BAB 2 LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan disajikan teori-teori baik teori khusus maupun teori umum

35  Download (0)

Full text

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan disajikan teori-teori baik teori khusus maupun teori umum yang saling berkaitan dengan topik ini, secara garis besar menjelaskan peran dan strategi humas dalam membangun citra positif Badan POM dimata masyarakat.

Teori umum

2.1 Komunikasi

Dalam kehidupan bermasyarakat komunikasi penting artinya bagi manusia, sebab tanpa adanya komunikasi tentu tidak akan terjadi interaksi dan tidak ada saling tukar informasi, pengetahuan dan pengalaman. Komunikasi menjadi bagian integral manusia dalam menjalankan kehidupan sosial dengan masyarakat lainnya. Seiring dengan adanya kemajuan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat tentunya komunikasi menjadi alat yang penting sebab tidak mungkin terjadi dan ada interaksi atau mendapatkan umpan balik tanpa adanya kegiatan komunikasi, karena kegiatan komunikasi memiliki peran yang penting dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, maka masyarakat tidak lepas dari kegiatan berkomunikasi tersebut. Cara melakukan dan berkomunikasi yang baik juga harus dimiliki oleh setiap masyarakat, sebab dengan menggunakan cara-cara komunikasi yang baik tentu dapat menghasilkan tanggapan atau umpan balik yang baik pula.

(2)

Komunikasi merupakan suatu tindakan dalam berhubungan dengan orang lain, dalam menerima, memberikan informasi dan memperoleh umpan balik. Melalui kegiatan komunikasi inilah kita dapat saling berbagi informasi, gagasan atau ide dengan orang lain atau komunikan. Komunikan disini dapat diartikan sebagai seseorang atau sejumlah orang yang menjadi sasaran komunikator ketika ia menyampaikan pesannya, sedangkan komunikator itu sendiri dapat diartikan sebagai seorang atau sekelompok orang yang menyampaikan pikirannya atau perasaannya kepada orang lain. Komunikasi ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain.

Komunikasi merupakan aspek yang penting dan kompleks dalam kehidupan manusia sehari-hari karena dalam segala sesuatunya menggunakan komunikasi dan kaitannya dengan masyarakat banyak, seperti berbicara dengan orang lain tentunya agar orang lain dapat mengerti apa yang ingin kita sampaikan maka kita harus berbicara secara jelas agar mudah dimengerti dan dipahami. Menurut Setyodarmodjo (2003: 79), Komunikasi adalah kegiatan atau proses penyampaian hasil pemikiran (keputusan, pendapat, keinginan, anjuran, dan lain sebagainya) dari seorang kepada orang lain. Jadi, dapat disimpulkan komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan agar dapat memperoleh feedback atau umpan balik.

Dengan adanya komunikasi tentu akan menghasilkan dampak antara lain memberikan pesan atau saling berbagi dan bertukar informasi, meningkatkan pengetahuan, menambah wawasan, menyampaikan pikiran, ide dan gagasan yang dimiliki kemudian dapat juga mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat, dan melalui

(3)

kegiatan komunikasi ini juga dapat mencapai apa yang ingin disampaikan oleh komunikator dan dipahami maksudnya oleh penerima pesan atau komunikan.

2.1.1 Fungsi Komunikasi

Dalam buku Ilmu Komunikasi (Effendy, 2004: 8) terdapat berbagai fungsi komunikasi, yaitu:

1. To Inform (Menyampaikan Pesan)

Menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan melalui komunikasi, informasi yang ingin disampaikan pun harus akurat dan dapat dipertanggung jawabkan fakta atau kebenarannya.

2. To Educate (Mendidik)

Komunikasi melalui penyampaian informasi pada dasarnya diberikan agar dapat dipahami, dipelajari dan juga mendidik masyarakat melalui adanya kegiatan komunikasi berupa informasi tentang penyuluhan, sosialisasi, pengetahuan, dll.

3. To Entertain (Menghibur)

Komunikasi yang berisi tentang informasi yang menghibur dapat juga menjadi sarana hiburan bagi masyarakat.

(4)

4. To Influence (Mempengaruhi)

Kegiatan menyampaikan informasi kepada masyarakat tentunya dapat mempengaruhi masyarakat tersebut, baik dari sudut pandang, pola pikir hingga dapat mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku dari masyarakat.

Pentingnya komunikasi dalam kehidupan manusia dapat dilihat dalam hal menyampaikan segala sesuatu atau pesan yang ingin dikomunikasikan tentunya dengan menggunakan komunikasi sebagai jalan utama agar pesan yang ingin disampaikan diketahui maksudnya oleh orang lain, maka Harold D. Lasswell mengemukakan bahwa fungsi komunikasi, antara lain:

1. Manusia dapat mengontrol lingkungannya.

2. Beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka berada.

3. Melakukan transformasi warisan sosial kepada generasi berikutnya.

Selain itu ada beberapa pihak menilai bahwa dengan komunikasi yang baik maka hubungan antar manusia juga dapat dipelihara kelangsungannya. Sebab melalui komunikasi dengan sesama manusia kita bisa memperbanyak sahabat, rezeki, memperbanyak dan memelihara pelanggan (costumers), dan juga memelihara hubungan yang baik antara bawahan dan atasan dalam suatu organisasi. Komunikasi berfungsi menjembatani hubungan antar manusia dalam bermasyarakat (Cangara, 2007: 59).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi dari komunikasi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dalam menyampaikan pesan atau informasi baik itu dalam

(5)

kehidupan sehari-hari dan dalam situasi lainnya, sebab dengan adanya komunikasi maka akan tersampaikan pesan yang dimaksudkan untuk diketahui oleh masyarakat banyak. Komunikasi juga merupakan alat penghubung antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Maksud dari komunikasi merupakan alat penghubung yaitu dengan komunikasi tentunya kita membutuhkan masyarakat lain untuk dapat menyampaikan pesan dan menerima pesan yang kita ingin sampaikan, dalam kegiatan menyampaikan pesan maka akan terjalin hubungan antara komunikator sebagai orang yang menyampaikan pesan dengan komunikan sebagai penerima pesan.

2.1.2 Proses Komunikasi

Proses komunikasi diawali oleh sumber (source) baik individu ataupun kelompok yang berusaha berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain. Komunikasi merupakan suatu kegiatan yang melibatkan orang lain, komunikasi pun bisa terjadi dengan diri sendiri. Adapun langkah utama yang diciptakan oleh sumber adalah ideation yaitu penciptaan suatu gagasan atau pemilihan seperangkat informasi untuk dikomunikasikan. Ideation ini merupakan landasan bagi suatu pesan yang akan disampaikan. Langkah kedua dalam penciptaan suatu pesan adalah encoding, yaitu sumber menerjemahkan informasi atau gagasan dalam wujud kata-kata, tanda-tanda, atau lambang-lambang yang disengaja untuk menyampaikan informasi dan diharapkan mempunyai efek terhadap orang lain. Langkah ketiga dalam proses komunikasi adalah penyampaian pesan yang telah disandi (encode). Langkah keempat, perhatian dialihkan kepada penerima pesan. (Senjaya, 2007: 4.7).

(6)

Ada 3 unsur yang pokok dalam komunikasi menurut buku Public Relations: Pengertian, Fungsi, dan Peranannya (Setyodarmodjo, 2003: 79) antara lain:

1. Orang yang menyampaikan yang disebut sebagai komunikator.

2. Hasil pemikiran yang disampaikan, yang disebut pesan atau message.

3. Orang yang menerima, yang disebut komunikan.

Proses berlangsungnya komunikasi digambarkan sebagai berikut:

Pesan

Umpan balik

Gambar 2.1 Proses komunikasi (Setyodarmodjo, 2003: 85)

2.1.3 Tujuan Komunikasi

Kegiatan berkomunikasi erat kaitannya dalam ketrampilan menyampaikan informasi atau pesan kepada orang lain dan tentunya untuk memperoleh feedback atau umpan balik. Komunikasi tentu tidak dilakukan tanpa adanya suatu tujuan yang ingin dicapai atau disampaikan melalui komunikasi itu sendiri, tujuan dari komunikasi antara lain agar orang lain dapat memahami dan mengerti apa yang ingin disampaikan, melalui komunikasi ini akan timbul atau adanya interaksi, jika tidak ada komunikasi maka tidak dapat menyampaikan suatu informasi atau pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain sehingga tidak tercapai maksud yang ingin disampaikan, komunikasi juga dapat

(7)

berupa ungkapkan perasaan, ide dan gagasan, dengan komunikasi pun dapat memahami orang lain, mempengaruhi sikap dan perilaku orang lain, berhubungan dan berbagi informasi dengan orang lain, dan dengan komunikasi dapat menyelesaikan sebuah masalah atau konflik melalui cara komunikasi yang tepat.

Teori Khusus

2.2 Pengertian Humas

Kebutuhan praktisi PR tumbuh dengan cepat dengan beragam klien seperti pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi nirlaba, industri manufaktur, tim sepak bola, selebritas dan bahkan negara. PR memiliki deskripsi luas dengan beragam fungsi profesi seperti humas, spesialis media, analisis media, dan praktisi komunikasi (Nova, 2011: 17). Praktisi humas seringkali dihadapkan pada permasalahan yang ada dalam sebuah perusahaan atau lembaga dan harus mempunyai strategi untuk dapat menanganinya. Keterangan yang diberikan oleh humas tidak boleh dilebih-lebihkan dan harus sesuai dengan fakta yang ada apabila terdapat masalah atau terjadi krisis.

Public relations mempengaruhi hampir setiap orang yang mempunyai hubungan dengan orang lain, beragam cara seseorang dalam kehidupan sehari-harinya dapat mempraktikan kegiatan public relations tersebut, misalnya dalam suatu kegiatan seseorang melakukan komunikasi dengan orang lain itu sudah termasuk melakukan

(8)

kegiatan public relations, karena ia melakukan fungsi komunikasi. Public relations itu sendiri mencakup ke dalam fungsi profesi humas.

Humas adalah suatu bentuk komunikasi yang berlaku terhadap semua jenis organisasi, baik yang bersifat komersial atau bertujuan mencari keuntungan (profit) maupun perusahaan non-komersial yang tidak mencari keuntungan (Morissan, 2008: 6). Terdapat beragam definisi humas karena humas itu sendiri memiliki peran yang luas dalam sebuah perusahaan atau lembaga.

Menurut Dominick, humas mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Humas memiliki kaitan erat dengan opini publik.

Pada satu sisi, praktisi humas berupaya untuk mempengaruhi publik agar memberikan opini yang positif bagi organisasi atau perusahaan, namun pada sisi lain humas harus berupaya mengumpulkan informasi kepada khalayak, menginterpretasikan informasi itu dan melaporkannya kepada manajemen jika informasi itu memiliki pengaruh terhadap keputusan manajemen.

2. Humas memiliki kaitan erat dengan komunikasi.

Praktisi humas bertanggung jawab menjelaskan tindakan perusahaan kepada khalayak yang berkepentingan dengan organisasi atau perusahaan. Khalayak yang berkepentingan akan selalu tertarik dengan apa saja yang dilakukan perusahaan. Praktisi humas harus memberikan perhatian terhadap pikiran dan perasaan khalayak terhadap organisasi. Humas harus menjadi saluran arus bolak-balik antara organisasi dan khalayaknya. Organisasi pada dasarnya berhubungan

(9)

dengan berbagai macam khalayak. Secara umum khalayak humas terbagi atas khalayak internal seperti: karyawan, organisasi buruh serta pemegang saham yang namanya tercatat pada perusahaan dan khalayak eksternal seperti: badan atau instansi pemerintah, dealer, pemasok, masyarakat sekitar, media massa dan pemegang saham yang tidak tercatat pada daftar pemegang saham.

3. Humas merupakan fungsi manajemen.

Humas berfungsi membantu manajemen dalam menetapkan tujuan yang hendak dicapai serta menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah. Humas juga harus secara rutin memberikan saran kepada manajemen. Humas harus memiliki kegiatan yang terencana dengan baik. Bagian humas harus mampu mengorganisir dan mengarahkan dirinya untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Morissan, 2008: 8).

Saat ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan humas sudah harus diarahkan kepada khalayak terbatas atau pihak-pihak tertentu yang berbeda dan masing-masing dengan cara yang berlainan pula, setiap organisasi atau institusi memiliki sendiri khalayak khususnya, kepada khalayak yang terbatas inilah humas senantiasa menjalin komunikasi baik secara internal maupun dengan eksternal. Humas juga dituntut untuk memiliki latar belakang atau pengetahuan tertentu untuk dapat berkomunikasi secara lebih efektif dengan khalayaknya. Peranan humas saat ini penting dalam sebuah perusahaan atau lembaga yaitu sebagai fasilitator yang berhubungan dengan pihak internal dan eksternal perusahaan atau lembaga.

(10)

Jadi dapat disimpulkan, humas atau PR merupakan ujung tombak dari perusahaan atau institusi karena peranan serta fungsinya dalam membangun dan meningkatkan citra positif dimata masyarakat atau publik sekaligus sebagai fasilitator sebuah perusahaan atau institusi serta menjadi jembatan yang menghubungkan antara perusahaan dengan pihak internal perusahaan dan eksternal yaitu masyarakat.

2.2.1 Peranan Humas

Sebenarnya peranan humas dalam sebuah perusahaan atau lembaga institusi sangatlah penting, namun memang ada disejumlah lembaga institusi yang secara struktur organisasinya menempatkan humas ditingkat yang paling rendah, akan tetapi humas diminta untuk melayani lembaga yang berkaitan dalam menghadapi publik eksternal. Disinilah, seharusnya humas mendapatkan tempat yang baik dalam struktur organisasi sebuah lembaga. Peranan humas dalam hubungan dengan internal seperti karyawan, dan manajemen perusahaan yaitu dengan menjaga hubungan baik agar terciptanya sebuah manajemen yang solid. Sedangkan dengan publik eksternal, peran humas sangatlah berpengaruh besar misalnya saja dalam mempengaruhi pandangan masyarakat tentang sebuah perusahaan atau lembaga institusi.

Peranan dan ruang lingkup dalam humas sangatlah luas dan mencakup seluruh bentuk kegiatan komunikasi. Ruang lingkup humas memberikan pandangan bahwa pekerjaan humas saat ini sudah terspesialisasikan dan semakin luas cakupannya, perusahaan atau lembaga tidak bisa dipisahkan dengan khalayaknya atau masyarakat. Ada beragam bidang pekerjaan yang humas lakukan, namun pada dasarnya tujuan dari

(11)

adanya pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan humas adalah untuk menciptakan sebuah citra positif dimata masyarakat. Humas sendiri adalah erat kaitannya dengan mengelola citra dan reputasi seseorang atau sebuah lembaga dimata masyarakat.

Menurut Morissan, M.A dalam Buku Manajemen Public Relations: Strategi menjadi Humas Profesional, Ruang lingkup pekerjaan humas dapat dibagi menjadi enam (6) bidang pekerjaan, yaitu:

1. Publisitas.

Salah satu kegiatan yang sering dilakukan humas adalah publisitas, yaitu kegiatan menempatkan berita mengenai seseorang, organisasi, atau perusahaan di media massa. Dengan kata lain publisitas adalah upaya orang atau organisasi agar kegiatannya diberitakan media massa. Publisitas lebih menekankan pada proses komunikasi satu arah, sedangkan humas adalah komunikasi dua arah. Publisitas merupakan salah satu alat dalam kegiatan humas, namun humas tidak akan dapat berbuat banyak tanpa publisitas. Pekerjaan humas yang terkait dengan publisitas yaitu press agentry yaitu suatu kegiatan yang menampilkan peristiwa atau rencana yang bertujuan untuk menarik perhatian media massa secara terus-menerus kepada seseorang, produk atau organisasi. Mungkin banyak orang yang tidak pernah mengira bahwa sebagian besar berita atau informasi yang disebarluaskan media massa merupakan hasil kerja humas, pandangan ini jelas keliru, sebagian besar berita yang diperoleh media massa ternyata berasal dari informasi yang disampaikan humas suatu organisasi atau perusahaan ke media massa melalui berbagai cara misalnya dengan mengirimkan press release,

(12)

mengundang wartawan pada jumpa pers (press conference), atau mengundang wartawan pada acara tertentu yang diadakan organisasi.

2. Pemasaran.

Pada praktiknya bagian pemasaran meliputi antara lain melakukan penelitian, mendesain produk, mengemas produk (packaging), menentukan harga (pricing), melakukan promosi dan distribusi produk. Tujuan dari pemasaran adalah untuk menarik dan memuaskan klien atau pelanggan (customer) dalam jangka panjang, dalam upaya mencapai tujuan ekonomi. Pemasaran dapat dilakukan melalui iklan, iklan adalah alat yang sangat penting dalam pemasaran. Tujuan humas dalam memasang iklan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak yang bukan menjadi pelanggannya.

3. Public Affairs.

Public affairs dapat didefinisikan sebagai: A specialized part of public relations that builds and maintains governmental and local community relations in order to influence public policy (Bidang khusus Public Relations yang membangun dan mempertahankan hubungan dengan pemerintah dan komunitas lokal agar dapat mempengaruhi kebijakan publik). Definisi ini menunjukkan bahwa terdapat dua pihak yang menjadi fokus perhatian public affairs, yaitu pemerintah dan masyarakat lokal. Pemerintah meliputi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

(13)

4. Manajemen Isu.

Manajemen isu merupakan upaya organisasi atau perusahaan untuk melihat kecenderungan isu atau opini publik yang muncul ditengah masyarakat dalam upaya organisasi atau perusahaan untuk memberikan tanggapan atau respon yang sebaik-baiknya.

Menurut Cutlip-Center-Broom, manajemen isu meliputi dua tindakan mendasar yaitu:

1. Melakukan identifikasi awal terhadap isu yang memiliki potensi untuk merugikan organisasi atau perusahaan.

2. Memberikan tanggapan terhadap isu untuk meminimalisirkan konsekuensi dari munculnya isu (Morissan, 2008: 26).

Pada praktiknya banyak perusahaan yang membentuk unit tersendiri yang menangani manajemen isu tetapi banyak pula yang merekrut personel dari bagian humas, mereka bertugas memberikan tanggapan terhadap berbagai kekhawatiran masyarakat terhadap operasi perusahaan khususnya yang terkait dengan isu lingkungan, misalnya isu atau rumor yang negatif.

5. Lobi.

Orang yang melakukan lobi disebut dengan lobyis yang berasal dari kata bahasa Inggris “Lobbyist”. Lobbyis merupakan profesi yang diakui di Amerika Serikat. Lobi dapat didefinisikan sebagai berikut: Lobbying is a specialized part of public

(14)

relations that builds and maintains relations with government primarily for the purpose of influencing legislation and regulations (Lobi adalah bidang khusus humas yang membangun dan memelihara hubungan dengan pemerintah utamanya untuk tujuan memengaruhi peraturan dan perundang-undangan).

6. Hubungan Investor

Menurut Cutlip-Center-Broom, hubungan investor merupakan bidang khusus humas yang bekerja pada perusahaan publik. Definisi hubungan investor menurut Cutlip dan rekan adalah: A specialized part of public relations that builds and maintains mutually beneficial relationship with shareholders and other in the financial community to maximize market value. (Bidang khusus dari humas korporat yang membangun dan mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan dengan pemegang saham dan pihak lainnya dalam masyarakat keuangan untuk memaksimalkan nilai pasar).

Dalam dunia bisnis tentunya citra positif merupakan suatu hal yang harus dibangun dan dipertahankan, karena akan membawa dampak terhadap perusahaan yang melakukan kegiatan bisnis tersebut, public relations memiliki beberapa peranan, yaitu:

1. Membuat orang-orang menyadari apa itu dunia bisnis, yakni menyediakan barang dan jasa.

2. Membantu dunia bisnis untuk berkomunikasi degan orang-orang yang memiliki kepentingan bisnis, seperti para pemilik perusahaan, para pelanggan, para karyawan dan komunitas.

(15)

3. Membantu dunia bisnis mengembangkan citra dan reputasi didalam lingkungannya (Ardianto, 2011: 238).

Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, MA dalam buku Human Relation & Public Relation, kenyataan menunjukkan bahwa humas di Indonesia:

1. Secara struktural belum banyak yang ditempatkan dalam top management.

2. Kegiatan masih banyak bersifat penerangan satu arah ke publik eksternal semata-mata.

Dinegara-negara maju humas yang melakukan kegiatan human relation dalam sebuah organisasi sudah mendapat perhatian karena berperan dalam memecahkan berbagai masalah yang menyangkut masyarakat banyak. Human relation dapat diartikan kedalam Bahasa Indonesia sebagai hubungan manusia atau hubungan antar manusia.

Peranan praktisi humas dalam lembaga atau perusahaan merupakan suatu hal yang penting sebagai sarana komunikasi sebuah lembaga atau perusahaan, peranan dan tugas praktisi kehumasan menjadi penghubung antara lembaganya dengan masyarakat luas, agar tercapai saling pengertian, kerjasama dan penilaian yang positif diantara keduanya. Dalam lembaga publik seperti institusi pemerintah, peran humas dalam melayani dan membangun dukungan dan mendapatkan citra positif dari masyarakat untuk mencapai tujuan lembaga yang sangat penting diperankan oleh humas. Maka dari itu praktisi humas harus bisa membentuk nilai-nilai yang positif dari masyarakat agar tercapai keinginan dari lembaga, tidak hanya itu humas harus bisa dekat dan mengetahui keinginan masyarakat agar dapat mempersiapkan rencana yang tepat taget sasarannya.

(16)

2.2.2 Fungsi Humas

Dalam bukunya, A Working Definition Robert F. Harlow membagi fungsi PR menjadi dua untuk menjelaskan apa itu PR, mengapa dan diadakan, dan bagaimana melakukannya yaitu sebagai method of communication dan state of being.

1. Method of communication

PR merupakan rangkaian sistem kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan baik pimpinan, karyawan atau staff.

2. State of being.

PR adalah perwujudan kegiatan komunikasi yang “dilembagakan” ke dalam bentuk biro, bagian divisi atau seksi dalam sistem manajemen public relations atau humas yang mempunyai pimpinan (Nova, 2011: 46).

Humas dalam kaitannya dengan hubungan masyarakat tentunya memiliki beberapa fungsi dalam manajemen perusahaan atau lembaganya itu sendiri, antara lain:

1. Pertama, membangun bagian atau departemen humas sendiri (humas internal) yang menjadi bagian dari manajemen perusahaan.

2. Kedua, menyewa konsultan humas (eksternal) untuk melaksanakan fungsi kehumasan diperusahaan bersangkutan.

Di dunia pemerintahan, fungsi utama PR atau humas yaitu menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antarlembaga (organisasi) dengan publiknya, internal maupun eksternal dalam rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan

(17)

partisipasi publik dalam upaya menciptakan iklim pendapat (opini publik) yang menguntungkan lembaga organisasi (Nova, 2011: 49). Adapun fungsi lainnya humas atau PR mempunyai tugas dan berfungsi dalam menjalankan kegiatan kebijakan publik dan pelayanan publik. Salah satu kegiatan PR atau humas pemerintah dalam bidang kebijakan publik adalah memberikan berbagai informasi tentang kebijakan pemerintah yang mengikat rakyat atau masyarakat. Sedangkan untuk pelayanan publik adalah memberikan pelayanan terbaik, dengan birokrasi yang tidak berbelit-belit untuk memberikan kepuasan kepada rakyat atau masyarakat sehingga dunia pemerintahan memperoleh citra positif dari rakyat atau publik (Ardianto, 2011: 239).

Jadi, dapat dikatakan bahwa public relations atau humas (hubungan masyarakat) erat kaitannya dalam membangun hubungan baik dengan berbagai kalangan untuk mendapatkan publisitas yang dinginkan dan menguntungkan, membangun citra perusahaan atau lembaga yang baik dimata masyarakat dan menangani berita atau rumor yang beredar dimasyarakat baik yang bernilai positif maupun negatif.

2.2.3 Tujuan Humas

Adapun tujuan utama kegiatan public relations adalah membangun kredibilitas dan meningkatkan motivasi bagi stakeholders perusahaan atau lembaga guna meminimalkan biaya pengeluaran proses transfer komunikasi. Stakeholder itu sendiri adalah setiap kelompok yang berada didalam maupun diluar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan keberhasilan perusahaan atau lembaga (Nova, 2011: 11).

(18)

Tujuan kegiatan public relations dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Performance Objective.

PR merupakan kegiatan komunikasi untuk mempresentasikan citra perusahaan kepada publiknya (stakeholders), melaksanakan serangkaian kegiatan untuk membentuk dan memperkaya identitas dan citra perusahaan dimata stakeholders.

2. Support of Consumer Market Objective.

Kegiatan PR dapat digunakan untuk mengidentifikasikan permasalahan yang timbul sehubungan dengan kegiatan komunikasi yang dilaksanakan oleh perusahaan dengan menitikberatkan pembahasan pada identifikasi tingkat kesadaran masyarakat, sikap dan persepsi masyarakat terhadap produk tayangan yang ditawarkan perusahaan atau lembaga (Nova, 2011: 52-53).

Kegiatan yang dilakukan humas tentunya mempunyai suatu tujuan yang ingin dicapai, tujuan dari PR yang efektif yaitu menyelaraskan hubungan internal dan eksternal agar organisasi atau perusahaan dapat menikmati tidak hanya keuntungan dari publiknya tetapi juga stabilitas dan keberlangsungan usahanya (Nova, 2011: 44). Beragam macam kegiatan ataupun program kerja humas dalam suatu institusi lembaga ataupun perusahaan dengan satu tujuan yaitu mencapai apa yang diinginkan oleh lembaga atau perusahaan. Tujuan humas lainnya yaitu untuk memberikan kepuasan terhadap semua pihak yang berkepentingan. Pihak yang berkepentingan disini dapat juga dikatakan perusahaan atau lembaga itu sendiri, bisa juga masyarakat. Keberadaan humas

(19)

sangat penting bagi sebuah organisasi atau perusahaan, karena humas yang paling berperan dalam menyebarkan informasi tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, tujuan yang hendak dicapai, strategi yang dijalankan, keputusan yang hendak dilaksanakan, media yang digunakan untuk mencapai tujuan dan rencana yang harus direalisasikan serta pembuatan kebijaksanaan yang harus disosialisasikan kepada publik yang semua itu membutuhkan kerja sama yang baik dari semua pihak. Untuk itu, kerja humas dalam organisasi atau perusahaan harus efektif dan bermanfaat.

2.2.4 Strategi atau Program Kerja Humas

Penelitian mengenai strategi komunikasi, khususnya strategi public relations pada perusahaan atau instansi telah cukup banyak diadakan. Strategi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan guna mencapai tujuan yang diinginkan. Strategi public relations merupakan sebuah strategi yang dapat digunakan di berbagai bidang dan oleh berbagai perusahaan, instansi, atau organisasi. Dalam strategi PR terdapat langkah-langkah yang harus dilaksanakan sebelum, pada saat, dan sesudah menjalankan sebuah strategi sosialisasi. Langkah-langkah tersebut ialah analisis lingkungan, perumusan strategi, implementasi strategi, serta evaluasi dan kontrol (Iriantara, 2005: 14). Strategi yang dapat dilakukan oleh humas Badan POM dalam membangun citra positif dimata masyarakat yaitu melalui peran dan strategi atau langkah-langkah yang dilakukan untuk memperoleh dan menarik perhatian masyarakat serta memunculkan pandangan positif hingga akhirnya membentuk citra Badan POM.

(20)

Dalam membuat strategi baik dalam bentuk program kerja maupun langkah-langkah yang dilakukan, tentunya diperlukan sebuah perencanaan yang matang terkait dengan program dan langkah yang akan dilaksanakan. Strategi yang dilakukan oleh public relations atau humas menunjukkan bahwa strategi-strategi sangat diperlukan oleh sebagian besar perusahaan atau instansi untuk mengetahui serta menyusun langkah-langkah apa saja yang dapat dan harus mereka persiapkan kemudian lakukan dalam pelaksanaan program atau kegiatan, karena mulai dari aktivitas, program atau strategi yang dilakukan humas atau public relations, serta tujuan hingga sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi atau instansi tersebut tidak lepas dari dukungan serta adanya kepercayaan atas penilaian atau pandangan positif dari masyarakat atau publiknya. Strategi ini juga digunakan untuk mempersiapkan perusahaan atau instansi dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Beragam macam strategi atau program kegiatan PR yang bertujuan untuk membangun citra perusahaan yang baik antara lain, sebagai berikut:

1. Publikasi. Publikasi merupakan salah satu cara atau strategi yang dilakukan PR ataupun humas dalam menyebarluaskan informasi tentang suatu hal kepada masyarakat atau publik. Publikasi itu sendiri bertujuan untuk menyebarkan informasi mengenai suatu perusahaan ataupun lembaga institusi guna mendapatkan penilaian dan pandangan baik atau positif dalam bentuk citra atau reputasi dimata masyarakat.

2. Melalui acara (event), dalam penggunaan strategi atau program PR ini dapat dibentuk melalui sebuah kegiatan atau acara yang dilakukan oleh PR atau humas

(21)

dalam perusahaan atau lembaga, event atau acara adalah bentuk kegiatan yang dilakukan PR atau humas dalam proses penyebaran informasi kepada masyarakat. Saat ini, event merupakan salah satu cara untuk meraih perhatian masyarakat karena biasanya dalam membuat sebuah event ada hiburan-hiburan menarik yang dapat dinikmati oleh masyarakat, misalnya dengan menghadirkan bintang tamu, artis, dsb. Event dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain:

1. Calender Event - Regular Event (Kegiatan rutin).

2. Special Event – Kegiatan khusus yang dilaksanakan pada momen tertentu, contoh: Ulang tahun perusahaan.

3. Moment Event – Kegiatan yang bersifat momentum, contoh: Perayaan 50 tahun perusahaan (Ulang tahun emas perusahaan)

3. Melalui pemberitaan (news), informasi yang disampaikan kepada masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dan bertujuan untuk mendapatkan respon yang positif.

4. Corporate Identity (Citra perusahaan) yaitu, cara pandang masyarakat kepada suatu perusahaan atau lembaga terkait dengan segala aktivitas usaha yang dilakukan. Citra yang terbentuk pun dapat berupa citra positif maupun negatif tergantung dari upaya yang dilakukan oleh PR atau humas dalam menciptakan dan mempertahankan citra positif, demi keberlangsungan perusahaan atau lembaga.

(22)

5. Community Involvement (Hubungan dengan khalayak) adalah sebuah relasi yang dibangun dengan khalayak (stakeholder, media, masyarakat disekitar perusahaan atau lembaga).

6. Lobbying and Negotiation (Teknik Lobi dan negoisasi) merupakan sebuah rencana baik jangka panjang maupun jangka pendek yang dibuat oleh PR dalam rangka penyusunan budget yang dibutuhkan. Dengan perencanaan yang matang maka kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan baik dan dapat meminimalisasi kegagalan.

7. Melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) atau yang dikenal dengan tanggung jawab sosial perusahaan. CSR ini mempunyai peran penting baik secara internal maupun eksternal. Dalam konteks pembentukan citra positif perusahaan atau lembaga, karena pada dasarnya CSR merupakan kegiatan PR maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah CSR (Nova, 2011: 54-56).

Berdasarkan berbagai definisi tentang CSR dapat disimpulkan bahwa CSR adalah komitmen dunia usaha untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, peningkatan kualitas hidup dari karyawan serta peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas. Penerapan CSR di Indonesia telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, yaitu UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 74 yang menyebutkan adanya tanggung jawab sosial yang harus dipikul oleh perseroan terbatas (Republik

(23)

Indonesia, 2007). Mewajibkan CSR merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan ekonomi.

Dalam melakukan kegiatan CSR biasanya sasaran yang dituju, antara lain sebagai berikut:

1. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM). 2. Pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar daerah. 3. Pembangunan fasilitas sosial atau umum.

4. Pengembangan kesehatan masyarakat.

5. Pengembangan sosial budaya dan lain-lain (Nova, 2011: 56).

Badan POM menyusun strategi komunikasi dalam rangka meningkatkan citra institusi agar lebih proaktif dan kredibel.

(24)

Jadi, strategi komunikasi dibuat menggunakan unsur 5W+1H (Who, What, Where, When, Why) dan 1H (How) serta memenuhi unsur-unsur tersebut agar dapat menghasilkan sebuah strategi komunikasi yang efektif, kemudian strategi komunikasi yang dapat dilakukan dalam rangka membangun citra Badan POM bisa dengan menaikkan isu-isu positif untuk meningkatkan citra serta mengambil tindakan secara cepat dan langsung dalam menghadapi isu-isu, rumor atau masalah potensial yang dapat menganggu citra Badan POM. Strategi atau program kerja yang disusun dan akan dilakukan humas bertujuan untuk memperoleh citra positif melalui berbagai cara dan strategi pendekatan ke masyarakat, dari strategi dan program kerja yang dilakukan harus dilakukan juga evaluasi terhadap pengaruh dari diadakannya kegiatan-kegiatan tersebut, agar lembaga juga dapat menilai sendiri apakah sejauh ini melalui strategi dan pendekatan seperti itu efektif atau dengan kata lain seberapa efektifkah strategi atau program kerja yang sudah dilakukan humas selama ini, setelah ada pemikiran tersebut maka akan terlihat apa saja yang perlu dibenahi dan ditingkatkan.

2.3 Pengertian Citra

Citra adalah image: the impression, the feeling, the conception which the public has of a company; a consciously created impression of an object, person or organization (Citra adalah perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan, organisasi atau lembaga; kesan yang dengan sengaja diciptakan agar bernilai positif. Citra itu sendiri merupakan salah satu asset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi. Istilah lain citra adalah favourable opinion (opini publik yang menguntungkan) (Ardianto, 2011: 62).

(25)

Pencitraan terhadap suatu objek akan menghasilkan sebuah penilaian yang baik. Citra umumnya digunakan untuk menciptakan penilaian yang positif dan dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Citra yang baik biasanya terbentuk melalui kepercayaan berisi kesan dan pendapat atau penilaian positif masyarakat terhadap suatu perusahaan atau lembaga yang dimaksud dengan kepercayaan disini adalah kepercayaan dari masyarakat terhadap tugas Badan POM yaitu dalam melindungi masyarakat dapat menghasilkan citra yang bernilai positif, kemudian realitas (yang terlihat) dan dapat dipertanggungjawabkan dengan perencanaan yang matang dan sistematis bagi masyarakat, terciptanya kerjasama yang saling menguntungkan yaitu saling memberikan keuntungan bagi kedua pihak yaitu pihak perusahaan atau lembaga maupun masyarakat, lalu melalui kesadaran yaitu dengan adanya kesadaran dari masyarakat tentang perusahaan atau lembaga dan perhatian terhadap produk yang diawasi atau dihasilkan.

Dengan adanya pencitraan maka akan menghasilkan pandangan mengenai sebuah obyek yang dicitrakan, sebuah citra datang dari masyarakat, citra yang dibentuk masyarakat itulah yang dapat dijadikan acuan akan penilaian dari suatu perusahaan atau lembaga. Perusahaan dalam membentuk citranya harus dapat mengidentifikasikan terlebih dahulu citra seperti apa yang ingin dibentuk dimata masyarakat. Setelah mengidentifikasi citra yang ingin dibentuk kemudian menentukan strategi pencitraan yang efektif yang akan membawa pengaruh kepada penilaian masyarakat atau publik. Citra adalah persepsi berbeda-beda yang dimiliki oleh masyarakat atau publik dan merupakan hasil dari interpretasi masyarakat terhadap pesan yang ditampilkan oleh sebuah organisasi. Adapun proses pembentukan citra dalam struktur

(26)

kognitif yang dijelaskan oleh John S. Nimpoeno seperti yang dikutip Danasaputra sebagai berikut,

Gambar 2.3 Model Pembentukan Citra.

PR di gambarkan sebagai input-output. Proses dalam model ini adalah pembentukan citra sedangkan input adalah stimulus yang diberikan dan output adalah tanggapan atau perilaku tertentu. Citra itu sendiri digambarkan melalui persepsi-kognisi-motivasi-sikap (Nova, 2011: 304).

2.3.1 Manfaat dan kegunaan pencitraan

Menurut Sutojo (2004: 3), citra perusahaan yang baik dan kuat mempunyai manfaat-manfaat, yaitu:

1. Daya saing jangka menengah dan jangka panjang yang mantap (Mid and Long Term Sustainable Competitive Position).

2. Menjadi perisai selama masa krisis (An Insurance for Adverse Times).

Stimulus Persepsi Perilaku

Kognisi

Sikap

(27)

3. Menjadi daya tarik eksekutif handal (Attraction The Best Executives Available). 4. Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran (Increasing Effectiveness of

Marketing Instruments).

5. Penghematan biaya operasional (Cost Saving).

2.3.2 Strategi pencitraan

Untuk mendapatkan penilaian dari masyarakat dapat menggunakan penilaian atas citra yang sudah lama melekat pada suatu perusahaan. Citra tersebut dibentuk melalui strategi. Strategi pencitraan diperlukan untuk mengetahui penilaian seperti apa yang ingin didapatkan dari masyarakat atau publik tentang perusahaan atau institusi. Ada beragam strategi yang dapat digunakan untuk membangun citra Badan POM seperti menggunakan jasa praktisi humas ataupun public relations. Saat ini peran public relations sudah sangat luas, selain sebagai alat komunikasi perusahaan, meningkatkan dan membangun citra perusahaan yang baik dimata masyarakat, memberikan kepuasan terhadap pihak yang terkait atau berkepentingan, juga dapat memberikan atau menciptakan pemahaman terhadap sesuatu hal, baik itu tentang perusahaan atau lembaga maupun tentang produk usahanya sehingga memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Dalam membangun citra diperlukan berbagai langkah-langkah strategi pencitraan untuk memperoleh citra positif yang akan memberikan pengaruh terhadap penilaian masyarakat misalnya, dengan mengadakan pendekatan langsung kepada masyarakat dalam rangka menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam memilih-milih produk yang baik mutu, kualitas, dan keamanannya untuk dikonsumsi. Dalam membuat strategi yang bertujuan untuk membangun citra positif di mata masyarakat ada beberapa cara yang

(28)

dapat dilakukan, antara lain melalui Gambar 2.2 Desain Strategi Komunikasi untuk BPOM yang disusun oleh humas Biro Hukum dan Humas yaitu, antara lainnya melalui publikasi. Publikasi bertujuan untuk menyebarkan informasi mengenai suatu perusahaan untuk mendapatkan penilaian baik dalam bentuk citra atau reputasi dimata masyarakat. Dengan melakukan kegiatan CSR pun dapat meningkatkan penilaian masyarakat terhadap perusahaan atau lembaga karena kegiatan CSR berkaitan langsung dengan masyarakat sehingga memungkinkan masyarakat memberikan penilaian langsung terhadap perusahaan atau lembaga tersebut.

2.4 Citra Perusahaan

Citra (image) adalah gambaran yang dimiliki orang-orang atau masyarakat banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk. Citra (image) adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produknya. Image dipengaruhi oleh banyak kontrol diluar perusahaan (Marbun, 2003: 53). Citra perusahaan atau lembaga organisasi terkait dengan produknya mengandung nilai-nilai kepercayaan, pandangan serta gambaran yang berisi penilaian dari masyarakat yang menimbulkan adanya opini publik. Opini publik yang terbentuk pun berupa pandangan positif atau penilaian dapat yang bernilai positif maupun negatif tentang keberadaan suatu perusahaan ataupun lembaga organisasi tersebut. Setelah opini publik terbentuk baru kemudian dapat memperoleh citra dari publik.

Citra perusahaan di mata publik dapat dilihat dari pendapat atau pola pikir komunal pada saat mempersiapkan realitas yang terjadi. Yang perlu dipahami dalam membentuk citra perusahaan yaitu dengan adanya persepsi yang berkembang dibenak

(29)

publik terhadap realitas. Realitas dalam public relations adalah apa yang tertulis di media tentang perusahaan atau lembaga tersebut (Nova, 2011: 297). Citra perusahaan juga terbentuk dari informasi-informasi yang diperoleh mengenai perusahaan tersebut. Dari informasi yang ada maka masyarakat ataupun publik akan mengambil kesimpulan dan membentuk suatu opini publik. Dari kesimpulan yang diambil maka perusahaan atau lembagalah yang menentukan penilaian seperti apa yang akan di dapat dari masyarakat, mulai dari kinerjanya, pelayanan yang diberikan dan kepercayaan dari masyarakat atas keberadaan perusahaan atau lembaga tersebut sebagai perusahaan yang kredibel.

Citra perusahaan adalah persepsi yang berkembang di benak publik mengenai realitas (yang terlihat) dari perusahaan atau lembaga itu. Menurut Frank Jefkins ada beberapa jenis citra, antara lain:

1. Citra bayangan (The Mirror Image)

Citra bayangan adalah citra atau pandangan masyarakat terhadap organisasinya. Citra ini seringkali tidaklah tepat bahkan hanya sekedar ilusi sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan atau pemahaman yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi ini mengenai pendapat atau pandangan dari pihak luar.

2. Citra yang berlaku (The Current Image)

Kebalikan dari citra bayangan, citra yang berlaku adalah citra atau pandangan orang luar mengenai suatu organisasi. Biasanya citra yang terbentuk cenderung negatif.

(30)

3. Citra yang diharapkan (The Wish Image)

Citra harapan adalah citra yang diinginkan oleh perusahaan. Citra ini tidak sama dengan citra yang sebenarnya, biasanya citra yang diharapkan lebih baik daripada citra yang sesungguhnya.

4. Citra perusahaan (Corporate Image)

Citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan. Bukan hanya citra atas produk dan pelayanannya. Citra perusahaan terbentuk dari banyak hal seperti sejarah atau kinerja perusahaan, stabilitas keuangan, kualitas produk, dan lain-lain.

5. Citra majemuk (The Multiple Image)

Banyaknya jumlah pegawai (individu), cabang atau perwakilan dari sebuah perusahaan atau organisasi dapat memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau perusahaan secara keseluruhan. Jumlah citra yang dimiliki suatu perusahaan boleh dikatakan sama banyaknya dengan jumlah pegawai yang dimilikinya.

6. Citra yang baik dan buruk (Good and Bad Image)

Seorang public figure dapat menyandang reputasi baik atau buruk. Keduanya bersumber dari adanya citra-citra yang berlaku (Current Image) yang bersifat negatif atau positif. suatu citra yang lebih baik sebenarnya dapat dimunculkan kapan saja, termasuk di tengah terjadinya musibah atau sesuatu yang buruk. (Nova, 2011: 300).

(31)

2.4.1 Citra Positif Perusahaan

Keinginan sebuah perusahaan atau institusi untuk memperoleh citra yang positif dari publik harus disesuaikan dengan perencanaan dan strategi-strategi yang dilakukan dalam mencapai citra yang diinginkan. Sasaran penting dari strategi komunikasi yang dilakukan oleh humas atau public relations sebuah lembaga atau perusahaan adalah untuk menyampaikan pesan-pesan secara tepat sasaran ke khalayak atau masyarakat yang dituju sehingga mampu menghimpun awareness dari publik dan menumbuhkan citra positif dari konsumen terhadap perusahaan. Citra positif disini menyangkut tentang pelayanan yang diberikan ke publiknya, kinerja, kualitas produk, budaya perusahaan atau organisasi yang ada dan berlaku, perilaku lembaga atau perusahaan serta perilaku individu-individu didalamnya. Citra yang baik akan menghasilkan reputasi yang baik pula bagi suatu lembaga atau perusahaan. Citra dapat terbentuk melalui proses penyebaran informasi yang positif terkait dengan perusahaan atau lembaga. Citra perusahaan penting kaitannya karena citra tersebut merupakan keseluruhan kesan atau penilaian yang terbentuk dibenak masyarakat tentang perusahaan, citra itu sendiri tidak hanya untuk perusahaan melainkan untuk semua yang diobyekkan.

Citra perusahaan juga menggambarkan kesan obyek atau penilaian terhadap perusahaan yang terbentuk. Cara memperoleh citra yang positif pun tidaklah mudah karena dalam membentuk citra positif dibenak masyarakat diperlukan penilaian atau memang perusahaan atau lembaga tersebut positif pula baik dari keberadaannya, tujuan dari perusahaan tersebut, dan sebagainya. Citra perusahaan yang baik dimaksudkan agar perusahaan dapat tetap hidup dan orang-orang di dalamnya dapat terus mengembangkan kreativitas bahkan memberikan manfaat yang lebih berarti bagi orang lain (Kasali, 2002:

(32)

30). Citra yang baik pun dapat di peroleh apabila cara berkomunikasi kita baik dan jelas dengan komunikan, bisa saja melalui program kegiatan humas yang dilakukan dengan strategi yang dibuat secara baik dan menarik.

2.5 Jurnal (Penelitian Terdahulu) 2.5.1 Referensi Pertama

Untuk membangun sebuah image dan branding, maka diperlukan sebuah konsep yang menggabungkan periklanan, public relation, dan teknologi karena masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemahaman sifat dasar manusia sebagai target konsumen atau pelanggan diperlukan. Para pembuat pesan periklanan dan jasa public relation perlu memahami sifat kerja dari teknologi komunikasi agar sebuah pesan penawaran yang akan dilemparkan ke para konsumen menjadi tidak sia-sia. Faktor kreativitas memegang peranan yang sangat penting, yaitu bagaimana seorang pembuat jasa iklan dan jasa public relation dapat bekerja sama dalam menggunakan teknologi komunikasi sebagai alat bantu penyampaian pesan kepada konsumen agar dapat menarik bagi mereka. Nilai lebih dari periklanan adalah harus cerdas, menarik, provokatif, menghibur, menghebohkan, dramatis, dan dapat diproduksi dengan baik. Demikian juga sifat public relation yang merupakan seni mendapatkan dan memanfaatkan kepercayaaan konsumen dengan cara yang kreatif, persuasif, dan komunikatif. Pada akhirnya, jasa teknologi komunikasi yang semakin pesat dan canggih dapat menjadi peluang baru dan inovatif yang dapat menjembatani antara periklanan dan public relation. Intinya adalah bagaimana “membangun merek” dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi (Candrasari, Nurul. 2010: 29-36).

(33)

Jadi, dalam membangun image baik itu sebuah perusahaan ataupun lembaga diperlukan konsep-konsep komunikasi yang terkait dalam membangun persepsi masyarakat, beragam cara komunikasi yang dapat dilakukan dalam menciptakan persepsi dari masyarakat bisa melalui publikasi, event atau acara, dan bisa juga dengan menaikkan isu-isu positif untuk meningkatkan citra serta melalui pemberitaan positif tentang keberadaan perusahaan ataupun lembaga tersebut.

2.5.2 Referensi Kedua

Suatu institusi pemerintah adalah sebuah lembaga yang menaungi hampir setiap hajat hidup orang banyak. Keberadaan institusi ditengah-tengah masyarakat diharapkan mampu menjadi penengah dari setiap persoalan hidup yang dihadapi oleh publiknya. Kepercayaan publik menjadi unsur penting agar aktivitas sebuah institusi pemerintah dapat berjalan semestinya. Adapun kepercayaan ini bisa didapatkan apabila institusi serta publik internal yang terkait di dalamnya mampu memberikan citra positif di mata masyarakat.

Citra positif ini seringkali dipengaruhi oleh rumor atau isu yang berdampak pada ketidakpercayaan publik. Ketidakpastian tentang suatu rumor menyebabkan timbulnya berbagai pertanyaan dan tanggapan di kalangan publik, ada yang positif dan ada yang negatif. Keinginan untuk memiliki citra dan persepsi yang baik di hadapan publiknya berawal dari pengertian tepat mengenai citra dan unsur pemahaman akan apa yang disebutkan dengan citra ini juga menjadi dasar untuk menentukan strategi dalam membentuk citra organisasi atau lembaga.

(34)

Lembaga pemerintahan adalah sebuah lembaga yang berfungsi sebagai pelaksana jalannya aktivitas pemerintahan. Lembaga ini biasanya memiliki berbagai fungsi kedinasan yang masing-masing memiliki tugas serta wewenang yang telah ditetapkan. Salah satu bagian yang cukup memegang peranan penting dalam hal menangani berbagai permasalahan atau krisis yang dihadapi oleh lembaga pemerintahan adalah humas pemerintah.

Adapun faktor-faktor yang menjadi penghambat akan aktivitas atau sosialisasi humas yaitu:

1. Sumber Daya Manusia

Dalam hal ini masih diperlukan SDM yang memang memiliki kualitas dan kemampuan yang cukup memadai dalam bidang kehumasan.

2. Anggaran Kehumasan

Untuk mensosialisasikan kebijakan pemerintah ini, humas juga masih terbentur pada masalah anggaran yang masih kurang memadai.

3. Birokrasi Pemerintahan

Dalam melaksanakan aktivitasnya, humas juga masih dibatasi dengan adanya birokrasi, sehingga kecepatan untuk melakukan sebuah tindakan terkadang sulit dicapai karena harus melewati birokrasi tersebut.

(Fajarica, S. Desiyana. 2011: 1-11)

Jadi, kesimpulannya jurnal penelitian terdahulu ini membahas mengenai peranan humas dalam lembaga pemerintahan yang masih perlu dibenahi dan diberitahukan mengenai faktor-faktor yang dapat menghambat aktivitas humas agar humas dapat mencari jalan keluar melalui berbagai strategi yang dapat dilakukan humas agar dapat

(35)

menangani dan mendindaklanjuti faktor-faktor yang menjadi penghambat tersebut sehingga humas mendapatkan tempat yang layak dalam struktur organisasinya karena fungsinya sebagai alat komunikasi dan fasilitator lembaga yang berhubungan dengan pihak internal maupun eksternal dan membentuk citra positif di mata masyarakat.

2.6 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran Peran Humas Badan POM dalam

Membangun Citra

Strategi atau Langkah-Langkah yang digunakan dalam Membangun Citra

Pemberitaan Media Massa Publikasi dan

Dokumentasi

Perhatian dan Penilaian dari Masyarakat (Citra)

Menciptakan dan Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat dalam Memilih

Produk-Produk yang Baik dan Aman untuk di Konsumsi

Figure

Gambar 2.1 Proses komunikasi (Setyodarmodjo, 2003: 85)

Gambar 2.1

Proses komunikasi (Setyodarmodjo, 2003: 85) p.6
Gambar 2.2 Desain Strategi Komunikasi untuk BPOM

Gambar 2.2

Desain Strategi Komunikasi untuk BPOM p.23
Gambar 2.3 Model Pembentukan Citra.

Gambar 2.3

Model Pembentukan Citra. p.26
Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran Peran Humas Badan POM dalam

Gambar 2.4

Kerangka Pemikiran Peran Humas Badan POM dalam p.35

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in