• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MAHASISWA UNTUK MELAKUKAN INFAK DAN SEDEKAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MAHASISWA UNTUK MELAKUKAN INFAK DAN SEDEKAH"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN

MAHASISWA UNTUK MELAKUKAN INFAK DAN SEDEKAH

(Studi Kasus Mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Brawijaya Malang)

SKRIPSI

Disusun Oleh:

Mukhammad Zulkifli IkhzaBashor

135020500111009

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Derajat Sarjana Sarjana Ekonomi

JURUSAN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2020

(2)

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Mahasiswa Untuk Melakukan Infak Dan Sedekah (Studi Kasus Mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Brawijaya Malang)

Mukhammad Zulkifli Ikhzabashor Yenny Kornitasari, SE., ME.

Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Brawijaya, Malang

Zulkiflimukhammad@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel mana sajakah yang mempunyai pengaruh pada Keputusan Mahasiswa terhadap Infak dan Sedekah. Dalam penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah variabel Religiusitas, Tingkat Pengetahuan Mahasiswa, dan Pendapatan terhadap Keputussan Mahasiswa terhadap mengeluarkan Infak dan Sedekah. Penelitian diukur melalui 3 faktor yaitu religiusitas, pengetahuan dan pendapatan. Berdasarkan hasil penelitian Religiusitas, pengetahuan & pendapatan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap Minat Mahasiswa dalam Infak dan Sedekah.

Kata kunci: Religiusitas, pengetahuan, pendapatan, konsumsi, infak dan sedekah. ABSTRACT

This research was conducted to determine which variables have an influence on student decisions on donations and alms. In this study, the independent variables used were the variables of Religiosity, Student Knowledge Level, and Income to Student Decisions on issuing Infak and Alms. Research is measured by three factors, namely religiosity, knowledge and income. Based on the results of research Religiosity, knowledge & income which have a significant influence on Student Interest in Infak and Alms.

Keywords: Religiosity, knowledge, income, consumption, infak and sedekah.

_____________________________________________________________________________

A. PENDAHULUAN

Selain zakat, Islam juga menganjurkan untuk shadaqah sunnah yang sesuai dengan kemampuan, yakni infaq dan shadaqah. Kata Infaq merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab anfaqa-yunfiqu yang artinya membelanjakan atau membiayai. Kata infaq dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pemberian atau sumbangan harta dan sebagainya untuk suatu kebaikan. Zakat telah menjadi sumber pendapatan keuangan negara yang memiliki peranan sangat penting, antara lain sebagai sarana pengembangan agama Islam, pengembangan pendidikan, pengembangan infrastruktur dan penyediaan layanan bantuan untuk kepentingan kesejahteraan sosial masyarakat yang kurang mampu seperti fakir miskin (Depag RI, 2007 a:1).

Badan Amil Zakat Nasional ( BAZNAS ) merupakan salah satu amanah dari keberadaan UU No.23 tahun 2011 tentang PengelolaanZakat dan Peraturan Pemerintahnomor 14 tahun 2014 yang bertugas untuk melaksanakan pengelolaan zakat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan peraturan pemerintah nomor 14 tahun 2014, BAZNAS dapat membentuk Unit Pengumpul Zakat ( UPZ ) pada lembaga pemerintahan, BUMN, dan perusahaan swasta.

Dengan menjadi UPZ BAZNAS instansi atau lembaga tidak perlu mengajukan izin kegiatan pengelolaan zakat ke kementerian Agama atau Kantor Wilayah Kementerian agama, karena secara hukum sudah sah bertindak melakukan kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat. Dengan BAZNAS operasional UPZ telah disesuaikan dengan prinsip pengelolahan zakat yang benar. Unit Pengumpul Zakat ( UPZ ) mempunyai dua fungsi utama yaitu fungsi pengumpulan ZIS ( Zakat, Infak dan Sedekah) dan fungsi penyaluran ZIS (Zakat, Infak dan Sedekah).

Universtas Brawijaya Malang merupakan universitas yang sudah membuka program studi Ekonomi Islam sejak tahun 2011 dan setiap tahunnya minat calon mahasiswa terhadap Program Studi Ekonomi Islam di Universitas Brawijaya semakin bertambah. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi terhadap minat mahasiswa dalam melakukan kegiatan berinfak dan sedekah yaitu tingkat religiusitas, pengetahuan mahasiswa dan pendapatan mahasiswa (uang saku) terhadap infak dan sedekah.

B. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Infak dan Sedekah

Infak berasal dari kata ”anfaqa” yang berartu mengeluarkan sesuatr (harta) untuk kepentingan sesuatu. Sedangkan menurut terminologi syariah, infak berarti mengeluarkan sebagian harta atau pendapatan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Kata infak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pemberian atau sumbangan harta dan sebagainya untuk suatu kebaikan.

(3)

Infaq tidak memiliki nishab dan haul seperti halnya zakat, sehingga tidak ada batasan dalam melakukan infak baik dari besarnya barang dan waktu. Dengan demikian, masyarakat lebih muda melakukan infak kapanpun dan berapapun nominalnya. Infak juga tidak dapat dikatakan sibagai hibah.

Menurut terminologi syariah, pengertian shadaqah hampir sama dengan pengertian infak, termasuk hukum dan ketentuannya. Hanya saja infak berkaitan dengan materi (harta), sedangkan sedekah memiliki arti lebih luas, yang menyangkut tentang nonmaterial (Hafifuddin, 1998:15).

Ketentuan dalam Infak dan Sedekah

Dalam Al-quran terdapat beberapa ketentuan yang harus dilakukan dalam berinfaq,diataranya adalah sebagai berikut :

a. Harus didahulukan kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengan orang yang berinfak. Misalnya kedua orang tua, kerabat dekat, dan seterusnya.

b. Setelah itu kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan.

Manfaat Infak dan Sedekah

a. Mensucikan harta

Membersihkan harta dari kemungkinan masuk harta orang lain ke dalam harta yang dimiliki. b. Sarana Pembersih Jiwa

Pada hakekatnya merupakan bukti terhadap dunia dari upayanya untuk mensucikan diri,mensucikan diri dari sifat kikir, tamak dan dari kecintaan yang sangat terhadap dunianya, juga mensucikan hartanya dari hak-hak orang lain.

c. Realisasi Kepedulian Sosial

Jika sholat berfungsi sebagai pembina kekhusuan terhadap Allah, maka zakat, infak dan sedekah berfungsi sebagai pembina kelembutan hati seseorang terhadap sesama.

d. Sarana Untuk Meraih Pertolongan Sosial

Allah SWT hanya akan memberikan pertolongan kepada hambaNya,manakala hambanya mematuhi ajaraNya dan diantara ajaran Allah yang harus ditaati adalah menunaikan zakat, infak dan sedekah. e. Ungkapan Rasa syukur Kepada Allah

Menunaikan zakat, infak dan sedekah merupakan ungkapan syukur atas nikmat yanag diberikan Allah kepada kita.

Religiusitas

Religiusitas merupakan wujud dari implementasi pedoman umat Islam yang diikuti dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan penilaian mereka terhadap keputusan pemenuhan kewajiban membayar zakat. Adanya keyakinan terhadap Allah SWT, kemauan untuk patuh terhadap perintah Allah SWT dan konsekuensi sosial dengan dilandasi pengetahuan serta pemahaman yang baik akan membentuk religiusitas muzakki dalam pengaruhnya terhadap minat membayar zakat melalui lembaga amil zakat. Sehingga, semakin tinggi tingkat religiusitas muzakki, maka akan semakin tinggi minat muzakki dalam membayar zakat (jafri et al, 2012).

A. Indikator tingkat keimanan

C.Y. Glock dan R. Stark dalam buku American Piety: The Nature of Religious Comitment sebagaimana dalam buku Sosiologi Agama menyebutkan lima dimensi beragama, yakni :

1. Keyakinan

Dimensi berisikan pengharapan yang berpegang teguh pada teologis tertentu. Dimensi ini mengungkap hubungan manusia dengan keyakinan terhadap rukun iman, kebenaran agama dan masalah-masalah ghaib yang diajarkan oleh agama.

2. Pengamalan/praktik

Merupakan dimensi praktik agama yang meliputi perilaku simbolik dari makna-makna keagamaan yang terkandung didalamnya. Dimensi ini berhubungan dengan sejauh mana tingkat kepatuhan seseorang dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual yang diperintahkan oleh agamanya. Yakni berkaitan dengan frekuensi, intensitas, dan pelaksanaan ibadah, seperti sholat, puasa, zakat, ibadah haji, doa, dan sebagainya.

3. Penghayatan

Berkaitan dengan seberapa jauh seseorang merasa dekat dan dilihat oleh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mencakup pengalaman dan perasaan dekat dengan Allah, perasaan nikmat dalam menjalankan ibadah dan perasaan syukur atas nikmat Allah SWT. Dimensi penghayatan keagamaan merujuk pada seluruh keterlibatan dengan hal-hal yang suci dari suatu agama. Dimensi ini mencakup pengalaman dan perasaan tentang kehadiran tuhan dalam kehidupan, ketenangan hidup, takut melanggar larangan tuhan, keyakinan menerima balasan dan hukuman, dorongan untuk melaksanakan perintah agama, perasaan nikmat dalam beribadah dan perasaan syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah SWT dalam menjalani kehidupan.

4. Pengetahuan

Berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran-ajaran agamanya. Indikator yang ini mengacu pada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, dan Al-Quran merupakan pedoman hidup sekaligus sumber ilmu

(4)

pengetahuan. Pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran-ajaran agama dan kitab sucinya menjadikan Al-Quran dan hadist sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai sumber pengetahuan dan memberikan ajaran islam.

5. Konsekuensi

Dimensi yang mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan, pengamalan, penghayatan dan pengetahuan seseorang. Yakni berkaitan dengan kewajiban seseorang sebagai pemeluk agama untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari dengan bukti sikap dan tindakannya berlandaskan pada etika dan spiritualitas agama.

Pengetahuan

Pengetahuan seseorang sebagian besar diperoleh melalui indera pendengaran dan indra pengelihatan (Notoatmodjo, 2014). Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan sangat erat hubungannya. Tetapi orang yang berpendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak dipeoleh dari pendidikan formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal. Pengetahuan akan suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek posotof dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang. Semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap semakin positif terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2014).

Menurut Notoatmodjo (dalam Wawan dan Dewi, 2010) pengetahuan seseorang terhadap suatu objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda. Secara garis besar dibagi menjadi 6 tingkat pengetahuan, yaitu :

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai recall atau memanggil memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu disisni merupakan tingkatan yang paling rendah. Kata kerja yang digunakan untuk mengukur orang yang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu dapat menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.

2. Memahami (Comperhention)

Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut, dan juga tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahuinya. Orang yang telah memahami objek dan materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menarik kesimpulan, meramalkan terhadap suatu objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan ataupun mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi atau kondisi yang lain. Aplikasi juga diartikan aplikasi atau penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, rencana program dalam situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang dalam menjabarkan atau memisahkan, lalu kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen dalam suatu objek atau masalah yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang telah sampai pada tingkatan ini adalah jika orang tersebut dapat membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat bagan (diagram) terhadap pengetahuan objek tersebut.

5. Sintetis (Synthetic)

Sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan yang sudah dimilikinya. Dengan kata lain suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah ada sebelumnya.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

Pendapatan

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pendapatan adalah hasil kerja (usaha atau sebagainya).Sedangkan pendapatan dalam kamus manajemen adalah uang yang diterima oleh perorangan, perusahaan dan organisasi lain dalam bentuk upah, gaji, sewa, bunga, komisi, ongkos dan laba.

Pendapatan seseorang juga dapat didefinisikan sebagai banyaknya penerimaan yang dinilai dengan satuan mata uang yang dapat dihasilkan seseorang dalam periode tertentu.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendapatan adalah sebagai jumlah penghasilan yang diterima oleh para anggota masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atau faktor-faktor produksi yang telah disumbangkan.

Tingkat pendapatan mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat. Hubungan antara tingkat pendapatan dan konsumsi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam berbagai permasalahan ekonomi. Kenyataan menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi meningkat dengan naiknya pendapatan, dan sebaliknya jika pendapatan turun, pengeluaran konsumsi juga turun.

Tinggi rendahnya pengeluaran sangat tergantung kepada kemampuan keluarga dalam mengelola penerimaan atau pendapatannya.Selain itu pengalaman berusaha juga dapat mempengaruhi pendapatan, jadi semakin baik

(5)

pengalaman berusaha seseorang maka semakin baik pula peluang dalam meningkatkan pendapatan. Karena seseorang atau kelompok memiliki kelebihan keterampilan dalam meningkatkan aktifitas sehingga pendapatan dapat meningkat.

Distribusi Pendapatan dalam Konteks Rumah Tangga (Household)

Distribusi pendapatan dalam konteks rumah tangga akan sangat terkait dengan istilah shadaqah. Pengertian sedekah disini bukan berarti sedekah dalam konteks pengertian bahasa Indonesia. Karena shadaqah konteks terminologi Al-Qur’an dapat dipahami dalam dua aspek, yaitu:

1. Sedekah Wajib

Bentuk-bentuk pengeluaran rumah tangga yang berkaitan dengan distribusi pendapatan berbasis kewajiban. Untuk kategori ini bisa berarti kewajiban personal seseorang sebagai muslim, seperti warisan dan bisa juga berarti kewajiban seorang muslim dengan muslim lainnya, seperti jiwar (bantuan yang diberikan berkaitan dengan urusan bertetangga) dan masaadah (memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami musibah).

2. SedekahNafilah (sunnah)

Bentuk-bentuk pengeluaran rumah tangga yang berkaitan dengan distribusi pendapatan berbasis amal kariatif, seperti sedekah.

Konsumsi

Konsumsi secara umum diartikan sebagai penggunaan barang-barang dan jasa yang secara langsung akan memenuhi kebutuhan manusia. Konsumsi sebagai pembelanjaan yang dilakukan oleh rumah tangga atas barang-barang dan jasa-jasa akhir dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Dengan demikian, pola konsumsi dapat diartikan sebagai suatu cara atau usaha untuk melakukan kegiatan konsumsi. Definisi konsumsi juga dapat di kelompokkan menjadi dua, yaitu

a. Definisi konsumsi (nilai guna)

Kegiatan memanfaatkan, menghabiskan kegunaan barang maupun jasa untuk memenuhi kebutuhan demi menjaga kelangsungan hidup.

b. Definisi konsumsi (tingkat kepuasan)

Penggunaan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan manusiawi (the use of goods and services in the satisfaction of human want). Konsumsi haruslah dianggap sebagai maksud serta tujuan yang esensial dari produksi.

Dalam perspektif ekonomi Islam, konsumsi adalah perilaku individu dituntun oleh ajaran Islam mulai dari penentuan tujuan hidup, cara memandang dan menganalisis masalah ekonomi yang melingkupi pembahasan atas perilaku ekonomi manusia yang sadar dan berusaha untuk mencapai maslahah atau falah, yang disebut sebagai

homo Islamicus atau Islamic man.

C. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Menurut Sugiyono (2009) penelitian deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang menekankan pengujian teori-teori melalui pengukuran variable-variabel dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistic, kemudian di lengkapi dengan penjelasan secara deskriptif mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan serta mengungkapkan penemuan-penemuan di lapangan. Dengan penjelasan tersebut maka penelitian ini di buat dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian ini diorientasikan agar dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat Mahasiswa Ekonomi Islam terhadap infaq dan shadaqah. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Brawijaya utamanya prodi Ekonomi Islam yang dimana sudah mempelajari tentang Infaq dan Shadaqah yang di anggap mempunyai pengetahuan lebih banyak mengenai cara berinfaq dan shadaqah yang diharapkan memberi respon positif.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi Penelitian ini di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya di Jl. MT Harionono, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Malang, Jawa Timur 65145.

Subyek Penelitian

Menurut Suharsini Arikunto (1989) memberi Batasan subjek penelitian sebagai benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekatdan yang dipermasalahkan. Dari kedua Batasan diatas, dapat di simpulkan bahwa yang dimaksud dengan subjek penelitian adalah suatu individu atau banyak orang yang dijadikan sumber informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Brawijaya. Hal ini dapat membantu penulis dalam membantu penulis dalam mengetahui minat mahasiswa untuk berinfaq dan shadaqah.

Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono (2009) yang mengartikan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah mahasiswa di Universitas

(6)

Brawijaya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Ekonomi Islam yang telah menempuh mata kuliah Ekonomi ZISWA. Dari sumber data di web feb.ub.ac.id jumlah mahasiswa Ekonomi Islam pada angkatan 2014, 2015 dan 2016 sebanyak 509 mahasiswa.

Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling. Teknik ini digunakan karena jumlah populasi yang luas, sehinga tidak mungkin untuk memberikan kesempatan pada seluruh unsur populasi untuk djadikan sampel penelitian. Teknik nonprobability sampling yang akan digunakan dalam penentuan sampel ialah teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,2009). Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus Slovin sebagai berikut :

= 1 + n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi e = batas toleransi kesalahan

Sampel = 260

1 + 260 x0.1 = 72,2

Maka jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 75 mahasiswa (dibulatkan).

Definisi Operasional Variabel

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009:39). Pada penelitian ini menggunakan dua variabel, variabel pertama adalah independen dank dua variabel terikat atau bisa disebut variabel dependen.

Variabel independen atau yang sering disebut variabel bebas menurut Sugiyono (2009:39) merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Religiusitas, Pendapatan mahasiswa, Pemahaman mahasiswa. Sedangkan variabel terikat atau variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.

Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat religiusitas, pendapatan mahasiswa dan pengetahuan mahasiswa terhadap minat dalam berinfaq dan shadaqah. Sedangkan variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah keputusan mahasiswa dalam berinfak dan sedekah. Adapun penjelasan dari variabel-variabel dalam penelitian ini sebagai berikut:

Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keputusan mahasiswa dalam melakukan infak dan sedekah, adalah keputusan mahasiswa (Y).

Variabel Bebas

1. Religiusitas

Tingkat keimanan atau religiusitas merupakan bentuk dukungan dari minat mahasiswa terhadap infak dan sedekah. Indikator religiusitas yaitu:

a. Al-qur’an (pedoman)

b. Hadits (pedoman) c. Sosial (kemanusiaan) 2. Pengetahuan

Pengetahuan mahasiswa merupakan bentuk pendukung dari minat mahasiswa dalam melakukan kegiatan infak dan sedekah.

a. Pengetahuan mahawsiswa tentang infak b. Pengetahuan mahasiswa tentang sedekah 3. Pendapatan Mahasiswa

Pendapatan mahasiswa dalam hal ini bisa dibilang sebagai uang saku yang diberikan orang tua kepada mahasiswa sebagai pendukung minat mahasiswa melakukan infak dan sedekah. Indikator pendapatan mahasiswa yaitu:

a. Pengeluaran b. Konsumsi

D. HASIL & PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini diambil sebanyak 75 orang yang telah menjadi responden. Uji instrumen dari penelitian yang terdiri atas uji validitas dan uji reliabilitas, hasil yang diperoleh dengan nilai signifikan dari r table yang berarti setiap item variabel adalah valid, sehingga disimpulkan bahwa item-itemtersebut dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian. Dilanjutkan pada uji reliabilitas dengan menggunakan alpha cronbach yang dimana

(7)

setiap variabel ditentukan sudah reliablekarena nilai dari alpha cronbach lebih besar dari 0.6. Uji regresi logistik menjadi pengujian berikutnya,dalam hal ini melakukan pengujian kelayakan regresi dinilai dengan menggunakan

Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test. Hasil pengujian kelayakan regresi ini dapat dilihat bahwa tabel

Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Testdengan signifikan yang dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,05

yang artinya model dapat digunakan untuk memprediksi nilai observasi.

Kemudian pada pengujian selanjutnya dengan menguji keseluruhan model (overall model fit). Dalam hal ini dapat dilihat dari hasil dalam tabel penujian overall model fitnilai -2LL awal adalah sebesar 46,527. Setelah dimasukkan keenam variabel independen maka nilai -2LL akhir mengalami penurunan menjadi sebesar 19,254.Penurunan likelihood (-2LL) ini menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.

Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti nilai R Square pada regresi berganda, uji regresi logistik diperoleh nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,660 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel Religiusitas, Pengetahuan mahasiswa dan Pendapatan adalah sebesar 76%, sedangkan sisanya sebesar 34% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas memberikan pengaruh sebesar 66% terhadap variabel terikat.

Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan teknik analisis regresi logistik dengan hasil temuan dalam tabel uji wald. Religiusitas (X1), Pengetahuan mahasiswa (X2), dan Pendapatan (X3) terhadap minat

berinfaq dan shadaqah memiliki arah positif.

Pengaruh Religiusitas (X1) terhadap KeputusanMahasiswa Infak dan Sedekah (Y)

Pada hasil analisis menggunakan metode regresi logistik menghasilkan koefisien regresi positif sebesar 0,549 dengan signifikansi (p) sebesar 0,024. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat di simpulkan bahwa Religiusitas memberikan pengaruh terhadap Keputusan Mahasiswa Melakukan Infak dan Sedekah.

Religiusitas adalah sebuah ekspresi spiritual seseorang yang berkaitan dengan sistem keyakinan, nilai, hukum yang berlaku dan ritual. Religius merupakan aspek yang telah dihayati oleh individu didalam hati, getaran hati nurani dan sikap personal (Mangun Wijaya dalam Ghazali, 2014: 37).

Hasil penelitian menurut Fery Setiawan (2018) melalui perhitungan linier berganda didapat nilai koefisien beta sebesar 0,184 dan nilai sig sebesar 0,000<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa faktor religiusitas berpengaruh positif terhadap minat muzzakimembayar zakat profesi di Kabupaten ponorogo. Artinya, semakin tinggi tingkat religiusitas muzzaki maka minat dalam membayar zakat, infak dan sedekah akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika semakin rendah tingkat religiusitas muzzakimaka minat terhadap zakat, infak dan sedekah akan rendah.

Religiusitas merupakan wujud dari implementasi pedoman umat Islam yang diikuti dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan penilaian mereka terhadap keputusan pemenuhan kewajiban dalam beribadah. Tingkat keimanan seseorang tidak sama dengan orang lain. Tergantung pada beberapa faktor seperti keyakinan, pendidikan agama, lingkungan yang dimiliki seseorang. Mahasiswa yang mempunyai tingkat keimanan yang baik cenderung akan lebih mengerti tentang hukum dan syariat dalam islam, dari pada mahasiswa yang bisa dibilang memiliki tingkat keimanan yang rendah bisa karena faktor lingkungan atau kurangnya pendidikan agama. Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah mahasiswa Ekonomi Islam yang tentunya sudah mempelajari tentang infaq dan shadaqah. Selain itu, hasil dari penelitian ini yang menunjukkan bahwa religiusitas berpengaruh signifikan terhadap minat infaq dan shadaqah pada mahasiswa Ekonomi Islam yang mengindikasikan bahwa tingkat keimanan menjadi salah satu faktor bagi evaluasi Prodi Ekonomi Islam untuk lebih meningkatkan keimanan setiap individu mahasiswa dengan cara memberikan pendidikan tentang infaq dan shadaqah ataupun mengirimkan mahasiswa untuk melakukan kegiatan magang di lembaga amil zakat sehingga mahasiswa dapat mengetahui secara langsung kegiatan lembaga zakat tersebut.

Pengaruh Pengetahuan Mahasiswa (X2) terhadap Keputusan MahasiswaMelakukan Infak dan Sedekah

(Y)

Pada hasil analisis menggunakan metode regresi logistik menghasilkan koefisien regresi positif sebesar 0,549 dengan signifikansi (p) sebesar 0,029. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat di simpulkan bahwa Pengetahuan Mahasiswa memberikan pengaruh terhadap Keputusan Mahasiswa Melakukan Infak dan Sedekah.

Pengetahuan seseorang sebagian besar diperoleh melalui indera pendengaran dan indra pengelihatan (Notoatmodjo, 2014). Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal dan sangat erat hubungannya. Tetapi orang yang berpendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak dipeoleh dari pendidikan formal saja, tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal.

Hasil penelitian Rina Rizkia, Muhammad Alfan dan Muhammad Shabri 2014 bahwa pemahaman atau pengetahuan berpengaruh positif terhadap keputusan muzzakiuntuk membayar zakat maal di Kota Subang, ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,021 dan nilai sig sebesar 0,000<0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel pengetahuan mahasiswa (X2) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap minat mahasiswa

(8)

berInfak dan sedekah dikarenakan jika seorang mahasiswa ingin melakukan ibadah infak dan sedekah pasti seorang mahasiswa tersebut akan memahami dan mengetahui terlebih dahulu baik dari segi manfaat, hukum tentang infak dah sedekah, serta lembaga yang berkewenangan terhadap bidang zakat, infak dan sedekah.

Pengaruh Pendapatan (X3) terhadap Keputusan Mahasiswa Melakukan Infak dan Sedekah (Y)

Pada hasil analisis menggunakan metode regresi logistik menghasilkan koefisien regresi positif sebesar 0,823 dengan signifikansi (p) sebesar 0,017. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat di simpulkan bahwa Pendapatan Mahasiswa memberikan pengaruh terhadap Minat Mahasiswa berInfaq dan Shadaqah.

Hasil penelitian Yulinda Isnaini (2018) melalui uji t menunjukkan bahwa variabel tingkat pendapatan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 yang mana nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi yang diisyaratkan yaitu 0,05.Oleh karena hasil signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka variabel tingkat pendapatan diterima dengan hasil yang signifikan. Hasil tersebut menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara tingkat pendapatan terhadap motivasi muzakki secara parsial. Tingkat pendapatan merupakan faktor penting dalam meningkatkan motivasi membayar zakat. Secara empiris dilapangan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Zakat relatif tinggi, sehingga motivasi masyarakat untuk membayar di Rumah Zakat meningkat. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka muzakki akan semakin menunjukkan motivasinya membayar zakat di lembaga pengelola tersebut.

Menurut Boediono pendapatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dipengaruhi: 1. Jumlah faktor-faktor produksi yang dimiliki yang bersumber pada, hasil-hasil tabungan tahun ini dan

warisan atau pemberian.

2. Harga per unit dari masing-masing faktor produksi, harga ini ditentukan oleh penawaran dan permintaan di pasar faktor produksi.

3. Hasil kegiatan anggota keluarga sebagai pekerjaan sampingan. Tingkat pendapatan mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat.

Hubungan antara pendapatan dan konsumsi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam berbagai permasalahan ekonomi. Kenyataan menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi meningkat dengan naiknya pendapatan, dan sebaliknya jika pendapatan turun, pengeluaran konsumsi juga turun. Tinggi rendahnya pengeluaran sangat tergantung kepada kemampuan keluarga dalam mengelola penerimaan atau pendapatannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan pendapatan mahasiswa dapat dilihat dari pembagian yang berkaitan dengan status, pendidikan, keteampilan serta jenis pekerjaan. Dalam hal ini pendapatan mahasiswa memiliki pendapatan berkaitan dengan status pendidikannya yang bisa dikatakan bahwa dari pendapatan tersebut akan mempengaruhi perilaku mahasiswa terhadap keputusan dalam melakukan infak dan sedekah.

E. KESIMPULAN & SARAN Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel mana sajakah yang mempunyai pengaruh pada Keputusan Mahasiswa terhadap Infak dan Sedekah. Dalam penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah variabel Religiusitas, Tingkat Pengetahuan Mahasiswa, dan Pendapatan terhadap Keputussan Mahasiswa terhadap mengeluarkan Infak dan Sedekah.

Berdasarkan pada penghitungan analisis regresi Logistik, dapat diketahui :

1. Untuk mengetahui pengaruh secara individu (parsial) variabel bebas (Religiusitas (X1) terhadap variabel

terikat (Keputusan Mahasiswa (Y) dilakukan dengan pengujian (Uji Wald). Berdasarkan hasil dari uji tersebut terdapat bahwa Religiusitas yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap Minat Mahasiswa dalam Infak dan Sedekah. Religiusitas berpengaruh signifikan dikarenakan adanya pengaruh keyakinan, pengalaman, penghayatan, pengetahuan dan konsekuensi yang merupakan satu kesatuan dari religiusitas yang dinilai oleh mahasiswa dalam pengaruh keputusan mahasiswa melakukan infak dan sedekah.

2. Untuk mengetahui pengaruh secara individu (parsial) variabel bebas (Pengetahuan Mahasiswa (X2) terhadap

variabel terikat (Keputusan Mahasiswa (Y) dilakukan dengan pengujian (Uji Wald). Berdasarkan hasil dari uji tersebut terdapat bahwa Pengetahuan Mahasiswa yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap Keputusan Mahasiswa dalam Infak dan Sedekah. Pengetahuan berpengaruh signifikan dikarenakan menurut notoadmojo know, comperhention, application, analysis, synthetic dan evaluation adalah satu kesatuan dari tingkat pengetahuan yang dimiliki mahasiswa untuk meningkatkan pengaruh keputusan mahasiswa melakukan infak dan sedekah.

3. Untuk mengetahui pengaruh secara individu (parsial) variabel bebas (Pendapatan (X3) terhadap variabel

terikat (Keputusan Mahasiswa (Y) dilakukan dengan pengujian (Uji Wald). Berdasarkan hasil dari uji tersebut terdapat bahwa Pendapatan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap Keputusan Mahasiswa dalam infak dan sedekah.

(9)

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan maupun bagi pihak-pihak lain. Adapun saran yang diberikan, antara lain:

1. Diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pendapatan, karena variabel Pendapatan mempunyai pengaruh yang dominan dalam mempengaruhi Keputusan Mahasiswa terhadap berinfak dan sedekah, diantaranya dengan bekerja part time maupun menyisihkan uang saku yang diberikan orang tua, sehingga Keputusan Mahasiswa terhadap melakukan Infak dan Sedekah akan meningkat.

2. Mengingat variabel bebas dalam penelitian ini merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi Keputusan Mahasiswa terhadap mengeluarkan Infak dan Sedekah diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini dengan mempertimbangkan variabel-variabel lain yang merupakan variabel lain diluar variabel yang sudah masuk dalam penelitian ini.

Daftar Pustaka

Abd. Hamid Habbe Kanji.2011.Faktor Determinan Motivasi Membayar Zakat.

Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, 2006. Syarah Bulughul Maram. penerjemah Thahirin Suparta, Jakarta selatan: Pustaka Azzam.

Adibah Abdul Wahid dan Joni Tamkin Borhan. 2014. “Faktor Penentu Pembayaran Zakat Oleh Entiti Perniagaan di Malaysia : satu tinjauan teori”.Shariah Journal, Vol. 22, No.3.

Ali Hasan, 2006.Zakat dan Infak Salah Stu Solusi Mengatasi Problema Sosial Di Indonesia ,Jakarta: Kencana. Amirullah, Widayat. 2002. Metode Penelitian Pemasaran. Malang : CV. Cahaya Press.

Arikunto, S. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi. 1989. Manajemen Penelitian. PT. Rineka Cipta: Jakarta. Boediono, 2002. Pengantar Ekonomi, (Jakarta: Erlangga).

BN. Marbun, 2003. Kamus Manajemen, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan).

Departemen Agama RI, 2005.Al-Qur‟an dan Terjemahanya, Surabaya: Duta Ilmu.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1998.Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka).

Dirjen Bimas Islam Dan Haji, 2007 a. Manajemen Pengelolaan Zakat, Departemen Agama RI, Jakarta. Dirjen Bimas Islam Dan Haji, 2007 b. Pedoman Pengelolaan Zakat, Departemen Agama RI, Jakarta.

Dirjen Bimas Islam Dan Haji, 2008. Panduan organisasi pengelolaan Zakat, Departemen Agama RI, Jakarta. Eri Yanti, Mohd Abid, Ismail, Hairunnizam Wahid. 2017. Faktor Penentu Membayar Zakat di Badan Amil Zakat

Nasional (BAZNAS) dalam Kalangan Pembayar Zakat di Kota Medan.Shariah Journal, Vol. 25, No.1.

Fanny Ariyandini Putri, 2012. Perbedaan Tingkat Religiusitas dan Sikap Terhadap Seks Pranikah Antara Pelajar

yang Bersekolah di SMA Umum dan SMA Berbasis Agama. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas

Surabaya, Vol 1 No.1 Januari.

Ferrinadewi, 2008. Merek dan Psikologi Konsumen. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ghozali, Imam, 2007.Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Universitas Diponogoro, Semarang. Ghazali, Akhmad. 2014. Pengaruh Religiusitas dan Pelayanan terhadap Loyalitas Nasabah Tabungan Wadiah

di PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu Tulungagung. Skripsi. Tulungagung: Fakultas

(10)

Gusfahmi, 2011. Pajak Menurut Syariah, Jakarta: Rahagrafindi Persada.

Hanwar Ahmad Sidiq, “Pengaruh Pengetahuan Zakat, Tingkat Pendapatan, Religiusitas dan Kepercayaan

Kepada Organisasi pengelolah Zakat Terhadap Minat Membayar Zakat Pada Lembaga Amil Zakat”.

Hafihuddin, Didin, 1998. Panduan Praktis tentang zakat Infaq dan Sedekah, Gema Insani, Jakarta.

Hasan, Ali Muhammad, 2006. Zakat dan Infaq: Salah Satu Solusi Mengatasi Problema Sosial di Indonesia, Kencana Predana Media Group, Jakarta.

Henry Eryanto dan darma rika, 2013. “Pengaruh Modal Budaya, Tingkat Pendidikan Orang tua dan Tingkat Pendapatan Orang Tua Terhadap Prestasi akademik pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas

Negeri Jakarta”.Jurnal Pendidikan Ekonomi danBisnis , Volume 1, No 1, Maret.

Isnaini, Yulinda. 2018. “Pengaruh pengetahuan zakat, tingkat pendapatan, tingkat keimanan dan kepercayaan

terhadap motivasi muzakki profesi ( studi kasus dirumah zakat cabang Semarang)”. Skripsi. Universitas

Negeri Wali Songo Semarang.

Jaffri, Ram Al, S.& Kamil, M. I., Zainol, B..2012. Islamic religiosity measurement and its relationship with

business income zakat compliance behavior. Jurnal Pengurusan.

Kahmad, Dadang, 2009.Sosiologi Agama, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. M. Taufiq Amir, 2005.Dinamika Pemasaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Mahyu Danil, “Pengaruh Pendapatan Terhadap Tingkat Konsumsi pada Pegawai Negeri Sipil di Kantor Bupati

Kabupaten Bireuen”, Journal Ekonomika Universitas Almuslim Bireuen Aceh, Vol. IV No.7.

Martono, Nanang. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada. M.Zaidi Abdad,2003. Lembaga Perekonomian Umat, Bandung: Angkasa.

Munrokhim Misanam dkk, 2008. Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada).

Mustaq Ahmad, 2003.Etika Bisnis Dalam Islam,Terjemahan Samson Rahman, Jakarta:Pustaka Al-Kautsar. Notoatmodjo, S. 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nur Rianto Al Arif, 2010. Teori Mikro Ekonomi Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group).

Qaradhawy, Yusuf, 2009. Kitab Zakat, Bina Ilmu, Yogyakarta.

Qardawi, Yusuf, 1996. Hukum Zakat, Litera Antar Nusa Dan Mizan, Jakarta.

Ritonga, Andy Riswan, 2012. “Analisis Faktor-Faktor Pendorong Masyarakat Membayar Zakat, Infaq Dan

Shadaqah (ZIS) Melalui BAZDA Sumatera Utara”. Skripsi. Universitas Sumatra Utara.

Rina Rizki, Muhammad Alfan dan M.Shabri. 2014. “Pengaruh Faktor Budaya, Motivasi, Regulasi dan Pemahaman Tentang Zakat Terhadap Keputusan Muzakki untuk Membayar Zakat Maal (studi para muzakki di Kota Sabang)”. Jurnal Telaah & Riset Akuntansi Vol. 7 No.1.

Rodney Stark and Charles Y. Glock. 1968. Berkeley and Los Angeles: University of California Press, American

Piety: The Nature Of Religious Commitment.

Sari, Kartika Elisa, 2006. Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf, PT.Grasindo, Jakarta.

Setiawan, Fery. 2015. “Pengaruh Religiusitas Dan Reputasi Terhadap Minat Muzakki Dalam Membayar Zakat

(11)

Shihab, Quraish Muhammad, 2000. Wawasan Al-Quran, Mizan, Bandung. Sri Nurhayati,2014. Akuntansi Syariah di Indonesia, Jakarta:Salemba Empat.

Sugiyono, 2009.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta. Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suherman Rosyidi, Pengantar Teori Ekonomi, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006).

Undang-undang No.23 tahun 2011Tentang Pengelolaan Zakat dan Peraturan Pemerintahan no.14 tahun 2014.

Undang-undang No.23 tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat dan Peraturan Pemerintahan pasal 4 tahun 2014.

Wawan dan Dewi, 2010.Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia, Yogyakarta : Nuha Medika.

Yusuf Qardawi, 2004. Hukum Zakat: Studi Komperatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur‟an dan Hadits, Jakarta: PT. Mitra Kerjaya Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk meyakinkan masyarakat agar menjalankan perilaku hidup sehat bukan hal yang mudah sehingga perlu menggunakan pendekatan khusus, salah satunya adalah komunikasi

Formulasi dari struktur aktiva adalah sebagai berikut: Struktur aktiva :  Aktiva Total Tetap  Aktiva Total (Syamsudin 2001:9) Perusahaan yang mempunyai aktiva tetap jangka panjang

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

Personalisasi reward dalam penelitian ini masih terbatas karena menggunakan Finite State Machine yang perilakunya terbatas, sehingga jika dimainkan berulangkali maka

Belum adanya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempat yang tepat membuat kontribusi sampah yang mencemari sungai semakin meningkat. Hal ini didukung dengan

Selain dari beberapa karya di atas, Fazlur Rahman pernah menulis artikel yang berjudul “Iqbal in Modern Muslim Thoght” Rahman mencoba melakukan survei terhadap

Dengan mempertimbangkan pilihan-pilihan adaptasi yang dikembangkan PDAM dan pemangku kepentingan, IUWASH juga merekomendasikan untuk mempertimbangkan aksi-aksi adaptasi

deskripsi yang dapat diambil dari aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD pada siklus II pertemuaan pertama