Bab 2. Landasan Teori. Bab ini akan mengulas teori-teori yang digunakan untuk menganalisis data yang

Teks penuh

(1)

Bab 2 Landasan Teori

Bab ini akan mengulas teori-teori yang digunakan untuk menganalisis data yang terdapat di dalam bab 3. Karena penelitian ini menganalisa makna arti nama yang terkait dengan alur cerita, maka penulis akan mengutip teori yang berkaitan dengan linguistik dan budaya.

2.1 Teori Semantik

Kata semantik berasal dari Bahasa Yunani. Sema mempunyai arti sebagai “tanda” atau “lambang,” yang dimaksud dengan tanda di sini adalah tanda linguistik. Oleh karena itu semantik merupakan ilmu semantik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa (Chaer, 2009, hal. 2). Semantik sebagai pelafalan lain dari istilah “la semantique” merupakan satu cabang studi linguistik general. Semantik di sini adalah satu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik (Parera, 2004, hal. 24).

Makna kata dalam linguistik terbagi atas dua, yang pertama adalah kata yang tidak mengandung makna tambahan atau perasaan tambahan disebut makna kata denotatif, denotasi atau makna kata yang sebenarnya, sedangkan yang kedua adalah makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang umum disebut makna konotatif, konotasi atau makna kiasan (Keraf, 2007, hal. 27-28).

Untuk menganalisa arti nama penulis akan menganalisa arti morfem. Morfem adalah unsur-unsur yang terkecil yang masing-masing mempunyai makna dalam tutur sebuah bahasa (Parera, 1988, hal. 15). Oleh karena itu dibutuhkanlah teori morfologi. Verhaar (2004, hal. 97) juga menjelaskan bahwa morfologi adalah cabang

(2)

linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal.

2.1.1 Teori Makna Denotatif

Imbuhan –de dalam kata denotatif memiliki arti tetap dan wajar sebagai mana adanya. Jadi denotatif adalah makna yang wajar, yang asli, yang muncul pertama, yang diketahui pada mulanya, makna sebagai adanya, dan makna sesuai kenyataannya (Parera, 2004, ha l . 97 – 98).

Pengertian makna Denotasi menurut Keraf (2007, hal. 29) yaitu:

Disebut makna denotasional, referansial, konseptual, atau idesional, karena makna itu menunjuk (denote) kepada suatu referan, konsep atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif karena makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan, stimulus (dari pihak pembicara) dan respons (dari pihak pendengar) menyangkut hal-hal yang dapat dicerap pancaindra (kesadaran) dan rasio manusia. Dan makna ini juga disebut makna proposisional karena ia bertalian dengan informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual.

2.1.2 Teori Makna Konotatif.

Imbuhan –ko dalam kata konotatif memiliki arti bersama yang lain, ada tambahan yang lain terhadap notasi yang bersangkutan. Jadi konotatif adalah makna dari kata yang asil atau makna denotatif yang telah memperoleh tambahan perasaan tertentu, emosi tertentu, nilai tertentu, dan rangsangan tertentu yang bervariasi dan juga tak terduga (Parera, 2004, hal. 97-98).

Keraf (2007, hal. 29), menjelaskan pengertian dari makna konotatif adalah sebagai berikut :

Makna konotatif adalah suatu jenis makna di mana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju – tidak setuju, senang – tidak senang dan sebagainya pada pihak pendengar; di pihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranya juga memendam perasaan yang sama.

(3)

2.1.3 Teori Medan Makna

Harimurti dalam Chaer (2009, hal. 110), menyatakan bahwa medan makna (semantic field, semantic domain) adalah bagian dari sistim semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan.

Pada awalnya konsep sosiasi makna dipelopori oleh Ferdinand de Saussure, disimpulkan adanya hubungan di antara seperangkat kata, misalnya dengan kata “baik, kebaikan, memperbaiki, pembaikan, perbaikan” atau “satu, satuan, penyatu, persatuan, penyatuan, bersatu, pemersatu”, kata-kata tersebut mempunyai asosiasi antar sesama (Parera, 2004, hal. 137).

Bally seorang murid Saussure dalam Parera (2004, hal. 138) menyatakan bahwa medan makna adalah salah satu jaringan asosiasi yang rumit berdasarkan pada similaritas atau kesamaan, kontak atau hubungan dan hubungan-hubungan asosiatif dengan penyebutan satu kata. Bally memasukkan konsep medan asosiatif dan menganalisisnya secara mendetail dan terperinci. Bally melihat medan asosiatif sebagai satu lingkaran yang mengelilingi satu tanda dan muncul ke dalam lingkungan leksikalnya. Misalnya kata “ox”, ox menyebabkan orang berpikir kata seperti cow, lalu orang akan berpikir tentang plow, strength, dan sebagainya. Dengan kata “kerbau”, orang bisa berpikir mengenai kekuatan atau kebodohan.

(4)

Gambar 2.1 Medan Makna dari Bally Sumber : Parera (2004, hal. 138)

2.2 Teori Semiotik

Kata semiotik berasal dari Bahasa Yunani, semeion, yang berarti “tanda”, yang secara umum didefinisikan sebagai teori falsafah umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai dari sistem kode yang secara sistematis digunakan untuk mengomunikasikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan atau prilaku manusia (Christomy 2004, hal. 228).

C.S. Morris dalam Christomy (2004, hal. 89) menjelaskan tiga dimensi dalam analisis semiotik, yaitu :

1. Sintaksis semiotik, berkaitan dengan analisis yang bersifat deskriptif mengenai tanda secara individual dan kombinasinya.

2. Semantik semiotik, berkaitan dengan analisis mengenai relasi antara tanda dan maknanya.

3. Pragmatik semiotik, berkaitan dengan analisis mengenai relasi antara tanda dan penggunanya.

(5)

Menurut Peirce dalam Hoed (2008, hal. 18-19), tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain. Jagat raya ini terdiri atas tanda-tanda (signs). Dalam teori semiotik, dikenal proses semiotik, yakni proses pemaknaan dan penafsiran berdasarkan pengalaman budaya seseorang.

Menurut Peirce dalam Christomy (2004, hal. 117), tanda melibatkan proses kognitif di dalam kepala seseorang dan proses itu dapat terjadi jika ada representamen, acuan, dan interpretan. Dengan kata lain, sebuah tanda senantiasa memiliki tiga dimensi yang saling terkait, antara lain :

1. Representamen (R) atau sesuatu yang dapat dipersepsi (preceptiable), yaitu “wajah luar” tanda yang berkaitan dengan manusia secara langsung (sering disamakan dengan pengertian “tanda”).

2. Objek (O) atau sesuatu yang mengacu kepada hal lain (referential), yaitu konsep yang dikenal oleh pemakai tanda berkaitan dengan representamen tersebut.

3. Interpretan (I) atau sesuatu yang dapat diinterpretasikan (interpretable), yaitu penafsiran lanjut oleh pemakai tanda, setelah representamen dikaitkan dengan objek.

Gambar 2.2 Diagram Tiga Dimensi Tanda Sumber : Christomy (2004, hal. 117)

Menurut Peirce dalam Christomy (2004, hal. 121-122), tanda (representamen) mengacu kepada objeknya (denotatum) melalui tiga cara utama, yaitu :

(6)

1. Ikon adalah tanda hubungan antara representamen dan objeknya bersifat persamaan bentuk alamiah (keserupaan).

2. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara representamen dan objeknya melalui cara penunjukkannya yang bersifat kasual atau hubungan sebab-akibat.

3. Simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan antara representamen dan objeknya bersifat arbitrer dan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat.

2.3 Konsep Aksara Jepang

Sub-bab ini akan penulis bagi menjadi beberapa bagian, yaitu konsep kanji, konsep hiragana, dan konsep katakana.

2.3.1 Konsep Kanji

Mengenai pengertian dari kanji, Takebe (1993, h a l . 4) mengemukakan, “漢 字は意 味を表します。漢字はその意味をその読み方がわかります。漢字の 「口」の 元は、くちの絵でした”, yang diterjemahkan menjadi, ”Kanji mengekspresikan arti. Ki t a bi s a m e m a ha mi ar t i ka nj i d a ri ca ra b a ca n ya . Bentuk asli dari kanji kuchi「口」merupakan bentuk gambar dari sebuah mulut”.

Dalam pembentukannya, huruf kanji yang berasal dari China tersebut memiliki filosofi. Hal ini diungkapkan oleh Shimura (1990, hal. 21) menurutnya,

また漢字の“哲学”の一語は,十九世紀の日本の哲学者西周が漢字の “哲”(智慧)とこの古代ギリシャの“Philosophiaの智 慧の象徴であ る学問学説の“学”を組み合わせて作られた比較的新し い言葉です。 この“哲学”の一語は漢字でありながら日本生まれの生 粋の日本語 です。しかもこの“哲学”の一語は漢字の故郷である中国 に逆輸出 されて,中国でも日本語の意味と全く同じ意味で使用されて いま す(勿論,発音は日本語とは異なります)。

(7)

Terjemahan :

Filosofi kanji Jepang yang muncul di abad ke-19 merupakan suatu huruf baru yang secara ilmiah dapat ditelaah dengan logika dan dibandingkan dengan filosofi huruf Yunani kuno. Seiring dengan berkembangnya huruf kanji, maka kanji yang berkaitan dengan bahasa Jepang pun muncul. Walau huruf kanji tersebut diserap dari China, namun penggunaannya baik di China maupun di Jepang mempunyai arti yang sama (tentu saja pengucapan kanji bahasa Jepang berbeda).

2.3.2 Konsep Hiragana

Hiragana (ひらがな; 平仮名) adalah suatu cara penulisan bahasa Jepang dan mewakili sebutan sukukata, khususnya akhiran kata (Henshall, 2003, hal. 9). Pada masa silam, itu juga dikenal sebagai onna de (女手) atau 'tulisan wanita' karena biasa digunakan oleh kaum wanita. Kaum lelaki pada masa itu menulis menggunakan tulisan kanji dan katakana. Hiragana mulai berkembang di abad ke-8 Masehi (Henshall, 2003 : 10).

2.3.3 Konsep Katakana

Katakana (カタカ ナ; かた かな; 片仮名) adalah salah satu dari tiga cara penulisan Bahasa Jepang. Katakana biasanya digunakan untuk menulis kata-kata yang berasal dari bahasa asing selain Bahasa Mandarin yang sudah diserap ke dalam bahasa Jepang (gairaigo; 外 来 語 ) selain itu juga digunakan untuk menuliskan onomatope dan kata-kata bahasa Jepang yang ingin ditegaskan, mau pun nama hewan dan tumbuhan (Ishiguro, Tsuitsui, 2009, hal. 58).Bersamaan dengan hiragana katakana muncul pada abad ke-8 masehi (Henshall, 2003, hal. 10).

(8)

2.4 Konsep Nama Jepang

Nama Jepang atau disebut juga nihonjin no shimei (日本人の氏名) di zaman modern biasanya terdiri dari nama keluarga dan nama depan (Hakes, 2004, hal. 119). Nama tengah jarang dipakai. Biasanya nama Jepang ditulis dengan kanji, yang biasanya berasal dari kanji dari Cina dengan pengucapan Jepang. Walau kadang orang tua juga memakai hiragana dan katakana untuk nama depan anaknya.

Editor dari Penerbit Saito (2004, hal. 18) menulis, “姓名判断の画数で決める方 法や、親の願いを漢字に込めてつける方法、それに姓名判断加え方法、好き な こ と ば や イ メ ー ジ か ら つ け る 方 法 な ど な ど ” , yang diterjemahkan menjadi, ”Cara pemilihan nama lengkap dipengaruhi jumlah guratan dan harapan orang tua, kata-kata dan gambaran favorit yang dimasukkan dalam kanji.”

Nama keluarga Jepang sangat bervariasi. Japan Times menulis bahwa saat ini diperkirakan ada sekitar 100.000 variasi nama keluarga di Jepang. Nama keluarga yang paling umum adalah Satō (佐藤) (paling umum), Suzuki (鈴木) (paling umum kedua), and Takahashi (高橋) (paling umum ketiga).

Nama keluarga biasanya mengikuti aturan nama, pemilihan kanji dan pengucapan nama depan lebih bervariasi. Walau kebanyakan nama depan bisa dibaca dan diucapkan dengan mudah, banyak orang tua yang memilih kanji dan cara pengucapan yang tidak biasa. Nama seperti itu akan sulit dibaca jika tidak berikan cara pengucapan yang benar. Otake (2012, hal.7) menulis pengucapan yang tidak biasa mulai populer semenjak tahun 1990an. Contohnya, nama laki-laki populer 大 翔 biasanya dibaca sebagai “Hiroto”. Tapi beberapa tahun belakangan ini, cara baca

(9)

lain seperti “Haruto”, “Yamato”, “Daito”, “Taiga”, “Sora”, “Taito”, “Daito”, dan “Masato” mulai dipakai.

Hakes (2004, hal.119) menulis kebanyakan orang Jepang hanya mempunyai nama keluarga dan nama depan, kecuali keluarga kekaisaran Jepang yang tidak memiliki nama keluarga. Dalam Bahasa Jepang nama keluarga myōji (苗字 atau 名字), uji (氏) atau sei (姓) ditulis sebelum nama depan (名前 namae) or "lower name" (下の 名前 shita no namae). Nama depan bisa disebut nama bawah karena dalam tulisan Bahasa Jepang vertikal, nama depan ditulis di bawah nama keluarga.

Banyak karakter kanji Jepang memiliki cara pengucapan yang sama, jadi nama Jepang bisa memiliki beberapa arti berbeda. Kanji itu sendiri bisa memiliki beberapa arti dan cara pengucapan. Dalam beberapa nama, cara pengucapan nama tidak memiliki arti. Menurut Hanks (2006, appendix 8), banyak nama Jepang merupakan bentuk dari permainan kata-kata.

Nama Jepang ditulis dengan menggunakan kanji Cina, walau ada juga yang memakai hiragana atau katakana, atau campuran antara kanji dan kana. Walau kebanyakan nama tradisional memakai cara baca kunyomi (cara baca kanji Jepang), banyak nama keluarga dan nama depan juga memakai cara baca onyomi (cara baca kanji Cina). Banyak juga orang yang memakai cara baca nanori.

Nanori (名乗り) adalah cara baca kanji yang ditemukan dalam nama Jepang (kanjizone.com, 2013). Di dalam Bahasa Jepang, banyak nama dibentuk dari kanji dan cara baca umum. Tetapi, nama juga bisa mengandung karakter yang hanya muncul sebagai bagian dari nama. Beberapa kanji standar juga memiliki cara baca khusus jika digunakan dalam nama. Contohnya, kanji 希, yang mempunyai arti “harapan” atau “langka”, biasanya dibaca sebagai ki atau terkadang sebagai ke atau

(10)

mare. Akan tetapi, jika 希 dipakai sebagai nama perempuan, itu bisa dibaca sebagai Nozomi.

Pada zaman samurai, nanori atau jitsumei adalah nama resmi yang diberikan kepada laki-laki bersamaan dengan upacara genpuku (Bryant, 2004).

Tomozawa (2001, hal. 158) menulis bahwa nama Jepang berbeda dari nama Cina melalui pemilihan kanji dan cara bacanya.

Kebanyakan nama keluarga terdiri dari satu, dua, tiga kanji. Ada juga nama keluarga yang terdiri dari 4 atau 5 kanji, seperti Teshigawara (勅使河原), Kutaragi (久多良木), dan Kadenokōji (勘解由小路) (Hakes 2004, hal.112). Tetapi nama-nama tersebut jarang dipakai.

Kebanyakan nama depan memakai satu, dua, tiga kanji. Nama pria sering memakai kanji hiro (宏, "lebar"), ki (木, "pohon, berdiri"), dan ta (太, "besar"). Nama depan empat suku kata banyak dipakai, khususnya untuk anak laki-laki paling tua. Nama depan wanita sering diakhiri dengan kanji ko "anak" (子) atau mi "cantik" (美) (Hakes (2004, hal.121).

Pemakaian kanji –ko (子 ) dalam nama berubah banyak sepanjang sejarah. Sebelum restorasi Meiji itu hanya dipakai oleh anggota keluarga kekaisaran. Setelah restorasi itu menjadi populer dan banyak dipakai di era Taisho dan awal Showa. Popularitas akhiran –ko meningkat setelah pertengahan abad-20. Sekitar tahun 2006 karena orang Jepang banyak meniru nama artis, popularitas akhiran –ko menurun. Di saat sama, nama yang berasal dari barat dan ditulis dengan kana mulai populer menjadi nama anak perempuan. Di tahun 2004 ada trend memakai hiragana dan bukan kanji untuk memberi nama anak perempuan. Hakes (2004, hal. 121) mengatakan itu berhubungan dengan memakai hiragana sebagai bentuk kebanggaan

(11)

budaya, karena hiragana adalah tulisan asli Jepang. Ada juga alasan tidak memberikan arti pada nama perempuan agar orang tidak menaruh harapan padanya.

Banyak nama keluarga yang bisa dikategorikan sebagai nama "-tō". Kanji 藤, yang berarti bunga wisteria, mempunyai onyomi tō. Banyak orang Jepang memiliki nama keluarga dengan kanji 藤 sebagai kanji kedua. Hal itu dikarenakan klan Fujiwara memberikan akhiran nama keluarga (myouji) dengan kanji pertama dari nama mereka, untuk menjelaskan status mereka di zaman di mana rakyat jelata tidak boleh memilki nama keluarga. Contohnya Kudou, Kondou, Saitou, Satou. Nama keluarga Jepang biasanya mengacu pada nama tempat atau hal geografis (Hakes (2004, hal.120).

Terkadang nama keluarga ditulis dengan ateji, seperti kanji 四月一日 yang dibaca sebagai Watanuki. Yamashita (1996, hal. 92) menulis ateji adalah persamaan fonetik atau pengganti salah dari kanji. Ateji bisa dikatakan sebagai penulisan kata yang memakai aksara kanji yang melambangkan bunyi fonetik dan mengabaikan arti harafiah yang dikandung aksara tersebut.

Dalam sejarah, orang Jepang bisa memiliki beberapa nama untuk dipakai dalam kesempatan berbeda. Nama yang sering dipakai adalah azana, imina or okurina dan go (号) (nama pena, Haigō atau Haimei untuk penulis haiku, Kagō untuk penulis Waka). Kadang seseorang bisa memiliki lebih dari 10 nama.

Di abad 19 orang penting memakai beberapa nama. Saat bangsawan dan samurai mendapat promosi, mereka menerima nama baru. Saigo Takamori punya satu nama saat lahir dan mendapat nama lain saat dewasa. Selain itu, dia menulis puisi dengan nama berbeda (Mark, 2011).

Nama kanji yang boleh dipakai di Jepang diatur oleh peraturan Departemen Hukum Jepang. Pada Oktober 2004 terdapat 2.232 kanji nama (kanji jinmeiyou; 人名

(12)

用漢字) dan 2.136 kanji umum (kanji jouyou; 常用漢字). Hanya kanji yang ada di daftar resmi yang bisa dipakai. Peraturan ini bertujuan agar nama bisa dibaca oleh orang yang menguasai Bahasa Jepang.

Kuniya dan Oyama menulis essai yang berkaitan dengan peraturan kehidupan orang Jepang yang terkait dengan sains dan teknologi, salah satunya mengenai Hukum Pendaftaran Keluarga. Pada Artikel 50-1 tertulis bahwa nama Anak sebaiknya memakai kanji Cina yang sering dipakai di Jepang dan mudah dibaca. Pada Artikel 50-2 tertulis, kanji Cina yang sering dipakai di Jepang dan mudah dibaca ditentukan oleh aturan yang relevan. Nama yang dianggap tidak pantas juga ditentang oleh peraturan. Di tahun 1993 kedua orang tua yang memberi nama anaknya Akuma (悪 魔 ; iblis) dilarang memakai nama itu setelah ditentang masyarakat.

Pemerintah bermaksud menambahkan 578 kanji di daftar tersebut. Tetapi rencana untuk memperluas daftar nama mengandung kontroversi, karena kanji Cina yang berarti “kanker” (癌 gan), “ambeien” (痔 ji) ,“jenazah” (骸 gai), “kotoran” (糞 fun, kuso), dan jukugo yang berarti “kutukan” (呪 ju, noro[i]), “PSK” ( 娼 shō), “percabulan” (姦 kan) termasuk dalam daftar yang diusulkan (Ministry of Justice). Itu dikarenakan tidak ada ukuran untuk menentukan kanji apa yang pantas. Contohnya, “pinggul” atau “bokong” (尻 shiri) dianggap aneh oleh kebanyakan orang, tapi jika dilarang itu akan kontroversial karena itu nama keluarga yang cukup umum.

Di dalam masyarakat Jepang terdapat banyak takhayul, salah satunya adalah takhayul yang berkaitan dengan nama dan fonetik. Kebanyakan takhayul paling umum di Jepang terkait dengan bahasa, angka, dan benda. Nama yang berbunyi sama dengan kata lain, tapi berbeda arti seperti shi (kematian) dan angka 4 dianggap sial.

(13)

Hara (2001) mengatakan orang Jepang peka akan hubungan antara bunyi dan arti kata. Contohnya, mereka tidak membawa tanaman shikuramen saat mengunjungi pasien di rumah sakit karena shikuramen mengandung bunyi shi (kematian) dan ku (penderitaan).

Figur

Gambar 2.1 Medan Makna dari Bally  Sumber : Parera (2004, hal. 138)

Gambar 2.1

Medan Makna dari Bally Sumber : Parera (2004, hal. 138) p.4
Gambar 2.2 Diagram Tiga Dimensi Tanda  Sumber : Christomy (2004, hal. 117)

Gambar 2.2

Diagram Tiga Dimensi Tanda Sumber : Christomy (2004, hal. 117) p.5

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :