ED PSAK 57 (R09) Kewajiban Diestimasi, Kewajiban dan Aset Kontinjensi

56 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

EXPOSURE DRAFT

K

EWAJIBAN

D

IESTIMASI

, K

EWAJIBAN

K

ONTINJENSI

DAN

A

SET

K

ONTINJENSI

(revisi 2009)

IKATAN AKUNTAN INDONESIA

E

XPOSURE

D

RAFT

P

ERNYATAAN

S

TANDAR

A

KUNTANSI

K

EUANGAN

Exposure draft ini dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan

(2)

ED N o.

5 7

Hak cipta © 2009, Ikatan Akuntan Indonesia

PERNYATAAN

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

KEWAJIBAN DIESTIMASI, KEWAJIBAN KONTINJENSI DAN ASET KONTINJENSI

Dikeluarkan oleh

Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia

Jalan Sindanglaya No. 1 Menteng

Jakarta 10130

Telp: (021) 3190-4232 Fax : (021) 724-5078

email: iai-info@iaiglobal.or.id, dsak@iaiglobal.or.id

(revisi 2009)

(3)

Exposure draft ini diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan hanya untuk ditanggapi dan dikomentari. Saran - saran dan masukan untuk menyempurnakan draft ini masih dimungkinkan sebelum diterbitkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

Tanggapan tertulis atas draft ini paling lambat diterima pada 30 November 2009. Tanggapan dikirimkan ke:

Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia

Jl. Sindanglaya No.1, Menteng,

Jakarta 10310

Fax: 021 724-5078

E-mail: iai-info@iaiglobal.or.id, dsak@iaiglobal.or.id

Hak Cipta © 2009 Ikatan Akuntan Indonesia

Exposure Draft (ED) ini dibuat dengan tujuan untuk

pe-nyiapan tanggapan dan komentar yang akan dikirimkan ke Dewan Standar Akuntansi Keuangan. Penggandaan ED ini oleh individu/organisasi/lembaga dianjurkan dan diizinkan untuk penggunaan di atas dan tidak untuk di-perjualbelikan.

Dewan Standar Akuntansi Keuangan, Ikatan Akuntan Indonesia, Jl Sindanglaya No.1, Menteng, Jakarta 10310. Tel. 62-21 3190-4232, Fax: 62-21 724-5078

(4)

Pengantar

Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah menyetujui Expo-sure Draft PSAK 57 (revisi 2009) tentang Kewajiban Dies-timasi, Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi dalam rapatnya pada tanggal 11 Agustus 2009 untuk disebarluaskan dan ditanggapi oleh kalangan anggota IAI, Dewan Konsultatif SAK, Dewan Pengurus Nasional IAI, perguruan tinggi dan individu/organisasi/lembaga lain yang berminat.

Tanggapan akan sangat berguna jika memaparkan permasalahan secara jelas dan alternatif saran yang didukung dengan alasan. Exposure Draft PSAK 57 (revisi 2009): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi merevisi PSAK 57 (1994): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi. Exposure Draft PSAK 57 (revisi 2009): Kewa-jiban Diestimasi, KewaKewa-jiban Kontinjensi dan Aset Kontinjensi merupakan adopsi dari IAS 37 (2009): Provisions, Contingent Liabilities and Contingent Assets.

Exposure Draft ini disebarluaskan dalam bentuk buku, sisipan dokumen dalam majalah Akuntan Indonesia, dan homepage IAI: www.iaiglobal.or.id

Jakarta, 11 Agustus 2009 Dewan Standar Akuntansi Keuangan

Rosita Uli Sinaga Ketua

Agus Edy Siregar Anggota

Etty Retno Wulandari Anggota

Merliyana Syamsul Anggota

Roy Iman Wirahardja Anggota

Meidyah Indreswari Anggota

Riza Noor Karim Anggota

Setiyono Miharjo Anggota

Saptoto Agustomo Anggota

Jumadi Anggota

Ferdinand D. Purba Anggota

Irsan Gunawan Anggota

Budi Susanto Anggota

Ludovicus Sensi Wondabio Anggota

Eddy R. Rasyid Anggota

Liaw She Jin Anggota

(5)

Permintaan Tanggapan

Penerbitan ED PSAK 57 (revisi 2009): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi bertujuan untuk meminta tanggapan atas semua pengaturan dan paragraf dalam ED PSAK 57 (revisi 2009) tersebut.

Untuk memberikan panduan dalam memberikan tanggapan, berikut ini hal-hal yang diharapkan masukannya:

Ketentuan transisi (paragraf 93)

Apakah Anda setuju ketentuan transisi yang bersifat prospec-tive catch-up?

Dampak penerapan ED PSAK 57 (revisi 2009) diakui sebagai penyesuaian atas saldo laba awal pada penerapan PSAK 57 tersebut. Namun, dianjurkan untuk menyesuaikan saldo laba awal periode sajian.

Secara umum, terdapat tiga jenis ketentuan transisi:

- Prospektif murni, dimana kebijakan akuntansi baru diter-apkan untuk transaksi dan peristiwa lain yang terjadi setelah tanggal efektif. Sementara transaksi dan peristiwa lain sebelum tanggal efektif masih menerapkan SAK yang berlaku sebelumnya.

- Prospektif catch-up, dimana kebijakan akuntansi baru

diterapkan untuk transaksi dan peristiwa lain yang terjadi sebelum tanggal efektif, tetapi laporan keuangan periode sebelumnya tidak perlu disesuaikan (disajikan kembali). Dampak dari perubahan kebijakan akuntansi lama dan baru diakui sebagai penyesuaian dari saldo laba awal periode sajian atau periode sajian paling awal.

- Retrospektif, dimana kebijakan akuntansi baru seolah-olah sudah diterapkan untuk transaksi dan peristiwa lain yang terjadi sebelum tanggal efektif.

(6)

Ikhtisar Ringkas

Secara umum perbedaan antara ED PSAK 57 (revisi 2009): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, dan Aset Kon-tinjensi dengan PSAK 57 (revisi 2000): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi adalah sebagai berikut:

Perihal ED PSAK 57 (revisi 2009)

PSAK 57 (revisi 2000) Ruang

ling-kup

Dihilangkan hal terse-but yang sebelumnya termasuk dalam PSAK 57 (2000).

Kewajiban diestimasi dan kontinjensi yang timbul dari instrumen keuangan yang di-catat dengan nilai wajar, dan kontrak dengan pemegang polis bagi entitas asuransi. Tidak berlaku untuk

in-strumen keuangan (ter-masuk garansi) yang masuk dalam ruang lingkup PSAK 55.

Instrumen keuangan (ter-masuk garansi) yang tidak dicatat dengan nilai wajar.

Dihilangkan hal terse-but yang sebelumnya termasuk dalam PSAK 57 (2000).

Kewajiban diestimasi, ke-wajiban kontinjensi, dan aset kontinjensi entitas asuransi, kecuali kewajiban diestimasi dan kontinjensi yang timbul dari kontrak dengan peme-gang polis.

Ketentuan transisi

Penjelasan tersebut di-hilangkan.

Penjelasan ketentuan transisi untuk perubahan kebijakan akuntansi yang tidak men-gacu ke PSAK 25.

Lampiran Terdapat contoh menge-nai kebijakan pengem-balian dana (refund).

(7)

Perbedaan ED PSAK 57 (revisi 2009): Kewajiban

Diesti-masi, Kewajiban Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi dengan

IAS 37 (2009): Provisions, Contingent Liabilities and

Con-tingent Assets

(8)

DAFTAR ISI

Paragraf PENDAHULUAN ... 01-13 Tujuan ... 01 Ruang Lingkup ... 02- 09 Defi nisi ... 10 Kewajiban Diestimasi dan Kewajiban Lainnya ... 11 Hubungan antara Kewajiban Diestimasi dan

Kewajiban Kontinjensi ... 12-13

PENGAKUAN ... 14-35 Kewajiban Diestimasi ... 15-26 Kewajiban Kini ... 15-16 Peristiwa Masa Lalu ... 17-22 Kemungkinan Arus Keluar Sumber Daya ... 23-24 Estimasi Kewajiban yang Andal ... 25-26 Kewajiban Kontinjensi ... 27-30 Aset Kontinjensi ... 31-35

(9)

PENERAPAN ATURAN PENGAKUAN

DAN PENGUKURAN ... 63-83 Kerugian Operasi Masa Datang ... 63-65 Kontrak Memberatkan ... 66-69 Restrukturisasi ... 70-83

PENGUNGKAPAN ... 84-92 KETENTUAN TRANSISI ... 93 TANGGAL EFEKTIF ... 94 LAMPIRAN:

A. Tabel Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, Aset Kontinjensi dan Penggantian

B. Bagan Pengambilan Keputusan C. Contoh: Pengakuan

(10)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 57 (REVISI 2009)

KEWAJIBAN DIESTIMASI, KEWAJIBAN KONTINJENSI, DAN ASET KONTINJENSI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 57 (revisi 2009) terdiri dari paragraf 1-94. Seluruh paragraf tersebut memiliki kekuatan mengatur yang sama. Paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring mengatur prinsip-prinsip utama. PSAK 57 (revisi 2009) harus dibaca dalam konteks tujuan pengaturan dan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur-unsur yang tidak material. PSAK 25 memberikan dasar pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi ketika tidak ada panduan secara eksplisit.

PENDAHULUAN

Tujuan

01. Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan dan pengukuran kewajiban diestimasi, kewajiban kontinjensi dan aset kontinjensi serta untuk memastikan informasi mema-dai telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Dengan demikian, para pengguna dapat memahami sifat, waktu, dan jumlah yang terkait dengan informasi tersebut.

Ruang Lingkup

02. Pernyataan ini harus diterapkan oleh semua entitas dalam akuntansi untuk kewajiban diestimasi, kewajiban kontin jensi, dan aset kontinjensi, kecuali kewajiban diesti-masi dan kontinjensi yang timbul dari:

(a) kontrak eksekutori, kecuali jika kontrak tersebut bersifat memberatkan (onerous);

(11)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

03. Pernyataan ini tidak berlaku untuk instrumen keuangan (termasuk garansi) yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.

04. Kontrak eksekutori adalah kontrak yang kedua belah pihak terkaitnya belum melaksanakan kewajiban kontrak atau telah melaksanakan sebagian kewajiban mereka dengan pro-porsi yang sama. Pernyataan ini tidak berlaku bagi kontrak eksekutori kecuali jika kontrak tersebut bersifat memberatkan (onerous).

05. Jika ada PSAK lain mengatur kewajiban diestimasi, kewajiban kontinjensi, atau aset kontinjensi maka entitas harus menerapkan PSAK tersebut. Contohnya, beberapa jenis kewa-jiban diestimasi atau kontinjensi tertentu telah diatur dalam: (a) Kontrak Konstruksi (lihat PSAK 34: Akuntansi Kontrak

Konstruksi);

(b) Pajak Penghasilan (lihat PSAK 46: A k u n t a n s i P a j a k Penghasilan);

(c) Sewa (lihat PSAK 30: Sewa). Namun karena dalam PSAK 30 tidak terdapat ketentuan yang secara spesifi k berhubungan dengan sewa operasi yang memberatkan, Pernyataan ini diterapkan untuk kasus seperti itu;

(d) Imbalan kerja (lihat PSAK 24: Imbalan Kerja); dan (e) Kontrak asuransi (lihat PSAK 28 dan 36). Namun,

Pernyataan ini diterapkan terhadap kewajiban diestimasi, kewajiban kontinjensi dan aset kontinjensi entitas asuransi, selain yang timbul akibat kewajiban kontraktual dan hak dari kontrak asuransi sesuai ruang lingkup PSAK 28 dan 36.

(12)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

07. Pernyataan ini mendefi nisikan kewajiban diestimasi sebagai kewajiban yang waktu dan jumlahnya belum pasti. Istilah kewajiban diestimasi juga digunakan dalam pos misal-nya depresiasi, penurunan nilai aset dan utang ragu-ragu: yang merupakan penyesuaian terhadap nilai tercatat atas aset dan tidak dibahas dalam Pernyataan ini.

08. PSAK lain mengatur perlakuan pengeluaran sebagai aset atau beban. Hal tersebut tidak diatur dalam Pernyataan ini. Dengan demikian, Pernyataan ini tidak melarang ataupun mewajibkan kapitalisasi biaya ketika kewajiban diestimasi dibuat.

09. Pernyataan ini berlaku untuk kewajiban diestimasi dalam rangka restrukturisasi (termasuk operasi dalam peng-hentian). Jika suatu restrukturisasi memenuhi defi nisi operasi dalam penghentian, mungkin diperlukan pengungkapan tam-bahan seperti yang diatur dalam PSAK 58: Aset Tidak Lancar Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan.

Defi nisi

10. Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:

Aset kontinjensi adalah aset potensial yang timbul dari pe-ristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas.

Kewajiban adalah kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya diperkirakan mengakibatkan pengeluaran sumber daya entitas.

(13)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Kewajiban hukum adalah kewajiban yang timbul dari: (a) suatu kontrak (secara eksplisit atau implisit); (b) peraturan perundang-undangan; atau (c) pelaksanaan produk hukum lainnya.

Kewajiban konstruktif adalah kewajiban yang timbul dari tindakan entitas yang dalam hal ini:

(a) berdasarkan praktik baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasi atau pernyataan baru yang cukup spesi-fi k, entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa entitas akan menerima tanggung jawab tertentu; dan

(b) akibatnya, entitas telah menimbulkan ekspektasi kuat dan sah kepada pihak lain bahwa entitas akan melak-sanakan tanggung jawab tersebut.

Kewajiban kontinjensi adalah:

(a) kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu

dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas; atau

(b) kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui karena:

(i) tidak terdapat kemungkinan besar entitas

menge-luarkan sumber daya yang mengan dung manfaat ekonomis (selanjutnya disebut sebagai “sumber daya”) untuk menyelesaikan kewajibannya; atau (ii) jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara

andal.

Kontrak memberatkan adalah kontrak yang biaya tidak terhindarkan untuk memenuhi kewajiban kontraknya me-lebihi manfaat ekonomis yang akan diterima dari kontrak tersebut.

(14)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

mengakibatkan entitas tidak memiliki alternatif lain kecuali menyelesaikan kewajiban tersebut.

Restrukturisasi adalah program yang direncanakan dan dikendalikan oleh manajemen dan secara material mengu-bah:

(a) lingkup kegiatan usaha suatu entitas; atau (b) cara mengelola usaha tersebut.

Kewajiban Diestimasi dan Kewajiban Lainnya

11. Kewajiban diestimasi dapat dibedakan dari kewajiban lain, seperti utang dagang dan akrual, karena pada kewajiban diestimasi terdapat ketidakpastian mengenai waktu atau jumlah yang harus dikeluarkan pada masa datang untuk menyelesaikan kewajiban diestimasi tersebut. Sebaliknya:

(a) utang dagang adalah kewajiban untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok dan telah ditagih melalui faktur atau secara formal sudah disepakati dengan pemasok; dan

(b) akrual adalah kewajiban untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok, tetapi belum dibayar, ditagih atau secara formal disepakati dengan pemasok, termasuk jumlah yang masih harus dibayar kepada para pegawai (misalnya jumlah tunjangan cuti). Meskipun sering kali perlu dilakukan estimasi atau penaksiran jumlah dan waktu akrual, tingkat ketidakpastiannya pada umumnya lebih rendah daripada tingkat ketidakpastian kewajiban diestimasi.

Akrual sering dilaporkan sebagai bagian dari utang dagang atau utang lain-lain, sedangkan kewajiban diestimasi dilaporkan secara terpisah.

Hubungan antara Kewajiban Diestimasi dan Kewajiban Kontinjensi

(15)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

dalam Pernyataan ini istilah “kontinjensi” digunakan untuk kewajiban dan aset yang tidak diakui karena keberadaannya baru dapat dipastikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih yang tidak pasti pada masa datang dan tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas. Di samping itu, istilah “kewajiban kontinjensi” digunakan untuk kewajiban yang tidak memenuhi kriteria pengakuan.

13. Pernyataan ini membedakan berbagai istilah berikut: (a) kewajiban diestimasi diakui sebagai kewajiban (dengan

asumsi dapat dibuat estimasi andal) karena kewajiban diestimasi tersebut merupakan kewajiban masa kini dan kemungkinan besar (probable) mengakibatkan arus keluar sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban tersebut; dan

(b) kewajiban kontinjensi tidak diakui sebagai kewajiban karena kewajiban kontinjensi tersebut merupakan salah satu dari berikut ini:

(i) kewajiban potensial karena belum pasti apakah entitas memiliki kewajiban kini yang akan menim bulkan arus keluar sumber daya; atau

(ii) kewajiban kini yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam Pernyataan ini (karena tidak besar kemungkinan (not probable) bahwa penyelesaian kewajiban tersebut mengakibat kan arus keluar sumber daya atau karena estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tidak dapat dibuat).

PENGAKUAN

Kewajiban Diestimasi

14. Kewajiban diestimasi diakui jika:

(a) entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu;

(16)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

(c) estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban ter sebut dapat dibuat.

Jika kondisi di atas tidak terpenuhi, maka kewajiban diesti-masi tidak diakui.

Kewajiban Kini

15. Dalam kasus yang jarang terjadi, tidak dapat di ten-tukan secara jelas apakah terdapat kewajiban kini. Dalam hal ini, peristiwa masa lalu dianggap menimbulkan kewajiban kini jika, setelah mempertimbangkan semua bukti tersedia, terdapat kemungkinan lebih besar terjadi daripada tidak terjadi bahwa kewajiban kini telah ada pada akhir periode pelaporan.

16. Hampir semua peristiwa masa lalu menimbulkan kewa-jiban kini. Walaupun demikian, dalam beberapa peristiwa yang jarang terjadi, misalnya dalam tuntutan hukum, dapat timbul perbedaan pendapat mengenai apakah peristiwa tertentu sudah terjadi atau apakah peristiwa tersebut menimbulkan kewajiban kini. Jika demikian halnya, maka entitas menentukan apakah kewajiban kini telah ada pada akhir periode pelaporan dengan memper timbangkan semua bukti yang tersedia, termasuk misal-nya, pendapat ahli. Bukti yang dipertimbangkan mencakup, an-tara lain, bukti tambahan yang diperoleh dari peristiwa setelah akhir periode pelaporan. Atas dasar bukti-bukti tersebut: (a) jika besar kemungkinannya bahwa kewajiban kini telah ada

pada akhir periode pelaporan, entitas mengakui kewajiban diestimasi (jika kriteria pengakuan kewajiban diestimasi terpenuhi); dan

(17)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Peristiwa Masa Lalu

17. Peristiwa masa lalu yang menimbulkan kewajiban kini disebut peristiwa mengikat. Dalam suatu peristiwa mengikat, entitas tidak mempunyai alternatif realistis selain menye le-saikan kewajiban yang timbul dari peristiwa tersebut. Ini akan terjadi hanya jika:

(a) penyelesaian kewajiban dipaksakan oleh hukum; atau (b) dalam kasus kewajiban konstruktif, suatu peristiwa

(mungkin berupa tindakan entitas) menimbulkan harapan kuat dan sah pada pihak lain bahwa entitas akan bertanggung jawab terhadap kewajiban tersebut.

18. Laporan keuangan menggambarkan posisi keuangan entitas pada akhir periode pelaporan, bukan posisi keuangan yang mungkin terjadi pada masa datang. Oleh karena itu, entitas tidak mengakui kewajiban diestimasi untuk biaya-biaya yang diperlukan bagi operasi masa datang. Kewajiban yang diakui dalam laporan posisi keuangan entitas hanyalah kewajiban yang telah ada pada akhir periode pelaporan.

(18)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

datang, misalnya dengan mengubah metode operasi, entitas tidak mempunyai kewajiban kini atas pengeluaran masa datang tersebut. Oleh karena itu, kewajiban diestimasi tidak diakui.

20. Dalam setiap kewajiban selalu ada pihak lain yang memiliki hak atas penyelesaian kewajiban tersebut. Namun, entitas tidak perlu mengidentifi kasi pihak lain tersebut, bahkan pihak lain tersebut bisa saja masyarakat luas. Mengingat dalam suatu kewajiban selalu terdapat komitmen terhadap pihak lain, putusan manajemen atau unit organisasi yang berwenang tidak mengakibatkan timbulnya kewajiban konstruktif pada akhir periode pelaporan, kecuali putusan tersebut telah dikomuni-kasikan sebelum akhir periode pelaporan kepada pihak yang berkepentingan dengan penjelasan memadai sehingga pihak yang berke pentingan tersebut memiliki harapan yang kuat dan sah bahwa entitas akan memenuhi kewajibannya.

21. Suatu peristiwa mungkin tidak segera menimbulkan kewajiban konstruktif. Namun pada kemudian hari peristiwa tersebut dapat menimbulkan kewajiban konstruktif karena pe-rubahan peraturan perundang-undangan atau tindakan entitas (misalnya, ketika entitas mempub likasikan suatu pengumuman secara cukup jelas). Misalnya, ketika terjadi kerusakan ling-kungan, entitas tidak terikat untuk menanggulanginya. Akan tetapi, perbuatan yang mengakibatkan kerusakan tersebut akan menjadi peristiwa yang mengikat pada saat terbit peraturan perundang-undangan baru yang mengharuskan kerusakan itu untuk ditanggulangi atau pada saat entitas mengumumkan se-cara terbuka untuk menang gulangi kerusakan tersebut sehingga menimbulkan kewajiban konstruktif.

(19)

menimbul-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

kan keyakinan bahwa suatu peraturan perundang-undangan akan diberlakukan. Bahkan, dalam banyak kasus tidak ada keyakinan mengenai pemberlakuan peraturan tersebut hingga peraturan tersebut benar-benar diberlakukan.

Kemungkinan Besar Arus Keluar Sumber Daya

23. Kewajiban yang memenuhi kualifi kasi pengakuan tidak hanya kewajian kini saja namun juga kemungkinan be-sar terjadinya arus keluar sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Dalam Pernyataan ini, arus keluar sumber daya atau terjadinya suatu peristiwa dianggap sebagai suatu “kemungkinan besar” jika kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut lebih besar daripada kemungkinan tidak terjadinya peristiwa tersebut. Jika tidak terdapat kemungkinan besar bahwa kewajiban masa kini telah ada, entitas mengungkap kan kewajiban kontinjensi. Pengungkapan tersebut tidak perlu dilakukan jika kemungkinan arus keluar sumber daya kecil (lihat paragraf 86).

24. Jika terdapat sejumlah kewajiban serupa (misalnya garansi atau jaminan produk, atau kontrak-kontrak serupa), kemungkinan arus keluar sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban tersebut ditentukan dengan mempertimbangkan keseluruhannya sebagai suatu kelompok kewajiban. Walaupun kemungkinan arus keluar sumber daya untuk tiap-tiap unsur ke-wajiban tersebut kecil, dapat saja terdapat kemungkinan besar arus keluar sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kelompok kewajiban secara keseluruhan. Jika hal itu terjadi, kewajiban diestimasi diakui (dengan syarat kriteria pengakuan lainnya terpenuhi).

Estimasi Kewajiban yang Andal

(20)

ketidak-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

pastian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebagian besar pos-pos lainnya dalam laporan posisi keuangan. Kecuali pada beberapa kasus yang sangat jarang, entitas akan mampu menetapkan kisaran hasil dari berbagai peristiwa. Oleh karena itu, dalam mengakui kewajiban diestimasi, entitas dapat mem-buat estimasi kewajiban secara cukup andal.

26. Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, yaitu jika estimasi yang andal tidak dapat dibuat, suatu kewajiban tidak dapat diakui. Kewajiban tersebut diungkapkan sebagai kewa-jiban kontinjensi (lihat paragraf 86).

Kewajiban Kontinjensi

27. Entitas tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi.

28. Kewajiban kontinjensi diungkapkan, seperti ditentukan dalam paragraf 86, kecuali kemungkinan arus keluar sumber daya adalah kecil.

29. Jika entitas bertanggung jawab secara masing-masing dan bersama dengan pihak lainnya (tanggung renteng), bagian kewajiban yang diharapkan akan dipenuhi oleh pihak-pihak lain diperlakukan sebagai kewajiban kontinjensi. Entitas mengakui kewajiban diestimasi untuk bagian dari kewa jib an yang kemungkinan besar dipenuhi dengan arus keluar sumber dayanya, kecuali dalam keadaan sangat jarang, yaitu dalam hal estimasi andal tidak dapat dibuat.

(21)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

meng akui kewajiban diestimasi dalam laporan keuangan pada periode saat perubahan menjadi kemungkinan besar tersebut terjadi (kecuali dalam keadaan yang sangat jarang, yaitu ketika estimasi yang andal tidak dapat dibuat).

Aset Kontinjensi

31. Entitas tidak diperkenankan mengakui ada nya aset kontinjensi.

32. Aset kontinjensi biasanya timbul dari peristiwa tidak terencana atau tidak diharapkan yang menimbulkan kemung-kinan arus masuk manfaat ekonomis bagi entitas, contohnya adalah klaim yang diajukan entitas melalui proses hukum, yang hasilnya belum pasti.

33. Aset kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuan-gan karena dapat menimbulkan pengakuan penghasilan yang mung kin tidak pernah terealisasikan. Akan tetapi, jika realisasi penghasilan sudah dapat dipastikan, aset tersebut bukan meru-pakan aset kontinjensi, melainkan diakui sebagai aset.

34. Aset kontinjensi diungkapkan jika terdapat ke mung-kinan besar arus masuk manfaat ekonomis akan diperoleh entitas sebagaimana diatur dalam paragraf 89.

(22)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

PENGUKURAN

Estimasi Terbaik

36. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban diestimasi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan.

37. Estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini adalah jumlah yang secara ra-sional akan dibayar entitas untuk menyelesaikan kewa jibannya pada akhir periode pelaporan atau untuk mengalihkan kewa-jibannya kepada pihak ketiga pada saat itu. Sering kali tidak ekonomis bagi entitas untuk menyelesaikan kewajiban atau mengalihkan kewajibannya pada akhir periode pelaporan. Na-mun, estimasi jumlah yang secara rasional akan dibayar entitas untuk menyelesaikan kewa jibannya atau untuk mengalihkan kewajibannya merupakan estimasi terbaik atas pengeluaran yang dibutuhkan untuk menye lesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan.

38. Estimasi hasil dan dampak keuangan ditentukan dengan pertimbangan manajemen entitas dilengkapi dengan pengalaman mengenai transaksi serupa serta dalam beberapa kasus dilengkapi dengan laporan ahli independen. Diantara bukti yang dipertimbangkan termasuk bukti tambahan yang diperoleh dari peristiwa setelah periode pelaporan.

(23)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

pada tingkat tertentu, misalnya 60% atau 90%. Jika hasil yang timbul berwujud suatu rentang yang berkesinam bungan, dan setiap titik dalam rentang tersebut mempunyai kemungkinan terjadi yang sama, maka yang digunakan adalah nilai tengah rentang tersebut.

Contoh

Entitas menjual produk dengan memberikan garansi/jami-nan kepada pelanggan untuk megaransi/jami-nanggung biaya perbaikan cacat pabrikasi yang ditemukan dalam jangka waktu enam bulan setelah penjualan. Jika kerusakan yang terdeteksi dari seluruh produk yang terjual digolongkan cacat ringan, biaya perbaikannya 1 miliar rupiah. Sementara itu, jika kerusakan yang terdeteksi dari seluruh produk terjual digolongkan cacat berat, biaya perbaikannya 4 miliar rupiah. Pengalaman entitas di masa lalu dan ekspektasi masa datang memberikan indikasi bahwa dalam tahun mendatang 75% dari produk terjual tidak mengandung cacat, 20% dari produk terjual mengandung cacat ringan dan 5% dari produk yang terjual mengandung cacat be-rat. Sesuai dengan paragraf 24, entitas menentukan probabilitas atau kemungkinan arus keluar sumber daya untuk pemenuhan kewajiban garansi secara keseluruhan.

Nilai yang diharapkan untuk biaya perbaikan adalah:

(75% x 0 rupiah) + (20% x 1 miliar rupiah) + (5% x 4 miliar rupiah) = 400 juta rupiah

(24)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

probabilitasnya paling tinggi tersebut. Misalnya, jika entitas harus memperbaiki kerusakan serius dalam konstruksi pabrik yang dibangun bagi seorang pelanggan nya, maka kemungki-nan hasil yang probabilitasnya paling tinggi untuk perbaikan tersebut pada usaha pertama adalah dengan biaya sebesar 1000, namun kewajiban diestimasi untuk suatu jumlah yang tinggi harus dibuat jika terdapat kemungkinan yang signifi kan usaha lebih lanjut dibutuhkan.

41. Kewajiban diestimasi diukur sebelum memperhitung-kan pajak karena dampak pajak dari kewajiban diestimasi dan perubahannya diatur dalam PSAK 46.

Risiko dan Ketidakpastian

42. Dalam menentukan estimasi terbaik suatu kewa jiban diestimasi, entitas mempertimbangkan berbagai risiko dan ketidakpastian yang selalu mem penga ruhi berbagai peristiwa dan keadaan.

43. Risiko menimbulkan hasil yang bervariasi. Penetapan risiko dapat menyebabkan kenaikan nilai kewajiban yang diukur. Jika terdapat unsur ketidakpastian, entitas harus ber-hati-hati sehingga pendapatan atau aset tidak menjadi terlalu besar dan beban atau kewajiban tidak menjadi terlalu kecil. Meskipun demikian, adanya ketidakpastian tidak berarti entitas harus membuat kewajiban diestimasi berlebihan atau dengan sengaja menyajikan kewajiban terlalu besar. Misalnya, jika biaya perolehan yang telah diproyeksi dari hasil tertentu yang merugikan diestimasi dengan menggunakan dasar kehati-ha-tian, hasil tersebut tidak dengan sengaja diperlakukan sebagai suatu yang lebih besar kemungkinan terjadinya dibandingkan dengan yang seharusnya. Entitas harus berhati-hati dan meng-hindarkan duplikasi perhitungan risiko dan ketidakpastian yang berakibat pada kewajiban diestimasi yang terlalu besar.

(25)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Nilai Kini

45. Jika dampak nilai waktu uang cukup material, maka jumlah kewajiban diestimasi adalah nilai kini dari per kira an pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewa-jiban.

46. Karena nilai waktu uang, kewajiban diestimasi yang melibatkan pengeluaran uang yang timbul segera setelah peri-ode pelaporan lebih memberatkan jika dibandingkan dengan kewajiban diestimasi yang melibatkan pengeluaran uang dalam jumlah sama yang timbul kemudian. Dengan demikian, jika dampaknya bersifat material, kewajiban diestimasi didiskon-tokan.

47. Tingkat diskonto adalah tingkat diskonto sebelum pajak yang mencerminkan penilaian pasar atas nilai waktu uang dan risiko yang terkait dengan kewajiban yang ber-sangkutan. Tingkat diskonto tidak boleh mencerminkan risiko yang sudah diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang.

Peristiwa Masa Datang

48. Peristiwa masa datang yang dapat mempengaruhi jumlah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu kewa-jiban harus tercermin dalam jumlah kewakewa-jiban diestimasi jika ada bukti obyektif bahwa peristiwa itu akan terjadi.

(26)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

pembersihan. Dengan demikian, wajar kalau, misalnya, biaya pembersihan juga memperhitungkan perkiraan penghematan biaya yang terjadi sejalan dengan meningkatnya pengalaman dalam menerapkan teknologi yang ada atau memperhitungkan perkiraan tambahan biaya yang diperlukan dalam menerapkan teknologi yang ada terhadap kegiatan pembersihan yang lebih rumit daripada kegiatan pembersihan sebelumnya. Namun, entitas tidak boleh mengasumsikan adanya pengembangan teknologi pembersihan yang sama sekali baru sebelum ada buk-ti objekbuk-tif yang memadai mengenai pengembangan teknologi tersebut.

50. Dalam mengukur kewajiban yang ada, harus diperhi-tungkan dampak peraturan perundangan yang kemungkinan akan diberlakukan, khususnya jika terdapat bukti objektif yang memadai bahwa peraturan perundang-undangan itu pasti akan diberlakukan. Dalam kenyataannya, sering kali sangat sulit bagi entitas untuk menentukan apakah suatu peristiwa akan menghasilkan bukti objektif yang memadai. Bukti tersebut harus secara jelas menunjukkan hal-hal yang diatur dalam suatu peraturan dan menimbulkan kepastian bahwa peraturan itu akan diundang-undangkan dalam lembaran negara pada waktunya. Dalam banyak kasus, bukti objektif yang memadai tentang berlakunya suatu peraturan perundang-undangan sulit diperoleh sampai peraturan perundang-undangan itu sendiri diberlakukan.

Rencana Pelepasan Aset

51. Keuntungan sehubungan dengan rencana pele pasan aset tidak boleh dipertimbangkan dalam meng hitung suatu kewajiban diestimasi.

(27)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

pelepasan aset tersebut pada saat yang ditentukan dalam PSAK tentang aset yang bersangkutan.

PENGGANTIAN

53. Jika sebagian atau seluruh pengeluaran untuk me-nyelesaikan kewajiban diestimasi diganti oleh pihak ketiga, penggantian itu diakui hanya pada saat timbul keyakinan bahwa penggantian pasti diterima pada saat entitas menyele-saikan kewajibannya. Penggantian tersebut diakui sebagai aset yang terpisah. Jumlah yang diakui sebagai penggantian tidak boleh melebihi nilai kewajiban di estimasi.

54. Dalam laporan laba rugi komprehensif, beban yang berkaitan dengan kewajiban diestimasi dapat disajikan secara neto setelah dikurangi jumlah yang diakui sebagai peng gantian nya.

55. Adakalanya, terdapat pihak lain yang bersedia untuk menanggung penyelesaian sebagian atau seluruh pengeluaran suatu kewajiban diestimasi (contohnya, kontrak asuransi atau garansi pemasok). Pihak tersebut dapat mengganti jumlah yang telah dibayarkan oleh entitas atau langsung membayarkan jumlah tersebut.

56. Pada umumnya, entitas akan tetap bertanggung jawab untuk menyelesaikan seluruh jumlah yang menjadi kewajiban-nya jika pihak ketiga tidak membayar dengan alasan apa pun. Dalam hal ini, entitas mengakui kewajiban dies timasi sejumlah seluruh kewajiban dan mengakui penggantian yang diharapkan dari pihak ketiga sebagai aset yang terpisah ketika sudah dapat dipastikan bahwa penggantian tersebut akan diterima entitas pada saat entitas menyelesaikan kewajibannya.

(28)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

diestimasi.

58. Sebagaimana telah disebutkan dalam paragraf 29, jika entitas memiliki kewajiban yang ditanggung secara masing-masing dan bersama dengan pihak lainnya (tanggung renteng), maka kewajiban itu merupakan kewajiban kontinjensi sepan-jang kewajiban tersebut dapat diselesaikan oleh pihak lain tersebut.

PERUBAHAN KEWAJIBAN DIESTIMASI

59. Kewajiban diestimasi ditelaah pada setiap akhir peri-ode pelaporan dan disesuaikan untuk mencerminkan estimasi terbaik yang paling kini. Jika arus keluar sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban kemungkinan besar tidak terjadi, maka kewajiban diestimasi tersebut dibatalkan.

60. Jika kewajiban diestimasi didiskonto, maka nilai tercatatnya akan meningkat pada setiap periode untuk mencer-minkan berlalunya waktu. Peningkatan ini diakui sebagai biaya pinjaman

PENGGUNAAN KEWAJIBAN DIESTIMASI

61. Kewajiban diestimasi hanya dapat digunakan untuk pengeluaran yang berhubungan langsung dengan tujuan pembentukan kewajiban diestimasi tersebut.

(29)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

PENERAPAN ATURAN PENGAKUAN DAN PENG UKURAN

Kerugian Operasi Masa Datang

63. Kewajiban diestimasi tidak boleh diakui untuk keru-gian operasi masa datang.

64. Kerugian operasi masa datang tidak memenuhi defi nisi kewajiban pada paragraf 10 dan kriteria pengakuan umum bagi kewajiban diestimasi seperti yang dijelaskan dalam paragraf 14.

65. Perkiraan akan terjadinya kerugian operasi masa datang merupakan indikasi bahwa aset tertentu dalam suatu operasi mungkin mengalami penurunan nilai. Entitas harus menguji adanya penurunan nilai aset sesuai dengan PSAK 48: Penu-runan Nilai Aset

Kontrak Memberatkan

66. Jika entitas terikat dalam suatu kontrak memberat-kan, maka kewajiban kini menurut kontrak tersebut diukur dan diakui sebagai kewajiban diestimasi.

67. Banyak kontrak dapat dibatalkan tanpa membayar kompensasi atau denda kepada pihak lain sehingga tidak ada kewajiban, misalnya pesanan pembelian yang sifatnya rutin. Kontrak lain mengatur hak dan kewajiban setiap pihak dalam kontrak. Jika terjadi peristiwa yang mengakibatkan kontrak tersebut memberatkan, kontrak tersebut masuk dalam lingkup Pernyataan ini dan terdapat kewajiban yang harus diakui. Kontrak eksekutori yang tidak memberatkan berada di luar lingkup Pernyataan ini.

(30)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

kontrak mencerminkan biaya bersih terendah untuk terbebas dari ikatan kontrak, yaitu yang lebih rendah antara biaya me-menuhi kontrak dan denda atau kompensasi yang harus dibayar jika entitas tidak memenuhi kontrak.

69. Sebelum menciptakan suatu kewajiban diestimasi untuk kontrak yang memberatkan, entitas mengakui kerugian karena penurunan nilai aset yang diperuntukkan bagi kontrak tersebut (lihat PSAK 48: Penurunan Nilai Aset).

Restrukturisasi

70. Berikut adalah contoh peristiwa yang dapat digolong-kan sebagai restrukturisasi:

(a) penjualan atau penghentian suatu lini usaha;

(b) penutupan lokasi usaha dalam suatu negara atau kawasan atau relokasi kegiatan usaha ke negara atau kawasan regional lain;

(c) perubahan dalam struktur manajemen, misalnya menghilangkan satu lapis manajemen; dan

(d) reorganisasi mendasar yang memiliki dampak signifi kan pada karakteristik dan fokus operasi entitas.

71. Kewajiban diestimasi bagi biaya restrukturisasi diakui hanya jika kriteria pengakuan umum yang berlaku bagi kewa-jiban diestimasi sesuai dengan paragraf 14 dipenuhi. Paragraf 72 hingga paragraf 83 mengatur penerapan kriteria pengakuan umum dalam restrukturisasi.

72. Kewajiban konstruktif untuk melakukan restruk-turisasi muncul hanya jika persyaratan berikut dipenuhi: (a) entitas memiliki rencana formal yang terperinci untuk

restrukturisasi dengan mengidentifikasi, sekurang-kurangnya:

(i) usaha atau bagian usaha yang terlibat; (ii) lokasi utama yang terpengaruh;

(31)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

hubungan kerja;

(iv) pengeluaran yang akan terjadi; dan (v) waktu implementasi rencana tersebut; dan

(b) entitas menimbulkan harapan yang kuat dan sah kepada pihak-pihak yang terkena dampak restruk turisasi bahwa entitas akan melaksanakan restrukturisasi dengan memulai implementasi rencana tersebut atau mengumumkan pokok-pokok rencana.

73. Bukti bahwa entitas telah mulai mengimple mentasikan rencana restukturisasi akan tampak, antara lain, dengan meng-hentikan operasi pabrik atau menjual aset atau mengumumkan kepada masyarakat tentang pokok-pokok rencana restrukturi-sasi. Pengumuman mengenai rencana yang terperinci tentang restrukturisasi tersebut merupakan kewajiban konstruktif untuk melakukan restrukturisasi hanya jika rencana itu dibuat sedemikian rupa dan dengan perincian yang memadai (yaitu menjelaskan pokok-pokok rencana) sehingga menim bul kan harapan yang kuat dan sah di pihak lain seperti pelanggan, pemasok, dan pegawai (atau wakilnya) bahwa entitas akan melaksanakan restrukturisasi.

74. Agar suatu rencana dapat dianggap sebagai kewa-jiban konstruktif ketika dikomunikasikan kepada pihak yang terkena dampaknya, implementasinya perlu direncanakan sedini mungkin dan diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak memungkinkan pengubahan rencana tersebut secara signifi kan. Jika terdapat penundaan rencana restrukturisasi atau jika restruk turisasi akan berlangsung lebih lama daripada yang direncanakan, entitas akan memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan atas rencana semula. Oleh karena itu, rencana restrukturisasi tersebut tidak dapat dianggap sebagai kewajiban konstruktif.

(32)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

(a) mulai mengimplementasikan rencana restrukturisasi; atau

(b) mengumumkan pokok-pokok rencana restrukturisasi kepada pihak yang terkena dampak rencana tersebut secara spesifi k sedemikan rupa sehingga menimbulkan harapan yang kuat dan sah pada pihak tersebut bahwa entitas akan melaksanakan restrukturisasi.

Jika entitas mulai mengimplemen tasikan rencana restrukturi-sasi atau mengumumkan pokok-pokok rencananya kepada pi-hak yang terkena dampaknya, hanya setelah periode pelaporan. PSAK 8: Peristiwa Setelah Tanggal Neraca mensyaratkan adanya pengungkapan, khususnya jika restrukturisasi tersebut demikian penting sehingga jika pengungkapan tidak dilakukan, hal itu dapat mempengaruhi kemampuan pemakai laporan keuangan untuk membuat evaluasi dan putusan yang tepat.

76. Walaupun suatu kewajiban konstruktif tidak timbul semata-mata karena putusan manajemen atau unit organisasi yang berwenang, kewajiban dapat timbul dari peristiwa terda-hulu yang terjadi bersama dengan putusan tersebut. Misalnya, negosiasi dengan wakil para karyawan untuk pembayaran dalam rangka pemutusan hubungan kerja atau negosiasi dengan para pembeli untuk penjualan suatu operasi mungkin dapat dituntaskan hanya melalui persetujuan unit organisasi yang berwenang. Begitu persetujuan tersebut telah diperoleh dan dikomunikasikan kepada pihak lain, saat itu pula entitas me-miliki kewajiban konstruktif untuk melakukan restrukturisasi dengan catatan persyaratan yang dijelaskan dalam paragraf 72 dipenuhi.

(33)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

78. Tidak ada kewajiban yang timbul dalam penjualan suatu operasi hingga entitas membuat suatu per janjian pen-jualan yang mengikat.

79. Walaupun entitas telah mengambil putusan untuk men-jual suatu operasi dan mengumumkan putusan tersebut kepada masyarakat, entitas tidak terikat pada putusannya sebelum pembeli teridentifi kasi dan terdapat perjanjian penjualan yang mengikat. Sampai terdapat penjualan yang mengikat, entitas dapat mengubah pikirannya dan bahkan harus mengambil tindakan lain jika tidak dapat mencapai kesepakatan dengan pembeli. Jika penjualan suatu operasi dipandang sebagai bagian dari restrukturisasi, aset dari operasi yang bersangkutan perlu dievaluasi untuk menentukan apakah terjadi penurunan nilai, sesuai dengan PSAK 48: Penurunan Nilai Aset. Jika penjualan hanya merupakan bagian dari restrukturisasi, kewajiban kon-struktif dapat timbul dari bagian lain restrukturisasi sebelum ada perjanjian penjualan yang mengikat.

80. Kewajiban diestimasi restrukturisasi hanya mencak-up pengeluaran langsung yang timbul dari restrukturisasi, yaitu yang memenuhi kedua persyaratan berikut ini: (a) benar-benar harus dikeluarkan dalam rangka

restruk-turisasi; dan

(b) tidak terkait dengan aktivitas yang masih berlangsung pada entitas.

81. Kewajiban diestimasi restrukturisasi tidak mencakup biaya-biaya seperti:

(a) pelatihan kembali atau penempatan kembali (relokasi) staf yang masih tetap dikaryakan;

(b) pemasaran; atau

(34)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

82. Jumlah yang teridentifi kasi sebagai kerugian operasi masa datang sampai dengan tanggal restrukturisasi tidak ter-masuk kewajiban diestimasi, kecuali jika kerugian itu terkait dengan kontrak memberatkan seperti didefi nisikan dalam paragraf 10.

83. Seperti yang diatur dalam paragraf 51, keuntungan karena rencana pelepasan aset tidak diperhitungkan dalam men-gukur kewajiban diestimasi restrukturisasi walaupun pelepasan aset itu dipandang sebagai bagian dari restrukturisasi.

PENGUNGKAPAN

84. Untuk setiap jenis kewajiban diestimasi, entitas harus mengungkapkan:

(a) nilai tercatat pada awal dan akhir periode;

(b) kewajiban diestimasi tambahan yang dibuat dalam periode bersangkutan, termasuk peningkatan jumlah pada kewajiban diestimasi yang ada;

(c) jumlah yang digunakan, yaitu jumlah yang terjadi dan dibebankan pada kewajiban diestimasi selama periode bersangkutan;

(d) jumlah yang belum digunakan yang dibatalkan selama periode bersangkutan; dan

(e) peningkatan, selama periode yang bersangkutan, dalam nilai kini yang timbul karena berlalunya waktu dan dampak dari setiap perubahan tingkat diskonto.

Informasi komparatif tidak diharuskan.

85. Untuk setiap jenis kewajiban diestimasi, entitas harus mengungkapkan pula:

(a) uraian singkat mengenai karakteristik kewajiban dan perkiraan saat arus keluar sumber daya terjadi;

(35)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

(c) jumlah estimasi penggantian yang akan diterima dengan menyebutkan jumlah aset yang telah diakui untuk estimasi penggantian tersebut.

86. Kecuali kemungkinan arus keluar dalam penyele saian adalah kecil, entitas mengungkapkan untuk setiap jenis kewajiban kontinjensi pada akhir periode pelaporan, uraian ringkas mengenai karakteristik kewajiban kontinjensi dan, jika praktis:

(a) estimasi dari dampak fi nansialnya yang diukur sesuai dengan ketentuan paragraf 36-52;

(b) indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah atau waktu arus keluar sumber daya; dan (c) kemungkinan penggantian oleh pihak ketiga.

87. Dalam menentukan kewajiban diestimasi atau kewajiban kontinjensi yang dapat dikelompokkan pada jenis kewajiban diestimasi atau kewajiban kontinjensi yang sama, perlu diper-timbangkan apakah karakteristik kewajiban diestimasi atau kewajiban kontinjensi tersebut cukup serupa satu dengan lainnya sehingga dapat dikelompokkan sesuai dengan persyaratan para-graf 85(a) dan (b) serta parapara-graf 86(a) dan (b). Oleh karena itu, jumlah yang terkait dengan jaminan produk atas berbagai produk dapat diungkapkan sebagai satu jenis kewajiban diestimasi, tetapi jaminan produk biasa harus dipisahkan pengungkapannya dengan jaminan produk yang terkait dengan jalannya proses legal.

88. Jika kewajiban diestimasi dan kewajiban kontinjensi timbul dari satu situasi yang sama, maka entitas melakukan pen-gungkapan yang disyaratkan dalam paragraf 84-86 sedemikian rupa sehingga menunjukkan keterkaitan antara kewajiban diestimasi dan kewajiban kontinjensi tersebut.

(36)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

diestimasi sebagaimana diatur dalam paragraf 36-52.

90. Perlu diperhatikan bahwa pengungkapan aset kon-tinjensi tidak boleh memberikan indikasi yang menyesatkan mengenai kemungkinan timbulnya pendapatan.

91. Jika informasi yang diatur dalam paragraf 86 dan 88 tidak diungkapkan karena tidak praktis dilakukan, maka kenyataan tersebut diungkapkan.

92. Pada kasus yang sangat jarang terjadi, pengung-kapan sebagian atau seluruh informasi yang diatur dalam paragraf 84-89 diperkirakan dapat menyulitkan entitas dalam perselisihan dengan pihak lain mengenai hal yang menjadi subjek kewajiban diestimasi, kewajiban kontinjensi atau aset kontinjensi. Dalam hal demikian, entitas tidak perlu mengungkapkan informasi ter sebut, tetapi harus mengung-kapkan uraian umum perse lisihan, berikut fakta dan alasan bahwa informasi tersebut tidak diungkapkan.

KETENTUAN TRANSISI

93. Dampak diterapkannya Pernyataan ini pada tanggal efektifnya (atau lebih dini) dilaporkan sebagai penye suaian saldo awal saldo laba pada periode Pernya taan ini pertama kali diterapkan. Entitas dianjurkan, tetapi tidak diwajibkan, untuk menyesuaikan saldo awal saldo laba dari periode sajian paling dini dan meyajikan kembali informasi komparatif. Jika informasi komparatif tersebut tidak disajikan ulang, maka fakta tersebut harus diungkapkan.

TANGGAL EFEKTIF

(37)

1

Lampiran A

Tabel Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, Aset Kontinjensi dan Penggantian (oleh Pihak Ketiga)

Lampiran ini melengkapi, namun bukan bagian dari, PSAK 57. Tujuan lampiran ini adalah untuk mengikhtisarkan ketentuan-ketentuan utama dari standar.

Kewajiban Diestimasi dan Kewajiban Kontinjensi

Apabila, sebagai akibat dari kejadian masa lampau, timbul kemungkinan entitas akan mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis dalam rangka menyelesaikan: (a) kewajiban masa kini atau (b) kemungkinan kewajiban yang keberadaannya akan menjadi pasti hanya dengan terjadinya atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa yang belum pasti di masa datang, yang (peristiwa itu) tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas.

Apabila terdapat k e w a j i b a n k i n i yang kemungkinan besar akan men-gakibatkan enti-tas mengeluarkan sumber daya.

Apabila terdapat kemungkinan ke-wajiban atau kewa-jiban kini yang ke-mungkinan, tetapi tampaknya tidak, akan mengakibat-kan entitas men-geluarkan sumber daya.

Apabila terdapat kemungkinan wajiban atau ke-wajiban kini san-gat kecil kemung-kinannya entitas m e n g e l u a r k a n sumber daya.

Kewajiban diestimasi diakui oleh entitas (paragraf 14).

Dilakukan pengung-kapan mengenai ke-wajiban diestimasi tersebut (paragraf 85 dan 85).

Kewajiban diesti-masi tidak diakui (paragraf 27). Dilakukan pengung-kapan mengenai ke-wajiban kontinjensi tersebut (paragraf 86).

Kewajiban diestimasi tidak diakui (paragraf 27).

(38)

1

Suatu kewajiban kontinjensi juga timbul dalam kasus yang sangat jarang terjadi yaitu saat terdapatnya kewajiban yang tidak dapat diakui karena kewajiban itu tidak dapat diukur dengan andal. Pengungkapan untuk kewajiban kontinjensi seperti ini diperlukan.

Aset Kontinjensi

Apabila, sebagai akibat dari kejadian masa lalu, terdapat kemungkinan timbul aset yang keberadaannya akan menjadi pasti hanya dengan terjadinya atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa yang belum pasti di masa datang, yang (peris-tiwa itu) tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas.

Arus masuk man-f a a t e k o n o m i s bagi entitas (pada dasarnya) dapat dipastikan.

Kemungkinan besar akan terjadi arus masuk manfaat eko-nomis, tetapi tidak bisa dipastikan.

Tidak terdapat ke-mungkinan besar akan terjadi arus m a s u k m a n f a a t ekonomis.

Aset tersebut bu-kan merupabu-kan aset kontinjensi (para-graf 33).

Tidak ada aset yang diakui (paragraf 31). Dilakukan pengung-kapan (paragraf 89).

(39)

1

Entitas tidak mem-punyai kewajiban atas jumlah yang akan diganti (para-graf 57).

Tidak dilakukan pengungkapan.

Penggantian diakui

sebagai aset terpisah dalam neraca dan dapat dikurangkan dari beban dalam laporan laba rugi. Jumlah yang diakui atas penggantian yang di-harapkan tidak boleh melebihi kewajiban (paragraf 53 dan 54). Dilakukan pengung-kapan mengenai peng-gantian bersama dengan jumlah yang diakui atas penggantian tersebut (paragraf 85(c)).

Sebagian atau seluruh pengeluaran yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu kewajiban diestimasi diharapkan akan diganti atau ditanggung oleh pihak ketiga.

E n t i t a s t i d a k mempunyai kewa-jiban atas bagian pengeluaran yang akan diganti oleh pihak ketiga.

Kewajiban atas jum-lah yang diharapkan akan diganti tetap be-rada pada entitas dan terdapat kepastian bahwa penggantian tersebut akan diteri-ma apabila entitas menyelesaikan kewa-jibannya.

K e w a j i b a n a t a s jumlah yang di-h a r a p k a n a k a n diganti tetap be-rada pada entitas dan tidak terdapat kepastian bahwa penggantian terse-but akan diterima apabila entitas me-nyelesaikan kewa-jibannya.

Penggantian yang diharapkan tersebut tidak diakui sebagai aset (paragraf 53).

D i l a k u k a n p e n -gungkapan men-genai penggantian yang diharapkan (paragraf 85 (c)).

(40)

1

Lampiran B

Bagan Pengambilan Keputusan

Lampiran ini melengkapi, namun bukan bagian dari, PSAK 57. Tujuan dari Lampiran ini adalah untuk mengikhtisarkan persyaratan pengakuan utama dalam Pernyataan ini mengenai kewajiban diestimasi dan kewajiban kontinjensi.

(41)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Lampiran C

Contoh Pengakuan

Lampiran ini melengkapi, namun bukan bagian dari, PSAK 57.

Seluruh entitas dalam contoh ini mempunyai periode lapo-ran keuangan yang berakhir pada tanggal 31 Desember. Dalam seluruh kasus, diasumsikan bahwa dapat dibuat estimasi yang andal atas arus keluar sumber daya. Dalam beberapa contoh mungkin terdapat kondisi yang berakibat pada penurunan nilai aset – aspek penurunan nilai ini tidak dibahas dalam contoh-contoh ini.

Dalam contoh-contoh berikut disebutkan paragraf-para-graf yang relevan dari Pernyataan ini. Lampiran ini harus dibaca dalam konteks Pernyataan ini secara utuh.

Yang dimaksud dengan “estimasi terbaik” dalam contoh-contoh berikut adalah jumlah nilai kini, yang dampak nilai waktu uangnya material.

Contoh 1: Jaminan (Garansi)

Pada saat penjualan, produsen memberikan jaminan atau garansi produk kepada para pembeli produknya. Berdasarkan kontrak penjualan, produsen menjamin akan memperbaiki atau mengganti produk yang dalam jangka waktu tiga tahun sejak tanggal penjualannya menampakkan cacat. Berdasarkan pen-galaman masa lalu, terdapat kemungkinan besar bahwa akan terjadi klaim atas jaminan yang diberikan.

(42)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Keluarnya sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis dalam rangka penyelesaian kewajiban. Terdapat kemungkinan besar bahwa hal ini (keluarnya sumber daya) akan terjadi bagi jaminan secara keseluruhan (lihat paragraf 24).

Simpulan. Entitas harus mengakui kewajiban diestimasi sebe-sar estimasi terbaik biaya perbaikan dan/atau penggantian yang mungkin perlu dikeluarkan dalam rangka menjamin produk yang dijual sebelum akhir periode pelaporan (lihat paragraf 14 dan paragraf 24).

Contoh 2.a: Tanah yang Tercemar – Peraturan Perundang-undangan yang Dapat Dipastikan akan Diberlakukan

Suatu entitas yang bergerak pada industri minyak melakukan pencemaran lingkungan, tetapi entitas tersebut melakukan pem-bersihan atas pencemaran tersebut hanya sebatas diwajibkan oleh peraturan perundangan-undangan di negara tempat entitas tersebut beroperasi. Salah satu negara tempat entitas tersebut beroperasi tidak memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pembersihan atas pencemaran lingkungan, dan entitas tersebut telah melakukan pencemaran di negara tersebut selama beberapa tahun. Pada tanggal 31 Desember 2X0 dapat dipastikan bahwa Rencana Undang-undang yang mewajibkan pembersihan tanah yang dicemarkan akan diber-lakukan segera setelah akhir tahun.

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Peristiwa yang mengikat adalah pence-maran tanah karena dapat dipastikan peraturan perundang-un-dangan yang akan diberlakukan mengharuskan pembersihan atas pencemaran lingkungan.

(43)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Simpulan. Entitas harus mengakui kewajiban diestimasi se-besar estimasi terbaik biaya pembersihan (lihat paragraf 14 dan paragraf 22).

Contoh 2.b: Tanah yang Tercemar dan Kewajiban Kon-struktif

Suatu entitas yang bergerak pada industri minyak melakukan pencemaran lingkungan, dan beroperasi di negara yang tidak memiliki peraturan perundangundangan mengenai pemeli-haraan lingkungan. Tetapi, entitas tersebut memiliki kebijakan pemeliharaan lingkungan yang dipublikasikan secara luas, yang menyatakan bahwa entitas akan bertanggung jawab untuk membersihkan semua pencemaran yang ditimbulkan-nya. Entitas memiliki reputasi menghormati kebijakan yang dipublikasikan tersebut.

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Peristiwa yang mengikat adalah pence-maran tanah, yang menimbulkan kewajiban konstruktif, karena perilaku entitas telah menciptakan harapan yang sah dan kuat di kalangan pihak yang berkepentingan bahwa entitas akan membersihkan pencemaran lingkungan.

Keluarnya sumber daya yang mengandung nilai ekonomis dalam rangka penyelesaian kewajiban. Terdapat kemungkinan besar bahwa hal ini (keluarnya sumber daya) akan terjadi.

Simpulan. Entitas harus mengakui kewajiban diestimasi sebe-sar estimasi terbaik biaya pembersihan (lihat paragraf 10 men-genai defi nisi kewajiban konstruktif, paragraf 14 dan 17).

Contoh 3: Ladang Minyak Lepas Pantai

(44)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Sembilan puluh persen dari biaya yang akhirnya dikeluarkan adalah untuk membongkar oil rig dan memperbaiki kerusakan yang timbul akibat pembangunan rig tersebut, sedangkan sepuluh persen lainnya untuk penambangan minyak. Pada akhir periode pelaporan, rig sudah dibangun, tetapi belum ada minyak yang ditambang.

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Berdasarkan perjanjian lisensi, konstruksi atau pembangunan rig menimbulkan kewajiban hukum untuk di kemudian hari membongkar rig tersebut dan memulihkan dasar laut. Dengan demikian, peristiwa tersebut dapat dikategorikan sebagai peristiwa yang mengikat. Namun demikian, pada tang-gal neraca, tidak ada kewajiban untuk memperbaiki kerusakan yang akan timbul karena penambangan minyak.

Keluarnya sumber daya yang mengandung menfaat ekonomis dalam rangka penyelesaian kewajiban. Terdapat kemungkinan besar bahwa hal ini (keluarnya sumber daya) akan terjadi.

Simpulan. Entitas harus mengakui kewajiban diestimasi se-besar estimasi terbaik bagi sembilan puluh persen dari biaya yang pada akhirnya dikeluarkan untuk membongkar oil rig dan memperbaiki kerusakan yang timbul karena pembangunannya (lihat paragraf 14). Biaya ini dimasukkan sebagai bagian dari biaya oil rig. Entitas mengakui sepuluh persen dari biaya yang timbul dalam penambangan minyak sebagai kewajiban pada saat minyak ditambang.

Contoh 4: Kebijakan Pengembalian Dana

Sebuah toko ritel mempunyai kebijakan mengembalikan uang pembelian dari pelanggan yang tidak puas, meskipun tidak ada kewajiban hukum yang mengharuskan entitas untuk mengem-balikan uang konsumen.

(45)

peris-1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

tiwa penjualan produk, yang menimbulkan kewajiban kon-struktif karena tindakan entitas telah menciptakan ekspektasi yang valid bagi pembeli bahwa entitas akan mengembalikan uang mereka.

Keluarnya sumber daya yang mengandung manfaat eko-nomis dalam rangka menyelesaian kewajiban – Terdapat

kemungkinan besar bahwa hal ini (keluarnya sumber daya) akan terjadi. yaitu sebagian barang akan dikembalikan dan entitas mengembalikan uang pelanggan (lihat paragraf 24)

Simpulan – Entitas harus mengakui kewajiban diestimasi

sebesar estimasi terbaik dari biaya pengembalian (lihat paragraf 10 (defi nisi kewajiban konstruktif ), 14, 17 dan 24.

Contoh 5.a: Penutupan Divisi – Tidak Ada Implementasi Sebelum Akhir Periode Pelaporan

Pada tanggal 12 Desember 20X0 Dewan Direksi suatu entitas memutuskan untuk menutup suatu divisinya. Sebelum akhir periode pelaporan (31 Desember 20X0) putusan tersebut tidak dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, dan tidak ada langkah-langkah lain yang diambil dalam rangka mengimplementasikan putusan tersebut.

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Tidak ada peristiwa yang mengikat se-hingga tidak ada kewajiban yang timbul.

Simpulan. Kewajiban diestimasi tidak diakui (lihat paragraf 14 dan 72).

Contoh 5.b: Penutupan Divisi – Komunikasi/Implementasi Sebelum Akhir Periode Pelaporan

(46)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

menyetujui rencana terperinci untuk menutup divisi tersebut. Selanjutnya, dikirimkan surat kepada para pelanggan yang isinya mengingatkan para pelanggan agar mencari sumber pasokan lainnya, dan dikirimkan pemberitahuan kepada para pegawai divisi itu.

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Peristiwa yang mengikat adalah diko-munikasikannya atau diumumkannya putusan tersebut kepada para pelanggan dan karyawan, yang selanjutnya menimbulkan kewajiban konstruktif sejak tanggal dilakukannya pengumu-man, karena pengumuman tersebut menimbulkan harapan yang sah dan kuat bahwa divisi akan ditutup.

Keluarnya sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis dalam rangka penyelesaian kewajiban. Terdapat kemungkinan besar bahwa hal ini (keluarnya sumber daya) akan terjadi.

Simpulan. Pada tanggal 31 Desember 20X0 diakui kewajiban diestimasi sebesar estimasi terbaik biaya penutupan divisi (lihat paragraf 14 dan 72).

Contoh 6: Ketentuan Hukum untuk Memasang Penyaring (Filter) Asap

Menurut peraturan perundang-undangan yang baru, entitas diwajibkan untuk memasang penyaring asap pada pabrik-pabriknya. Penyaring tersebut harus sudah terpasang pada tanggal 30 Juni 20X1. Namun, entitas belum melakukan pemasangan penyaring tersebut.

(a) Pada akhir periode pelaporan 31 Desember 20X0

(47)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Simpulan. Kewajiban diestimasi atas biaya pemasangan pe-nyaring asap tidak diakui (lihat paragraf 14 dan 17-19). (b) Pada tanggal neraca 31 Desember 20X1

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Belum ada kewajiban atas biaya pemasan-gan penyaring asap, karena belum ada peristiwa masa lalu yang mengikat (yaitu pemasangan penyaring). Tetapi, ada kewajiban lainnya yang mungkin sudah timbul (yaitu kewajiban untuk membayar denda berdasarkan peraturan perundang-undangan) akibat peristiwa masa lalu yang mengikat (yaitu operasi pabrik yang tidak memenuhi peraturan).

Keluarnya sumber daya yang mengandung manfaat ekono-mis dalam rangka penyelesaian kewajiban. Besarnya kemung-kinan entitas harus membayar denda, karena operasinya tidak memenuhi peraturan perundang-undangan, akan bergantung pada rincian peraturan tersebut dan pada keketatan pember-lakuan peraturan tersebut.

Simpulan. Entitas tidak mengakui kewajiban diestimasi atas biaya pemasangan penyaring asap. Tetapi, entitas mengakui kewajiban diestimasi sebesar estimasi terbaik atas denda yang kemungkinan besar akan dikenakan (lihat paragraf 14 dan 17-19).

Contoh 7: Pelatihan Ulang Karyawan Karena Perubahan Peraturan Pajak Penghasilan

(48)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Belum timbul kewajiban karena peristiwa yang mengikat (yaitu pelatihan ulang) belum terjadi.

Simpulan. Kewajiban diestimasi tidak diakui (lihat paragraf 14 dan 17-19).

Contoh 8: Kontrak Memberatkan

Suatu entitas mengoperasikan suatu pabrik yang mengun-tungkan, yang disewa berdasarkan perjanjian operating lease. Selama bulan Desember 20X0 entitas memindahkan operasinya ke pabrik baru. Kontrak sewa pabrik lama masih akan berlaku selama 4 tahun ke depan. Kontrak tersebut tidak dapat dibatal-kan dan pabrik tersebut tidak dapat disewadibatal-kan kembali kepada pihak ketiga.

Kewajiban masa kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Peristiwa yang mengikat adalah penandatanganan kontrak sewa, yang selanjutnya menimbulkan kewajiban hukum.

Keluarnya sumber daya yang mengandung manfaat ekono-mis dalam rangka penyelesaian kewajiban. Ketika kontrak sewa menjadi suatu hal yang memberatkan entitas, timbul kemungkinan besar bahwa entitas akan mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis. (Sebelum sewa menjadi sewa yang memberatkan, entitas mencatat sewa ber-dasarkan PSAK 30: Sewa)

Simpulan. Entitas mengakui kewajiban diestimasi sebesar esti-masi terbaik atas pembayaran sewa yang tidak dapat dihindari (lihat paragraf 5 (c), 14 dan 66).

Contoh 9: Jaminan Tunggal

(49)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

saat itu cukup sehat. Selama tahun 20X1, kondisi keuangan entitas B memburuk, dan pada tanggal 30 Juni 20X1 entitas B menyatakan bankrut.

Kontrak ini memenuhi defi nisi kontrak asuransi dalam PSAK 28: Kontrak Asuransi, namun berada dalam ruang lingkup PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, karena memenuhi defi nisi kontrak jaminan keuangan dalam PSAK 55. Jika penerbit sejak awal telah menyatakan secara eksplisit bahwa kontrak seperti itu diakui sebagai kontrak asuransi dan diterapkan akuntansi untuk kontrak asuransi, penerbit dapat memilih untuk menerapkan PSAK 55 atau PSAK 28 untuk kontrak jaminan keuangan seperti itu. PSAK 28 menperkenankan penerbit untuk melanjutkan kebijakan akuntansi yang telah ada untuk kontrak asuransi jika per-syaratan minimum yang ditetapkan telah terpenuhi. PSAK 28 juga menperkenankan perubahan kebijakan akuntansi yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Berikut adalah contoh kebijakan akuntansi yang diperkenankan oleh PSAK 28 dan juga memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 untuk kontrak jaminan keuangan dalam ruang lingkup PSAK 55.

(a) Pada tanggal 31 Desember 20X0.

Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu yang mengikat. Peristiwa yang mengikat adalah pemberian jaminan, yang menimbulkan kewajiban hukum.

Keluarnya sumber daya yang mengandung manfaat eko-nomis dalam rangka penyelesaian kewajiban. Pada tanggal 31 Desember 20X0, tidak terdapat kemungkinan besar bahwa entitas akan mengeluarkan sumber daya ekonomis.

Simpulan. Jaminan diakui dengan menggunakan nilai wajar. (b) Pada tanggal 31 Desember 20X1.

Figur

Tabel Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi, Aset Kontinjensi dan Penggantian (oleh Pihak Ketiga)
Tabel Kewajiban Diestimasi Kewajiban Kontinjensi Aset Kontinjensi dan Penggantian oleh Pihak Ketiga . View in document p.37

Referensi

Memperbarui...