• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan Hama & Penyakit Utama Tanaman Durian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengenalan Hama & Penyakit Utama Tanaman Durian"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Deni Emilda, Panca J. Santoso & Affandi

Balitbu Tropika,

Jl. Raya Solok-Aripan KM 8 Po Box 5 Solok, Sumatera Barat

Telp. 0755-20137

(2)

Hama utama: 1. Kutu Sisik Aulacaspis vitis Green

(3)

Gejala serangan

A. vitis

pada daun

(4)

BINTANA

SIKAPAL

(5)

Pengendalian kutu sisik (

A. vitis

)

• Tanam klon dengan model tajuk tanaman tidak rimbun

• Pangkas ranting-ranting bagian dalam sehingga cahaya

matahari bisa masuk dan sirkulasi udara sangat lancar

• Hilangkan inang-inang alternatif disekitar kebun (papaya,

ketela pohon, mangga, anggur, jambu biji)

• Penggunaan predator Coccinelidae Chilocorus circumdatus

(Gyllenhal) dan C. nigrita

• Penggunaan parasitoid Comperiella lemniscata, Aphytis

melinus, dan Encarsia citrina

• Penyemprotan dengan mineral oil, insektisida Profenofos

(6)

Predator hama A. vitis, kumbang Chilocorus circumdatus dewasa (A) dan larva (B), C. nigrita (C) dan parasitoid Comperiella lemniscata (D), Aphytis melinus (E), dan Encarsia citrina (F)

F E

D

A B C

(7)

2. Penggerek buah durian

Canogethes punctiferales

Guenee

(8)
(9)
(10)

Pengendalian Hama Penggerek Buah & Biji Durian

• Sanitasi lingkungan tumbuh durian  membersihkan bekas

durian yang jatuh akibat serangan hama dan penyakit

(pengurangan inisiasi awal populasi hama)  dibenamkan atau

dibakar

• Pembalikan tanah di bawah tajuk untuk mematikan pupa dari

hama C. punctiferales dan M. luteileprosa.

• Pembungkusan buah (dilakukan di beberapa tempat di Thailand)

• Penggunaan light trap (perangkap cahaya)  sejak sebelum masa

tanaman berbunga

• Penggunaan insektisida  carbaryl (Sevin), deltamethrin (Decis),

lambda-cyhalothrin (Karate), beta-cyfluthrin (Spectra) dan

(11)

Pembungkusan Buah

(12)
(13)

Penyakit Utama: Dieback pada Tanaman Durian

• Mati pohon/ mati bujang (

Tree dieback/Tree decline)

• Penyakit mati pohon  penyakit utama yang menyerang tanaman durian

• Disebut juga dengan penyakit mati meranggas atau busuk pangkal batang,

busuk akar.

• Patogen penyebab penyakit yang umum dilaporkan adalah

Phytophthora

palmivora

• Kerusakan akibat penyakit ini berkisar 20-25% (USD 5 Milyar) di

negara-negara penghasil durian di Asia Tenggara

(Drent and Guest, 2004)

dan bisa

mencapai 50%

(Wiryanta, 2005)

.

• Selain penyakit mati pohon, penyakit busuk buah juga signifikan

menurunkan produksi tanaman durian

(14)

Penyebab Dieback pada Tanaman Durian

1. Phytophthora palmivora

penyebab busuk buah durian

(Lim and

Chan, 1986)

2. Rhizoctonia solani 

penyebab penyakit bercak daun, mati benih

dan mati meranggas pada tanaman durian di Malaysia

(Kwee, Chong and Lan, 1987)

3. Phytophthora palmivora

dan

Pythium vexans

penyebab

kematian tanaman durian di Queensland bagian utara, Australia

(Vawdrey, Langdon and Martin, 2005)

4. Phytophthora

penyebab mati benih dan tanaman durian di

Filipina

(Montiel et al, 2013)

5. Phytophthora palmivora

,

Phytopythium

dan

Pythium

spp 

penyebab penyakit mati pohon durian di Indonesia

(Santoso,

(15)

Dieback pada Tanaman Durian di Indonesia

• Phytophthora disebut juga jenis cendawan palsu  memiliki beberapa kesamaan dengan

cendawan namun sistem metabolisme dan reproduksinya berbeda dengan cendawan (Guest 2007)

• Patogen yang efektif

1. Tipe spora berbeda untuk pertahanan hidup dan penyebaran 2. Spora airborne

3. Fungisida sering kali tidak efektif karena metabolisme yang berbeda dari cendawan pada umumnya

4. Jumlah inang beragam

5. Mampu menyebabkan beragam gejala penyakit dalam satu tanaman (Drent & Guest 2004)

• Serangan tinggi  kebun durian monokultur, intensif, penggunaan pupuk buatan (N tinggi) dan jarak tanam rapat (Drent & Guest 2004)

(16)

Gejala Penyakit Dieback pada Tanaman Durian

Gejala awal:

• Lesi basah di permukaan batang biasanya dekat pangkal batang.

• Kulit batang nekrosis disertai perubahan

warna dari kulit dan kadang terlihat eksudat cokelat kemerahan (gejala basah).

Gejala lanjut:

• Infeksi jauh ke dalam kayu dan jika batang diketuk terdengar pohon seperti berongga. • Lesi makin berkembang, tanaman stres

dengan dedaunan layu serta mulai mengering diikuti oleh kematian cabang, gugurnya

keseluruhan daun dan kematian tanaman.

Sumber foto: Panca J. Santoso

(17)

Penyakit pada Tanaman Durian

Montiel et al Soguilon & Yebes Trubus

(18)

Isolasi patogen penyakit tanaman durian

Emilda 2007

(19)

Pengendalian Penyakit Dieback

1. Preventif :

• Pemilihan varietas durian  Matahari, Chanee dll (Monthong termasuk varietas rentan

penyakit mati pohon)

• Batang bawah yang tahan penyakit

• Pemangkasan dan pembentukan tajuk

• Pemupukan berimbang

• Monitoring rutin (7-14 hari/sekali)  antisipasi gejala awal

• Penggunaan bahan organik (kompos, pupuk kandang)

(Muryati et al 2009 ; Soguilon & Yebes, unpublished)

• Penggunaan agen hayati (

Trichoderma

sp.)

(Sunarwati & Yoza, 2010; Soguilon & Yebes, unpublished; Pralon et al. 2015; Chuebandit et al 2017)

(20)

Hasil Penelitian Balitbu Tropika

Emilda 2007

Durian cv. Matahari, Chanee  lebih tahan, cv. Monthong  rentan

(21)

Hasil Penelitian Balitbu Tropika

2. Uji ketahanan seedling durian terhadap P. palmivora (Sunarwati dkk, 2007) Tujuan: Untuk memperoleh informasi ketahanan

tanaman durian terhadap infeksi inokulum P.

palmivora dosis tinggi

Bahan uji: benih asal biji durian dari berbagai

lokasi dan berbagai cultivar

Hasil: Ketahanan seedling durian terhadap infeksi

P. palmivora berbeda-beda, diperoleh aksesi yang termasuk kategori tahan  sebagai sumber

batang bawah  kendala bagaimana

memperbanyak calon batang bawah secara klonal ???

(22)

Hasil Penelitian Balitbu Tropika

3. Pengendalian penyakit dieback dengan bahan organik (Muryati dkk, 2007)

Media tanam Persentase tanaman mati (%)

1. Tanah + pupuk kandang sapi (1:1) 2 a*

2. Tanah + pupuk kandang kambing (1:1) 18 b

3. Tanah + pupuk kandang ayam (1:1) 0 a

4. Tanah + kompos hijauan (1:1) 0 a

5. Tanah + sekam padi (1:1) 0 a

6. Tanah + kompos + pukan sapi (2:1:1) 4 a

7. Tanah + kompos + pukan kambing (2:1:1) 4 a

8. Tanah + kompos + pukan ayam (2:1:1) 2 a

9. Tanah + kompos + pukan sapi + sekam padi (3:1:1:1)

0 a

10. Tanah + kompos + pukan kambing + sekam padi (3:1:1:1)

0 a

11. Tanah + kompos + pukan ayam + sekam padi (3:1:1:1)

0 a

(23)

Hasil Penelitian Balitbu Tropika

No Cendawan Antagonis Persentase hambatan

(%) Mekanisme Antagonis

1. Penicillium purpurescens 19,34 a Antibiosis

2. Trichoderma harzianum 99 b Kompetisi, parasitisme, lisis

3. Trichoderma virens 100 b Kompetisi, parasitisme, lisis

KK 5,61

4. Pengendalian penyakit dengan agen hayati (in vitro)

Sunarwati & Yoza

2010

1 2 3 Untuk aplikasi di lapang:

• Menambahkan agen hayati secara langsung

• Menyiapkan kondisi yang sesuai untuk perkembangan agen hayati

(24)
(25)

Uji agresifitas isolat

Pythiaceae

Uji ketahanan plasma nutfah durian 25 Identifikasi keragaman Pythiaceae Identifikasi kekerabatan plasma nutfah durian Pengembangan Marka Mikrosatelit DNA

Konstruksi peta pautan

SSR & Identifikasi lokus

berasosiasi karakter tahan penyakit DURIAN

Gambar 1.1. Diagram alur kegiatan penelitian

4. Identifikasi patogen penyebab dan ketahanan plasma nutfah durian terhadap dieback

(26)

26 Kebun durian

Isolat

Sampel

Baiting buah

 Isolasi: metode umpan buah

Identifikasi morfologi Identifikasi molekuler Uji agresifitas SUMUT (1 spl) SUMBAR (2 spl) SUMSEL (2 spl) JABAR (5 spl) KALBAR (2 spl) JAMBI (2 spl) BABEL (3 spl) BANTEN (2 spl) KALTENG (2 spl) KALSEL (3 spl) KALTIM (2 spl) SULSEL (6 spl) PAPBAR (3 spl) JATIM (4 spl) MALUKU (1 spl) JATENG (2 spl) KALTARA (2 spl) Filogenetikd aerah ITS

ITS= Internal transcribed spacer

 43 sampel tanah, 2 daun dan 1 buah dari 32 kebun di 17 provinsi

(27)

27

• Isolat-isolat menunjukkan variasi pada motif koloni Identifikasi Morfologi

 tidak ada kaitan erat antara bentuk motif dengan species

Pythiaceae, kecuali motif

stoloniferous pada isolat

Pp-15 yang homolog dengan

Pythium sp. D37.

Gambar 1.2. Motif koloni isolat

Pythiaceae yang berasosiasi dengan durian: a) narrow petalate, b) petalate, c) wide petalate, d) stellate, e) fluffy stellate, f) stoloniferous

(28)

Dieback pada Tanaman Durian di Indonesia

• Hasil identifikasi 36 isolat cendawan Phytiaceae dari 17 provinsi (Santoso

2015)

1. Pythium cucurbitacearum (15)

2. Pythium vexans (9)/Phytopythium sp. (7)

3. Phytophthora cinnamomi (2)

4. Phytophthora palmivora (1)

5. Pythium deliense (1)

6. Pythium sp. (1)

• Kategori agresivitas isolat (32 isolat) 1. Agak agresif (3)

2. Agresif (10)

3. Sangat agresif (19)

(29)

29

Laju tumbuh isolat patogen

8,24 11,22 22,89 21,11 31,67 40,00 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 L aj u tumbuh (m m /hari ) Spesies Pythiaceae

Gambar 1.4. Grafik laju tumbuh tiap spesies Pythiaceae pada medium selektif

 Isolat-isolat menunjukkan laju tumbuh yang bervariasi  Isolat Phytophthora memiliki laju tumbuh yang rendah

(30)

30

• Pythium cucurbitacearum dan Phytopythium vexans tersebar hampir di semua lokasi pengambilan sampel

Sebaran dan kelimpahan Pythiaceae yang berasosiasi dengan tanaman durian

(31)

Pengendalian Penyakit Dieback

2. Curative:  gejala awal serangan penyakit

• Kikis kulit batang tanaman durian yang menunjukkan bercak kecoklatan sampai terlihat jaringan kayu yang sehat.

• Saput bagian yang sudah dilukai tadi menggunakan pestisida seperti Metalaksil,

Aluminium fosetil, Propamokarb hidroklorida dosis 2 ml/l, Mankozeb & Mefenoksam dosis 3-5 ml/l

• https://www.youtube.com/watch?v=zuM9vEeUnzo

• Penyaputan bisa juga dilakukan dengan Bubur California atau Bubur Bordo.

• Injeksi tanaman dengan asam fosfat (phosphorous acid, H3PO3) yang digabungkan

dengan agen hayati Trichoderma sp. (di Thailand)

3. Eradikasi: dilakukan untuk tanaman yang sudah terserang berat dan kecil kemungkinan untuk diselamatkan

(32)

Dieback pada Tanaman Alpukat

Foto: D. Emilda

(33)

Gambar

Gambar 1.1. Diagram alur kegiatan penelitian
Gambar 1.2. Motif koloni isolat Pythiaceae yang berasosiasi dengan durian: a) narrow petalate, b) petalate, c) wide petalate, d) stellate, e) fluffy stellate, f) stoloniferous
Gambar 1.4. Grafik laju tumbuh tiap spesies Pythiaceae pada medium selektif
Gambar 1.6. Peta sebaran fungi Pythiaceae yang berasosiasi dengan durian di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa hama dan penyakit nanas yang sering dijumpai di Kecamatan Ngancar yaitu hama uret, kutu putih, tikus, kera, penyakit layu (MWP), busuk pangkal batang, bercak kelabu,

Sedangkan penyakit yang dominan adalah busuk buah (Phomopsis sp.) dan antraknosa (Colletotrichum sp.) yang menyerang tanaman terung pada fase generatif dengan intensitas

Kanker batang dan bercak daun hanyalah dua dari 21 penyakit paling berbahaya yang terdata menyerang durian: akar, batang, daun, dan buah.. Angka ini belum termasuk

Selanjutnya Pahan (2008) menambahkan bahwa penyakit yang sering menyerang tanaman kelapa sawit diantaranya penyakit daun di pembibitan, penyakit busuk pangkal

Gejala penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada pelepah daun, bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, bercak

Pengaruh Residu Tanaman terhadap Perkembangan Penyakit Busuk Pangkal Batang pada Tanaman Lada. Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada

KUTU HIJAU DAN KUTU COKLAT Gejala serangan  Kutu hijau menyerang seluruh bagian tanaman kopi yang masih muda yaitu bunga, buah, daun, cabang dan batang yang masih berwarna hijau

Pada musim hujan, hama dan penyakit yang sering merusak tanaman padi adalah tikus, wereng coklat, penggerek batang, lembing batu, penyakit tungro, blast, dan