Akbar Arif Sujatmiko¹, Nur Baladina², Novi Haryati³ 1 ) Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Brawijaya PENDAHULUAN

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TANTANGAN KEBUTUHAN BENIH DI MASA YANG AKAN DATANG: STUDI KASUS PADA ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN PRODUK BENIH PADI PAK

TIWI-1 DI KECAMATAN GONDANG KABUPATEN TULUNGAGUNG

Akbar Arif Sujatmiko¹, Nur Baladina², Novi Haryati³ 1) Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Brawijaya 2)Dosen Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya 3)Dosen Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

PENDAHULUAN

Demi membantu mempertahankan stabilitas pangan nasional terkait dengan kebutuhan beras selaku makanan pokok, telah beredar berbagai produk benih padi berproduktivitas unggul di berbagai wilayah, termasuk Pulau Jawa. Menurut Badan Pusat Statistik (2015), satu-satunya provinsi di Pulau Jawa yang menunjukkan peningkatan produksi padi pada tahun 2014 adalah Provinsi Jawa Timur dengan angka peningkatan produksi padi dari 12.049.342 ton pada 2013 menjadi sebesar 12.307.704 ton pada 2014. Angka hasil produksi ini menjadi yang terbesar di Pulau Jawa.

Jawa Timur memiliki sejumlah wilayah sentra produksi padi. Dari sekian banyak daerah di Jawa Timur, salah satu daerah yang memiliki kontribusi produksi padi yang cukup besar adalah Kabupaten Tulungagung. Menurut Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung (2015), pada 2012, produksi padi di Kabupaten Tulungagung mencapai 303.463 ton gabah kering giling yang menghasilkan hampir 192.000 ton beras. Kabupaten ini mampu mempertahankan surplus produksi beras dalam rentang tahun tersebut dalam kisaran 80.000 ton. Melihat hal tersebut, Tulungagung memiliki kontribusi yang cukup besar bagi ketahanan pangan di Provinsi Jawa Timur melalui swasembada yang diraih.

Terdapat satu kecamatan di Tulungagung dengan riwayat serangan wereng yang cukup tinggi, yakni Kecamatan Gondang. Meskipun memiliki kendala tersebut, produksi padi yang dihasilkan di Kecamatan Gondang sanggup mencapai angka produktivitas sebesar 7,2 ton/ha yang termasuk dalam peringkat 3 besar di Tulungagung pada 2014. Diketahui dalam beberapa musim tanam terakhir terjadi fenomena dimana banyak petani di Kecamatan Gondang menggunakan produk benih padi baru, yang turut mempengaruhi kontribusi hasil produksi padi di kawasan ini. Produk benih tersebut merupakan hasil produksi PT. Agri Makmur Pertiwi yang beredar pada 2013 dan dikenal dengan nama Pak Tiwi-1. Selain itu, kendala budidaya di area penelitian berupa serangan hama wereng memiliki kesesuaian dengan karakteristik produk, yang diklaim tahan wereng, memiliki hasil produksi baik, serta kebutuhan pupuk dan pestisida sedikit. Menyikapi hal tersebut, perusahaan memerlukan referensi untuk mengembangkan produk secara tepat sasaran agar produk dapat menjadi jenis benih padi penyokong ketahanan pangan. Karenanya, dibutuhkan informasi perilaku konsumen yang memiliki pengalaman dalam menggunakan produk, yakni mengenai bagaimana kepuasan petani terhadap kualitas

(2)

BAHAN DAN METODE

Penelitian yang dilakukan memiliki sifat deskriptif analitik. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive, dengan pertimbangan bahwa Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gondang (2015) menyatakan Kecamatan Gondang adalah kawasan lumbung padi di Kabupaten Tulungagung dengan kendala utama berupa serangan wereng. Secara umum diketahui bahwa kecamatan ini memiliki mayoritas petani padi yang menggunakan atau pernah menggunakan benih padi Pak Tiwi-1, yang berkaitan dengan kesesuaian karakteristik produk Pak Tiwi-1 (tahan wereng) terhadap kendala geografis budidaya padi di Kecamatan Gondang. Adapun sejumlah petani padi yang dimaksud menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu petani padi yang memiliki atau menggarap sawah di Kecamatan Gondang.

Responden didapat melalui metode purposive sampling demi memperoleh tujuan yang diharapkan. Untuk mengetahui jumlah item yang valid dari variabel awal yang dikemukakan, dilakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui atribut apa saja dari produk secara umum yang mempengaruhi keputusan pembelian. Berdasarkan analisis data dari penelitian pendahuluan, didapatkan 7 variabel valid (hasil produksi, ketahanan tanaman terhadap hama, ketahananan tanaman terhadap penyakit, ketahanan tanaman terhadap kerusakan fisik, daya tumbuh, banyak anakan, serta tekstur dan rasa nasi) yang tersisa dari 20 variabel awal setelah deliminasi melalui Cochran Q test. Dari pengujian, diperoleh jumlah responden minimum dari angka 7 dikalikan dengan 5, yakni 35 orang. Oleh karena 35 adalah jumlah minimum dan mempertimbangkan adanya resiko kesalahan data, maka jumlah responden yang diambil ditetapkan sebanyak 50 orang. Hal ini juga didasari pendapat Hair et. al. (1998), bahwa jumlah responden minimum yang representatif adalah berdasarkan jumlah variabel penelitian dikalikan 5 hingga 10. Adapun IPA dilakukan untuk mengukur kepuasan responden berdasarkan tingkat kepentingan (importance) dan performa produk (performance). Sedangkan CSI digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen secara menyeluruh berdasarkan atribut yang diujikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1) Analisis IPA (Importance-Performance Analysis) a. Tingkat Kepentingan Kualitas Produk

Skor tingkat kepentingan ditunjukkan pada tabel 1. Data tersebut diperoleh berdasarkan pendapat 50 orang petani responden. Angka tingkat kepentingan pada 7 atribut menunjukkan bahwa rata-rata nilai kepentingan berada di antara nilai cukup penting hingga sangat penting. Dari 7 atribut yang diujikan, terdapat 4 atribut yang memiliki nilai lebih dari 4,5 atau hampir mendekati 5, dengan demikian dapat dikatakan bahwa 4 atribut bersifat sangat penting bagi petani responden. Keempat atribut yang dimaksud adalah hasil produksi, ketahanan terhadap hama, ketahanan terhadap penyakit, dan banyak anakan, diikuti dengan atribut lain.

(3)

No. Atribut Kepentingan Konsumen

TP KP CP P SP Ʃ Re-rata

1 2 3 4 5

1. Hasil Produksi (A3) 0 0 0 16 34 234 4,68

2. Ketahanan thd hama (A4) 0 0 0 18 32 232 4,64

3. Ketahanan thd penyakit (A5) 0 0 1 17 32 231 4,62 4. Ketahanan thd kerusakan fisik (A6) 0 0 19 22 9 190 3,8

5. Daya tumbuh (A8) 0 0 11 28 11 200 4

6. Tekstur dan rasa nasi (A9) 1 2 19 20 8 182 3,64

7. Banyak anakan (A12) 0 2 1 13 34 229 4,58

Total 1 4 51 134 160 1.498 29,96

Tabel 1. Kepentingan Konsumen atas Kualitas Produk

Keterangan tabel: TP : Tidak Penting KP : Kurang Penting CP : Cukup Penting P : Penting SP : Sangat Penting b. Tingkat Kinerja Produk Tabel 2. Kinerja Kualitas Produk

No .

Atribut

Kinerja Kualitas Produk

TP KP CP P SP Ʃ Re-

rata

1 2 3 4 5

1 .

Hasil Produksi (A3) 0 3

24

22 1 171 3,42

2 .

Ketahanan thd hama (A4) 0 0 4 36 10 206 4,12

3 .

Ketahanan thd penyakit (A5) 1 7 20 21 1 164 3,28

4 .

Ketahanan thd kerusakan fisik

(A6) 0 0 8 17 25 217 4,34

5 .

Daya tumbuh (A8) 0 0

3

16 31 228 4,56

6 .

Tekstur dan rasa nasi (A9) 0 27 20 3 0 126 2,52

7 .

Banyak anakan (A12) 0 0

7 15 28 221 4,42 Total 1 37 86 130 95 1.328 26,66 Keterangan tabel: TB : Tidak Baik KB : Kurang Baik CB : Cukup Baik

(4)

Pada tabel 2, diketahui nilai rerata tingkat kesesuaian sebesar 89,23%. Sedangkan nilai kesenjangan antara nilai rerata kinerja dengan nilai rerata kepentingan adalah -0,47. Menurut data, terdapat 2 atribut dengan prosentase tingkat kesesuaian di atas 100%. Dengan besar nilai kesenjangan yang positif, hal tersebut mengimplikasikan petani merasa sangat puas terhadap atribut tersebut. Kedua atribut tersebut adalah ketahananan tanaman terhadap kerusakan fisik dan daya tumbuh.

Data pada tabel 3 menunjukkan jumlah dan nilai rata-rata kinerja atribut Pak Tiwi-1. Diketahui atribut yang memiliki kinerja baik dengan angka di antara rata-rata 4 hingga 4,5. Atribut tersebut adalah ketahanan terhadap hama, ketahanan terhadap kerusakan fisik, daya tumbuh, dan banyak anakan. Adapun atribut lain berada diantara nilai rata-rata 3 hingga 3,5 atau dinilai cukup baik yakni hasil produksi dan ketahanan terhadap penyakit. Nilai terkecil yang dinilai kurang baik oleh konsumen ada pada atribut tekstur dan rasa nasi.

Adapun 5 atribut lain memiliki prosentase tingkat kesesuaian di bawah 100% dan memiliki nilai gap yang negatif, yakni hasil produksi, ketahanan tanaman terhadap hama, ketahanan tanaman terhadap penyakit, tekstur dan rasa nasi, serta banyak anakan. Berdasarkan data tersebut, dapat diartikan bahwa kelima atribut yang telah disebutkan perlu ditingkatkan kinerjanya. Hal ini disebabkan kinerja dari kelima atribut masih berada di bawah kepentingan petani konsumen dan peningkatan kinerja atribut tersebut juga penting demi meningkatkan kepuasan petani.

Setelah mengetahui pemaparan interpretasi data, data yang menggambarkan selisih kesenjangan dan tingkat kesesuaian disajikan dalam grafik. Hasilnya adalah seperti yang terlihat pada gambar 1. Diketahui empat dari tujuh atribut Pak Tiwi-1 berada di bawah garis rata-rata gap sebesar -0,47. Keempat atribut yang dimaksud adalah hasil produksi, ketahanan tanaman terhadap hama, ketahanan tanaman terhadap penyakit, serta tekstur dan rasa nasi. Hal ini menandakan perbaikan kualitas produk perlu difokuskan pada 4 atribut tersebut.

(5)

Selanjutnya, dibuat grafik kuadran untuk menggambarkan posisi setiap atribut yang tercantum pada gambar 2:

Gambar 2. Analisis Kuadran Hasil Pemetaan Tingkat Kepentingan dan Tingkat Kinerja Atribut pada Diagram Kartesius.

Kuadran A (Zona Prioritas Utama); terdapat dua atribut di dalam kuadran ini, yakni hasil produksi dan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kedua atribut tersebut dinilai sangat penting oleh konsumen. Meski ditemukan bahwa rata-rata hasil produksi Pak Tiwi-1 lebih rendah dari potensi produksi, kebanyakan petani merasa hasil produksi tersebut cukup baik karena ada perbaikan atas hasil yang diperoleh dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya. Di sisi lain, diketahui bahwa padi Pak Tiwi-1 lemah terhadap penyakit akibat jamur serta serangan virus seperti tungro dan kresek.

Kuadran B (Zona untuk Dipertahankan); terdapat 2 atribut yang berada dalam kuadran ini, yakni atribut banyak anakan dan ketahanan tanaman terhadap hama. Atribut yang ada dalam kuadran ini memiliki tingkat pelaksanaan dengan kinerja yang baik, demikian pula tingkat kepentingan yang berada di atas rata-rata semua atribut. Atribut pada kuadran ini telah memuaskan konsumen karena telah sesuai dengan performa kualitas yang diharapkan.

Kuadran C (Zona Prioritas Rendah); terdapat satu atribut yang tergolong dalam kuadran ini, yaitu tekstur dan rasa nasi. Hal ini menandakan kepentingan dan kinerja dari atribut ini berada di bawah rata-rata nilai kepentingan dan kinerja seluruh atribut. Dapat dikatakan bahwa atribut ini dianggap kurang penting bagi responden.

Kuadran D (Zona Prioritas Berlebih); terdapat dua atribut yang tergolong ke dalam kuadran ini, yaitu atribut ketahanan tanaman terhadap kerusakan fisik dan atribut daya tumbuh. Dapat dikatan bahwa atribut ini adalah atribut yang dianggap kurang penting oleh konsumen namun memiliki kinerja yang terlampau baik sehingga dianggap berlebihan.

(6)

No. Atribut Mean Important Score (Total Yi / N) Weight Factors (MISi / Total MIS) Mean Satisfaction Score (Total Xi / N) Weighted Score (MSSi x WFi ) 1.

Hasil Produksi (A3)

4,68 0,16 3,42 0,53

2.

Ketahanan thd hama (A4)

4,64 0,15 4,12 0,64

3.

Ketahanan thd penyakit (A5)

4,62 0,15 3,18 0,49

4.

Ketahanan

thd kerusakan fisik (A6) 3,80 0,13 4,34 0,55

5.

Daya tumbuh (A8)

4,00 0,13 4,56 0,61

6.

Tekstur dan rasa nasi (A9)

3,64 0,12 2,52 0,31

7.

Banyak anakan (A12)

4,58 0,15 4,42 0,68

Total 29,96 1,00 26,56 WAT=

3,80

CSI = (WAT : 5) x 100%

CSI = (3,80/5) x 100% = 76% (0,76) 2) Analisis CSI (Customer Satisfaction Index)

Tabel 3. Perhitungan Customer Satisfaction Service (CSI) Benih Padi Pak Tiwi-1

Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa nilai indeks kepuasan petani konsumen adalah sebesar 0,7607 (76,07%). Nilai ini berada pada rentang indeks kepuasan antara 0,66 sampai dengan 0,80. Berdasarkan angka CSI tersebut dapat diartikan bahwa secara keseluruhan, petani responden di Kecamatan Gondang merasa puas terhadap kinerja dari atribut-atribut benih padi Pak Tiwi-1.

KESIMPULAN

Petani di Kecamatan Gondang beranggapan bahwa hasil produksi, ketahanan tanaman terhadap hama, ketahananan tanaman terhadap penyakit, daya tumbuh, dan banyak anakan merupakan atribut yang paling penting bagi produk benih padi. Meski secara keseluruhan petani merasa puas dengan produk Pak Tiwi-1 produk (nilai CSI sebesar 76,07% atau 0,7607), namun perusahaan perlu memprioritaskan pengembangan kinerja produk di aspek hasil produksi dan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Mengikuti hal tersebut, perusahaan tetap perlu memberikan catatan untuk atribut berkinerja kurang baik seperti tekstur dan rasa nasi untuk dikembangkan nantinya meski berprioritas rendah. Pengembangan atas aspek ini akan mendefiniskan karakteristik benih unggul yang lebih lengkap di kawasan ini dan sekitarnya, yang lebih lanjutnya akan memperkuat

(7)

karakteristik benih yang lebih berkualitas secara keseluruhan di dalam area Kabupaten Tulungagung.

REFERENSI

Badan Pusat Statistik, 2015. Hasil Produksi Padi Gabah Kering Giling (GKG)

seluruh Indonesia Tahun 2011 hingga 2014.

http://www.bps.go.id/webbeta/frontend/site/ resultTab. (Diakses pada 4 Februari 2015 pukul 10.27 WIB).

Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gondang, 2015. Programa

Penyuluhan BPP Gondang Tahun 2015. Badan Ketahanan Pangan dan

Penyuluhan Kabupaten Tulungagung. Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, 2015.

Hasil Produksi Padi Gabah Kering Giling (GKG) dan Surplus Beras di Kabupaten Tulungagung Tahun 2012-2014. Dinas Pertanian Kabupaten

Tulungagung.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :