• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBER DAYA IKAN PELAGIS KECIL DAN DINAMIKA PERIKANAN PUKAT CINCIN DI LAUT JAWA DAN SEKITARNYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SUMBER DAYA IKAN PELAGIS KECIL DAN DINAMIKA PERIKANAN PUKAT CINCIN DI LAUT JAWA DAN SEKITARNYA"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

SUMBER DAYA IKAN PELAGIS KECIL

DAN DINAMIKA PERIKANAN PUKAT CINCIN

DI LAUT JAWA DAN SEKITARNYA

104°E 106°E 108°E 110°E 112°E 114°E 116°E 118°E 120°E 8°S

6°S 4°S 2°S 0°S

SUHERMAN BANON ATMAJA

PUSAT RISET PERIKANAN TANGKAP

BADAN RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN

ISBN:

Hak cipta dilindungi undang-undang Hak cipta pada penulis

(2)

SAMBUTAN

Pengembangan usaha perikanan pukat cincin di Laut Jawa sangat menarik perhatian karena membawa peningkatan produksi yang sangat nyata dan masalah penting yang menyertai. Sejak pasca pelarangan pukat harimau tahun 1980, perikanan pukat cincin telah berkembang menjadi perikanan semi industri. Perkembangan yang sangat luar biasa, meliputi peningkatan kapasitas penangkapan, perubahan taktik penangkapan dan modernisasi teknologi peralatan bantu penangkapan, serta ekspansi daerah penangkapan.

Tantangan untuk memelihara sumber daya ikan yang sehat menjadi isu yang cukup kompleks dalam pembangunan perikanan. Kendatipun sumber daya ikan dikategorikan sumber daya yang dapat pulih, bukan berarti tidak terbatas. Apabila kapasitas penangkapan tidak sebanding dengan potensi perikanan yang tersedia, maka yang akan terjadi penyusutan sumber daya ikan dan degradasi lingkungan. Isu-isu yang berkaitan dengan kapasitas penangkapan menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya ikan yang berkeberlajutan.

Salah satu tujuan pengkajian stok ikan adalah bagaimana otoritas perikanan dapat menentukan dan mempertimbangkan pengelolaan perikanan (fisheries management) berdasarkan pada masukan informasi biologi, ekonomi, dan lingkungan. Kisaran strategi pengelolaan yang dapat diterima dan dipertimbangkan oleh berbagai pihak (pengguna). Sejauh mana reaksi nelayan dapat diperhitungkan dan diramalkan untuk tercapai tujuan pengelolaan perikanan, serta memperhitungan tekanan pihak luar yang akan mempengaruhi pengelolaan perikanan di masa mendatang.

Buku yang disusun oleh Suherman Banon Atmaja menyajikan sumber daya ikan pelagis kecil dan dinamika perikanan pukat cincin secara utuh dan menyeluruh. Dalam paparan buku tersebut membahas perkembangan perikanan pukat cincin, informasi biologi, besaran stok ikan bersifat dinamis dan ketidakstabilan tingkat (maximum sustainable

(3)

menggambarkan situasi perikanan pukat cincin di bawah rejim open

access dan sinyal penyusutan kelimpahan stok ikan pelagis kecil

didukung oleh indikator trend keadaan stok ikan dan lain-lain (penangkapan, ekologi, dan sosio ekonomi).

Kehadiran buku secara menyeluruh mengupas mengenai sumber daya ikan pelagis kecil dan dinamika perikanan pukat cincin merupakan pengisi kekosongan informasi mengenai perikanan pelagis kecil setelah lebih 3 dekade alat tangkap pukat cincin diperkenalkan di Laut Jawa. Penerbitan buku ini diharapkan dapat memotivasi peneliti lain untuk mengisi kekosongan yang ada dalam perikanan di perairan tropis.

Akhir kata diucapkan selamat diterbitkan buku yang sangat bermanfaat bagi pemerhati dan praktisi perikanan tangkap Indonesia.

Jakarta, .Januari 2006

Kepala Pusat Riset Perikanan Tangkap

(4)

KATA PENGANTAR

Iqro (Al-Alaq ayat:1-8) dan kemerdekaan menghantar menuju ke gerbang kesejahteraan umum dan mencedaskan kehidupan bangsa (Pembukaan UUD 1945).

Buku ini disusun terdorong untuk menyampaikan pengalaman selama melakukan kegiatan penelitian kajian stok ikan pelagis di Laut Jawa. Buku ini mendeskripsikan perkembangan eksploitasi perikanan pukat cincin semi industri, informasi biologi, usaha perikanan yang dinamis dan aktivitas penangkapan sebagai kegiatan ekonomi, bagaimana hasil tangkapan mempengaruhi stok ikan, bagaimana respon nelayan pada perikanan akses terbuka, perubahan komposisi spesies, dan dibahas juga interaksi antara biomassa dengan upaya penangkapan dalam konteks nelayan sebagai pemangsa yang memasuki keseimbangan ekologis dari komunitas ikan. Secara sepintas, membahas kapasitas dan situasi perikanan pukat cincin saat ini.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih atas bantuan sehingga buku ini dapat terwujud, terutama kepada Ayodya M.Sc. (Alm.) yang selalu mendorong dan mengingatkan untuk membuat buku dari hasil penelitian. Dr. Ir. Subhat Nurhakim M.S.; Prof. Dr. Ir. John Haluan M.Sc., dan Dr. Ir. Akhmad Fauzi M.Sc. atas kritik dan saran, Ir. Duto Nugroho M.Si. sumbangan pemikiran dan informasi akustik, Dr. Michel Potier untuk koleksi data pukat cincin dan desertasi. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Turhadi S.H., Sukardi, Trimanto, Simuh, Minggu S., dan Purwadi yang telah membantu pengumpulan data.

Jakarta, 1 Januari 2006

(5)

DAFTAR ISI

Halaman Sambutan Kepala Pusat Riset Perikanan Tangkap ii

Kata Pengantar iv

Ringkasan vii

Daftar Tabel xii

Daftar Gambar xiii

Daftar Lampiran xvi

1 Pendahuluan 1

2 Sumber daya Ikan Pelagis Kecil 6

2.1 Pengelompokan Daerah Penangkapan 6

2.2 Penyebaran Temporal dan Spasial 8

3 Biologi 14

3.1 Aspeks Reproduksi 14

3.1.1 Indeks Kematangan Gonad 14

3.1.2 Fekunditas 20

3.2 Pertumbuhan 21

3.3 Ukuran Ikan 23

3.3.1 Rata-rata Ukuran Ikan 23

3.3.2 Keberadaan Ikan Muda (Fingerlings) 27

4 Dinamika Perikanan Pukat Cincin 29

4.1 Kapal dan Jaring pukat cincin 29

4.1.1 Kapal Pukat Cincin 29

4.1.2 Jaring Pukat Cincin 31

4.2 Perkembangan Taktik dan Strategi Perikanan Pukat Cincin 33

4.2.1 Peluasan Daerah Penangkapan 34

4.2.2 Perubahan Taktik Penangkapan 37

5 Produksi Surphus 41

5.1 Pertumbuhan Bersih Stok Ikan Pelagis 44

5.2 Laju Pertumbuhan Fungsi Logistik vs Gompertz 46

5.3 Hasil Tangkapan Lestari 48

6 Dampak Eksploitasi terhadap Biomassa 51

6.1 Dinamika Biomassa 52

(6)

7 Situasi Usaha Perikanan Pukat Cincin 61

7.1 Kapasitas dan Produksi 61

7.2 Pendapatan ABK Kapal Pukat Cincin 63

9 Implikasi Pengelolaan 65

(7)

RINGKASAN

Selama ini, kerangka pengelolaan sumber daya ikan berdasarkan pada titik acuan nilai angka potensi dan kriteria maksimum (maximum

sustainable yield), mengabaikan laju pertumbuhan stok ikan dan tanpa

memperhatikan dinamika perikanan yang terjadi. Dugaan nilai potensi ikan pelagis kecil adalah bersifat konstan 340.000 ton per tahun, angka potensi tersebut diperoleh dari kajian sebelum pelarangan alat tangkap

trawl (runtun waktu tahun 1975 sampai dengan 1979) (Bailey et al.,

1987) dan hasil perhitungan dari sumber data runtun waktu tahun 1975 sampai dengan 1981, dan produksi tertinggi (227.700 ton) (Dwipongggo, 1983). Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2004) mengatakan laju eksploitasi ikan pelagis kecil sekitar 1,5 (potensi=340.000 ton dan produksi=507.530 ton. Dari kajian tersebut tidak terlihat nyata kenaikan produksi lebih dari 2 kali lipat dan perubahan yang terjadi pada perikanan pukat cincin baik kapasitas penangkapan (ukuran kapal dan termasuk kekuatan mesin), maupun ekspansi daerah penangkapan dan peningkatan efisiensi penangkapan melalui penggunaan cahaya (lampu sorot) sebagai alat bantu pengumpul ikan menggantikan peranan rumpon. Walaupun pada kajian sebelum telah diperoleh kenaikan tingkat maximum

sustainable yield ikan pelagis berkisar 2,3 sampai dengan 2,8 kali lipat

(Nurhakim et al., 1995). Berdasarkan pada data perikanan pukat cincin semi industri dari Pekalongan menunjukkan bahwa tingkat maximum

sustainable yield periode tahun 1991 sampai dengan 2001 meningkat

hampir 2 kali lipat dibandingkan pada periode tahun 1985 sampai dengan 1990 (Atmaja, 2002).

Pengembangan usaha perikanan pukat cincin di Laut Jawa sangat menarik perhatian karena membawa peningkatan produksi yang sangat nyata dan masalah penting yang menyertai. Sejak pasca pelarangan pukat harimau tahun 1980, perkembangan perikanan pukat cincin sangat luar biasa, yang meliputi kapasitas penangkapan (ukuran kapal dan termasuk kekuatan propulsi mesin), perubahan taktik penangkapan (penggunaan lampu sorot (merkuri dan halogen) sebagai alat bantu pengumpul ikan menggantikan peranan rumpon) dan peningkatan kemampuan daya

(8)

seperti radio komunikasi, penentu posisi (GPS) dan fish finder (echosounder). Ekspansi daerah penangkapan, penangkapan ikan pelagis dilakukan di Laut Jawa dimulai pertengahan tahun 1970 sampai dengan 1983, selanjutnya armada perikanan pukat cincin memperluas daerah penangkapan ke bagian barat sampai dengan Laut Natuna dan ke bagian timur Laut Jawa sampai dengan Selat Makassar.

Sumber daya ikan pelagis di Laut Jawa dan sekitar terdiri atas komunitas ikan pelagis pantai yaitu tanjan (Sardinella spp.), kembung (Rastrelliger brachysoma), japuh (Dusumieria acuta), selar (Selar spp.); ikan pelagis neritik dan oseanik layang (Decapterus russelli dan D.

macrosoma), bentong (Selar crumenophthalmus), banyar (Rastrelliger kanagurta), siro atau lemuru (Amblygaster sirm), tetengkek (Megalaspis cordyla), tenggiri (Scombermorus spp.),dan tongkol (Auxis thazard). Lima

spesies utama pelagis kecil (D. russelli, S. crumenophthalmus, R.

kanagurta, D. macrosoma, dan A. sirm) mencapai 90% dari hasil

tangkapan pukat cincin semi industri dan ikan layang merupakan komponen utama.

Pada umumnya, hasil tangkapan pukat cincin didominasi oleh ikan muda (berumur < 1 tahun) dan reproduksi tidak aktif (80 sampai dengan 90%). Ikan dalam kondisi matang gonad, ovarium telah mengandung telur jernih (translucent) sangat jarang ditemukan dari hasil tangkapan pukat cincin atau kemunculan secara kebetulan (tidak tertangkap dalam bentuk gerombolan). Ikan yang telah memijah kembali ke daerah penangkapan, diduga bentuk ovarium akan kembali ke tingkat kematangan I, yaitu D.

russelli, S. crumenophthalmus, Selar leptolepis, dan R. kanagurta.

Komunitas ikan mendiami suatu karakteristik ekosistem yang dikontrol oleh kaidah bio fisik, di sana hidup berdampingan pemangsa alami (predator) dengan mangsa (prey). Saling ketergantungan antara mangsa dan pemangsa merupakan suatu ekosistem yang cukup kompleks. Dengan pandangan sederhana bahwa nelayan sebagai pemangsa baru yang memasuki sistem tersebut. Dalam konteks perikanan multi species, nelayan adalah pemangsa jenis lain yang memasuki keseimbangan ekologis dari komunitas ikan. Kegiatan penangkapan akan menyebabkan

(9)

populasi ikan mencapai keseimbangan baru pada tingkat kepadatan yang lebih rendah. Perbedaan keseimbangan baru dengan yang lama tergantung intensitas penangkapan.

Skema Dinamika Stok Ikan dan Perikanan

Penurunan spesies tertentu akan menyebabkan kekosongan

niche ekologi yang kerapkali digantikan sementara oleh spesies lain

(Laevastu & Favorite, 1988). Alterasi spesies dan kompetisi spesies ikan pelagis (interspesific competition) ditunjukkan oleh perubahan komposisi hasil tangkapan, di daerah penangkapan bagian timur Laut Jawa sejak tahun 2002, yaitu kejadian melimpah hasil tangkapan ikan ayam-ayaman (leather jacket, Aluterus monoceros) ketika puncak musim ikan layang (Atmaja et al., 2003). Dengan demikian, penurunan hasil tangkapan yang diikuti dengan kenaikan biomassa (pulih stok) adalah bersifat semu (quasi recovery). Secara teoritis,

Bio-fisik

Sumber daya ikan bergerak dinamis, tingkat eksploitasi sekarang mempengaruhi sumber daya ikan akan datang.

Bt+1=Bt+rBt (1–Bt/K)–Ct

Sumber daya ikan

Ct=Et*Bt*q

Input Output

(10)

peningkatan biomassa kapal memasuki perikanan juga meningkat, dirangsang dengan kenaikan hasil tangkapan per satuan upaya. Sebaliknya, rata-rata hari beroperasi cenderung terus meningkat dan nelayan merasakan semakin sulit menemukan gerombolan ikan. Selain itu, alterasi spesies dan kompetisi spesies merupakan sinyal yang nyata ada penurunan biomassa ikan tertentu dan kenaikan kelimpahan ikan lain.

Berdasarkan pada analisis produksi surplus menunjukkan peningkatan fishing capacity dan modernisasi teknologi peralatan bantu penangkapan telah menyebabkan perikanan pelagis dalam kondisi lebih tangkap yang cukup serius. Penangkapan yang sangat tidak seimbang dari beberapa stok ikan di dalam populasi keseluruhan, komunitas ikan pelagis mencapai keseimbangan pada tingkat kepadatan yang lebih rendah (turun 29%). Kondisi trend biomassa ikan pelagis telah menurun sampai dengan 66% dari biomassa awal, sedangkan biomassa ikan layang (D. russelli dan D. macrosoma) menurun sampai dengan 75% dari biomassa awal. Estimasi aktivitas penangkapan setelah kebijakan pengurangan subsidi bahan baker minyak diperkirakan hanya 25% kapal yang aktif.

Suatu kenyataan yang dihadapi bahwa perairan Laut Jawa sudah menderita kelebihan fishing capacity dan kejenuhan bagi usaha perikanan, serta fenomena klasik tentang lebih tangkap, penggunaan tenaga kerja dan modal secara berlebihan. Penurunan aktivitas perikanan pukat cincin tidak hanya diakibatkan oleh kenaikan biaya operasional, tetapi juga oleh kondisi stok ikan pelagis kecil turun drastis. Dari sudut pandang pengelolaan perikanan, banyak kapal pukat cincin yang menganggur berarti berkurang tekanan penangkapan yang akan memberi peluang sumber daya ikan pulih kembali. Tujuan efisiensi ekonomi tercapai, di mana terjadi pengurangan keikutsertaan dari usaha perikanan yang berlebihan, sehingga kapal yang masih aktif dapat memperoleh penerimaan ekonomis maksimum. Akan tetapi, situasi akhir-akhir ini, banyak kapal yang menganggur, memunculkan masalah yakni banyak para

(11)

nelayan anak buah kapal telah kehilangan lapangan kerja dan kehilangan pendapatan bagi pemilik kapal.

(12)

DAFTAR TABEL No.

Tabel Judul Tabel Halaman

1 Rata-rata nilai GSI (%) dan simpangan baku dari 5 spesies ikan pelagis kecil menurut wilayah penangkapan

16

2 Fekunditas D. macrosoma dan A. sirm 21

3 Parameter populasi dari 5 spesies ikan pelagis kecil

22 4 Rata ukuran ikan dari 5 spesies ikan pelagis kecil

menurut wilayah penangkapan

24 5 Muncul ikan muda (fingerlings) dari beberapa

daerah penangkapan

28 6 Catatan nelayan daerah penangkapan berdasarkan

pada musim

36 7 Persentase jenis ikan yang tertangkap oleh jaring

klitik yang dioperasikan di dekat dasar dan 15 m dari atas dasar perairan

41

8a Parameter fungsi produksi surplus model logistik 45 8b Parameter fungsi produksi surplus ikan layang

(Decapterus spp.) dari model logistik dan gompertz

48

9 Perhitungan U* (CPUE) ketika keuntungan (π=0) pada perikanan pukat cincin

55 10 Aktivitas kapal Margo, rata-rata hasil tangkapan

per trip dan nilai produksi selama tahun 2002 sampai dengan 2004

63

11 Rata hasil tangkapan, nilai produksi dan biaya eksploitasi tahun 2004 dari 88 kapal pukat cincin

(13)

DAFTAR GAMBAR No.

Gambar Judul Gambar Halaman

1 Perluasan daerah penangkapan pukat cincin yang berbasis di Pekalongan

7 2 Dendogram klasifikasi hierarki wilayah

penangkapan berdasarkan pada variasi komposisi hasil tangkapan pukat cincin besar

7

3a Spesies utama hasil tangkapan pukat cincin 9 3b Lokalisasi geografis dan preferensi ikan

pelagis kecil

10 3c Penyebaran ikan pelagis ikan pelagis

berdasarkan pada hasil tangkapan pukat cincin

11

3d Hubungan hasil tangkapan dengan salinitas permukaan

12 3e Hubungan hasil tangkapan dengan curah

hujan

13 3f Komposisi hasil tangkapan pukat cincin 13

3g Ikan ayam-ayaman (A. monoceros) 14

4 Ikan bunting 17

5 Plot rata-rata diameter telor dengan nilai GSI (%)

17 6 Life history triangle untuk spesies laut, tidak

semua spesies secara geografik terpisah antara spawning dan nursery area

19

7 Perbandingan nilai parameter pertumbuhan von Bertallanffy dan Mortalitas alami

23 8 Rata-rata ukuran ikan dari 5 spesies (D.

russelli, D. macrosoma, R. kanagurta, A. sirm dan S. crumenophthalmus) yang

tertangkap oleh pukat cincin

26

(14)

10a Jaring pukat cincin 32

10b Dimensi ukuran jaring pukat cincin 32

11 Perkembangan taktik dan strategi armada kapal pukat cincin di Laut Jawa

34 12 Pergeseran daerah penangkapan ikan pelagis

kecil oleh pukat cincin sepanjang tahun di Laut Jawa dan sekitar

35

13 Ruaya tegak R. kanagurta 38

14 Kebiasaan makan dan makanan spesies ikan yang tertangkap oleh pukat cincin

39 15 Plot tumpang tindih, kurva pertumbuhan

bersih stok ikan pelagis dari data periode tahun 1976 sampai dengan 1981 (A), tahun 1985 sampai dengan 1990 (B), tahun 1991 sampai dengan 2001 (C), serta perkembangan produksi pukat cincin periode tahun 1976 sampai dengan 2001

46

16a Hubungan laju pertumbuhan intrinsik (r) dengan kelimpahan stok ikan (K)

47 16b Kurva pertumbuhan bersih stok ikan layang

(Decapterus spp.)

48 17a Kurva hasil tangkapan lestari, perkembangan

upaya penangkapan dan hasil tangkapan pukat cincin pada periode tahun 1976 sampai dengan 2004, serta lintasan dinamik

49

17b Perbandingan hasil tangkapan aktual dengan hasil tangkapan lestari ikan layang

50

18a Perubahan biomassa 53

18b Dinamika biomassa ikan layang (Decapterus spp.) setelah FMSY diboboti dengan F=q*E (D. macrosoma dan D. russelli) dan perkembangan produksi

53

19 Kurva sustainable revenue dan biaya total operasional pukat cincin (Keterangan: a. U*=0,6 ton, b. U*=0,7 ton (sudut 45°), dan c. U*=1 ton)

(15)

20 Plot tumpang tindih kurva pertumbuhan bersih stok (a), hubungan antara dinamik hasil tangkapan dengan biomassa, nilai U*=1 (b), U*=0,6 (c), dan hubungan antara biomassa dengan hasil tangkapan aktual (d)

57

21 Trajektori dinamis antara upaya penangkapan dan biomasa

58

22 Isocline biomassa dan upaya penangkapan

dalam kondisi keseimbangan

60 23 Hubungan GT dengan NT kapal pukat cincin

(a) dan hasil tangkapan tertinggi dengan rata-rata GT dan NT (b) lintasan dinamika hasil tangkapan dan upaya penangkapan

61

24 Hubungan hasil tangkapan dengan nilai produksi per trip pada tahun 2004

64 25 Hubungan antara pendugaan stok ikan,

tujuan pengelolaan, strategi, dan regulasi

67 26 Empat bagian isu berbeda bagi pengelolaan

dan pendugaan stok ikan menurut Hilborn & Waters (1992)

(16)

DAFTAR LAMPIRAN No.

Lampiran Judul lampiran

Halaman

1 Salinitas permukaan Laut Jawa 83

2 Suhu permukaan Laut Jawa 84

3 Rumpon 85

4 Pengoperasian jaring pukat cincin 85

5 Sebaran nilai GSI menurut ukuran ikan (FL)

(17)

1. PENDAHULUAN

Perairan pesisir utara Pulau Jawa adalah salah satu daerah padat nelayan di Indonesia, di sana telah beroperasi berbagai alat tangkap dengan jumlah nelayan mencapai lebih dari 500.000 orang, baik sebagai sumber lapangan tenaga kerja dan pendapatan nelayan maupun yang terlibat dalam kegiatan usaha perikanan tangkap. Usaha perikanan pukat cincin di Laut Jawa termasuk padat modal dan padat karya, memperkerjakan 35 sampai dengan 45 orang setiap trip. Demikian pula, kegiatan pasca panen dari hasil tangkapan pukat cincin menyerap banyak tenaga kerja, dikarenakan sifat ikan pelagis kecil yang melimpah (bulky) dan terdiri atas banyak spesies yang harus dipisahkan menurut kategori jenis komersial dan ukuran ikan. Hal ini, menunjukkan penting Laut Jawa sebagai tumpuan mata pencaharian banyak orang. Sebagian besar jenis ikan pelagis kecil merupakan salah satu sumber protein ikan yang dikomsumsi oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Sumber daya ikan pelagis telah lama dieksploitasi oleh berbagai alat tangkap, salah satu adalah payang. Payang (danish seine) telah beroperasi di dekat pantai utara Laut Jawa dari Kepulauan Seribu (Jakarta) sampai dengan Kepulauan Kangean di bagian timur Laut

(18)

sekitar 28.000 ton. Pada 1909, alat ini menghasilkan sekitar 9.000 ton di sekitar Kepulauan Kangean yang didominasi oleh jenis ikan layang (Decapterus spp.) (Kampen, 1922).

Alat tangkap pukat cincin sebagai alat utama pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970, perairan pantai utara Jawa merupakan wilayah awal introduksi teknologi tersebut. Perkembangan historis memperlihatkan bahwa eksploitasi terhadap populasi ikan pelagis kecil berkembang ke lepas pantai Laut Jawa sampai dengan Selat Makassar sejalan dengan dinamika perikanan yang dicirikan oleh peningkatan kapasitas dan kemampuan mesin kapal, serta perubahan taktik penangkapan dari rumpon ke lampu sorot sebagai alat bantu utama penangkapan.

Konsekuensi peningkatan kapasitas kapal dan perluasan daerah penangkapan telah meningkatkan biaya operasional dan lama operasi penangkapan lebih dari 20 hari. Oleh karena itu, penanganan hasil tangkapan pada minggu awal menggunakan garam sebagai pengawet, sedangkan es digunakan untuk hasil tangkapan setelah separuh trip. Penggunaan garam per trip meningkat dari 0,4 ton pada tahun 1985 menjadi 5,6 ton pada tahun 1988 dan rata-rata pendapatan nelayan cenderung menurun (McElroy, 1991). Ikan segar disimpan menggunakan es hanya bertahan 9 sampai dengan 13 hari, itu sebagai bahan untuk pindang, sedangkan kualitas ikan segar yang baik disimpan dengan es kurang dari 7 hari. Perbandingan antara ikan segar dan asin yang didaratkan di Juwana 60:40%, sedangkan di Pekalongan berkisar 70:30%, dan sekitar 30 sampai dengan 50% dari ikan segar diolah menjadi pindang (Clucas & Reilly, 1992; Clucas & Basmal, 1998). Penggaraman ikan di atas kapal menggunakan metode penggaraman kering dengan perbandingan garam terhadap ikan 10 sampai dengan 15% selama 3 minggu akan kehilangan bobot sekitar 25 sampai dengan 37% (Wikanta & Basmal, 1998). Di Pekalongan, harga jual ikan asin 34% lebih rendah dari harga jual ikan segar, sedangkan di Juwana sekitar 14% lebih rendah dari harga jual ikan segar (Potier, 1998). Pada tahun 1988 sampai dengan 1994 memperlihatkan

(19)

fenomena berlawanan antara rata-rata harga ikan per kg dengan kenaikan produksi, di mana harga ikan cenderung menurun dengan kenaikan produksi ikan (Roch et al., 1995).

Berdasarkan pada kajian stok ikan di perairan yang dieksploitasi oleh perikanan pukat cincin. Potensi sumber daya ikan pelagis kecil di 3 wilayah pengelolaan perikanan, yaitu Laut Cina Selatan (luas sebaran 550.000 km2) 506.000 ton tahun-1 dan tingkat pemanfaatan 38%, Laut Jawa (luas sebaran 400.000 km2) 340.000 ton tahun-1, dan tingkat pemanfaatan telah mencapai maksimum 130%, Selat Makassar dan Laut Flores (luas sebaran 473.000 km2) 468.000 ton tahun-1 dan tingkat pemanfaatan 54% (Sumadiharga, 2000). Angka potensi di Laut Jawa tidak jauh berbeda dari hasil dugaan (Bailey, et al., 1987), yaitu 290.000 sampai dengan 391.000 ton per tahun, angka potensi tersebut adalah kisaran nilai maximum sustainable yield yang dihitung dengan model Schaefer dan Gulland–Fox. Hasil perhitungan dengan model yang sama (dari sumber data runtun waktu tahun 1975 sampai dengan 1981 dan produksi tertinggi (227.700 ton) terjadi pada tahun 1981) diperoleh kisaran nilai (maximum sustainable yield) 261.000 sampai dengan 312.000 ton (Dwipongggo, 1983). Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2004) mengatakan laju eksploitasi ikan pelagis kecil sekitar 1,5 (potensi=340.000 ton dan produksi=507.530 ton. Dari kajian tersebut tercermin bahwa stok ikan bersifat konstan dan tidak terlihat nyata kenaikan produksi lebih dari 2 kali lipat dan dampak dinamika perikanan, yaitu perubahan yang terjadi pada perikanan pukat cincin baik kapasitas penangkapan (ukuran kapal dan termasuk kekuatan mesin), maupun ekspansi daerah penangkapan dan peningkatan efisiensi penangkapan melalui penggunaan cahaya (lampu sorot) sebagai alat bantu pengumpul ikan menggantikan peranan rumpon.

Berdasarkan pada statistik data tahun 1969 sampai dengan 1976, hasil tangkapan lestari (maximum sustainable yield) 76.000 ton (Sudjastani, 1978). Perhitungan melalui model komposit pada daerah

(20)

optimum 79.000 sampai dengan 81.000 ton tahun-1 dengan upaya hari laut pada nilai 62.000 sampai dengan 84.000 tahun-1, pada tahun 1983 sampai dengan 1984 (luas lahan 179.000 km2) nilai hasil tangkapan optimum 155.000 sampai dengan 159.000 ton tahun-1 dengan upaya hari laut pada nilai 123.000 sampai dengan 165.000 tahun-1, dan pada tahun 1985 sampai dengan 1986 (luas lahan 202.000 km2) nilai hasil tangkapan optimum 175.000 sampai dengan 180.000 ton tahun-1 dengan upaya hari laut pada nilai 138.000 sampai dengan 187.000 tahun-1 (Nurhakim et al., 1995). Tingkat maximum sustainable yield menggunakan metode CLIMPROD diperoleh kisaran 108.000 sampai dengan 200.000 ton dengan tingkat upaya penangkapan berkisar antara 95.000 sampai dengan 120.000 hari (Potier, 1998). Dari kajian stok ikan di atas terlihat besaran stok ikan bersifat dinamis yang ditunjukkan oleh tingkat maximum sustainable yield yang meningkat berkisar 2,3 sampai dengan 2,8 kali lipat.

Indikasi lebih tangkap telah banyak dikatakan oleh peneliti terdahulu. Kenaikan aktivitas penangkapan setelah motorisasi payang pada tahun 1955 telah menurunkan hasil tangkapan dari 4 ton per perahu per tahun pada tahun 1940 menjadi 2,6 ton per perahu per tahun pada tahun 1967. Penurunan ini disebabkan oleh eksploitasi berlebihan dan salah mengelola atas daerah penangkapan ikan sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Pendistribusian upaya penangkapan yang tidak merata, di mana penggunaan teknologi penangkapan yang modern (perahu motor bertambah) dan sebaliknya perahu layar tradisional mengalami penurunan (Collier, 1981). Sujastani (1978); Nurhakim et al. (1995) mengatakan bahwa perikanan pelagis di daerah penangkapan tradisional telah mencapai tingkat eksploitasi yang mengarah lebih tangkap. McElroy (1991) menyimpulkan bahwa spesies ikan pelagis kecil yang merupakan hasil tangkapan pukat cincin telah lebih tangkap hampir di seluruh Laut Jawa.

Tingkat eksploitasi perikanan pukat cincin telah mencapai ambang krisis, yang lebih bersifat sosial ekonomi dari pada bersifat biofisik akibat eksploitasi, yaitu perluasan daerah penangkapan telah mencapai hampir seluruh daerah penangkapan di Laut Jawa dan Laut

(21)

Cina Selatan, pendapatan per kapal menurun (tidak seimbang kenaikan biaya pembekalan dengan nilai jual ikan yang tidak berubah banyak), kesulitan peremajaan nelayan handal (Durand & Widodo, 1997). Mereka mengatakan bahwa stagnasi hasil tangkapan pada periode tahun 1992 sampai dengan 1995 mempunyai 2 arti, yaitu 1) menegaskan bahwa seluruh daerah penangkapan telah dieksploitasi dan hasil tangkapan telah mencapai keseimbangan (maximum

sus-tainable yield), dan 2) usaha perlindungan, untuk kejenuhan

eksploitasi tidak dapat menangkap pada semua spesies. Lebih lanjut mengusulkan tingkat pengelolaan hasil tangkapan melalui pada ukuran maksimum kapal (ukuran jaring dan unit upaya penangkapan dan jumlah kapal) yang efisien. Hal ini, dapat dikombinasikan dengan keluaran pengelolaan melalui kuota individu.

Kajian perubahan populasi menggunakan model dynamic pool dan Jone’s length cohort analysis telah dibahas oleh beberapa peneliti terdahulu (Widodo, 1988; Nurhakim, 1995; Potier, 1998; Sadhotomo, 1998). Dari hasil penelitian tersebut mengatakan bahwa nilai indeks laju eksploitasi (E)<0,5; sedangkan nilai indeks eksploitasi (E0,1=tingkat laju kematian penangkapan pada kenaikan laju eksploitasi 10% dari awal usaha penangkapan terhadap suatu stok ikan) berkisar antara 0,32 sampai dengan 0,47. Kecuali Widodo (1991a; 1991b) mengatakan bahwa status eksploitasi untuk D.

macrosoma telah melebihi tingkat E0,1 dan panjang ikan pertama kali tertangkap (Lc=16,25 cm) lebih besar dari panjang ikan pertama kali matang gonad (Lm=15,5 cm). Pada model analitik, pada umumnya peremajaan tidak diketahui, dinyatakan dalam (yield per recruitment) dan Fmax (indeks kematian penangkapan pada tingkat maksimum) diperoleh dari yield per recruitment sering membingungkan dengan tingkat Fmsy karena kurva yield per recruitment pada berapa spesies ikan pelagis kecil cenderung berbentuk asimptotik atau Fmsy tidak dapat ditentukan, serta kelemahan utama tidak dapat menggambarkan penurunan peremajaan sehubungan dengan penurunan besaran stok dan juga tidak menditeksi secara kuat pengaruh dinamika perikanan,

(22)

Buku ini disusun dari rangkuman hasil penelitian dan tesis penulis, sebagai upaya mengungkapkan realitis usaha perikanan pukat cincin dan evaluasi stok ikan pelagis di Laut Jawa dan sekitar. Tingkah laku pengusaha atau nelayan dapat dipakai sebagai dasar untuk merumuskan suatu hipotesis tentang reaksi nelayan terhadap bentuk peraturan yang akan diberlakukan.

2. SUMBER DAYA IKAN PELAGIS KECIL

Sejak pasca pelarangan alat tangkap trawl, perikanan pukat cincin berkembang sangat dinamis. Sekarang, populasi ikan pelagis telah dieksploitasi di hampir seluruh bagian selatan perairan paparan Sunda, dari sekitar perairan Pulau Pejantan dan Kepulauan Natuna (bagian selatan Laut Cina Selatan) sampai dengan ke sekitar perairan Balikpapan (bagian barat Selat Makassar) atau 3 bagian wilayah pengelolaan perikanan, yaitu Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan Selat Makassar dan Laut Flores.

2.1. Pengelompokkan Daerah Penangkapan

Perluasan daerah penangkapan ke bagian timur Laut Jawa (Pulau Masalembo dan Pulau Matasiri) dan bagian selatan Laut Natuna (sekitar Pulau Pejantan dan Kepulauan Natuna) sejalan dengan investasi kapal baru yang lebih besar (>80 GT) pada tahun 1982 atau 1983. Sekarang, perikanan pukat cincin telah mengeksploitasi sumber daya ikan pelagis di 9 daerah penangkapan dari sekitar perairan Pulau Pejantan dan Kepulauan Natuna (bagian Laut Natuna) sampai dengan ke sekitar perairan Balikpapan (bagian barat Selat Makassar).

Berdasarkan pada hasil analisis hierarki terhadap variasi komposisi hasil tangkapan pukat cincin besar, daerah penangkapan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 wilayah penangkapan

(23)

(Potier, 1998), yaitu I. pantai utara Jawa Tengah (utara Tegal sampai dengan Kepulauan Karimunjawa), II. bagian timur Laut Jawa (Pulau Bawean, Kepulauan Masalembo, Pulau Kangean, dan Pulau Matasiri), III. bagian barat Selat Makassar (Pulau Samber gelap, Pulau Lumu-lumu, dan Pulau Lari-Larian), dan IV. Laut Natuna (Gambar 1 dan 2). Definisi Laut Jawa dan sekitar dalam buku ini adalah perairan yang meliputi Laut Jawa sampai dengan bagian barat Selat Makassar.

Gambar 1. Perluasan daerah penangkapan pukat cincin semi industri.

(24)

Ward's Method Euclidean distances Linkage Distance

Fishin

g Zone

Mks Mts Msl Bwn Kng Pjt Ntn Krj Tgl 0 10 20 30 40 50

Gambar 2. Dendogram klasifikasi hierarki wilayah penangkapan berdasarkan pada variasi komposisi hasil tangkapan pukat cincin besar (Potier, 1998).

Keterangan: Tgl = utara Tegal, Krj = Kepulauan Karimunjawa, Bwn = Pulau Bawean, Msl = Pulau Masalembo, Mts = Pulau Matasiri, Kng = Kepulauan Kangean, Mks = Selat Makassar, Pjt = Pulau Pejatan, Ntn = Kepulauan Natuna

2.2. Penyebaran Temporal dan Spasial

Berbeda dengan sumber daya mineral yang lebih bersifat menetap, ikan yang hidup di air akan selalu mencari lingkungan yang sesuai dengan kondisi dan metabolisme tubuh sebagai makluk hidup

teresterial yang selalu bergerak atau beruaya dalam menyesuaikan diri

dengan alam lingkungan. Pada umumnya sumber daya ikan pelagis sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan. Perubahan kondisi lingkungan sangat nyata terhadap kelimpahan sediaan baik positif maupun negatif. Fluktuasi hasil tangkapan musiman diasosiasikan dengan perubahan salinitas antara musim hujan dan musim kemarau.

Karakteristik massa air dan iklim Laut Jawa dipengaruhi langsung oleh 2 angin muson, yaitu angin muson barat yang berlangsung antara bulan September sampai dengan Pebruari dan angin muson timur yang berlangsung antara bulan Maret sampai dengan Agustus. Pada muson timur, massa air bersalinitas tinggi (>34‰) memasuki Laut Jawa melalui Selat Makassar dan Laut Flores,

(25)

sedangkan pada muson barat, selain terjadi pengenceran oleh air sungai, juga masuk massa air bersalinitas rendah (<32‰) yang berasal dari Laut Cina Selatan mendorong massa air bersalinitas tinggi ke bagian timur Laut Jawa (Lampiran 1) (Veen, 1953; Wyrtki, 1961). Fluktuasi suhu permukaan relatif kecil, perbedaan antara maksimum dan minimum suhu di Laut Jawa kurang dari 2°C dengan nilai rata– rata berkisar antara 27° sampai dengan 29°C. Distribusi suhu permukaan secara horisontal dihubungkan dengan fenomena musiman. Pada musom angin timur terlihat jelas suhu permukaan lebih dingin akibat masuk massa air bagian laut dalam ke Laut Jawa. Pada angin muson barat suhu permukaan Laut Jawa relatif lebih panas, pengaruh curah hujan pada suhu air laut dekat pantai sangat nyata (Lampiran 2) (Potier, 1998).

Sumber daya ikan pelagis di perairan ini terdiri atas komunitas ikan pelagis pantai (Sardinella spp., Rastrelliger brachysoma,

Dusumieria acuta, dan Selar spp.), ikan pelagis neritik, dan oseanik

(Decapterus russelli, Selar crumenophthalmus, Rastrelliger kanagurta, Decapterus macrosoma, Amblygaster sirm, Megalaspis cordyla, Scombemorus spp., dan Auxis thazard). Enam spesies

merupakan komponen utama hasil tangkapan pukat cincin (Gambar 3a).

(26)

Gambar 3a. Spesies utama hasil tangkapan pukat cincin. Variabilitas beberapa ikan pelagis (D. russelli, D. macrosoma, dan R. kanagurta) berasosiasi dengan perubahan salinitas massa air salinitas yang datang dari Laut Flores dan Selat Makassar pada musim kemarau (Hardenberg, 1938). Kelompok ikan kostal spesies seperti

Sardinella spp., teri (Steloporus spp. dan Encraicholine spp.) dan

juwana ikan pelagis berasosiasi dengan perubahan suhu. Dua jenis ikan yang mempunyai respon berbeda terhadap lingkungan digambarkan oleh hasil tangkapan ikan layang dan juwi di perairan utara Bonang-Sarang, pada musim peralihan dari musim timur ke musim barat (bulan September sampai dengan Nopember) sebagian

(27)

besar hasil tangkapan pukat cincin didominasi oleh ikan layang, pada musim timur (bulan Maret sampai dengan Mei) ikan juwi menggantikan ikan layang (Atmaja & Ecoutin, 1995). Potier (1998) mengatakan bahwa stok ikan pelagis sangat peka terhadap perubahan lingkungan, terutama penyebaran salinitas secara spasial yang dibangkitkan oleh 2 angin muson barat laut dan tenggara. Pada tahun basah (curah hujan di atas normal) akan mengurangi penetrasi ikan-ikan yang bersifat oseanik ke Laut Jawa, akibat pengaruh massa air oseanik menurun di bagian timur Laut Jawa. Hubungan hasil tangkapan dengan salinitas permukaan menunjukkan berkorelasi positif (Gambar 3d) dan hasil tangkapan berkorelasi negatif dengan curah hujan (Gambar 3e).

Gambar 3b. Lokalisasi geografis dan preferensi ikan pelagis kecil (Hardenberg, 1938; Potier, 1998).

(28)

Gambar 3c. Penyebaran ikan pelagis ikan pelagis berdasarkan pada hasil tangkapan pukat cincin.

Komposisi hasil tangkapan pukat cincin di Laut Jawa dan sekitar, yaitu Layang (D. russelli dan D. macrosoma), bentong (S.

crumenophthalmus), banyar atau kembung lelaki (R. kanagurta), siro

(A. sirm), dan juwi (S. gibosa). Keenam spesies tersebut memberi kontribusi lebih dari 90%, kelompok jenis ikan layang (D. russelli dan

D. macrosoma) menduduki peringkat teratas mencapai separuh dari

total hasil tangkapan (Gambar 3f).

Berdasarkan pada wilayah penangkapan dan musim, ikan layang

D. russelli berkonsentrasi di bagian barat Laut Jawa dan Laut Cina

Selatan sepanjang tahun, sedangkan D. macrosoma berkonsentrasi di bagian timur Laut Jawa dan Selat Makassar terjadi pada bulan September sampai dengan Pebruari, R. kanagurta konsentrasi tertinggi terjadi pada bulan Juni sampai dengan Agustus dan A. sirm konsentrasi tertinggi pada bulan Desember sampai dengan Mei (Atmaja & Sadhotomo, 2000).

Alterasi spesies pada perikanan multi spesies umum terjadi. Selain dominasi ikan pelagis kecil yang disebut di atas, kerapkali tertangkap spesies yang tidak dalam jumlah banyak, seperti ikan swanggi (Priacanthus sp.) pada tahun 1991 sampai dengan 1992, ikan cekong (Sardinella sp.) di daerah penangkapan tradisional pesisir pantai Selat Sunda–Utara Indramayu pada tahun 1997 sampai dengan 1998, dan terakhir kemunculan ikan ayam-ayaman (Aluterus

(29)

Jawa (Gambar 3g). Jenis ikan ini merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomis setelah ada permintaan dari Korea. Sejauh ini, kemunculan spesies tersebut belum diketahui secara pasti, namun dugaan awal berkaitan dengan perubahan lingkungan yang anomali. Dengan demikian, komposisi spesies pada kondisi komunitas ikan berubah maka biomassa dibagi kembali di antara spesies. Perikanan pukat cincin didukung oleh 1) sumber daya ikan yang telah dikenal, 2) sumber daya ikan yang telah diketahui sejak beberapa lama tetapi belum ada pasaran pada masa sebelum, dan 3) sumber daya ikan memang belum dikenal tidak dikenal sebelum atau sumber daya ikan yang kelimpahan meningkat karena penangkapan spesies lain dalam ekosistem sama.

Gambar 3d. Hubungan hasil tangkapan dengan salinitas permukaan.

(30)

Gambar 3f. Komposisi hasil tangkapan pukat cincin.

Perubahan lingkungan, terutama anomali lingkungan selain akan mempengaruhi proses biologi, juga akan menyebabkan runtuh perikanan akibat kegagalan peremajaan, terutama pada kelompok ikan Clupeidae (Anchovy di perairan Peru, Sardine di beberapa perairan, herring) (Cushing diacu dalam King, 1998). Di perairan Maroko, pada saat produksi ikan sardine (Sardina pilchardus) menurun, produksi beberapa spesies ikan pelagis lain, seperti mackerel (Scomber colias) dan horse mackerel (Trachurus trachurus) menjadi meningkat (Belbeze & Erzini, 1983). Di Teluk Bengala, pada saat produksi

Sardinella longicep menurun, sebaliknya produksi mackrerel

(Rastrelliger spp.) meningkat (Bal & Rao, 1984). Radovich (1982)

diacu dalam Laevastu & Favorite (1988) mengatakan bahwa dominasi

ikan pelagis tertentu dapat digantikan oleh jenis ikan pelagis lain yang meneliti sifat ekologis hampir sama. Ada pergantian spesies ini diduga berkaitan erat dengan kompetisi makanan yang disukai.

(31)

Gambar 3g. Ikan ayam-ayaman (leather jacket, Aluterus

monoceros).

3. BIOLOGI

3.1. Aspek Reproduksi

3.1.1. Indeks Kematangan Gonad (Gonado Somatic Index)

Untuk keseragaman dalam penentuan kriteria kematangan, indikator pertumbuhan gonad menggunakan gonado somatic index dan verifikasi berdasarkan pada perkembangan diameter telor untuk menghindari subyektivitas dalam penentuan tingkat kematangan gonad di lapangan. Pertumbuhan gonad sacara teratur atau besar gonad menempati ruang rongga perut dikatakan secara kuantitatif dalam persentase pebandingan bobot gonad (wg) dengan bobot ikan (W) tanpa gonad (wg), sebagai berikut GSI(%)=wg/(W-wg)*100.

Penentuan gonado somatic index adalah salah satu pengetahuan dasar dari biologi reproduksi suatu spesies ikan guna menggambarkan siklus reproduksi, life history ikan yang sangat diperlukan dalam mempelajari dinamika populasi ikan, seperti pendugaan umur atau

(32)

penangkapan, untuk melindungi dan menjamin kelangsungan sediaan induk ikan dari eksploitasi.

Sering dalam studi biologi hanya ovarium betina yang dipelajari, sebab ukuran lebih besar dan mudah diamati secara visual dan mikroskopis daripada testis jantan. Diasumsikan bahwa perkembangan ovarium dan testis adalah berbarengan (synchronous). Ovarium diamati secara mikroskopis dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai tingkat perkembangan. Kejadian penting dalam siklus reproduksi dari spesies adalah waktu pemijahan, ketika perkembangan penuh gamet direalisasikan (King, 1998).

Kriteria ovarium matang berdasarkan pada diameter telor terdapat 2 kelompok, yaitu rata-rata diameter telor buram (opaque) berkisar 0,50 sampai dengan 0,75 mm dan telor yang jernih (translucent) rata-rata berdiameter 0,6 sampai dengan 0,95 mm dengan nilai gonado somatic index berkisar antara 8 sampai dengan 22% (Gambar 5). Nilai gonado somatic index tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan nilai gonado somatic index dari D. macrosoma dan D. russelli yang diperoleh oleh Widodo (1988). Bal & Rao (1984) menetapkan ovarium matang termasuk kriteria tingkat kematangan gonad IV berdiameter 0,47 sampai dengan 0,56 untuk R. kanagurta dan 0,51 sampai dengan 0,57 untuk S. longiceps. Ovarium yang siap memijah secara makroskopik dicirikan perut buncit, rongga perut diisi dengan ovarium, di mana telor jernih mudah dilihat dari dinding ovarium (Gambar 4). Fenomena ini umum dalam perkembangan ovarium dan sebagian spesies mempunyai telor jernih untuk mengurangi pemangsaan (Johannes, 1978 diacu dalam Bailey & Houde, 1989). Nilai gonado somatic index Clupea harengus pada tingkat siap memijah berkisar antara 20 sampai dengan 23% (Iles, 1984). Rata-rata nilai gonado somatic index Scomber scombrus 25% (Morse, 1980) dan Engraulis mordax 18% (Laroche & Richardson, 1980).

(33)

Tabel 1. Rata-rata nilai gonado somatic index (%) dan simpangan baku dari 5 spesies ikan pelagis kecil menurut wilyah penangkapan

Spesies I II III Rata-rata 2,24 1,98 1,54 D. Russelli SD 1,44 1,82 1,45 N 299 680 99 Rata-rata 1,17 1,05 1,36 D. macrosoma SD 0,94 2,54 1,81 N 38 385 147 Rata-rata 3,08 1,40 1,22 R. kanagurta SD 2,13 1,81 1,58 N 223 992 437 Rata-rata 0,81 2,02 3,17 A. sirm SD 0,60 2,18 3,29 N 136 1.282 403 Rata-rata 2,11 1,67 1,18 S. crumenophthalmus SD 1,13 1,12 1,02 N 681 950 177

Keterangan: I=Laut Jawa bagian tengah, II=Laut Jawa bagian timur, III=Selat Makassar, SD=Simpangan baku, N=Jumlah contoh

(34)

Ikan telah melakukan pemijahan terdapat 2 bentuk ovarium, yaitu seperti kantong kosong (total spawner) ditemukan D. russelli dan ovarium berisi telor buram dan beberapa sisa telor jernih (partial

spawner) ditemukan pada D. macrosoma dan A. sirm. D. russelli dan R. kanagurta diperoleh spesimen yang telah memijah dan ovarium

hampir pulih tetapi dapat dibuktikan ikan tersebut telah memijah pada bulan Nopember sampai dengan Januari (Atmaja et al., 1995). Pada ovarium hampir pulih (sisa telor belum diserap sempurna) dari D.

russelli dan R. kanagurta menunjukkan bahwa bentuk ovarium dan

ujung berwarna hitam dengan nilai gonado somatic index sekitar 0,5 sampai dengan 0,7%. De Jong (1940) telah melakukan studi pendahuluan tentang kebiasaan pemijahan beberapa jenis ikan di perairan utara Jakarta dan sekitar. Ia menyimpulkan ikan yang matang seksual sulit ditemukan kendati pada musim pemijahan dan D. russelli mempunyai 1 kelompok telor yang matang dan pada kondisi ovarium salin, bentuk ovarium menyerupai kantong kosong dengan kulit ovarium berwarna merah. Hal ini, memberi petunjuk bahwa setelah sisa telor diserap sempurna oleh dinding ovarium, selanjutnya ovarium akan kembali pada tingkat kematangan I. Atmaja & Nugroho (1995) mengatakan bahwa induk A. sirm siap memijah tertangkap secara gelombolan, terutama pada tahun 1993. Sedangkan spesimen induk D. macrosoma sulit ditemukan, dari nilai rata-rata gonado

somatic index menunjukkan sebagian besar ikan tersebut masuk Laut

Jawa merupakan ikan yang belum dewasa atau reproduksi tidak aktif. Sebaran nilai gonado somatic index menurut ukuran ikan (FL) memperlihatkan kisaran nilai gonado somatic index meningkat sejalan dengan ukuran ikan, median dan 75% dari sebaran nilai gonado

somatic index tidak mencapai 4% (Lampiran 5). Rata-rata nilai gonado somatic index dari ukuran lebih besar dari 16 cm menurut wilayah

penangkapan kurang dari 4% dan nilai gonado somatic index mempunyai kecenderungan semakin ke bagian timur Laut Jawa semakin kecil, kecuali A. sirm (Tabel 1). Dengan demikian, nilai

(35)

gonado somatic index 5 jenis ikan pelagis ini mencerminkan sangat

jarang individu ikan yang tertangkap oleh pukat cincin pada kondisi matang gonad ditemukan dari hasil tangkapan pukat cincin. Rendah nilai gonado somatic index D. russelli dan R. kanagurta diduga disebabkan sebagian individu-individu ikan dewasa pada kondisi ovarium telah pulih kembali. Dengan demikian, spesifik daerah pemijahan ikan berdasarkan pada hasil tangkapan pukat cincin sulit ditentukan, terutama berkaitan dengan penutupan daerah pemijahan untuk melindungi induk ikan pemijah dari eksploitasi. Dengan demikian, pemikiran tentang ikan diberi kesempatan bertelor paling sedikit 1 kali selama hidup, secara harfiah akan melarang seluruh usaha perikanan tangkap.

Aktivitas reproduksi di perairan tropis dibangkitkan oleh suhu dan salinitas yang spesifik dari kondisi musim (Weber, 1976 diacu

dalam Saila, 1979). Beberapa jenis ikan mempunyai pemilihan habitat

berbeda pada setiap fase daur hidup, daerah makan dan daerah pemijahan sering berada pada daerah berbeda, sebagian besar ikan laut merealisasikan pembuahan telor dan menetas di lahan terbuka (Gambar 6) (King, 1998). Spesies ikan pelagis pantai neritik di perairan tropis banyak berpijah di perairan lepas pantai untuk mengurangi tekanan pemangsaan terhadap larva (Johannes, 1978

diacu dalam Saila, 1979). Sebagian besar individu ikan di perairan

tropis memijah sepanjang tahun dengan puncak musim 1 kali atau 2 kali 1 tahun (Erdman, 1976 diacu dalam Saila, 1979). Ursin (1984) mengatakan bahwa ikan mempunyai periode pemijahan yang beradabtasi dengan variasi ketersedian makanan untuk larva, seperti yang telah didokumentasikan di perairan sub tropis. Raja (1969) diacu

dalam Longhust & Pauly (19987) mengatakan bahwa ikan Sardinella longicep di perairan Teluk Bengala, pada curah hujan kurang dari 10

mm di bulan Juni akan menyebabkan ovarium ikan tersebut kegagalan berkembang (atresia).

(36)

Gambar 6. Life history triangle untuk spesies laut, tidak semua

spesies secara geografik terpisah antara spawning dan

nursery area (King, 1998).

Ikan yang mempunyai nilai GSI=5%–10% sering ditemukan di Laut Jawa, tertutama untuk ikan banyar (R. kanagurta). Djamali (1977) mengatakan bobot gonad ikan banyar lebih besar 8 g atau nilai

gonado somatic index lebih besar dari 6% ditemukan di perairan

sekitar Pulau Panggang (Kepulauan Seribu) dan di perairan utara Indramayu (Atmaja & Sadhotomo, 1992). Akan tetapi ovarium yang telah mengandung telor berwana jernih belum pernah diperoleh. Hardenberg (1938) mengatakan kelompok ikan layang memasuki Laut Jawa bersama massa air oseanik dari Laut Flores, melakukan aktivitas pemijahan di sekitar perairan Pulau Bawean. Venema (1996) mengatakan bahwa ikan layang tidak memijah di Laut Jawa, ikan ini memijah di sekitar lekukan (slope) perairan laut dalam.

3.1.2. Fekunditas

Fekunditas disini ditentukan sebagai jumlah telor matang yang segera dipijahkan, di sana hanya 1 kelompok telor matang (telor jernih), jelas terpisah dengan telor yang lebih kecil (telor buram) yang dikenal dengan batch fecundity (de Jong, 1940; Fontana 1969). Pried & Walsh (1991) mengatakan bahwa batch fecundity adalah jumlah telor yang direalisasikan dalam 1 pemijahan, ditentukan dalam perhitungan fekunditas mutlak. Pendugaan jumlah telor dalam kelompok terakhir dari sebaran diameter telor dihitung dari subcontoh

(37)

dari ovarium yang berdiameter lebih besar dari 0,5 mm. Sub contoh berkisar antara 0,1 sampai dengan 0,3 g, diukur dan dihitung dengan 2 atau 3 ulangan, di bawah mikroskop binocular dengan pembesaran 100 kali. Batch fecundity ditentukan dengan metode gravimetric (Bagenal, 1978a), yang diduga menurut persamaan diberikut:

F=(Wg/ws)*n di mana:

F = batch fecundity Wg = bobot gonad (g)

ws = bobot sub contoh (0,1 – 0,3 g)

n = jumlah telor dalam sub contoh dari kelompok terakhir dalam sebaran diameter telor

Ovarium matang (tingkat kematangan gonad V dan VI) secara mikroskopik, frekuensi sebaran diameter telur menunjukkan hanya 1 kelompok telur jernih dan jelas terpisah dengan telur buram. Pola tersebut ditunjukkan pula oleh beberapa peneliti, pada D. Russelli (Atmaja et al., 1982), Scombermorus sp. (de Jong, 1940), Sardinella

sirm (Lazarus, 1990), dan R. kanagurta (Rao & Bal,1984).

Fekunditas D. macrosoma berkisar antara 43.000 sampai dengan 80.000 telor dengan rata-rata sekitar 60.380 telor, sedangkan A. sirm mempunyai fekunditas berkisar antara 17.000 sampai dengan 34.000 telor dengan rata-rata sekitar 21.440 telor (Tabel 2). Di perairan Philipina, fekunditas D. macrosoma sekitar 68.000 sampai dengan 10.6000 telor dan S. longiceps di Teluk Bengala mempunyai fekunditas sekitar 37.000 sampai dengan 38.000 telor (Raja, 1972).

A. sirm yang siap memijah ditemukan dalam jumlah banyak di

sekitar perairan Masalembo dan Lumu-lumu, kemungkinan ikan ini memijah di daerah bagian timur Laut Jawa dan Selat Makassar. D.

russelli telah memijah ditemukan di sekitar perairan barat Pulau

(38)

yang hampir pulih (spent with recovery) ditemukan di perairan sekitar Pulau Matasiri dan Lumu-lumu pada bulan Nopember sampai dengan Januari, ikan dewasa yang matang telor (tingkat kematangan gonad IV, telor buram (opaque) ditemukan dari hasil tangkapan mini pukat cincin di sekitar perairan Indramayu dan Lasem pada bulan Desember (Atmaja & Sadhotomo, 1993). S. crumenophthalmus ditemukan di perairan utara Tegal pada bulan Oktober 1993. D. macrosoma yang matang telor (tingkat kematangan gonad V dan VI) di sekitar Sumber Geleng pada bulan Mei dan Juni (Atmaja, 1999).

Tabel 2. Fekunditas D. macrosoma dan A. sirm

D. macrosoma A. sirm FL (cm) GSI(%) Fekunditas FL (cm) GSI(%) Fekunditas Rata-rata 20,1 14,64 60.380 19,26 10,03 21.440 Minimum 19,3 10,60 43.000 17,50 7,10 17.000 Maksimum 20,5 22,60 80.000 20,40 13,74 34.100 SD 0,45 3,70 1.289 0,88 1,75 45,60 3.2. Pertumbuhan

Model produksi surplus Schaefer pada perikanan multi spesies di perairan tropis, yang mempunyai keanekaragaman tinggi dan mendiami suatu ekosistem yang kompleks sering tidak memadai. Aplikasi model ini didasarkan pada konsep sistem unit tunggal dari gabungan beberapa spesies yang mempunyai karakteristik biologi sama dan tidak ada hubungan pemangsa-mangsa. Pendugaan pertumbuhan lebih ditekankan untuk menguji asumsi di atas.

Pendugaan (K, L) melalui nilai rata-rata indeks empiris Φ’ (Pauly & Munro, 1984), sebagai berikut:

Φ’=Log10 K+2 Log10 L ………... (1 di mana:

Φ’ = perkiraan distribusi normal untuk stok ikan berbeda pada spesies sama

(39)

Φ’=(1/n)* Φi atauΦ’=(1/n)(Log10 Ki+2 Log10 Li) ... (2 Log10 K=Φ’-2 Log10 L ... (3 dimana:

i = 1, 2, 3,…n

Tabel 3. Parameter populasi dari 5 spesies ikan pelagis kecil

Spesies Φ’ K (tahun-1) L∞ (cm) D. russelli 2,8037 0,96 26,67 D. macrosoma 2,7775 0,92 26,24 R. kanagurta 2,8899 1,18 28,67 A. sirm 2,8075 0,94 23,90 S. crumenophthalmus 2,9119 1,20 26.15

Gambar 7. Perbandingan nilai parameter pertumbuhan von Bertallanffy dan Mortalitas alami.

(40)

Analisis parameter populasi (laju pertumbuhan dan L) untuk 5 jenis ikan pelagis kecil (D, russelli, D. macrosoma, R. kanagurta, A.

sirm, dan S. crumenophthalmus) menggunakan empiris Φ’, parameter

pertumbuhan von Bertallanfy yang diterakan pada Tabel 3 dan kisaran parameter populasi tersebut (Gambar 7). Nilai empiris Φ’ dan parameter laju pertumbuahan von Bertalanffy (K) dari 5 spesies dominan hasil tangkapan pukat cincin menunjukkan mempunyai karakteristik biologi relatif sama.

3.3. Ukuran Ikan

3.3.1. Rata-Rata Ukuran Ikan

Rata-rata ukuran ikan yang tertangkap dicerminkan oleh 50% kumulatif frekuensi sebaran ukuran ikan masing-masing wilayah penangkapan menunjukkan rata-rata ukuran ikan bertambah panjang dari bagian barat ke bagian timur Laut Jawa, dan ikan besar cenderung tertangkap di Selat Makassar (Tabel 4). Secara umum, rata-rata ukuran ikan berkisar antara 15 sampai dengan 17 cm, hasil ini relatif sama dengan hasil penelitian sebelum (Dwiponggo et al., 1987; Widodo, 1988; Sadhotomo & Potier, 1995; Potier, 1998). Rata-rata ukuran ikan ini lebih kecil dari nilai Lm (ukuran ikan pertama mencapai matang seksual) (Atmaja et al., 1995).

Tabel 4. Rata ukuran ikan dari 5 spesies ikan pelagis kecil menurut wilayah penangkapan

Spesies Wilayah I II III

L25 12,94 12,85 14,34 D. Russelli L50 14,73 15,30 15,93 L75 16,41 17,28 17,16 L25 11,98 15,31 14,41 D. macrosoma L50 14,32 16,45 15,46 L75 16,52 17,47 16,46 L25 13,45 15,41 18,91 R. kanagurta L50 16,19 18,36 19,81

(41)

L75 18,55 19,44 20,51 L25 15,88 15,74 16,11 A. sirm L50 16,54 16,75 17,02 L75 17,81 17,55 17,84 L25 13,33 15,80 16,47 S. crumenophthalmus L50 15,80 17,21 17,90 L75 17,21 18,55 18,66

Keterangan: L25, L50, L75 = 25, 50, dan 75% dari kurva-kurva logistik baku: F(li)=

(1+ae-bli)-1

Sebagian besar hasil tangkapan pukat cincin terdiri atas ikan muda (umur < 1 tahun), kelompok ukuran FL (panjang cagak) antara 12 sampai dengan 19 cm mencapai lebih dari 80%. Dari struktur ukuran ikan menunjukkan bahwa ikan layang (D. russelli) berukuran lebih kecil dari 12 cm sekitar 12,4% dan ikan banyar (R. kanagurta) sekitar 2,4% (Widodo, 1988; Nurhakim, 1995). Sadhotomo (1998) mengatakan bahwa pada umumnya ikan besar cenderung berasosiasi dengan sub lahan Matasiri dan Selat Makassar (Lumu-lumu) pada periode akhir musim timur (bulan Nopember sampai dengan Desember) dan awal musim barat (bulan Januari sampai dengan Maret). Sementara itu, ikan berukuran kecil cenderung berada di sub lahan pantai utara Jawa Tengah, Kepulauan Karimunjawa, dan Pulau Bawean selama puncak musim Timur (bulan Mei sampai dengan Agustus).

Penggunaan L25 atau L50 merupakan nilai untuk penentukan regulasi ukuran mata jaring kantong, keputusan optimasi dan ukuran minimum ikan yang dieksploitasi harus berdasarkan pada yustifikasi biologi dan pertimbangan ekonomi.

Spesies-spesies yang menjadi tujuan penangkapan pada umumnya mempunyai tendensi membentuk kawanan yang terdiri atas ikan berukuran sama, atau tidak semua kelas ukuran (umur) berada di suatu daerah penangkapan. Ada kecenderungan nelayan mencari dan

(42)

bukan merupakan sasaran utama penangkapan dan ikan tersebut tertangkap secara kebetulan bersama ikan berukuran besar. Dari studi biologi tidak alasan kuat untuk regulasi mata jaring kantong pukat cincin. Dengan demikian, pendekatan selektivitas pada pukat cincin melalui regulasi ukuran mata jaring tidak akan efektif, tetapi melalui operasi penangkapan (ruang dan waktu daerah penangkapan, serta konsentrasi ikan.

Rata-rata ukuran ikan relatif tetap menunjukkan bahwa perbedaan tingkah laku pada daur hidup, di mana ada pemisahan secara geografis antara daerah pemijahan, asuhan dan stok ikan yang dapat dieksploitasi. Spesies-spesies yang menjadi tujuan penangkapan pada umumnya mempunyai tendensi membentuk kawanan yang terdiri atas ikan berukuran sama, atau tidak semua kelas ukuran (umur) berada di suatu daerah penangkapan. Nelayan telah mengetahui dengan baik daerah penangkapan yang menguntungkan dan memilih pada kisaran sempit dari spesies dan ukuran ikan. Sedangkan ikan berukuran kecil bukan merupakan sasaran utama penangkapan dan ikan tersebut tertangkap secara kebetulan bersama ikan berukuran besar. Asumsi dasar bahwa laju tangkap adalah sebanding terhadap kelimpahan stok ikan (C=qEB), nelayan menentukan atau memilih daerah penangkapan secara acak.

(43)

T a h u n R a ta -r a ta u ku ra n i ka n ( cm ) 13 14 15 16 17 18 19 85-87 92 93 94 95 98/99

Gambar 8. Rata-rata ukuran ikan dari 5 spesies (D. russelli, D.

macrosoma, R. kanagurta, A. Sirm, dan S.

crumenophthalmus) yang tertangkap oleh pukat cincin.

Beberapa aspek perilaku nelayan akan menyebabkan CPUE tidak sebanding terhadap kelimpahan stok ikan, seperti efisiensi pencarian ikan (pencarian ikan tidak secara acak), interaksi nelayan akan menyebabkan jarang bekerja secara bebas (pemberian informasi akan menuju pencarian tidak acak). Oleh karena itu, asumsi laju tangkap sebanding terhadap kelimpahan stok ikan sulit terpenuhi atau CPUE mungkin tidak langsung berhubungan dengan kelimpahan stok ikan.

3.3.2. Keberadaan Ikan Muda (Fingerling)

Dari survei akustik menunjukkan bahwa perikanan hanya mengeksploitasi kisaran panjang yang sempit atau beberapa spesies dan ukuran panjang yang terseleksi dari populasi ikan yang ada di laut. Sebaran data populasi akustik menunjukkan kisaran panjang

(44)

sampai dengan -40dB (Nugroho et al., 2003). Hubungan target

strength dengan panjang ikan, target strength pada kawanan ikan yang

berkumpul di sekitar cahaya dan rumpon berkisar antara -38,1 sampai dengan -47,5 dB dengan rata-rata nilai target strength -44,7dB dan rata-rata panjang ikan berkisar 17,8 sampai dengan 19,6 cm (Hermawan et al., 1998). Cotel & Petit (1997) mengatakan bahwa

target strength D. russelli -47,7 dB=16 cm (FL), target strength S. crume-nophthalmus -44,9 dB=16 cm (FL) dan target strength R. kanagurta -50 dB=11 cm (FL). Hal ini, dapat diartikan bahwa

perikanan hanya memanfaatkan sebagian kecil dari struktur populasi ikan yang ada di laut.

Keberadaan juvenil dan ikan muda berkaitan dengan penyebaran telor dan larva secara pasif yang terbawa oleh pasang dan arus dari tempat pemijahan ke tempat nursery, serta keberhasilan mulai sejak larva. Muncul ikan muda pada perikanan bersamaan muncul ikan yang telah matang gonad, yaitu pada bulan April sampai dengan Juni. Namun, ikan muda yang tertangkap pada suatu daerah penangkapan tidak selalu tertangkap bersamaan. Hal ini, diduga berkaitan dengan mekamisme dan proses biologi terhadap kondisi lingkungan yang cocok berbeda dari setiap jenis ikan. Penelitian ikhtioplankton telah dilakukan oleh Delsman (1926), ia menemukan telor dan larva dari beberapa jenis ikan di sekitar Bawean dan Pemanukan (Madura), seperti D. russelli, D. Macrosoma, dan S. crumenophthalmus.

Catatan muncul ikan muda (fingerlings) pada kelompok ukuran 4 sampai dengan 11 cm dari kegiatan penelitian di beberapa tempat yang berbeda (Tabel 5). Dengan demikian, karakteristik penyebaran ikan muda cukup luas dan mudah ditemukan di daerah penangkapan adalah R. kanagurta. Ikan muda tersebut merupakan hasil tangkapan sampingan dari alat tangkap yang menggunakan waring pada jaring bagian kantong dan dioperasikan di perairan pesisir. Hasil tangkapan dalam jumlah relatif sangat sedikit jika dibandingkan dengan total hasil tangkapan pukat cincin.

(45)

Tabel 5. Muncul ikan muda (fingerlings) dari beberapa daerah penangkapan

4. DINAMIKA PERIKANAN PUKAT CINCIN 4.1. Kapal dan Jaring Pukat Cincin

4.1.1. Kapal Pukat Cincin

Spesies Ukuran Ikan (cm) Daerah penangkapan Keterangan D. macrosoma 7–9 3–7 Lumu-lumu Balikpapan

Pukat cincin, Peb 1995 Midwater trawl, Peb 1995

D. russelli 5–9 Bau-bau Pukat cincin, Sept 1993

A. sirm 4–5,5 5–7 8–11 Karimunjawa Bawean Lumu-lumu Bagan, Juni 1992 Bagan, Juni 1994 Pukat cincin, 1995 S. crumenophthal mus 3,5-5 4–6,5 5-8 Bau-bau Karimunjawa Bawean

Bouke Ami, Sept1993 Bagan, Juni 1992 Pukat cincin, Des 1993

R. kanagurta 3–5,5 3,5-7 3,5–5,5 4–8 4–9 Bau-bau Karimunjawa Selat Belitung Alas Roban Pemalang

Bouke Ami, Sep 1993 Bagan, Juni 1992 Midwater trawl, April 1993

Payang gemblo, Mei 1995 Payang gemblo, Oktober 2003

(46)

Karakteristik kapal pukat cincin yang mengeksploitasi sumber daya ikan pelagis kecil di perairan ini, terutama kapal yang berpangkalan di Pekalongan dan Juwana adalah kapal pukat cincin besar dan sedang, sesuai dengan tipologi kapal pukat cincin yang dikatakan oleh Potier & Sadhotomo (1995). Panayotou (1982) membandingkan perikanan skala kecil dan skala besar (perikanan industri) dengan melihat teknologi yang digunakan, tingkat modal, tenaga kerja yang digunakan dan kepemilikan. Ia lebih lanjut menerangkan bahwa perikanan skala kecil biaya rendah, rendah teknologi, rendah modal, dan kapal dioperasikan sendiri oleh pemilik. Kapal pukat cincin telah menggunakan peralatan dengan tingkat teknologi lebih maju, jarak jangkau ke daerah penangkapan lebih luas sehingga nelayan tinggal di laut berhari-hari. Potier (1998) mengatakan bahwa kapal pukat cincin besar dan sedang termasuk perikanan semi industri.

Berdasarkan pada tahun pembuatan kapal, antara tahun 1985 dan 1989 menunjukkan rata-rata dimensi kapal menurun, dan juga sejak tahun 1992 cenderung menurun, tetapi rata-rata kekuatan mesin

(47)

meningkat terus (propulsi mesin dari 90 PK menjadi 320 PK) (Gambar 1b).

Gambar 9b. Perkembangan dimensi ukuran dan propulsi mesin kapal pukat cincin.

4.1.2. Jaring Pukat Cincin

Jaring pukat cincin adalah jenis alat tangkap yang berbentuk trapisium, dilengkapi dengan tali kolor dilewatkan melalui cincin yang dipasang pada bagian tali ris bawah. Dengan penarikan tali kolor, maka bagian bawah dapat dikuncupkan sehingga kawanan ikan akan terkurung di dalam jaring. Alat tangkap ini terdiri atas 2 bagian utama, yaitu bagian sayap dan kantong, bagian kantong berada di tengah diapit oleh bagian sayap pada ke-2 sisi. Panjang jaring 200 sampai dengan 700 m dan dalam jaring 50 sampai dengan 110 m dengan ukuran mata jaring bagian kantong 3/4 inci.

Bahan jaring adalah nylon multifilament dengan nomor benang dan mata jaring yang berbeda. Bagian kantong menggunakan nomor benang 210d/12 dengan ukuran mata jaring 19 mm, bagian sayap menggunakan nomor benang 210d/9 dengan ukuran mata jaring 25,4 mm. Bagian badan sayap dan bagian di bawah kantong menggunakan

(48)

Gambar 10a. Jaring pukat cincin. 0 7 14 21 28 35 250 350 450 550 650 Panjang Jaring (m) F re ku e n si (% ) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Dalam Jaring (m) F re ku e n si (% )

(49)

4.2. Perkembangan Taktik dan Strategi Perikanan Pukat Cincin Selama 3 dekade pukat cincin mengeksploitasi sumber daya ikan pelagis kecil di Laut Jawa dan sekitar telah berkembang dengan sangat dinamis. Berdasarkan pada dinamika perkembang, perikanan pukat cincin dapat dikelompokan menjadi 3 runtun waktu, yaitu runtun waktu tahun 1976 sampai dengan 1981, tahun 1982 sampai dengan 1990, dan tahun 1991 sampai dengan 2004. Runtun waktu tahun 1976 sampai dengan 1981 merupakan periode sebelum pelarangan alat tangkap trawl, di mana sebagian besar nelayan pukat cincin beroperasi di daerah penangkapan tradisional, rata–rata kekuatan propulsi mesin sekitar 120 PK, panjang jaring berkisar 200 sampai dengan 400 m, dan taktik penangkapan menggunakan rumpon yang di tanam di laut. Runtun waktu tahun 1982 sampai dengan 1990 merupakan periode nelayan pukat cincin sudah memperluas daerah operasi ke bagian timur Laut Jawa dan Selat Makassar dengan taktik penangkapan menggunakan rumpon, sebagian kapal mulai menggunakan lampu sorot halogen dan mercuri (3.100 sampai dengan 5.100 watt) sebagai alat bantu utama menggantikan rumpon. Propulsi mesin berkisar 120 sampai dengan 330 PK, panjang jaring berkisar 400 sampai dengan 750 m. Runtun waktu tahun 1991 sampai dengan 2004 adalah periode di mana sebagian besar taktik penangkapan telah menggunakan lampu sorot sebagai alat bantu utama menggantikan rumpon. Penggunaan lampu sorot meningkat menjadi 7.500 sampai dengan 20.000 watt (Gambar 11). Potier (1998) mengatakan bahwa sejak pasca pelarangan pukat harimau (1980), perikanan pukat cincin berkembang menjadi perikanan menjadi semi industri.

Berdasarkan pada pembagian tahapan perkembangan perikanan secara ekonomi (Hilborn & Waters, 1992), perkembangan hasil tangkapan dan upaya penangkapan pukat cincin pada periode tahun 1976 sampai dengan 2001 dapat disimpulkan bahwa tahap tumbuh dan turun merupakan aktivitas perluasan daerah penangkapan (periode tahun 1976 sampai dengan 1987) dan selama periode tahun 1988

(50)

posisi lintang bujur daerah lumbung ikan dari hasil analisis data satelit). Introduksi teknologi tersebut, hambatan terhadap operasional kapal dan cuaca akan semakin berkurang. Penggunaan fish finder, selain dapat meningkatkan efisiensi, juga dapat menditeksi dasar perairan sehingga kemungkinan jaring tersangkut karang dapat terhidari atau semakin luas perairan yang dieksploitasi (Atmaja et al., 2003).

Gambar 11. Perkembangan taktik dan strategi armada kapal pukat cincin di Laut Jawa.

4.2.1. Perluasan Daerah Penangkapan

Perubahan daerah penangkapan armada kapal pukat cincin mengikuti kondisi lingkungan dan keberadaan ikan. Pada dasarnya,

Gambar

Gambar 1.  Perluasan  daerah  penangkapan  pukat  cincin  semi  industri.
Gambar 2.  Dendogram  klasifikasi  hierarki  wilayah  penangkapan  berdasarkan  pada  variasi  komposisi  hasil  tangkapan  pukat cincin besar (Potier, 1998)
Gambar 3a.  Spesies utama hasil tangkapan pukat cincin.
Gambar 3b.  Lokalisasi  geografis  dan  preferensi  ikan  pelagis  kecil  (Hardenberg, 1938; Potier, 1998)
+7

Referensi

Dokumen terkait