tumpangi tenggelam terkena

serangan Sekutu. Dan sebagian besar romusha pekerja rel ini berakhir kehilangan nyawa

karena kurang makan, penyakit dan perlakuan kejam tentara Jepang.

Material kereta api seperti rel, lokomotif dan gerbong didatangkan juga dari

tempat lain, termasuk beberapa lokomotif bekas Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) and

Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Akhirnya jalur rel kereta api selesai

pada 15 Agustus 1945, bersamaan dengan penyerahan Jepang kepada Sekutu. Ternyata

jalur ini hanya digunakan antara Mei 1945 – Agustus 1945 untuk pengangkutan batu bara.

Setelah itu jepang dipaksa angkat kaki oleh Sekutu dengan dijatuhkannya bom atom di

Hiroshima dan Nagasaki. Dan lebih ironis lagi, jalan kereta api ini tidak pernah digunakan

untuk tujuannya semula, membawa batubara dari Sawah Lunto, Sumatera barat ke

Pekanbaru. Kereta api yang melalui jalan rel ini hanya kereta api pengangkut tawanan

perang yang telah dibebaskan. Tidak lama setelah itu jalan rel ini ditinggalkan begitu saja.

The Death Railways Pekanbaru-Muaro peninggalan Jepang pun terlantar. Hingga puluhan

ribu korban yang berjatuhan tak mendapat tempat dalam ingatan, bahkan hilang dari

sejarah bangsa ini seiring kurang terekamnya pengangkatan rel di tahun 1975 oleh

penduduk sekitar, untuk dijual sebagai besi tua.

(16)

16 | P a g e Gambar 2.8 Peta Kota Pekanbaru, Riau

Sumber: Dinas Tata Kota Pekanbaru

Peta 2.5 Jalur Rel Kereta Api PekanbaruMuaro (ditandai garis hitam)

(17)

17 | P a g e 2.2.3.2 Kondisi Eksisting Sisa-Sisa Jalur Kereta Api

Seperti pada penjelasan di atas mengenai hilangnya jalur kereta api di Pekanbaru,

Riau, bahwa hingga saat ini belum ada jalur kereta api baru sebagai akses transportasi

darat. Adapun sisa-sisa jalur kereta api yang berhasil diamankan hanya sebuah lokomotif

tua yang kemudian diresmikan sebagai Monumen Lokomotif di Jl. KH. Nasution, Simpang

Jalan, Kota Pekanbaru, Riau.

2.2.3.3 Hubungan Jalur Kereta Api dengan Perkembangan Bentuk Kota Pekanbaru

Dilihat dari sejarah pembangunan Jalur Kereta Api di Pekanbaru bahwa jalur atau

rel kereta api yang saat itu dibangun hanya untuk mempermudah pemindahan dan

pengumpulan batubara demi keuntungan pihak Jepang semata. Sedangkan Kota

Pekanbaru tumbuh, yang semua terdiri dari dua kecamatan hingga sekarang terdapat 12

kecamatan, diakibatkan pembangunan jalan raya sebagai jalur darat di awal

perkembangan kota pada tahun 1950-an. Dengan adanya jalan raya ini, mempermudah

pergerakan masyarakat di darat. Padahal sebelumnya mengandalkan sarana transportasi

air di sepanjang Sungai Siak sejak tahun 1784. Sehingga jalur kereta api Pekanbaru-Muaro

tidak memiliki pengaruh signifikan pada perkembangan bentuk kota Pekanbaru. Terlebih

lagi keberadaannya yang sudah lama hilang sejak tahun 1975. Namun bila ditinjau dari

nilai sejarah bangsa Indonesia, peristiwa yang terjadi pada masa silam di Pekanbaru

mengenai jalur rel kereta api, menyimpan nilai sejarah yang tinggi dan mengingatkan Gambar 2.9 Monumen Lokomotif Pekan Baru, Riau

(18)

18 | P a g e betapa kelamnya masa penjajahan serta besarnya pengorbanan penduduk Indonesia

pada waktu itu.

2.2.4 Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Udara

Saat ini Pekanbaru telah berkembang pesat menjadi sebuah kota perdagangan

yang cukup prospek mengingat posisinya berada pada jalur internasional yang strategis.

Salah satu yang mengalami perkembangan adalah bandar udara. Saat ini Pekanbaru

memiliki bandar udara yang bernama Sultan Syarif Kasim II. Bandar udara ini merupakan

bandar udara tersibuk kedua di Pulau Sumatra setelah Bandara Polonia (Medan). Jumlah

penumpang tahunan di bandara ini bahkan telah melebih 1,6 juta pada tahun 2005. Hal

ini dapat dibuktikan langsung di situs Angkasapura II. Sungguh mengesankan, karena

ternyata bandar udara Pekanbaru lebih sibuk daripada bandar udara di Padang ataupun

di Palembang. Merujuk kembali, populasi Pekanbaru yang terbilang kecil berbanding

kedua kota tersebut.

Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II adalah sebuah bandar udara

yang terletak di Kota Pekanbaru dan sebelumnya bernama Bandara Simpang Tiga.

Bandara ini dulunya merupakan bandara peninggalan sejarah dari zaman kemerdekaan

melawan penjajah Belanda dan Jepang. Saat itu di sebut “Landasan Udara” dimana landasan tersebut masih terdiri dari tanah yang di keraskan dan di gunakan sebagai

Pangkalan Militer. Awalnya, landasan pacunya adalah dari Timur menuju Barat dengan Gambar 2.10 Kenampakan Fisik Depan Bandara Sultan Syarif Kasim II

(19)

19 | P a g e nomor runway 14 dan 32. Pada awal kemerdekaan di bangun landasan pacu baru yang

terbentang dari arah utara menuju selatan dengan nomor runway 18 dan 32. Panjang

landasan lebih kurang 800 meter dengan permukaan landasan berupa kerikil yang di

padatkan. Pada tahun 1950 landasan pacu di perpanjang menjadi 1.500 meter, dan pada

tahun 1967 landasan di mulai proses pengaspalan Runway, Taxi, dan Apron setebal 7 cm

serta pertambahan panjang landasan sepanjang 500 meter.

Pada tahun 1960, Pemerintah mengoperasikan bandara ini menjadi bandara

Perintis dan merubah nama dari Landasan Udara menjadi “Pelabuhan Udara Simpang Tiga”. Nama Simpang Tiga diambil karena lokasinya berada tiga jalan persimpangan yaitu

jalan menuju Kota Madya Pekanbaru, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hulu.

Berdasarkan Rapat Kepala Kantor Perwakilan Departemen Perhubungan tanggal 23

Agustus 1985 nama Pelabuhan Udara Simpang Tiga diganti menjadi Bandar Udara

Simpang Tiga terhitung tanggal 1 September 1985. Pada 1 April 1994 Bandar Udara

Simpang Tiga bergabung dengan Manejemen yang di kelolah oleh PT. Angkasa Pura II

(Persero). Dan di sebut dengan Kantor Cabang Bandar Udara Simpang Tiga Yang kelak

berubah nama menjadi Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II yang di tetapkan melalui

keputusan Presiden No.Kep.473/OM.00/1988-AP II tanggal 4 April 1998 dan di resmikan

oleh Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid pada tanggal 29 April 2000.

Pada tahun 2009, telah mulai dilakukan perluasan di beberapa bagian fisik

bandara, salah satunya terminal. Terminal yang baru terbangun bisa menampung sekitar

dua setengah juta penumpang per tahunnya. Dilengkapi 24 konter check-in dan tiga

garbarata, terminal ini melayani lima rute domestik dan tiga rute internasional. Dalam

rangka persiapan sebagai embarkasi haji di tahun 2013, maka PT Angkasa Pura II sedang

memperpanjang landasan pacu bandara menjadi 2.620 meter. Dengan runway sepanjang

ini, bandara Pekanbaru ini sudah bisa didarati pesawat berbadan lebar, seperti Boeing

(20)

20 | P a g e BAB III

Kesimpulan

Dapat dikatakan bahwa di Kota Pekanbaru terrmasuk kota yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Terkait jumlah penduduk, infrastruktur maupun aspek transportasi di dalamnya. Kota Pekanbaru mengandalkan empat jenis transportasi, yaitu penghubung yaitu jalan, transportasi laut yaitu pelabuhan, transportasi udara yaitu bandara. Tentu, Kota Pekanbaru memiliki alasan tersendiri mengapa keempat elemen jenis transportasi ini disediakan di Kota Pekanbaru ini. Untuk transportasi yang paling dominan kegiatannya adalah, transportasi laut karena dipengaruhi oleh Sungai Siak yang selalu menjadi sentra utama perdagangan sejak zaman Belanda. Ada dua jenis pelabuhan yang ada di Kota Pekanbaru yaitu, Pelabuhan Sungai Duku dikhususkan untuk pelabuhan yang mengangkut penumpang. Dan Pelabuhan Perawang difokuskan untuk bongkar dan angkut barang di Kota Pekanbaru. Dengan ini, sangat terlihat bahwa, kesuksesan transportasi laut di Kota Pekanbaru.

Perkembangan Kota lainnya juga ditinjau dari potensi transportasi lainnya yaitu darat. Setelah dibangunnya Jalan Jenderal Soedirman membuat Kota Pekanbvaru semakin ramai dan mengakibatkan banyak penduduk yang datang ke kota ini dengan mudahnya. Tidak menutup kemungkinan transportasi udara juga memiliki peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat baik itu nasional maupun internasional.

Dapat dikatakan bahwa jalur kereta api Pekanbaru-Muaro tidak memiliki pengaruh

signifikan pada perkembangan bentuk kota Pekanbaru. Terlebih lagi keberadaannya yang

sudah lama hilang sejak tahun 1975. Jalur kereta api yang saat ini masih ada dijadikan

(21)

21 | P a g e Daftar Pustaka

Anonim. Kembangkan Pelabuhan Kerawang.

http://waskitaadiguna.blogspot.com/2010/04/kembangkan-pelabuhan-perawang-dan-3.html. Diakses pada tanggal 4 Desember 2014.

Dampak Pengembangan Pelabuhan Pekanbaru di Kawasan Pasar Bawah

http://elibrary.ub.ac.id/bitstream/123456789/33964/4/Dampak-Pengembangan-Pelabuhan-Pekanbaru-Di-Kawasan-Pasar-Bawah-%28jurnal%29.pdf. Diakses pada tanggal 4 Desember 2014.

Figur

Gambar 2 1. Jaringan Jalan di Kota Pekanbaru 2014

Gambar 2

1. Jaringan Jalan di Kota Pekanbaru 2014 p.9
Gambar 2 2. Sungai Siak

Gambar 2

2. Sungai Siak p.10
Gambar 2 6. Suasana penumpang di Pelabuhan Sungai Duku, Kota  Pekanbaru

Gambar 2

6. Suasana penumpang di Pelabuhan Sungai Duku, Kota Pekanbaru p.11
Gambar 2 7.  Pelabuhan Perawang

Gambar 2

7. Pelabuhan Perawang p.12
Gambar  2.8  Peta Kota Pekanbaru, Riau Sumber: Dinas Tata Kota Pekanbaru

Gambar 2.8

Peta Kota Pekanbaru, Riau Sumber: Dinas Tata Kota Pekanbaru p.16
Gambar 2.9 Monumen Lokomotif Pekan Baru, Riau

Gambar 2.9

Monumen Lokomotif Pekan Baru, Riau p.17
Gambar 2.10 Kenampakan Fisik Depan Bandara Sultan Syarif Kasim II

Gambar 2.10

Kenampakan Fisik Depan Bandara Sultan Syarif Kasim II p.18

Referensi

Memperbarui...