BAB IV TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN HAKIM NOMOR :191/PID.B/2016/PN.PDG

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB IV

TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN HAKIM NOMOR :191/PID.B/2016/PN.PDG

4.1. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Pidana Nomor: 191/Pid.B/2016/Pn.Pdg

Pada dasarnya hakim dapat diartikan sebagai orang yang bertugas untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, menghukum orang yang berbuat salah dan membenarkan orang yang benar. Dalam menjalankan tugasnya, seorang hakim tidak hanya bertanggung jawab kepada pihak-pihak yang berpekara saja dan menjadi tumpuan harapan pencari keadilan, tetapi juga mempertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam memutuskan suatu perkara, hakim bertugas menerima, memeriksa dan mengadili perkara yang telah dituntut oleh Penuntut Umum (jaksa). Setelah diputuskan oleh Penuntut Umum, hakim bertugas untuk mengadili dengan seadil-adilnya, dengan adanya suatu pertimbangan hakim. Dan dalam memutuskan perkara, hakim bisa memberikan sanksi di atas tuntutan, sama dengan tuntutan, bahkan bisa lebih rendah dari pada tuntutan (Estiono 2017).

Dalam penjatuhan putusan pidana, hakim menggunakan pertimbangan yuridis, yaitu pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yang ada dipersidangan. Begitu juga dengan Pengadilan negeri yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dengan nomor perkara 191/Pid.B/2016/Pn.Pdg. Di pengadilan ini para hakim menganalisa antara fakta-fakta persidangan dengan unsur-unsur dakwaan (Estiono 2017) yang mana fakta-fakta dalam persidangan tersebut dalam bentuk alat bukti terdapat dalam pasal 184 ayat (1) KUHAP yaitu :

(2)

1. Keterangan saksi

Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia liat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. (Eddy O.S. Hiariej, 2012: 100).

2. Keterangan ahli

Keterangan ahli menurut KUHP adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memilki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Sedangkan dalam Pasal 186 KUHAP dinyatakan bahwa keterangan seorang ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

3. Surat

Sesuatu yang mengandung tanda-tanda baca yang dapat dimengerti, dimaksud untuk mengeluarkan isi pikiran.

4. Petunjuk

Petunjuk sebagaimana ketentuan pasal 188 ayat (1) dan (2) adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa.

5. Keterangan terdakwa

Keterangan terdakwa sebagaimana ketentuan Pasal 189 ayat (1) KUHP ialah apa yang terdakwa nyatakan dipersidangan tentang perbuatan yang dilakukannya atau yang ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri.

Alat bukti diartikan sebagai segala hal yang dapat digunakan untuk membuktikan perihal kebenaran suatu peristiwa dalam

(3)

pengadilan. (Eddy O.S. Hiarij: 52). Mengenai apa yang dimaksud dengan barang bukti dalam perkara pidana, Andi Hamzah menyatakan bahwa : “Barang bukti dalam perkara pidana adalah barang bukti mengenai mana delik tersebut dilakukan (objek delik) dan barang dengan mana delik dilakukan (alat yang dipakai untuk melakukan delik), termasuk juga barang yang merupakan hasil dari suatu delik.

Dalam perkara ini selain alat bukti yang tersebut di atas, juga terdapat alat bukti lain yang dihadirkan dalam persidangan yaitu uang sewa tempat sebesar Rp.25.000 (dua puluh lima ribu rupiah) dan yang didapatkan pada saat pemeriksaan oleh pihak kepolisian ditempat tersebut berupa kartu remi dan uang sebesar Rp.310.000 (tiga ratus ribu rupiah). Dengan adanya fakta-fakta di persidangan berupa alat bukti uang sebanyak Rp.25.000 (dua puluh lima ribu rupiah) dan kartu remi serta keterangan para saksi ini menjelaskan bahwa terdakwa mengakui perbuatannya.

Sedangkan unsur-unsur dakwaan yaitu: 1. Barang siapa ;

2. Tanpa mendapat izin dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam perusahaan itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata cara.

Adapun yang dimaksud dengan barang siapa adalah setiap orang yang dapat dijadikan subyek hukum yang dari padanya dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana dan subjek dari perbuatan yang dilakukannya yaitu terdakwa Derwin Saputra yang diajukan dalam perkara ini sebagai pelaku tindak pidana.

Berdasarkan tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa dalam putusan terdapat hal-hal yang meringankan dan yang memberatkan terdakwa. Hal-hal yang memberatkan terdakwa yaitu Terdakwa tidak

(4)

mengindahkan program pemerintah daerah yang sedang giat-giatnya memberantas perjudian. Sedangkan hal-hal yang meringankan terdakwa diantaranya terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa berlaku sopan dalam persidangan dan mengakui perbuatannya sehingga tidak menyulitkan jalannya persidangan, terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, dan terdakwa mempunyai tanggungan keluarga istri dan anak (Putusan Nomor 191/ Pid.B/ 2016/PN.Pdg). Maka dari hal yang meringankan inilah hakim dapat menjatuhkan pidana yang adil kepada terdakwa. Majelis hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan yang meringankan pidana bagi terdakwa dan mengingat pula bahwa tujuan penjatuhan pidana bukanlah untuk balas dendam, melainkan lebih bersifat pembinaan dan pencegahan lebih lanjut agar setiap orang yang telah melakukan perbuatan melanggar hukum yang pada dirinya masih ada peluang untuk diperbaiki, maka orang tersebut harus diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

Dengan demikian semua unsur dari kejahatan ini telah terbukti dan terpenuhi sehingga berdasarkan fakta-fakta di persidangan Majelis hakim memutuskan bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut pasal 303 ayat (1) ke-2 KUHP yang berbunyi: : “Dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam perusahaan untuk itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata cara”.

Maka berdasarkan pertimbangan hakim yang telah mempertimbangkan antara fakta-fakta dipersidangan dan unsur-unsur dakwaan, serta hal-hal yang meringankannya tersebut, maka hakim

(5)

menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) bulan dan 15 (lima belas) hari (Estiono 2017).

4.2. Analisis Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Hakim Nomor: 191/Pid.B/2016/Pn.Pdg Tentang Sanksi Perjudian

Dalam hukum Islam seseorang yang melakukan perbuatan tindak pidana, sanksi dan hukumannya harus ditujukan kepada pelaku yang bersangkutan dan tidak dapat ditanggungkan oleh siapapun, baik keluarganya ataupun kerabatnya. Seperti yang ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi :























































































































Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir." (Q.S Al-Baqarah :286)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan tanggung jawab sesuai dengan kesanggupan hambanya. Artinya apabila seseorang melakukan kejahatan maka ia harus menanggung dosa-dosa

(6)

atas perbuatannya sendiri. Dan begitu juga sebaliknya apabila seseorang melakukan perbuatan yang baik maka ia akan mendapatkan pahala yang setimpal dengan apa yang ia lakukan.

Dan juga firman Allah dalam surat Al-Israa’ ayat 15 yang berbunyi :

























































Artinya: Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Q.S Al-Israa’: 15)

Ayat ini menjelaskan bahwa hukuman tidak dapat dibebankan kepada orang lain, baik orang tua maupun keluarga. Hukuman hanya diberlakukan kepada si pelaku tindak pidana yang melakukan perbuatan melanggar hukum.

Dalam kehidupan bermasyarakat orang yang melakukan perbuatan menyimpang dan meresahkan kehidupan masyarakat akan merasa dirugikan atau dizalimi, maka ada haknya untuk menutut dengan jalan mengadukan kepada pihak yang berwajib untuk menetapkan keadilan yang seadil-adilnya ke pengadilan. Bagi para Hakim dalam mengambil suatu keputusan harus mengacu kepada sumber-sumber yang benar yaitu seperti AL-Quran, As-Sunnah, Undang-undang dan sumber lain yang mendukung. Hendaklah pemberi keputusan (Hakim) menunaikan kewajibannya dan memberikan putusan yang baik sebagaimana Allah memerintahkan agar berbuat adil dalam menetapkan hukum di antara manusia, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an Surat an-Nisa’ ayat 58 :

(7)































































Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah

adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”

(Q.S an-Nisa’ ayat 58).

Kemudian dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 8 :





























































Artinya: “Hai orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. al-Maidah ayat 8).

Ayat ini menjelaskan bahwa hendaklah kalian senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah dan melaksanakan persaksian di antara manusia dengan benar. Janganlah kebencian kepada suatu kaum membawa kalian untuk bersikap tidak adil kepada mereka. Tetaplah berlaku adil, karena keadilan merupakan jalan terdekat menuju ketakwaan kepada Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya.

(8)

Dari ayat-ayat di atas menerangkan kepada orang-orang yang beriman, bahwa apabila seseorang melakukan kejahatan maka hanya dia sendiri yang menanggung dosanya. Dan dalam menetapkan hukum hendaklah dengan adil, serta apabila diminta untuk bersaksi maka menjadi saksi tersebut hendaknya karena Allah Swt, baik terhadap dirinya sendiri, dan terhadap kerabatnya. Menjadi saksi adalah salah satu kewajiban setiap orang yang mengetahui tentang hal yang diketahuinya untuk memberikan keterangan yang benar.

Adapun tentang pembuktian dalam kasus ini hampir sama dengan pembuktian dalam hukum pidana Islam, diantaranya yaitu:

1. Pengakuan

Pengakuan adalah suatu pernyataan yang menceritakan tentang suatu kebenaran atau mengakui kebenaran tersebut

.

Dalam kasus ini, didepan persidangan terdakwa telah mengakui perbuatan yang telah ia lakukan. Ia mengakui dan menyadari bahwa perbuatannya tersebut tidaklah baik. Sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an Surat an-Nisa’ ayat 135 :























































































Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha

(9)

mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.(Q,S An-Nisa’ : 135)

Penyaksian seseorang atas dirinya sendiri ditafsirkan sebagai suatu pengakuan atas perbuatan yang dilakukannya.

2. Persaksian

Kesaksian dalam bahasa Arab dikenal dengan AS- Syahadah, yaitu pernyataan atau pemberitaan yang pasti. Sedangkan menurut syara’ adalah ucapan yang keluar yang diperoleh dengan penyaksian langsung atau dari pengetahuan yang diperoleh dari orang lain karena beritanya telah beredar. Kesaksian dalam kasus ini diambil dari para pemain-pemain judi yang bermain di tempat terdakwa. Kesaksian ini dihadiri oleh lima orang saksi. Dasar hukum persaksian sebagai alat bukti terdapat di dalam Al-Qur’an surat Ath- Thalaq ayat: 2 yang berbunyi:







Artinya: dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. (Q.S Ath-Thalaq: 2)

3. Qarinah

Qarinah adalah setiap tanda-tanda yang jelas menyertai sesuatu yang samar, sehingga tanda tersebut menunjukkan kepadanya. Dalam kasus ini terdapat tanda-tanda atau petunjuk yang menyatakan bahwa terdakwa telah menyediakan tempat untuk bermain judi, yang mana yaitu adanya alat bukti uang dan kartu remi.

Berdasarkan hal ini, maka pembuktian yang ada dipersidangan dalam kasus ini sudah sesuai dengan pembuktian dalam hukum pidana Islam, serta hal-hal yang terungkap dipersidangan dari keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa hingga barang bukti dan juga dikaitkan dengan keyakinan hakim. Maka majelis hakim

(10)

mempertimbangkan ada hal-hal yang memberatkan dan meringankan pidana bagi diri terdakwa.

Mengenai sanksi perjudian dalam hukum positif dijelaskan maksimum hukumannya adalah selama 10 tahun, artinya dalam hukum positif tidak ada batas terendah yang ada hanya batas tertinggi hukuman, oleh karena itu hakim bisa menetapkan sanksi sesuai dengan berat ringan perbuatan yang dilakukannya. Dan dalam kasus ini, majelis hakim telah mempertimbangkan antara fakta-fakta persidangan, unsur-unsur dakwaan dan hal-hal yang meringankan hukuman, sehingga hakim dapat memutuskan hukuman kepada terdakwa selama 7 (tujuh) bulan 15 (lima belas ) hari.

Di dalam hukum Islam, tidak ada nash yang menjelaskan tentang ketentuan hukuman perjudian baik dalam Al-Quran maupun hadits. Oleh karena itu, perjudian tergolong kepada tindak pidana ta’zir. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kaidah fiqih yang berbunyi:

َل ٍةَيِصْعَم ُّلُك

َح

ُّد

ِف ْي

َه

َو ا

َل

َك

َف

َر ا

ة

َف

ُه

َى

تلا

ْع

ِز

ْي

ُر

“Setiap perbuatan maksiat yang tidak dikenai sanksi had atau kaffarat adalah jarimah ta’zir”

Kaidah ini menjelaskan bahwa setiap perbuatan maksiat yang tidak dapat dijatuhkan sanksi hudud atau kaffarah dikualifikasikan sebagai jarimah ta’zir. Mengenai masalah perjudian ini, karena tergolong kepada jarimah ta’zir, maka hukumannya adalah hukuman ta’zir yang keputusan hukumnya diserahkan kepada hakim. Dalam hukuman ta’zir berat ringannya sanksi yang diberikan bergantung kepada perbuatannya. Sebagaimana dalam kaidah fiqih yang berbunyi:

ُري ِزْع تلا

َي

ُد

ُرو

َم

َع

َملا

ْص

َل

َح

ِة

“Sanksi ta’zir (berat ringannya) bergantung kepada kemaslahatan”

Berdasarkan kaidah ini, berat ringannya sanksi ta’zir ditentukan oleh kemaslahatan. Dalam hal ini harus dipertimbangkan perbuatannya baik kualitas maupun kuantitasnya, pelakunya, masyarakat yang jadi

(11)

korbannya, tempat kejadian dan waktunya, mengapa dan bagaimana si pelaku melakukan kejahatan.

Berdasarkan penjelasan yang telah penulis kemukakan sebelumnya, dalam hal ini penulis mengambil kesimpulan bahwa hukuman yang telah ditetapkan hakim kepada terdakwa selama 7 (tujuh) bulan 15 (lima belas) hari sudah sesuai dengan hukum pidana Islam, karena perjudian tergolong dalam tindak pidana ta’zir, maka hakim berhak menentukan hukuman sesuai dengan berat ringan perbuatannya, karena ketentuan hukuman perjudian ini tidak ada.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :