TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERBUATAN YANG DILARANG BAGI PELAKU USAHA DALAM PASAL 8 UNDANG-UNDANG N0. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

102  Download (0)

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP

PERBUATAN YANG DILARANG BAGI PELAKU

USAHA DALAM PASAL 8 UNDANG-UNDANG N0. 8

TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN

KONSUMEN

S K R I P S I

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata 1 ( S I )dalam Ilmu Syari’ah

Oleh : SITI CHOIRIYAH

NIM. 2100071

FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

S E M A R A N G

(2)

NOTA PEMBIMBING

Lamp : 5 ( lima) eksemplar Semarang, 15 Februari 2005 Hal : Naskah Skripsi

a.n. Siti Choiriyah Kepada

Yth. Dekan Fakultas Syari’ah IAIN WAlisongo Di Semarang

Assalammu’alaikum wr.wb.

Setelah saya mengadakan koreksi dan perbaikanseperlunya, maka bersama ini saya kirimkan naskah skripsi saudara :

Nama : Siti Choiriyah NIM : 2100 071 Jurusan : Mu’amalah

Judul Skripsi : Tinjauan Hukum Islam Terhadap Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha dalam Pasal 8 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Sudah saya proses bimbingannya, selanjutnya saya mohon agar skripsi saudara tersebut dapat dimunaqosahkan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum wr.wb.

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. M. Solek, MA Rahman El-Yunusi, SE. MM.

(3)

DEPARTEMEN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI “ WALISONGO”

FAKULTAS SYARI’AH

Jl. Raya Boja KM. 2 ngaliyan Telp./Fax (024) 7601291 Semarang 50185

PENGESAHAN

Atas nama : Siti Choiriyah.

NIM : 2100071.

J u r u s a n : MUAMALAH

Judul Skripsi : Tinjauan Hukum Islam Terhadap Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha Dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Telah dimunaqosahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Walisongo pada tanggal :

8 Maret 2005

dan dapat diterima sebagai kelengkapan ujian akhir dalam rangka menyelesaikan Studi Program Sarjan Strata I ( S I ) tahun akademik 2004 / 2005 guna memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Syari’ah.

Semarang 8 Maret 2005

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

Prof. Dr. H. MUHIBBIN, M.Ag Drs. H ABU HAPSIN, MA, Ph.D

NIP. 150 231 368 NIP. 150 238 492

Penguji I, Penguji II,

Drs. IMAM YAHYA, M.Ag MARIA ANNA MURYANI, SH

NIP. 150 275 331 NIP. 150 263 484

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. MOH. SOLEK, M.A RAHMAN El YUNUSI, SE, MM

(4)

DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan kajian.

Semarang, 15 Februari 2005 Deklarator

Siti Choiriyah 2100 071

(5)

MOTTO

سﺎﻨﻟا لاﻮﻣا ﻦﻣ ﺎﻘﻳﺮﻓ اﻮﻠآ ءﺎﺘﻟ مﺎﻜﺤﻟا ﻰ ﻟا ﺎ ﻬﺑ اﻮ ﻟﺪﺗو ﻞﻃﺎﺒ ﻟاﺎﺑ ﻢﻜﻨ ﻴﺑ ﻢ ﻜﻟاﻮﻣا اﻮ ﻠآ ءﺎ ﺗ ﻻو

نﻮﻤﻠﻌﺗ ﻢﺘﻥاو ﻢﺛﻻﺎﺑ

Artinya : “ Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain

diantara kamu dengan jalan yang batil dan ( janganlah ) kamu

membawa ( urusan ) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat

memakan sebagian daripada harta benada orang lain itu dengan

( jalan berbuat ) dosa, padahal kamu mengetahui. ( QS. Al-Baqarah :

188 ).

ﻦﻳﺬﻟا ﺎﻬﻳا ﺎﻳ

ا

اﻮﻨﻣ

ﻢﻜﻨﻣ ضاﺮﺗ ﻦﻋ ةرﺎﺠﺗ نﻮﻜﺗ ن ا ﻻا ﻞﻃﺎﺒﻟﺎﺑ ﻢﻜﻨﻴﺑ ﻢﻜﻟاﻮﻣا اﻮﻠآ ءﺎﺗ ﻻ

Artinya : “ Janganlah kamu makan harta yang ada diantara kamu dengan jalan

batil melainkan dengan jual beli suka sama suka “ (QS. An-Nisa : 29).

(6)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini untuk :

Bapak dan Ibu penulis yang tercinta, terkasih dan tersayang yang

senantiasa memberikan motivasi, doa dan perhatiannya kepada

penulis. Semoga mereka mendapatkan posisi yang mulia disisi Allah

kelak. Amin.

Kakak , Adik serta keluarga penulis yang tercinta dan tersayang,

yang telah menemani hidup penulis.

Teman terbaik penulis Umi, Ilmi, Fuadah, Kessy, Ipuk, Atik, Fadhil,

Inayah serta teman-teman penulis lainnya yang tak bisa disebut

satu persatu.

(7)

KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur hanya kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berupa skripsi ini. Skripsi ini berjudul :

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha Dalam Pasal 8 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

Tentang Perlindungan Konsumen

Ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang.

Selesainya skripsi ini, penulis merasa banyak mendapat motivasi dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Muhibbin, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Sayri’ah IAIN Walisongo

Semarang.

2. Bapak M. Solek, MA. dan Bapak Rahman El-Yunusi, SE., MM., selaku pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk mengarahkan dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Hakim Junaidi, M.Ag., selaku dosen wali penulis, yang telah memberikan motivasi dan nasehat kepada penulis.

4. Bapak dan Ibu dosen yang telah mendidik penulis selama kuliah di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang

5. Bapak dan Ibu penulis yang telah memberikan dorongan baik moril dan materiil dalam menempuh hidup.

6. Kakak, adik serta keluarga penulis yang telah menemani hidup penulis. 7. Teman-teman yang selalu memberikan dorongan dalam penulisan skripsi

ini, terutama Umi, Ilmi, Fuadah, Kessy, Ipuk, Atik, Fadhil, Inayah serta teman-teman lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu.

8. Seluruh teman penulis, terutama angkatan 2000, khususnya paket B angkatan 2000 dan paket A jurusan Mu’amalah agkatan 2000 yang telah menemani penulis saat belajar di IAIN Walisongo Semarang.

(8)

Semoga amal yang telah diperbuat Bapak/Ibu serta semua pihak tersebut diatas akan menjadi amal saleh dan akan mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah kelak dikemudian hari. Amin.

Akhirnya, skripsi ini meskipun sngat sedarhana mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis khususnya serta pembaca pada umumnya.

Semarang, 15 Februari 2005

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN DEKLARASI ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Permasalahan ... 7 C. Tujuan Penelitian ... 7 D. Kajian Pustaka ... 8 E. Metode Penelitian ... 11 F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II KONSEP PRODUKSI DAN JUAL BELI DALAM ISLAM A. Produksi 1. Pengertian ... 13

2. Arti Penting ... 14

3. Prinsip Produksi ... 17

B. Jual Beli 1. Pengertian Dan Dasar Hukum Jual Beli ... 24

2. Rukun Dan Syarat Jual Beli ... 28

(10)

BAB III LARANGAN BAGI PELAKU USAHA DALAM MEMPRODUKSI DAN/ATAU MEMPERDAGANGKAN BARANG DAN/ATAU JASA DALAM PASAL 8 UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

A. Sekilas Tentang Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang

Perlindungan Konsumen ... 37 B. Larangan Bagi Pelaku Usaha Dalam Memproduksi

Dan/Atau Memperdagangkan Barang Dan/Atau Jasa Dalam Pasal 8 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang

Perlindungan Konsumen ... 41 C. Problematika Masyarakat Terhadap Produksi dan

Perdagangan Barang dan/atau Jasa ... 50 BAB IV LARANGAN BAGI PELAKU USAHA DALAM

MEMPRODUKSI DAN/ATAU MEMPERDAGANGKAN BARANG DAN/ATAU JASA DALAM PASAL 8 UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

A. Analisa Hukum Islam Terhadap Larangan Bagi Pelaku Usaha Dalam Memproduksi Dan/Atau Memperdagangkan Barang Dan/Atau Jasa Dalam Pasal 8 Undang-Undang No. 8

Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen ... 55 B. Analisa Hukum Islam Terhadap Efektifitas Undang-Undang

Perlindungan Konsumen Khususnya Mengenai Pasal 8

Tentang Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha... 70 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 85 B. Saran-saran ... 86 C. Penutup ... 86 DAFTAR PUSTAKA

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar

Belakang

Modernisasi disambut baik oleh kebanyakan manusia yang pada dasarnya selalu membutuhkan nuansa praktis, efektif, murah, mudah dan berkualitas. Kemajuan dan perkembangan disegala bidang seperti kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lain sebagainya, benar–benar memberi manfaat pada manusia dalam mewujudkan cita–citanya, termasuk didalamnya untuk memenuhi dan meningkatkan kebutuhan ekonomi yang semakin rumit dan kompetitif sebagai efek samping dari perkembangan modernisasi dunia. Manusia dituntut untuk mengantisipasi masalah ekonomi yang turut berkembang, yaitu dengan cara memanfaatkan sarana – sarana modern.

Bekerja dalam bidang perdagangan adalah salah satu contoh kerja keras yang baik, karena harus memerlukan kesabaran, keuletan dan ketrampilan kerja, sebagaimana sabda Nabi SAW :

ﺐﻴﻃا ﺐﺴﻜﻟا يأ ﻞﺌﺳ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟا نا ﻪﻨﻋ ﷲا ﻰﺿر ﻊﻓار ﻦﺑ ﺔﻋﺎﻓر ﻦﻋ

لﺎﻗ

:

روﺮﺒﻣ ﻊﻴﺑ ﻞآو ﻩﺪﻴﺑ ﻞﺝﺮﻟا ﻞﻤﻋ

)

راﺰﺒﻟا ﻩاور

(

Artinya : “ Dari Rifa’ah RA, Sesungguhnya Nabi SAW ditanya : mata pencarian apa yang paling baik, jawabnya : seorang laki–laki yang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang baik “.1

1. Muhammad bin Ismail al Khalani as San’ani, Subulus Salam, Juz II, Maktabah wa Matbaah, ( Semarang : Thoha Putra ), t/th, hlm. 4

(12)

Manusia dituntut untuk selalu meningkatkan kesejahteraan, namun dalam mengikuti irama modernisasi, manusia harus tetap memperhatikan nilai–nilai ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an sendiri telah memberikan garis pedoman mana yang baik dan mana yang haram. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT :

ﺎﻤﻥا ﻞﻗ

مﺮﺡ

ﻖﺤﻟا ﺮﻴﻐﺑ ﻲﻐﺒﻟاو ﻢﺛﻻاو ﻦﻄﺑ ﺎﻣو ﺎﻬﻨﻣ ﺮﻬﻇ ﺎﻣ ﺶﺡاﻮﻔﻟا ﻲﺑر

ﷲﺎﺑ اﻮآﺮﺸﺗ ناو

ﺎﻥﺎﻄﻠﺳ ﻪﺑ لﺰﻨﻳ ﻢﻟ ﺎﻣ

ا ﻰﻠﻋ اﻮﻟﻮﻘﺗ ناو

نﻮﻤﻠﻌﺗ ﻻﺎﻣ ﷲ

Artinya : “ Katakanlah : Tuhan hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, ( mengharamkan ) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan ( mengharamkan ) mengada–ada terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui ( QS. Al –A’raf : 33 ).2

Para pelaku usaha dalam melakukan bisnis seringkali terhanyut dalam ambisi ingin cepat kaya dan ambisi memperoleh laba yang banyak untuk memuaskan nafsunya, walaupun dengan cara yang tidak benar. Penyebabnya adalah para pelaku usaha dalam menghadapi persaingan bisnis didunia modern ini, mereka tidak memperhatikan nilai – nilai ajaran Islam.

Produsen / pelaku usaha sering melakukan perbuatan – perbuatan negatif dalam berproduksi dan berdagang, seperti menghalalkan segala cara, menipu dan perbuatan – perbuatan negatif lainya yang justru semakin lama menjadi kebiasaan yang buruk yang sangat merugikan konsumen. Banyak sekali pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha yang sangat merugikan konsumen. Hasil penelitian Sek.Jen. Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ) pada sidang ke-63 Economic and Social Council ( Ecosoc ) pada tahun 1977 yang menyatakan bahwa disemua

(13)

negara, konsumen selalu dalam posisi tawar menawar yang lemah dan sering dirugikan dibandingkan dengan pihak produsen / pelaku usaha karena berbagai faktor.3 Data yang ada dipunyai oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia

(YLKI) dalam bukunya Yusuf Shofie (2003 : 6), bahwa terdapat 10 besar pengaduan konsumen melalui surat resmi ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tahun 1999-2001, yaitu meliputi komoditi alat rumah tangga, asuransi, bank, elektronik, iklan, internet, layanan medis, leasing, listrik, makanan/minuman, MLM (Multi Level Marketing), obat / kosmetika / jamu, otomotif, PDAM (air minum), pendidikan, perumahan, parkir, sandang, supermarket, telepon,transportasi, undian, wisata, lain-lain.

Kelemahan – kelemahan konsumen dalam berhadapan dengan produsen berkisar pada kelemahan mereka dalam bidang kebodohan atau ketidaktahuan akan barang dan kebutuhan akan barang ( consumer ignorance ), dan kelemahan konsumen dalam hal tawar menawar ekonomis, sosial dan edukasional, sehingga meletakkan posisi konsumen pada komoditi take it or leave it.4 Misalnya dalam membeli produk kemasan, mereka tidak melihat kelayakan dan efek samping dari produk tersebut, sehingga apabila dikonsumsi oleh konsumen dapat merugikan konsumen terhadap kesehatan konsumen.

3. Muhammad dan Alimin, Etika Dan Perlindungan Konsumen Dalam Ekonomi Islam, ( Yogyakarta : BPFE ), Cet. I, 2004, hlm.2

(14)

Demi menghemat biaya produksi, pelaku usaha terkadang menggunakan barang – barang yang tidak diperbolehkan atau melebihi dari standar yang telah ditetapkan, dan untuk melindungi produknya, mereka menyembunyikan kecacatan produknya pada lebel / kemasan. Trik lain yang digunakan oleh pelaku usaha adalah dengan iklan yang agresif yang seringkali mengakibatkan pergeseran produk yaitu produk yang kualitasnya kurang baik menggeser produk yang kualitasnya lebih baik, sehingga konsumen lebih mengenal produk yang dimaksud dan tidak jarang konsumen merasa kecewa setelah menggunakan produk tersebut.

Hal tersebut juga terjadi di Indonesia. Walaupun Indonesia menganut sistem demokrasi ekonomi sebagaimana terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945, namun nasib konsumen di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Konsumen seringkali dijadikan obyek aktifitas bisnis, yang hanya untuk mengejar / mendapatkan profit yang sebesar – besarnya.6

Kepedulian Pemerintah Indonesia dalam upaya melindungi konsumen adalah dengan dikeluarkannya Undang – Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Pengaturan perlindungan konsumen dilakukan dengan :

a. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur keterbukaan akses dan informasi, serta menjamin kepastian hukum;

5. Lihat : Undang – Undang Dasar RI Tahun 1945, ( Surabaya : Pustaka Agung Harapan ), hlm. 26

6. Aktivitas bisnis adalah (1) memproduksi dan atau mendistribusikan barang dan atau jasa, ( 2) mencari profit, (3) mencoba memuasakan konsumen. Lihat : M. Isamail Yusanto dan M. Karebet W, Menggagas Bisnis Islam, ( Jakarata : Gema Insani Prees ), Cet . I. 2002, hlm. 16

(15)

b. Melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh pelaku usaha;

c. Meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa

d. Memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktek usaha yang menipu dan menyesatkan;

e. Memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen dengan bidang–bidang perlindungan pada bidang–bidang lain.7

Undang–Undang ini merupakan wujud perhatian Pemerintah Indonesia dalam merealisasikan pemerataan dan keadilan ekonomi untuk masyarakat sebagai akibat dari menonjolnya praktek sistem ekonomi kapitalis yang banyak dilakukan oleh pelaku usaha. Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha diatur mulai Pasal 8 sampai dengan pasal 17 Undang–Undang No.8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen.8

Islam sendiri juga mengenal adanya perlindungan konsumen, sebagaimana Firman Allah SWT :

ﻦﻳﺬﻟا ﺎﻬﻳا ﺎﻳ

ا

اﻮﻨﻣ

ا ﻻا ﻞﻃﺎﺒﻟﺎﺑ ﻢﻜﻨﻴﺑ ﻢﻜﻟاﻮﻣا اﻮﻠآ ءﺎﺗ ﻻ

ﻢﻜﻨﻣ ضاﺮﺗ ﻦﻋ ةرﺎﺠﺗ نﻮﻜﺗ ن

Artinya : “ Hai orang–orang yang beriman janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil, melainkan hanya dengan

perniagaan dengan jalan suka sama suka diantara kamu... ( QS. An Nisa’ : 29 ).9

7. Erman Rajaguguk, et al.,Hukum Perlindungan Konsumen, ( Bandung : Mandar Maju ), 2000, hlm.7

8. Lihat : Undang –Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, ( Jakarta : Sinar Grafika ), 2004, hlm. 7-8

(16)

Kata al-bathil berasal dari al-buthl dan al-buthlan, berarti kesia-siaan dan kerugian. Menurut syara’ adalah : mengambil harta tanpa pengganti hakiki yang biasa, dan tanpa keridhaan dari pemilik harta yang diambil itu; atau menafkahkan harta bukan pada jalan yang bermanfaat, maka termasuk ke dalam hal ini adalah lotre, penipuan di dalam jual beli, riba, dan menafkahkan harta pada jalan – jalan yang diharamkan, serta pemborosan dengan mengeluarkan harta untuk hal – hal yang tidak dibenarkan oleh akal. Kata bainakum menunjukkan bahwa harta yang haram biasanya menjadi pangkal persengketaan di dalam transaksi antara orang yang memakan dengan orang yang hartanya dimakan.10

Ayat diatas mengandung pengertian bahwa jual beli yang tidak sesuai dengan Syari’at Islam yang sekiranya akan merugikan konsumen adalah dilarang, seperti adanya unsur – unsur penipuan yang dilakukan pihak produsen / pelaku usaha dengan cara kurang / salah memberikan informasi yang jelas dalam label, mengurangi takaran komposisi bahan sehingga mutu dari produk tersebut berkurang, menggunakan bahan yang berbahaya bagi kesehatan maupun jiwa konsumen, dan untuk mengingatkan bahwa umat manusia harus saling membahu di dalam menjamin hak – hak dan maslahat – maslahat.

Berdasarkan keterangan diatas, maka penulis merasa perlu untuk membahas mengenai bagaimana perspektif Hukum Islam terhadap Pasal 8 Undang – Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan cara penyelesaian sengketa yang terjadi antara produsen dan konsumen.

10. Ahmad Musthafa Al – Maraghi, Terjemah Tafsir Al – Maragh, ( Semarang : Toha Putra ),

(17)

B.

Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah :

1. Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam memproduksi dan / atau memperdagangkan

barang dan / atau jasa dalam Pasal 8 Undang – Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

2. Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap efektifitas Undang-Undang Perlindungan Konsumen khususnya mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam pasal 8 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

C. Tujuan

Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai penulis dalam penulisan skripsi ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap

perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam memproduksi dan /

atau memperdagangkan barang dan / atau jasa dalam Pasal 8 Undang– Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

2. Untuk mengetahui bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap efektifitas Undang-Undang Perlindungan Konsumen khususnya mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam pasal 8 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

(18)

D.

Kajian Pustaka

Manusia diharuskan untuk bekerja agar dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan serta agar dapat meningkatkan mutu kehidupan, misalnya dengan berbekerja/berbisnis. Bisnis merupakan suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang–barang dan jasa–jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk mendapatkan profit.11

Dalam melakukan bisnis manusia haruslah memperhatikan mutu dan kelayakan barang produksinya, terutama yang menyangkut keamanan dan keselamatan pemakai barang tersebut. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh pelaku bisnis, dalam proses produksi adalah ;

1. Dilarang memproduksi dan memperdagangkan komoditas yang tercela karena bertentangan dengan Syari’ah ( haram ).

2. Dilarang melakukan kegiatan produksi yang mengarah kepada kedzaliman.

3. Dilarang segala bentuk penimbunan ( ikhtikar ) terhadap barang – barang kebutuhan bagi masyarkat.

4. Memelihara lingkungan.12

Para pelaku terkadang melakukan perbuatan–perbuatan negatif untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar–besarnya tanpa memperhatikan hak–hak konsumen. Berbagai kemungkinan terhadap penyalahgunaan kelemahan yang

11. Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas Bisnis

Islami, ( Jakarta : Gema Insani Press ), Cet. I, 2002, hlm. 15

12. Rustam Effendi, Produksi Dalam Islam, ( Yogyakarta : Megistra Insania Press ), Cet. I, 2003, hlm. 14-26

(19)

dimiliki oleh konsumen dapat terjadi (1) ketika sebelum transaksi jual beli berlangsung ( pra transaksi ) berupa iklan atau promosi yang tidak benar, (2) ketika transaksi itu sendiri sedang berlangsung dengan cara tipu muslihat, dan (3) ketika transaksi telah berlangsung dimana pelaku usaha tidak tahu menahu dengan kerugian yang ditanggung konsumen ( purna transaksi ).13 Oleh karena itu diperlukan suatu etika dalam berbisnis agar tidak merugikan orang lain.

Dan upaya untuk melindungi konsumen dari perbuatan negatif yang sering

dilakukan oleh pelaku usaha, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang–Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ketentuan

yang mengatur tentang perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha diatur dalam pasal 8 sampai 17, yang isinya : larangan mengenai produk, mengenai perilaku pengusaha, periklanan, cara penjualan, dan perbuatan – perbuatan lain.14 Dan dalam hal ini penulis hanya akan menganalisis menurut Hukum Islam mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam produksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa dalam pasal 8 UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan cara penyelesian sengketa antara produsen dan pelaku usaha dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Menurut Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani menyebutkan bahwa secara garis besar larangan yang dikenakan dalam pasal 8 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dapat dibagi kedalam 2 ( dua ) larangan pokok, yaitu :

13. Muhammad dan Alimin, Op. Cit., hlm.196

(20)

1. Larangan mengenai produk itu sendiri, yang tidak memenuhi syarat dan standar yang layak untuk dipregunakan auat dipakai atau dimanfaatkan oleh konsumen;

2. Larangan mengenai ketersediaan informasi yang tidak benar dan tidak akurat yang menyesatkan konsumen.15

Serta dalam bukunya Ahmadi Miru dan Sutarman Yudo yang berjudul Hukum Perlindungan Konsumen : 2004. Buku ini menyajikan secara sistematis komentar terhadap pasal – pasal dalam Undang – Undang Perlindungan Konsumen. Buku ini juga membahas kandungan dari pasal 8 Undang – Undang Perlindungan Konsumen, meliputi : standar mutu, merek, daluarsa, kehalalan dan pengawasan produk impor. Tujuan dari pelarangan tersebut, hakikatnya menurut Nurmadjito yaitu untuk mengupayakan agar barang dan / jasa yang beredar dimasyarakat merupakan produk yang layak edar, antara lain asal – usul, kualitas, sesuai dengan informasi pengusaha baik melalui label, etiket, iklan dan lain sebagainya.

Islam juga mengenal adanya perlindungan konsumen, seperti pelarangan bai’ tadlis (jual beli yang mengandung tipuan), bai’ tagrir (jual beli tanpa kepastian), pemberlakuan hak khiyar, karena tidak adanya kesesuaian dalam jenis atau sifat barang, atau adanya tipuan yang disengaja.

Penelitian yang membahas mengenai jual beli banyak didapati oleh penulis, namun penelitian yang membahas pengenai pelarangan bagi pelaku usaha

15. Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, ( Jakarta : Gramedia Pustaka Utama ), 2000. hlm. 39

16. Ahmadi Miru dan Sutarman Yudo, Hukum Perlindungan Konsumen ,( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada ), 2004. hal. 66-88

(21)

dalam produksi dan / atau memperdagangkan barang dan / atau jasa dalam pasal 8 Undang – Undang Perlindungan Konsumen belum pernah ditemukan oleh penulis.

E. Metode

Penelitian

Jenis penelitian yang akan penulis lakukan merupakan penelitian kepustakaan ( library research ), yakni suatu kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara menghimpun data dari literatur–literatur yang diperoleh dari kepustaan yang ada relevansinya dengan permasalahan yang dikaji. 17 Jadi penulisan skripsi ini termasuk penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang mana datanya digambarkan dengan kata–kata atau kalimat untuk memperoleh kesimpulan. 18 Data-data tersebut, berasal dari buku-buku yang ada

kaitannya dengan perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha tentang produksi dan perdagangan dalam pasal 8 Undang – Undang Perlindungan Konsumen. Data pokok penelitian ini, dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Data lainnya diambil dari buku-buku yang ada kaitannya dengan perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam produksi dan perdagangan, misalnya dalam buku Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, Hukum Perlindungan Konsumen, Produksi dalam Islam, Etika dan Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam, dll.

Metode analisis yang digunakan penulis adalah “ deskriptif analisis “ yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara obyektif dalam rangka mengadakan perbaikan terhadap permasalahan yang dihadapi sekarang.19 Kegiatan

17. Abudin Nata, Metodologi Study Islam, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada ), 2003, hlm.

125

18. Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, ( Jakarta : PT. Rineka Cipta ), cet IX, 1993, hlm. 243

(22)

dalam penelitian ini adalah menjelaskan, menggambarkan serta menganalisa menurut Hukum Islam mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam produksi dan / atau memperdagangkan barang dan / atau jasa dalam pasal 8 Undang – Undang Perlindungan Konsumen.

F. Sistematika

Penulisan

Untuk memudahkan pemahaman selanjutnya, maka diperlukan adanya penjabaran sistematika pembahasan secara global. Dalam hal ini penulis mensistimatisinya menjadi V ( lima ) bab pembahasan, yaitu :

BAB I Bab ini adalah bab pendahuluan, yang meliputi latar belakang, permasalahan, tujuan penulisan, telaah pustaka, metode penelitian dan di akhiri dengan sistematika penulisan.

BAB II Bab ini akan membahas mengenai ketentuan – ketentuan dalam Hukum Islam mengenai produksi dan jual beli, yang meliputi pengertian dan dasar hukum produksi dan jual beli, prinsip–prinsip produksi, rukun dan syarat jual beli, macam–macam jual beli.

BAB III Bab ini penulis akan menguraikan tentang isi dan maksud dari Pasal 8 Undang-Undang No.8 Th. 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan tentang problematika masyarakat terhadap produksi dan perdagangan BAB IV Memasuki pembahasan selanjutnya ini, penulis akan menganalisis

menurut Hukum Islam mengenai pasal 8 serta efektifitas Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 khususnya Pasal 8

(23)

BAB II

KONSEP PRODUKSI DAN JUAL BELI DALAM ISLAM

A. Produksi

1. Pengertian

Kata Produksi telah menjadi kata Indonesia, setelah diserap di dalam pemikiran ekonomi bersamaan dengan kata konsumsi dan distribusi. Dalam kamus Inggris-Indonesia, kata production secara bahasa mengandung arti penghasilan.1

Produksi menurut Rochmat Soemitro ialah setiap usaha untuk menaikkan atau menimbulkan faedah.2 Pengertian produksi menurut Qutub Abdus Salam

Duaib, adalah usaha mengeksploitasi sumber–sumber daya agar dapat menghasilkan manfaat ekonomi.3 Produksi menurut Lili Asdjudireja dan Kusuma

Permana, yaitu usaha manusia untuk merubah serta mengolah sumber-sumber ekonomi menjadi bentuk serta kegunaan yang baru. Produksi ini mempunyai arti luas, yakni setiap kegiatan yang menciptakan nilai dan meliputi seluruh kegiatan pemenuhan kebutuhan, atau dengan perkataan lain produksi itu adalah untuk menciptakan serta menambah kegunaan dari suatu barang atau jasa dengan mempergunakan faktor-faktor produksi.

1. I. Markus Willy, et.al.., Kamus 950 Juta ( Inggris – Indonesia, Indonesia – Inggris ), ( Surabaya : Arloka ), Cet. I, 1997, hlm.354

2. Rocmat Soemitro, Pengantar Ekonomi Dan Ekonomi Pancasila, ( Bandung : PT. Eresco ), Cet. 8, 1983, hlm. 31

3.Rustam Effendi, Produksi Dalam Islam (Yogyakarta : Megistra Insania Press), , 2003, hlm. 12 4. Lili Asdjudiredja dan Kusuma Permana, Manajemen Produksi, ( Bandung : CV. Armico ),

(24)

Dalam pengertian ahli ekonomi, yang dapat dikerjakan manusia hanyalah membuat barang–barang menjadi berguna, yang kemudian disebut dihasilkan. 5

Kesimpulan dari pengertian diatas, produksi merupakan suatu kegiatan untuk menghasilkan barang–barang menjadi lebih berharga dan lebih berfaedah bagi manusia dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan kemudian diperdagangkan, yang selanjutnya bisa dikatakan dengan bisnis. Sebagaimana yang dikemukakan Straub dan Attner, bisnis tak lain adalah suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang dan jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit. Barang adalah suatu produk yang secara fisik memiliki wujud ( dapat diindra ), sedangkan jasa adalah aktivitas yang memberi manfaat kepada konsumen atau pelaku bisnis lainnya.6 pembuat produksi

disebut dengan produsen, sedangkan pengguna hasil produksi disebut dengan konsumen

2. Arti Penting Produksi

Arti penting produksi bagi manusia, sebagaimana Firman Allah :

ﺔﻀﻔﻟاو ﺐهﺬﻟا ﻦﻣ ةﺮﻄﻨﻘﻤﻟا ﺮﻴﻃﺎﻨﻘﻟاو ﻦﻴﻨﺒﻟاو ءﺎﺴﻨﻟا ﻦﻣ تاﻮﻬﺸﻟا ﺐﺡ سﺎﻨﻠﻟ ﻦﻳز

بﺎﻤﻟا ﻦﺴﺡ ﻩﺪﻨﻋ ﷲاو ﺎﻴﻥﺪﻟاا ةﻮﻴﺤﻟا عﺎﺘﻣ ﻚﻟاذ ثﺮﺤﻟاو مﺎﻌﻥﻻاو ﺔﻣﻮﺴﻤﻟا ﻞﻴﺨﻟاو

Artinya : “ Dijadikan indah pada ( pandangan ) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita- wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik ( surga ). “ ( QS : Al-Imron : 14 ).7

5. M.A. Mannan, Teori Dan Praktek Ekonomi Islam, ( Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf ), 1995, hlm.54

6. Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas Bisnis

Islami, ( Jakarta : Gema Insani Press ), Cet. I, 2002, hlm. 15

(25)

Ayat diatas menerangkan tentang kecintaan manusia terhadap harta kekayaan seperti, emas dan perak (dan semua sumber produksi). Keinginan untuk memiliki dan menambah harta kekayaan serta keinginan untuk mempertahankan merupakan hal yang manusiawi dan menjadi dorongan terus menerus untuk berusaha lebih giat lagi bagi manusia. Manusia diharuskan berjuang untuk memuaskan keinginannya yang terus bertambah. 8

ﻪﻠﻀﻓ ﻦﻣ ﷲا اﻮﻠﺌﺳو

Artinya : “ Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunianya “ ( QS. An-Nisa : 32 ).9

Ayat diatas menyebutkan bahwa Al-Qur’an membimbing manusia untuk selalu berusaha dan berdoa kepada Allah. Dengan demikian, keharmonisan dan keseimbangan antara moral dan tuntutan ekonomi dalam kehidupan akan terjamin. Hal ini akan membuat manusia tidak akan putus asa apabila mengalami kegagalan dan tidak kufur apabila mengalami keberhasilan.10

Tujuan produksi secara umum yaitu untuk memenuhi kebutuhan– kebutuhan pokok semua individu dan menjamin setiap orang agar mempunyai standar hidup manusiawi, terhormat dan sesuai dengan martabat manusia sebagai khalifah. Menurut Monzer Khaf, produksi sebagai upaya manusia untuk meningkatkan tidak hanya kondisi materialnya, tetapi juga moralnya dan sebagai sarana untuk mencapai tujuannya di Hari Kiamat kelak. Hal ini mempunyai tiga implikasi penting :

8. Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, ( Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf ), 1995, hlm.195

9. Depag RI, Op. Cit., hlm. 83 10. Afzalur Rahman, Op. Cit., hlm. 205

(26)

Pertama, produk-produk yang mejauhkan manusia dari nilai-nilai moralnya sebagaimana ditetapkan dalam Al-Qur’an, dilarang. Semua jenis kegiatan dan hubungan industri yang menurunkan martabat manusia atau menyebabkan dia terperosok kedalam kejahatan dalam rangka meraih tujuan ekonomi semata, dilarang. Kedua, aspek sosial produksi ditekankan dan secara ketat dikaitkan dengan proses produksi. Ketiga, masalah ekonomi bukanlah masalah yang jarang terdapat dalam kaitannya dengan berbagai kebutuhan hidup, tetapi ia timbul karena kemalasan dan kealpaan manusia dalam usahanya untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dari anugrah Allah SWT, terutama dalam bentuk sumber-sumber alami.11

Sumber daya dalam produksi menurut Rochmat Soemitro, yaitu :

a. Sumber daya manusia, ialah usaha jasmani atau rohani untuk memuaskan suatu kebutuhan dengan tujuan lain daripada kesenangan yang diperoleh dari usaha tadi.

b. Sumber daya alam, terdiri dari tanah, air, udara, iklim,dan tenaga organis dari binatang. Allah telah menganugerahkan sumber - sumber daya produktif untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sebagaimana Firman Allah :

ﺎﻌﻴﻤﺝ ضرﻻا ﻰﻓ ﺎﻣ ﻢﻜﻟ ﻖﻠﺥ ىﺬﻟاﻮه

Artinya : “ Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.”

( QS. Al-Baqarah : 29 ).12

11. Monzer Khaf, Ekomoni Islam, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset ), 1979, hlm. 37 12. Depag RI, Op. Cit., hlm.6

(27)

نوزﻮﻣ ﺊﺵ ﻞآ ﻦﻣ ﺎﻬﻴﻓ ﺎﻨﺘﺒﻥاو ﻰﺳاور ﺎﻬﻴﻓ ﺎﻨﻴﻘﻟاو ﺎهﺎﻥدﺪﻣ ضرﻻاو

.

ﺎﻬﻴﻓ ﻢﻜﻟﺎﻨﻠﻌﺝو

ﻦﻣو ﺶﻳﺎﻌﻣ

ﻪﻟ ﻢﺘﺴﻟ

ﻦﻴﻗزاﺮﺑ

Artinya : “ Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami meciptakan pula) mahluk-mahluk yang

kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepada-Nya.” ( QS. Al-Hijr : 19-20 ).13

Kedua ayat diatas menyebutkan bahwa tujuan utama Allah menciptakan bumi adalah untuk manusia dapat memperoleh rizki darinya. Allah menyediakan ruang dan waktu untuk memberi kesempatan manusia agar berusaha/bekerja untuk mencukupi keperluan / kebutuhan hidup manusia.

c. Modal, ialah setiap hasil yang digunakan untuk produksi lebih lanjut. d. Organisasi ( skill ). 14

3. Prinsip Produksi

Prinsip fundamental yang harus selalu diperhatikan dalam proses produksi adalah prinsip kesejahteraan ekonomi. Konsep ini ditunjukan dengan bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi hanya dari barang– barang yang berfaedah melalui pemanfaatan sumber daya yang maksimum. Ukurannya yaitu memaksimalkan terpenuhinya kebutuhan manusia dengan usaha minimal tetapi tetap memperhatikan tuntunan perintah Islam tentang konsumsi. Jadi kenaikan volume produksi saja tidak akan menjamin kesejahteraan rakyat secara maksimun. Mutu barang yang diproduksi yang tunduk pada perintah

13. Depag RI, Op. Cit., hlm.264

(28)

Al-Qur’an dan Sunnah, juga harus memperhitungkan dalam menentukan dan pencapaian kesejahteraan ekonomi.15

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam produksi adalah :

a. Dilarang memproduksi dan memperdagangkan komoditas yang tercela karena bertentangan dengan syari’ah.

Dalam sistem ekonomi Islam tidak semua barang dapat diproduksi atau dikonsumsi. Islam mengklsifikasikannya secara tegas dalam surat Al- A’raaf : 157,16 yaitu barang yang secara hukum halal dikonsumsi dan diproduksi (

thoyyibat ), dan barang yang secara hukum haram dikonsumsi dan diproduksi ( khabaits ). Tantangan yang berat bagi pelaku ekonomi Muslim dalam dunia modern, dimana peluang bisnis yang menguntungkan selalu datang dari usaha – usaha yang Khabaits.

b. Dilarang melakukan kegiatan produksi yang mengarah pada kezaliman. c. Segala bentuk penimbunan ( ikhtikar ) terhadap barang – barang kebutuhan

masyarakat, adalah dilarang sebagai perlindungan syari’ah terhadap konsumen dari masyarakat.

Penimbunan bertujuan untuk menguasai pasar, sangat tidak menguntungkan bagi konsumen karena berkurangnya suplay dan melonjaknya harga barang, terutama komoditasa barang kebutuhan pokok. Cara untuk mengantisipasinya adalah pemerintah harus bertindak tegas, menyita produk dan menjualnya dengan harga yang adil kepada konsumen.

15.M.A. Mannan, Op. Cit., hlm. 54-55

(29)

d. Memelihara lingkungan.17

Memelihara hubungan yang harmonis dengan alam sekeliling adalah suatu keharusan bagi setiap individu, karena disekeliling manusia ada umat lain yang menggantungkan hidup pada bumi, air, udara, maka tidak dibenarkan merusak lingkungan, misalnya : dalam air limbah produksi harus diolah sehingga tidak mencemarkan air. Islam menyediakan konsep-konsep dasar pendidikan moral untuk mewujudkan keharmonisan tersebut. Sebagaimana Firman Allah :

نﻮﻌﺝﺮﻳ ﻢﻬﻠﻌﻟ اﻮﻠﻤﻋ ىﺬﻟا ﺾﻌﺑ ﻢﻬﻘﻳﺬﻴﻟ سﺎﻨﻟا ىﺪﻳا ﺖﺒﺴآ ﺎﻤﺑ ﺮﺤﺒﻟاو ﺮﺒﻟا ﻰﻓ دﺎﺴﻔﻟا ﺮﻬﻇ Artinya : “ Telah lahirlah kerusakan di darat dan di laut, disebabkan

perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar). “ ( QS. Ar-Rum : 41 ). 18

Ayat diatas menerangkan bahwa kerusakan yang ada dimuka bumi ini karena manusia sendiri yang mempergunakan sumber-sumber daya ekonomi terutama sumber daya alam, tanpa pertimbangan moral sehingga terjadi banyak pencemaran. Tanggung jawab ini dibebankan kepada manusia, karena manusia adalah individu yang dewasa ( baligh ) dan berakal sehat yang mempunyai banyak kelebihan daripada mahluk lain.

Mahmoedin menyatakan bahwa prinsip etika bisnis berkaitan dengan sistem nilai masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Sony Keraf. Menurutnya secara umum prinsip etika bisnis yang berlaku dalam kegiatan

17. Rustam Effendi, Op. Cit., hlm.14-26. 18. Depag RI, Op Cit., hlm. 409.

(30)

bisnis yang baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia pada umumnya. Demikian pula, prinsip-prinsip itu sangat terkait dengan sistem nilai yang dianut masyarakat. Prinsip etika bisnis menurut Mahfudin :19

a) Bersifat Bebas, yaitu para pengusaha tahu apa yang baik dan apa yang buruk serta tahu mengenai bidang kegiatannya, situasi yang dihadapinya dan aturan yang berlaku baginya. Kebebasan adalah syarat yang harus ada agar manusia bisa bertindak secara etis, manajer harus memiliki kebebasan untuk mengembangkan kegiatan bisnisnya.

b) Bertanggung jawab, bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, kepada pemberi amanah, kepada orang yang terlibat kapada masyarkat / konsumen. c) Bersikap jujur. Prinsip kejujuran ini terwujud dalam pemenuhan syarat-syarat

perjanjian dan kontrak, informasi / penawaran barang dan jasa dengan mutu baik, jujur dalam takaran, tidak menyembunyikan cacat.

d) Berbuat baik. Prinsip ini menuntut orang secara aktif dan maksimal berbuat baik kepada orang lain. Misalnya: hanya menjual barang-barang halal, yang bermutu.

e) Bersikap adil. Prinsip ini menuntut agar memperlakukan orang lain sesuai dengan haknya.

f) Bersikap hormat

g) Bersikap inovatif, sehingga produk tersebut berguna dan dibutuhkan serta dapat memuaskan masyarakat.19

19. Neni Sri Imaniyati, Hukum Ekonomi & Ekonomi Islam Dalam Perkembangan, ( Jakarta : Mandar Maju ), Cet I, 2002, hlm. 165-166

(31)

Prinsip perdagangan menurut Hamzah, yaitu : 1. Jujur takaran

2. Menjual barang yang halal

3. Menjual barang yang baik mutunya

4. Jangan menyembunyikan barang yang cacat 5. Jangan main sumpah

6. Longgar dan bermurah hati

7. Jangan menyaingi kawan dengan cara yang tidak dibenarkan 8. Mencatat hutang piutang

9. Larangan riba

10. Zakat 2 ½ % sebagai pembersih harta.21

Inti dari prinsip produksi diatas adalah keadilan dan tidak mementingkan keuntungan sendiri serta tanpa penindasan atau menghancurkan masyarakat. Cara–cara yang tidak adillah yang akan melahirkan rasa ketidakkepuasan dalam masyarakat yang akhirnya akan membawa kehancuran. Islam tidak memberikan kebebasan tanpa batas kepada setiap orang dalam memperjuangkan ekonominya sebagaimana dalam ekonomi kapitalis; dan tidak juga menekan sebagaimana dalam sistem ekonomi komunis sehingga setiap individu kehilangan seluruh kebebasannya.22 Cara mencari kekayaan dengan mengabaikan segi moral dan

mengesampingkan kepentingan orang lain tidak diperkenankan. Anggota masyarakat tidak boleh mengabaikan kepentingan orang lain; seorang hamba Allah yang patuh tidak diperkenankan untuk merusak hamba Allah yang lain.

21. Neni Sri Imaniyati, Op. Cit., hlm. 170-171 22. Afzalur Rahman, Op. Cit., hlm.215

(32)

Seorang muslim yang berusaha menghasilkan sesuatu untuk masyarakat serta mencari uang, tidak akan menggunakan cara-cara yang akan merugikan kebajikan masyarakatnya, karena mereka berpedoman kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an. Inilah inti dari bisnis Islam. Untuk mengetahui secara terperinci karakteristik dan perbedaan bisnis Islam dan non Islam dapat dilihat dari tabel 1. Tabel 1 Karekteristik Bisnis ISLAMI VS NONISLAMI 22 ISLAMI KARAKTER BISNIS NONISLAMI

Aqidah Islam ASAS Sekularisme

(nilai–nilai material)

Dunia – Akhirat MOTIVASI Dunia

Profit & Benefit, Pertumbuhan, Keberlangsungan, Keberkahan ORIENTASI Profit, Pertumbuhan, Keberlangsung an Tinggi, Bisnis adalah bagian dari ibadah

ETOS KERJA Tinggi, Bisnis

adalah kebutuhan duniawi Maju & produktif,

konsekuensi keimanan & manifestasi kemusliman

SIKAP MENTAL Maju dan

produktif sekaligus konsumtif Konsekuensi aktualisasi diri Cakap & ahli

dibidangnya, Konsekuensi dari

KEAHLIAN Cakap & ahli

di bidangnya, Konsekuensi

(33)

kewajiban seorang muslim dari motivasi reward & punishment Terpercaya & bertanggung jawab, tujuan tidak menghalalkan cara AMANAH Tergantung kemauan individu (pemilik kapital), Tujuan Menghalalkan cara

Halal MODAL Halal & haram

Sesuai dengan akad kerjanya SDM Sesuai dengan akad kerjanya atau sesuai keinginan pemilik modal

Halal SUMBER DAYA Halal & haram

Visi dan misi organisasi terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia

MANAJEMEN

STRATEGIK Visi dan misi organisasi ditetapkan berdasarkan pada kepentingan material belaka Jaminan halal bagi

setiap masukan, proses & keluaran, mengedepankan produktivitas dalam koridor syari’ah MANAJEMEN OPERASI Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran, mengedepanka n produktivitas dalam koridor manfaat Jaminan halal bagi

setiap masukan & keluaran keuangan

MANAJEMEN

KEUANGAN Tidak ada jaminan hala bagi setiap masukan, proses & keluaran

(34)

keuangan Pemasaran dalam

koridor jaminan halal

MANAJEMEN

PEMASARAN Pemasaran menghalalkan cara SDM profesional & berkepribadian Islam, SDM adalah pengelola bisnis, SDM bertanggung jawab pada diri, majikan & Allah SWT MANAJEMEN SDM SDM profesional, SDM adalah faktor produksi, SDM bertanggung jawab pada diri & majikan

Sumber : Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad Karebet Widjajakusuma, Menggagas

(35)

B. Jual

Beli

1. Pengertian Dan Dasar Hukum Jual Beli

Jual beli dalam KUH Perdata Pasal 1457 adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.23

Jual beli menurut bahasa, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Taqiyyudin dalam Kitab Kifayah Al–Akhyar, yaitu memberikan sesuatu karena menerima sesuatu ( imbalan ).24 Menurut Abu Syeikh Yahya Zakariya Al–Anshory

dalam Kitab Fath Al-Wahhab, yaitu tukar menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain.25 Menurut Abu Abdillah Muhammad bin Abi Al–Qosim As–Samiry dalam

Kitab Radd Al–Muhtar, yaitu jual beli menurut bahasa adalah pencerminan dari ijab dan qobul ketika ada ikatan dari 2 ( dua ) hal atau benda dengan harga.26

Kesimpulan dari pengertian jual beli menurut bahasa merupakan pengertian secara umum, yaitu mengganti sesuatu dengan sesuatu.

Jual beli menurut istilah adalah

Menurut Imam Taqiyyudin dalam Kitab Kifayah Al-Akhyar adalah pemberian harta karena menerima harta dengan ikrar penyerahan dan jawab penerimaan ( ijab qobul ) dengan cara yang diijinkan.27

23. R. Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang – Undang Hukum Perdata, ( Jakarta : Pradya Paramita ), cet. 77, hlm.366

24. Imam Taqiyyudin Abi Bakr bin Muhammad Khusaini, Kifayah Al-Akhyar, ( Indonesia : Dar Ihya’ Al-Kutub Arabiyyah ), Juz. I, hlm. 239

25. Syeikh Yahya Zakariya Al-Anshory, Fath Al-Wahhab, ( Dar Al-Fikr ), Juz. I, hlm. 157

26. Abu Abdillah Muhammad bin abi Al-Qosim As-Samiry, Rodd Al-Muhtar, ( Dar Al-Fikr ),

Juz. 7, hlm. 3

(36)

Dalam Kitab Fath Al-Wahhab, jual beli adalah tukar menukar harta dengan harta lain dengan cara tertentu.28 Menurut Sayyid Sabbiq, jual beli adalah

pertukaran harta atas dasar saling rela atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.29 Dalam Kitab Rad Al-Mukhtar, yaitu penukaran sesuatu dengan

harapan mendapat sepadannya dengan cara tertentu.30

Kesimpulan penulis dari definisi–definisi diatas, bahwa jual beli adalah suatu peristiwa atau kejadian yang terdiri dari ijab dan qobul yang menetapkan kerelaan diantara 2 ( dua ) orang, yaitu penjual dan pembeli yang menyangkut barang dan harga, dimana ijab qobul itu dapat menimbulkan kewajiban bagi pembeli untuk membayar harga dan berhak menerima barangnya, begitu juga penjual berkewajiban menyerahkan barangnya kepada pembali dan berhak menerima harganya atas barang tersebut.

Jual beli tersebut melibatkan beberapa unsur yaitu pihak pembeli menyerahkan uangnya sebagai penyerahan atas barang yang diterimanya dan pihak penjual menyerahkan barangnya sebagai ganti dari uang ynag diterimanya, atas dasar kesepakatan dari kedua belah pihak yang diwujudkan dalam bentuk ijab dan qobul.

Dasar hukum jual beli termaktub dalam Al–Qur’an dan Al–Hadist. Firman Allah :

اﻮﺑﺮﻟا مﺮﺡو ﻊﻴﺒﻟا ﷲا ﻞﺡاو

28. Syeikh Yahya Zakariya Al-Anshory, loc. cit.

29. Sayyid Sabbiq, Fiqh Sunnah, ( Dar Al-Fikr ), Juz. III, hlm.126

(37)

Artinya : “ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba “. ( QS. Al–Baqarah : 275 ). 31

Ayat diatas mengandung pengertian bahwa Allah telah menghalalkan jual beli kepada hamba-Nya dengan jalan yang baik dan melarang jual beli yang mengandung riba atau merugikan orang lain.

سﺎﻨﻟا لاﻮﻣا ﻦﻣ ﺎﻘﻳﺮﻓ اﻮﻠآ ءﺎﺘﻟ مﺎﻜﺤﻟا ﻰﻟا ﺎﻬﺑ اﻮﻟﺪﺗو ﻞﻃﺎﺒﻟاﺎﺑ ﻢﻜﻨﻴﺑ ﻢ ﻜﻟاﻮﻣا اﻮ ﻠآ ءﺎ ﺗ ﻻو

نﻮﻤﻠﻌﺗ ﻢﺘﻥاو ﻢﺛﻻﺎﺑ

Artinya : “ Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan ( janganlah ) kamu membawa ( urusan ) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benada orang lain itu dengan ( jalan berbuat ) dosa, padahal kamu mengetahui. ( QS. Al-Baqarah : 188 ).32

ﻦﻳﺬﻟا ﺎﻬﻳا ﺎﻳ

ا

اﻮﻨﻣ

ﻢﻜﻨﻣ ضاﺮﺗ ﻦﻋ ةرﺎﺠﺗ نﻮﻜﺗ ن ا ﻻا ﻞﻃﺎﺒﻟﺎﺑ ﻢﻜﻨﻴﺑ ﻢﻜﻟاﻮﻣا اﻮﻠآ ءﺎﺗ ﻻ

Artinya : “ Janganlah kamu makan harta yang ada diantara kamu dengan jalan batil melainkan dengan jual beli suka sama suka “ (QS. An-Nisa : 29).33

Ayat diatas menjelaskan bahwa kita diharamkan memakan harta sesama manusia dengan jalan yang batil, baik itu dengan jalan mencuri, menipu, merampok, merampas, maupun dengan jalan lain yang tidak dibenarkan Allah, kecuali dengan jalan perniagaan atau jual beli yang didasari atas dasar suka dan saling menguntungkan. Karena memakan harta orang lain dengan jalan yang tidak benar akan merugikan orang lain dan akan menimbulkan perselisihan. Allah menyuruh manusia agar mencari penghidupan dengan cara yang baik yang selalu dilandasi dengan iman dan taqwa kepada Allah.

31. Depag RI, Op. Cit., hlm. 48 32. Ibid., hlm. 30

(38)

Hadist Rosulullah menyebutkan :

ضاﺮﺗ ﻦﻋ ﻊﻴﺒﻟا ﺎﻤﻥا

Artinya : “ Sesungguhnya jual beli atas dasar kerelaan “34

ﻲﺒﻨﻟا نا ﻪﻨﻋ ﷲا ﻰﺿر ﻊﻓار ﻦﺑ ﺔﻋﺎﻓر ﻦﻋ

ﺐﻴﻃا ﺐﺴﻜﻟا يأ ﻞﺌﺳ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ

لﺎﻗ

:

روﺮﺒﻣ ﻊﻴﺑ ﻞآو ﻩﺪﻴﺑ ﻞﺝﺮﻟا ﻞﻤﻋ

)

راﺰﺒﻟا ﻩاور

(

Artinya : “ Dari Rifa’ah RA, Sesungguhnya Nabi SAW ditanya : mata pencarian apa yang paling baik, jawabnya : seorang laki–laki yang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang baik “35

Hadist diatas mengandung pengertian bahwa seseorang diwajibkan memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan tangannya sendiri (bekerja). Allah melarang manusia yang malas (tidak mau bekerja) yang menggantungkan hidupnya kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Allah juga menyuruh manusia dalam berjual beli yaitu dengan cara yang baik ( mabrur ) yang didasari kejujuran hati tanpa kecurangan juga penipuan. Kata mabrur menurut penulis dapat diartikan diterima dan dibenarkan syara’. Jual beli yang dapat diterima dan dibenarkan syara’ adalah jual beli yang memenuhhi syarat dan rukunnya.

Landasan hukum diatas, menjelaskan bahwa manusia dituntut untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhannya, salah satu contohnya yaitu dengan jual beli. Jual beli merupakan suatu bentuk mu’amalah yang ada landasan hukumnya dalam syari’at Islam dan merupakan suatu usaha yang baik dalam mencari rizki yang halal asalkan dengan jalan yang baik pula tanpa ada pihak yang dirugikan.

34. Muhammad bin Ismail al Khalani as San’ani, Subulus Salam, Juz II, Maktabah wa Matbaah, ( Semarang : Thoha Putra ), t/th, hlm. 4

(39)

2. Rukun Dan Syarat Jual Beli

Disyari’atkan jual beli dimaksudkan agar kemerdekaan individu dalam melaksanakan aktivitas ekonomi akan terikat oleh hak dan kewajiban sesamanya yang berdasarkan ketentuan sumber Hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Jual beli dapat dikatakan sah menurut Hukum Islam, apabila terpenuhi syarat dan rukunnya sesuai dengan Syari’at Islam sebagai acuan dalam pelaksanaan jual beli dan juga dalam melaksanakan syari’at.

Rukun dan Syarat yang harus dipenuhi dalam jual beli adalah : 1) Sighat Akad

Pengertian Akad menurut bahasa adalah ikatan yang ada diantara ujung sesuatu barang, sedangkan menurut istilah ahli fiqh, aqad ialah ikatan ijab qobul menurut cara yang disyari’atkannya, sehingga tampak akibatnya.36 Menurut Hasbi

As-Siddieqy, aqad merupakan perkataan antara ijab dengan qobul secara yang dibenarkan oleh syara’ yang menetapkan kedua belah pihak.37 Ijab ialah

permulaan penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad, buat memperlihatkan kehendaknya dalam mengadakan akad, siapa saja yang memulainya. Qobul ialah jawaban pihak yang lain sesudah adanya ijab, buat menyatakan persetujuan.38 Misal dari pengertian ini adalah penjual menjajakan

barangnya dengan berkata, aku jual barang itu kepadamu dengan harga sekian rupiah, kemudian disambut oleh pembeli, ya aku setuju untuk membeli barang itu. Perkataan penjual itu dinamakan ijab, dan jawaban pembeli dinamakan qobul.

36. Gufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada ), Cet. I, 2002, hlm.76

37. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, ( Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra ), Cet. I, 1997, hlm. 26.

(40)

Syarat sighat ijab qobul adalah :

a. Satu sama lain berhubungan disatu tempat tanpa ada pemisah yang merusak. b. Ada kesepakatan antara ijab dan qobul pada barang dan saling ada kerelaan

diantara mereka, berapa barang yang dijual dan harga barang, jika keduanya tidak sepakat, maka jual beli ( aqad ) dinyatakan tidak sah, sebaliknya apabila keduanya menyatakan sepakat maka jual beli itu sah.

c. Ungkapan harus menunjukkan masa lalu ( madli ) seperti perkataan penjual “aku rela jual“ dan perkataan pembeli “aku telah terima“ atau menunjukkan masa sekarang ( mudhori’ ), jika yang diinginkan pada masa yang akan datang dan semisalnya, maka hal itu merupakan janji untuk beraqad dan bukanlah sebagai aqad yang sah secara hukum.39

d. Sigaht aqad harus menunjukkan bahwa sighat akad harus memperlihatkan kesungguhan, tidak diucapkansecara ragu–ragu, tanpa kesungguhan aqad menjadi tidak sah. Sebagaimana yang dikatakan Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy bahwa berjanji akan menjual belum merupakan akad penjualan, dan orang yang berjanji tidak dapat dipaksa menjualnya “. 40

Perkataan atau ucapan bukanlah satu–satunya jalan untuk mengadakan akad dan tidak harus sama ( tiap–tiap daerah bisa berubah ), asalkan akad tersebut dapat dipahami oleh kedua belah pihak dan menunjukkan ikatan jual beli yang baik.

Cara lain yang dapat ditempuh dalam berakad adalah : a. Kitabah ( tertulis )

b. Isyarah

39. Sayyid Sabbiq, Op. Cit., hlm. 49

(41)

c. Ta’athi ( beri memberi dalam Bai’ Mu’athah ).41

Syarat yang terkai dengan kekuatan hukum akad jual beli, bahwa jual beli baru mempunyai sifat mengikat, apabila jual beli itu terbebas dari khiyar maka jual beli itu belum mengikat dan masih dapat dibatalkan.42

2) Aqid

Aqid adalah orang–orang yang melakukan aqad. Jual beli tidak akan terjadi tanpa adanya orang yang melakukan, karena itu aqid adalah rukun yang pertama yang harus dipenuhi dalam jual beli. Aqid jual beli ada 2 ( dua ), yaitu : penjual dan pembeli. Aqid ini dapat dilihat pada waktu terjadi transaksi jual beli damana pada saat itu terjadi aqad.

Syarat Aqid adalah : a. Berakal dan Baligh

Jumhur Ulama’ berpendapat, bahwa orang yang melakukan akad jual beli itu, harus baligh dan berakal. Apabila orang yang berakad itu masih mumayyiz, maka jual beli itu tidak sah, sekalipun mendapat izin dari walinya.43

Syarat aqil bagi aqid, adalah logis, karena hanya orang yang sadar dan berakallah yang sanggup melakukan transaksi secara sempurna. Jual beli anak kecil yang biasa terjadi di masyarakat, seperti jual beli minuman, makanan. Menurut hemat penulis, jual beli ini diperbolehkan karena telah menjadi kebiasaan asalkan nilainya relatif kecil.

41. Ibid.., hlm. 30.

42. Khiyar : Hak pilih untuk meneruskan atau membatalkan jual beli. Khiyar dibagi menjadi 4

macam, yaitu Khiyar Majlis, Khiyar Syarath, Khiyar Aib, Khiyar Ru’yah. Lihat : M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2003, hlm. 139-141.

(42)

b. Kehendak sendiri

Jual beli dilakukan tanpa adanya unsur paksaan dari pihak lainnya. Jual beli yang dilakukan bukan atas dasar kehendaknya sendiri adalah tidak sah.

3) Ma’qud Alaih

Ma’qud Alaih adalah barang yang menjadi obyek dalam jual beli, baik barang yang diperjualbelikan dan sesuatu yang dipergunakan untuk membeli. Pada prinsipnya seluruh mazhab sepakat bahwasanya obyek jual beli haruslah berupa mal mutaqawwim, suci, wujud (ada), diketahui secara jelas dan dapat diserahterimakan.45 Syarat–syaratnya secara terperinci adalah :

a. Barang yang diperjualbelikan harus suci. Jual beli tidak sah apabila barang yang diperjualbelikan itu itu najis.

b. Barang yang diperjualbelikan harus ada manfaatnya.46

c. Keadaan barang harus dapat diserahterimakan, maka tidak sah jual beli barang yang tidak dapat diserahterimakan, kecuali jual beli salm.47

d. Barang yang diperjualbelikan milik sendiri dari orang yang melakukan aqad, atau telah mendapat kuasa dari pemilik asli barang tersebut.

e. Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui oleh penjual dan pembeli baik dzatnya, bentuk, kadar maupun sifatnya, sehingga tidak terjadi keluh mengeluh diantara kedua belah pihak.

45.Gufron A. Mas’adi, Op. Cit., hlm.125

46. Sayyid Sabbiq, Op. Cit., hlm. 55

47. Jual Beli salm yaitu “jual beli barang secara tangguh dengan harga yang dibayarkan dimuka”, atau dengan bahasa lain “jual beli dimana harga dibayarkan dimuka sedangkan barang dengan kriteria tertentu akan diserahkan pada waktu tertentu “.Lihat : Gufron A. Mas’adi,

(43)

Alat pembayaran dalam jual beli antara lain : a. Barang

Ketentuannya, barang tersebut harus sama nilainya, pembayarannya harus dengan kontan, serah terima dalam satu majlis, yaitu penjual menyerahkan barangnya kemudian pembeli menyerahkan harganya yang telah disepakati bersama.48

b. Uang

Uang merupakan bentuk pembayaran yang sering dilakukan dalam jual beli. Karena uang merupakan alat pembayaran yang paling efektif dan efisien.

3. Pembagian Macam–Macam Jual Beli.49

Dari aspek obyeknya jual–beli dapat dibedakan menjadi empat macam :

a. Bai’ al-Muqayadhah, atau bai’ al-‘ain bil-‘ain, yakni jul beli barang dengan barang yang lazim disebut jual beli barter, seperti menjual hewan dengan gandum.

b. Bai’ al-Muthlaq, atau bai’ al-‘ain bil-dain, yakni jual beli barang dengan barang lain secara tangguh atau menjual barang dengan tsaman secara mutlaq, seperti rupiah.

c. Bai’ al-Sharf, atau bai’ al-dain bil-dain, yakni menjualbelikan tsaman ( alat pembayaran ) dengan tsaman lainnya.

d. Bai’ al-Salam, atau bai’ al-dain bil-‘ain.

48. Sayyid Sabbiq, Op. Cit., hlm. 62

(44)

Dari aspek tsaman, jual beli dapat dibedakan menjadi empat :

a. Bai’ al-Murabahah, yakni jual beli barang dengan harga pokok ditambah sejumlah keuntungan tertentu yang disepakati bersama dalam akad.

b. Bai’ al-Tauliyah, yakni jual beli barang dengan harga asal tanpa ada penambahan harga atau pengurangan.

c. Bai’ al-Wadhi’ah, yakni jual beli barang dengan harga asal dengan pengurangan sejumlah harga atau diskon.

d. Bai’ al-Musawamah, yakni jual beli barang dengan harga yang disepakati kedua belah pihak, karena pihak penjual cenderung merahasiakan harga asalnya. Jual beli ini adalah jul beli yang biasa berkembang di masyarakat sekarang ini.

Islam melarang segala ketidakadilan dalam praktek perdagangan antara lain :

a. Bai’ Najasy

Transaksi ini diharamkan karena si penjual menuruh orang lain untuk memuji barang atau menawar barang dagangannya tersebut dengan harga yang tinggi agar ada pembeli lain yang tertarik untuk membeli. Si penawar tidak ada maksud untuk membeli barang tersebut.

b. Ikhtikar

Ikhtikar, sering diterjemahkan sebagai monopoli dan atau penimbunan. Dalam Islam, siapapun boleh berbisnis tanpa peduli apakah dia satu–satunya penjual (monopoli). Menyimpan stock barang untuk keperluan persediaanpun tidak dilarang dalam Islam.Yang dilarang adalah mengambil keuntungan diatas

(45)

keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi.Singkatnya kategori ikhtikar adalah :

a) Mengupayakan adanya kelangkaan barang dengan cara menimbun stock. b) Menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga sebelum

munculnya kelangkaan.

c) Mengambil keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan keuntungan sebelum 1 dan 2 dilakukan.

c. Tadlis ( Penipuan )

Kondisi ideal dalam pasar adalah apabila penjual dan pembeli mempunyai informasi yang sama tentang barang yang akan diperjualbelikan, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.

Macam-macam Tadlis : a) Tadlis Kuantitas

Tadlis Kuantitas, termasuk kegiatan menjual barang kuantitas sedikit dengan harga barang kuantitasnya banyak. Misalnya, menjual baju sebanyak satu kontainer, karena jumlahnya banyak maka tidak mungkin pembeli untuk menghitung satu per satu, penjual berusaha melakukan penipuan dengan mengurangi jumlah barang yang dikirim kepada pembeli.

b) Tadlis Kualitas

Tadlis Kualitas, termasuk menyembunyikan cacat atau kualitas barang yang buruk yang tidak sesuai dengan yang disepakti oleh penjual dan pembeli. Contohnya, menjual televisi kualitas rendah 20 inci dengan harga Rp. 700.000,-. Dan ada penjual menjual televisi dengan kualitas sedang dengan harga yang sama.

(46)

c) Tadlis Harga

Tadlis Harga, termasuk menjual barang dengan harga yang lebih tinggi atau rendah dari harga pasar karena ketidaktahuan pembeli atau penjual. Misalnya, harga pasaran taksi Rp. 12.000,-. Sopir taksi menawarkan dengan harga Rp. 50.000,- kepada calon pengguna yang tidak tahu harga taksi. Dan setelah tawar menawar antara sopir taksi dan calon pengguna, akhirnya disepakati harga Rp. 40.000,-, Meskipun kedua belah pihak saling rela, namun hal ini dilarang karena kerelaan pengguna taksi adalah kerelaan dalam keadaan tertipu.

d) Tadlis Waktu Penyerahan.

Misalnya, si penjual tahu persis ia tidak akan dapat menyerahkan barang pada besok hari, namun menjanjikan akan menyerahkan barang tersebut pada besok hari.

d. Taghrir ( Ketidakpastian Kedua Belah Pihak ). a) Taghrir Kuantitas.

Contohnya, sistem ijon. Kesepakatan dalam akad tanpa menyebutkan berapa kuantitas ( berapa ton, berapa kuintal ) padahal harga sudah ditetapkan. Dengan demikian tidak ada kepastian kuantitas barang yang ditransaksikan. Seperti menjual padi yang masih hijau disawah, menjual buah yang masih menempel di pohonnya.

b) Taghrir Kualitas

Contohnya, menjual anak sapi dalam kandungan. Yakni, penjual tidak dapat memastikan kondisi fisik anak sapi tersebut bila nanti sudah lahir. Apakah

(47)

nanti anak sapi tersebut lahir dengan keadaan yang sehat ataukah dalam keadaan yang cacat

c) Taghrir Harga

Contohnya, seorang penjual menjual barang A dengan harga dua harga, yaitu Rp. 10.000,- untuk harga tunai, dan Rp. 20.000,- untuk harga kredit, kemudian pembeli menyetujuinya. Akad ini tidak sah, karena dalam satu akad ada dua harga.

e. Talaqqi Rukban, yaitu pedagang membeli barang dari penjual sebelum penjual masuk kota. Praktek ini dilarang karena pedagang yang menyonsong di pinggir kota mendapat keuntungan dari ketidaktahuan penjual dari kampung akan harga yang berlaku di kota.50

50. Adiwarman Azhar Karim, Ekonomi Mikro Islami, ( Jakarta : IIIT Indonesia ), 2002, hlm. 152-165.

(48)

BAB III

LARANGAN BAGI PELAKU USAHA DALAM

MEMPRODUKSI DAN / ATAU MEMPERDAGANGKAN

BARANG DAN / ATAU JASA DALAM PASAL 8

UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN

KONSUMEN

A.

Sekilas Tentang Undang-Undang No. 8 Tahun 1999

Perkembangan perekonomian yang semakin pesat serta didukung dengan kemajuan teknologi informasi telah menghasilkan berbagai jenis dan variasi dari masing-masing barang dan / atau jasa yang dapat dikonsumsi, sehingga memberikan dampak negatif maupun dampak positif. Dampak positifnya bagi konsumen adalah terpenuhinya segala kebutuhan akan barang dan jasa dan semakin terbuka lebarnya kebebasan untuk memilih aneka jenis barang dan jasa yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen. Dampak negatifnya, keadaan ini mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang, dimana konsumen berada pada posisi yang lemah. Konsumen menjadi objek aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya oleh pelaku usaha melalui kiat promosi, cara penjualan, serta penerapan perjanjian standar yang merugikan konsumen. Keadaan ini semakin lama menjadi perhatian banyak orang.1

1. Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, ( Jakarta : Gramedia Pustaka Utama ), 2000. hal. 11

(49)

Di Indonesia masalah perlindungan konsumen mulai terdengar pada tahun 1970-an. Hal ini ditandai dengan lahirnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada bulan Mei 1973. Secara historis, pada awalnya Yayasan ini berkaitan dengan rasa mawas diri terhadap promosi untuk memperlancar barang-barang dalam negeri. Atas desakan suara-suara dari masyarakat baik melalui ceramah-ceramah, seminar-seminar maupun melalui tulisan-tulisan di media masa, kegiatan promosi ini kemudian diimbangi dengan langkah-langkah pengawasan terhadap barang-barang, dan diperuntukan agar masyarakat tidak dirugikan dari barang yang rendah mutunya dan kualitasnya terjamin serta telah memacu masyarakat untuk melindungi dirinya.2

Puncaknya, pada tanggal 20 April 1999, Pemerintah Replubik Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang diberlakukan sejak tanggal 20 April 2000. Undang-Undang ini diharapkan dapat mendidik masyarakat Indonesia untuk lebih menyadari akan segala hak dan kewajibannya yang dimiliki terhadap pelaku usaha, yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu ditingkatkan kasadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan, dan kemandirian konsumen uuntuk melindungi dirinya, serta menumbuh kembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab.3

2. Ibid,. Hal. 12 3. Ibid,. Hal. 2

(50)

Selain itu, pemberlakuan undang-undang ini dimaksudkan untuk menjadi landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen, dan mendorong iklim berusaha yang sehat dengan serta mendorong lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan yang berkualitas. Pemberlakuannya undang-undang ini juga akan tetap memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha kecil dan menengah melalui pembinaan dan penerapan sanksi atas pelanggarannya.4

Pengaturan perlindungan konsumen dilakukan dengan :

a. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur keterbukaan akses dan informasi, serta menjamin kepastian hukum;

b. Melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh pelaku usaha;

c. Meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa

d. Memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktek usaha yang menipu dan menyesatkan;

e. Memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen dengan bidang – bidang perlindungan pada bidang – bidang lain.5

4. Rachmadi Usman. Hukum Ekonomi Dalam Dinamika. Jakarta ; Djambatan. Cet.1. 2000. hal.195

5. Erman Rajaguguk, et.al.., Hukum Perlindungan Konsume, ( Bandung : Mandar Maju ), 2000. hal. 7

(51)

Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini terdiri dari 15 bab dan 65 pasal serta 11 bagian, dengan cakupan materinya sebagai berikut :

a. Asas dan tujuan perlindungan konsumen; b. Hak dan kewajiban konsumen;

c. Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha; d. Ketentuan pencantuman klausula baku; e. Tanggung jawab pelaku usaha;

f. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan perlindungan konsumen; g. Badan perlindungan konsumen;

h. Lembaga perlindungan konsumen; i. Penyelesaian sengketa konsumen; j. Badan penyelesaian konsumen;

k. Penyidikan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen; l. Sanksi administratif dan pidana;

Dan dilengkapi pula dengan Penjelasan Umum serta Penjelasan Pasal demi Pasal. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini lebih didominasi mengatur perilaku pelaku usaha. Hal ini disebabkan karena kerugian yang dialami konsumen barang dan jasa, lebih khusus konsumen makanan,

minuman dan obat-obatan acapkali merupakan akibat dari pelaku usaha ( produsen ). Sehingga wajar apabila para pejuang gerakan perlindungan

konsumen menuntut ulah pelaku usaha tersebut diatas dan pelanggaran terhadap aturan tersebut dikenakan sanksi yang stimpal.6

6. Bagian Perekonomian ( Sekda kabupaten Kendal ). Kumpulan Materi : Sosialisasi

Undang-Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Kendal, 16 Oktober 2002.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :