PEMANFATAN MAGGOT YANG DIPERKAYA DENGAN ZAT PEMICU WARNA SEBAGAI PAKAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS WARNA IKAN HIAS RAINBOW

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Maggot dari serangga bunga sebagai pakan alami dapat memakan berbagai sumber karotenoid untuk peningkatan kualitas warna ikan hias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas warna ikan rainbow (Melanotaenia boesemani) yang diberi pakan berupa maggot segar yang telah diperkaya dengan zat pemicu warna (karotenoid) melalui media pengkulturannya, yaitu: astaksantin, wortel, dan tepung kepala udang. Pengamatan warna ikan dilakukan dengan menggunakan Toka Colour Finder (TCF). Standar penilaian kualitas warna ikan uji dengan mengamati warna yang dominan/sering muncul pada semua perlakuan baik warna pada badan ikan bagian depan (biru-ungu) maupun pada bagian belakang (kuning-orange) dan ditetapkan sebagai warna standar TCF. Kemudian menghitung jumlah ikan (persentase) dengan warna yang sama/ setara dengan warna standar TCF yang selanjutnya ditetapkan sebagai nilai teramati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan wortel dan tepung kepala udang dalam pengkayaan maggot sebagai sumber zat pemicu warna (karotenoid) dapat meningkatkan kualitas warna pada ikan rainbow khususnya warna kuning–orange.

KATA KUNCI: maggot, zat pemicu warna, Melanotaenia boesemani PENDAHULUAN

Ikan rainbow (Melanotaenia boesemani) merupakan salah satu ikan hias yang memiliki warna yang indah seperti pelangi sehingga memiliki nilai estetis dan nilai ekonomis yang tinggi. Warna badan ikan rainbow (Melanotaenia boesemani) terbagi dua secara horizontal. Bagian kepala hingga sirip punggung depan berwarna ungu kebiruan dengan warna pada bagian perut perak hinga kuning muda, sedangkan pada bagian belakang hingga ekor berwarna merah kekuningan. Sejak tahun 1996, ikan ini termasuk salah satu yang tercatat dalam International Union for Conservation Nature (IUCN) sebagai ikan yang terancam punah (Anonim, 2009).

Pemeliharaan ikan rainbow (Melanotaenia boesemani) di akuarium dengan pakan komersial yang diberikan cenderung memperlihatkan kualitas warnanya lebih rendah (pudar) sehingga penampilannya menjadi kurang menarik. Parameter keindahan berbagai jenis ikan hias dapat diukur dari warna, bentuk badan, fisik, dan tingkah lakunya. Warna pada ikan disebabkan adanya sel pigmen atau kromatofor yang terdapat dalam dermis pada sisik ikan. Pada umumnya pigmentasi pada ikan secara makroskopis dapat dilihat seperti garis, pita dan bercak-bercak (Gustiano, 1992). Komponen utama pembentuk pigmen merah dan kuning pada ikan adalah senyawa karotenoid. Menurut Latscha (1988), senyawa warna-warni baik dari ikan, burung, dan binatang lainnya berasal dari senyawa karotenoid, tetapi kebanyakan ikan atau binatang tidak dapat mensintesis karotenoid ini sehingga keberadaanya harus dikonsumsi dari pakannya.

Sumber karotenoid dapat berasal dari bahan makanan seperti wortel, ubi, labu kuning, jagung kuning, dan sebagainya termasuk pada sayur-sayuran hijau (Hidayat & Saati, 2006), udang, kepiting, dan beberapa jenis krustase lainnya. Sedangkan karotenoid dalam bentuk bahan anoganik yang biasa digunakan pada pembuatan pakan ikan adalah astaksantin. Menurut Satyani & Sugito (1997), astaksantin merupakan salah satu senyawa dari kelompok pigmen karotenoid yang dapat digunakan sebagai suplemen pakan untuk peningkatan warna ikan hias. Ada dua kelompok karoten yaitu bersifat nutrien aktif seperti alpa, beta, dan gamma karoten serta non nutrien aktif seperti astaksantin dan kataxantin.

PEMANFATAN MAGGOT YANG DIPERKAYA DENGAN ZAT PEMICU WARNA

SEBAGAI PAKAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS WARNA IKAN HIAS RAINBOW

(

Melanotaenia boesemani

) ASLI PAPUA

I Wayan Subamia, Bastiar Nur, Ahmad Musa, dan Ruby Vidia Kusumah Balai Riset Budidaya Ikan Hias

Jl. Perikanan No. 13 Pancoran Mas, Depok E-mail: lrbihat@dkp.go.id

(2)

Penggunaan karotenoid sebagai sumber pembentukan pigmen warna pada ikan akan lebih efektif jika bahan tersebut berada dalam tubuh makhuk hidup. Menurut Nasution (1977), pemberian karotenoid dan xantofil yang berasal dari pakan hidup dapat meningkatkan kualitas warna pada ikan. Salah satu pakan hidup yang dapat digunakan sebagai agen pembawa pigmen karotenoid adalah maggot.

Istilah “maggot” mulai dikenal pada pertengahan tahun 2005, yang diperkenalkan oleh tim Biokonversi IRD-Perancis dan Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot merupakan larva dari serangga Hermetia illucens (Diptera, famili: Stratiomydae) atau Black Soldier yang didapatkan dari proses biokonversi PKM (Palm Kernel Meal) (Fahmi et al., 2008). PKM sebagai media tempat hidupnya akan dimakan dan dicerna oleh maggot dan disimpan dalam organ penyimpanan yang disebut trophocytes. Sekitar 33% dari bobot badan serangga adalah trophocyters (Nayar et al., 1981).

Maggot memiliki kandungan nutrisi yang terdiri atas protein sekitar 32% dan lemak sekitar 9% (Chumaidi et al., 2008), sehingga sangat potensial dijadikan sebagai sumber protein alternatif pengganti tepung ikan dalam pembuatan pelet pakan ikan (Newton et al., 2005). Sebagai sumber protein alternatif pakan ikan, maggot diolah dalam bentuk tepung yang selanjutnya dimasukkan dalam formulasi pakan sebagai salah satu sumber protein menggantikan tepung ikan untuk dibuat pelet.

Selain sebagai sumber protein alternatif pengganti tepung ikan, maggot juga memiliki fungsi sebagai pakan alternatif untuk ikan yang dapat diberikan dalam bentuk fresh (segar). Hasil ujicoba pemanfaatan maggot yang telah dilakukan pada ikan-ikan karnivora menunjukkan bahwa beberapa jenis ikan seperti ikan arwana, betutu, lele, dan gabus sangat menyukai maggot fresh sebagai pakannya (Fahmi et al., 2007). Salah satu keunggulan maggot adalah dapat diproduksi sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Selain itu, maggot memiliki kemampuan untuk menyerap bahan ekstrak yang berasal dari material biologi (bahan organik) sehingga maggot dapat dimanfaatkan sebagai agen pembawa zat-zat tertentu ke dalam tubuh organisme yang memakannya termasuk ikan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas warna ikan rainbow yang diberi pakan berupa maggot segar yang telah diperkaya dengan astaksantin, wortel, dan tepung kepala udang.

BAHAN DAN METODE

Benih rainbow yang digunakan berukuran 4,01±0,34 cm dengan bobot rata-rata 1,11±0,16 g, terlebih dahulu dipelihara dalam hapa berukuran 1 m x 1 m, kedalaman 75 cm dengan padat penebaran sebanyak 100 ekor/hapa. Pemeliharaan ini bertujuan untuk mengadaptasikan ikan rainbow terhadap pakan (maggot segar) yang dilakukan selama 1 bulan. Selanjutnya ikan uji dipelihara dalam akuarium dengan ukuran 95 cm x 50 cm x 35 cm dengan padat penebaran 100 ekor/akuarium selama 3 bulan. Perlakuan yang digunakan adalah pemberian maggot segar yang telah diperkaya dengan zat pemicu warna: tanpa diperkaya zat pemicu warna/kontrol (A), wortel (B), tepung kepala udang (C), dan astaksantin (D). Pakan diberikan sebanyak 20% bobot basah dari biomassa dengan frekuensi 3 kali/ hari. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang 4 kali.

Pengamatan warna ikan dilakukan dengan menggunakan Toka Colour Finder (TCF). Standar penilaian kualitas warna ikan uji ditentukan dengan cara menentukan nilai TCF warna ikan yaitu dengan mengamati warna ikan rainbow (M. boesemani) yang dominan/sering muncul pada semua perlakuan baik warna pada badan ikan bagian depan (biru–ungu) maupun pada bagian belakang (kuning– orange) dan ditetapkan sebagai standar TCF.

Kemudian menghitung jumlah ikan (persentase) dengan warna yang sama/setara dengan warna pembanding yang selanjutnya ditetapkan sebagai nilai teramati. Parameter lain yang diamati seperti pertumbuhan, sintasan, dan analisis kualitas fisika kimia air dilakukan setiap sampling, sedangkan analisis proksimat maggot setelah diperkaya seperti Tabel 1.

Analisis data dilakukan dengan program SPSS Ver. 17 kemudian jika terjadi perbedaan yang nyata dilakukan dengan uji lanjut dengan HSD.

(3)

HASIL DAN BAHASAN

Pengamatan warna ikan rainbow selama pemeliharaan meliputi warna biru keunguan pada bagian kepala dan warna kuning kemerahan pada bagian belakang hingga ekor. Hasil pengamatan terhadap benih ikan. pada awal penelitian menunjukkan bahwa rata-rata warna ikan uji belum terlihat jelas antara warna biru pada bagian depan dengan kuning pada bagian belakang seperti pada induk ikan rainbow (Melanotaenia boesemani). Warna ikan uji yang digunakan pada awal penelitian adalah warna biru muda pada bagian depan atas dengan garis-garis kuning sepanjang linea lateralis dan warna kuning–orange pada bagian belakang sejajar sirip punggung kedua hingga ekor. Warna-warna yang ditampilkan tersebut terlihat tidak kontras dan masih samar-samar (Gambar 1). Nilai TCF pada masing-masing bagian badan ikan uji secara umum pada awal penelitian adalah 3402 untuk warna biru muda dan 0503 untuk warna kuning–orange.

Hasil pengamatan pada akhir penelitian terhadap warna badan ikan uji menunjukkan bahwa kualitas warna biru–ungu pada bagian depan dan kuning–orange pada bagian belakang badan ikan dari masing-masing perlakuan secara umum terlihat adanya peningkatan setelah diberi pakan (mag-got) yang telah diperkaya dengan zat pemicu warna. Berdasarkan nilai standar kualitas warna ikan uji yang ditetapkan (mengacu pada modus), terlihat bahwa rata-rata ikan uji memunculkan warna biru–ungu pada badan bagian depan dan warna kuning–orange pada bagian belakang dengan persentase yang berbeda-beda (Tabel 2).

Pengamatan warna pada kedua bagian badan ikan (warna biru-ungu pada bagian kepala dan warna kuning-orange pada bagian ekor) pada umumnya menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara perlakuan penggunaan maggot yang telah diperkaya dibandingkan dengan kontrol (pengunaan maggot tanpa diperkaya). Hal ini dapat diartikan bahwa bahan pemicu zat warna yang yang ditambahkan ke dalam media kultur maggot dapat diserap oleh maggot sebagai agen pembawa zat warna yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh ikan yang dipelihara. Menurut Nayar et al. (1981), sekitar 33% dari bobot badan serangga termasuk larvanya adalah trophocyters yang merupakan organ penyimpanan zat-zat yang dicerna dari makanannya. Organ ini menyimpan zat warna yang berasal dari bahan ditambahkan ke dalam media kultur maggot.

Warna biru–ungu pada bagian kepala dan kuning–orange pada bagian ekor ikan rainbow yang diberikan maggot yang telah diperkaya dengan wortel menghasilkan kualitas warna yang baik dengan

Tabel 1. Hasil analisis proksimat magot yang diperkaya

Wortel Kepala udang Astaksantin

Protein 58,64 66,72 45,98 69,87

Karbohidrat 28,51 19,62 15,86 14,57

Lemak 0,46 1,65 0,48 0,86

Abu 12,39 12,01 37,68 14,7

Parameter Maggot tanpa diperkaya (kontrol)

Perlakuan (maggot yang diperkaya)

(4)

persentase jumlah ikan terbanyak (58±3,37% untuk warna biru–ungu pada bagian kepala dan 58,5±3,70% untuk warna kuning–orange pada bagian ekor). Nilai tersebut berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan wortel dalam media kultur maggot lebih efektif dibandingkan penggunaan bahan lainnya seperti tepung kepala udang maupun astaksantin. Wortel merupakan bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan oleh maggot dan mudah dicerna sehingga dapat disimpan dalam trophocyters-nya dibandingkan tepung kepala udang yang mengandung banyak kitin maupun astaksantin yang berbentuk serbuk (partikel-partikel kecil). Wortel mengandung karoten dalam bentuk komplek dengan protein (Hidayat & Saati, 2006).

Oleh karena itu, diduga maggot yang diperkaya dengan wortel mengandung lebih banyak zat pemicu warna (karoten) dalam trophocyters-nya dibandingkan dengan maggot yang diperkaya dengan tepung kepala udang dan astaksantin. Namun demikian, penggunaan tepung kepala udang sedikit lebih baik dari pada astaksantin disebabkan karena tepung kepala udang merupakan bahan organik yang masih dapat dimanfaatkan oleh maggot. Menurut Savage (2002), sekitar setengah dari famili-famili Diptera memiliki larva yang makan pada materi organik yang membusuk dan banyak pula yang berasosiasi secara tak langsung dengan substrat tersebut melalui pemangsaan dan parasitisme. Fahmi et al. (2008) menambahkan bahwa maggot merupakan larva dari serangga Hermetia illucens (Diptera, famili: Stratiomydae) atau Black Soldier yang didapatkan dari proses biokonversi bahan organik berupa bungkil kelapa sawit atau PKM (Palm Kernel Meal). 75). Hermetia illucens betina akan meletakkan telur-telurnya pada bermacam-macam substansi organik, baik tumbuhan maupun hewan yang membusuk seperti buah-buahan, sayur-sayuran, kompos, humus, pulp kopi, dan bahan-bahan pangan (kecap, madu, polen), kotoran ternak dan manusia, bangkai hewan dan manusia, dan di dalam sarang rayap (Leclercq, 1997).

Persentase rata-rata jumlah ikan rainbow dengan warna biru-ungu pada bagian kepala yang diberi perlakuan pakan maggot yang diperkaya dengan wortel (58±3,37%) tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan astaksantin (53,5±3,87%), namun berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan tepung kepala udang (45±5,48%) dan kontrol (31±3,92%). Warna biru-ungu pada ikan rainbow berasal dari zat warna melanin yang terdapat dalam sel melanofora (Lesmana, 2002). Zat warna atau pigmen melanin menghasilkan warna gelap seperti cokelat hingga hitam (Bachtiar, 2003).

Warna kuning-orange pada ekor ikan rainbow dengan pakan maggot yang diberi perlakuan pengkayaan dengan wortel diperoleh dengan persentase jumlah ikan tertinggi yaitu 58,5±3,70%. Nilai ini tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan tepung kepala udang, namun berbeda nyata dengan perlakuan astaksantin dan kontrol. Warna kuning–orange pada badan ikan berasal dari kelompok pigmen karotenoid yang terdapat dalam pakannya. Menurut Latscha (1988), astaksantin adalah karotenoid pembentuk warna merah dan kuning yang langsung diserap dalam sel-sel kromatofor. Karotenoid tersebut tersimpan dalan sel-sel kromatofor yang terdapat di lapisan dermis bagian luar dari sisik ikan (Fuji, 1983).

Tabel 2. Persentase jumlah ikan dengan kualitas warna tertentu pada masing-masing perlakuan Bagian depan (TCF = 3403 = biru–ungu) Bagian belakang (TCF = 0204 = kuning–orange) A (tanpa diperkaya/kontrol) 31±3,92a 42,5±4,80a B (wortel) 58±3,37c 58,5±3,70c

C (tepung kepala udang) 45±5,48b 54,75±3,50bc

D (astaksantin) 53,5±3,87bc 47,25±1,89ab

Perlakuan pakan (maggot diperkaya)

Rataan persentase jumlah ikan uji degan warna setara nilai TCF standar (berdasarkan modus) (%)

Angka dalam kolom yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% (P>0,05)

(5)

Menurut Satyani & Sugito (1997), astaksantin merupakan salah satu senyawa dari kelompok pigmen karotenoid yang dapat digunakan sebagai suplemen pakan untuk peningkatan warna ikan hias. Tetapi kebanyakan ikan atau binatang tidak dapat mensintesis karotenoid ini sehingga keberadaanya harus dikonsumsi dari pakannya (Latscha, 1988). Penggunaan astaksantin sebagai bahan pengkayaan maggot kurang efektif dibandingkan dengan wortel dan tepung kepala udang. Astaksantin yang digunakan tidak dapat diserap oleh maggot dengan sempurna karena tidak berada dalam bentuk bahan organik (bahan anorganik), sedangkan karoten yang terkandung dalam wortel dan tepung kepala udang merupakan bahan organik yang dapat diserap oleh maggot sebagai makanannya. Menurut Hidayat & Saati (2006), karoten memiliki sifat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam lemak dan pelarut organik lainnya seperti petroleum ether dan ethanol. Dengan demikian, astaksantin sebagai kelompok pigmen karotenoid tidak dapat larut dan menyatu secara sempurna dengan bungkil kelapa sawit yang digunakan dalam kultur maggot.

Penggunaan maggot yang telah diperkaya dengan dengan zat pemicu warna tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan (bobot dan panjang total) dan sintasan ikan rainbow selama penelitian (Tabel 3).

Penggunaan astaksantin sebagai bahan pengkayaan maggot menghasilkan pertumbuhan ikan rainbow tertinggi, di mana pertambahan bobotnya sebesar 1,30±0,08 g dan pertambahan panjangnya sebesar 1,59±0,02 g, namun tidak berbeda nyata (P<0,05) dengan semua perlakuan lainnya. Hal ini menunjukan bahwa rata-rata ikan rainbow pada semua perlakuan memberian respons yang sama terhadap pakan maggot yang diberikan, baik terhadap maggot yang telah diperkaya dengan zat pemicu warna maupun kontrol (tanpa diperkaya zat pemicu warna).

Demikian pula halnya terhadap sintasannya, di mana sintasan ikan rainbow selama penelitian dari keempat perlakuan tidak memberikan perbedaan yang nyata. Rata-rata kisaran nilai sintasan ikan rainbow dari keempat perlakuan diperoleh sebesar 95,5%–100%.

Kisaran kuaitas air selama penelitian berlangsung dapat dilihat pada Tabel 4.

Kualitas air media pemeliharaan ikan rainbow selama penelitian menunjukkan masih dalam kisaran yang layak bagi kehidupan ikan rainbow dengan fluktuasi yang sangat minimum. Hal ini disebabkan

Tabel 3. Pertumbuhan dan sintasan ikan rainbow selama penelitian

Bobot (g) Panjang total (cm)

A (tanpa diperkaya / kontrol) 1,24±0,19a 1,56±0,21a 99,5±1,0a

B (wortel) 1,13±0,22a 1,55±0,07a 99,5±0,6a

C (tepung kepala udang) 1,16±0,16a 1,30±0,08a 98,8±1,0a

D (astaksantin) 1,30±0,08a 1,59±0,02a 100±0,0a

Pertumbuhan Perlakuan pakan

(maggot diperkaya) Sintasan (%)

Angka dalam kolom yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% (P>0,05)

Tabel 4. Data kualitas air media pemeliharaan ikan rainbow selama penelitian

Parameter kualitas air Kisaran

Suhu (°C) 25–27

pH 7,8–8

DO (mg/L) 4,05–5,25

CO2 (mg/L) 1,91–2,13

(6)

media pemeliharaan menggunakan sistem resirkulasi, sehingga fluktuasi nilai dari beberapa param-eter kualitas air sangat rendah. Selain itu, penyiponan kotoran dilakukan setiap hari serta penambahan air pada tandon dilakukan setiap minggu menggunakan air yang telah diendapkan sehingga kualitas air media pemeliharaan lebih terjaga.

Selama penelitian berlangsung diperoleh kisaran beberapa parameter kualitas air, di mana suhu air berkisar antara 25°C–27°C; pH berkisar antara 7,8–8; DO berkisar antara 4,05–5,25 mg/L; CO2

berkisar antara 1,91–2,13 mg/L dan amonia berkisar antara 0,03–0,05 mg/L. Menurut Allen (1985) dalam Sudarto & Nur (2008), bahwa ikan rainbow di Papua dijumpai di tepi danau dan sungai dengan suhu 29°C–32°C serta nilai pH di permukaan berkisar 6,2–6,8. Tappin (2005) menambahkan bahwa habitat ikan rainbow di Australia sangat ekstrim di mana kisaran pH antara 3,9–6,8. Menurut Kadarusman et al. (2007), ikan pelangi dapat ditemui pada dua habitat (danau dan sungai) dengan karakteristik habitat yang beragam namun umumnya menyukai aliran sungai dengan kandungan kalsium yang tinggi dan suhu berkisar antara 25°C–26°C.

KESIMPULAN

Maggot yang diperkaya dengan wortel dan kepala udang dapat meningkatkan kualitas warna pada ikan rainbow khususnya warna kuning–orange dibandingkan dengan perlakuan lainnya. DAFTAR ACUAN

Anonim. 2009. IUCN Red List (version 2009.1) - Melanotaenia boesemani (Boeseman’s Rainbowfish). http://www.iucnredlist.org/details/13058, (diakses 16 September 2009), 2 pp.

Bachtiar, Y. 2003. Pakan Alami Untuk Ikan Hias. Agromedia Pustaka, viii + 76 hlm.

Chumaidi, Priyadi, A., Subamia, I.W., Azwar, Z.I., & Hem, S. 2008. Pengaruh Kombinasi Pelet dan Pakan Alami (Maggot, Larva Chironomus dan Cacing Tanah) Terhadap Kematangan Gonad Induk Ikan Balashark (Balantiocheillus melanopterus Bleeker). Laporan Hasil Penelitian. Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok. Belum dipublikasikan, 13 hlm.

Fahmi, M.R., Hem, S., & Subamia, I.W. 2007. Potensi Maggot Sebagai Salah Satu Sumber Protein Untuk Pakan Ikan. Tidak diterbitkan, 9 hlm.

Fahmi, M.R., Hem, S., & Subamia, I.W. 2008. Prospek Maggot Untuk Peningkatan Pertumbuhan dan Status Kesehatan Ikan. Presentasi Lomba Karya Tulis Ilmiah-BRKP. Tidak diterbitkan, 14 hlm. Fuji, R. 1983. Chromatophore as Pigment (p. 323–3350), In Hoar, W.S., D.C. Randall, N.E., & Donaldson,

N.E.S. (Eds). Academic Press, New York, Fis Physiology, IX: 483.

Gustiano, R. 1992. Genetic Colour Varieties of The Indonesian Common Carp (Cyprinus carpio L.). Teknical Paper, IDRC. RIFF, Bogor, Indonesia, hlm. 44–105.

Hidayat, N. & Saati, E.A. 2006. Membuat Pewarna Alami, Cetakan I. Trubus Agrisarana, Surabaya, iv + 52 hlm.

Kadarusman, Pouyaud, L., Slembrouck, J., & Sudarto. 2007. Studi Pendahuluan Diversitas Jenis, Habi-tat, Domestikasi dan Konservasi Ex-Situ Ikan Rainbow; Melanotaenia di Kawasan Vogelkop Papua.APSOR-IRD-LRBIHAT. Tidak dipublikasikan, 12 hlm.

Latscha, T. 1988. Carotenoids-Their Nature and Significance in Animal Feeds. Department of Animal Nutrition and Healt. F. Hoffmann-La Roche Ltd, Bazel, Switzerland, 110 pp.

Leclercq, M. 1997. A Propose de Hermetia illucens (Linnaeus, 1758) (“Soldier Fly”) (Diptera Stratiomyidae: Hermetiinae). Bull. Annls. Soc. r. belge Ent., 133: 275–282.

Lesmana, D.S. 2002. Agar Ikan Hias Cemerlang. Penebar Swadaya. Jakarta, vi + 66 hlm.

Nasution, S.H. 1977. Pengaruh Karotenoid dari Ekstrak Rebon Terhadap Tingkat Perubahan Warna Ikan Botia. Limnotek, 4(1): 51–58.

Nayar, K.K., Ananthakrisnan, I.N., & David, B.V. 1981. General and Applied Enthomology. McGraw Pub. Co. Ltd. New Delhi: vii + 573 pp.

Newton, G.L., Sheppard, D.C., Watson, D.W., Burtle, G., & Dove, R. 2005. Using the Black Soldier Fly, Hermetia illucens, As a Value-added Tool for The Management of Swine Manure. Report for The Animal and Poultry waste Management Center, 17 pp.

(7)

Satyani, D. & Sugito, S. 1997. Astaxanthin Sebagai Suplemen Pakan untuk Peningkatan Warna Ikan Hias. Warta Penelitian Perikanan Indonesia, III(1): 6–8.

Savage, J. 2002. Cleaning up The World: Dipteran Decomposers. Biodiversity, 3(4): 12–15.

Sudarto & Nur, B. 2008. Biodiversitas Ikan Pelangi (Rainbow Fish) Asal Indonesia Bagian Timur dalam Supriyadi, H., Hanafi, A., Kristanto, A.H., Chumaidi, Mustafa, A., Imron, & Insan, I. Teknolgi Perikanan Budidaya. Pusat Riset Perikanan Budidaya, hlm. 455–462.

Tappin, A.R. 2005. Natural Habitat. Rainbowfish Habitat. http://members.optusnet.com.au/ aquatichabitats/Habitat.html, (diakses 04/06/2008), 8 pp.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Kualitas Warna