Bab 2. Landasan Teori. Teori yang akan dipergunakan dalam skripsi ini adalah teori Bushido yang akan

Teks penuh

(1)

Bab 2 Landasan Teori

Teori yang akan dipergunakan dalam skripsi ini adalah teori Bushido yang akan diambil dari beberapa tokoh yang mempunyai pengaruh dalam cara pandang mengenai Bushido itu sendiri. Tokoh-tokoh tersebut adalah Fred Neff, Nitobe Inazo, Yamamoto Tsunetomo, dan Robert. N Bellah. Teori yang kedua adalah teori montase dari Albertine Minderop. Kemudian teori yang terakhir adalah teori telaah perwatakan. penelitian ini akan ditunjang dengan beberapa teori dari tokoh-tokoh yang mempunyai andil besar dalam pengkajian dari sebuah karya fiksi. Mereka adalah Albertine Minderop, Burhan Nurgiyantoro, Zainuddin Fananie, dan Panuti Sudjiman.

2.1 Teori Bushido

Dalam arti harafiahnya, Bushido adalah 武 (Bu) 士 (Shi) 道 (Dou). 武 dari Bushido dapat diartikan sebagai prajurit. 士 adalah pahlawan, kemudian 道 adalah jalan. Bila disatukan maka akan terbentuk arti harafiah seperti jalan seorang prajurit sebagai pahlawan. Jadi arti yang dapat lebih mudah dimengerti adalah seseorang yang memilih jalan hidupnya dengan berperang menjadi seorang prajurit (Nitobe, 1991: 92). Nitobe menggambarkan Bushido seperti kutipan di bawah ini.

Kutipan:

生命はここに主君に仕える手段とさえ考えられ、その至高の姿は各誉 あるべきものとされたのである。サムライのすべての教育や練はこの ことにもづいて行われたのである。(Nitobe, 2006: 92)

(2)

Terjemahan:

Hidup dengan melayani tuannya melalui tindakan dan dengan pikiran bahwa seluruh ajaran dan latihan yang dijalani Samurai pun merupakan sebuah reputasi dari sosok yang sesuai dengan kesetiaan.

Harga diri dan kehormatan seorang Bushi juga dapat kita jumpai dalam pribadi orang Jepang. Harga diri dan kehormatan sudah melekat dalam hati dan jiwa mereka yang merupakan keturunan Samurai sejak lahir. Sejak mereka kecil, mereka telah disadarkan betapa besar dan kentalnya kedua unsur ini dalam tubuh, pikiran, jiwa, dan bahkan di dalam darah mereka (Nitobe, 1991: 23).

Sifat setia dari awal telah mendarah daging dalam diri seorang Bushi. Sifat ini menjadikannya sebuah kewajiban akan tuntutan dan tujuan hidup Bushi. Dalam setiap tujuan hidup mereka, cita-cita mereka, maupun cara pikir mereka. Unsur Bushido ini mewarnai semua aspek kehidupan dan kegiatan orang Jepang (Nitobe, 1991: 24).

Menurut Yamamoto (1979: 18), kesetiaan juga merupakan nilai-nilai ideal Bushido yang harus dianut. Kesetiaan merupakan hal yang menonjol di antara nilai-nilai lainnya. Arti dari kesetiaan di sini adalah kesetiaan Bushi sebagai pengikut terhadap tuannya yang diwujudkan hingga bentuk paling ekstrim, yaitu kesediaan berkorban dalam membunuh diri sendiri. Berikut adalah kutipan dari Bushi yang mengungkapkan kesetiaan. Kutipan: 武士は、ひたすら、主人を大切に思うだけでよし。これが最上の家来 である。しかし、たとえ、不器用で用立たずな者でも、ひたすら殿の こ と を 思 う 心 さ え あ れ ば 、 こ れ は 頼 り に な る 家 来 だ 。 (Yamamoto, 1979: 18) Terjemahan:

Bushi adalah pengikut yang hanya apabila ia dengan sungguh hati mementingkan tuannya. Ini adalah tipe Samurai utama tetapi, seorang yang bahkan tidak bisa apa-apa dan kikuk sekalipun dapat menjadi Bushi yang terpercaya jika saja ia memikirkan tuannya semata.

(3)

Berdasarkan kutipan di atas, maka Bushi yang baik adalah yang hanya memikirkan dan mementingkan tuannya saja. Dengan demikian, Bushi yang baik adalah Bushi yang memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap tuannya. Tanpa memiliki kemampuan khususpun, seseorang dapat menjadi Bushi jika ia dapat dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh melindungi seseorang yang ia anggap sebagai tuannya yang secara tidak langsungpun menjadi orang yang sangat penting baginya.

Seorang Bushido harus dapat mengendalikan dirinya dari emosi seperti kegelisahan, ketakutan, dan kesedihan. Tidak meratapi kesusahan hidup dan kegagalan. Tabah menjalananinya tanpa berkeluh kesah. Kita juga harus dapat mengendalikan emosi kita dari penglihatan orang luar. Bahwa kita harus dapat menjaga emosi dan perasaan kita untuk kepentingan orang luar agar tidak mengganggu ketenangan pribadi orang luar (Nitobe, 2006: 100-1). Nitobe juga mengutip kata-kata dari seorang pemuda cerdas yang menggambarkan sebuah pegendalian diri.

Kutipan:

アメリカ人の夫は人前で妻に口づけをして、私室で打つ。しかし日本 人の夫は人前で妻を打って、私室では口づけをする。(Nitobe, 2006: 101)

Terjemahan:

Seorang suami berkebangsaan Amerika akan mencium istrinya di depan umum, namun akan memukul istrinya secara diam-diam. Sedangkan suami berkebangsaan Jepang akan memukul istrinya di depan umum, namun akan mencium istrinya secara diam-diam.

Seorang Samurai dilatih sedari kecil untuk siap melindungi negara, kaisar, dan tuannya setiap saat. Semua aspek seperti ilmu pengetahuan, ilmu bela diri, maupun ajaran-ajaran kepercayaanpun diajarkan. Kemudian pada saat dibutuhkan ia dapat menggunakan pengetahuannya dengan semaksimal mungkin dan dapat dipertanggungjawabkan kepada negara, kaisar, tuannya, maupun pada dirinya sendiri.

(4)

Jika sampai ia gagal melaksanakan tugasnya, ia harus dapat mencari di mana letak kesalahannya dan pergi untuk memperbaikinya. Kemudian baru ia dapat lebih mengetahui sampai mana ia dapat mengenal dirinya sendiri (Nitobe, 1991: 29).

Seorang Bushi juga memiliki kebajikan sebagai salah satu sifat yang paling penting. Nitobe sendiri mengatakan bahwa rasa sayang dan simpati merupakan sifat dasar tertinggi dari kehidupan manusia. Berikut kutipannya.

Kutipan:

愛、寛容、他者への同情、憐憫の情はいつも至高の徳、すなわち人間 の魂がもつあらゆる性質の中の最高のものと認められてきた。(Nitobe, 2006: 44)

Terjemahan:

Cinta, kemurahan hati, rasa sayang terhadap sesama, dan perasaan simpati telah diakui sebagai kebajikan tertinggi dalam seluruh sifat dasar dari jiwa manusia

Bushido digunakan untuk menggambarkan status etika dari kelas samurai mencakup banyak ide dan bertahan untuk waktu yang lama. (Bellah, 1991: 90). Dalam pembahasan lebih lanjut, Bellah mengutip kutipan dari Hagakure, sebuah ringkasan tentang Bushido pada awal abad ke-18 di desa Nabeshima, propinsi Hizen di Kyushu :

Dimanapun kami berada, walaupun terbenam di dalam gunung yang dalam ataupun terkurung di bawah tanah, kapanpun atau di manapun, tugas kami adalah melindungi Kaisar kami. Ini adalah tugas dari setiap pemuda Nabeshima. Takdir ini merupakan kewajiban kami, tidak berubah dan seyogyanya benar.

Tidak pernah sekalipun saya menempatkan hidup dan masalah di atas masalah Kaisar dan tuan saya, atau sebaliknya akan saya lakukan hal itu sepanjang hidup saya. Bahkan saat saya telah matipun, saya akan kembali hidup sampai tujuh kali untuk melindungi kediaman sang Kaisar.

Kami bersumpah atas empat kewajiban:

1. Kami akan menjadi yang terbaik dalam menjalani tugas.

2. Kami akan menjadikan diri kami sangat berguna kepada Kaisar. 3. Kami akan sangat menghormati orang tua kami.

(5)

Sifat Bushido tidak hanya dimiliki oleh kaum lelaki saja, hal ini dibuktikan dengan sebuah kutipan dari Onna Daigaku karya Kaibara Ekiken (1630-1714) menyatakan bahawa seorang wanita harus lebih waspada dan tegas terhadap kelakuannya sendiri. Pada hari ia harus bangun lebih pagi dan tidur lebih malam. Di samping saat tidur siang, ia harus tetap fokus pada kewajibannya menjaga rumah dan tidak boleh lelah untuk menjahit, merajut, dan memintal. Ia juga tidak dapat minum teh maupun sake terlalu banyak karena ia harus tetap menjaga mata dan telinganya untuk pertunjukkan drama dan tarian.

Dalam kewajibannya sebagai istri, ia harus menjaga kebutuhan rumah tangga suaminya dalam anjuran yang pantas. Bila sang istri berlaku jahat, rumah akan menjadi kacau. Ia harus dapat menghindari pemborosan. Harus menghargai makanan dan pakaian sebagai sikap menerima bahwa ini adalah jalan dari hidupnya, dan tidak pernah membiarkan dirinya bersikap mewah dan sombong (Bellah, 1991: 90-5).

Kode etik Samurai atau lebih dikenal sebagai Bushido, yang telah diterjemahkan sebagai jalan hidup seorang prajurit. Kode etik ini dibutuhkan seorang Bushi untuk mempersiapkan diri mereka menjadi Samurai yang secara mental dan emosional dapat mempertahankan jalan hidup mereka (Neff, 1987: 17). Menurut Neff (17-8), terdapat tujuh filosofi yang dimiliki seorang Bushi, yaitu:

1. Kesetiaan

Seseorang harus mempunyai rasa setia terhadap atasannya. Ini adalah dasar cara pikir sosial dari Bushi. Bushi harus setia mengikuti majikannya, walaupun harus membahayakan dirinya sendiri.

(6)

2. Keadilan

Keadilan adalah salah satu bagian penting dari jalan hidup Bushi. Samurai tidak akan berbohong atau tidak mengikuti aturan dalam posisi mereka. Gagasan dan cara bertarung merupakan hakim dari tingkah laku mereka. 3. Keberanian

Untuk menjadi seorang Samurai, seseorang harus memiliki keberanian untuk berperan meskipun dengan wajah yang polos. Pengalaman dan latihan mengantarkan pada reaksi cepat saat menghadapi bahaya dengan berani.

4. Kebajikan

Konsep ini termasuk dari kemampuan rasa cinta, kasih, dan simpati terhadap sesama. Ini bukan suatu kelemahan. Kebajikan merupakan aplikasi yang cocok bagi teknik Bushido.

5. Kesopan-santunan

Tatakrama yang pantas dan kesopan-satunan yang umum merupakan nilai yang tinggi bagi Samurai. Prajurit yang sopan merupakan prajurit yang menunjukkan keberanian, karena memperlihatkan tidak ada rasa takut pada orang lain. Disiplin dari kesopan-santunan dipercaya untuk membangun karakter individu saat sedang melancarkan keselarasan menyeluruh.

6. Kejujuran

Bagi beberapa Samurai, berbohong adalah perbuatan yang tidak terhormat. Perkataan dari Samurai harusnya cukup untuk setiap kesepakatan. samurai

(7)

sejati yang mengikuti kode Bushido menghargai kejujuran dan perkataannya dapat dipercaya.

7. Kehormatan

Setiap kehormatan dan reputasi seorang samurai tidak hanya penting bagi dirinya saja. Penyerangan pada kehormatan Samurai seringkali kali didasarkan menjadi serangan langsung kepada keluarga maupun leluhurnya. Serangan terhadap kehormatan ini seringkali membawa pertarungan antar Samurai yang bersangkutan dengan lawannya.

Beberapa dari tujuh filosofi masih bernilai dan sangat berguna bagi pengembangan karakter. Bagaimanapun, menjaga setiap tujuh filosofi harus dilakukan secara seimbang. Terlalu menumpukan pada satu bagian dari tujuh filosofi ini dapat mendatangkan kehidupan yang tidak seimbang (Neff, 1987: 17-8).

2.2 Teknik Arus Kesadaran

Istilah arus kesadaran atau stream of consciousness merupakan salah satu teknik dalam mengambarkan dan menceritakan keadaan dari seorang tokoh. Dalam Minderop menurut Pickering dan Hoeper (1985: 51), arus kesadaran merupakan suatu teknik karakterisasi yang tampil dari kesadaran atau alam bawah sadar mental dan pola pikir manusia yang mencakup pikiran, persepsi, perasaan, dan asosiasi (perkumpulan) yang mengalir begitu saja (2005: 121). Minderop (2005: 121) juga mengatakan bahwa arus kesadaran merupakan gambaran kekacauan pikiran yang berkepanjangan, dalam berbagai tingkatan yang mengalir dalam proses pikiran tokoh pada cerita.

(8)

cerita (Minderop, 2005: 123). Untuk mengungkapkan kesadaran manusia terdapat empat teknik arus kesadaran yang digunakan adalah eka cakap dalaman langsung (teknik yang dipakai dalam penulisan fiksi untuk meyampaikan isi batin tokoh dalam proses perkembangan watak berada di tingkatan di bawah kesadaran dan muncul sebagai kata yang disengaja), eka cakap dalaman tak langsung (yaitu penyajian percakapan batin pada tokoh seseorang secara tidak langsung), komentar pencerita (narator), dan senandika (wacana seorang tokoh dalam karya sastra digunakan untuk mengungkapkan perasaan, firasat, atau konflik batin yang paling dalam dari tokoh) (Minderop, 2005: 125-6). Keempat teknik tersebut menurut Humprey (1954: 23-44) dalam Minderop (2005: 126) menekankan pada eksplorasi kesadaran manusia pada tingkat prapengucapan untuk mengungkapkan keadaan batin tokoh. Dalam teknik arus kesadaran terdapat juga tiga teknik lain, yaitu teknik montase, kolase (dalam kesusasteraan, teknik kolase menghasilkan cerita yang sarat dengan kutipan dari karya sastra lain) ,dan asosiasi (Serentetan episode atau peristiwa yang tampaknya tidak berkaitan dengan cerita inti). Teknik montase akan dijelaskan lebih lanjut pada subbab berikutnya.

Dalam analisis yang akan dipaparkan pada bab tiga, akan dipakai teknik eka dalaman tak langsung dan teknik montase yang akan mempermudah jalannya proses analisis pada perilaku dari tokoh utama dalam film Touch.

2.2.1 Teknik Eka Dalaman Tak Langsung

Teknik eka cakap dalaman tak langsung adalah penyajian percakapan batin para tokoh secara tidak langsung. Dalam hal ini pencerita memberi keterangan kepada

(9)

eka cakapan dalaman tak langsung, menggunakan kata ganti orang kedua “engkau” ataupun kata ganti orang pertama “saya” dan “kita”. Pada kisahan pencerita biasanya digunakan kata ganti orang ketiga tunggal “dia” atau jamak “mereka” (Minderop, 2005: 132).

Dalam Minderop (2005: 132), Humprey (1954: 25) mengatakan bahwa teknik eka dalaman tak langsung memberi kesan bahwa adanya keikutsertaan narator dalamp penyampaian arus kesadaran. Teknik menampilkan narator maha tahu. Materi yang diangkat seakan-akan langsung berasal dari kesadarn tokoh selain hadirnya deskripsi dan komentar yang menuntun pembaca agar lebih mengerti.

2.2.2 Teknik Montase

Menurut Hemprey (1954: 49), metode paling mendasar dalam sinema adalah teknik montase. Teknik montase memberikan pengaruh dalam novel arus kesadaran. Istilah montase berasal dari perfilman yang berarti memilah-milah, memotong-memotong, serta menyambung-nyambung (pengambilan) gambar sehingga menjadi satu keutuhan (Minderop, 2005: 150).

Teknik Montase di dalam bidang perfilman mengacu pada kelompok unsur yang digunakan untuk memperlihatkan antar hubungan atau asosiasi gagasan, misalnya pengalihan imaji yang mendadak atau imaji yang tumpang tindih satu dan lainnya (Minderop, 205: 151).

Teknik ini kerap digunakan untuk menciptakan suasana melalui serangkaian impresi dan observasi yang diatur secara tepat. Teknik montase dapat pula menyajikan kesibukan latar (misalnya hiruk-pikuk kota besar) atau suatu kekalutan (misalnya

(10)

Melalui teknik ini dapat direkam sikap kaotis (kekacauan) yang menguasai kehidupan kota besar yang dirasakan oleh penghuninya (Minderop, 2005: 153).

2.3 Telaah Perwatakan

Perwatakan adalah kualitas nalar dan perasaan para tokoh di dalam suatu karya fiksi yang dapat mencakup tidak saja tingkah laku atau tabiat dan kebiasaan, tetapi juga penampilan. Untuk menganalisis perwatakan, sudut pandang dengan berbagai teknik pencerita dapat digunakan oleh pengarang dengan menampilkan pencerita atau narator (Minderop, 2005: 95-6). Minderop (2005: 96) juga menambahkan bahwa si pencerita adalah orang yang menyampaikan ceritera dan dapat selaku tokoh dalam cerita atau tidak terlibat dalam cerita. Si pencerita bisa berada di dalam ceritera bila selaku tokoh atau berada di luar cerita bila tidak selaku tokoh. Penceritaan “diaan” biasanya digunakan bila si pencerita berada di luar ceritera.

Sudut pandang persona ketiga “Dia” digunakan dalam pengisahan ceritera dengan gaya “dia”. Narator atau pencerita adalah seseorang yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebutkan nama, seperti Tatsuya, Minami, dan sebagainya atau penggunaan kata ganti seperti ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh ceritera, khususnya utama kerap atau terus-menerus disebut dan sebagai variasi, pengarang menggunakan kata ganti (Minderop, 2005: 96-7). Dalam penyampaian cerita di analisis yang akan dipaparkan pada bab tiga, akan digunakan sudut pandang persona ketiga “diaan” mahatahu.

(11)

2.3.1 Teknik Pencerita “Diaan” Mahatahu

Teknik pencerita “diaan” mahatahu atau third-person omnicient adalah pencerita yang berada di luar ceritera yang melaporkan peristiwa-peristiwa yang dialami para tokoh dari sudut pandang “ia” atau “dia”. Pencerita mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceriterakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat ceritera, berpindah-pindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya, menceriterakan atau menyembunyikan ucapan dan tindakan tokoh. Bahkan, pencerita mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas seperti halnya ucapan dan tindakan nyata (Minderop, 2005: 99).

Dalam Minderop, Pickering dan Hoeper (1981: 45) mengatakan bahwa dalam teknik pencerita “diaan” mahatahu, si pencerita disebut an all knowing presence karena ia dapat berkisah dengan bebas seperti mendramatisasi, menginterpretasi, merangkum, berspekulasi, berfilosofi, menilai secara moral atau menghakimi apa yang disampaikannya. Ia dapat secara langsung mengisahkan kepada pembaca bagaimana sikap para tokoh, mengapa mereka melakukan suatu tindakan, merekam ucapan dan percakapan para tokoh dan mendramatisasi tindakan mereka atau menyelinap ke dalam benak para tokoh untuk menggali secara langsung pikiran yang paling mendalam. Si pencerita dapat berpindah dari tokoh ke tokoh lainnya sesuka hati, ia juga dapat berpindah dari suatu saat ke saat lainnya, mendramatisasi dan merangkum sesuai keinginannya (2005: 99-100). Pada dasarnya keakinan dan nilai-nilai yang ingin disampaikan si pengarang dapat disampaikannya melalui teknik pencerita semacam ini (Minderop, 2005: 100).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di