PENINGKATAN MOTIVASI DAN KAITANNYA TERHADAP HASIL BELAJAR
Oleh : Septiana Fajrin
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Psikologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK: Ketika seorang pendidik mengajarkan hal yang benar dengan cara yang benar, motivasi pada peserta akan muncul dan prestasi peserta didik akan baik. Jika peserta didik tidak menikmati belajar, atau ada sesuatu yang salah dengan kurikulum dan instruksi pendidik maka motivasi siswa akan melemah dan berpengaruh pula pada prestasi belajar peserta didik.motivasi dilihat sebagai sesuatu yang dominan bagi prestasi belajar siswa. Teori-teori motivasi membantu pendidik dalam memahami konsep tentang motivasi sehingga dapat memotivasi peserta didik dalam melakukan proses pendidikan, tak lupa hasil belajar pun mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran dimana dapat melihat sejauh mana peserta didik memahami akan materi yang telah disampaikan pendidik.
Kata kunci: Motivasi, Hasil belajar, Pendidik dan Peserta didik
ABSTRACT: When an educator teaches the right things in the right way, the students' motivation and achievement will emerge will be better learners. If the students do not enjoy learning, or there is something wrong with the curriculum and instruction educators will weaken students' motivation and learning achievement also affect student.motivasi seen as dominant for student achievement. Motivational theories assist educators in understanding the concept of motivation that can motivate learners in the educational process, learning outcomes also did not forget to have an important role in the learning process which can be seen the extent to which learners will understand the material that has been submitted by teachers.
Keywords: Motivation, Learning outcomes, Teacher and Student
A. Pendahuluan
menjelaskan inisiasi, arah, intensitas, ketekunan, dan kualitas perilaku, perilaku terutama diarahkan pada tujuan.
Masalah motivasi selalu menjadi hal yang menarik perhatian. Hal ini dikarenakan motivasi dipandang sebagai salah satu faktor yang sangat dominan dalam ikut menentukan hasil belajar siswa, diidentikan bila motivasi peserta didik rendah maka hasil belajarnya pun rendah. Lamb (2003) dari University of Leeds melakukan penelitian di Indonesia mengenai motivasi peserta didik di usia antara 11-12 tahun, terhadap 219 peserta didik, penelitiannya dilakukan di Sekolah menengah di pulau Sumatra, penelitiannya difokuskan terhadap motivasi belajar berbahasa Inggris, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa motivasi peserta didik terhadap keinginan belajar bahasa Inggris dipengaruhi dari pengalaman belajar bahasa Inggris, pentingnya bahasa Inggris, kegiatan yang paling disukai di dalam kelas dan komentar yang lain, untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1: Motivasi peserta didik
Faktor Motivasi Frekuensi (%)
Menonton TV 15
Mendengarkan radio 2
Mendengarkan lagu 24
Membaca buku atau majalah 6
Percakapan 2
Belajar berbahasa inggris 11
Menggunakan komputer 7
Bila dilihat dari data yang didapat dari hasil penelitian tersebut dari kegiatan mendengarkan lagu sangat berpengaruh penting bagi menumbuhkan motivasi peserta didik dalam belajar berbahasa inggris. Tidak hanya motivasi dalam mempelajari bahasa Inggris, namun motivasi dalam berbagai pelajaran yang berimbas pada hasil belajar siswa, perlu kiranya yang harus diperbaiki adalah merubah metode pembelajaran dan juga media pembelajaran yang akan menumbuhkan motivasi peserta didik.
berbeda. Bila ada peserta didik lebih termotivasi bermain dengan temannya dibandingkan belajar, maka tugas pendidik bukanlah meningkatkan motivasinya, namun menemukan, menyalakan, dan mempertahankan motivasi peserta didik terhadap kegiatan belajar demi keberhasilan di sekolah dan dalam kehidupan.
Dalam kata sederhana motivasi dapat dikatakan sebagai sesuatu yang menyebabkan seseorang melangkah, membuat seseorang tetap melangkah, dan menentukan kemana seseorang mencoba melangkah. Motivasi melakukan sesuatu dapat terjadi dalam banyak cara Stipek (Slavin, 2011). Motivasi dapat merupakan karakteristik kepribadian maupun karakteristik intrinsik suatu tugas maupun berasal dari sumber di luar tugas.
Good, Thomas L (2008) dalam bukunya menyebutkan bahwa pendekatan kognitif di dalam pendidikan didasarkan oleh tiga teori motivasi yaitu teori ekspektasi-value, teori atribusi dan teori Achievement goal theory. Ketiga teori memiliki ruang yang penting dalam menafsirkan mengapa siswa termotivasi atau tidak termotivasi, dan membantu untuk meningkatkan motivasi dan prestasi.
Artikel ini lebih menekankan dalam membahas mengenai definisi motivasi, teori motivasi menurut Abraham H. Maslow, dan motivasi terhadap hasil belajar.
B. Teori Motivasi Maslow dan Hasil Belajar Siswa
Individu berperilaku atau melakukan sesuatu tidak begitu saja berdiri sendiri, namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu dan mencapai tujuan tertentu. Apa yang ingin dicapai, mengapa individu ingin mencapai tujuan tersebut dan bagaimana cara individu mencapai tujuan dapatt berbeda-beda. Bila ada individu dan individu lain sudah termotivasi dalam melakukan sesuatu hal, ternyata tingkat motivasinya pun berbeda, apalagi tujuan yang ingin dicapainya pasti berbeda satu individu dengan yang lainnya (Slavin, 2011).
individu dan dicapai menuju kebutuhan yang selanjutnya yang dikenal dengan hierarki kebutuhan.
Gambar B.1. Hierarki Kebutuhan dari Maslow, Seseorang Harus Mencapai Aktualisasi Diri secara Bertahap, Richard (2012).
Kebutuhan Fisiologis adalah kebutuhan yang mendasar dari setiap manusia, kenbutuhan fisiologis termasuk di dalamnya adalah makanan, air, oksigen, mempertahankan suhu tubuh, dan lain sebagainya. Maslow (Feist & Feist, 2010) mengemukakan kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang mempunyai kekuatan/pengaruh paling besar dari semua kebutuhan, dan ketika manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan fisiologisnya, mereka akan hidup terutama untuk kebutuhan tersebut dan berulangkali berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
merealisasikan tujuan-tujuannya, yang terakhir dari hierarki kebutuhan yang dijelaskan oleh Maslow adalah manusia akan termotivasi hidupnya untuk mencapai aktualisasi dirinya, dimana semua yang ada di dalam tingkatan aktualisasi diri ini bersifat meta need seperti lebih terhadap ketuhanan dan lebih terhadap kepuasan hidup.
Orang akan termotivasi untuk memuaskan kebutuhan pada bagian bawah hierarki sebelumnya berupaya memuaskan kebutuhan pada bagian atas. Dalam teroi kebutuhan manusia Maslow, yang didasarkan pada hierarki kebutuhan, orang harus memuaskan kebutuhan mereka pada tingkat yang rendah (defisiensi) sebelum mereka termotivasi untuk mencoba memuaskan kebutuhan mereka pada tingkat yang lebih tinggi (pertumbuhan). Konsep Maslow tentang kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan tertinggi, didefinisikan sebagai keinginan untuk mencapai apa saja yang sanggup dicapai seseorang. Seorang peserta didik akan memcapai hasil belajar yang baik bila kebutuhan-kebutuhan mereka pada tingkatan rendah telah terpenuhi, motivasi mereka akan tumbuh dan sampai pada tingkatan paling tinggi.
Abraham Maslow memisahkan tingkat kebutuhan menjadi tingkatan rendah dan tingkatan tinggi, kebutuhan tingkat tinggi adalah kebutuhan yang dipenuhi secara internal, sedangkan kebutuhan tingkat rendah adlaah kebutuhan yang dipenuhi secara eksternal. Kekuatan suatu motivasi sangat tergantung dari dasar kekuatan suatu motif, dan besarnya kepuasan yang diantisipasi oleh seorang individu (Rosdianti dan Fatah, 2012).
atau nempertahankan kecakapan setinggi mungkin dalam segala aktivitas di mana suatu standar keunggulan digunakan sebagai pembanding. Jika dikaitkan antara motivasi berprestasi dan hasil belajar maka Individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah cenderung memperoleh hasil belajar yang rendah pula, namun individu yang bermotivasi prestasi tinggi akan memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi daripada mereka yang bermnotivasi prestasi rendah.
Contoh dari individu yang memiliki motivasi berporestasi tinggi yaitu memiliki sikap percaya diri, bertanggung jawab, aktif dalam kegiatan masyarakat dan kampus, lebih memilih orang yang ahli sebagai mitra daripada orang yang simpatik, dan lebih tahan akan tekanan sosial, Murray (Sopah, 2000). Seseorang yang bermotivasi berprestasi tinggi cenderung memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai tujuan, selalu aktif, kreatif dan inovatif dalam perlakuan setiap pekerjaan dan mengantisipasi kegagalan.
Individu tidak hanya anak-anak tetapi ternyata mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, biasanya cenderung kurang berhasil dalam menyelesaikan tugasnya, pernyataan tersebut diperkuat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Darma (2008) terhadap mahasiswa Politeknik Negeri Bali yang mana hal tersebut disebabkan karena mereka mengerjakan pekerjaan (belajar) tidak dengan penuh keyakinan, kurang tekun, kurang kreatif, dalam setiap melakukan pekerjaannya sangat tergantung bantuan orang lain.
C. Kajian Lapangan
Jika berbicara mengenai belajar, maka tentu saja akan berkaitan dengan hasil belajar. Setiap orang akan mengalami belajar dalam hidupnya, namun hasil belajar yang dicapai oleh setiap orang akan berbeda satu dengan yang lainnya, karena hasil belajar setiap orang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik eksternal maupun internal.
melaksanakan tugasnya. Busono (2003) melakukan penelitian terhadap mahasiswa mahasiswa FPTK Universitas Pendidikan Indonesia, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kebermaknaan yang dihayati oleh mahasiswa FPTK Universitas Pendidikan Indonesia ada dalam kategori sedang dan keadaan motivasi berprestasi berada pada kategori tinggi, dan hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi terhadap dengan kebermaknaan belajar.
Penelian lain mengenai motivasi dilakukan oleh Sufianti (2006) melakukan penelitiannya terhadap hubungan antara motivasi dengan prestasi akademik mahasiswa STIA LAN Bandung, dalam penelitiannya dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa STIA LAN Bandung memiliki motivasi intrinsik lebih besar daripada motivasi ekstrinsiknya. Dapat diartikan bahwa mereka memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas dirinya. Dalam hal pencapaian prestasi akademik, terdapat hubungan positif dan signifikan anatara motivasi dan prestasi akademik, yang mana semakin tinggi motivasi maka akan semakin baik prestasi akademik yang dicapai. Meskipun demikian, hubungan antara motivasi dan prestasi akademik tidak terlalu kuat, karena prestasi akademik lebih banyak dipengaruhi oleh kemampuan intelegensi (IQ) yang dimiliki seseorang.
Tidak hanya terhadap mahsiswa, pada siswa SMA pun motivasi berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, Putri, Rohendi dan Sutarno (2011) melakukan Studi kasus pada satu SMA di Bandung, dimana hasil dari studi kasus tersebut adalah motivasi belajar pada mata pelajaran TIK didukung oleh kompetensi pendidik, meskipun hanya kompetensi kepribadian dan professional saja yang terbukti secara parsial mempengaruhi motivasi belajar. Dalam kasus ini, kompetensi pendidik serta motivasi belajar berpengaruh, namun sangat kecil dalam meningkatkan hasil belajar, banyak factor lain di luar objek penelitian yang meningkatkan hasil belajar selain dari motivasi dan kompetensi pendidik.
D. Pembahasan
Motivasi merupakan seuatu kekuatan atau daya atau tenaga atau suatu keadaan kompleks atau kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari atau tidak disadari. Motivasi berperan dalam peningkatan hasil belajar seseorang. Namun besarnya dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dari dalam diri seseorang tersebut. Seseorang akan termotivasi jika kebutuhan pada tingkatan sebelumnya terpenuhi atau tercapai (hierarki kebutuhan). Jika seseorang terpenuhi kebutuhan fisiologisnya, seperti telah berkecukupan makanan, minuman, dan sebagainya, maka seseorang akan termotivasi pada tingkatan selanjutnya yaitu kebutuhan akan rasa aman, bila rasa aman telah terpenuhi oleh seseorang maka akan termotivasi pula pada tingkatan selanjutnya yaitu untuk memenuhi kebutuhan rasa cinta dan kasih sayang, jika rasa cinta dan kasih sayang telah terpenuhi maka akan termotivasi untuk mendapatkan penghargaan atau rasa keberadaannya diakui, hingga pada tingkatan paling tinggi yaitu aktualisasi diri.
Jika meninjau dari teori Maslow akan motivasi dengan teori kebutuhannya terhadap dunia pendidikan dan berkaitan pada hasil atau prestasi belajar peserta didik, seorang peserta didik harus diupayakan terlebih dahulu terpenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendasar, fisiologisnya, setelah terpenuhi kebutuhan fisiologisnya, maka upayakan bagi seorang pendidik di kelas untuk memenuhi rasa aman terhadap peserta didik, dimana peserta didik merasa aman ketika dengan pendidik, dan penuhi kebutuhan rasa cinta dan kasih sayang peserta didik, dimana pendidik memeberikan pelajaran dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang terhdap anak, maka peserta didik akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan akan pengahrgaan, dalam untuk memenuhi kebutuhan akan perngahrgaan, peserta didik dimotivasi oleh pendidik agar berprestasi baik dan mengikuti pembelajaran dengan baik dan mengerti bila berpretasi baik maka akan mendapatkan penghargaan, demi mencapai penghargaan maka peserta didik akan termotivasi dengan kuat dan hasil belajar yang akan dicapainya pun baik.
tersebut adalah aktivitas yang bersifat fisik dan mental seperti seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran audiovisual, menulis dan gambar, Sardiman (Rahmadani, Karo dan Siregar, 2010).
Pernyataan akan teori Maslow terhadap motivasi dan pendidik harus kreatif dalam melakukan proses pembelajaran dapat diperkuat dengan adanya studi penelitian yang dilakukan oleh (Rahmadani, Karo dan Siregar, 2010) terhadap siswa SMA N 6 Bandung, dimana pendidik yang kreatif dengan menggunakan model pembelajaran yang baik, disini adalah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw, dimana hasil peneliannya adalah dengan adanya model Cooperative Learning tipe Jigsaw yang dilakukan pendidik, maka aktivitas belajar dan siswapun meningkat, siswa termotivasi dengan baik begitu juga hasil belajar yang dicapai siswa baik.
Meningkatkan motivasi siswa dengan cara menumbuhkan aktivitas pembelajaran yang baik yang melibatkan siswa secara aktif adalah hal yang berdampak postif bagi hasil belajar siswa, melibatkan siswa secara aktif yaitu dengan cara meningkatkan jumlah siswa yang terlibat aktif belajar, meningkatkan jumlah siswa yang bertanya, meningkatkan jumlah siswa yang saling berinteraksi membahas materi pembelajaran. Sejalan dengan pernytaan tersebut (Rahmadani, Karo dan Siregar, 2010) mengungkapkan metode belajar yang bersifat partisipatoris yang dilakukan pendidik akan mampu membawa peserta didik ke dalam situasi yang kondusif, karena siswa lebih berperan dan lebih terbuka serta sensitif dalam kegiatan belajar mengajar.
Dari beberapa hasil studi penelitiannya yang dilakukan, ternyata dalam melibatkan siswa agar aktif dalam pembelajaran, perlu adanya pembelajaran yang menarik perhatian siswa, menumbuhkan rangsangan yang membuat siswa terangssang dan termotivasi dalam kegiatan tersebut. Tidak menutup kemungkinan, tidak hanya model pembelajaran yang tertera tersebut yang dapat menumbuhkan motivasi siswa, namun bagi seorang pendidik, perlu kiranya memiliki kekreatifan untuk menciptakan proses pembelajaran yang selalu menumbuhkan motivasi siswa agar hubungan motivasi dan hasil belajar ptositif, dimana bila hasil belajar yang baik itu dipengaruhi oleh motivasi peserta didik yang tinggi tanpa mengabaikan kebutuhan-kebutuhan seseorang seperti yang dikatakan Maslow.
E. Kesimpulan dan Implikasi
Kekuatan suatu motivasi sangat tergantung dari kekuatan dasar suatu motif, besarnya harapan atau keinginan yang akan dipenuhi dengan suatu motif, dan besarnya kepuasan yang di antisipasi oleh individu. Dengan demikian motvasi dapat berfungsi dalam mengaktifkan atau meningkatkan kegiatan. Dengan adanya perlakuan-perlakuan terhadap seseorang yang bersifat menignkatkan motifnya maka motivasi pun akan meningkat, dan tak diragukan motivasi akan berpengaruh cukup besar terhadap hasil belajar seseoang.
Tanpa mengabaikan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh setiap orang, seorang pendidik harus memenuhi kebutuhan peserta didik di dalam proses pembelajaran, dimana kuatnya motif dari kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka motivasi untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut semakin kuat hingga mencapai kebutuhan yang paling tinggi, yaitu aktualisasi diri, dimana seorang pendidik membuka seluas-luasnya terhadap peserta didik untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
belajar. Seorang pendidik mempunyai peranan penting sebagai pendidik dan pengajar, dengan kompetensi yang harus dimiliki seorang pendidik, yaitu kompetensi pedagogik (kemampuan seorang pendidik dalam memahami karakteristik atau kemampuan yang dimiliki oleh murid melalui berbagai cara), kompetensi kepribadian (mencerminkan kepribadian yang baik), kompetensi profesional (menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam.), dan kompetensi sosial (baik dalam berkomunikasi dengan murid dan seluruh tenaga kependidikan atau juga dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar). Dengan adanya kompetensi-kompetensi tersebut sudah kiranya pendidik yang baik menumbuhkan motivasi peserta didik dengan berbagai cara, dan memahami kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik.
F. Reverensi
Brophy, J. (2010). Motivating Students to Learn. New York: Taylor & Francis. Busono, T. Rr. (2003). Hubungan antara motivasi berprestasi dengan
kebermaknaan belajar mahasiswa jurusan pendidikan teknik bangunan FPTK Universitas pendidikan Indonesia. Jurnal penelitian pendidikan (Efektivitas Pendidikan). 3 (1), hlm. 106-116.
Darma, ketut. (2008). Pengaruh model pembelajaran konstruktivisme terhadap prestasi belajar matematika terapan pada mahasiswa politeknik negeri bali. Jurnal pendidikan dan kebudayaan. 14 (070), hlm. 157-181.
Feist, J. G. dan Feist, J. (2010). Teori Kepribadian (Theories of Personality). Jakarta: Salemba Humanika.
Good, Thomas L. (Ed). (2008). 21st Century Education; A Reference Handbook,
Volume 1. USA: A SAGE Reference Publication.
Griggs, A. Richard. (2012). PSYCHOLOGY (A Concise Introduction) (3rd. ed.). United States of America: Worth Publishers.
Ibrahim, N. (2005). Hubungan Antara Keterbacaan Modul dan Motivasi Berprestasi dengan Hasil Belajar Pelajaran Sejarah (Studi Korelasi pada SMA Terbuka). Jurnal Teknodik. 9 (17), hlm. 134-155.
Lamb, M. (2003). Integrative motivation in a globalizing world. Journal System, System 32, hlm. 3–19 DOI:10.1016/j.system.2003.04.002
Rahmadani, Karo dan Siregar. (2010). Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Type Jigsaw untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Dasar Teknik Mesin. Jurnal INVOTEC (Jurnal Pendidikan dan Teknologi Kejuruan). 6 (16), hlm. 476-488.
Rangga, M. dan Naomi P. (2007). Pengaruh Motivasi diri terhadap kinerja belajar mahasiswa. Jurnal Abmas (media Informasi pengabdian kepada masyarakat). 7 (7), hlm. 1-13.
Slavin, E. Robert. (2011). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik (9th. Ed.). Jakarta: PT Indeks.
Sopah, D. (2000). Pengaruh Model Pembelajaran dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 5 (022), hlm. 121-137.