Nyoman Ariana
PENELUSURAN WISATA DAMAI
Monumen Ground Zero Kuta, Bali
Nyoman Ariana
Pustaka Larasan
2017
Penelusuran Wisata Damai
Monumen Ground Zero Kuta, Bali
Monumen Ground Zero Kuta, Bali Penulis Nyoman Ariana Pracetak Slamat Trisila Penerbit Pustaka larasan
Jalan Tunggul Ametung IIIA No. 11B Denpasar, Bali
Email: [email protected] Bekerja sama dengan
Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Cetakan Pertama: 2017
D
engan kerendahan hati, izinkan menghaturkan sembah bakthi kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dan kepada semua Guru, kerena atas berkah dan karunia-Nya yang berlimpah sehingga buku sederhana ini dapat disusun.Tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui para pembaca, namun lebih diarahkan pada cara diri untuk mengenali dirinya lebih dekat. Bukan pula maksud untuk memperlihatkan suatu kelebihan, namun justru dijadikan momen untuk mengenali semua kekurangan diri. Untuk itu, kalau seandainya ada hal-hal yang bisa menginspirasi bagi para pembaca. Itu semua adalah bagian dari kita bersama.
Persembahan judul yang dirangkai sebagai muka Buku ini adalah “Penelusuran Wisata Damai Monumen Ground
Zero Kuta, Bali”. Judul ini bukan memiliki makna, bahwa
Bali akan dikembalikan secara fisik agar seperti dulu, sekali lagi bukan. Namun titipannya adalah di tengah dinamika Bali yang menghadapi tantangan dalam pembangunan pariwisata, maka perlu kiranya kembali ke spirit bahwa Bali adalah pulau cinta damai. Secara umum dapat dikatakan masyarakat Bali mencintai kedamaian (loving peace community). Hal ini kalau diibaratkan obat, kira-kira kedamaian adalah obat organik bagi Bali yang diwariskan oleh tetua dulu sehingga sampai saat ini industri turisme bisa bertahan.
Dengan berakhirnya buku ini, tentu atas sumbangan berbagai pihak, baik dana, izin penelitian, sumbangan data, tenaga, pemikiran maupun kesediaan wisatawan sebagai responden. Tanpa sumbangan dan kebaikan hati dari berbagai
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada: (1) Rektor Universitas Udayana Bapak Prof. Dr. I Ketut Suastika, Sp.PD. (KEMD) atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan. (2) Ketua Lembaga Pelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Udayana Bapak Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara M. Eng. (3) Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bapak Drs. I Made Sendra,M.Si. Atas kesempatan, motivasi dan fasilitas yang diberikan kepada penulis, sehingga mampu menyelesaikan buku ini. (4) Seluruh responden dan Informan yang telah bersedia meluangkan waktu untuk diwawancarai dan mengisi kuesioner, riset wisata damai yang pada akhirnya bisa menjadi Buku. (5) Teman-teman peneliti di Fakultas Pariwisata dan Konsorsium Riset Pariwisata Unud, sahabat sejawat yang dengan sabar dan tekun telah membantu menyelesaikan dan memberikan masukan untuk penyempurnaan Buku ini.
Ucapan khusus “matur suksma dahat” yang dilandasi dengan rasa hormat (sembah Bakthi) yang mendalam kepada Guruji Gede Prama yang menjadi Cahaya dalam mengajarkan kedamaian, keheningan dan Cinta yang tidak bersyarat.
Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan matur
suksma kepada seluruh Keluarga Spiritual Compassion yang
telah memberikan ajaran kehangatan dalam persahabatan, belajar pelayanan yang tulus, dan menginspirasi untuk meningkatkan keyakinan dan Bakthi kepada seorang Guru.
Melalui Buku ini, perkenankan juga penulis membisikkan rasa terima kasih yang penuh cinta kepada semua anggota keluarga, Guru, Ibu (almarhum), Istri (dr. Made Juliamini), Putra: Rama Bharga Wicaksana, Putri : Gita Madhawa Kirana, dan Nyoman Satwika Mandhawa Kirana. Dan seluruh keluarga yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu sehingga buku ini dapat dipersembahkan kepada sidang pembaca.
kasih atas sumbangan tenaga dan masukannya sehingga buku ini dapat disusun. Terakhir penulis mohon maaf kepada para pembaca dan semua pihak, bila ada kekeliruan yang sudah tentu tanpa disengaja dilakukan. Akhir kata semoga Buku ini bermafaat bagi para pembaca.
Prakata ~ iii Daftar Isi ~ vi
BAB I CIKAL BAKAL WISATA DAMAI DI KUTA ~ 1 Kerangka Pemikiran Wisata Damai ~ 1
Produk Wisata Damai ~ 4
Kuta Dalam Logika Wisata Damai ~ 7 Apa Pentingnya Wisata Damai ~ 9
BAB II PELUANG PARIWISATA DAMAI DI BALI ~ 13 Wisata Damai: Akulturasi dan Multikultur ~ 115 Wisata Damai: Filosofis Masyarakat Bali ~ 18 Wisata Damai: Citra dan Branding Bali ~ 21
Wisata Damai: Ground Zero dan Puja Mandala ~ 24 BAB III EKSPLORASI WISATA DAMAI ~ 27
Kuta Mengenal Turisme ~ 28 Ruang Lingkup Wilayah Kuta ~ 29
Cerita Pendirian Monumen Ground Zero ~ 30 Eksplorasi Wisata Damai ~ 32
Potensi Fisik Wisata Damai ~ 32 Potensi Non Fisik Wisata Damai ~ 33 Formulasi Wisata Damai ~ 35
Wisata Damai : Tipologi Wisatawan ~ 38
BAB IV WISATA DAMAI DALAM BINGKAI RESPONS TURIS ~ 43
Daya Tarik Monumen ~ 43
Wisata Damai dan Nilai Kemanusian ~ 44 Wisata Damai dan Citra Monumen ~ 47
Pariwisata ~ 49
Wisata Damai dan Keamanan ~ 51
Fasilitas dan Aksesibilitas Wisata Damai ~ 52
BAB V EKSPEKTASI KOMPONEN PARIWISATA TERHADAP WISATA DAMAI ~ 57
Daya Tarik Wisata Damai ~ 57 Nilai Kemanusian ~ 59
Citra Monumen ~ 61
Keterlibatan Stakeholder Pariwisata ~ 64 Jaminan dan Keamanan ~ 66
Fasilitas dan Aksesbilitas ~ 68
Wisata Damai dan Skala Prioritas Pengembangan ~ 71
Wisata Damai dan Preferensi Wisatawan ~ 77 Wisata Damai dalam Rancangan Model ~ 81 BAB VI STRATEGI WISATA DAMAI ~ 85
SWOT Wisata Damai ~ 85 Visi dan Misi Wisata Damai ~ 89 Tujuan Wisata Damai ~ 92 Strategi Wisata Damai ~ 93 Daftar Pustaka ~ 97
Indeks ~ 103
CIKAL BAKAL WISATA DAMAI
“Kedamaian bukan hadir begitu saja. Kedamaian hadir, karena usaha yang tekun
untuk mengenali diri “
Kerangka Pemikiran Wisata Damai
S
alazar (2006) dalam artikel yang berjudul “Building a Culture of Peace through Tourism: Reflexive and Analytical Notes and Queries” mengatakan perdamaian tidak dapat dilihat secara langsung dan relatif sulit diukur. Akan tetapi, perdamaian bisa diartikan sebagai tindakan/ perilaku yang tidak adanya peperangan, aksi terorisme, dan kekerasan. Pandangan ini dilengkapi dengan memberikan definisi bahwa pariwisata damai (peace tourism) adalah konsep baru dalam khazanah keilmuan pariwisata. Pariwisata damai dapat diartikan sebagai sebuah kebebasan, ketenangan dan tanpa peperangan yang dibangun dari kedamaian dalam diri, alam lingkungan dan Tuhan.Kim et al. (2007) dalam artikel yang berjudul “Using Tourism to Promote Peace on The Korean Peninsula dalam Annal of Tourism Recearch,” mengatakan bahwa pariwisata sangat potensial dijadikan sebagai usaha mempromosikan nilai kedamaian terhadap masyarakat. Sebagai contoh dengan aktivitas pariwisata ternyata dapat mengurangi konflik antar-negara antara Korea Selatan dan Korea Utara. Ditambahkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ki Lee et al. (2011) yang dipublikasi pada international journal of tourism research. Cara yang bisa dilakukan untuk menciptakan kedamaian adalah membangun pariwisata dengan cara membuatkan strategi kombinasi antara kebijakan pemerintah, nilai budaya,
dan politik.
Temuan lain tentang definisi pariwisata damai di-kemukakkan oleh Damore (1998), pariwisata damai adalah pembangunan pariwisata yang mempercepat rasa saling pengertian dalam masyarakat. Pengembangan pariwisata yang memperhatikan kekuatan pariwisata dapat membantu umat manusia menuju kehidupan yang damai dan harmonis.
Konsep pengembangan pariwisata damai bila dikaitkan dengan konsep kedamaian dalam perspektif local
genius adalah adanya konsep Tri Hita Karana (THK). Ada
3 (tiga) aspek dalam THK, yaitu: (1) Aspek Parahyangan (hubungan spiritual) ditinjau dari keradaan bangunan suci beserta aktivitasnya baik secara internal maupun eksternal dalam pengembangan pariwisata. (2) Aspek pawongan (hu-bungan antarmanusia) ditekankan pada organisasi sosial kemanusian dan keterlibatan dengan lingkungan sosial, dalam pengembangan pariwisata, dan (3) Aspek pelemahan (lingkungan fisik alamiah), ditekankan pada penataan fisik pariwisata dengan cara melestarikan lingkungan alam dan lingkungan budaya (Suryasih, 2008).
Usaha yang diperlukan dalam usaha mengembangkan pariwisata damai adalah: (1) Menumbuhkan rasa saling pengertian antara wisatawan dengan masyarakat lokal, sehingga terjadi hubungan yang harmonis. (2) Membangun rasa solidaritas antara wisatawan dan masyarakat lokal maupun elemen masyarakat lainnya. (3) Masyarakat lokal mengelola sendiri aset-asetnya, dan (3) Memaksimalkan keuntungan ekonomi lokal, budaya, dan sosial.
Temuan lain yang dipublikasikan oleh Richard dan Wilson (2007) di DTW Barcelona, fokus kajiannya untuk mengukur korelasi antara citra (image) dengan usaha produk wisata kreatif. Temuannya, komponen multikultur dan diversifikasi memiliki tingkat korelasi terkuat, bila
dikomparasikan dengan komponen lainnya, seperti, arsitektur modern, kesenian, sejarah, budaya, dunia malam (night
life), fun, industri, keamanan, keramahtamahan, maritim,
shopping, working, dan wisata pantai (beach). Hal ini mempertegas bahwa aspek rasa damai atau keharmonisan melalui saling menghargai dalam kehidupan multikultur dibutuhkan dalam pengembangan kepa riwisataan.
Inovasi pengembangan pariwisata damai di bebera pa destinasi turut dilakukan oleh Mak (2008) yang memfokuskan kajian “Developing A Dream Destinasion”. Penelitian ini meng-ilustrasikan bahwa bagaimana Wisata Hawai telah dielukan oleh jutaan wisatawan untuk berwisata ke daerah tersebut (A
Magical Dream Destination for Millions of People). Ada beberapa
konklusi dari hasil karya ini, yaitu (1) Perlu koordinasi yang efektif antara pemerintah daerah dan pusat dalam mengelola pariwisata. (2) Pengelola harus memperhatikan penyebab munculnya berbagai persoalan dalam mengelola wisata, dan (3) Perlu mendeterminasi apa sesungguhnya dilakukan untuk menjaga kehidupan sosial melalui pemerataan yang adil kepada masyarakat (enhance social equity).
Model pengembangan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism development), ternyata selaras dengan pengembangan pariwisata damai (peace tourism). Ada dua substansi untuk mengembangkan pariwisata damai, yaitu aspek ideal dan rasional. Aspek ideal berbasiskan pada konservasi (conservation) alam (environmental Concerns) yang mengarah pada pusat pengembangan alam (ecocentrism). Sedangkan pada aspek rasional, diarahkan menuju sisi komersial (commersial) yang berbasis pada keuntungan (profit based) atau economic concerns. Ketika kedua aspek ini digerakkan akan menuju domein pengembangan pusat teknologi (technocentrism) dalam pariwisata berkelanjutan. Penciptaan keharmonisan dari aspek rasional dan ideal
memerlukan pembentukan badan otoritas (authority) yang berbasis pada kekuasaan (power based). Badan otoritas sebagai wadah kewenangan dalam membuat perencanaan dan kontrol (planning and control concern). Integrasi dari dua aspek tersebut, perlu pengelolaan pariwisata dengan baik, guna terwujudnya pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism governance). Bertalian dengan konsep pariwisata damai, UNWTO (United Nation World Tourism Organization), memberikan batasan bahwa mengembangkan pariwisata tersebut erat kaitannya dengan sustainable tourism. Ada beberapa kom-ponen yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut: (1) Alam, sejarah budaya dan sumberdaya lainnya
di-lestarikan untuk kepentingan masa depan dan saat ini. (2) Pariwisata direncanakan dan dikelola dengan tidak
merusak sosial budaya masyarakat. (3) Kualitas lingkungan perlu terus dijaga.
(4) Meningkatkan kepuasan kepada wisatawan (a high level of
tourists satisfaction), dan
(5) Pemberian manfaat (the benefits of tourism) kepada masyarakat setempat.
Berdasarkan dari beberapa batasan tersebut yang dimaksud dengan pariwisata damai (peace tourism) adalah pengembangan pariwisata yang berbasiskan nilai-nilai luhur budaya yang humanis, nilai kebersamaan, solidaritas, tanpa kekerasan, keadilan, saling menghormati/menghargai, spritualitas, dan keharmonisan.
Produk Wisata Damai
Pariwisata merupakan salah satu jenis industri yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam menyediakan lapangan kerja, meningkatkan penghasilan, standar hidup, menstimulasi sektor-sektor produktivitas
lainnya seperti; industri kerajinan tangan dan cinderamata, penginapan dan transportasi (Pendit, 1994:4).
Pentingnya pengembangan pariwisata, dapat dilihat pada kebutuhan wisatawan dalam mengkonsumsi produk pariwisata. Kecenderungnya wisatawan biasanya, menginginkan DTW yang masih asli. Kapan produk wisata mampu mempertahankan keasliannya dan mampu menciptakan inovasi, akan berpengaruh terhadap pengeluaran wisatawan (spent of money) dan lama tinggal wisatawan (length
of stay) pada suatu dari tarik wisata. Apabila pengembangan
pariwisata dilakukan dengan baik dalam suatu destinasi, manfaatnya bukan saja untuk pelaku pariwisata, namun juga akan memperbanyak devisa masuk, dan meningkatkan penghasilan daerah.
Hasil penyederhanaan dari sekian pendapat tentang produk pariwisata terutama dikaitkan dengan dunia hospitality, Chadwick (1994) ada beberapa jenis produk pariwisata sebagai berikut: Akomodasi (commercial accommodation), food
and drink (makanan dan minuman), transportasi (air, road, water, rail, dan auto rental), jasa pariwisata (travel agents dan tour operator), rekreasi dan waktu luang (leisure): taman wisata
(amusement, parks), cultural and heritage activities, rekreasi partisipasi dan comemersial spectator sports. Administrasi keuangan terdiri dari: travel insurance, currency exchange dan kartu kredit. Pelayanan lainnya, antara lain souvenirs, luggage dan travel accessories, photography sale.
Jenis produk yang menjadi trend pariwisata saat ini adalah private accommodation, private vehicles, real estate
activities, education, public administration (administrasi publik),
kesehatan (health) maupun pelayanan sosial (social service) dan food sale. Bila dilihat konsep Chadwik (1994) tersebut Atraksi wisata damai merupakan bagian dari jenis yang menjadi trend saat ini, karena produk wisata damai
dieksplorasi dan diformulasi dengan memanfaatkan edukasi masyarakat maupun sebagai bagian dari bentuk pelayanan sosial (social service).
Daya tarik wisata dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu: (1) Daya tarik wisata alam (Natural attractions) ialah daya tarik wisata dari sumber daya alam, seperti: iklim, pemandangan alam, laut dan pantai, flora dan fauna, cagar alam, dan lain-lain. (2) Daya tarik wisata budaya (Cultural
attractions) ialah daya tarik wisata dari sumber daya budaya,
seperti: situs dan peninggalan-peninggalan sejarah budaya, adat istiadat, seni dan kerajinan tangan, museum, dan festival budaya, dan (3) Daya tarik wisata khusus (Special types of
attractions) ialah daya tarik wisata yang tidak termasuk ke
dalam dua kategori di atas yang dibuat atau diciptakan untuk disuguhkan kepada wisatawan.
Kuta Dalam Logika Wisata Damai
Dalam sejarah akademis, pengembangan perdamaian melalui pariwisata masih minim dikaryakan oleh para ahli pariwisata. Salah satu ahli yang mendalami pariwisata damai adalah Salazar pada tahun 2006 dengan memfokuskan kajiannya tentang Building a Culture of Peace Thorugh Tourism. Selain gagasan tersebut, pendapat dalam membangun pariwisata damai juga dikemukakkan oleh dua Pemimpin nasional, yaitu pertama mantan Presiden Megawati Soekarno Putri menggemakan perdamaian melalui pariwisata pada acara akbar ATF (Asia Tourism Forum) di Yogyakarta Tahun 2005. Kedua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan apresiasi terhadap pariwisata, bahwa perdamaian bisa dilakukan melalui pembangunan pariwisata. Pernyataan presiden ini disampaikan saat diresmikannya The Institute of Peace and Democracy (Ariana, 2011).
Kawasan Pariwisata Kuta merupakan salah satu kawasan pariwisata yang paling menonjol di Bali. Kuta
magnet penarik bagi wisatawan mancanegara yang sudah terkenal sejak masa awal sejarah pembangunan pariwisata Bali (tahun 1920-an). Termasyurnya Kuta sebagai primadona pariwisata Bali maka tepat, bila Kuta sebagai trade mark dan jendela pariwisata Bali di dunia internasional (The Window of
Tourism For Bali) (Pitana dkk., 2000:3-4)
Penggalian potensi dan mengkemas wisata damai sebagai wisata baru merupakan wadah penyeimbang kondisi pariwisata Kuta kini Beberapa hasil penelitian mengemukakan bahwa Kuta memiliki angka kriminalitas relatif tinggi (Mahagangga, 2011). Disamping itu temuan Ariana (2011) ada beberapa dampak negatif pariwisata terhadap masyarakat Kuta yang kian hari semakin meluas, seperti gaya hidup masyarakat cenderung meniru western
style, kolektivitas digantikan karakter individu, alih fungsi
lahan, dan persaingan dunia bisnis semakin tidak sehat. Dari dua telaah tentang pariwisata baik yang positif dan negatif dalam kaitan dengan dampak sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Ternyata Kuta masih ada peluang untuk membangun pariwisata yang mengarah pada kearifan dan keunikan masyarakat setempat. Ada beberapa pendapat yang memperkuat alasan tersebut, yaitu adanya sejarah akulturasi antaretnis, pendirian Monumen Ground Zero sebagai monumen perdamaian, dan tingginya aktivitas tradisi dan penerapan nilai-nilai filosofis masyarakat.
Pentingnya menggali potensi pariwisata baru khusus-nya tentang nilai-nilai/ esensi dalam pariwisata, dipertegas oleh Richard dan Wilson (2007) yang mengatakan bahwa, terjadi perubahan mendasar dari tahapan perkembangan pariwisata yang sering dipopulerkan dengan istilah tourism
style. Dulu pariwisata mengarah pada pengembangan massal
yang mengarah pada pemanfaatan kualitas budaya (cultural
tourism). perubahan ini tidak berhenti pada epicentrum
tersebut, tetapi kembali mengalami perubahan menuju kreativitas dalam usaha kemasan wisata baru. Bentuk nyata pada kemasan wisata baru mengarah pada produk berbasis pengalaman baru (a new experiences).
Berkaitan dengan hal tersebut sangat penting kiranya mengulas nilai-nilai kemanusian (humanis) seperti: kebersamaan, keadilan, solidaritas, ke harmonisan, demokrasi, dan persahabatan melalui peman faatan Monumen Ground Zero sebagai simbol perdamaian menuju pengembangan pariwisata Damai (peace tourism) di Kawasan Pariwisata Kuta Badung Bali. Harapannya, dengan monumen tidak lagi dikenang sebagai tempat memunculkan kebencian, kesedihan, dan dendam, tetapi bisa menjadi sarana introspeksi diri untuk mengembangkan pariwisata yang sesuai dengan nilai dan budaya luhur bangsa Indonesia? Selain itu melalui monumen, cara dan belajar menumbuhkan rasa kasih sayang dengan menggemakan perdamaian melalui pembangunan pariwisata.
Apa Pentingnya Wisata Damai di Kuta
Menurut Richard dan Wilson (2007) untuk memajukan pariwisata dituntut adanya upaya kreativitas dalam membuat produk wisata agar bisa kompetitif. Pariwisata yang dulu nya mengandalkan atraksi berupa produk fisik, seperti built heritage, museum, monumen, pantai (beaches) dan gunung (mountain), bertransformasi pada pengkemas produk-produk pariwisata yang mengarah pada aspek nonfisik, yaitu citra (image), identitas (identity) atmosfir (atmosphere), narasi (narratives), dan kreativitas (creativity). Bila hal ini, ditarik dalam ranah wisata damai, penggalian potensi wisata merupakan bentuk kreativitas dalam menciptakan produk
yang bisa bersaing di dunia pembangunan ke pariwisataan. Selama beberapa tahun terakhir, Kawasan Pariwisata Kuta mengalami tantangan yang sangat berat, bukan hanya dirasakan oleh pelaku Pariwisata Kuta, tetapi juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Bali, Indonesia bahkan dunia internasional. Tantangan tersebut berupa dampak tragedi Bom Bali tanggal 12 Oktober 2002 di Kuta, dan Tragedi Bom tanggal 1 Oktober 2005 di Kuta dan Jimbaran. Implikasi negatif dari tragedi seperti: wisatawan melakukan cancelication
visit menuju Bali dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
secara besar-besaran pada industri pariwisata di Bali.
Guna memperingati tragedi kemanusian dan me-mulihkan keharmonisan hidup masyarakat atas tragedi Bom Bali. Pemerintah membangun Monumen Ground Zero di lokasi terjadinya bom, yaitu di Jalan Raya Legian Kuta Bali. Seiring perjalanan waktu, monumen yang biasanya hanya sebagai sebuah tugu peringatan, ternyata Monumen Ground Zero Kuta justru banyak dikunjungi wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Aktivitas wisatawan yang biasanya dilakukan, seperti: pengambilan gambar/foto di seputaran monumen, mengamati nama-nama dan jumlah korban tragedi, menaruh karangan bunga, menghidupkan lilin sambil berdoa saat mengenang korban tragedi bom.
Di samping aktivitas wisatawan tersebut Monumen Ground Zero juga sebagai penghormatan atas korban Tragedi Bom Bali tahun 2002. Tujuan dasar didirikannya monumen adalah untuk menciptakan taman perdamaian Bali (Bali
Peace Park) atas tragedi kemanusian. Secara substansi makna
“taman” adalah untuk mengabadikan pentingnya nilai-nilai kamanusian (humanis), toleransi, kebebasan beragama, kebangsaan, budaya, dan ras.
Masyarakat Kuta dan Bali pada umumnya menyikapi tragedi bom tidak dengan tindakan anarkis, tetapi direspons dengan cara humanis. Hal ini didukung pula oleh peran pemerintah, komponen pariwisata khususnya Forum Komunikasi Umat Beragama untuk melakukan konsolidasi dan introspeksi terhadap pengembangan pariwisata Bali. Pariwisata bukan sebagai penghacur sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat, tetapi diarahkan untuk mampu menciptakan keserasian dalam menjaga keharmonisan hidup masyarakat.
Branding Pariwisata Bali sebelumnya “Santi, Santi,
Santi” yang artinya Damai, Damai, Damai atau “Peace, Peace, Peace.” Hal ini j u g a dapat diartikan citra pariwisata
damai sangat diharapkan dalam usaha pengembangan Pariwisata Bali. Indonesia dalam pengembangan pariwisata memilih branding, Unity in Diversity. Branding ini mengharapkan kesejahteraan bersama melalui mencintai keunikan dan keberagaman budaya dengan memperhatikan dan memperkokoh jiwa persatuan dan kebersamaan.
Sejalan dengan penemuan teori-teori pariwisata baru yang relevan dengan ilmu pariwisata menciptakan keharmonisan melalui pembangunan pariwisata, sejatinya pariwisata dikembangkan bukan untuk mengorbankan alam, budaya, dan sosial. Melainkan pariwisata dikembangkan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan mempertahankan nilai-nilai masyarakat seperti kebersamaan, dan solidaritas.
Ada beberapa alasan dipilihnya Monumen Ground Zero di Kawasan Pariwisata Kuta sabagai fokus tulisan ini, yaitu sebagai berikut. (1) Kawasan Pariwisata Kuta merupakan kawasan pariwisata terpadat yang dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun nusantara. (2) Kawasan pariwisata Kuta memiliki komposisi penduduk yang sangat heterogen dilihat dari beragam etnis, agama, pendidikan, dan pekerjaan
(multietnis dan multikultur). (3) Kuta menjadi “jendela” Pariwisata Bali, yang menajdi penentu penciptaan citra Bali di tingkat nasional maupun internasional. (4) Pariwisata Kuta sebagai sumber perekonomian masyarakat dan sumber Pendapat Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten Badung. (5) Pariwisata Kuta memiliki berbagai fasilitas pariwisata dari hotel non-bintang, berbintang, restoran, shoping center, dan fasilitas lainnya, dan (6) Berdirinya Monomen Ground Zero sebagai monumen peringatan tragedi Bom Bali yang selama ini relatif banyak dikunjungi oleh wisatawan. Terutama yang berasal dari Australia.
PELUANG PARIWISATA DAMAI DI BALI
*“Jangan berpikiran mie instan dalam mengelola Pariwisata Bali. Bangun pariwisata untuk Bali, Bukan Bali untuk pariwisata”
Adnyana Manuaba
D
ari segi sejarah keilmuan, pariwisata adalah ilmu yang relatif masih muda. Akan tetapi kajian terhadap objek ini kerap menarik perhatian dari berbagai kalangan untuk mengkaji pariwisata dari berbagai perspektif. Secara umum pandangan teoritis terhadap pariwisata dapat dipilah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mengkritisi pariwisata sebagai penyebab malapetaka ekologi dan penyakit sosial masyarakat (patologi sosial). Kelompok kedua memposisikan pariwisata sebagai tambang emas yang akan mampu mensejahterakan masyarakat. Terakhir Kelompok ketiga adalah kelompok moderat, pariwisata diibaratkan seperti pisau bermata dua, satu sisi memberikan manfaat positif tetapi juga ada dampak negatif terhadap eksistensi masyarakat.Lontaran kelompok pertama yang menganggap bahwa pariwisata sebagai biang keladi patologi masyarakat, diperkuat dengan pembuktian fenomena masyarakat, seperti cara berpakaian generasi muda yang cenderung meniru
western style, kecenderungan masyarakat yang mengangap
dunia malam (pub, diskotik, dan karaoke) sebagai tempat
* Pembahasan pada Bab II ini merupakan pengembangan dari artikel yang telah dimuat dalam I Nyoman Darma Putra dan I Gde Pitana (ed.).
Pem-berdayaan dan Hiperdemokrasi dalam Pembangunan Pariwisata
untuk menuangkan tekanan kehidupan. Rasa kolektivisme juga semakin memudar digantikan dengan karakter indi-vidualisme.
Fakta dalam bisnis pariwisata juga semakin menjadi, segala aset budaya dieksploitasi berlebihan. Modifikasi dan komoditisasi budaya tidak terbendung, walaupun telah dibentengi dengan kredo pariwisata budaya. Ironis, budaya kadangkala dianggap tidak bernilai, ketika budaya tidak mempunyai nilai ekonomi. Dengan dalih inovasi produk pariwisata, budaya luhur, seperti ritual besar “Upacara Panca Wali Krama” kena imbas komersialisasi. Upacara ini, difilmkan oleh orang asing, dijual yang menghasilkan limpahan uang. Upacara lainpun tidak terhindarkan, seperti perkawinan (manusa yadnya) dikemas menjadi paket wisata
“weeding ceremony package”.
Kerusakan lingkungan juga tidak dapat terhindar dari lindasan roda pariwisata. Wacana berkelanjutan,
global warming, produk pariwisata alternatif pun sebatas
retorika. Tanpa ada ketegasan dan kesungguhan untuk mengimplementasikannya. Pembangunan berwawasan lingkungan hanya dijadikan jargon propaganda politik demi meraih sebuah kekuasaan.
Bukti nyata kerusakan lingkungan DTW di Bali dijumpai pada abrasi pantai di Kuta. Luas pantai semakin sempit, akibat ketidakpatuhan investor dalam membangun fasilitas pariwisata. Alih fungsi lahan semakin deras, hamparan sawah semakin sempit, menjadi hamparan ruko. Villa kian
menjamur, menghabiskan lokasi–lokasi strategis terutama
kawasan konservasi maupun Jalur hijau.
Kekisruhan dalam aspek sosial akibat pariwisata dan arus globalisasi, juga mempengaruhi Bali. Pengaruh ini bukan membuat Bali tambah elok. Tetapi membuat Bali tambah rusak akibat dari tindakan anarkis terorisme berupa tragedi kemanusian Bom Kuta tahun 2002. Masyarakat Bali
menangis, marah dan dendam dengan tindakan keji tersebut. Akan tetapi sikap mampu dikendalikan dengan memberikan respon dengan tindakan kasih (humanis), damai dengan menyerahkan segala proses hukum kepada aparat yang berwenang untuk mengadilinya.
Kekijian teroris teryata tidak usai, dengan kelemahan pengamanan kembali tragedi terjadi Bom di Kuta dan Jimbaran. Masyarakat Bali semakin geram. Tindakan yang mengarah pada konflik SARA hampir terjadi. Isu-isu provokasi untuk menyudutkan, menghakimi salah satu kelompok penyebab. Apatis dengan kelompok pendatang, Bali hanya dijadikan korban mengais rezeki, tanpa pernah berpartisipasi menjaganya. Akan tetapi semua hal tersebut kembali patut diapresiasi respon masyarakat Bali, ternyata masih bersikap harmonis dalam mengatasi segala persoalan. Jangan Bali yang sudah retak, dihancurkan oleh masyarakat Bali sendiri dengan tindakan anarkis.
Bertalian dengan berbagai pandangan perspektif pariwisata, kelompok kedua ternyata memandang lain bila dibandingkan dengan pandangan kelompok pertama. Pariwisata masih menyisakan harapan, bahwa pariwisata bukan sebagai penghacur melainkan dapat menjadi katalisator perdamaian.
Wisata Damai: Akulturasi dan Multikultur
Bila dikaitkan dengan pariwisata, budaya Bali merupakan daya tarik utama bagi wisatawan untuk datang ke Bali. (Ardika, 2003). Semasih budaya ini bisa dipertahankan, pariwisata akan tetap berjalan. Sebaliknya tatkala identitas budaya hilang, tidak bisa dijamin pariwisata akan tetap utuh seperti sekarang ini. Dengan analogi begitu pentingnya eksistensi budaya dalam mempertahankan pariwisata, mengisyaratkan bahwa pariwisata perlu dikelola dengan baik, terutama dalam memanfaatkan unsur budaya sebagai DTW.
Budaya Bali yang bernafaskan Agama Hindu bukanlah sesuatu yang murni sebagai Budaya Bali secara seutuhnya, akan tetapi merupakan sebuah evolusi dari terjalinnya ketersinggungan budaya yang datang dari luar dan kemudian berpadu dengan budaya asli Bali. Pengaruh budaya lain yang masuk ke Bali, seperti Budha, Hindu, Jawa, Cina, Islam, Barat (Santosa: 2001)
Dalam perspektif pariwisata damai terhadap keterbukaan Budaya Bali dalam menerima budaya luar, banyak hal yang bisa digali untuk dijadikan DTW. Terlebih masyarakat Bali terbukti konsisten dalam melestarikan budayanya. Ada beberapa hasil akuturasi budaya Bali yang bisa dijadikan produk pariwisata. Salah satunya adalah Taman Soekasada Ujung di Kabupaten Karangasem. Taman ini didirikan pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik, yang diresmikan pada tahun 1921. Taman Soekasada adalah hasil kreasi dari rasa dan karsa penciptaan oleh leluhur Bali yang hidup dimasa lalu. Menurut Rozi (2011) Taman Ujung adalah kreativitas seni yang bercerita tentang kedamaian dan keindahan dengan ekspresi bertemunya dua budaya, yaitu Bali dan Barat yang mempunyai daya tarik tinggi untuk dikunjungi.
Contoh lain yang bisa dikembangkan untuk mendu-kung pariwisata damai adalah akuturasi budaya Bali dan Cina. Akulturasi ini terpatri rapi adalah pada histori Pura Dalem “Balingkang” Kintamani, Bangli. Nama Balingkang diyakini berasal dari kata-kata “BALI + ING (Permaisuri pertama) KANG (Putri Kang-permaisuri kedua)”. Sampai kini, kisah cinta Raja Sri Jaya Pangus kepada Putri Kang Cing Wie, diwujudkan masyarakat Bali berupa simbol kesenian ‘Barong Landung’. Harmonisnya budaya Bali dan Cina ini, juga dijumpai di Pura Batur ada Pemujaan masyarakat Cina (Pura Konco) dan di Pura Besakih ada Pura Ratu Gede Ngurah Subandar.
Di Nusa Penida akulturasi budaya Bali dan Cina juga bisa ditemukan pada Pura Giri Putri ada pemujaan Dewi Kwan Im. Di kawasan pariwisata Kuta akulturasi ini, terwujud melalui keberadaan Wihara sebagai tempat suci Agama Budha. Menurut Pitana dkk (2000) keberadaan Wihara di Kuta mengindikasikan bahwa Kuta terdiri dari multi etnis dan multi budaya. Gambaran ini menandakan sesungguhnya Bali memiliki kearifan lokal tinggi. Potensi ini perlu terus digali hingga pandangan universal dan aset multikultur, nyata dapat diterjemahkan dan dijewantahkan dalam produk pariwisata. Apabila potensi ini mampu diinterpretasi dan dikomunikasikan dengan baik oleh duta pariwisata, maka Bali akan memiliki daya tarik wisata baru yaitu pariwisata damai melalui harmonisasi kehidupan masyarakat dalam peraduan kebudayaan yang berbeda.
Interaksi Hindu dan Islam yang bisa dikemas DTW adalah harmonisasi interaksi masyarakat Pegayaman Kabupaten Singaraja. Fakta terjalinnya akulturasi budaya di daerah ini adalah sebutan nama masyarakat muslim mengadopsi tradisi nama-nama Bali, seperti Wayan Imam Muhajir, Ketut Syahruwadi Abbas dll.
Dalam konteks sebutan komunitas diantara dua budaya tersebut, komunitas Bali disebut Nyama Bali dan Komunitas Muslim disebut Nyama Slam. Kata Nyama bisa diartikan sebagai saudara, kebersamaan dan keakraban dalam interaksi antara Bali dan Islam di Desa pegayaman. Selain itu pada sisi kesenian, masyarakat Pegayaman juga melestarikan tradisi Bordah dan Hadras. Kesenian yang menggunakan busana tradisi Bali dengan bentuk pertunjukan mirip dengan kesenian joged. Keunikan lain, yang menandakan adanya akulturasi adalah pada saat Idul Fitri masyarakat Pegayaman meniru tradisi Bali. Ada rangkaian upacara penapean,
Islam tersebut.
Menurut Widharma (2009) pluralisme/keaneka-ragaman masyarakat Bali adalah cara strategis untuk mengelola kekuatan produktif dalam mencapai kemajuan bersama. Proses-proses sosial ini harus terus dilakukan dalam memelihara dan merajut jalinan pluralisme hingga menjadi tatanan sosial yang mapan di dalam masyarakat.
Dalam melihat ilustrasi proses akulturasi dan multi kultur, Bali mempunyai potensi dan peluang tinggi untuk mengembangkan pariwisata damai. Produk pariwisata damai perlu digarap apik untuk menggali kearifan lokal terutama yang berkaitan dengan tatanan sosial dalam multi kultur dan akulturasi di Bali. Apabila potensi bisa dikembangkan sebagai DTW baru, hal ini akan memberikan corak lain, bila dibandingkan dengan produk pariwisata yang telah ada selama ini. Disamping itu wisatawan akan mempunyai pengalaman dan pengetahuan baru tentang Bali, bahwa Bali memang memiliki budaya yang harmonis dan tepat sebagai pulau Kedamaian.
Wisata Damai: Filosofis Masyarakat Bali
Filosofis masyarakat Bali dipegang teguh sebagai nilai dasar dalam dinamika pembangunan masyarakat. Dalam kaitan ini pariwisata juga sebagai bagian integral dari kebudayaan Bali perlu utuh mengaplikasikan filosofis (nilai budaya) dalam pariwisata. Apabila nilai filosofis Bali mampu dinternalisasi dalam keseharian masyarakat, maka tujuan mengembangkan pariwisata yang selamat, yaitu pariwisata damai niscaya akan terwujud.
Dalam upaya mengeksplorasi peluang pariwisata damai dengan kaitan filosofis masyarakat Bali. Maka ada beberapa nilai yang perlu dijadikan payung dan sekaligus menjadi pondasi dalam pembangunan pariwisata, yaitu Pertama filosofi Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana
bersifat universal yang bisa diterapkan pada seluruh elemen kepariwisataan. Substansi Tri Hita Karana adalah hubungan harmonis dengan Tuhan (Parahyangan), Manusia (Pawongan), dan Lingkungan (Pelemahan). Tatkala segala pembangunan pariwisata berbasis pada Tri Hita Karana, pariwisata damai akan mudah dicapai yang tentu akan memberikan lebih banyak manfaat positifnya kepada masyarakat Bali.
Filosofis lainnya yang merupakan bagian dari esensi Hindu, seperti yang dikemukkan oleh Arjana (1992), yaitu
Karma phala (percaya dengan hasil perbuatan), Tat Twan Asi
(semua Mahkluk Adalah Sam), Tri Kaya Parisuda (Manacika: berpikir yang baik, Wacika: Berkata yang baik dan kayika: berbuat yang baik). Satwam (Kebijaksanaan), Madurya (Ramah Tamah) dan Madarwa.
Bila dikaitakan dengan peluang pariwisata damai di Bali, nilai religiusitas Hindu dibutuhkan pada industri pariwisata. Sikap ramah (madurya) akan memberikan kesan positif kepada wisatawan. Sikap bijaksana dibutuhkan, dalam pembangunan Bali yang berorientasi masa depan, bukan kepentingan sesaat, (Prof Adanyana Manuaba : berpikiran Mie
Instan). Perilaku yang memperhatikan konsep Trikaya Parisuda
dan Tat Twam Asi, akan dapat menjalin komunikasi yang baik antarsesama manusia. Keselarasan dalam menjaga Bali bisa tumbuh. Keakraban dan kekeluargaan pun mengakar menjadi pola dasar dalam mempertahankan bahwa Bali adalah pulau sorga.
Selain itu nilai filosofis yang perlu dipegang agar Bali tetap selamat, berlanjut dan damai dalam pembangunan pariwisatanya. Menurut Wiana (1999) ada lima dasar pertimbangan, yaitu (1) Iksa (pandangan hidup yang baik), (2). Sakti (diterapkan sesuai dengan kemampuan atau tidak memberatkan penganutnya), (3) Desa (petunjuk atau patokan hidup kerohanian), (4) Kala (penerapan agama harus mempetimbangkan waktu), dan (5) tatwa (penerapan agama
harus sesuai dengan padangan masyarakat).
Berdasarkan kelima nilai filosofi di atas, untuk mem-bangun pariwisata sebagai kalasitator kedamaian, perlu memperhatikan kemampuan SDA dan SDM yang dimilikinya. Nilai ini lengkap mengisyaratkan segala bentuk pembangunan pariwisata harus berkiblat pada aspek daya dukung. Sebagai contoh Desa dan Kala mempunyai makna, dimanapun pada lingkaran Bali, serta merta harus perhatikan kearifan lokal setempat. Beda tempat dan beda waktu menyebabkan beda cara dalam pola pembangunan pariwisatanya.
Selanjutnya filosofis Bali dalam talian dengan menjaga lingkungan agar tetap asri, sosial budaya berjalan utuh dalam keharmonisan masyarakat. Dalam aspek ajaran agama Hindu, menurut Wiana (1999) ada beberapa yang mesti dipegang dalam pembangunan pariwisata yaitu : (1) Atma Kerti (menjaga kesucian atma) (2) Samudra Kerti (menjaga kelestarian laut dan sumber daya alam lainnya) (3) Wana kerti (menjaga kelestarian hutan), (4) Danu Kerti (melindungi sumber-sumber air), (5) Jagat Kerthi (menjaga sistem sosial yang berlandaskan Agama), dan (6) Mengupayakan kualitas manusia. Bilamana keenam nilai tersebut diterapkan dalam pengelolaan pariwisata Bali. Niscaya tidak akan ada lagi meragukan eksistensi pariwisata dan/atau menghakimi pariwisata sebagai penyebab malapetaka. Akan tetapi justru sebaliknya pariwisata sebagai alat menuju kesejahteraan dan wahana ekspresi dalam kebebasan manusia/masyarakat Bali.
Sesuai dengan teoru dinamika kebudayaan, tidak ada kebudayaan di dunia ini tanpa konflik. Begitu Pula di Bali, konflik sosial seperti bentrok warga, perebutan lahan dan perebutan perbatasan ikut mewarnai Bali di tengah kemajuan pembangunan pariwisatanya. Hasil temuan Windia (2010) ada 112 konflik yang terjadi di seluruh desa pakraman di Bali. Salah satu nilai tradisi Bali yang bisa dijadikan dasar sebagai solusi bila ada konflik sosial adalah tradisi
Mapidanda. Menurut Cantika (2010) mapindanda adalah
usaha untuk memulihkan kepada keadaan trepti, sukerta (tertib dan tentram) yakni adanya keseimbangan dari satyam (kebenaran), siwam (kesusilaan) dan sundaram (kebahagian). Adupun tujuannya adalah untuk mengembalikan kepada keadaan semula seperti sebelum adanya terjadinya ganguan yaitu mengembalikan kesucian, ketertiban dan ketentraman. Bentuk sanksi adat ini dapat diklasipikasikan menjadi 3 yaitu : artha dana (denda materi), jiwa danda (minta maaf) dan sangaskara danda (upakara penyucian). Apabila semua cara tersebut digali dengan baik dan diterapkan oleh manusia Bali, maka apapun bentuk tantangan dan ancaman Bali, pasti akan kembali menuju ke kebaliaanya yaitu kesukertaan (kedamian).
Wisata Damai: Citra dan Branding Bali
Kotler (2000) mendefinisikan citra sebagai “seperangkat keyakinan, ide dan kesan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek” (Yusoff, 1995). suatu perusahaan akan jatuh atau mengalami kerugian jika citranya dipandang negatif oleh masyarakat. Bloemer, Ruyter dan Peeters (1998) pula menyimpulkan bahwa citra tidak memberi dampak langsung kepada loyalitas, namun menjadi variabel moderator antara kualitas dan loyalitas. Pandangan lain dari (Nuryanti, 1996), citra merupakan kesan untuk berfantasi terhadap destinasi yang akan dikunjunginya (Pitana, 2002). Image is the primary
product of the industry”.
Begitu pentingnya citra dalam industri pariwisata, maka Bali perlu merefleksi apa sesungguhnya citra bagi wisatawan saat ini. Apakah Bali aman? masih ramah? maupun pertanyaan lain yang mempertegas Bali seperti apakah Bali Kini. Bertolak dengan lontaran ide untuk mengembangkan pariwisata damai. Bali perlu dikelola lebih baik lagi. Bali perlu bangkit dari keterpurukan hingga akhirnya pada citra seperti Temuan Picard, dalam artikelnya Alex J Robinson dan Julian
Meaton (2005) yang mengatakan bahwa Bali adalah Pulau Dewata “The Island Of The Gods.”
Peningkatan citra yang baik, bukanlah perkara mudah. Seperti yang dikemukakkan oleh Manuaba (1999) untuk meningkatkan citra pariwisata perlu dibuat perencanaan pariwisata yang matang (effective planning). Begitu pentingnya citra dalam pariwisata, perlu kesungguhan seluruh stakeholder pariwisata dalam berbenah diri. Pemerintah harus gesit dan fokus membangun Bali, melalui mengembangkan produk-produk pariwisata yang berbasis pada kedamaian masyarakat. Pelaku pariwisata turut memiliki andil besar dalam membangun citra pariwisata, karena kontak personal dalam memberikan pelayanan tentu banyak dilakukan oleh komponen ini. Pelaku pariwisata jangan berorientasi pada keuntungan sesaat dan menghalalkan segala cara untuk meraup profit. Akan teapi perlu menyelamatkan pariwisata untuk kepentingan masa depan. Pertahankan identitas, meningkatkan kualitas produk maupun selalu berbenah diri untuk menciptakan produk yang lebih kompetitif. Masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan wisata damai ini, masyarakat diedukasi agar paham akan arti penting pariwisata melalui penerapan sadar wisata, menjaga sikap ramah, maupun keterlibatan secara penuh dan profesional dalam pengembagan destinasi Bali.
Branding merupakan strategi investasi jangka panjang
yang nantinya dapat memberikan manfaat yang besar bagi keberlangsungan suatu destinasi (Negara, 2008). Brand yang baik mengandung unsur-unsur : Speakable and Writeable, Spirit
of Brand, Internal Back-Up, Personality, dan Story of Glory.
Histori branding Bali dalam usaha menjual produk-produk pariwisata Bali telah mengalami beberapa kali perubahan. Sebagai contoh nyata pemerintah dalam me-masarkan Bali meluncurkan “Bali is My Life” sebagai brand guna memulihkan citra pariwisata yang telah tercemar.
Branding ini disosialisasi guna antisipasi terhadap citra Bali yang tidak baik saat itu misalnya : isu kesehatan dan keamanan.
Branding Bali is My Life, diganti menjadi, “Santi, Santi, Santi”
. Penetapan branding ini untuk tujuan menggemakan Bali sebagai palau perdamaian. Tujuan ini selaras dengan temuan yang dipopulerkan oleh Hikman Powell dalam Windia (2010) “The Last Paradise” dan “Pulau Dewata” (The Island of The God). Julukan ini diberikan karena Bali memang kala itu, memiliki keindahan, keharmonisan budaya dan keramahan warganya.
Bila dipotret dalam bahasan peluang parawisata damai, kumpulan branding yang pernah disandang Bali, merupakan potensi besar untuk kembali patut direnungkan bersama. Sudahkan DTW di Bali berporos pada kedamaian masyarakat atas ciri keindahan alam, keramahan warga dan keharmonisan budaya. Lebih konkrit lagi, sudahkan branding Bali, mampu mendamaikan wisatawan yang menghabiskan banyak uang maupun mendamaikan masyarakat Bali secara luas. Pertanyaan ini menggelitik karena di tengah kemajuan pariwisata Bali yang hampir satu abad, masih menyisakan persoalan kemiskinan di beberapa daerah. Padahal penerimaan secara ekonomi telah besar dari sektor pariwisata.
Dalam usaha Bali menggali potensi pariwisata damai, makna kata branding perlu dijewantahkan lebih sederhana, hingga akhirnya mampu dipahami oleh seluruh komponen pariwisata Bali. Sebagai wujud nyata pengembangan pariwisata damai, misalnya: membangun sarana rekreasi bagi masyarakat lokal, menyisakan hasil pariwisata untuk masyarakat miskin, menjamin keselamatan dan kepuasan wisatawan, bijak dalam penggunaan sumber daya, maupun menjaga keberlanjutan dalam pengelolaan DTW. Di samping itu, produk wisata harus berbasis pada keunikan dan keberagaman budaya atau dengan kata lain tidak menjadikan Bali sebagai destinasi yang serba ada. Semuanya dibawa ke Bali dan di jual di Bali. Walaupun jelas bukan menjadi habitat
aslinya di Bali. Selain itu juga bisa diartikan bahwa pariwisata mampu memperkokoh jiwa persatuan dan kebersamaan, solidaritas dan menghargai nilai-nilai luhur maupun demokratis dalam membangun ekonomi melalui pariwisata.
Wisata Damai: Ground Zero dan Puja Mandala
Sebagai penghormatan atas korban Tragedi Bom Bali tahun 2002. Seluruh komponen sepakat mendirikan Monumen Ground Zero. Tujuan dasar didirikannya monumen ini adalah menciptakan taman spritual (Bali Peace Park). Secara makna substansi makna taman ini adalah untuk mengabadikan akan pentingnya nilai-nilai kamanusian (humanis), toleransi, kebebasan beragama, kebangsaan, budaya dan ras.
Di samping Monumen Ground Zero sebagai potensi untuk mengembangkan pariwisata damai. Puja Mandala Nusa Dua juga memiliki nilai histori dalam menciptakan keragaman budaya di Bali. Bangunan ini didirikan tahun 1994 atas bantuan PT. BTDC (Bali Tourism Development Centre). Pada tahun 1997 secara resmi diserahkan kepada menteri agama. Bangunan ini merupakan pertemuan kelima agama yang ada, yaitu Pura, Gereja Katolik, Gereja Protestan, Masjid, dan Wihara.
Dengan terpusatnya dalam satu lahan Puja Mandala dalam membangunan tempat suci bersama, terbukti adanya kesadaran dan ketersedian untuk hidup berdampingan dalam menjaga keajegan Bali. Sikap dan perilaku ini perlu dikomunikasikan dalam aspek pembangunan pariwisata damai. Bahwa Bali sebagai teladan untuk mengembangkan kebersamaan dalam interaksi antar komunitas, dan bisa hidup damai melalui pariwisata.
Dengan ulasan singkat sikap toleransi, melestarikan hasil akulturasi, menerapkan cara hidup sesuai filosofis masyarakat dan mampu menjaga citra diri dan citra Bali. Maka Bali akan selamat, Bali akan damai dengan katalisator pariwisata.
Kedamaian bisa diangkat sebagai potensi untuk membangun pariwisata damai. Masih banyak kearifan dan perspektif yang bisa dibangun untuk membangun Bali. Yang pada akhirnya menuju cita-cita bersama yaitu Bali yang damai
EKSPLORASI WISATA DAMAI
D
estinasi pariwisata Kabupaten Badung meliputi daya tarik wisata (DTW) dan kawasan pariwisata. Ada 33 DTW yang tersebar di semua kecamatan. Seluruh DTW tersebut ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Badung Nomor 7 Tahun 2005, tanggal 7 Februari 2005 tentang Daya Tarik Wisata di Kabupaten Badung.Kawasan pariwisata di Kabupaten Badung meliputi 3 (tiga) kawasan, yaitu Nusa Dua, Kuta, dan Tuban. Ketiga kawasan tersebut ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah No. 16 Tahun 2009, Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali.
Berdasarkan Peraturan Bupati Badung No 43 Tahun 2014 Kabupaten Badung kembali menetapkan 3 (tiga) daya tarik wisata yaitu : Daya Tarik Wisata Pantai Pandawa, Daya Tarik Wisata Bali Elephant Camp dan Daya Tarik Wisata Jembatan Tukad Bangkung. Selain itu melalui Peraturan Bupati Badung No 47 Tahun 2010 Kabupaten Badung menetapkan 11 (sebelas) desa wisata di Kabupaten Badung yaitu; Desa Bongkasa Pertiwi, Desa Pangsan, Desa Petang, Desa Plaga, Desa Belok, Desa Carang Sari , Desa Sangeh, Desa Baha, Desa Kapal, Desa Mengwi, dan Desa Munggu.
Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Kabupaten Badung melalui Bandara Ngurah Rai setiap tahun mengalami peningkatan, sedangkan jumlah wisatawan
nusantara mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2009 wisatawan nusantara yang datang sebanyak 212.375 orang, pada tahun 2011 sebanyak 509.328 orang atau mengalami peningkatan lebih dari 2 (dua) kali lipat. Sedangkan wisatawan mancanegara yang datang pada tahun 2007 sebanyak 1.668.531 orang dan pada Tahun 2014 sebanyak 3.681.342.
Kuta Mengenal Turisme
Dengan pesatnya perkembangan pariwisata di Kuta, menarik menggali sejarah terkait dengan peristiwa penting yang pernah terjadi. Kilasan sejarah Kuta dalam mengenal pariwisata, bisa dilihat pada saat pada kisah Miss Menk atau Ayu Poppies (Pitana dkk., 2001), saat mulai melakukan bisnis pariwisata yaitu sekitar tahun 1960-an. Sejarah Kuta juga tidak bisa lepas pada sejarah Kerajaan Majapahit dalam politik ekspedisi Gajah Mada dalam kurun waktu 1343-1846. Maupun sejarah Kuta atas, kedatangan penduduk Jawa lainnya dalam masa zaman Samparangan sekitar tahun 1350-an sebagai pengikut Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan, waktu tersebut berbarengan dengan kedatangan orang-orang Cina pedagang yang datang ke Kuta.
Pada masa ekspansi Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13, Kuta dijadikan sebagai pelabuhan yang posisinya strategis yaitu terletak antara Canggu dan Tuban. Sedangkan pada abad XV - XVI yaitu pada saat pemerintahan Bali yang berpusat di Gelgel, Kuta dijadikan sebagai tempat orang-orang buangan. Pada periode itu, Kuta juga didatangi oleh penduduk pendatang yaitu dari Jawa, Bugis dan pedagang-pedagang Cina. Pada abad ke-17 Kuta disebut sebagai wanua atau desa adat baru di bawah Kerajaan Mengwi. Dalam struktur kekuasaan Kerajaan Badung, Kuta dikenal dengan kota kecil pelabuhan. Kota ini memiliki dua sisi barat di Pantai
Kuta dan sisi timur di Sungai Mati. Menurut Pitana dkk. (2000:20) mengatakan bahwa pada abad XVIII Kuta dikenal sebagai pelabuhan yang ramai, banyak disinggahi oleh kapal-kapal layar. Pada massa ini seorang Mads J. Lange yang lahir pada 18 september 1807, mendapat kepercayaan dari Kerajaan Badung untuk memegang posisi Syah Bandar sekaligus Perbekel Kuta dengan julukan ’Tuan Made Lange Tua”.
Wisatawan yang datang pertama kali ke Kuta adalah seorang anggota perlemen Belanda bernama Van Kol yaitu pada tahun 1902. Pada masa itu kunjungan wisatawan ke Kuta sudah mulai ramai, terlebih saat beroperasinya kapal pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yaitu pada tahun 1920. Tumbuhnya industri pariwisata di Kuta juga ditandai dengan atas kedatangan seorang wanita asing kelahiran Skotlandia yang bernama Miss Manx yaitu pada tahun 1932. Dalam Buku Pitana dkk (2000 : 21) Miss Manx popular dengan nama Bali “K’tut Tantri”. Hasil pemikiran dan daya bisnisnya Tantri mampu mendirikan hotel pertama di Kuta bernama “Suara Samudra”. Hotel ini didirikan dengan gaya langgam arsitektur Bali.
Ruang Lingkup Wilayah Kuta
Kuta dimekarkan wilayahnya pada tahun 1998, Desa Kuta dibagi menjadi tiga desa/ kelurahan yakni: (1) Kelurahan Kuta, (2) Kelurahan Legian, dan (3) Kelurahan Seminyak. Atas pemekaran ini, luas Kelurahan Kuta dari sebelumnya 1.293 Hektar berkurang menjadi hanya seluas 723 hektar. Batas-batas kelurahan sebagai berikut: Sebelah utara: Kelurahan Legian Kecamatan Kuta. Sebelah selatan: Kelurahan Tuban Kecamatan Kuta. Sebelah barat: Samudera Indonesia. Sebelah timur: Kelurahan Pemogan Kecamatan Denpasar Selatan.
Daerah ini berbatasan langsung dengan pantai. Ketinggian rata-rata di bawah 100 meter dari permukaan air
laut, dengan kemiringan rata rata 0-3%. Desa Pakraman Kuta memiliki 13 banjar adat. Nama-nama banjar adat yaitu sebagai berikut : 1. Pelasa, 2. Pengabetan, 3. Pering, 4 Pemamoran, 5. Temacun, 6. Pande Mas, 7. Buni, 8. Tegal, 9. Tebasari, 10. Jabajero, 11. Abianbase, 12. Anyar, dan 13. Segara.
Berdasarkan BPS (2010) jumlah penduduk Desa Adat Kuta adalah 12.337 orang. dengan jumlah KK (Kepala Keluaraga) sebanyak 2917. Dari jumlah tersebut, terdistribusi penduduk laki-laki berjumlah 6.290 orang dan perempuan sebanyak 6.047 orang. Sedangkan tingkat kepadatan penduduk, bila dilihat dari luas wilayah 7,23 KM2 yaitu 1706
jiwa/Km2.
Cerita Pendirian Monumen Ground Zero
Monumen Ground Zero (MGZ) terletak di Jalan Legian, Kuta. Monumen Ground Zero dibangun dengan tujuan untuk mengenang 202 korban dan 209 cedera akibat ledakan bom di Sari Club dan Paddy’s Cafe di Jalan Legian, pada tanggal 12 Oktober 2002. Monumen mulai dibangun atas gagasan Nyoman Rudana (Ketua PUTRI [Persatuan Tourist Attraction
Indonesia Bali]), yang menganjurkan agar didirikan sebuah
monumen pada lokasi pemboman (dikenal sebagai lokasi “Ground Zero”). Selanjutnya dengan ide tersebut, dibentuk Tim Pelaksanaan Penataan Kawasan Bekas Peledakan Bom di Jalan Legian Kelurahan Kuta sesuai Keputusan Bupati Badung No 771 Tahun 2003 tanggal 7 Juli 2003. Tim pelaksana mendapatkan berbagai masukan bahwa monumen yang akan dibuat dijadikan sebagai tanda kebangkitan Bali serta mewujudkan kesejahteraan dan perdamaian umat manusia di dunia, dengan cara saling hormat menghormati (tat twam asi) antarumat beragama.
Dari 17 desain monumen, terpilihlah desain yang disodorkan oleh Ir. Wayan Gomudha, M.T. yang terbangun
hingga saat ini. Monumen diresmikan pada 12 Oktober 2004 ketika Bupati Badung A.A. Ngurah Oka Ratmadi. Sebelum upacara peresmian, yaitu pada tanggal 8 Oktober diadakan upacara Hindu (upacara Mecaru dan Melaspas) yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan secara spiritual tempat dan sekitarnya.
Ada beberapa bagian penting dari design monumen yaitu : (1) Altar sebagai tempat sesaji dalam memberi penghormatan, (2) prasasti memuat seluruh nama-nama korban, (3) tiang bendera menjadi penanda asal negara seluruh korban. (4) kayonan (ukiran seperti gunungan dalam pewayangan) artinya kehendak yang seharusnya dikendalikan, tri kona nemu gelang (tembok berbentuk setengah lingkaran seperti gelang sebanyak tiga posisi) artinya simbol kehidupan. Sedangkan (5) kolam yang berada di tengah itu berbentuk bulat dengan sembilan air mancur sebagai simbol
kumbanda (roh). Jadi harapannya, keberadaan monumen
mampu memancarkan kedamaian dan perdamaian ke seluruh penjuru mata angin.
Monumen Ground Zero yang dikenal pula dengan sebutan Panca Benua Bom Bali banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara. Aktivitas wisata yang dilakukan wisatawan yang sedang berkunjung ke Kuta seperti: menyalakan lilin, mempersembahkan bunga, dan ada beberapa wisatawan melakukan doa. Di samping itu ditempat ini juga digelar ritual (upacara) secara rutin untuk menghormati nilai-nilai kemanusiaan universal dalam bentuk acara Gema Perdamaian.
Eksplorasi Wisata Damai
Eksplorasi terhadap potensi pariwisata damai dipilah menjadi 2 bagiian dalam tulisan ini yaitu : (1) potensi fisik, yaitu sebagai komponen wisata damai yang lebih nyata bisa
diamati/dilihat di lapangan, dan (2) nonfisik yaitu yang lebih abstrak sebagai bagian potensi untuk dikembangkannya
peace tourism di Kuta. Batasan komponen fisik diklasifikasi
menjadi 3 (tiga) bagian: (tempat ibadah, keindahan pantai dan pemukiman masyarakat). Sedangkan cakupkan eksplorasi potensi non fisiknya dikategorikan menjadi 6 (enam) bagian: sejarah kuta, hubungan antarumat beragama, kearifan lokal, adat istiadat masyarakat, multikultur/pluralisme, dan kesadaran masyarakat. Dari penggabungan kedua komponen atau penyatuan dari kesembilan indikator akan ditemukan rata-rata jawaban dari keseluruhan responden tentang skala potensi.
Potensi Fisik Wisata Damai
Penggalian potensi pariwisata damai (peace tourism) terlebih pada daerah pariwisata yang telah mapan seperti Kuta, tentu bukan persoalan sederhana. Mengingat, problematik yang mengganggu tatanan sosial masyarakat terutama berkaitan dengan keamanan, kelestarian lingkungan dan sosial budaya relatif sering dijumpai. Maka dari itu, salah satu jawaban dari rangkaian persoalan tersebut diperlukan komparasi penyeimbang segala konskuensi negatif dari produk-produk pariwisata yang dijual saat ini. Bentuk komparasi ini, dapat dilakukan dengan menggali/eksplorasi potensi pariwisata yang mengarah pada tatanan lama seperti pengembangan wisata damai. Ekplorasi wisata damai di Kuta, dalam konteks potensi fisik didapatkan rata-rata persepsi responden adalah 160 dengan skala 2,51 yang artinya potensi kuta sebagai wisata damai termasuk kategori tinggi.
Potensi Wisata Damai
Variabel Indikator Rendah Sedang Tinggi SKOR Skala Ket
Fisik
Tempat Ibadah 28 36 164 2.56 Tinggi Keindahan
Pantai 6 27 31 153 2.39 Sedang Pemukiman
Masyarakat 28 36 164 2.56 Tinggi Rata – rata 160 2.51 Tinggi Sumber : Hasil Penelitian : 2012
Potensi Non Fisik Wisata Damai
Selain Potensi fisik dalam pengembangan wisata baru, juga perlu dikaji apa yang menjadi potensi non fisiknya. Simultan dengan kajian potensi non fisik, wisata damai dilihat dari beberapa subkomponen, yaitu : sejarah, sendi hubungan antarumat beragama, kearifan lokal, adat-istiadat, multikultur dan kesadaran masyarakat.
Berdasarkan ilustrasi gabungan semua potensi nonfisik wisata damai, ditemukan rata – rata skor terhadap persepsi responden adalah 164 dengan skala 2,55, yang artinya Kuta memiliki potensi yinggi untuk dikembangkan sebagai peace
tourism. Dan apabila ditelisik setiap subkomponennya, hanya
ada satu bagian yang perlu mendapatkan perhatian serius yaitu terkait dengan sejarah Kuta. Bagi wisatawan, hal ini amat penting, tetapi relatif sulit untuk mengenal sejarah Kuta yang ditulis lengkap dan detil. Selanjutnya keenam variabel lainnya, perlu dipertahankan dan dioptimalkan sehingga dapat bermanfaat lebih nyata kepada masyarakat Kuta. Bukan saja keuntungan dalam aspek ekonomi namun juga didapatkan berupa keutungan sosial budaya, terutama nilai-nila kemanusian dalam kepariwisataan.
Potensi Non Fisik Kuta Wisata Damai
Non
Fisik Katagori Rendah Sedang Tinggi Skor Skala Ket
Sejarah Kuta 12 30 22 138 2.16 Sedang Hubungan Antar Umat
Beragama 21 43 171 2.67 Tinggi Kearifan Lokal 29 35 163 2.55 Tinggi Adat Istiadat
Masyarkat 22 42 170 2.66 Tinggi Multi Kultur/Pluralisme 29 35 163 2.55 Tinggi Kesadaran Masyarakat 22 44 176 2.75 Tinggi
Rata – rata 164 2.55 Tinggi
Sumber : Hasil Penelitian : 2012
Berdasarkan deskripsi dari 2 komponen yaitu potensi fisik dan non fisik dalam menunjang wisata damai di kuta, ternyata rata-rata persepsi didapatkan 162 dengan skala (2,54). Angka ini menunjukkan bahwa potensi Kuta untuk dikembangkan sebagai wisata damai adalah termasuk katagori tinggi. Apabila ditinjau dari masing-masing indikator, ternyata yang paling tinggi terhadap potensi fisik yaitu tempat ibadah (164 dengan skala 2,56 [berpotensi tinggi]). Namun, angka ini memiliki kesamaan dengan indikator pemukiman masyarakat yang memiliki skor dengan skala yang sama, disusul dengan indikator keindahan pantai sebagai posisi kedua dengan skor (153) dengan skala 2,39 yang berarti angka ini menunjukan potensi sedang terhadap keindahan pantai sebagai wisata damai. Selanjutnya bila dilihat dari potensi non fisik skor yang paling tinggi yaitu indikator kesadaran masyarakat dengan skor sebesar 176 sedangkan skalanya 2,75, disusul potensi hubungan antarumat agama sebagai skor tertinggi kedua dengan skor (171) dan skalanya (2,67). Hal ini berarti Kuta memiliki potensi tinggi terhadap usaha menjaga hubungan harmonis antar umat beragama. Sedangkan tertinggi ketiga
yatu indikator adat istiadat yang memiliki nilai persepsi 170 dengan skala (2,66), artinya adat istiadat dalam menunjang wisata damai di Kuta berpotensi tinggi untuk dikembangkan.
Potensi Wisata Damai di Kuta
Potensi Indikator Rendah Sedang Tinggi skor Skala Ket
Fisik
Tempat Ibadah 28 36 164 2.56 Tinggi Keindahan Pantai 6 27 31 153 2.39 Sedang Pemukiman Masyarakat 28 36 164 2.56 Tinggi Non Fisik
Sejarah Kuta 12 30 22 138 2.16 Sedang Hubungan
Antar-Umat
Beragama 21 43 171 2.67 Tinggi Kearifan Lokal 29 35 163 2.55 Tinggi Adat Istiadat Masyarkat 22 42 170 2.66 Tinggi Multi Kultur/ Pluralisme 29 35 163 2.55 Tinggi Kesadaran Ma-syarakat 22 44 176 2.75 Tinggi Rata – rata 9 26 36 162 2.54 Tinggi Sumber : Hasil Penelitian : 2012
Formulasi Wisata Damai
Hasil penyederhanaan dari sekian pendapat tentang produk pariwisata terutama dikaitkan dengan dunia hospitality, Chadwick (1994) berpendapat ada beberapa jenis produk pariwisata yaitu sebagai berikut : Akomodasi (commercial
accommodation), food and drink (makanan dan minuman),
transportasi (air, road, water, rail, dan auto rental), jasa pariwisata
(leisure) : taman wisata (amusement, parks), cultural and heritage
activities, rekreasi partisipasi dan comemersial spectator sports.
Sedangkan dalam aspek koorporasi keuangan terdiri dari :
travel insurance, currency exchange dan kartu kredit. Pelayanan
lainnya : souvenirs, luggage dan travel accessories maupun
photography sale.
Produk pariwisata menurut Smith (1994) terdiri dari lima elemen yang digambarkan dalam bentuk lima lingkaran yang konsentris. Lima elemen tersebut yaitu (1) physical plant, (2) service, (3) hospitality,(4) freedom of choice dan (5) involvement. Inti dari produk pariwisata berupa elemen physical plant yang kemudian secara berurutan dikelilingi oleh elemen service,
hospitality, freedom of choice dan elemen involvement sebagai
elemen pada lingkaran terluar. Urutan kelima elemen tersebut dari inti lingkaran ke arah luar dapat menjelaskan hubungan berikut yaitu semakin menurunnya kontrol manajemen secara langsung, sementara keterlibatan wisatawan semakin intensif dan bentuknya semakin abstrak sehingga menurunkan potensi tingkat pengukuran secara empirik. Tingkat kepentingan dari masing masing elemen sangat bervariasi tergantung pada spesifikasi tipe produk pariwisata yang diobservasi. Namun setiap produk pariwisata merupakan jalinan dari kelima elemen tersebut. Dengan kata lain keberhasilan sebuah produk pariwisata di dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan wisatawan sangat tergantung pada sejauh mana masing-masing dari kelima elemen tersebut di kombinasikan. sehingga menghasilkan interaksi yang sinergis dan saling terkait.
Sebuah produk baik yang berwujud maupun tidak berwujud dihasilkan dari sebuah proses produksi. Demikian pula halnya dengan produk pariwisata yang dihasilkan dari serangkaian proses produksi yang komplek. Proses produksi produk pariwisata menurut Smith (1994) ada 4 tahapan
yaitu primary input (resources), intermediate input (facilities),
intermediate output (services) dan proses produksi terakhir final output (experience).
Berkaitan dengan ulasan konsep tersebut terkait dengan batasan tentang produk wisata dan ditemukannya bahwa Kuta memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkannya wisata damai (peace tourism). maka perlu dilanjutkan dengan usaha memformulasi produk wisata damai dan usaha pengelolaannya. Ada 7 indikator yang ditentukan yaitu: jenis wisata damai, kemasan produk, pola pengelolaan kerjasama, pemberdayaan masyarakat, pemerintah dan Industri, dan pemasaran.
Respons terhadap formulasi wisata damai sebagai wisata baru di Kawasan Pariwisata Kuta dapat dikategorikan pada jawaban cukup yaitu dengan rata-rata skor (2,34). Sedangkan hasil setiap bagian yang dapat dijelaskan sebagai berikut : jenis wisata damai (2,23 : cukup), kemasan produk (2,45 : baik), pola pengelolaan (2,34 : cukup), kerja sama (2,45 : baik), pemberdayaan masyarakat (2,33 ; cukup), pemerintah dan Industri (2,30 : cukup) dan pemasaran (2,28 : cukup). Dengan membandingkan dengan jawaban responden, bahwa Kuta memiliki potensi yang tinggi/besar untuk mengembangkan wisata damai, namun dalam hal pengkemasan/formulasi dan pengelolaannya masih perlu ditingkatkan dan dioptimalkan.
Formulasi dan Pengolaan Wisata Damai Bentuk Formulasi dan Pengelolaan Wisata Damai
Katagori Buruk Cukup Baik Skor Skala Ket Jenis Wisata
Damai 8 33 23 143 2.23 Cukup Kemasan
produk 35 29 157 2.45 Baik Pola Pengelola 6 30 28 150 2.34 Cukup Kerjasama 35 29 157 2.45 Baik Pemberdayaan Masyarakat 7 29 28 149 2.33 Cukup Pemerintah dan Industri 8 29 27 147 2.30 Cukup Pemasaran 7 32 25 146 2.28 Cukup Rata-Rata 150 2,34 Cukup Sumber : Hasil Penelitian : 2012
Wisata Damai : Tipologi Wisatawan
Karakteristik wisatawan yang berkunjung ke Monument Ground Zero, yaitu : pertama, dilihat dari negara asal wisatawan (tourist genereting country) persentase wisatawan yang berasal dari Australia (69%) adalah paling tinggi bila dibandingkan dengan persentase negara asal wisatawan lainya (Selandia Baru, Irlandia, Korea, Singapura, Jerman, Francis, Inggris, Kanada, India, Afrika Selatan, Cina, Belanda, Denmark, Jepang, dan Malaysia). Kedua, dilihat dari karakteristik berdasarkan Jenis Kelamin, persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan persentase perempuan dengan perbandingan 56% wisatawan laki-laki dan 44% wisatawan perempuan. Ketiga, karakteristik berdasarkan umur wisatawan yang berkunjung terdapat persentase yang paling tinggi yaitu umur 46-55 tahun (22%), dan persentase yang paling rendah yaitu umur lebih dari atau sama dengan 56 tahun (16%). Keempat, dilihat dari karakteristik berdasarkan pekerjaan wisata wan, persentase yang paling tingggi yaitu wisatawan yang bekerja sebagai profesional 31% dan persentase yang paling rendah yaitu wisatawan dengan pekerjaan sebagai polisi yaitu 2%.
Karakteristik Wisatawan Wisata Damai
Karakteristik Jenis Persentase (%)
Negara Australia 69 Selandia Baru 5 Irlandia 2 Korea 2 Singapura 3 Jerman 3 Francis 2 Inggris 5 Kanada 2 India 1 Afrika Selatan 1 Cina 1 Belanda 1 Denmark 1 Jepang 1 Malaysia 1 Total 100 Jenis kelamin Laki-Laki 44
Perempuan 56 Total 100 Umur 16-25 tahun 21 26-35 tahun 21 36-45 tahun 20 46-55 tahun 22 lebih 56 tahun 16 Total 100 Pekerjaan Siswa 11 Pegawai Negeri 2 Polisi 2 Profesional 31 Karyawan 19 Pengusaha 11 Lainya 24 Total 100 Sumber: Hasil Penelitian (2012).
Tipologi kunjungan wisatawan ke Monument Ground Zero, Berdasarkan keseluruhan responden yang telah disebarkan, maka didapatkan hasil sebagai berikut:
Pertama, dilihat dari tipe kunjungan ditemukan persentase
yang paling tinggi yaitu berkunjung bersama keluarga (50%) dan persentase yang paling rendah yaitu berkunjung bersama grup (7%). Kedua, dilihat dari frekuensi berkunjung, didapatkan hasil bahwa persentase kunjungan selama kurang dari 1 Jam (≤ 1 jam) lebih tinggi dan hampir mendekati seratus persen yaitu 94% dibandingkan dengan persentase lama kunjungan lainya, persentase yang paling rendah yaitu frekuensi kunjungan selama 1-3 jam dengan persentase 1%.
Ketiga, dilihat dari tempat menginap wisatawan didapatkan
hasil yaitu persentase yang paling tinggi yaitu wisatawan yang menginap di daerah lainya 52% seperti wisatawan yang menginap di daerah Seminyak, Legian, Pererenan, Denpasar, dan Jimbaran. Dan peringkat kedua yaitu wisatawan menginap di Kuta (38%), Kemudian persentase wisatawan yang menginap di Nusa Dua dan Sanur paling rendah dengan persentase sama yaitu masing-masing 5%. Keempat, berdasarkan sumber informasi yang digunakan oleh wisatawan untuk mengetahui keberadaan Monument Ground Zero didapatkan persentase yang paling tinggi yaitu sumber informasi lainya (Word Of Mouth (WOM), berita, sopir taxi, orang-orang Australia, keluarga, Tour Guide, dan beberapa karena pada saat itu hanya lewat dan mengunjungi monument ini) dengan persentase 46% dibandingkan dengan sumber informasi yang berasal dari iklan, internet, Koran/majalah dan radio/ Televisi. Kelima, dilihat dari jenis kendaraan yang digunakan oleh wisatawan persentase, jenis kendaraan lainya paling tingi yaitu 56% dibandingkan dengan jenis kendaraan dengan menggunakan bus, minibus, mobil, sepeda motor, dan sepeda. Selanjutnya persentase jenis kendaraan yang paling rendah yaitu menggunakan bus 2%. Keenam, dilihat dari