BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat komunikasi paling efektif untuk mengemukakan pendapat dan mengklarifikasi suatu hal agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dua pihak atau lebih. Selain itu, bahasa juga sebagai alat untuk mentransformasikan hal yang ada dalam pikiran manusia agar dapat dipahami dengan cara menuturkannya. Melalui bahasa, manusia bisa melakukan aktivitas dan hal yang menjadi tujuannya. Maka dari itu, bahasa adalah komponen yang sangat penting bagi kehidupan. Akan tetapi, dalam penggunaannya bahasa pun bisa disimpangkan. Selain untuk alat komunikasi, mengklarifikasi, memberikan informasi, dan sebagainya. Bahasa juga bisa untuk menyebar kebohongan, menjerumuskan, memfitnah, dan hal-hal lain yang merugikan. Hal tersebut tergantung dari tujuan pengguna bahasa. Di samping itu, yang terpenting dari penggunaan bahasa sebagaimana disebutkan oleh Arimi (2015) dalam Linguistik Kognitif: Sebuah Pengantar bahwa ketika berbahasa manusia menjadi berpikir. Jadi, kedua aktivitas antara berbahasa dan berpikir dilakukan secara bersamaan atau simultan (Arimi, 2015:4).
Manusia, secara karakter memiliki sisi positif dan negatif. Apabila manusia berada pada karakter negatifnya, ia dapat melakukan kesalahan atau tindakan yang merugikan orang lain, baik dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar. Pada peristiwa ini, peran bahasa akan sangat penting untuk mengklarifikasi karena
▸ Baca selengkapnya: dalam setiap karya ada dua aktivitas yang penting dipahami yaitu
(2)menyangkut pihak yang merasa dirugikan. Salah satu cara yang efektif dalam kasus tersebut adalah meminta maaf.
Pengertian maaf (KBBI) berarti pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan. Bregman dan Kasper (via Istianatul Hikmah, 2013) menjelaskan bahwa permintaan maaf adalah tindakan kompensasi untuk sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh pembicara kepada pendengar. Selain itu, Brown dan Levinson (via Subandi, 2014) menyampaikan bahwa perwujudan permintaan maaf merupakan bentuk keinginan dari penutur untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat melalui pengakuan terhadap kesalahan karena tindakan permintaan maaf merupakan penyelamatan muka (face-saving) bagi lawan pertuturan dan mengancam muka (face threatening) bagi penutur. Tiga pernyataan tentang maaf tersebut dapat disimpulkan bahwa maaf adalah sebuah perilaku yang dilakukan karena adanya kesalahan, dan kemudian dilakukan sebagai jalan untuk meluruskan atau mengembalikan keadaan seperti semula. Pada dasarnya kata maaf mengandung stimulus dan respon. Stimulus dari maaf adalah meminta maaf sedangkan responnya adalah mamaafkan. Minta maaf seringkali digunakan oleh seseorang untuk kembali menjalin hubungan yang sempat terputus karena kesalahan. Secara garis besar orang-orang memaknai minta maaf dengan hal yang sama. Akan tetapi, konsep yang ada dalam pikiran seseorang bisa berbeda-beda sesuai dengan apa yang melatarbelakangi pengetahuan dan pemahaman perihal permintaan maaf.
Acara ILC yang dibawakan oleh Karni Ilyas pada tanggal 29 september 2015 dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?”, mengundang sejumlah tokoh yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang mengalami peristiwa Gerakan 30 September. Acara tersebut mengusung tema tentang permintaan maaf.
Berbagai argumentasi muncul mengenai sejarah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September. Salah satunya dari Amelia Yani, yakni putri dari Jenderal Ahmad Yani. Beliau memulai dengan menceritakan proses terjadinya penjemputan dan pembunuhan yang dialami oleh ayahnya. Kekejaman dari perlakuan pasukan Cakrabirawa dinilainya tidak manusiawi. Dengan alasan diperintah oleh Presiden Soekarno para pasukan tersebut menjemput Jenderal Ahmad Yani, yang akhirnya justru malah membunuh Jendral besar itu. Berdasarkan pernyataannya, Amelia Yani memposisikan diri sebagai korban atas terjadinya peristiwa tersebut. Selain itu, Ilham Aidit putra dari DN Aidit (ketua Partai Komunis Indonesia) juga mengemukakan pendapatnya. Menurutnya, PKI menjadi kambing hitam atas peristiwa Gerakan 30 September, yang berimbas pada keluarga dan orang-orang yang memiliki kaitan dengan PKI. Ilham Aidit merasa terkekang dan sangat dibatasi geraknya oleh pemerintah karena termasuk keluarga dari ketua PKI. Ilham Aidit pun menempatkan dirinya sebagai korban atas peristiwa Gerakan 30 September. Perebutan ujaran ‘korban’ menimbulkan perselisihan siapa yang seharusnya meminta maaf. Maka, tidak ada titik temu yang menyelaraskan pemikiran dari kubu yang terbentuk atas dasar pemikiran yang berbeda itu. Selain itu, konsep apa yang
sebenarnya terpikirkan oleh para tamu undangan dalam memetakan minta maaf pada kasus tersebut.
Ekspresi kebahasaan yang dilontarkan para tamu undangan bersifat metaforis. Seperti pada umumnya, seringkali seseorang melakukan ungkapan yang bersifat metaforis dalam kegiatan berbahasanya. Sudah menjadi kewajaran ketika metafora bukan lagi diartikan sebagai kiasan dalam sebuah karya sastra saja. Seperti menurut Lakoff dan Johnson dalam Metaphor We Live By (2003: 4) bahwa metafora sudah meresap dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam bahasa tapi juga dalam pikiran dan tindakan. Ada kegiatan berpikir ketika berbahasa yang memengaruhi tindakan. Ada konsep yang dibentuk sebelum bahasa diproduksi oleh seseorang dalam tuturannya. Pikiran dan bahasa sangat berkaitan karena untuk memperoleh tuturan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh si penutur. Selain itu, narator acara tersebut dalam membacakan narasinya terdapat ekspresi kebahasaan tentang permintaan maaf yang bersifat metaforis, contohnya sebagai berikut.
“... diyakini pernyataan maaf dari pemerintah akan mampu sedikit mengobati luka sejarah keluarga yang menjadi korban dari gerakan 30 september 1965...”.
(Narator ILC, menit 04.54) Ada kata mengobati luka yang merujuk pada pernyataan maaf. Maaf dianalogikan sebagai obat luka. Hal tersebut merupakan ungkapan metaforis dalam sebuah tuturan. Obat sebagaimana diartikan secara harafiah adalah alat yang membantu untuk sembuh dari sakit. Selain itu, ada luka yang harus disembuhkan yang dinamakan luka sejarah. Maksud dari ekspresi kebahasaan tersebut yang
mengalami luka sejarah adalah keluarga dari para anggota PKI yang menjadi korban pembersihan massal pada masa orde baru. Hal ini dapat diinferensikan bahwa +MINTA MAAF+ dikonseptualisasikan sama dengan +OBAT LUKA+. Dengan kata lain, konsep +MINTA MAAF+ dipetakan ke dalam konsep +OBAT LUKA+. Ada sebuah sasaran yang ingin dipahami oleh sumber. Dalam konteks ini, +MINTA MAAF+ adalah sasaran yang ingin dipahami dari sumber +OBAT LUKA+. Ada kaitan antara bahasa yang bersifat metaforis dan pikiran sebagai pengonsep terciptanya ekspresi kebahasaan. Konseptualisasi sebuah bahasa terbentuk berdasarkan pemahaman dari pengalaman yang pernah didapatkan oleh si penutur. Latar belakang pengetahuan atau yang biasa disebut frame dalam linguistik kognitif sangat mempengaruhi terciptanya sebuah ekspresi kebahasaan. Menurut Fillmore, frame adalah pembingkaian (skematisasi) berbagai macam pengalaman (struktur pengetahuan) yang terepresentasi pada tingkat pemahaman seseorang dan akan melekat dalam ingatan untuk waktu yang lama (via Arimi, 2015: 64). Dengan demikian, pada ekspresi kebahasaan yang diungkapkan lewat narasi tersebut, memiliki latar belakang pengetahuan atau frame kesehatan.
1.2 Ruang Lingkup Penelitian
Ada beberapa metafora konseptual dalam ungkapan audience. Objek kajian pada penelitian ini adalah permintaan maaf. Objek kajian ini dibatasi berdasarkan data dan teori. Berdasarkan data, penelitian ini membatasi pada acara diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf”. Penelitian ini tidak menelusuri permintaan maaf pada ranah kebahasaan lain. Berdasarkan teori, penelitian ini menggunakan teori linguistik kognitif secara lebih spesifik karena
objek kajian permintaan maaf dianalisis berdasarkan metafora konseptual, perspektif dan frame yang dalam linguistik kognitif, ketiganya merupakan isu yang penting dan mutakhir.
1.3 Rumusan Masalah
Berikut beberapa permasalahan yang diformulasikan ke dalam pertanyaan pada penelitian ini, antara lain:
1) Apa yang dimaksud dengan permintaan maaf secara konseptual?
2) Bagaimana pemetaan metafora konseptual pada ekspresi permintaan maaf dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?”?
3) Bagaimana perspektif pemintaan maaf dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?” mengenai permintaan maaf dengan ekspresi kebahasaannya?
4) Bagaimana frame pembentuk konsep permintaan maaf dalam diskusi ILC yang bertema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?”? 1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut. 1) Memahami konsep permintaan maaf.
2) Memetakan metafora konseptual permintaan maaf yang ada dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?”.
3) Menganalisis perspektif permintaan maaf dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?” mengenai permintaan maaf lewat ekspresi kebahasaannya.
4) Memaparkan frame pembentuk konsep permintaan maaf dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?”.
1.5 Studi Pustaka
Penelitian mengenai minta maaf dan metafora sudah banyak dilakukan sebelumnya. Buana (2014) dalam skripsinya yang berjudul “Metafora dalam Wacana Politik Kolom Indonesia Baru di Laman LIPUTAN6.COM” secara keseluruhan mendeskripsikan pemakaian metafora dalam wacana politik. Dimulai dari membahas unsur-unsur dan jenis-jenis metafora, ranah semantis metafora, dan pergeseran makna metafora dalam wacana politik berdasarkan asosiasi metafora.
Utama (2011) dalam skripsi yang berjudul “Frame Humor: Tinjauan Linguistik Kognitif terhadap Cerita Humor dalam www.ketawa.com” mengkaji cerita humor untuk menjelakan perbedaan konstrual dan subjek dalam cerita humur yang menjadi aspek penyebab kejenakaan, menjelaskan metode kreatif penulis dalam menciptakan cerita humor, dan menjelaskan frame-frame yang berkorelasi dengan tingkat kejenakaan. Dalam penelitiannya, menyimpulkan tiga kesimpulan, yakni yang pertama adalah perbedaan konstrual subjek dalam cerita humor disebabkan oleh perspektif, latar depan, metafora, frame, dan kategori radila antarsubjek cerita humor. Kemudian, yang kedua terdapat empat metode yang digunakan penulis cerita humor untuk menciptakan ceritanya. Ketiga terdapat
empat frame pembaca yang mempengaruhi persepsi terhadap tingkat kejenakaan, yakni frame seksualitas, frame budaya, frame agama, dan frame politik.
Sementara itu, Widyarto (2013) dalam skripsi yang berjudul “Metafora pada Wacana Berita Ekonomi di Situs Web Metro TV Menurut Pandangan Zoltan Kovecses” menjelaskan bahwa ketika manusia bermetafora tidak dapat melepaskan diri dari dua hal, yaitu kognisi dan ekologi. Penelitian tersebut memaparkan pandangan seseorang terhadap ekonomi dari salah satu berita di situs web Metro TV. Pertama, ekonomi berkaitan dengan konsep pemikiran, yang berarti, konsep ekonomi dipandang dengan menggunakan konsep lain. Hasil yang didapat, yaitu ekonomi adalah adalah bangunan, ekonomi adalah perjalanan, dan ekonomi adalah organisme hayati. Selain itu, kaitannya dengan ekologi, bahwa hal tersebut dapat mempersepsi ekonomi dengan unsur-unsur di dalamnya.
Skripsi Mabruri Pudyas Salim (2015) yang berjudul “Metafora Konseptual dalam Buletin Mocopat Syafa’at” meneliti suatu ranah konseptual yang terbangun dengan ranah konseptual lain dan menelusuri hubungan antarranah dalam melahirkan ekspresi-ekspresi kebahasaan berupa metafora, serta menelusuri proses terbentuknya ekspresi bahasa berupa metafora dan munculnya makna baru. Selain itu, menelusuri integrasi konseptual, yakni hubungan ruang mental atau ruang konseptual untuk menggambarkan proses terbentuknya metafora.
Nirmala (2012) dalam tesis yang berjudul “Metafora dalam Wacana Surat Kabar Harian Berbahasa Indonesia” menjelaskan metafora dari segi bentuk, jenis, konsep, dan untuk mendapatkan kaidah yang berhubungan dengan pembentukan
ungkapan metaforis, pemaknaan, serta sikap penuturnya. Selain itu, Rachmat (2012) dalam tesis yang berjudul “Metafota dalam Percakapan Antartokoh Film The King’s Speech” menjelaskan tiga hal. Pertama jenis-jenis metafora, seperti metafora ontologis, struktural, dan orientasional. Kedua mengenai fungsi atau peran elemen yang menyusun metafora, yaitu elemen ranah sumber dan elemen ranah sasaran. Ketiga mengenai konteks penggunaan metafora dalam film tersebut yang dipengaruhi oleh medan, pelibat, dan sarana dalam situasi tertentu.
Selain penelitian yang berhubungan dengan metafora, ada penelitian lain yang membahas permintaan maaf atau sistem apologi sebagai rujukan dalam penelitian ini. Hikmah (2013) dalam tesis yang berjudul “Kesopanan Meminta Maaf dalam Bahasa Inggris oleh Orang Jawa” menjelaskan tiga hal tentang pengaruh terjadinya kesopanan meminta maaf. Pertama adalah tindak tutur, seperti tindak tutur representatif, direktif, komisif, dan ekspresif. Kedua, pola umum kesopanan yang terdiri dari tujuh tipe. Ketiga, realisasi kesopanan yang dilihat dari usia, kedekatan, dan situasi yang terdiri dari beberapa jenis tindak tutur.
Arimi (1998) dalam tesis yang berjudul “Basa-basi dalam Masyarakat Bahasa Indonesia” mendeskripsikan basa-basi dalam masyarakat yang berbahasa indonesia. Masyarakat membutuhkan basa-basi dalam kehidupan sosialnya. Salah satu dari sekian banyak yang menjadi objek penelitian adalah sistem apologi (permintaan maaf). Minta maaf termasuk ke dalam basa-basi, karena dalam budaya masyarakat hal tersebut tidak hanya digunakan jika penutur membuat kesalahan, tapi juga apa bila penutur merasa mengganggu mitra tutur. Selain itu, dijelaskan pula bahwa sistem apologi bisa berdasarkan peristiwa temporalnya.
Subandi (2014) dalam tesis yang berjudul “Permintaan Maaf dalam Bahasa Inggris Australia dan Bahasa Indonesia Sebuah Kajian Pragmatik Lintas Budaya tentang Strategi Kesopanan Berbahasa” menjelaskan perbedaan penggunaan permintaan maaf dari kedua negara tersebut. Pertama dari segi bentuk ungkapan permintaan maaf yang digunakan oleh penutur bahasa Indonesia dengan ungkapan mengalihkan perhatian. Sedangkan oleh penutur bahasa Inggris Australia permintaan maaf digunakan dengan ungkapan menyangkal untuk bertanggung jawab dan ungkapan menyerang lawan tutur.
1.6 Landasan Teori 1.6.1 Linguistik Kognitif
Linguistik kognitif merupakan interdisipliner ilmu yang relatif baru dalam ilmu bahasa, linguistik kognitif adalah salah satu pendekatan yang paling inovatif dan menarik untuk mempelajari bahasa dan pikiran yang muncul pada era modern, dan dikenal sebagai cognitive science (Evans dan Green, 2006: 8). Terkait dengan memahami konsep permintaan maaf sangat relevan ketika dilakukan penerapan teori linguistik kognitif. Prinsip teori linguistik kognitif diawali dari pikiran seseorang dalam membentuk bahasa yang menghasilkan tindakan. Linguistik kognitif lebih mengutamakan penjelasan bagaimana bahasa dan pikiran hadir secara bersama-sama dalam sebuah tindak berbahasa dan berpikir secara terpisah (Arimi, 2015: 5). Arimi (2015) menjelaskan lebih lanjut mengenai linguistik kognitif, bahwa hal yang ditekankan dalam linguistik kognitif adalah ketika berpikir manusia berbahasa, begitu pula sebaliknya ketika berbahasa manusia berpikir.
Pada diskusi ILC tersebut ada korelasi antara pernyataan dengan pikiran narator, Karni Ilyas, dan para audience yang hadir. Kemudian, muncul pertanyaan apa yang dipikirkan oleh mereka mengenai permintaan maaf dalam diskusinya? Berbagai konsep muncul dari masing-masing pikiran dan menimbulkan pendapat yang berbeda-beda. Hal tersebut adalah sebuah kewajaran, karena mereka memiliki persepsi dan latar belakang yang berbeda pula. Linguistik kognitif mencoba menggali hubungan antara bahasa dan pikiran tersebut dengan menggunakan beberapa pendekatan yang ada di dalamnya.
1.6.1.1 Konsep
Menurut Evans (via Arimi, 2015: 53) konsep ada dalam sistem konseptual dan dari sejak orok digambarkan ulang dari pengalaman perseptual melalui sebuah proses yang disebut analisis makna persepsi. Pada umumnya, manusia ketika berkomunikasi melakukan kegiatan konseptualisasi. Pada dasarnya konsep itu entitas abstrak dari pengetahuan namun dalam analisis linguistik kognitif ia dicitrakan, lalu dikodekan secara verbal sehingga membentuk konsep leksikal (lexical concept) (Arimi, 2015: 53).
Kata yang diucapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah konsep. Hal tersebut termasuk ke dalam hasil dari proses konseptualisasi, misalnya kata “Dosen”, kata tersebut adalah hasil dari proses konseptualisasi dari ekspresi kebahasaan “orang yang mengajar mahasiswa di universitas”. Menurut Arimi (2015) hal tersebut memiliki kaidah yang diawali dari informasi verbalisasi dikodekan konsep. Apabila dilihat dari awal dalam kaidah tersebut, akan ditemukan sebuah skema atau pola dari proses konseptualisasi. Informasi yang
diverbalisasi otomatis terdapat bahasa di dalamnya. Kemudian, dikodekan sehingga membentuk konsep. Sebuah konsep terdapat pada pikiran. Hal tersebut, menunjukkan adanya keterkaitan antara bahasa dan pikiran. Sejatinya, bahasa adalah sistem informasi konsep yang saling bertautan (conceptual integration) yang membentuk makna dalam pikiran manusia pemakainya (Arimi, 2015: 54).
1.6.1.2 Metafora Konseptual
Arimi (2015) menyatakan pengertian bahwa metafora konseptual adalah setiap satuan ekspresi kebahasaan yang memiliki satu konsep yang dipetakan dengan satuan ekspresi kebahasaan lain yang memiliki satu konsep lain. Penerapan metafora konseptual pada kasus ini adalah memetakan konsep permintaan maaf dalam konsep lain yang terlahir dari frame seseorang.
Zoltan Kovecses (2009) menyatakan bahwa yang dikatakan sebagai metafora konseptual adalah sebuah pemahaman pada suatu ranah konseptual untuk memahami ranah konseptual lain. Jadi, RANAH KONSEPTUAL A ADALAH RANAH KONSEPTUAL B. Hal tersebut merupakan sebuah pemetaan konseptual yang dikatakan oleh Arimi (2015) bahwa metafora konseptual menempatkan diri dalam satu ranah sumber (source domain) di satu pihak, dan dalam satu ranah sasaran (target domain) di lain pihak.
Lakoff dan Johnson (1980) mengemukakan pendapatnya bahwa argumen (argument) adalah perang(war). Hal ini menyatakan bahwa konsep ARGUMENT dijelaskan dengan konsep WAR. Korpus ekspresi kebahasaan berikut ini akan
membuktikan bahwa konsep ARGUMENT dapat dipetakan dalam konsep WAR, seperti yang telah dikemukakan oleh Lakoff dan Johnson.
ARGUMENT IS WAR Your claims are indefensible.
He attacked every weak point in my argument. His criticisms were right on target.
I demolished his argument.
I've never won an argument with him. You disagree? Okay, shoot!
If you use that strategy, he’ll wipe you out. He shot down all of my arguments.
Berdasarkan korpus tersebut, terdapat beberapa kata yang merujuk pada situasi perang, seperti indefensible, attacked, right on target, demolished, never won, shoot, strategy, dan shot down. Beberapa kata tersebut, apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka akan menjadi ‘tidak dapat dipertahankan’, ‘terserang’, ‘tepat sasaran’, ‘hancur’, ‘tidak pernah menang’, ‘tembak’, ‘strategi’, dan ‘jatuh tertembak’. Maka dari itu, argumen menurut Lakoff dan Johnson disamakan dengan sebuah perang.
1.6.1.3 Perspektif
Perspektif didefinisikan sebagai cara pandang terhadap sebuah kejadian atau peristiwa dengan pengutamaan peserta (Arimi, 2015: 47). Dalam satu peristiwa, bisa saja cara pandang masing-masing individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Katakanlah, misalnya ekspresi kebahasaan “pemain futsal itu membeli sepatu dari penjual sepatu itu” dan “penjual sepatu itu menjual sepatu kepada pemain futsal itu”. Pernyataan tersebut merupakan peristiwa yang sama,
yaitu peristiwa jual-beli. Akan tetapi, memiliki makna yang berbeda. Poin perspektif, dalam hal ini akan menunjukkan perbedaan makna yang terkandung di dalamnya. Pada dua pernyataan tersebut, terdapat kata “membeli” dan “menjual”. Pertama menyatakan lewat sudut pandang pemain futsal, sedangkan pernyataan yang kedua menyatakan dengan sudut pandang penjual sepatu. Hal tersebut juga merupakan perspektif pengutamaan, yang pertama mengutamakan pemain futsal, dan yang kedua mengutamakan penjual sepatu. Perbedaan makna yang terkandung dalam kedua pernyataan tersebut, dapat dibuktikan dengan memperluas satuan kebahasaannya. Dengan menambahkan satuan kebahasaan pada konstruksi bahasa tersebut, misalnya menjadi “pemain futsal itu membeli sepatu dari penjual sepatu itu untuk kebutuhannya” dan “penjual sepatu itu menjual sepatu kepada pemain futsal itu untuk kebutuhannya”. Kedua konstruksi kebahasaan tersebut menyatakan bahwa yang pertama si pemain futsal membeli sepatu untuk kebutuhannya dalam bermain futsal, sedangkan yang kedua si penjual menjual sepatu untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Perspektif yang terbangun dalam konstruksi kebahasaan tersebut, yang pertama berorientasi kepada perspektif pembeli dan yang kedua berorientasi kepada perspektif penjual.
Hadirnya perspektif terhadap sebuah peristiwa sangat berperan dalam membangun makna. Seperti contoh yang telah dipaparkan tadi, satu peristiwa yang sama tapi memiliki makna yang berbeda. Dalam kasus ini terjadi perselisihan mengenai permintaan maaf dalam setiap argumen para audience. Perspektif dari masing-masing persona terbangun untuk menanggapi apa yang dimaksud dengan permintaan maaf.
1.6.1.4 Frame
Framesangat mempengaruhi terbentuknya sebuah konsep. Menurut Arimi (2015) satuan kebahasaan tidak terjadi dalam kekosongan, dan setiap satuan kebahasaan itu terjadi karena ada pengetahuan yang melatarinya. Frame berkaitan dengan elemen-elemen dan entitas yang berhubungan dengan kultur tertentu dan kejadian yang melekat pada pengalaman manusia (Evans dan Green, 2006: 222). Fillmore berpendapat bahwa frame adalah skematisasi dari pengalaman (struktur pengetahuan) yang terepresentasi pada tingkat konseptual dan tersimpan di memori dalam jangka waktu yang panjang (Evans dan Green, 2006: 222). Maka dari itu, frame adalah pembingkaian terhadap pengalaman seseorang yang dapat pula disebut sebagai latar belakang pengetahuan.
Arimi (2015) memberikan contoh tentang frame yang sebagaimana dituliskan dalam bukunya yang berjudul Linguistik Kognitif: Sebuah Pengantar bahwa Lakoff pernah mendiskusikan frame bersama mahasiswanya mengenai perbedaan konsep “cafe” dan “restaurant”. Mahasiswa yang mengikuti kuliah tersebut sangat antusias untuk memberikan pendapatnya, antara lain cafe adalah tempat makan dan nongkrong sedangkan restaurant adalah tempat makan seremonial. Adapula yang berpendapat bahwa cafe adalah tempat makan untuk anak muda, sedangkan restaurant untuk keluarga atau pejabat resmi. Sebenarnya masih ada beberapa lagi pendapat yang membedakan cafe dan restaurant namun penulis hanya mengambil dua contoh perbedaan dari keduanya. Frame yang membentuk konsep cafe dan restaurant dari perbedaan pendapat tersebut, yaitu frame pengisian waktu (nogkrong versus seremoni), frame pengunjung (anak muda
versus keluarga/pejabat). Berdasarkan contoh tersebut, frame dapat dikatakan sebagai kegiatan menggeneralisasi suatu konsep pemikiran seseorang yang dijadikan objek dengan bentuk frame.
1.7 Data dan Metode Penelitian
Selain didasari dengan landasan teori, juga diperlukan metode-metode yang tepat untuk melaksanakan analisis penelitian ini. Hal ini dilakukan agar penelitian ini memiliki hasil yang utuh, jelas, dan sistematis. Maka dari itu, penelitian ini menerapkan tiga metode, yaitu metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian data.
Pada tahap pengumpulan data, penulis menggunakan metode simak dengan teknik sadap dan teknik catat. Hal yang pertama kali dilakukan, penulis mengamati video ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?” yang berdurasi selama kurang lebih tiga jam. Kemudian penulis melakukan transkripsi pernyataan-pernyataan dari narator, Karni Ilyas, dan para audience yang hadir dalam diskusi tersebut. Setelah itu, hasil dari transkripsi tersebut diklasifikasikan dan dianalisis menggunakan metode padan.
Keseluruhan data dalam penelitian ini adalah bentuk transkripsi dari bahasa lisan. Penulis menyajikan beberapa data menggunakan tanda ‘+’ dan huruf kapital sebagai bentuk penekanan bahwa kata tersebut adalah sebuah konsep. Dalam linguistik kognitif, bentuk tulisan yang merupakan tuturan dan konsep itu dibedakan agar pembaca dapat mengetahui dan membedakan keduanya. Sejatinya, konsep dan tuturan adalah hal yang berbeda. Linguistik kognitif melakukan inovasi
untuk membedakan konsep dan tuturan dalam tulisan karena hal yang dikaji di dalamnya menyangkut keduanya.
1.8 Sistematika Penyajian
Penelitian ini disajikan dalam enam bab. Bab pertama berisi latar belakang masalah, ruang lingkup penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, data dan metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab kedua berisi tentang pemahaman konsep permintaan maaf. Bab ketiga berisi tentang pemetaan metafora konseptual permintaan maaf yang ada dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?”, dengan menguraikan dari satu ranah konseptual yang membangun ranah konseptual lain. Bab keempat menganalisis perspektif permintaan maaf dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf. Bab kelima memaparkan frame pembentuk konsep permintaan maaf dalam diskusi ILC dengan tema “50 Tahun G30S/PKI: Perlukah Negara Minta Maaf?”. Bab keenam berisi kesimpulan dan saran.