• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. K DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEREBRAL VASKULAR ACIDENT BLEEDING DI RUANG KRISAN RSUD BANGIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. K DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEREBRAL VASKULAR ACIDENT BLEEDING DI RUANG KRISAN RSUD BANGIL"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. K DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEREBRAL VASKULAR ACIDENT

BLEEDING DI RUANG KRISAN RSUD BANGIL

Oleh:

REGITA INDIRA ARDIANTI

NIM :17.010.51

PROGRAM DIPLOMA III KEPERAWATAN AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA

SIDOARJO

2020

(2)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. K DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEREBRAL VASKULAR ACIDENT

BLEEDING DI RUANG KRISAN RSUD BANGIL

Sebagai Prasyarat untuk Memperoleh Gelar Ahli MadyaKeperawatan (Amd.Kep) Di Akademi

Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Oleh:

REGITA INDIRA ARDIANTI

NIM :17.010.51

PROGRAM DIPLOMA III KEPERAWATAN AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA

SIDOARJO 2020

(3)

xii

(4)
(5)

xii

(6)

“Aku tidak aneh, aku ini edisi terbatas “

Saat kamu merasa dirimu berbeda dengan orang lain, janganlah berkecil hati. Tetaplah menjadi dirimu

sendiri, anggaplah dirimu sebagai ciptaan Allah dengan edisi terbatas Limited edition.

Seperti ditoko, barang yang mempunyai edisi terbatas adalah barang-barang dengan kualitas terbaik dan dengan harga yang mahal - Regita Indira Ardianti.

iv

(7)

xii

(8)

Kupersembahkan Karyaku untuk Ibu dan Calon Pendamping Hidupku

dan para Sahabat yang telah menyemangatiku Kelenjar Family

dan Civitas Akademika Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.

v

(9)

xii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan proposal dengan judul Asuhan Keperawatan pada Pasien Cerebral Vaskular Acident Bleeding RSUD Bangil ini dengan tepat waktu.

Penulisan proposal ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan proposal ini dengan tepat waktu.

2. Orang tua Ibu Sri Wanti yang telah memberikan dukungan baik moril maupun material selama pembuatan Karya Tulis Imliah ini dari awal hingga akhir.

3. Agus Sulistyowati S.Kep.,M.Kes, selaku Direktur Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo yang telah mengesahkan.

4. Meli Diana, S.Kep., Ns., M.Kes selaku pembimbing pertama dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.

5. Marlita Dewi Lestari, S.Kep., Ns., M.Kes selaku pembimbing kedua dalam pembuatan pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.

6. Seluruh Bapak / Ibu Dosen dan Pegawai di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo yang telah memberikan ilmu dan pengalaman selama ini.

7. Untuk calon pendamping hidup Satria Noviardhi, terimakasih sudah memberi dukungan, semangat san do’a untuk mengerjakan Karya Tulis Ilmiah ini.

(10)

seperjuangan yang telah menemani sama menempuh pendidikan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.

9. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam penyusunan proposal ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Penulis sadar bahwa proposal ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila para pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan proposal ini. Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan.

Sidoarjo, 10 Mei 2020

Penulis

vi

vii

(11)

xii

DAFTAR ISI

Surat Pernyataan i

Lembar Persetujuan ii

Lembar Pengesahan iii

Lembar Motto iv

Lembar persembahan v

Kata Pengantar vi

Daftar isi viii

Daftar Tabel x

Daftar Gambar xi

Daftar Lampiran xii

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 4

1.3 Tujuan Penelitian 4

1.4 Manfaat Penelitian 5

1.5 Metode Penulisan 6

1.6 Sistematika penulisan 7

BAB 2 Tinjauan Pustaka

2.1 Konsep Cerebral Vaskular Accident

2.1.1 Pengertian 9

2.1.2 Etiologi 9

2.1.3 Patofisiologi 10

2.1.4 Klasifikasi 11

2.1.5 Manifestasi Klinik 12

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang 12

2.1.7 Komplikasi 13

2.1.8 Penatalaksanaan 13

2.2 Dampak Masalah

2.2.1 Dampak psikologi 15

2.2.2 Dampak Sosial 15

2.2.3 Dampak Ekonomi 15

2.3 Asuhan Keperawatan

2.3.1 Pengkajian 16

2.3.2 Diagnosa Keperawatan 22

2.3.3 Intervensi Keperawatan 22

2.3.4 Implementasi Keperawatan 33

2.3.5 Evaluasi Keperawatan 35

2.4 Pathway 38

BAB 3 Tinjauan Kasus

3.1 Pengkajian 40

3.2 Diagnosa Keperawatan 49

3.2.1 Analisa Data 49

3.2.2 Daftar Diagnosa 51

3.2.3 Diagnosa Berdasarkan Prioritas 51

3.3 Intervensi Keperawatan 52

3.4 Implementasi Keperawatan 56

viii

(12)

BAB 4 Pembahasan

4.1 Pengkajian 66

4.2 Diagnosa Keperawatan 74

4.3 Intervensi Keperawatan 75

3.4 Implementasi Keperawatan 76

4.5 Evaluasi Keperawatan 77

BAB 5 Penutup

5.1 Simpulan 79

5.2 Saran 80

5.3 SAP 81

5.4 Leaflet 88

Daftar Pustaka 89

Lampiran

ix

(13)

xii

DAFTAR TABEL

No.Tabel Judul Tabel Hal

Tabel 2.1 Skala GCS 19

Tabel 2.2 Intervensi ketidakefektifan perfusi jaringan serebral 23 Tabel 2.3 Intervensi hambatan mobilisasi fisik 24 Tabel 2.4 Intervensi ketidakefektifan pola nafas 25

Tabel 2.5 Intervensi nyeri akut 26

Tabel 2.6 Intervensi ketidakefektifan bersihan jalan nafas 27

Tabel 2.7 Intervensi resiko cidera 29

Tabel 2.8 Intervensi defisit perawatan diri 30

Tabel 3.1 Tabel Nutrisi dan Cairan 42

Tabel 3.2 Tabel Kimia Klinik 46

Tabel 3.3 Tabel Hasil Radiologi 47

Tabel 3.4 Analisa Data 49

Tabel 3.5 Inrevensi Keperawatan 52

Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan 56

Tabel 3.7 Catatan Perkembangan 60

Tabel 3.8 Evaluasi Keperawatan 64

x

(14)

Gambar 2.1 Pathway Cerebral Vaskular Accident 38

Gambar 3.1 Genogram 42

(15)

xii

DAFTAR LAMPIRAN No.lampiran Judul Lampiran

Lampiran 1 Surat studi penelitian 90

Lampiran 2 Surat balasan RSUD Bangil 91

Lampiran 3 inform konsen 92

Lampiran 4 Daftar Konsul 93

(16)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Cerebro Vaskular Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang

diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak . Menurut Smeltzer C.Suzanne (2002) dalam buku Asuhan Keperawatan Neurologi (2017) Cerebro Vaskular Accident (CVA) merupakan masalah kesehatan yang utama bagi

masyarakat modern saat ini, stroke semakin menjadi masalah serius yang dihadapi hampir diseluruh dunia, hal tersebut dikarenakan serangan Cerebro Vaskular Accident (CVA) yang mendadak dapat mengakibatkan kematian,

kecacatan fisik dan mental baik pada usia produktif maupun usia lanjut (Junaidi, 2011). Pada era globalisasi sekarang banyak masyarakat yang kurang memperhatikan pola hidup dan pola makan. Pola hidup masyarakat yang suka mengkonsumsi minuman beralkohol, makan makanan yang berminyak, dan banyak mengandung natrium yang menyebabkan penderita CVA Bleeding meningkat (Rusna, 2013).

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, kasus Cerebro Vaskular Accident (CVA) di seluruh dunia diperkirakan mencapai 50

juta jiwa, dan 9 juta diantaranya menderita kecacatan berat yang lebih memprihatinkan lagi 10% diantaranya yang terserang Cerebro Vaskular Accident (CVA) mengalami kematian (Fitriani, 2017). Berdasarkan hasil

laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 di Indonesia Cerebro Vaskular Accident (CVA) menjadi urutan yang paling utama, dengan

menunjukkan bahwa prevalansi Cerebro Vaskular Accident (CVA) di Indonesia sebesar 10,9% penduduk. Sedangkan di Jawa Timur prevalansi Cerebro

1

(17)

Vaskular Accident (CVA) masih cukup tinggi yaitu sebesar 11,2% (Badan

Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018).

Penderita stroke memiliki perilaku yang meningkatkan faktor resiko stroke, Gaya hidup yang tidak sehat seperti mengomsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik dan kurang berolahraga, meningkatkan resiko terkena penyakit stroke (Friedman, 2013). Penyebab CVA Hemoragik biasanya adalah Hipertensi, penuaan pembuluh darah, Arteriovenous Malformation (AVM), cidera kepala (Yudiarto, 2014). Pada pasien stroke

biasanya kehilangan atau keterbatasan kesadaran, mual muntah,sakit kepala hebat yang mendadak, lemah atau mati rasa di kaki lengan dan wajah pada salah satu sisi tubuh, kejang, kehilangan keseimbangan masalah bicara atau menelan, linglung atau disorientasi (Hisam, 2013). Stroke ialah sindrom yang mempunyai karakteristik serangan mendadak disebabkan karena adanya gangguan pada peredaran darah otak, stroke merupakan penyakit yang menyerang siapapun dengan mendadak sehingga bila terlambat penanganan dapat menyebabkan kecacatan neurologis bahkan sampai tejadi kematian, stroke merupakan penyakit kegawat daruratan yang dapat menyebabkan sistem tubuh mengalami perubahan (Ariani,2012). Komplikasi yang mungkin muncul adalah Deep vein thrombosis, Sebagian orang akan mengalami penggumpalan darah di tungkai

yang mengalami kelumpuhan, kondisi tersebut dikenal sebagai deep vein thrombosis ,kondisi ini terjadi akibat terhentinya gerakan otot tungkai, sehingga aliran dalam pembuluh darah vena tungkai terganggu, hal ini meningkatkan risiko untuk terjadinya penggumpalan darah, Deep vein thrombosis dapat di obati dengan obat antikoagulan, sebagian penderita setroke hemoragik dapat

(18)

mangalami hidrosefalus, yaitu suatu komplikasi yang terjadi akibat menumpuknya cairan otak di dalam rongga otak (ventrikel),Dokter bedah saraf akan memasang sebuah selang ke dalam otak untuk membuang cairan yang menumpuk tersebut, Cerebro Vaskular Accident (CVA) juga mengakibatkan disfagia yaitu suatu gangguan refleks menelan, akibatnya makanan dan minuman beresiko masuk ke dalam saluran pernapasan, sehingga dapat menyebabkan pneumonia aspirasi (National Stroke Association, 2018).

Dampak dari Stroke adalah dapat menyebabkan kecacatan neurologis bahkan sampai tejadi kematian, stroke merupakan penyakit kegawat daruratan yang dapat menyebabkan sistem tubuh mengalami perubahan (Ariani, 2012).

Banyaknya kejadian CVA di masyarakat perlu mendapatkan perhatian serius. Peran perawat adalah menerapkan asuhan keperawatan yang komprehensif yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (Gloria et al, 2016). Untuk mencegah terjadinya penyakit CVA dengan cara memberikan pengetahuan tentang penyakit CVA serta dapat dengan cara menghindari rokok, makanan berlemak, minuman keras, narkoba , dan rutin memeriksa tekanan darah serta olahraga (Oktavianus, 2014). Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral dapat diatasi dengan memonitor tekanan intrakranial yaitu dengan memberikan informasi kepada keluarga, memonitor tekanan intrakranial pasien dan respon neurologi terhadap aktivitas dan memonitor intake dan output cairan serta meminimalkan stimulus dan lingkungan, selain itu bisa diatasi dengan memonitor adanya paratese, membatasi gerakan pada kepala, leher, dan punggung serta berkolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotik (Nurarif & Kusuma, 2013). Pasca stroke biasanya klien memerlukan rehabilitasi

(19)

seperti terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi. Rehabilitasi psikologis juga diperlukan, seperti berbagi rasa, motivasi, terapi wisata, dan sebagainya (Oktavianus, 2014).

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada Ny. K dengan Diagnosa medis CVA Bleeding di RSUD Bangil?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengidentifikasi Asuhan Keperawatan pada Ny. K dengan Diagnosa medis CVA Bleeding di RSUD Bangil.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengkaji Ny. K dengan diagnosa medis CVA Bleeding di RSUD Bangil.

1.3.2.2 Merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. K CVA Bleeding di RSUD Bangil.

1.3.2.3 Menyusun rencana tindakan keperawatan pada Ny. K CVA Bleeding di RSUD Bangil.

1.3.2.4 Melaksanakan tindakan keperawatan pada Ny. K CVA Bleeding di RSUD Bangil.

1.3.2.5 Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada Ny. K CVA Bleeding di RSUD Bangil.

1.3.2.6 Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Ny. K CVA Bleeding di RSUD Bangil

(20)

1.4 Manfaat Penelian

Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh 1.4.1 Akademis, hasil tindak kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu

pengetahuan khususnya dalam asuhan keperawatan 1.4.2 Secara praktis, tugas akhir ini bermanfaat bagi 1.4.2.1 Bagi profesi keperawatan

Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah wacana keilmuan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien CVA Bleeding.

1.4.2.2 Bagi Rumah Sakit

Karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan salah satu contoh hasil dalam melakukan tindakan keperawatan bagi pasien khususnya dengan diagnosa CVA Bleeding.

1.4.2.3 Bagi Institusi Pendidikan

Manfaat praktis bagi instansi akademik yaitu dapat digunakan sebagai referensi bagi institusi pendidikan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa CVA Bleeding.

1.4.2.4 Bagi Pasien dan Keluarga

Manfaat karya tulis ilmiah ini bagi pasien dan keluarga yaitu agar pasien dan keluarga mengetahui tentang penyakit CVA Bleeding serta perawatan yang benar agar klien mendapat perawatan yang tepat.

(21)

1.4.2.5 Bagi Peneliti

Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan, khususnya studi kasus tentang kasus CVA Bleeding.

1.5 Metode Penelitian 1.5.1 Metode

Metode deskriptif yaitu metode mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan studi pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah pengkajian, diagnosis, perencenaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1.5.2 Teknik pengumpulan data 1.5.2.1 Wawancara

Data diambil atau diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga, maupun tim kesehatan lain.

1.5.2.2 Observasi

Data yang diambil melalui pengamatan.

1.5.2.3 Pemeriksaan

Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat menunjang dan menegakkan diagnosa dan penanganan selanjutnya.

(22)

1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data Primer

Data yang diperoleh dari klien.

1.5.3.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang di peroleh dari keluarga atau orang terdekat klien, catatan medik perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain.

1.5.4 Studi kepustakaan

Studi kepustakaannya itu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas.

1.6 Sistematika Penulisan Metode

Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara keseluruhan di bagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1.6.1 Bagian awal, memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi.

1.6.2 Bagian inti , terdiri dari lima bab, yang masing – masing bab terdiri dari sub bab berikut ini.

1.6.2.1 Bab 1 : Pendahuluan, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat penelitian , sistematika penulisan studi kasus

(23)

1.6.2.2 Bab 2 : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawtan klien dengan Diagnosa medis CVA Bleeding serta kerangka masalah

1.6.2.3 Bab 3 : Tinjauan kasus berisi tentang diskripsi data hasil pengkajian, diagnose, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi

1.6.2.4 Bab 4 : Pembahasan berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada dilapangan

1.6.2.5 Bab 5 : Penutup , berisi tentang simpulan dan saran 1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustakan dan lampiran

(24)

Dalam bab 2 ini akan di uraikan secara teoritis mengenai konsep dasar Cerebro Vaskuler Accident dan asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal

kronik. Konsep dasar Cerebro Vaskuler Accident akan diuaraikan definisi, etiologi, dan cara penanganan secara medis. Asuhan keperawatan akan diuraikan masalah- masalah yang muncul pada Cerebro Vaskuler Accident dengan melakukan asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.

2.1 Konsep Dasar Cerebro Vaskuler Accident 2.1.1 Definisi

Stroke Cerebro Vaskuler Accident (CVA) adalah kumpulan gejala klinis berupa gangguan dalam sirkulasi darah kebagian otak yang menyebabkan gangguan perfusi baik lokal atau global yang terjadi secara mendadak, progresif dan cepat yang umumnya menyebabkan hemiparasis pada penderita stroke (Heriyanto & Ana, 2015).

2.1.2 Etiologi

Penyebab CVA (Cerebro Vaskuler Accident) dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

2.1.2.1 Adanya kerusakan arteri yang disebabkan oleh usia,hipertensi,DM

9

(25)

2.1.2.2 Timbulnya trombosit

Aterosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral atau penyebab utama thrombosis serebral adalah penyebab paling umum dari stroke. Thrombosis ditemukan pada 40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologi. Biasanya pada kaitanya dengan kerusakan lokal dinding pembuluh darah akibat aterosklerosis (Smeltzer & Bare, 2005).

2.1.2.3 Timbunya Emboli

Embolisme selebri termasuk urutan kedua dari berbagi penyebab utama stroke. Penderita embolisme biasanya lebih muda dibandingkan dengan penderita thrombosis. Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu thrombus dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan penyakit jantung (Price, 2005).

2.1.2.4 Penyebab hemoragik

Tekan darah terlalu tinggi ,aneurisma arteri,penurunan faktor pembekuan darah ,leukemia,pengobatan. Hemoragik dapat terjadi diluar durameter (hemoragik ekstra dural atau epidural) di bawah durameter (hemoragik subdural), diruang sub arachnoid (hemoragik subarachnoid) atau dalam substansial otak (hemoragik intra serebral) (Price, 2005).

2.1.3 Patofisiologi

Pada stroke hemorogik,perdarahan di sebabkan oleh karena pecahnya aneurisma, AVM (Arterio venous Malformation) atau yang paling sering

(26)

karena hipertensi .peningkatan tekanan sistolik dan diastolic menyebabkan perubahan pada dinding arteri sehingga menjadi mudah pecah.Aneurisma lebih sering di temukan pada daerah percabangan arteri cerebral besar ,pecahnya aneurismamenyebabkan perdarahan di ruang subarachnoid atau langsung masuk didalamventrikel sehingga menyebabkan perdarahan intra cerebral, hal ini menyebabkan aliran darah menjadi berkurang dan selanjutnya akan terjadi iskemidan kemudian penurunan fungsi neurologis 2.1.4 Klasifikasi

2.1.4.1 Transient Ischemic Attack (TIA)

Adalah kejadian serangan sesaat dari suatu malfungsi karena gangguan peredaran darah selama 2-15 menit sampai 24 jam. Stroke jenis ini tidak akan meninggalkan sisa gejala sehingga pasien seperti tidak pernah mengalami stroke sebelumnya, tepi stroke jenis ini adalah peringatan akan serangan stroke selanjutnya sehingga tidak boleh diabaikan begitu saja (Masriadi, 2016, p. 121).

2.1.4.2 Reversible Ischemik Neurogical Deficit (RIND)

Gangguan neurologis yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu (Sutanto, 2010, p. 42).

2.1.4.3 Complete Stroke

Gangguan yang bersifat menetap atau permanen (Sutanto, 2010, p. 42).

(27)

2.1.4.4 Stroke Involusi

Jenis stroke ini terjadi mulai dari stroke ringan yang kemudian sedikit demi sedikit bisa memburuk yang dimana dalam prosesnya berjalan mulai dari beberapa jam sampai hari (Hariyanto & Sulistyowati, 2015, p. 47).

2.1.5 Manifestasi klinis

Tiba-tiba mengalami kelemahan atau kelumpuhan separo badan ,tiba- tiba hilang rasa peka,bicara cadel atau pelo,gangguan bicara dan bahasa ,gangguan penglihatan ,mulut mencong atau tidak simestris ketika menyeringai,gangguan daya ingat,nyeri kepala hebat, vertigo,kesadaran menurun,proses kencing terganggu ,gangguan fungsi otak (Nurarif &

Kusuma, 2015)

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Arif Muttaqin (2008),dalam Nurarif & Kusuma (2015):

2.1.6.1 Angiografi serebri

Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti perdarahan arteriovena atau adanya rupture dan untuk mencari perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler

2.1.6.2 Lumbal pungsi ,CT Scan, EEG,Magnetic Imaging Resnance(MRI) 2.1.6.3 USG Doppler

Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masalah sistem karotis)

(28)

2.1.7 Komplikasi

2.1.7.1 Berhubungan dengan immobilisasi pada stroke 1) Infeksi pernafasan

2) Nyeri yang berhubungan dengan daerah yang tertekan

3) Konstipasi

4) Tromboflebitis

2.1.7.2 Berhubungan dengan mobilisasi 1) Nyeri pada daerah punggung

2) Dislokasi sendi

3) Berhubungan dengan kerusakan otak

4) Epilepsi

5) Sakit kepala

6) Kraniotomi

7) Hidrosifalus (Putri, 2013) 2.1.8 Penatalaksanaan

Terapi umum : pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma >30mL,perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus ,dan keadaan klinis cenderung memburuk. Tekanan darah harus di

(29)

turunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik >180mmHg, MAP >130 mmHg,dan volume hematoma bertambah.

Bila terdapat gagal jantung,tekanan darah harus segera diturunkan dengan labetalol iv 10mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg; enalapril iv0,625-1.25 mg per 6 jam;

kaptopril 3 kali 6,25-25mg per oral.jika didapatkan tekanan intracranial meningkat ,posisi kepala di naikkan 300 ,posisi kepala dan dada di satu bidang ,pemberian manitol dan hiperventilasi (pCO2 20 – 35mmHg).

Penatalaksanaan umum sama dengan pada stroke iskemik,tukak lambung diatasi dengan antagonis H2 parenteral , sukralfat, atau inhibitor pompa proton; komplikasi saluran napas dicegah dengan fisioterapi dan diobati dengan antibiotic spectrum luas.

Terapi khusus : Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator. Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak perdarahan yaitu pada pasien yang kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebrum berdiameter >3cm3, hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum ,dilakukan VP-shunting , dan perdarahan lobar >60mL dengan tanda peningkatan tekanan intracranial akut dan ancaman herniasi. Pada perdarahan subaraknoid ,dapat digunakan antagonis kalsium (nimodipin) atau tindakan bedah (ligasi,embolisasi,ekstirpasi, maupun gamma knife) jika penyebabnya adalah aneurisma atau malformasi arteri-vena (arteriovenous malformation ,AVM) (Smeltzer C.Suzanne (2002) dalam buku Asuhan Keperawatan Neurologi (2017).

(30)

2.2 Dampak Masalah 2.2.1 Dampak Psikologi

Pasien stroke seringkali menunjukan reaksi emosional seperti mudah marah, pendiam, tidak berminat pada kegiatan di lingkungan sekitarnya, kurang nafsu makan. Pasien stroke juga sering menunjukkan sikap serta tingkah laku seperti tidak ada harapan dan merasa diasingkan. Hal ini terjadi sebagai akibat dari kehilangan kemampuan fisik dan kontrol diri, serta kehilangan kepercayaan diri dan harga diri karena bergantung pada orang lain (Vitahealth, 2006 dalam jurnal Wati, DF & Yanti, Y (2018)).

2.2.2 Dampak Sosial

Dampak yang di timbulkan oleh stroke dapat mempengaruhi aspek-aspek dalam kehidupan pasien, diantaranya:

personal, sosial, pekerjaan dan fisik, serta stroke menyebabkan ketergantungan pada orang lain, keluarga atau hubungan sosial lainnya. Keadaan inilah membuat pasien merasa rendah diri dan tidak berguna akibat keterbatasan fisik yang dialami karena stroke (Najoan 2016).

2.2.3 Dampak Ekonomi

Karena penderita Cerebral Vaskular Accident memerlukan perawatan yang intensif dan lama mengakibatkan biaya yang dikeluarkan sangat banyak dan sangat membebankan keluarga pasien (Makhrudy, 2013).

(31)

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien CVA Bleeding 2.3.1 Pengkajian Keperawatan

2.3.1.1 Identitas:

1) Usia

Semakin bertambah usia semakin bertambah resikonya.setelah berusia 55 tahun, resikonya berlipat ganda setiap kurun waktu sepuluh tahun. Dua pertiga dari serangan stroke terjadi pada orang berusia 65 tahun. Itu disebabkan karena pada usia tersebut elastisitas pembuluh darah di jantung akan menurun sehingga dapat menyebabkan penymbatan dan aliran darah berkurang . tetapi itu tidak berarti stroke hanya terjadi pada orang lanjut usia karena stroke dapat menyerang semua kelompok umur. (Masriadi, 2016).

2) Jenis kelamin

Pria lebih beresiko terkena stroke dari pada wanita, tetapipenelitian menyimpulkan bahwa justru banyakwanita yang meninggal karena stroke.

Resiko stroke pria 1,25 lebih tinggi dari wanita ,tetapi serangan stroke pada pria terjadi pada pria usia lebih muda sehingga tingkat kelangsungan hidup juga lebih tinggi . Dengan perkataan lain, walau lebih jarang terkena stroke ,pada umumnya wanita terkena pada usia lebih tua ,sehingga kemungkinan meninggal lebih besar.(Masriadi, 2016).

(32)

2.3.1.2 Keluhan Utama:

1) Saat Masuk Rumah Sakit: biasanya pasien stroke non hemoragik datang ke rumah sakit dengan keluhan sakit kepala hebat

(Masriadi, 2016, p. 118).

2) Saat Pengkajian: pasein mengalami lumpuh bagian wajah ataupun hemiparesis (Batticaca, 2012, p. 60).

2.3.1.3 Riwayat Penyakit Saat ini

Stroke Hemoragik terjadi saat pasien beraktivitas. Sering beberapa waktu sebelumnya merasa pegal, agak lemah atau keram linu pada separuh tubuh (Masriadi, 2016, p. 117).

2.3.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu

Adanya riwayat hipertensi, diabetes mellitus, riwayat stroke sebelumnya, obesitas (Bustan, 2015, p. 102).

2.3.1.5 Riwayat Keluarga

Nampaknya ,stroke terkait dengan keturunan .faktor genetik yang sangat berperan antara lain adalah tekanan darah tinggi ,penyakit jantung,penyakit diabetes ,dan cacat pada bentuk pembuluh darah .gaya hidup dan pola suatu keluarga juga dapat mendukung resiko stroke .cacat pada bentuk pembuluh darah (cadasil) mungkin merupakan faktor genetik yang paling berpengaruh dibandingkan foktor resiko stroke yang lain.

(Masriadi, 2016).

(33)

2.3.1.6 Kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan

Penderita stroke tidak diperkenankan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung natrium nitrat, mengandung glukosa berlebih, makanan yang tinggi lemak jenuh dan mengkonsumsi minuman beralkohol. Dikarenakan dapat memicu terjadinya stroke(Masriadi, 2016).

2.3.1.7 Pemeriksaan Fisik

1) B1 Sistem Pernafasan (Breathing)

Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan. Pada klien dengan tingkat kesadaran composmentiis, pada inspeksi peningkatan pernafasan.

Palpasi thoraks didapatkan vocal fremitus seimbang kanan dan kiri.. auskultasi tidak ada suara nafas tambahan (Muttaqin,2012).

2) B2 Sistem Kardiovaskuler (Blood)

Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan renjatan yang sering terjadi pada klien CVA. Tekanan darah biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi massif (Muttaqin,2012).

3) B3 Sistem Persyarafan (Brain)

Stroke menyebabkan berbagai deficit neurologis, bergantung pada lokasi lesi pembuluh darah mana yang tersumbat, ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan aliran darah kolateral. Pengakajian B3 meliputi :

(1) Pengkajian tingkat kesadaran pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien CVA biasanya berkisar pada tingkat letargi, stupor, dan semikoma. Jika klien sudah koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai

(34)

tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk pemantauan pemberi asuhan.

Skala GCS :

Tabel 2.1 Skala GCS (Muttaqin, 2012)

No Reflek Respon Nilai

1 Reflek mata Spontan Respon suara Respon nyeri Tidak berespon

4 3 2 1 2 Respon verbal Orientasi baik

Disorientasi Kata-kata kacau Hanya mengerang Tidak berespon

5 4 3 2 1 Respon motorik Mengikuti perintah

Melokalisir nyeri

Menarik area yang nyeri Fleksi abnormal

Ekstensi Tidak berespon

6 5 4 3 2 1

(2) Pengkajian status mental dengan mengobservasi penampilan, tingkah laku, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien.

(35)

(3) Pengkajian fungsi intelektual didapatkan penurunan dalam ingatan dan memori baik jangka pendek maupun jangka panjang.

(4) Pengkajian saraf cranial (Nervus I sampai nervus XII)

(1)) Saraf I. Biasanya pasien stroke tidak ada kelainan pada fungsi penciuman.

(2)) Saraf II. Disfungsi persepsi visual. Gangguan hubungan visual- spasial sering terlihat pada klien dengan hemiplegia kiri.

(3)) Saraf III,IV, danVI. Jika akibat stroke mengakibatkan paralisis pada satu sisi otot-otot okularis didapatkan penurunan kemapuan gerak.

(4)) Saraf V. Pada beberapa keadaan stroke mengakibatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah.

(5)) Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris, dan otot wajah tertarik ke bagian sisi yang sehat.

(6)) Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli.

(7)) Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik dan kesulitan membuka mulut.

(8)) Saraf XI. Tidak ada atrofi otot strenokleidomastoideus.

(9)) Saraf XII. Lidah simetris, terdapat deviasi pada satu sisi serta indra pengecapan normal.

(Muttaqin,2012)

(36)

4) B4 Sistem Perkemihan(Bladder)

Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinensia urine sementara karena konfusi, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kandung kemih karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang sfingter urine eksternal hilang atau berkurang (Muttaqin,2012).

5) B5 Sistem Pencernaan (Bowel)

Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual, muntah fase akut, penurunan gerakan peristaltik karena imobilisasi yang lama (Muttaqin,2012).

6) B6 Sistem Integumen dan Muskuloskeletal (Bone)

Biasanya didapatkan hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan, dan penurunan kekuatan otot, tonus otot meningkat, hemiparesis. Selain itu perlu dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena mengalami hambatan mobilitas fisik (Muttaqin,2012)..

Skala kekuatan Otot :

0 : Tidak ada kontraksi, 100% pasif

1 : Kontraksi otot dapat di palpasi tampa gerakkan persendian 2 : Tidak mampu melawan gaya gravitas (gerakkan pasif)

3 : Mampu menahan gravitasi, tidak mampu melawan tekanan pemeriksa

(37)

4 : Mampu menggerakkan persendian dengan gaya gravitasi, mampu melawan dengan tahan sedang

5 : Mampu menggerakkan persendian dalam lingkup gerak penuh, mampu melawan gaya gravitasi, mampu melawan dengan tahan penuh

7) Sistem Penginderaan

Deficit lapang penglihatan penurunan ketajaman penglihatan, diplobia (penglihatan ganda), buta, defisit pendengaran (Muttaqin,2012)..

8) Sistem endokrin

Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar parotis, tidak terdapat luka gangren.(Muttaqin,2012).

2.3.2. Diagnosa keperawatan

2.3.2.1 Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d interupsi perdarahan hemoragik

2.3.2.2 Hambatan mobilisasi fisik b.d penurunan kekuatan otot 2.3.2.3 Ketidak efektif pola nafas b.d penurunan kesadaran 2.3.2.4 Nyeri akut b.d peningkatan tik

2.3.2.5 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan secret 2.3.2.6 Resiko Cidera b.d penurunan kekuatan otot

2.3.2.7 Defisit perawatan diri b.d ketidak mampuan presepsi kognitif 2.3.3 Intervensi Keperawatan

Intervensi atau perencanaan merupakan pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah-masalah

(38)

yang telah diidentifikasikan dalam diagnosa keperawatan. (Rohmah, N.2014)

2.3.3.1 Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d interupsi perdarahan hemoragik

2.2 Tabel Intervensi ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d interupsi perdarahan hemoragik

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam,diharapkan sirkulasi

perifer setabil.

Kriteria hasil:

1. Perfusi jaringan adekuat 2. Status neurologi

normal 3. Ttv dalam batas

normal : TD :

Siastolik : 70-80mmHg Diastol : 90-120 mmHg Suhu : 36,5 – 37,5 0 c

Nadi : 60 – 100

1. Monitor Status neurologi pasien dengan GCS

2. Letakkan kepala agak di tinggikan dengan posisi netral

3. Observvasi TTV

4. Observasi Ukuran ,Bentuk, kesimetrisan dan reaktivitas pupil

5. Observasi penglihatan kabur,ketajaman penglihatan 6. Monitor adanya sakit

Kepala

7. Monitor tingkat kesadaran dan orientasi

8. Monitor Parestesi mati rasa

1.Untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien

2.Agar mengetahui kondisi pasien 3. Mengetahui

perubahan ttv 4. Mengetahui

reaktivitas pupil pasien

5. Agar mengetahui rasa nyeri pada kepala pasien 6. Mengetahui

tingkat kesadaran

(39)

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

4. Pupil Simetris 5. Tidak ada sakit

kepala

Tidak terjadi mati rasa dan kesemutan diarea kulit

atau kesemutan

9. Kolaborasi pemberian analgetik

Pasien

(40)

2.3.3.2 Hambatan mobilisasi fisik b.d penurunan kekuatan otot

2.3 Tabel Intervensi Hambatan mobilisasi fisik b.d penurunan kekuatan otot

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam , diharapkan kekuatan otot meningkat.

Kriteria hasil

1. Pasien dan keluarga

pasien dapat

mendemonstrasikan cara melatih Rom pasif dan Rom aktif

2. Pasien mau

menggunakan alat bantu jalan

3. Vital sign dalam batas normal

TD :

Siastolik : 70-80mmHg Diastol : 90-120 mmHg Suhu : 36,5 – 37,5 0 c Nadi : 60 – 100

1. Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang cara Rom pasif dan Rom aktif

2. Anjurkan pada pasien menggunakan alat bantu jika pasien memerlukan 3. Monitor vital sign

sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan.

4. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan dan ambulasi klien.

1. Agar menambah pengetahuan pasien

2. Mempermudah proses mobilisasi 3. Untuk

mengetahui perubahan tanda vital.

4. Untuk memenuhi kebutuhan

mobilitas,

koordinasi dan kekuatan pada ekstremitas.

(41)

2.3.3.3 Ketidak efektif pola nafas b.d penurunan kesadaran

2.4 Tabel Intervensi ketidak efektif pola nafas b.d penurunan kesadaran

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Setelah dilakukan tindakan

selama 3x24 jam,diharapkan pola nafas pasien kembali efektif.

Kriteria hasil :

1. Tidak ada suara nafas tambahan

2. Kebutuhan CO2 terpenuhi 3. Tidak ada sumbatan pada jalan

nafas

4. Respirasi dan status O2 normal 5. Pola nafas normal

6. Ttv dalam batas normal:

TD : Siastolik : 70-80mmHg Diastol : 90-120 mmHg Suhu : 36,5 – 37,5 0 c Nadi : 60 – 100

1. Auskultasi suara nafas,catat adanya suara tambahan 2. Berikan oksigenasi

sesuai dengan kebutuhan.

3. Observasi jalan nafas

4. Monitor respirasi dan status o2 5. Monitor aliran

oksigen

6. Monitor pola pernapasan

abnormal 7. Monitor ttv

8. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain

1. Agar mengetahui adanya suara nafas tambahan 2. Diharapkan dapat

mempertahankan

CO2 dan

mempercepat pola nafas kembali efektif 3.Untuk

mengetahui polanafas

kembali efektif atau tidak

4.Agar mengetahui oksigen

terpenuhi atau tidak

5.Agar mengetahui

(42)

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Rasional

pemberian suction 6.adanya pola pernapasan abnormal atau tidak

7. Untuk mengetahui perubahan ttv 8. Untuk

mempercepat pola nafas menjadi efektif

(43)

2.3.3.4 Nyeri akut b.d TIK meningkat

2.5 Tabel Intervensi Nyeri akut b.d TIK meningkat

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Setelah dilakukan tindakan

selama 3x24 jam,diharapkan nyeri berkurang.

Kriteria hasil:

1. Pasien dan keluarga mengetahui penyebab nyeri

2. Pasien mau melakukan teknik relaksasi dan distraksi

3. Pasien dapat

mempraktekkan ulang teknik distraksi dan relaksasi

4. Ttv dalambatas normal : TD :

Siastolik : 70-80mmHg Diastol : 90-120 mmHg Suhu : 36,5 – 37,5 0 c

1. Jelaskan pada pasien dan keluarga pasien tentang penyebab nyeri

2. Anjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi dan distraksi 3. Ajarkan pasien

teknik relaksasi dan distraksi 4. Observasi skala

nyeri

5. Observvasi TTV 6. Kolaborasi

dengan dokter dalam pemberian analgetik

1. Untuk menambah pengetahuan pasien dan keluarga pasien 2. Agar pasien

mampu

mengontrol nyeri 3. Untuk melatih

keterampilan pasien dalam teknik

managemen nyeri 4. Mengetahui

tingkat nyeri pasien

5. Mengetahui perubahan ttv 6. Untuk

(44)

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional Nadi : 60 – 100

Skala nyeri0-3

mengurangi nyeri

(45)

2.3.3.5 Ketidak efektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan secret

2.6 Tabel Intervensi Ketidak efektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan secret

Tujuan kriteria hasil Intervensi Rasional Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x24 jam diharapkan jalan nafas kembali normal

Kriteria hasil

1. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali tentang terdapat penyebab penumpukan secret di saluran pernapasan dan kegunaan batuk efekif.

2. Pasien dapat mengeluarkan Secret dari pernafasan

3. Tidak ada penumpukkan secret 4. Ttv dalam batas normal :

TD : Siastolik : 70-80mmHg Diastol : 90-120 mmHg Suhu : 36,5 – 37,5 0 c Nadi : 60 – 100

1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga

mengapa terdapat penumpukan secret di saluran pernapasan dan kegunaan batuk efekif.

2. Ajarkan pasien batuk efektif.

3. Anjurkan pasien dan keluarga untuk di lakukan Suction

4. Auskultasi suara nafas tambahan 5. Monitor ttv

1. Diharapkan agar menambah pengetahuan pada pasien dan keluarga pasien 2. Untuk melatih

melancarkan jalan nafas

3. Untuk mengurangi adanya

penumpukkan

secret dan

durasinya pun dapat dikurangi untuk mencegah bahaya hipoksia.

4. Mengetahui perubahan ttv

(46)

2.3.3.6 Resiko cidera b.d penurunan kekuatan otot

2.7 Tabel Intervensi Resiko cidera b.d penurunan kekuatan otot

Kriteria hasil dan tujuan Intervensi Rasional

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan tidak terjadi cidera

Kriteria hasil

1. Pasien dan keluarga

pasien mampu

menjelaskan kembali tentang bahaya cidera 2. Keluarga pasien mau

menemani pasien 3. Pasien mampu

mempratekkan cara menjaga pasien agar terhindar dari cidera

1. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang bahaya cidera

2. Anjurkan pada keluarga pasien untuk menemani pasien

3. Ajarkan keluarga pasien tentang cara menjaga pasien agar terhindar dari cidera 4. Sediakan side rail

tempat tidur

5. Kontrol lingkungan dari kebisingan

6. Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih

1.Untuk menambah pengetahuan

2.Untuk menjaga pasien agar terhindar dari cidera

3.Untuk menambah keterampilan keluarga pasien

4.Untuk memudahkan pasien dalam berjalan 5. Untuk membuat

pasien nyaman dan tidak gelisah

6. Membuat pasien

nyaman dalam

beristirahat

(47)

2.3.3.7 Defisit perawatan diri mandi b.d ketidak mampuan presepsi kognitif 2.8 Tabel Intervensi Defisit perawatan diri mandi b.d ketidak mampuan presepsi kognitif

Kriteria hasil dan tujuan Intervensi Rasional Setelah dilakukan

tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan pasien mampu merawat diri secara mandiri

Kriteria hasil

1. Pasien dan keluarga

pasien mampu

mengetahui

pentingnya merawat diri

2. Keluarga pasien mau menyeka pasien 3. Keluarga pasien

mampu

mempraktekkan ulang cara menyeka pasien

1. Jelaskan pasien dan keluarga pasien tentang pentingnya merawat diri

2. Anjurkan pasien dan keluarga pasien untuk menyeka pasien

3. Ajarkan pasien dan keluarga pasien cara menyeka pasien

4. Sediakan alat mandi pasien

5. Pantau integritas kulit

1. Agar menambah pengetahuan pasien dan keluarga pasien 2. Untuk menghindari

kulit dari kuman dan bakteri

3. Agar menambah keterampilan pasien dan keluarga dalam membersihkan diri 4. Agar memudahkan

pasien dalam membersihkan diri 5. Agar mengetahui

kelembapan kulit

(48)

2.3.4 Implementasi

Pada diagnosa keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi perdarahan hemoragik dilakukan tindakan keperawatan dalam 1x24 jam dengan melakukan menjelaskan pada pasien dan keluarga mengenai penyebab perubahan sensasi, menganjurkan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau laserasi, memonitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul, Memonitor adanya pretase, memonitor kemampuan BAB, memonitor adanya tromboplebitis ,berkolaborasi pemberian analgetik.

Pada diagnosa keperawatan Hambatan mobilisasi fisik b.d penurunan kekuatan otot dilakukan tindakan keperawatan dalam 1x24 jam dengan menjelaskan pada pasien dan keluarga tentang cara melatih kekuatan otot, menganjurkan pada pasien menggunakan alat bantu jika pasien memerlukan, mengajarkan pasien dan keluarga tentang teknik ambulasi,

mengajarkan pasien dan keluarga cara merubah posisi dan berikan bantuan jika di perlukan, memonitor vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan, berkolaborasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai kondisi pasien.

Pada diagnosa keperawatan Ketidak efektif pola nafas b.d penurunan kesadaran dilakukan tindakan keperawatan dalam 1x24 jam dengan Menjelaskan pada pasien dan keluarga pasien tentang pola nafas

(49)

menganjurkan pada pasien menggunakan bronkodilator bila perlu, mengajarkan pada pasien dan keluarga fisioterapi dada, mengauskultasi suara nafas,catat adanya suara tambahan, memonitor respirasi dan status o2, memonitor aliran oksigen, memonitor pola pernapasan abnormal, memonitor ttv,berkolaborasi dengan tim kesehatan lain pemberian suction.

Pada diagnosa keperawatan Nyeri akut b.d TIK meningkat dilakukan tindakan keperawatan dalam 1x24 jam dengan Menjelaskan pada keluarga pasien tentang penyebab nyeri menganjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi dan distraksi, mengajarkan pasien teknik relaksasi dan distraksi, mengobservasi skala nyeri, mengobservvasi TTV, berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik.

Pada diagnosa keperawatan Ketidak efektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan secret dilakukan tindakan keperawatan dalam 1x24 jam dengan menjelaskan pada pasien and keluarga pasien tentang pentingnya jalan nafas, menganjurkan pasien dan keluarga nafas dalam sebelum pemberian suction, mengajarkan pasien dan keluarga cara melakukan suction, melakukan fisioterapi dada, memberikan bronkodilator, memonitor respirasi dan status o2 , memonitor status oksigen pasien, berkolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian suction.

Pada diagnosa keperawatan Resiko cidera b.d penurunan kekuatan otot dilakukan tindakan keperawatan dalam 1x24 jam dengan menjelaskan pada pasien dan keluarga tentang bahaya cidera, menganjurkan pada keluarga pasien untuk menemani pasien, mengajarkan pasien dan keluarga pasien tentang cara menjaga pasien agar terhindar dari cidera,

(50)

menyediakan side rail tempat tidur, mengontrol lingkungan dari kebisingan, menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih.

Pada diagnosa keperawatan Defisit perawatan diri mandi b.d kelemahan ototdilakukan tindakan keperawatan dalam 1x24 jam dengan menjelaskan pasien dan keluarga pasien tentang pentingnya merawat diri, menganjurkan pasien dan keluarga pasien untuk menyeka pasien, mengajarkan pasien dan keluarga pasien cara menyeka pasien, menyediakan alat mandi pasien, memantau integritas kulit.

2.3.5 Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien ( Hasil yang diamati ) dengan tujuan dan kriteria hasil yang di buat (Rohmah, N. 2014).

Pada Diagnosa Keperawatan Ketidakefektifan Perfusi jaringan Serebral berhubungan dengan interupsi perdarahan hemoragik di harapkan pasien dan keluarga pasien mengetahui tentang penyebab peruban sensasi, Pasien mau melakukan observasi kulit, Tidak ada pretase, Tidak ada tromboplebitis.

Pada Diagnosa Keperawatan Hambatan mobilisasi fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot di harapkan Pasien dan keluarga pasien tau cara melatih kekuatan otot, Pasien mau menggunakan alat bantu jalan, Pasien dan keluarga pasien mampu mempratekkan teknik ambulasi, Vital sign dalam batas normal.

(51)

Pada Diagnosa Keperawatan Ketidak efektif pola nafas berhubungan dengan penurunan kesadaran di harapkan pasien dan keluarga pasien mengethui tentang pola nafas, pasien mau menggunakan bronkodilator, tidak ada suara nafas tambahan, pola nafas normal.

Pada Diagnosa Keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tik di harapkan Pasien dan keluarga mengetahui penyebab nyeri, Pasien mau melakukan teknik relaksasi dan distraksi, Pasien dapat mempraktekkan ulang teknik distraksi dan relaksasi, Skala nyeri0-3.

Pada Diagnosa Keperawatan Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret di harapkan Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali tentang pentingnya bersihan jalan nafas, Pasien dan keluarga pasien mau melakukan batuk efektif, Pasien dan keluarga pasien mampu melakukan teknik fisioterapi yang benar, Tidak ada suara nafas tambahan, Ttv dalam batas normal (TD : Siastolik : 70- 80mmHg, Diastol : 90-120 mmHg, Suhu : 36,5 – 37,5 0 c, Nadi : 60 – 100).

Pada Diagnosa Keperawatan Resiko Cidera berhubungan dengan penurunan kekuatan otot di harapkan Pasien dan keluarga pasien mampu menjelaskan kembali tentang bahaya cidera, Keluarga pasien mau menemani pasien, Pasien mampu mempratekkan cara menjaga pasien agar terhindar dari cidera

(52)

Pada Diagnosa Keperawatan Defisit perawatan diri mandi berhubungan dengan ketidak mampuan presepsi kognitif di harapkan Pasien dan keluarga pasien mampu mengetahui pentingnya merawat diri, Keluarga pasien mau menyeka pasien, Keluarga pasien mampu mempraktekkan ulang cara menyeka pasien.

(53)

2.4 Pathway

Infark serebri

Cerebrum Cerebelum Batang

otak Frontal: gg.

Kepribadian ,perilaku,

motorik

Parietal: gg.

Sensasi rasa, pengecap, dan

bau gg. pengaturan

posisi &letak tubuh

gg. koordinasi

& gerakan halus, gerakan

yang benar, keseimbangan

posisi, integrasi input

sensori

Otak tengah:

gg. Reflek, pendengaran

&

penglihatan

Pons: gg.

Sensorik, control jantung, pernafasan,

TD Trauma

kepala

Malformasi arterivenosa

Aneurisme Merokok Diskrasia darah Elastisitas

pembuluh darah menurun

Trombus

Embolus otak

Penyumbatan pembuluh darah

otak

Rupture/

pecah PD

Peningkatan TD

Penurunan suplai O2

Ganguan perfusi jaringan serebral

PD dilatasi

Pelebaran PD meningkat TIK

meningkat

Hipoksia

Asidosis

Iskemik

(54)

Gambar 2.1 Pathway CVA Bleeding (Smeltzer C. Suzanne (2002) dalam buku Asuhan Keperawatan Neurologi (2017)).

Frontal: gg.

Kepribadian ,perilaku,

motorik

Parietal: gg.

Sensasi rasa, pengecap, dan

bau gg. pengaturan

posisi &letak tubuh

gg. koordinasi

& gerakan halus, gerakan

yang benar, keseimbangan

posisi, integrasi input

sensori

Otak tengah:

gg. Reflek, pendengaran

&

penglihatan

Pons: gg.

Sensorik, control jantung, pernafasan,

TD

Kelemahan otot/

paralisis

Hambatan Mobilitas Fisik

Kontraktur

Resti Cidera

Penekanan pusat reflek

Penekanan pusat nafas

Reflek batuk berkurang

Gangguan Pola Nafas

Ketidakefektifan bersihan jalan

nafas Kelemahan

otot spicter

Gangguan motoric bicara

Inkontinensia urin/ feses

Gangguan komunikasi

verbal

Defisit perawatan diri

(55)

BAB 3

TINJAUAN KASUS 3.1 Pengkajian

Data diambil pada tanggal 13 Januari 2020 pukul 17.20 Ny. K MRS pada tanggal 12 Januari 2020. Ny. K dirawat diruang Krisan kelas III dengan nomor rekam medic 414xxx dengan diagnose medis CVA Bleeding.

3.1.1 Identitas Klien

Pasien bernama ny. K (PR) sebagai Petani berusia 57 tahun beragama Islam, dan bertempat tinggal di desa Panditan Lumbang, Pasuruan.

3.1.2 Identitas Penanggung Jawab

Anak pasien bernama Ny. M (PR) berusia 33 tahun, beragama Islam, bekerja sebagai Petani.

3.1.3 Riwayat Keperawatan

3.1.3.1 Riwayat Keperawatan Sekarang

1) Keluhan utama: keluarga pasien mengatakan tangan dan kaki kiri pasien kesemutan, tidak dapat digerakkan .

2) Riwayat penyakit saat ini: keluarga pasien mengatakan setelah pasien pulang dari bekerja badan pasien tampak lemas,tangan dan kaki pasien sebelah kiri tidak dapat di gerakkan .pasien dibawa ke IGD RSUD Bangil pada hari Minggu tanggal 12 January 2020 pukul 17.00. dari IGD kondisi pasien sadaran diri tekanan darah pasien 180/90 pasien mendapatkan obat penurun tekanan darah. pasien di pindahkan di ruang krisan pada hari Senin tanggal 13 January 2020 pukul 01.00.

40

(56)

Masalah keperawatan: Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral 3.1.3.2 Riwayat Keperawatan Sebelumnya

1) Penyakit yang pernah diderita: keluarga pasien mengatakan pasien pernah menderita hipertensi sejak 2 tahun yang lalu.

2) Operasi: keluarga pasien mengatakan pasien tidak pernah melakukan operasi.

3) Alergi : keluarga pasien mengatakan tidak meiliki riwayat alergi 3.1.3.3 Riwayat Kesehatan Keluarga

1) Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga: pasien mengatakan orangtua pasien pernah mempunyai riwayat penyakit Hipertensi

2) Lingkungan rumah dan komunitas: pasien mengatakan lingkungan rumahnya bersih dan ventilasi baik

3) Perilaku yang mempengaruhi kesehatan: keluarga pasien mengatakan pasien sering mengkonsumsi makanan yang asin.

4) Presepsi dan pengetahuan tentang Penyakit dan Penatalaksanaannya:

Saat di tanyakan pengetahuan pasien tentang penyakit yang di derita pasien saat ini ,pasien tidak mengetahui dan tidak mengetahui bagaimana cara menangani penyakitnya. Pasien tampak bingung, pasien sering bertanya kepada petugas medis kapan diperbolehkan pulang.

(57)

3.1.4 Status Cairan dan Nutrisi

Tabel 3.1 Status Cairan dan Nutrisi pada Ny K. dengan diagnosa medis (Cerebral Vascular Acident Bleeding)

Status Cairan dan Nutrisi

Sebelum Sakit Sesudah sakit

Nafsu makan Baik Menurun

Pola makan 3x1 porsi habis 3x ,3-2 Sendok

Minum: jenis:

Jumlah:

Air putih 2000 cc / hari

susu 600 cc / hari

Pantangan makan Tidak ada Makanan tinggi Natrium

Menu makan Nasi, lauk, sayur Nasi tim, lauk, sayur Berat badan Keluarga pasien

mengatakan BB pasien sebelum sakit 48 kg

Keluarga pasien mengatakan BB pasien saat sakit 48 kg Keluhan lain: tidak ada

Masalah keperawatan: Tidak Ada Masalah Keperawatan 3.1.5 Genogram

Gambar 3.1. Genogram Pada Ny.K 3.1.6 Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum: lemah 2) Tanda-Tanda Vital

Tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 36,5oC (lokasi pengukuran:

temporal), nadi 84x/menit (lokasi perhitungan: radialis), dan RR 20x/menit. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

Ket:

= laki- laki = perempuan = pasien

= tinggal 1 rumah

(58)

3) Sistem Respirasi (B1)

Inspeksi: bentuk dada simetris, susunan ruas tulang belakang normal, irama nafas teratur, retraksi otot bantu nafas (-), alat bantu nafas: tidak ada alat bantu nafas, nyeri dada (-), batuk (-), sputum (-).

Palpasi: vocal fremitus sama kanan - Kiri Perkusi: terdengar suara sonor

Auskultasi: tidak ada suara nafas tambahan

Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan 4) Sistem Kardiovaskuler (B2)

Inspeksi: nyeri dada (-), sianosis (-), clubbing finger (-), JVP (-) Palpasi: ictus cordis tidak teraba, CRT <3 detik, nyeri tekan (-)

Perkusi: terdengar suara redup/pekak, letak jantung masih dalam batas normal di ICS II sternalis dextra sinistra sampai dengan ICS V midclavicula sinistra

Auskultasi: suara jantung S1 S2 tunggal

Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan 5) Sistem Persyarafan (B3)

Inspeksi: kesadaran Composmentis, orientasi Baik, kejang (-), kaku kuduk(-), brudzinsky (-), nyeri kepala (-), pusing (-),pupil : isokor, Reflek Cahaya:Normal, kelainan nervous cranialis : Vestibulo Coclearis (8).

Lain-Lain: Keluarga pasien mengatakan saat dirumah pasien dapat mendengar dengan jelas , saat dikaji terdapat penurunan ketajaman pendengaran.

(59)

Masalah keperawatan: Resiko Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral

6) Sistem Genitourinaria (B4)

Inspeksi: pasien tidak memakai alat bantu kateter dan urine bag, jumlahnya <1300 cc/24 jam, urine berwarna kuning, berbau khas.

Palpasi: nyeri tekan pada simfisis pubis (-)

Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan 7) Sistem Pencernaan (B5)

Inspeksi: mulut simetris, mukosa bibir lembab, kesulitan menelan (-), pembesaran tonsil (-), BAB 1x sehari, konsistensi lembek, warna kuning, bau khas, tempat yang digunakan Kamar Mandi.

Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada abdomen Perkusi: terdengar suara timpani

Auskultasi: bising usus terdengar 10x/menit

Masalah keperawatan: tidak ada masalah keperawatan 8) Sistem Musculoskeletal dan Integument (B6)

Inspeksi: oedema (-), kemampuan pergerakan sendi terbatas, warna kulit coklat, ADL: semua kegiatan dibantu oleh keluarga seperti ke kamar mandi dan makan .

Palpasi: CRT < 3 detik, turgor kulit > 3 detik, akral hangat kekuatan otot 5 3

5 3

Masalah keperawatan: Hambatan mobilitas fisik

(60)

9) Sistem Penginderaan (B7) Terjadi penurunan pendengaran

Masalah keperawatan: tidak ada masalah keperawatan 10) Sistem Endokrin (B8)

Inspeksi: gangrene (-), pus (-), bau (-)

Palpasi: pembesaran kelenjar tyroid (-), pembesaran kelenjar parotis (-) Masalah keperawatan: tidak ada masalah keperawatan

11) Data Psikososial

(1) Gambaran Citra Diri:

Keluarga pasien mengatakan pasien sangat senang dan sangat bangga pada tubunya dan bila pasien kehilangan anggota tubuhnya pasien akan sedih.

(2) Identitas

Keluarga pasien mengatakan status pasien adalah ibu dan nenek, keluarga pasien mengatakan puas menjadi seorang ibu dan nenek, dan merasa puas dengan jenis kelaminnya.

(3) Peran

Keluarga pasien mengatakan pasien cepat sembuh dan dapat menjalankan perannya sebagai seorang ibu dan nenek.

(4) Ideal diri

Keluarga pasien mengatakan berharap pasien bisa cepat sembuh dan dapat beraktivitas seperti biasanya, keluarga pasien mengatakan pasien berharap keluarganya selalu harmonis, dan

(61)

berharap masyarakat mau menerima keberadaanya, untuk tenaga kesehatan pasien berharap mendapat pelayanan yang baik

(5) Harga diri

Keluarga pasien mengatakan pasien sangat menjunjung tinggi harga dirinya.

(6) Data sosial

Keluarga pasien mengatakan hubungan pasien dengan keluarga dan pasien lain sangat baik, pasien mendapatkan dukungan yang tulus dari keluarga, pasien dapat berinteraksi dengan baik.

Masalah keperawatan: tidak ada masalah keperawatan 12) Data spiritual

Keluarga pasien mengatakn pasien percaya adanya Allah SWT, sumber kekuatan pasien adalah keluarga, ibadah yang mampu dilakukan secara mandiri adalah berdoa, keluarga pasien yakin sembuh dan menganggap bahwa sakit adalah sebuah ujian..

Masalah keperawatan: tidak ada masalah keperawatan 13) Data penunjang

Tabel 3.2 Hasil Laboratorium Kimia Klinik tanggal 14-01-2020

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Trigliserida H 155 < 150 Nilai Kritis > 500 mg/dL Kolesterol Total 183 < 200 mg/dL

Kolesterol HDL 44,17 >44 mg/dL Kolesterol LDL H 107,65 < 100 mg/dL

(62)

BUN 20 7,8 - 20,23 Nilai Kritis : > 100 mg/dL Kreatinin 0,803 0,6 - 1,0 mg/dL

Asam Urat 5,31 2,3 - 6,1 Nilai Kritis : > 12 mg/dL

Natrium (NA) H 148,00 135 - 147 Nilai Kritis : <120 or > 160 mmol/L

Kalium (K) 3,52 3,5 - 5 Nilai Kritis : < 3 or > 6,1 mmol/L Klorida (CI) H 106,00 95 - 105 Nilai Kritis : < 80 or > 115 mmol/L Kalsium ION 1,260 1,16 - 1,32 Nilai Kritis : < 0,78 or > 1,58

mmol/L

Tabel 3.3 Hasil Radiologi (13-01-2020)

Ts, Yth , Hasil pemeriksaan MSCT Scan Kepala tanpa Kontras :

- Tampak Perdarahan pada Capsula Interna Kanan, Volume : 9,67 ml - Sulci dan gyri tampak baik

- Ventrikel interalis kanan menyempit - Pons cerebellumnormal

- Tampak midline shift ke kiri - Tak tampak kalsifikasi abnormal

- Orbita , mastoid dan sinus paranasules kanan kiri normal - Calvoria Normal

Kesan

ICH , Volume : 9,67 ml

(63)

14) Terapi (20-01-2020)

(1) Infus Asering 1000 cc/24 jam

(2) Injeksi omeprazole 1x40 mg dalam 10 ml (3) Injeksi ondansentron 2x40 mg dalam 5 ml (4) Injeksi Antrain 3x1gr dalam 5 ml

(5) Injeksi Citicoline 2x500 mg dalam 5 ml (6) Injeksi Kalmeco 1x500 mg

(64)

3.2 Diagnosa Keperawatan 3.2.1 Analisa Data

Tabel 3.4 Analisa Data pada Ny. K umur 57 Dengan Diagnosa Medis Resiko Ketidakefektifan perfusi jaringan Cerebral

di ruang Krisan RSUD Bangil

No Data Etiologi Masalah

1 DS: Keluarga pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit pasien dapat mendengar dengan normal, setelah pasien sakit dan di rawat di rumah sakit pendengaran pasien mulai berkurang

DO: Keadaan umum: lemah Kesadaran : Composmentis GCS:4-5-6

Saat di kaji ,pada saat berbicara dengan pasien harus dengan suara lebih lantang

CRT: < 3 detik

TTV: TD : 120/80 mmHg Nadi: 84 x/menit Suhu: 36,5oC RR : 20 x/menit Hasil Foto Radiologi :

Tampak perdarahan pada capsula interna kanan ,Volume : 9,67 ml

Hematoma Cerebral

Resiko

Ketidakefektifan perfusi jaringan Cerebral

(65)

No. Data Etiologi Masalah 2 Ds: Keluarga pasien megatakan

tangan dan kaki kiri pasien kesemutan.

DO: Keadaan umum: Lemah Kesadaran :composmentis GCS:4-5-6

Kekuatan otot otot 5 3

5 3

ADL : Semua kegiatan dibantu oleh keluarga seperti ke kamar mandi

dan makan .

TTV: TD : 120/80 mmHg Nadi: 84 x/menit Suhu: 36,5oC RR : 20 x/menit

Kelemahan Kekuatan otot

Hambatan Mobilitas fisik

3 DS: Pasien mengatakan tidak mengetahui penyakit yang diderita

DO: Pasien tampak bingung, pasien sering bertanya kepada

petugas medis kapan

diperbolehkan pulang.

Kurang Informasi

Defisit Pengetahuan

(66)

3.2.2 Daftar Masalah Keperawatan

1) Resiko Ketidakefektifan perfusi jaringan Cerebral 2) Hambatan Mobilitas fisik

3) Defisit Pengetahuan

3.2.3 Diagnosa Berdasarkan Prioritas

1) Resiko Ketidakefektifan perfusi jaringan Cerebral b.d Hematoma Cerebral

2) Hambatan Mobilitas fisik b.d Kelemahan kekuatan otot 3) Defisit Pengetahuan b.d Kurangnya informasi

(67)

3.3 Intervensi Keperawatan

Tabel 3.5 Intervensi Resiko Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d Hematoma Cerebral pada Ny. K umur 57 di ruang Krisan RSUD Bangil RM 414xxx

No Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional 1 Setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 3x24 jam,diharakan tidak terjadi gangguan perfusi cerebral.

Kriteria Hasil:

1. Fungsi pendengaran mulai meningkat 2. GCS pasien normal 4-

5-6

3. TTV dalam batas normal:

TD Sistol : 100 -120 mmHg Diastol : 60 - 80 mmHg Nadi : 60 - 90 x/menit Suhu : 36,5o - 37,5 o C RR : 15 - 20 x/menit

1. Monitor status neurologi pasien dengan GCS 2. Monitor

tingkat kesadaran dan orientasi 3. Monitor

adanya nyeri kepala 4. Observasi

TTV

5. Kolaborasi pemberian terapi

1. Agar mengetahui perubahan GCS pasien

2. Untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien

3. Untuk mengetahui peningkatan TIK

4. Untuk mengetahui perubahan TTV Pasien

5. Untuk

mempercepat proses

peyembuhan pasien

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini pantai yang diamati sebanyak 3 pantai dari total 8 pantai yang ada di Pulau Mangkai. Dari 8 pantai tersebut, 6 pantai berada di Pulau

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Cirebon adalah perusahaan milik Pemerintah Daerah Kota Cirebon yang melayani penyediaan air bersih kepada warganya, yang

Pasien dengan RMS embryonal yang terjadi di daerah yang memiliki prognosis baik (Stage I), atau pada daerah dengan prognosis buruk tapi dengan reseksi komplet

Pihak Pertama berjanji akan mewujudkan target kineija yang seharusnya sesuai iampiran perjanjian ini, dalam rangka mencapai target kinerja jangka menengah seperti yang lelah

Hasil yang didapatkan yaitu adanya perbedaan yang bermakna setelah aplikasi pasta buah stroberi terhadap perubahan warna dan kekerasan permukaan enamel, sehingga dapat disimpulkan

Pemberian jus Aloe vera dengan dosis 2ml/hari, 3ml/hari, 4 ml/hari selama 15 hari pada tikus putih Wistar jantan hiperlipidemia terbukti mampu menurunkan

Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Melalui Permainan Ular Tangga Akuntansi terhadap Motivasi Belajar Pada Mata Pelajaran Hitung Dagang (Studi Pada Sekolah

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh profitabilitas, ukuran perusahaan, likuiditas, dan solvabilitas terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaan