KEANEKARAGAMAN SERANGGA SEBAGAI POTENSI PAKAN ALAMI KUKANG SUMATERA (Nycticebus coucang) DI KAWASAN
HUTAN LINDUNG BATUTEGI KABUPATEN TANGGAMUS, LAMPUNG
(Skripsi)
Oleh
Mustika Dwihandayani
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG 2017
ABSTRAK
KEANEKARAGAMAN SERANGGA SEBAGAI POTENSI PAKAN ALAMI KUKANG SUMATERA (Nycticebus coucang) DI KAWASAN
HUTAN LINDUNG BATUTEGI KABUPATEN TANGGAMUS, LAMPUNG
Oleh
MUSTIKA DWIHANDAYANI
Hutan Lindung Batutegi merupakan kawasan hutan yang digunakan sebagai salah satu lokasi pelepasliaran satwa yang dilindungi termasuk kukang sumatera (Nycticebus coucang) oleh YIARI. Kukang tergolong hewan omnivora dan serangga merupakan salah satu pakan asal hewan yang disukai kukang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga sebagai pakan alami kukang sumatera di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Lampung guna menunjang konservasi kukang sumatera. Pengambilan sampel dilakukan pada dua habitat, yaitu kebun dan hutan sekunder dengan teknik purposive sampling menggunakan metode jelajah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2016 dengan menggunakan perangkap cahaya (light trap, light sheet) untuk serangga nocturnal dan jala ayun (sweep net) untuk serangga diurnal. Serangga yang diperoleh sebanyak 63 famili dengan famili yang banyak
ditemukan yaitu famili Acrididae, Formicidae, Chrysomelidae, Tettiginidae, Gryllidae, dan Nymphalidae. Di kebun Talang Ajir didapatkan 52 famili dan di hutan sekunder 44 famili, sedangkan di kebun Talang Kadum didapatkan 32 famili dan di hutan sekunder 35 famili. Indeks keanekaragaman pada Talang Ajir termasuk dalam ketegoti tinggi (3,04) sedangkan pada Talang Kadum termasuk dalam kategori sedang (2,72) dengan masing-masing nilai indeks kemerataannya sebesar 0,42 yang termasuk dalam kategori sedang. Indeks similaritas serangga Talang Ajir dan Talang Kadum sebesar 81,13 dengan indeks ketidaksamaan sebesar 18,87 maka kedua lokasi memiliki kesamaan famili serangga yang tinggi. Talang Ajir lebih berpotensi sebagai lokasi pelepasliaran kukang (Nycticebus
coucang) ditunjukkan dari lebih banyaknya famili serangga pakan kukang yang
ditemukan, dan lokasi hutan lebih baik dari pada kebun karena tidak adanya famili yang mendominasi dan penyebaran serangganya lebih merata.
______
Kata kunci: keanekaragaman, KPHL Batutegi, kukang sumatera (Nycticebus
KEANEKARAGAMAN SERANGGA SEBAGAI POTENSI PAKAN ALAMI KUKANG SUMATERA (Nycticebus coucang) DI KAWASAN
HUTAN LINDUNG BATUTEGI KABUPATEN TANGGAMUS, LAMPUNG
Oleh
Mustika Dwihandayani
SkripsiSebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA SAINS
Pada Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG 2017
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Mustika Dwihandayani dilahirkan pada 19 November 1994 di Desa Margorejo Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan. Anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Sukirno dan Ibu Mintarsih (Alm).
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD N 2 Margodadi pada tahun 2006. Pendidikan dilanjutkan dengan pendidikan tingkat pertama di SMP N 2 Jati Agung yang diselesaikan pada tahun 2009. Pendidikan tingkat atas dilanjutkan di SMA YP UNILA Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2012.
Tahun 2012 penulis terdaftar sebagai mahasiswi Biologi FMIPA melalui jalur Ujian Mandiri (UM) di Universitas Lampung. Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif dalam beberapa organisasi yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA sebagai anggota departemen HLPM (Hubungan Luar dan Pengabdian Masyarakat) pada periode 2013-2014 dan sekretaris departemen KP (Kebijakan Publik) periode 2014-2015 dalam masa jabatan setengah periode, Rohani Islam FMIPA sebagai anggota bidang SBM (Sosial Budaya Masyarakat) periode
2012-2014, dan Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) sebagai anggota bidang Ekspedisi periode 2012-2015. Penulis juga berperan akttif dalam organisasi luar kampus yaitu FK3I (Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia) Lampung sebagai anggota periode 2013-2015 dan sebagai kepala bidang DANUS (Dana dan Usaha) periode 2016 hingga sekarang.
Penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Entomologi, Ekologi, Ornitologi dan Biologi Umum Pertanian di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sukajaya SP 2 Kecamatan Gunung Agung Tulang Bawang Barat tahun 2015. Penulis melaksanakan Kerja Praktik di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Bogor pada tahun 2016 dengan judul Tingkah Laku Makan Kukang (Nycticebus sp.) Di Pusat Rehabilitasi Primata Yayasan Inisiasi Alam
Rehabilitasi Indonesia (PRP-YIARI), Ciapus, Bogor. Pada bulan Agustus 2016 - Desember 2016 penulis melaksanakan penelitian bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam dan Rehabilitasi Indinesia (YIARI) dan KPHL
Batutegi dengan penelitian yang berjudul “Keanekaragaman Serangga Sebagai Potensi Pakan Alami Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) Di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Kabupaten Tanggamus, Lampung ” dan hasil dari penelitian tersebut telah di publikasikan di Seminar Nasional & Workshop Penulisan Artikel Ilmiah “Tantangan dan Strategi Pengelolaan Serangga di Era Globalisasi” Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) Cabang Bandung di Universitas Padjadjaran Bandung.
PERSEMBAHAN
Puji syukur kepada ALLAH SWT yang selalu memberikan nikmat-Nya dalam hidupku dalam menyelesaikan skripsi ini.
Ku Persembahkan karya ini sebagai tanda bukti, terimakasihku, dan cinta kasih yang terdalam kepada orang-orang yang telah berjasa
dalam hidupku.
Bapakku tercinta yang telah mencurahkan kasih sayang dan pengorbanannya dengan tulus ikhlas serta doa yang tak pernah putus demi kebahagiaan dan keberhasilan anaknya, I LOVE YOU
DAD, You are my hero. Maafkan aku yang baru hanya bisa memberikan karya kecil ini, semoga Allah selalu melindungimu dan
memberimu kesehatan, Amin. Terimakasih untuk semua yang diberikan kepadaku atas doa, kasih sayang, dukungan, semangat,
cinta, bimbingan, didikan, semuanya.
Terimakasih kepada Almarhum Mamakku tercinta yang telah memberikan doa, kasih sayang, cinta, nasehat, didikan, arahan,
ajaran dan semuanya. Aku yakin Mamak pasti senyum dan mendoakanku dari surga-Nya, terimakasih telah merawat dan menemani ku selama perjalanan hidupmu, I MISS YOU MAMAK.
Kepada Mbak, Adik, Kakakku yang selalu mendukung dan mengingatkanku akan tanggung jawabku kedepan. Kebahagiaan tiada tara telah diberi keluarga yang luar biasa, keluarga yang kuat
dan saling mendukung. Terimakasih.
Bapak-Ibu Dosen dan Bapak-Ibu Guru
Terimakasih atas pengetahuan dan budi pekerti yang telah membuat saya mandiri dan dewasa.
Saudara dan sahabat tercinta yang senantiasa memberi semangat, bantuan, canda tawa, suka duka, hiburan dan dukungannya.
dan
MOTTO
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyu’
(QS. Al-Baqarah/2:45)
Allah punya cara lain ngasih jalan, jadi jalani saja yang ada.
Semangat !
(Iman Zenit)
“Barang siapa menginginkan kebahagiaan didunia dan diakhirat
maka haruslah memiliki banyak ilmu”
(HR. Ibnu Asakir)
“Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis”
(Aristoteles)
“Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live
forever” (Mahatma Gandhi)
“Jika Anda memiliki sebuah mimpi yang sangat indah, maka ingatlah
bahwa Tuhan memberikanmu kekuatan untuk membuatnya menjadi
nyata”
(Deddy Corbuzier)
“Belajar dari hari kemarin, hidup untuk hari ini, dan berharap untuk
besok” (Albert Einstein)
SANWACANA
Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Keanekaragaman Serangga Sebagai Potensi Pakan Alami Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) Di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Kabupaten Tanggamus Lampung”. Ucapan terimakasih dan penghargaan sebesar-besarnya penulis tujukan kepada semua pihak yang
membantu sejak memulai kegiatan sampai terselesaikan skripsi ini, ucapan tulus penulis sampaikan kepada:
1. Orang tua dan keluarga tercinta terutama Bapak (Sukirno) dan Alm. Mamak (Mintarsih) tersayang, Mbak (Tari), Adik (Yayuk), kakak ipar (Berto), Ponakan (Maulana) dan Ibu Sambung (Yuli) yang telah mendoakan, mendukung dan memberikan semangatnya dari awal hingga nanti. 2. Ibu Nismah Nukmal, Ph.D., selaku Pembimbing I yang dengan sabar
membimbing, memberi perhatian, semangat, ilmu, arahan, ide, kritik, saran, motivasi dan nasehat, serta bersedia meluangkan waktunya untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Gina Dania Pratami, M.Si., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bantuan, arahan, bimbingan, saran, nasehat, perhatian, merelakan waktunya
untuk membimbing penulis, dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Jani Master, M.Si., selaku pembahas yang telah memberikan bantuan, masukan, kritik, saran, nasehat, dukungan, bimbingan, dan merelakan
waktunya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Indah Winarti, M.Si., selaku Pembimbing dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor yang telah memberikan perhatian dan pengalaman, merelakan waktunya untuk membimbing penulis, dan
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang telah
memberikan kesempatan bagi penulis mendapatkan pengalaman dan fasilitas selama penulis melakukan penelitian.
7. Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Batutegi yang telah
memberikan kesempatan bagi penulis mendapatkan pengalaman dan fasilitas selama penulis melakukan penelitian.
8. Ibu Dra. Nuning Nurcahyani, M.Sc., sebagai Pembimbing Akademik sekaligus Ketua Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung atas dukungan, nasehat, arahan, dan berbagi ilmunya pada penulis dalam menempuh pendidikan di Jurusan Biologi.
9. Bapak Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D., selaku Dekan FMIPAUniversitas Lampung.
10. Bapak-Ibu Dosen dan Bapak-Ibu Guru yang telah membagi ilmunya dan mendidik penulis sampai sekarang.
11. Staff dan Laboran Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung atas ilmu dan pengalaman yang telah diberikan kepada penulis.
12. Idris, Ayun, Pakde dan Bude Salimun serta seluruh staff YIARI Batutegi yang telah membantu penulis selama penelitian.
13. Wak Mursid, Mas Muhidin (Bobby) YIARI dan seluruh Kukang Crew YIARI Bogor yang telah memberikan bantuan, bimbingan, ilmu, dorongan dan semangat serta canda tawa.
14. Keluarga Biologi 2012, Kakak Tingkat Angkatan 2010 dan 2011, serta Adik Tingkat Angkatan 2013, 2014, 2015, dan 2016 terimakasih atas kebersamaan, keceriaan, dan suka duka selama ini.
15. Seluruh Wadya Balad HIMBIO yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih atas semangat dan dukungannya.
16. Almamater tercinta Universitas Lampung.
Semoga ALLAH SWT membalas kasih sayang kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Wassalamualaikum wr.wb.
Bandar Lampung, Agustus 2017 Penulis,
DAFTAR ISI Halaman RIWAYAT HIDUP ... i PERSEMBAHAN ... iii MOTTO ... v SANWACANA ... vi DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Penelitian ... 4
C. Manfaat Penelitian ... 4
D. Kerangka Penelitian ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Biologi Serangga ... 7
1. Morfologi dan Anatomi Serangga ... 8
2 Habitat dan Peran Serangga ... 11
3. Serangga Pakan Kukang ... 12
B. Biologi Kukang Sumatera (Nycticebus coucang)... 14
1. Taksonomi Kukang ... 14
2. Morfologi Kukang ... 15
3. Masa Aktif Kukang ... 18
4. Aktifitas Makan Kukang ... 18
5. Habitat dan Daerah Jelajah Kukang ... 20
III. METODE PENELITIAN ... 25
A. Waktu dan Tempat ... 25
B. Bahan dan Alat ... 26
C. Metode Penelitian ... 27 D. Pelaksanaan Penelitian ... 28 1. Tahap Persiapan ... 28 2. Pengambilan Sampel ... 31 3. Identifikasi Sampel... 34 E. Analisis Data ... 35
F. Diagram Alir Penelitian ... 38
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 39
A. Keanekaragaman Serangga di Kebun dan Hutan di Lokasi Talang Ajir dan Talang Kadum ... 39
B. Indeks Keanekaragaman (Hꞌ), Indeks Kemerataan (E), Indeks Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas (ID) Serangga Pakan Kukang Pada Masing-Masing Lokasi ... 50
C. Keanekaragaman Berdasarkan Jenis Perangkap yang Digunakan ... 60
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 62
A. Kesimpulan ... 62 B. Saran ... 63 DAFTAR PUSTAKA ... 64 LAMPIRAN ... 69 Tabel 5-20 ... 69 Gambar 20-22 ... 98
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman 1. Ordo dan famili serangga yang ditemukan di kebun dan hutan pada
lokasi Talang Ajir danTalang Kadum di Kawasan Hutan Lindung
Batutegi Tanggamus ... 40 2. Famili serangga yang mendominasi kebun dan hutan di lokasi
Talang Ajir dan Talang Kadum ... 44 3. Indeks kesamaaan (IS) dan indeks ketidaksamaan (ID) antara Talang
Ajir dan Talang Kadum, kebun dan hutan di Talang Ajir serta kebun dan hutan di Talang Kadum ... 57 4. Persentase perolehan ordo serangga dengan menggunakan perangkap
sweep net, light sheet, dan light trap ... 60 5. Nilai KR (%) dan jumlah serangga yang ditemukan di kebun Talang
Ajir ... 69 6. Nilai KR (%) dan jumlah serangga yang ditemukan di hutan Talang
Ajir ... 71 7. Nilai KR (%) dan jumlah serangga yang ditemukan di kebun Talang
Kadum ... 73 8. Nilai KR (%) dan jumlah serangga yang ditemukan di hutan Talang
Kadum ... 75 9. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ) dan Indeks
Kemerataan (E) serangga di kebun Talang Ajir ... 77 10. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ) dan Indeks
Kemerataan (E) serangga di Talang Kadum ... 79 11. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ) dan Indeks
12. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ) dan Indeks
Kemerataan (E) serangga di hutan Talang Ajir ... 83
13. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ) dan Indeks Kemerataan (E) serangga di kebun Talang Kadum ... 85
14. Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ) dan Indeks Kemerataan (E) serangga di hutan Talang Kadum ... 87
15. Famili-famili yang ditemukan pada masing-masing lokasi ... 89
16. Kesamaan famili serangga antara Talang Ajir dan Talang Kadum .. 90
17. Jumlah serangga yang tertangkap (%) menggunakan Perangkap sweep net, light trap dan light sheet ... 92
18. Suhu, kelembaban dan cuaca pada Talang Ajir ... 94
19. Suhu, kelembaban dan cuaca pada Talang Kadum ... 95
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Tujuh ordo penting yang mendominasi ... 8
2. Morfologi dan anatomi serangga secara umum ... 9
3. Ciri morfologi kukang sumatera (Nycticebus coucang) ... 16
4. Perilaku makan dan minum Loris sp. ... 19
5. Peta penetapan wilayah KPHL model batutegi ... 22
6. Lokasi penelitian Talang Ajir dan Talang Kadum di kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Lampung ... 25
7. Titik lokasi pengambilan sampel serangga di Talang Ajir dan Talang Kadum dalam kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Lampung ... 29
8. Jala Ayun (sweep net) ... 30
9. Perangkap cahaya (light trap) ... 31
10. Tehnik penggunaan sweep net ... 32
11. Pemasangan light trap ... 33
12. Pemasangan light sheet ... 34
13. Diagram alir penelitian ... 38
14. Kondisi habitat tempat pengambilan sampling. A) Talang Ajir, B) Talang Kadum (kiri kebun, kanan hutan) ... 43
15. Persentase serangga yang ditemukan di kebun dan hutan pada lokasi Talang Ajir dan Talang Kadum di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus ... 49
16. Indeks keanekaragaman (Hꞌ) dan indeks kemerataan (E) serangga pada Talang Ajir dan Talang Kadum di Kawasan Hutan Lindung
Batutegi Tanggamus ... 51
17. Indeks keanekaragaman (Hꞌ) dan indeks kemerataan (E) serangga di kebun dan hutan pada Talang Ajir dan Talang Kadum di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus ... 52
18. Rata-rata suhu (ºC) dan kelembaban (%) pada lokasi kebun dan hutan di Talang Ajir dan Talang Kadum. A) Rata-rata suhu (ºC), B) Rata-rata kelembaban (%) ... 55
19. Persentase ordo serangga pakan kukang di kebun dan hutan pada lokasi Talang Ajir dan Talang Kadum di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus ... 59
20. Ordo dan famili serangga pakan kukang yang ditemukan ... 98
21. Alat-alat yang digunakan ... 99
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelas insekta merupakan anggota terbanyak dari filum Arthropoda dan merupakan hewan yang dominan di muka bumi, kira-kira mencapai 90 % dan diperkirakan terdapat 30 juta spesies (Hadi et al., 2009). Lebih dari 800.000 spesies serangga sudah diketahui (Borror et al., 2005). Serangga telah hidup di bumi sekitar 350 juta tahun, dibandingkan manusia yang kurang dari 2 juta tahun lalu (Borror et al., 1992). Fosil serangga tertua berasal dari Periode Devonium sekitar 416 juta tahun lalu (Campbell et al., 2012).
Serangga dapat ditemukan dimana saja, mereka hidup dihampir semua habitat darat, perairan tawar, dan udara. Serangga jarang ditemukan di habitat laut (Campbell et al., 2012).
Serangga memiliki kemampuan bereproduksi yang tinggi, pada beberapa jenis mampu menghasilkan lebih dari satu generasi dalam satu tahun. Selain itu, kemampuan terbangnya merupakan kunci sukses kelangsungan hidup serangga. Hewan yang dapat terbang mampu menghindari predator,
mencari makanan dan pasangan, serta menyebar ke habitat baru lebih cepat. Sehingga serangga memiliki keanekaragaman dan kemelimpahan yang tinggi (Campbell et al., 2012).
Keberadaan serangga sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam karena jumlahnya yang sangat banyak. Keberadaan serangga pada suatu tempat dapat dijadikan indikator biodiversitas, kesehatan suatu ekosistem, dan degradasi landscape. Dalam suatu ekosistem serangga terdapat peranan penting yakni sebagai dekomposer, polinator, predator dan parasitoid (pengendali hayati) (Untung, 2006). Menurut Borror et al., (1992) selain serangga dapat bersifat hama atau merusak, serangga juga sangat berperan dalam kehidupan manusia. Sehingga identifikasi serangga-serangga yang ada di Hutan Lindung Batutegi sangat penting untuk diteliti.
Salah satu satwa yang memanfaatkan serangga sebagai sumber pakan adalah kukang (Nycticebus coucang) (Nekaris dan Bearder, 2007). Supriatna (2000) menyatakan bahwa kukang mengkonsumsi binatang lain termasuk serangga sebesar 40% dari total makanan dan menurut Sinaga et al., (2010) jenis pakan asal hewan yang disukai kukang adalah serangga.
Kerusakan habitat dan tingginya perburuan dan perdagangan kukang menimbulkan ancaman yang serius terhadap kelestarian kukang (Nursahid dan Purnama, 2007). Keberadaan kukang yang semakin terancam membuat satwa ini berada pada status Apendiks I berdasarkan data Convention on
International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna
(CITES) (CITES, 2007). Berdasarkan data International Union for the
Conservation of Nature dan Natural Resources (IUCN) bahwa kukang
sumatera merupakan satwa liar yang berstatus vulnerable (rentan) (IUCN, 2013).
Mengingat status kukang yang begitu rentan, maka perlu dilakukan upaya pelestarian, salah satu lembaga yang mencoba melestarikan satwa tersebut adalah Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Fokus kegiatan yayasan ini 3R yakni Rescue (penyelamatan), Rehabilitation (rehabilitasi), dan Release (pelepasliaran) terutama kukang, monyet ekor panjang dan beruk (YIARI, 2015).
Salah satu lokasi pelepasliaran kukang oleh YIARI adalah Hutan Lindung Batutegi yang merupakan tipe hutan primer dan sekunder (Dishutprov Lampung, 2013). Lokasi pelepasliaran kukang di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, diantaranya berada di Way Rilau (YIARI dan Partner, 2013), Blok kali Jernih (Octavianata, 2014), dan Talang Ajir (YIARI, 2015). Salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam kegiatan pelepasliaran adalah mengkaji potensi sumber pakan pada lokasi pelepasliaran tersebut. Oleh sebeb itu penelitian tentang keanekaragaman serangga sebagai potensi pakan kukang di Kawasan Hutan Lindung Batutegi perlu dilakukan. Hasilnya akan dapat menjadi informasi yang membantu upaya pelestarian khususnya
pelepasliaran kukang kembali ke habitat menjadi lebih efektif.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui indeks keanekaragaman jenis serangga sebagai pakan alami kukang sumatera di lokasi pelepasliaran kukang sumatera di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Tanggamus, Lampung.
C. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jenis-jenis serangga sebagai pakan alami kukang di lokasi pelepasliaran kukang sumatera di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Tanggamus, Lampung. Selain itu, hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai data sekunder yang dapat dijadikan acuan dasar dalam pemilihan lokasi pelepasliaran kukang sumatera, guna menunjang konservasi satwa tersebut.
D. Kerangka Pemikiran
Serangga merupakan hewan yang dominan di muka bumi dan dapat ditemukan di hampir semua habitat. Serangga memiliki keanekaragaman yang tinggi dan mempunyai peran ekologi yang penting. Keberadaan serangga di suatu tempat dapat dijadikan indikator biodiversitas, kesehatan ekosistem, degradasi landscape, membantu proses penyerbukan dan sebagai sumber pakan.
Kukang merupakan primata nocturnal yang memakan beberapa jenis serangga yakni kumbang, semut, kupu-kupu, kepik, jangkrik, belalang, dan tonggeret.
Keberadaan kukang sumatera (Nycticebus coucang) di alam saat ini semakin menurun akibat tingginya tingkat perburuan, perdagangan, dan penyempitan habitat. Apabila keberadaan kukang dialam menurun, maka secara tidak langsung dapat menyebabkan peledakan populasi serangga karena kukang berperan sebagai konsumen. Sehingga konservasi kukang juga tidak dapat diabaikan demi menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh sebab itu, YIARI berupaya melestarikan satwa ini dengan melakukan penyelamatan,
rehabilitasi dan pelepasliaran.
Pelepasliaran kukang sumatera (Nycticebus coucang) oleh YIARI dilakukan di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Lampung. Lokasi
pelepasliran kukang diantaranya Talang Ajir dan Talang Kadum. Penelitian ini dilakukan untuk menginventarisasi serangga pakan kukang di lokasi tersebut. Pengambilan sampel dilakukan di kawasan hutan dan kebun menggunakan perangkat jala ayun (sweep net) dan perangkap cahaya (light
trap, light sheet). Serangga yang tertangkap akan diidentifikasi selanjutnya
dianalisis.
Dengan mengetahui keanekaragaman jenis serangga pakan kukang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jenis-jenis serangga
pakan kukang dan dapat membantu upaya pelestarian kukang khususnya pelepasliaran kukang kembali di Kawasan Hutan Lindung Batutegi menjadi lebih efektif serta dapat dijadikan indikator biodiversitas serangga dan kesehatan ekosistem Kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Lampung.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Biologi Serangga
Serangga atau insekta tergolong dalam filum Arthropoda (hewan beruas). Arthropoda terbagi menjadi 3 sub filum yaitu Trilobita, Mandibulata dan Chelicerata. Sub filum Mandibulata terbagi menjadi 6 kelas, salah satu di antaranya adalah kelas insekta (Hexapoda). Kelas Hexapoda atau insekta terbagi menjadi sub kelas Apterygota yang terbagi menjadi 4 ordo dan sub kelas Pterygota yang terbagi menjadi 2 golongan yaitu golongan
Exopterygota (golongan Pterygota yang metamorfosisnya sederhana) yang terdiri dari 15 ordo, dan golongan Endopterygota (golongan Pterygota yang metamorfosisnya sempurna) yang terdiri dari 3 ordo (Hadi et al., 2009).
Rahmat (2013) menyatakan lebih dari 800.000 spesies serangga sudah ditemukan dibumi dan sekitar 250.000 jenis terdapat di Indonesia. Terdapat 5.000 spesies bangsa capung (Odonata), 20.000 spesies bangsa belalang (Orthoptera), 170.000 spesies bangsa kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), 120.000 bangsa lalat dan kerabatnya (Diptera), 82.000 spesies bangsa kepik (Hemiptera), 360.000 spesies bangsa kumbang (Coleoptera), dan 110.000 spesies bangsa semut dan lebah (Hymenoptera). Jumlah yang banyak ini
menjadikan serangga sebagai kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda). Menurut Nukmal (2016) terdapat tujuh ordo serangga penting yang mendominasi kelas insekta (Gambar 1).
Gambar 1. Tujuh ordo penting yang mendominasi kelas insekta (Nukmal, 2016).
1. Morfologi dan Anatomi Serangga
Secara morfologi, serangga kurang lebih memanjang dan bentuknya seperti tabung dan setangkup bilateral. Panjang serangga berkisar 0,25 sampai 330 mm dan 0,5 sampai 300 mm dalam bentangan sayap. Tubuh serangga dewasa terbagi menjadi satu rentetan ruas, yaitu metamer, dan ruas-ruas ini di kelompokkan menjadi 3 bagian utama atau tagmata (tunggal tagma) yakni kepala (caput), dada (thorax), dan perut
(abdomen) (Gambar 2). Fungsi utama kepala sebagai penerima perasaan, Lepidoptera; 15% Diptera, 12% Coleoptera; 42% Hymenoptera; 15% Homoptera; 4% Hemiptera; 3% Orthoptera; 4% Lain-lain; 5% 8
perpaduan syaraf, dan mengumpulkan makanan. Thorax merupakan
tagma yang dapat bergerak dan terdapat tungkai serta sayap. Dalam
abdomen terdapat organ-organ dalam seperti sistem saluran pencernaan, ekskretoris, dan reproduksi (Borror et al., 1992).
Gambar 2. Morfologi dan anatomi serangga secara umum (Sarwoedi, 2007).
Kepala serangga berbentuk kapsul dan merupakan bagian yang kuat yang dilengkapi dengan alat mulut, antena, mata serta bagian dalamnya berisi otak yang terlindungi dengan baik (Hadi et al., 2009). Bagian-bagian kepala yang mengalami pengerasan atau skerotisasi disebut sklerit. Garis-garis yang membatasi sklerit disebut suture. Lapisan kutikula terdiri dari 3 lapisan primer, yaitu endokutikula, eksokutikula, dan epikutikula. Lapisan endokutikula dan eksokutikula tersusun dari bahan yang bersifat khitin, sedangkan epikutikula dari bahan nonkhitineus. Epikutikula merupakan lapisan yang impermeabel terhadap air, dapat
menjadi pelindung terhadap kekeringan, kelembaban yang tinggi dan infeksi (Hadi et al., 2009).
Bagian kepala terdapat sepasang antena yang beruas-ruas dan berpori yang berfungsi sebagai alat sensor. Bagian-bagian pada antena adalah
antenifer, soket, scape, pedicel, meriston, dan flagellum. Bentuk
serangga bervariasi tergantung masa stadiumnya. Mata pada serangga terdiri dari 2 macam yakni mata majemuk dan mata oseli. Mata
majemuk sebagai pendeteksi warna dan bentuk yang terdiri dari beberapa
ommatidia. Sedangkan mata oseli atau biasa disebut mata tunggal
sebagai pendeteksi intensitas cahaya (Rahmat, 2013).
Thorax adalah bagian yang menghubungkan antara caput dan abdomen. Thorax adalah tagma lokomotor tubuh, dan thorax mengandung
tungkai-tungkai dan sayap-sayap. Thorax terdiri dari tiga ruas yaitu ptothorax,
mesothorax, dan metathorax. Bagian dorsal thorax disebut tunggal notum atau nota (Borror et al., 1992). Kaki serangga dewasa berjumlah
tiga pasang dan bentuk nya bervariasi tergantung fungsinya, sedangkan pada fase pradewasa sangat bervariasi tergantung spesiesnya. Kaki serangga terdiri dari beberapa ruas yaitu trochantin, coxa, trochanter,
femur, tibia, tarsus, pretarsus, dan claw. Kaki yang digunakan untuk
melompat disebut saltatorial, menggali disebut fossorial, berlari disebut
kursorial, memegang mangsa disebut clasping, berjalan disebut gresorial
atau ambulatorial, menangkap mangsa disebut raptorial, dan berenang disebut natatorial (Rahmat, 2013).
Abdomen merupakan bagian tubuh yang terdapat alat pencernaan,
ekskresi, dan reproduksi (Borror et al., 1992). Abdomen serangga terdiri dari 11 segmen. Bagian dorsal yang mengalami sklerotisasi disebut
tergum dan skleritnya disebut tergit, bagian ventral atau sternum disebut sternit, dan bagian pada daerah lateral atau pleuron disebut pleurit (Hadi et al., 2009).
2. Habitat dan Peran Serangga
Campbell et al., (2012) menyebutkan bahwa serangga dapat ditemukan dimana saja, mereka hidup di hampir semua habitat darat dan di perairan tawar, serta di udara. Serangga juga dapat ditemukan di habitat laut. Menurut Sunarjo (1991) serangga dapat ditemukan di tanah, di bawah batu, pada kayu lapuk sebagai hama. Serangga sangat tertarik dengan tumbuh-tumbuhan yang biasanya digunakan sebagai tempat tinggal dan mencari makan. Bagian-bagian tumbuhan yang menarik serangga terdiri dari daun, batang, bunga, dan buah (Sastrodiharjo, 1984).
Manusia memperoleh manfaat dari serangga dengan banyak cara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tanpa serangga manusia tidak seperti sekarang. Menurut Borror et al., (1992) tanpa adanya serangga manusia tidak dapat merasakan berbagai macam sayuran, buah, kopi,
tembakau, bunga-bunga, daging, serta barang-barang bernilai ekonomi dan peradaban. Serangga memberikan madu, malam tawon, sutera dan banyak produksi lainnya.
3. Serangga Pakan Kukang
Berdasarkan hasil identifikasi dari feses kukang sumatera (Nycticebus
coucang) dewasa dan pradewasa ditemukan bahwa kukang memakan
enam jenis serangga yaitu kumbang (Coleoptera), semut (Hymenoptera), kupu-kupu dan ngengat (Lepidoptera), kepik (Hemiptera), jangkrik dan belalang (Orthoptera) (Wiens, 2002). Octavianata (2014) menyatakan kukang sumatera yang di lepasliarkan di Kawasan Hutan Lindung Batutegi memakan tonggeret (Homoptera).
Secara umum ciri-ciri ordo serangga pakan kukang sumatera (Borror dan White, 1970), (Siwi et al., 1991) dan (Hadi et al., 2009) adalah sebagai berikut :
1. Coleoptera
Memiliki ukuran tubuh kecil sampai besar. Sayap depan keras, tebal, menanduk, dan tidak ada venasi. Sayap belakang membraneus dan melipat di bawah sayap depan pada waktu istirahat, pada bagian costa nya agak keras. Antena umumnya berjumlah 11 segmen, jumlah tarsus umumnya 3 sampai 5 ruas, pada ujung tarsus terdapat
empodium.
2. Hymenoptera
Memiliki ukuran tubuh sangat kecil hingga besar. Mempunyai 2 pasang sayap seperti selaput, bervena sedikit, untuk yang berukuran sangat kecil hampir tidak mempunyai vena. Sayap depan lebih besar dari pada sayap belakang dan mempunyai sederetan kait-kait kecil yang terletak di margin anterior yang digunakan pada waktu terbang. Sayap bagian costa mempunyai tonjolan hitam (stigma). Antena mempunyai 10 ruas lebih. Betina mempunyai ovipositor yang
berkembang baik, beberapa jenis ovipositornya bermodifikasi menjadi alat sengat untuk pertahanan diri.
3. Lepidoptera
Memiliki ukuran tubuh kecil sampai besar. Mempunyai 2 pasang sayap yang tertutup bulu atau sisik. Antena agak panjang dan mulut pada larva bertipe penggigit dan pada dewasa bertipe penghisap. 4. Hemiptera
Memiliki ukuran tubuh sangat kecil hingga besar. Tubuh pipih dan memiliki antena panjang. Struktur tubuh dipenuhi bintik-bintik berwarna hitam atau merah. Untuk yang bersayap, pada bagian pangkal sayap menebal sedang ujungnya membraneus. Alat mulut bertipe cucuk yang muncul dari kepala. Tidak mempunyai cerci dan jumlah tarsus umumnya 2 sampai 3.
5. Orthoptera
Memiliki struktur venasi sayap sangat rumit dan struktur antena berambut. Kaki bagian femur dan tarsus mempunyai struktur seperti
duri-duri kecil pada bagian pinggir. Jumlah segmen pada antena lebih dari 11 dan jumlah tarsus umumnya 3 sampai 5.
6. Homoptera
Memiliki ukuran tubuh sangat kecil sampai besar. Untuk yang bersayap mempunyai 2 pasang sayap. Sayap depan seragam seperti selaput atau sedikit menebal dan sayap belakang juga seperti
membran. Struktur venasi sayap terdapat seperti titik-titik/bulatan-bulatan kecil. Antenanya pendek seperti bulu keras atau lebih panjang berbentuk filiform. Alat mulut bentuk cucuk, muncul dari belakang kepala. Mempunyai tarsus 1 sampai tiga ruas dan tidak mempunyai cerci. Kaki bagian femur mempunyai struktur seperti duri-duri kecil pada bagian pinggir.
B. Biologi Kukang Sumatera (Nycticebus coucang)
1. Taksonomi Kukang
Kukang (Nycticebus sp.) digolongkan dalam lima jenis, yaitu N. coucang yang tersebar di Semenanjung Malaya, Sumatera dan Kalimantan; N.
javanicus yang hanya ditemukan di Jawa; N. pygmaeus di Indocina,
Laos, Vietnam dan Kamboja; N. bengalensis di Kamboja, Cina, India, Laos, Myanmar dan Vietnam; N. menagensis di Brunei, Kalimantan, Malaysia (Sabah dan Serawak), Philipina (Ujung Selatan) (Nekaris dan Bearder, 2007).
Klasifikasi kukang sumatera menurut Supriatna (2000) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Primata Famili : Loridae Genus : Nycticebus
Species : Nycticebus coucang
Nama Lokal : Kukang sumatera (Indonesia) Kukang Api (Sumatera)
2. Morfologi Kukang
Jenis kukang di Indonesia memiliki kesamaan yakni berupa mata yang besar, namun memiliki perbedaan pada ukuran, berat, tanda garis pada muka. Secara umum, ukuran tubuh kukang pada setiap jenis itu sama. Kukang dewasa memiliki rambut yang tebal dan halus (Wiens, 2002).
Kukang sumatera (N. coucang) memiliki rambut coklat capucino hingga coklat muda, warna garis punggung warna pola garpu berbeda, pola garpu pangkal membaur, pola garpu berwarna coklat tua, coklat oranye, pola garpu alurnya tidak sampai pipi/dagu, warna tengkuk putih keabuan, ukuran tubuh 700-900 gram, panjang berkisar 25-28 cm, gigi seri atas
kadang 2 atau 1 pasang (Winarti, 2015). Secara morf\ologi, dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Ciri morfologi kukang sumatera (Nycticebus coucang) (Winarti, 2015).
Pada malam hari, keberadaan kukang dapat di deketahui lewat sorot matanya yang berwarna oranye terang. Dalam kondisi gelap mata kukang akan bersinar oranye yang disebabkan oleh lapisan di bagian belakang retina yang disebut tapetum lucidum. Lapisan ini berfungsi membantu penglihatan kukang pada saat malam hari (Schulze, 2003).
Kukang memiliki rhinarium yang terdapat pada moncong atau ujung hidung yang menyebabkan moncong kukang selalu basah dan lembab.
Rhinarium membantu penciuman kukang dalam mengenali jejak bau
yang ditinggalkan kukang lainnya. Rhinarium pada kukang tidak Tanda muka berwarna coklat Bentuk garpu membaur Rambut berwarna coklat cappuccino-coklat muda Garis dorsal gelap
memiliki rambut namun memiliki papila yang jelas dan kasar (Schulze, 2003).
Jari kaki belakang pada kukang terdapat kuku yang berbentuk seperti cakar yang dinamakan Toilet Claw yang digunakan untuk membersihkan diri (grooming) dan menggaruk badannya. Selain cakar, kukang juga menggunakan kedua gigi taring pada rahang bawahnya yang berbentuk seperti sisir untuk grooming dan makan (Tenaza, 1987).
Kukang memiliki kemampuan memanjat dan mencengkeram dahan pohon yang baik, sebab antara jari pertama dengan jari keduanya mempunyai jarak yang jauh dan tegak lurus. Sehingga hanya dengan kelima jarinya yang pendek, kukang dapat memanjat dan mencengkeram dahan pohon dengan baik (Nowak, 1999).
Lidah kukang berwarna putih dan agak tebal, dengan ujung lidah bergerigi (Tenaza, 1987). Kukang memiliki sekret berbisa yang berasal dari kelenjar brakhialis di bagian dalam sikunya. Sekret ini akan bercampur dengan air liur saat kukang menjilati bagian ketiaknya. Kukang menggunakan air liur berbisa ini untuk pertahanan terhadap pemangsa dimana induk kukang akan menyebarkan air liur berbisa ini pada anaknya dengan menggunakan gigi sisirnya (Alterman, 1995).
3. Masa Aktif Kukang
Kukang merupakan satwa nocturnal dan arboreal yang hidup
dipepohonan. Aktifitas kukang sumatera dilakukan paling awal 2 menit sebelum matahari terbenam dan berakhir 14 menit sebelum matahari terbit (Wiens, 2002). Aktifitas harian kukang mencapai 400 m/jam setiap malam. Aktifitas kukang dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Kukang cenderung menghindari kondisi gelap total dan sangat sedikit cahaya kecuali aktifitas makan dan menyelisik (Nekaris dan Bearder, 2007). Satwa ini aktif pada pukul 21.00-00.00 WIB di alam, sedangkan penurunan aktifitas secara drastis akan terjadi saat mulai terbitnya matahari (Nekaris, 2001). Sesuai pernyataan Octavianata (2014) bahwa kukang sumatera (Nycticebus coucang) hasil pelepasliaran YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) melakukan aktivitas di alam mulai terbenamnya matahari hingga beberapa saat sebelum terbit.
4. Aktifitas Makan Kukang
Kukang menghabiskan sebagian besar aktivitas hariannya untuk mencari makan (Rowe 1996; Wiens, 2002). Makan adalah aktivitas memasukkan makanan ke dalam mulut (Bottcher-Law et al., 2001). Persentase
aktivitas makan kukang hanya 12 % dari masa aktifnya (Wiens dan Zitzmann, 2003). Kukang termasuk hewan omnivora (pemakan segala). Pada umumnya, kukang memakan tumbuh-tumbuhan, tetapi jenis pakan
kukang yang lainnya yaitu buah-buahan, bunga, nektar, getah, telur burung serta burung kecil dan serangga (Nekaris dan Bearder, 2007).
Di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, kukang sumatera memakan 3 jenis sumber pakan yaitu buah, getah, dan serangga. Kukang sumatera lebih banyak memakan tonggeret dan sangat peka terhadap suara tonggeret yang di pohon-pohon yang kering atau sudah mati. Sehingga kukang sumatera lebih sering memanjat pohon-pohon kering atau sudah mati. Serangga yang didapat langsung dimakan secara perlahan mulai dari kepalanya, tetapi kukang tidak pernah memakan sayapnya (Octavianata, 2014).
Kukang memiliki cara tersendiri untuk perilaku minum. Selain dengan cara meminum langsung, kukang juga sering menggunakan tangannya untuk menggenggam air atau nektar (Gambar 4B dan 4C) (Fitch-Snyder
et al., 1999).
Gambar 4. Perilaku makan dan minum Loris sp. A) cara makan, B-C) cara minum (Fitch-Snyder et al. 1999).
5. Habitat dan Daerah Jelajah Kukang
Kukang sumatera dapat ditemui pada ketinggian 0-920 m dpl di atas permukaan laut (Supriatna, 2000). Kukang lebih menyukai habitat perifer (tepi) karena bagian inilah terdapat kelimpahan serangga dan faktor pendukung lainnya, habitat hutan hujan tropis, subtropis di dataran rendah dan dataran tinggi, hutan primer, hutan sekunder, hutan bakau, hutan bambu dan kadang-kadang ditemukan di perkebunan (Nekaris dan Shekelle, 2008).
Menurut Rinaldi (2015) di Kawasan Hutan Lindung Batutegi diketahui bahwa kukang pelepasliaran dan kukang liar memiliki preferensi ketinggian tumbuhan yang tidak berbeda nyata yaitu 9 meter untuk kukang pelepasliaran dan 8 meter untuk kukang liar. Sedangkan untuk tinggi posisi tidur pada kukang pelepasliaran dan kukang liar memiliki preferensi yang sama yaitu dengan ketinggian 7 meter. Tumbuhan yang paling sering digunakan sebagai tempat tidur oleh kukang liar sumatera yaitu bambu.
Octavianata (2014) menyatakan bahwa luas daerah jelajah kukang sumatera jantan hasil pelepasliaran di Hutan Lindung Batutegi blok kali jernih yaitu 6,64 ha dan betina 6,22 ha. Menurut Wiens (2002) daerah jelajah kukang jantan lebih luas serta mencakup sebagian dari daerah jelajah kukang betina dan anaknya. Daerah jelajah kukang jantan dewasa di hutan primer berkisar 3,8-4,0 ha dan kukang betina mencapai 0,8 ha.
Sedangkan pada hutan yang terdapat penebangan, luas daerah jelajah kukang jantan dewasa berkisar 5,6-8,9 ha dan pada kukang betina dewasa berkisar 4,1-4,8 ha. Serta daerah jelajah kukang jantan dewasa dipadang savana berkisar 19-25 ha, dan kukang betina dewasa mencapai 10,4 ha.
C. KPHL Batutegi Sebagai Lokasi Pelepasliaran Kukang YIARI
Secara geografis KPHL Batutegi terletak antara 104º27ꞌ-104º55ꞌ BT dan 05º48ꞌ-5º22ꞌ LS. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.650/Menhut-II/2010, KPHL Model Batutegi secara administratif berada di 4 kabupaten, yaitu Tanggamus, Lampung Barat, Lampung Tengah dan Pringsewu (Gambar 5), dengan luas Hutan Lindung Batutegi adalah ± 58.174 ha terdiri dari kawasan hutan seluas ± 35.711 Ha (82,28 %) dan areal penggunaan lainnya seluas ± 7.693 Ha (17,72 %). (Dishutprov Lampung, 2013).
Hutan Lindung merupakan kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan (KEMENLHK, 2012b). Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Hutan Lindung Batutegi merupakan tipe hutan primer dan sekunder. Hutan Lindung Batutegi merupakan bendungan atau waduk yang dibangun sejak tahun 1995-2003. Waduk Batutegi berlokasi di Desa Way Harong, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung. KPHL
Batutegi juga merupakan salah satu DAS (Daerah Aliran Sungai) prioritas di Provinsi Lampung yang berfungsi sebagai areal tangkapan air
(bendungan) (Dishutprov Lampung, 2013).
Gambar 5. Peta penetapan wilayah KPHL model batutegi (KEMENLHK, 2012a).
Areal KPHL Batutegi dibagi menjadi 6 resort yaitu Resort Banjaran, Batulima, Datar Setuju, Ulu Semung, Way Sekampung, dan Resort Way Waya, dimana masing-masing resort dikepalai oleh satu orang (Gambar 5). Areal KPHL Batutegi digarap oleh masyarakat yang terdiri dari 20
Gabungan Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (Gapoktan HKm) yang luasnya ± 35.000 ha dengan jumlah anggota > 5.000 orang. Sedangkan ±
10.000 ha dari areal KPHL Batutegi merupakan kawasan lindung sebagai lokasi pelepasliaran satwa (Dishutprov Lampung, 2013).
KPHL Batutegi bekerja sama dengan YIARI dalam menjaga sumber daya alam hayati. YIARI merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba, yang berkaitan dengan upaya penyelamatan, perlindungan, rehabilitasi (perbaikan dan peningkatan kesejahteraan satwa), serta reintroduksi / pelepasliaran satwa liar ke habitat alaminya. YIARI secara hukum mempunyai status sebagai sebagai Yayasan Indonesia yang tercatat pada Akta Notaris Nomor. 21 pada bulan Februari 2008, di Notaris Ny. Lanny Hartono SH di Bogor, dan terdaftar di Departemen Hukum dan Ham dengan Nomor AHU-2378.AH.01.02. Tahun 2008 (YIARI, 2016).
YIARI merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang penyelamatan dan konservasi satwa liar di Indonesia. YIARI berkembang sebagai
organisasi yang fokus pada upaya 3R+M yaitu rescue (penyelamatan),
rehabilitation (rehabilitasi), release (pelepasliaran) dan monitoring
(pemantauan satwa pasca pelepasliaran). YIARI mempunyai dua pusat rehabilitasi satwa yaitu Pusat Rehabilitasi Satwa YIARI Ciapus-Bogor yang fokus pada upaya penyelamatan dan rehabilitasi satwa kukang (Nycticebus
sp), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina) serta Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan YIARI
Ketapang, Kalimantan Barat khusus menangani orangutan (Pongo
pygmaeus) dan kukang kalimantan (N. menagensis). YIARI juga terlibat
dalam program pendidikan dan penyadartahuan kepada masyarakat untuk mempertahankan kelangsungan hidup satwa liar, melestarikan habitat dan meningkatkan kesejahteraan satwa liar (YIARI, 2015).
YIARI telah melakukan pelepasliaran sejak tahun 2009. Program
pelepasliaran satwa merupakan program melepasliarkan satwa hasil sitaan atau serahan sukarela dan dikembalikan ke alam setelah melalui tahap rehabilitasi. Kamis 15 Oktober 2015 YIARI melakukan translokasi (pemindahan) sepuluh individu kukang sumatera (Nycticebus coucang) untuk dilepasliarkan ke kawasan KPHL Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Kukang tersebut adalah hasil sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat di Serang, Banten pada November 2013. Translokasi kukang di kawasan Hutan Lindung Batutegi merupakan kerjasama program konservasi kukang sumatera antara YIARI dengan KPHL Batutegi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung. Pada Oktober 2015 ada dua lokasi di Bendungan Batutegi
Lampung yang dijadikan sebagai kandang habituasi dan pelepasliaran yaitu Pulau Talang Randai dan Talang Ajir (YIARI, 2015).
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 sampai bulan Desember 2016, pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2016 sampai bulan Oktober 2016 di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Kabupaten Tanggamus, Lampung yaitu Talang Ajir pada ketinggian 301-430 mdpl dan Talang Kadum pada ketinggian 221-429 mdpl (Gambar 6).
Gambar 6. Lokasi penelitian Talang Ajir dan Talang Kadum di kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Lampung.
Penelitian ini bekerjasama dengan YIARI dan KPHL Batutegi. Identifikasi jenis-jenis serangga dilakukan di Laboratorium Zoologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alkohol 70 % sebagai agen pembunuh dan untuk koleksi. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jala ayun, stoples, botol pembunuh, mikroskop stereo SZ51, lup, GPS (Global Positioning System), thermometer,
hygrometer, selotip, pinset, cawan petri, gunting, kertas label, kalkulator,
kamera, buku data lapangan, buku kunci determinasi serangga (Borror et al., 1992) dan alat tulis menulis.
Alat-alat perangkap yang digunakan antara lain jala ayun (sweep net), perangkap cahaya yaitu light trap dan light sheet. Perangkap light trap menggunakan corong, fiber plastik transparan, lampu LED Rechargeable
Energy dan Saving Lamps 6 Jam merek LUBY L-5828A 18 W AC/DC,
kawat dan besi sebagai pengait, glue gun merek Rapid dan stick glue gun serta diberi wadah ember plastik yang berisi alkohol 70% sebagai agen pembunuh. Perangkap light sheet menggunakan kain putih tipis berbahan nilon berukuran 2 meter x 2 meter dan tali untuk mengikat dan
membentangkan kain di pohon atau dibatang kayu serta diberi lampu LED
Rechargeable Energy dan Saving Lamps 6 Jam merek LUBY L-5828A 18
W AC/DC.
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei atau metode jelajah dengan penentuan titik pengamatan dilakukan secara
purposive sampling dimana pengambilan lokasi sampling dengan
pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dipakai yaitu titik koordinat penjumpaan kukang sedang perilaku makan dan mencari makan
berdasarkan data observasi YIARI.
Pengambilan sampel pada dua tipe habitat yang berbeda yaitu kebun, dan hutan sekunder. Teknik pengoleksian sampel dengan metode jelajah yaitu dengan cara menjelajahi masing-masing tipe habitat dengan batasan waktu menggunakan perangkap jala ayun. Sedangkan teknik pengoleksian sampel menggunakan perangkap light trap dan light sheet dengan cara meletakkan perangkap pada titik koordinat yang telah ditentukan pada masing-masing tipe. Serangga yang diperoleh pada setiap penangkapan, dikumpulkan, dikelompokan lalu diidentifikasi, kemudian dianalisis. Faktor pembatas penelitian ini yaitu jenis-jenis serangga pakan kukang yang dianalisis menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ), Indeks Kemerataan Jenis (E) dan Indeks Similaritas (IS).
D. Pelaksanaan Penelitian
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan terdiri dari penelitian pendahuluan dan pembuatan perangkap.
1). Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan ini dilakukan dengan melihat lokasi
pengamatan pada dua lokasi di KPHL Batutegi yaitu Talang Ajir dan Talang Kadum dimana masing-masing lokasi terdapat dua tipe habitat yaitu kebun, dan hutan sekunder. Kemudian menentukan titik koordinat lokasi penelitian (Gambar 7). Penentuan titik koordinat berdasarkan titik penjumpaan kukang yang berperilaku makan dan mencari makan. Pada masing-masing tipe habitat terdapat enam titik koordinat pengambilan sampel, dimana tiga titik koordinat untuk perangkap light trap dan tiga titik koordinat untuk perangkap light
sheet.
Masing-masing habitat dibuat jalur jelajah untuk menangkap serangga menggunakan perangkap jala ayun (sweep net). Sehingga pengambilan sampel dilakukan pada dua lokasi, dengan masing-masing lokasi memiliki dua tipe habitat dan masing-masing-masing-masing habitat memiliki enam titik koordinat dan satu jalur jelajah.
Gambar 7. Titik lokasi pengambilan sampel serangga di Talang Ajir dan Talang Kadum dalam kawasan Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Lampung.
2). Persiapan dan Pembuatan Perangkap
Perangkap yang digunakan yaitu perangkap jala ayun (sweep net) dan perangkap cahaya, dimana ada dua tipe perangkap cahaya yaitu perangkap light sheet dan light trap.
Jala ayun (sweep net) terbuat dari bahan ringan dan kuat seperti kain kasa, mudah diayunkan dan serangga yang tertangkap dapat terlihat. Jala ayun dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Jala ayun (sweep net) (Sumber : Dokumen Pribadi)
Metode light trap atau perangkap cahaya pada dasarnya digunakan berdasarkan perilaku kebanyakan serangga yang tertarik akan sumber cahaya. Terdapat dua jenis perangkap cahaya yang digunakan yaitu light sheet dengan menggunakan kain putih dan
light trap yang akan digantung di atas pohon. Light trap dengan
menggunakan corong yang mengarahkan pada wadah ember plastik sebagai botol pembunuh yang dikaitkan dengan kawat dan corong untuk meletakkan lampu yang disatukan menggunakan besi, lampu LED Rechargeable Energy dan Saving Lamps 6 Jam merek LUBY L-5828A 18 W AC/DC sebagai sumber cahaya, fiber plastik sebagai penghalang yang dilem menggunakan glue gun dan kawat sebagai pengait (Gambar 9).
Gambar 9. Perangkap cahaya (light trap) (Sumber : Dokumen Pribadi).
Light sheet menggunakan kain putih berbahan nilon berukuran 2
meter x 2 meter yang diikat dan dibentangkan pada pohon atau pada batang kayu. Serta menggunakan lampu LED Rechargeable Energy dan Saving Lamps 6 Jam merek LUBY L-5828A 18 W AC/DC yang digantungkan diatas kain hingga seluruh kain terkena cahaya
lampunya (Gambar 12).
2. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil serangga sebanyak mungkin dan mengumpulkan semua serangga yang tertangkap
menggunakan perangkap pada titik koordinat masing-masing tipe habitat. Sebelum pengambilan sampel, terlebih dahulu dilakukan penentuan titik koordinat menggunakan GPS dan pengukuran suhu lingkungan dengan
thermometer serta kelembaban relatif dengan hygrometer dari
masing-masing titik koordinat dan jalur jelajah pengambilan sampel.
Pengukuran suhu lingkungan dan kelembaban dilakukan dua kali, yaitu saat peletakkan perangkap dan saat pengoleksian serangga.
Penangkapan serangga dilakukan dengan menggunakan 2 jenis perangkap yaitu sebagai berikut :
- Serangga Diurnal (Serangga aktif siang hari)
Untuk penangkapan serangga yang aktif pada siang hari dilakukan dengan metode perangkap jala (sweep net). Cara ini biasanya digunakan untuk mengumpulkan serangga-serangga yang berukuran lebih besar dan membutuhkan kecepatan dan keterampilan khusus.
Penangkapan serangga menggunakan sweep net dengan mencari serangga pada masing-masing tipe habitat dengan menggunakan metode jelajah pada pukul 07.00 11.00 WIB dan 15.00 WIB-18.00 WIB. Pada masing-masing tipe habitat dilakukan penangkapan selama 1 hari. Penggunaan sweep net dengan cara mengayunkan jala ke arah serangga yang ditemukan (Gambar 10). Serangga yang tertangkap kemudian dikumpulkan dan dipisahkan lalu dimasukkan ke dalam botol pembunuh untuk diidentifikasi.
Gambar 10. Tehnik penggunaan sweep net (Rahmat, 2013).
- Serangga Nocturnal (Serangga aktif malam hari)
Perangkap cahaya (light trap) digunakan untuk menangkap serangga yang aktif pada malam hari. Light trap menangkap serangga yang mampu merespon cahaya pada malam hari (Nocturnal). Light trap digantungkan diatas pohon dengan tinggi ±7-9 meter untuk di hutan sekunder dan ±3-5 meter di kebun (gambar 11). Pemasangan light trap pukul 18.00 WIB-23.00 WIB pada masing-masing titik koordinat yang telah ditentukan. Serangga dikumpulkan dan masukan ke dalam botol koleksi dan diberi label.
Gambar 11. Pemasangan light trap
Serangga yang terperangkap di light sheet diambil menggunakan pinset dan dibantu dengan jala ayun untuk menangkap serangga yang akan terbang kemudian dimasukan ke dalam botol pembunuh yang berisi alkohol 70 %. Pemasangan light sheet dilakukan pada pukul 19.00-00.00 WIB pada masing-masing titik koordinat yang telah ditentukan dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Pemasangan light sheet
3. Identifikasi Sampel
Serangga yang dikenali spesiesnya langsung diidentifikasi di lapangan menggunakan lup atau kaca pembesar, sedangkan serangga yang belum dikenali diidentifikasi di laboratorium dengan menggunakan Mikroskop Stereo SZ51 yang mengacu pada buku kunci determinasi serangga (Borror
et al., 1992). Identifikasi dilaksanakan maksimal sampai pada tingkat famili. Seranga yang sudah teridentifikasi dikelompokkan berdasarkan famili nya.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis serangga yang telah didapatkan yaitu mengambil serangga yang telah dimasukkan ke dalam cawan petri yang terdapat tisu dan sudah dibasahi dengan alkohol 70 % kemudian dilihat bagian-bagian tubuh serangga sesuai kunci determinasi serangga tingkat famili menggunakan mikroskop, lup atau kaca pembesar.
E. Analisis Data
Untuk mengetahui Indeks Keanekaragaman, Indeks Kemerataan, Indeks Dominansi, dan Indeks Kemelimpahan serangga di kedua lokasi sampling yaitu Talang Ajir dan Talang Kadum dilakukan analisis data menggunakan rumus :
a. Frekuensi Relatif (FR) suatu jenis serangga :
Frekuensi relatif menunjukan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut. FR = x 100 %
FR = x 100 % b. Indeks Keanekaragaman jenis serangga
Untuk membandingkan tinggi rendahnya keragaman jenis serangga digunakan indeks Shannon-Wiener (H´) dengan rumus :
H´ = - ∑ Pi ln Pi Keterangan :
H´ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
Pi = Perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan keseluruhan jenis
Pi =
Ni = Jumlah Individu jenis ke-i
N = Jumlah total individu semua jenis (Odum, 1993).
Kriteria Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Magurran, 2004) : a. H ≤ 1 = Keanekaragaman jenis rendah, terdapat tekanan
yang tinggi sehingga kestabilan ekosistem rendah b. 1 ≤ H ≤ 3 = Keanekaragaman jenis sedang, terdapat tekanan yang
sedang dan kestabilan ekosistem masih dikatakan cukup baik
c. H ≥ 3 = Keanekaragaman tinggi, tidak terdapat tekanan yang berarti sehingga kestabilan ekosistem masih tetap tinggi c. Indeks Kemerataan Jenis
Keragaman tidak dapat terlepas dari kemerataan (evenness). Untuk melihat kemerataan jenis pada suatu habitat dapat dihitung
menggunakan formulasi Pielou: E = ꞌ
Keterangan :
E = Indeks Kemerataan Jenis
Hꞌ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener S = Jumlah Keseluruhan Jenis
Kriteria Indeks Kemerataan Jenis (Odum, 1993) : a. E < 0,4 = Kemerataan jenis rendah b. 0,4 < E < 0,6 = Kemerataan jenis sedang
c. E > 0,6 = Kemerataan jenis tinggi
d. Indeks Similaritas (IS)
Indeks similaritas atau indeks kesamaan spesies serangga antar lokasi dianalisis menggunakan rumus IS Bray-Curtis :
IS = x 100 %
Keterangan :
IS = Indeks similaritas spesies
W = Jumlah famili yang lebih rendah atau sama dari pasangan jenis yang dibandingan pada dua komunitas
A = Jumlah famili semua jenis pada komunitas A B = Jumlah famili semua jenis pada komunitas B
Kriteria Indeks Similaritas :
a. IS < 50 % = Kesamaan famili serangga rendah b. IS > 50 % = Kesamaan famili serangga tinggi
Sedangkan nilai ketidaksamaan atau indeks disimilaritas (ID) dapat dihitung dengan rumus :
ID = 100 – IS Keterangan :
ID = Indeks Disimilaritas IS = Indeks Similaritas
F. Diagram Alir Penelitian
Menghitung jumlah masing-masing sampel serangga
Gambar 13. Diagram alir penelitian. Lokasi Sampling
(Teknik purposive sampling)
Talang Ajir
- 6 titik sampling di kebun - 6 titik sampling di hutan
Talang Kadum
- 6 titik sampling di kebun - 6 titik sampling di hutan
- Sweep Net / Jala Ayun (menggunakan metode jelajah dengan menjelajahi semua titik sampling pada waktu pagi dan sore)
- Perangkap cahaya (pada malam hari)
- Light Trap pada 3 titik sampling di kebun dan 3 titik di hutan - Light Sheet pada 3 titik sampling di kebun dan 3 titik di hutan
Identifikasi sampel serangga yang telah tertangkap hingga tingkat famili
Analisis
- Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Hꞌ) - Indeks Kemerataan (E) - Indeks Similaritas (IS) - Indeks Disimilaritas (ID)
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Terdapat 63 famili serangga di Talang Ajir (52 di kebun, 44 di hutan) dan
Talang Kadum (32 di kebun, 35 di hutan sekunder) dengan famili serangga yang dominan yaitu famili Acrididae, Formicidae, Chrysomelidae,
Tettiginidae, Gryllidae, dan Nymphalidae.
2. Indeks keanekaragaman serangga di Talang Ajir (3,04) tergolong tinggi sedangkan pada Talang Kadum (2,72) tergolong sedang dengan indeks kemerataan pada semua lokasi tergolong sedang yaitu 0,42.
3. Kedua lokasi memiliki kesamaan famili yang tinggi ditunjukkan dari indeks similaritas sebesar 81,13 dan indeks ketidaksamaan sebesar 18,87. 4. Talang Ajir lebih berpotensi sebagai lokasi pelepasliaran kukang
(Nycticebus coucang) ditunjukkan dari lebih banyaknya famili serangga pakan kukang yang ditemukan dari pada Talang Kadum.
5. Lokasi hutan lebih baik dari pada kebun karena tidak adanya famili yang mendominasi dan persebaran serangganya lebih merata.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka saran yang diberikan antara lain :
1. Melakukan penelitian lebih lanjut tentang keanekaragaman jenis serangga hingga tingkat spesies.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang preferensi serangga pakan kukang.
3. Disarankan lokasi pelepasliaran kukang (Nycticebus coucang) di kawasan Hutan Lindung Batutegi dilakukan di hutan Talang Ajir karena pada lokasi Talang Ajir lebih banyak ditemukan serangga pakan kukang.
DAFTAR PUSTAKA
Alterman, L. 1995. “Toxins and toothcombs : potential allospesific chemical defenses in Nycticebus and Perodicticus”. In Alterman, L.; Doyle, G.A.; Izard, M. K. Creatures of the Dark : The Nocturnal Prosimians. New York, Plenum Press. New York. Hlm. 413-424.
Atkins, M.D. 1980. Introduction To Insect Behavior. MacMillan Publishing. New York.
Borror, D.J., dan R.E. White. 1970. A Field Guide to Insect America North of
Mexico. Houghton Mifflin Company. Boston. New York.
Borror, D. J., C. A. Triplehorn, dan N. F. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Ke-enam Cetakan Pertama. Terjemahan : An Introduction to
the Study of Insects. Diterjemahkan oleh S. Partosoedjono. [Editor].
Brotowidjoyo, M. D. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Borror, D.J., D.M. Delong., C. A. Triplehorn, dan N. F. Johnson. 2005.
Introduction to the Study of Insects 7th Edition. Thomson Brook/Cole.
Amerika.
Bottcher-Law, L., Fitch, H., dan Schulze, S, H. 2001. Management of lories in
capacity: a husbandary manual for Asian Lories Nycticebus dan Loris spp.
Cess Zool Soc San Diego. San Diego.
Campbell, N.A., J.B. Reece., L.A. Urry., M.L. Cain., S.A. Wasserman., P.V. Minorsky., dan R.B. Jackson. 2012. Biologi Jilid kedua Edisi Kedelapan. Diterjemahkan oleh D.T. Wulandari. [Editor]. W. Hardani dan P. Andhika. Erlangga. Jakarta.
CITES. 2007. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna. Consultation with range State on proposals to amend Appendices I and II. [internet]. Tersedia pada http://www.cites.org/esp/ app/appendices.php. Diunduh pada tanggal 28 November 2015.
Connor, E. F dan E. D. McCoy. 1979. The Statistic ad Biology of the Species-area relationship. Ameri. Nat. 113:27-49.
Dishutprov Lampung. 2013. Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Gambaran
Umum KPHL Batutegi. Lampung
Fitch-Snyder,H., Jurke, M. S., Juke, S., Tornatore, N. 1999. Data dari Husbandry Manual for Asian Lorisines (Nycticebus & Loris ssp.). In: Conservation database for lorises and pottos, chapter: Behavior [internet]. Diakses pada
http://www.loris–conservation.org/database/. Diunduh pada tanggal 28
November 2015.
Gulo, S.A., D. Bakti, dan F. Zahara. 2014. Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Beberapa Varietas Jagung Hibrida dan Jagung Transgenik. USU. Medan. Jurnal Online Agroekoteknologi. Vol. 2 (4) : 1347-1358.
Hadi, H.M., U. Tarwotjo. dan R. Rahadian. 2009. Biologi Insekta : Entomologi. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Handawa, Y. 2007. Pemetaan kupu-kupu Nymphalidae di Kawasan Waduk Batu Tegi Tanggamus Lampung. [Skripsi]. Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung, Bandar Lampung.
IUCN. 2013. International Union for the Conservation of Nature dan Natural Resources. IUCN red list of threatenedspecies version 2013.2. [internet]. Tersedia pada http://www.incnredlist.org. Diunduh pada tanggal 28 November 2015.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. PT Rineka Cipta. Jakarta
Kartikasari, H., Heddy, Y.B.S., Wicaksono, K.P. 2015. Analisis Biodiversitas Serangga Di Hutan Kota Malabar Sebagai Urban Ecosystem Services Kota Malang Pada Musim Pancaroba. Universitas Brawijaya. Malang. Jurnal
Produksi Tanaman. Vol. 3 (8) : 623-631.
KEMENLHK. 2012a. Kementerian Kehutanan. Data dan Informasi Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Direkorat Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Kawasan Hutan. Direkttorat Jenderal Planologi
Kehutanan. Jakarta.
KEMENLHK. 2012b. Kementerian Kehutanan. Buku Kumpulan
Perundang-undangan di Bidang Kehutanan dan Konservsi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam. BKSDA Lampung. Bandar Lampung.
Kramadibrata, I. 1995. Ekologi Hewan. Institut Teknologi Bandung. Bandung. Krebs. 1978. Ecology. The Experimental Analisys Of Distribution And
Abundance. Third Edition. Harper and Row Distribution. New York.
Magurran, A. E. 2004. Measuring Biological Diversity. Blackwell Publishing Company. Australia.
Nekaris, K. A. I. 2001. Activity budget and positionl behavior of the Mysore slender loris (Loris tardigradus lydekkarianus0: implication for “slow climbing” locomotion. Journal of Folia Primato. 72: 228-241.
Nekaris, A. & Bearder, S.K. 2007. The Lorisiform primates of Asia dan Mainland Africa : diversity shrouded in darkness. Di dalam : Campbell C, Fuentes A, MacKinnon K, Panger M, Bearder SK, editor. Primates in Perspective. Oxford University Press. Oxford. Hlm 24-45.
Nekaris, K.A.I. dan Shekelle, M. 2008. Nycticebus javanicus. Didalam : IUCN. 2010. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2010.4.
Novita. 2006. Pemetaan Kupu-kupu Nymphalidae di Taman Nasional Way
Kambas Lampung. [Skripsi]. Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Nukmal, N. 2016. Entomologi : Buku Ajar Jurusan Biologi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Nursahid dan Purnama. 2007. Perdagangan kukang (Nycticebus coucang) di Indonesia. [internet]. Terdapat pada http://www.profauna.or.id/indo/ pressrelease/perdagangan-kukang.html. Diunduh pada tanggal 31 Agustus 2016.
Nowak, R. M. 1999. Walker’s Mammals of the World. 6th Edition. The Johns
Hopkins University Press, Baltimore. Maryland.
Octavianata, E. 2014. Perilaku Dan Daerah Jelajah Harian Kukang Sumatera (Nyticebus Coucang Boddaert, 1785) Pelepasliaran YIARI Di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Blok Kali Jernih Kabupaten Tanggamus, Lampung. [Skripsi]. Biologi FMIPA Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi Edisi ketiga. Diterjemahkan oleh T. Samingan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Oka. I.N., 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Patang, F. 2011. Berbagai Kelompok Serangga Tanah yang Tertangkap di Hutan Koleksi Kebun Raya UNMUL Samarinda dengan Menggunakan 5 Macam Larutan. Universitas Mulawarman. Samarinda. Journal Mulawarman
Scientifien. Vol.10(2):139-142.