RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 28/PUU-XIV/2016 Dualisme Penentuan Unsur Pimpinan DPR Provinsi Papua dan Papua Barat

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

Nomor 28/PUU-XIV/2016

“Dualisme Penentuan Unsur Pimpinan DPR Provinsi Papua dan Papua Barat”

I. PEMOHON

1. Apolos Paulus Sroyer, (selanjutnya disebut sebagai Pemohon I); 2. Paulus Agustinus Kafiar, (selanjutnya disebut sebagai Pemohon II); 3. Thomas Rumbiak, (selanjutnya disebut sebagai Pemohon III); 4. Filep Y.S. Mayor, (selanjutnya disebut sebagai Pemohon IV); 5. Mathias Komegi, (selanjutnya disebut sebagai Pemohon V); 6. Edy Kawab, (selanjutnya disebut sebagai Pemohon VI);

Selanjutnya secara bersama-sama disebut sebagai para Pemohon. Kuasa Pemohon:

Habel Rumbiak, advokat pada Lembaga Bantuan Hukum Kamasan, berdasarkan surat kuasa khusus tertanggal 15 Desember 2016.

II. OBJEK PERMOHONAN Pengujian Materiil:

1. Pasal 314 danPasal 327 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8), dan (9) dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 (Lembaran Negara Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568) tentang MPR, DPR, DPD, DPRD (UU MD3);

2. Pasal 94 dan Pasal 111 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7), dan (8) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679) (UU Pemda).

III. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI

Penjelasan para Pemohon mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk menguji Undang-Undang adalah:

(2)

1. Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) menyebutkan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang ada dibawahnya, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi;

2. Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah melakukan pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945;

3. Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) menyatakan bahwa:

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”; 4. Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang

Kekuasaan Kehakiman yang pada pokoknya menyebutkan bahwa salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah melakukan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

5. Bahwa objek permohonan adalah pengujian materiil Pasal 314 danPasal 327 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8), dan (9) UU MD3 dan Pasal 94 dan Pasal 111 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7), dan (8) UU Pemda, oleh karena itu Mahkamah berwenang untuk melakukan pengujian Undang-Undang a quo. IV. KEDUDUKAN HUKUM PEMOHON (LEGAL STANDING)

1. Berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK:

Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan

konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu: (a) perorangan WNI, (b) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan RI yang diatur dalam undang-undang, (c) badan hukum publik dan privat, atau (d) lembaga negara”.

(3)

3

a. adanya hak konstitusional para Pemohon yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

b. hak konstitusional para Pemohon tersebut dianggap oleh para Pemohon telah dirugikan oleh suatu Undang-Undang yang diuji.

c. kerugian konstitusional para Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik atau khusus dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi.

d. adanya hubungan sebab akibat antara kerugian dan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan untuk diuji.

e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. 3. Pemohon I adalah Ketua Dewan Adat Bar (wilayah) Sorido-KBS yang

membawahi 17 clan di Kabupaten Biak Numfor, Papua, mewakili salah satu kesatuan wilayah masyarakat adat yang berpotensi untuk dirugikan hak konstitusionalnya karena tidak mendapat kesempatan untuk mengisi posisi unsur pimpinan DPR Provinsi;

4. Pemohon II, III, dan VI adalah anggota masyarakat asli Papua berdomisili di Kabupaten Biak Numfor, Kota Jayapura, dan Kabupaten Manokwari yang merasa hak-haknya akan lebih mudah diakomodir bila anggota DPR Provinsi yang diangkat ikut serta dalam unsur pimpinan DPR Provinsi;

5. Pemohon IV dan V adalah anggota MRP Papua Barat yang merupakan wakil dari unsur masyarakat adat yang ingin memulihkan hak-hak konstitusional masyarakat asli Papua yang diangkat menjadi anggota DPRD dan DPR PB.

V. NORMA YANG DIMOHONKAN PENGUJIAN DAN NORMA UUD 1945 A. NORMA YANG DIMOHONKAN PENGUJIAN

Pengujian Materiil UU MD3: 1. Pasal 314:

“DPRD provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum.”

2. Pasal 327 ayat (2):

“Pimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD provinsi.”

(4)

3. Pasal 327 ayat (3):

“Ketua DPRD provinsi ialah anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperolah kursi terbanyak pertama di DPRD provinsi.”

4. Pasal 327 ayat (4):

“Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ketua DPRD provinsi ialah anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak.”

5. Pasal 327 ayat (5):

“Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh suara terbanyak sama sebagaimana dimaksud pada ayat (4), penentuan ketua DPRD provinsi dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara partai politik yang lebih luas secara berjenjang.”

6. Pasal 327 ayat (6):

“Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wakil ketua DPRD provinsi ialah anggota DPRD provinsiyang berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak kedua, ketiga, dan/atau keempat.”

7. Pasal 327 ayat (7):

“Apabila masih terdapat kursi wakil ketua DPRD provinsi yang belum terisi sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka kursi wakil ketua diisi oleh anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua.”

8. Pasal 327 ayat (8):

“Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua sama, wakil ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (7) ditentukan berdasarkan urutan hasil perolehan suara terbanyak.”

9. Pasal 327 ayat (9):

“Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (7),

(5)

5 Pengujian Materiil UU Pemda:

1. Pasal 94:

“DPRD provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum.”

2. Pasal 111 ayat (2):

“Pimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari partai politik berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPRD provinsi.”

3. Pasal 111 ayat (3):

“Ketua DPRD provinsi ialah anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperolah kursi terbanyak pertama di DPRD provinsi.”

4. Pasal 111 ayat (4):

“Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ketua DPRD provinsi ialah anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh suara terbanyak.”

5. Pasal 111 ayat (5):

“Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) partai politik yang memperoleh suara terbanyak sama sebagaimana dimaksud pada ayat (4), penentuan ketua DPRD provinsi dilakukan berdasarkan persebaran perolehan suara partai politik yang paling merata urutan pertama.”

6. Pasal 111 ayat (6):

“Dalam hal ketua DPRD provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wakil ketua DPRD Provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua, ketiga, keempat dan/atau kelima sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD provinsi.”

7. Pasal 111 ayat (7):

“Dalam hal ketua DPRD provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wakil ketua DPRD Provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh urutan suara terbanyak kedua, ketiga, keempat dan/atau kelima sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD provinsi.”

(6)

8. Pasal 111 ayat (8):

“Dalam hal ketua DPRD provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (5), wakil ketua DPRD Provinsi ditetapkan dari anggota DPRD provinsi yang berasal dari partai politik yang memperoleh persebaran suara paling merata urutan kedua, ketiga, keempat dan/atau kelima sesuai dengan jumlah wakil ketua DPRD provinsi.

B. NORMA UNDANG-UNDANG DASAR 1945. 1. Pasal 18B ayat (2):

“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

2. Pasal 27 ayat (1):

“Segala warga negera bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”

3. Pasal 28D ayat (1):

“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”

4. Pasal 28D ayat (3):

“Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.”

5. Pasal 28I ayat (3):

“Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.”

VI. ALASAN PERMOHONAN

1. Bahwa para pemohon menilai adanya ketidakpastian hukum yang menimbulkan ketidakadilan atau berpotensi menimbulkan ketidakadilan terhadap hak-hak masyarakat asli Papua dalam dalam undang-undang a quo yang dimohonkan, dalam hal ini bagi anggota DPR Provinsi dari jalur

(7)

7 2. Bahwa selain ketidakpastian hukum, menurut para Pemohon terdapat pula

dualisme pengaturan tentang kedudukan, susunan, tugas, wewenang, hak dan tanggung jawab, keanggotaan, pimpinan dan alat kelengkapan tentang kekuasaan legislatif di Provinsi Papua dan Papua Barat (DPRP dan DPR PB);

3. Bahwa dualisme pengaturan sebagaimana dimaksud adalah :

a. “Anggota DPR Provinsi Papua dan Provinsi Barat terdiri dari anggota yang dipilih dan yang diangkat”, sesuai ketentuan pada Pasal 6 ayat 2 UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua (UU 21/2001); b. Sedang pasal 314 UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD

dan DPRD menyatakan bahwa “DPRD provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum”;

c. Pasal 94 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan, “DPRD Provinsi terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum”;

4. Bahwa Pasal 6 ayat 5 UU 21/2001 menyatakan, “Kedudukan, susunan, tugas, wewenang, hak dan tanggung jawab, keanggotaan, pimpinan dan alat kelengkapan DPRP diatur dengan peraturan perundang-undangan”;

5. Bahwa, agar tidak terjadi kekosongan hukum yang menghambat pelaksanaan tugas DPRP dan DPR PB maka ketentuan mengenai kedudukan, susunan, tugas, wewenang, hak dan tanggung jawab keanggotaan, pimpinan, dan alat kelengkapan DPRP dan DPR PB, maka diberlakukan UU yang secara umum mengatur tentang susunan dan kedudukan MPR, DPD, DPR dan DPRD;

6. Bahwa menurut dalil para Pemohon, terdapat permasalahan hukum dalam pengaturan susunan dan kedudukan DPRP dan DPR PB, antara perintah Pasal 6 ayat 5 UU Nomor 21 Tahun 2001 dengan UU Nomor 17 Tahun 2014 dan UU Nomor 23 Tahun 2014;

(8)

7. Bahwa permasalahan hukum dimaksud adalah :

 Tentang penentuan unsur pimpinan yang hanya diberikan kepada anggota DPR Provinsi yang berasal dari partai politik, yang dipilih melalui pemilihan umum legislatif;

 Tentang adanya anggota DPR Provinsi yang diangkat, yang berasal dari unsur masyarakat adat, perempuan dan agama.

VII. PETITUM

1. Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya;

2. Menyatakan frasa “anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum” pada pasal 314 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568) tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak bertentangan dengan UUD NKRI Tahun 1945 secara bersyarat sepanjang dimaknai “dan anggota yang diangkat dari unsur masyarakat adat, perempuan dan agama”; 3. Menyatakan frasa “anggota partai politik peserta pemilihan umum yang

dipilih melalui pemilihan umum” pada pasal 314 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568) tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “dan anggota yang diangkat dari unsur masyarakat adat, perempuan dan agama”;

4. Menyatakan frasa “partai politik” pada Pasal 327 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8) dan (9) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568) tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat,

(9)

9 Rakyat Daerah tidak bertentangan dengan UUD NKRI Tahun 1945 secara bersyarat sepanjang dimaknai “atau anggota yang diangkat”;

5. Menyatakan frasa “partai politik” pada pasal 327 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8) dan (9) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568) tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “atau anggota yang diangkat”;

6. Menyatakan frasa “anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum” pada pasal 94 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679) tidak bertentangan dengan UUD Tahun NKRI 1945 secara bersyarat sepanjang dimaknai “dan anggota yang diangkat dari unsur masyarakat adat, perempuan dan agama”;

7. Menyatakan frasa “anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum” pada pasal 94 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “dan anggota yang diangkat dari unsur masyarakat adat, perempuan dan agama”;

8. Menyatakan frasa “partai politik” pasal 111 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7) dan (8) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

(10)

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679) tidak bertentangan dengan UUD NKRI Tahun 1945 secara bersyarat sepanjang dimaknai “atau anggota yang diangkat”;

9. Menyatakan frasa “partai politik” pada pasal 111 ayat (2), (3), (4), (5), (6), (7) dan (8) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “atau anggota yang diangkat”;

10. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.

Atau, apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :