BUPATI JAYAPURA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI JASA UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

45 

Teks penuh

(1)

- 1 -

BUPATI JAYAPURA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA

NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

RETRIBUSI JASA UMUM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JAYAPURA,

Menimbang : a. bahwa Retribusi adalah salah satu sumber pendapatan guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah sehingga dapat mewujudkan kemandirian daerah dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan;

b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 156 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyatakan bahwa pemungutan retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Jayapura tentang Retribusi Jasa Umum.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten Otonom di Propinsi Irian Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 2907);

2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4151) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4884);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009

Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);

5. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011

Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

(2)

- 2 -

6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010

Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5161);

8. Peraturan Daerah Kabupaten Jayapura Nomor 8 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Jayapura (Lembaran Daerah Kabupaten Jayapura Tahun 2008 Nomor 8);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN JAYAPURA dan

BUPATI JAYAPURA MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI JASA UMUM.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Jayapura.

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Jayapura. 3. Bupati adalah Bupati Jayapura.

4. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk Badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

6. Retribusi Daerah adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan.

7. Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan

barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.

8. Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.

(3)

- 3 -

9. Retribusi Jasa Umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan pemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

10. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan adalah pembayaran atas jasa pelayanan persampahan/kebersihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.

11. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil adalah pembayaran atas penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan/atau Akta Catatan Sipil oleh Pemerintah Daerah.

12. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat adalah pembayaran atas pelayanan pemakaman yang meliputi pelayanan penguburan/pemakaman mayat, dan sewa tempat pemakaman yang dimiliki atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.

13. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan umum adalah pembayaran atas pelayanan parkir di tepi jalan umum yang ditetapkan oleh Bupati.

14. Retribusi Pelayanan Pasar adalah pembayaran atas penyediaan fasilitas pasar tradisional/sederhana berupa halaman/pelataran, los dan/atau kios yang dikelola Pemerintah Daerah, dan khusus disediakan untuk pedagang.

15. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran adalah Pembayaran atas pelayanan pemeriksaan oleh Pemerintah Daerah terhadap alat-alat pemadam kebakaran yang dimiliki dan/atau dipergunakan oleh masyarakat.

16. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta adalah Pembayaran atas penerbitan peta oleh Pemerintah Daerah.

17. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus adalah Pembayaran atas Pelayanan Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus/Jamban yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. 18. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah pembayaran atas pemanfaatan ruang

untuk menara telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang, keamanan, dan kepentingan umum.

19. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah pembayaran atas pelayanan pengujian kendaraan bermotor oleh Pemerintah Daerah.

20. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi tertentu.

21. Tempat Penampungan Sementara yang selanjutnya disingkat TPS adalah tempat penampungan sampah yang berasal dari lingkungan di kampung/kelurahan sebelum diangkat ke TPA.

22. Tempat Pembuangan Akhir yang selanjutnya disingkat TPA adalah tempat untuk menampung, mengolah dan memusnahkan sampah.

23. Sampah adalah limbah yang berbentuk padat atau setengah padat yang berasal dari kegiatan orang pribadi atau badan yang terdiri dari bahan organik dan non organik, logam dan non logam yang dapat terbakar tetapi tidak termasuk buangan biologis/kotoran manusia dan sampah berbahaya.

24. Kartu Tanda Penduduk yang selanjutnya dapat disingkat KTP adalah kartu sebagai bukti

(legitimasi) bagi setiap penduduk baik Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing.

25. Akta Catatan Sipil adalah akta perkawinan, akta perceraian, akta pengesahan dan pengakuan anak, akta ganti nama bagi warga negara asing, dan akta kematian yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Jayapura.

26. Makam adalah Tempat untuk menguburkan mayat/jena sah.

27. Tempat Pemakaman Umum adalah areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman mayat/jenasah yang dimiliki dan atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.

(4)

- 4 -

28. Kendaraan Bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu termasuk kendaraan gandengan atau kereta tempelan yang dirangkaikan dengan kendaraan bermotor.

29. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan bermotor yang bersifat sementara. 30. Tempat parkir adalah tempat yang berada ditepi jalan umum tertentu dan telah ditetapkan

oleh Pemerintah Daerah sebagai tempat parkir kendaraan bermotor.

31. Pasar adalah tempat yang diberi batas tertentu dan terdiri atas halaman/pelataran, bangunan berbentuk los dan/atau kios dan bentuk lainnya yang dikelola oleh Pemerintah Daerah dan khusus disediakan untuk pedagang.

32. Los adalah bangunan tetap didalam lingkungan pasar berbentuk bangunan memanjang tanpa dilengkapi dinding.

33. Kios adalah bangunan di pasar yang beratap dan dipisahkan satu dengan yang lainnya dengan dinding pemisah mulai dari lantai sampai denga langit-langit yang diperg unakan untuk usaha penjualan.

34. MCK adalah bangunan di pasar yang disediakan khusus untuk mandi, cuci dan buang air besar dan kecil.

35. Alat Pemadam Kebakaran adalah alat-alat teknis yang dipergunakan untuk mencegah dan memadamkan kebakaran.

36. Pemeriksaan atau pengujian alat pemadam kebakaran adalah tindakan dan atau pengujian oleh Pemerintah Daerah untuk menjamin agar alat pemadam kebakaran selalu dapat berfungsi dengan baik.

37. Peta adalah suatu benda yang terbuat dari kertas atau sejenisnya yang memuat gambar mengenai suatu lokasi/wilayah dengan skala tertentu yang dapat memberikan informasi mengenai batas-batas wilayah dengan menunjukan adanya jalan, sungai, gunung, daratan, lautan, termasuk peta Kabupaten, peta Kecamatan, peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), peta Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK), peta Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK), peta Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) dan peta Rencana Teknik Ruang Kota (RTRK) atau Site Plan.

38. Pengujian kendaraan bermotor adalah serangkaian kegiatan/menguji dan atau memeriksa bagian kiendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus dalam rangka memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan.

39. Pengujian berkala kendaraan yang selanjutnya disebut uji berkala adalah pengujian kendaraan bermotor yang dilakukan secara berkala terhadap setiap kendaraan wajib.

40. Pemeriksaan Teknis Kendaraan Bermotor adalah pemeriksaan terhadap persyaratan kondisi teknis dan laik jalan kendaraan bermotor, kereta gandungan, kereta tempelan, dan kendaraan khusus, dalam rangka penerbitan surat-surat keterangan kelaikan jalan sebagai bidang administrasi pengujian kendaraan bermotor, dan penerbitan penilaian kondisi teknis kendaraan bermotor.

41. Penilaian kondisi teknis adalah penilaian terhadap persyaratan teknis dan laik jalan komponen-komponen serta bagian-bagian kendaraan bermotor, yang dinyatakan dalam satuan prosentase dan dipergunakan sebagai dasar penerbitan surat tanda nomor kendaraan (STNK) pelelangan kendaraan bermotor dan penghapusan kendaraan (Scraping).

42. Pelayanan Kesehatan adalah segala kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada seseorang dalam rangka observasi, diagnosis, pengobatan atau pelayanan kesehatan lainnya. 43. Pelayanan Rawat Jalan adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi diagnosis,

pengobatan, rehabilitasi medik, pelayanan kesehatan lainnya tanpa tinggal di rawat inap. 44. Pelayanan Rawat Jalan Standar adalah pelayanan rawat jalan yang dilaksanakan di poliklinik

khusus, waktu yang khusus, ditangani oleh dokter/spesialis yang khusus, yang ditangani oleh dokter umum, dokter gigi, dokter asisten ahli dan dokter spesialis dan tenaga kesehatan

(5)

- 5 -

lainnya yang ditugaskan saat itu.

45. Pelayanan Rawat Inap adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi perawatan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan atau kesehatan lainnya dengan menempati tempat tidur.

46. Pelayanan Rawat Sehari (One Day Care) adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kesehatan lain dan menempati tempat tidur kurang dari 1 (satu) hari.

47. Tindakan Medik Operatif adalah tindakan pembedahan yang menggunakan pembiusan umum atau pembiusan lokal.

48. Tindakan Medik Non Operatif adalah tindakan medik tanpa pembedahan.

49. Pelayanan Penunjang Diagnostik adalah pelayanan penunjang untuk menegakkan diagnosis dan terapi antara lain berupa pelayanan : laboratorium klinik, laboratorium patologi anatomi, laboratorium mikro biologi, radiologi, elektromedik dan tindakan/pemeriksaan penunjang diagnostik lainnya.

50. Pelayanan Medik Gigi dan Mulut adalah pelayanan paripurna meliputi upaya penyembuhan dan pemulihan yang selaras dengan upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut serta peningkatan kesehatan gigi dan mulut serta peningkatan kesehatan gigi dan mulut pada pasien di rumah sakit.

51. Pelayanan Farmasi adalah pelayanan yang diberikan instalasi farmasi RSUD.

52. Pelayanan Penunjang Non-Medik adalah pelayanan yang diberikan di rumah sakit yang secara tidak langsung berkaitan dengan pelayanan medik.

53. Pelayanan Konsultasi Khusus adalah pelayanan yang diberikan dalam bentuk konsultasi psikologi, konsultasi gizi, dan konsultasi khusus lainnya.

54. Pelayanan Medico adalah pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan kepentingan hukum. 55. Pelayanan Pemulasaran/Perawatan Jenazah adalah kegiatan yang meliputi perawatan

jenazah, konservasi, bedah mayat yang dilakukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan, pemakaman untuk kepentingan proses hukum.

56. Pelayanan Rawat Darurat adalah pelayanan kesehatan tingkat lanjutan harus diberikan secepatnya untuk mencegah/menanggulangi resiko kematian atau cacat.

57. Pelayanan Rawat Rujukan adalah pelayanan kesehatan tingkat lanjutan kepada pasien yang observasi, perawatan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi dan atau kesehatan lainnya dengan menempati tempat tidur.

58. Rumah Sakit Umum Daerah yang selanjutnya disingkat RSUD adalah Rumah Sakit Umum Daerah milik Pemerintah Kabupaten Jayapura.

59. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat Puskesmas adalah instansi kesehatan Daerah yang mempunyai kunjungan rawat jalan da rawat inap.

60. Puskesmas Pembantu yang selanjutnya disingkat Pustu adalah instansi kesehatan Daerah di bawah puskesmas yang mempunyai kunjungan rawat jalan.

61. Puskesmas Keliling adalah pelayanan kesehatan oleh puskesmas dengan mempergunakan kendaraan roda 4 (empat), kendaraan roda 2 (dua), alat transportasi air atau transportasi lainnya di lokasi yang jauh dari sarana pelayanan yang ada.

62. Retribusi Pelayanan Kesehatan adalah pembayaran atas jasa pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah.

63. Jasa Sarana adalah imbalan yang diterima oleh puskesmas dan rumah sakit umum daerah atas pemakaian sarana, fasilitas, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, bahan non-medis habis pakai dan bahan lainnya yang digunakan langsung maupun tidak langsung dalam rangka observasi, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi.

64. Jasa Pelayanan adalah imbalan atas jasa yang diberikan oleh tenaga-tenaga keperawatan, tenaga administrasi, dan tenaga kesehatan lainnya kepada pasien dalam rangka asuhan keperawatan, administrasi atu pelayanan lainnya.

(6)

- 6 -

65. Jasa Medik adalah imbalan jasa yang diberikan oleh dokter spesialis, dokter asisten ahli, dokter umum, dokter gigi, psikolog, dan tenaga medis lainnya kepada pasien dalam rangka observasi, diagnosis, pengobatan, konsultasi, visite, perawatan, rehabilitasi medik dan atau pelayanan lainnya.

66. Jasa Pelayanan Anastesi adalah imbalan atas jasa pelayanan yang diberikan oleh ahli anastesi atau tenaga anastesi lainnya kepada pasien dalam rangka pemberian pembiusan.

67. Jasa Pelayanan Farmasi adalah imbalan yang diterima atas pelayanan farmasi yang diberikan kepada pasien

68. Bahan Medis Habis Pakai adalah bahan kimia, reagensia, bahan laboratorium, bahan radiologi, dan bahan habis pakai lainnya yang digunakan dalam rangka observasi, diagnosis, tindakan, rehabilitasi dan pelayanan kesehatan lainnya.

69. Obat-obatan adalah barang farmasi berupa sediaan yang dapat disuntikan, dioleskan, dihisap atau diminumkan yang dikonsumsi secara langsung oleh pasien dalam proses pengobatannya.

70. Akomodasi adalah fasilitas rawat inap di RSUD termasuk makanan pasien.

71. Makanan Pasien adalah makanan yang diberikan kepada pasien yang sesuai dengan kebutuhan dan standar gizi masing-masing.

72. Tempat Tidur di RSUD adalah tempat tidur yang tercatat dan tersedia di ruang rawat inap. 73. Penjamin adalah orang atau badan hukum sebagai penanggung biaya pelayanan kesehatan

dari seseorang yang menggunakan/mendapat pelayanan kesehatan.

74. Pasien terlantar adalah pasien yang tidak memiliki sanak keluarga, tidak ada yang mengurus, tidak memiliki identitas (Mr X), kesadarannya hilang dan tidak ada penjaminnya, tidak mampu membayar atau kepadanya tidak dapat diidentifikasi untuk data administrasi.

75. Pasien Miskin adalah pasien yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk membayar biaya kesehatannya atau keluarga dan terdaftar didalam buku keluarga miskin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura.

76. Unit Cost adalah perhitungan biaya riil yang dikeluarkan untuk melaksanakan satu unit/satu

jenis pelayanan tertentu di RSUD yang terdiri dari jasa sarana, jasa pelayanan dan jasa medik.

77. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang.

78. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran Retribusi karena jumlah kredit Retribusi lebih besar dari Retribusi yang terhutang atau tidak seharusnya terutang. 79. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD, adalah surat untuk

melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda. 80. Surat Keputusan Keberatan adalah Surat Keputusan atas keberatan terhadap SKRD atau

dokumen lain yang dipersamakan dan SKRDLB yang diajukan oleh Wajib Pajak.

81. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, dan pengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi Daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi Daerah.

82. Penyidikan tindak Pidana di bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dan dengan bukti itu membuat terang tindak di bidang retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

BAB II

(7)

- 7 -

Pasal 2 (1) Jenis Retribusi Jasa Umum terdiri atas :

a. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;

b. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil; c. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat;

d. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum; e. Retribusi Pelayanan Pasar;

f. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran; g. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;

h. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus; i. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi; j. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor; dan k. Retribusi Pelayanan Kesehatan.

(2) Jenis Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk dalam golongan Retribusi Jasa Umum.

BAB III

NAMA, OBJEK, CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA, STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI

Bagian Kesatu

Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 3

Dengan nama Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan, dipungut retribusi atas pelayanan persampahan/kebersihan.

Pasal 4

(1) Objek Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan adalah pelayanan persampahan/ kebersihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, meliputi :

a. pengambilan/pengumpulan sampah dari sumbernya ke lokasi pembuangan sementara; b. pengangkutan sampah dari sumbernya dan/atau lokasi pembuangan sementara ke

lokasi pembuangan/pembuangan akhir sampah; dan

c. penyediaan lokasi pembuangan/pemusnahan akhir sampah.

(2) Dikecualikan dari obyek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan kebersihan jalan umum, taman, tempat ibadah, sosial dan tempat umum lainnya.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 5

(1) Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan luas bangunan tempat yang memproduksi sampah dan volume sampah.

(2) Jenis sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sampah organik dan non organik, berbahaya dan tidak berbahaya.

(8)

- 8 -

(3) Dalam hal volume sampah sulit diukur, maka volume sampah dapat ditaksir dengan berbagai pendekatan, antara lain berdasarkan luas lantai bangunan rumah tangga, perdagangan dan industri.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 6

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kedua

Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Kutipan Akta Catatan Sipil

Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 7

Dengan nama Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil, dipungut retribusi atas pelayanan pencetakan Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil.

Pasal 8

Objek Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil adalah pelayanan :

1. Kartu Tanda Penduduk;

2. Kartu Keterangan Bertempat Tinggal; 3. Kartu Keluarga;

4. Kutipan Akta Perkawinan; 5. Kutipan Akta Perceraian;

6. Kutipan Akta Pengesahan dan Pengangkatan anak;

7. Kutipan Akta Ganti Nama bagi Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing; 8. Kutipan Akta Kematian; dan

9. Surat Keterangan Pindah Penduduk.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 9

Tingkat Penggunaan Jasa diukur berdasarkan jumlah dan jenis dokumen kependudukan yang dicetak.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 10

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

(9)

- 9 -

Bagian Ketiga

Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 11

Dengan nama Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat, dipungut retribusi atas pelayanan penguburan/pemakaman dan pengabuan mayat.

Pasal 12

(1) Objek Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat meliputi : a. liang kubur;

b. pelayanan penggalian dan pengurukan; c. perbaikan/pemugaran makam; dan d. penggalian rangka jenazah.

(2) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. pemakaman secara masal;

b. pemakaman oleh pihak rumah sakit dalam hal jenasah tidak ada yang bertanggungjawab; atau

c. pemakaman yang dikelola oleh pihak swasta. Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 13

Tingkat penggunaan jasa dihitung berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 14

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Keempat

Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 15

Dengan nama Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum, dipungut retribusi atas pelayanan parkir ditepi jalan umum.

Pasal 16

(10)

- 10 -

jalan umum yang ditentukan oleh Bupati sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 17

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan frekuensi penggunaan dan jenis kendaraan yang diparkir.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 18

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kelima Retribusi Pelayanan Pasar

Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 19

Dengan nama Retribusi Pelayanan Pasar, dipungut retibusi atas penyediaan fasilitas pasar. Pasal 20

(1) Objek Retribusi Pelayanan Pasar adalah penyediaan fasilitas pasar tradisional/sederhana berupa halaman/pelataran, los dan/atau kios yang dikelola Pemerintah Daerah yang, dan khusus disediakan untuk pedagang.

(2) Dikecualikan dari obyek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan penyediaan fasilitas pasar yang dimiliki dan/atau dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Pihak Swasta.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 21

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan luas, jenis fasilitas, lokasi, jangka waktu dan kelas pasar yang digunakan.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 22

Struktur dan besarnya tarif retribusi pelayanan pasar adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Keenam

(11)

- 11 -

Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 23

Dengan nama Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran, dipungut retribusi atas pelayanan pemeriksaan terhadap alat-alat pemadam kebakaran.

Pasal 24

Objek Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran adalah pelayanan pemeriksaan dan/atau pengujian alat pemadam kebakaran, alat penanggulangan kebakaran, dan alat penyelamatan jiwa oleh Pemerintah Daerah terhadap alat-alat pemadam kebakaran, alat penanggulangan kebakaran, dan alat penyelamatan jiwa yang dimiliki dan/atau dipergunakan oleh masyarakat.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 25

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan volume dan jumlah alat pemadam kebakaran yang diperiksa dan/atau diuji.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 26

Struktur dan besarnya tarif Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Ketujuh

Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 27

Dengan nama Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta, dipungut retribusi atas pelayanan penyediaan peta.

Pasal 28

Objek Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta adalah penyediaan peta yang dibuat oleh Pemerintah Daerah meliputi :

1. Jenis peta

a. Peta Kabupaten Jayapura; b. Peta Distrik dan Kampung; c. Peta RTRW;

d. Peta RDTRK; e. Peta RUTRK; f. Peta RTRK. 2. Proses degitasi peta;

3. Copy peta digital peta dasar

Paragraf 2

(12)

- 12 -

Pasal 29

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jumlah peta yang dicetak/disediakan. Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 30

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kedelapan

Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 31

Dengan nama Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus, dipungut retribusi atas Pelayanan Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus.

Pasal 32

(1) Objek Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus adalah pelayanan penyediaan dan/atau penyedotan kakusyang dilakukan oleh Pemerintah Daerah.

(2) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan penyediaan dan/atau penyedotan kakus yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan pihak swasta.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 33

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan volume septic tank yang disedot. Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 34

Struktur dan besarnya tarif penyediaan dan/atau penyedotan kakus adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran VIII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kesembilan

Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 35

Dengan nama Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi.

(13)

- 13 -

Pasal 36

Objek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang, keamanan, dan kepentingan umum.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 37

Tingkat penggunaan jasa pengendalian menara telekomunikasi dihitung berdasarkan frekuensi pengawasan dan pengendalian.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 38

Tarif Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi ditetapkan sebesar 2% (dua persen) dari nilai jual objek pajak bumi dan bangunan (NJOP-PBB) menara telekomunikasi.

Bagian Kesepuluh

Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 39

Dengan nama Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, dipungut retribusi atas pelayanan pengujian kendaraan bermotor.

Pasal 40

(1) Objek Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah pelayanan pengujian kendaraan bermotor, termasuk kendaraan bermotor di air, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, meliputi :

a. uji pertama; b. uji berkala;

c. kelengkapan administrasi; dan d. pemeriksaan teknis kendaraan.

(2) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan pengujian kendaraan bermotor yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah dan pihak Swasta.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 41

Tingkat penggunaan jasa dihitung berdasarkan jenis kendaraan dan pelayanan pengujian kendaraan bermotor.

(14)

- 14 -

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 42

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran IX yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kesebelas

Retribusi Pelayanan Kesehatan Paragraf 1

Nama dan Objek Retribusi Pasal 43

Dengan nama Retribusi Pelayanan Kesehatan, dipungut retribusi atas pelayanan kesehatan oleh Pemerintah Daerah.

Pasal 44

(1) Objek Retribusi Pelayanan Kesehatan adalah Pelayanan Kesehatan yang meliputi : a. pelayanan Kesehatan di Puskesmas;

b. pelayanan Kesehatan di Puskesmas Keliling; c. pelayanan Kesehatan di Puskesmas Pembantu; d. pelayanan Kesehatan di Balai Pengobatan; dan

e. pelayanan Kesehatan di RSUD dan tempat pelayanan kesehatan lainnya; (2) Dikecualikan dari obyek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. pelayanan pendaftaran; dan

b. pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah dan Pihak Swasta.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Pasal 45

Tingkat Penggunaan jasa dihitung berdasarkan jumlah/frekuensi dan jenis pelayanan kesehatan yang diberikan.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi Pasal 46

Struktur dan besarnya tarif retribusi Pelayanan Kesehatan adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran X yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB IV

SUBJEK DAN WAJIB RETRIBUSI Pasal 47

(1) Subjek Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa umum yang bersangkutan.

(2) Wajib Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau Badan yang menurut ketentuan Peraturan Daerah ini diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong Retribusi Jasa Umum.

(15)

- 15 -

BAB V

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN TARIF RETRIBUSI Pasal 48

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Jasa Umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut.

(2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya operasi dan pemeliharaan, biaya bunga, dan biaya modal.

(3) Dalam penetapan tarif, sepenuhnya memperhatikan biaya penyediaan jasa, dan hanya untuk menutup sebagian biaya.

(4) Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta hanya memperhitungkan biaya pencetakan dan pengadministrasian.

BAB VI

WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 49

Retribusi Jasa Umum yang terutang dipungut di Wilayah Daerah tempat pelayanan jasa umum diberikan.

BAB VII

SAAT RETRIBUSI TERUTANG Pasal 50

Saat retribusi terutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

BAB VIII

TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 51

(1) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan.

(2) Retribusi terutang dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan yang diterbitkan oleh Bupati.

(3) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa karcis, kupon, dan kartu langganan.

(4) Bentuk, isi, tata cara pengisian dan penyampaian SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB IX

TATA CARA PENAGIHAN Pasal 52

(1) Untuk melakukan penagihan Retribusi, Bupati dapat menerbitkan STRD jika Wajib Retribusi tidak membayar Retribusi Terutang tepat pada waktunya atau kurang membayar.

(2) Penagihan Retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didahului dengan Surat Teguran.

(3) Jumlah kekurangan Retribusi yang terutang dalam STRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar.

(16)

- 16 -

(4) Tata cara penagihan Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Bupati. BAB X

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 53

(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.

(2) Retribusi yang terutang dilunasi selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan yang merupakan tanggal jatuh tempo pembayaran Retribusi.

(3) Bupati atas permohonan Wajib Retribusi setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Retribusi untuk mengangsur atau menunda pembayaran Retribusi, dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan.

(4) Tatacara pembayaran, pembayaran dengan angsuran dan penundaan pembayaran Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

Pasal 54

(1) Pembayaran Retribusi yang terutang dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditetapkan oleh Bupati.

(2) Pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan SSRD.

(3) Bentuk, jenis, ukuran dan tatacara pengisian SSRD, ditetapkan dengan Peraturan Bupati. BAB XI

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 55

Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.

BAB XII KEBERATAN

Pasal 56

(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan dan SKRDLB.

(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.

(3) Dalam hal Wajib Retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan retribusi Wajib Retribusi harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan retribusi tersebut.

(4) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan dan SKRDLB diterbitkan, kecuali apabila Wajib Retribusi tertentu dan menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) tidak dianggap sebagai surat keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan.

(6) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan penangihan retribusi.

(17)

- 17 -

Pasal 57

(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi Keputusan atas keberatan yang diajukan.

(2) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya retribusi yang terutang.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak memberikan suatu Keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.

BAB XIII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 58

(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati.

(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberikan keputusan.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian kelebihan retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. (4) Apabila wajib retribusi mempunyai utang retribusi lainnya, kelebihan pembayaran retribusi

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang retribusi tersebut.

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB. (6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat jangka waktu

2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi.

Pasal 59

(1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi diajukan secara tertulis kepada Bupati dengan sekurang-kurangnya menyebutkan :

a. nama dan alamat Wajib Retribusi; b. masa retribusi;

c. besarnya kelebihan pembayaran; d. alasan yang singkat dan jelas.

(2) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat.

(3) Bukti penerimaan oleh Pejabat Daerah atau bukti pengiriman pos tercatat merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Bupati.

Pasal 60

(1) Pengembalian kelebihan retribusi dilakukan dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Retribusi.

(2) Apabila kelebihan pembayaran Retribusi diperhitungkan dengan utang retribusi lainnya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (4), pembayaran dilakukan dengan cara memindahbukukan dan bukti pemindahbukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran.

(18)

- 18 -

BAB XIV

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 61

(1) Bupati dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi.

(2) Pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi antara lain untuk mengangsur.

(3) Pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain diberikan kepada masyarakat yang ditimpa bencana alam dan atau kerusuhan.

(4) Tata Cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi ditetapkan oleh Bupati.

BAB XV

KEDALUWARSA PENAGIHAN Pasal 62

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi menjadi kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi.

(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila : a. diterbitkan Surat Teguran, atau

b. ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung. (3) Dalam hal diterbitkan Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a,

kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya Surat Teguran tersebut.

(4) Pengakuan utang Retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah Wajib Retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang Retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah.

(5) Pengakuan utang Retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh Wajib Retribusi.

Pasal 63

(1) Piutang Retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.

(2) Bupati menetapkan Keputusan Penghapusan Piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Tata cara penghapusan piutang Retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Bupati.

(19)

- 19 -

BAB XVI

KETENTUAN PIDANA Pasal 64

(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar.

(2) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan negara. BAB XVII

PENYIDIKAN Pasal 65

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan pidana di bidang retribusi daerah sebagaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;

b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi Daerah;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi sehubungan dengan tindak pidana dibidang retribusi Daerah;

d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen- dokumen berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi Daerah;

e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang retribusi Daerah;

g. menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana tersebut pada huruf e;

h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi Daerah;

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. menghentikan penyidikan

k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

(20)

- 20 -

BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP

Pasal 66

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Jayapura.

Ditetapkan di Sentani

pada tanggal 20 November 2012

BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si Diundangkan di Sentani

pada tanggal 20 November 2012

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA ttd.

Drs. EDISON MUABUAY, M.Si PEMBINA UTAMA MUDA NIP 195905021984101003

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA TAHUN 2012 NOMOR 8 untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(21)

- 21 -

LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012 STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN

PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

1. Pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pemusnahan sampah rumah tangga : a. luas bangunan < 70 M2 Rp. 25.000,-/bulan;

b. luas bangunan 71 M2 s/d 300 M2 Rp. 30.000,-/bulan;

c. luas bangunan > 300 M2 Rp. 35.000,-/bulan.

2. Pengambilan, pengangkutan, pengolahan dan pemusnahan sampah perdagangan yaitu pasar, pertokoan dan rumah makan :

a. volume sampah < 0,5 M3/hari Rp. 195.000,-/bulan;

b. volume sampah 0,5 M3 s/d 0,75 M3/hari Rp 285.000,-/bulan;

c. volume sampah > 0,75 M3/hari Rp 375.000,-/bulan.

3. Pengambilan, pengangkutan, pengolahan dan pemusnahan sampah industri antara lain rumah sakit, hotel dan pabrik :

a. volume sampah < 0,5 M3/hari Rp. 200.000/bulan;

b. volume sampah 0,5 M3 s/d 0,75 M3/hari Rp. 350.000/bulan;

c. volume sampah > 0,75 M3/hari Rp. 465.000/bulan.

4. Penggunaan sendiri TPA oleh orang pribadi atau badan :

a. volume sampah≥4 M3 Rp. 25.000 sekali buang;

b. volume sampah < 4 M3 Rp. 15.000 sekali buang.

BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(22)

- 22 -

LAMPIRAN II : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL

1. KARTU TANDA PENDUDUK : KTP Nasional

- Warga Negara Indonesia : Rp. 8.000,-

- Warga Negara Asing : Rp. 10.000,-

KTP Elektronik

- Warga Negara Indonesia : Rp. 50.000,-

- Warga Negara Asing : Rp. 60.000,-

2. SURAT KETERANGAN BERTEMPAT TINGGAL : Rp. 10.000.- 3. KARTU KELUARGA

- Warga Negara Indonesia : Rp. 16.000,-

- Warga Negara Asing : Rp. 50.000.-

4. KUTIPAN AKTA PERKAWINAN

- Pelayanan di dalam kantor pada jam dinas bagi Warga Negara Indonesia : Rp. 80.000,- - Pelayanan di dalam kantor di luar jam dinas bagi Warga Negara Indonesia : Rp.150.000,- - Pelayanan di dalam kantor pada jam dinas bagi Warga Negara Asing : Rp.200.000,- - Pelayanan di dalam kantor di luar jam dinas bagi Warga Negara Asing : Rp.250.000,- 5. KUTIPAN AKTA PERCERAIAN

- Kutipan Akta Perceraian bagi Warga Negara Indonesia : Rp.250.000,- - Kutipan Akta Perceraian bagi Warga Negara Asing : Rp.300.000,- 6. KUTIPAN AKTA PENGESAHAN DAN PENGANGKATAN ANAK

- Kutipan Akta Pengesahan dan Pengakuan Anak Warga Negara Indonesia : Rp.150.000,- - Kutipan Akta Pengesahan dan Pengakuan Anak Warga Negara Asing : Rp.300.000,- 7. KUTIPAN AKTA GANTI NAMA BAGI WNI DAN WNA

- Kutipan Akta Ganti Nama dan Jenis Kelamin bagi Warga Negara Indonesia : Rp.150.000,- - Kutipan Akta Ganti Nama dan Jenis Kelamin bagi Warga Negara Asing : Rp.300.000,- 8. KUTIPAN AKTA KEMATIAN

- Kutipan Akta Kematian bagi Warga Negara Indonesia : Rp. 15.000,- - Kutipan Akta Kematian bagi Warga Negara Asing : Rp. 50.000,- 9. SURAT KETERANGAN PINDAH PENDUDUK : Rp. 20.000,-

BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

(23)

- 23 -

T R I O N O, S.H.

PEMBINA

(24)

- 24 -

LAMPIRAN III : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT

a. Liang Kubur :

1. Dewasa (17 tahun ke atas) Rp. 300.000,- 2. Anak-anak (6 sampai dengan 16 tahun) Rp. 150.000,- 3. Balita usia kurang dari 6 tahun Rp. 100.000,- b. Penggalian Liang Kubur :

1. Dewasa (17 tahun ke atas) Rp. 300.000,- 2. Anak-anak (6 sampai dengan 16 tahun) Rp. 150.000,- 3. Balita usia kurang dari 6 tahun Rp. 100.000,- c. Perbaikan/pemugaran makam Rp. 100.000,- d. Penggalian Rangka/jenasah Rp. 250.000,-

BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(25)

- 25 -

LAMPIRAN IV : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM

No. JENIS KENDARAAN BERMOTOR TARIF

1 2 3

- Sepeda Motor

- Sedan, Jeep, Minibus, Pick Up dan sejenisnya - Bus, truk, dan alat berat lainnya

Rp. 1.000/sekali parkir Rp. 2.000/sekali parkir Rp. 3.000/sekali parkir BUPATI JAYAPURA,

ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(26)

- 26 -

LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012 STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN PASAR

LOKASI JENIS FASILITAS TARIF

1 2 3

Pasar Kelas I

(Kabupaten) a. Los - Semi Permanen - Permanen b. Kios

c. Pelataran d. Fasilitas MCK - Mandi

- Buang air besar - Buang air kecil

Rp. 2.000/Hari/m2 Rp. 3.000/Hari/m2 Rp. 3.000/Hari/m2 Rp. 1.000/Hari/m2 Rp. 3.000/orang Rp. 2.000/orang Rp. 1.000/orang Pasar Kelas II

(Distrik) a. Los - Semi Permanen - Permanen b. Kios c. Pelataran d. Fasilitas MCK - Mandi

- Buang air besar - Buang air keci

Rp. 1.000/Hari/m2 Rp. 2.000/Hari/m2 Rp. 2.500/Hari/m2 Rp. 1.000/Hari/m2 Rp. 3.000/orang Rp. 2.000/orang Rp. 1.000/orang Pasar Kelas III

(Kampung) a. Los - Semi Permanen - Permanen b. Kios

c. Pelataran d. Fasilitas MCK

- Mandi

- Buang Air Besar - Buang Air Kecil

Rp. 1.000/Hari/m2 Rp. 1.500/Hari/m2 Rp. 2.000/Hari/m2 Rp. 1.000/Hari/m2 Rp. 2.000/orang Rp. 2.000/orang Rp. 1.000/orang BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(27)

- 27 -

LAMPIRAN VI : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012 STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PEMERIKSAAN

ALAT PEMADAM KEBAKARAN

NO JENIS ISIAN KAPASITAS HARGA SATUAN

1 2 3 4 1 A. POWDER 1,2 Kg 501.000,00 1,5 Kg 511.500,00 2 Kg 522.500,00 3 Kg 544.500,00 3,5 Kg 550.000,00 4 Kg 572.000,00 4,5 Kg 596.200,00 6 Kg 759.000,00 9 Kg 914.100,00 10 Kg 1.010.900,00 12 Kg 1.232.000,00 20 Kg 5.621.000,00 25 Kg 6.974.000,00 30 Kg 8.459.000,00 45 Kg 8.492.000,00 50 Kg 8.602.000,00 60 Kg 8.712.000,00 70 Kg 8.822.000,00 80 Kg 9.372.000,00 90 Kg 10.142.000,00 100 Kg 11.902.000,00 B. HALON 1,5 Kg 638.000,00 2 CO2 1,5 Kg 544.500,00 2 Kg 891.000,00 3 Kg 1.149.500,00 6 Kg 1.728.100,00 9 Kg 2.126.300,00 10 Kg 2.896.300,00 15 Kg 3.339.600,00 40 Kg 4.664.000,00 50 Kg 5.322.900,00 60 Kg 7.624.100,00 70 Kg 8.800.000,00 80 Kg 9.372.000,00 3 POWDER MEMBRAN 20 Kg 2.552.000,00 25 Kg 3.322.000,00 30 Kg 6.105.000,00 4 GRAFINER 9 Kg 1.342.000,00 BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si

(28)

- 28 -

untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya, a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA

KEPALA BAGIAN HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(29)

- 29 -

LAMPIRAN VII : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012 STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI BIAYA CETAK PETA A. JENIS PETA

1. Peta Kabupaten dengan ukuran :

AO (100 cm x 120 cm) Rp. 200.000,- A1 (100 cm x 60 cm) Rp. 300.000,- A2 (50 cm x 50 cm ) Rp. 200.000,- A3 (50 cm x 10 cm) Rp. 90.000,- A4 (25 cm x 30 cm) Rp. 70.000,- 2. Peta Distrik dan Kampung dengan ukuran :

A0 (100 cm x 120 cm) Rp. 500.000,- A1 (100 cm x 60 cm) Rp. 300.000,- A2 (50 cm x 50 cm) Rp. 200.000,- 3. Peta RTRW dengan ukuran :

A0 (100 cm x 120 cm) Rp. 500.000,- A1 (100 cm x 60 cm) Rp. 300.000,- 4. Peta RDTRK dengan ukuran :

A0 (100 cm x 120 cm) Rp. 500.000,- A1 (100 cm x 60 cm) Rp. 300.000,- 5. Peta RUTRK dengan ukuran :

A0 (100 cm x 120 cm) Rp. 500.000,- A1(100 cm x 60 cm) Rp. 300.000,- 6. Peta RTRK dengan ukuran :

A0 (100 cm x 120 cm) Rp. 500.000,- A1 (100 cm x 60 cm) Rp. 300.000,- B. PROSES DIGITASI PETA

1. Ukuran Peta Topografi/Rupa Bumi Rp. 400.000/file (60 cm x 60 cm minimal 5 layer)

2. Tambahan perlayer Rp. 100.000/file 3. Editing peta yang sudah ada Rp. 100.000/file C. COPY PETA DIGITAL PETA DASAR

1. Peta Kabupaten, Skala 1 : 100.000 Rp. 350.000/keping atau Peta 1 : 50.000 atau Peta 1 : 25.000 (CD ROM) Rp. 200.000/keping 2. Peta Skala 1 : 10.000 atau Peta 1 : 5.000 (CD ROM) Rp. 200.000/keping 3. Peta Tematik dan Turunan (CD ROM) Rp. 150.000/keping

BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si

untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya, a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA

KEPALA BAGIAN HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN,

(30)

- 30 -

PEMBINA

NIP 196309061993031005

LAMPIRAN VIII : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012 STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PENYEDOTAN KAKUS

a. Septic tank ukuran s/d 3 m3 Rp. 350.000,-

b. Septic tank ukuran lebih dari 3 m3 s/d 6 m3 Rp. 550.000,-

c. Septic tank ukuran lebih dari 6 m3 s/d 9 m3 Rp. 1.200.000,-

d. Septic tank ukuran > 9 m3 Rp. 1.700.000,-

BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(31)

- 31 -

LAMPIRAN IX : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR 8 TAHUN 2012

TANGGAL 20 NOVEMBER 2012 STRUKTUR DAN BESAR TARIF RETRIBUSI

PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR

NO JENIS PELAYANAN TARIF (Rp)

1 2 3 1 2 3 4 Uji pertama

a. Mobil barang, head tractor, kereta gandengan/ tempelan dan kendaraan khusus

b. Mobil bus

c. Mobil penumpang umum Uji berkala

a. Mobil barang, head tractor, kereta gandengan/tempelan dan kendaraan khusus b. Mobil bus

c. Mobil penumpang umum Kelengkapan administrasi pengujian

a. Buku uji b. Tanda uji

c. Tanda samping kendaraan (cat/striker) d. Formulir

Pemeriksaan teknis kendaraan bermotor a. Mobil barang, head tractor, kereta

gandengan/tempelan dan kendaraan khusus b. Mobil bus

c. Mobil penumpang umum d. Sepeda motor 90.000,- 85.000,- 70.000,- 70.000,- 60.000,- 65.000,- 20.000,-/buku 15.000,-/pasang 30.000,-/sekali 5.000,-/lembar 30.000,-/sekali 25.000,-/sekali 25.000,-/sekali 20.000,-/sekali BUPATI JAYAPURA, ttd.

MATHIUS AWOITAUW, SE., M.Si untuk salinan yang sah sesuai dengan aslinya,

a.n. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN JAYAPURA KEPALA BAGIAN HUKUM DAN

PERUNDANG-UNDANGAN,

T R I O N O, S.H. PEMBINA

(32)

- 32 -

LAMPIRAN X : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JAYAPURA NOMOR TAHUN 2012

TANGGAL

1. TARIF RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI PUSKESMAS DAN JARINGANNYA NO JENIS PELAYANAN JASA SARAN A (Rp) JASA PELAYANA N (Rp) JASA MEDIK (Rp) TOTAL BIAYA (Rp) 1 2 3 4 5 6

I Pelayanan Rawat Jalan

1. Kunjungan gawat darurat - Perawatan luka/Debridement - Perawatan tind. Bedah ringan luka - Tindik daun telinga per-orang - Sirkumsisi pria plus pewt 1 minggu - Insisi abses

- Perawatan Luka robek jahit 1-5 bh - Perawatan Luka robek jahit >5 bh - Tindakan ekstraksi per-kuku

- Perawatan Luka Bakar derajat I-II (25%) - Perawatan Luka Bakar derajat I-II (25-50%) 1.000,- 5.000,- 1.000,- 10.000 ,- 1.000,- 3.000,- 5.000,- 1.000,- 1.000,- 2.000,- 2.000,- 10.000,- 4.000,- 30.000,- 4.000,- 5.000,- 10.000,- 4.000,- 4.000,- 8.000,- 3.000,- 15.000,- 5.000,- 60.000,- 5.000,- 7.000,- 15.000,- 15.000,- 10.000,- 20.000,- 6.000,- 30.000,- 10.000,- 100.000,- 10.000,- 12.000,- 30.000,- 20.000,- 15.000,- 30.000,- II Pelayanan Pertolongan Persalinan

1. Pertolongan Persalinan Normal 2. Pertolongan Persalinan di rumah

3. Pertolongan Persalinan dengan Penyulit 4. Perawatan Ibu dan Anak

25.000 ,- - 25.000 ,- 5.000,- 25.000,- - 25.000,- 10.000,- 450.000, - 500.000, - 600.000, - 15.000,- 500.000,- 500.000,- 650.000,- 30.000,-

III Pelayanan Rawat Inap

Paket (Akomodasi, tindakan dan jasa) 6.000,- 24.000,- 30.000,- 60.000, IV Pelayanan Polik di Polik gigi

1. Pembersihan Karang gigi 2. Perawatan Radang gigi 3. Penambalan gigi 4. Pencabutan gigi

5. Pencabutan gigi dengan komplikasi 6. Penambalan gigi tertanam

7. Perawatan Pengobatan Urat Syaraf

2.000,- 1.000,- 2.000,- 1.000,- 3.000,- 2.000,- 1.000,- 4.000,- 2.000,- 4.000,- 4.000,- 7.000,- 8.000,- 2.000,- 15.000,- 3.000,- 10.000,- 5.000,- 20.000,- 10.000,- 3.000,- 21.000,- 6.000,- 16.000,- 10.000,- 30.000,- 20.000,- 6.000,- V Pelayanan Pemberian Oksigen 1.000,- 4.000,- 5.000,- 10.000,- VI Pelayanan Laboratorium

1. Pemeriksaan Golongan Darah

(33)

- 33 -

3. Pemeriksaan Haemoglubin Darah

4. Pemeriksaan Malaria 1.000,- 1.000- 2.000,- 2.000,- 3.000,- 3.000,- 6.000,- 6.000,- VII Pengujian Kesehatan

1. Kesehatan Pelajar/lanjut Pendidikan 2. Kesehatan Karyawan /Pekerjaan 3. Kesehatan Haji

4. Kesehatan Pengurusan SIM

1.000- 1.000,- 1.000,- 1.000,- 1.000,- 4.000,- 4.000,- 2.000,- 3.000,- 15.000,- 10.000,- 5.000,- 5.000,- 20.000,- 15.000,- 8.000,- VIII Pelayanan Rujukan/Ambulans ke RSUD

1. Dari Puskesmas Sentani/Harapan 2. Dari Puskesmas Dosay/Kanda 3. Dari Puskesmas Depapre/Kemtuk 4. Dari Puskesmas Sawoi/Namblong 5. Dari Puskesmas Genyem/Nimbokrang 6. Dari Puskesmas Demta/Unurumguay 7. Dari Puskesmas Yapsi/Gresi Selatan 8. Dari Puskesmas Lereh

9. dari Puskesmas Yokari/Ravenirara 10. Dari Puskesmas Ebungfauw 11. Dari Puskesmas Airu/Pagai/Aurina

1.000,- 2.000,- 2.000,- 4.000,- 4.000,- 5.000,- 6.000,- 7.000,- 10.000 ,- 4.000,- 10.000 ,- 99.000,- 150.000,- 198.000,- 347.000,- 347.000,- 495.000,- 594.000,- 693.000,- 990.000,- 396.000,- - - - - - - - - - - - - 100.000,- 152.000,- 200.000,- 351.000,- 351.000,- 500.000,- 600.000,- 700.000,- 1.000.000, - 400.000,- - 2. PELAYANAN KESEHATAN DI RSUD YOWARI

A. RAWAT JALAN N O JENIS PELAYANAN JASA SARAN A JASA PELAYAN AN

JASA MEDIK JUMLAH RETRIBU

SI Umum/

Gigi Spesialis 1

Rawat Jalan Standar

Konsultasi dokter umum/Gigi - - 9.000 - 9.000 Konsultasi Spesialis - - - 25.000 25.000 2 Rawat Jalan Khusus

Konsultasi spesialis dalam

jam kerja - - - 50.000 50.000

Konsultasi Spesialis di luar

jam kerja - - - 100.000 100.000 B. RAWAT DARURAT

NO JENIS PELAYANAN SARANA JASA PELAYANAJASA N JASA MEDIK RETRIBUSI UMUM SPESIALIS 1 Konsul spesialis (djk) 40.000 40.000 2 Konsul Spesialis (ljk) 80.000 80.000 C. Rawat Inap

NO JENIS PELAYANAN JASA SARANA dan AKOMODASI JASA PELAYANA N JASA MEDIK Retribusi Umum Spesialis 1 2 3 4 5 6 7 1 Kelas III

(34)

- 34 -

(djk)

Visite luar jam kerja (ljk) 56.000 56.000 2 Kelas II

Visite dalam jam kerja (djk) 60.000 27.000 19.000 44.000 150.000 Visite luar jam kerja (ljk) 88.000 88.000

3 Kelas I

Visite dalam jam kerja(djk) 80.000 36.000 - 84.000 200.000 Visite luar jam kerja (ljk) 168.000 168.000

4 Kelas V.I.P

Visite dalam jam kerja(djk) 120.000 54.000 - 126.000 300.000 Visite luar jam kerja (ljk) 252.000 252.000

5 Intermediate/HCU 84.000 40.000 124.000

(35)

- 35 -

1 2 3 4 5 6 7

Visite spesialis (djk) 100.000 100.000 Visite spesialis (ljk) 200.000 200.000

1) Rawat Inap di ruang Intensive (ICU, NICU, PICU, ICCU)

NO JENIS PELAYANAN JASA SARANA dan AKOMODASI JASA PELAYANAN JASA MEDIS TOTAL UMUM SPESIALIS 1 Kelas III Visite dalam jam

kerja (djk) 120.000 54.000 - 126.000 300.000 Visite luar jam kerja

(ljk) 252.000 252.000

z Kelas II

Visite dalam jam

kerja (djk) 120.000 54.000 - 126.000 300.000 Visite luar jam kerja

(ljk) 252.000 252.000

3 Kelas I

Visite dalam jam

kerja (djk) 225.000 78.750 - 146.000 450.000 Visite luar jam kerja

(ljk) 292.500 292.500

4 Kelas VIP Visite dalam jam

kerja (djk) 250.000 87.500 - 162.500 500.000 Visite luar jam kerja

(ljk) 325.000 325.000

5 Dari UGD

Langsung Masuk Visite dalam jam

kerja (djk) 120.000 54.000 - 126.000 300.000 Visite luar jam kerja

(ljk) 252.000 252.000

2) Rawat inap per hari di ruang intensif (ICU, NICU, PICU, ICCU) yang berasal dari ruangan kelas III disamakan dengan tarif kelas II. 3) Keterangan : djk = dalam jam kerja; ljk = luar jam kerja

D. Tindakan Medik Operatif

NO PELAYANAN JENIS SARANA JASA PELAYANAN JASA Jasa medik Jasa Medik/Anastesi Retribusi Jumlah Anastesi A T. OPERATIF SEDERHANA 1 Kelas III 20.000 10.000 25.000 55.000 2 Kelas II 20.000 20.000 45.000 85.000 3 Kelas I 20.000 25.000 65.000 110.000 4 V.I.P 35.000 45.000 95.000 175.000 B T.OPERATIF SEDANG 1 Kelas III 25.000 15.000 45.000 85.000 2 Kelas II 25.000 35.000 65.000 125.000 3 Kelas I 30.000 50.000 100.000 180.000 4 V.I.P 45.000 75.000 120.000 240.000

(36)

- 36 -

C T.OPERATIF BESAR 1 Kelas III 35.000 25.000 120.000 180.000 2 Kelas II 40.000 30.000 150.000 220.000 3 Kelas I 45.000 50.000 280.000 375.000 4 V.I.P 50.000 75.000 650.000 775.000 D T. OPERATIF KHUSUS 1 Kelas III 75.000 150.000 550.000 775.000 2 Kelas II 150.000 200.000 750.000 1.150.000 3 Kelas I 175.000 250.000 950.000 1.175.000 4 V.I.P 200.000 350.000 1.500.000 2.050.000 E T. OPERATIF RINGAN 1 Kelas III 80.000 80.000 365.000 175.000 700.000 2 Kelas II 160.000 100.000 565.000 250.000 1.075.000 3 Kelas I 350.000 250.000 750.000 350.000 1.700.000 4 V.I.P 400.000 350.000 1.500.000 750.000 3.000.000 F T.OPERATIF SEDANG 1 Kelas III 150.000 125.000 650.000 325.000 1.250.000 2 Kelas II 200.000 200.000 975.000 475.000 1.850.000 3 Kelas I 400.000 300.000 1.350.000 650.000 2.700.000 4 V.I.P 650.000 450.000 2.150.000 1.050.000 4.300.000 G T.OPERATIF BESAR 1 Kelas III 300.000 200.000 1.150.000 550.000 2.200.000 2 Kelas II 400.000 250.000 1.450.000 700.000 2.800.000 3 Kelas I 450.000 350.000 1.850.000 900.000 3.550.000 4 V.I.P 750.000 500.000 2.550.000 1.250.000 5.050.000 H T.OPERATIF KHUSUS 1 1 Kelas III 350.000 250.000 1.350.000 650.000 2.600.000 2 Kelas II 400.000 350.000 1.650.000 800.000 3.200.000 3 Kelas I 650.000 550.000 2.350.000 1.150.000 4.700.000 4 V.I.P 950.000 700.000 3.450.000 1.700.000 6.800.000 I T.OPERATIF KHUSUS 2 1 Kelas III 750.000 650.000 2.650.000 1.300.000 5.350.000 2 Kelas II 800.000 750.000 2.950.000 1.450.000 5.950.000 3 Kelas I 1.200.000 950.000 4.850.000 2.425.000 9.425.000 4 V.I.P 2.100.000 1.500.000 6.650.000 3.300.000 13.650.000

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :