Penulis mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu sehingga Laporan Antara ini dapat tersusun dan selesai tepat pada waktunya.

72 

Teks penuh

(1)

Laporan Draft Akhir ini merupakan tahap akhir dari sistem pelaporan RP2KP Kabupaten Buol yang dilaksanakan oleh konsultan dalam rangka Penyusunan Laporan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman (RP2KP) Kabupaten Buol dengan substansi materi berisikan; Latar Belakang, Kebijakan Pembangunan dan Infrastruktur, Gambaran Umum Wilayah, Identifikasi Potensi & Permasalahan, Analisis Kawasan Prioritas, Kebutuhan Pembangunan, serta Perumusan Tujuan, Kebijakan & Strategi Pembangunan.

Secara garis besar inti materi laporan menguraikan rencana kerja rinci yang akan dilakukan konsultan dalam pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Laporan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman (RP2KP) Kabupaten Buol. Penulis mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu sehingga Laporan Antara ini dapat tersusun dan selesai tepat pada waktunya.

Buol, Desember 2014

PT. SAE CITRA ENDAH Consultant

K

(2)

4.1.5. Kawasan Permukiman Perkotaan Kabupaten Buol

Kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Buol dipertegas dalam Perda No. 4 Tahun 2012 tentang RTRW Kabupaten Buol 2012-2032 pada paragraf 8 pasal 33 yakni kawasan peruntukan permukiman perkotaan terdapat di Kecamatan Biau, Kecamatan Biau sebelumnya bernama Kecamatan Liponoto sesuai Perda No. 10 tahun 2008 yang terdiri 7 (tujuh) keluruhan, yakni Buol, Bugis, Leok I, Leok II, Kali, Kulango, dan Kumaligon. Sedangkan untuk permukiman lainnya adalah kawasan permukiman perdesaaan yang terdapat di Kecamatan Momunu, Bokat, Bukall, Gadung, Bunobogu, Paleleh, Lakea, Karamat, Tiloan, dan Paleleh Barat.

Pola perkembangan kawasan perkotaan di Kabupaten Buol menunjukkan bahwa pola penggunaan lahan untuk permukiman masih terpusat di Biau. Untuk mengimbangi pusat pertumbuhan di Biau sebagai ibukota Kabupaten Buol, di bagian timur yaitu Lokodidi diarahkan sebagai kawasan bahari terpadu yang mengintegrasikan potensi perikanan, pengembangan industri, pusat perhubungan dan jasa pelayanan perkotaan lainnya.

(3)
(4)

4.2. Issu Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan Kabupaten Buol

Berbagai persoalan permukiman dan infrastruktur perkotaan bila berbenturan dengan persoalan pembangunan lainnya akan semakin mengaburkan arah pembangunan kota. Jika terjadi kondisi seperti ini yang pada akhirnya memperburuk citra kota dan kawasan perkotaannya. Berkenaan dengan kondisi tersebut, selama ini berbagai persoalan pembangunan termasuk di dalamnya pembangunan dan pengembangan permukiman dan infrastruktur perkotaan termasuk di kawasan perkotaan di Kabupaten Buol.

4.2.1. Master Plan Penataan dan Infrastruktur Kota yang Belum Lengkap

Guna memberikan kerangka arah pembangunan dan pengembangan suatu wilayah diperlukan masterplan atau rencana induk, salah satu adalah master plan penataan dan infrastruktur perkotaan. Kabupaten Buol diusainya yang relatif muda, yakni yang mamasuki tahun ke-15 pada tahun 2014 masih terus melakukan pembangunan secara berkesinambungan, meskipun dalam perjalanannya terdapat kendala yang dialami.

Salah satu kendala yang dialami adalah kelengkapan dan implementasi master plan penataan dan infrastruktur perkotaan belum terintegrasi secara efektif, yakni masih ditemuinya pembangunan yang berjalan secara sektoral. Disamping itu RTRW yang menjadi induk perencanaan dan penataan wilayah di Kabupaten Buol disahkan dalam bentuk peraturan daerah pada tahun 2012, atau baru berumur 2 (dua) tahun pada tahun 2014, sehingga sinkronisasi dan integrasi menjadi titik lemah dan menjadi tantangan nyata bagi pemangku kepentingan dalam menjalankan roda pembangunan di Kabupaten Buol secara umum, kawasan perkotaan secara khusus.

Kenyataan lainnya yang dapat ditemui dalam pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan belum didukung oleh adalah master plan yang tidak terstruktursehingga terdapat kecenderungan pembangunan berdasarkan kebijakan

(5)

dan strategi parsial, berorientasi pada ketersediaan program insedentil sehingga sering tumpang tindih pada tingkat operasional, sebagai akibat dari data dan informasi perencanaan yang masih kurang untuk semua pembangunan dalam konteks dan wilayah perkotaan.

4.2.2. Penataan, Pemanfaatan, dan Pengendalian Ruang

Dalam rencana tata ruang terdapat subtansi utama yang diatur yakni penataan, pemanfaatan, dan pengendalian ruang, namun dalam implementasi tidak sedikit kendala yang ditemui. Pelaksanaan rencana tata ruang di Kabupaten Buol, termasuk di kawasan perkotaan Buol belum terlaksana secara efektif, salah satu penyebabnya adalah rencana tata ruang belum sepenuhnya dilaksanakan secara tegas. Dalam pelaksanaan tata ruang, kendala yang dihadapi dibedakan atas dua, yakni non spasial dan spasial.

Permasalahan non spasial :

1. Pengetahuan dan manajerial sumberdaya manusia pelaksana tata ruang pada instansi masih perlu ditingkatkan

2. Penegakan hukum dan tegas secara adil,

3. Informasi tentang penataan dan pemanfaatan tata ruang kepada masyarakat harus terus-menerus dilakukan,

4. Koordinasi antara instansi terkait dalam pembangunan dan pengembangan infrastruktur perkotaan masih sering terjadi tumpang tindih atau tidak berjalan dengan baik.

Sedangkan secara spasial khususnya di kawasan permukiman prioritas secara umum yang ditemukan masih adanya bangunan yang menempati sempadan pantai dan sungai, sempadan jalan, pola dan jarak bangunan yang tidak teratur, perkembangan fisik kota lebih cepat dibanding kelengkapan infrastruktur lingkungan

(6)

4.2.3. Kekumuhan, Penyediaan Sarana dan Prasarana Utilitas Lingkungan

Secara umum, permasalahan utama yang ditemukan sehubungan dengan kekumuhan, penyediaan sarana dan prasarana utilitas lingkungan khususnya di kawasan permukiman di pusat Kota Buol adalah :

1) Permukiman di sepanjang pantai di Kelurahan Kali dan Buol, serta di muara Sungai Buol di Keluruhan Buol dan Bugis di terdapat permukiman / perumahan yang tidak layak huni atau dengan kata lain mengalami proses taudifikasi

(pengkumuhan);

2) Dalam pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan, pemerintah Kabupaten Buol mengalami hambatan karena pembebasan lahan;

3) Pemerintah Kabupaten Buol mengalami keterbatasan dana untuk membantu pengembangan perumahan dan infrastrukturnya;

4) Kesadaran masyarakat dalam hal lingkungan perumahan / permukiman yang sehat dalam lingkungan harus terusmenerus ditingkatkan;

5) Pengembangan permukiman, khususnya permukiman spontan (tidak terencana) di pinggir pantai dan muara sungai tidak tertata baik dan tidak memperhatikan standar permukiman layak;

6) Rusaknya infrastruktur akibat kurang pemeliharaannya, dan atau melayani beban di atas daya dukung yang dipersyaratkan;

7) Jaringan drainase dan sanitasi lingkungan tidak terencana dan tidak terlaksana (terkelola) dengan baik;

8) Penyediaan sarana dan prasarana utilitas lingkungan belum terlayani sepenuhnya, termasuk sistem pengelolaan sampah, air bersih dan sanitasi lingkungan;

9) Terjadinya proses filtering down (pemarjinal-an) kawasan CBD lama, khususnya pada kawasan pasar di Kelurahan Buol.

(7)

4.2.4. Keterbatasan Sumberdaya Alam Sebagai Pendukung Kegiatan Permukiman Akselerasi pembangunan untuk kegiatan pendukung permukiman tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan sumberdaya alam. Perkembangan permukiman di Kabupaten Buol, khususnya di kawasan perkotaan Buol yang terpusat di Biau terbatasi oleh sumberdaya alam berupa ketersediaan material alam pasir dan batu gunung / kali untuk pembangunan konstruksi yang tidak memenuhi standar.

Kondisi ini sangat mempengaruhi percepatan pembangunan dan pengembangan perumahan serta infrastrukturnya. Material pasir umumnya diperoleh dari muara sungai yang kadar garamnya relatif tinggi dan bercampur dengan tanah yang tentunya mempengaruhi kualitas bangunan, demikian juga dengan dari segi ketersediaannya relatif sangat terbatas untuk mendapatkan material pasir yang baik harus didatangkan dari Toli-toli yang jaraknya + 120 km dengan kondisi jalan berkelok dengan harga yang relatif lebih mahal, yakni minimal dua lipat dari harga pasir lokal. Sedangkan material batu kali hampir tidak ada kecuali batu kars yang diperoleh dengan menggali / mengiris tanah pengunungan.

4.2.5. Bentang Alam Membatasi Pembangunan dan Pengembangan Permukiman Bentang alam kawasan perkotaan Buol menjadi tantangan khusus dalam rangka pembangunan dan pengembangan permukiman dan kelengkapan infrastrukturnya. Bentang alam di kawasan Bugis dan Buol yang berawa yang sangat dipengaruhi oleh pasang-surut air khusus pesisir muara sungai memaksa masyarakat membangun diatasnya dengan model permukiman / rumah panggung dengan aksesibilitas menggunakan jembatan kayu dari satu tempat ke tempat lainnya.

Permukiman di kawasan berawa tersebut merupakan kawasan permukiman lama, namun sampai sekarang masih terjadiinfill settlementsehingga mengakibatkan makin menjadi lingkungan tidak sehat dari segi sanitasi lingkungan. Ketersediaan air bersih yang terbatas, membuang sampah dilingkungan sekitar, serta jambang yang

(8)

langsung dibuang ke permukaan rawa / air yang berada di kolong rumah. Pada beberapa titik ditemukan bangunan permanen yang biaya pembangunan relatif mahal, karena komponen pembangunan yang terdiri dari pematangan lahan, material dan metode konstruksi yang lebih mahal. Kenyataan lapangan biaya pematangan lahan atau penimbunan jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga lahan, belum lagi harga material alam berkualitas bagus dan pabrikan yang relatif mahal. Kesimpulannya pembangunan di kawasan berawa atau kawasan pengaruh pasang surut kecenderungan lebih mahal, demikian halnya untuk pembangunan jaringan infrastruktur permukiman akan menjadi mahal juga.

(9)
(10)

Untuk kegiatan pembangunan kawasan lainnya relatif lebih murah dibanding di Bugis dan Buol karena memiliki kondisi bentang alam relatif datar, seperti di Kali, Leok I, Lekok II dan Kulango, sedangkan di Kumaligon yang ditemukan bentang alam terdapat perbukitan dengan topografi bergelombang memerlukan pembiayaan pematangan lahan yang lebih mahal untuk keperluan kupas dan timbung.

4.3. Identifikasi Potensi dan Permasalahan Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan Kabupaten Buol

4.3.1. Potensi dan Permasalahan Pembangunan Permukiman Perkotaan Kabupaten Buol

a. Potensi

Secara garis besar, hal-hal yang berpotensi menjadi faktor pendorong bagi pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman di Kabupaten Buol harus terus digali untuk mempercepat pencapaian pembangunan di wilayah ini. Percepatan pembangunan di Kabupaten Buol telah direncanakan, untuk pembangunan dan pengembangan permukiman perkotaan terindikasi dalam RTRW Kabupaten Buol 2012-2032 yang telah menetapkan arahan pengembangan kota, yakni kawasan perkotaan Buol sebagai pusat kegiatan wilayah skala kabupaten. Kawasan permukiman perkotaan Buol terpusat di Biau terdiri dari 7 (tujuh) kelurahan, yakni Kumaligon, Kulango, Leok I, Leok II, Kali, Buol dan Bugis.

Kondisi eksisting menunjukkan sebagai pusat kegiatan wilayah kawasan perkotaan Buol yang berkedudukan di Biau tersebut telah berkembang kawasan permukiman perkotaan yang harus tetap dipacu keunggulannya karena merupakan ibukota kabupaten. Keunggulan yang dimiliki ini diharapkan memberikan kontribusi atau saling menunjang dengan pusat-pusat kegiatan lokal (PKL) lainnya, seperti KTM Air Terang, dan Lokodidi sebagai PKL. Pengembangan KTM Air Terang dan Lokodidi sebagai PKL tidak terlepas dari peran strategis kawasan tersebut dalam

(11)

menjembatani kesenjangan wilayah yang ada, Karena apabila mendasarkan pada kondisi pusat permukiman yang ada, maka tantangan pemerataan pembangunan (mengatasi disparitas yang tinggi) tidak akan dapat tercapai.Perkembangan struktur dan pola ruang Kabupaten Buol dengan ciri liner organik mengikuti garis pantai dan jaringan jalan Tran Sulawesi yang terbatasi dengan kondisi geografis menyediakan ruang untuk pembangunan permukiman. Sesuai data RTRW Kabupaten Buol 2012-2032, ketersediaan lahan untuk pembangunan permukiman di Kabupaten Buol seluas 4.560,84 Ha tersebar di 11 (sebelas) kecamatan merupakan potensi ruang wilayah yang dalam operasional pembangunannya harus berbanding lurus dengan penyediaan infrastruktur pendukungnya.

b. Permasalahan

Perkembangan permukiman permukiman perkotaan perkotaan di Buol dimulai dari terbentuknya permukiman pesisir pantai dan muara sungaiyang bertumbuh secara organik / alamiah. Permukiman pesisir pantai dan muara sungai tersebut dikenal dengan nama Buol dan Kampung Bugis. kemudian berkembang ke arah barat dan barat daya, yakni Kali dan Leok, Kulango dan Kumaligon. Kawasan ini merupakan cikal bakal pertumbuhan perkotaan Buol, yang saat ini sudah definitif sebagai ibukota Kabupaten Buol.

Perkembangan pemukiman ini bukan tanpa masalah, disebabkan kondisi bentang alam yang terletak lahan berawa yang dipengaruhi pasang surut air laut. Tipologi permukiman khususnya di Buol dan Kampung Bugis dengan segala kelengkapannya dibangun dalam bentuk panggung atau semi permanen boleh dikatakan terbangun secara sporadis (spontan) dan parsial dengan kondisi ketersediaan atau pelayanan prasarana dan sarana yang sangat terbatas, serta sanitasi lingkungan yang buruk. Sedangkan di

(12)

Kali, Leok, Kulango, serta Kumaligon memiliki kualitas lingkungan lebih baik.

Upaya intensifikasi perbaikan lingkungan di Buol dan Kampung Bugis telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Buol, namun permasalahan klasik seperti sanitasi lingkungan buruk belum tertangani secara optimal, sehingga sampai saat ini masih menjadi permasalahan. Demikian halnya untuk permukiman berkarakteristik pesisir yang dibangun di atas lahan berawa dengan pengaruh pasang surut cenderung menampakkan sanitasi lingkungan yang tidak baik dengan bangunan semi permanen, seperti permukiman sekitar pelabuhan Lokodidi.

Permasalahan lainnya adalah masyarakat belum memahami secara baik penting pembangunan dan pengembangan permukiman yang sehat dan layak huni, serta pengharapan masyarakat masih tinggi terhadap pemerintah dengan keterbatasan dana untuk melakukan pembangunan dan pengembangan permukiman sehingga mengakibatkan beberapa permukiman tidak tertangani dengan optimal dalam hal penataan, penyediaan prasarana dan sarana lingkungan.

4.3.2. Potensi dan Permasalahan Pembangunan Infrastruktur Perkotaan Kabupaten Buol

a. Potensi

Jaringan Jalan

Sistem jaringan jalan raya saat ini merupakan sistem transportasi utama penunjang pergerakan antar pusat-pusat kegiatan di Kabupaten Buol maupun untuk mendukung pergerakan orang dan barang ke wilayah lain di sekitar Kabupaten Buol.

Kondisi sistem jaringan jalan yang terbatas baik secara kualitas maupun kuantitas tidak hanya menyebabkan terhambatnya mobilitas

(13)

orang dan barang tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap peningkatan biaya ekonomi pergerakan orang dan barang baik antar wilayah maupun intra wilayah. Untuk itu maka dalam jangka waktu 20 tahun mendatang perlu peningkatan dan pengembangan sistem jaringan jalan di Kabupaten Buol.

Sebagaimana arahan dari kebijakan penataan ruang Provinsi Sulawesi Tengah tentang pengembangan sistem transportasi di Provinsi Sulawesi Tengah yang menekankan pada upaya pengembangan sistem transportasi darat, laut dan udara serta jalan rel, maka arahan pengembangan sistem transportasi di Kabupaten Buol juga harus mengacu kepada kebijakan tersebut. Sistem jaringan pergerakan pada Kabupaten Buol merupakan bagian dari Rencana Pengembangan Sistem Pergerakan Pantai Barat Sulawesi Tengah dengan tingkat prioritas sedang.

Rencana pengembangan jalan lintas barat akan menghubungkan kota-kota yang terintegrasi dari arah Gorontalo (Kwandang – Tolinggula) menuju Buol – Tolitoli – Ogotua – Pantoloan – Palu – Donggala dan terintegrasi dengan kota-kota lain di luar Sulteng (Pasangkayu – Mamuju – Majene – Polewali – Pinrang – Parepare – Barru – Pangkajene – Maros – Makassar – Sungguminasa – Takalar – Jeneponto – Bantaeng – Bulukumba). Selain itu prioritas lainnya dalam pengembangan sistem jaringan jalan jalan Provinsi Sulawesi adalah pengembangan Jalan Boilan (Buol) – Kota Nagaya (Parigi Moutong) sebagai penghubung lintas barat dan lintas timur di Kabupaten Buol.

Berdasarkan pada arahan pengembangan sistem transportasi darat Provinsi Sulawesi Tengah maka rencana pengembangan sistem

(14)

jaringan jalan raya di Kabupaten Buol mencakup pengembangan sistem jaringan jalan sebagai berikut.

Pengembangan Sistem Jaringan Jalan Arteri

Sistem jaringan jalan arteri di Kabupaten Buol diarahkan untuk mendukung pengembangan jaringan lintas kabupaten dan lintas provinsi pada wilayah pantai barat Provinsi Sulawesi Tengah. Sistem jaringan jalan arteri yang merupakan jalan negara akan menghubungkan antara Provinsi Sulawesi Tengah dengan Provinsi Gorontalo melalui Kabupaten Buol (Lakea-Buol-Bokat-Bunobogu-Gadung-Paleleh Barat, dan Paleleh).

Rencana sistem jaringan jalan arteri di Kabupaten Buol yang harus mendesak untuk dilakukan adalah peningkatan geometri jalan dan kegiatan Operasi dan Pemeliharaan jalan secara teratur agar kualitas permukaan jalan tetap terjaga. Peningkatan geometri sangat penting mengingat saat ini baru tersedia dua lajur jalan dengan dimensi yang sangat pas-pasan yaitu sekitar 2,5 meter per lajur. Dalam 20 tahun mendatang minimal tersedia 4 lajur pada jalur lintas barat ini, meningingat jalur lintas timur sangat rentan terhadap bencana sehingga jalur ini dapat menjadi alternatif pegerakan antar provinsi. Untuk mengantisipasi kepadatan arus lokal di Kabupaten Buol maka pengembangan sistem jaringan jalan arteri di Kabupaten Buol perlu mempertimbangkan sistem jaringan jalan lingkar Kota Buol yang merupakan pusat aktivitas utama untuk pemerintahan, perdagangan dan jasa di Kabupaten Buol. Jalur lingkar ini perlu dibuat untuk mengantisipasi konflik antara arus regional dan lokal di perkotaan Buol. Pengembangan jalur lingkar dapat dimulai dari Lakea kemudian menuju Tiloan, Momunu dan bertemu lagi dengan jalur lintas barat di

(15)

Bokat. Jalur lingkar ini sekaligus sebagai akses pendukung pergerakan antar pusat kegiatan di Kabupaten Buol. Sebagai konsekuensi jaringan jalan arteri di perkotaan buol sebaiknya diturunkan statusnya menjadi jalan lokal primer.

Pengembangan Sistem Jaringan Jalan Kolektor

Melihat prospek pertumbuhan dan perkembangan wilayah Kabupaten Buol pada masa mendatang serta kebutuhan untuk meningkatkan aksesibilitas wilayah, maka pengembangan sistem jaringan jalan kolektor perlu dipertimbangkan. Jaringan jalan kolektor yang perlu dikembangkan dalam menunjang aksesibilitas wilayah adalah jaringan jalan penghubung antara lintas timur dan lintas barat melalui Boilan menuju Kota Nagaya.

Pengembangan jaringan jalan ini memiliki nilai strategis dalam pengembangan wilayah Kabupaten Buol khususnya dan Provinsi Sulawesi Tengah umumnya. Keberadaan jaringan jalan ini akan memperpendek pencapaian melalui darat dari dan menuju Kabupaten Buol yang saat ini masih membutuhkan waktu kurang lebih 18 jam perjalanan. Dengan adanya jaringan jalan ini maka diperkirakan akan terjadi penghematan waktu perjalanan minimal 2 jam perjalanan. Pengembangan Sistem Jaringan Jalan Lokal

Jaringan jalan lokal adalah jaringan jalan yang status dan kewenangan penyelenggaraannya berada pada pemerintah Kabupaten Buol. Pengembangan jaringan jalan lokal dimaksudkan untuk meningkatkan aksesibilitas wilayah secara internal yang mampu menghubungkan antar pusat kegiatan di Kabupaten Buol. Prioritas pengembangan jaringan jalan lokal adalah pengembangan jaringan jalan lokal yang menghubungkan PKW Buol dengan PKL Orde I serta antar PKL Orde

(16)

I dan PPK diseluruh Kabupaten Buol. Selain itu pengembangan jaringan jalan lokal diprioritaskan untuk pengembangan dan peningkatan jalan untuk mendukung fungsi produksi dan distribusi komoditas pertanian di Kabupaten Buol.

Pengembangan sistem perangkutan umum di Kabupaten Buol diprioritaskan pada pengembangan rute sebagai berikut :

1. Buol / Lokodidi – Tolitoli 2. Buol / Lokodidi – Palu

3. Buol /Lokodidi – Moutong – Gorontalo – Manado 4. Buol / Lokodidi – Paleleh – Gorontalo – Manado 5. Lokodidi – Buol

6. Buol – Bokat – Bunobogu – Paleleh 7. Buol – Air Terang

8. Buol – Lakea

Jaringan Drainase

Prasarana dan sarana drainase sebagai bagian penting wilayah yang berfungsi untuk mengalirkan air hujan agar tidak menimbulkan genangan sangat diperlukan keberadaannya untuk menjamin produktivitas wilayah. Berdasarkan pada hasil pengamatan di lapang kondisi prasarana dan sarana drainase di Kabupaten Buol sebagian besar masih mengandalkan sistem drainase alamiah terutama pada kawasan perdesaan, yaitu memanfaatkan tanah sebagai bidang peresapan dan sungai sebagai saluran pembuangan air hujan. Sedangkan pada wilayah perkotaan sudah menggunakan sistem drainase buatan yang berada pada kiri kanan jalan dan di sekitar lingkungan permukiman.

(17)

Meskipun masih mengandalkan sistem drainase alam, kondisi sistem yang ada dapat dikatakan masih baik, hal ini apabila dilihat proporsi antara luas wilayah dibandingkan dengan luas genangan yang proporsinya sebesar 4,2% dari luas wilayah Kabupaten Buol. Tetapi kondisi ini berpotensi akan bertambah seiring dengan perkembangan fisik wilayah Kabupaten Buol yang akan terus berkembang seiring dengan derap pembangunan di Kabupaten Buol. Selain itu potensi limpasan air hujan juga diperkirakan meningkat seiring dengan perkembangan kawasan atas Kabupaten Buol yang berubah menjadi kawasan perkebunan sawit.

Persampahan

Sebagai daerah dengan dominasi kawasan perdesaan yang dominan, permasalahan sampah di Kabupaten Buol hingga saat ini masih belum menjadi permasalahan yang serius. Dengan luas lahan yang mencukupi pada masing-masing lahan permukiman, memungkinkan penduduk untuk mengolah sampah secara on site. Terkecuali di kawasan permukiman perkotaan, khususnya di permukiman pesisir pantai dan muara di Kelurahan Buol dan Kampung Bugis memerlukan perhatian khusus, mengingat kawasan ini terpengaruh langsung pasang surut air laut, serta kesadaran masyarakat yang terus dilakukan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

Sehingga dapat dikatakan untuk pelayanan persampahan dengan sistem off site di Kabupaten Buol masih membutuhkan upaya yang keras untuk meningkatkan kinerja layanannya, hal ini disebabkan masih terbatasnya pelayanan sistem persampahan off site, dikarenakan masih minimnya ketersediaan prasarana dan sarana pengolahan

(18)

sampah di Kabupaten Buol, khususnya lagi ketersediaan biaya operasional pengelolaan sampah.

Potensi volume sampah sebagaimana yang diuraikan di RTRW Kabupaten Buol mempertimbangkan :

1. Laju timbulan sampah ditetapkan 2,65 liter/orang/hari dari tahun 2010-2020 dan meningkat menjadi 3 liter/orang/hari pada tahun 2020-2030.

2. Sampah non domestik dihitung 40% sampah domestik.

Berdasarkan asumsi dan kriteria di atas perkiraan volume sampah di Kabupaten Buol pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 839 m3/hari dan meningkat menjadi 1.041 m3/hari pada tahun 2030. Wilayah dengan produksi sampah terbesar adalah Kecamatan Biau yang diestimasikan mempunyai potensi produksi 80 m3/hari. Potensi ini jauh lebih besar dari kondisi produksi sampah yang ada saat ini (yang mampu ditangani) yaitu sebesar 15 m3/hari. Untuk mengurangi laju pertumbuhan produksi sampah yang sangat tinggi maka perlu intervensi dari pemerintah daerah untuk memanfaatkan potensi peran serta penduduk dalam mengurangi produksi sampah serta mengolah produksi sampah menjadi produk yang ramah lingkungan, mengingat potensi sumber timbulan terbesar adalah rumah tangga berupa sampah organik, maka langkah pemberdayaan masyarakat untuk mengolah produksi sampah sebagai kompos agaknya satu pilihan yang sangat tepat. Perhitungan potensi volemue produksi sampah di Kabupaten Buol dapat dilihat pada tabel 4.2

(19)

Tabel 4.2. Produksi Sampah di Kabupaten Buol 2011-2030

No Kecamatan Produksi Sampah

2011 2015 2020 2025 2030 1. Lakea 35.404,53 38.138,80 46.515,00 50.106,00 53.982,60 2. Karamat 30.173,43 32.510,73 39.648,00 42.709,80 46.015,20 3. Biau 80.002,44 86.179,59 105.100,80 113.227,80 121.976,40 4. Tiloan 29.383,20 31.650,01 38.598,00 41.584,20 44.793,00 5. Momunu 51.082,99 55.030,43 67.120,20 72.311,40 77.897,40 6. Bukall 46.838,75 50.444,87 61.525,80 66.284,40 71.400,00 7. Bokat 49.090,72 52.882,34 64.499,40 69.489,00 74.852,40 8. Bunobogu 35.630,84 38.391,08 46.813,20 50.437,80 54.335,40 9. Gadung 42.000,91 45.247,16 55.179,60 59.455,20 64.045,80 10. Paleleh 45.065,37 48.545,35 59.207,40 63.793,80 68.724,60 11. Paleleh Barat 21.195,23 22.838,76 27.854,40 30.009,00 32.327,40 465.868,41 501.859,12 612.061,80 659.408,40 710.350,20

Sumber : RTRW Kabupaten Buol, 2012-1032

Air Minum / Air Bersih

Kebutuhan air baku yang dipergunakan saat ini dengan memanfaatkan sumber air permukaan (sungai) dan mata air. Beberapa sumber air baku yang dimanfaatkan sebagai air bersih adalah sungai-sungai yang ada di sekitar lokasi pemukiman, terlebih potensi sumber air permukaan banyak ditemukan di Kabupaten Buol dan masih belum tercemar oleh zat yang berbahaya.

Pelayanan air bersih yang dikelola pihak PDAM di Kabupaten Buol masih terbatas dan hanya terpusat di kawasan perkotaan. Besarnya potensi sumber air baku yang belum termanfaatkan secara maksimal tidak mampu melayani kebutuhan penduduk secara menyeluruh karena kapasitas produksi instalasi pengelolaan sangat terbatas. Sebagian besar penduduk masih memanfaatkan sungai untuk pemenuhan kebutuhan air bersih (mandi dan cuci).

(20)

Adanya pertambahan penduduk serta meningkatnya aktivitas produktif wilayah membutuhkan air bersih dalam jumlah yang relatif banyak pula. Untuk memaksimalkan pelayanan yang akan datang dengan berbagai langkah yakni peningkatan kapasitas produksi, perluasan jaringan, minimalisasi tingkat kebocoran, dan pencarian sumber air baku baru. Selain itu untuk mengoptimalkan pelayanan maka penanganan air bersih dilakukan pihak pemerintah daerah melalui PDAM.

Potensi kebutuhan air bersih sebagaimana yang diuraikan di RTRW Kabupaten Buol dihitung berdasarkan asumsi kebutuhan air domestik untuk rumah tangga adalah 100 liter/orang/hari pada 2010-2020, dan kebutuhan air untuk non domestik adalah 20% dari domestik untuk Fasum dan Fasos serta tingkat kehilangan air adalah 30%. Pada tahun 2020-2030 Buol diasumsikan sudah berkembang menjadi kota sedang dengan kebutuhan air adalah 120 liter/orang/hari dan kebutuhan untuk nondomestik adalah 20% untuk fasum dan fasos, 10% untuk hidran umum sedangkan angka kehilangan air diperkirakan akan mengalami penyusutan menjadi 10% seiring dengan membaiknya kinerja PDAM. Perhitungan kebutuhan air di Kabupaten Buol selengkapnya dapat dilihat pada tabel-tabel berikut.

Tabel 4.3. Prakiraan Kebutuhan Air Bersih Penduduk Tahun 2010 (liter/hari) No Kecamatan Kebutuhan RT Fasum Fasos Hidran UFW Total

1. Lakea 954.300 95.430 95.430 95.430 286.290 1.526.880 2. Karamat 813.300 81.330 81.330 81.330 243.990 1.301.280 3. Biau 2.156.400 215.640 215.640 215.640 646.920 3.450.240 4. Tiloan 792.000 79.200 79.200 79.200 237.600 1.267.200 5. Momunu 1.376.900 137.690 137.690 137.690 413.070 2.203.040 6. Bukall 1.262.500 126.250 126.250 126.250 378.750 2.020.000 7. Bokat 1.323.200 132.320 132.320 132.320 396.960 2.117.120

(21)

8. Bunobogu 960.400 96.040 96.040 96.040 288.120 1.536.640 9. Gadung 1.132.100 113.210 113.210 113.210 339.630 1.811.360 10. Paleleh 1.214.700 121.470 121.470 121.470 364.410 1.943.520 11. Paleleh Barat 571.300 57.130 57.130 57.130 171.390 914.080

Jumlah 20.091.360

Sumber : RTRW Kabupaten Buol, 2012-1032

Tabel 4.4. Prakiraan Kebutuhan Air Bersih Penduduk Tahun 2015 (liter/hari) No Kecamatan Kebutuhan RT Fasum Fasos Hidran UFW Total

1. Lakea 1.028.000 102.800 102.800 102.800 308.400 1.644.800 2. Karamat 876.300 87.630 87.630 87.630 262.890 1.402.080 3. Biau 2.322.900 232.290 232.290 232.290 696.870 3.716.640 4. Tiloan 853.100 85.310 85.310 85.310 255.930 1.364.960 5. Momunu 1.483.300 148.330 148.330 148.330 444.990 2.373.280 6. Bukall 1.359.700 135.970 135.970 135.970 407.910 2.175.520 7. Bokat 1.425.400 142.540 142.540 142.540 427.620 2.280.640 8. Bunobogu 1.034.800 103.480 103.480 103.480 310.440 1.655.680 9. Gadung 1.219.600 121.960 121.960 121.960 365.880 1.951.360 10. Paleleh 1.308.500 130.850 130.850 130.850 392.550 2.093.600 11. Paleleh Barat 615.600 61.560 61.560 61.560 184.680 984.960 Jumlah 21.643.520

Sumber : RTRW Kabupaten Buol, 2012-1032

Tabel 4.5. Prakiraan Kebutuhan Air Bersih Penduduk Tahun 2020 (liter/hari) No Kecamatan Kebutuhan RT Fasum Fasos Hidran UFW Total

1. Lakea 1.329.000 132.900 132.900 132.900 132.900 1.860.600 2. Karamat 1.132.800 113.280 113.280 113.280 113.280 1.585.920 3. Biau 3.002.880 300.288 300.288 300.288 300.288 4.204.032 4. Tiloan 1.102.800 110.280 110.280 110.280 110.280 1.543.920 5. Momunu 1.917.720 191.772 191.772 191.772 191.772 2.684.808 6. Bukall 1.757.880 175.788 175.788 175.788 175.788 2.461.032 7. Bokat 1.842.840 184.284 184.284 184.284 184.284 2.579.976 8. Bunobogu 1.337.520 133.752 133.752 133.752 133.752 1.872.528 9. Gadung 1.576.560 157.656 157.656 157.656 157.656 2.207.184 10. Paleleh 1.691.640 169.164 169.164 169.164 169.164 2.368.296 11. Paleleh Barat 795.840 79.584 79.584 79.584 79.584 1.114.176 Jumlah 24.482.472

(22)

Tabel 4.6. Prakiraan Kebutuhan Air Bersih Penduduk Tahun 2025 (liter/hari) No Kecamatan Kebutuhan RT Fasum Fasos Hidran UFW Total

1. Lakea 1.431.600 143.160 143.160 143.160 143.160 2.004.240 2. Karamat 1.220.280 122.028 122.028 122.028 122.028 1.708.392 3. Biau 3.235.080 323.508 323.508 323.508 323.508 4.529.112 4. Tiloan 1.188.120 118.812 118.812 118.812 118.812 1.663.368 5. Momunu 2.066.040 206.604 206.604 206.604 206.604 2.892.456 6. Bukall 1.893.840 189.384 189.384 189.384 189.384 2.651.376 7. Bokat 1.985.400 198.540 198.540 198.540 198.540 2.779.560 8. Bunobogu 1.441.080 144.108 144.108 144.108 144.108 2.017.512 9. Gadung 1.698.720 169.872 169.872 169.872 169.872 2.378.208 10. Paleleh 1.822.680 182.268 182.268 182.268 182.268 2.551.752 11. Paleleh Barat 857.400 85.740 85.740 85.740 85.740 1.200.360 Jumlah 26.376.336

Sumber : RTRW Kabupaten Buol, 2012-1032

Tabel 4.7. Prakiraan Kebutuhan Air Bersih Penduduk Tahun 2030 (liter/hari) No Kecamatan Kebutuhan RT Fasum Fasos Hidran UFW Total

1. Lakea 1.542.360 154.236 154.236 154.236 154.236 2.159.304 2. Karamat 1.314.720 131.472 131.472 131.472 131.472 1.840.608 3. Biau 3.485.040 348.504 348.504 348.504 348.504 4.879.056 4. Tiloan 1.279.800 127.980 127.980 127.980 127.980 1.791.720 5. Momunu 2.225.640 222.564 222.564 222.564 222.564 3.115.896 6. Bukall 2.040.000 204.000 204.000 204.000 204.000 2.856.000 7. Bokat 2.138.640 213.864 213.864 213.864 213.864 2.994.096 8. Bunobogu 1.552.440 155.244 155.244 155.244 155.244 2.173.416 9. Gadung 1.829.880 182.988 182.988 182.988 182.988 2.561.832 10. Paleleh 1.963.560 196.356 196.356 196.356 196.356 2.748.984 11. Paleleh Barat 923.640 92.364 92.364 92.364 92.364 1.293.096 Jumlah 28.414.008

Sumber : RTRW Kabupaten Buol, 2012-1032

Berdasarkan hasil perhitungan ketersediaan air di Kabupaten Buol yang mencapai 6,8 milyar m3/tahun maka sebenarnya penyediaan air bersih bukan sebuah hambatan dalam pelayanan sistem air bersih bagi

(23)

masyarakat. Kendala terbesar adalah investasi pembangunan IPA dan sistem distribusi air bersih. Dan hal ini diakui oleh Dubes Indonesia untuk MDGs bahwa capaian yang paling sulit dicapai dalam target MDGs salah satunya adalah air bersih. Untuk mengatasi hal tersebut maka pemerintah dapat menggandeng pihak ketiga dalam penyediaan air. Atau memperbaiki kualitas lingkungan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan air tanah yang tersedia.

Air Limbah

Limbah rumah tangga merupakan satu elemen pencemar air tanah terbesar yang selama ini belum ditangani dengan baik melalui sistem sanitasi perkotaan baik di kota besar maupun kota kecil di Indonesia. Demikian juga dengan Kabupaten Buol, pengelolaan sanitasi pada kawasan permukiman dapat dikatakan kurang ramah lingkungan dan berpotensi mencemari air tanah di masa mendatang jika tidak ditangani dengan baik.

Pada dasarnya air limbah terdiri dari 2 (dua) bentuk yaitu air kotor (Grey Water) dan limbah manusia (Black Water). Grey Water yaitu limbah manusia dalam bentuk cairan yang dihasilkan dari sisa kegiatan pemakaian air domestik, seperti air bekas mandi, mencuci, dan sebagainya. Sedangkan Black Water yaitu buangan limbah padat yang berasal dari kotoran manusia.

Penanganan air limbah membutuhkan sarana dan prasarana pengolah untuk menguraikan air limbah tersebut sebelum dibuang ke dalam badan air penerima. Masing-masing jenis limbah yang dihasilkan (Grey Water dan Black Water) mempunyai perlakuan khusus menyangkut instalasi pengolah yang dibutuhkannya. Pengolahan grey water dan black water secara bersamaan dalam satu instalasi akan

(24)

membutuhkan kelengkapan unit-unit pengolah yang disebut dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sedangkan apabila ditangani secara terpisah, khusus untuk penanganan black water diperlukan suatu instalasi sendiri yang disebut dengan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).

b. PermasalahanJaringan Jalan

Jalan kabupaten di Kabupaten Buol kondisinya pun tidak berbeda jauh dengan kondisi jalan trans sulawesi. Masih banyak jalan kabupaten yang tidak menggunakan perkerasan aspal di Kabupaten Buol. Bahkan hampir sebagian besar jalan kabupaten masih menggunakan sirtu sebagai perkerasan badan jalan. Kondisi ini tentu kurang menguntungkan dalam upaya pengembangan wilayah, karena jalan-jalan kabupaten tersebut merupakan jalur akses utama dari kantong produksi menuju pusat-pusat koleksi dan pemasaran produk pertanian. Kondisi ini akan semakin buruk saat hujan, karena ketiadaan drainase jalan menyebabkan saat hujan badan jalan tergenang dan secara otomatis akan semakin memperburuk kualitas permukaan jalan dalam jangka panjang. Mengingat peran strategis jaringan jalan lokal (Kabupaten Buol) sebagai penghubung antar pusat kegiatan di Kabupaten Buol, maka sebaiknya perlu mendapat perhatian serius dalam rangka pembangunan Kabupaten Buol di masa mendatang. Diharapkan dengan semakin bagusnya kualitas permukaan jalan akan semakin mendorong arus distribusi barang dan orang di Kabupaten Buol yang akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Buol.

(25)

Seiring dengan upaya pengembangan wilayah Kabupaten Buol, pada tahun 2014 pembangunan dan pengembangan jaringan jalan yang sebelumnya kondisi buruk telah beraspal (baiik) khususnya jalur tran Sulawesi, namun di beberapa ruas terus dilakukan pembenahan dan perbaikan. Pengembangan jaringan jalan merupakan satu keharusan. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru di Kabupaten Buol memerlukan dukungan jaringan jalan yang memadai dari sisi kuantitas maupun kualitas. Peningkatan status Lokodidi sebagai PKL dalam kaitannya dengan pengembangan pelabuhan laut akan memberikan implikasi terhadap bangkitan dan tarikan lalu lintas yang melewati jalan negara maupun pusat-pusat produksi pertanian di Kabupaten Buol.

(26)
(27)

Jaringan Drainase

Sebagian sistem drainase di Kabupaten Buol (terutama kawasan perdesaan) masih mengandalkan sistem drainase alami. Banyak genangan yang terjadi saat hujan turun pada kawasan perdesaan (lihat gambar). Sedangkan sistem drainase buatan sebagian besar terdapat pada Kecamatan Biau, dengan kondisi yang kurang terawat. Banyak saluran drainase yang mampet dan airnya tidak mengalir, dan di beberapa tempat dipenuhi tanaman ganggang sehingga mengganggu fungsinya sebagai saluran pembuang air hujan.

Permasalahan lainnya yang dapat ditemui adalah pada titik-titik lokasi tertentu, kawasan perkotaan masih ada genangan akibat luapan / limpasan yang disebabkan drainase perkotaannya kurang optimal atau tidak sesuai lagi dimensi badan saluran, serta perilaku buang sampah

di saluran drainase sehingga menyebabkan

tersumbat / adanya sedimentasi.

Persampahan

Sistem persampahan di Kabupaten menggunakan sistem on site maupun sistem off site. Kabupaten Buol sudah memiliki 1 buah Tempat Pembuangan Akhir di Kelurahan Kumaligon dengan sistem open dumping. Permasalahan utama pengelolaan sistem persampahan di Kabupaten Buol adalah keterbatasan sarana pengangkut sampah dan minimnya biaya operasional, serta sistem pengelolaan sampah di permukiman pesisir dan muara sungai di Kelurahan Buol dan Kampung Bugis, karena kawasan ini terpengaruh langsung terhadap pasang surut air, serta kesadaran masyarakat tentang lingkungan yang bersih dan sehat masih terus ditingkatkan.

(28)

Sistem on site untuk kawasan fungsional, kecuali di Kelurahan Buol dan Kampung Bugis, masih sangat layak dikembangkan di Kabupaten Buol mengingat ketersediaan lahan pekarangan yang luas di masing-masing kapling permukiman. Sistem ini dapat dikombinasikan dengan upaya pendaurulangan sampah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

Air Bersih

Sumber air yang dipakai oleh PDAM berasal dari sungai dan mata air dengan kapasitas produksi dari PDAM Motanang Kabupaten Buol adalah sebesar 1.010.544 M3 dan dikonsumsi oleh 2.835 pelanggan di seluruh Kabupaten Buol, khususnya pada wilayah perkotaan Buol.Wilayah kecamatan yang letaknya jauh dari perkotaan masih mengandalkan sumber air dari sumur dan hidran umum yang disediakan oleh pemerintah melalui program Pamsimas.

Permasalahan lainnya adalah penggunaan air sumur dan permuknaan yang belum diimbangi dengan pemahaman tentang air yang aman dan berkelanjutan, dan belum optimalnya dukungan kebijakan anggaran bagi perluasan cakupan akses air minum dan sanitasi, serta pemanfaatan sumur bor yang dapat membahayakan lingkungan.

Air Limbah

Pengelolaan air limbah di Kabupaten Buol dominan dilakukan secara langsung oleh masyarakat, namun dalam pengelolaannya masih dijumpai menggunakan sistem yang tidak ramah lingkungan. Sihingga jika tidak segera ditangani sangat berpotensi memburuk sanitasi dan pencemaran lingkungan. Dikawasan perkotaan, seperti di Kelurahan

(29)

Buol dan Bugis memiliki sistem pembuangan air limbah yang buruk, disebabkan kondisi lahan yang terletak dan terpengaruh langsung dengan pasang-surut air air laut. Sebagian masyarakat lebih mudah membuang limbahnya ke saluran, pantai, dan sungai.

Permasalahan yang sering dihadapi, adanya persepsi sebagian masyarakat bahwa pengelolaan air limbah adalah kewajiban pemerintah, serta terdapat anggapan bahwa sarana sanitasi air limbah belum menjadi kebutuhan yang mendesak.

(30)

Bab. 5 - 1 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

5.1. Perumusan Kriteria dan Indikator Kawasan Prioritas

Penyusunan pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman infrastruktur Kabupaten Buol dilengkapi dengan penentuan kawasan prioritas yang melalui beberapa langkah dan pentahapan. Adapun referensi yang dijadikan bahan pertimbangan penentuan kriteria dan indicator oleh tim penyusun adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1. Contoh Penetapan Kriteria dan Indikator Penentuan Kawasan Prioritas

KRITERIA INDIKATOR

Kondisi Bangunan Hunian Keteraturan Bangunan Hunian Kepadatan Bangunan Hunian Kelayakan Bangunan Hunian Kondisi Aksesibilitas (jalan lingkungan) Jangkauan Jaringan jalan

Kualitas Jaringan Jalan

Kondisi Drainase Kejadian Genangan

Kondisi Pelayanan Air Minum / Baku Kualitas Sumber Air Minum / Baku Kecukupan Pelayanan Air Minum

ANALISIS KAWASAN PRIORITAS

Bab. 5

Bab. 5 - 1 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

5.1. Perumusan Kriteria dan Indikator Kawasan Prioritas

Penyusunan pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman infrastruktur Kabupaten Buol dilengkapi dengan penentuan kawasan prioritas yang melalui beberapa langkah dan pentahapan. Adapun referensi yang dijadikan bahan pertimbangan penentuan kriteria dan indicator oleh tim penyusun adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1. Contoh Penetapan Kriteria dan Indikator Penentuan Kawasan Prioritas

KRITERIA INDIKATOR

Kondisi Bangunan Hunian Keteraturan Bangunan Hunian Kepadatan Bangunan Hunian Kelayakan Bangunan Hunian Kondisi Aksesibilitas (jalan lingkungan) Jangkauan Jaringan jalan

Kualitas Jaringan Jalan

Kondisi Drainase Kejadian Genangan

Kondisi Pelayanan Air Minum / Baku Kualitas Sumber Air Minum / Baku Kecukupan Pelayanan Air Minum

ANALISIS KAWASAN PRIORITAS

Bab. 5

Bab. 5 - 1 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

5.1. Perumusan Kriteria dan Indikator Kawasan Prioritas

Penyusunan pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman infrastruktur Kabupaten Buol dilengkapi dengan penentuan kawasan prioritas yang melalui beberapa langkah dan pentahapan. Adapun referensi yang dijadikan bahan pertimbangan penentuan kriteria dan indicator oleh tim penyusun adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1. Contoh Penetapan Kriteria dan Indikator Penentuan Kawasan Prioritas

KRITERIA INDIKATOR

Kondisi Bangunan Hunian Keteraturan Bangunan Hunian Kepadatan Bangunan Hunian Kelayakan Bangunan Hunian Kondisi Aksesibilitas (jalan lingkungan) Jangkauan Jaringan jalan

Kualitas Jaringan Jalan

Kondisi Drainase Kejadian Genangan

Kondisi Pelayanan Air Minum / Baku Kualitas Sumber Air Minum / Baku Kecukupan Pelayanan Air Minum

(31)

Bab. 5 - 2 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

Kondisi Pengelolaan Air Limbah Prasarana Sanitasi Lingkungan

Kondisi Pengelolaan Persampahan Pengelolaan Persampahan Lingkungan Sumber : Panduan RP2KP; Direktorat Pengembangan Permukiman, Dirjen Cipta

Karya-Kementerian Pekerjaan Umum

Tim penyusun yang terdiri dari Tim Pokjanis Daerah yang didampingi oleh Tim Tenaga Ahli menentukan dan menyusun kriteria dan indikator identifikasi dan penentuan kawasan prioritas yang mengacu pada kajian terhadap dokumen perencanaan wilayah (spatial planning) serta dokumen perencanaan pembangunan (development plan) yang diklarifikasi dan dipaduselaraskan dengan eksisting di lapangan. Adapun identifikasi kondisi eksisting ditelusuri melalui proses observasi lapangan. Secara lengkap proses tahapan penentuan kriteria dan indikator penentuan kawasan prioritas adalah sebagai berikut:

1. Melakukan kajian dan analisis isi dan substantive (content analysis) terhadap dokumen perencanaan wilayah (spatial plan) dalam konteks pembangunan permukiman perkotaan.

2. Melakukan kajian dan analisis isi dan substantive (content analysis) terhadap dokumen perencanaan pembangunan (development plan) dalam konteks pembangunan permukiman perkotaan.

3. Melakukan survey dan observasi yang sesuai dengan format kriteria dan indikator penentuan kawasan prioritas.

4. Input data hasil survey ke dalam format isian yang telah disusun 5. Menentukan range antar komponen

6. Memasukkan nilai dan skor pada setiap skor 7. Mengakumulasi nilai / skor dari setiap kawasan

8. Menentukan tingkatan dari setiap kawasan yang didasarkan pada akumulasi nilai / skor

Proses penentuan kawasan secara runut diawali dengan penentuan kriteria dan indikator yang mencakup beberapa komponen. Penetapan kriteria dan indikator

(32)

Bab. 5 - 3 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

didasarkan pada penelusuran issu dan permasalahan permukiman dan infrastruktur perkotaan yang terindikasi melalui penelusuran isi dan substantive(content analysis)

terhadap dokumen perencanaan spasial (spatial planning) dan dokumen pembangunan (development planning), yang dilengkapi dengan hasil survey dan observasi lapangan.

Adapun issu dan permasalahan terkait pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan yang dihasilkan dari kedua dokumen terkait adalah sebagai berikut :

1. Rendahnya daya beli masyarakat terhadap fasilitas perumahan 2. Rendahnya kualitas infrastruktur permukiman

3. Kurang meratanya pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana wilayah 4. Kurang optimalnya peran dan kapasitas pusat-pusat permukiman wilayah 5. Minimnya prasarana sanitasi lingkungan

6. Belum terintegrasinya pusat-pusat permukiman dengan infrastruktur wilayah khususnya infrastruktur jalan dan transportasi, fasilitas layanan sosial, maupun ekonomi kawasan

7. Rendahnya pengawasan maupun pembatasan terhadap perkembangan kawasan permukiman di daerah pesisir

8. Pengembangan kawasan permukiman yang belum disesuaikan dengan karakteristiK : (1) Fisik, (2) Sosial, (3) Budaya, (4) Ekonomi

9. Pengembangan permukiman yang belum sepenuhnya didukung oleh regulasi pemanfaatan ruang.

10. Pengembangan kawasan permukiman yang masih terkait dengan legalitas pemanfaatan lahan

(33)

Bab. 5 - 4 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

Sementara issu dan permasalahan permukiman dan infrstruktur di masing-masing kawasan prioritas adalah sebagai berikut :

1. Kawasan Peisisr dan Kawasan Sungai Buol a) Permukiman cenderung padat dan kumuh b) Belum dilengkapi dengan drainase

c) Belum dilengkapi dengan pengelolaan persampahan d) Aksessibilitas internal hanya menggunakan titian e) Limbah langsung dibuang ke halaman rumah f) Tidak dilengkapi dengan saluran limbah g) Belum terlayani dengan layanan air bersih 2. Permukiman Pesisir Pelabuhan Leok I

a) Sebagian kawasan permukiman belum dilengkapi dengan drainase b) Air sering meluap ke badan jalan

c) Genangan air di jalan seringkali terjadi 3. Permukiman Pesisir Leok II

a) Air sering meluap ke badan jalan b) Genangan air di jalan seringkali terjadi

c) Sebagian belum dilengkapi dengan pengelolaan persampahan d) Tidak dilengkapi dengan saluran air limbah

4. Permukiman Pesisir Lokodidi

a) Fasilititas penyediaan air minum tidak berfungsi b) Belum dilengkapi dengan drainase yang memadai c) Belum dilengkapi dengan perlengkapan sanitasi d) Sulit untuk memperoleh air bersih

e) Tidak terdapat fasilitas dan sistem pengolahan sampah 5. Permukiman Pesisir Paleleh

(34)

Bab. 5 - 5 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

b) Jalan sering digenangi air

Adapun kriteria dan indikator yang digunakan untuk menentukan kawasan priorotas terdiri dari :

1. Aspek Fisik 2. Aspek Ekonomi 3. Aspek Sosial Budaya

4. Aspek Prasarana dan Sarana dasar 5. Aspek Karaktersitik Wilayah 6. Aspek Transportasi

7. Aspek Regulasi

8. Aspek Legalitas Lahan

Secara lengkap gambaran mengenai kriteria dan indikator penentuan kawasan

(35)

Bab. 5 - 6 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

Tabel 5.2. Komponen Kriteria dan Indikator Penentuan Kawasan Prioritas

NO. ASPEK KRITERIA /VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN

Baik Sedang Kurang 1. FISIK Topografi dan kelerengan Kategori baik bila

hambatan pembangunan 0-15%, sedang bila 15-39%, kurang bila hambat-an > 30 %

Tata guna lahan Kategori baik bila perbandingan lahan terbangun

dan tidak terbangun 30:70, sedang apabila 40:60, kurang bila <40% Daya dukung ruang

Daya dukung lingkungan Kategori baik bila ruangterbuka 30-40%, sedang bila 20-30%, kurang apabila < 20% Kategori baik apabila kemampuan lahan >30%, sedang bila 20-30%, kurang apabila 0-15% 2. EKONOMI Tingkat pendapatan

masyarakat Kategori baik apabilatingkat pendapatan masya rakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

Ketersediaan sarana

eko-nomi Kategori baik apabilaketersediaan sarana eko-nomi 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila <50%

Kegiatan ekonomi

ma-syarakat Kategori baik apabilaorientasi kegiatan ekono-mi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50% Daya beli masyarakat Kategori baik apabila

daya beli masyarakat 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila < 50%

(36)

Bab. 5 - 7 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

NO. ASPEK KRITERIA /VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN

Baik Sedang Kurang ekonomi pembinaan ekonomi

secara

aktif 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang a-pabila <50%

3. SOSIAL BUDAYA Sistem sosial

masyarakat Kategori baik apabilakegiatan sosial

kemasyara-katan 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

Struktur sosial Kategori baik apabila kepemilikan kekayaan 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang

apabila <50% Pranata sosial Kategori baik apabila

hukum adat yang berlaku dan masih melembaga dalam masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

Dinamika sosial Kategori baik apabila perkembangan masyarakat menjaga nilai-nilai & tradisi leluhur 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50% Partisipasi masyarakat Kategori baik apabila

tingkat partisi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang

apabila <50% 4. PRASARANA &

SARANA DASAR Tingkat layanan airbersih Kategori baik apabilatingkat pelayanan air ber sih 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

Persampahan Kategori baik apabila tingkat ketersediaan pra-sarana persampahan 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

(37)

Bab. 5 - 8 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

NO. ASPEK KRITERIA /VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN

Baik Sedang Kurang Drainase Kategori baik apabila

dilengkapi dengan saluran (tersier, sekunder & primer), sedang apabila (ter

sier, sekunder), kurang apabila (tersier) Kondisi Jaringan jalan Kategori baik apabila

kondisi aspal dengan

kapa-sitas jalan yang memenuhi standard, sedang apa-bila kondisi aspal dengan kapasitas jalan yang ti-dak memenuhi standar, kurang apabila kondisi tanpa aspal dan tidak memenuhi standard Jembatan Kategori baik apabilakondisi jembatan sesuai

standard yang dilengkapi dengan pagar, sedang apabila kondisi jembatan sesuai standar tanpa pagar, kurang apabila kondisi jembatan tidak memenuhi standar tanpa pagar pengaman Pengolahan limbah Kategori baik apabila

jumlah rumah yang memi-liki pengolahan air limbah 70-100%, sedang apa-bila 50-70%, kurang apabila <50% 5. KARAKTERISTIK

WILAYAH Dilintasi sungai Kategori baik apabilakualitas dan kuantitas DAS

terjaga, sedang apabila terjadu penurunan kuali-tas DAS, kurang apabila terjadi degradasi kualitas dan kuantitas DAS Dilintasi jalur

transpor-tasi utama Kategori baik apabilaakses kawasan berhubung-an lberhubung-angsung dengberhubung-an jalur transportasi utama, se -dang apabila tidak memiliki hubungan

(38)

Bab. 5 - 9 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

NO. ASPEK KRITERIA /VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN

Baik Sedang Kurang langsung

dengan jalur transportasi utama, kurang apabila tidak memiliki hubungan dengan jalur transpor -tasi utama

Karakteristik permukiman

perkotaan Kategori baik apabilaberciri arsitektur lokal, sedang apabila dipengaruhi oleh arsitektur mo-dern, kurang apabila bangunan berciri modern 6.TRANSPORTASI Ketersediaan sarana /

prasarana transportasi Kategori baik apabilakemudahan memperoleh sarana / prasarana transportasi mencapai 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

Aksesibilitas Kategori baik apabila aksesibilitas antar kawasan mencapai 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50% Ketersediaan moda

transportasi Kategori baik apabilaketersediaan moda trans-portasi mencapai 80-100%, sedang apabila

50-80%, kurang apabila <50%

Interkonektivitas antar

kawasan Kategori baik apabilaketerhubungan antar kawa san mencapai 80-100%, sedang apabila 50-80%

kurang apabila <50% 7. REGULASI RTRW Kategori baik apabila

kawasan permukiman pri oritas yang ditetapkan sesuai dengan arahan pe manfaatan ruang dalam RTRW, sedang apabila fungsi utama kawasan bukan fungsi permukiman tetapi kawasan penunjang, kurang apabila tidak

(39)

Bab. 5 - 10 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

NO. ASPEK KRITERIA /VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN

Baik Sedang Kurang sesuai dengan fungsi

kawasan permukiman yang

diarahkan dalam RTRW RPJMD Kategori baik apabila

kawasan permukiman sesu ai arahan

kebijakan,strategi dan program pemba-ngunan dalam RPJMD, sedang apabila hanya se-suai dengan strategi & program pembangunan, kurang apabila tidak sesuai dengan strategi &

program pembangunan maupun RPJMD RPJPD Kategori baik apabila

kawasan permukiman sesu ai arahan

kebijakan,strategi dan program pemba-ngunan dalam RPJPD, sedang apabila hanya se-dengan strategi & program pembangunan, kurang

apabila tidak sesuai dengan strategi& program

pembangunan maupun RPJPD

Regulasi & kebijakan

sektoral Kategori baik apabilasesuai dengan regulasi & kebijakan sektoral, sedang apabila menjadi prio-ritas penanganan tetapi belum ada kebijakan sektoral, kurang apabila tidak menjadi prioritas dan belum ada kebijakan sektoral`

8.LEGALITAS

LAHAN Hak milik Kategori baik apabilapenguasaan lahan dalam kawasan permukiman 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila <50%

(40)

Bab. 5 - 11 PT. SAE CITRA ENDAHConsultant

NO. ASPEK KRITERIA /VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN

Baik Sedang Kurang guna bangunan hanya

10-20%, sedang apabila 20-40%, kurang apabila >50%

Hak sewa Kategori baik apabila hak sewa hanya 10-20%,

sedang apabila 20-40%, kurang apabila >50% Sumbe Sumber : Analisis; 2014

Tabel 5.2 di atas menunjukkan bahwa ada 8 (delapan) aspek yang dilengkapi dengan 32 (tiga puluh dua) kritreria serta 96 (Sembilan puluh enam) indikator yang digunakan dalam rangka menentukan urutan prioritas penanganan permasalahan permukiman dan infrastruktur wilayah perkotaan Kabupaten Buol.

5.2. Analisis dan Identifikasi Kawasan Prioritas Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan Kabupaten Buol

5.2.1. Penetapan Kawasan Prioritas

Nilai dari hasil perhitungan terhadap skor yang diberikan untuk setiap wilayah berdasarkan aspek dan kriteria yang dijadikan acuan, maka ditetapkanlah nilai-nilai dan skor untuk setiap kawasan prioritas seperti yang ditampilkan melalui tabel berikut ini :

(41)

Tabel 5.3. Penilaian Kawasan Prioritas : Paleleh

NO ASPEK KRITERIA /VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN TOTAL

Baik Sedang Kurang

1. FISIK Topografi dan

kelerengan Kategori baik bila hambatan pembangunan0-15%, sedang bila 15-39%, kurang bila

hambatan > 30 % 6 10 3

Tata guna lahan Kategori baik bila perbandingan lahan terbangun dan tidak terbangun 30:70, sedang

apabila 40:60,kurang bila <40% 6 12 1

Daya dukung ruang Kategori baik bila ruang terbuka 30-40%,

sedangbila 20-30%, kurang apabila < 20% 8 9 2

Daya dukung

lingkungan Kategori baik apabila kemampuan lahan>30%,sedang bila 230%, kurang apabila

0-15% 5 12 2

2 EKONOMI Tingkat pendapatan

masyarakat Kategori baik apabila tingkat pendapatanmasyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurangapabila <50%

2 15 2

Ketersediaan sarana

ekonomi Kategori baik apabila ketersediaan saranaekonomi 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurangapabila <50%

3 11 4

EKONOMI Kegiatan ekonomi

masyarakat Kategori baik apabila orientasi kegiatanekonomi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%,

kurang apabila <50%

2 16 1

(42)

100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila< 50%

Pembinaan usaha

ekonomi Kategori baik apabila pembinaan ekonomisecara aktif 80-100%, sedang apabila 50-80%,

kurang a-pabila <50% 1 11 5

3. SOSIAL

BUDAYA Sistem sosialmasyarakat Kategori baik apabila kegiatan sosialkemasyarakatan 80-100%, sedang apabila

50-80%, kurang apabila <50% 6 13

-Struktur sosial Kategori baik apabila kepemilikan kekayaan80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila

<50% 2 15 2

Pranata sosial Kategori baik apabila hukum adat yang berlaku dan masih melembaga dalam masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila<50%

5 10 3

Dinamika sosial Kategori baik apabila perkembangan

masyarakat menjaga nilai-nilai & tradisi leluhur 80-100%,sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

6 13

-Partisipasi masyarakat Kategori baik apabila tingkat partisi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-0%, kurang

apabila <50% 4 11 4

4. PRASARANA &

SARANA DASAR Tingkat layanan airbersih Kategori baik apabila tingkat pelayanan airbersih 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

4 12 3

Persampahan Kategori baik apabila tingkat ketersediaan

(43)

apabila 50-80%, kurang apabila <50%

Drainase Kategori baik apabila dilengkapi dengan saluran (tersier, sekunder & primer), sedang apabila (tersier, sekunder), kurang apabila (tersier)

1 9 8

Kondisi jaringan jalan Kategori baik apabila kondisi aspal dengan kapasitas jalan yang memenuhi standard, sedang apa-bila kondisi aspal dengan kapasitas jalan yang tidak memenuhi standar, kurang apabila kondisi

tanpa aspal dan tidak memenuhi standard

5 8 5

Jembatan Kategori baik apabila kondisi jembatan sesuai standard yang dilengkapi dengan pagar, sedang apabila kondisi jembatan sesuai standar tanpa pagar, kurang apabila kondisi jembatan tidak memenuhi standar tanpa pagar pengaman

5 13 1

Pengolahan limbah Kategori baik apabila jumlah rumah yang memiliki pengolahan air limbah 70-100%,

sedang apabila 50-70%, kurang apabila <50% - 7 12 5. KARAKTERISTIK

WILAYAH Dilintasi sungai Kategori baik apabila kualitas dan kuantitasDASterjaga, sedang apabila terjadu penurunan kualitas DAS, kurang apabila terjadi degradasi kualitasdan kuantitas DAS

5 12 1

Dilintasi jalur

(44)

-utama, sedang apabila tidak memiliki hubungan langsung dengan jalur transportasi utama, kurang apabila tidak memiliki hubungan dengan jalur transportasi utama

Karakteristik permukiman perkotaan

Kategori baik apabila berciri arsitektur

lokal,sedang apabila dipengaruhi oleh arsitektur modern, kurang apabila bangunan berciri modern

5 14

-6. TRANSPORTASI Ketersediaan sarana /

prasarana transportasi Kategori baik apabila kemudahan memperolehsarana / prasarana transportasi mencapai 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

6 11 2

Aksesibilitas Kategori baik apabila aksesibilitas antar kawasan mencapai 80-100%, sedang apabila

50-80%, kurang apabila <50% 5 12

Ketersediaan moda

transportasi Kategori baik apabila ketersediaan modatransportasi mencapai 80-100%, sedang apabila

50- 80%, kurang apabila <50% 3 14 2

Interkonektivitas antar

kawasan Kategori baik apabila keterhubungan antarkawasan mencapai 80-100%, sedang apabila

50-80% kurang apabila <50% 6 13

-7. REGULASI RTRW Kategori baik apabila kawasan permukimanprioritas yang ditetapkan sesuai dengan arahan

(45)

apabila fungsi utama kawasan bukan fungsi permukiman tetapi kawasan penunjang, kurang apabila tidak sesuai dengan fungsi kawasan permukiman yang diarahkan dalam RTRW

RPJMD Kategori baik apabila kawasan permukiman

sesuai arahan kebijakan, strategi dan program pembangunan dalam RPJMD, sedang apabila hanya sesuai dengan strategi & program pembangunan,

kurang apabila tidak sesuai dengan strategi & program pembangunan maupun PJMD

7 10 1

RPJPD Kategori baik apabila kawasan permukiman

sesuai arahan kebijakan, strategi dan program pembangunan dalam RPJPD, sedang apabila hanya sedengan strategi & program

pembangunan, kurang

apabila tidak sesuai dengan strategi& program

6 11 1

Regulasi & kebijakan

sektoral pembangunan maupun RPJPDKategori baik apabila sesuai dengan regulasi & kebijakan sektoral, sedang apabila menjadi prioritas penanganan tetapi belum ada kebijakan sektoral, kurang apabila tidak menjadi prioritas dan belum ada kebijakan sektoral`

4 12 2

8. LEGALITAS

(46)

apabila50-70%, kurang apabila <50%

Hak guna bangunan Kategori baik apabila hak guna bangunan hanya 10-20%, sedang apabila 20-40%, kurang

apabila >50% 6 10 3

Hak sewa Kategori baik apabila hak sewa hanya 10-20%,

sedang apabila 20-40%, kurang apabila >50% 4 7 7

JUMLAH NILAI 161 380 91

(47)

Tabel 5.4. Penilaian Kawasan Prioritas : Permukiman Pesisir Pelabuhan (Kumaligon dan Leok I)

NO ASPEK KRITERIA / VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN TOTAL

Baik Sedang Kurang

1. FISIK Topografi dan kelerengan Kategori baik bila hambatan pembangunan 0-15%, sedang bila 15-39%, kurang bila hambatan > 30 %

9 9 3

Tata guna lahan Kategori baik bila perbandingan lahan terbangun dan tidak terbangun 30:70, sedang apabila 40:60, kurang bila <40%

7 11 3

Daya dukung ruang Kategori baik bila ruang terbuka 30-40%,

sedang bila 20-30%, kurang apabila < 20% 7 10 4 Daya dukung lingkungan Kategori baik apabila kemampuan lahan

>30%, sedang bila 20-30%, kurang apabila 0-15%

7 10 4

2 EKONOMI Tingkat pendapatan

masyarakat Kategori baik apabila tingkat pendapatanmasyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

- 17 4

Ketersediaan sarana

ekonomi Kategori baik apabila ketersediaan saranaekonomi 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila <50%

3 12 6

EKONOMI Kegiatan ekonomi

masyarakat Kategori baik apabila orientasi kegiatanekonomi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%,kurang apabila <50%

1 14 6

Daya beli masyarakat Kategori baik apabila daya beli masyarakat 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila< 50%

(48)

Pembinaan usaha ekonomi Kategori baik apabila pembinaan ekonomi secara aktif 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang a-pabila <50%

- 11 10

3. SOSIAL

BUDAYA Sistem sosialmasyarakat Kategori baik apabila kegiatan sosialkemasyarakatan 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

7 13

-Struktur sosial Kategori baik apabila kepemilikan

kekayaan80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

3 13 5

Pranata sosial Kategori baik apabila hukum adat yang berlaku dan masih melembaga dalam masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila<50%

7 11 3

Dinamika sosial Kategori baik apabila perkembangan masyarakat menjaga nilai-nilai & tradisi leluhur 80-100%,sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

5 14 2

Partisipasi masyarakat Kategori baik apabila tingkat partisi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-0%, kurang apabila <50%

4 14 3

4. PRASARANA &

SARANA DASAR Tingkat layanan air bersih Kategori baik apabila tingkat pelayanan airbersih 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

1 10 10

Persampahan Kategori baik apabila tingkat ketersediaan

(49)

apabila 50-80%, kurang apabila <50%

Drainase Kategori baik apabila dilengkapi dengan

saluran (tersier, sekunder & primer), sedang apabila (tersier, sekunder), kurang apabila (tersier)

1 7 13

Kondisi jaringan jalan Kategori baik apabila kondisi aspal dengan kapasitas jalan yang memenuhi standard, sedang apa-bila kondisi aspal dengan kapasitas jalan yang tidak memenuhi standar, kurang apabila kondisi

tanpa aspal dan tidak memenuhi standard

2 11 8

Jembatan Kategori baik apabila kondisi jembatan sesuai standard yang dilengkapi dengan pagar, sedang apabila kondisi jembatan sesuai standar tanpa pagar, kurang apabila kondisi jembatan tidak memenuhi standar tanpa pagar pengaman

5 11 5

Pengolahan limbah Kategori baik apabila jumlah rumah yang memiliki pengolahan air limbah 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila <50%

- 5 16

5. KARAKTERISTIK

WILAYAH Dilintasi sungai Kategori baik apabila kualitas dankuantitas DASterjaga, sedang apabila terjadu penurunan kuali tas DAS, kurang apabila terjadi degradasi kualitas

dan kuantitas DAS

(50)

Dilintasi jalur

transportasi utama Kategori baik apabila akses kawasanberhubungan langsung dengan jalur transportasi utama, sedang apabila tidak memiliki hubungan langsung dengan jalur transportasi utama, kurang apabila tidak memiliki hubungan dengan jalur transportasi utama

10 9 2

Karakteristik permukiman

perkotaan Kategori baik apabila berciri arsitekturlokal,sedang apabila dipengaruhi oleh arsitektur modern, kurang apabila bangunan berciri modern

5 13 2

6. TRANSPORTASI Ketersediaan sarana /

pra-sarana transportasi Kategori baik apabila kemudahanmemperoleh sarana / prasarana transportasi mencapai 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

2 14 5

Aksesibilitas Kategori baik apabila aksesibilitas antar kawasan mencapai 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

2 12 6

Ketersediaan moda

transportasi Kategori baik apabila ketersediaan modatransportasi mencapai 80-100%, sedang apabila 50- 80%, kurang apabila <50%

2 12 7

Interkonektivitas antar

kawasan Kategori baik apabila keterhubungan antarkawasan mencapai 80-100%, sedang apabila 50-80% kurang apabila <50%

3 15 3

7. REGULASI RTRW Kategori baik apabila kawasan

(51)

sesuai dengan arahan pemanfaatan ruang dalam RTRW, sedang apabila fungsi utama kawasan bukan fungsi permukiman tetapi kawasan penunjang, kurang apabila tidak sesuai dengan fungsi kawasan permukiman yang diarahkan dalam RTRW

RPJMD Kategori baik apabila kawasan

permukiman sesuai arahan kebijakan, strategi dan program pembangunan dalam RPJMD, sedang apabila hanya sesuai dengan strategi & program pembangunan, kurang apabila tidak sesuai dengan strategi & program pembangunan maupun

RPJMD

7 10 2

RPJPD Kategori baik apabila kawasan

permukiman sesuai arahan kebijakan, strategi dan program pembangunan dalam RPJPD, sedang apabila hanya sedengan strategi & program pembangunan, kurang apabila tidak sesuai dengan strategi& program

6 10 3

Regulasi & kebijakan

sektoral Pembangunan maupun RPJPDKategori baik apabila sesuai dengan regulasi & kebijakan sektoral, sedang apabila menjadi prioritas penanganan tetapi belum ada kebijakan

sektoral, kurang apabila tidak menjadi

(52)

prioritas dan belum ada kebijakan sektoral`

8. LEGALITAS

LAHAN Hak milik Kategori baik apabila penguasaan lahandalam kawasan permukiman 70-100%, sedang apabila50-70%, kurang apabila <50%

10 8 2

Hak guna bangunan Kategori baik apabila hak guna bangunan hanya 10-20%, sedang apabila 20-40%, kurang apabila >50%

4 12 3

Hak sewa Kategori baik apabila hak sewa hanya

10-20%, sedang apabila 20-40%, kurang apabila >50%

4 7 6

JUMLAH NILAI 143 378 174

(53)

Tabel 5.5. Penilaian Kawasan Prioritas : Pesisir Muara Sungai (Buol dan Bugis)

NO ASPEK KRITERIA / VARIABEL INDIKATOR PENILAIAN TOTAL

Baik Sedang Kurang

1. FISIK Topografi dan kelerengan Kategori baik bila hambatan pembangunan 0-15%, sedang bila 15-39%, kurang bila hambatan > 30 %

22 44 66

Tata guna lahan Kategori baik bila perbandingan lahan terbangun dan tidak terbangun 30:70, sedang apabila 40:60, kurang bila <40%

5 8 9

Daya dukung ruang Kategori baik bila ruang terbuka 30-40%,

sedang bila 20-30%, kurang apabila < 20% 5 12 5 Daya dukung lingkungan Kategori baik apabila kemampuan lahan

>30%, sedang bila 20-30%, kurang apabila 0-15%

3 16 2

2 EKONOMI Tingkat pendapatan

masyarakat Kategori baik apabila tingkat pendapatanmasyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

- 14 8

Ketersediaan sarana

ekonomi Kategori baik apabila ketersediaan saranaekonomi 70-100%, sedang apabila 50-70%, kurang apabila <50%

2 8 12

Kegiatan ekonomi

masyarakat Kategori baik apabila orientasi kegiatanekonomi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%,

kurang apabila <50%

4 13 5

Daya beli masyarakat Kategori baik apabila daya beli masyarakat

(54)

apabila< 50%

Pembinaan usaha ekonomi Kategori baik apabila pembinaan ekonomi secara aktif 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang a-pabila <50%

- 7 14

3. SOSIAL

BUDAYA Sistem sosialmasyarakat Kategori baik apabila kegiatan sosialkemasyarakatan 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang

apabila <50%

5 15 2

Struktur sosial Kategori baik apabila kepemilikan kekayaan

80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

3 9 9

Pranata sosial Kategori baik apabila hukum adat yang berlaku dan masih melembaga dalam masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-80%, kurang apabila<50%

6 13 3

Dinamika sosial Kategori baik apabila perkembangan masyarakat menjaga nilai-nilai & tradisi leluhur 80-100%,

sedang apabila 50-80%, kurang apabila <50%

6 13 3

Partisipasi masyarakat Kategori baik apabila tingkat partisi masyarakat 80-100%, sedang apabila 50-0%, kurang apabila <50%

4 15 1

4. PRASARANA & Tingkat layanan air bersih Kategori baik apabila tingkat pelayanan air

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :