LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN. Saya yang bertandatangan di bawah ini:

Teks penuh

(1)

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini: nama : Eka Ernita Siburian;

nim : 141121077

adalah mahasiswa S1 Ekstensi Keperawatan yang akan melaksanakan penelitian yang berjudul “Persepsi Mahasiswa terhadap Pelaksanaan Pembelajaran dengan Metode Ceramah di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan pembelajaran.

Saudara dapat berpartisipasi dalam penelitian dengan cara menjawab kuesioner yang akan diberikan peneliti. Saya mengharapkan tanggapan atau jawaban yang Saudara berikan sesuai dengan pendapat Saudara sendiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Saya menjamin kerahasiaan pendapat dan identitas Saudara. Penelitian ini bersifat sukarela, Saudara bebas untuk ikut menjadi partisipan ataupun menolak tanpa ada sanksi apapun. Jika Saudara bersedia menjadi partisipan penelitian ini, Saudara dapat menandatangani surat persetujuan ini.

Atas perhatian dan kesediaan saudara untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, saya ucapkan terimakasih.

Medan, September 2015

(2)

Lampiran 2 KUESIONER PENELITIAN PERSEPSI MAHASISWA DALAM

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DENGAN METODE CERAMAH DI FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Kuesioner Demografi

Petunjuk pengisian:

1. Semua pertanyaan dijawab.

2. Untuk soal nomor 1 isilah titik-titik.

3. Untuk soal nomor 2 sampai 3 berilah tanda checklist (√) pada kotak yang telah disediakan.

4. Setiap pertanyaan dijawab hanya dengan satu jawaban yang sesuai menurut partisipan.

Pertanyaan:

1. Usia : tahun

2. Jenis kelamin : ( ) Pria ( ) Wanita

3. Agama : ( ) Kristen ( ) Budha ( ) Katolik ( ) Hindu ( ) Islam ( ) Konghucu 4. Suku : ( ) Batak toba ( ) Aceh

( ) Karo ( ) Pakpak ( ) Jawa ( ) Melayu

(3)

Lampiran 3 PANDUAN WAWANCARA

Judul Penelitian: Persepsi Mahasiswa terhadap Pelaksanaan Pembelajaran dengan

Metode Ceramah di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

1. Bagaimana pendapat Saudara tentang sistem pembelajaran KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang diterapkan di Fakultas Keperawatan?

2. Bagaimana pendapat Saudara tentang pembelajaran sistem Problem Based Learning (PBL) dengan metode ceramah yang dilaksanakan di Fakultas Keperawatan?

3. Bagaimana pendapat Saudara tentang media dan fasilitas yang dipergunakan dalam metode ceramah di kelas?

4. Bagaimana pendapat Saudara tentang keefektifan pelaksanaan pembelajaran KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dengan sistem problem based learning metode ceramah di Fakultas Keperawatan?

(4)

Lampiran 4 Transkrip Wawancara

Peneliti : Yak, Sebelumnya Saudara pernah mendengar istilah KBK

(Kurikulum Berbasis Kompetensi)?

Partisipan 1

Partisipan : Iya, pernah..

Peneliti : Hmm.. menurut saudara seperti apa sih pembelajaran dengan sistem

KBK?

Partisipan : Iya, menurut saya pembelajaran KBK itu lebih baik sih untuk proses

pembelajarannya yah untuk sekarang. Karena disini mahasiswa tidak dituntut hanya untuk menunggu dan menerima saja sepenuhnya dari dosen tapi disini juga mahasiswa dituntut untuk mencari tau bukan hanya menerima, menerima dan menunggu gitu.. tapi mencari tau dan dituntut lebih aktiflah mahasiswanya gitu.

Peneliti : Mahasiswanya lebih aktif yaa.. Jadi tadi saudara mengatakan bahwa

lebih baik kekgitu, maksudnya lebih baik dalam hal yang seperti apa misalnya?

Partisipan : Jadi disini untuk metodenya sih, mahasiswa tidak hanya apa yah..

yah dituntut banyak, banyak mencari tau. Misalkan dalam pelajaran atau ceramah yang didapat dari penjelasan dosen, mahasiswa itu tidak hanya sekedar oh mendapat dari dosennya aja tapi juga mencari lebih, menambah lagi, menambah entah referensi lain, buku-buku lain untuk menunjang pembelajarannya supaya semakin tau gitu..

Peneliti : Mahasiswanya yang dituntut yah? Partisipan : Iya, dituntut lebih aktif sih..

Peneliti : Jadi kan kalo misalnya pembelajaran KBK itu kan ada yang

dikatakan dengan sistem Problem Based Learning atau PBL. Saudara pernah mendengar istilah ini sebelumnya?

Partisipan : Iya, pernah..

Peneliti : Kira-kira boleh diceritakan seperti apa PBL itu yang Saudara

pahami?

Partisipan : Yah kalo yang berbasis PBL ini berfokus terhadap masalah.

Misalkan ada sesuatu masalah yang diangkat atau ada masalah yang sudah ada nih masalahnya dan kita itu berfokus ke bagaimana cara kita untuk bisa menyelesaikan masalah itu. Nah itu untuk menyelesaikan masalah itu dituntut lagi kembali si mahasiswanya aktif, bagaimana

(5)

Peneliti : Kalau yang saudara ketahui metode PBL, pembelajaran yang di

fakultas kita metodenya apa aja?

Partisipan : Yak, kalau dari kelas yang pernah saya ikuti itu bisa dalam metode

ceramah gitu. Metode ceramah itu menurutku metode dimana dosen mengajarkan mata kuliah. Ini sifatnya dosen yang lebih banyak aktif ketimbang mahasiswa, karna dosen yang ceramah. Kalo ceramah kan banyak dari dosennya sendiri gitu memaparkan apalah tentang pembelajarannya kan, nah itu kita pasti menemukan yah banyak, banyak memang permasalahan yang entah kita tidak pahami dari apa yang dijelaskan dosen dan yah kita di situ banyaklah untuk mencari tau. Terus juga bisa melalui dalam metode ceramah, bisa juga dalam metode tutorial. Nah dalam tutorial pun banyak di situ juga dibukakan dan nanti di situ mahasiswa dituntut untuk lebih aktif lagi untuk tutorialnya gitu. Lebih banyak mencari referensi, banyak mencari sumber-sumber lain dan menuntut tetap semakin menambah wawasan.

Peneliti : Selain ceramah dan tutorial apakah ada metode yang lain yang

diterapkan di kelas?

Partisipan : Yang sejauh ini yah di kelas hanya itu sih, metode ceramah..

Peneliti : Hmm.. jadi kalau menurut saudara sendiri dari metode yang tadi ada

ceramah, tutorial. Kira-kira yang menurut saudara adalah metode yang baik kekgitu, yang membuat saudara gampang memahami kuliah itu yang mana?

Partisipan : Sebenarnya semua sama-sama baik gitu, ceramah.. tutorial.. tapi

itulah ada positif negatifnya dari setiap metode-metodenya, karena kalo di ceramah kan yah memang baik, kita dapat dari dosennya banyak dibukakan tapi mahasiswa di situ tidak di tuntut untuk berpikir keras, tidak di tuntut untuk itulah.. kalo dibandingkan dengan tutorial kan mahasiswa masih bisa aktif loh, ada fasilitatornya yah cuma hanya mengarahkan gitu, mendengarkan setiap apa dari kita yang kita ketahui dan itu di tuntut untuk aktif berpikir dan saling apa.. berdiskusi dengan teman-temannya yang lainnya, nanti dapat referensi atau dapat sumber darimana gitu. Mahasiswa yang lain menambahkan berbeda referensi dan itu saling.. saling mendukunglah dan semakin banyak wawasan yang didapat. Karena kalo ceramah yang saya alami yah sampe sekarang mulai semester 1 sampai 7 memang baik sebenarnya kita dapat banyak dari dosen tapi melihat dari keaktifan gitu dan kekmana si mahasiswanya sendiri, misalnya lebih ini sih.. ke tutorial

(6)

gitu.. dibandingkan yang ceramah karena terkadang banyak juga mahasiswa yang ngantuk kalau ceramah.

Peneliti : Kalau misalnya terkait dengan media dan fasilitas yang digunakan,

yang mendukung pembelajaran seperti apa yang Saudara ketahui?

Partisipan : Yang medianya??

Peneliti : Iya.. media dan fasilitas yang ada..

Partisipan : Yah kalo untuk ceramah kan yah itulah infokusnya. Kan ini dari

dosennya infokus, laptop, dan itu sih baiklah untuk fasilitasnya yang disediakan walaupun terkadang memang kadang mengganggu juga untuk pembelajaran kerusakannya, dalam fasilitasnya, dalam hal-hal kecil seperti microphone yang sekarang sih sudah diperbaiki dan kami pun yah mahasiswa merasa terganggulah, gak baik untuk penggunaan fasilitasnya termasuk dalam microphonenya dan yang untuk slidenya pun kadang juga. Yang untuk di kelas sekarang yang bermasalah yah itulah mengganggu juga. Kalau metode ceramahlah kan dosen, karena kan ada yang bagian sisi kiri sisi kanan, yang lebih bagusnya nanti sisi kiri tapi yah mahasiswa yang sebelah kanan itu kurang inilah… jadinya gak yaaa… infokusnya hanya satu sisi yang baik, jadinya mengganggu pun dan akhirnya dosennya ceramah yah mahasiswa yang lain ada memang yang memperhatikan tapi yah ada juga yang males gitu.. mungkin karena itu juga salah satu media juga, menjadi faktor membuat mahasiswa tidak menikmati jadinya belajarnya.

Peneliti : Kalau dari segi fasilitas ruangan mungkin dengan kapasitas

mahasiswanya seperti apa yang menurut pendapat Saudara?

Partisipan : Kalau fasilitas untuk ruangannya sih udah baik yah, sudah bagus

kalau dibandingkan yang sebelumnya. Kan sebelumnya ruangan kita sangat sangat bisa dibilang dan terbataslah dengan ada lagi mahasiswa DIII nanti, S1 juga kan. Untuk yang sekarang sih sudah jauh lebih baik fasilitas untuk ruangan dan untuk kelas kami sendiri pun yah mencukupilah untuk teman-teman bahkan tidak pengap gitu. Baiklah untuk ruangannya..

Peneliti : Jadi menurut saudara sebagai salah satu mahasiswa yang mengikuti

pembelajaran disini, metode ceramah yang diterapkan di kelas itu memenuhi gak dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan mahasiswa seperti itu?

(7)

ruangan mendukungnya sebenarnya tapi untuk mendapatkan untuk.. karena terlalu banyak mahasiswanya jadinya tingkat kefokusan dari mahasiswa pun kurang baiklah gitu. Kalau untuk ceramah, karena kan ceramah mau sampai.. kalau satu jam mungkin, satu jam pertama dulu mahasiswa yang banyak seperti itu di kelas masih fokus untuk mendengarkan ceramah dari dosen, masih fokus tapi di atas satu jam nanti sudah mulai ini, gelisah, sudah mulai tidak fokus lagi.

Peneliti : Apa saja kekurangan merode ceramah?

Partisipan : Kekurangannya mahasiswa banyak yang agak malas belajar, karena

metode ceramah didominasi oleh dosen. Mungkin 2 ato 3 jam masih fokus. Selebihnya udah unfokus…

Peneliti : Jadi kalau kelebihannya ada tidak?

Partisipan : Memudahkan mahasiswa memahami pelajaran, dan memicu juga

untuk mencari referensi-referensi lain di perpus yang disarankan oleh dosen yang ceramah.

Peneliti : Bagaimana perasaan saudara selama mengikuti pembelajaran dengan

metode ceramah?

Partisipan : Sedikit bosan dan jenuhlah, kadang mengantuk juga, karena

ceramahnya lama kali. Mungkin kalau ceramahnya dua atau tiga jam masih bisa fokus, tapi selebihnya nanti bisa ngantuk.. hehe…

Peneliti : Oke.. jadi dari semua pernyataan saudara tadi, menurut saudaralah

gimana pendapat saudara tentang keefektifan pelaksanaan pembelajaran ini, efektif tidak? Atau mungkin ada yang saudara pikirkan yang lain metodenya mungkin?

Partisipan : Sebenarnya baiknya untuk metode ceramah ini, hanya saja yah

mungkin supaya lebih baik lagi dan supaya pun tidak sia-sialah gitu kan dosen memberikan ceramah kepada mahasiswa, lebih dituntut mahasiswanya itu aktif juga gitu. Bukan jangan hanya sekedar ceramah gitu.. Nah ada dosen yang memang yah memberikan pertanyaan atau yah mempersilahkan mahasiswa untuk bertanya dan ada juga dosen yang yaudah siap memberikan ceramah, yah gak ditanyakan lagi kekmana respon dari mahasiswa, apa yang didapatinya? Maksudnya supaya metode ceramah memang sudah baik tapi lebih ini sih lebih baik untuk dosennya dalam metode penyampaian ceramahnya lebih di ini-in, menuntut mahasiswa untuk aktif, lebih banyak bertanya dan apa yang didapati mahasiswa dari hasil pembelajaran ini. Dan kalau bisa pun yah saran sih supaya lebih

(8)

baik lagi, ada aplikatifnya. Misalnya, ada suatu ceramah sudah disampaikan oleh dosen dan ada aplikatifnya, mungkin dibuat grup atau per kelompok, entah ditugaskanlah dari setiap kelompok apa yang mereka dapati supaya memang dosennya ini tau berarti ceramahnya itu tadi memang mahasiswa memahami dan mengerti. Ada inilah, komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa dan dosen tau kalau mahasiswa itu mengerti.

Peneliti : Jadi sejauh ini yang Saudara pandang tentang pelaksanaan sistem

Problem Based Learning dengan metode ceramah yang tadi, apakah memang sudah memenuhi kebutuhan, efektif tidak untuk dilaksanakan di kampus ini?

Partisipan : Efektif sih untuk metode ceramah kita, dalam PBL tadi yah..

Peneliti : Oke.. mungkin itu saja yang akan saya tanyakan, nanti jika saya

membutuhkan klarifikasi atau penjelasan lebih lanjut, saya akan menghubungi Saudara, terimakasih untuk kerjasamanya…

(9)

Peneliti : Saudara semenjak semester satu sudah mengikuti pembelajaran KBK

yah?

Partisipan 2

Partisipan : Iya..

Peneliti : Bagaimana menurut Saudara tentang KBK itu?

Partisipan : Yang saya pahami kan, sejauh ini mengenai KBK atau Kurikulum

Berbasis Kompetensi artinya.. kalau dibilang berbasis kompetensi segala sesuatu metode pembelajaran itu disesuaikan dengan kompetensi yang sudah ditetapkan atau sesuai dengan standar kompetensi yang diharapkan. Disini mahasiswa dituntut lebih aktif mencari informasi..Nah, kalau yang saya lihat dari programnya sendiri untuk KBK kalau yang diterapkan dari semester satu sebenarnya metopel, metode pembelajaran itu ada ceramah, ada metode tutorial, kemudian ada praktikum dan SL. Jadi menunjang setiap program di KBK itu sendiri. Untuk metode ceramah yaa sumbernya secara tidak langsung itu memang dari dosen itu sendiri dan mahasiswa si penerima informasi atau si penerima pelajarannya. Yang menariknya ketika di KBK itu ada program tutorial yang menurut saya cukup sangat efektif untuk meningkatkan standar kompetensi mahasiswanya karena pada program tutorial itu mahasiswa diajarkan untuk menggali kemampuannya diluar, sebelum mereka mendapatkan materi tertentu. Jadi mahasiswa diangkat untuk menggali sejauhmana mereka pahami mengenai suatu konteks sehingga pada bagian tutorial pun merangsang pemikiran yang lebih luas, berpikir kritis dan tentutnya berpikir kritis itu bagian dari kompetensi yang harus ada pada seorang perawat, kekgitu…

Peneliti : Nah, itu kan KBK, terus kan tadi saudara juga sudah menyebutkan

beberapa metodenya, nah KBK itu kan kurikulum berbasis kompetensi, itu ada juga yang namanya sistemnya PBL, problem based learning yang penyelesaiannya itu berdasarkan masalah seperti itu, berfokus untuk menyelesaikan masalah. Kalau tentang PBL, apa yang saudara pahami?

Partisipan : Contoh paling kental pelaksanaan PBL itu ada pada tutorial. Jadi

program tutorial itu yang diterapkan di kampus kita kan dia berbasis masalah, artinya kasus yang dipaparkan pada mahasiswa. Nah, kemudian mahasiswa yang mencari apa yang harus dilakukan seorang perawat ketika mendapatkan kasus seperti itu. Jadi kalau ditanya

(10)

mengenai PBL, menurut saya secara pribadi, itu sangat kental dikaitkan dengan proses pembelajaran tutorial. Jadi pada bagian tutorial itulah ada sebuah kasus yang dipaparkan dan udah dipersiapkan tentunya oleh tim tutorial, kemudian akan dibagikan kepada mahasiswa dan mahasiswa yang secara langsung tanpa intervensi dosen, yang mana dosen disitu berperan sebagai fasilitator jadi tanpa intervensi fasilitator untuk mencari apa yang harus dilakukan. Jadi secara tidak langsung disini bahwa mahasiswa yang harus menyelesaikan problemnya. Jadi mahasiswa yang mencari apa diagnosanya, mahasiswa yang mencari apa askepnya, mahasiswa yang mencari apa intervensinya, implementasinya dan itu pure betul-betul dari brain mahasiswa itu sendiri, jadi tanpa ada intervensi dari dosen dan tanpa ada pernyataan ini benar atau salah dari dosen. Jadi fasilitator hanya sebatas mengarahkan dituntut bahwa memang kembali bahwa KBK itu bagaimana kompetensi mahasiswa itu sendiri untuk boleh apa yaaa… menghadapi kasus itu apa yang harus dilakukan.

Peneliti : Yak, itu kalau dari segi tutorialnya, jadi kalau misalnya dengan.. tadi

kan ada menyebutkan di awal metode ceramah. Kalau misalnya dengan metode ceramah, gimana PBL itu? Apakah memang dengan metode ceramah bisa juga berbasis penyelesaian masalahnya tercapai?

Partisipan : Kalau dari ceramah untuk masuk ke bagian PBL yah, menurut saya

sih bisa yah, bisa tidak, artinya kalau ketika dalam metode ceramah, tidak pure hanya membahas teori dalam arti tidak hanya pemaparan awal saja tanpa ada contoh kasus yang akan boleh dibagikan, itu akan sulit untuk mencapainya karena hanya sekedar ada konsep yang akan diberikan kepada mahasiswa. Tapi kalau misalnya ketika dalam metode ceramah tetap akan dibukakan beberapa contoh kasus yang akan sering dijumpai, ada masalah yang muncul dan dengan masalah tersebut, mahasiswa dirangsang untuk boleh mencari apa yang menjadi solusi dari masalah tersebut, mungkin akan tercapai. Tapi untuk sejauh ini memang kalau dilihat sih masih belum. Ceramah masih belum diarahkan untuk sampai pada tahap PBL.

Peneliti : Itu kira-kira kenapa saudara berpendapat bahwa ceramah masih

belum seperti pencapaian pada tutorial tadi? Maksudnya, ada apa dengan ceramah gitu?

(11)

Partisipan : Berbeda… karena ketika ceramah, posisinya adalah mahasiswa

hanya sebagai pendengar yang aktif. Nah, ketika pun dituntut untuk memberi respon, tidak sebanyak ketika kita tutorial. Kemarin ketika tutorial itu pure memang student yang jadi centre, jadi memang mahasiswa yang mencari semua, apa dan bagaimana. Tapi kalau misalnya di ceramah, kan kita belajar konsep, kemudian yah hanya seperti itu. Kemudian kalau kita misalnya di tutorial, langsung ke kasus sehingga secara tidak langsung konsep yang belum kita capai di ceramah, bisa kita dapatkan di tutorial.

Peneliti : Itu kan tadi ceramah, karena dosen yang lebih banyak berbicara

dibandingkan tutorial. Kalau dilihat dari fasilitas atau media yang digunakan, ceramah seperti apa yah?

Partisipan : Dari ceramah kalau fasilitas, yang pertama mungkin kalau dilihat

dari ruangan, untuk semester saya mungkin, yang semester 7, ruangannya sudah nyaman tapi ketika kita di semester satu, tiga, lima, itu masih kurang nyaman. Karena kalau disini, pertama jumlah mahasiswa yang besar, kemudian ruangan yang memang besar tapi tetap saja tidak nyaman dalam kategori misalnya AC-nya mati, padahal ruangan panas dengan jumlah mahasiswa sebesar itu. Jadi fokus untuk mendengarkan dosen ketika menyampaikan pembelajaran jadi tidak bisa jadinya. Kemudian untuk fasilitasnya sendiri, misalnya seperti microphone, kalau semester tujuh udah enak, maksudnya udah nyaman gitu kan. Tapi kalau di semester satu, dua, tiga, kendalanya pasti di microphone. Biasanya microphone-nya bisa nanti kadang-kadang mati, kadang-kadang-kadang-kadang hidup. Kadang-kadang-kadang ketika sedang fokus dengan pelajaran, tiba-tiba microphone-nya mati atau bahkan tiba-tiba ada storing yang bisa membuat gak fokus dan jadi aaaahhh…. Begitulah kan, kemudian kalau misalnya secara fasilitas infokus, nah untuk infokus kekurangannya terkadang letak infokus itu tidak seimbang letak kiri dan kanan sehingga orang yang di sisi kiri akan serong ke kanan sehingga sulit untuk melihat. Kemudian kadang letak infokus, saya lupa di semester berapa, itu hanya satu layar saja sehingga semua fokus ke samping. Iya, jadi gak jelas dan apa yah, warnanya pun tidak mendukung untuk dilihat. Jadi terkadang terkadang kabur atau warnanya berbeda dari yang disiapkan dengan yang ditampilkan, itu saya tidak tau kendalanya dimana. Itulah… jadi untuk fasilitas sebenarnya untuk fakultas keperawatan baik tapi

(12)

mungkin perawatannya yang kurang baik. Sebenarnya awalnya ada, bukan tidak ada, adanya fasilitasnya tapi kondisinya yang kurang terawat. Jadi mengganggu proses pembelajaran juga, baru lampu yang mati hidup, mati hidup. Itu kan mengganggu semua jadinya.

Peneliti : Itu untuk fasilitas. Kalau misalnya dari pendidiknya atau

mahasiswanya sendiri gimana untuk transfer informasinya seperti apa gitu? Untuk transfer materinya dalam metode ceramah ini? Apakah dengan kapasitas mahasiswa yang sebanyak itu mempengaruhi sampainya informasi ke mahasiswa atau seperti apa?

Partisipan : Kalau kita bicara dari pendidik, sebenarnya kemampuan dosen kita

semua adalah saya pikir dosen yang sudah kompeten di bidangnya ketika mereka akan menyampaikan ceramah. Hanya saja mungkin metode penyampaiannya yang terkadang membuat semua berbeda-beda menerima informasinya. Misalnya ada satu dosen yang menyampaikan metode ceramah tidak hanya sekedar mahasiswanya mendengar, dosennya memberi. Tapi dia menampilkan beberapa bentuk games sehingga mahasiswa juga boleh dirangsang untuk boleh mendapatkan informasi itu tidak hanya melulu dari via slide, tapi metode ceramah itu seperti ini, dikemas dalam suatu bentuk permainan atau bahkan adalah bentuk-bentuk yang tidak bosan dengan metode itu. Nah, tapi memang kebanyakan dosen-dosen kita di sini yah seperti metode ceramah yang biasa kita lakukan, yah mereka sebagai pemberi informasi, mahasiswa sebagai penerima informasi. Untuk kategori yang peserta didiknya, jelas sangat mempengaruhi karena dari segi keefektifannya, kemudian belum lagi kalau ribut, yang di belakang mungkin tidak fokus dan yang di depan mungkin sudah fokus, setengah fokus, setengah tidak fokus. Semua bercampur disitu, jadi terkadang yang tadinya udah fokus, jadi tidak fokus lagi, yang setengah fokus makin tidak fokuslah kekgitu.. jadi sebenarnya sih, sebaiknya di pecah, jadi penyampaiannya pun lebih efektif, tidak hanya satu arah tapi dua arah. Jadi konsep peserta didiknya juga lebih aktif dan berrespon dengan materi yang disampaikan.

Peneliti : Bagaimana perasaan saudara selama mengikulti pembelajaran

metode ceramah di kelas?

(13)

Peneliti : Jadi kalau menurut pandangan saudara sendiri, seperti apa

keefektifan metode ceramah selama saudara mengikutinya? Seberapa efektif, seperti itu?

Partisipan : Cara ini efektif, karena pada metode ceramah sebenarnya kita boleh

menggunakan semua model pembelajaran, baik itu auditori, baik itu visual atau melihat, baik itu gabungan antara keduanya, sebenarnya ini termasuk mempengaruhi, yah karena sebenarnya kalau dilihat kebanyakan kategori prestasi mahasiswa yang tinggi itu kalau menggunakan model auditori dan visual. Sebenarnya mendukung yah dalam metode ceramah, karena sebenarnya sebagian besar konsep itu dipaparkan dalam metode ceramah. Hanya saja, mungkin harus yang pendidiknya yang dituntut lebih kreatif dalam penyampaiannya agar efektif. Karena sebagian informasi itu tercapai disitu. Tapi jauh lebih efektif lagi ketika metode ceramah itu tidak melulu hanya metode ceramah, artinya bisa dikombinasikan dalam bentuk hal-hal yang mungkin bisa dan sudah dikemas oleh tim pendidik itu sendiri, itu sih..

Peneliti : Mungkin saudara punya ide mungkin atau pemikiran dikemas yang

seperti apa mungkin atau di modifikasi yah maksudnya, seperti apa mungkin di ceramah itu?

Partisipan : Nah, kek tadi yang saya bilang, ceramah bisa dikombinasi dalam

bentuk sebuah games atau bahkan dapat dibuat dalam sebuah bentuk kuis-kuis yang pada akhirnya merangsang mahasiswa tersebut dituntut untuk lebih apa yaa… yah di brainstorming-lah dia yah bagaimana caranya. Yah terus bahkan bisa di bentuk dalam bentuk kelompok-kelompok, kemudian artinya sarananya juga harus ditingkatkan, entah bagaimanalah, maksudnya nggak hanya melulu kita hanya mendengar. Tapi bagaimana juga dari tim pendidiknya ada membuat sesuatu yang kreatif bentuk games, kelompok-kelompok atau bahkan yah.. seperti itu sih, jadi di kelas itu kita gak ngerasa bosan, gak merasa ngantuk, tetap fokus.

Peneliti : Berarti sejauh ini, ceramah yang diterapkan di kampus kita, di

kampus fakultas keperawatan ini yang mengarah ke PBL itu bisa dikatakan efektif yah?

(14)

Partisipan 3

Peneliti : Sebelumnya saudara pernah mendengar tentang pembelajaran KBK? Partisipan : Iya pernah, Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Peneliti : Apa yang saudara ketahui tentang pembelajaran KBK?

Partisipan : Kalau menurut saya, pembelajaran KBK, Kurikulum Berbasis

Kompetensi, kalau selama ini aku berpikir kuliah kayak fakultas lain kek gitu yang berbeda-beda jadwalnya, ada yang masuk siang, ada yang masuk pagi gitu kan… tapi kalo kita yah masuk pagi terus kuliahnya gitu, kek anak SMA gitu, udah ditentukan topik-topiknya.. terus kita kan per mata kuliah, jadi siap satu mata kuliah baru lanjut mata kuliah selanjutnya. Memang baik untuk mengingatkan kita gitu. Jadi satu siap biar full diselesaikan semua, gak berulang-ulang lagi untuk minggu selanjutnya. Tapi tentang KBK dituntut sih mahasiswanya yang mencari lebih banyak informasi kekgitu,harus lebih aktif kitanya.. karena di kampus hanya didapat dari pembelajaran dosen aja. Kalau di keperawatan juga kita gak ada bukunya, Cuma dikasih slide dari dosen terus mahasiswa sendiri yang di suruh cari sumber lain kekgitu. Kalau mahasiswa lain mereka ada dapat buku, kita gak ada dapat buku.

Peneliti : Tadi katanya mahasiswa yang mencari informasi, lebih aktif.. Kalau

menurut saudara lebih aktif dalam arti yang spesifik mungkin, contohnya yang seperti apa?

Partisipan : Contohnya, kalau pas tutorial misalnya. Tutorial kan kita dikasih

kasus. Nah kita udah dapat kasusnya, kita harus cari sumber sendiri, misalnya bagaimanalah supaya dapat tentang suatu penyakit, harus tau secara keseluruhan tentang penyakitnya kekgitu. Karena cuma diajari kita garis-garis besarnya misalnya di kampus mungkin dapat penjelasannya tapi kita kan gak dapat sumbernya kekgitu, Cuma dari dosen aja yah diharapkan mahasiswa juga mencari bukunya kekgitu..

Peneliti : Nah, katanya dalam KBK ini ada sistem pembelajaran based learning

namanya, pembelajaran yang berfokus pada masalah, saudara pernah mendengar itu?

Partisipan : Pernah..

Peneliti : Kalau itu, seperti apa pendapat saudara tentang PBL itu? Yang

(15)

Partisipan : Kalau itu sih baik kekgitu, dimana mahasiswa dituntut untuk lebih

aktif ketika diberikan suatu permasalahan, lebih memicu pemikiran mahasiswanya. Mahasiswanya lebih berpikir lebih keras ketika dikasih suatu masalah, berpikir kritis. Misalnya suatu penyakit, apa tanda-tanda dan gejala yang spesifik dari suatu penyakit misalnya. Itu menurut saya lebih mendorong mahasiswanya untuk lebih mempersiapkan diri ketika pas tutorial, apa yah kasus-kasus tentang nutrisi, misalnya kekgitu…

Peneliti : Apa saja sih metode-metode yang saudara ketahui yang diterapkan

dalam PBL itu?

Partisipan : Kalau yang diterapkan di fakultas kita, salah satunya yah tentang

tutorial itu, diskusi kan dimana setiap mahasiswa dikasi suatu permasalahan terus mahasiswa itu sendiri yang saling berargumen. Memberikan pendapat masing-masing sehingga bisa masalah itu terpecahkan. Terus ada ceramah juga skill lab untuk praktikum..

Peneliti : Selain tutorial, apakah ada metode pembelajaran lain di kelas yang

pernah saudara ikuti?

Partisipan : Yaa ceramah juga, kalau untuk ceramah, saya kurang mendapati

yang berpusat pada masalah sih karena di kelas kan ada topiknya, yah langsung diajari dosen, gak memacu mahasiswa untuk berargumen kekgitu karena cuman dijelaskan aja. Jadi mahasiswanya kurang aktif..

Peneliti : Yah, mengapa saudara berpandangan seperti itu, ada apa dengan

ceramah? memangnya ceramah itu seperti apa sih?

Partisipan : Kalau ceramah, menurut saya kayak yang di fakultas ini, satu

stambuk satu kelas, banyak mahasiswa satu kelas jadi kurang mendukung terhadap pembelajaran seperti itu. Walaupun dosen nya pake mic tapi gak bisa menjangkau semua mahasiswa kekgitu. Pada akhirnya banyak mahasiswa yang main-main di belakang, kurang kondusif la, kurang efektif. Menurut saya lebih baik jangan satu kelas semua kekgitu, pas dosen mengajar kan ceramah aja, kurang juga mengajak mahasiswa misalnya kek mendiskusikan dikasih masalah. Jadi kan datang dosen, diajarkan yah gitu. Gak ada di evaluasi juga tentang pelajaran itu. Dikitnya dosen yang mengevaluasi mahasiswa yang udah ngerti atau belum. Yah mahasiswa cuma menjawab, mengerti tapi gak dipastikan mengertinya sampe mana.

Peneliti : Jadi kalau misalnya terkait dengan media ataupun fasilitas yang

(16)

Partisipan : Kalau media yang digunakan kan cuma slide doang, itu pun kita

dapat kan bukan sebelum ceramah dimulai. Sebenarnya udah adanya BRP, tapi disitu pun mahasiswa gak serius membacanya. Udah taunya sebenarnya apa yang mau dikerjakan tapi mahasiswa disini kan gak ada buku panduan, misalnya tentang nutrisi kekgitu, jadi harus dicari-cari sendiri, itu sih yang masih juga kurang. Jadi mahasiswa belum ada persiapan ketika dosen mengajar, medianya cuma slide, kalau mic yah kekgitu..

Peneliti : Bagaimana dengan fasilitas lain yang digunakan saat ceramah? Partisipan : Kalau mic menurut saya tidak ada gangguan tapi kalau LCD kan

diperalatannya tidak ada masalah. Tapi kadang-kadang dosen membuat desain atau tampilan powerpoint-nya berbeda-beda jadi terkadang ada yang tidak terbaca pada saat di buat ke layar. Beda yang kita baca di laptop sama yang ada di slide gitu. Terus ada juga mahasiswa beberapa yang pandangannya udah berkurang, jadi itu juga bisa mengganggu seperti itu.

Peneliti : Jadi sejauh pandangan saudara apa efektif menurut saudara metode

ceramah ini dilaksanakan di fakultas ini?

Partisipan : Menurut saya sih metode ceramah ini kurang efektif, ada baiknya

jika mahasiswanya dibagi-bagi, dibuat jangan satu kelas semua. Jadi dosen juga lebih tahu mana mahasiswanya yang mengerti, mana yang gak. Kalau ini kan satu stambuk semua satu kelas kurang tau lah dosennya apakah mahasiswanya ngerti atau gak. Jadi kurang efektif…

Peneliti : Tadi kan saudara mengatakan kurang efektif, kira-kira saudara ada

saran atau apalah harapan ke depannya dengan metode ceramah ini untuk perbaikan kedepannya mungkin?

Partisipan : Yah kalau dikasih saran mungkin susah, karena ruangan kita pun

kurang, ini aja dosen kita pun terbatas, kadang skill lab pun atau tutorial bisa-bisa terhalang karena kekurangan dosen kekgitu. Kalau dibilang dikasih saran, mungkin dibagilah satu stambuk itu entah dua kelas pun, pasti sangat mendukung, akan lebih aktif mahasiswanya. Kalo seperti ini seratus tigapuluhan yah ada yang terlambat kekgitu juga, kurang efektif juga. Kursi kan gak dibuat sejumlah mahasiswa, jadi adapun kosong atau lebih yah dosen gak tau siapa yang gak datang.

(17)

Peneliti : Iya yah. Baiklah, itu saja yang mau saya tanyakan kepada saudara,

nanti kalau saya mau mengklarifikasi, mungkin saya akan menghubungi saudara kembali. Terimakasih untuk kerjasamanya.

(18)

Partisipan 4

Peneliti : Sebelumnya saudara pernah mendengar tentang KBK? Partisipan : Pernah..

Peneliti : Menurut saudara KBK itu apa? Partisipan : Kurikulum Berbasis Kompetensi..

Peneliti : Iya, kurikulum berbasis kompetensi, jadi mulai semester berapa

saudara mengikuti pembelajaran KBK?

Partisipan : Semenjak semester satu sudah..

Peneliti : Kurikulum berbasis kompetensi itu yang saudara ketahui yang

seperti apa sih?

Partisipan : Kurikulum yang penilaian segala sesuatu itu semuanya secara

objektif, kita disuruh cari informasi, terus KBK itu menekankan ke PBL, problem based learning yaitu bagaimana kita belajar bukan hanya di tempat ilmunya, tapi ada satu masalah yang harus kita pecahkan.

Peneliti : Berarti berdasarkan masalah yah? Partisipan : Iya benar..

Peneliti : Tadi saudara mengatakan bahwa penilaiannya KBK itu objektif.

Maksudnya objektif yang seperti apa yah?

Partisipan : Yah itu kita kayak MDE, multiple eee apa yaa.. pokoknya dia gini

secara objektif, disini semuanya berdasarkan sistem, gak ada yang misalkan kita kenal dosen, kita dapat nilai ini. Pokoknya semua berdasarkan objektif. Bahkan kalau misalnya dilihat dari ujiannya pun multiple choice semuanya, terus berdasarkan absen,kalau absennya memenuhi dia bisa ikut ujian, kalau gak, dia gak bisa ikut ujian, gitulah tergantung kemampuan mahasiswanya..

Peneliti : Jadi kalau PBL-lah, menurut saudara sudah seperti apa penerapannya

di kampus ini?

Partisipan : Sebenarnya sih sudah cukup baik kalau misalkan dilihat dari tutorial,

karena kan kalau di tutorial ada kasus yang dikasih terus kita dituntut untuk menyelesaikan masalah kasus itu. Pertama kita dituntut untuk menyelesaikan berdasarkan rasional kita sendiri, pengetahuan yang sudah kita tahu. Yang kedua, kita dituntut lagi memecahkan masalah itu berdasarkan jurnal-jurnal yang kita dapat, penelitian yang kita baca, baru dituntut bersama-sama memecahkan masalah tersebut , lalu nanti

(19)

dijelaskan oleh pakar. Menurutku, kalau sebatas tutorial itu sudah baik.

Peneliti : Berarti tutorial itu merupakan salah satu metodenya, kira-kira

saudara tau tidak metode yang lain yang mengarah ke PBL yang diterapkan di kampus ini?

Partisipan : Skill lab, praktikum, ceramah..

Peneliti : Kalau misalnya ceramah, saudara memandangnya sudah seperti apa? Partisipan : Ceramah itu kak kalau menurutku metode pembelajaran yang

menggunakan narasumber sebagai penyedia dan mahasiswa sebagai penerima. Berfokus pada dosen sebagai pemberi informasi dan mahasiswa hanya sebagai penerima informasi.

Peneliti : Kalau dari segi ceramah, kita-kira itu mengarah tidak kepada PBL? Partisipan : Sebenarnya itu tergantung dosennya, ada yang memberikan kasus,

terus sama-sama kita selesaikan. Tapi kalau dilihat di kampus usu apalagi fkep, dengan begitu banyaknya mahasiswa, aku rasa kurang. Yang bagusnya dari ceramah ini sih kita bisa memiliki persepsi yang sama, maksudnya kita diletakkan di kelas yang sama, dengan satu narasumber jadi kita punya persepsi yang sama akan satu hal. Tapi untuk sama-sama memecahkan masalah, itu terlalu ribet karena banyak kali di dalam.

Peneliti : Iya yah.. mungkin ada beberapa faktor yang saudara ketahui yang

mempengaruhi kenapa bisa seperti itu?

Partisipan : Ceramah kan lebih banyak yang jadi pusatnya si dosen atau si

pengajarnya kan, sedangkan metode lain seperti tutorial yang jadi centre-nya studentnya, mahasiswanya. Tapi kalo ceramah memang yah kita fokus hanya kepada si penceramah. Itulah yang membuat sulit, kelas yang banyak orang, satu banding seratus kan, satu banding seratus lebih..

Peneliti : Kalau dengan fasilitas mungkin atau media yang digunakan saat

ceramah seperti apa?

Partisipan : Kalau untuk itu di fkep kurasa udah ada microphone, infokus, kalo

itu udah bagus..

Peneliti : Kalau dilihat dari segi ruangan ataupun si narasumbernya kira-kira

materi ceramah yang disampaikan itu memenuhi kebutuhan mahasiswa tidak?

(20)

Peneliti : Tapi kalo yang saudara rasakan sendiri terpenuhi tidak kebutuhan

saudara?

Partisipan : Bisa sih bisa… masih bisalah.. kecuali memang kalau ruangan

seperti itu, kalau udah di bangku belakang kalau udah agak lama udah agak susah konsentrasinya. Dosennya pun jarang fokus sama yang di belakang.

Peneliti : Jadi apa saja kelebihan dari metode ceramah ini?

Partisipan : Kelebihannya, mahasiswa memilki persepsi yang sama terhadap satu

materi pembelajaran.

Peneliti : Kalau kekurangannya?

Partisipan : Mahasiswa hanya menerima saja informasi dari pendidik. Kalau

pendidik ingin banyak melibatkan mahasiswa secara aktif, maka harus dilakukan secara kreatif.

Peneliti : Jadi kalau melihat dari segi keefektifan, menurut saudara seberapa

efektif metode ceramah ini dilaksanakan?

Partisipan : Menurutku sih efektif. Hambatannya memang orang yang terlalu

banyak di kelaslah, jadi satu, konsentrasi agak susah. Yang kedua, dosen pun gak bisa fokus sama semuanya. Kan kalau misalnya sedikit kan jadi lebih bisa dipantau. Yang efektifnya itu karena satu angkatan atau satu stambuk itu punya persepsi yang sama akan satu masalah. Karena dari satu sumber yang sama.

Peneliti : Oh gitu yah.. jadi bagaimana perasaan saudara selama mengikuti

pembelajaran metode ceramah dikampus ini?

Partisipan : Jenuh sih pernahlah.. karena kita cuma mendengar, mendengar, dan

mendengar.. kurang aktif, tapi memang harus tetap diikuti. Kalau memang mau aktif yah di tutorial. Tapi secara keseluruhan sudah bagus sih selama ini..

Peneliti : Kira-kira ada tidak harapan saudara ke depannya tentang metode

ceramah?

Partisipan : Gini, kalau di kelaslah, kalau misalnya di ruangan kan dengan orang

yang sebanyak itu kepanasan, itu bisa menimbulkan jadi gak kondusif kelas itu. Terus yang kedua kalo masalah faasilitas, sebenarnya sudah mencukupi, cuman untuk proyektor ataupun infokus gak cukup satu, harus dua kiri-kanan, maksudnya biar fokus, gak susah-susah liatnya, supaya memenuhi ke semuanya.

(21)

Partisipan : Iya… karena memang kalo misalnya di bilang ribut, yah itu sih gak

bisa kita salahkan metodenya kan, memang mahasiswanya. Itu sih…

Peneliti : Kalo dari segi keaktifan mahasiswanya, metode ceramah ini seperti

apa?

Partisipan : Kalo keaktifan?? Kurang kalo ku liat.. Peneliti : Kenapa saudara mengatakan kurang?

Partisipan : Kebanyakan mesti ditunjuk, terus kalo kuliat selama ini sih

kuranglah.. hanya beberapa, misalnya kalo dituntut untuk angkat tanganlah, atau dituntut untuk aktif-lah baru aktif. Yang lain sih gak, selama ini biasa-biasa aja. Tapi sejauh ini masi bisalah dilaksanakan.

Peneliti : Ok, itu saja yang ingin saya tanyakan, nanti kalau saya memerlukan

informasi berikutnya, saya akan klarifikasi. Terimakasih..

(22)

Partisipan 5

Peneliti : Sebelumnya, saudara sudah pernah mendengar istilah KBK? Partisipan : Sudah..

Peneliti : Apa yang saudara ketahui tentang KBK itu?

Partisipan : KBK itu lebih ke bagaimana mahasiswa itu jadi centre-nya, student learning centre. Jadi dosen hanya boleh mengarahkan, atau kegiatan pembelajaran itu lebih banyak kepada mahasiswa atau kepada yang akan belajar.

Peneliti : Nah, di KBK itu kan ada yang dinamakan dengan sistem

pembelajaran problem based learning atau PBL. Yang saudara pahami tentang PBL itu seperti apa?

Partisipan : Lebih kepada bagaimana belajar itu lebih kepada kasus, bisa

ceramah, skills lab nya, praktikum.. jadi lebih banyak memang bukan hanya pada satu konsep tetapi beberapa konsep supaya itu lebih menuntun mahasiswa lebih dapat bagaimana belajarnya dan supaya aktif, bukan hanya satu konsep sih..

Peneliti : Berarti mahasiswa lebih aktiflah yah. Dari beberapa metode yang

saudara sebutkan tadi, menurut saudara, metode yang mana yang sering saudara ikuti?

Partisipan : Yang sering saya ikuti itu ceramah..

Peneliti : Ceramah yah, menurut saudara ceramah itu seperti apa sih?

Partisipan : Metode ceramah adalah metode kegiatan belajar mengajar tatap

muka langsung dan dosen menjadi centre-nya. Kalau ceramah, dosen lebih apa sih, lebih menyajikan hal-hal yang dipelajari dengan sesuai standar atau indikator-indikator yang sudah ditetapkan oleh kurikulum berbasis kompetensinya dan itu memang harus didapatkan oleh mahasiswa. Kemudian mahasiswa juga harus berperan aktif, atau ada feedback dari mahasiswa untuk pembelajaran itu sendiri.

Peneliti : Jadi sejauh ini yang saudara lihat atau yang saudara alami sendiri,

metode ceramah itu mengarah tidak dengan PBL untuk menyelesaikan masalah?

Partisipan : Kalau secara kasus, memang bisa, tapi masih kurang objektif atau

masih tidak bisa mengena karena itu lebih luas, apa namanya lebih banyak orang yang di situ jadinya memang tidak banyak yang aktif. Hanya beberapa mahasiswa yang aktif dan yang ada feedback-nya

(23)

Peneliti : Jadi kalau misalnya dilihat dari segi media ataupun fasilitas, seperti

apa penerapan metode ceramah di kampus fkep?

Partisipan : Kalau media, fasilitas, menurut saya sudah cukup baik yah. Hanya

itu tadi memang, mungkin kepada sistem mengajarnya aja kali yah yang kurang kekgitu karena juga kelas itu lebih banyak mahasiswanya, ratusan. Jadi sebenarnya itu yang aku bilang tadi kurang dapat untuk memecahkan kasus atau lebih kepada problem based learning.

Peneliti : Kalau selama ini, selama beberapa semester saudara mengikuti

pembelajaran PBL, apa yang saudara rasakan?

Partisipan : Biasanya kalo sudah lebih dua jam pasti akan membosankan,

kemudian memang hanya fokus pada saat dibahas atau pada slidenya aja. Jadinya tidak mencari referensi yang lain untuk dibaca lagi.

Peneliti : Jadi menurut pandangan saudara, seberapa efektif metode ceramah

ini diterapkan?

Partisipan : Kalau di bilang efektif, memang ada efektifnya tapi lebih besar

efektifnya untuk studi kasus yang misalkan ada tutorial. Jadi lebih banyak mahasiswa memang berpikir dengan baik. Lebih banyak menuntut peran aktif dari mahasiswa itu sendiri. Nah kalau ceramah memang itu yang susahnya, karena lebih banyak mahasiswa dan hanya satu dosen dan tidak terpantau dengan untuk proses pembelajarannya.

Peneliti : Kira-kira ada tidak harapan saudara atau mungkin saran-sarannya? Partisipan : Mungkin lebih kepada bagaimana dosen itu mengajar, contohnya

bagaimana dia membuat hal-hal yang kreatif untuk mengajarkan. Bukan hanya buat slide, kemudian mengajarkan atau memberi ceramah. Tapi mungkin dengan membuat games yang akan berfokus kepada pembelajaran itu atau lebih kepada membagi kelompok. Dan boleh bertukar pikiran melalui itu dengan mahasiswa. Jadi tidak hanya slide baru buat ceramah.

Peneliti : Jadi menurut saudara apakah metode ceramah ini dapat memenuhi

kebutuhan mahasiswa yang KBK?

Partisipan : Sebenarnya itu tadi point-nya, bagusnya lebih banyak waktunya

untuk tutorial aja daripada ceramah, karena seperti itulah cara mengajarnya memang. Kemudian sistemnya itulah yang masih kurang baik pada saat ceramah. Jadinya itulah yang membuat membosankan dan memang sering yang kuliat sendiri pun mahasiswa di kelas itu yah ngantuk. Kalau udah lama sampe satu jam lebih itu udah ngantuk.

(24)

Peneliti : Kira-kira ada tidak kelebihan metode ceramah ini dibandingkan

metode yang lain?

Partisipan : Kalau kelebihannya mungkin dari bahannyalah yah, akan sangat

membantu mahasiswa juga sih untuk lebih memahami apa yang dipelajari, kemudian ada juga sih sisi buruknya dari segi bahan. Bahannya itu sering tidak di update jadi pake slide yang udah lama, dari beberapa tahun yang lalu. Memang ada juga yang sudah update dan menggunakan yang sudah-sudah diteliti, yang baru kekgitu tentang jurnal-jurnal.. jadi memang disitu lebih membantu mahasiswa untuk lebih mengerti materi kuliahnya dengan baik sih. Kelebihan yang kedua adalah dosen mempunyai waktu yang banyak untuk mengajarkan ilmunya kepada mahasiswa, lebih terfokus dan terarah dalam setiap pembelajaran.

Peneliti : Kalau kekurangannya kira-kira ada?

Partisipan : Kekurangannya sering mahasiswa jadi pasif, bosan mendengar dan

menjadi kurang mengambil andil dalam pembelajaran.

Peneliti : Ok, mungkin itu saja yang ingin saya tanyakan, nanti kalau saya

membutuhkan informasi yang lain, saya akan klarifikasi. Terimakasih untuk kerjasamanya.

(25)

Partisipan 6

Peneliti : Semenjak mengikuti perkuliahan disini, kan ada namanya kurikulum

berbasis kompetensi, saudara pernah mendengarnya?

Partisipan : Pernah..

Peneliti : Menurut saudara apa itu kurikulum berbasis kompetensi?

Partisipan : Pernah sih, cuman kalo secara teori kurang paham.. yang setahu saya

itu kurikulum berbasis kompetensi itu, dia itu lebih berfokus pada mahasiswanya kekgitu. Jadi palingan hanya mahasiswanya itu di beri bahan, nanti mahasiswanya itu lebih mengeksplor lagi tentang pelajaran itu.

Peneliti : terus kan ada juga dikatakan KBK itu dengan sistem PBL atau Problem Based Learning, yang berfokus pada penyelesaian masalah seperti misalnya penyelesaian ke kasus-kasus seperti itu. Menurut saudara gimana penerapannya dikampus kita?

Partisipan : Kalo penerapannya di kampus untuk masalah PBL itu udah mulai

jalan kan. Karena contohnya itu udah menggunakan sistem tutorial . jadi kita dikasih kasus gtu kan, barulah nanti perkelompok. Dan satu kelompok itu memecahkan suatu masalah, di kaji kekgitu.. ini penerapannya gitu maksudnya?

Peneliti : Yang saudara alamilah..

Partisipan : Ooh.. sejauh ini udah lumayan bagus gitu kan, cuman yah mungkin

keterbatasannya itu di referensinya atau misalnya di kasusnya itu terkadang pemberian informasinya itu sedikit rancu.

Peneliti : Itu tadi saudara ada menyebutnya metode tutorial. Kira-kira ada

metode lain yang diterapkan di kampus kita, yang diterapkan di kelas, metode pembelajaran yang diikuti?

Partisipan : Ceramah.. kan kita sessionnya ceramah, jadi dosen itu udah

menyampaikan materi kuliahnya itu masi dalam sistem ceramah.

Peneliti : Jadi kalo menurut saudara, metode ceramah itu defenisinya apa sih? Partisipan : kalo menurut saya metode ceramah itu menyampaikan suatu materi

dengan cara apa yah.. pokoknya yang saya alami selama tiga setengah tahun itu, metode ceramah itu dosen menyampaikan materi dengan verbal gitu. Menyampaikannya secara detail, palingan nanti kita sebagai mahasiswa hanya mendengarkan saja dan ada sebagian dosen yang melakukan umpan balik atau melakukan feedback gitu kan.

(26)

Misalnya tanya jawab dan ada dosen itu yang ya udah menyampaikan materi , udah selesai, udah tutup..

Peneliti : Lalu bagaimana dengan penyelesaian masalah dengan metode

ceramah? Misalnya ada suatu kasus, dosen memakai metode ceramah nih dalam penyelesaian kasusnya, kira-kira dapat gak gitu? Efektif tidak?

Partisipan : Sebenarnya kalo masalah penyelesaian kasus itu, yang pernah saya

alami gitu kan, misalnya di kasih kasus dan dosen itu hanya menyampaikan dengan ceramah itu terkadang kurang efektif. Kan masing-masing dosen itu cara penyampaiannya berbeda-beda. Jadi ada dosen itu yang menyampaikan itu dapat kuncinya. Dapat benang merahnya untuk menyelesaikan kasus. Tapi ada juga yang kalau misalnya hanya mendengarkan ceramahnya saja mungkin gak dapat. Harus kita cari lagi sumber dengan referensi lain.

Peneliti : Jadi kalau misalnya dari segi dosennya, tenaga pendidiknya, menurut

saudara bagaimana dosen di kampus ini dalam pemberian ceramah?

Partisipan : Kalau itu, udah mulai baguslah gitu, hanya mungkin ada beberapa

yang dengan ceramah itu membuat sesuatu gak fokus kekgitu. Tapi kalau sejauh ini yang saya alami, metode ceramah itu bagus karena dosen itu melakukan kuis ataupun tanya jawab, seperti itu..

Peneliti : Kalau dari segi media dan fasilitas yang digunakan dalam metode

ceramah seperti apa?

Partisipan : Mungkin kalau fasilitas, sarana dan prasarananya itu mungkin karena

pertama, ada kekurangan ada kelebihannya gitu. Medianya itu contohnya infokus, kekurangannya itu kan infokusnya itu hanya satu padahal mahasiswa di keperawatan itu dalam satu kelas ada banyak sampe ratusan. Kalo tadi infokusnya terletak di tengah kan gitu enak ngeliatnya. Tapi kalo letaknya hanya di salah satu bagian, misalnya sebelah kanan, yah bagian kiri sedikit agak susah dan kalau fasilitas lainnya yah mic yah.. kalau mic nya kalau di keperawatan ini mungkin gak tau la kenapa, mic nya itu kadang gak denger gitu. Udah la mungkin memang mic nya itu udah lama.. apalagi nanti ada dosennya itu kecil suaranya. Tapi ada juga dosen itu tidak menggunakan mic tapi suaranya cukup keras sehingga tertangkap juga oleh mahasiswa.

Peneliti : Lalu bagaimana dengan kapasitas ruangan?

(27)

yang fokus itu palingan barisan pertama dan kedua dari depan. Yang di belakang itu yah gak taulah karena yang pernah saya alami sendiri seperti itu. Ketika saya dapat duduk di belakang gak kedengeran terus tulisannya gak nampak, slidenya.. yah udah palingan cuek-cuek gitu aja kan. Denger, duduk, masuk kuliah, ngisi absen, udah.. Tapi ketika memang dapat dosen yang sangat memperhatikan mahasiswa, meskipun kita duduk di belakang kita tetap fokus.

Peneliti : Jadi sejauh ini apa yang saudara rasakan selama mengikuti kelas

ceramah?

Partisipan : Yah, kalau saya ini kan udah empat tahun, sebenarnya gak ada yang

bosan sih karena kita kan setiap semester itu kan ada sistem blok. Setiap selesai blok pasti ada ujian, jadi kita fokus untuk mendengarkan ceramah-ceramah dari dosen kita. Di bilang bosan, gak bosan, gak terlalu bosan gitu. Di bilang menyenangkan juga, nggak gitu..

Peneliti : Jadi menurut saudara gimana? Partisipan : Biasa-biasa aja..

Peneliti : Kira-kira apalah kekurangan metode ceramah ini?

Partisipan : Kalau kekurangannya, kalau untuk materi nggak bisa di nilai gitu

kak, karena kita sendiri kan sama-sama belajar. Karena sistemnya kan PBL jadi apa yang di berikan dosen itu, kita tidak hanya menerima, tetapi harus mencari. Lalu yah itu tadilah mic nya, infokus…

Peneliti : Kalau kelebihannya mungkin, dibandingkan metode yang lain? Partisipan : Kalau menurut saya gitu kan kak, kalau misalnya metode lain kan

kita yang hanya mencari sendiri, dan yang kita cari sendiri itu belum tentu itu yang benarnya. Kalau misalnya ada bimbingan dari dosen gitu kan, jadi kita tau kekgitu, oh ternyata ini yang benarnya kek gitu, karena di kasitau sama dosennya, karena narasumbernya langsung.

Peneliti : Jadi kira-kira ada tidak harapan atau saran saudara untuk metode

ceramah?

Partisipan : Saya pernah tertarik dengan metode ceramah salah satu dosen di sini,

gak semua sih hanya beberapa.. contohnya seperti bapak ini.. dia itu menggunakan metode ceramah tapi jadi seperti game kek gitu. Dan dari game itulah inti pelajaran. Dan beliau mengatakan apa yang harus dilakukan , barulah dia menerangkan apa yang dilakukannya itu. Itulah dia sedikit menerangkan. Itu yang pertama, kemudian yang kedua yah setidaknya sebenarnya tergantung mahasiswanya juga gitu. Kita mahasiswa ini kalau gak di tekan dia itu gak bakalan mau gerak gitu.

(28)

Contohnya ketika metode ceramahnya itu kalo ada kuis, pasti mahasiswa itu akan cari bahan atau baca-baca dulu. Bukan hanya mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh dosennya. Jadi ketika ada post-test ato pre-test pasti kita akan mencari terlebih dahulu sehingga kita lebih nyambung. Jadi ceramah itu gak hanya apa yang di bilang dosen nya.. apa-apa itu aja.. setidaknya udah ada kita baca, jadi oh maksudnya gitu.. itulah yang perlu dikembangkan dari ceramah itu.

Peneliti : Ok, mungkin itu saja yang ingin saya tanyakan, nanti kalau saya

membutuhkan informasi yang lain, saya akan klarifikasi. Terimakasih yah..

(29)

Partisipan 7

Peneliti : Selama saudara mengikuti perkuliahan di sini, saudara mengikuti

perkuliahan dengan kurikulum berbasis kompetensi kan, menurut saudara apa itu kurikulum berbasis kompetensi?

Partisipan : Kurikulum berbasis kompetensi yaitu seperti kayak sistem paket gitu

kak. Jadi setiap mahasiswa itu mengambil mata kuliah yang sama dan di kelas yang sama.

Peneliti : Jadi bagaimana peranan mahasiswa dalam KBK ini? Partisipan : Kalau di KBK ini mahasiswanya lebih aktif gitu kak.

Peneliti : Dalam kurikulum berbasis kompetensi ada namanya sistem PBL, problem based learning, yang berfokus pada penyelesaian masalah. Saudara pernah mendengar sebelumnya?

Partisipan : Problem based learning? Yah itu salah satu bagian dari KBK.

Peneliti : Metode-metode apa saja yang saudara ikuti selama perkuliahan di

sini?

Partisipan : Ceramah, tutorial, terus skill lab juga.

Peneliti : Tadi saudara menyebutkan tentang ceramah. Menurut saudara

metode ceramah itu seperti apa sih?

Partisipan : Metode ceramah itu yah dosen masuk ke ruangan terus menjelaskan

materi, setelah itu nanti ada bagian diskusi juga. Nanti mahasiswanya yang nanya setelah dosennya menjabarkan materi.

Peneliti : Berarti kalo ceramah itu apa saja yang menjadi keunggulannya yang

saudara alami?

Partisipan : Kalo metode ceramah, kalo menurut saya memang sih mahasiswanya

aktif tapi kalo realitanya di kelas saya sendiri itu mahasiswanya gak aktif malah cuma denger ceramah dari dosen doang gitu. Pas di sesi tanya jawab paling cuma satu atau dua orang aja yang nanya gitu. Gak sesuai sih dengan ini, yang diharapkan kan fokusnya nanti mahasiswanya aktif gitu kan tapi yang di kelas kami gak gitu.

Peneliti : Kira-kira menurut saudara apa yang membuat mahasiswa tidak aktif

di ceramah di bandingkan metode lain?

Partisipan : Tergantung dosennya juga kak, kalau dosennya itu apa yah, kan ada

dosen yang cuma bacain slidenya aja, Cuma bacain tapi gak ngasi kejelasan gitu, abis itu udah selesai kuliahnya. Tapi ada dosen yang slidenya sikit tapi lebih banyak penjelasan. Nah itu nanti ada banyak

(30)

pertanyaan. Jadi tergantung dosennya juga kekmana cara dosennya menyajikan materinya.

Peneliti : Kalau dari segi media dan fasilitas yang digunakan dalam metode

ceramah seperti apa?

Partisipan : Kalau untuk infokus kan ada dua, tapi yang bisa di pake Cuma satu

kek gitu. Terus mic nya juga kadang ada yang rusak jadi gak fokus juga belajarnya.

Peneliti : Kalau dari segi kapasitas ruangan?

Partisipan : Kalau menurut saya terlalu rame jadi gak efektif. Karena terlalu jauh

ke belakang jarak antara mahasiswa yang paling belakang sama dosennya, kadang pun gak kedengaran ke belakang.

Peneliti : Ada tidak kelebihan metode ceramah ini dibandingkan metode lain? Partisipan : Kalau sisi positifnya sih yah banyak dapat penjelasan dari dosen, tapi

itu tergantung dari dosennya tadi itu juga kak ceramahnya.

Peneliti : Jadi sejauh ini apa yang saudara rasakan selama mengikuti

perkuliahan dengan metode ceramah?

Partisipan : Kalau saya sih mungkin tipenya gak mandang dosen gitu kan,

siapapun dosen yang masuk saya tetap antusias sama dosennya.

Peneliti : Jadi menurut pandangan saudara apakah pembelajaran metode

ceramah ini efektif untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa?

Partisipan : Sebenarnya efektif kak, cuman tergantung mahasiswanya juga. Peneliti : Kira-kira ada harapan atau saran saudara untuk kedepannya mungkin

metode ceramah itu maunya seperti apa?

Partisipan : Kalau menurut saya yah dosennya kalau bisa juga mungkin setelah

ngasi ceramah itu dikasih kuis gitu kak. Setiap akhir dari ini dikasih kuis, jadi nanti keliatan gitu kan mahasiswa yang memang belajar ato gak kek gitu.

Peneliti : Jadi kalau untuk materi yang disampaikan dosen apakah memneuhi

dengan kebutuhan saudara?

Partisipan : Kalau menurut saya bisalah.

Peneliti : Kalau untuk kondisi ruangan yang digunakan selama metode

ceramah?

Partisipan : Kalau saya sih merasa kurang nyaman karna kadang terganggu

karena terlalu rame, jadi kadang ribut, jadi kurang konsen. Maunya satu kelas jangan gitulah. Maunya satu-satu kelas 30 orang gitu, jadi kek di sekolah SMA, jadi itu mungkin lebih efektif metode ceramah.

(31)

Peneliti : Ok, mungkin itu saja yang ingin saya tanyakan, nanti kalau saya

membutuhkan informasi yang lain, saya akan klarifikasi. Terimakasih untuk kerjasamanya.

(32)

Partisipan 8

Peneliti : Menurut saudara apa itu kurikulum berbasis kompetensi?

Partisipan : Kalau KBK itu mahasiswanya dituntut lebih aktif, sering bertanya. Peneliti : Jadi dalam KBK ini apa saja metode pembelajaran yang saudara ikuti

di kelas?

Partisipan : Ceramah..

Peneliti : Menurut saudara metode ceramah itu seperti apa?

Partisipan : Pokoknya dia yang berhubungan sama slide kak, terus kayak ngasi

arahan gitu kak, bisa juga berbagi cerita di kelas tentang pelajaran yang kita pelajari.

Peneliti : Kalau dari segi tenaga pendidiknya, dosen di kampus ini?

Partisipan : Kalau menurutku udah lumayan baguslah kak, Cuma terkadang ada

dosen yang terkesan membosankan kalau membawakan materi dia, karena terlalu berfokus ke slide gitu loh..

Peneliti : Kalau dilihat dari segi media atau fasilitas yang digunakan, seperti

apa?

Partisipan : Udah lumayan bagus kok kak kalau misalnya di sini. Terkadang

paling kalo misalnya duduk di belakang gak kedengeran gitu kak. Kalo misalnya suara dosennya yang kecil.

Peneliti : Kalo untuk kapasitas mahasiswa gimana?

Partisipan : Kalau menurutku kak gak efektif karena 134 orang di dalam satu

ruangan. Nanti kadang kalo misalnya ada dosen, ada yang bicara, ada yang cerita-cerita.. jadi gak kondusif di dalam. Jadi mengganggu..

Peneliti : Bagaimana dengan hal teknis lainnya?

Partisipan : Kadang AC gak ini, kadang ada yang rusak gitu kak. Peneliti : Jadi kira-kira apalah kekurangan metode ceramah di kelas?

Partisipan : Kekurangannya, yang pertama dosen itu kak cuma berfokus sama

slide. Yang kedua masih ada dosen yang jarang melakukan interaksi sama mahasiswa. Masih jarang bertanya gitu kak, dia lanjut aja nyampe’in slide. Itulah kadang dosen suaranya kurang ini, kecil volumenya kan kak, gak sampe kedengeran sama yang di belakang, slidenya kurang menarik kadang, materi yang di kuliahkan juga kadang kurang menarik juga.

Peneliti : Kalau untuk kelebihannya kira-kira apa?

(33)

Bisa di situ kita diskusi sama dosen, kita dapat informasi dari narasumbernya langsung.

Peneliti : Gimana perasaan yang saudara alami selama mengikuti perkuliahan

dengan metode ceramah?

Partisipan : Lebih terasa membosankan sih kak, karena kadang satu hari kan 4

jam gitu ceramah. jenuh juga, ngantuk apalagi duduk di belakang, udah la…

Peneliti : Kira-kira ada tidak harapan saudara atau mungkin saran-sarannya

untuk metode ceramah ini?

Partisipan : Maunya metode ceramah itu deselingi dengan game-game, supaya

lebih menarik, supaya gak hanya slide gitu. Bisa juga kita tanya jawab sama dosennya, kayak diskusi gitu.

Peneliti : Baikla.. Itu saja yang ingin saya tanyakan, nanti kalau saya

membutuhkan informasi yang lain, saya akan klarifikasi. Terimakasih yah..

(34)

Transkrip Pilot Study

Peneliti : Saudara pernah mendengar istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi

atau KBK?

Partisipan : Iya, pernah..

Peneliti : Menurut saudara apa itu KBK?

Partisipan : Hmm… KBK itu seperti kurikulum yang menuntut suatu kompetensi

pada mahasiswa, contohnya kompetensi dalam pemecahan kasus-kasus..

Peneliti : Tentang pemecahan kasus yah.. Kalau tentang PBL saudara pernah

dengar? Problem based learning?

Partisipan : iya, pernah juga.. itulah dia.. kalo KBK ini kan kak kita dituntut

untuk mampu menganalisa suatu kasus dan menyelesaikannya.. jadi kita jadi banyak berpikir sih..

Peneliti : Banyak berpikir maksudnya seperti apa?

Partisipan : Yah kita dipacu untuk berpikir kritis dan dilatih untuk menganalisa

kasus.

Peneliti : Jadi selama ini, metode pembelajaran apa saja yang saudara ikuti di

kampus ini, khususnya di kelas?

Partisipan : Kalo dikelas hmm.. beda kan sama di lab? Peneliti : Iya beda..

Partisipan : Kalo di kelas yah ada apa itu namanya… ceramah… iya ada

ceramah.

Peneliti : Nah, menurut saudara sudah seperti apa penerapan PBL dalam

metode ceramah yang anda rasakan?

Partisipan : Kalo untuk PBL sih, kan PBL itu lebih menyelesaikan kasus-kasus,

kalo lewat ceramah sih menurutku gak terlalu apa.. gak terlalu dapatlah. Karena dosen yang ngasi ceramah jarangnya membuat contoh kasus yang untuk dianalisa, lebih banyak menyampaikan

(35)

Peneliti : Jadi seberapa efektif ceramah kalo dikaitkan dengan PBL?

Partisipan : Gak terlalu efektif sih kalo menurutku, karena kalo PBL kan kita

harus aktif gitu… sedangkan ceramah yang saya ikuti yang biasa aja gitu.. monoton, mahasiswa juga jarangnya ada yang aktif saat ceramah. jadi kalo untuk itu, kurang efektiflah..

Peneliti : Jadi selama saudara mengikuti perkuliahan di kampus ini, bagaimana

perasaan saudara? Apa yang saudara rasakan, khususnya kalo ceramah yah?

Partisipan : Yah gimana yah di bilang, terkadang membosankan sih, tapi kalo

dosennya asik, terkadang saya bisa fokus juga gitu.. tergantung kondisilah kak, hehe…

Peneliti : Lalu bagaimana pendapat saudara dengan media ataupun fasilitas

yang digunakan saat ceramah?

Partisipan : Kalo media,, medianya apa yah… oh, kayak LCD, slide.. gitu yah? Peneliti : Iya..

Partisipan : Hmm.. kalo media sih yah kadang bagus sih, tapi kadang LCD nya

bermasalah, lama muncul slidenya, kadang berwarna yang aneh gitu, jd gak enak liatnya, susah lah Nampak tulisan..

Peneliti : Kalo fasilitas yang lain gimana?

Partisipan : Kalo fasilitas, hmm, kayak mic gitu.. sama juga, mic ini seringkali

gak bunyi gitu… gak berfungsi, kita udah ngomong tapi gak kedengaran, entahlah masalahnya apa… mau lagi bunyi yang melengking gitu… ngiiikkk.. gitu.. sangat mengganggulah kak..

Peneliti : begitu yah, kalau dari segi ruangan dan kapasitas mahasiswa gitu,

seperti apa?

Partisipan : Ooh, kalau itu pun aduh banyak kali kak satu kelas, kalo udah bosan

dengar dosen menjelaskan, mulailah itu bising nanti, mulai ngantuk, kepanasan, bosan.. apalagi yang di belakang-belakang duduknya.. orang bejibun satu kelas, manalah bisa kondusif kan kak, belum lagi kalo dosennya monoton cara ngajarnya… susah lah kak..

(36)

Peneliti : Jadi, menurut yang saudara alami sendirilah, kira-kira metode

ceramah yang diterapkan dikampus ini sudah memenuhi kebutuhan saudara tidak? Maksudnya, apakah banyak hal yang saudara dapat?

Partisipan : Oh, kalo itu kak, sebenarnya tergantung kita, kalo kita memang fokus

dengar penjelasan dosen, memang banyak loh kak yang kita dapat gitu.. karena kan kalo ceramah ini, kita belajar itu langsung dari dosen, artinya informasinya bisa di bilang akuratlah gitu.. karena dosennya langsung yang mengajari kita.

Peneliti : Begitu yah, lalu kira-kira ada tidak saran atau harapan saudara untuk

metode ceramah ini sebagai perbaikan gitu?

Partisipan : Yah, kalo saran sih yah, kalo bisa maunya ceramah itu jangan

monoton kali, maunya ada kayak apa yah.. kayak games gitu, ato kuis apalah gitu.. yang membuat mahasiswa tertarik untuk mencari tahu tentang ilmu itu.. terus maunya kan dosen yang memberikan ceramah pun maunya peka dengan kondisi, kalo udah agak lama ceramahnya, maunya di kasi waktu istirahat gtu, ato break sebentar gitu, jadi mahasiswa bsa refresh sejenak sebelum lanjut lagi kuliah.. itu sih..

Peneliti : Baiklah, mungkin itu saja yang ingin saya tanyakan, nanti lain waktu

kalo saya membutuhkan informasi lagi atau mau klarifikasi lagi, saya akan menghubungi saudara kembali yah..

Partisipan : Baiklah..

(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)

Lampiran 10 RIWAYAT HIDUP

A. Identitas

Nama : Eka Ernita Siburian

Tempat/tanggal lahir : Tigabalata, 4 Januari 1994 Jenis kelamin : Perempuan

Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Kristen Protestan

Alamat : Jalan Harmonika No.43, Pasar 1, Padang Bulan, Medan

B. Pendidikan

SD : SD Negeri Plus No. 091473 Tigabalata Tahun 1999 - 2005

SMP : SMP Negeri 1 Jorlang Hataran Tahun 2005 - 2008

SMA : SMA Negeri 1 Dolok Panribuan

Tahun 2008 – 2011 Perguruan Tinggi : DIII Ilmu Keperawatan

Tahun 2011-2014

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :