BAB IV ANALISIS TERHADAP PELAKSANAAN FATWA NO. 21/DSN- MUI/X/2001 TENTANG PEDOMAN UMUM ASURANSI SYARI AH

28 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

87

MUI/X/2001 TENTANG PEDOMAN UMUM ASURANSI SYARI’AH

A. Analisis Terhadap Implementasi Fatwa DSN-MUI Di Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang

Setelah penulis meneliti sebenarnya apakah pada Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang telah merealisasikan dan menerapkan fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah dalam kinerjanya atau hanya sebatas “omong kosong” belaka, yang akan menyesatkan dan menjadi “topeng” bagi perekonomian Islami pada masyarakat khususnya bagi umat Islam yang menginginkan berasuransi yang aman, dimana hal tersebut bertujuan menjaga keamanan bagi keluarga, hartanya dan sekaligus menginvestasikan dananya (peserta atau nasabah) pada Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang.

Dalam menjalankan usahanya secara syari’ah, Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang menggunakan pedoman yang dikeluarkan oleh Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia, yaitu fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah. Fatwa tersebut dikeluarkan karena regulasi yang ada tidak dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan asuransi secara syari’ah. Oleh karena itu keraguan umat Islam untuk mengikuti program asuransi dengan diintrodusirnya akad-akad tradisional Islam dalam polis asuransi oleh perusahaan Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang hendaknya tidak ada lagi. Karena dalam hal ini Asuransi Syari’ah

(2)

Bumiputera Cabang Semarang telah mengimplementasikan akad-akad tradisional Islam dalam kegiatan usaha perasuransiannya, di antaranya yaitu akad tijarah dan akad tabarru’ ( Wirdyaningsih, 2005: 254)

Selain berpedoman pada fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 21/DSN-MUI/X/2001, Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang dalam kinerjanya juga menggunakan prinsip sebagaimana yang ada dalam asuransi syari’ah (prinsip dasar yang berlaku pada konsep ekonomi Islami). Adapun diantara prinsip- prinsip tersebut adalah prinsip saling bertanggung jawab, prinsip saling bekerja sama atau saling bantu membantu dan prinsip saling melindungi penderitaan satu sama lain (Sholahuddin, 2006: 139)

1. Prinsip Ketakwaan (Tauhid)

Pada Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang prinsip tauhid ini merupakan dasar utama dalam kegiatan usaha perasuransian dimana dalam setiap gerak langkahnya harus mencerminkan nilai-nilai ketuhanan. Salah satunya ada kegiatan yang dilakukan oleh pihak perusahaan yang diikuti oleh setiap pegawai dan manajer perusahaan asuransi syari’ah tersebut, yang mana pada setiap bulannya ada kegiatan yang berorientasi untuk mempererat tali silaturahmi. Meskipun ini kegiatan intern perusahaan tetapi kegiatan ini merupakan wadah bagi para anggota perusahaan Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang khususnya dan para pelaku ekonomi umumnya untuk lebih mendekatkan diri Kepada Khaliq-Nya. Dan juga para pemegang polis mentasyarufkan sebagian dananya untuk tabarru’. Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh perusahaan asuransi syariah di Semarang dan perusahaan Islam lainnya, selain mempunyai misi Habblumminallah (Hubungan dengan Allah) dan juga Habblumminannas

(3)

(Hubungan dengan Manusia) dengan maksud mencari masukkan dan kritikan pihak lain, untuk kemajuan dan kesuksesan perusahaan lain( Wawancara dengan Bapak Anwar Afandi, SE, Branch Manager Asuransi Syari’ah Bumiputera Semarang Tanggal 14 Januari 2015.)

2. Prinsip Keadilan (Justice)

Pada prinsip kedua ini asuransi syari’ah menempatkan kata keadilan direalisasikan pada hak dan kewajiban antara peserta asuransi dan perusahaan asuransi. Juga pada pembagian profit yang dihasilkan dari hasil pengelolaan sesuai dengan akad yang telah disetujui diawal perjanjian.

Secara teoritis, pada prinsipnya antara Asuransi konvensional dan Asuransi syari’ah tidak jauh berbeda atau pada prinsipnya hampir sama (Kuat, 2009:5). Walaupun demikian, perbedaan yang ada diantara keduanya dapat menentukan halal dan haramnya suatu produk (normative). Selain perbedaan akad, perbedaan yang paling mendasar adalah pada penempatan dana investasi yang terbatas pada perusahaan- perusahaan yang telah menjalankan standar operasional syari’ah.

Hal ini merupakan salah satu prinsip yang membedakan dengan asuransi konvensional, karena dengan adanya prinsip keadilan pembagian profit sharing pada saving yang terkumpul dari dana premi yang akan di bagi hasilkan sesuai dengan kesepakatan awal.

3. Prinsip Tolong-menolong (Ta’awun)

Prinsip yang paling utama dalam konsep asuransi syari’ah adalah prinsip tolong menolong (ta’awun), begitu juga pada perusahaan Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang, dimana prinsip tolong menolong (ta’awun) ini merupakan bentuk solusi bagi mekanisme operasionalnya, seseorang yang masuk asuransi syari’ah sejak awal harus mempunyai niat dan motivasi untuk membantu

(4)

dan meringankan beban temannya yang pada suatu ketika mendapatkan musibah atau kerugian. Hal ini sesuai dengan hadits ”(Ali,2004:116)

Artinya: dari abu Hurairoh ra, dari nabi SAW, beliau bersabda: “ barang siapa yang meringankan beban satu kesusahan dari kesusahan- kesusahan dunia seorang mukmin, maka Allah akan meringankan kesusahannya di hari kiamat, dan barang siapa memudahkan atau membantu orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkan baginya(urusannya) di dunia dan akhirat(H.R. Muslim)

4. Prinsip Kerja sama (Cooperation)

Berpegang dari sifat manusia sebagai mahluk sosial tidak akan dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari yang lain. Sebagai apresiasi dari posisi dirinya sebagai mahluk sosial, nilai kerja sama adalah suatu norma yang tidak dapat ditawar lagi yang mana hanya dengan mewujudkan kerja sama antar sesama manusia, maka barulah merealisasikan kedudukannya sebagai mahluk sosial.

Pada Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang, kerja sama dalam bisnis asuransi dapat terwujud dalam bentuk akad yang dijadikan acuan antara kedua belah pihak yang terlibat, yaitu antara peserta asuransi dan perusahaan. Dalam opersionalnya, akad yang dipakai dalam bisnis asuransi ini memakai konsep mudharabah. karena pada dasarnya konsep mudharabah adalah konsep dasar dalam kajian ekonomika Islami dan mempunyai nilai historis dalam perkembangan keilmuan (Sholahuddin, 2006: 140 )

(5)

5. Amanah (trustworthy/al-amanah)

Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang dalam mengimplementasikan prinsip amanah ini melalui nilai-nilai akuntabilitas, dimana perusahaan ini melalui penyajian laporan keuangan setiap periode tercatat secara rapi. Dalam hal ini Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para nasabah atau peserta asuransi untuk mengakses laporan keuangan perusahaan asuransi ini. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi ini mengusahakan dengan sebenar-benarnya dan penuh kebenaran serta keadilan dalam bermuamalah.

6. Prinsip Larangan Riba

Dalam setiap transaksi, seorang muslim dilarang memperkaya diri dengan cara yang tidak dibenarkan:







































































































































Artinya: orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

(6)

Salah satu tujuan didirikannya Asuransi Syari’ah Bumiputera adalah dalam rangka menghindari praktek riba yang ada dalam asuransi konvensional, dimana asuransi konvensional dalam menginvestasikan dananya dengan menggunakan mekanisme bunga. Dengan demikian asuransi konvensional sangat sulit untuk menghindari praktek riba, pada hal dalam Islam riba sangat dilarang dan haram hukumnya.

Dengan adanya Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) semua premi yang terkumpul dari peserta dikelola atau diinvestasikan sesuai dengan hukum syar’i yaitu menjauhi haram dan dalam pembagian keuntungan peserta bukan berdasarkan bunga, namun dari pendapatan perusahaan atas hasil investasi atau pengelolaan premi tersebut sehingga pada Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang benar-benar bebas dari bunga.

7. Prinsip Larangan Maisyir (Judi)

Allah SWT. telah memberi penegasan terhadap keharaman melakukan aktivitas ekonomi yang mempunyai unsur maisyir (Judi): Firman Allah dalam QS al-Maidah: 90

























































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan(QS. Al-Maidah : 90)

Untung-untungan merupakan salah satu perbuatan yang tidak dibolehkan dalam aktivitas ekonomi Islam. Unsur maisir dalam asuransi konvensional terlihat apabila selama masa perjanjian peserta tidak mengalami musibah atau kecelakaan,

(7)

maka peserta tidak berhak mendapatkan apa-apa termasuk premi yang disetornya. Sedangkan keuntungan yang diperoleh ketika peserta yang belum lama menjadi anggota, jumlah premi yang disetor sedikit akan menerima dana pembayaran klaim yang jauh lebih besar atau apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu membatalkan kontraknya sebelum masa reversing period biasanya pada tahun ketiga maka yang bersangkutan peserta asuransi tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagian kecil saja, dalam hal ini peserta asuransi pada posisi rugi, juga adanya unsur keuntungan yang dipengaruhi oleh under writing dimana untung rugi terjadi sebagai hasil dari ketetapan (Iqbal, 2006: 26)

Lain halnya konsep di Asuransi Syari’ah Bumiputera, apabila peserta tidak mengalami kecelakaan atau musibah selama menjadi peserta asuransi maka ia berhak mendapatkan premi yang disetor kecuali dana yang dimasukkan ke dalam dana tabarru’(derma) (Wirdyaningsih, 2005: 258)

8. Prinsip Larangan Gharar (Ketidakpastian)

Ketidakpastian atau gharar tercermin dalam bentuk akad dan sumber dana pembayaran klaim dan keabsahan syar’i menerima uang klaim itu sendiri, hal ini dikemukakan oleh bapak Imam selaku Branch manajer di Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang. Bentuk kontrak akad asuransi konvensional atau perjanjian dapat dikategorikan sebagai akad tabadulli atau akad pertukaran yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan, dimana akad pertukaran haruslah diketahui berapa yang harus dibayarkan dan berapa yang diterima. Keadaan ini yang akan menimbulkan gharar karena antara perusahaan asuransi dan peserta asuransi tidak tahu berapa yang akan diterimanya (sejumlah

(8)

uang pertanggungan) dan tidak tahu berapa yang akan dibayarkan (sejumlah seluruh premi) karena hanya Allah yang tahu kapan seseorang akan meninggal.

Dalam asuransi konvensional peserta tidak mengetahui dari mana dana pertanggungan yang diberikan perusahaan asuransi berasal. Peserta hanya tahu jumlah pembayaran klaim yang akan diterimanya. Lain halnya pada Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang dimana perusahaan telah menetapkan pembayaran premi sejak awal akan dibagi dua yaitu masuk ke rekening khusus dimana uang ini akan diniatkan tabarru’ atau derma untuk membantu saudaranya yang lain. Dengan kata lain dana klaim dalam konsep asuransi syari’ah diambil dari dana tabarru’ yang mereka kumpulkan dan dana shodaqoh yang diberikan oleh peserta dan satu lagi dimasukkan ke rekening pemegang polis.

Pada Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang prinsip diatas merupakan prinsip yang sangat membedakan dengan asuransi konvensional. Adapun perbedaan konsep yang paling mendasar contohnya adalah:

1. Pada asuransi konvensional, peserta asuransi (nasabah) tidak akan menerima kembali uang yang telah disetorkan seandainya di tengah jalan berhenti berasuransi.

2. Pada asuransi syari’ah (Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang) peserta asuransi akan menerima kembali uang yang telah disetorkan dengan dipotong biaya administrasi.

Dari segi ekonomi asuransi adalah sarana untuk mendapatkan kepastian untuk menjamin atas harta benda dan atau jiwa sebagai upaya menghindari atau membebaskan suatu resiko, kerugian atau ketidak untungan yang diharapkan

(9)

dengan cara mengalihkan atau membagikan resiko kepada pihak lain atas suatu kerugian yang tidak pasti atau kerugian yang mungkin akan diderita.

Tujuan asuransi pada dasarnya adalah mengalihkan resiko yang ditimbulkan oleh peristiwa- peristiwa yang tidak diharapkan kepada orang lain yang bersedia mengambil resiko itu dengan mengganti kerugian yang dideritanya. Pihak yang bersedia menerima resiko itu disebut Penanggung ( insurer ), ia melakukan itu tentu saja bukan karena kemanusiaan saja akan tetapi karena memang ada celah- celah untuk mendapatkan keuntungan dengan jalan tertanggung membayar premi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam awal perjanjian, dalam permasalahan ini akan timbul untung-untungan, untuk yang untung adalah penanggung dalam hal ini adalah perusahaan asuransi atau tertanggung sebagai peserta asuransi tinggal melihat apa yang terjadi. Setelah adanya perjanjian yang dibuat, dalam perjanjian asuransi yang dalam hal ini adalah asuransi konvensional.

Adapun pengertian asuransi syariah sebagaimana yang tercantum dalam fatwa DSN No 21/MUI/2001 adalah sebagai berikut :

“ asuransi syariah ( ta’min, Bumiputera atau Tadhamun ) adalah usaha-usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau Tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad ( perikatan ) yang sesuai dengan syariah “

Dalam melaksanakan kegiatan usahanya Asuransi Syariah Bumiputera menerapkan suatu akad atau suatu perjanjian yang isinya menyangkut kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, dengan dibuatnya akad tersebut, maka terjadilah kegiatan atau usaha bersama antara peserta asuransi dengan perusahaan asuransi. Akad merupakan bagian yang paling penting dalam berasuransi karena dalam

(10)

akad inilah letak yang membedakan antara kegiatan asuransi syariah dengan asuransi konvensional. Selanjutnya disini akan peneliti sajikan hasil penelitian terhadap Cabang Asuransi Syariah Bumiputera berupa wawancara dengan petugas yang ditunjuk oleh Kepala Asuransi Syariah Semarang dengan hasil sebagai berikut :

1) Pengertian asuransi syariah adalah Ta’min, Bumiputera atau Tadhamun adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang / pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabaru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad ( perikatan ) yang sesuai dengan syariah .

2) Akad yang sesuai dengan syariah adalah akad yang sesuai dengan ajaran agama islam yaitu akad tersebut terhindar dari: Ghoror, Maysir, Riba dan Riswah atau suap. akad ada dua yaitu akad tijaroh adalah akad yang bertujuan komersial dan kedua adalah akad tabaru’ yaitu akad yang tujuannya untuk kebaikan . Disini akad dibuat oleh lembaga asuransi dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh lembaga, jadi peserta tinggal pilih kalau setuju dengan isi akad yang telah dibuat oleh lembaga bisa masuk menjadi peserta namun kalau tidak setuju dengan isi akadnya , akad tersebut tidak bisa dirubah.

Adapun akad yang sesuai dengan operasional kantor cabang Asuransi Syariah Bumiputera di Semarang adalah sebagai berikut:

1. Akad Antara Sesama Peserta Risk-Sharing Based ( Ta’awuni ) Yaitu akad dimana antara sesama peserta bertabarru’ untuk saling memikul resiko bila salah satu atau lebih tertimpa musibah

(11)

Catatan : Bahwa peserta bertabarru’ kepada sesama peserta, dan bukan bertabarru’ kepada perusahaan asuransi syariah. Model dari akad ini adalah Ta’awuni : Tabarru’, Hibah,

2. Akad Antara Peserta Dengan Perusahaan Yaitu akad antara (kumpulan) peserta dengan Bumiputera adalah dengan akad tijari. Dan oleh karenanya Bumiputera diperkenankan mengambil keuntungan dari akad tersebut. Dalam hubungan seperti ini dapat juga digunakan akad wakalah bil ujrah, ijarah, mudharabah musytarakah dsb. Dalam akad ini Bumiputera bertindak sebagai operator/ wakil untuk mengelola resiko nasabah.

3. Akad dalam menginvestasikan dana peserta (Bumiputera dengan Nasabah/Perwakilan Nasabah) Dana peserta diinvestasikan oleh Bumiputera dalam investasi yang sesuai dengan syariah dengan skim mudharabah / mudharabah musytarakah. Hasil dari investasi tersebut dibagi berdasarkan akad yang digunakan. Model yang digunakan adalah mudharabah dengan bagi hasil, wakalah dengan fee / ujrah dan mudharabah musytarakah. Hubungan akad dalam asuransi syariah adalah sebagai berikut:

1. Akad Tabarru’

Akad tabarru’ merupakan akad dalam memindahkan kepemilikan harta/ dana seseorang kepada orang lain, melalui cara hibah/ derma/ shadaqah. Dalam akad tabarru’ ini tidak disyaratkan adanya qabul dari penerima hibah. Namun cukup hanya dengan ijab saja dari si pemberi, maka harta / dana yang ditabarru’kan telah berpindah kepemilikannya kepada penerima/ yang diakadkan.

(12)

Tabarru’ secara bahasa berarti bersedekah atau berderma. Tabarru’ secara hukum fiqhiyah masuk ke dalam kategori akad hibah.

2. Akad Mudharabah

Mudharabah berasal dari kata “dharb” yang berarti memukul atau berjalan. Yang dimaksud adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Kerjasama dilakukan antara pihak pertama, yaitu shahibul maal (pemilik modal) dengan menyediakan seluruh modal (100%), sedangkan pihak kedua yaitu mudharib (pengusaha) bertindak sebagai pengelola yang melakukan suatu usaha yang disepakati bersama, missal proyek pembuatan rumah, jembatan, jalan dsb.

Ketika proyek ini mendatangkan hasil atau keuntungan, maka dibagi antara shahibul maal (pemilik modal) dengan mudharib ( pengusaha ) sesuai dengan nisbah yang disepakati bersama dalam akad.

3. Akad Mudharabah Musytarakah

Perbedaan antara mudharabah dengan mudharabah muystarakah hanyalah terletak pada “kesertaan modal” mudharib pada proyek yang dikerjakan. Dalam akad ini mudharib (penguasaha) selain berfungsi sebagai pengusaha, ia juga berfungsi sebagai shahibul maal ke 2, karena turut berkontribusi dalam kepesertaan dana. Sehingga dalam akad ini terdapat 1. Shahibul Maal pertama, 2 Mudharib, sekaligus sebagai shahibul maal ke 2.

Misalnya terdapat proyek pembangunan rumah dengan modal Rp. 80 juta. Kemudian mudharib menyertakan dananya sebesar Rp. 20 juta. Setelah proyek selesai dan terjuallah rumah tersebut dengan harga 120 juta. Maka sebelum hasilnya dinisbahkan antara shahibul maal dengan mudharib, terlebih dahulu

(13)

dibagi keuntungan tersebut atas dasar kepesertaan dana masing-masing 20% milik shahibul maal 2 (Rp. 4.juta) dan 80%nya (Rp16 juta) milik bersama, yang kemudian dinisbahkan sesuai dengan kesepakatan mereka berdua. (Misal 60 ; 40) 4. Akad Wakalah Bil Ujrah

Seorang ingin melakukan sebuah pekerjaan, yaitu proyek A. Namun dikarenakan keterbatasannya, ia tidak mampu melakukannya sendiri, sehingga ia mewakilkan kepada pihak lain untuk melakukan proyeknya tersebut. Pihak lain yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut menerima pekerjaan itu, dan berfungsi sebagai wakil dari pihak pertama. Dan oleh karenanya ia berhak mendapatkan ujrah/ fee.

Dalam hal ini, orang yang mewakilkan disebut muwakil, sedangkan orang yang menerima pekerjaan tersebut adalah wakil, sedang pekerjaannya adalah taukil. Secara bahasa, wakalah berarti penyerahan, pendelegasian atau pemberian mandate kepada seseorang. Sedangkan menurut istilah, wakalah adalah :

a) Penyerahan dari seseorang kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu. b) Pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepada yang lain dalam hal-hal yang

diwakilkan. Perjanjian pemberian kepercayaan dan hak dari lembaga/ seseorang kepada pihak lain sebagai Wakil dalam melaksanakan urusan tertentu.

3) Premi adalah kewajiban peserta asuransi untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

4) Kedudukan dalam akad tijaroh (mudharobah) perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai shohibul mal atau pemegag polis dalam akad tabaru’ (hibah) peserta memberikan hibah yang

(14)

digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah, sedangkan perusahaan bertindak sebagai pengelola dana hibah.

5) Ketentuan dalam akad tijaroh dapat berubah menjadi akad tabaru’ dan dari akad tabaru’ tidak dapat dirubah menjadi akad tijaroh.

6) Pada asuransi syariah Semarang terdapat atau menjalankan dua jenis asuransi yaitu asuransi jiwa dan asuransi kerugian Adapun cara pengelolaan premi yang dibayarkan oleh peserta yang dengan akad tijaroh. diinvestasikan dan hasil investasi dibagikan kepada peserta dan premi yang berasal dari dana tabaru’ dapat juga diinvestasikan, namun hasilnya tidak dibagikan kepada peserta akan tetapi dikembalikan kepada tabaru’ untuk kebajikan.

7) Klaim adalah kewajiban perusaan untuk membayar dana kepada peserta yang telah dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian yang besarnya sesuai dengan premi yang dibayarkan, dikurangi biaya-biaya serta ditambah keuntungan apabila ada Klaim atas akad tijaroh sepenuhnya merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya. Klaim atas akad tabaru’ merupakan hak peserta dan merupakan kewajiban perusahaan sebatas yang disepakati.

8) Ketika dana sudah terkumpul, perusahaan asuransi berkewajiban untuk menginvestasikan dana yang sudah terkumpul dengan secara syariah. Dari hasil investasi mudharobah, perusahaan mendapatkan hak yang besar kecilnya disesuaikan dengan akad sedangkan dalam dana tabaru’ perusahaan hanya mendapatkan fee saja. Namun dalam menginvestasikan dana yang telah terkumpul tersebut, peserta tidak mengetahui bagaimana dana atau premi tersebut diinvestasikan

(15)

9) Dalam melaksanakan asuransi syariah ini perusahaan asuransi Semarang diawasi oleh DPS (Dewan Pengawas syariah).

10) Apabila terjadi suatu masalah perusahaan asuransi akan menyelesaikan secara musyawarah dan jika tidak terjadi mufakat akan diselesaikan melalui lembaga Badan Arbitrasi Syariah Nasional (BASYARNAS)

B. Analisis Terhadap Pelaksanaan Produk-Produk Di Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang

Segala musibah dan bencana yang menimpa manusia merupakan qadha dan qadar Allah. Namun manusia (muslim) wajib berikhtiar untuk memperkecil resiko yang timbul, dan salah satu caranya adalah dengan menabung. Tetapi upaya tersebut sering kali tidak memadai karena yang harus ditanggung lebih besar dari yang diperkirakan.

Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang sebagai asuransi yang bertumpu pada konsep tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (wa ta’awanu alal birri wat taqwa) serta perlindungan (at-ta’min), menjadikan semua peserta sebagai keluarga besar yang saling menanggung satu sama lain dan dengan meniadakan tiga unsur yang masih dipertanyakan, yaitu gharar, maisir, dan riba.

Pada prinsipnya produk-produk yang ada di Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang berbeda dengan produk-produk yang ada di asuransi konvensional. Dalam hal menentukan premi, pemberian klaim, dan penentuan hasil usaha, Pada asuransi konvensional didasarkan pada perhitungan bunga sedangkan pada Asuransi Syariah Bumiputera Cabang Semarang berdasarkan prinsip bagi hasil.

(16)

1. Produk - Produk asuransi syariah yaitu: a. Mitra Iqra’

Produk mitra iqra’ dirancang untuk memprogram pendidikan anak secara syariah mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan anak menjadi sarjana SI, sekaligus berfungsi untuk menata kesejahteraan keluarga agar kelak apabila orang tua meninggal tidak sampai kesejahteraan dan pendidikan anak terabaikan.

Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 9





































Artinya : “ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Ciri-ciri spesifik dan manfaat

a. Produk mitra iqra’ merupakan gabungan antara : 1) Unsur tabungan

2) Unsur tolong-menolong (Ta’awun) b. Premi Mitra iqra’ terdiri dari

1) Premi tabungan 2) Premi tabarru’ 3) Premi biaya c. Umur calon peserta

1) Minimal usia 15 tahun (dikenakan table premi tabarru’ usia 20 tahun) 2) Umur saat mulai asuransi ditambah masa asuransi maksimal 65 tahun d. Usia peserta Non Medical maksimal 53 tahun dan dalam kondisi sehat e. Cara bayar premi dibagi menjadi 4 yaitu

(17)

1) Triwulan minimal Rp. 250.000,- 2) Setengah tahun minimal Rp. 500.000,- 3) Tahunan minimal Rp.1.000.000,-

4) Sekaligus minimal manfaat awal sebesar Rp.5.000.000,- f. Masa pembayaran premi minimal 2 tahun dan maksimal 17 tahun g. Masa observasi Non Medical selama 2 tahun, yaitu

1) Tahun I sebesar NILAI TUNAI + (60 % x Santunan Kebajikan) 2) Tahun II sebesar NILAI TUNAI + (80% x Santunan Kebajikan) 3) Tahun III dst sebesar 100 % X KLAIM MENINGGAL

h. Pembagian keuntungan hasil investasi (mudharabah) : 1) Untuk Peserta (Shohibul Mall) sebesar 70 % 2) Untuk Pengelola (Mudharib) sebesar 30 % i. Penerimaan dana tahapan pendidikan Syariah

1) Peserta panjang umur sampai berakhirnya akad diberikan tahapan : a) TK usia 4 tahun menerima tahapan 10 % x Manfaat Awal b) SD usia 6 tahun menerima tahapan 10% x Manfaat Awal c) SLTP usia12 tahun menerima tahapan 20% x Manfaat Awal d) SLTA usia15 tahun menerima tahapan 25% x Manfaat Awal e) PT.1 usia 18 tahun menerima tahapan 35% x Manfaat Awal f) PT.2 usia 19 tahun menerima tahapan 25%x Sisa Nilai Tunai g) PT.3 usia 20 tahun menerima tahapan 35% x Sisa Nilai Tunai h) PT.4 usia 21 tahun menerima tahapan 50% x Sisa Nilai Tunai i) PT.5 usia 22 tahun menerima tahapan 100% x Sisa Nilai Tunai Mulai usia 19 -22 tahun, kewajiban peserta membayar premi berhenti.

(18)

2) Bila peserta meninggal dunia sebelum akad asuransi berakhir, diterimakan: a) Santunan kebajikan

b) Nilai tunai ( premi tabungan + Mudharobah)

c) Dana tahapan pendidikan tetap diberikan sesuai aturan : (1) TK usia 4 tahun menerima tahapan 10 % x Manfaat Awal (2) SD usia 6 tahun menerima tahapan 10% x Manfaat Awal (3) SLTP usia 12 tahun menerima tahapan 20%x Manfaat Awal (4) SLTA usia 15 tahun menerima tahapan 25% x Manfaat Awal (5) PT.1 usia 18 tahun menerima tahapan 35% x Manfaat Awal (6) PT.2 usia 19 tahun menerima tahapan15% x Sisa Nilai Tunai (7) PT.3 usia 20 tahun menerima tahapan 20% x Sisa Nilai Tunai (8) PT.4 usia 21 tahun menerima tahapan 20% x Sisa Nilai Tunai (9) PT.5 usia 22 tahun menerima tahapan 25% x Sisa Nilai Tunai

d) Apabila peserta berhenti sebelum akad berakhir peserta bias mengambil Nilai Tunai ( Premi Tabungan + Mudharabah )

e) Peserta boleh berhenti sementara (cuti) bayar :

1) Apabila peserta dalam rentang waktu cuti mendapatkan tahapan pendidikan, maka peserta wajib melunasi premi yang belum terbayar terlebih dahulu baru kemudian bias mendapatkan tahapan pendidikan.

2) Apabila peserta meninggal dunia saat cuti bayar selama masih ada premi

Tabarru’:

(a) Ahli waris menerima santunan kebajikan (b) Nilai tunai (bila masih ada)

(19)

b. Mitra Mabrur

Firman Allah dalam Alqur’an surat Al-Imran (3) ayat 97





















Artinya : “Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadah haji, yaitu yang

sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah “.

Produk Mitra Mabrur dirancang secara khusus untuk memprogram kebutuhan dana saat menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Menunaikan spiritual ibadah haji adalah melaksanakan rukun islam yang kelima, nyaris menjadi ikhtiar dan impian kita semua. Sayang sekali, bahwa dengan keterbatasan biaya ikhtiar itu kerap hanya berakhir dalam bentuk doa-doa panjang di ujung ibadah kita.

Dengan Mitra Mabrur, kita dapat merancang melaksanakan ibadah haji dengan tentram, tanpa khawatir meninggalkan keluarga di rumah. Kini, impian menjadi tamu Allah tidak lagi harus berhenti pada doa.

Ciri-Ciri Spesifik dan Manfaat :

a. Produk Mitra Mabrur merupakan gabungan antara : 1) Unsur Tabungan

2) Unsur Tolong-menolong ( Ta’awun ) b. Premi Mitra Mabrur terdiri dari :

1) Premi Tabungan 2) Premi Tabarru’ 3) Premi Biaya

c. Jangka waktu akad asuransi 1) Paling pendek 5 tahun 2) Maksimal 15 tahun

(20)

d. Umur calon peserta

 Umur peserta minimal 15 tahun ( dikenakan tabel premi tabarru’ usia 20 tahun

e. Usia non medical maksimal 53 tahun dan dalam kondisi sehat f. Cara membayar premi dibagi menjadi 4 yaitu

1) Sekaligus, minimal manfaat awal sebesar Rp. 5.000.000,- 2) Tahunan, minimal Premi Rp.1.000.000,-

3) Setengah tahunan, minimal Premi Rp. 500.000,- 4) Triwulan, minimal Premi Rp. 250.000,-

g. Masa Observasi non medical selama 2 (dua) tahun yaitu :

1) Tahun I sebesar NILAI TUNAI + (60% x Santunan Kebajikan) 2) Tahun II sebesar NILAI TUNAI + (80% x Santunan Kebajikan) 3) Tahun III dst sebesar NILAI TUNAI + (80% x Santunan Kebajikan) h. Pembagian keuntungan hasil investasi (Mudharabah) :

1) Untuk Peserta ( Shohibul Mal ) = 70 % 2) Untuk Peserta ( mudharib ) = 30 %

i. Masa leluasa (Grace Period) selama satu bulan kalender (30 hari) j. Bila pembayaran premi berhenti maka :

1) Peserta diperbolehkan Cuti Bayar Premi, dan setelah tunggakan selama cuti terbayar maka secara otomatis akad normal kembali

2) Peserta boleh mengambil NILAI TUNAI (Premi Tabungan + Mudharabah) dengan cara :

(a) Santunan Kebajikan ( Dana Tolong-menolong ) (b) Premi Tabungan ( setelah dikurangi premi Tabarru’ ) (c) Bagi Hasil ( Mudharabah ) investasi

(21)

3) Peserta meninggal saat pembayaran premi berhenti ( Lapse), ahli waris menerima warisan :

(a) Selama masih ada premi Tabarru’

(b) Apabila premi Tabarru’ habis, maka secara otomatis perusahaan akan mengambilkan dari dana tabungan untuk membayar premi Tabarru’

4) Peserta masih dijamin proteksinya :

5) Perjanjian (akad) berakhir secara otomatis :

 Apabila Dana Tabungan telah habis untuk membayar premi Tabarru’ k. Manfaat Mitra Mabrur

1) Jika peserta panjang umur sampai akad berakhir akan mendapatkan Premi Tabungan Haji Sesuai Rencana Awal meliputi:

2) Jika peserta meninggal dunia dalam masa perjanjian ( akad ) berjalan maka ahli waris mendapatkan Dana Tabungan Haji sampai saat meninggalnya peserta meliputi :

(a) Premi Tabungan yang terkumpul (b) Mudharabah ( Bagi Hasil ) (c) Santunan Kebajikan

Dana tersebut bisa digunakan ahli waris untuk menunaikan ibadah haji.

3) Jika peserta mengundurkan diri sebelum akad berakhir, peserta memperoleh : (a) Premi Tabungan yang terkumpul

(b) Mudharabah (Bagi Hasil)

4) Jika peserta mengambil sebagian nilai tunai untuk pendaftaran ONH (Ongkos Naik Haji) guna mendapatkan kursi di Depag, dengan syarat sebagai berikut :

(a) Pengambilan uang tunai sebagian, bila polis telah berjalan 2 (dua) tahun (b) Pengambilan maksimal 50% x nilai tunai

(22)

(c) Pengambilan sebagian nilai tunai, hanya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun (d) Pengambilan sebagian nilai tunai, maksimal dapat dilakukan 3 (tiga) kali selama masa asuransi berjalan

(e) Pengambilan sebagian nilai tunai hanya dapat dilakukan pada kantor Debit Penangguhan Polis YBS.

(f) Bila pengembalian sebagian nilai tunai dilakukan diluar kantor tagih, harus dimintakan mutasi ke kantor tagih yang lama\

2. Investasi

Jenis investasi perusahaan asuransi sistem syariah, keuangan dikelola sendiri oleh Divisi Syariah (tidak dicampur dengan usaha konvensional), Kep.Dirjen Lembaga Keuangan No.Kep.4499/LK/2000 yaitu berupa:

a. Deposito dan sertifikat deposito syariah b. Sertifikat wadi’ah bank Indonesia

c. Saham syariah yang tercatat di bursa efek d. Obligasi yang tercatat di bursa efek

e. Surat berharga syariah yang diterbitkan atau dijamin oleh perusahaan (SUKUK)

f. Unit penyertaan reksadana syariah g. Penyertaan langsung syariah

h. Bangunan atau tanah dan bangunan untuk investasi

i. Pembiayaan kepemilikan tanah dan atau bangunan, kendaraan bermotor dan barang modal dengan skema murabahah (jual beli dengan pembayaran ditangguhkan)

(23)

3. Mekanisme Pengelolaan Dana Tabarru’

Berdasarkan hasil wawancara hari senin tanggal 28 maret 2015 dengan ibu Dwi Setianingsih, SE selaku pegawai administrasi dari AJB Bumiputera 1912 Syariah Semarang menyatakan bahwa operasional kerja sehari-hari karyawan mengikuti Standar Operasional Prosedur dari Bumiputera pusat. Standar Operasional Prosedur tersebut terbagi menjadi dua bagian pekerjaan yaitu indoor dan outdoor. Yang termasuk dalam kategori indoor adalah karyawan bagian administrasi, bagian umum, dan lain-lain. Sedangkan outdoor adalah para agen-agen pemasaran dari Bumiputera Syariah itu sendiri.

Bahkan, beliau mengatakan, pengelolaan dana dalam arti perhitungan asuransi yang telah ada baik yang masuk atau keluar juga dikelola oleh pusat langsung, sehingga kantor-kantor cabang hanya merupakan “pintu gerbang” / perantara/ penghubung bagi nasabah dengan AJB Bumiputera 1912 Syariah Pusat. Jadi penjelasan mengenai mekanisme pengelolaan dana hanya diketahui secara umum oleh peneliti, yang akan dipaparkan selanjutnya.

Dalam prakteknya, asuransi syariah menerapkan prinsip saling kerjasama dan tolong menolong, jadi jika ada keuntungan akan dibagi rata dan jika ada kerugian maka akan dirasakan bersama. Pada hakekatnya shahibul maal atau nasabah yang membayar premi di asuransi memiliki tujuan untuk memiliki rasa aman jika sewaktu-waktu mereka ditimpa musibah yang entah kapan akan terjadi. Dengan membayarkan premi di asuransi maka nasabah percaya kepada perusahaan asuransi syariah terkait untuk dapat mengelola dana tersebut sehingga jika sewaktu-waktu mereka tertimpa musibah maka mereka dapat terbantu dari perusahaan asuransi syariah.

(24)

Untuk lebih dapat menjelaskan mekanisme pengelolaan dana tabarru’ asuransi syariah, berikut akan di bahas oleh peneliti tentang mekanisme pengelolaan dana tabarru’ yang terdapat pada AJB Bumiputera 1912 Syariah:

Dari hasil wawancara hari jum’at tanggal 21 maret 2015 dengan Ibu Dwi Setianingsih, SE mengatakan bahwa dana tabarru’ yang ada pada AJB Bumiputra itu dalam investasinya dipisahkan dengan dana lainya. Dana tabarru’ dikelola sendiri oleh perusahaan dan diinvestasikan ke anak perusahaan yang dimiliki AJB Bumiputra seperti PT. Bumiputera Wisata, PT. Informatics OASE, PT. Bumiputera Mitrasarana, Bumiputera Muda 1967, PT. Mardi Mulyo. Ketika dana tabarru’ habis maka untuk menanggulangi ketidakcukupan diambilkan dana dari qardh untuk membayar santunan atau klaim yang diajukan oleh peserta. Bantuan dana qardh itu didapatkan dari BI(Hasil wawancara dengan ibu Dwi Setianingsih bagian Administrasi)

Adapun salah satu produk yang dimiliki oleh AJB Bumiputera 1912 Syariah adalah Mitra Mabrur atau yang lebih dikenal sebagai asuransi dana haji, atau asuransi tabungan haji. Produk ini merupakan salah satu produk dari AJB Bumiputera 1912 Syariah bagi para calon jamaah haji. Karena pada dasarnya produk ini ditujukan kepada masyarakat yang belum mempunyai dana tunai untuk pemesanan porsi pemberangkatan haji sekaligus menabung untuk diri mereka sewaktu mereka akan berangkat haji serta menjaminkan resiko jiwanya kepada pihak asuransi.

Mitra Iqra’ juga salah satu produk asuransi syariah di AJB Bumiputra 1912. Program asuransi pendidikan yang menjamin biaya sekolah anak mulai dari Tanam Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Merupakan gabungan antara tabungan dan tolong menolong dalam menanggulangi musibah kematian.

(25)

Salah satu bentuk investasi terbesar yang dilakukan oleh AJB Bumiputera 1912 Syariah adalah investasi dalam bentuk obligasi syariah, sedangkan sebagian kecil di investasikan ke unit usaha syariah lainnya.

Investasi tersebut dilakukan oleh satu tim khusus dari AJB Bumiputera 1912 Syariah Pusat, tim tersebutlah yang mengatur dana investasi dan kapan akan berinvestasi. Satu hal yang menjadi catatan bahwa dana yang akan diinvestasikan merupakan kumpulan dana dari semua produk AJB Bumiputera 1912 Syariah. Akan tetapi pembagian hasilnya tetap ada jumlah-jumlah tertentu disetiap produk-produknya, karena ada laporan atau semacam data yang dapat dilihat jumlah dari masing-masing produk dan pembagiannya sesuai dengan melihat data tersebut.

Pembagian hasil keuntungan yang akan diperoleh oleh peserta adalah sebesar 70% dan 30% lagi untuk perusahaan. Hal ini menganut system mudharabah yang dianjurkan oleh Islam sebagai ganti system bunga yang mengandung riba. Nasabah memperoleh hak atas bagi hasil tersebut sampai masa kontrak habis yang pada masa akhir kontrak akan ditambah dengan dana tabungan yang telah disetorkan.

Sedangkan jika nasabah meninggal dunia sewaktu masa kontrak maka ahli waris nasabah akan memperoleh dana santunan atau "santunan kebajikan" ditambah dengan pembagian hasil keuntungan yang diperoleh perusahaan atas investasinya dan dana tabungan yang telah disetorkan atau “nilai tunai”. Adapun besaran santunan kebajikan ditetapkan oleh perusahaan diluar bagi hasil keuntungan investasi.

Lamanya masa asuransi tergantung dari nasabah, lebih lama masa asuransi maka hasil investasi yang dibagikan juga akan semakin besar. Tabel hasil investasi di lampiran merupakan tabel untuk memudahkan nasabah dalam melihat seberapa besar hasil yang akan didapatkan jika menabung dengan jumlah tertentu selama masa kontrak tiga, empat, lima, atau enam tahun. Sebagai contoh dikaitkan dengan setoran

(26)

di awal yaitu dana tabungan sebesar Rp 10.000.000,- dengan masa kontrak tujuh belas tahun, maka hasil yang akan didapatkan oleh nasabah adalah Rp 203.096.504,- (angka yang tercetak tebal). Jadi setoran di awal tergantung dari pemilihan nasabah berkaitan dengan nominal tabungan yang akan disetorkan.

Pertanyaan selanjutnya adalah dari manakah dana Rp 203.096.504,-? Dana tersebut didapatkan atas pembagian hasil investasi yang dilakukan oleh perusahaan ditambah dengan dana tabungan yang telah disetorkan. Perhitungan lebih rinci dapat dilihat pada tabel yang ada di bawah table hasil investasi. Asumsi yang digunakan pada ilustrasi di lampiran adalah tingkat hasil investasi yang didapatkan perusahaan adalah 11%, angka tersebut tidaklah tetap tergantung dari pengelolaan dana tersebut, bisa jadi tingkat hasil investasi lebih tinggi dari 11% atau bahkan lebih rendah.

Pada tabel perhitungan terdapat akumulasi premi, yaitu dana tabungan kotor yang dibayarkan kepada AJB Bumiputera 1912 Syariah. Pada tahun pertama terdapat angka Rp 10.000.000,-. Angka ini didapatkan dari pembayaran dana tabungan Rp 2.500.000,-/3bulan dikali setahun, sehingga muncul angka Rp 10.000.000,-. Begitu juga tahun kedua dan seterusnya adalah akumulasi dana premi yang telah dibayarkan.

Kemudian ada istilah tabarru’, yaitu dana yang sifatnya seperti infaq untuk membantu nasabah lain yang membutuhkan, dana tabarru’ inilah sumber dari santunan kebajikan jika ada klaim meninggal dunia. Jumlah Dana tabarru’ didapat dari premi yang disetahunkan dikalikan iuran tabarru’.

Dana investasi adalah bagian kontribusi yang merupakan dana tabungan peserta yang dikelola oleh perusahaan. Sebagai contoh pada tahun pertama dana tabungan kotor dikurangi dengan biaya premi dan dana tabarru’.

(27)

Tahun pertama = Rp10.000.000 – Rp 4.000.00 – Rp638.000 = Rp 5.362.000 Tahun kedua = Rp10.000.000 – Rp1.900.000 – Rp 1.276.000 = Rp 12.824.000 Jadi akumulasi di tahun kedua dana tabungan bersih adalah Rp 5.362.000 ditambah Rp 7.462.000 sehingga menjadi Rp12.824.000.

Kolom berikutnya adalah kolom tabungan, kolom ini adalah dana tabungan bersih. Kolom tabungan merupakan dana tabungan kotor yang telah dibayarkan oleh nasabah kemudian dipotong dengan biaya premi satu tahun dan dana tabarru’.

Kolom mudharabah adalah kolom dimana bagi hasil keuntungan investasi yang diberikan kepada nasabah. Angka yang tertera tersebut ditetapkan oleh perusahaan yang perhitungannya juga dilakukan oleh AJB Bumiputera 1912 Syariah Pusat.

Kolom selanjutnya adalah santunan kebajikan, yaitu dana santunan yang diberikan jika nasabah meninggal dunia, akan tetapi bukan hanya santunan kebajikan saja akan tetapi juga ditambahkan dengan nilai tunai sehingga muncul angka yang ada pada kolom klaim meninggal. Sedangkan nilai tunai adalah jumlah antara tabungan bersih dengan bagi hasil keuntungan perusahaan yang didapatkan oleh nasabah.

Dari perhitungan-perhitungan pada tabel perhitungan tersebut maka akan diperoleh hasil investasi jika tidak ada klaim meninggal dunia sebesar yang ada pada kolom nilai tunai. Jika nasabah tetap hidup sampai masa kontrak tujuh belas tahun selesai maka nasabah akan mendapatkan nilai tunai sebesar Rp. 203.096.504,-

Sebagaimana telah penulis kemukakan dalam bab III, Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang merupakan salah satu instansi asuransi syari’ah yang ada di Semarang yang dalam kinerjanya sesuai dengan sistem syari’ah dan dapat menegakkan ekonomi Islam serta produk-produk yang ada di Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

(28)

Dan mengenai penerapan fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah yang berkenaan dengan asuransi syari’ah serta prinsip-prinsip asuransi syari’ah di Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang masih belum sempurna atau masih dalam tahap penyempurnaan, mengingat Asuransi Syari’ah Bumiputera Cabang Semarang masih dikategorikan perusahaan baru.

Dasar hukum dari kontrak asuransi syariah adalah ayat al-Qur’an, hadist dan sangat menjaga transaksi dari unsur riba, judi(maisir), larangan gharar (ketidakpastian). Akad dalam muamalah dan juga dalam asuransi secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu akad tijarah dan akad tabarru’. Dalam hal pembayaran klaim semua memakai reimbursement adalah sistem pelayanan dimana peserta harus membayar terlebih dahulu seluruh biaya yang dikeluarkan dan kemudian mengajukan klaim untuk penggantian biaya tersebut kepada perusahaan.

Dalam asuransi jiwa bumiputera syariah dan konvensional terdapat persamaan seperti dalam prinsip- prinsip universal seperti kejujuran, tolong- menolong, keadilan bekerjasama, amanah, kerelaan tanpa ada paksaan bertanggung jawab, akan tetapi ada juga perbedaan tersebut adalah dalam pengawasan asuransi syariah dilakukan oleh dewan syariah nasional, dalam asuransi konvensional tidak ada, dalam asuransi syariah investasi dana dengan sistem bagi hasil dan kepemilikan dana adalah milik peserta akan tetapi dalam asuransi konvensional dengan sistem bunga dan kepemilikan, pengelolaan dan investasi dana sepenuhnya milik perusahaan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :