BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan salah satu aspek dari lahan. Proses perubahan pemanfaatan sifatnya

Teks penuh

(1)

8 2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Lahan

Lahan memiliki arti lebih luas daripada makna tanah mengingat tanah hanya merupakan salah satu aspek dari lahan. Proses perubahan pemanfaatan sifatnya cukup kompleks dimana mekanisme perubahannya melibatkan beberapa kekuatan seperti kekuatan pasar, sistem administratif yang dikembangkan oleh pemerintah dan juga kepentingan politik (Darwis, 2008).

Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau status lahan tersebut. Termasuk disini lahan yang terdaftar di Pajak Hasil Bumi, Iuran Pembangunan Daerah, lahan bengkok, lahan serobotan, lahan rawa yang ditanami padi dan lahan-lahan bukaan baru. Lahan sawah mencakup sawah pengairan, tadah hujan, sawah pasang surut, rembesan, lebak dan lain sebagainya (Anonimous, 2015).

Menurut Hanafie (2010), berdasarkan topografi kemiringannya lahan terbagi menjadi empat:

1) Lahan dengan lereng 0-3% : datar, termasuk rawa-rawa, untuk tanaman padi atau perkebunan kelapa,

2) Lahan dengan lereng 3-8% : baik untuk tanaman setahun tertentu apabila dibuat teras atau kontur,

(2)

3) Lahan dengan lereng 8-15% : baik untuk tanaman rumput sehingga cocok untuk daerah peternakan,

4) Lahan dengan lereng >15% : baik untuk tanaman kayu sehingga cocok dijadikan perkebunan atau kehutanan.

Mutu lahan memiliki pengaruh terhadap nilai gizi pangan, jika lahan tidak subur maka jumlah pangan yang dihasilkan akan sedikit. Jika lahan subur dan kaya akan zat hara, airnya cukup, keadaan iklim baik, dan persyaratan tumbuh lainnya terpenuhi, maka hasil tanamnya akan melimpah. Karena cara pengusahaan lahan yang tidak baik di beberapa daerah, tanah akan kehilangan zat hara yang diperlukan tanaman. Kalau hal ini terjadi, perlakuan pemupukan dengan jumlah zat hara yang tepat perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi. Akan tetapi walaupun kemampuan lahan untuk berproduksi dapat ditingkatkan atau diturunkan dengan jalan merubah keadaan, perlakuan, atau buruh yang digunakan, kisaran hasil pada sebidang lahan tentu ada batasnya. Jika lahan pertanian baru menjadi langka atau kalau produksi dan pendapatan pada bidang usahatani yang ada sekarang menurun, perhatian yang lebih banyak harus diberikan untuk meningkatkan hasil lahan. Dengan hal demikian, penggunaan pupuk dan anjuran lainnya memegang peranan penting dalam kegiatan pertanian (Harper, 2006).

2.1.2 Optimasi Lahan

Menurut Anonimous (2014), optimasi lahan pertanian merupakan usaha meningkatkan pemanfaatan sumber daya lahan pertanian menjadi lahan usahatani tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan melalui upaya perbaikan dan peningkatan daya dukung lahan, sehingga dapat menjadi lahan usahatani yang lebih produktif. Kegiatan optimasi lahan pertanian diarahkan untuk memenuhi

(3)

kriteria lahan usahatani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan dari aspek teknis, perbaikan fisik dan kimiawi tanah, serta peningkatan infrastruktur usahatani yang diperlukan. Kegiatan optimasi lahan diarahkan untuk menunjang terwujudnya ketahanan pangan dan antisipasi kerawanan pangan.

Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan optimasi lahan adalah:

1) Memanfaatkan lahan yang sementara tidak diusahakan menjadi lahan pertanian produktif dan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) untuk memperluas areal tanam,

2) Mendukung Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN),

3) Meningkatkan produksi pertanian, khususnya padi untuk mendukung surplus 10 juta ton beras,

4) Meningkatkan pemanfaatan sumber daya lahan pertanian,

5) Memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha di pedesaan.

Sasaran kegiatan optimasi lahan diarahkan untuk :

1) Mendukung sub sektor pangan, komoditasnya harus padi pada lahan dengan Indeks Pertanaman (IP) ≤ 200,

2) Mendukung sub sektor hortikultura, diarahkan pada lahan komoditi hortikultura yang belum optimal (komoditas buah-buahan dan sayur-sayuran), 3) Mendukung sub sektor perkebunan, diarahkan pada lahan perkebunan rakyat

yang produktivitas dan jumlah populasi tanamannya rendah,

Program optimasi lahan yang dilakukan dengan meningkatkan Indeks Pertanaman tanaman. Indeks Pertanaman (IP) menunjukkan kekerapan atau intensitas pertanaman pada sebidang lahan. Peningkatan IP merupakan salah satu cara untuk

(4)

meningkatkan produksi dalam menghadapi masalah peningkatan kebutuhan tanaman tersebut, penciutan lahan, dan keterbatasan lahan. Lahan kering dan lahan padi sawah dapat dimaksimalkan penggunaannya dengan peningkatan IP. Peningkatan IP dapat dilakukan dengan cara mempersingkat proses produksi dan meniadakan waktu lowong antara musim tanam. Adapun indeks pertanaman pada sawah masih rendah yaitu satu atau dua kali tanam per tahun (Anonimous, 2009).

Menurut Hanafie (2010), teknologi usahatani merupakan salah satu cara melakukan usahatani, yang meliputi cara menyebar benih, memelihara tanaman, memungut hasil, dan memelihara ternak. Juga termasuk benih, pupuk, pestisida, perkakas, alat, dan sumber tenaga. Meningkatnya produksi pertanian merupakan salah satu efek dari penggunaan teknik dan metode dalam usahatani yang senantiasa berubah.

Sistem pertanian khususnya bidang tanaman pangan sangat membutuhkan ketersediaan lahan potensial. Ketersediaan lahan yang cukup untuk usaha pertanian merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan peran sektor pertanian secara berkelanjutan, terutama dalam perannya mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan secara nasional. Penyediaan lahan pertanian berkaitan dengan kapasitas produksi pangan yang ditentukan oleh luas lahan produksi, produktivitas lahan, tingkat konsumsi pangan (ketergantungan terhadap beras), laju luasan konversi, dan jumlah penduduk. Pada dasarnya mengalokasikan penyediaan lahan potensial untuk lahan pertanian tanaman pangan sangat perlu dilakukan. Tapi bukan hanya sekedar pemenuhan target lahan, yang terpenting adalah bagaimana mengoptimalkan lahan pertanian yang ada (Arsyad dan Ernan, 2008).

(5)

2.1.3 Efektivitas

Menurut Hidayat (1986), efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Efektif merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas, dan waktu) yang telah tercapai. Dimana semakin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.

Menurut The Liang Gie (1967), efektivitas adalah suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat dari yang dikehendaki, jika seseorang melakukan sesuatu dengan maksud tertentu dan memang dikehendakinya, maka dia dikatakan efektif apabila mencapai maksudnya. Dapat disimpulkan bahwa suatu hal dikatakan efektif apabila hal tersebut sesuai dengan apa yang dikehendaki.

Pada program optimasi lahan, efektivitas pemberian dana bantuan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu tepat jumlah (jumlah dana yang diberikan) , tepat sasaran (kepada siapa dana tersebut diberikan), dan tepat waktu (kapan dana tersebut diberikan) dan tepat guna (untuk apa dana tersebut digunakan).

2.1.4 Pupuk

Menurut Lingga (2008), pupuk merupakan salah satu kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau lebih unsur yang habis terisap tanaman. Petani dan pupuk sudah menyatu, petani kerap kali enggan tidak memberikan pupuk ketika menanam seuatu. Bagi mereka, pupuk sudah menjadi sebuah jaminan agar tanaman dapat tumbuh subur dengan hasil yang melimpah, namun hasil yang diperoleh tak selamanya bagus. Petani kerap kali mengalami kegagalan, hal ini kemungkinan disebabkan karena salah pupuk. Untuk penggunaan pupuk yang

(6)

tepat, harus memerhatikam beberapa hal misalnya dosis penggunaan pupuk, cara pemakaian, dan khasiatnya bagi tanaman harus diketahui terlebih dahulu sebelum memakai pupuk tersebut.

2.1.5 Bibit

Bibit merupakan komponen teknologi produksi yang sangat penting untuk mendapatkan tingkat produksi yang optimal. Bibit merupakan tumbuhan muda yang sangat menentukan untuk pertumbuhan tanaman selanjutnya. Untuk tanaman padi sawah, penggunaan bibit dengan umur dan jumlah yang tepat perlu diperhatikan (Kamil, 1982).

Bibit adalah benih yang telah berkecambah atau bertunas. Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 23/Permentan/SR.120/2/2007 benih padi yang bersertifikat menjamin beberapa hal, yaitu keaslian / kemurnian varietas, daya tumbuh yang baik, dan masa pakai (expired product) diketahui dengan pasti, sehingga lebih terjamin. Jaminan kualitas benih padi bersertifikat adalah benih belum kadaluarsa, daya tumbuh minimal 80%, kadar air 10% – 13%, kandungan kotoran maksimal 2%, dan kemurnian varietas minimal 98%. Dengan kualitas yang baik, tanaman padi akan tumbuh lebih seragam, sehingga memaksimalkan hasil saat dipanen. Untuk memperoleh produksi yang maksimal, usaha yang baik harus dimulai sejak awal. Selain penggunaan benih bersertifikat, perlakuan benih saat akan disemaikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan awal bibit padi.

2.1.6 Pestisida

Menurut PP No. 7 Tahun 1973 pestisida adalah semua bahan racun yang digunakan untuk membunuh organisme hidup yang mengganggu tumbuhan,

(7)

ternak, dan sebagainya yang dibudidayakan oleh manusia untuk kesejahteraan hidup. Pestisida dipergunakan untuk memberantas hama dan penyakit yang merusak tanaman, memberantas rerumputan atau tanaman pengganggu (gulma), mematikan daun dan pertumbuhan yang tidak diinginkan, memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau ternak, dan memberantas atau mencegah hama-hama air.

Menurut PP RI No.6 tahun 1995, pestisida juga didefinisikan sebagai zat atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang tubuh, bahan lain, serta mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk perlindungan tanaman.

Menurut Depkes (2004), pestisida kesehatan masyarakat adalah pestisida yang digunakan untuk pemberantasan vektor penyakit menular (serangga, tikus) atau untuk pengendalian hama di rumah-rumah, pekarangan, tempat kerja, tempat umum lain, termasuk sarana nagkutan dan tempat penyimpanan/pergudangan. Pestisida terbatas adalah pestisida yang karena sifatnya (fisik dan kimia) dan atau karena daya racunnya, dinilai sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan lingkungan, oleh karenanya hanya diizinkan untuk diedarkan, disimpan dan digunakan secara terbatas.

2.1.7 Alat Mesin Pertanian

Menurut Anonimous (2015), alsintan atau alat dan mesin pertanian adalah sebutan yang digunakan untuk menyebut alat-alat atau mesin yang digunakan dalam bidang pertanian. Pada zaman dahulu, ketika manusia masih hidup di zaman purba tapi sudah mengenal pola bercocok tanam, alat pertanian yang mereka gunakan adalah berupa alat-alat dari batu atau kayu. Tapi di zaman modern ini,

(8)

untuk bercocok tanam, manusia mencari kemudahan-kemudahaan dengan menciptakan alat yang bisa mempemudah proses bertani atau bercocok tanam. Dan alat yang di ciptakan untuk tujuan pertanian ini kemudian di kenal dengan istilah Alat dan mesin pertanian.

Alat dan mesin pertanian sesungguhnya mempunyai pengertian yang sangat jauh berbeda. Alsintan adalah dua kata yang di satukan. Berasal dari istilah alat pertanian dan mesin pertanian. Keduanya, baik alat maupun mesin mempunyai perbedaan dalam bentuk, tenaga pengerak dan proses yang dilakukan. Alat pertanian mempunyai bentuk dan mekanisme yang sederhana, dijalankan secara manual dan proses yang dilakukan sedikit. Sedangkan mesin pertanian bentuk dan mekanismenya sangat kompleks, bekerja secara otomatis dan hasil proses yang di kerjakan sangat banyak.

Berikut ini adalah contoh alat-alat dan mesin pertanian yang sekarang banyak di gunakan di tingkat petani dari yang sederhana dan manual hingga yang modern dan otomatis.

Tabel 2. Alat dan Mesin Pertanian

Proses yang Dikerjakan Alat Pertanian Mesin Pertanian

Membalik Tanah Cangkul Traktor

Memotong Rumput Sabit Sabit Bergerigi

Menyiram Tanaman Ember/Gembor Power Sprayer

Menanam Biji Kayu Tugal Mesin Tugal

Sumber : http://diperta.jabarprov.go.id

Alat dan mesin pertanian telah digunakan dalam usaha tani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Penggunaan alat dan mesin pertanian telah dirasakan manfaatnya oleh petani khususnya tanaman pangan dalam mempercepat pengolahan tanah, pengendalian hama, panen dan perontokan

(9)

khususnya di daerah intensifikasi. Namun demikian jumlah alat dan mesin pertanian masih sangat sedikit dibanding dengan luas lahan yang ada (Anonimous, 2015).

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Usahatani

Menurut Vink (1984), ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari norma-norma yang digunakan untuk mengatur usahatani agar memperoleh pendapatan yang setinggi-tingginya.

Ilmu usahatani biasa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumber daya tersebut menghasilkan pengeluaran yang melebihi masukan (Soekartawi, 1995).

Ilmu usahatani merupakan ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana membuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada suatu usaha pertanian, peternakan, atau perikanan. Selain itu uga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana membuat dan melaksanakan keputusan pada usaha pertanian, peternakan, atau perikanan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati oleh petani/peternak tersebut (Prawirokusumo, 1990).

Menurut Tohir (1983), dalam usahatani sering ditemui istilah intensif dan ekstensif yang tidak mudah untuk menentukannya karena tidak memiliki perbedaan yang mutlak. Usahatani dikatakan intensif jika banyak menggunakan

(10)

tenaga kerja dan atau modal per satuan luas. Suatu usahatani intensif dapat dilihat dari tiap kegiatannya, misalnya pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman. Contoh usahatani intensif adalah jika seorang petani menggarap tanah sesuai dengan kebutuhan sampai siap untuk ditanami jagung, menggunakan pupuk awal, bibit unggul, melakukan penyiangan dan pemupukan periodik. Tiga setengah bulan kemudian, petani tersebut panen dan diperoleh hasil 12 ku per satuan luas. Suatu usahatani dikatakan ekstensif jika usahatani tersebut tidak banyak menggunakan tenaga kerja atau modal per satuan luas. Sebagai contoh usahatani ekstensif adalah jika seorang petani menggarap tanah ala kadarnya, lalu menebar bibit, biji-bijian (jagung). Setelah itu lahan dibiarkan saja. Tiga setengah bulan kemudian, petani tersebut datang untuk memanen dan memperoleh hasil 2 ku per satuan luas. Dapat disimpulkan bahwa karena penggunaannya intensif, yaitu menggunakan tenaga dan modal lebih banyak maka diperoleh hasil yang lebih banyak pula.

2.2.2 Pendapatan

Menurut Soekartawi (1999), biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan petani dalam proses produksi, dihitung dalam rupiah per satuan luas lahan (Ha). Sedangkan pendapatan dapat dihitung dengan mengurangi nilai output total (penerimaan) dengan nilai input (biaya). Dapat disimpulkan bahwa pendapatan adalah selisih antara penerimaan dan total biaya. Persamaan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

(11)

Keterangan:

Pd : Pendapatan TR : Total Penerimaan TC : Total Biaya

2.3 Penelitian Terdahulu

Agustira (2004) tentang “Analisis Optimasi Penggunaan Input Produksi Pada Usahatani Padi Sawah Di Kabupaten Deli Serdang”. Metode Penentuan sampel yang digunakan dengan metode acak berlapis atau strata (stratified random sampling), berdasarkan strata luas lahan sebanyak 30 sampel yaitu Strata I dengan luas lahan < 0,5 Ha sebanyak 20 orang dan Strata II yaitu dengan luas lahan sebanyak 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Input-input produksi yang digunakan petani padi sawah di daerah penelitian meliputi penggunaan lahan, benih, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk SP 36, pupuk KCl, pupuk ZA, insektisida, herbisida, dan fungisida. Penggunaan input produksi mempengaruhi 81,6% produksi padi sawah di daerah penelitian, dan secara serempak berpengaruh nyata terhadap produksi padi sawah. Sedangkan secara parsial, input produksi yang berpengaruh adalah penggunaan pupuk urea dan pupuk SP 36, sedangkan input produksi yang lain pupuk KCl, pupuk ZA, insektisida, herbisida, dan fungisida tidak berpengaruh secara nyata. Penggunaan semua input produksi oleh petani belum optimal sehingga perlu dilakukan penambahan penggunaan input produksi di daerah penelitian.

BPTP Sulawesi Tengah (2009) dalam “Kajian Peningkatan Intensitas Tanaman Padi Sawah Di Sulawesi Tengah (APBN)”. Indeks Pertanaman Padi bahkan bisa ditingkatkan menjadi IP Padi 400. Pengembangan indeks pertanaman padi 400 (IP

(12)

Padi 400) merupakan pilihan menjanjikan guna meningkatkan produksi padi nasional tanpa memerlukan tambahan irigasi luar biasa. IP Padi 400 artinya petani dapat panen padi empat kali setahun di lokasi yang sama. Konsekuensi pengembangan IP Padi 400, diperlukan empat pilar pendukung. Pertama, produksi benih super genjah dengan umur kurang dari 80 hari. Kedua, dukungan pengendalian hama terpadu (PHT). Ketiga, pengelolaan hara terpadu. Keempat, manajemen tanam dan panen yang efisien. IP Padi 400 dapat memecah kejenuhan peningkatan produksi (levelling off) dalam peningkatan produksi beras nasional (P2BN), bahkan Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan lahan yang sama sampai 25 bahkan 50 tahun mendatang. Pertimbangannya, para pemulia tanaman (breeder) Indonesia berhasil mengubah padi berumur 180 hari (6 bulan) dengan produksi 2-3 ton/ha menjadi berumur 105 hari dengan produktivitas 6-8 ton/ha seperti padi lokal beras meras Aek Sibundong varietas lokal Sumatera Utara. Melalui persilangan konvensional, marka molekuler, iradiasi para pemulia dapat memperpendek umur padi 105 hari menjadi kurang dari 80 hari dengan produktivitas yang sama. Saat ini Balai Besar Penelitian Padi Badan Litbang Pertanian telah memiliki galur (calon varietas) dengan umur 85 hari meski produktivitasnya masih di bawah lima ton.

Lungguk (2011) tentang “Analisis Luas Lahan Minimum Untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani Padi Sawah di Desa Cinta Damai Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang”. Metode Penentuan sampel yang digunakan dengan metode acak berlapis atau strata (stratified random sampling), metode analisis data adalah analisis usahatani dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan dan tingkat pendapatan di daerah penelitian

(13)

bervariasi pada masing-masing strata. Rata-rata luas lahan petani di daerah penelitian berkisar antara 0,35 Ha sampai dengan 1,38 Ha dan rata-rata pendapatan petani berkisar antara Rp 617.650 sampai dengan Rp 2.906.900 per bulan. Pola pengeluaran petani berdasarkan pengeluaran terbanyak digunakan pada kebutuhan makanan. Luas lahan minimum yang harus diusahakan petani untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya di daerah penelitian adalah 0,96 Ha.

Azrul (2014) tentang “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Usahatani Padi Sawah Petani Penyewa Lahan di Desa Pematang Sijonam Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai”. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive, artinya pengambilan sampel dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu dengan jumlah sampel sebanyak 52 orang. Metode analisis data menggunakan regresi linier berganda. Adapun hasil penelitian yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usahatani padi sawah petani penyewa lahan di Desa Pematang Sijonam adalah umur (X1), bibit

(X2), lama berusahatani (X3), dan pupuk (X4). Nilai koefisien determinasi (R2)

diperoleh sebesar 0,426. Koefisien determinasi ini menunjukkan bahwa produktivitas padi sawah (Y) dapat dijelaskan oleh variabel umur (X1), bibit (X2),

lama berusahatani (X3), dan pupuk (X4) sebesar 43%, sedangkan sisanya sebesar

57% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Secara serempak faktor umur, bibit, lama berusahatani dan pupuk, berpengaruh nyata terhadap produktivitas pai sawah petani penyewa lahan. Secara parsial faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas ushatani padi sawah petani penyewa lahan adalah bibit, sedangkan umur, lama berusahatani, dan pupuk tidak mempengaruhi produktvitas usahatani padi sawah penyewa lahan.

(14)

2.4 Kerangka Pemikiran

Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu daerah sentra produksi beras di Provinsi Sumatera Utara. Banyak penduduk yang memilki mata pencaharian sebagai petani, khususnya petani padi sawah. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, hasil produksi yang tetap dari tiap tahunnya dianggap belum mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk, sedangkan untuk melakukan perluasan areal tanaman pangan memiliki kemungkinan kecil untuk dilakukan disebabkan oleh beberapa faktor. Maka dari itu program optimasi lahan dilakukan untuk meningkatkan produksi padi sawah. Program optimasi lahan dilakukan dengan cara meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas lahan.

Dinas Pertanian memberikan dana bantuan program optimasi lahan kepada kelompok tani, selanjutnya petani akan menggunakan dana bantuan tersebut untuk kepentingan yang mendukung program optimasi lahan, misalnya membeli pupuk, bibit, pestisida, dan alat mesin pertanian yang mendukung peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Efektif atau tidaknya dana bantuan tersebut dapat dilihat dari tepat jumlah, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat guna.

(15)

Secara sistematika kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:

: menyatakan hubungan

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Usahatani Padi Sawah

Tidak Memperoleh Dana Bantuan Program Optimasi Lahan Memperoleh Dana Bantuan Program Optimasi Lahan Indeks Pertanaman Indeks Pertanaman Produktivitas Pendapatan Distribusi Dana Efektivitas Produksi

(16)

2.4 Hipotesis

Berdasarkan identifikasi masalah, tinjauan pustaka, dan kerangka pemikiran maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat perbedaan peningkatan produksi bagi petani yang mendapatkan dana bantuan program optimasi lahan dengan yang tidak mendapatkan dana bantuan di daerah penelitian.

2. Terdapat perbedaan peningkatan pendapatan bagi petani yang mendapatkan dana bantuan program optimasi lahan dengan yang tidak mendapatkan dana bantuan di daerah penelitian.

Figur

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran  Usahatani Padi Sawah

Gambar 1.

Skema Kerangka Pemikiran Usahatani Padi Sawah p.15
Related subjects :