• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSERVASI EX-SITU KANDOLE (Diploknema oligomera H.J. Lam) (Ex situ Conservation for Kandole (Diploknema oligomera H.J.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSERVASI EX-SITU KANDOLE (Diploknema oligomera H.J. Lam) (Ex situ Conservation for Kandole (Diploknema oligomera H.J."

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KONSERVASI EX-SITU KANDOLE (Diploknema oligomera H.J. Lam) (Ex situ Conservation for Kandole (Diploknema oligomera H.J. Lam))

Dodo

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

ABSTRAK

Kandole merupakan salah satu jenis tumbuhan langka Indonesia dari keluarga sawo-sawoan (Sapotaceae) yang berpotensi sebagai tanaman peneduh, bahan bangunan, dan buah lokal. Konservasi ex-situ dilakukan untuk menyelamatkan kandole dari kepunahan melalui kegiatan eksplorasi, penanaman, dan perbanyakan. Kebun Raya Bogor telah berhasil melakukan konservasi kandole sebanyak lima pohon dengan nomor koleksi IV.D.151, 167, 167a; XXIV.A. 89, 89a. Koleksi tersebut sekarang berumur lebih dari 30 tahun, tingginya sudah mencapai 8 m, diameter batang 30 cm, diameter tajuk 6 meter, dan masih produktif menghasilkan buah. Perbanyakan secara generatif akan berguna untuk menambah populasi kandole di habitat alaminya. Berdasarkan hasil perkecambahan, secara umum kandole memiliki daya kecambah 78% dan mulai berkecambah pada umur satu bulan setelah semai. Ketersediaan tanaman koleksi, informasi perbanyakan, dan bibit diharapkan akan membantu pemulihan kandole dari kepunahan.

Kata kunci: kandole, konservasi, langka, perkecambahan.

ABSTRACT

Kandole is one of the Indonesia rare plant from the sapodillas family (Sapotaceae) that has potential as shade plant, building material, and local fruit. Ex-situ conservation kandole done to save from extinction through exploration activities, planting and propagation. Bogor Botanical Gardens has managed to conserve kandole five trees with collection number are IV.D.151, 167, 167a; XXIV.A. 89, 89a. Collections are now older than 30 years, has reached 8 meters height, trunk diameter of 30 cm, crown diameter of 6 meters, and is still productive of fruit. Propagation generative would be useful to add kandole populations in their natural habitat. Based on the results of germination, generally kandole have a germination rate of 78% and begin to germinate at the age of one month after sowing. Availability of plant collection, propagation of information, and the seedlings are expected to help the recovery kandole of extinction.

Keywords: conservation, kandole, propagation, rare.

PENDAHULUAN

Diploknema oligomera H.J. Lam memiliki nama daerah kandole atau tetah merupakan jenis tumbuhan dari keluarga sawo-sawoan (Sapotaceae) yang terdapat di Maluku (Royen 1958; Sosef et al. 1998; dan spesimen herbarium BO-101704). Tumbuhan ini juga terdapat di Aceh berdasarkan data koleksi Kebun Raya Bogor (Sutiastuti 2012) dan Sulawesi Tenggara (Muslich & Rulliaty, 2011).

(2)

Secara ekonomi, kandole diketahui sebagai tanaman kayu komersial. Muslich dan Rulliaty (2011) menyatakan bahwa kayu kandole tergolong kelas awet I sekelas dengan resak (Cotylelobium flavum Pierre.), ulin (Eusideroxylon zwageri T.et B.), keruing a (Dipterocarpus glabrigemmatus P.S.Aston), keruing b (Dipterocarpus stellatus Vesque), kayu besi (Metrosideros petiolata Kds.), dan pelawan merah (Tristania maingayi Duthie). Hasil klasifikasi keawetan beberapa jenis kayu Sulawesi menunjukkan bahwa kandole termasuk kelas awet I sama dengan ulin (Muslich & Sumarni, 2008).

Kandole termasuk ke dalam dua ratus jenis tumbuhan langka yang ada di Indonesia. Tumbuhan langka akan menjadi punah apabila tidak dilakukan upaya pelestariannya. Jika punah maka hilang pula kesempatan untuk menggali potensi-nya (Mogea et al. 2001). Untuk itu kandole harus dilestarikan jangan sampai punah.

Upaya pelestarian kandole secara ex-situ dilakukan melalui eksplorasi, penanaman, dan perbanyakan. Eksplorasi merupakan kegiatan pengoleksian mate-rial tumbuhan hidup dari habitat alaminya untuk dikonservasi secara ex-situ di Kebun Raya. Tumbuhan hasil eksplorasi menjadi tanaman koleksi yang memer-lukan pengelolaan sehingga tumbuh menjadi tanaman dewasa yang beregenerasi dan dapat dimanfaatkan (Puspitaningtyas et al. 2011). Perbanyakan akan meng-hasilkan bibit yang berguna untuk kesejahteraan manusia. Konservasi ex-situ kandole bertujuan untuk menyelamatkan tumbuhan tersebut dari kepunahan.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI pada Subbidang Registrasi dan Pembibitan dan Subbidang Pemeliharaan Koleksi. Pengamatan dilakukan terhadap tanaman koleksi kandole yang terdapat di Kebun Raya Bogor. Variabel yang diamati terdiri dari asal-usul tanaman koleksi, waktu berbunga dan berbuah, serta ukuran buah.

Perbanyakan kandole dilakukan secara generatif. Biji berasal dari buah yang sudah matang dari tanaman koleksi Kebun Raya Bogor nomor XXIV.A.89, IV.D.151, dan IV.D.167. Persemaian biji dilakukan pada empat jenis media semai

(3)

sekam padi. Sebelum disemai, biji dikelompokkan berdasarkan perlakuan yang terdiri dari: disemai langsung, dicuci air, direndam air semalam, dan diperam semalam. Setiap satuan percobaan terdiri dari 10 biji kandole dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati terdiri dari awal berkecambah, daya kecambah, dan tipe perkecambahan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Koleksi Kandole di Kebun Raya Bogor

Kandole merupakan salah satu tumbuhan koleksi Kebun Raya Bogor. Koleksi tumbuhan tersebut diperoleh dari hasil eksplorasi di Aceh Besar, Kabupaten Kuala Leumbero, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 1982 oleh Dr. Usep Sutisna. Terdapat 5 pohon koleksi, yaitu 3 pohon di vak IV.D. dengan nomor koleksi 151, 167, dan 167a; dan 2 pohon di vak XXIV.A. dengan nomor koleksi 89, dan 89a. Koleksi berasal dari biji, diterima di Kebun Raya Bogor tanggal 11 September 1982 dan ditanam pada 28 September 1983, 10 September 1984, dan 11 Januari 1986 (Sutiastuti 2016). Kondisi saat ini tumbuhan tersebut masih produktif menghasilkan buah, tingginya sekitar 8 m, diameter batang sekitar 30 cm, dan diameter tajuk sekitar 6 m.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tanaman koleksi, bunga kandole tumbuh bergerombol pada ketiak cabang. Berbunga mulai bulan Agustus, dan berbuah pada SeptemberFebruari tahun berikutnya. Pada bulan Januari beberapa buah jatuh dalam kondisi matang. Kondisi ini hampir sama dengan pendapat Sosef et al. (1998), yaitu kandole berbunga pada bulan Juni dan berbuah pada bulan September.

Buah kandole koleksi Kebun Raya Bogor berbentuk bulat telur, rata-rata berukuran sekitar 10 x 8 cm; panjang tangkai sekitar 1 cm; kulit buah tipis sekitar 1 mm, mudah dikupas; daging buah tebal sekitar 2 cm dan empuk, berwarna putih susu, rasa buahnya mirip dengan buah alpukat. Biji berbentuk lonjong, terdapat di dalam buah, 1–2 biji pada setiap buahnya, panjang rata-rata sekitar 7 cm, dengan diameter rata-rata 3,5 cm. Buah yang berisi 2 biji, kondisi bijinya berdempet dan

(4)

saling merekat, berbentuk cembung dengan tebal sekitar 2,5 cm, dan panjangnya mencapai 7,5 cm.

Gambar 1 Kondisi buah kandole. (a) buah utuh, (b) belahan buah, (c) daging dan kulit buah, dan (d) biji.

Belum ada yang menginformasikan manfaat buah kandole. Berdasarkan hasil pengamatan, kandole berpotensi sebagai tanaman buah lokal. Kandole juga memi-liki postur yang tegap, kokoh, batangnya lurus, bertajuk seperti kubah, daunnya rimbun, dan jarang rontok. Kondisi seperti ini, kandole berpotensi sebagai tanaman peneduh yang baik.

Perbanyakan Bibit

Kandole diperbanyak secara generatif dengan biji. Biji tanaman dari famili Sapotaceae tergolong ke dalam biji yang mudah berkecambah karena termasuk ke dalam tipe biji rekalsitran, yaitu benih yang cepat kehilangan viabilitasnya atau daya kecambahnya menurun dengan cepat (Buharman et al. 2011; Tata et al. 2008). Berdasarkan hasil pengamatan, biji kandole mulai berkecambah pada umur

(5)

lahan biji; 2) Pertumbuhan batang di bawah kotiledon (hipokotil); 3) Pertumbuhan akar (radikula) primer; 3) Pertumbuhan akar sekunder dan batang di atas kotiledon (epikotil); dan 4) pertumbuhan pucuk/daun (plumula). Berdasarkan tahapan ter-sebut perkecambahan kandole termasuk tipe hipogeal. Pratiwi (2006) menyatakan bahwa perkecambahan hipogeal dicirikan dengan pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di bawah tanah.

Gambar 2 Tahapan perkecambahan kandole.

Hasil perkecambahan menunjukkan bahwa secara umum kandole memiliki daya kecambah sebesar 78%. Berdasarkan standard error (Gambar 3), daya kecambah kandole menunjukkan perbedaan yang nyata di antara perlakuan. Daya kecambah yang tinggi terjadi pada media semai pasir kali (M1), kompos (M3), dan cocopeat (M4), tetapi rendah pada media semai sekam padi (M2). Daya kecambah kandole pada media sekam padi berbeda nyata dengan media semai lainnya.

Perlakuan biji pada media pasir kali menunjukkan perbedaan yang nyata. Daya berkecambah biji kandole yang diberi perlakuan P1 (dicuci air) dan P2 (direndam air semalam) menunjukkan hasil yang baik (>80%) dan berbeda nyata dengan P0 (biji yang ditanam langsung).

Berdasarkan hasil penelitian ini, metode yang paling efektif untuk perkecambahan kandole adalah menyemai pada media cocopeat atau kompos karena menunjukkan daya berkecambah yang tinggi meskipun disemai secara langsung.

(6)

Gambar 3 Daya kecambah kandole pada perlakuan biji (P) dan jenis media semai (M). M1 = pasir kali; M2 = sekam padi; M3 = kompos; M4 = cocopeat; P0 = disemai langsung; P1 = dicuci air; P2 = direndam air semalam; P3 = diperam semalam.

KESIMPULAN

Kebun Raya Bogor sebagai lembaga konservasi ex-situ telah berhasil meng-konservasi kandole sebanyak lima pohon koleksi yang terawat dengan baik dan sejumlah bibit hasil perbanyakan generatif yang siap dimanfaatkan, baik oleh masyarakat umum maupun instansi terkait untuk program pemulihan populasi di habitat alaminya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI terutama pada Subbidang Pemeliharaan Koleksi dan Subbidang Registrasi dan Pembibitan yang telah membantu penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Buharman DF, Djam’an N, Widyani, Sudradjat. 2011. Atlas benih tanaman hutan Indonesia. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor (ID). 0 20 40 60 80 100 120 M1P1 M1P2 M1P3 M1P0 M2P0 M3P0 M4P0 D a y a k e c a m b a h ( % ) Perlakuan

(7)

Muslich M, Sumarni G. 2008. Standardisasi mutu kayu berdasarkan ketahanannya terhadap penggerek di laut. Prosiding PPI Standardisasi 2008.

Muslich M, Rulliaty S. 2011. Kelas awet 250 jenis kayu indonesia terhadap penggerek di laut. Prosiding seminar nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIV. Halaman: 129–141.

Pratiwi. 2006. Biologi. Jakarta (ID): Erlangga.

Puspitaningtyas DM, Fijridiyanto IA, Putri WU, Ngatari. 2011. Teknik Eksplorasi. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Royen PV. 1958. Revision of the Sapotaceae of the Malaysian areain a wider sense.XIV. Blumea. IX(1): 75–88.

Sosef MSM, Hong LT, Prawirohatmodjo S. 1998. Plant Resources of South East Asia 5(3): Timber Trees: Lesser-Known Timbers. p:190. Prosea. Bogor (ID). Sutiastuti R. 2012. Data asal usul koleksi Diploknema oligomera. Data base

Subbidang Registrasi Koleksi, Pusat Konservasi Tumbuhan Keun Raya Bogor-LIPI.

Tata H, Noordwijk MV, Rasnovi S. 2008. Belajar dari Bungo: Mengelola sumberdaya alam di era desentralisasi. Bogor (ID): Center for International Forestry Research (CIFOR).

Gambar

Gambar 1  Kondisi  buah  kandole.  (a)  buah  utuh,  (b)  belahan  buah,  (c)  daging  dan  kulit  buah, dan (d) biji
Gambar 2 Tahapan perkecambahan kandole.
Gambar 3  Daya kecambah kandole pada perlakuan biji (P) dan jenis media semai (M). M1

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan Hutan Produksi Terbatas dengan karakter hutan monokultur menjadi Kebun Raya sebagai kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ berarti merubah

Kebun Raya Balikpapan adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi,

Perbandingan antara jenis tumbuhan yang sudah dikonservasi secara in-vitro dengan jumlah total koleksi yang dimiliki oleh Kebun Raya Bali masih sangat rendah yaitu 1,64%

Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) membangun tegakan konservasi ex-situ pada tahun 2005 namun pertumbuhannya belum pernah dievaluasi. Tujuan penelitian ini adalah i) untuk

Konservasi ex situ yang dirancang bertujuan untuk memudahkan program breeding dan bioteknologi yang dirancang dalam jangka panjang bertujuan agar tanaman cendana yang dibangun

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis-jenis Lygodium yang terdapat di kawasan Cagar Alam Bukit Bungkuk, Riau untuk koleksi di Kebun Raya Bogor dan untuk

Hasil perhitungan rata-rata persen hidup, tinggi dan diameter setiap famili dari tanaman jabon dari provenan Lombok Barat sampai umur 18 bulan di plot konservasi ex situ di Gunung

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dipimpin oleh seorang Kepala Pusat yang membawahi beberapa bagian, antara lain yaitu : Bidang Manajemen Konservasi Ex Situ,