KABUPATEN BOGOR
Oleh
ANDIKA PAMBUDI A14304075
PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN
Pertanian dan Permukiman di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. (Dibawah bimbingan NINDYANTORO)
Dengan semakin berkembangnya pembangunan dan meningkatnya pertambahan penduduk di Kabupaten Bogor maka lahan yang dibutuhkan untuk kegiatan non pertanian seperti permukiman, perdagangan, dan industri semakin meningkat serta sering terjadi benturan kepentingan fungsi lahan. Perubahan struktur perekonomian akibat dari berkembangnya suatu wilayah berdampak kepada perubahan nilai ekonomi lahan. Pada umumnya apabila terjadi peningkatan pendapatan penduduk akan menyebabkan naiknya permintaan komoditas non pertanian dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan permintaan komoditas pertanian, dan juga naiknya permintaan lahan untuk kegiatan diluar pertanian dengan laju yang lebih cepat dibandingkan kenaikan permintaan lahan untuk kegiatan lahan pertanian, sehingga nilai ekonomi lahan pertanian menjadi jauh lebih rendah dibandingkan dengan lahan non pertanian. Nilai ekonomi lahan yang lebih tinggi pada kegiatan non pertanian seperti permukiman, perdagangan, dan industri dibandingkan pada kegiatan pertanian mengakibatkan meningkatnya perubahan fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, bertujuan untuk (1) mengidentifikasi perubahan fungsi lahan dari kegiatan pertanian ke kegiatan non pertanian, (2) Mengidentifikasi dan menghitung perbedaan antara nilai ekonomi lahan antara lahan pertanian dan lahan non pertanian atau permukiman, dan (3) Menganalisis dan menentukan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai ekonomi lahan pada sektor pertanian dan permukiman.
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan, yaitu pada Maret hingga April 2008. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive) berdasarkan kondisi penggunaan lahan di lokasi tersebut. Pada penelitian ini diambil 60 responden yang terdiri dari 30 petani dan 30 orang pemilik lahan permukiman, pengambilan contoh/sampel dilakukan secara purposive sampling. Penelitian dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner kepada petani dan pemilik lahan permukiman. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi dalam memperkirakan nilai ekonomi lahan. Pengolahan data dilakukan secara bertahap terdiri dari analisis pertumbuhan, analisis nilai ekonomi lahan (land rent), dan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi land rent secara statistik menggunakan analisis regresi berganda.
Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan analisis pertumbuhan perubahan penggunaan lahan pertanian dalam kurun waktu tujuh tahun mengalami penurunan dengan laju pertumbuhan sebesar -2,70 persen tiap tahunnya. Sedangkan pada lahan permukiman mengalami penambahan dengan laju pertumbuhan sebesar 3,96 persen tiap tahunnya. Pada hasil perhitungan land rent,
rent pada lahan pertanian yaitu status lahan, total penerimaan, dan total biaya operasional pada taraf nyata lima persen, sedangkan variabel luas lahan, pajak, dan jarak ke pasar tidak berpengaruh nyata. Faktor-faktor yang mempengaruhi
KABUPATEN BOGOR
Oleh
ANDIKA PAMBUDI A14304075
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya Fakultas Pertanian
Nama : Andika Pambudi
NRP : A14304075
Program Studi : Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Ir. Nindyantoro, MSP NIP. 131 879 829
Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI
BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH
DIAJUKAN SEBAGAI TULISAN ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN
TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. SKRIPSI INI TIDAK
MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU
DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN
RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, Agustus 2008
Penulis dilahirkan di Kota Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 24 Juni 1986
sebagai anak ke-empat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Utomo
Kartosuwondo dan Ibu Sinar Dyah Sukiswati. Pada tahun 1992 penulis
menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak di TK Hosana Bogor, penulis
menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Polisi 1 Bogor pada tahun 1998,
pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 1 Bogor pada tahun 2001, dan
pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Bogor tahun 2004.
Penulis diterima di Program Studi Ekonomi Pertanian Sumberdaya (EPS),
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi
Masuk IPB (USMI) pada tahun 2004
Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif di beberapa kegiatan
kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian (MISETA) dan UKM Koperasi Mahasiswa (KOPMA). Selain itu,
penulis menjadi asisten dosen Mata Kuliah Ekonomi Umum selama lima semester
pada tahun 2006-2008. Penulis berkesempatan mendapatkan beasiswa Supersemar
Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas tuntunannya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi penelitian dengan judul “Analisis
Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) Pada Lahan Pertanian dan Permukiman di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor”. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi
persyaratan penyelesaian Program Sarjana pada Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi perubahan fungsi
lahan pertanian dan permukiman, menghitung perbedaan nilai ekonomi lahan
antara pertanian dan permukiman, serta menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai ekonomi lahan pada sektor pertanian dan permukiman.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tentu belum sempurna dan masih
mempunyai banyak kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari para pembaca
sangat diharapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini
berguna bagi para pembaca.
Bogor, Agustus 2008
Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada
semua pihak yang telah membantu dalam persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan
skripsi ini, terutama kepada :
1. Bapaku, Ibuku, dan Kakak-kakakku yang selalu memberikan dukungan
baik materil, moril, dan doa.
2. Bapak Ir. Nindyantoro, MSP sebagai dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, arahan, serta saran dalam menyelesaikan skripsi
ini.
3. Bapak Dr. Ir. Yusman Syaukat, MEc dan Ibu Eva Anggraini, SPi, Msi
sebagai dosen penguji utama dan dosen penguji wakil departemen yang
memberi koreksi dan masukan bagi penulisan skripsi ini.
4. Aparat-aparat Kecamatan dan Desa, serta masyarakat di Kecamatan
Ciampea yang telah bersedia menjadi responden dalam pengambilan data
primer pada penelitian ini.
5. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Dosen serta seluruh Staf Program Studi
Ekonomi Pertanian Sumberdaya yang telah sangat membantu selama
penulis menempuh kuliah.
6. Seluruh rekan-rekan EPS 41 atas dukungan, bantuan, dan persahabatannya
7. Keluarga dan teman-teman KKP Desa Kamurang, Kecamatan Cikalong
Kulon, Kabupaten Cianjur.
8. Pihak-pihak yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung atas
DAFTAR ISI
III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 18
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis... 18
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional... 24
3.3 Hipotesis... 26
IV. METODE PENELITIAN... 28
4.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 28
4.2 Jenis dan Sumber Data ... 28
4.3 Teknik Pengambilan Sampel... 29
4.4 Tahap Wawancara ... 29
4.5 Metode Analisis Data ... 30
4.5.1 Analisis Pertumbuhan... 31
4.5.2 Analisis Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) ... 31
4.5.3 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) ... 33
4.6Pengujian Model dan Hipotesis... 37
V. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN... 40
5.1 Kondisi Fisik Wilayah... 40
5.2 Kondisi Kependudukan ... 41
5.3 Kondisi Pendidikan ... 43
5.4 Kondisi Pertanian ... 43
5.5 Kondisi Perekonomian ... 44
5.6 Rencana Tata Ruang Wilayah Kecamatan Ciampea ... 46
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 50
6.1 Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian dan Lahan Permukiman ... 50
6.1.2 Perubahan Penggunaan Lahan Permukiman ... 53
6.2 Perbandingan Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) Antara Lahan Pertanian dan Lahan Permukiman ... 56
6.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) pada Lahan Pertanian ... 60
6.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) pada Lahan Permukiman ... 66
VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 73
7.1 Kesimpulan... 73
7.2 Saran... 74
VIII. DAFTAR PUSTAKA ... 76
DAFTAR TABEL Bebas / Variabel Penjelas (X) untuk Menentukan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Land Rent Lahan Pertanian. .... 36 4. Variabel tidak bebas / Variabel Respon (Y) dan Variabel
Bebas / Variabel Penjelas (X) untuk Menentukan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Land Rent Lahan Permukiman 36 5. Jarak Antar Desa (Km) di Kecamatan Ciampea Tahun 2003 ... 40
Lahan Pertanian di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor... 60
12. Analisis Ragam Model Land Rent Lahan Pertanian di
Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor... 66
13. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Land Rent
Lahan Permukiman di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor ... 67
15. Analisis Ragam Model Land Rent Lahan Permukiman di
DAFTAR GAMBAR
Nomor Teks Halaman
1. Perbedaan Land Rent Karena Perbedaan Tingkat Kesuburan Lahan. 19
2. Pengaruh Jarak Terhadap Biaya Transportasi dan Land Rent... 20
3. Hubungan Antara Land Rent dan Alokasi Sumberdaya Lahan ... 22
4. Konversi Lahan Pertanian-Permukiman Berdasarkan Land Rent...23
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Teks Halaman
1. Peta Landuse Kabupaten Bogor Tahun 2005... 79
2. Peta Kesesuian Lahan Kabupaten Bogor ... 80
3. Peta RTRW Kabupaten Bogor ... 81
4. Kuisioner untuk Lahan Pertanian... 82
5. Kuisioner untuk Pemilik Lahan Permukiman ... 85
6. Perbandingan Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) Antara Lahan Pertanian Dan Lahan Permukiman ... 86
7. Data Land Rent Lahan Pertanian di Kecamatan Ciampea ... 87
8. Data Land Rent Lahan Permukiman di Kecamatan Ciampea... 88
9. Output Minitab untuk Model Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Land rent Lahan Pertanian... 89
1.1 Latar Belakang
Lahan merupakan sumberdaya alam sebagai wadah dan faktor produksi
strategis bagi kegiatan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
Semua sektor pembangunan fisik memerlukan lahan, seperti sektor pertanian,
kehutanan, permukiman, industri, pertambangan, dan transportasi (Supamoko,
1989). Kabupaten Bogor merupakan kabupaten yang dalam pembangunannya
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini dapat disebabkan karena
Kabupaten Bogor berbatasan langsung dengan DKI Jakarta yang merupakan
Ibukota negara serta sebagai pusat pemerintahan, perekonomian, dan
perdagangan. Kabupaten Bogor bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya
yang mengelilingi DKI Jakarta, seperti Bekasi, Tangerang, dan Depok merupakan
daerah pheripheri yang berfungsi sebagai kawasan tempat tinggal atau perumahan bagi yang bekerja di Jakarta. Secara Bio-fisik kawasan Bogor, Tangerang, Bekasi,
dan Depok ditetapkan sebagai daerah resapan air untuk pasokan air tanah atau
kawasan konservasi air dan tanah, sehingga kawasan tersebut dapat memberikan
perlindungan bagi DKI Jakarta.
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor, ada tiga
fungsi utama wilayah Kabupaten Bogor, yaitu 1) penyangga bagi DKI Jakarta,
berupa pengembangan permukiman perkotaan sebagai dalam sistem Metropolitan
Jabotabek; 2) konservasi, berkenaan dengan posisi geografisnya di bagian hulu
dalam tata air untuk Metropolitan Jabotabek; 3) pengembangan pertanian,
selanjutnya makin dipicu. Berdasarkan fungsi tersebut maka Kabupaten Bogor
memiliki beberapa jenis kawasan seperti kawasan lindung, kawasan hutan
produksi, kawasan pertanian, kawasan pertambangan, kawasan peruntukkan
industri, kawasan pariwisata, dan kawasan permukiman.
Dengan semakin berkembangnya pembangunan dan meningkatnya
pertambahan penduduk di Kabupaten Bogor maka lahan yang dibutuhkan untuk
kegiatan non pertanian seperti permukiman, perdagangan, dan industri semakin
meningkat serta sering terjadi benturan kepentingan fungsi lahan. Alih fungsi
lahan cenderung tidak dapat dihindari, hal ini disebabkan perkembangan nilai
lahan yang lebih tinggi dibandingkan produktivitas pertanian, yang semakin
memicu perubahan tataguna lahan pertanian. Jumlah penduduk yang terus
meningkat juga mempengaruhi peningkatan kebutuhan tempat tinggal dan fasilitas
penunjangnya seperti rumah sakit, jalur transportasi, areal industri, dan lain-lain
yang pada akhirnya akan mempengaruhi pengurangan jumlah luas wilayah
pertanian.
Perubahan struktur perekonomian akibat dari berkembangnya suatu
wilayah berdampak kepada perubahan nilai ekonomi lahan. Nilai ekonomi lahan
yang lebih tinggi pada kegiatan non pertanian seperti permukiman, perdaganagn,
dan industri dibandingkan pada kegiatan pertanian mengakibatkan meningkatnya
perubahan fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian. Hilangnya lahan pertanian
akibat dikonversi ke penggunaan non pertanian dapat menimbulkan dampak
negatif terhadap berbagai aspek pembangunan. Salah satu dampak negatifnya
yaitu terganggunya ketahanan pangan suatu wilayah akibat berkurangnya
padahal sektor lain diluar pertanian secara umum belum mampu menyediakan
kesempatan kerja secara memadai. Permasalahan lingkungan juga akan timbul
akibat adanya konversi lahan pertanian, misalnya intensitas banjir yang cenderung
meningkat akhir-akhir ini.
Berdasarkan peta penggunaan lahan Kabupaten Bogor tahun 2005
(Lampiran 1) terlihat bahwa sebagian besar lahan digunakan untuk penggunaan
permukiman atau perkampungan, sedangkan berdasarkan peta kesesuaian lahan
(Lampiran 2) hampir seluruh lahan di Kabupaten Bogor sangat sesuai untuk
digunakan sebagai lahan pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman
tahunan. Oleh karena itu dalam peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Bogor (Lampiran 3) terdapat beberapa Kecamatan yang lebih
difungsikan sebagai lahan pertanian lahan basah, salah satunya di Kecamatan
Ciampea. Hal ini disebabkan karena keberadaan lahan pertanian memberikan
manfaat yang sangat luas secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Kecamatan Ciampea merupakan salah satu kecamatan dari 40 kecamatan
di Kabupaten Bogor yang pengembangan tata ruangnya menunjukkan pola
pengembangan baru atau ekstensifikasi. Pola tersebut merubah bentuk
pemanfaatan atau memperkenalkan bentuk pemanfaatan baru. Dengan pola ini
diharapkan muncul simpul pelayanan baru yang akan mengarah menjadi kota.
Pemanfaatan ruang di Kecamatan Ciampea terbagi menjadi beberapa kawasan
yaitu kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, kawasan
tanaman tahunan, kawasan hutan produksi, kawasan permukiman perdesaan, dan
Peningkatan penduduk yang cukup signifikan tiap tahunnya yang dapat
dilihat pada Tabel 1 merupakan faktor utama yang menyebabkan Kecamatan
Ciampea telah banyak mengalami perubahan peruntukan lahan pertanian menjadi
non pertanian. Hal ini dilihat dari menurunnya luas lahan panen tanaman pangan
yang cukup signifikan dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini (Tabel 2)
Tabel 1. Jumlah Penduduk di Kecamatan Ciampea Tahun 2003 – 2006 No. Tahun Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)
1 2003 108.817 2.131
2 2004 109.516 2.144
3 2005 120.658 2.363
4 2006 139.980 2.741
Sumber : BPS, Kabupaten Bogor dalam Angka
Tabel 2. Luas Lahan Panen (Ha) di Kecamatan Ciampea Tahun 2004 – 2006
Sumber : BPS, Kabupaten Bogor dalam Angka
Dari tabel di atas terlihat bahwa dalam kurun waktu 2004 – 2006 luas lahan panen
untuk semua jenis tanaman yang dibudidayakan di Kecamatan Ciampea
mengalami penurunan. Untuk padi sawah menurun sebesar 2.397 hektar, ubi kayu
menurun sebesar 1.123 hektar, ubi jalar menurun sebesar 383 hektar, kacang tanah
menurun sebesar 3 hektar, dan jagung menurun sebesar 24 hektar. Pemanfaaatan
ruang untuk kawasan permukiman, dalam RTRW Kabupaten Bogor rencana
penambahan kebutuhan rumah di Kecamatan Ciampea untuk tahun 2009 sebesar
4.682 unit.
Semakin meningkatnya kebutuhan dan persaingan lahan baik itu untuk
pertimbangan dalam pengambilan keputusan pemanfaatan yang paling
menguntungkan dari sumberdaya lahan yang terbatas untuk masyarakat dan
lingkungan setempat di masa sekarang dan akan datang.
1.2 Perumusan Masalah
Dari sisi ekonomi lahan merupakan input tetap utama bagi berbagai
kegiatan produksi komoditas pertanian dan non pertanian. Pada umumnya
permintaan komoditas pertanian terutama komoditas pangan kurang elastis
terhadap pendapatan dibandingkan permintaan komoditas non pertanian. Oleh
karena itu pembangunan ekonomi yang berdampak pada peningkatan pendapatan
penduduk cenderung menyebabkan naiknya permintaan komoditas non pertanian
dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan permintaan komoditas pertanian.
Peningkatan pendapatan penduduk juga akan menyebabkan naiknya
permintaan lahan untuk kegiatan non-pertanian dengan laju yang lebih cepat
dibandingkan kenaikan permintaan lahan untuk kegiatan lahan pertanian, sehingga
nilai ekonomi lahan pertanian menjadi jauh lebih rendah dibandingkan dengan
lahan non pertanian. Hal ini merupakan salah satu faktor yang mendorong
terjadinya alih fungsi lahan. Untuk mendapatkan manfaat atau keuntungan yang
tinggi dan cepat, banyak petani pemilik lahan menjual atau mengkonversi
lahannya menjadi lahan non pertanian.
Alih fungsi lahan pada kawasan pertanian beririgasi teknik maupun
kawasan yang potensial unruk irigasi teknik mengakibatkan investasi yang sudah
dikeluarkan cukup besar hilang dan dapat menurunkan produksi dan produktivitas
luas dengan kesesuaian lahan yang sesuai untuk lahan pertanian serta sumberdaya
manusia pada sektor pertanian dengan jumlah yang cukup besar, maka
mempertahankan lahan pertanian yang ada penting untuk dilakukan.
Berdasarkan latar belakang dan kondisi yang terjadi berhubungan dengan
alih fungsi lahan akibat perbedaan nilai ekonomi lahan pertanian dan non
pertanian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Seberapa besar perubahan fungsi lahan dari kegiatan pertanian ke kegiatan
non pertanian antara tahun 2000 – 2007 ?
2. Seberapa besar perbedaan nilai ekonomi lahan antara lahan pertanian dan
lahan non pertanian atau permukiman ?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai ekonomi lahan pada sektor
pertanian dan permukiman ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah yang telah disampaikan sebelumnya,
maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi perubahan fungsi lahan dari kegiatan pertanian ke kegiatan
non pertanian.
2. Mengidentifikasi dan menghitung perbedaan nilai ekonomi lahan antara lahan
pertanian dan lahan non pertanian atau permukiman
3. Menganalisis dan menentukan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan mengetahui nilai ekonomi lahan (land rent) antara lahan pertanian dan non pertanian serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, diharapkan
memberikan manfaat sebagai :
1. Masukkan dan pertimbangan bagi perencanaan dan pembangunan wilayah di
Kecamatan Ciampea khususnya dalam merumuskan dan menetapkan
kebijakan-kebijakan sistem insentif dan disinsentif yang terkait dengan
penggunaan sumberdaya lahan
2. Masukkan bagi pemilik atau pemegang hak lahan dalam memperkirakan nilai
ekonomi lahannya.
3. Bahan pertimbangan, referensi, dan literatur bagi penelitian-peneltian
2.1 Sumberdaya Lahan
Lahan merupakan sumberdaya, wadah, dan faktor produksi strategis bagi
pembangunan untuk meningkatkan kesejateraan manusia. Menurut Sitorus dalam
Kurniawati (2005), sumberdaya lahan adalah bagian dari bentang lahan (land scape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi, termasuk keadaan vegetasi alami yang semuanya
secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Menurut Arsyad
dalam Kurniawati (2005), lahan dapat diartikan sebagai lingkungan fisik yang
terdiri atas iklim, relief, tanah, dan vegetasi, serta benda yang ada di atasnya
sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan termasuk di dalamnya
hasil kegiatan manusia di masa lampau dan sekarang, seperti reklamasi laut,
pembersihan vegetasi, dalam hal ini juga mengandung pengertian ruang dan
tempat.
Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting
untuk kelangsungan hidup manusia, hal ini karena sumberdaya lahan merupakan
masukan/input yang diperlukan untuk setiap bentuk aktivitas manusia seperti untuk pertanian, industri, permukiman, transportasi, rekreasi, dal lain-lain. Lahan
juga merupakan faktor produksi yang sangat menentukan bagi proses
pembangunan ekonomi suatu negara. Negara yang memiliki lahan yang subur
sangatlah mungkin memiliki tingkat produktivitas pertanian yang tinggi pada
sangat mempengaruhi perkembangan sektor-sektor lain seperti sektor industri dan
jasa pada tahap perkembangan ekonomi lebih lanjut (Suparmoko, 1989).
2.2 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan setiap bentuk campur tangan manusia
terhadap sumberdaya lahan baik yang bersifat menetap (permanen) maupun daur
(siklus) yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidupnya baik materil maupun
spriritual (Priatmono dalam Sari, 2004). Penggunaan lahan pada umumnya
tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. Untuk aktivitas
pertanian, penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang
dicirikan oleh adanya perbedaan atas sifat-sifat yang merupakan penghambat bagi
penggunaannya seperti tekstur tanah, lereng permukaan tanah, kemampuan
menahan air, dan tingkat erosi yang telah terjadi. Penggunaan-penggunaan lahan
juga tergantung pada lokasi khususnya untuk daerah-daerah permukiman, untuk
lokasi-lokasi industri, maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko, 1989)
Penggunaan lahan yang paling luas adalah untuk sektor pertanian yang
meliputi penggunaan untuk pertanian tanaman pangan, pertanian tanaman keras,
untuk kehutanan, maupun untuk ladang pengembalaan dan perikanan. Tetapi
untuk daerah kota, penggunaan lahan yang utama adalah untuk permukiman,
industri, serta perdagangan. Penggunan lahan untuk rekreasi juga menempati
urutan yang tinggi karena meliputi pantai, pegunungan, dan danau (Suparmoko,
Menurut Harsono dalam Akib (2002), Penggunaan lahan secara garis besar
dibedakan menjadi dua golongan :
1. Dalam kaitannya dengan pemanfaatan potensi alaminya, seperti kesuburan
tanah, kandungan mineral, atau terdapatnya endapan bahan galian
pertambangan di bawah permukaannya.
2. Penggunaan tanah dalam kaitannya dengan pemanfaatannya sebagai ruang
pembangunan yang secara tidak langsung tidak memanfaatkan potensi alami
dari tanah, tetapi lebih ditentukan oleh adanya hubungan-hubungan antara tata
ruang dengan penggunaan-penggunaan lain yang telah ada, diantaranya
ketersediaan prasarana dan fasilitas umum lainnya.
Menurut Arsyad dalam Sari (2004), penggunaan lahan dibagi ke dalam
dua kelompok utama yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan non
pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan secara garis besar ke dalam
peggunaan lahan pertanian seperti tegalan, sawah, kebun karet, hutan produksi,
dan sebagainya. Sedangkan penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan
atas penggunaan kota dan desa (permukiman), industri, rekreasi, dan sebagainya.
Barlowe (1978) membagi penggunaan lahan untuk (1) lahan permukiman, (2)
lahan industri dan perdagangan, (3) lahan bercocok tanam, (4) lahan peternakan
dan penggembalaan, (5) lahan hutan, (6) lahan mineral/pertambangan, (7) lahan
rekreasi, (8) lahan pelayanan jasa, (9) lahan transportasi, dan (10) lahan tempat
pembuangan.
Menurut Barlowe (1978), faktor-faktor yang mempengaruhi pola
penggunaan lahan adalah faktor fisik-biologis, faktor pertimbangan ekonomi, dan
fisik dimana manusia berada. Faktor ini memberikan dukungan sifat-sifat
alamyang sesuai dengan letaknya, keadaan bahan penunjang untuk kegiatan
manusia, dan komunitas manusia, diantaranya mencakup keadaan geologi, tanah,
air, iklim, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan kependudukan. Faktor pertimbangan
ekonomi meliputi produktivitas, pemasaran, transportasi, dan kebutuhan yang
dicirikan oleh keuntungan, keadaan pasar, dan transportasi. Untuk faktor
kelembagaan dicirikan oleh ada tidaknya hukum pertanahan yang berlaku di
masyarakat, dan tidak bertentangan dengan keadaan sosial budaya serta
kepercayaan yang secara empirik dapat diterima dan dilaksanakan oleh
masyarakat.
Menurut Rahim (2007), secara teoritis alokasi pemanfaatan lahan dapat
dilaksanakan melalui beberapa mekanisme, yaitu :
1. penataan ruang oleh pemerintah melalui undang-undang
2. melalui mekanisme pasar
3. kombinasi antara pengaturan pemerintah dan mekanisme pasar
Penggunaan lahan oleh masyarakat pada suatu wilayah merupakan pencerminan
dari kegiatan manusia pada wilayah yang mendukungnya. Pemanfaatan
sumberdaya lahan untuk berbagai penggunaan bertujuan untuk menghasilkan
barang-barang pemuas kebutuhan manusia yang terus meningkat sebagai akibat
pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi (Suparmoko, 1989).
Saefulhakim dan Nasoetion dalam Kurniawati (2005), menyatakan bahwa
penggunaan lahan merupakan suatu proses yang dinamis, perubahan yang terus
menerus, sebagai hasil dari perubahan pada pola dan besarnya aktivitas manusia
merupakan masalah yang kompleks. Penggunaan lahan merupakan refleksi
perekonomian dan preferensi masyarakat. Berhubung perekonomian dan
preferensi masyarakat ini bersifat dinamis sejalan dengan pertumbuhan penduduk
dan dinamika pembangunan, maka penggunaan lahanpun bersifat dinamis bisa
berkembang ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat dan juga sebaliknya.
2.3 Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent)
Lahan memiliki nilai ekonomi dan nilai pasar yang berbeda-beda. Lahan
di perkotaan yang digunakan untuk kegiatan industri dan perdagangan memiliki
nilai pasar yang tertinggi karena di tempat tersebut terletak tempat tinggal dan
sumber penghidupan manusia yang paling efisien dan memberikan nilai produksi
yang tertinggi. Para pemilik sumberdaya lahan cenderung menggunakan lahan
untuk tujuan-tujuan yang memberikan harapan untuk diperolehnya penghasilan
yang tertinggi. Mereka akan menggunakan lahannya sesuai dengan konsep
penggunaan yang tertinggi dan terbaik. Konsep ini memperhitungkan semua
faktor yang mempengaruhi kemampuan lahan, seperti aksebilitas serta kualitas
sumberdaya lahan dan lingkungan. Penggunaan yang terbaik dan tertinggi
biasanya untuk daerah industri dan perdagangan, menyusul untuk daerah
permukiman, kemudian untuk daerah pertanian, dan yang terakhir untuk ladang
penggembalaan dan daerah liar yang tidak ditanami (Suparmoko, 1989).
Menurut Hardjowigeno dalam Akib (2002), lahan paling sedikit
mempunyai tiga jenis nilai dalam ekonomi lahan, yaitu :
3. Enviromental Rent, sifat tanah sebagai komponen utama ekosistem
Menurut Barlowe (1978) nilai ekonomi lahan dapat dibedakan menjadi
dua yaitu :
1. Sewa Lahan (contract rent) sebagai pembayaran dari penyewa kepada pemilik dimana pemilik melakukan kontrak sewa dalam jangka waktu tertentu.
2. Keuntungan usaha (economic rent atau land rent) yang merupakan surplus pendapatan di atas biaya produksi atau harga input lahan yang memungkinkan
faktor produksi lahan dapat dimanfaatkan dalam proses produksi.
Pada penelitian ini istilah nilai ekonomi lahan (land rent) yang digunakan adalah konsep yang kedua dari penjelasan Barlowe tersebut yaitu keuntungan usaha atau
economic rent dari suatu usaha yang dilakukan pada suatu lahan tertentu.
Salah satu cara untuk menentukan nilai faktor produksi yang berasal dari
alam seperti lahan adalah dengan menggunakan konsep land rent. Land rent
merupakan konsep yang penting dalam mempelajari penerimaan ekonomi dari
penggunaan sumberdaya lahan untuk produksi. Land rent dapat didefinisikan sebagai surplus ekonomi yaitu merupakan kelebihan nilai produksi total di atas
biaya total (Suparmoko, 1989). Sementara menurut Nasution dalam Rahim
(2007), land rent merupakan pendapatan bersih yang diperoleh suatu pelaku ekonomi melalui kegiatan yang dilakukan pada suatu unit ruang dengan teknologi
dan efisiensi manajemen tertentu dan dalam suatu kurun waktu tertentu secara
formal (biasanya satu tahun). Oleh karena itu, suatu bidang lahan tidak
mempunyai nilai ekonomi lahan selama tidak melakukan usaha atau kegiatan pada
lahan tersebut. Mubyarto (1985) menjelaskan pula bahwa sewa ekonomi lahan
produksi secara keseluruhan sebagai hasil usaha yang dilakukan pada lahan
tersebut. Jasa produksi lahan tersebut merupakan jasa yang diperoleh dari
pengelolaan lahan bukan jasa karena pemilikan lahan tersebut. Surplus ekonomi
dari sumberdaya lahan dapat dilihat dari surplus ekonomi karena kesuburan
tanahnya dan surpuls ekonomi karena lokasi ekonomi.
David Ricardo memberikan konsep sewa atas dasar perbedaan dalam
kesuburan lahan terutama pada masalah sewa di sektor pertanian. Teori sewa
model Ricardo ditentukan berdasarkan perbedaan dalam kualitas lahan yang
hanya melihat faktor-faktor kemampuan lahan untuk membayar sewa tanpa
memperhatikan faktor lokasi lahan. Faktor lokasi dalam menetukan nilai sewa
lahan diamati oleh Von Thunen yang menemukan bahwa sewa lahan di daerah
yang dekat dengan pusat pasar lebih tinggi daripada daerah yang lebih jauh dari
pusat pasar. Menurut Von Thunen sewa lahan berkaitan dengan perlunya biaya
transport dari daerah yang jauh ke pusat pasar (Suparmoko, 1989)
Lahan yang lokasinya dekat pasar oleh masyarakat digunakan untuk
daerah pusat kegiatan ekonomi yang akan memberikan pendapatan dan kapasitas
sewa yang tinggi untuk berbagai alternatif penggunaan, seperti untuk
industri-industri atau kegiatan lain yang lebih menguntungkan. Bila mekanisme pasar terus
berlangsung, maka penggunaan lahan yang mempunyai land rent yang lebih besar relatif mudah menduduki lokasi utama dan menekan serta menggantikan posisi
penggunaan lahan yang mempunyai land rent yang lebih kecil. Secara umum besaran land rent dari berbagai kegiatan dapat diurutkan sebagai berikut : Industri > Perdagangan > Permukiman > Pertanian Intensif > Pertanian Ekstensif
dan strategis mempunyai land rent yang tinggi. Sehingga sektor-sektor tersebut berada di kawasan strategis.
Menurut Mubyarto (1985), faktor-faktor yang mempengaruhi land rent
adalah :
1. perbedaan kesuburan tanah
2. perbedaan jarak dari pasar
3. perbedaan biaya produksi
4. perbedaan lahan yang terbatas (scarsity of land) sehubungan dengan kondisi lingkungan lahan tersebut
2.4 Penelitian Terdahulu
Mulyani (1994) dalam penelitiannya mengenai analisis konversi lahan dari
penggunaan pertanian ke penggunaan non pertanian dengan pendekatan nilai
ekonomi lahan (land rent) dan daya dukung lahan di Kabupaten Garut, memperoleh nilai ekonomi lahan pertanian sebesar Rp 38,00/m2/bulan dan nilai ekonomi lahan perumahan sebesar Rp 3.532,00/m2/bulan. Hal ini menunjukkan bahwa secara finansial usaha permukiman lebih menguntungkan bila
dibandingkan dengan usahatani padi sawah. Dengan kata lain usaha permukiman
yang memiliki land rent lebih tinggi akan mendesak usahatani padi sawah yang memiliki land rent yang relatif lebih rendah.
Penelitian mengenai penilaian ekonomi berbagai pola penggunaan lahan di
Sub DAS Ciesek dan DAS Ciliwung, Kabupaten Bogor, yang dilakukan oleh
Sulistiyono (2006) menunjukkan besarnya nilai ekonomi penggunaan lahan pada
Rp 1.470.531.390,00 lebih besar jika dibandingkan dengan penggunaan lahan
berdasarkan RTRW tahun 2000 yang memberikan kontribusi sebesar
Rp 8.080.038.693,00/tahun. Dalam jangka pendek secara ekonomi pola
penggunaan lahan yang ada di Sub DAS Ciesek lebih menguntungkan tetapi dari
segi lingkungan dalam jangka panjang akan membahayakan terutama bagi daerah
hilir.
Menurut Akib (2002), dalam penelitiannya mengenai keterkaitan antara
nilai manfaat lahan (land rent) dan konversi lahan pertanian di Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, dengan menggunakan alat analisis komponen utama
dan regresi berganda menunjukkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
nilai suatu land rent, antara lain biaya pengeluaran untuk benih, biaya pengeluaran untuk insektisida dan herbisida, biaya pengeluaran untuk tenaga kerja
non keluarga, biaya sewa lahan, kesesuaian lahan tanaman tahunan, luas lahan
pertanian unit, serta jarak antara lahan usaha dengan letak pasar terdekat.
Berdasarkan analisis finansial Net Present Value (NPV), antara lahan pertanian dan non pertanian terdapat ratio land rent yang sangat besar yaitu 1 : 1.261.99. Nilai opportunity cost yang diperoleh dari selisish antara land rent pertanian dengan non pertanian yaitu sebesar Rp 21.840.867,00/m2/tahun. Perbandingan
land rent berdasarkan suku bunga yang berlaku juga menunjukkan nilai perbandingan yang sangat besar yaitu 1 : 860,49 dengan nilai opportunity cost
sebesar Rp 5.937.392,00/m2/tahun.
Sementara itu dalam penelitiannya Sari (2002) mengenai analisis konversi
lahan dan sewa ekonomi lahan pada lahan sawah dan lahan permukiman di
mengalami pengurangan dan penambahan, sedangkan pada lahan permukiman
cenderung mengalami penambahan. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa
land rent lahan permukiman lebih menguntungkan dibandingkan dengan land rent
lahan sawah pada suku bunga 8,50 persen. Hal ini menyebabkan kecenderungan
untuk terjadinya alih fungsi lahan sawah menjadi lahan permukiman / non sawah.
Berdasarkan hasil analisis korelasi berganda dan regresi berganda, faktor-faktor
yang mempengaruhi land rent lahan sawah adalah luas lahan milik sendiri, luas lahan sewa, biaya pembelian pestisida, upah tenaga kerja wanita, biaya pembelian
alat pertanian, dan total penerimaan. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
land rent pada lahan permukiman adalah biaya untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), kondisi rumah, pengeluaran untuk kebutuhan primer, dan total
pengeluaran. Faktor yang berpengaruh meningkatkan land rent antara lain pengeluaran untuk kebutuhan primer, total pengeluaran, dan biaya pajak (PBB).
Ongkowijono (2006) dalam penelitiannya mengenai perbandingan land rent antara lahan komoditas hortikultura dengan padi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kecamatan Pacet dan Warungkondang, Kabupaten Cianjur,
berdasarkan hasil analisis land rent, untuk komoditi hortikultura diperoleh nilai dari kisaran Rp – 2.993,00 – Rp 17.304,00 sedangkan untuk land rent komoditas padi sebesar Rp 517,00. Dengan menggunakan analisis regresi berganda dapat
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
Adanya kelangkaan sumberdaya lahan menyebabkan lahan memiliki nilai
yang semakin tinggi. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan konsep sewa ekonomi
lahan (land rent) yang merupakan konsep penting dalam teori ekonomi sumberdaya lahan. Ada dua aspek penting yang menentukan nilai ekonomi lahan,
yaitu faktor kesuburan lahan dan jarak lahan tersebut dari pusat fasilitas. Terkait
dengan aspek-aspek tersebut, ada beberapa ahli yang mengemukakan teori sewa
ekonomi lahan antara lain :
1) Teori Ricardian Rent
David Ricardo dalam Suparmoko (1989) mengemukakan bahwa sewa
tanah dapat didefinisikan sebagai surplus ekonomi atas tanah tersebut. Artinya,
keuntungan yang didapat atas dasar produksi dari tanah tersebut setelah dikurangi
biaya. Adanya perbedaan surplus ekonomi yang didapat pada suatu tanah
dikarenakan perbedaan tingkat kesuburan. Andaikan ada tiga jenis lahan dengan
tingkat kesuburan yang berbeda dipergunakan untuk memproduksi komoditas
yang sama dan menggunakan faktor-faktor lain yang sama. Menurut teori ini,
karena perbedaan kesuburan lahan, maka pada tingkat harga output dan input
Rp Rp Rp
Biaya Produksi Biaya Produksi
X1
Land Rent Biaya Produksi
X2 X3
AC AC AC MC
Jumlah Output Jumlah Output Jumlah Output
Tanah subur sekali Tanah subur Tanah tidak subur
(a) (b) (c)
Gambar 1. Perbedaan Land Rent Karena Perbedaan Tingkat Kesuburan Lahan
2) Teori Lokasi Von Thunen
Berdasarkan teori lokasi Von Thunen dalam Suparmoko (1989), bahwa
surplus ekonomi suatu lahan banyak ditentukan oleh lokasi ekonomi (jaraknya ke
kota). Menurut Von Thunen, bahwa biaya transportasi dari lokasi suatu lahan ke
kota (pasar) merupakan input produksi yang penting, makin dekat lokasi suatu
lahan ke kota maka makin tinggi aksesibilitasnya atau biaya transport makin
rendah, oleh karena itu sewa lahan akan semakin mahal berbanding terbalik
dengan jarak. Semakin jauh jarak ke pusat pasar maka biaya transportasi semakin
mahal sehingga land rent semakin turun sejalan dengan semakin meningkatnya biaya transportasi. Hal ini dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 2, misalkan
pada jarak 0 km (tepat di lokasi pasar) biaya transportasi tidak ada, maka biaya
sehingga land rent-nya menjadi lebih rendah. Pada jarak OK biaya transportasi sebesar UT, sehingga biaya total produksi sebesar KT, pada kondisi demikian
tidak mendapatkan surplus. Oleh karena itu land rent berbanding terbalik dengan jarak, semakin besar jarak maka land rent semakin kecil.
Rp Rp (Land rent)
Jarak ke pasar (km) Jarak ke pasar (km)
K
Gambar 2. Pengaruh Jarak Terhadap Biaya Transportasi dan Land Rent
keterangan gambar :
0 : Pusat pasar P : Harga produk C : Biaya produksi M, K, L : Jarak
3) Teori Nilai Lahan Pertanian (Agricultural Rent)
Teori lain yang menjelaskan tentang land rent dikembangkan oleh Dunn dan Isard (Alonso, 1964). Menurut teori ini land rent di setiap lokasi adalah sama dengan nilai dari produk dikurangi biaya produksi dan biaya transportasi. Dalam
teori ini diasumsikan hanya ada satu pasar dimana produk-produk pertanian dapat
dijual, dan hanya ada satu jenis produk pertanian. Rentang nilai antara penerimaan
dan biaya dalam kegiatan pertanian merupakan sewa ekonomi dan juga dapat
menjadi sewa yang dibayarkan oleh penggarap kepada pemilik lahan. Land rent
pc(t) = N [ Pc – C – kc(t) ]
dimana :
pc(t) : land rent per satuan unit lahan pada jarak t dari pasar
N : jumlah produk yang diproduksi per satuan unit lahan Pc : harga produk per unit di pasar
C : biaya produksi
Kc(t) : biaya transportasi satu unit produk pada jarak t ke pasar 4) Konversi Lahan Berdasarkan Teori Land Rent
Menurut Barlowe (1978), proses konversi lahan dapat dijelaskan
berdasarkan teori atau konsep land rent. Dalam pemilihan penggunaan lahan diantara berbagai alternatif biasanya mencerminkan faktor-faktor seperti keahlian,
selera, serta modal dan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh berbagai alternatif
tersebut. Para pemilik lahan selalu konsentrasi pada penggunaan yang
memberikan keuntungan terbesar pada lokasi tertentu dan dengan
kombinasi-kombinasi tertentu dari faktor-faktor produksi. Pemilik lahan selalu
membandingkan pendapatan yang dapat dihasilkan pada berbagai alternatif
penggunaan lahan. Perbandingan ini berdasarkan pada pengamatan secara umum
dan juga berdasarkan perhitungan dari kemungkinan keuntungan ekonomi yang
diperkirakan dapat dihasilkan dari masing-masing penggunaan lahan tersebut.
Perbandingan ini, terutama sekali melibatkan faktor penggunaan dan lokasi, serta
dapat dilihat dari segitiga landrent masing-masing penggunaan lahan.
Pada Gambar 3 segitiga land rent dapat dilihat mulai dari segitiga EOP’, yang menggambarkan land rent dari penggunaan A, sampai segitiga HOT, yang menggambarkan penggunaan D.Keempat segitiga land rent pada Gambar 3 (EOP’, FOR’, GOS’, dan HOT) dapat digunakan untuk menjelaskan persaingan
antara empat jenis penggunaan lahan. Empat penggunaan tersebut dapat mewakili
masing-masing contoh tersebut, penggunaan yang menghasilkan land rent
tertinggi biasanya menjadi kapasitas penggunaan lahan yang tertinggi di suatu
area tertentu.
Gambar 3. Hubungan Antara Land Rent dan Alokasi Sumberdaya Lahan
Pada Gambar 3, sisi miring dari masing-masing keempat segitiga land rent
menggambarkan batas intensif untuk penggunaan lahan tertentu. Batas intensif
untuk penggunaan A digambarkan oleh garis EP’ dan batas intensif untuk
penggunaan B, C, dan D digambarkan oleh garis FR’, GS’, dan HT. Titik
perpotongan antara batas intensif disebut batas konversi. Perpotongan antara batas
intensif untuk penggunaan A dan B berada pada titik ab (titik P). Pada titik ini
lebih menguntungkan untuk mengkonversi lahan menjadi penggunaan B
dibandingkan melanjutkan penggunaan A. Batas konversi lain berada di titik bc
menjadi penggunaan C dibandingkan melanjutkan penggunaan B, dan di titik cd
atau S lebih menguntungkan untuk mengkonversi lahan menjadi penggunaan D
dibandingkan melanjutkan penggunaan C.
Pemilik lahan pada masing-masing kasus tersebut dapat melanjutkan
penggunaan lahan yang sebelumnya melebihi batas konversinya sampai pada titik
batas tidak ada rent (no-rent). Jarak antara batas konversi dan batas no-rent
(antara P dan P’ pada penggunaan A; R dan R’ pada penggunaan B; serta S dan S’
pada penggunaan C) disebut zona konversi. Penggunaan lahan yang berada pada
zona tersebut tidaklah menguntungkan. Dengan contoh yang diberikan ini, konsep
dari land rent dan highest and best use dapat digunakan untuk menjelaskan persaingan antara penggunaan lahan.
LAND RENT
B B’ bc
b’c’ C P S
PENURUNAN KAPASITAS PENGGUNAAN LAHAN
Gambar 4. Konversi Lahan Pertanian-Permukiman Berdasarkan Land Rent
Alokasi penggunaan lahan dan proses konversi biasanya tidak selalu
berjalan mulus seperti yang digambarkan pada Gambar 3, banyak faktor yang
menahan lahan tersebut untuk tidak terkonversi seperti yang seharusnya terjadi.
Pada Gambar 4 mengaambarkan situasi masalah antara penggunan lahan untuk
permukiman (B) dan pertanian (C). Saat penduduk belum banyak, batas area
penduduk maka akan menyebabkan area permukiman yang sudah ada digunakan
secara lebih intensif dan juga dibutuhkan tambahan area permukiman di sekitar
pinggiran kota, sehingga batas intensif dari penggunaan permukiman bergeser
menjadi B’ dan batas area permukiman menjadi di titik S.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Kabupaten Bogor khususnya Kecamatan Ciampea memiliki wilayah
pertanian yang potensial dan cukup luas yang dilengkapi dengan sarana dan
prasarana seperti irigasi yang merupakan investasi yang tidak sedikit nilainya. Di
samping itu sebagian masyarakatnya juga bermata pencaharian dan memiliki
keahlian sebagai petani., tetapi tingginya laju konversi lahan pertanian ke non
pertanian yang terjadi di wilayah tersebut merupakan hal yang kontradiktif dengan
potensi-potensi tersebut. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan petani merupakan
salah satu penyebab masalah konversi lahan terus terjadi. Oleh karena itu, masalah
perubahan penggunaan lahan dari pertanian ke non pertanian merupakan masalah
serius yang perlu segera ditangani dan juga menjadi fenomena umum yang
menjadi masalah nasional.
Pemerintah menetapkan kebijakan tentang penataan ruang yang bertujuan
untuk mempertahankan kelestarian lingkungan dan menjaga ketahanan pangan
nasional. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini pemerintah Kabupaten Bogor
menetapkan penggunaan lahan di Kabupaten Bogor selain sebagai pengembangan
permukiman perkotaan, tetapi juga sebagai kawasan konservasi dan
pengembangan pertanian sesuai dengan potensi yang telah ada. Hal ini tertuang
utama wilayah Kabupaten Bogor. Oleh karena itu, dengan mempertahankan luas
lahan pertanian yang sudah ada merupakan salah satu upaya untuk
mempertahankan sektor pertanian sebagai salah satu basis pembangunan daerah.
Apabila melihat tuntutan pemenuhan kebutuhan masyarakat saat ini,
khususnya masyarakat tani, maka yang terjadi yaitu petani pemilik lahan
cenderung lebih memilih untuk mengalihfungsikan lahan pertanian mereka ke
bentuk non pertanian. Hal ini disebabkan karena lebih memberikan keuntungan
materi bagi para pemilik lahan pertanian. Keadaan ini cenderung bertolak
belakang dengan apa yang pemerintah rencanakan dalam hal penataan ruang dan
penggunaan lahan. Untuk itu, upaya peningkatan kesejahteraan petani dengan
peningkatan nilai ekonomi lahan (land rent) pertanian perlu dilakukan.
Dalam meningkatkan land rent untuk lahan pertanian, untuk itu perlu diketahui dahulu faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi land rent pada lahan pertanian maupun pada lahan non pertanian. Analisis secara fianasial dapat
digunakan untuk mengetahui besarnya land rent pada lahan yang dimanfaatkan baik untuk pertanian maupun non pertanian, sedangkan analisis secara statistika
dapat digunakan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
land rent tersebut. Analisis finansial dilakukan dengan melihat nilai manfaat bersih (net benefit) dari aktivitas penggunaan lahan pertanian dan non pertanian. Untuk analisis statistika yang digunakan yaitu :
a) Analisis korelasi berganda, menghasilkan kombinasi variabel-variabel
b) Analisis regresi berganda, menunjukkan faktor-faktor yang berpengaruh
nyata terhadap land rent.
c) Analisis koefisien determinasi majemuk, melihat kebaikan model yang
menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi land rent.
Berdasarkan hasil analisis baik secara finansial maupun statistika, maka
dapat dirumuskan bentuk rekomendasi sebagai suatu saran kebijakan yang
diharapkan dapat menjadi feed back bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan RTRW. Berdasarkan aspek-aspek yang mendasari dan metode-metode tersebut,
maka dapat digambarkan kerangka pemikiran untuk penelitian ini seperti pada
Gambar 5.
3.3 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan di atas, maka dapat
diajukan beberapa hipotesis dalam penelitian ini sebagai berkiut :
1. Pemanfaatan lahan non pertanian memberikan nilai keuntungan land rent yang lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian. Hal ini menyebabkan
petani pemilik lahan cenderung untuk mengalihfungsikan lahan pertanian
mereka ke non pertanian yang lebih menguntungkan secara ekonomi.
2. Semakin tinggi tingkat produktivitas lahan pertanian maka land rent lahan pertanian juga semakin tinggi, sedangkan untuk land rent lahan non pertanian atau lahan permukiman lebih dipengaruhi oleh luas lahan dan jarak lahan
Kebijakan Pembangunan Wilayah
- RTRW Nasional - RTRW Kab.Bogor
Tuntutan Pemenuhan Kebutuhan Masyarakat
Konversi lahan ke yang lebih menguntungkan
Tata Guna Lahan Pertanian dan Non Pertanian -Analisis Pertumbuhan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Land Rent -Analisis Regresi Berganda Land rent
- Analisis Finansial
Potensi dan Masalah
- Luas Lahan Pertanian tinggi - Mata pencaharian sebagian
besar petani
- Land rent pertanianrendah
4.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama empat bulan, yaitu mulai Februari
hingga Juni 2008, di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan dengan sengaja (purposive) berdasarkan kondisi penggunaan lahan di lokasi tersebut. Beberapa dasar yang menjadi
pertimbangan dalam penentuan lokasi penelitian ini adalah (1) Kabupaten Bogor
dipandang mengalami perubahan fungsi lahan yang nyata sebagai akibat
berkembangnya kegiatan-kegiatan non pertanian seperti permukiman, industri,
dan perdagangan, (2) Kecamatan Ciampea telah banyak mengalami perubahan
peruntukan lahan pertanian menjadi non pertanian, hal ini dilihat dari menurunnya
luas lahan panen tanaman pangan yang cukup signifikan dalam kurun waktu
empat tahun terakhir ini. Kecamatan Ciampea diarahkan untuk kawasan pertanian
lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, kawasan tanaman tahunan, kawasan
hutan produksi, kawasan permukiman perdesaan, dan kawasan pengembangan
perkotaan
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian ini terdiri dari data
primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara
pada petani dan pemilik lahan untuk kegiatan non pertanian yang dalam hal ini
pemilik permukiman. Permukiman dipilih untuk mewakili kegiatan non pertanian
menjadi lahan permukiman dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini.
Sedangkan data sekunder diperlukan untuk melengkapi hasil wawancara, meliputi
peta-peta dan administrasi kecamatan, penggunaan lahan, status lahan, Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW), data statistik kabupaten dan kecamatan, dan data
relevan lain untuk penelitian ini. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat
Statistik Kabupaten Bogor, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Bogor, Kantor Pemerintahan Kecamatan Ciampea, dan instansi-instansi yang
terkait, serta studi literatur.
4.3 Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan contoh/sampel dilakukan secara purposive sampling, berdasarkan jumlah desa yang ada pada Kecamatan Ciampea di Kabupaten Bogor.
Penelitian ini dilakukan didasarkan pada lokasi dimana lahan pertanian berada dan
alih fungsi lahan pertanian terjadi. Pada penelitian ini diambil 60 responden yang
berasal dari produsen pertanian atau petani maupun pemilik lahan permukiman.
Agar perbandingannya proporsional, maka masing-masing diambil 30 responden
dari petani dan pemilik permukiman.
4.4 Tahap Wawancara
Untuk penelitian mengenai land rent lahan pertanian, wawancara dilakukan terhadap para petani yang selama setahun menanam tanaman baik
secara monokultur atau menanam barbagai komoditi di lahan pertanian yang
digarapnya. Komoditi-komoditi yang ditanam oleh responden lahan pertanian di
kedelai, kacang panjang, ubi, buncis, dan jagung. Beberapa responden ada yang
menanam secara monokultur dan ada juga yang menanam secara tumpang sari
dari berbagai komoditi tersebut. Hal yang diwawancarakan mengenai identitas
responden, pendidikan, data sosial petani, informasi mengenai kegiatan bertani,
produktivitas (kg/ha), harga jual (Rp/kg), biaya-biaya variabel (Rp/ha/musim),
biaya-biaya tetap (Rp/tahun), dan jarak lahan pertanian dengan pasar (m). Biaya
variabel meliputi biaya untuk pembelian bibit, pestisida, pupuk, serta upah tenaga
kerja seperti pengolahan tanah, penanaman, pemupukan,
penyiangan/pemeliharaan, dan panen. Untuk biaya tetap meliputi biaya untuk
pajak lahan, sewa lahan, dan pembelian alat-alat pertanian.
Wawancara yang dilakukan terhadap pemilik lahan permukiman, dimana
permukiman tersebut disewakan atau dikontrakan, antara lain mengenai identitas
responden; data sosial; pendidikan; luas kepemilikan lahan (m2); kondisi rumah; jarak rumah jalan utama (m); jarak rumah dengan pasar (m); jarak rumah dengan
fasilitas kesehatan/puskesmas (m); jarak rumah dengan fasilitas
pendidikan/sekolah (m); jarak rumah dengan fasilitas pemerintahan (m); biaya
sewa rumah (Rp/tahun); biaya operasional seperti biaya perawatan, pengecatan
ulang, perbaikan rumah, listrik, air, dan lain-lain; serta biaya untuk Pajak Bumi
Bangunan (Rp/tahun).
4.5 Metode Analisis Data
Penelitian dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner kepada
petani dan pemilik lahan permukiman. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan
dimilikinya di Kecamatan Ciampea. Pengolahan data dilakukan secara bertahap
terdiri dari analisis pertumbuhan, analisis sewa ekonomi lahan (land rent), dan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi land rent secara statistik menggunakan analisis korelasi berganda dan analisis regresi berganda. Dalam penelitian ini akan
dilakukan pengujian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekonomi
lahan (land rent). Pengujian ini untuk meyakinkan bahwa belum semua aspek terkait dipertimbangkan dalam penentuan land rent.
4.5.1 Analisis Pertumbuhan
Analisis pertumbuhan digunakan untuk melihat pertumbuhan
(pertambahan atau pengurangan) lahan pertanian atau lahan pertanian dan lahan
non pertanian atau lahan permukiman di Kecamatan Ciampea antara tahun 2002 –
2007. Lahan yang mengalami pertambahan berarti lahan tersebut bertambah,
sedangkan apabila lahan tersebut mengalami pengurangan berarti lahan tersebut
semakin berkurang. Persamaan yang digunakan untuk menghitung laju perubahan
penggunaan lahan pertanian dan non pertanian adalah sebagai berikut :
Pt = P0 ( 1 +
r = koefisien laju pertumbuhan (%/tahun)
t = rentang waktu (tahun)
4.5.2 Analisis Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent)
Land rent adalah nilai ekonomi yang diperoleh pada suatu bidang lahan, apabila lahan tersebut digunakan untuk kegiatan proses produksi. Land rent dapat dijadikan dasar untuk menerangkan bagaimana suatu usaha menekan dan
lain yang berlangsung pada lahan yang sama. Pada umumnya setiap jenis
penggunaan baik itu pertanian maupun non pertanian lahan mempunyai land rent
yang berbeda. Dalam penelitian ini sektor pertanian diwakili oleh lahan pertanian
dan untuk sektor non pertanian diwakili oleh lahan permukiman, jadi penelitian
ini menganalisis land rent pada penggunaan lahan pertanian dan lahan permukiman.
(a) Lahan Pertanian
Land rent yang diperoleh merupakan manfaat bersih (net benefit) atau selisih dari penerimaan total (total benefit) dengan biaya total (total cost). Penerimaan total adalah seluruh penerimaan yang diterima oleh responden
pengelola lahan pertanian dari hasil usahatani selama satu tahun baik usahatani
monokultur maupun usahatani tumpangsari, sedangkan biaya total adalah seluruh
pengeluaran yang dikeluarkan untuk usahatani pada lahan pertanian yang dikelola
oleh responden selama satu tahun. Komponen-komponen yang termasuk dalam
biaya total adalah biaya saprodi, biaya tenaga kerja keluarga dan non keluarga,
biaya pajak lahan, serta biaya sewa lahan. Data yang digunakan merupakan hasil
wawancara terhadap responden sebanyak 30 orang.
(b) Lahan Non Pertanian atau Lahan Permukiman
Land rent lahan permukiman diperoleh dari hasil wawancara secara langsung terhadap responden dengan jumlah total responden adalah sebanyak 30
permukiman selama satu tahun dari hasil menyewakan atau mengontrakan
rumahnya, sedangkan biaya total adalah seluruh pengeluaran yang dikeluarkan
untuk pengelolaan rumah yang disewakan atau dikontrakan selama satu tahun.
Komponen-komponen yang termasuk biaya total adalah biaya pengecatan ulang,
biaya perawatan atau perbaikan, biaya listrik, biaya air, dan biaya Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB).
Land rent antar lahan pertanian dan non pertanian/permukiman lalu diperbandingkan, selisih antara kedua nilai tersebut adalah nilai
keuntungan/kesempatan yang tidak diperoleh (opportunity cost) yang ditanggung oleh petani pengguna lahan atas konsekuensinya untuk tetap mempertahankan dan
tidak mengalihfungsikan lahan pertanian mereka ke bentuk lahan non pertanian
4.5.3 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent)
(a) Analisis Korelasi Berganda (Multiple Correlation Analysis)
Sebelum dilakukan analisis regresi berganda, terlebih dahulu dilakukan
analisis korelasi berganda terhadap variabel-variabel penjelas. Analisis korelasi
berganda merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan
hubungan antara dua atau lebih variabel sebagai salah satu pertimbangan dalam
melihat ada atau tidaknya hubungan sebab-akibat antar variabel tersebut. Dalam
analisis korelasi berganda, keeratan sifat antara dua variabel akan ditunjukkan dari
koefisien korelasi apakah berkorelasi posirif, negatif, atau tidak berkorelasi.
Apabila dua variabel memiliki kecenderungan yang searah maka dinyatakan
sebagai berkorelasi positif, sebaliknya bila memiliki kecenderungan yang
berlawanan arah maka dinyatakan sebagai berkorelasi negatif. Dua variabel
koefisien korelasi mendekati nol atau perubahan nilai pada salah satu variabel
tidak diikuti oleh perubahan pada variabel lainnya. Koefisien korelasi berganda
dapat dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut :
( )( )
yi = nilai variabel y untuk anggota populasi ke-iHasil analisis korelasi berganda digunakan untuk menentukan kombinasi
variabel-variabel penjelas sedemikian rupa sehingga variabel-variabel penjelas
yang berkorelasi tinggi tidak muncul bersamaan dalam satu persamaan (model).
Sehingga syarat bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel penjelas dapat
dipenuhi.
(b) Analisis Regresi Berganda (Multiple Regression Analysis)
Analisis regresi berganda menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan land rent lahan pertanian dan lahan permukiman. Analisis ini digunakan untuk membuat model pendugaan terhadap nilai parameter-parameter
yang menjelaskan hubungan antar variabel penjelas dan variabel respon.
Metode analisis Regresi Berganda merupakan metode analisis yang
didasarkan pada metode Ordinary Least Square (OLS). Metode OLS merupakan metode yang kuat dan populer. Adapun sifat-sifat dari OLS adalah : (1) penaksir
OLS tidak bias; (2) penaksir OLS mempunyai varians yang minimum; (3) konsisten, yaitu dengan meningkatnya ukuran sampel secara tidak terbatas,
penaksir mengarah ke nilai populasi yang sebenarnya; (4) efisien; dan (5) linier.
model pendugaan terhadap nilai suatu parameter (variabel penjelas yang diamati).
Model yang dihasilkan dapat digunakan sebagai penduga yang baik jika
asumsi-asumsi berikut dapat dipenuhi :
a. E (ui) = 0, untuk setiap i, dimana i = 1, 2, ... , n. Artinya rata-rata galat adalah nol, artinya nilai yang diharapkan bersyarat dari uitergantung pada variabel bebas tertentu adalah nol
b. Cov (ui , uj) = 0, i ≠ j. Artinya kovarian (Ui , Uj) = 0, dengan kata lain tidak ada autokorelasi antara galat yang satu dengan yang lain;
c. Var (ui) = σ2, untuk setiap i, dimana i = 1, 2, ... , n. Artinya setiap galat memiliki varian yang sama (asumsi homoskedastisitas);
d. Cov (ui , X1i) = cov (ui , X2i) = 0. Artinya kovarian setiap galat memiliki
varian yang sama. Setiap variabel bebas tercakup dalam persamaan linear
berganda;
e. tidak ada multikolinearitas, yang berarti tidak terdapat hubungan linear
yang pasti antara variabel yang menjelaskan, atau variabel penjelas harus
saling bebas;
Dalam analisis korelasi berganda, analisis regresi berganda, dan analisis
koefisien determinasi majemuk, variabel-variabel yang digunakan berasal dari
data lahan pertanian dan lahan permukiman (Tabel 2 dan Tabel 4). Persamaan
(model) dapat dirumuskan sebagai berikut :
Y = A0 + A1X1 + A2X2 + A3X3 + A4X4 + A5X5 + . . . + AnXn dimana :
Y = variabel tidak bebas (variabel respon)
Xn = variabel bebas (variabel penjelas), n = 6 untuk lahan pertanian dan
n = 10 untuk lahan permukiman An = koefisien regresi variabel ke-n
Tabel 3. Variabel tidak bebas / Variabel Respon (Y) dan Variabel Bebas / Variabel Penjelas (X) untuk Menentukan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Land Rent Lahan Pertanian.
Variabel Unit Keterangan
Tabel 4. Variabel tidak bebas / Variabel Respon (Y) dan Variabel Bebas / Variabel Penjelas (X) untuk Menentukan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Land Rent Lahan Permukiman.
Variabel Unit Keterangan
Y Rp/m2/tahun Land rent lahan permukiman
X1 m2 Luas Lahan
X2 1 = permanen 0 = semi permanen
Kondisi rumah
X3 Rp/tahun Total Penerimaan
X4 Rp/tahun Biaya Operasional
X5 Rp/tahun Biaya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
X6 m Jarak ke Jalan Raya
X7 m Jarak ke Pasar terdekat
X8 m Jarak ke Sekolah terdekat
X9 m Jarak ke Puskesmas
X10 m Jarak ke Kantor Desa
(c) Analisis Koefisien Determinasi Majemuk (R2)
Dalam mengetahui proporsi atau persentase variasi total dalam variabel
tidak bebas (dependent variabel) yang dijelaskan oleh variabel-variabel bebas (dependent variabels) secara bersama-sama dalam model regresi lebih dari dua variabel atau model regresi berganda, dapat menggunakan koefisien determinasi
∑
Yi = nilai variabel tidak bebas untuk anggota populasi ke-i
Xni = nilai variabel bebas untuk anggota populasi ke-i, n = 10 untuk lahan
pertanian dan n = 10 untuk lahan permukiman
Nilai R2 terletak antara nol dan satu, kalau R2 sama dengan satu, berarti bahwa garis regresi yang disesuaikan atau variabel-variabel bebas menjelaskan
100 persen variasi dalam variabel tidak bebas. Sebaliknya R2 sama dengan nol, model regresi tersebut tidak menjelaskan sedikitpun variasi dalam variabel tidak
bebas. Kesesuaian model dapat dikatakan lebih baik apabila nilai koefisien
determinasi majemuk (R2) semakin dekat dengan satu (Gujarati, 1978)
Pada ketiga analisis di atas, data yang diperoleh akan diolah dengan
menggunakan program komputer Microsoft Excel 2003 dan Minitab 14. diharapkan dengan ketiga analisis tersebut dapat diketahui variabel-variabel yang
berpengaruh secara signifikan terhadap nilai ekonomi lahan.
4.6 Pengujian Model dan Hipotesis
Model dalam analisis regresi berganda akan diuji berdasarkan hipotesis
yang diajukan. Pengujian hipotesis berdasarkan statistik bertujuan untuk melihat
nyata tidaknya variabel-variabel bebas yang dipilih terhadap variabel tidak bebas,
dapat dilihat dari nilai P (P-value). Berdasarkan nilai P diketahui sampai berapa persen variabel-variabel bebas berpengaruh terhadap variabel tidak bebas.
Untuk mengetahui apakah secara statistik variabel-variabel bebas yang
dilihat dari nilai P dan uji-F. Pada penelitian ini terdapat batasan jika pengaruh
variabel-variabel bebas terhadap variabel tidak bebas lebih kecil dari α = 0,15
maka variabel-variabel bebas tersebut secara bersama-sama atau tidak dianggap
berpengaruh nyata secara statistik terhadap variabel tidak bebas. Demikian juga
sebaliknya, jika pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas lebih besar
dari α = 0,15 maka variabel bebas tersebut secara bersama-sama atau tidak,
dianggap tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas. Dengan
demikian pengujian hipotesis secara uji-t tidak diperlukan lagi, sebab dari nilai P
telah dapat diketahui sampai berapa persen variabel-variabel bebas akan
mempengaruhi variabel tidak bebas. Uji-F yang digunakan adalah :
(
)
Untuk pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekonomi lahan (land rent) adalah :
H0 : A1 = A2 = A3 = ... = An = 0
H1 : paling sedikit ada satu nilai A yang tidak sama dengan nol
Pada model digunakan uji-F. Adapun uji statistiknya adalah :
Bila : Fhitung > Ftabel (k – 1 ; n – k) Æ H0 ditolak
Jika H0 diterima berarti secara bersama-sama variabel bebas yang digunakan
dalam model tidak dapat menjelaskan variabel tidak bebas. Sebaliknya, apabila H0
ditolak berarti minimal ada satu variabel bebas yang digunakan berpengaruh
Pengujian adanya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai VIF (Varian Inflation Factor). Pada masing-masing variabel bebas, jika nilai VIF kurang dari lima (5) menunjukkan bahwa persamaan atau model tersebut tidak mengalami
5.1 Kondisi Fisik Wilayah
Kecamatan Ciampea merupakan salah satu kecamatan yang termasuk
daerah pengembangan Kabupaten Bogor Wilayah Barat, yang mempunyai luas
wilayah sekitar 55,63 km2, yang terdiri dari 13 Desa, terbagi atas 43 Dusun, 120 Rukun Warga (RW), serta 470 Rukun Tetangga (RT). Kecamatan Ciampea secara
geografis mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ranca Bungur dan Kecamatan
Kemang.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tenjolaya.
c. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cibungbulang.
d. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Dramaga (Laporan Tahunan
Kecamatan Ciampea, 2007)
Tabel 5. Jarak Antar Desa (Km) di Kecamatan Ciampea Tahun 2003
Desa
Berdasarkan jarak orbitas serta sarana transportasi antara pusat
pemerintahan Kecamatan Ciampea dengan ibukota negara (Jakarta), ibukota
propinsi (Bandung), ibukota kabupaten (Cibinong), dan desa yang terjauh
masing-masing sekitar 80 km, 147 km, 45 km, dan 5 km. Secara topografi, bentuk dan
kontur wilayah Kecamatan Ciampea terdiri atas dataran sampai berombak sekitar
45 persen dan berombak sampai berbukit sekitar 55 persen. Ketinggian wilayah
berada di antara 300 m di atas permukaan laut. Suhu udara yang terjadi di
Kecamatan Ciampea sekitar antara 20o – 30oC. Banyaknya hari hujan antara 15 – 31 dan banyaknya curah hujan antara 79 – 491 mm, hari hujan rata-rata
pertahun sekitar 22 hari dan banyaknya curah hujan sekitar 278 mm/t. (Laporan
Tahunan Kecamatan Ciampea, 2007). Curah hujan merupakan salah satu faktor
yang dapat memberikan gambaran penting tentang penentuan lahan atau
kesesuaian lahan terutama peruntukan wilayah pertanian, jenis tanaman, dan pola
cocok tanam.
Pemanfaatan lahan yang telah dilakukan di Kecamatan Ciampea
diantaranya digunakan untuk permukiman (rumah), sawah, ladang/kebun,
empang, dan lain-lain. Untuk mengetahui luas lahan yang digunakan untuk
masing-masing pemanfaatan lahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.
5.2 Kondisi Kependudukan
Jumlah penduduk Kecamatan Ciampea sampai dengan akhir bulan
Desember 2006 (Sensus Daerah) tercatat sebanyak 33.389 Kepala Keluarga
dengan jumlah penduduk sebanyak 139.980 jiwa yang terdiri atas laki-laki