Materi Gelombang Pak Iwan

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Pengaruh Noise Room Terhadap Kualitas

Suara Musik di Ruang Musik Audiophile

Artikel ini mengupas dasar pemahaman mengenai background noise dan noise room. Artikel ini juga membahas pengaruh background noise terhadap kualitas suara musik.

Definisi Background Noise

Background noise atau kebisingan latar adalah suara yang terdengar mengganggu di sebuah lokasi dalam kurun waktu tertentu. Dalam setiap lokasi di manapun itu, kita pasti akan selalu mendengar suara. Sumber suara yang terdengar dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu suara yang disebabkan oleh kejadian alam, seperti hujan, embusan angin, dan sebagainya. Kemudian, ada suara yang disebabkan oleh manusia dan mahluk hidup lainnya. Yang terakhir adalah suara yang disebabkan oleh permesinan. Jadi, background noise adalah gabungan semua suara yang terdengar dari ketiga sumber suara yang disebutkan sebelumnya. Background Noise memiliki besaran frekuensi (Hz), level (dB), dan waktu (detik).

Definisi Noise Room

Istilah noise room biasanya sering digunakan masyarakat umum untuk dalam ruangan. Noise room adalah noise yang terdapat dalam ruang dengar kita. Setiap ruangan memiliki spektrum frekuensi dan harmonisasi noise dengan level yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Seperti halnya sidik jari atau finger print, manusia memiliki keunikan antara satu dengan yang lainnya, demikian pula halnya dengan ruang dengar audio kita. Tiap ruangan dapat kita katakan memiliki noise print yang unik walaupun ruangan tersebut dibuat dengan bahan yang sama dengan ukuran yang sama dan berada di posisi yang bersebelahan.

External Noise

External noise adalah gangguan suara yang berasal dari luar ruangan yang merambat melalui media udara dan konstruksi bangunan. External noise dapat kita bagi menjadi dua, yaitu noise konstan dan noise impulse. Noise konstan adalah noise yang terjadi secara terus-menerus, seperti noise yang disebabkan oleh kompresor AC yang terletak tepat di luar ruangan kita. Noise impulse adalah noise yang kadang-kadang terjadi seperti bunyi pintu di luar ruangan yang dibuka tutup atau suara motor yang melintasi di jalan yang berada di luar ruangan tersebut.

(2)

Internal Noise

Internal noise adalah gangguan suara yang berasal dari dalam ruangan itu sendiri. Seperti halnya dengan external noise, internal noise dapat kita bagi menjadi noise konstan dan noise impulse. Noise konstan adalah yang berasal dari dalam ruangan yang dapat terjadi akibat suara fan AC atau noise dari peralatan audio itu sendiri. Sedangkan, noise impulse yang terjadi dalam ruangan yang bersumber dari peralatan yang ada di ruangan tersebut.

Pada akhirnya, baik noise konstan maupun noise impulse yang berasal dari luar ruangan maupun dari dalam ruangan, di amplifikasi dan di perpanjang oleh resonansi dan reverberasi yang terdapat di ruangan tersebut.

Gambaran Besaran Noise di Sebuah Ruangan

Agar memiliki gambaran tentang ambang noise di sebuah ruangan, berikut ini beberapa referensi yang sering ditulis dalam textbook akustik. Nilai 0 dB adalah nilai yang ditetapkan

(3)

sebagai referensi ambang terendah pendengaran manusia. Pada kenyataannya, tidak ada ruangan biasa yang memiliki noise room sebesar 0 dB. Dalam ruangan kosong yang tenang di rumah pada perumahan dalam kota pun, biasanya memiliki noise plus minus 40 dB. Apabila kita berada di sebuah food court yang padat aktivitas, maka noise di ruang tersebut umumnya memiliki noise plus minus 60 dB. Apabila kita berada pada barisan depan sebuah konser musik rock kelas dunia, umumnya level suara yang dapat kita dengar adalah lebih besar dari 105 dB.

Apa Pengaruh Noise Room untuk Ruang Musik?

Penjelasan tentang noise room yang sederhana dapat tergambar sebagai berikut. Apabila pergi berlibur ke sebuah tempat yang jauh dari kesibukan pada malam hari, kita duduk-duduk di bawah langit yang penuh bintang, saat itu kita mungkin dapat mendengar suara jangkrik dari kejauhan dan suara semilir angin yang meniup dedaunan. Apabila tempat itu sedemikian tenangnya, kita mungkin dapat mendengar desah napas kita sendiri. Itu artinya level

background noise di tempat tersebut lebih kecil daripada suara napas kita. Akan tetapi, seandainya di ruangan tersebut kita menghidupkan sebuah kipas angin, apakah kita masih dapat mendengar suara napas kita sendiri?

Jadi, untuk dapat mendengarkan detail-detail suara musik yang umumnya berlevel kecil di concert hall, ruangan audio, atau control room sebuah recording studio dibutuhkan

background noise yang sangat rendah.

Secara matematis, kita dapat mengatakan bahwa dalam ruangan kita terdapat noise room sebesar 50 dB dengan spektrum frekuensi yang flat mulai dari 20 Hz sampai dengan 20,000 Hz. Apabila di ruangan tersebut kita memainkan musik dari perangkat audio dengan sound level rata-rata sebesar 90 dB, maka dinamika real musik yang kita nikmati adalah tinggal plus minus 40 dB, bergantung pada posisi frekuensi musik tersebut.

Simpulan Noise Room

Pertama: secara sadar ataupun tidak, selama ini kita selalu mendengarkan noise. Terkadang noise yang kita dengarkan itu sangat mengganggu dan dapat meningkatkan level stres kita. Salah satu terapi yang baik untuk menurunkan level stres kita adalah dengan mendengarkan musik secara khusyuk. Akan tetapi pada kenyataannya, terkadang suasana tenang yang kita harapkan tidak dapat tercapai karena adanya gangguan noise dalam ruang dengar kita.

Kedua: seandainya telah memiliki sebuah perangkat yang mampu menghadirkan mikro detail secara akurat, tetap saja kita harus memperhatikan hal itu. Akan tetapi, informasi tersebut mungkin saja luput dari pendengaran kita karena noise level yang terdapat dalam ruangan tersebut lebih besar daripada suara mikro detail yang dihasilkan oleh perangkat audio kita.

(4)

Sebuah ruangan yang didesain untuk suatu fungsi tertentu, baik yang mempertimbangkan aspek akustik maupun yang tidak, seringkali dihadapkan pada problem-problem berikut:

1. Focusing of Sound (Pemusatan Suara) : Masalah ini biasanya terjadi apabila ada permukaan cekung (concave) yang bersifat reflektif, baik di daerah panggung, dinding belakang ruangan, maupun di langit-langit (kubah atau jejaring kubah). Bila anda mendesain ruangan dan aspek desain mengharuskan ada elemen cekung/kubah, ada baiknya anda

melakukan treatment akustik pada bidang tersebut, bisa dengan cara membuat permukaannya absorptif (mis. menggunakan acoustics spray) atau membuat permukaannya bersifat diffuse.

2.Echoe (pantulan berulang dan kuat): Problem ini seringkali dibahasakan sebagai gema, yang menurut saya pribadi adalah terjemahan yang kurang tepat. Echoe disebabkan oleh permukaan datar yang sangat reflektif atau permukaan hyperbolic reflektif (terutama pada dinding yang terletak jauh dari sumber). Pantulan yang diakibatkan oleh permukaan-permukaan tersebut bersifat spekular dan memiliki energi yang masih besar, sehingga (bersama dengan delay time yang lama) akan mengganggu suara langsung. Problem akan menjadi lebih parah, apabila ada permukaan reflektif sejajar di hadapannya. Permukaan reflektif sejajar bisa menyebabkan pantulan yang berulang-ulang (flutter echoe) dan juga gelombang berdiri. Flutter echoe ini bisa terjadi pada arah horisontal (akibat dinding sejajar) maupun arah vertikal (lantai dan langit-langit sejajar dan keduanya reflektif).

3. Resonance (Resonansi): Seperti halnya echoe problem ini juga diakibatkan oleh dinding paralel, terutama pada ruangan yang berbentuk persegi panjang atau kotak. Contoh yang paling mudah bisa ditemukan di ruang kamar mandi yang dindingnya (sebagian besar atau seluruhnya) dilapisi keramik.

4. External Noise (Bising): Problem ini dihadapi oleh hampir seluruh ruangan yang ada di dunia ini, karena pada umumnya ruangan dibangun di sekitar sistem-sistem yang lain.

Misalnya, sebuah ruang konser berada pada bangunan yang berada di tepi jalan raya dan jalan kereta api atau ruang konser yang bersebelahan dengan ruang latihan atau ruangan kelas yang bersebelahan. Bising dapat menjalar menembus sistem dinding, langit-langit dan lantai, disamping menjalar langsung melewati hubungan udara dari luar ruangan ke dalam ruangan (lewat jendela, pintu, saluran AC, ventilasi, dsb). Konsep pengendaliannya berkaitan dengan desain insulasi (sistem kedap suara). Pada ruangan-ruangan yang critical fungsi

akustiknya, biasanya secara struktur ruangan dipisahkan dari ruangan disekelilingnya, atau biasa disebut box within a box concept.

5. Doubled RT (Waktu dengung ganda): Problem ini biasanya terjadi pada ruangan yang memiliki koridor terbuka/ruang samping atau pada ruangan playback yang memiliki waktu dengung yang cukup panjang.

Itulah beberapa problem yang umumnya muncul dalam ruangan yang memerlukan kinerja akustik. Kesemuanya dapat diminimumkan apabila sudah dipertimbangkan dengan seksama pada saat ruangan tersebut didesain. Apabila ruangan sudah telanjur jadi, maka solusi yang biasanya diambil adalah mengubah karakteristik permukaan dalam ruangan, misalnya dari yang semula reflektif menjadi absorptif ataupun difusif. Solusi tersebut biasanya melibatkan biaya yang tidak sedikit (karena ruangan sudah telanjur jadi). Oleh sebab itu, sangat

disarankan untuk mempertimbangkan problem-problem tersebut pada tahap desain. Saat ini sudah banyak perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memprediksi kinerja akustik suatu ruangan, meskipun ruangan tersebut belum dibangun, cukup dengan menginputkan

(5)

geometri ruangan dan karakteristik permukaannya. Perangkat yang biasa digunakan para perancang akustik adalah ODEON, CATT Acoustics, RAMSETE, dan EASE.

(6)

Mengenal Masalah Akustik Ruangan

Apabila merancang ruangan yang mana salah satu fungsi utama ruangan tersebut adalah mendengarkan suara, seperti studio rekaman, auditorium, gedung konser, home theater, ruang rapat, kelas sekolah dan sebagainya, kita harus memperhatikan aspek akustiknya. Apabila rancangan tersebut tidak memperhatikan aspek akustik, maka dapat dipastikan fungsi ruangan tersebut menjadi gagal.

Beberapa kejadian akustik yang terjadi di sebuah ruangan adalah room modes, reflection (pantulan), absorbtion (penyerapan), diffusion (penyebaran), diffraction (pembayangan), dan lain-lain. Kejadian akustik tersebut terdengar oleh pendengar sebagai gema (echo), dengung (reverberation), bass boomy-flat, dan lain- lain. Banyaknya gema, panjangnya dengung, dan lain sebagainya apabila digabung, akan membentuk sebuah karakteristik akustik ruangan. Contoh karakteristik akustik di sebuah multi function room adalah terdengarnya suara berulang (gema), waktu dengung ruangan (reverberation time) yang cukup panjang sampai dengan tujuh detik, serta karakter suara yang berubah menjadi lebih berat dan gelap. Apabila kita membuat event seminar di ruangan seperti itu, maka artikulasi kata-kata pembicara yang terdengar akan tumpang tindih. Selain itu, suara pembicara terdengar lebih dalam dan gelap sehingga membuat pendengar menjadi sulit untuk mendengarkan seminar tersebut. Dan apabila kita membuat acara musik, maka suara musik terdengar tumpang tindih dengan artikulasi nada yang tumpul.

Menganalisis Karakteristik Akustik

Ada dua cara untuk menganalisis karakteristik akustik ruangan, yaitu analisis subjektif dan analisis objektif. Analisis subjektif adalah analisis berdasarkan indera pendengaran dan penilaian berdasarkan preferensi pendengar. Sedangkan, penilaian objektif adalah penilaian berdasarkan pengukuran parameter akustik atau simulasi software akustik.

Analisis karakteristik akustik ruangan secara subjektif memiiki kelemahan, yaitu hasil analisis tidak akurat apabila dilakukan oleh orang yang telinganya tidak terlatih dan tidak mempunyai pengalaman. Ada beragam jenis alat ukur aksutik mulai dari yang sederhana, seperti real time analyzer, sampai alat ukur yang menyeluruh yang dapat mengukur

reverberation time, dan parameter akustik spesifik, seperti EDT, D50, C50, dan sebagainya. Selain itu, kita juga dapat menganalisis karaketeristik akustik sebuah ruangan dengan simulasi perangkat lunak akustik, seperti Odeon atau EASE-AURA.

Data hasil pengukuran akustik atau data output simulasi akustik ruang kemudian dianalisis untuk menentukan langkah-langkah yang diambil. Misalnya, menurunkan reverberation time atau mengeliminasi echo tanpa mengurangi reverberation.

Menetapkan Sasaran Kualitas Akustik Ruangan

Ada dua cara untuk menetapkan sasaran kualitas akustik sebuah ruangan. Cara pertama adalah menetapkan sasaran kualitas akustik sesuai dengan standardisasi yang telah ditetapkan. Cara kedua adalah menetapkan sasaran kualitas akustik melalui metode psiko akustik.

(7)

Ada beberapa organisasi yang menetapkan standardisasi kualitas akustik, seperti ASA (Acoustical Society of America) dan ISO (International Standard Organisation), EN (European Nation), dan sebagainya. Contohnya adalah Standardisasi ANSI/ASA S12.60-2010 yang bertajuk American National Standard Acoustical Performance Criteria, Design equirements, and Guidelines for School. Pada standardisasi ini, ditetapkan reverberation time, nilai serap bahan akustik untuk plafon, jenis material untuk dinding, dan sebagainya.

Metode penetapan sasaran kualitas melalui psiko akustik adalah dengan melakukan survei terhadap sekelompok orang yang akan menggunakan ruangan tersebut untuk mendapatkan parameter akustik yang ideal. Penetapan sasaran kualitas akustik berdasarkan psiko akustik lebih tepat diterapkan pada ruangan untuk mendengarkan musik karena setiap orang ingin mendengarkan suara musik dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, terkadang preferensi akustik setiap orang berbeda-beda sehingga digunakan metode survei untuk mendapatkan parameter yang tidak jauh dari harapan pengguna ruangan.

Metode manakah yang lebih tepat dan bagaimana cara mendapatkan parameter yang ideal? Untuk itu, diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk dapat menentukan standardisasi yang sesuai untuk kondisi di Indonesia.

Jenis Bahan dan Panel Akustik Peredam Suara

Setelah mengetahui karakteristik akustik ruangan dan sasaran kualitas akustik yang akan dicapai kini saatnya dihitung kebutuhan nilai penyerapan, pantulan, dan sebaran suara untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Misalnya, kita membutuhkan bahan peredam suara untuk mengurangi reverberation time dari 5 detik menjadi 3 detik pada frekuensi 250 Hz. Kemudian, kita perlu memantulkan suara pada frekuensi 1000 Hz ke area tertentu dan menyebarkan suara frekuensi 2000 Hz pada sisi belakang pendengar.

Berikut ini adalah beberapa jenis bahan dan panel akustik peredam suara brand Acourete: Acourete Fiber

Acourete Fiber adalah bahan peredam suara dengan densitas beragam densita mulai 300, 600, 800 dan 1000. Acourete Fiber terbuat dari anyaman serabut poly-propilene halus. Acourete Fiber memiliki kekuatan serap suara yang sama atau lebih baik dibandingkan bahan peredam lain yang tebalnya 10 kali lebih tebal. Berwarna putih dengan lebar 1.5m dan tebal mulai dari 4mm.

(8)

Acourete Board

Acourete Board adalah bahan peredam suara berpori yang berbentuk softboard. Material ini terbuat dari serat polyester yang dipadatkan dengan densitas 230 kilogram per meter kubik. Material ini memiliki panjang 1.2 meter, lebar 0.6 meter, dan tebal 9 milimeter.

Acourete Sinewave

Acourete Sinewave adalah polisilinder difuser yang bekerja efektif pada frekuensi tinggi. Modul ini didesain dengan menggunakan software CAD. Untuk pembuatan moulding, kami menggunakan teknologi CAM. Acourete Sinewave terbuat dari bahan plastik. Acourete

(9)

Sinewave tersedia dalam dua warna, yaitu coklat dan hitam. Panel ini dapat dipasangkan dengan beragam pola. Pemasangan mudah dan cepat dengan sekrup yang telah disediakan.

Acourete Board Panel

Acourete Board Panel adalah sebuah panel peredam suara yang memiliki redaman suara pad frekuensi mid-bass dan treble. Redaman suara pada mid-bass berfungsi untuk mengatasi resonansi (room modes) dan redaman suara pada frekuensi tinggi berfungsi untuk meredam pantulan awal, echo, dan reverberasi.

(10)

Acourete Bass Trap adalah bass trap yang bekerja dengan prinsip Helmholtz resonator. Bass trap ini bekerja efektif dalam mengurangi gangguan roo modes yang umum terjadi di sebuah ruangan. Acourete Bass Trap terbuat dari MDF dengan bahan peredam Acourete Board 230 yang kemudian diproses finishing dengan cat epoxy. Acourete Bass Trap tersedia dalam dua pilihan warna, yaitu coklat dan hitam. Panel ini memiliki double mounting system sehingga dapat dipasang vertikal pada dinding atau horizontal pada plafon.

Acourete Diffuser

Acourete Diffuser adalah Quadratic Residue Diffuser dengan bilangan prima tujuh. Panel ini bekerja dengan baik pada range 500 Hz – 4000 Hz. Acourete Diffuser tersedia dalam dua model ukuran, yaitu 712 dan 706. Panel ini dibuat dari kayu MDF dan diselesaikan

menggunakan cat epoxy untuk mengurang penyerapan suara oleh material MDF. Acourete Diffuser tersedia dalam dua pilihan warna, yaitu coklat dan hitam. Panel ini memiliki double mounting system sehingga dapat dipasang vertikal pada dinding atau horizontal pada plafon.

(11)

Mendesain Bahan Akustik Peredam Suara

Setelah mengetahui jenis, jumlah, dan lokasi pemasangan bahan akustik peredam suara, tantangan berikutnya adalah memikirkan metode pemasangan, faktor keamanan, dan

kesehatan, kemudahan perawatan, dan keindahan penampilan ruangan. Untuk mencapai hasil desain yang terbaik, diperlukan kerja sama yang baik pula antara perencana akustik,

perencana arsitekur, dan kontraktor pelaksana.

Perlu dipikirkan untuk membuat rencana metode pemasangan bahan akustik peredam yang rapi, mudah, ekonomis, dan aman. Faktor keamanan bahan akustik peredam suara adalah apakah bahan tersebut memenuhi syarat keamanan atau tidak terhadap kebakaran. Banyak beredar bahan akustik peredam suara yang murah, tetapi dapat membahayakan kesehatan karena mengandung bahan yang yang menyebabkan gatal, gangguan pernapasan, dan dapat menimbulkan penyakit yang mematikan untuk jangka waktu yang panjang. Faktor

kemudahan perawatan juga merupakan hal yang perlu dipertimbangkan, seperti debu yang menempel, bahan yang menyerap kelembaban, dan dapat dibersihkan dengan mudah. Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah unsur keserasian bentuk dan warna bahan akustik peredam suara dengan desain interior ruangan. Mencari yang cocok agar tampilan bahan akustik peredam suara tidak mengganggu keindahan desain interior. Sehingga, hasil akhir ruangan tersebut terasa indah di mata serta indah pula di telinga kita.

Simpulan Akustik Peredam Suara yang Bagus

Untuk memilih bahan akustik peredam suara yang bagus, kita mesti mengenali terlebih dahulu masalahnya pada ruangan yang akan dipasang panel akustik. Kemudian, analisis bagaimana karakteristik akustik yang dibutuhkan dalam ruangan atau kontur bangunan yang dimaksud. Setelah menganalisisnya, kita dapat mengetahui solusi apa yang tepat untuk hal ini. Banyak produk terkait yang dapat diandalkan sebagai solusi akustik ruangan. Salah

(12)

satunya adalah Acourete Board Panel. Bergantung juga pada permasalahan akustik di ruangan tersebut.

Jadi, bahan akustik peredam suara yang bagus itu sifatnya relatif. Tidak mutlak harus memakai bahan ini atau itu. Semuanya bergantung pada kebutuhan yang diinginkan dan kondisi kontur bangunan. Ibaratnya sebuah pakaian, tidak melulu pakaian yang bagus atau yang mahal cocok dikenakan setiap orang. Dilihat juga dari bahan pakaiannya, bentuk tubuh orangnya, situasi lokasinya, dan lain sebagainya. Kurang lebih seperti itu pengibaratannya. Pasang panel akustik peredam suara sesuai dengan kebutuhan kita dan kontur bangunannya. Sumber : www.acourete.com

(13)

Menetralisir Gema Ruang Dengar

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan artikel akustik #1 – Mengukur Resonansi Ruang Dengar.

Setelah mendapatkan dimensi ruang dengar yang ideal tahap selanjutnya adalah mengukur gema ruang dengar dan menetralisir gema ruang dengar.

Setiap ruang dengar memiliki gema dan gema di satu ruang berbeda dengan ruang yang lain. Untuk ruang dengar kita membutuhkan gema yang terkontrol bukanlah gema yang di serap habis. Gema yang terkontrol akan memberikan nuansa ruang live musik yang baik.

Gema ruang mempunyai besaran: (1) Waktu gema dengan satuan detik dan (2) Frekuensi pantul/serap dengan satuan Hertz.

1. WAKTU GEMA

Waktu gema yang ideal untuk ruang dengar dengan volume 300 kubik feet adalah 0.9 detik dan 20,000 kubik feet sebesar 1.4 detik.

Jika ruang dengar anda besarnya 10,150 kubik feet maka ideal nya waktu gemanya adalah 1,15 detik. Tetapi kenyataannya waktu gemanya adalah 1.7 detik maka anda membutuhkan material serap suara. Dan sebaliknya jika waktu gemanya hanya 0,7 detik maka ruang tersebut banyak terdapat material serap suara.

Ada beragam metode pengukuran waktu gema tetapi yang paling sering di gunakan adalah RT 60. RT singkatan dari Reverberation Time dan 60 mewakili 60dB. RT 60 memiliki definisi: waktu yang dibutuh kan suara untuk melemah sebanyak 60dB.

2. FREKUENSI GEMA

Setiap material memiliki karakter serap dan pantul yang berbeda untuk frekuensi yang berbeda. Misalnya material semen cenderung untuk memantulkan nada tinggi dan untuk nada rendah di teruskan. Sedangkan karpet cenderung untuk menyerap nada tinggi dan meneruskan nada rendah. Sering saya melihat orang membuat ruang studio atau ruang audio dengan memasang karpet di lantai dan dinding. Ruang seperti ini cenderung untuk

memberikan efek suara yang “boomy” (dengung) dengan detail suara yang tidak baik.

Tabel dibawah ini adalah koefisien serap/pantul pada frekuensi yang berbeda

125 Hz 250 Hz 500 Hz 1 KHz 2 KHz 4 KHz Permukaan Semen 0.01 0.01 0.015 0.02 0.02 0.02 Permukaan Karpet 0.08 0.24 0.57 0.69 0.71 0.73 Permukaan Dinding 0.29 0.1 0.05 0.04 0.07 0.09 Permukaan Fiberglass 0.01 0.21 0.68 0.85 0.9 0.97

(14)

Permukaan Kayu 0.28 0.22 0.17 0.09 0.1 0.11

Setelah tabel koefisien serap/pantul anda juga membutuhkan rumus sbb:

(0,049) Volume

RT60 = --- Luas permukaan x koefisien serap/pantul (sabins)

Dengan rumus dan koefisien sabins maka anda dapat mengukur frekuensi gema ruang dengar anda.

Berikut contoh soal perhitungan frekuensi gema ruang dengar.

Jika kita mempunyai ruang dengar dengan dimensi: Panjang 21.8 feet; Lebar 15.8 feet dan tinggi 7.9 feet maka kita volume ruang dengar tersebut adalah 2721.076.

A. SEBELUM TREATMENT AKUSTIK

Sebelum treatment ruang dengar tersebut memiliki komposisi permukaan sbb: Lantai beton, dinding semen dan plafon juga semen. Bisa kita lihat tabel perhitungan dan grafik frekuensi gema sbb:

A1.Tabel perhitungan ruang dengar sebelum treatment Material Luas Sq ft 125 Hz a Sa 250 Hz a Sa 500 Hz a Sa 1 kHz a Sa 2 kHz a Sa 4 kHz a Sa Lantai Beton 344.44 0.01 3.4444 0.015 5.1666 0.015 5.1666 0.02 6.8888 0.02 6.8888 0.02 6.8888 Dinding 940 0.29 272.6 0.1 94 0.05 47 0.04 37.6 0.07 65.8 0.09 84.6 Total serap sabins 276.0444 97.4444 52.1666 44.4888 72.6888 91.4888 Waktu gema (detik) 0.48301 1.36829 2.55590 2.99699 1.83429 1.45736

(15)

A2. Grafik frekuensi gema sebelum treatment

B.SETELAH TREATMENT AKUSTIK

Setelah dianalisa dan dihitung dengan cermat maka dipilihlah material akustik dengan komposisi: Karpet, dinding berlapis dengan isi fiberglass. Maka dapat kita lihat perbedaan nya dengan melihat perhitungan dan grafik dibawah ini:

Material Sq ft 125 Hz a Sa 250 Hz a Sa 500 Hz a Sa 1 kHz a Sa 2 kHz a Sa 4 kHz a Sa Carpet w/40-ounce felt 345 0.08 27.6 0.24 82.8 0.57 196.65 0.69 238.05 0.71 244.95 0.73 251.85 1/2" drywall 840 0.29 243.6 0.1 84 0.05 42 0.04 33.6 0.07 58.8 0.09 75.6 1/2" drywall covered in 1" Fiberglass 100 0.29 29 0.1 10 0 0 0 0 1" Fiberglass 100 0.01 1 0.21 21 0.68 68 0.85 85 0.9 90 0.97 97 Total Absorption, sabins 301.2 197.8 306.65 356.65 393.75 424.45 Reverberation Time, seconds 0.442672 0.674078 0.434804 0.373848 0.338623 0.314131

(16)

B2. Grafik frekuensi gema setelah treatment

Dari contoh soal diatas kita lihat bahwa setelah treatment frekuensi gema ruang menjadi lebih datar (flat).

Demikian artikel mengenai perhitungan gema ruang dengar serta cara menetralisir nya. Semoga berguna.

Salam

(17)

Pentingnya Desain Akustik Untuk Ruangan

Rapat, Kantor, Kelas, Auditorium Hall,

Sekolah, Musik Hall

Seringkali kita mendengar orang mengeluh tentang akustik sebuah ruang. Keluhan seperti tidak jelasnya dialog yang di ucapkan oleh panelis dalam sebuah konferensi, musik yang terdengar hingar bingar pada sebuah konser musik rock, tidak dapat berbicara dengan tenang pada meja makan di sebuah rumah makan karena noise level yang tinggi, pengumuman jadwal penerbangan yang tidak terdengar jelas di sebuah airport.

Hal tersebut diatas terjadi karena perencanaan ruang tersebut tidak melibatkan konsultan akustik dalam tahap awal perencanaan ruang, yang mengakibatkan ruangan yang telah di desain secara indah menjadi mubasir akibat kegagalan akustik.

Salah satu hal penting yang perlu di perhitungan pada saat perencanaan ruang yang

melibatkan audiens adalah nilai RT60 yang sesuai dengan peruntukan ruang. Definisi RT 60 dapat dibaca pada artikel saya sebelumnya: Bahan peredam suara dalam mengatasi gema – perhitungan RT60.

Dalam tulisan ini saya akan memberikan beberapa contoh soal perencanaan desain akustik yang benar – yang memberikan kepuasan pada audiens – serta pemilik ruangan tersebut. Contohnya pertama adalah saat merancang sebuah ruangan konferensi – dengan audiens maksimal 800 orang – dimana 80% aktifitas utama audiens dalam ruangan tersebut adalah mendengarkan dialog. Maka diperlukan perencanaan nilai RT60 yang cocok sehingga audiens dapat mendengarkan kejernihan dan kejelasan dialog tanpa adanya gangguan berupa perkataan yang bertumpuk akibat pantulan suara yang terjadi di ruangan tersebut.

(18)

Gambar 1. Desain awal sebuah ruang konferensi

Ruang Konferensi yang baik memerlukan desain akustik yang benar. RT 60 adalah salah satu aspek terpenting dalam perencanaan akustik ruang pada sebuah ruang konferensi.

Hal sebaliknya adalah merancang ruangan concert hall– dengan audiens sekitar 2000 orang – yang mana di dalam ruangan tersebut 90% aktifitas utama audiens adalah mendengarkan pagelaran musik akustik.

Pagelaran sebuah musik orkestra umumnya jarang menggunakan mikrofon dan pengeras suara. Sumber suara berupa suara musik dari seksi alat musik gesek, soprano, tenor dan sebagainya dapat terdengar dengan baik oleh 1000 audiens berkat bantuan pantulan dan difusi suara yang telah di rancang dengan baik oleh desainer akustik ruang tersebut.

Gambar 2. Sydney Opera House

Sydney opera house dengan kapasitas 2800 orang, salah satu ruang konser orkestra dan theater dengan desain akustik terbaik di dunia, memiliki RT dan EDT 2.1 detik.

Dari dua contoh diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan utama audiens dalam ruangan dan sumber suara adalah dasar untuk menentukan rancangan akustik.

Suara apakah yang di dengarkan oleh audiens dalam sebuah ruangan? Berikut adalah suara yang didengar oleh audiens dalam sebuah ruang:

(19)

1. Dialog 2. Musik

3. Campuran antara musik dan dialog 4. Campuran antara Musik, dialog dan noise

Berdasarkan list suara yang di dengar oleh audiens diatas – arsitek dan akustisi membagi fungsi ruang sebagai berikut:

1. Ruang konferensi: dialog

2. Cinema: dialog, noise dan musik 3. Theater: dialog dan musik

4. Ruang konser musik pop/rock/jazz: musik dengan pengeras suara 5. Ruang konser orkestra: musik akustik tanpa pengeras suara 6. Ruang ibadah: dialog dan musik

7. Rumah makan: dialog dan background musik 8. Night Club: musik dengan SPL yang relatif tinggi

Dan berdasarkan list ruangan tersebut diatas, para akustisi dunia sepakat untuk membuat RT minimum dan maksimal untuk masing – masing ruangan yang disebutkan diatas sebagai berikut:

1. Ruang konferensi: 0.6 – 1.3 (detik) 2. Cinema: 0.6 – 1.2 (detik)

3. Theater: 1 – 1,8 (detik)

4. Ruang konser musik pop: 1.4 – 2 (detik) 5. Ruang konser orkestra: 1.6 – 3 (detik) 6. Ruang ibadah: 1.8 – 3.2 (detik) 7. Rumah makan: maksimal 1.8 (detik) 8. Night Club: 0.6 – 1.6 (detik)

(20)

Dengan mengikuti list RT60 untuk masing – masing fungsi ruang dan di kombinasikan dengan perencanaan panel akustik yang benar serta desain interior yang baik maka pemilik ruangan dapat memaksimalkan pengalaman audiens dalam ruangan tersebut.

(21)

Permasalahan yang timbul akibat pengeras

suara masjid

Banyak keluhan dan laporan seputar gangguan kebisingan yang disebabkan oleh pengeras suara kegiatan azan dari masjid. Gangguan kebisingan tersebut dapat menggangu kegiatan tidur, sekolah, kantor dan rumah sakit. Laporan dan keluhan tersebut bukan hanya datang dari warga yang beragama lain akan tetapi umat muslim juga banyak yang mengeluh dan melaporkan gangguan tersebut.

Dengan banyaknya masalah yang kami terima berkenaan dengan masalah tersebut di atas maka kami membuat artikel yang dapat membantu pembaca untuk menganalisa permasalahan serta mencari solusi yang tepat.

Analisa masalah, investigasi dan solusi

Berikut adalah panduan kerja untuk menganalisa kebocoran suara, menginvestigasi dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah kebisingan suara akibat pengeras suara masjid. Umumnya kebocoran suara yang terdengar di ruangan masuk melalui jendela, pintu, ventilasi udara pada dinding, atau atap genteng dengan plafon. Sangat kecil kemungkinan kebocoran suara masuk melalui struktur dinding atau plafon bangunan yang terbuat dari bata atau beton

1.Jendela:

a.Analisa: kebocoran suara melalui celah dan kaca jendela yang tipis

b.Investigasi: mendekatkan telinga ke jendela untuk memastikan apakah ada kebocoran suara yang masuk melalui celah atau kaca jendela atau keduanya

c.Solusi: mengganti jendela dengan jendela soundproof, menambah jendela baru, membuat façade di depan jendela, merapatkan celah jendela, mengganti kaca jendela dengan yang lebih tebal, memasangkan bahan insulasi suara pada kaca jendela.

2.Pintu

a.Analisa: kebocoran suara melalui celah dan panel pintu yang tipis

b.Investigasi: mendekatkan telinga kepintu untuk memastikan apakah ada kebocoran suara yang masuk melalui celah atau panel pintu atau keduanya

(22)

c.Solusi: mengganti pintu dengan pintu soundproof, menambah pintu baru, merapatkan celah pintu, memasangkan bahan insulasi suara pada panel pintu.

3.Ventilasi udara

a.Analisa: kebocoran suara melalui lubang ventilasi udara

b.Investigasi: mendekatkan telinga ke lubang ventilasi untuk memastikan apakah ada kebocoran suara yang masuk melalui ventilasi udara

c.Solusi: menutup permanen/ non-permanen ventilasi udara dengan panel soundproof, membuat façade di depan ventilasi udara

4.Atap genteng dan plafon

a.Analisa: kebocoran suara melalui atap genteng dan plafon gypsum atau sejenis

b.Investigasi: mendekatkan telinga ke plafon untuk memastikan apakah ada kebocoran suara yang masuk melalui plafon

c.Solusi: memasang material insulasi suara di atas plafon gypsum

Penutup

Mungkin masih terdapat beberapa media kebocoran suara, analisa masalah, metode investigasi ataupun solusi yang belum kami tuliskan pada tulisan ini, untuk itu kami mengharapkan masukan dari para pembaca. Demikianlah artikel singkat mengenai cara mencari solusi yang tepat untuk gangguan kebisingan yang disebabkan oleh pengeras suara dari kegiatan beribadah di masjid. Semoga dapat memberikan manfaat bagi pembaca semua.

(23)

Untuk mendapatkan sebuah ruangan yang berkinerja baik secara akustik, ada beberapa kriteria akustik yang pada umumnya harus diperhatikan. Kriteria akustik tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut:

1. Liveness : kriteria ini berkaitan dengan persepsi subjektif pengguna ruangan terhadap waktu dengung (reverberation time) yang dimiliki oleh ruangan. Ruangan yang live, biasanya berkaitan dengan waktu dengung yang panjang, dan ruangan yang death berkaitan dengan waktu dengung yang pendek. Panjang pendeknya waktu dengung yang diperlukan untuk sebuah ruangan, tentu saja akan bergantung pada fungsi ruangan tersebut. Ruang untuk konser symphony misalnya, memerlukan waktu dengung 1.7 – 2.2 detik, sedangkan untuk ruang percakapan antara 0.7 – 1 detik.

2. Intimacy : Kriteria ini menunjukkan persepsi seberapa intim kita mendengar suara yang dibunyikan dalam ruangan tersebut. Secara objektif, kriteria ini berkaitan dengan waktu tunda (beda waktu) datangnya suara langsung dengan suara pantulan awal yang datang ke suatu posisi pendengar dalam ruangan. Makin pendek waktu tunda ini, makin intim medan suara didengar oleh pendengar. Beberapa penelitian menunjukkan harga waktu tunda yang disarankan adalah antara 15 – 35 ms.

3. Fullness vs Clarity: Kriteria ini menunjukkan jumlah refleksi suara (energi

pantulan) dibandingkan dengan energi suara langsung yang dikandung dalam energi suara yang didengar oleh pendengar yang berada dalam ruangan tersebut. Kedua kriteria berkaitan satu sama lain. Bila perbandingan energi pantulan terhadap energi suara langsung besar, maka medan suara akan terdengar penuh (full). Akan tetapi, bila melewati rasio tertentu, maka kejernihan informasi yang dibawa suara tersebut akan terganggu. Dalam kasus ruangan digunakan untuk kegiatan bermusik, kriteria C80 menunjukkan hal ini. (D50 untuk speech).

4. Warmth vs Brilliance: Kedua kriteria ini ditunjukkan oleh spektrum waktu dengung ruangan. Apabila waktu dengung ruangan pada frekuensi-frekuensi rendah lebih besar daripada frekuensi mid-high, maka ruangan akan lebih terasa hangat (warmth). Waktu dengung yang lebih tinggi di daerah frekuensi rendah biasanya lebih disarankan untuk ruangan yang digunakan untuk kegiatan bermusik. Untuk ruangan yang digunakan untuk aktifitas speech, lebih disarankan waktu dengung yang flat untuk frekuensi rendah-mid-tinggi.

5. Texture: kriteria ini menunjukkan seberapa banyak pantulan yang diterima oleh pendengar dalam waktu-waktu awal (< 60 ms) menerima sinyal suara. Bila ada paling tidak 5 pantulan terkandung dalam impulse response di awal 60 ms, maka ruangan tersebut dikategorikan memiliki texture yang baik.

6. Blend dan Ensemble: Kriteria Blend menunjukkan bagaimana kondisi mendengar yang dirasakan di area pendengar. Bila seluruh sumber suara yang dibunyikan di ruangan tersebut tercampur dengan baik (dan dapat dinikmati tentunya), maka kondisi mendengar di ruangan tersebut dikatakan baik. Hal ini berkaitan dengan kriteria bagaimana suara di area panggung diramu (ensemble). Contoh, apabila ruangan digunakan untuk konser musik symphony, maka pemain di panggung harus bisa mendengar (ensemble) dan pendengar di area pendengar juga harus bisa mendengar (blend) keseluruhan (instruments) symphony yang dimainkan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :