• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN TINGKAT KEMATANGAN SISTEM INFORMASI BERDASARKAN CRITICAL SUCCESS FACTORS PADA INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM SURABAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUKURAN TINGKAT KEMATANGAN SISTEM INFORMASI BERDASARKAN CRITICAL SUCCESS FACTORS PADA INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM SURABAYA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUKURAN TINGKAT KEMATANGAN SISTEM INFORMASI

BERDASARKAN CRITICAL SUCCESS FACTORS PADA INSTALASI

RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM SURABAYA

Haryanto Tanuwijaya

Sistem Informasi STIKOM Surabaya haryanto@stikom.edu

Abstract

Many companies apply information technology aimed to improving the efficiency, effectiveness and productivity of business processes in achieving the goals that have been set forth. Information technology has become the key to business success in a variety of companies . To improve the quality of services to patients as customers, Surabaya general hospital has to apply information technology in the installation of hospitalization. To determine the extent of information systems services in the installation inpatient Surabaaya general hospital has been able to support the business processes optimally, therefore need to measure the maturity level of information systems that have been implemented by General Hospital Surabaya.

Measuring the maturity level of information systems focused on the critical operational activities from the Surabaya general hospital which is the Critical Success Factors of services to the patients. Critical Success Factors used due to provide the critical factors that affect the management successful and achievement of corporate goals. By analyzing Critical Success Factors, the General Hospital Surabaya can interpret business goals and objectives so that can prioritize critical operational activities. The results of the Critical Success Factors analysis on the business objectives of the inpatient Surabaya general hospital obtained six business objectives maturity level measurement in this study. This study uses six levels of maturity and Kempaiah defined by Luftman (2007) from the initial level or ad-hoc process with a value of 0 to the level with the optimized value with the value 5. The method of this research conducted by interview, observation and documentation is divided into five stages of implementation research.

This research resulted in the level of maturity of information systems (as-is) in inpatient general hospital Surabaya at 2.6 (commitment). This maturity level is still far below the expected level (to-be) at 4.0. The research results denote the biggest gaps of maturity level lies in the flexibility to change the smallest business to the level of maturity that is equal to 2.39. The training program which has been scheduled must be done to improve the knowledge and skills of personnel and users of information systems. It takes a commitment from all the staff and top management of the Surabaya general hospital. Furthermore, compliance to use information systems in the hospital environment need to enforced so that the level of maturity of the public hospital information system implemented can achieve the level of 4.0 as determined top management of Surabaya general hospital.

Keywords:maturity level, information system, critical success factors

1.

Pendahuluan

Teknologi informasi sudah berfungsi sebagai kunci kesuksesan bisnis di banyak perusahaan. Perusahaan menerapkan teknologi informasi bertujuan meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas proses bisnis dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Sebagai organisasi yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Rumah Sakit Umum (RSU) Surabaya telah menerapkan teknologi informasi guna meningkatkan kualitas layanan kepada para pasien sebagai pelanggannya sebagai bagian dari strategi bisnis dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kotler dan Fox (1985) bahwa kualitas layanan pada pelanggan akan berdampak pada peningkatan kepuasan, dan loyalitas pelanggan dapat menjadi alat diferensiasi dengan produk pesaing (Haryono, 2005). Untuk mengetahui sejauh mana layanan teknologi informasi mampu mendukung proses bisnis secara optimal mulai dari tingkat operasional sampai strategik, maka perlu dilakukan pengukuran tingkat kematangan sistem informasi yang telah diterapkan instalasi rawat inap RSU Surabaya. Pengukuran tingkat kematangan sistem informasi penting agar perusahaan dapat memperbaiki kesenjangan (gap) yang terjadi dan meningkatkan tata kelola untuk memperoleh hasil optimal dari penerapan sistem informasi perusahaan (Ciorciari dan Blattner, 2008). Pengukuran tingkat kematangan bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan penerapan sistem informasi yang telah dilakukan dan memastikan ketersediaan layanan sistem informasi dalam memenuhi kebutuhan tujuan bisnis saat ini maupun masa yang akan datang.

Untuk meningkatkan kesuksesan ketersediaan layanan sistem informasi, maka pengukuran tingkat kematangan sistem informasi difokuskan pada aktivitas operasional yang menjadi kunci kesuksesan bisnis RSU Surabaya yang disebut Critical Success Factors (CSF). Menurut Rockart (1979) metode CSF sangat strategis karena relevansinya terhadap bisnis. CSF menyajikan faktor-faktor kritis yang berpengaruh pada kesuksesan atau kegagalan fungsi manajemen atau pencapaian tujuan (Tozer, 1996). Dengan melakukan analisis CSF, maka RSU Surabaya dapat menginterpretasikan

(2)

dibutuhkan, dan menentukan layanan sistem informasi dalam mendukung kesuksesan penerapan strategi dan tujuan bisnis RSU Surabaya.

Rumusan masalah penelitian ini menjawab pertanyaan berapa tingkat kematangan sistem informasi yang telah diimplementasikan di instalasi rawat inap RSU Surabaya selama ini yang difokuskan pada aktivitas yang memenuhi kriteria CSF. Penelitian ini bertujuan menghasilkan tingkat kematangan sistem informasi yang telah diterapkan di instalasi rawat inap RSU Surabaya beserta permasalahannya. Hasil pengukuran tingkat kematangan sistem informasi dalam penelitian ini bermanfaat bagi RSU Surabaya untuk menentukan prioritas proses yang perlu dilakukan untuk mencapai tingkat kematangan sistem informasi yang lebih baik yaitu tingkat 4,0 atau managed agar strategi sistem dan teknologi informasi lebih selaras dengan bisnis RSU Surabaya.

2.

Landasan Teori

2.1 Critical Success Factors

Critical Success Factors (CSF) merupakan beberapa area kunci dimana sesuatu harus berjalan dengan baik sehingga keberhasilan bisnis dapat dicapai. Menurut Ward dan Peppard (2002), CSF merupakan area terbatas dalam bisnis yang harus dipenui perusahaan untuk mencapai kesuksesan kinerja kompetitif perusahaan. Sedangkan O’brien (2005) mengartikan CSFsebagai sejumlah kecil faktor-faktor utama yang dianggap oleh para eksekutif sebagi hal penting untuk kesuksesan perusahaan.

Analisis terhadap CSF dalam perusahaan dapat meningkatkan peluang kesuksesan implementasi teknologi informasi yang sesuai dengan visi, misi sistem informasi (SI). Dengan CSF ini, maka interpretasi tujuan bisnsi dan sasaran organisasi dalam perancangan strategis sistem informasi dapat dilihat lebih jelas untuk menentukan aktivitas yang harus dilakukan dan informasi yang dibutuhkan untuk mendukungnya. Ward dan Peppard (2002) menyatakan enam manfaat dilakukannya analisis CSF sebagai berikut.

1. Analisis CSF merupakan teknik yang paling efektif dalam melibatkan manajemen senior untuk mengembangkan strategi SI.

2. Analisis CSF menghubungkan proyek sistem informasi dengan tujuannya, sehingga sistem informasi dapat direalisasi selaras dengan strategi bisnis perusahaan.

3. Analisis CSF dapat menjadi media yang baik untuk mengetahui informasi yang dibutuhkan setiap individu dalam perusahaan.

4. Analisa CSF memegang peran penting dalam memprioritaskan investasi modal yang potensial.

5. Pada saat strategi bisnis tidak berjalan sesuai dengan tujuan perusahaan, analisis CSF berguna dalam perencanaan sistem informasi agar dapat fokus pada faktor atau masalah yang paling kritis.

6. Analisis CSF berguna apabila dipergunakan sejalan dengan analisis value chain dalam mengidentifikasikan proses yang paling kritis dan memfokuskan pada pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan yang paling tepat untuk dilaksanakan.

2.2 Kematangan Keselarasan Strategi Teknologi Informasi dan Bisnis

Luftman dan Kempaiah (2007) menetapkan enam kriteria kematangan keselarasan strategi teknologi informasi dan bisnis perusahaan sebagai berikut.

1. Komunikasi. Efektivitas pertukaran informasi antara teknologi informasi dan bisnis perusahaan perlu diukur untuk menentukan sejauh mana pemahamanan bisnis dengan teknologi informasi dan sebaliknya.

2. Nilai. Metrik bisnis, metrik teknologi informasi, dan metrik untuk mengukur teknologi informasi dan bisnis digunakan untuk menentukan kontribusi teknologi informasi pada bisnis perusahaan.

3. Tata Kelola. Penentuan siapa yang berhak membuat keputusan dan proses yang digunakan pada setiap level untuk mengidentifikasi prioritas dalam pengadaansumber daya teknologi informasi.

4. Kemitraan

.

Kriteria ini mengukur kontribusi teknologi informasi, hubungan antara bisnis dan teknologi informasi perusahaan, serta kesepakatan dalam mencapai tujuan dan saling percaya di antara kedua belah pihak.

5. Ruang Lingkup dan Arsitek. Kemampuan fleksibilitas organisasi teknologi informasi untuk menyediakan infrastruktur, mengevaluasi dan mengelola teknologi terkini dapat memfasilitasi perubahan dalam proses bisnis akan dinilai.

6. Keterampilan. Kriteria terkait personel, seperti retensi, perekrutan, pelatihan, jenjang karir, dan sebagainya, dilakukan dan dinilai bersama dengan kesiapan organisasi menghadapi perubahan, pembelajaran, dan pemanfaatan ide-ide baru.

2.3 Teknologi Informasi dan Perkembangannya

Nolan (1979) dalam Li, Rogers dan Chang (1994) membagi tahapan perkembangan teknologi informasi ke dalam enam tahapan yaitu: tahap permulaan, penalaran, pengendalian, integrasi, administrasi data dan tahap kematangan. Keenam tahapan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.

(3)

Gambar 1. Enam Tingkat Perkembangan Teknologi Informasi.

Tahap Permulaan, Penalaran, dan Pengendalian merupakan prior stage, dimana faktor yang dianggap penting terletak pada dukungan dana dan kemampuan teknik dari personel teknologi informasi. Tahap berikutnya yaitu tahap Integrasi, Administrasi Data, dan Kematangan merupakan posterior stage, dimana faktor yang penting terletak pada independensi divisi teknologi informasi, komite pelaksana dan keterlibatan pengguna teknologi informasi.

2.4 Tingkat Kematangan

Tingkat kematangan merupakan gambaran kematangan proses teknologi informasi yang berlangsung pada sebuah perusahaan. Model kematangan dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan benchmarking dan self-assessment oleh manajemen teknologi informasi untuk menilai kematangan teknologi informasi yang telah diimplementasikan. Dengan model kematangan, manajemen dapat mengidentifikasikan hal-hal sebagai berikut.

1. Kinerja aktual dari perusahaan – posisi perusahaan saat ini. 2. Status industri saat ini – perbandingan.

3. Target perbaikan bagi perusahaan – ke mana perusahaan ingin dibawa. 4. Arah pengembangan yang diperlukan dari as-is menjadi to-be.

Konsep kematangan sistem informasi untuk menentukan sejauh mana penggunaan sistem informasi guna meningkatkan efisiensi, efektivitas, kualitas, dan respons konsumen. Dengan kematangan sistem informasi akan mempercepat perusahaan dalam merespons kepada perubahan lingkungan bisnis.

Model yang digunakan untuk mengendalikan proses teknologi informasi terdiri dari pengembangan suatu metode penilaian sehingga organisasi dapat melakukan evaluasi diri dari level non-existent dengan nilai 0 sampai dengan level optimized dengan nilai 5 yang ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2.Tingkatan Kematangan (Sumber: IT Governance Institute, 2007)

Tingkat kematangan keselarasan ditetapkan Luftman dan Kempaiah (2007) menjadi enam tingkatan sebagai berikut. 1. Initial or ad-hoc processes. Pada tingkat ini, strategi TI dan bisnis tidak selaras, jenjang karir, dan pendukung bisnis. TI hanya dipandang sebagai biaya dan difokuskan hanya untuk mendukung operasional back-office. Komunikasi dalam perusahaan sangat minim dan kontribusi satu dengan yang lain tidak teridentifikasi

.

2. Committed processes. Pada tingkat ini, hubungan TI dan bisnis sudah berada pada tingkat advanced, dimana interaksi TI dengan bisnis berbasis transaksi. TI dipandang dari orientasi teknikal dan biaya sehingga keterampilan teknikal merupakan hal terpenting dari TI. Anggota perusahaan tidak sepenuhnya mengerti peran dan tanggungjawab satu dengan lainnya.

3. Established, focused processes.Pada tingkat ini, TI sudah eksis dan menjadi aset penting bagi bisnis. Meskipun TI masih dipandang sebagai biaya, namun investasi berpotensi direalisasikan. Dukungan bisnis dan jenjang karir menunjukkan tingkat kematangan dan SLA digunakan di semua bagian perusahaan.. Pada tingkat ini, keterampilan teknis dan bisnis sangat penting bagi para manajer.

4. Improved, managed processes. Pada tingkat ini, beberapa proses penyelarasan strategik TI dan bisnis telah dilaksanakan, dan TI sudah dilibatkan dalam pengambilan keputusan, penyedia layanan, dan dianggap sebagai nilai aset dan enabler perubahan. TI dan bisnis saling berbagi risiko dan infrastruktur TI digunakan untuk mencapai keunggulan kompetitif. Pada tingkat ini, kesenjangan antara strategi bisnis dan TI sudah semakin menyempit. Jenjang karir dari sisi teknis dan keterampilan bisnis menjadi sangat penting bagi perusahaan.

0 Non-Existent : proses manajemen tidak ada.

1 Initial : proses bersifat adhoc dan tidak terorganisir. 2 Repeatable : proses mengikuti pola yang teratur. 3 Defined : proses didokumentasi dan dikomunikasikan. 4 Managed : proses dimonitor dan diukur.

5 Optimized : proses otomatis dan mengikuti standar.

ARTI SIMBOL ARTI RANGKING

Posisi Perusahaan Saat Ini Praktek Terbaik Industri Strategi Perusahaan Non-Exsist. 0 Initial 1 Repaetable 2 Defined 3 Managed 4 Optimized 5 Tahap Permulaan (Unitiation) Tahap Penalaran (Contagion) Tahap Pengendalian (Control) Tahap Integrasi (Integration) Tahap Administrasi Data (Data Admin.) Tahap Kematangan (Maturity)

(4)

5. Optimized processes. Keselarasan strategi TI dan bisnis sudah dilaksanakan secara optimal di seluruh perusahaan. Perencanaan strategis TI dan bisnis terintegrasi di dalam maupun di luar lingkungan perusahaan. IT bermanfaat meningkatkan rantai nilai pelanggan eksternal dan pemasok. Perusahaan berbagi pengetahuan dan metrik untuk entitas eksternal sepertimitra, pelanggan, pemasok, dan organisasi lainnya.

3.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara kepada personel yang memenuhi kriteria responsible, accountable, consult, dan inform yang disingkat RACI (IT Governance Institue, 2005). Selain wawancara, dilakukan juga observasi terhadap proses bisnis dan penggunaan SI yang telah diimplementasikan, dan studi dokumentasi yang dimiliki instalasi rawat inap RSU Surabaya. Penelitian ini terbagi ke dalam lima tahapan sebagaiman tampak pada Gambar 3.

Gambar 3. Tahapan Penelitian

1. Tahap pertama, melakukan identifikasi terhadap lingkungan bisnis perusahaan melalui wawancara dan observasi awal.

2. Tahap kedua, melakukan analisis Critical Success Factors tujuan bisnis perusahaan.

3. Tahap ketiga, melakukan pengukuran tingkat kematangan melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi berkaitan dengan fakta dan bukti pelaksanaan teknologi informasi.

4. Tahap keempat, mengkalkulasi tingkat kematangan yang diperoleh dan menggambar jaring laba-laba.

5. Tahap kelima, melakukan analisis kesenjangan tingkat kematangan berdasarkan hasil pengukuran tingkat kematangan yang telah dilakukan. .

4.

Pembahasan

4.1 Analisis Cricital Success Factor

Setelah melakukan identifikasi terhadap lingkungan bisnis perusahaan melalui wawancara dan observasi awal, kemudian menentukan visi, misi dan objektif bisnis. Langkah selanjutnya melakukan analisis CSF untuk mengidentifikasi dan menganalisis tujuan bisnis pelayanan instalasi rawat inap RSU Surabaya yang menjadi kunci peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien sebagai pelanggannya. Tujuan bisnis pelayanan instalasi rawat inap RSU Surabaya yang memenuhi CSF menjadi prioritas dalam pengukuran tingkat kematangan untuk mengetahui kesenjangan yang terjadi dari penerapan SI selama ini atau as-is. Mengacu pada pernyataan Ciorciari dan Blattner (2008), melalui analisis CSF ini, maka RSU Surabaya dapat segera memperbaiki kesenjangan (gap) yang terjadi sehingga dapat memperoleh hasil optimal dari penerapan sistem informasi perusahaan.

Berdasarkan analisis CSF dalam penelitian ini diperoleh enam tujuan bisnis yang membutuhkan dukungan sistem informasi dalam mencapai keberhasilan pelayanan instalasi rawat inap RSU Surabaya sebagi berikut.

1. Peningkatan layanan berorientasi pelanggan. 2. Penawaran produk dan jasa yang kompetitif. 3. Ketersediaan dan kelancaran layanan. 4. Fleksibilitas terhadap perubahan bisnis. 5. Penekanan biaya layanan.

6. Perolehan informasi berkualitas untuk membuat keputusan strategis.

4.2 Pengukuran Tingkat Kematangan Keselarasan

Pengukuran tingkat kematangan keselarasan tujuan bisnis dan TI dilakukan melalui wawancara kepada setiap personel yang memenuhi kriteria RACI, dan observasi proses bisnis dan pemanfaatan SI yang telah diterapkan selama ini. Hasil pengukuran tingkat kematangan sistem informasi keenam tujuan bisnis selengkapnya dapat dilihat pada pada Tabel 1. Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kematangan tersebut, kemudian digambarkan jaring laba-laba seperti tampak pada Gambar 4. Identifikasi lingkungan bisnis Analisis CSF Pengukuran Tingkat Kematangan Kalkulasi dan Jaring Laba-Laba Analisis KesenjanganTing kat Kematangan

(5)

Tabel 1. Tingkat Kematangan Keselarasan tujuan Bisnis dan Teknologi Informasi RSU Surabaya

Gambar 4. Jaring Laba-Laba Tingkat Kematangan SI IRI RSU Surabaya

Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kematangan sistem informasi instalasi rawat inap RSU Surabaya saat ini (as-is) berada pada tingkat kematangan 2,60. Mengacu pada ketetapan Luftman dan Kempaiah (2007), tingkat kematangan 2,60 berada pada tingkat Committed Processes. Tingkat kematangan ini menunjukkan bahwa interaksi TI dengan bisnis sudah berbasis transaksi dan sudah berada pada tingkat advanced. Seluruh transaksional pada instalasi rawat inap RSU Surabaya telah menggunakan sistem informasi sehingga timbul ketergantungan pada SI yang ada. Pada tingkat ini, keterampilan teknikal sangat dibutuhkan karena TI masih dipandang dari orientasi teknikal dan anggota perusahaan tidak sepenuhnya mengerti peran dan tanggungjawab satu dengan lainnya (Luftman dan Kempaiah, 2007). Kondisi tersebut tampak dari minimnya peningkatan pengetahuan dan pengembangan keterampilan para personel dan pengguna SI baik melalui seminar maupun training. Dan yang tidak kalah penting untuk menjadi perhatian adalah kurangnya kepedulian pengguna atas permasalahan yang muncul dalam pemanfaatan SI dalam lingkungan kerja.

4.3 Analisis Tingkat Kesenjangan Tingkat Kematangan

Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kematangan SI, diperoleh kesenjangan tingkat kematangan sistem informasi yang telah diimplementasikan. Kesenjangan terbesar berada pada tujuan bisnis fleksibilitas terhadap perubahan bisnis dengan tingkat kematangan terkecil sebesar 2,39, sedangkan kesenjangan terkecil berada pada tujuan bisnis ketersediaan dan kelancaran layanan dengan tingkat kematangan tertinggi sebesar 2,73.

Besarnya kesenjangan pada fleksibilitas terhadap perubahan bisnis menunjukkan bahwa SI yang diimplementasikan selama instalasi rawat inap RSU Surabaya selama ini tidak mudah beradaptasi terhadap perubahan bisnis yang terjadi di masa mendatang. Kurangnya pemahaman organisasi akan fleksibilitas sistem informasi dapat menyebabkan organisasi mengabaikan keterampilan individu (Fullerton, 2010). Hal ini terbukti dari minimnya pelatihan kepada para personel dan pengguna SI sehingga berpengaruh pada lemahnya kemampuan personel SI mengidentifikasi dan mengantisipasi perubahan pasar. Secara keseluruhan, hasil pengukuran tingkat kematangan SI dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kematangan sistem informasi pada instalasi rawat inap RSU Surabaya masih berada jauh dari tingkat yang diharapkan (to-be) yaitu 4,0.

5.

Kesimpulan

Penelitian ini berhasil mengukur tingkat kematangan (maturity level) sistem informasi instalasi rawat inap RSU Surabaya pada saat ini (as-is) yaitu sebesar 2,6 (committed processes) dan masih jauh dibawah tingkat kematangan yang ingin diharapkan (to-be) yaitu 4,0.

Kesenjangan terbesar tingkat kematangan sistem informasi terletak pada fleksibilitas terhadap perubahan bisnis dengan

Critical Success Faktors Proses Bisnis Tingkat Kematangan

Peningkatan layanan berorientasi pelanggan (PLBP) 2,70

Penawaran produk dan jasa yang kompetitif (PPJK) 2,40

Ketersediaan dan kelancaran layanan (KKL) 2,73

Fleksibilitas terhadap perubahan bisnis (FPB) 2,39

Penekanan biaya layanan (PBL) 2,68

Perolehan informasi berkualitas untuk membuat keputusan strategis (PIBKS) 2,72

Rata-rata 2,60 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 PLBP PPJK KKL FPB PBL PIBKS Tingkat Kedewasaan saat ini Tingkat Kedewasaan yang diharapkan

(6)

ditingkatkan melalui training yang terjadwal secara rutin. Komitmen seluruh staf dan pimpinan RSU Surabaya terhadap penggunaan SI perlu ditingkatkan agar lebih peduli terhadap pemanfaatan SI di lingkungan RSU Surabaya. Perlu perencanaan SI dan dilaksanakan dengan konsisten agar keselarasan strategi SI-bisnis dapat tercapai dan tingkat kematangan dapat mencapai 4,0 seperti yang diharapkan pimpinan RSU Surabaya.

Keterbatasan penelitian ini adalah minimnya dokumentasi data dan evaluasi yang pernah dilakukan sebelum penelitian ini dilaksanakan. Dengan hanya berdasarkan data saat ini, sulit memperoleh fakta-fakta positif tentang perkembangan implementasi SI di lingkungan instalasi rawat inap RSU Surabaya.

Penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk mengukur tujuan bisnis secara keseluruhan dan pengaruh divisi lain RSU Surabaya terhadap keberhasilan penerapan sistem informasi yang telah dilakukan. Penelitian selanjutnya dapat diperluas dengan menggunakan metode lain sebagai pembanding hasil penelitian ini.

6.

Daftar Pustaka

[1] Ciorciari, M., dan Blattner, P. (2008). Enterprise Risk Management Maturity-Level Assessment Tool, ERM Symposium, Chicago, pp. 14-16.

[2] Fullerton, T. (2010). Information Technology Flexibility: A Synthesized Model From Existing Literature. Journal of Information Technology Management, 21(3), 51-59

.

[3] Haryono, S. (2005). Kualitas Pelayanan Sebagai Daya Saing Bagi Perusahaan Jasa. Jurnal Administrasi Bisnis, 1(2), 8-14

.

[4] Information Technology Governance Institute. (2007). COBIT 4.10: Control Objective, Management Guidelines, Maturity Models. United States of America: IT Governance Institute.

[5] Kotler, P., dan Fox, K.F. (1995). Strategic Marketing for Educational (2nd ed.). New Jersey: Prentice-Hall, Inc. [6] Li, E.Y., Rogers, J.C., dan Chang, A. (1994). The Empirical Reassessment of the Measure of Information Systems

Sophistication. Information Resources Management Journal. 7(3), 3-19

.

[7] Luftman, J.N., dan Kempaiah, R. (2007). An Update on Business-IT Alignment: “A Line” Has Been Drawn. MIS Quarterly Executive, 6(3), 165-177.

[8] O’brien, J.A. (2005). Introduction to Information System (12th Ed.). New York: McGraw Hill Companies Inc. [9] Rockart, J. (1979). Chief Execurives Define their own Information Needs. Harvard Business Review, 57(2), 81-93. [10] Tozer, E.E. (1996). Strategic IS/IT Planning. Graham Douglas, USA.

[11] Ward dan Peppard. (2002). Strategic Planning for Information Systems (3th ed.). New York: John Wiley & Sons Inc.

Gambar

Gambar 2.Tingkatan Kematangan (Sumber: IT Governance Institute, 2007)
Gambar 3. Tahapan Penelitian
Tabel 1. Tingkat Kematangan Keselarasan tujuan Bisnis dan Teknologi Informasi RSU Surabaya

Referensi

Dokumen terkait

Bahwasanya untuk timbangan majemuk uang retribusi ditambah dapat dimengerti karena untuk pemeriksaan pesawat semacam ini diperlukan lebih banyak waktu daripada pemeriksaan

Menurut Peraturan Rektor Universitas Negeri Semarang Nomor 09 Tahun 2010 tentang Pedoman Praktik Pengalaman Lapangan bagi Mahasiswa Program Kependidikan Universitas

Tarbiyyah al-Aulād fī al-Islām , kemudian dianalisis dengan didukung data-data sekunder untuk selanjutnya melalui analisis isi, data-data tersebut akan ditarik

Setelah melakukan identifikasi tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis instruksional yaitu sebuah prosedur yang digunakan untuk

“Kami selaku pimpinan, telah bermusyawarah dan selalu merapatkan strategi apa saja yang akan diadakan dalam program keagamaan, agar setiap tahunnya pembiasaan yang

spesifik identitas transnasional 26. Selanjutnya Cronin menyebutkan tiga elemen penting di dalam pembangunan Security Community, yakni: 1) identitas transnasional; 2) persepsi

Metode: Penelitian retrospektif dari catatan medik pasien baru melasma yang meliputi jumlah pasien, distribusi umur, jenis kelamin, pekerjaan, faktor risiko, riwayat

Berdasarkan dari hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa hasil jadi pewarnaan dylon pada bulu entok sebagai aksesoris headpiece dengan jumlah tawas