DAFTAR ISI
SAMPUL DEPAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN DIREKSI ... iii
LEMBAR PERSETUJUAN DEWAN PENGAWAS ... iv
DAFTAR ISI ... v
BAB I: PENDAHULUAN ... 1
1.1
Latar Belakang ... 1
1.2
Tujuan RSB ... 3
1.3
Dasar Hukum ... 3
1.4
Sistematika Penyusunan RSB ... 4
BAB II: KONDISI SATKER ... 5
2.1
Profil Satker ... 5
2.1.1 Gambaran Umum ... 5
2.1.2 Sejarah ... 6
2.1.3 Lokasi ... 7
2.1.4 Struktur Organisasi ... 8
2.2
Gambaran Kinerja ... 10
2.2.1 Kinerja Aspek Pelayanan ... 10
2.2.2 Kinerja Aspek Keuangan ... 19
2.2.3 Kinerja Aspek SDM ... 21
2.2.4 Kinerja Aspek Sarana dan Prasarana ... 26
2.3
Tantangan Strategis ... 30
2.4
Benchmarking ... 31
2.5
Analisa SWOT... 31
2.6
Diagram Kartesius dan Prioritas Strategis ... 32
2.7
Analisa TOWS... 35
2.8
Analisa dan Mitigasi Risiko ... 37
2.8.1 Identifikasi Risiko ... 37
2.8.2 Penilaian Tingkat Risiko ... 38
2.8.3 Rencana Mitigasi Risiko ... 42
BAB III: ARAH DAN PRIORITAS STRATEGIS ... 46
3.1
Rumusan Pernyataan Visi, Misi, dan Tata Nilai ... 46
3.2
Arah dan kebijakan Stakeholder Inti ... 47
3.3
Rancangan Peta Strategi Balanced Scoredcard (BSC) ... 61
3.4
Indikator Kinerja Utama ... 62
3.4.1 Matriks IKU ... 62
3.4.2 Kamus IKU ... 63
3.5
Roadmap 5 Tahun kedepan ... 73
3.6
Program Kerja Strategis ... 77
BAB IV: PROYEKSI KEUANGAN ... 87
4.1
Estimasi Pendapatan ... 87
4.2
Rencana Kebutuhan Anggaran ... 88
4.2.1 Anggaran Kelangsungan Operasional ... 90
4.2.2 Anggaran Pengembangan ... 92
4.3
Rencana Pendanaan ... 93
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rencana Strategis Bisnis (RSB) merupakan salah satu perangkat strategis bagi
pimpinan organisasi pemerintah yang memandu dan mengendalikan arah gerak serangkaian
prioritas pengembangan organisasi, berbagai unit kerja dibawahnya, serta mitra kerjanya
untuk bergerak searah bersinergis menuju tujuan-tujuan organisasi. Dengan memusatkan
pada hal-hal yang sangat penting, RSB bertindak sebagai kompas yang membantu pengambil
keputusan di berbagai tingkatan organisasi untuk mengetahui kapan “bertahan di jalur” dan
kapan perlu mengubah strategi organisasi dalam menghadapi dinamika tuntutan stakeholder
inti organisasi.
Rencana Strategis Bisnis RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor (RSMM) merupakan
dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pelaksanaan
kegiatan yang akan dilaksanakan oleh RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor untuk kurun waktu
tahun 2020-2024. Rencana Btrategi Bisnis ini didasarkan pada perubahan struktur organisasi
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor yang memberikan penekanan pada pencapaian sasaran
strategis.
Arahan RPJPN tahun 2005-2025 untuk RPJMN tahun 2020-2024 (Tahap IV) bahwa
Visi Pembangunan tahun 2005-2025
adalah ”Indonesia Yang Mandiri, Maju, Adil Dan
Makmur”. Sasaran Pokok Pembangunan Jangka Panjang Nasional diupayakan secara
bertahap melalui RPJMN lima tahunan. Pada RPJMN tahun 2020–2024, untuk mewujudkan
visi dilakukan melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan
terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di
berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing (sehat, cerdas,
adaptif, kreatif, inovatif, terampil, dan bermanfaat).
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan manusia sebagai
insan dan sumber daya yang meliputi: pelayanan dasar dan perlindungan sosial, SDM
berkualitas dan berdaya saing, dan pembangunan karakter.Kaidah pembangunannya adalah
membangun kemandirian, menjamin keadilan, dan menjaga keberlanjutan. Hal ini sesuai
dengan visi Presiden terpilih tahun 2019-2024 yaitu “Pembangunan SDM” dengan fokus
pembangunan ke III yaitu peningkatan SDM berkualitas dan berdaya saing dengan cara
peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan.
Tantangan pelayanan kesehatan di Indonesia adalah era Universal Health Coverage
(UHC), globalisasi, disrupsi, kelas RS tidak menggambarkan kompetensi yang sebenarnya,
mutu pelayanan kesehatan, dan jangkauan pelayanan kesehatan belum merata terutama di
daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Hal ini mengharuskan kebijakan
perumahsakitan dapat berkontribusi menyelesaikan persoalan yang menjadi prioritas
nasional. UHC merupakan sistem kesehatan yang memastikan setiap warga dalam populasi
memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif bermutu dengan biaya terjangkau (WHO).
Arah kebijakan RPJMN tahun 2020-2024 menjawab tantangan pelayanan kesehatan
yaitu dengan cara meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan menuju cakupan
kesehatan semesta dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar (primary
health care) dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif didukung oleh
inovasi dan pemanfaatan teknologi.
Kesehatan jiwa adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual dan sosial
yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Hasil riset
kesehatan dasar (Riskesdas, 2018) tentang kesehatan jiwa disebutkan bahwa proporsi rumah
tangga dengan ART gangguan jiwa pada pasien skizofrenia/psikosis menurut Propinsi (per
mil) selama tahun 2013-2018 adalah terjadinya peningkatan proporsi gangguan jiwa yang
cukup signifikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, naik dari 1.7% menjadi 7%.
Kondisi kesehatan jiwa di Indonesia semakin memprihatinkan, sehingga perlu layanan
kesehatan jiwa yang komprehensif, holistik dan berkesinambungan. Data Riskesdas tahun
2018 disebutkan bahwa 7 dari 1000 rumah tangga terdapat anggota keluarga dengan
skizofrenia/ psikosis,
sebanyak 6.1% penduduk indonesia usia ≥ 15 terkena depresi dan
sebanyak 9.8% penduduk indonesia usia ≥ 15 tahun terkena gangguan mental emosional
(naik dari 6% → 9.8%). Sedangkan menurut WHO, 1 dari 4 orang dewasa akan mengalami
masalah kesehatan jiwa dan pada tahun 2016 sebanyak 5.2% per 100 ribu penduduk dunia
meninggal karena bunuh diri.
Di masa mendatang RS diharapkan tumbuh menjadi organisasi yang mengutamakan
profesionalisme dalam segala bidang. Profesionalisme akan meningkatkan mutu, menjadi
efektif dan efisien sehingga akan meningkatkan produktivitas atau kinerja RS. Hal ini sangat
diperlukan untuk menghadapi situasi yang berubah dengan cepat dan tidak menentu.
1.2 Tujuan RSB
Penyusunan RSB RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor bertujuan untuk mendapatkan:
1. Panduan dalam menentukan arah strategis dan prioritas tindakan selama periode 5 (lima)
tahunan yang sejalan dengan Rencana Aksi Program Ditjen Pelayanan Kesehatan.
2. Pedoman strategis dalam pola penguatan dan pengembangan mutu RS.
3. Dasar rujukan untuk menilai keberhasilan ppemenuhan misi RS dan dalam pencapaian
visi yang telah ditentukan.
4. Salah satu rujukan untuk membangun arah jalinan kerjasama dengan para stakeholder
inti RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
Perencanaan strategis memiliki tujuan:
1. Sebagai sarana untuk memfasilitasi terciptanya anggaran yang efektif;
2. Sebagai sarana untuk memfokuskan manajer pada pelksanaan strategi yang telah
ditetapkan;
3. Sebagai sarana untuk memfasilitasi dilakukannya alokasi sumber daya yang optimal;
4. Sebagai kerangka untuk pelaksanaan tindakan jangka pendek;
5. Sebagai sarana bagi manajemen untuk memahami strategi organisasi;
6. Sebagai alat untuk memperkecil rentang alternatf strategis.
1.3 Dasar Hukum
Regulasi/peraturan yang menjadi acuan dalam penyusunan RSB, meliputi:
1. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi
Kementerian Negara;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 74/2012 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum;
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.05/2014 tentang Rencana Bisnis dan
Anggaran serta Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan.
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 255/Menkes/Per/III/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor;
6. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-54/PB/2013 tentang Penilaian
Kinerja Satuan Kerja Badan Layanan Umum Bidang Layanan Kesehatan;
7. Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Nomor
HK.02.02/I/2627/2019 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Bisnis (RSB)
UPT Vertikal Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan;
1.4 Sistematika Penyusunan RSB
Sistematika penyusunan Rencana Strategis Bisnis adalah sebagai berikut:
BAB I.
PENDAHULUAN
Pada bab ini disajikan penjelasan latar belakang, tujuan RSB, dasar hukum, dan
sistematika penyusunan RSB.
BAB II.
KONDISI SATKER
Pada bab ini disajikan penjelasan tentang profil satker, gambaran kinerja dari
aspek pelayanan, keuangan, SDM, sarana dan prasarana, tantangan strategis,
benchmarking, analisa SWOT, diagram kartesius dan prioritas strategis, analisa
TOWS, analisa dan mitigasi risiko dengan cara identifikasi risiko, penilaian tingkat
risikon dan membuat rencana mitigasi risiko.
BAB III.
ARAH DAN PRIORITAS STRATEGIS
Pada bab ini disajikan penjelasan rumusan pernyataan visi, misi dan tata nilai,
arah dan kebijakan stakeholder inti, rancangan peta strategi Balanced Scoredcard
(BSC), indikator kinerja utama (matriks dan kamus IKU), roadmap 5 tahun
kedepan, dan membuat program kerja strategis.
BAB IV.
PROYEKSI KEUANGAN
Pada bab ini disajikan penjelasan estimasi pendapatan, rencana kebutuhan
anggaran (anggaran kelangsungan operasional dan anggaran pengembangan),
dan rencana pendanaan.
BAB II
KONDISI SATKER
2.1 Profil Satker
2.1.1 Gambaran Umum
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor adalah RS. Jiwa Kelas A yang merupakan pusat
rujukan nasional pelayanan kesehatan jiwa dan Napza. Penyelenggaraannya sebagai RS
PPK BLU yang berperan sebagai ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat,
harus terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas
dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi, produktivitas dan penerapan
praktek bisnis yang sehat. RS harus mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi,
efektifitas, dan efisiensi.
Sebagai RS yang mendambakan tata pemerintahan yang baik (good governance)
serta dapat mengelola praktik bisnis RS yang sehat, RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor telah
mengupayakan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum terutama aspek pelayanan kesehatan dan berupaya untuk
mempertahankan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dengan tetap memperhatikan
aspek manajemen pelayanan kesehatan, manajemen keuangan, pengadaan barang dan jasa
sebagai penunjang pelayanan kesehatan serta pengelolaan inventori berdasarkan Sistem
Informasi Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN).
Perubahan sosio–ekonomi dan politik di Indonesia sangat mempengaruhi
kelangsungan organisasi–organisasi pemerintah termasuk diantaranya RS. dr. H. Marzoeki
Mahdi Bogor. Perubahan tersebut dapat berdampak pada struktur organisasi hingga status
dan kedudukan organisasi. RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor harus mempersiapkan diri
dengan pilihan yang ada, namun yang terpenting dan harus dilakukan adalah mencapai
kemandirian dalam menyediakan dan mengelola sumber daya agar kelangsungan organisasi
dapat dipertahankan.
Potensi sumber daya material dan sumber daya manusia yang ada di RS. dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor dapat digali untuk meningkatkan revenue yang diperlukan demi
kelangsungan organisasi. Peningkatan utilisasi sumber daya yang ada merupakan alternatif
pilihan yang harus dicoba untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara melakukan perubahan cara pandang, bahwa organisasi pemerintah
yang tadinya birokratis menjadi organisasi yang mempunyai sifat wirausaha.
2.1.2 Sejarah
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor didirikan pada zaman penjajahan Belanda pada
tanggal 1 Juli 1882 yang dikenal dengan nama “Krankzinnigengestich Te Buitenzorg” oleh
Pemerintah Hindia Belanda dan ditetapkan sebagai RS Jiwa Pertama di Indonesia. Pada
tahun 1969 di RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor diselenggarakan Seminar Kesehatan Jiwa
Nasional I. Kegiatan ini menjadi titik awal layanan kesehatan jiwa modern. Pada tahun
1978 RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor ditetapkan sebagai RS Jiwa Pusat Kelas A.
Pada tahun 1999 RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor memperoleh predikat Akreditasi
5 Pelayanan. Pada tahun 2000 RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor adalah RS Jiwa I yang
melayani pasien HIV dan Napza. Dan pada tahun itu pula RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
menjadi Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) I di Indonesia. Pada tahun 2002
RS mulai membuka layanan umum sebagai pendukung layanan kesehatan jiwa. RS
kemudian diresmikan dengan nama RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI nomor
279/KMK.05/2007 tanggal 21 Juni 2007 tentang Penetapan RS. dr. H. Marzoeki Mahdi
Bogor pada Kementerian Kesehatan sebagai Instansi Pemerintah yang Menerapkan
Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU) bahwa RS. dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor ditetapkan menjadi RS. PPK BLU. Penetapan ini diperkuat dengan
Keputusan Menteri Kesehatan nomor 756/Menkes/SK/VI/2007 tanggal 26 Juni 2007 tentang
Penetapan 15 (Lima Belas) RS. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan RI
dengan menerapkan PPK-BLU yang salah satunya adalah RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
Pada tahun 2011 kembali RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor memperoleh predikat
Akreditasi 16 Pelayanan. Pada tahun tersebut juga diselenggarakan Jambore Kesehatan
Jiwa I. Pada tahun 2016 RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor memperoleh predikat Akreditasi
Versi 2012 Paripurna. Dan di tahun 2019 telah dilakukan reakreditasi dengan predikat
Akreditasi SNARS Paripurna yang saat ini akan menuju Akreditasi KARS Internasional.
Selain akreditasi, RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor dalam upaya reformasi birokrasi juga mulai
konsen dan sedang berupaya untuk meraih predikat wilayah Bebas dari Korupsi / Wilayah
Birokrasi Bersih melayani (WBK/WBBM).
2.1.3 Lokasi
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor merupakan RSJ milik Kementerian Kesehatan yang
berkedudukan di Kota Bogor sebagai RS Khusus Jiwa Kelas A yang berlokasi di Jalan dr.
Sumeru nomor 114 Bogor 16111. Nomor telepon yang dapat dihubungi adalah (0251)
8324024, 8324025 (hunting) dan faksimile (0251) 8324025. RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
dapat diakses melalui website www.rsmmbogor.com dan email: [email protected].
Luas area RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor adalah 572.026,00 m2 dengan luas
bangunan 34.035,56 m2. Berikut adalah lokasi RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor:
Gambar
2.1.4 Struktur Organisasi
Struktur Organisasi RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 255/Menkes/Per/III/2008 pada tanggal 11 Maret 2008 adalah
sebagai berikut:
Gambar
Struktur Organisasi
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Adapun penjelasan dari bagan diatas adalah sebagai berikut:
1. Direktorat Medik dan Keperawatan, terdiri atas:
a. Kepala Bidang Medik, terdiri atas:
1) Kepala Seksi Pelayanan Medik
2) Kepala Seksi Penunjang Medik
b. Kepala Bidang Keperawatan, terdiri atas:
1) Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan Rawat Jalan
2) Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan Rawat Inap
2. Direktorat SDM dan Pendidikan, terdiri atas:
a. Kepala Bagian SDM, terdiri atas:
1) Kepala Sub Bagian Administrasi Kepegawaian
2) Kepala Sub Bagian Pengembangan SDM
b. Kepala Bagian Pendidikan dan Penelitian (Diklit), terdiri atas:
1) Kepala Sub Bagian Diklit Tenaga Medis
3. Direktorat Keuangan dan Administrasi Umum, terdiri atas:
a. Kepala Bagian Keuangan, terdiri atas:
1) Kepala Sub Bagian Program dan Anggaran
2) Kepala Sub Bagian Perbendaharaan dan Akuntansi
3) Kepala Sub Bagian Mobilisasi Dana
b. Kepala Bagian Administrasi Umum, terdiri atas:
1) Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Perlengkapan
2) Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Pelaporan
3) Kepala Sub Bagian Hukormas
4. Instalasi-Instalasi
5. Kelompok Jabatan Fungsional
6. Satuan Pengawas Intern (SPI)
7. Komite-Komite
8. Kelompok Staf Medik (KSM)
9. Unit-Unit Non Struktural
Susunan Direksi RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor adalah sebagai berikut:
1. Direktur Utama: dr. Bambang Eko Sunaryanto, Sp.KJ., MARS.
2. Direktur Medik dan Keperawatan: dr. Rahmi Handayani, Sp.KJ, MARS.
3. Direktur SDM dan Pendidikan: dr. Galianti Prihandayani, Sp.KJ.
4. Direktur Keuangan dan Administrasi Umum: Nurul Sri Hidayati Rini, SE, Ak, MMRS.
Selain susunan Direksi diatas, terdapat pula Komite-komite yang memberikan
pertimbangan strategis kepada Direktur Utama, yaitu Komite Medik dan Komite Etik dan
Hukum. Sedangkan pembentukan Komite Mutu dan Keselamatan Pasien, Komite
Keperawatan, Komite PPI, Komite K3RS, Komite Etik Penelitian, dan Komite Tenaga
Kesehatan Lainnya dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Utama dan sudah
diusulkan ke Kementerian Kesehatan RI. Dalam melaksanakan tugas utamanya yang
berkaitan dengan pengawasan pelaksanaan tugas-tugas RS, Direktur Utama dibantu oleh
Satuan Pemeriksa Intern (SPI).
Struktur Organisasi RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor juga dilengkapi dengan Dewan
Pengawas yang susunannya terdiri dari:
1. Ketua: dr. Desak Made Wismarini, MKM.
2. Anggota:
a. drg. Rarit Gempari, MARS.
b. dr. Hartati Hermes, MQIH.
c. drs. Charmeida Tjokrosuwarno, MA.
d. Suminto, S.Sos, MSc, PHd.
2.2 Gambaran Kinerja
2.2.1 Kinerja Aspek Pelayanan
Peran dan fungsi RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor adalah sebagai berikut:
1. Pusat pelayanan dan rujukan kesehatan jiwa;
2. Pusat pendidikan dan penelitian dalam kesehatan jiwa;
3. Pemberdayaan layanan kesehatan jiwa di PPK 1 dan 2;
4. Bagian dari jejaring kemitraan dalam kesehatan jiwa, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan
Dinas Pendidikan di Wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat;
5. Pengembangan Layanan Berbasis IT yang terintegrasi dengan Kementerian Kesehatan,
Kementerian Keuangan, BPJS, dan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).
Layanan kesehatan di RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor sangat komprehensif (eklektik
holistik) meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan oleh Tim
Interdisiplin sebagai berikut:
1. Layanan unggulan RS
Layanan unggulan RS tahun 2015-2019 adalah Layanan Rehabilitasi Psikososial yang
akan terus dikembangkan ke depan hingga tercapai kemandirian pasien. Layanan
rehabilitasi psikososial merupakan layanan khusus yang diberikan oleh RS. dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor, yang memberikan latihan ketrampilan hidup, ketrampilan sosial,
ketrampilan belajar dan ketrampilan bekerja untuk pasien dengan gangguan jiwa berat.
Layanan diberikan oleh Tim khusus yang terlatih rehabilitasi psikososial, dengan tujuan
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempersiapkan pasien untuk menjalani
kehidupan di lingkungan tempat tinggalnya dengan berkualitas sehingga meningkatkan
rasa percaya diri, menurunkan stigma dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Layanan
rehabilitasi psikososial diberikan dalam berbagai setting pelayanan, yaitu rawat inap,
rawat jalan (day care), dan rehabilitasi berbasis komunitas.
2. Layanan pengembangan RS
a. Pengembangan Layanan Rawat Inap Psikiatri
1) Pengembangan Layanan Psikiatri Sesuai Standar
Sejak tahun 2010, RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor mulai menyusun
perencanaan pengembangan layanan psikiatri sesuai standar, baik standar
sarana prasarana, standar pelayanan medik dan asuhan keperawatan serta
fasilitas yang menunjang. Seperti diketahui, terjadi perubahan paradigma dalam
pelayanan rawat inap pasien dengan gangguan jiwa, dimana perawatan untuk
pasien dengan gangguan jiwa diusahakan semirip mungkin dengan lingkungan
tempat tinggal pasien (home like). Karena itu, sejak tahun 2011 mulai
direncanakan pembangunan ruang rawat psikiatri sesuai standar dan
memberikan suasana terapeutik bagi pasien. Pengembangan telah dimulai dari
ruang rawat psikiatri utama dan VIP, disusul dengan ruang rawat inap kelas 1
dan kelas 2. Selanjutnya, secara bertahap pengembangan layanan rawat inap
psikiatri sesuai standar akan dilakukan di seluruh ruang rawat inap.
2) Pengembangan Layanan Psychiatric High Care Unit
Pengembangan layanan PHCU dimulai dengan perencanaan pelayanan yang
efisien dan high standard, menggunakan clinical pathway, dengan tujuan:
a) Memberikan layanan sesuai standar dengan mengutamakan mutu yang
berorientasi pada patient safety;
b) Meminimalisir penggunaan fiksasi dengan memberikan fiksasi secara
medikamentosa;
c) Memberikan rasa nyaman dan memperhatikan keamanan pasien;
d) Mengefektifkan length of stay (LOS) perawatan di PHCU.
Dengan pengembangan dan efisiensi pelayanan PHCU tersebut, maka rata-rata
LOS di PHCU menurun dari 10 hari menjadi 5 hari pada tahun 2013.
3) Pengembangan Layanan Psikiatri Forensik
Layanan psikiatri forensik rawat inap merupakan layanan khusus bekerjasama
dengan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan untuk memberikan pelayanan
pembuatan Visum et Repertum Psychiatricum untuk keperluan pengadilan.
Pembuatan visum dilakukan dengan melakukan observasi oleh Tim Psikiater
terhadap terperiksa yang dikirimkan selama minimal 14 hari. Perawatan untuk
keperluan visum ini dilakukan di ruang rawat inap khusus untuk psikiatri forensik.
4) Pengembangan Layanan Rawat Inap Psikiatri Anak Dan Remaja
Pengembangan layanan subspesialistik psikiatri anak dan remaja dimulai pada
tahun 2012. Layanan ini diberikan khusus untuk pasien psikiatri di bawah usia
18 tahun. Anak-anak yang mengalami gangguan jiwa dan memerlukan rawat
inap perlu dirawat di ruang khusus yang aman, terpisah dari pasien dewasa.
Pelayanan juga diberikan oleh Tim khusus, yaitu Tim psikiatri anak dan remaja
yang telah terlatih dengan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) Psikiater
anak dan remaja.
5) Pengembangan Layanan Psikogeriatri
Layanan psikogeriatri merupakan layanan yang khusus diberikan kepada pasien
yang berusia 60 tahun ke atas. Layanan rawat inap juga diberikan oleh Tim
khusus psikogeriatri yang telah terlatih dan di ruang rawat inap khusus yang
diusahakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien usia lanjut, dengan
mempertimbangkan keamanan dan menghindarkan pasien dari risiko jatuh dan
risiko cidera.
6) Pengembangan Layanan Consultation Liaison Psychiatry (CLP)
Layanan CLP berbasis rumah sakit jiwa merupakan layanan khusus yang
merupakan layanan kolaboratif antara spesialistik psikiatri dengan non psikiatri,
dimana pendekatan yang dilakukan terhadap pasien adalah pendekatan Tim
Interdisiplin. Layanan ini diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi komorbiditas
antara gangguan fisik dan gangguan psikiatrik, atau pada pasien dengan
gangguan fisik yang berisiko timbulnya gangguan psikiatrik, seperti pasien
dengan penyakit kronis seperti Diabetes Melitus dan Hipertensi. Layanan rawat
inap CLP ini diberikan oleh Tim khusus CLP yang telah terlatih, terdiri dari
Psikiater, Dokter Spesialis lain yang berhubungan, Psikolog, Perawat dan
Pekerja Sosial dalam Tim. Dengan pelayanan bersama ini diharapkan akan
didapatkan hasil yang lebih baik dan lebih komprehensif.
b. Pengembangan Layanan Rawat Jalan Psikiatri
Selain klinik psikiatri dewasa, pengembangan rawat jalan psikiatri yang dilakukan
sejak tahun 2009 adalah:
1) Klinik Psikiatri Anak dan Remaja
Klinik psikiatri anak dan remaja merupakan klinik sub spesialistik untuk anak dan
remaja berusia di bawah 18 tahun. Layanan rawat jalan ini diberikan oleh
Psikiater konsultan anak dan remaja, dibantu oleh Tim psikiatri anak dan remaja
yang telah terlatih, yang terdiri dari Dokter, psikolog, perawat, pekerja sosial.
Pelayanan diberikan di tempat khusus untuk memberikan rasa aman dan
nyaman bagi pasien.
2) Klinik Consultation Liaison Psychiatry (CLP)
Klinik rawat jalan CLP merupakan klinik kolaboratif antara Dokter spesialis non
psikiatri dengan Psikiater. Klinik ini memberikan pelayanan kolaboratif bagi
pasien dengan gangguan fisik yang berkomorbiditas dengan gangguan psikiatrik
untuk mendapatkan layanan yang komprehensif. Pelayanan kepada pasien
diberikan bersama oleh berbagai spesialisasi terkait.
3) Klinik Psikogeriatri
Klinik psikogeriatri merupakan layanan rawat jalan khusus untuk pasien psikiatrik
berusia 60 tahun ke atas. Pelayanan diberikan oleh Psikiater dibantu oleh Tim
psikogeriatri terlatih, yang memberikan pelayanan sesuai kebutuhan pasien
berusia lanjut dan memperhatikan keamanan dan penghormatan terhadap
pasien berusia lanjut.
4) Klinik Ansietas Dan Depresi
Klinik Ansietas dan depresi merupakan klinik yang dikembangkan untuk pasien
dengan gangguan jiwa non psikotik, seperti gangguan cemas dan depresi.
Pelayanan diberikan oleh Psikiater, berupa pelayanan farmakologi dan
psikoterapi. Pasien gangguan jiwa ringan seperti gangguan cemas dan depresi
membutuhkan tempat khusus, nyaman, dan terpisah dengan pasien psikotik lain.
c. Pengembangan Layanan Kedaruratan Psikiatri
Sejak tahun 2008 layanan kedaruratan psikiatri diberikan dalam satu atap dengan
IGD umum. Tujuan penyatuan ini adalah untuk memberikan layanan yang
komprehensif antara fisik dan psikiatrik, dan memudahkan untuk berkoordinasi
diantara layanan umum dan jiwa. Layanan diberikan oleh Dokter umum di bawah
supervisi Psikiater sebagai kepala IGD. Dalam pelayanan IGD psikiatri ini RS. dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor juga mengembangkan layanan crisis center. Layanan crisis
center ini merupakan layanan tak berbayar, yang bertujuan untuk memberikan
konseling awal kepada pasien yang mengalami krisis psikologis. Layanan konseling
diberikan oleh konselor terlatih, dan layanan diberikan secara langsung di ruang
konseling di IGD maupun melalui telepon (hotline service) 24 jam.
3. Layanan psikiatri komunitas (PKRS dan Keswamas)
Layanan kesehatan jiwa masyarakat merupakan layanan khusus di RSJ yang
menghubungkan RS dengan komunitas. Layanan diberikan dengan mengembangkan
kerjasama lintas program dan lintas sektoral, melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif. Layanannya adalah kunjungan rumah, penyuluhan, integrasi pelayanan
kesehatan jiwa. Kerjasama lintas program dan lintas sektoral dilakukan dengan Dinas
Kesehatan, Kementerian Sosial, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, pemangku wilayah,
tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
jiwa di masyarakat. Karena di Indonesia belum ada lembaga/tempat pelayanan
kesehatan jiwa khusus di masyarakat, maka peran RS menjadi sangat penting dalam
pengembangan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas.
Sejak tahun 2009, RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor telah mengembangkan
layanan khusus di komunitas, yaitu Assertive Community Treatment (ACT). ACT
merupakan layanan khusus yang diberikan kepada pasien dengan gangguan jiwa,
dimana layanan diberikan di lingkungan tempat tinggal pasien, bukan di rumah sakit,
melalui kunjungan rumah. Layanan diberikan oleh Tim Interdisiplin yang terdiri dari
Psikiater, Dokter, Psikolog, Perawat dan Pekerja Sosial. Dalam memberikan layanan ini,
Tim ACT RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor bekerjasama dengan Puskesmas melalui
pembentukan Tim ACT Puskesmas.
Tim ACT Puskesmas terdiri dari Dokter, Perawat dan Kader Kesehatan. Tim ACT
Puskesmas ini kemudian dilatih oleh Tim ACT RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor tentang
penanganan pasien dengan gangguan jiwa. Tim ACT Puskesmas ini kemudian
melakukan kunjungan rumah secara teratur kepada pasien sesuai kebutuhan,
memberikan penanganan berupa pengobatan, asuhan keperawatan, rehabilitasi,
pendampingan dan dukungan. Tim ACT RS melakukan pendampingan kepada Tim ACT
Puskesmas setiap bulan, untuk mengevaluasi masalah-masalah yang dihadapi dan
mendampingi Tim ACT Puskesmas dalam melakukan kunjungan rumah. Sejak tahun
2014 kegiatan ACT RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor telah bekerjasama dengan
Puskesmas di wilayah kerja Kota dan kabupaten Bogor.
4. Instalasi Gawat Darurat
Layanan diberikan oleh Tim yang terlatih kedaruratan yang memberikan pelayanan
kegawatdaruratan selama 24 jam, baik kedaruratan fisik, psikiatri, Napza, dan Ponek.
5. Rawat Jalan Psikiatri Terpadu
Memberikan layanan rawat jalan spesialistik dan subspesialistik pada Klinik Psikiatri
Dewasa, Klinik Psikiatri Anak dan Remaja, Klinik Psikogeriatri, Klinik Ansietas Depresi,
Klinik Early Psychosis, Klinik Napza, Klinik CLP, Klinik Konsultasi Keperawatan, Klinik
Psikologi, Klinik Rehabilitasi Psikososial, dan Day Care Rehabilitasi Psikososial.
6. Rawat Jalan Non Psikiatri
Memberikan layanan spesialistik kepada masyarakat yang membutuhkan dan seluruhnya
layanan ditangani oleh Dokter Spesialis pada Klinik Bedah, Klinik Anak dan Remaja,
Klinik Kebidanan dan Kandungan, Klinik Penyakit Dalam, Klinik Diabetes Mellitus
Terpadu, Klinik Paru dan DOTS, Klinik Neurologi, Klinik THT, Klinik HIV, Klinik Psikologi,
Klinik Rehabilitasi Psikososial, Klinik Rehabilitasi Medik, Klinik Polisomnografi, Klinik Gigi
dan Mulut, dan Klinik Assessment Center.
7. Rawat Inap Psikiatri
Kapasitas tempat tidur psikiatri sebanyak 442 TT. Rawat inap psikiatri bertujuan untuk
membantu pasien dengan gangguan jiwa untuk mencapai stabilisasi gejala-gejalanya,
dan membantu pasien untuk mandiri. Layanan diberikan dengan berorientasi pada
recovery dan memperhatikan hak asasi pasien dengan konsep home-like yang diberikan
oleh Tim Interdisiplin (Psikiater, Perawat Jiwa, Psikolog, dan Profesi lain). Rawat inap
psikiatri terdiri dari rawat inap akut (psychiatric high care unit), rawat inap stabilisasi, rawat
inap psikiatri anak dan remaja, rawat inap psikogeriatri, rawat inap early psychosis, rawat
inap CLP, dan rawat inap psikiatri dengan komorbiditas.
8. Rawat Inap Non Psikiatri
Kapasitas tempat tidur rawat inap non psikiatri sebanyak 98 TT. Rawat inap non psikiatri
memberikan layanan rawat inap untuk pasien-pasien dengan keluhan fisik. Pelayanan
diberikan secara komprehensif dengan pendekatan empatik, sehingga pasien akan
mendapatkan pengalaman positif yang spesifik saat dirawat di RS.
9. IPK Napza
Kapasitas tempat tidur rawat inap pemulihan ketergantungan Napza sebanyak 60 TT.
Layanan IPK Napza bertujuan untuk membantu dalam pencegahan penyalahgunaan
Napza, dan memberikan perawatan untuk pasien dengan ketergantungan Napza.
Layanan Napza berupa layanan rawat jalan, Medic Psychiatric Evaluation (MPE), dan
rehabilitasi Napza.
10. Layanan Penunjang Medis dan Non Medis
Layanan penunjang di RS adalah Radiologi, Patologi Klinik, Rekam Medis, Farmasi,
CSSD, Gizi, Laundry, Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit, Sistem
Informasi Rumah Sakit, dan Kesehatan Lingkungan (Kesling).
11. Layanan diklit
Pendidikan, pelatihan, dan penelitian kesehatan jiwa yang bermutu untuk mendukung
pelayanan kesehatan jiwa berbasis bukti dan diharapkan menjadi center of knowledge
in mental health. Diklit RS sudah mengembangkan digital library: e-resourches, e-books,
e-journal, e-learning. Diklit memberikan layanan untuk pendidikan kedokteran,
keperawatan, psikologi, farmasi, rekam medis, okupasi terapi, IT, kunjungan pendidikan,
studi banding, magang, dan perpustakaan. Diklit juga memberikan pelatihan pelatihan
internal (in house training) dan eksternal (out house training), penelitian penelitian dari
pegawai RS maupun dari luar RS. Institusi pendidikan yang bekerjasama saat ini
sebanyak 77 Perjanjian Kerjasama (PKS), mulai dari jenjang SMK sampai dengan
Magister dan Pendidikan Profesi. PKS terbanyak adalah DIII Keperawatan yaitu
sebanyak 35% dari total kerjasama. Institusi yang sudah bekerjasama adalah SMK, DIII
dan Sarjana Farmasi, D3 Radiodiagnostik, Vokasi Kesehatan, Analis Kesehatan, Sarjana
Ilmu Gizi, Sarjana-Magister-Profesi Psikologi, DIII Kebidanan,
DIII-Sarjana-Magister-Profesi Keperawatan, Co ass, dan PPDS Psikiatri.
Gambaran kinerja pada aspek pelayanan RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor berdasarkan
kinerja BLU yang setiap tahun diaudit oleh Kantor Akuntan Publik dengan hasil sebagai
berikut:
Tabel
Pengukuran Kinerja Atas Indikator Kinerja Layanan TA 2015-2018
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
NO
INDIKATOR
CAPAIAN SKOR
2015
2016
2017
2018
PERTUMBUHAN PRODUKTIVITAS
1
Pertumbuhan rata-rata kunjungan rawat jalan/hari
1.50
2.50
2.50
0.00
2
Pertumbuhan rata-rata kunjungan gawat darurat/hari
1.00
2.00
2.50
0.50
3
Pertumbuhan hari perawatan rawat inap
1.25
2.50
2.00
2.50
4
Pertumbuhan pemeriksaan radiologi/hari
1.00
-
2.00
0.00
5
Pertumbuhan pemeriksaan laboratorium/hari
0.00
1.50
2.50
0.50
6
Pertumbuhan operasi/hari
0.00
-
2.50
0.00
7
Pertumbuhan rehab medik/hari
1.25
1.50
2.00
0.00
8
Pertumbuhan perserta didik pendidikan kedokteran
2.00
9
Jumlah penelitian yang dipublikasikan
2.00
10
SDM yang mendapat pelatihan sesuai standar (>20
jpl/thn)
2.00
Jumlah Pertumbuhan Produktivitas
6.00
10.00
16.00
9.50
EFEKTIFITAS PELAYANAN
1
Kelengkapan rekam medik 24 jam selesai pelayanan
2.00
1.50
1.50
2.00
2
Pengembalian rekam medik
1.00
1.50
1.50
2.00
3
Angka pembatalan operasi
2.00
2.00
2.00
2.00
4
Angka kegagalan hasil radiologi
2.00
1.50
2.00
2.00
5
Penulisan resep sesuai Formularium Nasional
(FORNAS)
2.00
2.00
2.00
2.00
6
Angka pengulangan pemeriksaan laboratorium
2.00
2.00
2.00
2.00
7
Bed Occupancy Ratio (BOR)
0.50
1.50
1.50
1.50
Jumlah Efektifitas Pelayanan
11.50
12.00
12.50
13.50
PERTUMBUHAN PEMBELAJARAN
1
Rata-rata jam pelatihan/karyawan
1.50
1.50
1.50
2
Program reward and punishment
1.50
1.50
1.50
Tabel
Pengukuran Kinerja Atas Indikator Kinerja Mutu dan Manfaat Bagi Masyarakat TA 2015-2018
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
NO
INDIKATOR
CAPAIAN SKOR
2015
2016
2017
2018
MUTU PELAYANAN
1
Emergency Response Time Rate (ERT)
2.00
2.00
2.00
2.00
2
Waktu Tunggu Rawat Jalan (WTRJ)
0.50
1.50
1.50
2.00
3
Length of stay (LOS)
0.50
1.00
1.00
1.50
4
Kecepatan pelayanan resep obat jadi
0.50
0.50
0.50
0.50
5
Waktu tunggu sebelum operasi
2.00
2.00
2.00
2.00
6
Waktu tunggu hasil laboratorium
2.00
2.00
2.00
2.00
7
Waktu tunggu hasil radiologi
2.00
2.00
2.00
2.00
Jumlah Mutu Pelayanan
9.50
11.00
11.00
12.00
MUTU KLINIK
1
Angka kematian di Gawat Darurat
2.00
2.00
2.00
2.00
2
Angka kematian ≥48 jam
2.00
2.00
2.00
2.00
3
Post Operative Death Rate
2.00
2.00
2.00
2.00
4
Angka infeksi nosokomial
0.50
4.00
4.00
a. Infeksi luka operasi
1.00
0.00
b. Infeksi jarum infus
1.00
0.00
c. Dekubitus
1.00
0.00
d. ISK
1.00
0.00
5
Angka kematian ibu di RS
2.00
2.00
0.00
1.00
Jumlah Mutu Klinik
8.50
12.00
10.00
11.00
KEPEDULIAN KEPADA MASYARAKAT
1
Pembinaan kepada pusat kesehatan masyarakat dan
sarana kesehatan lain
1.00
1.00
1.00
1.00
2
Penyuluhan kesehatan
1.00
1.00
1.00
1.00
3
Rasio tempat tidur kelas III
2.00
2.00
2.00
2.00
Jumlah Kepedulian Kepada masyarakat
4.00
4.00
4.00
4.00
KEPUASAN PELANGGAN
1
Penanganan komplain
1.00
1.00
1.00
1.00
2
Kepuasan pelanggan
0.80
0.91
0.89
0.87
Jumlah kepuasan Pelanggan
1.80
1.91
1.89
1.87
KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN
1
Kebersihan lingkungan (Program RS Berseri)
2.00
2.00
2.00
2
Proper Lingkungan
0.20
0.20
0.20
Gambaran kinerja aspek pelayanan RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor berdasarkan
Indikator Kinerja Utama Rencana Strategis Bisnis (IKU RSB) Tahun 2015-2019 adalah
sebagai berikut:
Tabel
Kinerja Aspek Pelayanan Atas IKU RSB Tahun 2015-2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
SASARAN
STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
CAPAIAN HASIL PERHITUNGAN
2015
2016
2017
2018
SM I
2019
PERSEPEKTIF PELANGGAN
1
Terwujudnya
Peran Strategis
Menjadi RS Jiwa
Rujukan Nasional
1
Tingkat Kepuasan
Pelanggan
81.85
%
90.50
%
88.83
%
86.74
%
85.00
%
Kecepatan Respon
Terhadap Komplain
(KRK)
100%
100%
97.92
%
100%
100%
2
Tingkat Kualitas
Sistem Rujukan
Dalam Pelayanan
Kesehatan Jiwa
Persentase rujukan
yang berkualitas
0.00
%
95.00
%
72.59
%
97.61
%
70.00
%
Persentase
Konsultasi
40.00
%
64.00
%
89.10
%
99.30
%
70.00
%
Persentase
Pencapaian Integrasi
Layanan
100%
100%
100%
100%
100%
3
Pengembangan
Model Layanan
Kesehatan Jiwa
dengan Pendekatan
Pelayanan
Interdisiplin
1
Model
Layan
an
1
Model
Layan
an
1
Model
Layan
an
1
Model
Layan
an
1
Model
Layan
an
4
Pusat Promosi
Kesehatan Jiwa
70.00
%
82.44
%
100
%
100
%
90
%
PERSEPEKTIF PROSES BISNIS INTERNAL
2
Terwujudnya
Layanan Ungulan
Rehabilitasi
Psikososial
5
Persentase
Rehabilitan yang
Mengalami
Perbaikan Fungsi
Personal dan Sosial
41.00
%
99.60
%
97.85
%
92.15
%
91.95
%
6
Persentase
Rehabilitan Yang
Mandiri di
Masyarakat
Dalam
proses
pendat
aan
19.40
%
55.03
%
47.50
%
25.56
%
3
Terwujudnya
Layanan
Kesehatan Jiwa
yang Bermutu
7
Akreditasi Paripurna
Sudah survei simulasi Lulus Akreditasi Versi 2012 paripurna Lulus akreditasi versi 2012 Paripurna Lulus survei verifikasi akreditasi ke I Lulus Akreditasi Versi 2012 Monitoring pasca akreditasi Lulus Akreditasi Versi 12 ParipurnaSASARAN
STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
CAPAIAN HASIL PERHITUNGAN
2015
2016
2017
2018
SM I
2019
Survei Verifikasi Akreditasi II Persiapan reakreditasi4
Terwujudnya
Kemitraan yang
Berkualitas di
Bidang
Kesehatan Jiwa
8
Tingkat Kualitas
Kemitraan Layanan
Kesehatan Jiwa
50.00
%
85.70
%
96.20
%
85.38
%
85.70
%
5
Terwujudnya
Transformasi
Layanan
Kesehatan Jiwa
dengan
Pendekatan
Layanan
Interdisiplin
9
Proses bisnis yang
Terintegrasi dalam
Pelayanan
Kesehatan Jiwa
2
Layan
an
4
Layan
an
5
Layan
an
6
Layan
an
6
Layan
an
6
Terwujudnya
Pemberdayaan
Masyarakat
dalam
Meningkatkan
Derajat
Kesehatan Jiwa
1
0
Pembinaan
Kelompok Swabantu
Dalam Pelayanan
Kesehatan Jiwa
1
Kelom
pok
2
Kelom
pok
3
Kelom
pok
5
Kelom
pok
5
Kelom
pok
2.2.2 Kinerja Aspek Keuangan
Gambaran kinerja aspek keuangan RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Tahun
2015-2018 dalam memenuhi target-target kinerja keuangan yang dianggap strategis sebagai
berikut:
Tabel
Pengukuran Kinerja Atas Indikator Kinerja Keuangan dan
Kepatuhan Pengelolaan Keuangan BLU TA 2015-2018
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
NO
INDIKATOR
CAPAIAN SKOR
2015
2016
2017
2018
RASIO KEUANGAN
1
Rasio Kas
0.25
1.50
1.50
1.75
2
Rasio Lancar
2.50
2.50
2.50
1.25
3
Periode penagihan piutang
2.00
0.50
1.00
1.25
4
Perputaran aset tetap
2.00
1.50
0.25
1.25
5
Imbalan atas aset tetap
2.00
1.10
0.00
0.00
6
Imbalan ekuitas
1.60
0.80
0.40
0.62
7
Perputaran persediaan
1.25
2.00
1.00
2.25
8
Rasio PNPB terhadap Biaya Operasional
2.25
2.00
2.50
2.50
9
Rasio subsidi biaya pasien
0.00
0.00
0.00
Jumlah Rasio Keuangan
13.85
11.90
9.15
10.87
KEPATUHAN PENGELOLAAN KEUANGAN BLU
1
RBA definitif
2.00
1.20
2.00
2.00
NO
INDIKATOR
CAPAIAN SKOR
2015
2016
2017
2018
3
Surat perintah pengesahan pendapatan dan belanja
(SP3B) BLU
0.80
2.00
0.80
2.00
4
Tarif layanan
1.00
1.00
1.00
1.00
5
Sistem akuntansi
0.80
0.80
0.80
1.00
6
Persetujuan rekening
0.40
0.50
0.40
0.50
7
SPO pengelolaan kas
0.50
0.50
0.50
0.50
8
SPO pengelolaan piutang
0.50
0.50
0.50
0.50
9
SPO pengelolaan utang
0.50
0.00
0.50
0.50
10
SPO pengelolaan barang dan jasa
0.50
0.50
0.50
0.50
11
SPO pengelolaan barang inventaris
0.50
0.50
0.50
0.50
12
SPO aktivitas penyusunan RKA-KL
0.50
13
SPO aktivitas penyusunan DIPA
0.50
14
SPO penerimaan pelayanan rawat inap dengan
jaminan ASKES
0.50
15
SPO penerimaan pelayanan rawat jalan
0.50
16
SPO penerimaan pelayanan rawat inap
0.50
17
SPO aktivitas Petunjuk Operasional Kegiatan (POK)
0.50
18
SPO pengelolaan piutang pasien reguler, piutang
pasien jaminan, dan piutang lain-lain
0.50
19
SPO penerimaan pelayanan rawat jalan dengan
jaminan ASKESKIN
0.50
20
SPO penyimpanan uang tunai bendahara pengeluaran
0.50
21
SPO penagihan piutang langsung via POS
0.50
22
SPO tata cara pengelolaan Limbah Padat Berbahaya
(LB3)
0.50
23
SPO aktivitas laporan penanggungjawab administrasi
pajak PPh 21
0.50
24
SPO aktivitas pelaksanaan pembayaran operasional
RS
0.50
25
SPO aktivitas penggajian pegawai
0.50
26
SPO aktivitas pelaksanaan pertanggungjawaban
penggunaan dana PNBP
0.50
27
SPO aktivitas pengelolaan dana PNBP
0.50
28
SPO penerimaan aktivitas non cash (piutang)
pelaynaan rawat jalan jaminan perusahaan
0.50
29
SPO penerimaan aktivitas non cash (piutang)
pelaynaan rawat inap jaminan perusahaan
0.50
30
SPO pengadaan barang habis pakai non medik
0.50
31
SPO pengadaan langsung untuk pengadaan barang
non termin
0.50
Jumlah Kepatuhan Pengelolaan Keuangan BLU
8.90
9.50
9.35
21.00
Tabel
Kinerja Pengelolaan Keuangan TA 2015-2018
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
NO
TAHUN
OPINI AUDIT
1
2015
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
2
2016
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
3
2017
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
Gambaran kinerja aspek keuangan RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor berdasarkan
Indikator Kinerja Utama Rencana Strategis Bisnis (IKU RSB) Tahun 2015-2019 adalah
sebagai berikut:
Tabel
Kinerja Aspek Keuangan Atas IKU RSB Tahun 2015-2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
SASARAN
STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
CAPAIAN HASIL PERHITUNGAN
2015
2016
2017
2018
SM I
2019
PERSEPEKTIF KEUANGAN
1
Terwujudnya
Efisiensi
Anggaran
Berbasis
Kebutuhan
1
Tingkat Efisiensi
Anggaran
73.82
%
78.81
%
86.35
%
88,83
%
35.09
%
2
Terwujudnya
POBO yang
Optimal
2
Rasio PNBP
Terhadap Biaya
Operasional (PB)
58.00
%
56.00
%
56.79
%
56,81
%
52.05
%
2.2.3 Kinerja Aspek Sumber Daya Manusia (SDM)
Data pegawai RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Semester I Tahun 2019 terdiri dari
tenaga PNS/CPNS, tenaga calon BLU, tenaga honorer, dan peer/ass peer serta ditambah
dengan tenaga Dokter Tamu dapat dilihat pada beberapa tabel berikut ini. Tabel yang kami
sampaikan, termasuk data mutasi pegawai, baik masuk maupun keluar, serta klasifikasi
pegawai berdasarkan pendidikan, usia dan jenis kelamin.
Tabel
Ketenagaan RS Semester I Tahun 2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
NO
URAIAN
JENIS TENAGA
SM I 2019
PNS
CPNS
BLU
PKWT/
HONORE
R
1
MEDIS
52
4
0
23
79
Dokter Spesialis
37
1
0
8
46
Dokter Umum
14
2
0
14
30
Dokter Gigi Umum
1
1
0
1
3
2
PARAMEDIS
450
16
55
46
567
Bidan
17
0
1
1
19
Paramedis Keperawatan
333
2
49
35
419
Paramedis Non Keperawatan
100
14
5
10
129
3
NON MEDIS
168
0
26
134
328
Grafik
Ketenagaan RS Semester I Tahun 2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Grafik
Ketenagaan Medis Semester I Tahun 2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Grafik
Ketenagaan Paramedis Semester I Tahun 2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
MEDIS 7.76% PARAMEDIS 67.16% NON MEDIS 25.07%
KETENAGAAN RS
SEMESTER I TAHUN 2019
DOKTER SPESIALIS 71.15% DOKTER UMUM 26.92% DOKTER GIGI UMUM 1.92%KETENAGAAN MEDIS RS
SEMESTER I TAHUN 2019
BIDAN 3.78% KEPERAWATAN 74.00% NON KEPERAWATAN & BIDAN 22.22%KETENAGAAN PARAMEDIS RS
SEMESTER I TAHUN 2019
Berdasarkan data-data tersebut di atas, diketahui bahwa sebagian besar adalah
tenaga Paramedis yaitu sebesar 67.16%. Kemudian berturut-turut adalah tenaga Non Medis
(25.07%) dan Medis (7.76%). Dari komposisi tersebut memperlihatkan bahwa RS. dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor lebih mengutamakan tenaga di bidang pelayanan (74.92%) khususnya
terkait tugas pokok dan fungsi dari Rumah Sakit sebagai RS khusus Jiwa dengan Layanan
Unggulan Rehabilitasi Psikososial. Secara khusus tenaga pelayanan tersebut didistribusikan
pada unit-unit layanan, yaitu: layanan rawat jalan, layanan rawat inap, layanan gawat darurat,
layanan rehabilitasi psikososial dan layanan penunjang lainnya. Ketenagaan RS dapat
melakukan pelayanan sesuai standar dan dapat menghasilkan pendapatan sesuai yang
ditargetkan walaupun kuantitas layanan lebih ditentukan dari kedatangan pelanggan dan
kebijakan-kebijakan layanan, seperti ketentuan BPJS Kesehatan tentang layanan RS sesuai
kekhususannya yang mengakibatkan berkurangnya jumlah kunjungan ke RS.
Grafik 2.4
Ketenagaan RS Selama 4 Tahun Terakhir
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Berdasarkan Grafik di atas, diketahui bahwa tenaga PNS sejak 2016 mengalami
peningkatan dari 679 orang di Semester I Tahun 2019 menjadi 690 orang. Sedangkan
pegawai Non PNS tidak mengalami perubahan yang berarti.
Grafik 2.5
Ketenagaan Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2018
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
0 200 400 600 800 2016 2017 2018 SM I 2019 PNS/CPNS 723 692 679 690 NON PNS 280 288 291 284 O R A N G KETENAGAAN RS SEMESTER I TAHUN 2019 LAKI-LAKI 44.44% PEREMPUAN 55.56%
KETENAGAAN RS
SEMESTER I TAHUN 2019
Berdasarkan Grafik tersebut, ternyata jenis kelamin perempuan lebih banyak
dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 55.56%, atau sebanyak 545 orang.
Grafik
Ketenagaan RS Berdasarkan Tingkat Pendidikan Semester I Tahun 2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Berdasarkan data tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwasannya masih ada
tenaga yang pendidikannya masih di bawah jenjang Diploma, yaitu sebanyak 1 orang (0.14%)
berpendidikan SD/SMP, 66 orang (9.38%) berpendidikan SMA. Jika ditotal tenaga yang masih
di bawah standar D3 sebanyak 77 orang (20%).
Grafik
Ketenagaan RS Berdasarkan Jabatan Semester I Tahun 2019
RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Hasil Grafik tersebut di atas, dapat terlihat bahwa sebaran pegawai terbanyak
berdasarkan kelompok jabatan adalah Jabatan Fungsional Tertentu (64.38%) jika
dibandingkan dengan Jabatan Fungsional Umum dan Jabatan Struktural.
SD 0.14% SLTA 9.38% SLTP 1.14% DI 0.14% DII 0.14% DIII 54.83% DIV 1.14% S1 17.90% S2 9.80% SP. 1/2/AV 5.40%