KISAH NABI YUSUF As. (IBRAH DAN IMPLEMENTASI KONSEPTUAL DALAM PENDIDIKAN)

182 

Teks penuh

(1)

KISAH NABI YUSUF As.

(IBRAH DAN IMPLEMENTASI KONSEPTUAL

DALAM PENDIDIKAN)

Oleh:

Siti Zulaikhoh

NIM. M1.11.020

Tesis diajukan sebagai pelengkap persyaratan

Untuk gelar Magister Pendidikan Islam

PROGAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

(2)

KEMENTERIAN AGAMA RI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA PROGAM PASCASARJANA

Jl. Stadion 03 Telp. (0298) 323 706, 323 433 Salatiga 50721 Website : www.ppsstainsalatiga.ac.id E-mail : administrasi@stainsalatiga.ac.id

NOTA PEMBIMBING

Lamp : 4 eksemplar Hal : Naskah tesis

Saudara SITI ZULAIKHOH

Kepada

Yth. Ketua STAIN Salatiga di Salatiga

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah tesis saudara :

Nama : Siti Zulaikhoh

NIM : M111020

Jurusan / Progdi : Tarbiyah / Pendidikan Agama Islam

Judul : PENDIDIKAN AKHLAK KISAH NABI

YŪSUF AS (IMPLEMENTASI

KONSEPTUAL DALAM KONTEKS

PENDIDIKAN)

Dengan ini kami mohon tesis saudara tersebut di atas supaya segera dimunaqosyahkan.

Demikian agar menjadi perhatian. Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Salatiga, 26 Januari 2015 Pembimbing

Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.

(3)
(4)
(5)
(6)

KEMENTRIAN AGAMA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA

Jl. Tentara Pelajar No.2 Telepon (0298)323706,323433, Faks. 3234333 Kode Pos 50721

Website: www.stainsalatiga.ac.id Email: administrasi@stainsalatiga.ac.id

HALAMAN DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa tesis ini tidak berisi materi yang pernah ditulis orang lain atau pernah diterbitkan. Demikian juga tesis ini tidak berisi satupun pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

Apabila di kemudian hari ternyata terdapat materi atau pemikiran-pemikiran orang lain diluar referensi yang penulis cantumkan, maka penulis sanggup mempertanggungjawabkan kembali keaslian tesis ini di hadapan sidang munaqosah tesis.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, 23 Januari 2015 Penulis

(7)

MOTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

…   



  





101. Ya Tuhanku, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang

saleh.1(QS. Yūsuf:101 )

PERSEMBAHAN

Tesis ini penulis persembahkan untuk :

1. Ayahanda tercinta Mahdi dan Ibunda tercinta Latifah yang telah membimbing, mendidik dan memotivasi untuk terus maju dalam belajar, terima kasih atas doa restu dan kasih sayangnya.

2. Keluargaku yang senantiasa selalu mendukung dan membantu dengan keikhlasannya.

3. Semua guru, sahabat, dan semua orang yang

menyayangiku dan yang pernah berbuat baik padaku. 4. Semua pembaca tesis ini

1

(8)

KATA PENGANTAR

ءٕطنا فرظٚ لا .الله ءاش اي الله ىطت .الله لاا رٛخنا قٕشٚلا الله ءاش اي الله ىطت

ٚ لا الله ءاش اي الله ىطت .الله ًٍف حًعَ ٍي ٌاك اي الله ءاش اي الله ىطت .الله لاا

ٗذأ

للاجنار اٚ كذًحَ .للهات لاا جٕق لأ لٕح لا الله ءاش اي الله ىطت. الله لاا خاُطحنات

ٖذٓنا ٗثَ ٗهع ىهطَٔ ٗهظَٔ ولاضلاا ٍٚد ٍي اُن دهًكا اي ٗهع واركلاأ

ٗهعٔ محمد اَذٛض ٍٚذشرًنا وايأ ٙثُنا ىذاخ حًكحنأ باركنات زٕعثًنا حًحرنأ

" ٍٛعًجأ ّعاثذأ ّثححطٔ ّنأ

" ذعت ايأ

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan petunjuk kepada manusia menuju kebaikan. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Uswah Khasanah Rasululllah Muhammad SAW.

Berkat rahmat dan hidayah Allah, penulis mampu menyelesaikan penyusunan tesis yang sederhana ini, untuk memenuhi tugas dan syarat guna memperoleh gelar Magister dalam Ilmu Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Semoga penulis dan pembaca umumnya bisa mengambil manfaat dari tulisan ini. Penulis menulis tesis dengan judul: PENDIDIKAN AKHLAK KISAH NABI YUSUF As. ('IBRAH DAN IMPLEMENTASI KONSEPTUAL

DALAM PENDIDIKAN)

Ucapan terima kasih, penulis sampaikan kepada yang terhormat :

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M. Ag, selaku ketua STAIN Salatiga .

2. Bapak Dr. H. Muh Saerozi, M.Ag dan Dr. Faqih Nabhan, M.M, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga, sehingga terwujud tesis ini.

3. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan STAIN Salatiga yang telah memberikan berbagai ilmu pengetahuan kepada penulis selama menuntut ilmu di bangku kuliah.

(9)

5. Kedua orang tua dan keluarga penulis yang telah rela berkorban baik material maupun spiritual.

6. Abah Kyai Haris As‟ad Nasution, Abah Kyai Taufiqur Rohman beserta

ibunda Nyai, segenap dewan guru MTs dan Madrasah Diniah Al-Manar beserta para santri.

7. Segenap Dewan penasehat (Bapak Wiyono, Bapak Ahmad Sultoni, dan Bapak Yusuf Khumaini), segenap tim (mas Puspo, Uhud, Kiki, mb Umi, Eni dkk), para jama‟ah dan semua anak yatim Majlis Doa Mawar Allah.

8. Segenap dewan ustadz/ustadzah TPQ Nuruh Hidayah beserta para santri. 9. Sahabat-sahabat senasib seperjuangan khususnya PAI 2011 yang tidak bisa

penulis sebutkan satu persatu.

Besar harapan penulis, semoga amal baik tersebut diterima dan dicatat Allah SWT sebagai amal saleh dan mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat ganda serta menjadi perantara kesuksesan-kesuksesan berikutnya di dunia dan di akhirat. Tak lupa penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan tesis ini, hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki penulis.

Salatiga, 28 Januari 2015 Penulis

(10)

ABSTRAK

Zulaikhoh, Siti. 2014. Pendidikan Akhlak Kisah Nabi Yūsuf As. Tesis. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pasca Sarjana Pendidikan Agama Islam (PAI). Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr.H.Muh Saerozi, M.Ag dan Dr. Faqih Nabhan, M.Pd.

Kata Kunci :Pendidikan Akhlak dan Kisah Nabi Yūsuf As

Dengan menjadikan kisah Nabi Yūsuf dalam al-Qur‟an sebagai obyek, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi atau mengungkap nilai-nilai

pendidikan yang terkandung dalam kisah Nabi Yūsuf dengan mengacu pada al

-Qur‟an, kitab-kitab tafsir, dan menggunakan analisis kualitatif. Kisah Nabi Yūsuf

(11)
(12)

2. Teknik Pengumpulan Data . . . 3. Metode Analisis Data. . . H. Sistematika Penulisan. . . BAB II KISAH NABI YUSUF DALAM AL-QUR‟AN

A. Kisah Dalam Pendidikan. . . . . .

1. Kisah Sebagai „Ibrah. . . .

2. Kisah Sebagai Metode. . .

B. Skema Letak Ayat tentang Nabi Yūsuf dalam Al-Qur‟an. . . .

C. Kronologi turunnya Ayat-Ayat Al-Qur‟an yang Mengisahkan tentang Yūsuf . . . .. . . .

D. Biografi Nabi Yūsuf. . .

1. Geneologi Nabi Yūsuf . . .

2. Konteks Sosial Nabi Yūsuf. . .

a. Masa Kecil Nabi Yūsuf. . .

b. Masa Muda Nabi Yūsuf. . .

c. Masa Dewasa Nabi Yūsuf. . .

BAB III „IBRAH KISAH NABI YUSUF

A. Mimpi . . . B. Kasih Sayang . . . C. Ketahan-Malangan . . . BAB IV IMPLEMENTASI „IBRAH KISAH NABI YUSUF DALAM

KONTEKS PENDIDIKAN

A. Mimpi . . . . . . .. . .

10 10 13

14 14 16 18

(13)

B. Kasih sayang . . . C. Ketahan-malangan. . . BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan . . . B. Saran . . . DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

TABEL halaman

TABEL 2.1: Pemetaan Kata Yūsuf dalam Al-Qur‟an 17 TABEL 2.2: Persamaan Ujian Nabi Muhammad saw dan Nabi Yūsuf As 22

BAGAN

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Riwayat Hidup

(16)

PEDOMAN TRANSLITERASI

ARAB-INDONESIA

Merujuk pada SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, tertanggal 22 Januari 1988 No: 158/1987 dan 0543b/U/1987

I. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan

(17)

ف Fā‟ f -

ق Qāf q -

ك Kāf k -

ل Lām l -

و Mīm m -

ٌ Nūn n -

ٔ Wau h -

_ Hā‟ w -

ء Hamzah

tidak dilambangkan atau '

apostrof, tetapi lambang ini tidak

dipergunakan untuk hamzah di

awal kata

٘ Yā‟ y -

II. Konsonan rangkap karena tasydid di tulis rangkap: ( ٍٚذقعري) ditulis muta‟aqqadidīn

(جذع) ditulis „iddah

III. Tā‟ marbūtah di akhir kata

1. Bila dimatikan, ditulis h: (حثْ) ditulis hibah

(حٚسج) ditulis Jizyah

(Ketentuan ini tidak diperlukan terhadap kata-kata Arab yang sudah terserap kedalam bahasa Indonesia, seperti salat, zakat, dan sebagainya, kecuali dikehendaki lafal asli).

2. Bila dihidupkan karena berangkai dengan kata lain, ditulis t: , ا'-". ditulis (اللهحًعَ) ni‟matullāh

)

رطفناجاكز zakātul-fitri IV. Vokal pendek

(18)

(kasrah) ditulis i contoh (ىٓف) ditulis fahima (dammah) ditulis u contoh (ةرك) ditulis kutubun V. Vokal panjang

1. Fathah + alif, ditulis ā (garis di atas) (حٛهْاج) ditulis jāhiliyyah

2. Fathah + alif maqsur ditulis ā (garis atas) (اعطٚ) ditulis yas‟ā

3. Kasrah + ya mati, ditulis ī (garis di atas)

(ذٛجي) ditulis majīd

4. Dammah + wau mati, ditulis ū (dengan garis di atas) (دٔرف) ditulis furūd

VI. Vokal rangkap

1. Fathah + ya mati, ditulis ay (ىكُٛت) ditulis baynakum 2. Fathah + wau mati, ditulis au

(لٕق) ditulis qawl

VII. Vokal-vokal pendek yang berurutan dalam satu kata, dipisahkan dengan Apostrof

(ىرَاا) ditulis a‟antum (خذعا) ditulis u‟iddat

(ىذركشَلا) ditulis la‟in syakartum VIII. Kata sandang Alif + Lam

1. Bila didukung dengan qamariyah ditulis al- (ٌارقنا) ditulis al-Qur‟ān

(شاٛقنا) ditulis al-Qiyās

2. Bila diikuti huruf syamsiah, ditulis dengan menggandeng huruf syamsiyah yang mengikutinya serta menghilangkan huruf l-nya

(19)

Huruf besar dalam tulisan latin digunakan sesuai dengan ejaan yang diperbarui (EYD)

X. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat dapat ditulis menurut bunyi atau pengucapannya dan penulisannya

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Riwayat Hidup

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Nilai edukatif Al-Qur‟an ibarat puncak sebuah gunung es yang terapung.

Sembilan persepuluh dari nilai tersebut terendam di bawah air sejarah, sedangkan

sepersepuluh darinya tampak di permukaan.2 Pernyataan tersebut berlaku pula

pada kisah-kisah dalam al-Qur‟an.

Kisah dalam al-Qur‟an tidak seperti kisah-kisah biasa atau

dongeng-dongeng yang banyak ditemukan dan menyebar pada masyarakat secara

turun-temurun. Dongeng-dongeng itu kadang kala banyak dihiasi dengan hal-hal yang

fiktif belaka. Namun, kisah-kisah dalam al-Qur‟an berbeda. Kisah itu ternyata

merupakan tanda bukti kebenaran ajaran al-Qur‟an, mukjizat, teladan, pelajaran

dan peringatan.3

Adapun kisah yang terdapat di dalam al-Qur‟an antara lain kisah para nabi,

kisah yang berhubungan dengan peristiwa di masa lalu, dan kisah-kisah yang

berhubungan dengan peristiwa pada masa Nabi Muhammad saw. Diantara

kisah-kisah para nabi yang terdapat dalam al-Qur‟an adalah kisah Nabi Yūsuf As.

Kisah ini termasuk salah satu kisah dari kisah-kisah yang digambarkan secara

kronologis.

2

Rosihan Anwar, Samudera Al-Qur‟an. Bandung: Pustaka Setia, 2001, 173 3

(22)

Berbeda dengan kisah-kisah nabi yang lain, kisah Nabi Yūsuf As

dijelaskan secara rinci dalam surat tersendiri dengan sejumlah peristiwa yang

terjadi dan perubahan yang menyertainya.4 Adapun kisah nabi-nabi yang lain

disebutkan dalam beberapa surat. Dalam kisah nabi-nabi yang lain,

dititikberatkan pada tantangan yang bermacam-macam dari kaum mereka,

kemudian mengakhiri kisah mereka dengan kemusnahan para penentang nabi

itu.5 Namun dalam kisah Nabi Yūsuf As, Allah SWT menonjolkan akhir kisah

yang baik setelah melewati berbagai rangkaian peristiwa. Oleh karena itu, Allah

menyebutnya dengan Ahsan al-Qashas (sebaik-baik kisah).6

Sebagaimana diketahui bahwa kisah-kisah para nabi menjadi informasi yang

sangat berguna bagi upaya mengembangkan fitrah keberagamaan peserta didik.

Ahmad tafsir mengungkapkan bahwa metode kisah dalam Pendidikan Agama

Islam (PAI) sangat penting dikarenakan setiap kisah dapat memikat pembaca dan

pendengarnya untuk dapat merenungkan atau ingin mengikuti peristiwanya.7

Kisah dalam al-Qur‟an dapat mendidik perasaan keimanan peserta didik dengan

cara membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf, ridha, dan cinta. Kisah juga

mengarahkan seluruh perasaan sehingga ia terlibat secara emosional.8 Menilik

dari pentingnya memahami kisah dalam al-Qur‟an maka penulis berusaha

mengangkat pembahasan ini dengan judul:

4“Qashasul anbiya: Kisah Nabi Ya‟kub As dan Putranya, Yūsuf As As.

www.assunnah-Qatar.com diunduh tanggal 15 Februari 2013, pukul 21.00 WIB

5

Departemen Agama RI. Al-Qur‟an dan Tafsirnya, Jakarta: Departemen Agama RI, 2009, 57

6

Ahmad Showi al Maliki, Khasyiyah Showi „Ala Tafsir Jalalain juz 2, Semarang: Toha Putera, Tth, 233

7

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991, 140

8

(23)

Kisah Nabi Y

ū

suf As. (Ibrah dan Implementasi Konseptual

dalam Pendidikan)

B. Identifikasi Masalah

Diantara kisah para nabi yang terdapat dalam al-Qur‟an adalah kisah Nabi

Yūsuf As. Di dalam kisah Nabi Yūsuf As, terdapat beberapa aspek ekstern yang

berperan dalam perjalanan kehidupannya yang berliku-liku dengan berbagai ujian

dan cobaan yang menimpanya serta sikap dalam menghadapinya. Kisah Nabi

Yūsuf As tergolong kisah yang unik dan terkait dengan aspek-aspek pendidikan.

Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada ibrah kisah Nabi Yūsuf As.

C.Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah

Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah upaya

menemukan nilai-nilai pendidikan akhlak dari kisah Nabi Yūsuf As ibrah dan

implementasi konseptual dalam konteks pendidikan. Sesuai latar belakang

masalah sebagaimana tersebut di atas, maka masalah penelitian ini dapat

dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana skema ayat-ayat tentang Nabi Yūsuf As dalam al-Qur‟an?

2. Ajaran akhlak apa saja yang dominan dalam kisah Nabi Yūsuf As?

3. Bagaimana implementasi konseptual „ibrah kisah Nabi Yūsuf As dalam

konteks pendidikan?

D.Signifikansi Penelitian

1. Tujuan Penelitian

(24)

a. Untuk mengetahui skema ayat-ayat tentang Nabi Yūsuf As. dalam al

-Qur‟an.

b. Untuk mengetahui Ajaran akhlak yang dominan dalam kisah Nabi Yūsuf

As.

c. Untuk mengetahui implementasi „ibrah kisah Nabi Yūsuf As. dalam

konteks pendidikan.

2. Manfaat Penelitian

Setidaknya ada 2 (dua) manfaat yang penulis harapkan berkaitan dengan

penulisan tesis ini, antara lain yaitu secara teoritis dan praktis.

a. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan tentang khazanah tafsir tarbawi melalui kajian kisah para

nabi dan implementasinya dalam pendidikan Islam di Indonesia.

b. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

manfaat sebagai bagian dari bahan referensi dan masukan bagi para

pendidik dan pemerhati pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia serta pengembangan pendidikan dalam rangka membentuk formulasi konsep pendidikan Islam yang ideal.

E. Tinjauan Pustaka

Setelah penulis melakukan penelusuran literatur, ada beberapa

penelitian yang relevan untuk dijadikan pembanding dalam pustaka ini, yaitu

(25)

Khalafullah, salah seorang murid Amin al-Khulli, menulis disertasi yang kemudian diterbitkan tentang seni narasi dalam Al-Qur‟an, al Fān

al-Qasās fi al-Qur‟ān. Penelitian ini meneliti historitas kisah-kisah kenabian

yang disebut dalam Al-Qur‟an. Dengan metode induktif, dan istiqra‟, Khalafullah beramsumsi bahwa kisah-kisah yang tertera dalam al-Qur‟an bukan semata-mata data historis, melainkan merupakan narasi yang bisa dimasukkan dalam bingkai sastra yang sarat dengan simbol-simbol keagamaan, berupa ibrāh, mau‟idhāh, hidâyah dan irsyâd. Khalafullah mengklasifikasikan narasi kisah yang terdapat dalam Al-Qur‟an menjadi tiga macam, yakni: kisah historis, kisah perumpamaan dan kisah legenda.9 Dengan klasifikasi tersebut, khalafullah dengan tegas tetap mengakui dimensi historis dalam kisah, hanya saja aspek historis baginya bukan merupakan elemen utama yang menjadi sasaran adanya kisah dalam

al-Qur‟an. Sebaliknya, narasi-narasi dalam al-Qur‟an lebih dimaksudkan

sebagai simbol-simbol keagamaan, „ibrāh, nasihat dan hidayah bagi umat manusia.10

Muhammad Shalih al-Munajjid dalam bukunya Mi‟atu Fâidatin min

Sūrati Yûsufa memaparkan kisah Nabi Yūsuf tidak secara panjang lebar

dari sumber-sumbernya. Dia lebih menitikberatkan pada pengambilan

9

Muhammad A Khalafullah, Al-Qur‟an Bukan “Kitab Sejarah”: Seni, Sastra, dan Moralitas dalam Kisah-Kisah Al-Qur‟an, terj Zuhairi Misrawai dan Anis Maftukhin, Jakarta: Paramadina, 2002, 10

10

(26)

intisari pelajaran dan peringatan yang dapat dipetik.11 Intisari dari pelajaran kisah Nabi Yūsuf diistilahkan dengan faidah. Adapun faidah-faidah, dikeluarkan dari ayat demi ayat dalam surat Yūsuf. Dengan mengaplikasikan makna kisah Nabi dalam kehidupan sehari-hari, dia menyangkal kalau kisah nabi Yūsuf hanyalah kisah, apalagi zaman saat ini jauh berbeda dengan zaman nabi.12

Dalam ranah akademis, pembahasan tentang kisah Nabi Yūsuf As setidaknya telah dibahas dalam beberapa karya tulis (baca: Tesis) Amilatul

„Azmi menulis tentang “Kisah Nabi Yūsuf As dalam al-Qur‟an (Studi

Komparatif Tafsîr fî Dzilāl al-Qur‟ān karya Sayyid Qutub dan Tafsîr

al-Qur‟ān al-„Adzîm karya Ibnu Katsir). Penelitian ini memaparkan tentang

kisah Nabi Yūsuf As yang terdapat di dalam al-Qur‟an serta paradigma penafsiran kisahnya dari dua tokoh, yakni Sayyid Qutub (bercorak Haraki,

ideologis dan praktis), dengan Ibnu Katsir (bercorak Tafsir bi al Ma‟tsur dan

Tafsir bi Riwayah). Sebagai contoh ketika Nabi Yūsuf digoda oleh Zulaikha dan

terdapat adanya saksi untuk menyebutkan kesaksiannya. Kedua penafsir tersebut

mempunyai arahan yang berbeda pada bagian yang ditafsirinya. Sayyid Qutub

lebih menitikberatkan pada bagian yang diutarakan saksi, sedangkan Ibnu Katsir

lebih menekankan seorang saksi tersebut.13

11

Muhammad Saleh al-Munajjid, 100 Faedah dari Kisah Nabi Yusuf As,Terj Ade Ichwan Al,

Bogori: Pustaka Ibnu „Umar, 2010, xiii

12

Muhammad Saleh al-Munajjid, 100 Faedah dari Kisah Nabi Yusuf As, 2010, xiv

13 Amilatul „Azmi

, “Kisah Nabi Yūsuf As dalam al-Qur‟ān (Studi Komparatif

Tafsir fi Dzilāl al-Qur‟ān karya Sayyid Qutub dan Tafsir al-Qur‟an al-„Adzîm

(27)

Nurul Istiqomah menulis tentang “Struktur dan Semiotik Kisah Nabi

Yūsuf (Pendekatan Post-Strukturalism atas surat Yūsuf). Penelitian ini

menggunakan pendekatan struktural, yang mana penelitiannya

mem-breakdown teks surat Yūsuf ke dalam unit-unit narasi dasar. Kemudian

pesan utama yang dipahami diterapkan pada kehidupan masa kini.14

Rendra Yuniardi menulis tentang “Narasi Ahsan al-Qasas dalam

Al-Qur‟an (Studi Struktural Narasi Yūsuf dalam Surat Yūsuf ). Penelitian ini

memaparkan secara detail narasi perjalanan Yūsuf, yang menjadi sebuah alur cerita atau kisah terbaik dari kisah-kisah lainnya yang terdapat dalam al-Qur‟an.

Analisisnya dimulai dari ketika Yūsuf bermimpi sebelas bintang, bulan, dan

matahari yang sujud kepadanya sampai dia diangkat menjadi pembesar Mesir.15

Dari beragam penelitian yang telah penulis cantumkan di atas, maka penelitian yang dilakukan penulis memiliki karakteristik yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan Khalafullah yang memberi titik tekan pada nilai tauhid, sedangkan

stressing pada penelitian penulis lebih pada ibrah implementasi

pendidikan dengan merujuk pada kisah Nabi Yūsuf As. Adapun penelitian yang dilakukan Muhammad Saleh al-Munajjid, meskipun sama-sama menitik beratkan hikmah Nabi Yūsuf As. dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dia tidak menghubungkannya dengan pendidikan.

14 Nurul Istiqomah

, “Struktur dan Semiotik Kisah Nabi Yūsuf (Pendekatan

Post-Strukturalism atas surat Yūsuf), Tesis. Tidak diterbitkan PPS UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,

2012

15 Rendra Yuniardi “Narasi Ahsan al-Qasas dalam Al-Qur‟an (Studi

(28)

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Amilatul „Azmi, Nurul Istiqomah dan Rendra Yuniardi jelas memiliki obyek kajian yang berbeda, yang membuat semua penelitian tersebut terhubung benang merah hanyalah karena sumber rujukan yang sama yaitu kisah Nabi

Yūsuf As.

F. Metodologi Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, mengolah dan menganalisis data,

maka langkah-langkah yang perlu dijelaskan terkait dengan hal-hal teknis dalam metodologi penelitian ini, sebagai berikut:

1) Jenis Sifat Penelitian

Berdasarkan data yang hendak dikumpulkan, maka jenis penelitian ini

merupakan penelitian pustaka (library research) atau disebut juga dengan

penelitian kualitatif non interaktif. Salah satu bentuk dari penelitian non

interaktif ini adalah penelitian konsep.16 Penelitian non interaktif juga dikenal

dengan penelitian analitis, penelitian yang mengadakan pengkajian

berdasarkan analisis dokumen.

Untuk memperoleh hasil penelitian yang maksimal, dalam penelitian ini

penulis menggunakan tujuh langkah pengumpulan data, yaitu:17

a. Mengidentifikasi permasalahan serta mengembangkannya dalam bentuk

pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait dengan masalah yang diteliti.

16

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007, 65-66

17

(29)

b. Mencari background information (informasi yang terkait dengan latar

belakang masalah). Langkah ini dilakukan dengan mengandalkan

tulisan-tulisan atau artikel-artikel terkait yang terdapat dalam ensiklopedi atau

buku dan karya tulis lainnya.

c. Menggunakan katalog untuk mencari buku atau media-media terkait

dengan masalah yang diteliti.

d. Menggunakan buku-buku indeks untuk menemukan artikel-artikel yang

bersifat periodik.

e. Menggunakan search engine untuk menemukan informasi atau sumber

data yang ada di dunia maya (internet).

f. Mengevaluasi semua informasi yang telah diperoleh dengan cara

manganalisisnya secara kritis.

g. Mendokumentasikan semua informasi yang telah diperoleh ke dalam suatu

format standar dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh

IAIN Salatiga

Pada penelitian ini, peneliti menghimpun, mengidentifikasi,

menganalisis dan mengadakan sintesis data, kemudian memberikan

interpretasi terhadap konsep, kebijakan, dan peristiwa.18 Sifat penelitian ini

adalah deskriptif analitis.19 Di dalam penelitian ini pokok bahasan berupa

„ibrah kisah Nabi Yūsuf As dan implementasinya dalam konteks

pendidikan dengan mengambil kajian penafsiran dalam kitab tafsir Al-Qur‟an.

Selanjutnya, sebelum memasuki domain simpulan, maka obyek tersebut

dianalisis secara kritis dan mengarahkannya pada pokok pembahasan.

18

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelian Pendidikan, 2007, 67 19

(30)

2) Pengumpulan Data

Mengingat penelitian ini merupakan penelitian kajian pustaka (library

research) atau disebut juga kualitatif non interaktif yang merujuk pada bentuk

analisis konsep atau dokumen, maka teknik pengumpulan data yang

diterapkan adalah teknik dokumentasi. Penelitian ini akan berusaha

menghimpun dan mempelajari dokumen-dokumen penting yang menunjang

pelaksanaan penelitian ini.

Kajian dalam penelitian ini adalah library research maka sumber data

yang dirujuk adalah sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan judul

penelitian.20 Adapun fokus dalam penelitian ini adalah ibrah kisah Nabi

Yūsuf As dan implementasinya dalam konteks pendidikan. Sumber data pada

penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Adapun sumber utama

dalam penelitian ini adalah kisah Nabi Yūsuf As dalam kitab tafsir Al-Qur‟an.

Di samping itu juga digunakan buku-buku lainnya selama masih ada

relevansinya dengan penelitian ini sebagai sumber sekunder.

3) Metode Analisis Data

Setelah semua data yang diperlukan terpenuhi, maka dilakukan analisis data dengan metode tahlili, yaitu menghimpun seluruh ayat

al-Qur‟an yang berbicara tentang tema yang sama, .menafsirkan ayat-ayat

al-Qur’an secara ayat demi ayat, sesuai dengan susunannya dalam mushaf. Penulis memulai uraian dengan mengemukakan arti kosakata

diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat. Setelah itu, penulis

mengemukakan munâsabah (korelasi) ayat-ayat, dan menjelaskan hubungan

20

(31)

maksud ayat-ayat tersebut satu sama lain, membahas sabab-al nuzul (latar

belakang turunnya ayat) jika ada, dan dalil-dalil dari hadits, atau sahabat,

atau para tâbi’in21

Dengan metode tematik, penelitian ini akan berusaha mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur‟an tentang kisah Nabi Yūsuf As ke

dalam satu tema, yaitu kisah Nabi Yūsuf As, kemudian dipilah-pilah

menjadi tema-tema kecil, selanjutnya dianalisis untuk mengetahui secara kronologis dan mendalam tentang nilai pendidikan akhlak yang terkandung di dalamnya.

G. Sistematika Penulisan

Dalam pembahasan tesis ini terdiri dari lima bab, dari tiap-tiap bab terdiri

dari beberapa kerangka-kerangka pembahasan, maka untuk mengetahui

masing-masing bab tersebut adalah sebagai berikut:

Bab Pertama, bab ini merupakan bab pendahuluan, yang terdiri

dari Latar belakang, Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Signifikansi Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

Bab Kedua, memuat Kisah sebagai ‟Ibrah, Kisah Sebagai Metode,

skema Letak Ayat-Ayat tentang Nabi Yūsuf As dan Kronologi Turunnya

21

(32)

dalam Al-Qur‟an, serta Biografinya yang meliputi Geneologi, Masa kecil, Masa Muda, dan Masa Dewasanya

Bab Ketiga, bab ini membahas mengenai ulasan tentang Ibrah

Kisah Nabi Yūsuf As,

Bab Keempat, berisi pembahasan tentang Implementasi konseptual

Ibrah dari Kisah Nabi Yūsuf As dalam Konteks Pendidikan.

Bab Kelima, merupakan bab terakhir dalam penelitian ini, sebagai

(33)

BAB II

NABI YŪSUF DALAM AL-QUR’AN

A. Fungsi Kisah

1. Kisah Sebagai ‘Ibrāh

Kata kisah/ qaṣaṣ( ضظق) adalah bentuk jamak dari kata qiṣṣah ( حظق). Kata itu berasal dari kata kerja qaṣṣa-yaquṣṣu ( - ضق

ضقٚ) berarti kisah, cerita, berita atau, keadaan.22 Disebutkan dalam

al-Qur‟an “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu (kisah Nabi Yūsuf

As dan kisah-kisah para rasul yang lain yang disampaikan Allah swt) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal (QS. Yusūf [12]: 111). Kata qaṣāṣ bentuk maṣdarnya adalah al-Qaṣ, seperti disebutkan di dalam

Al-Qur‟an

….



 

 

64…. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (QS.

Al-Kahfi [18]: 64).

Dalam bentuk fi‟il mudhori‟nya, kata qaṣaṣ berbentuk sama‟i yaitu yaquṣṣu yang berarti menggunting, mendekati, menceritakan sesuatu dan mengikuti jejak.23 Sedangkan, menurut Muhammad Ismail „Ibrāhim,

22

Muhammad Ali al-Shabuni, Tibyān fî ‟Ulûm al-Qur‟ān, Beirut: al-„alam al kutub, 1985, 631

23

(34)

qaṣaṣ berarti hikayat dalam bentuk prosa panjang.24 Menurut Mannā al

-Qattan, Qaṣaṣ Al-Qur‟an adalah pemberitaan Al-Qur‟an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwwāt (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.25 Dari pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa secara global, pengertian dari Qaṣaṣ

Al-Qur‟ān adalah pemberitahuan al-Qur‟an tentang kisah umat yang telah

lalu, kisah-kisah nabi, yang memuat berbagai peristiwa yang telah terjadi. Kata „ibrāh berasal dari akar kata (-ر - ب - ع) mempunyai arti berlalu, melalui, melampui, dan sebagainya.26 Ungkapan „ibrāh sering diterjemahkan dengan mengambil pelajaran dari peristiwa di masa lalu. Salah satu seni al-Qur‟an adalah kisah yang tidak dijelaskan Allah secara detail. Oleh karena itu, kisah di dalam al-Qur‟an mengandung hikmah yang bisa dinikmati dan secara tidak langsung mengajak pembacanya untuk merenungkan misteri dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Lebih jauh lagi, kisah di dalam al-Qur‟an menggugah hati dan meningkatkan keimanan. Allah swt berfirman:

24Muhammad Ismail „Ibrāhim, Mu‟jam al-Fādz wa al-Qur‟āniyyah

, Beirut: Dar Fikr al-„Arabi, 1969, 140

25 Mana‟ al

-Qathan, Mabahîṡ fî „Ulûm al-Qur‟an, Bairut: Syirkah Muttahidah li al-Tauzi‟, 1973, 306

26 Nuhas Abi Ja‟far Ahmad bin Muhammad bin Isma‟il, I‟rāb al-Qur‟ān

(35)

111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran

bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur‟an itu bukanlah cerita

yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

2. Kisah Sebagai Metode

Kisah merupakan suatu metode untuk mengungkapkan kehidupan atau salah satu progam tertentu dari kehidupan yang mencakup satu peristiwa atau beberapa peristiwa, yang mana peristiwa tersebut disusun secara runtut serta ada permulaan dan akhirnya.27 Di dalam al-Qur‟an banyak diceritakan umat-umat terdahulu dan sejarah para nabi dan rasul serta iḥwal negara dan perilaku bangsa-bangsa terdahulu.28 Kisah dalam al-Qur‟an menurut pandangan Muhammad Baqir Hakim tidak hanya menceritakan riwayat orang-orang di masa lalu dan merekam kehidupan mereka serta urusan-urusan mereka, seperti yang banyak dilakukan oleh para sejarawan. Akan tetapi, kisah tersebut dipaparkan al-Qur‟an untuk mencapai satu maksud dan tujuan dari agama yang dibawa al-Qur‟an itu sendiri. Pemaparan kisah-kisah

27

Muhammad Kamil Hasan, al-Qur‟an wa al- Qaṣāṣ al-Hadiṡah, Beirut: Dar al-Buhus, 1970, 9

28

(36)

tersebut juga menggunakan metode yang beragam sehingga bisa dikatakan bahwa kisah-kisah tersebut termasuk bagian penting dari metode al-Qur‟an.29

Sama halnya dengan proses pembelajaran, dirasa kurang afdhal jika tidak dilengkapi dengan sebuah metode. Seorang pendidik bisa menggunakan berbagai metode dalam menyampaikan materi yang diajarkan, diantaranya yaitu metode kisah, keteladanan, pembiasaan, ḥiwar, dan lain sebagainya. Metode kisah yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan materi dikatakan penting karena kisah-kisah yang diambil dari isi kandungan al-Qur‟an sedikit banyak akan memberi pengaruh pada peserta didik atau memberikan sebuah ketertarikan sendiri. Hal ini didukung dengan firman Allah sebagaimana yang telah tercantum dalam QS. Hud ayat 120 berikut:



kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini

29

Muhammad Baqir Hakim, Ulumul Qur‟an, Jakarta: al-Huda, 2006, 517 30

(37)

telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi

orang-orang yang beriman.31

Metode kisah dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat penting dikarenakan setiap kisah dapat memikat pembaca dan pendengarnya untuk dapat merenungkan atau ingin mengikuti peristiwanya. Selain itu, kisah dapat menyentuh hati manusia karena dari kisah itu dapat menampilkan tokoh dalam konteks yang menyeluruh, dan pembaca dapat ikut menghayati dan merasakan kisah itu, seolah-olah dia sendiri yang menjadi tokohnya. Kisah di dalam al-Qur‟an juga dapat mendidik perasaan keimanan dengan cara membangkitkan berbagai perasaan seperti ḥauf, ridha, dan cinta.32

B. Skema Letak Ayat tentang Nabi Yūsuf As dalam Al-Qur’an

Nabi Yūsuf disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur‟an. Kata Yūsuf

ditemukan sebanyak 26 kali. 24 kali dalam surat Yūsuf/12. Satu kali dalam surat al-An‟ām/6 dan satu kali dalam surat Ghāfir/40. Adapun pemetaan kata

Yūsufdalam al-Qur‟an terangkum dalam tabel berikut:33

31

Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, Semarang: PT Grafindo, 1994, 340 32

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991, 140-141

33

(38)

Tabel 2.1

Pemetaan Kata Yūsuf dalam Al-Qur’an

Nama Surat Nomor Surat Nomor Ayat

Al-An‟ām 6 84

Yūsuf 12 4, 7, 8, 9, 10, 11, 17, 21, 29, 46, 51, 56, 58,

69, 76, 77, 80, 84, 85, 87, 89, 90 (berulang kali), 94, dan 99

Ghāfir 40 34

Dari ketiga surat di atas, dapat diketahui bahwa ayat-ayat yang

memaparkan tentang kisah Nabi Yūsuf As hanya terdapat pada surat Yūsuf.

Sedang kata Yūsuf dalam surat Al-An‟ām dan surat Ghāfir sebagai penegas.

Kata “Yūsuf” dalam surat Al-An‟ām ayat 84 diperankan sebagai penegas bahwa

Yūsuf merupakan bagian dari anugerah Allah yang diberikan kepada „ibrāh im

As, yaitu cicit yang menjadi pembawa risalah Allah, begitu juga dengan kedua putranya yaitu Ishak dan Ismail.34 Di dalam surat Ghāfir ayat 34, kata Yūsuf diperankan sebagai penguat sebagian bani Israil yang masih bersikap ragu terhadap nasehat-nasehat Nabi Musa As.35

34

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an Vol 4,

Jakarta: Lentera Hati, 2001, 176, Di dalam ayat tersebut Nabi Isḥak disebut pertama dengan alasan

Isḥak adalah putra „ibrāh im yang hidup bersama, kemudian cucu „ibrāhim yaitu Ya‟qub yang

merupakan ayah dari Yūsuf yang juga menjadi nabi. 35

(39)

C.Kronologi Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Mengisahkan tentang Nabi Yūsuf As

Surat Yūsuf adalah surat ke 12 dalam urutan mushaf, yaitu terletak

sesudah surat Hūd dan surat al-Hijr.36 Sedangkan dalam urutan turunnya

wahyu, surat Yūsuf adalah surat ke 53 yaitu turun sesudah surat Hūd dan surat al-Hijr.37 Penempatan Surat Yūsuf sesudah surat Hūd sejalan dengan masa turunnya yaitu sesudah kedua surat tersebut.

Surat Yūsuf terdiri dari 111 ayat dan hanya memiliki satu nama.

Penamaan Surat Yūsuf sejalan juga dengan kandungannya yang menguraikan

kisah Nabi Yūsuf As.38 Keseluruhan ayat dalam Surat Yūsuf turun sebelum

beliau hijrah, sehingga digolongkan sebagai surah Makkiyah.39

Situasi masyarakat Makkah pada saat Surat Yūsuf turun banyak yang

meragukan pengalaman isrā‟ dan mi‟rāj Nabi Muhammad saw sehingga sebagian umat Islam yang lemah imannya menjadi murtad.40 Di sisi lain, jiwa Nabi Muhammad saw sedang diliputi oleh kesedihan, karena saat itu merupakan masa-masa sulit pada kehidupan Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Peristiwa tersebut sering disebut dengan „Amul ḥuzni dan terjadi pada tahun ke-10 kenabian atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 M.41

36

Ali Audah, Konkordasi Qur‟an Panduan Kata dalam Mencari Ayat Al-Qur‟an, 1998, 346 37

Badarudin Muhammad bin Abdillah bin Bahadir Az-Zarkasi, Burhān fî „Ulūmil Qur‟ān,Libanon: Dar Ma‟rifat Beirut,Tth, 193

38

M. Quraish Syihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001,

376 39

Abi Hasan Ali bin Ahmad al Wakhidi, Asbābun Nuzul, Libanon: Beirut, 1991, 155 40

Abi Hasan Ali bin Ahmad al Wakhidi, Asbābun Nuzul, 1991, hlm. 156 41

(40)

Ada hubungan antara „Amul ḥuzni dengan Surat Yūsuf. Pada saat-saat tersebut, Nabi Muhammad saw tengah kehilangan dua orang yang dicintainya yang keduanya selalu menguatkan semangatnya dalam mengemban tugas dakwah yang mulia tersebut. Khadijah, istri yang setia dan yang pertama menyatakan keimanannya kepada risalah yang dibawanya. Berturut-turut pada tahun yang sama, paman yang mengasuh sejak kecil dan menyayangi dengan sepenuh hati, Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan tidak mau memeluk Islam.42 Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagaimana yang telah tercantum dalam QS. Al-Qaas ayat 56 berikut:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau

menerima petunjuk.43

Abu Thalib adalah keturunan Bani Hasyim yang mempunyai kedudukan dan martabat yang tinggi dalam pandangan masyarakat Quraisy sehingga ia disegani. Hal ini menyebabkan kaum Quraisy tidak berani mengganggu Nabi Muhammad saw ketika dia masih hidup.44 Setelah Abu Thalib wafat, orang-orang Quraisy semakin leluasa menantang, menghina, dan melampiaskan rasa benci kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, ada diantara pemuda Quraisy

Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, 1994, 619 44

(41)

yang menyiramkan tanah ke atas kepala Nabi Muhammad saw sambil menghina dan menuduh pemecah belah persatuan kaum.45

Dalam masa-masa sedih tersebut, gangguan dari orang-orang musyrik Makkah semakin bertambah, sehingga hal itu menambah kesedihan Nabi Muhammad saw. Beliau melihat sendiri bagaimana para sahabatnya disiksa dengan berbagai model siksaan namun ia tidak dapat menolongnya, misalnya kejadian yang menimpa keluarga Yasir. Mereka disiksa dengan siksaan yang memilukan hati, namun tidak ada yang bisa beliau perbuat kecuali hanya berpesan, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji untuk

kalian adalah surga.”46

Demikian pula siksaan yang diterima oleh sahabat-sahabat yang lain, sehingga datanglah Khabbab bin al-Arat. Ketika itu Nabi Muhammad saw sedang bersandar dengan burdahnya di sisi ka‟bah. Khabbab

menuturkan, “Tidakkah engkau memintakan pertolongan untuk kami, tidakkah

engkau berdoa untuk kami wahai Rasulullah?” Rasulullah hanya mengatakan,

“Sungguh orang-orang sebelum kalian diringkus oleh seseorang lalu

dibuatkan galian di tanah, lalu ditanam di galian tersebut, kemudian

didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya lalu dibelah menjadi

dua bagian. Dan ada yang disisir dengan sisir besi hingga terkelupas kulit dan

tampak daging-dagingnya, namun tidaklah hal itu melunturkannya dari

agamanya. Demi Allah, akan sempurna perkara ini hingga seseorang berjalan

dari ṣan‟a ke Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, tidak pula

45

Hamid al-Husaini, Riwayat kehidupan Nabi Besar Muhammad, 1992, 406 46

(42)

serigala kepada kambingnya, akan tetap sungguh kalian terburu-buru.”47

Dalam keadaan sulit seperti itu, Allah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw, ayat yang mengisahkan tentang suka duka Nabi Yūsuf bin

Ya‟qub bin Ishaq bin „ibrāh im As.48 Ada yang mirip antara ujian Nabi

Muhammad saw dan Nabi Yūsuf As misalnya di antara cobaan Nabi Yūsuf As antara lain makar saudara-saudaranya, ujian diceburkan ke dalam sumur dan dirundung ketakutan, ujian dipisah dari keluarga dan negerinya, ujian perbudakan, ujian makar dari istri al-„Aziz dan para wanita kota, yang sebelumnya adalah ujian syahwat dan fitnah yang disusul dengan ujian dijebloskan ke penjara. Setelah itu ia masih diuji dengan ujian kekuasaan dan urusan penyediaan bahan makanan di masa paceklik. Lalu ia diuji dengan kemasyhuran hingga dapat bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang

telah membuangnya ke dalam sumur. Namun demikian Nabi Yūsuf As tetap

bersabar menjalani segala ujian tersebut dan tak henti-hentinya mendakwahkan tauhid hingga Allah swt memberinya kemenangan dan kedudukan.

Karena surat Yūsuf tersebut turun kepada Nabi Muhammad saw pada

masa sulit, maka ayat-ayat ini menjadi taṣliyah (pelipur lara), penenang dan penguat keteguhan hati Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Hal itu juga sebagai pertanda bahwa Nabi Muhammad saw kelak akan keluar dari negerinya seperti dikeluarkannya Nabi Yūsuf As dari negerinya. Beliau akan

47

Abu Abdillah Bukhori, Shāhih Bukhāri, Beirut: Dār al Fikr, 1981, 269 48

(43)

hijrah menuju negeri yang akan memberinya kemenangan dan kedudukan.49 Sekalipun Nabi Muhammad saw keluar dari Makkah dalam keadaan terusir

sebagaimana Nabi Yūsuf As dibuang oleh saudara-saudaranya untuk

menghadapi berbagai ujian, namun hal itu berakhir dengan kemenangan dan kebahagiaan.50 Adapun persamaan ujian Rasulullah dan Nabi Yūsuf terangkum dalam tabel berikut:

Tabel 2.2

Persamaan Ujian Nabi Muhammad sawdan Nabi YūsufAs

Persamaan

3. Pisah dari keluarga dan negerinya 4. syahwat dan fitnah

5. kekuasaan dan urusan penyediaan bahan makanan.

6. Kemasyhuran

7. Rasa kemanusiaan menghadapi orang yang memusuhinya

1. Makar dari saudara-saudaranya 2. Hinaan dan siksaan fisik serta

dirundung ketakutan

3. Pisah dari keluarga dan negerinya 4. Syahwat dan fitnah

5. Kekuasaan dan urusan penyediaan bahan makanan.

6. Kemasyhuran

7. Rasa kemanusiaan menghadapi saudara-saudaranya

49

Muhammad Ali, History of The Prophets (As Narated in The Holy Qur‟an, Compared with

the Bible), Terj. Bambang Dharma Putera, Jakarta: Darul Kutubil Islamiah, 2007, 65-66 50

Sebagaimana firman Allah swt, “Dan demikian pulalah kami memberikan kedudukan yang

baik kepada Yūsuf di muka bumi (Mesir), dan agar kami ajarkan kepadanya ta‟bir mimpi. Dan

Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS.

(44)

Kisah Nabi Yūsuf As berkaitan dengan prediksi yang ditujukan kepada

musuh-musuh Nabi Muhammad saw.51 Bahkan rencana saudara Nabi Yūsuf As yang mangajaknya dan bermurah hati berisi prediksi yang berkaitan dengan rencana pembunuhan Nabi Muhammad saw, sehingga beliaupun hijrah ke Madinah dan akhirnya mencapai kemenangan di atas mereka. Pada waktu itu Nabi Muhammad saw memegang kedua sisi pintu Ka‟bah saat penaklukkan Makkah dan berkata kepada kaum Quraisy: “Bagaimana seharusnya aku

memperlakukan kalian?” Kaum Quraisy berkata: “Kami hanya mengharap kebaikan darimu, wahai saudaraku yang baik dan berasal dari keturunan saudaraku yang baik.” Kemudian beliau berkata: “Saya katakan sebagaimana

Yūsuf berkata pada saudara-saudaranya, pada hari ini tidak ada celaan terhadap

kamu.”52 Rencana musuh-musuh Nabi Muhammad saw yang menginginkan akhir hidup beliau akan gagal, dan akhirnya mereka akan datang kepada beliau sebagaimana saudara-saudara Yūsuf yang datang kepada Yūsuf, meminta maaf atas semua kesalahan mereka dan mereka akan memperoleh keluhuran budi Nabi Muhammad saw melalui kisah Nabi Yūsuf As.53

51

Muhammad Ali, History of The Prophets (As Narated in The Holy Qur‟an, Compared

with the Bible), 2007, 76 52

92. Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang". (QS.

Yūsuf : 92) Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, 1994, 363

53

(45)

Disebutkan bahwa sebab turunnya surah Yūsuf adalah karena orang-orang

Yahudi meminta kepada Nabi Muhammad saw untuk menceritakan kepada

mereka kisah Nabi Yūsuf.54

Menurut riwayat al-Baihaqi sebagaimana dikutip oleh tim Departemen Agama dari kitab ad-Dalail, ada segolongan orang yahudi

masuk Islam sesudah mereka mendengar cerita Nabi Yūsuf As dalam al

-Qur‟an,55

karena sesuai dengan cerita yang mereka ketahui dari kitab Taurat.56

Dari kisah Nabi Yūsuf As, Nabi Muhammad saw mendapat pelajaran melalui

kisah nabi-nabi yang lain.57 Selain itu, kisah Nabi Yūsuf As juga menjadi penguat dan penghibur beliau dalam menjalankan tugasnya yang berat.58

D. Biografi Nabi Yūsuf As

3. Geneologi Nabi Yūsuf As

Yūsuf hidup sekitar 1745-1635 SM. Ia adalah salah satu nabi agama

samawi.59 Yūsuf merupakan salah satu putra Nabi Ya‟qub As yang bergelar Israil.60 Yūsuf merupakan cicit dari Ishaq bin „ibrāh im. Mengenai silsilah Nabi Yūsuf As dijelaskan dalam sebuah hadits berikut:

1144

Bisri Mustofa,Al Ibrîz li Ma‟rifatil Qur‟ânil „Adzîm, Kudus: Menara Kudus, 1995, 663 55

Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, Jakarta: Departemen Agama RI, 2009, 493

56

Hamka, Tafsîr Al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988, 169 57

Ahmad Showî al Maliki, Khāsyiyah ṣowî „Ala Tafsîr Jalālain,Tth,233 58

Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya, 2009, 493 59

Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1992, 994 60

(46)

“Sesungguhnya orang yang mulia, putra orang yang mulia, putra orang yang

mulia (adalah) Yūsuf putra Ya‟qub putra Ishaq putra „ibrāh im.” (HR. Imam

Ahmad dan riwayat lain dari Bukhori, diterima dari Abdullah bin Umar Ra).61

Adapun silsilah lengkapnya adalah Yūsuf bin Ya‟qub bin Ishaq bin

„ibrāh im bin Azar bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.62 Nabi Ya‟kub

As mempunyai empat orang istri yaitu Rakhel, Lea, Bilha, dan Zilfa.63

Dengan Lea, Nabi Ya‟qub As mempunyai enam putra, yakni Rubin, Simeon,

Lewi, Yehuda, Isakhar, dan Zebulon.64 Dengan Bilha, Nabi Ya‟qub As

61

Abu Abdillah Bukhori, Shāhih Bukhāri, 1981, 211 62

Muhammad bin Ahmad bin Iyas al Hanafi, Badāi‟uz Zuhûr fî Waqôi‟ud Duhūr, Semarang: Al Munawar, Tth, 233

63

Lembaga Alkitab Indonesia, Progam al kitab, 2.00, 1974, kitab kejadian 30: 50-52,diambil dari Alkitab dengan alasan dalam beberapa tafsir al-Qur‟an sering terselip cerita-cerita yang ada hubungannya dengan budaya dan tradisi Yahudi, dan yang sebagian lagi hampir sama dengan yang terdapat dalam Alkitab (Bibel). Maka segala pengaruh yang berwarna Yahudi temasuk juga budaya dan tradisi Nasrani umumnya melalui isi Alkitab tersebut, yaitu perjanjian lama, dan sebagian kecil perjanjian baru yang menyusup ke dalam tafsir Al-Qur‟an dalam arti istilah disebut Isrā‟iliyyāt. Istilah tersebut memang tidak ada dalam al-Qur‟an, tetapi hanya merupakan sebuah istilah yang erat hubungannya dengan tafsir al-Qur‟an dan hadist (Depag RI, Mukadimah

Al-Qur‟an dan tafsirnya, Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Qur‟an Departemen Agama, 2009, 78) Dalam kaidah penafsiran al-Qur‟an dibenarkan mengambil sumber dari Alkitab ketika berbicara

tentang kisah para Nabi, dan masanya, dengan dasar “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam

keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu. Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi(QS. Yūnus/10: 94-95), pesan Nabi “Jangan percayai Alhli Kitab dan jangan dustakan mereka”, seperti dalam hadis Bukhari, dan boleh saja mengambil

sumber dari bani Israil‟selama yang diketahuinya orang itu tidak berbohong. Adapun masuknya

pengaruh Isrā‟iliyyāt ke dalam beberapa tafsir sudah ada sejak masa para sahabat Nabi.(Depag RI,

Mukadimah Al-Qur‟an dan tafsirnya, Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Qur‟an Departemen Agama, 2009, 90)

64

Lembaga Alkitab Indonesia, Progam al kitab, 2.00,kitab kejadian 35: 23, Lea adalah putri tertua Laban, paman Nabi Ya‟qub dari ibunya yang bernama Ribkah, istri Nabi Isḥak. Tanpa

sepengetahuan Nabi Ya‟qub, Lea dijodohkan Laban dengan Nabi Ya‟qub dengan mas kawin

(47)

anak-memperoleh dua putra, yaitu Dan dan Naftali.65 Dengan Zilfa, Nabi Ya‟qub memperoleh dua putera, yaitu Gad dan Aser66. Dengan Rakhel, istri pertama Nabi Ya‟qub yang bisa hamil di usia sudah tua dan paling belakang diantara

istri-istri Nabi Ya‟qub melahirkan Yūsuf dan Benyamin.67 Dengan demikian,

Yūsuf dan saudara-saudaranya berjumlah 12 orang putra.

Rakhel sebagai ibu Yūsuf adalah istri nabi Ya‟qub yang paling cantik

dan menarik dari semua istri Nabi Ya‟qub. Oleh karena itu, wajah dan postur

tubuh Yūsuf paling menarik dan paling tampan dari semua anak-anak Nabi

Ya‟qub. Yūsuf dan semua kakak-kakaknya dilahirkan di Harran (Siria

Utara),68 sedang adiknya Benyamin, dilahirkan di Kan‟an (sekarang Israel)

dalam perjalanan keluarga Ya‟qub dari Betel menuju Hebron.69

Rakhel wafat

setelah melahirkan Benyamin pada saat Yūsuf berusia 12 tahun.70

Adapun

silsilah Nabi Yūsuf terangkum dalam bagan berikut:

Bagan 2.1

anaknya. Setelah Rakhel meninggal ketika melahirkan benyamin, Lea dan anak-anaknya merasa suatu tekanan sudah hilang. Tetapi setelah kasih sayang Nabi Ya‟qub tertumpah kepada kedua anak Rakhel yang telah piatu dan masih kecil-kecil, kedengkian timbul kembali.

65

Lembaga Alkitab Indonesia, Progam al kitab, 2.00, kitab kejadian 35: 52, Bilha adalah seorang hamba sahaya Laban yang diberikan Rakhel sebagai hadiah untuk suaminya dengan tujuan untuk mengikuti adat istiadat pada masa itu yaitu seorang istri memberikan hadiah suaminya hadiah hamba sahaya untuk memberikan anak.

66

Lembaga Alkitab Indonesia, Progam al kitab, 2.00,kitab kejadian 35: 26, Zilfa adalah seorang hamba sahaya Laban yang diberikan Lea sebagai hadiah untuk suaminya. Seperti halnya Rakhel yang mengikuti adat istiadat pada masa itu, Leapun juga mengikuti adat setempat yaitu memberikan hadiah suaminya berupa hamba sahaya untuk memberikan anak.

67

Lembaga Alkitab Indonesia, Progam al kitab, 2.00, kitab kejadian 35: 24, Rakhel adalah adik Lea, putri bungsu dari Laban yang dinikahi Nabi Ya‟qub setelah 7 hari menikah dengan Lea, dengan mas kawin yang sama, yaitu menggembala lembu dan kambing Laban selama 7 tahun

68

Lembaga Alkitab Indonesia, Progam al kitab, 2.00,kitab kejadian 35: 15 69

Lembaga Alkitab Indonesia, Progam al kitab, 2.00, kitab kejadian 35: 16 70

(48)

Silsilah Nabi Yūsuf

4. Konteks Sosial Nabi Yūsuf

d. Masa Kecil Nabi Yūsuf

Nuh

Syam

Arfahsad

Azar

„Ibrāh im

Ishaq

Ya‟qub + Lea Ya‟qub + Bilha Ya‟qub + Zilfa

Ya‟qub + Rakhel

1. Gad

2. Asyir 1. Dan

2. Naftali 1. Rubin

2. Simeon 3. Lewi 4. Yahudza 5. Isakhar

6. Zabulon,

1. Yūsuf +

(49)

Masa kecil Yūsuf dihabiskan di Kan‟an yang sekarang disebut Israel

bersama ayah, ibu dan saudara-saudaranya.71Yūsuf merupakan anak Nabi

Ya‟qub As yang berakhlak baik, patuh dan taat kepada orang tua. Selain

itu, Yūsuf juga anak yang paling tampan wajahnya dibanding saudara

-saudaranya yang lain.

e. Masa Muda Nabi Yūsuf

Sejak Yūsuf dibeli oleh salah seorang pejabat di Mesir/Al-„Azis, Yūsuf

tinggal di Tanice atau A Faris (San Al Hajar), ibu kota Hexus, Mesir.72

Melihat keistimewaan Yūsuf yang terdapat pada dirinya, Al-„Azis

mengangkat Yūsuf menjadi anak angkatnya. Al-„Azis mengatakan kepada

istrinya, Zulaikha agar memberikan tempat dan pelayanan yang baik kepada

Yūsuf seperti anaknya sendiri.73

Kasih sayang Al-„Azis kepada Yūsuf digambarkan Allah swt dalam firman-Nya berikut:

Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992, 994 72

Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992, 997 73

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001,

404-405

74[748] Orang Mesir yang membeli Yūsuf

(50)

bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada

mengetahuinya.75

Ada kemungkinan Al-„Azis mengangkat Yūsuf sebagai anak juga karena dia belum dikaruniai anak meskipun sudah beristri cukup lama.76

Bagi Yūsuf, diangkat menjadi anak Al-„Azis merupakan anugrah dari Allah

setelah melewati berbagai cobaan. Dengan demikian, kehidupan Yūsuf

menjadi lebih baik dengan menjadi anak angkat penguasa Mesir, tinggal di istana yang megah dan mewah, ditambah dengan kepintarannya yang semakin meningkat pesat serta ilmu yang luas. Yūsuf tumbuh dewasa dan

menjadi seorang pemuda yang sangat takut kepada Allah swt, imannya kuat, mulia akhlaknya, serta terlihat gagah dan amat tampan wajahnya.77 Oleh ilmu. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang

(51)

kekuatan.79 Thabatthaba‟i sebagaimana dikutip oleh M Quraish Syihab

memahami "ِذشا“ sebagai usia pemuda dengan tanpa menentukan tahun sampai dengan usia 40 tahun. Usia 40 tahun menurutnya adalah puncak

kesempurnaan kekuatan tetapi sebelum usia tersebut seseorang telah mencapai

kesempurnaan kekuatan.”80 Itulah balasan bagi Yūsuf yang telah melakukan

amal kebaikan dan taat kepada Allah swt.

Ada beberapa pendapat yang dikutip Hamka, mengenai kategori umur dewasa Yūsuf. Pertama, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah,

menyatakan usia dewasa Yūsuf 33 tahun. Kedua, Adh-Dhahak mengatakan 20

tahun. Ketiga, al-Hasan mengatakan 40 tahun dan keempat Sa‟id bin Jubair yang mengatakan 18 tahun.81

Jika melihat dari sudut pandang ilmu Psikologi, maka diantara pendapat tersebut yang lebih menguatkan tentang usia dewasa Yūsuf adalah pendapat Said bin Jubair dan Adh-Dhahak yaitu antara 18-20 tahun.82 Firman Allah “Setelah dia/ِذشا”, yaitu Yūsuf, “mencapai kedewasaannya”, yaitu sempurna

akal dan tubuhnya serta mencapai iḥtilam, dan itu terjadi pada usia 18 tahun,

“Kami memberinya hikmah dan ilmu”, yaitu kenabian.83 Yūsuf

diangkat menjadi nabi pada tahun 1715 SM dan dia ditugaskan berdakwah di Kan‟ān dan Hyksos di Mesir.84 Sejarah mencatat bahwa Mesir di zaman

79

M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001, 407 80

M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001, 407 81

Hamka, Tafsîr Al-Azhar, 1988, hlm. 207 82

Syamsu Yūsuf , Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008, 25

83

M. Nasib ar-Rifa‟i, Taisiru al-Aliyyul Qadir li Iḥtishari Tafsir Ibnu Katsir,1999, 845 84

(52)

Amenhotep IV (ikhnaton) menyembah satu Tuhan. Kemungkinan itu sebagai hasil upaya Yūsuf, sebagai seorang nabi Allah.85

f. Masa Dewasa Nabi Yūsuf

Yūsuf menjadi pria dewasa kematangan spiritual dan karakter

pribadinya yang semakin kuat. Mendapat ancaman istri tuannya, Yūsuf tetap teguh dan memilih penjara daripada mengikuti kehendak Zulaikha. Baginya, penjara lebih baik daripada berkumpul dengan orang-orang yang lupa dengan keberadaan Tuhannya.86 Pilihan bahwa penjara lebih baik bagi

Yūsuf terungkap dalam sebuah doanya yang diabadikan Allah SWT dalam

firman-Nya berikut:

memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi

keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."87

Penjara bagi Yūsuf merupakan satu-satunya jalan untuk menghindari perangkap maksiat yang dapat melupakan dirinya dari Tuhannya. Doa

Yūsuf yang meminta perlindungan kepada Allah SWT melalui penjara

85

Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992, 995 86

M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001, 434-435

87

(53)

dikabulkan Allah SWT.88 Terkabulnya doa Yūsuf tertuang dalam firman lingkungan kediaman pejabat Mesir mengetahui kebenaran dan kejujuran

Yūsuf, namun untuk menutupi rahasia kejelekan moral istri Al-„Azis dan

juga agar peristiwa tersebut tidak menjadi bahan pembicaraan yang berlarut-larut dalam masyarakat luas,90 serta untuk membersihkan nama baik keluarga dan kerajaan sehingga rakyat tetap percaya terhadap pemerintah, maka timbullah satu fikiran di kalangan para pembesar kerajaan untuk menyingkirkan Yūsuf. Kekhawatiran para pembesar kerajaan jika Yūsuf hanya disingkirkan dengan dipindahkan ke kota lain kemudian istri-istri mereka ada yang mengetahui dan ikut tergila-gila seperti halnya istri

Al-„Azis, maka diambil keputusan untuk menyingkirkan Yūsuf dengan

menjebloskan dia dipenjara.91 Dengan menjadikan Yūsuf sebagai kurban pertimbangan-pertimbangan politik istana, pembesar-pembesar kerajaan pada saat itu bisa menunjukkan kepada masyarakat luas, bahwa yang

88

Ahmad Showî al-Malik, Khāsyiyah ṣowî „Ala Tafsîr Jalālain,Tth, 242 89

Depag RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, 1994, 353 90

M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001, 436 91

(54)

bersalah dalam peristiwa memalukan itu adalah Yūsuf.92 Yūsuf memasuki penjara dengan hati yang ikhlas dan bahagia.93 Bagi Yūsuf, penjara merupakan tempat yang aman untuk terbebas dari godaan Zulaikha dan merupakan gerbang awal untuk mencapai kebebasan dan kemenangan yang sempurna.94 Tragedi masuknya Yūsuf ke penjara hanya digambarkan secara sekilas oleh Allah dalam firman-Nya berikut:

35. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda

(kebenaran Yūsuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu

waktu[753].95

Dengan pengakuan wanita-wanita yang pernah terluka tangannya dan Zulaikha, maka raja memutuskan Yūsuf tidak bersalah dan dibebaskan dari hukuman penjara. Berita tentang keputusan raja yang membebaskan Yūsuf tersebar di saentro kota Mesir dan sampai pula di telinga Yūsuf yang masih meringkuk di dalam penjara.96 Mendengar keputusan itu, Yūsuf berkata sebagaimana yang difirmankan Allah swt berikut:

Bisri Mustofa, Al Ibrîz li Ma‟rifatil Qur‟ânil „Adzîm, 1995, 675 94

M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001, 434 95

Depag RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, 1994, hlm. 353 [753] Setelah mereka melihat

kebenaran Yūsuf , Namun demikian mereka memenjarakannya agar jelas bahwa yang bersalah

adalah Yūsuf ; dan orang-orang tidak lagi membicarakan hal ini.

96

(55)

52. (Yūsuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al „Azis) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan

bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.97

53. dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha

Pengampun lagi Maha Penyayang.98

Setelah memenuhi permintaan Yūsuf untuk mengurus masalahnya dan memutuskan Yūsuf tidak bersalah, raja memanggil kembali Yūsuf untuk segera menghadapnya.99 Raja mengutus panglimanya untuk menjemput

Yūsuf yang masih berada di dalam penjara. Setelah panglima menemui

Yūsuf dan menceritakan semua titah raja serta keputusan perkaranya, Yūsuf

bersedia untuk dibawa menghadap raja.100 Setelah raja bertemu dengan

Yūsuf, bercakap-cakap dan kembali bertanya tentang mimpinya, raja dapat

menyimpulkan bahwa selain Yūsuf pandai, dia juga memiliki karakter yang lembut, santun, ramah, dan bijak. Oleh karena itu, raja mengangkat Yūsuf sebagai pejabat kerajaan yang memiliki kedudukan tinggi.101 Allah menggambarkan pertemuan Yūsuf dengan raja dalam firman-Nya berikut:

sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini

(56)

menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi

kami".102

Ketika Yūsuf diminta raja memilih jabatan yang bisa memberikan

manfaat bagi rakyat Mesir, Yūsuf memilih agar ia ditugaskan untuk menjadi

bendahara kerajaan.103 Yūsuf memilih jabatan itu karena keikhlasannya untuk semata-mata hanya mengharap ridha Allah dengan mendapat kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang ada di dalam dirinya berupa rasa percaya diri dan mampu memikul tanggung jawab.104 Sedangkan potensi yang terdapat dalam diri Yūsuf itulah yang menjadi syarat utama memikul jabatan tinggi itu. Selain itu, Yūsuf juga merasa bahwa pekerjaan sebagai bendaharawan negara itu sangat berat dan tidak sembarang orang bisa melakukannya.105 Dengan demikian, bisa diketahui bahwa Yūsuf tidak menginginkan penghormatan dan kebesaran tanpa pekerjaan yang seimbang.

Keberanian Yūsuf untuk memilih jabatan itu juga berawal dari raja yang terlebih dahulu mengeluarkan pernyataan bahwa Yūsuf mendapat kedudukan yang mulia di sisi raja.106 Oleh karena itu, Yūsuf yang memilih jabatan dan raja yang menyetujuinya. Lebih lanjut lagi, Ibnu Su‟ud

mengatakan dalam tafsirnya sebagaimana dikutip oleh Hamka bahwa

102

Depag RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya,1994, 357 103

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001, 470-471

104

Hamka, Tafsîr Al-Azhar, 1988, 5 105

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, 2001, 472

106

Figur

Tabel 2.1
Tabel 2 1 . View in document p.38
Tabel 2.2
Tabel 2 2 . View in document p.43

Referensi

Memperbarui...