BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah - Penerimaan penonton mengenai multikulturalisme dalam film "Cek Toko " - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Penelitian ini akan membahas tentang penerimaan penonton mengenai Multikulturalisme dalam film Cek Toko Sebelah. Peneliti akan melakukan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode Reception analysis. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan objek penelitian yaitu

penerimaan penonton mengenai multikulturalisme dalam film Cek Toko Sebelah. Subjek dalam penelitian ini adalah penonton film Cek Toko Sebelah yang termasuk dalam kategori dewasa awal (18-40 tahun).

Fokus dalam penelitian ini adalah Multikulturalisme. Multikulturalisme adalah fenomena menarik untuk diteliti dalam film Cek Toko Sebelah. Dalam film Cek Toko Sebelah multikulturalisme dikemas berbeda tidak seperti pada film-film sebelumnya. Jika dalam produksi-produksi film yang pernah ada dan mengangkat tema multikulturalisme, selalu dikaitkan dengan percintaan yang beda agama atau etnis dan tak jarang juga dapat menimbukan perdebatan.

(2)

Gambar I.1 Cek Toko Sebelah

Sumber: www.imdb.com

(3)

Ernest selaku sutradara film Cek Toko Sebelah mengatakan bahwa film Cek Toko Sebelah didalamnya juga mengandung pesan pluralisme dan tidak jauh dari konflik seperti dalam kehidupan sehari-hari (www.kompas.com diakses pukul 21.00 WIB tanggal 9 Januari 2018). Hal tersebut merupakan ciri khas dari film Cek Toko Sebelah yang ingin memperlihatkan kepada penonton bahwa sebagai masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya sudah selayaknya dapat menerima perbedan dan dapat hidup berdampingan tanpa harus timbul konflik.

Hingga tahun 2016 tercatat bahwa masyarakat Indonesia belum dapat menerapkan multikulturalisme itu. Salah satunya adalah konflik yang terjadi pada Ahok (Gubernur DKI Jakarta 2016) yang dituduh dalam pidatonya melakukan penistaan agama.

Gambar I.2

Kasus Penodaan Agama, Ahok Divonis 2 Tahun

(4)

Dalam berita ini menjelaskan bahwa Ahok melakukan sosialisasi mengenai program budi daya ikan kerapu, namun saat tengah berpidato Ahok menyitir ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51. Dari 40 menit durasi pidato Ahok, potongan video sepanjang 13 detik ini kemudian diperdebatkan dan diduga melakukan penistaan agama. (www.detik.com diakses pada tanggal 24 November 2017 pukul 10.00 WIB). Dalam berita tersebut merupakan contoh bahwa adanya suku, agama, dan ras yang berbeda justru menyebabkan konflik dan dapat dilihat bahwa multikulturalisme belum dapat ditegakan di masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia belum dapat dengan mudah menghormati kebudayaan, agama ataupun ras yang berbeda. Masyarakat Indonesia belum dapat menangkap secara utuh arti multikulturalisme.

Mengingat bahwa Indonesia adalah negara yang multikultur, sudah seharusnya sebagai masyarakat harus bisa menerapkan multikulturalisme. Ada beberapa konsep Multikulturalisme, salah satunya disampaikan oleh Irwan dalam buku Mahfud (2006:76) Multikulturalisme jika ditarik menurut epistomologinya yaitu aliran yang di dalamnya terdapat banyak budaya dan terdapat orang-orang yang hidup di dalamnya. Multikulturalisme adalah penyetaraan budaya-budaya lokal dan tidak mengabaikan hak dari eksistensi budaya yang sudah ada.

(5)

yang berada di dalamnya, baik budaya, suku, agama, etnis, ras dan lain sebagainya.

Multikulturalisme semakin tumbuh dan berkembang, khususnya dalam masyarakat Indonesia. Berdasarkan observasi awal peneliti kepada informan yang memiliki suku, agama dan budaya yang berbeda.

“Saya lebih suka memakai kata “beragam” dibanding “berbeda”. Multikulturalisme sama dengan pandangan terhadap budaya yang beragam. Menerima setiap budaya tanpa membandingkan dengan budaya lain” (Sari (29), Batak, Kristen)

“Multikulturalisme menurutku ada beberapa kultur sosial budaya yang terdapat di suatu daerah yang menganutnya, berarti di dalamnya itu menghargai pluralisme dan keadilan yang merata bagi tiap orang” (Adhistaya (25), Bali, Hindhu)

“Menurutku, multikulturalisme seperti di Indonesia. Sebuah keniscayaan, mengingat Indonesia

merupakannegara multikultur, dengan berbagai suku, ras bahkan agama” (Catur (21), Jawa, Islam)

Pernyataan diatas merupakan pendapat dari beberapa informan yang telah dipilih oleh peneliti untuk melihat pandangan mereka mengenai multikulturalisme. Dari jawaban diatas dapat dilihat bahwa sebagian dari masyarakat dapat mengerti bahwa konsep multikulturalisme dapat menerima perbedaan dalam lingkungan, baik perbedaan suku, agama maupun budaya.

(6)

namun membuka tangan kepada kaum minoritas dan hidup beriringan bersama. Multikulturalisme di Indonesia terdapat kaitan erat dengan pembentukan masyarakat yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika, serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional dan menjadi pemersatu bangsa (Rustanto, 2015:40).

Oleh karena itu tidak sedikit industri film mengemas isu multikulturalisme dalam sebuah produksi film. Film merupakan media yang sangat ampuh, selain menghibur juga mendidik dan memberi penjelasan kepada penonton (Effendy, 2007:209). Pesan yang disampaikan dalam film diterima oleh jiwa seseorang tidak hanya ketika mereka sedang duduk melihatnnya di bioskop, tetapi terus sampai waktu yang cukup lama (Ardianto dan Erdinaya, 2005:138).

Penonton akan menciptakan makna dari apa yang mereka lihat dalam sebuah film. Menafsirkan sendiri makna suatu teks merupakan ciri dari khalayak aktif (Hidayat, 2001:14). Makna tersebut dari proses teks yang dihasilkan oleh media. Makna dihasilkan berbeda-beda sesuai dengan bagaimana penerimaan penonton terhadap isi atau pesan media (Pujileksono, 2016:169). Masing-masing penonton memiliki penafsiran sendiri menurut latar belakang dan pengalamannya. Tidak semua menyetujui apa yang disampaikan oleh media, artinya penerimaan isi media oleh khalayak aktif tidak secara otomotis disetujui oleh penonton. Khalayak bisa memberi makna secara berlawanan dengan apa yang tersaji oleh isi media tersebut (Hidayat, 2011:15).

(7)

menimbulkan perdebatan. Sehingga tidak dapat mencerminakan arti dari multukulturalisme yang dapat mengahargai perbedaan satu sama lain.

Gambar I. 3 Film “Tanda Tanya”

Sumber: www.youtube.com

Dalam ceritanya dikisahkan terdapat orang-orang dari latar belakang tiga kepercayaan yang berbeda yaitu Islam, Katolik dan Konghucu. Di dalamnya mencerita seperti kehidupan sehari-hari dan ada rasa toleransi meskipun berbeda agama, namun dalam film ini ada sebuah kisah seorang tokoh yang berpindah dan merelakan agamanya demi salah satu agama yang lain.

Gambar I. 4

Film “Cin(T)a God IS A DIRECTOR”

(8)

Selanjutnya adalah Film Cin(T)a God IS A DIRECTOR. Film yang mengisahkan dua orang yang saling suka namun berbeda agama, si pria adalah keturunan Tionghoa dan Kristen, sedangkan si perempuan adalah dari latar belakang agama Islam. Dalam film ini terlihat seperti dalam kehidupan nyata, namun ada ketidaktoleransian dan mengarah kepada rasis salah satu budaya.

Dalam penelitian ini peneliti ingin menggunakan Dewasa awal sebagai informan. Dewasa awal disini berumur 18-40 tahun. Informan yang dipilih nantinya dari suku yang berbeda yaitu Tionghoa, Jawa, Batak serta Papua. Peneliti memilih informan dari budaya tersebut dikarenakan di dalam film Cek Toko Sebelah, tokoh yang menggambarkan budaya-budaya tersebut yang paling dominan keluar dalam scene. Dewasa awal dianggap dapat mengembangkan sikap-siap baru maupun nilai-nilai yang baru. Selain itu dewasa awal mampu menyesuaikan diri secara mandiri (Hurlock, 1980:246). Sehingga nantinya penerimaan setiap informan berbeda-beda menurut latar belakang dan pengalamannya.

(9)

ditemukan multikulturalnya ketika tokoh saling bertemu, namun dalam sebuah hubungan yang memiliki kepercayaan yang berbeda, ia tidak perlu mengorbankan agamanya. Setiap orang harus kembali pada akar budayanya masing-masing. Budaya sudah ada di dalam diri setiap orang ketika mereka lahir, maka dari itu sebagai bangsa Indonesia harus bisa menghormati budayanya sendiri tanpa harus memaksa orang untuk ikut dalam budayanya.

Selain itu ada juga penelitian yang berjudul “Isu-Isu Multikulturalisme dalam Film cin(T)a-God is a Director dalam Konteks Keindonesian Sekarang” oleh Elisabett Christine Yuwono (2011) Universitas Kristen Petra. Penelitian ini memiliki persamaan objek, namun tidak dengan subjek ataupun metodenya. Isu-isu multikulturalisme dikomunikasikan lewat ungkapan media atau film. Perbedaan suku dan ras selalu menjadi masalah, terutama di Indonesia. Hasil dari penelitian ini yaitu agar para pembaca dapat merenungkan apa yang harus dilakukan jika ada dalam hubungan percintaan beda suku dan ras.

Kemudian yang terakhir ada penelitian berjudul “Penerimaan Penonton Mengenai Rasisme Dalam Film Ngenest” oleh Fenny (2013) Universitas Katolik Widya Mandala. Penelitian ini memiliki kesamaan metode, penelitian ini melihat bagaimana penerimaan penonton mengenai rasisme dalam film Ngenest. Dari hasil penelitian tersebut terdapat tiga hasil mengenai rasisme terhadap etnis Tionghoa dalam film itu. Ada yang setuju bahwa film tersebut rasis, adapula yang tidak setuju dan adapula yang memberi pendapat lain

(10)

makna isi pesan yang disampaikan dalam film tersebut. Selain itu yang menjadi pembaharuan dalam penelitian, penelitian ini dalam menjelaskan multikulturalisme tidak memfokuskan pada persoalan percintaan. Tetapi lebih menjelaskan bagaimana orang dapat hidup dalam perbedaan kebudayan serta keagamaan. Hidup berdampingan di kehidupan yang multikultural bisa tanpa harus menyakiti satu dan lainnya. Penekanannya penelitian ini juga lebih mendalam tentang multikulturalisme itu sendiri dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan.

Metode analisis resepsi dinilai sesuai dengan penelitian dengan judul Penerimaan Penonton Mengenai Multikulturalisme Dalam Film Cek Toko Sebelah. Karena ingin melihat bagaimana penerimaan penonton yang telah melihat isi dari film Cek Toko Sebelah mengenai pesan multikulturalisme yang disampaikan dalam bentuk komedi. Penelitian ini penting untuk diteliti dikarenakan berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek yang dipilih peneliti berjumlah 10 orang penonton filn Cek Toko Sebelah yang masing-masing akan mewakili suku, agama, jenis kelamin, pendidikan dan jenis pekerjaan guna mendapatkan pemakanaan yang beragam mengenai multikulturalisme yang ada dalam film Cek Toko Sebelah dan akan diwawancarai dengan model in depth interview.

(11)

memberikan pemaknaan yang berbeda menurut cara pandang dan pengalaman dari dalam dirinya memaknai sebuah isi pesan.

Khalayak nantinya akan mengemukakan makna tersebut dengan menggunakan tiga posisi yaitu menerima secara penuh (Dominant Reading), tidak sepenuhnya menerima dan tidak sepenuhnya menolak (Negotiated Reading) dan menolak (Oppostional Reading) (Pujileksono, 2016:170). Pada posisi dominant yakni khalayak akan secara penuh menerima makna yang disampaikan oleh media, posisi negotiated yakni dalam batas-batas tertentu menerima atau menolak, dan posisi oppositional yakni khalayak menolak makna yang disajikan oleh media dan menginterpretasikan sendiri.

I.2 Rumusan Masalah

Bagaimana Penerimaan Penonton Mengenai Multikulturalisme Dalam Film Cek Toko Sebelah?

I.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini yaitu mengetahui Penerimaan Penonton Mengenai Multikulturalisme Film Cek Toko Sebelah.

I.4 Batasan Masalah

(12)

penelitian yaitu penerimaan penonton mengenai multikulturalisme dalam film Cek Toko Sebelah.

Batasan subjeknya adalah 10 orang dengan batasan umur 18-40 tahun yang dibagi berdasarkan suku, agama, umur, jenis kelamin, pendidikan dan jenis pekerjaan. Masing-masing subjek mewakili kategori yang ditentukan, menurut jenis kelamin yaitu laki-laki atau perempuan, kemudian bedasarkan suku Tionghoa, Jawa, Batak dan Papua, kemudian berdasarkan agama yaitu Islam, Kristen, dan Katolik. Sedangkan menurut jenis pekerjaan yaitu bekerja atau tidak bekerja.

1.5 Manfaat Penelitian

I.5.1 Manfaat Akademis

1. Bermanfaat bagi mahasiswa untuk memperkaya wawasan dalam studi khalayak media dengan menggunakan reception analysis dan juga kajian multikulturalisme dalam media.

2. Menambah referensi penelitian komunikasi dalam kajian komunikasi massa, khususnya film yang mengangkat tema multikulturalisme.

(13)

I.5.2 Manfaat Praktis

1. Menambah wawasan masyarakat dan peneliti mengenai konten multikulturalisme di salah satu sisi dalam film Cek Toko Sebelah.

2. Sebagai media untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teori-teori yang telah diterima selama perkuliahan dalam meneliti unsur-unsur multikulturalisme yang ada di dalam film.

3. Memberi pembelajaran terhadap masyarakat dapat mempelajari mengenai multikulturalisme melalui film.

4. Berguna sebagai masukan bagi masyarakat yang akan mengadakan penelitian mengenai masalah serupa di masa yang akan mendatang.

Figur

Gambar I. 4
Gambar I 4 . View in document p.7

Referensi

Memperbarui...