• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Indeks Kompas-100 Periode Tahun ) dengan hasil penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Indeks Kompas-100 Periode Tahun ) dengan hasil penelitian"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Mawahib (2016) meneliti tentang Pengaruh Faktor Fundamental Mikro dan Makro terhadap Return Saham (Studi pada Perusahaan yang Terdaftar di Indeks Kompas-100 Periode Tahun 2013-2015) dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio utang dan nilai tukar secara positif dan signifikan mempengaruhi pengembalian saham; namun, variabel lain seperti Return on Investment (ROI), Earning per Share (EPS), dan tingkat suku bunga tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham bagi perusahaan terdaftar di indeks Kompas100. Selain itu penelitian menunjukkan bahwa secara bersamaan semua variabel independen yang mempengaruhi pengembalian saham dan efek dominan adalah pada nilai tukar IDR ke USD.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini menggunakan data perusahaan yang terdaftar di Indeks Kompas 100 pada periode 2016 – 2018 sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan periode 2013 – 2015.

Aisah dan Mandala (2016) meneliti tentang pengaruh return on equity, earning per share, firm size dan operating cash flowterhadap return saham dengan hasil dari analisis penelitian ditemukan operating cash flow memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham, EPS memiliki

(2)

pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap return saham sedangkan ROE dan firm size tidak memiliki pengaruh terhadap return saham.

Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah penelitian ini menambahkan beberapa variabel tambahan selain ROE dan EPS yakni Return on Asset (ROA), variabel inflasi dan nilai tukar. Sedangkan penelitian sebelumnya meneliti tentang ROE, EPS, ukuran perusahaan dan arus kas operasi.

Suyati (2015) meneliti tentang pengaruh inflasi,tingkat suku bunga dan nilai tukar rupiah/us dollar terhadap return saham properti yang terdaftar di bursa efek Indonesia dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan analisis parsial dengan alpha  0,05 menemukan bahwa inflasi memang berpengaruh signifikan terhadap pengembalian saham properti tetapi tingkat bunga. memang berpengaruh signifikan terhadap return saham properti, dan nilai tukar Rupiah / Dolar AS tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham properti.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya ialah penelitian ini menggunakan obyek penelitian indeks kompas 100 sedangkan pada penelitian sebelumnya menggunakan perusahaan properti.

B. Tinjauan Pustaka

1. Teori Persinyalan (Signalling Theory)

Signalling Theory pertama kali digagas oleh Ackerlof, Spence dan Stiglitz, teori ini yang mengantarkan mereka memperoleh Nobel Ekonomi

(3)

pada tahun 2001. Signalling theory sebagai penjelasan asimetri informasi, disebabkan pihak manajemen memiliki informasi lebih banyak tentang masa depan perusahaan. Sehingga perusahaan go public harus menyampaikan secara transparan kondisi perusahaan kepada investor Nurdina (2017) .

Menurut Jogiyanto (2009) dalam Pamungkas (2018) Teori ini menjelaskan bahwa laporan keuangan yang baik merupakan sinyal atau tanda bahwa perusahaan juga telah beroperasi dengan baik. Sinyal yang baik akan direspon dengan baik oleh pihak lain. Pengumuman yang dipublikasikan merupakan suatu sinyal yang dapat diberikan kepada investor untuk melakukan penanaman modal berinvestasi. Informasi yang diterima oleh para investor diharapkan akan mengandung sebuah reaksi pasar yang akan menentukan apakah reaksi tersebut akan menjadi sinyal yang baik atau sinyal yang buruk bagi para perusahaan

Teori Sinyal juga mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal tersebut berupa informasi mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik ataupun pihak yang berkepentingan. Sinyal yang diberikan dapat juga dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan, laporan apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik, atau bahkan dapat berupa promosi serta informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan lain (Susilowati dan Turyanto, 2011).

(4)

Teori sinyal ini membahas bagaimana seharusnya sinyal-sinyal keberhasilan atau kegagalan managemen (agent) disampaikan kepada pemilik modal (principle). Penyampaian laporan keuangan dapat dianggap sebagai sinyal, yang berarti bahwa apakah agen telah berbuat sesuai dengan kontrak atau belum. Teori sinyal juga memprediksikan bahwa pengumuman efek pada harga saham dan kenaikan deviden adalah positif (Susilowati dan Turyanto, 2011).

2. Analisis Fundamental

Menurut Tjiptono dan fachruddin (2006:189) dalam Hardaningtyas (2014) mengatakan bahwa analisis fundamental merupakan salah satu cara melakukan penilaian saham dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator terkait kondisi mikro ekonomi dan makro ekonomi kondisi industri suatu perusahaan, termasuk berbagai indikator keuangan dan manajemen perusahaan. Menurut Kartikasari (ND) Analisis fundamental merupakan cara menentukan nilai saham berdasarkan pada nilai intrinsiknya, yaitu kemampuan/kinerja/kondisi perusahaan secara keseluruhan di masa depan. Nilai intrinsik ini merupakan nilai yang sangat mendasar seperti keadaan aktiva, produk, pemasaran, pertumbuhan pendapatan, deviden, kinerja manajemen, dan lainnya yang menyangkut prospek perusahaan. Analisis fundamental bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi atau memproyeksikan nilai dari suatu saham yang nantinya hasil analisis ini digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dan potensi pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang. Mohammad

(5)

Samsul (2006) dalam Mawahib (2016) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi return saham terdiri atas faktor fundamental mikro dan faktor fundamental makro.

Hwihanus (2019) menyatakan faktor makro mendasar yang berasal dari luar perusahaan dapat berupa ekonomi, lingkungan, politik, hukum, sosial, budaya, keamanan, pendidikan, dan lain-lain yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan tetapi efeknya sangat besar untuk perubahan dalam memutuskan untuk berinvestasi (Claude et al. 1996). Fundamental makro berupa tingkat suku bunga bank Indonesia, pendapatan domestik bruto, inflasi dan nilai tukar mata uang asing dollar Amerika terhadap Indonesia yang terjadi. Analisis fundamental makro memperhitungkan lingkungan bisnis perusahaan, dikarenakan untuk beberapa perusahaan tertentu, keadaan makroekonomi dan industri memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap laba dibanding kinerja relative perusahaan di dalam industrinya. Dengan kata lain, investor harus memperhatikan keadaan ekonomi secara luas (Bodie., et al, 2014) dalam Mawahib (2016).

Menurut Hwihanus (2019) faktor fundamental mikro berasal dari dalam perusahaan dan mengendalikan serta digunakan dalam perkembangan perusahaan di masa depan. Pengembangan perusahaan ini khususnya manajemen membutuhkan beberapa kebijakan dalam kegiatan operasional perusahaan yaitu keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen. Faktor fundamental mikro tercermin dari kondisi keuangan perusahaan yang baik atau berada diatas rata-rata industri emiten

(6)

yang bersangkutan. Untuk mengetahui fundamental dan kinerja keuangan perusahaan digunakan analisis laporan keuangan, menurut Harmono (2009:104) faktor fundamental mikro merupakan alat analisis bagi manajemen keuangan perusahaan yang bersifat menyeluruh. Alat analisis yang umum digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah analisis rasio keuangan Mawahib (2016). Hal ini tentunya akan mempengaruhi return yang akan diterima oleh investor. Oleh karena itu, analisis fundamental secara makro dan analisis fundamental secara mikro dapat menjelaskan pergerakan harga saham yang berimbas kepada return yang diterima oleh investor.

3. Return Saham

Return merupakan hasil yang diperoleh melalui kegiatan berinvestasi yang dapat berupa return sudah terjadi (return realisasi) ataupun return ekspektasi yang belum terjadi namun diharapkan terjadi dimasa akan datang (Jogiyanto, 2010:205) dalam (Parida, 2017). Investor akan mendapatkan keuntungan dari kepemilikan saham atas suatu perusahaan berupa dividen dan capital gain. Dividen dan capital gain merupakan komponen yang dipakai dalam perhitungan return saham. Dividen adalah pembagian laba kepada para pemegang saham perusahaan yang sebanding dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik. Dividen dapat berupa uang tunai maupun saham. Investor umumnya lebih tertarik pada dividen tunai daripada dividen saham. Capital gain adalah selisih dari harga saham investasi periode saat ini dengan harga

(7)

investasi periode sebelumnya. Capital gain diperoleh jika harga investasi periode saat ini lebih besar dari harga investasi periode sebelumnya. Jika harga investasi periode saat ini lebih kecil dari harga investasi periode sebelumnya, maka investor akan mengalami capital loss.

Return saham merupakan keuntungan yang diperoleh investor dalam investasi saham. Menurut Jogiyanto (2000) dalam Laksono (2017), return saham dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu return realisasi (realized return) dan return ekspetasi (expected return). Return realisasi merupakan return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return ekspetasi merupakan return yang diharapkan terjadi dimasa mendatang dan masih bersifat tidak pasti. Kinerja perusahaan dapat diukur dengan return realisasi. Return realisasi juga berperan penting sebagai dasar penentuan return ekspetasi dan risiko dimasa mendatang.

C. Perumusan Hipotesis

Inflasi merupakan kecenderungan kenaikan harga barang-barang secara umum yang terjadi terus menerus akibat kebutuhan masyarakat yang meningkat. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kenaikan biaya produksi pada suatu perusahaan. Kenaikan harga barang produksi menjadi masalah tersendiri bagi perusahaan. Jika harga barang produksi naik, maka biaya operasional juga ikut naik, sehingga akan menurunkan tingkat laba perusahaan. Menurunnya tingkat laba tersebut akan mempengaruhi tingkat dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Jika dividen yang dibagikan

(8)

mengalami penurunan, maka harga saham juga akan cenderung menurun sehingga berdampak pada menurunnya return saham yang akan diterima oleh investor.

Selain itu, inflasi juga menyebabkan turunnya daya beli uang. Jika daya beli uang menurun, maka pendapatan riil masyarakat termasuk investor, akan menjadi berkurang, sehingga keinginan investor untuk berinvestasi juga berkurang. Hal tersebut dapat menyebabkan harga saham mengalami penurunan. Jika harga saham menurun, maka return saham yang akan diterima investor akan berkurang. Berdasarkan penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh negatif dari perubahan tingkat inflasi terhadap Return Saham.

Hasil penelitian yang mendukung penjelasan di atas adalah penelitian yang dilakukan oleh Haryani (2018), Kriswanto (2014) dan Faoriko (2013) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return saham. Dengan uraian tersebut dapat dibuat hipotesis sebagai berikut :

H1: Inflasi berpengaruh negatif terhadap return saham

Melemahnya nilai tukar domestik terhadap mata uang asing (seperti rupiah terhadap dolar AS) memberikan pengaruh yang negatif terhadap pasar ekuitas karena pasar ekuitas menjadi tidak memiliki daya tarik (Ang, 1997) dalam Haryani (2018) Pengamatan nilai mata uang atau kurs sangat penting dilakukan mengingat nilai tukar mata uang sangat berperan dalam

(9)

pembentukan keuntungan bagi perusahaan. Pialang saham, investor, dan pelaku pasar modal biasanya sangat berhati-hati dalam menentukan posisi beli atau jual jika nilai tukar mata uang tidak stabil.

Bagi investor, melemahnya nilai tukar rupiah atau depresiasi menandakan bahwa faktor fundamental perekonomian Indonesia sedang melemah. Hal tersebut menyebabkan para investor beranggapan bahwa berinvestasi dalam bentuk saham akan berisiko tinggi. Investor yang termasuk risk-averse tentu ia akan memilih untuk menghindari risiko, sehingga investor akan cenderung melakukan aksi jual saham hingga perekonomian dirasa sudah mulai membaik. Aksi jual yang dilakukan oleh investor akan mendorong harga saham di bursa efek menjadi menurun. Harga saham yang menurun akan menyebabkan return saham yang diterima investor menjadi berkurang. Dengan demikian, secara teori nilai tukar rupiah per dolar AS memiliki hubungan negatif dengan return saham.

Hasil penelitian yang mendukung teori diatas adalah penelitian yang dilakukan oleh Abidin (2016) dan Faoriko (2013) yang menyatakan bahwa Nilai Tukar berpengaruh secara negatif terhadap Return saham. Dengan ini didapat hipotesis sebagai berikut :

H2 : Nilai Tukar Rupiah negatif berpengaruh terhadap return saham

Salah satu jenis rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan atau profitabilitas suatu perusahaan adalah return on asset (ROA). Rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam

(10)

menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan asset yang dimilikinya. Nilai ROA yang semakin tinggi menunjukkan suatu perusahaan semakin efisien dalam memanfaatkan asetnya dalam memperoleh laba, sehingga daya tarik semakin meningkat (Hariyanto, 2017). Jika semakin tinggi daya tarik tersebut, maka banyak investor yang menginginkan saham perusahaan tersebut. Apabila permintaan atas saham suatu perusahaan semakin banyak, maka harga sahamnya akan meningkat. Meningkatnya harga saham perusahaan tersebut, tentu akan menyebabkan return saham yang diperoleh investor dari saham tersebut juga meningkat. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ang (1997: 132) dalam Haryani (2018) yang menyatakan bahwa keuntungan perusahaan yang semakin meningkat memberikan tanda bahwa kekuatan operasional dan keuangan perusahaan semakin membaik, sehingga memberikan pengaruh positif terhadap ekuitas. Berdasarkan penjelasan tersebut, disimpulkan bahwa Return on Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap return saham.

Menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Falah (2017) dan Aryaningsih et. al. (2016) menunjukkan ROA berpengaruh positif terhadap return saham. Berdasarkan uraian tersebut dapat dibuat hipotesis sebagai berikut :

H3: Return on asset (ROA) berpengaruh positif terhadap return saham

Earning Per Share merupakan rasio yang paling mendasar dan berguna bagi investor untuk memperoleh gambaran prospek earning di masa

(11)

depan. EPS dapat digunakan para investor sebagai informasi besarnya laba bersih perusahaan yang siap di bagikan untuk pemegang saham perusahaan ( Tandelilin, 2010) dalam Purwanto 2017.

Earning per share (EPS) adalah tingkat keuntungan bersih yang diperoleh investor per lembar saham yang dimilikinya semakin tinggi nilai EPS berarti semakin tinggi tingkat keuntungan per lembar saham yang dimiliki investor. Semakin tinggi EPS yang diberikan pada perusahaan, maka investor akan semakin percaya pada kemampuan perusahaan untuk memberikan tingkat pengambilan yang cukup baik. Hal ini akan mendorong investor untuk melakukan investasi yang lebih besar lagi dari sebelumnya. EPS yang tinggi merupakan indikator keberhasilan suatu perusahaan. Semakin tinggi EPS atau laba bersih per lembar saham yang diberikan kepada 25 pemegang saham , akan menambah daya tarik investor untuk memiliki saham tersebut. Semakin banyak investor yang meminati saham ini, akan membuat harga saham semakin naik. Berbeda ketika EPS perusahaan menunjukan hasil yang rendah, berarti manajemen belum dapat mengoptimalkan kinerjanya sehingga membuat harga saham perusahaan menurun. Hal ini dikuatkan dengan bukti empiris yang dilakukan oleh Pamungkas (2018) dan Wulandari (2016) menyatakan bahwa EPS berpengaruh positif terhadap return saham. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, maka hipotesis penelitian ini adalah:

H4: Earning per share (EPS) berpengaruh positif terhadap return saham

(12)

D. Rerangka Pemikiran

Berdasarkan masalah dan kajian empiris yang dilakukan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

Gambar 2.1

Kerangka Berpikir Penelitian

Inflasi X1 Nilai Tukar X2 Return On Asset X3

Earning Per Share X4

Return Saham Y

Referensi

Dokumen terkait

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian “ Analisis Pengaruh Variabel Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro terhadap Volatilitas Indeks Saham LQ45 di Bursa Efek Indonesia

Judul Skripsi : ANALISIS PENGARUH VARIABEL MAKRO EKONOMI DAN INDEKS BURSA LUAR NEGERI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) DI BURSA EFEK INDONESIA

Penelitian yang dilakukan Rosmiati dan suprihhadi (2016) yang berjudul “Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman Yang

Analisis Penentuan Saham Portofolio Optimal Dengan Model Indeks Tunggal Dalam Perusahaan yang Tergabung Indeks Kompas 100 Pada Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015 Studi

Penelitian Trijunanto (2019) menganalisis pengaruh stock split terhadap abnormal return dan likuiditas saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2011-2015

PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP RISIKO SISTEMATIS (BETA SAHAM) PADA INDEKS LQ45 YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK.. INDONESIA (BEI)

Berdasarkan data yang diperoleh dengan metode purposive sampling maka didapat 46 perusahaan yang sahamnya aktif tercatat dalam indeks Kompas 100 selama periode 2009 sampai

Analisis Komparasi Pengaruh Faktor Ekonomi Makro , Earning Per Share , Dan Return on Equity Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Yang Terdaftar Dalam Indeks Lq45 Dan Jakarta Islamic