MAKNA DALAM TUTURAN DI AKUN INSTAGRAM JOKOWI:
PENDEKATAN BEHAVIORISME
UTTERANCE MEANING ON JOKOWI'S INSTAGRAM: BEHAVIOURISM APPROACH Eko Purnomo; Miftakhul Huda
Pendidikan Bahasa Indonesia Program Magister, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jalan A. Yani, Mendungan, Pabelan, Kec. Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia
(Naskah diterima tanggal 9 Januari 2022, terakhir diperbaiki tanggal 10 November 2022, disetujui tanggal 6 Desember 2022)
DOI: https://doi.org/10.26499/wdprw.v50i2.960 Abstract
Speech will be meaningful if the speech can have implications or be able to influence the speech partner to do some- thing spoken by the speaker or O1. This research is motivated by the desire of researchers to find out how the com- munity responds to Jokomui's leadership which can be seen through people's behavior towards the captions written by Jokowi.Meaningful utterance if it has implications for speech partners. This study aims to describe behaviorism meaning in Jokowi’s utterances on Instagram. This study is descriptive qualitative. Data sources are captions on Jokowi’s Instagram, national news sites, and government websites. Data are Jokowi's utterances in the form of captions on Jokowi's Instagram, news, and the government's official website which contain the meaning of behavior- ism and people's behavior. Data collection techniques in this study use reading, documentation, and continued note- taking. Data analysis techniques use pragmatic identity method then followed by intertextuality analysisThe result indicates that Jokowi's utterance contains behaviorism meaning classified into (1) behaviorism meaning of asking, (2) behaviorism meaning of hoping, (3) behaviorism meaning of optimism, and (4) behaviorism meaning of remind- ing. It is possible that Jokowi’s utterances as a president in Indonesia is still being listened to by his subordinates or his people because Jokowi’s utterances are implied and implemented by the intended speech partners.
Keywords: meaning; behaviorism; Instagram; Jokowi
Abstrak
Tuturan akan bermakna apabila tuturan tersebut dapat berimplikasi atau mampu memengaruhi mitra tutur untuk melakukan sesuatu yang diucapkan oleh penutur atau O1. Penelitian ini dilatarbelakangi keinginan peneliti untuk mengetahui bagaimana respons masyarakat terhadap kepemimpinan Jokowi yang dapat dilihat melalui perilaku masyarakat terhadap takarir yang ditulis oleh Jokowi. Tuturan bermakna apabila berimplikasi terhadap mitra tutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna behaviorisme dalam tuturan Jokowi di Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Sumber data dalam penelitian ini adalah takarir (caption) Instagram Jokowi, situs berita nasional, dan website pemerintah. Data dalam penelitian ini adalah tuturan Jokowi yang berupa takarir di Instagram Jokowi, berita, dan website resmi pemerintah yang mengandung makna behaviorisme dan perilaku masyarakat. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak, dokumentasi, dan dilanjutkan dengan teknik catat. Teknik analisis data menggunakan metode padan pragmatis dilanjutkan dengan analisis intertektualitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tuturan Jokowi mengandung makna behaviorisme yang digolongkan menjadi 4, yaitu (1) makna behaviorisme meminta, (2) makna behaviorisme berharap, (3) makna behaviorisme optimis, dan (4) makna behavior-
isme mengingatkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tuturan Jokowi sebagai presiden di Indonesia masih didengarkan oleh bawahannya atau rakyatnya, karena tuturan yang dituturkan oleh Jokowi diimplikasikan dan dilaksanakan oleh mitra tutur yang dituju.
Kata-Kata Kunci : makna; behaviorisme; Instagram; Jokowi 1. Pendahuluan
Media sosial menyebabkan budaya komu- nikasi mengalami perubahan tata bahasa, gaya, semantik, dan pragmatik yang sebe- lumnya telah dikenal luas atau popular (Kilyeni, 2015: 433). Oktaviana et al. (2021) menyatakan bahwa faktor terpenting yang menyebabkan perluasan makna kata estetik yang terjadi di tengah pengguna Twitter dan TikTok dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi, perbedaan tanggapan oleh pemakai bahasa dalam bidang pemakaian, dan perkembangan hubungan sosial masyarakat.
Siddiqui & Singh (2016: 71) menyatakan media sosial memiliki peran yang sangat penting dalam mengubah gaya hidup orang melalui komunikasi dan interaksi. Media sosial dipandang sebagai pendorong perubahan yang kuat untuk pengajaran pembelajaran bahasa (Lambton-Howard, et al., 2020:1). Bahkan, dalam era digital, media sosial memiliki peran yang yang menentukan (Huda 2018a: 118), (Huda 2018b: 27).
Makna saling berhubungan dengan mak- sud tuturan yang disampaikan oleh penutur.
Tuturan akan bermakna apabila tuturan ter- sebut dapat berimplikasi atau mampu me- mengaruhi mitra tutur untuk melakukan sesuatu yang diucapkan oleh penutur atau O1.
Tuturan dikatakan bermakna apabila tu- turan tersebut dapat lakukan oleh mitra tutur.
Tuturan adalah hasil perbuatan bertutur yang dilakukan oleh penutur. Mitra tutur adalah orang yang menjadi kawan bertutur (Isodarus, 2021: 117).
Perbedaan antara apa yang diucapkan dan apa yang diimplikasikan seringkali mem-
buat mitra tutur mengalami kesulitan dalam memahami tuturan (Damanhuri, 2014: 159).
Mengakibatkan terbentuknya bermacam- macam implikasi yang dilakukan oleh mitra tutur. Makna memegang peranan dalam berkomunikasi tergantung dalam pemakaian bahasa sebagai alat untuk penyampaian pengalaman jiwa, pikiran, dan maksud dalam masyarakat (Iye et al., 2020: 29).
Makna dalam penelitian ini merupakan makna yang berperspektif behaviorisme.
Pendekatan behavioris dalam kajian makna berawal dari anggapan bahwa makna meru- pakan bentuk respon terhadap stimulus yang diperoleh oleh pelaku dalam berkomunikasi sesuai dengan asosiasi maupun hasil belajar yang dimiliki (Aydogan, 2017: 40). Kusuma (2018: 130) menjelaskan bahwa teori beha- viorisme menyoroti aspek perilaku keba- hasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara stimulus dan response.
Sebuah tuturan dalam perspektif beha- viorisme bermakna apabila tuturan tersebut dapat memengaruhi perilaku atau tingkah laku dari mitra tutur/O2 sesuai dengan apa yang dituturkan oleh penutur/O1. Perilaku menunjukkan manusia dalam aksinya, berkai- tan dengan aktivitas manusia secara fisik, berupa interaksi manusia dengan sesamanya ataupun dengan lingkungan fisiknya (Tandal dan Egam, 2011: 53).
Media massa sebagai alat berinteraksi, bersosialisasi, dan berkomunikasi tanpa terhalang ruang dan waktu (Fitriani, 2017:
148). Media sosial yang popular di dunia yaitu Instagram (Sakti dan Yulianto, 2013: 2;
Manampiring, 2015: 2; Fauziah, Ratnamulyani dan Kusumadinata, 2018: 27).
Pengguna Instagram di Indonesia terban- yak se-Asia Pasifik (Soraya, 2017: 30). Indone- sia termasuk 3 besar pengguna Instagram terbanyak kurang lebih 53 juta pengguna aktif (Adinda & Pangestuti, 2019: 2). Tak terkecuali orang nomor satu di Indonesia yaitu Joko Widodo atau yang biasa disebut Jokowi menggunakan Instagram. Tuturan Jokowi bermakna apabila masyarakat melakukan atau mengamini tuturan Jokowi. Apabila tuturan tersebut tidak dilakukan oleh masyarakat Indonesia maka tuturan tersebut dapat dikatakan tidak bermakna
Penelitian sebelumnnya yaitu Prayitno et al., (2019) menunjukkan bahwa bentuk tindak kesantunan positif yang paling banyak digunakan oleh pengikut Instagram Jokowi yaitu dengan memberikan perhatian kepada mitra tutur. Kekuatan propaganda politik dari komentar pengikut dominan berupa kekuatan untuk meminta dan mendukung kekuatan pujian, kekuatan pengaruh, kekuatan motivasi, dan kekuatan sugesti.
Penelitian Kusmanto et al., (2019: 119) yaitu ditemukan (1) wujud kesantunan follow- er Instagram Jokowi terhadap kepemimpinan Jokowi. (2) Strategi kesantunan secara tidak langsung paling dominan digunakan yang oleh followers. (3) Daya politikopragmatik kesantunan positif komentar followers akun Instagram meliputi daya memuji, men- dukung, memohon, menyarankan, memuji, memengaruhi, mendukung, menyarankan, dan memotivasi.
Penelitian Guruh dan Kinanti (2021: 336) ditemukan adanya realisasi kesopanan atau kesantunan berbahasa dalam kolom komentar akun Instagram Jokowi.
Mengacu pada penelitian relevan di atas penelitian ini tergolong penelitian baru.
Penelitian mengenai makna dengan pende- takan behaviorisme belum pernah dilakukan peneliti sebelumnya. Penelitian mengenai makna dalam takarin Instagram Jokowi be- lum pernah dilakukan oleh peneliti sebe- lumnya. Kebaruan dalam penelitian ini yaitu
menghasilkan pemetaan makna behaviorisme dalam takarir Instagram Jokowi. Mampu mengetahui bagaimana kebermaknaan tutur- an Jokowi. Selain itu, penelitian ini dilatarbe- lakangi oleh keinginan peneliti mengetahui bagaimana respons masyarakat Indonesia terkait dengan kepemimpinan Jokowi yang dapat dilihat melalui perilaku yang dilakukan masyarakat menanggapi takari yang ditulis Jokowi dalam Instagram.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata tanpa ada perhitungan (Mahsun, 2019). Sumber utama penelitian kualitatif menekankan in- terpretasi data di lapangan (Sugiyono, 2015).
Berdasarkan pendekatan yang digunakan sumber data dalam penelitian ini adalah ta- karir Instagram Jokowi, situs berita nasional, dan website pemerintah. Data dalam penelitian ini adalah takarir Instagram Jokowi yang mengandung makna behaviorisme dan per- ilaku masyarakat yang dapat dilihat melalui berita atau website resmi pemerintah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak, dokumentasi, dan dilanjutkan dengan teknik catat (Jamshed, 2014) Peneliti melakukan pengamatan dan penyimakan secara saksama terhadap data dalam takarir Instagram Jokowi, kemudian data yang dikumpulkan dilakukan pendokumentasian. Setelah data terkumpul peneliti mencatat data dalam kartu data. Data diklasifikasikan berdasarkan makna be- havirosme yang ditemukan yaitu makna behaviorisme (a) meminta, (b) berharap, (b) optimis, dan (d) meng-ingatkan. Data yang sudah dicatat kemudian dilakukan coding data. Coding data dalam penelitian ini yaitu dengan kode data (Angka/Abjad/Tanggal).
Angka menunjukkan urutan data, abjad klas- ifikasi data, dan tanggal menunjukkan takarir tersebut diunggah dalam Instagram Jokowi.
Analisis merupakan kerja yang dilakukan dengan cara melakukan penyelidikan men- dalam terhadap kasus tertentu (Huda et al., 2021). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan pragmatis (Sudaryanto, 2015) dilanjutkan dengan inter- tekstualitas. Metode padan pragmatis digunakan untuk menentukan bagaimana respons akibat emosional tertentu warganet atau masyarakat mengenai takarir yang ditulis dalam Instagram Jokowi. Teks harus dilihat sebagai sebuah wujud dari intertekstualitas sebab teks dalam posisi penyerap dan penja- wab teks lainnya (Nugraha dan Suyitno, 2021).
Kristeva mengatakan bahwa teks apapun pada dasarnya adalah suatu interteks, yang hanya hadir dan bermakna dalam relasinya dengan teks lain (Suyatno dan Susamto, 2020). Adapun analisis intertekstualitas digunakan untuk menghubungkan teks dengan teks yang lain yaitu hubungan takarir Jokowi di Insta- gramnya dengan perilaku masyarakat yang dapat dibuktikan dalam berita dan website pemerintah yang memberitakan mengenai perilaku masyarakat Indonesia.
3. Hasil dan Pembahasan
Penjelasan behaviorisme terhadap makna dalam bentuknya yang paling dasar menya- takan bahwa makna dari sebuah ekspresi adalah sama dengan respon yang ditim- bulkannya ketika ekspresi itu diucapkan (Cooper, 2018: 51). Teori yang digunakan untuk mengklasifikasian makna behaviorisme dalam penelitian ini berdasarkan maksud dari tuturan yang terkandung dalam takarir Jokowi. Selain itu, penelitian ini menggunakan teori tindak tutur. Tindak tutur merupakan suatu kegiatan berbahasa yang dilakukan oleh penutur untuk mengomu- nikasikan makna serta maksud tuturan kepa- da lawan tutur. Makna serta maksud suatu tuturan dapat dipahami oleh lawan tutur berdasarkan konteks tuturan (Fitriah dan Fitriani, 2017: 52).
3.1 Makna Behaviorisme Meminta
Meminta merupakan ungkapan untuk mendapatkan sesuatu atau agar mitra tutur memberikan apa yang disampaikan oleh penutur. Makan behaviorisme meminta ini adalah ungkapan yang memiliki makna agar mitra tutur melakukan apa yang diinginkan penutur. Makna behaviorisme meminta dapat dilihat dengan penggunaan kosakata yang digunakan oleh penutur.
Tabel 1
Makna Behaviorisme Meminta
Kode Data Takarir
1/A/20- 10-2021
Saya meminta para kepala daerah mem- fasilitasi para pelaku usaha untuk agresif memanfaatkan peluang ekspor yang ada 2/A/16-
10-2021
saya meminta para kepala daerah me- waspadai kenaikan kasus Covid-19 sekecil apapun di daerah masing-masing.
Saya juga mengingatkan seluruh kepala daerah agar terus mempercepat vaksinasi untuk melindungi rakyat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi 3/A/15-
09-2021
Saya telah menginstruksikan Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan untuk segera mencari solusi terbaik bagi masalah-masalah yang dihadapi para peternak ayam petelur seperti Pak Suroto dan sektor perunggasan secara umum di Tanah Air
4/A/15- 08-2021
Untuk itulah, saya menginstruksikan Menteri Kesehatan agar hasil tes PCR bisa diketahui paling lambat 1x24 jam.
Selain itu, harga tes PCR ini diturunkan sampai di kisaran Rp450.000-Rp550.000 Saya meminta para kepala daerah memfasilitasi para pelaku usaha untuk agresif memanfaatkan peluang ekspor yang ada (1/A/20-10-2021) Data (1/A/20-10-2021) memiliki maksud agar pemerintah daerah dapat memfasilitasi pelaku usaha UMKM meningkatkan ekspor ke internasional. Peluang ekspor ini harus segera direspons oleh pemerintah daerah misalnya mempermudah perizinan usaha, memberikan motivasi, dan pelatihan kepada pelaku UMKM.
Tuturan pada data (1/A/20-10-2021) mengandung makna behaviorisme meminta.
Hal ini dibuktikan dengan adanya penanda meminta. Jokowi meminta kepala daerah memfasilitasi UMKM untuk dapat bersaing di dunia perdagangan internasional. Tuturan tersebut mengandung makna behaviorisme.
Hal ini dibuktikan dengan perilaku kepala daerah yang dikutip melalui Tribunnews 13 November 2021 dan Media Indonesia 12 November 2021 menyatakan bahwa pemerintah Tangerang memfasilitasi UMKM yang dimiliki oleh warga Tangerang untuk dapat melakukan ekspor ke luar negeri.
UMKM milik warga Tangerang berhasil diek- spor ke 2 negara, yaitu Dubai dan Korea Se- latan. Diperkuat respons warganet yang dilihat di situs kumparan.com pada 1 April 2022 yaitu dosen UMY membantu mengem- bangkan bisnis UMKM hingga pasar luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa tuturan Jokowi me-ngandung makna behaviorisme, karena berdampak atau dilakukan oleh 02 yaitu Pemerintah Tangerang. Tuturan Jokowi memiliki aspek psikologis karena mampu memengaruhi orang lain dalam hal ini Pemerintah Tangerang dan Kemdikbud. Hal ini sesuai dengan penelitian Djokowidodo dan Dani (2020: 154) bahwa wacana iklan lebih banyak ditirukan oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa tuturan dalam wacana iklan memiliki aspek psikologis yang dapat memengaruhi penonton. Manusia dan psikologinya menampilkan banyak karakter- istik dari dinamika yang kompleks (Mercer, 2018: 7).
saya meminta para kepala daerah mewaspadai ke- naikan kasus Covid-19 sekecil apapun di daerah masing-masing. Saya juga mengingatkan seluruh kepala daerah agar terus mempercepat vaksinasi untuk melindungi rakyat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi (2/A/26-10-2021)
Maksud tuturan tersebut adalah meng- ingatkan kepada kepala daerah agar tetap waspada walaupun kasus Covid-19 terus
mengalami penurunan. Selain itu, mengajak kepala daerah untuk mempercepat vaksinasi di daerah masing-masing. Dengan melakukan vaksinasi dapat melindungi rakyat dari virus Covid-19 serta mampu mendorong pertum- buhan perekonomian rakyat. Takrir tersebut mendapat respons dari warganet
@merici.I888: Yth Bapak Presiden @jokowi Mohon percepatan vaksin booster dilakukan bulan November Desember 2021 untuk mencegah adanya COVID gelombang ke 3.
Terima kasih atas perhatiannya.
Data (2/A/16-10-2021) mengandung makna behaviorisme meminta. Hal ini dibuk- tikan dengan adanya penanda meminta.
Jokowi meminta agar kepala daerah tetap waspada menghadapi Covid-19. Berdasarkan situs resmi jateng.go.id pada tanggal 1 No- vember 2021 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengimbau kepada kepala daerah di Jawa Tengah untuk tetap mewaspadai Covid-19 walaupun dibeberapa kota di Jawa Tengah sudah mengalami penurunan Covid- 19 nol kasus. Ganjar mengungkapkan agar pemerintah daerah baik bupati dan walikota untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan masker tidak boleh dicopot. Kemudian berdasarkan kumparan 20 Desember 2021 masyarakat mewaspadai adanya virus Omi- cron. Berdasarkan tuturan yang dinyatakan Ganjar dan respons masyarakat Aceh mengamini tuturan Jokowi pada 26 Oktober 2021. Dengan demikian tuturan Jokowi terse- but mengandung makna behaviorisme karena mampu membuat O2 melakukan perintah dari O1. Ganjar sebagai Gubernur Jawa Ten- gah mampu terpengaruh dengan ucapan yang dituturkan Jokowi, hal ini karena Jokowi merupakan atasan dari Ganjar Pranowo. Hal ini seperti dijelaskan Darwis (2019: 25) bahwa permintaan bermakna bahwa penutur meminta agar mitra tutur melakukan sesuatu.
Sesuai dengan penelitian Prayitno et al., (2019:
119) bahwa kepemimpinan Jokowi mendapatkan respons positif dari rakyat.
Saya telah menginstruksikan Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan untuk segera mencari solusi terbaik bagi masalah-masalah yang dihadapi para peternak ayam petelur seperti Pak Suroto dan sektor perunggasan secara umum di Tanah Air (3/A/15-09-2021)
Maksud tuturan data (3/A/15-09-2021) yaitu Jokowi meminta agar menteri pertanian dan perdagangan mampu mencari solusi mengenai masalah yang dihadapi oleh peter- nak ayam petelur. Peternak ayam petelur mengeluh mengenai biaya produksi ayam yang meningkat yaitu adanya kenaikan harga jagung, sedangkan harga telur di pasaran rendah. Hal ini mengakibatkan kerugian pada peternak ayam petelur. Takarir Jokowi di atas mendapat respon dari warganet
@muhammadyahya8296 Alhamdulillah bpk presiden Jokowi sdh bekerja cepat dan tepat panggirl Suroto u klarifikasi hal yang sam- paikan lewat spanduknya.
Data (3/A/15-09-2021) mengandung makna behavirisme meminta. Hal ini dibuk- tikan dengan penanda mengintruksikan.
Mengintruksikan bermakna memerintah dari atasan untuk bahwannya. Hasil pemantauan peneliti dalam berita bisnis.com dan website kemendag pemerintah melalui Menteri Perdagangan dan Kementerian Peternakan telah menyiasati lonjakan harga jagung dan turunnya harga telur yang merugikan peter- nak ayam petelur.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi telah menyiapkan jurus untuk mampu men- stabilkan harga telur di masyarakat. Cara yang ditempuh oleh Mendag ini yaitu dengan menyerap telur dari peternak untuk dibagikan kepada penerima bantuan sosial, langkah ini dinilai mampu menstabilkan harga telur, karena penurunan harga telur ini terjadi karena penurunan pembeli. Langkah pembeliaan telur juga dilakukan oleh Kemen- terian Peternakan dengan membeli satu juta telur yang akan dibagikan kepada pegawai Kementan, panti asuhan, dan yang membu- tuhkan.
Dengan demikian tuturan Jokowi mengandung makna behaviorisme, karena tuturan tersebut diimplikasikan oleh Kemen- terian Perdagangan dan Kementerian Peter- nakan. Tuturan Jokowi sebagai orang nomor satu di Indonesia mampu memengaruhi bawahannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Abadi, Nurhadi, dan Basuki (2016:
215) bahwa wacana kekuasaan dalam tuturan Jokowi berfungsi sebagai wacana untuk mengatur orang lain melakukan suatu hal yang diinginkan agar menjadi lebih tertata dan lebih baik.
Untuk itulah, saya menginstruksikan Menteri Kesehatan agar hasil tes PCR bisa diketahui paling lambat 1x24 jam. Selain itu, harga tes PCR ini di- turunkan sampai di kisaran Rp450.000- Rp550.000 (4/A/15-08-2021)
Maksud tuturan pada data (4/A/15-08- 2021) yaitu Jokowi meminta agar menteri kesehatan mampu mempercepat hasil tes PCR sekurang-kurangnya 1 X 24 Jam. Hasil tes PCR diminta dipercepat agar masyarakat cepat mengetahui hasil tes mereka sehingga langkah penyembuhan terhadap pasien yang terinfeksi virus Covid-19 cepat diatasi segera mungkin. Selain itu, Jokowi meminta agar biaya tes PCR dapat diturunkan sehingga tidak terlalu membebani masyarakat Indone- sia. Warganet merespon takarir tersebut de- ngan @muhamadrifai430 SIAP PAKDE. War- ganet setuju dengan yang dikatan oleh Jokowi.
Tuturan data (4/A/15-08-2021) mengan- dung makna behaviorisme meminta. Makna behaviorisme meminta ini dibuktikan dengan adanya penanda mengintruksikan. Meng- instruksikan berarti memberikan perintah dari atasan kepada bawahannya untuk melakukan sesuatu. Tuturan tersebut mengandung makna behaviorisme hal ini dibuktikan dengan implikasi kegiatan yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan. Sebagai pembantu dari Presiden Jokowi, Menteri Kesehatan merespon tuturan yang dikatakan oleh Jokowi. Hal ini dibuktikan dengan berita
yang ditulis oleh Kompas pada tanggal 26 Oktober 2021 bahwa Kemenkes akan melakukan kajian ulang mengenai harga tes PCR dengan mengkonsultasikan kepada berbagai ahli. Langkah ini merupakan salah satu respon Kementerian Kesehatan mengenai permintaan Jokowi untuk menurunkan harga tes PCR. Sejalan dengan penelitian Abadi, et al., (2016: 213) bahwa wacana kekuasaan akan menimbulkan efek kepada orang lain dengan catatan siapa yang menjadi objek atau peneri- ma informasi ini. Apabila yang menerima informasi ini adalah bawahan Jokowi, maka mereka akan melaksanakan perintah tersebut.
Apabila yang menerima informasi ini adalah masyarakat atau kelas yang didominasi, maka yang akan dilakukan adalah mengikuti aturan dari keputusan yang disampaikan oleh Jokowi.
3.2 Makna Behaviorisme Berharap
Berharap merupakan tuturan yang dimak- sudkan agar tuturan yang diucapkan oleh penutur dapat terjadi. Makna behaviorisme berharap yaitu tuturan yang mampu me- mengaruhi mitra tutur untuk melaksanakan harapan atau keinginan yang diinginkan oleh penutur. Berharap dapat diartikan sebagai doa atau keinginan dari penutur.
Tabel 2
Makna Behaviorisme Berharap
Kode Data Takarir
5/B/14- 10-2021
Saya berharap, penggabungan ini akan menjadikan Pelindo menjadi sebuah kekuatan besar dan bisa diikuti oleh BUMN lainnya
6/B/15- 10-2021
Saya berharap kolaborasi antara perus- ahaan Korea Selatan dengan perusahaan Indonesia makin kuat, serta melibatkan usaha mikro, kecil, dan usaha menengah di Tanah Air.
Saya berharap, penggabungan ini akan menjadi- kan Pelindo menjadi sebuah kekuatan besar dan bisa diikuti oleh BUMN lainnya (5/B/14-10- 2021)
Data (5/B/14-10-2021) merupakan tutur- an Jokowi melalui akun Instagram pada tang-
gal 14 Oktober 2021. Maksud tuturan tersebut adalah Jokowi mengharapkan de-ngan bergabungnya Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, dan Pelindo IV menjadi PT Pelindo atau PT Pelabuhan Indonesia. Diharapkan dengan bergabungnya Pelindo I, II, III, dan IV dapat menjadi kekuatan besar bagi perekonomian Indonesia. Selain itu Jokowi berharap dengan bergabungnya BUMN PT Pelindo ini dapat menjadi contoh kepada Perusahaan BUMN yang lain agar dapat bergabung atau merger menjadi satu perusahaan.
Data (5/B/14-10-2021) mengandung makna behaviorime berharap. Hal ini dibuk- tikan dengan adanya penanda berharap dalam tuturan Jokowi. Tuturan Jokowi tersebut disambut baik oleh Menteri BUMN dan Wakil Menteri BUMN. Berdasarkan sumber berita antara news menyatakan bahwa PT Garuda Indonesia Tbk akan bergabung dengan Hold- ing BUMN PT Aviasi Pariwisata Indone- sia/Aviata (Persero) pada 2023. Dengan adan- ya rencana penggabungan ini maka dapat ditarik simpulan bahwa tuturan pada akun Instagram Jokowi pada tanggal 14 Oktober mengandung makna behaviorisme yaitu tu- turan tersebut mendapatkan respon dari Ke- mentrian BUMN dengan rencana penggabu- angan PT Garuda Indonesia Tbk dengan Hold- ing BUMN PT Aviasi Pariwisata Indonesia yang ditargetkan selesai pada tahun 2023.
Diperkuat dengan penelitian (Ramadhani, et al., (2019: 280) dalam berkomunikasi, setiap stimulus atau rangsang ucapan yang disam- paikan oleh penutur merupakan bentuk un- tuk memperoleh efek, baik berupa respon verbal maupun nonverbal. Tuturan Jokowi pada data (2/14/10/2021) mendapatkan respon baik dari Kementerian BUMN yang akan melakukan penggabungan atau merger pada perusahan-perusahan berplat merah.
Saya berharap kolaborasi antara perusahaan Korea Selatan dengan perusahaan Indonesia makin kuat, serta melibatkan usaha mikro, kecil, dan usaha menengah di Tanah Air. (6/B/15-10-2021).
Tuturan Jokowi tersebut diungkapkan Jokowi pada tanggal 15 September 2021 pada saat acara groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan pabrik baterai ken- daraan listrik pertama di Indonesia, PT HKML Battery Indonesia. Maksud tuturan tersebut adalah agar PT HKML Battery mam- pu melibatkan masyarakat Indonesia untuk menjadi bagaian dari PT HKML Battery Indo- nesia. Hal ini dapat dilakukan melalui kerja sama dengan usaha mikro, kecil, maupun menengah di Indonesia serta menyerap warga Indonesia untuk menjadi karyawan di PT HKML Battery Indonesia.
Tuturan pada data (6/B/15-10-2021) mengandung makna behaviorisme berharap hal ini dibuktikan dengan adanya penanda berharap dalam tuturan tersebut. Pernyataan Jokowi tersebut di amini oleh Menteri Inves- tasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia yang menya- takan bahwa jika Pabrik PT HKML Battery Indonesia sudah jadi dan beroperasi akan mampu menyerap 13 ribu karyawan. Hal ini belum termasuk dengan tenaga langsung seperti UMKM, kontraktor, subkontraktor, alat berat, material, alat berat, hingga makan.
Menteri Investasi Indonesia menyatakan bahwa PT HKML Batteray akan dapat me- nyerap karyawan Indonesia, dengan demikian mampu membuka lapangan peker- jaan bagi warga Indonesia.
Berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan dapat disimpulkan bahwa tuturan Jokowi tersebut mengandung makna beha- viorisme, karena diamini oleh Menteri Inves- tasi, Bahlil Lahadalia. Tuturan Jokowi mampu memengaruhi bawahannya, yaitu Menteri Investasi untuk mampu melibatkan rakyat Indonesia dalam Pabrik PT HKML Battery Indonesia. Wacana dalam Instagram Jokowi mampu memengaruhi masyarakat terutama menteri sebagai pembantu presiden. Hal ini selaras dengan pendapat Waljinah et al., (2019:
119) bahwa wacana memengaruhi mitra tutur untuk melakukan sesuatu yang diinginkan
oleh penutur. Diperkuat penelitian Sholiha, et al., (2020: 140) fungsi menyuruh untuk mem- berikan perintah dengan santun kepada mitra tutur agar bersedia melakukan sesuatu yang telah disuruhkan oleh penutur.
3.3 Makna Behaviorisme Optimisme
Optimisme merupakan sikap percaya diri.
Optimisme juga berarti sebagai suatu pan- dangan, ahli psikologi menyebut dengan pendayagunaan diri, keyakinan bahwa orang mempunyai penguasaan akan peristiwa- peristiwa dalam hidupnya dan dapat menghadapi tantangan hidup sewaktu-waktu tantangan itu muncul, cenderung optimis dengan harapan (Golemen, dalam Hapsari dan Girsang, 2017: 150).
Tabel 3
Makna Behaviorisme Optimisme
Kode Data Takarir
7/C/27- 09-2021
Kini, kita bersiap untuk hidup berdamp- ingan dengan Covid-19, dan menyambut pandemi ini sebagai endemi, karena Covid-19 tak kan hilang dari muka bumi dalam waktu yang lama.
Tetaplah waspada dan jangan pernah lengah. Covid-19 tetap mengintai di sekitar kita.
8/C/23- 09-2021
…tetapi jika level PPKM kota dan kabupatennya sudah level 3, silakan belajar tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat, terutama memakai masker
Kini, kita bersiap untuk hidup berdampingan de- ngan Covid-19, dan menyambut pandemi ini se- bagai endemi, karena Covid-19 tak kan hilang dari muka bumi dalam waktu yang lama.
Tetaplah waspada dan jangan pernah lengah.
Covid-19 tetap mengintai di sekitar kita (7/C/27- 09-2021).
Data (7/C/27-09-2021) mengandung 2 mak- sud. Maksud yang pertama adalah pemerintah mengajak masyarkat untuk bersiap-siap hidup berdampingan dengan virus Covid-19, karena virus ini menjadi endemi yang kemungkinan akan hilang membutuhkan waktu yang lama.
Maksud kedua yaitu mengajak masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.
Walaupun kasus Covid-19 di Indonesia se- makin menurun, tetapi diharapkan masyara- kat untuk terus berhati-hati dan waspada.
Tuturan pada data (7/C/27-09-2021) dapat dikatakan mengandung makna beha- viorisme optimis. Optimis ini dapat dibuk- tikan dengan sikap Jokowi yang optimis ter- hadap kesiapan masyarakat Indonesia untuk dapat hidup dengan Covid-19. Dilansir dari situs resmi satgas Covid-19 pada tanggal 9 November bawasannya Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tanggal 1-7 November 2021. Penurunan ini tercatat sebesar 12,2% dibandingkan de- ngan minggu lalu. Penurunan pada 1-7 No- vember ini menjadi yang ke-16 berturut-turut dari puncak kasus kedua pada bulan Juli lalu.
Dengan adanya penurunan ini menjadikan Indonesia semakin siap menuju endemi Covid- 19. Berdasarkan tuturan dari O2 atau satgas Covid-19 ini maka tuturan Jokowi pada tang- gal 27 Septermber mengandung makna be- haviorisme, karena masyarakat mematuhi protokol kesehatan dibuktikan dengan adan- ya penurunan angka kasus Covid-19.
Tuturan pada takarin Instagram Jokowi ini mampu memengaruhi masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat walaupun kasus Covid-19 mulai berang- sur reda di Indonesia. Pernyataan ini dibuk- tikan dengan adanya data satgas Covid-19 yang menyatakan bahwa penurunan pada awal bulan November mencapai 12,2%. Tu- turan dalam takarin Instagram Jokowi mam- pu memberikan pengaruh baik terhadap masyarakat Indonesia. Hal ini sesuai dengan penelitian Fatimah, et al., (2017: 330) bahwa bahasa iklan merupakan bahasa persuasive sehingga mampu memengaruhi masyarakat untuk melihat lebih mendalam mengenai produk yang ditawarkan. Didukung dengan penelitian Muktadir (2018: 343) bahwa tutur- an yang menggunakan tindak direktif dimak- sudkan penuturnya untuk membuat
pengaruh agar lawan tutur melakukan tin- dakan sesuai dengan isi tuturan yang disam- paikan.
“…tetapi jika level PPKM kota dan kabupatennya sudah level 3, silakan belajar tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat, terutama memakai masker”. (8/C/23-09-2021)
Tuturan pada data (8/C/23-09-2021) merupakan pernyataan Jokowi di akun Insta- gramnya pada tanggal 23 Oktober 2019. Mak- sud tuturan tersebut adalah pemerintah telah memperbolehkan sekolah melakukan pem- belajaran tatap muka, tetapi dengan syarat yaitu wilayah sekolah level PPKM berada pada level 3. Walaupun boleh mengadakan pembelajaran tatap muka, tetapi tetap men- erapkan protokol kesehatan secara ketat, salah satunya adalah dengan memakai masker pada saat pembelajaran di kelas.
Makna behaviorime pada data (8/C/23- 09-2021) mengandung makna optimis. Hal ini dibuktikan dengan keoptimisan Jokowi meminta agar wilayah level 3 PPKM sudah dapat melakukan sekolah tatap muka. Jokowi optimis dengan level 3 PPKM penyebaran Covid-19 sudah rendah sehingga pelaksanaan pembelajaran di sekolah dapat dilaksanakan secara tatap muka. Berdasarkan detik.com Kota Bogor akan menggelar Pembelajaran Tatap Muka mulai 4 Oktober 2021. PTM ini dilaksanakan serentak untuk jenjang SMP dan SMA dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Selain itu, Bima selaku Walikota Bogor meminta Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk melakukan swab antigen rutin minimal seminggu sekali. Selain aspek protokol kesehatan, sekolah juga harus me- mastikan kondisi fisik bangunan sekolah. Hal ini merupakan salah satu ikhtiar agar Covid-19 dapat ditekan penyebarannya dan pembelaja- ran dapat berjalan secara tatap muka.
Hal ini membuktikan bahwa tuturan Jokowi tersebut mengandung makna behavior- isme, karena masyarakat dalam hal ini Wali- kota Bogor mengamini tuturan Jokowi dengan
mengadakan PTM dengan tetap memper- hatikan protokol kesehatan secara ketat dan memperhatikan kondisi sekolahan.
Kepatuhan Walikota Bogor ini dapat di- artikan bahwa Walikota Bogor melaksanakan perintah Jokowi karena Jokowi merupakan pemimpin Indonesia dengan mengadakan PTM di daerah yang sudah berada dilevel 3 PPKM. Hal ini sesuai dengan penelitian (Abadi, et al., (2016: 213) bahwa Jokowi men- ciptakan suatu kekuasaan melalui bentuk wacana dalam masyarakat. Diperkuat penelitian Robin dan Priscila (2021: 160) bah- wa Presiden Jokowi meyakinkan bahwa keadaan sudah terkendali dan berbagai ske- nario sudah disiapkan untuk mengatasi per- masalahan yang sudah, sedang, dan mungkin akan terjadi.
3.4 Makna Behaviorisme Mengingatkan Mengingatkan merupakan salah satu sikap memberikan nasihat agar sesorang mau melakukan kewajiban dan tugasnya. Makna behaviorisme mengingatkan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 4.
Tabel 4
Makna Behavorisme Mengingatkan
Kode Data Takarir
9/D/2-10- 2021
Pada kesempatan itu, saya meng- ingatkan seluruh masyarakat agar tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan meski sudah divaksinasi 10/D/5-08-
2021
Kita tidak tahu siapa yang akan bertemu kita dan membawa virus Covid-19.
Maka jangan pernah lengah, kenakan perisai pelindung yang ampuh mena-
han virus itu.
Pakai masker!
11/D/14- 08-2021
Pada kesempatan itu, saya meng- ingatkan Pramuka Indonesia untuk selalu menjadi teladan dan pelopor kedisiplinan, terutama dalam menjalan- kan protokol kesehatan. Pramuka Indo- nesia juga harus berada di barisan terdepan untuk melindungi diri, melindungi teman-teman, dan melindungi keluarga dari penyebaran Covid-19.
Pada kesempatan itu, saya mengingatkan seluruh masyarakat agar tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan meski sudah divaksinasi (9/D/2-10-2021).
Data (9/D/2-10-2021) merupakan tuturan Jokowi pada tanggal 7 September 2021. Mak- sud tuturan Jokowi tersebut, yaitu meng- ingatkan agar masyarakat tetap disiplin protokol kesehatan secara ketat walaupun sudah divaksinasi. Walaupun sudah vaksin, tetapi masih dapat terinfeksi voris Covid-19 karena vaksin berguna untuk menjaga keke- balan tubuh, mengurangi risiko kematian akibat dari Covid-19, dan menjaga sistem kesehatan manusia.
Berdasarkan pantauan peneliti dilansir dari situs resmi Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono di sela-sela kunjungannya di Ge- dung Sopo Godang HKBP Pontianak pada 18 September 2021 usai melihat proses vaksinasi mengingatkan agar masyarakat jangan lengang ketika sudah divaksin. Walikota Edi meminta agar masyrakat tetap mematuhi protokol kesehatan, apalagi jika keluar rumah karena walaupun sudah divaksin masih dapat memungkinkan masyarakat terinfeksi Covid- 19.
Hal senada disampaikan oleh juru bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr. Reisa Broto Asmoro mengingatkan agar masyarakat jangan lengah ketika sudah dilakukan vaksin.
Apabila masyarakat lengah terhadap protokol kesehatan hal ini dapat berakibat melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia. Lengah dalam prokes belum waktunya di Indonesia, karena masih adanya kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia. Berdasarkan survei Dr. Reisa mengatakan bahwa sebesar 90,77 persen masyarakat Indonesia taat mengenakan masker, tetapi masih ada 9,23 persen masyarakat Indonesia yang lalai menggunakan masker ketika keluar rumah atau berada di kerumunan.
Berdasarkan dua pemaparan berita di atas dapat disimpulkan bahwa tuturan Jokowi pada data (9/D/2-10-2021) mengan- dung makna behaviorisme mengingatkan.
Makna behaviorisme mengingatkan ini ditandai dengan adanya penanda meng- ingatkan. Adanya tindakan dari tokoh pemerintah yaitu walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dan Dr Reisa sebagai juru bicara pemerintah terkait Covid-19 yang mengingatkan agar masyarakat tetap me- matuhi protokol kesehatan sesuai dengan tuturan Jokowi. Selain itu, dibuktikan dengan hasil survei yang menyatakan bahwa 90,77%
masyarakat Indonesia telah patuh dalam menggunakan masker. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia telah patuh terhadap protokol kesehatan, walaupun su- dah dilakukan vaksinasi. Hal ini dijelaskan (Syaleh, 2019: 222) bahwa kepemimpinan adalah bagian dari kekuatan yang mampu memengaruhi bawahannya sesuai dengan keinginan pemimpin.
Kita tidak tahu siapa yang akan bertemu kita dan membawa virus Covid-19. Maka jangan pernah lengah, kenakan perisai pelindung yang ampuh menahan virus itu. Pakai masker! (10/D/5-08- 2021).
Tuturan pada data (10/D/5-08-2021) memiliki maksud agar masyarakat Indonesia tetap waspada terhadap virus Covid-19. Wa- laupun tren penurunan Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan kasus positif, tetapi jangan mudah lengah. Tetap mematuhi protokol kesehatan terutama penggunaan masker di tempat umum.
Data (10/D/5-08-2021) mengandung makna behaviorisme mengingatkan. Makna behaviorisme mengingatkan ini dibuktikan dengan adanya penanda jangan pernah lengah.
Tuturan tersebut dituturkan Jokowi pada tanggal 5 Agustus 2021. Tuturan tersebut bermakna behaviorisme dibuktikan dengan perilaku masyarakat Indonesia setelah tanggal
5 Agustus 2021 dengan adanya penurunan kasus terkonfirmasi Covid-19 mengalami penurunan drastis.
Dilihat dari perilaku masyarakat yang dirangkum dalam berita nasional bahwa tuturan Jokowi tersebut berimplikasi terhadap tingkah laku masyarakat Indonesia. Dikutip dari Merdeka.com pada tanggal 2 September 2021 berdasarkan wawancara dengan satgas Covid-19 menyatkan bahwa Covid-19 pada bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 45 persen. Penurunan ini salah satunya karena masyarakat Indonesia masih disiplin menggunakan masker atau melakukan proto- kol kesehatan secara ketat.
Selain Merdeka.com, DetikNews juga memberitakan bahwa berdasarkan pantauan Satgas Covid-19 yang disampaiakn oleh juru bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan bahwa Covid-19 pada bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 45 persen daripada periode sebelumnya. Wiku menyatakan walaupun kasus Covid-19 mengalami penurunan masyarakat tetap dihimabau agar selalu berjaga-jaga dengan adanya Covid-19. Jangan meremehkan virus ini walaupun sudah mengalami penurunan dan tetap menjaga protocol kesehatan secara ketat.
4. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Presiden Jokowi sebagai orang nomor satu di Indonesia dalam bertutur dapat dikatakan bermakna.
Hal ini dibuktikan dengan adanya implikasi yang ditimbulkan oleh mitra tutur atau O2.
Warganet selaku mitra tutur memberikan respons yang baik atas tuturan Jokowi hal ini dibuktikan dengan perilaku yang dilakukan oleh warganet untuk menanggapi tuturan Jokowi selaku Presiden Indonesia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tuturan Jokowi dalam takarir di Instagram resminya mengandung makna behaviorisme. Makna behaviorisme yang ditemukan dalam takarir
Jokowi digolongkan menjadi 4, yaitu (1) mak- na behaviorisme meminta, (2) makna behavior- isme berharap, (3) makna behaviorisme opti- mis, dan (4) makna behaviorismemeng- ingatkan. Tuturan Jokowi sebagai orang nomor satu di Indonesia masih didengarkan oleh bawahannya atau rakyatnya, karena tuturan yang dituturkan oleh Jokowi diimplikasikan dan menimbulkan efek positif bagi mitra tutur yang dituju. Jokowi sebagai Presiden masih dipercaya oleh rakyatnya. Sudah sepantasnya tuturan pemimpin yang bermakna positif untuk dapat didengarkan dan dilaksanakan oleh rakyatnya atau bawahannya.
Daftar Pustaka
Abadi, I. M., Nurhadi., dan Basuki, I. A. (2016)
‘Bentuk Hegemoni Kekuasaan dalam Tuturan “Jokowi”’, JPH - Jurnal Pendidikan Humaniora, 4(4), pp. 209–217.
Adinda, S. dan Pangestuti, E. (2019) ‘Pengaruh Media Sosial Instagram @exploremalang terhadap Minat Berkunjung Followers ke Suatu Destinasi (Survei pada Followers @explormalang)’, Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 72(1), pp. 176–
183.
Aydogan, H. (2017) Psychology of Language.
Lambert: Academic Publishing.
Cooper, E. D. (2018) Filsafat dan Sifat Bahasa.
Edited by A. S. Ibrahim. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Damanhuri, P. (2014) ‘Implikatur Percakapan Dalam Kontak Interpersonal Orangtua Terhadap Anak’, Prosiding Prasasti, pp.
159–165.
Darwis, A. (2019) ‘Tindak Tutur Direktif Guru Di Lingungan SMP Negeri 19 PALU : Kajian Pragmatik’, Bahasa dan Sasta, 4(2), pp. 21–30.
Djokowidodo, A. dan Dani, R. A. (2020) Psikopragmatik dalam Tuturan Wacana Iklan’, Sastra Indonesia, 9(15), pp. 151–
157.
Fatimah, N. F., Sulistyo, T. E. dan Shaddhono, K. (2017) ‘Interpretasi Tuturan Persuasif Iklan untuk Meningkatkan Ekonomi Kreatif’, Elic, pp. 325–330.
Fauziah, R., Ratnamulyani, I. A. dan Kusumadinata, A. A. (2018) ‘Efektifitas Promosi Destinasi Wisata Rekreasi Gunung Pancar Melalui Postingan Instagram Media Sosial’, Jurnal Komunikatio, 4(1), pp. 27–40.
https://doi.org/10.30997/jk.v4i1.1210 Fitriah, F. dan Fitriani, S. S. (2017) ‘Analisis
Tindak Tutur dalam Novel Marwah di Ujung Bara Karya R.H. Fitriadi’, Master Bahasa, 5(1), pp. 51–62.
https://doi.org/10.31000/lgrm.v8i1.1262 Fitriani, Y. (2017) ‘Analisis Pemanfaatan
Berbagai Media Sosial sebagai Sarana Penyebaran Informasi bagi Masyarakat’, Paradigma - Jurnal Komputer dan Informatika, 19(2), p. 152.
Guruh, G. dan Kinanti, K. P. (2021) ‘Analisis Kesopanan Berbahasa Warganet Di Kolom Komentar Instagram “Joko Widodo’, Prosiding Seminar Nasional Sastra, Lingua, Dan Pembelajarannya (Salinga), (1), pp. 336–341.
Hapsari, I. dan Girsang, L. R. (2017) ‘Makna Optimisme Dalam Iklan Politik
“Wujudkan Mimpi Bersama Jokowi-JK”
(Analisis Semiotika Saussure Pada Scene Yang Menunjukkan Tagline JOKOWI-JK ADALAH KITA)’, SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi, 9(1), pp. 142–178.
Huda, M. (2018a) ‘Blended Learning : Improvisasi dalam Pembelajaran Menulis Pengalaman’, Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya, 8(2), pp. 117–130. doi:
https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018 .117-130.
Huda, M. (2018b) ‘Strategi Berpikir Integratif dalam Pembelajaran Membaca Lintas Kurikulum di Sekolah Dasar’, Jurnal Kredo, 1(2), pp. 26–35. doi:
ttps://doi.org/10.24176/kredo.v1i2.199 5.
Huda, M. et al. (2021) ‘Higher Order Thinking Skills (HOTS) Dalam Materi Dan Soal Pada Buku Pelajaran Bahasa Indonesia’, 16(02), pp. 128–143. doi:
10.23887/prasi.v15i01.40671.
Isodarus, P. B. (2021) ‘Kalimat langsung dan kalimat tidak langsung dalam wacana berita tertulis berbahasa indonesia’, Widyaparwa, 49(21), pp. 173–183.
https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i2.839 Iye, R. et al. (2020) ‘Makna Dan Fungsi Emosi
Mahasiswa Kota Baubau Dalam Ranah Demonstrasi’, Uniqbu Journal Of Social Sciences (UJSS), 1(1), pp. 25–37.
Jamshed, S. (2014) ‘Qualitative research method-interviewing and observation’, Journal of basic and clinical pharmacy, 5(4), p. 87. https://doi.org/10.4103/0976- 0105.141942
Kilyeni, A. (2015) ‘Likes, Tweets and Other
“Friends”: Social Media Buzzwords from a Terminology Perspective’, Procedia - Social and Behavioral Sciences, 192, pp. 430–437. doi:
10.1016/j.sbspro.2015.06.059.
Kusmanto, H. et al. (2019) ‘Realisasi Kesantunan Berkomunikasi Pada Media Sosial Instagram @Jokowi: Studi Politikopragmatik’, PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan, 19(2), pp.
119–130. doi:
10.30996/parafrase.v19i2.2648.
Kusuma, A. B. (2018) ‘Pemerolehan Bahasa Pertama Sebagai Dasar Pembelajaran Bahasa Kedua (Kajian Psikolinguistik)’, Al-Manar, 5(2), pp. 118–141. doi:
10.36668/jal.v5i2.10.
Lambton-Howard, D., Kiaer, J. dan Kharrufa, A. (2021) ‘“Social media is their space”:
student and teacher use and perception of features of social media in language education’, Behaviour and Information Technology, 40(16), pp. 1700–1715. doi:
10.1080/0144929X.2020.1774653.
Mahsun (2019) Metode Penelitian Bahasa:
Tahapan, Strategi, Metode, dan Tekniknya.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Manampiring, R. A. (2015) ‘Peranan Media Sosial Instagram Dalam Interaksi Sosial Antar Siswa SMA Negeri I Manado’, Jurnal Acta Diurna, 4(4), pp. 1–8.
Mercer, S. (2018) ‘Psychology for language learning: Spare a thought for the teacher’, Language Teaching, 51(4), pp.
504–525. doi:
10.1017/S0261444817000258.
Muktadir, A. (2018) ‘Aneka Implikatur Yang Terkandung Dalam Tindak Tutur Novel
“Ketika Derita Mengabadikan Cinta”’, Jurnal PGSD, 9(3), pp. 340–346. doi:
10.33369/pgsd.9.3.340-346.
Nugraha, D. dan Suyitno, S. (2021) Kritik dan Penelitian Sastra. Surakarta:
Muhammadiyah University Press.
Oktaviana, M. et al. (2021) ‘Budaya komunikasi virtual di Twitter dan Tiktok: Perluasan makna kata estetik’, Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 5(2), pp. 173–186. doi:
10.22219/satwika.v5i2.17560.
Prayitno, H. J. et al. (2019) ‘The Politeness Comments on The Indonesian President Jokowi Instagram Official Account Viewed From Politico Pragmatics and The Character Education Orientation in The Disruption Era’, Indonesian Journal on Learning and Advanced Education (IJOLAE), 1(2), pp. 52–71. doi:
10.23917/ijolae.v1i2.8785.
Ramadhani, P. C., Suyitno, I. dan Nurchasanah, N. (2019) ‘Kesantunan Respon Tuturan Direktif dalam Film Alangkah Lucunya Negeri Ini.’, Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 4(3), 4(3), pp. 279–289.
https://doi.org/10.17977/jptpp.v4i3.12048 Robin, P. dan Priscila, G. (2021) ‘Konstruksi
Kuasa Presiden Jokowi dalam Pidato
“Indonesia Darurat Corona”’, Jurnal Ilmiah Media, Public Relations, dan Komunikasi (IMPRESI) , 1(2), pp. 146–
164.
https://doi.org/10.20961/impresi.v1i2.437 21
Sakti, B. C. dan Yulianto, M. (2013)
‘Penggunaan Media Sosial Instagram Dalam Pembentukan Identitas Diri Remaja’, Interaksi-Online, 6(4), pp. 1–12.
Available at:
https://ejournal3.undip.ac.id/index.ph p/interaksionline/article/view/21950.
Sholiha, I., Sukarno, S. dan Sukatman, S.
(2020) ‘Types and Functions of Directive Speech Act Used in Al-Qur’an Surah Al- Alaq’, Jurnal Kata, 4(1), p. 133. doi:
10.22216/kata.v4i1.5250.
Siddiqui, S. dan Singh, T. (2016) ‘Social Media its Impact with Positive and Negative Aspects’, International Journal of Computer Applications Technology and Research, 5(2),
pp. 71–75. doi:
10.7753/IJCATR0502.1006.
Soraya, I. (2017) ‘Personal Branding Laudya Cynthia Bella Melalui Instagram (Studi Deskriptif Kualitatif Pada Akun Instagram @Bandungmakuta)’, Jurnal
Komunikasi, 8(2), pp. 30–38. Available at:
http://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.
php/jkom/article/view/2654.
Sudaryanto (2015) Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis.
Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Sugiyono (2015) Metode Penelitian Kuntitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabetas.
Suyatno, S. dan Susamto, D. A. (2020)
‘Intertekstualitas Sajak “Kampung” Dan Cerpen “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi” Dalam Perspektif Posmodernisme’, Widyaparwa, 48(2), pp.
292–306. doi:
10.26499/wdprw.v48i2.429.
Syaleh, H. (2019) ‘Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Prasarana Jalan dan Jembatan Wilayah Bukittinggi’, Jurnal Benefita, 4(2), p. 221. doi: 10.22216/jbe.v4i2.2697.
Tandal, A. N. dan Egam, P. P. (2011)
‘Arsitektur Berwawasan Perilaku (Behaviorisme)’, Media Matrasain, 8(1), pp. 53–67.
Waljinah, S. et al. (2019) ‘Tindak Tutur Direktif Wacana Berita Online: Kajian Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Digital’, SeBaSa, 2(2), p. 118. doi:
10.29408/sbs.v2i2.1590.