Analisis Vegetasi Mangrove dan Keanekaragaman Jenis Ikandi Kawasan Mangrove Desa Lubuk Kertang Kecamatan Pangkalan Brandan Barat Kabupaten Langkat Sumatera Utara

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan di wilayah pesisir dan antara makhluk hidup itu sendiri, yang terpengaruh pasang surut air laut dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang mampu tumbuh dalam perairan asin/payau. Indonesia mempunyai luas hutan mangrove 25% dari luas hutan mangrove yang ada di dunia (Sanudin dan Harianja, 2009).

Mangrove merupakan salah satu ekosistem utama penyusun wilayah pesisir tropis selain pelagis estuaria, padang lamun dan terumbu karang. Ekosistem ini diketahui mempunyai fungsi ekologis sangat penting, yaitu sebagai penyangga ekosistem pantai lainnya antara lain terhadap badai dan abrasi, juga sebagai tempat memijah, mengasuh, dan mencari makan bagi berbagai hewan-hewan laut dan darat (Samosir, dkk., 2010).

(2)

Ekosistem mangrove merupakan mata rantai utama yang berperan sebagai produsen dalam jaring makanan ekosistem pantai. Ekosistem ini memiliki produktivitas yang tinggi dengan menyediakan makanan berlimpah bagi berbagai jenis hewan laut dan menyediakan tempat berkembang biak, memijah, dan membesarkan anak bagi beberapa jenis ikan, kerang, kepiting, dan udang. Berbagai jenis ikan baik yang bersifat herbivora, omnivora maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar mangrove terutama pada waktu air pasang (Martuti, 2013).

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku Kerusakan Mangrove menjelaskan bahwa status kondisi mangrove adalah tingkatan kondisi mangrove pada suatu lokasi tertentu dalam waktu tertentu yang dinilai berdasarkan kriteria baku kerusakan mangrove. Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan dapat menimbulkan dampak terhadap kerusakan mangrove, oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengendalian, dimana salah satu upaya pengendalian untuk melindungi mangrove dari kerusakan adalah dengan mengetahui adanya tingkat kerusakan berdasarkan kriteria baku kerusakannya. Kriteria baku kerusakan mangrove untuk menentukan status kondisi mangrove diklasifikasikan dalam tiga tingkatan yaitu :

1. Sangat baik (sangat padat) dengan penutupan ≥ 75% dan kerapatan ≥ 1.500 pohon/ha;

2. Rusak ringan (baik) dengan penutupan antara ≥ 50% - <75% dan kerapatan ≥1.000 pohon/ha - <1.500 pohon/ha;

(3)

Jenis-jenis dan Zonasi Mangrove

Mangrove merupakan ekosistem yang sangat unik karena habitatnya yang khas sehingga tidak banyak jenis tumbuhan yang mampu hidup dalam kondisi tersebut. Jumlah jenis mangrove di Indonesia mencapai 89 jenis yang terdiri dari 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit. Dari 35 jenis pohon tersebut, yang umum dijumpai di pesisir pantai adalah Avicennia sp, Sonneratia sp, Rhizophora sp, Bruguiera sp, Xylocarpus sp, Ceriops sp, dan Excoecaria sp (Bengen, 2000).

Menurut Sari, dkk (2014), hutan mangrove dibagi menjadi zonasi-zonasi berdasarkan jenis vegetasi yang dominan, mulai dari arah laut ke darat sebagai berikut:

1. Zona Avicennia sp.; terletak paling luar dan berhadapan langsung dengan laut. Zona ini umumnya memiliki substrat lumpur dan kadar salinitas tinggi. Zona ini merupakan zona pionir karena jenis tumbuhan ini memiliki perakaran yang kuat untuk menahan gelombang dan mampu membantu dalam proses penimbunan sedimen.

2. Zona Rhizophora sp.; terletak di belakang zona Avicenia sp., substratnya masih berupa lumpur lunak, namun kadar salinitasnya lebih rendah. Mangrove pada zona ini masih tergenang pada saat air pasang.

3. Zona Bruguiera sp.; terletak di belakang zona Rhizophora sp. dan memiliki substrat tanah berlumpur keras. Zona ini hanya terendam pada saat air pasang tertinggi atau 2 kali dalam sebulan.

(4)

Fungsi dan Peranan Hutan Mangrove

Peranan ekosistem mangrove yang unik dan penting sudah banyak diketahui orang. Mangrove dibagi menjadi dua bagian, dipandang dari sudut ekosistemnya dan dari sudut komponennya. Dari sudut ekosistem, dilihat kegunaan hutan secara utuh, termasuk daerah litoral dan pantai di sekitarnya, untuk berbagai keperluan dan kesejahteraan manusia dan lingkungan secara umum. Sedangkan dari sudut komponen, dilihat komponen biotik utama, terutama tumbuhan yang dipergunakan untuk berbagai keperluan manusia (Wibowo dan Handayani, 2006).

Hutan mangrove juga berperan sebagai habitat alami satwa liar dan merupakan daerah asuhan beberapa binatang akuatik. Fungsi ekosistem mangrove sebagai feeding ground, spawning ground, dan nursery ground akan membuat ikan-ikan berkumpul dan menjadi habitat yang cocok bagi ikan. Menurut Mahmudi (2010) masuknya nutrien dari serasah daun mangrove merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas perikanan di wilayah pesisir. Sumberdaya ikan yang terdapat pada ekosistem tersebut, baik yang menetap atau hanya transit untuk berpijah dan memelihara anakannya semakin menambah keanekaragaman hayati pada kawasan tersebut.

(5)

Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis dan ekonomi yang sangat bermanfaat. Secara ekologis ekosistem mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning grounds) dan daerah pembesaran (nursery grounds) berbagai biota perairan seperti ikan, udang, kerang dan lainnya. Selain itu serasah mangrove (berupa daun dan ranting) yang jatuh di perairan setelah melalui proses dekomposisi akan menjadi sumber pakan dalam lingkungan perairan. Ekosistem mangrove juga, merupakan habitat bagi berbagai jenis burung, reptilia, mamalia dan jenis organismelainnya, sehingga hutan mangrove menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity) dan plasma nutfah yang tinggi serta berfungsi sebagai sistem penunjang kehidupan (Wantasen, 2013).

Akar dan batang pohon serta ranting-ranting mangrove sebagai tempat berlindungnya benur dan nener yang pada saat air pasang oleh petani tambak didorong masuk ke dalam tambak, beberapa nelayan juga menangkapnya sebelum masuk tambak. Masyarakat juga memanfaatkan lahan di dalam hutan mangrove sebagai “tempat jebakan” dengan membuat kubangan di tanah yang berfungsi sebagai penjebak kepiting (Harahap, 2010).

Jenis-jenis Ikan Pada Ekosistem Mangrove

Spesies ikan yang dominan di perairan dataran lumpur merupakan spesies estuarin, yaitu Ikan Manyung (Osteogeneiosus militaris), Ikan Keting (Arius caelatus), Ikan Sembilang (Plotosuscanius), Ikan Belanak (Liza argentez), Ikan

(6)

Gelodok Mud skippers yang mampu hidup di luar air dalam waktu relatif lama. Periopthalmus vulgaris sering berlama-lama jauh dari air. Boleopthalmus

boddaerti, Periopthalmus chrysospilos, Periophthalmodon schlosseri, dan

Scartelaos viridis dapat ditemukan di bawah tanaman bakau (Chong, dkk., 1990).

Parameter Lingkungan Perairan

Laevastu dan Hayes (1987) mengatakan bahwa faktor lingkungan dapat mempengaruhi metabolisme dan berpengaruh terhadap perbedaan distribusi regional ikan, dimana setiap individu memiliki kesukaan hidup yang berbeda. Secara lingkungan kepastian faktor-faktor lingkungan belum diketahui secara pasti namun kondisi mangrove yang mempunyai vegetasi yang lebih tua dan tutupan kanopi, kandungan organik dan ketebalan lumpur yang lebih tinggi diduga lebih disukai sebagai tempat untuk hidup.

a. Suhu

Suhu air sangat dipengaruhi oleh jumlah cahaya matahari yang jatuh ke permukaan air yang sebagian dipantulkan kembali ke atmosfer dan sebagian lagi diserap dalam bentuk energi panas. Pengukuran suhu sangat diperlukan untuk mengetahui karakteristik perairan. Suhu air merupakan faktor abiotik yang memegang peranan penting bagi hidup dan kehidupan organisme perairan (Barus, 2004).

(7)

fisik air lainnya. Suhu air permukaan di perairan nusantara umumnya berkisar antara 28-31oC. Suhu air dapat berpengaruh terhadap beberapa fungsi fisiologi seperti respirasi, metabolisme tubuh, pertumbuhan dan reproduksi (Latupapua, 2011).

b. pH

Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir pada pH yang rendah. Apabila pH turun, maka yang akan terjadi antara lain: penurunan oksigen terlarut, konsumsi oksigen menurun, peningkatan aktivitas pernapasan, dan penurunan selera makan. Rentang toleransi pH sekitar 6,0-9,0, dan pH yang optimal sekitar 7,0-8,5 (Wantasen, 2013).

pH merupakan faktor pembatas bagi organisme yang hidup di suatu perairan. Perairan dengan pH yang terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi ketahanan hidup organisme yang hidup didalamnya, sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai kisaran pH sekitar 7-8,5 (Asriani, dkk., 2013).

c. DO (Dissolved Oxygen)

Oksigen terlarut sangat penting bagi pernafasan organisme-organisme akuatik. Pada suhu tinggi kelarutan oksigen rendah dan pada suhu rendah kelarutan oksigen tinggi. Tiap-tiap spesies biota akuatik mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap konsentrasi oksigen terlarut di suatu perairan (Odum, 1983).

(8)

tekanan atmosfer dan turbulensi air. Kelarutan oksigen dan gas-gas lain akan berkurang dengan meningkatnya salinitas sehingga oksigen di laut cenderung lebihrendah daripada kadar oksigen di perairan tawar. Dissolved oxygen (DO) di perairan laut berkisar antara 11 mg/liter pada 0oC dan 7 mg/liter pada suhu 25oC (Effendi 2003).

d. Salinitas

Salinitas adalah berat garam dalam gram per kilogram air laut. Effendi (2003) mengemukakan bahwa nilai salinitas perairan tawar biasanya kurang dari 0,5 ppt, perairan payau antara 0,5–30 ppt, perairan laut 30–40 ppt dan perairan hipersalin dapat mencapai 40–80 ppt. Salinitas pada kedalaman 100 meter pertama, dapat dikatakan konstan, walaupun terdapat sedikit perbedaan yang tidak mempengaruhi ekologi secara nyata. Sedangkan pada kedalaman 0 hingga hampir mencapai 1.000 m, salinitas antara 35,5 dan 37 ppt.

e. Substrat

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (8 Halaman)