BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ada dalam penelitian yang dibuat oleh peneliti, beberapa penelitian yang. mempunyai hubungan dengan penelitian ini adalah:

Teks penuh

(1)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa penelitian yang diteliti oleh pihak lain sebagai rujukan dalam mengembangkan materi yang ada dalam penelitian yang dibuat oleh peneliti, beberapa penelitian yang mempunyai hubungan dengan penelitian ini adalah:

1. Gandawari et al. (2017) dengan judul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Menggunakan Metode RGEC Pada PT Bank Sulutgo Periode 2014-2016”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: penilaian risk profile dengan menggunakan rasio NPL dan rasio LDR selama tahun 2014-2016 berturut-turut berada dalam kondisi “sehat”. GCG pada tahun 2014-2015 memperoleh komposit 3 yang menunjukkan “cukup baik” dan pada tahun 2016 meningkat menjadi komposit 2 yang mencerminkan bahwa tata kelola perusahaan “semakin baik”. Earnings dengan menggunakan indikator yaitu ROA, ROE, NIM dan BOPO selama tahun 2014-2016 berada dalam kondisi “sehat”. Capital selama tahun 2014-2016 berada dalam kondisi “sehat”, dimana berada diatas standar minimum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu 8%.

Persamaan penelitian ini terdapat pada metode yang digunakan untuk menilai kesehatan bank yaitu sama-sama menggunakan metode RGEC. Perbedaan penelitian ini, terdapat pada objek penelitian dimana penelitian sebelumnya mengambil objek PT Bank Sulutgo, sedangkan penelitian ini

(2)

12

objeknya adalah BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Penelitian ini menggunakan rasio NPL, LDR, GCG, ROA, BOPO, dan CAR dengan menggunakan data triwulan serta rentang waktu adalah tiga tahun, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan rasio NPL, LDR, GCG, ROA, ROE, NIM, BOPO, dan CAR serta rentang waktu penelitian adalah tiga tahun. 2. Weli & Tobing (2017) dengan judul “Analisis Metode RGEC Untuk

Menilai Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Konvensional di Provinsi Kepulauan Riau”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: selama periode 2011 hingga 2015 Bank selalu memperoleh peringkat 1 atau “sangat sehat”. Perhitungan rasio NPL dan LDR menggambarkan bank harus mengelola risiko dengan “baik”. Penilaian GCG menunjukkan tata kelola perusahaan telah berjalan dengan “baik”. Perhitungan ROA dan NIM menunjukkan kemampuan bank dalam meraih laba yang “tinggi”. Perhitungan CAR selalu di atas batas minimum Bank Indonesia dinilai mampu mengelola modalnya. Namun dalam penelitian ini metode RGEC belum sepenuhnya sesuai untuk diterapkan di BPR dikarenakan metode GCG tidak dapat dipenuhi, karena data metode CGC tidak dipublikasikan di Bank Indonesia.

Persamaan penelitian ini terdapat pada obyek penelitian yaitu BPR dan metode yang digunakan untuk menilai kesehatan bank yaitu sama-sama menggunakan metode RGEC. Perbedaan penelitian ini terdapat pada rasio yang digunakan, penelitian ini menggunakan rasio NPL, LDR, GCG, ROA, BOPO, dan CAR dengan menggunakan data triwulan serta rentang waktu adalah tiga tahun, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan rasio

(3)

13

NPL, LDR, GCG, ROA, NIM, dan CAR serta rentang waktu penelitian adalah lima tahun.

3. Nufus et al. (2019) dengan judul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Metode RGEC (Studi Kasus PT Bank BNI (Persero) Tbk). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: tingkat kesehatan BNI pada tahun 2013 sampai dengan 2017 yang diukur menggunakan pendekatan RGEC dapat dikatakan bank yang “sehat”. Faktor risk profile yang dinilai melalui NPL, LDR, Cash Ratio menggambarkan pengelolaan risiko yang telah dilaksanakan dengan “baik”. Faktor GCG BNI sudah memiliki dan menerapkan tata kelola perusahaan dengan “sangat baik”. Faktor earnings yang penilaiannya terdiri dari ROA mengalami kenaikan dan ini menandakan bertambahnya jumlah aset yang dimiliki BNI diikuti dengan bertambahnya keuntungan yang didapat oleh BNI. Dengan menggunakan indikator CAR, BNI memiliki faktor Capital yang baik, yaitu diatas ketentuan Bank Indonesia sebesar 8%.

Persamaan penelitian ini terdapat pada metode yang digunakan untuk menilai kesehatan bank yaitu sama-sama menggunakan metode RGEC. Perbedaan penelitian ini, terdapat pada objek penelitian dimana penelitian sebelumnya mengambil objek PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sedangkan penelitian ini objeknya adalah BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Penelitian ini menggunakan rasio NPL, LDR, GCG, ROA, BOPO, dan CAR dengan menggunakan data triwulan serta rentang waktu adalah tiga tahun, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan rasio NPL, LDR, Cash

(4)

14

Ratio, GCG, ROA, dan CAR serta rentang waktu penelitian adalah lima tahun.

4. Purwaningsih et al. (2019) dengan judul “Analisis Tingkat Kesehatan Bank Dengan Pendekatan Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning dan Capital Pada PT BPR Sukawati Pancakanti”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: dari aspek risk profile pada tahun 2014-2016 melalui rasio NPL bank berada pada kondisi “sehat”, melalui rasio IRR bank berada pada kategori “sangat sehat” dan melalui rasio LDR bank berada pada posisi “cukup sehat” pada tahun 2014 dan pada kondisi “kurang sehat” pada tahun 2015-2016. Aspek Good Corporate Governance bank berada pada kategori “cukup sehat” pada tahun 2014-2015 dan berada pada kategori “sehat” pada tahun 2016. Aspek earning melalui rasio ROA dan NIM bank berada pada kategori “sangat sehat” pada tahun 2014-2016. Aspek capital bank berada pada kategori “sangat sehat” pada tahun 2014-2016.

Persamaan penelitian ini terdapat pada obyek penelitian yaitu BPR dan metode yang digunakan untuk menilai kesehatan bank yaitu sama-sama menggunakan metode RGEC. Perbedaan penelitian ini terdapat pada rasio yang digunakan, penelitian ini menggunakan rasio NPL, LDR, GCG, ROA, BOPO, dan CAR dengan menggunakan data triwulan serta rentang waktu adalah tiga tahun, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan rasio NPL, IRR, LDR, GCG, ROA, NIM, dan CAR serta rentang waktu penelitian adalah tiga tahun.

5. Christrisia & Purba (2020) dengan judul “Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Metode Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning

(5)

15

dan Capital Bank Perkreditan Rakyat”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: selama periode 2014 hingga 2018 BPR yang terdaftar di OJK Kota Batam rata-rata mendapatkan peringkat 1 atau sangat sehat. Perhitungan rasio NPL menggambarkan BPR di Kota Batam mendapatkan predikat “sehat” dengan rata-rata sebesar 3,9%. Penilaian GCG menunjukkan tata kelola manajemen perusahaan yang diukur dengan kepemilikan manajerial mendapatkan predikat “sehat” dengan penilaian rata-rata sebesar 2,6%. Perhitungan ROA menunjukkan kemampuan BPR untuk mencapai laba sangat tinggi dengan predikat “sangat sehat” dengan penilaian rata-rata sebesar 2,69%. Perhitungan CAR selalu diatas batas minimum Bank Indonesia dan dianggap dapat mengelola modalnya dengan mendapatkan predikat “sangat sehat” dengan penilaian rata-rata sebesar 17,8%.

Persamaan penelitian ini terdapat pada obyek penelitian yaitu BPR dan metode yang digunakan untuk menilai kesehatan bank yaitu sama-sama menggunakan metode RGEC. Perbedaan penelitian ini terdapat pada rasio yang digunakan, penelitian ini menggunakan rasio NPL, LDR, GCG, ROA, BOPO, dan CAR dengan menggunakan data triwulan serta rentang waktu adalah tiga tahun, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan rasio NPL, GCG, ROA, dan CAR dengan obyek penelitian sebanyak 16 BPR yang terdaftar di OJK serta rentang waktu penelitian adalah lima tahun.

B. Kajian Teori 1. Kesehatan Bank

(6)

16

Kesehatan bank adalah kondisi keuangan dan manajemen bank diukur melalui rasio-rasio hitung. Budisantoso & Triandaru (2014:51) mendefinisikan kesehatan bank diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Sunarti (2011:144) menjelaskan bahwa kesehatan bank merupakan kepentingan semua pihak terkait yaitu pemilik dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank, dan Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas bank-bank yang ada di Indonesia.

Berdasarkan Pasal 1 ayat 4 Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 13/1/PBI/2011, menyatakan bahwa tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kondisi bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja bank. Sedangkan menurut Rivai et al. (2012:465) kesehatan atau kondisi keuangan dan non keuangan bank merupakan kepentingan semua pihak terkait, baik pemilik, manajemen bank, pemerintah (melalui BI), dan pengguna jasa bank. Dengan diketahuinya kondisi suatu bank dapat digunakan oleh pihak-pihak tersebut untuk mengevalusi kinerja bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dan manajemen risiko.

Selain itu, untuk menilai suatu kesehatan bank dapat dinilai dari berbagai segi. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondidi yang sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat, sehingga Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina bank-bank dapat memberikan arahan atau petunjuk bagaimana bank tersebut harus dijalankan bahkan dihentikan kegiatan operasinya (Kasmir, 2013:47). Bagi perbankan,

(7)

17

hasil penilaian kondisi bank tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam menetapkan strategi usaha di waktu yang akan datang, sedangkan bagi Bank Indonesia dapat digunakan sebagai sarana penetapan kebijakan dan implementasi strategi pengawasan, agar pada waktu yang ditetapkan bank dapat menerapkan sistem penilaian tingkat kesehatan bank yang tepat.

a. Dasar Hukum Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Berdasarkan lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/24/DNDP tanggal 25 Oktober 2011 tentang Penilaian Kesehatan Kesehatan Bank Umum, menjelaskan bahwa predikat tingkat kesehatan bank meliputi:

1) Predikat Tingkat Kesehatan “Sangat Sehat” dipersamakan dengan peringkat komposit 1 (PK-1). PK-1 mencerminkan kondisi bank yang secara umum sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu mengahadapi pengaruh negative yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

2) Predikat Tingkat Kesehatan “Sehat” dipersamakan dengan peringkat komposit 2 (PK-2). PK-2 mencerminkan kondisi bank yang secara umum sehat sehingga dinilai mampu mengahadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

3) Predikat Tingkat Kesehatan “Cukup Sehat” dipersamakan dengan peringkat komposit 3 (PK-3). PK-3 mencerminkan kondisi bank yang secara umum cukup sehat sehingga dinilai cukup mampu mengahadapi

(8)

18

pengaruh negative yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

4) Predikat Tingkat Kesehatan “Kurang Sehat” dipersamakan dengan peringkat komposit 4 (PK-4). PK-4 mencerminkan kondisi bank yang secara umum kurang sehat sehingga dinilai kurang mampu mengahadapi pengaruh negative yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

5) Predikat Tingkat Kesehatan “Tidak Sehat” dipersamakan dengan peringkat komposit 5 (PK-5). PK-5 mencerminkan kondisi bank yang secara umum tidak sehat sehingga dinilai tidak mampu mengahadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya.

Menurut pasal 10 Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Kesehatan Bank, dalam hal berdasarkan hasil identifikasi dan penilaian Bank Indonesia ditemukan permasalahan atau pelanggaran yang secara signifikan mempengaruhi atau akan mempengaruhi operasional dan/atau kelangsungan usaha Bank, Bank Indonesia berwenang menurunkan peringkat komposit tingkat kesehatan bank.

b. Prinsip-Prinsip Umum Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Penilaian dilakukan setiap tahun, apakah ada peningkatan atau penurunan. Bagi bank yang kesehatannya terus meningkat tidak jadi masalah, karena itulah yang diharapkan dan supaya dipertahankan terus kesehatannya, akan tetapi bank yang terus menerus tidak sehat mungkin

(9)

19

harus mendapat pengarahan atau sanksi dari bank Indonesia (Kasmir, 2013:50).

Adapun prinsip umum penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 adalah sebagai berikut:

1) Berorientasi Risiko

Penilaian tingkat kesehatan didasarkan pada risiko-risiko bank. Hal ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor internal maupun eksternal yang dapat meningkatkan risiko atau mempengaruhi kinerja keuangan bank pada saat ini dan di masa yang akan datang. Bank diharapkan mampu mendeteksi secara lebih dini akar permasalahan bank serta mengambil langkah-langkah pencegahan dan perbaikan secara efektif dan efisien.

2) Proporsionalitas

Parameter atau indikator penilaian tingkat kesehatan bank merupakan standar minimum yang wajib digunakan sesuai dengan karakteristik dan kompleksitas usaha bank dalam menilai tingkat kesehatan bank sehingga dapat mencerminkan kondisi bank dengan lebih baik

3) Materialitas dan Signifikansi

Bank perlu memperhatikan materialitas dan signifikansi faktor penilaian tingkat kesehatan bank yaitu profil risiko, Good Corporate Governance, pendapatan, dan permodalan. Penentuan materialitas dan signifikansi tersebut didasarkan pada analisis yang didukung oleh data

(10)

20

dan informasi yang memadai mengenai risiko dan kinerja keuangan bank.

4) Komprehensif dan Terstruktur

Proses penilaian dilakukan secara menyeluruh dan sistematis serta difokuskan pada permasalahan utama bank. Analisis dilakukan secara terintegrasi, yaitu dengan mempertimbangkan keterkaitan antar risiko dan antar faktor penilaian tingkat kesehatan bank. Analisis harus didukung oleh fakta-fakta pokok dan rasio-rasio yang relevan untuk menunjukkan tingkat, trend, serta tingkat permasalahan yang dihadapi oleh bank.

2. Tingkat Kesehatan Bank Metode RGEC

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 pasal 2 ayat (3), disebutkan bahwa penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk Based Bank Rating) baik secara individual maupun konsolidasi. Pendekatan berdasarkan risiko (Risk Based Bank Rating) merupakan penilaian komprehensif dan terstruktur terhadap hasil integrasi antara profil risiko dan kinerja. Pendekatan RBBR tersebut dapat dirumuskan menjadi 4 (empat) faktor tingkat kesehatan bank yang dikenal dengan metode RGEC, yaitu:

a. Risk Profile (Profil Risiko)

Menurut pasal 7 ayat 1 dalam Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 dijelaskan bahwa, penilaian terhadap faktor profil risiko sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf a merupakan penilaian

(11)

21

terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional bank yang dilakukan terhadap 8 (delapan) risiko yaitu sebagai berikut:

1) Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank. Risiko kredit terjadi apabila pinjaman tidak kembali sesuai kontrak.

2) Risiko Pasar

Risiko pasar adalah suatu risiko yang timbul karena menurunnya nilai suatu investasi akibat pegerakan pada faktor-faktor pasar. Rustam (2013:135) mengemukakan risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening adminisratif akibat perubahan harga pasar, antara lain risiko berupa perubahan nilai dari aset yang diperdagangkan. 3) Risiko Likuiditas

Risiko kekurangan likuiditas terhadi karena adanya penarikan dana secara serentak yang dapat mengakibatkan kebangkrutan bank.

4) Risiko Operasional

Risiko kerugian yang diakibatkan oleh kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia dan sistem, atau sebagai akibat dari kejadian eksternal. Rustam (2013:175) mengemukakan risiko operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya kejadian ekternal yang mempengaruhi operasional bank.

(12)

22 5) Risiko Hukum

Risiko hukum merupakan risiko dari ketidakpastian tindakan atau tuntutan maupun ketidakpastian dari pelaksanaan atau interpretasi dari kontrak, hukum atau peraturan. Haris (2015:118) berpendapat bahwa risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perudang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai.

6) Risiko Stratejik

Risiko yang disebabkan oleh adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya bank terhadap perubahan eksternal. Haris (2015:118) menjelaskan bahwa risiko strategik adalah risiko akibat ketidak pastian bank dalam mengambil keputusan dan pelaksanaan suatu keputusan strategik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

7) Risiko Kepatuhan

Risiko yang disebabkan oleh ketidakpatuhan suatu bank untuk melakukan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Rustam (2013:233) menjelaskan bahwa risiko kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat bank tidak mematuhi dan tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.

(13)

23

Risiko yang diakibatkan karena menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Haris (2015:118-119) mengemukakan bahwa risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkategorikan sumber risiko reputasi bersifat tidak langsung dan bersifat langsung.

Pada penelitian ini dalam mengukur profil risiko menggunakan dua indikator yaitu risiko kredit dengan menggunakan rasio Non Performing Loan (NPL) dan risiko likuiditas dengan menggunakan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR).

1) Risiko Kredit

Risiko kredit merupakan risiko kerugian akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) untuk memenuhi kewajibannya. Risiko kredit mencakup risiko kredit akibat kegagalan debitur membayar kewajiban pada bank, risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan (counterparty credit risk) untuk memenuhi kewajiban misalnya dalam perjanjian kontrak derivative, dan risiko kredit akibat kegagalan proses pembayaran (settlement risk) misalnya dalam perjanjian jual beli valuta asing.

Parameter atau indikator yang digunakan dalam penilaian risiko kredit adalah komposisi portofolio aset dan tingkat konsentrasi, kualitas penyediaan dana dan kecukupan pencadangan, strategi penyediaan dana dan sumber timbulnya penyediaan dana, dan faktor eksternal.

(14)

24

Sedangkan penilaian risiko kredit menggunakan rasio Non Performing Loan (NPL) Net. NPL Net adalah rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang kolektibilitasnya macet dari kredit yang diberikan secara keseluruhan. Wahyudi et al. (2013:25) menjelaskan bahwa risiko kredit adalah risiko yang muncul akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi liabilitas kepada bank sesuai kontrak. Risiko ini disebut risiko gagal bayar (default risk).

2) Risiko Likuiditas

Likuiditas dalam dunia bisnis diartikan sebagai kemampuan menjual asset dalam waktu singkat dengan kerugian yang paling minimal. Pengertian likiditas dalam dunia perbankan lebih komplek dibandingkakan dengan dunia bisnis secara umum dari sudut aktiva likuiditas adalah kemampuan untuk mengubah seluruh asset menjadi bentuk tunai (cash), sedangkan dari sudut pasiva, likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi dana melalui peningkatan portofolio liabilitas (Muhammad, 2015:157).

Parameter atau indikator yang digunakan dalam penilaian risiko likuiditas adalah komposisi dari aset, kewajiban, dan transaksi rekening administrasi, konsentrasi dari aset dan kewajiban, kerentanan pada kebutuhan pendanaan, dan akses pada sumber-sumber pendanaan. Sedangkan penilaian risiko likuiditas menggunakan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). LDR merupakan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh masyarakat dengan

(15)

25

mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Rustam (2013:147) menjelaskan bahwa risiko likuiditas adalah resiko yang terjadi akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas, dan kondisi keuangan bank.

b. Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan)

Christrisia & Purba (2020:26) mengemukakan bahwa Good Corporate Governance (GCG) adalah suatu proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan akuntabilitas perusahaan dengan tujuan utama mempertinggi nilai saham dalam jangka panjang dengan tetap memerhatikan kepentingan stakeholders lain. Kusumawardani (2014:19) menjelaskan bahwa penilaian faktor GCG merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Prinsip GCG dan fokus penilaian berpedoman pada Bank Indonesia mengenai pelaksanaan GCG pada bank.

Pelaksanaan GCG padaindustri perbankan harus senantiasa berlandaskan pada 5 (lima) prinsip dasar, yaitu transparancy, accountability, responsibility, indepedency, dan fairness. Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Pembiayaan Rakyat. BPR wajib melakukan penilaian sendiri (Self Assessment) atau penerapan tata kelola BPR. Hasil penilaian sendiri (Self Assessment) penerapan tata kelola

(16)

26

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan penerapan tata kelola.

Parameter yang digunakan dalam menilai faktor GCG Bank Perkreditan Rakyat antara lain:

1) Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi

2) Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris 3) Kelengkapan dan pelaksanaan tugas atau fungsi Komite 4) Penanganan benturan kepentingan

5) Penerapan fungsi kepatuhan BPR 6) Penerapan fungsi audit intern 7) Penerapan fungsi audit ekstern 8) Penerapan fungsi manajemen risiko 9) Batas Maksimum Pemberian Kredit 10) Rencana bisnis BPR

11) Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, serta pelaporan internal

Dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pelaksanaan GCG, bank harus melakukan penilaian sendiri (self assessment) secara komprehensif terhadap kecukupan pelaksanaan GCG, ini bertujuan agar bank dapat segera menetapkan rencana tindak yang meliputi tindakan korektif yang diperlukan apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan GCG maka OJK (Otoritas Jasa Keuangan) melakukan pengawasan secara ketat dan transparan untuk menguji bank dalam melaksanakan GCG berjalan dengan baik atau sebaliknya.

(17)

27

Apabila bank sudah melaksanakan GCG dengan baik, maka pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melakukan peringkat (rating) GCG terhadap perbankan agar dapat memperkuat industri perbankan nasional, serta dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perbankan. Kriteria penetapan predikat GCG dikategorikan ke dalam peringkat 1 (sangat baik), peringkat 2 (baik), peringkat 3 (cukup baik), peringkat 4 (kurang baik), dan peringkat 5 (tidak baik).

c. Earnings (Pendapatan)

Penilaian pendapatan (earnings) merupakan salah satu parameter dalam penilaian tingkat kesehatan bank terkait dengan kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan. Kasmir (2010:297) menjelaskan bahwa pendapatan adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Haris (2015:124) mengemukakan penilaian pendapatan merupakan penilaian terhadap kondisi dan kemampuan bank untuk menghasilkan keuntungan dalam rangka mendukung kegiatan operasional dan permodalan

Penilaian faktor pendapatan (earnings) pada penelitian ini menggunakan dua rasio yaitu:

1) ROA (Return on Asset)

Fahmi (2012:98) menjelaskan bahwa ROA digunakan untuk melihat sejauhmana investasi yang telah ditanamkan mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang diharapkan dan investasi tersebut sebenarnya sama dengan aset perusahaan yang ditanamkan atau ditempatkan. Semakin besar ROA suatu bank, maka

(18)

28

semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari penggunaan aset.

2) BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional)

Dendawijaya (2009:120) mengemukakan BOPO digunakan untuk mengukur adanya tingkat efisiensi yang terjadi serta kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasi. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam menjalankan aktivitas usaha utamanya seperti biaya bunga, biaya pemasaran, biaya tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya. Pendapatan operasional merupakan pendapatan utama bank yaitu pendapatan yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan pendapatan operasional lainnya. Semakin rendah BOPO berarti semakin efisien bank tersebut dalam mengendalikan biaya operasionalnya, dengan adanya biaya maka keuntungan yang diperoleh bank akan semakin besar.

d. Capital (Permodalan)

Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 Pasal 7 ayat 2 sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf d meliputi penilaian terhadap tingkat kecukupan permodalan dan pengelolaan permodalan. Kasmir (2012:198) mengemukakan bahwa CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko.

Permodalan merupakan penilaian terhadap kecukupan modal yang dimiliki oleh bank. Aspek yang dinilai adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), tujuan dari kecukupan modal minimum adalah untuk

(19)

29

mengantisipasi potensi kerugian yang timbul dari Asset Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) yang telah memperhitungkan beberapa risiko serta untuk mengatasi kerugian dari risiko lain yang belum diperhitungkan sepenuhnya yang berpotensi terjadi di masa mendatang. Kriteria penetapan predikat rasio permodalan dikategorikan ke dalam peringkat 1 (sangat sehat), peringkat 2 (sehat), peringkat 3 (cukup sehat), peringkat 4 (kurang sehat), dan peringkat 5 (tidak sehat).

C. Kerangka Pikir

Penilaian kesehatan bank merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur kemampuan bank dalam mengelola dana dengan baik dan mengoperasikan berdasarkan prinsip kehati-hatian sehingga menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mempertahankan kelangsungan usahanya, serta memelihara likuiditasnya sehingga dapat memenuhi kewajibannya. Kesehatan suatu bank perlu diketahui karena untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat diperlukan bank yang sehat.

Penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan Peraturan Bank Indonesia tentang penilaian kesehatan bank yang telah ditentukan dalam Surat Edaran Nomor 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 menyatakan bahwa penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan dengan menganalisis rasio keuangan bank melalui data keuangan bank yang tersaji di dalam laporan keuangan bank dengan metode RGEC yang terdiri dari: Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, dan Capital.

(20)

30

Faktor risk profile akan diukur menggunakan rasio NPL dan LDR, faktor earning akan diukur menggunakan rasio ROA dan BOPO, dan faktor capital akan diukur menggunakan rasio CAR, masing-masing faktor akan dinilai melalui laporan keuangan. Sedangkan faktor GCG akan diukur menggunakan kriteria self assessment melalui laporan GCG PT Bank Perkreditan Rakyat Pulau Laut Utara.

Perhitungan dari masing-masing indikator penilaian tingkat kesehatan bank akan memberikan hasil yang kemudian ditentukan dengan peringkat komposit untuk menentukan bank dalam kategori sangat sehat/sehat/cukup sehat/kurang sehat/tidak sehat. Berikut ini adalah skema kerangka berfikir yang digambarkan dalam paradigma penelitian berikut.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian

Analisis Data Keuangan

Tingkat Kesehatan Bank:

Sangat Sehat/Sehat/Cukup Sehat/Kurang Sehat/Tidak Sehat Analisis Tingkat Kesehatan Keuangan Bank

PT BPR Pulau Laut Utara

Laporan Keuangan Metode RGEC Capital NPL net LDR Risk Profile GCG Self Assessment

Bank ROA BOPO

Earnings

Figur

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian

Gambar 2.1

Skema Kerangka Pikir Penelitian p.20

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :