• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN METODE GAMBAR UNTUK ANAK DISE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGGUNAAN METODE GAMBAR UNTUK ANAK DISE"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN METODE GAMBAR UNTUK ANAK DISELEKSIA MAKALAH DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS BAHASA INDONESIA

DOSEN : Drs.Purwadi,M.pd.

NAMA : Nabila Fitria Rizki NIM : K 5114030

PENDIDIKAN LUAR BIASA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Begitu pula dengan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus (UU No. 20 Tahun 2003 dalam Sub Dinas PLB Jabar, 2007). Warga negara yang berkelainan tersebut dan masih berusia anak–anak disebut Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Anak diseleksia sebagai bagian dari anak berkebutuhan khusus, tentunya mereka juga berhak memperoleh pendidikan khusus agar dapat berkembang sesuai dengan potensinya. Dalam proses pendidikan formal, anak diseleksia (sebutan umum bagi anak berkesulitan belajar membaca secara khusus) ini banyak ditemui di sekolah reguler (SD), terutama di kelas I, 2 dan 3. Meskipun demikian jumlah pasti anak diseleksia di Indonesia khususnya di Jawa Barat belum dapat dipastikan (Sunardi dan Sugiarmin, M., 2001). Prevalensi tentang jumlah siswa yang mengalami kesulitan belajar pada setiap kelas belum bisa diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan 2-10% (Somad, P., 2002:40). Anak berkesulitan belajar keberadaanya sering dianggap sebagai siswa yang berprestasi rendah (underachivers) umumnya kita temui di sekolah reguler (Delphie, B, 2006 :24). Anak diseleksia banyak ditemui di sekolah reguler karena kelainan yang mereka miliki tidak kasat mata sehingga mereka bisa diterima di sekolah reguler. Gorman C dalam Majalah Time mengemukakan sekitar 10%-20% anak usia sekolah dasar mengalami diseleksia. Kesulitan ini secara langsung maupun tidak menyebabkan kesulitan belajar di berbagai bidang. Keberadaan anak diseleksia sampai saat ini belum banya mendapat layanan yang memadai. Kebutuhan khusus membutuhkan penanganan tersendiri banyak digantungkan pada peran guru kelas disamping mengajar anak-anak lainnya. Permasalah ini masih tetap menjadi tantangan pada dunia pendidikan ketika kehadiran seorang guru pendamping khusus belum terealisasikan di berbagai lembaga pendidikan terutama sekolah dasar.

(3)

sering dikeluhkan sebagai sumber permasalahan yang menghambat proses belajar dalam mendidik anak, sehingga tujuan belajar tercapai.

Diseleksia adalah gangguan belajar membaca yang sering dialami oleh siswa yang belajar di jenjang lebih tinggi dan menyebabkan individu yang berkesulitan membaca untuk melakukan kegiatan belajar yang efektif. Umumnya terjadi pada anak usia dini yang baru mengenal huruf. Bahkan, faktor penyebabnya tidak mudah untuk ditetapkan dan diketahui. Diseleksia merupakan isu yang berkepanjangan dalam dunia pendidikan karena kelainan ini sulit diatasi, namun dengan dukungan intervensi yang tepat individu berkesulitan membaca dapat melaksanakan tugas belajarnya dan sukses dalam pelajarannya.

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu menemukan metode yang tepat bagi anak diseleksia agar dapat membedakan satu huruf dengan huruf lainnya. Diharapkan dalam makalah ini dapat menjawab persoalan pengajaran membaca permulaan bagi anak dysleksia. Dan semoga dalam makalah ini dapat membantu para mahasiswa memahami secara lebih mendalam tentang metode gambar untuk anak diseleksia.

PEMBAHASAN

Diseleksia merupakan kondisi yang berkaitan dengan kemampuan membaca yang sangat tidak memuaskan. Individu yang mengalami D memiliki IQ normal, bahkan diatas normal, akan tetapi memiliki kemampuan membaca 1 atau1 ½ tingkat dibawah IQnya. Kasus Diseleksia Ditemui antara 3-6% dari jumlah penduduk. Namun, kasus yang berkaitan dengan kesulitan membaca tidak digolongkan kedalam diseleksia ditemui lebih dari 50% dari jumlah penduduk (Child Development Institute, 2008:1).

(4)

kesulitan membaca karena ketidakmampuan dalam mendengarkan ucapan huruf-huruf secara baik.

Lovitt (1989:51-52) membahas tentang kesulitan belajar yang berkaitan dengan genetika dan kesulitan belajar. Diantaranya penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti dari Swedia. Penelitian mereka yang dilakukan pada 276 individu yang mengalami Diseleksia. Hasil penelitian membuktikan diseleksia disebabkan oleh faktor genetika. Hollagran (1950) mengemukakan berbagai bukti tentang membaca dan masalah bahasa terjadi di dalam keluarga dan ia menyimpulkan bahwa genetika menjadi penyebab masalah tersebut. Selanjutnya, Hermann (1959) membuktikan 12 pasang identical twins (kembar identik) yang tidak dapat membaca dengan 33 pasang fraternal twins (kembar nonidentik). Hasil penelitian menunjukkan kesulitan membaca lebih banyak terjadi pada fraternal twins daripada identical twins. Dengan demikian, Hermann menyimpulkan kesulitan membaca berhubungan dengan faktor genetika. Penelitian Hermann didukung oleh penelitian Mathenery Dolan dan Wilson (1974). Drake (1989) mengatakan “masalah diseleksia dirujuk kepada beberapa ciri, antaranya: kesukaran belajar berbahasa, ketidakseimbangan intelektual, tidak lancar membaca sesuatu bahan bercetak, tidak dapat menulis dengan lancar dan tepat (kesukaran meniru tulisan dari papan hitam atau buku), mata menjadi lelah setelah beberapa menit menumpu pada tulisan, dan lemah dalam pendengaran dan pengamatan visual.” Murid yang lemah dalam pembelajaran seperti mengalami diseleksia perkembangan ialah kanak-kanak yang membaca kurang baik berbanding dengan kanak-kanak yang lebih muda darinya kerapkali ditempatkan ke dalam kelas pemulihan khas. Kelas pemulihan khas diwujudkan bagi mengatasi kegagalan menguasai kemahiran 3M iaitu membaca,menulis dan mengira.

Karakteristik diseleksia dan kesulitan membaca memiliki ciri-ciri :

1. Membaca secara terbalik tulisan yang dibaca seperti : duku dibaca kudu, d dibaca b, p dibaca q.

2. Menulis huruf secara terbalik.

3. Mengalami kesulitan dalam menyebutkan kembali informasi yang diberikan secara lisan.

4. Kualitas tulisan buruk, karakter huruf tidak jelas. 5. Kemampuan menggambar kurang baik.

(5)

Dyslexia diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Dyslexia diseidetis atau Visual

Dyslexia ini disebabkan oleh gangguan fungsi otak belakan yang dapat menimbulkan gangguan persepsi visual adan memori visual. Sebagai contoh, anak sering terbalik huruf M dengan huruf W, u dengan n, dsb. 2. Dyslexia verbal atau linguistik

Ditandai dengan kesukaran dalam diskriminasi atau persepsi auditoris sehingga anak sulit daklam mengeja dan menemukan kata atau kalimat. 3. Dyslexia auditories

Terjadi akibat gangguan dalam koneksi visual auditif, sehingga membaca terganggu atau lambat. Dalam hal ini, bahasa verbal dan persepsi visualnya baik.

Bentuk-bentuk kesulitan membaca anak dyslexia antara lain : 1. Menambahkan huruf dalam suku kata

Misalnya : Batu Baltu Buku Bukuku

2. Menghilangkan huruf dalam suku kata Misalnya : Baskom Bakom

Kamar Kama

3. Membalikkan bentuk huruf, kata, atau angka kearah terbalik Misalnya : Duduk Bubuk

Lupa Palu

4. Membalikkan bentuk huruf keatas bawah Misalnya : Mama Wawa

Nana Uaua

(6)

stategi membaca yang sesuai sehingga mereka dapat belajar dengan baik. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru untuk melakukan asesmen. Asesmen diperlukan dalam menganalisis dan menanggulangi anak kesulitan membaca. Dalam hal ini, asesmen dilakukan dengan dua cara yaitu : Asesmen formal dan asesmen nonformal.

1. Asesmen formal

Asesmen ini menggunakan alat-alat asesmen yang telah dibakukan dan tidak dapat dirubah, seperti :

a) Woodcock mastery reading

Salah satu bentuk asesmen yang dapat digunakan untuk anak usia 6 tahun sampai dengan 11 tahun, yang meliputi : identifikasi huruf, menentukan kata yang sesuai, pemahaman kata, dan pemahaman paragraf.

b) Test of written language primari

Tes baku yang bertujuan untuk kekuatan dan kelemahan kemampuan bahasa baik secara receptive(menerima bahasa) maupun

expressive(inisiatif bahasa). Tes ini digunakan untuk anak usia 4 tahun sampai dengan 8 tahun.

Test of written language primari terdiri sebagai subtes seperti: gambar berisi kosakata, kosakata secara lisan, pemahaman tata bahasa, peniruan kata, membedakan kata, dan artikulasi kata.

2. Asesmen nonformal

Asesmen ini digunakan untuk mengidentifikasi individu yang berkesulitan membaca dengan bentuk asesmen nonbaku dan diperoleh hasil yang relatif tidak berubah. Tujuan dari asesmen ini untuk memperoleh informasi tentang tingkat kemampuan membaca dari segi tingkat mandiri, tingkat pembelajaran dan tingkat mengecewakan. Lerner dan khiebhan (1978) menjelaskan bahwa penentuan tingkat kemampuan membaca sebagai berikut:

a) Tingkat mandiri: apabila anak dapat membaca dengan tingkat pemahaman 90%-100%.

(7)

c) Tingkat mengecewakan: apabila dapat membaca dengan lancar dengan tingkat kesalahan 10% dan pemahaman terhadap isi bacaan 50%. Untuk meelakukan asesmen yang dapat mengidentifikasi tingkat kemampuansiswa dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Memilih atau membuat paragraf yang terdiri dari 100 kata dan disesuaikan dengan kemampuan siswa.

b) Menyuruh siswa membaca paragraf tersebut dengan bersuara.

c) Menyuruh siswa menjawab 3-4 pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan tersebut.

Penanggulangan kesulitan membaca

Lerner (1988) dan Zipprich Mary Ann, serta Stephane(2009:17) mengelompokkan strategi penanggulangan kesulitan membaca kedalam dua kelompok, yaitu strategi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenalan dan membaca lancar, serta strategi untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Strategi peningkatan kemampuan pengenalan kata dan membaca lancar dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satunya adalah metode gambar, yang dirangkai dengan satu metode dengan nama phonic method yaitu metode nenyebutkan suara huruf atau yang berarti mengeja. Metode ini merupakan metode konvesional yang telah diterapkan bertahun-tahun, terhitung sejak kegiatan belajar membaca dilakukan yaitu dari memperkenalkan huruf –huruf pada anak secara terpisah atau satu per satu dan mengajak anak menyebutkan suara-suara huruf tersebut. Selanjutnya, huruf tersebut dirangkai menjadi kata yang bermakna. Berikut pelaksanaannya:

 Anak diminta menyebutkan suara huruf B,O,L,A,N.

 Anak diminta menyebutkan suara huruf kecil tersebut b,o,l,a,n.

(8)

 Anak diminta menyebutkan nama benda-benda yang dimulai dengan huruf B.

 Anak diminta menempelkan kata-kata yang sesuai dengan nama benda

yang ada dalam gambar.

Manfaat dari metode ini adalah dapat dipakai untuk bermain sambil belajar dengan bermacam-macam gambar yang berwarna-warni, sehingga anak didik tidak merasa terbebani saat ia membaca, dengan syarat metode ini digunakan terus dan diulang-ulang oleh guru. Manfaat lainnya yaitu latihan untuk meningkatkan konsentrasi anak, menambahkan kosakata kata, mendorong kreativitas, imajinasi, serta memperluas pengetahuan.

SIMPULAN

(9)

permulaan anak diseleksia sebagai berikut: Dyslexia diklasifikasikan sebagai

6. Membalikkan bentuk huruf, kata, atau angka kearah terbalik 7. Membalikkan bentuk huruf keatas bawah

Layanan bantuan untuk anak berkesulitan membaca/dylexia dengan cara melakukan asesmen terhadap kemampuan membaca, baik menggunakan asesmen formal (tes survei dan diagnosis) serta asesmen informal (Informal reading inventory, prosedur klos, dan asesmen minat membaca). Strategi peningkatan kemampuan pengenalan kata dan membaca lancar dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satunya adalah metode gambar, yang dirangkai dengan satu metode dengan nama phonic method yaitu metode nenyebutkan suara huruf atau yang berarti mengeja. Metode ini merupakan metode konvesional yang telah diterapkan bertahun-tahun, terhitung sejak kegiatan belajar membaca dilakukan yaitu dari memperkenalkan huruf –huruf pada anak secara terpisah atau satu per satu dan mengajak anak menyebutkan suara-suara huruf tersebut. Meskipun anak mengalami kesulitan membaca, terkadang anak mempunyai kelebihan, seperti dalam bidang musik, seni grafis, dan aktivitas kreatif lainnya. Anak-anak dyslexia menggunakan cara berpikir melalui gambar, tidak dengan huruf, angka, simbol, bahkan kalimat. Kesulitan mereka adalah bagaimana menyatukan informasi yang ada dan mengolah informasi tersebut. Dalam kasus ini, hal yang perlu dilakukan guru dan orang tua sebagai berikut :

1. Memahami keadaan anak.

Tidak membandingkan anak dengan anak lain yang mempunyai kemampuan lebih. Jangan pula memberikan latihan dan tugas yang memberatkan, mulailah menulis singkat dan pendek saja.

2. Menulis dengan media lain.

Anak dyslexia kurang bisa menulis dengan baik di atas kertas, tidak ada salahnya apabila sengganti dengan media elktronik seperti notebook, komputer, dsb.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Mohd,Rohaty (2005), Simptom Diseleksia Kanak-kanak Prasekolah, a aaaaaaaaaaMalaysia : www.ukm.ed.my

Subini, Nini (2013), Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak, Jogjakarta : aaaaaaaaaaJavalitera

Santoso, Hargio (2012), Cara Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, aaaaaaaaaaJogjakarta : Gosyen Publishing

Somantri, Sutjihati (1996), Psikologi Anak Luar Biasa, Jakarta : Depdikbud Kosasih (2012), Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : aaaaaaaaaaYrama Widya

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi alat destilasi air enegi surya yang telah dilakukan diantaranya: pengaruh temperatur udara sekitar, jumlah

Pemisahan dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom menggunakan eluen elil asetat : petroleum benzene dengan perbandingan 1:1, karena dari hasil analisis

Artinya variabel tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.. a) Quick look: bila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih,

Satuan Tugas Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Belu mengamankan sedikitnya 8 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal yang diduga hendak berangkat ke Malaysia, Dari

Teori kepemimpinan transaksional menyatakan bahwa peran seorang pemimpin adalah menyediakan apa yang pengikut butuhkan untuk dapat berprestasi secara

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Dina Nur Afiani, menyatakan bahwa skripsi dengan judul : PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN, PENEKANAN ANGGARAN DAN ASIMETRI

Two months after planting, there were no e ff ects of kinetin on plant growth, however, PGPR still had positive e ff ects on the leaf area of grain corn, but they decreased the

Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa daya saing mahasiswa pendidikan geografi universitas hamzanwadi masih perlu ditingkatkan. Sementara itu