• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pada Proses Pengadaan Bahan Konstruksi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kebijakan Pada Proses Pengadaan Bahan Konstruksi."

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

KONSTRUKSI

Rd. Muhammad Rumansyah Hambali NRP : 0121014

Pembimbing : Ir. Maksum Tanubrata, MT. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG

ABSTRAK

Pelaksanaan setiap proyek mencakup pemprosesan bahan-bahan yang akan menjadi bagian dari bangunan. Karena biaya bahan menyerap 50-70% dari biaya proyek, maka proses pengadaan bahan yang baik pada suatu proyek sangat diperlukan, sehingga didapat suatu proyek yang ekonomis.

Pembuatan perencanaan yang disusun diawal proses pengadaan bahan, akan mempermudah kontraktor untuk mengatur kedatangan bahan yang diperlukan. Dari kesemuanya itu yang terpenting adalah kebijakan yang digunakan kontraktor untuk mewujudkannya di lapangan/proyek.

Pada proyek konstruksi yang lumayan besar seperti proyek CC ITB, mutlak diperlukan suatu kebijakan pada proses pengadaan bahan yang efektif dan efisien. Selain itu juga diperlukan koordinasi yang baik secara kesinambungan dalam memberdayakan bahan-bahan tersebut.

Proses pengadaan bahan yang dilakukan pada suatu proyek dapat berbeda dengan proyek lainnya, begitu juga kebijakan yang diterapkan, tergantung pada kebiasaan, kesepakatan, dan kondisi proyek tersebut. Proses pengadaan bahan yang dilakukan PT.PP selaku kontraktor pada proyek CC ITB secara keseluruhan telah mengikuti prosedur yang berlaku dan dengan pengendalian yang diterapkan PT.PP, semua proses pengadaan bahan bisa diwujudkan dengan baik dilapangan.

(2)

Halaman

SURAT KETERANGAN TUGAS AKHIR ……….i

SURAT KETERANGAN SELESAI TUGAS AKHIR ………..ii

ABSTRAK ………...iii 1.1 Latar Belakang Masalah ……….. 1

1.2 Maksud dan Tujuan Penulisan . ………... 3

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ……… 3

1.4 Sistematika Pembahasan ……….. 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Bahan Konstruksi ………... 5

2.1.1 Bahan permanen ……… 6

2.2.2 Bahan sementara ………. 7

2.2 Hubungan Antara Engineering, Pengadaan, dan Konstruksi ………... 7

2.3 Pembelian Bahan Konstruksi ………... 9

(3)

2.3.2 Menentukan jumlah bahan yang akan dipesan ……… 10

2.3.3 Ketersediaan fasilitas penyimpanan dan handling …………... 11

2.3.4 Lokasi proyek menentukan kebijakan penggadaan bahan …... 12

2.3.5 Menerapkan prinsip hubungan kerja sama dengan mitra kerja (pemasok/supplier) ………..……….. 12

2.3.6 Menguasai informasi dan deskripsi mutu ……… 13

2.3.7 Menguasai rencana pembelian yang taktis ……….. 14

2.3.8 Menguasai peraturan/prosedur pembelian yang ditetapkan perusahaan ……….. 14

2.4 Prosedur Pengadaan Bahan ………... 15

2.4.1 Tahapan perencanaan ………... 15

2.4.2 Tahapan seleksi untuk pemasok / supplier ………... 15

2.4.3 Tahapan pembelian bahan konstruksi ……….. 16

2.4.4 Tahapan pengiriman bahan konstruksi ……… 21

2.4.5 Tahapan penerimaan bahan konstruksi ……… 23

2.4.6 Tahapan penyimpanan bahan konstruksi ………. 26

2.4.7 Tahapan pengeluaran bahan konstruksi ………... 29

2.4.8 Tahapan pembayaran bahan konstruksi ……….. 31

2.4.9 Tahapan evaluasi ………. 32

2.5 Persediaan Pengaman ……… 32

2.5.1 Konsep persediaan pengaman ……….. 32

2.5.2 Persediaan pengaman tersembunyi ……….. 36

2.6 Metode Pengendalian Persediaan Bahan Konstruksi ..………. 37

(4)

2.6.2 Hukum Pareto dan aplikasinya ……… 41

2.6.3 MRP (Material Requirement Planning) ………... 43

2.6.4 Titik pemesanan berdasarkan rentang waktu ……….. 46

2.6.5 Persediaan adalah pembororsan ..………. 48

BAB 3 STUDI KASUS 3.1 Diagram Alir Penelitian ……… 51

3.2 Proses Pengadaan Bahan Konstruksi ……… 53

3.2.1 Proses perencanaan ……….. 53

3.2.2 Proses seleksi dan negosiasi terhadap produsen /kontak agen ………. 56

3.2.3 Proses pembelian bahan/material konstruksi …..……… 58

3.2.4 Proses pengiriman bahan/material konstruksi ………. 61

3.2.5 Proses penerimaan bahan/material konstruksi ………. 67

3.2.6 Proses penyimpanan bahan/material konstruksi …….……... 69

3.2.7 Proses pengeluaran bahan/material konstruksi ……… 72

3.2.8 Proses pembayaran bahan/material konstruksi ……….... 74

3.2.9 Proses evaluasi produsen dan sub kontraktor………... 79

3.3 Persediaan Pengaman Pada Proyek CC ITB ………... 82

3.4 Metode Pengendalian PT.PP Dalam Memenuhi Persediaan Bahan di Proyek.. ………. 83

BAB 4 ANALISIS MASALAH 4.1 Analisis Proses Pengadaan Bahan Konstruksi ….………. 85

4.1.1 Analisis perencanaan ………... 85

(5)

4.1.3 Analisis pembelian bahan/material konstruksi …..………….. 92

4.1.4 Analisis pengiriman bahan/material konstruksi ………... 94

4.1.5 Analisis penerimaan bahan/material konstruksi ……….. 95

4.1.6 Analisis penyimpanan bahan/material konstruksi …….…... 96

4.1.7 Analisis pengeluaran bahan/material konstruksi ………. 99

4.1.8 Analisis pembayaran bahan/material konstruksi …………... 99

4.1.9 Analisis evaluasi produsen dan sub kontraktor………. 100

4.2 Analisis Persediaan Pengaman Pada Proyek CC ITB ……….. 101

4.3 Analisis Metode Pengendalian PT.PP Dalam Memenuhi Persediaan Bahan di Proyek ..……… 102

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ………... 116

5.2 Saran ………. 118

DAFTAR PUSTAKA………. 119

LAMPIRAN ………... 120

(6)

Halaman

Tabel 2.1 Contoh jawaban soal ………. 47

Tabel 4.1 Analisis secara tabelaris ……… 105

(7)

Halaman

Gambar 2.1 Hubungan antara kegiatan engineering, pembelian dan

konstruksi ………... ..8

Gambar 2.2 Contoh Daftar Permintaan pembelian (halaman 1) ………... 20

Gambar 2.3 Contoh laporan penerimaan material ………... 25

Gambar 2.4 Siklus pembelian ……… 30

Gambar 2.5 Tingkat Persediaan dengan Permintaan Konstan dan Waktu Pemesanan Konstan ……….... 32

Gambar 2.6 Tingkat Persediaan dengan Permintaan Konstan dan Waktu Pemesanan Terlambat .……… 33

Gambar 2.7 Tingkat Persediaan dengan Kenaikan Permintaan dan Waktu Pemesanan Konstan ……… 34

Gambar 2.8 Tingkat Persediaan dengan Persediaan Pengaman ………. 35

Gambar 2.9 Proses dalam MRP ………... 44

Gambar 3.1 Diagram alir program kerja ………. 52

Gambar 3.2 Flow chart pelaksanaan angkutan ………... 66

Gambar 3.3 Diagram alir penerimaan bahan konstruksi ……… 69

Gambar 3.4 Diagram alir pengeluaran bahan/material ………... 73

Gambar 3.5 Diagram alir pembayaran kepada supplier ………. 78

Gambar 3.6 Diagram alir pengadaan bahan/material konstruksi ………82

(8)

/ = Atau.

ADO = Assisten Direktur Operasi.

ASTM = American Society for Testing Materials.

BPG = Bon Penerimaan Gudang.

BPPB = Bon Permintaan Pengeluaran Bahan.

BQ = Bill of Quality.

CC ITB = Campus Center Institut Teknologi Bandung.

DIR = Direksi.

DVO = Divisi Operasional II.

DK = Direktur Keuangan.

DO = Direktur Operasi.

DU = Direktur Utama.

EOQ = Economic Order Quantity.

FIFO = First In First Out.

ISO = International Organisation for Standardization.

ITO = Inventory Turnover.

JIS = Japan Industrial Standart.

JIT = Just In Time.

KBA = Kepala Bagian Administrasi.

KBT = Kepala Bagian Teknik.

KDVO = Kepala Divisi Operasional II.

(9)

LPS = Laporan Prestasi Sub-kontraktor.

MDVK = Kepala Divisi Keuangan.

MDVO = Kepala Divisi Operasi.

MRO = Maintenance, Repair and Operation.

MRP = Material Requirement Planning.

NCL = Non Cash loan.

PC = Portland Cement.

PENBAR = Petugas penerima barang.

PM = Project Manager.

PO = Purchase Order.

QC = Quality Control.

RAB = Rancangan Anggaran Biaya.

RAPK = Rencana Anggaran Proyek Kendali.

S1 = Design Engineering.

S2 = Pembelian.

S3 = Penyerahan Barang.

S4 = Konstruksi.

SEM = Site Engineering Manager.

SKBDN = Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri

SNI = Standart Nasional Indonesia.

SOM = Site Operational Manager.

SP = Super Intendent.

SP = Surat Pesanan.

(10)

SPK = Surat Perintah Kerja.

SPP = Surat Permintaan Pembelian.

SR = Schedule Receipts.

ST log = Staff Logistik.

T/T = Telegrafic Transfer.

(11)

Halaman

Lampiran 1 Schedule pendatangan material dan standby alat berat………… 120

Lampiran 2 Schedule pendatangan material besi beton ………. 121

Lampiran 3 Formulir surat permintaan pembelian (SPP) ………...122

Lampiran 4 Formulir seleksi dan negosiasi produsen/kontak agen ………… 123

Lampiran 5 Formulir daftak induk produsen dan kontak agen terseleksi ….. 124

Lampiran 6 Daftar nama produsen/kontak agen ……… 125

Lampiran 7 Formulir surat pesanan (SP) ………126

Lampiran 8 Formulir konfirmasi pesanan ……….. 127

Lampiran 9 Surat perintah kerja angkutan ………. 128

Lampiran 10 Surat tanda terima penyerahan barang………. 133

Lampiran 11 Contoh surat jalan dari supplier ……….. 134

Lampiran 12 Form cap untuk penerimaan barang langsung ……….135

Lampiran 13 Formulir bon penerimaan gudang (BPG) ………... 136

Lampiran 14 Contoh pengisian berita acara serah terima barang ……… 137

Lampiran 15 Contoh pengisian kartu stock harian ………... 138

Lampiran 16 Denah gudang tertutup ……… 139

Lampiran 17 Ruangan los kerja besi dan kayu ………. 140

Lampiran 18 Contoh pengisian bon permintaan dan pengeluaran barang …... 141

Lampiran 19 Contoh surat permohonan MDVO kepada MDVK ……… 142

Lampiran 20 Contoh daftar nama proyek yang membutuhkan ……… 144

(12)

Lampiran 22 Contoh stempel untuk Evaluasi produsen / kontak agen………. 147

Lampiran 23 Rekap hasil evaluasi produsen/kontak agen ………... 148

Lampiran 24 Stempel untuk evaluasi sub kontraktor ………... 149

Lampiran 25 Rekap hasil evaluasi sub kontraktor ………... 150

Lampiran 26 Daftar kegiatan yang terlambat direalisasikan ……… 151

(13)

sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu

termasuk hal-hal yang diutamakan

(Asy-Syu

ra

42 : 43)

Kupersembahkan untuk papah, mamah

(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)

Lampiran 11 Contoh Surat Jalan Dari Supplier

(30)
(31)
(32)
(33)

Lampiran 15 Contoh Pengisian Kartu Stock Harian

(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)

Lampiran 23 Rekap Hasil Evaluasi Produsen/Kontak Agen

(44)

Lampiran 24 Stempel Untuk Evaluasi Sub Kontraktor

(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan setiap proyek rekayasa mencakup pengadaan dan pemprosesan

bahan-bahan yang akan menjadi bagian dari bangunan. Disamping bahan-bahan

yang menjadi bagian dari bangunan diperlukan juga pengadaan dan penggunaan

(66)

digunakan dalam pelaksanaan pembangunan (misalnya bahan bakar, bahan untuk

perancah, suku cadang alat-alat konstruksi, dll.).

Pemakaian material merupakan bagian terpenting yang mempunyai

persentase cukup besar dari total biaya proyek. Dari beberapa penelitian

menyatakan bahwa biaya material menyerap 50-70% dari biaya proyek, biaya ini

belum termasuk biaya penyimpanan material. Penggunaan teknik manajemen

yang baik dan tepat untuk membeli, menyimpan, mendistribusikan, dan

menghitung material konstruksi menjadi sangat penting, karena nantinya bisa

berpengaruh besar pada biaya pelaksanaan proyek.

Pada dasarnya usaha untuk meningkatkan daya saing perusahaan dapat

dilakukan dengan melakukan upaya-upaya penghematan biaya. Mengingat

tingginya nilai biaya bahan dalam suatu proyek, yaitu rata-rata mencapai 70% dari

seluruh biaya pelaksanaan proyek, maka setiap usaha untuk meningkatkan

keuntungan perusahaan sangat tergantung pada efisiensi dan efektifitas kegiatan

pembelian bahan, karena jika tidak bisa mengakibatkan kerugian yang tidak

terduga.

Disamping itu, bahan juga bersifat fluktuatif dan rawan terhadap kenaikan

harga, sehingga berada dalam jalur kritis dan mendominasi kebutuhan proyek.

Kenaikan harga bahan harus diantisipasi pada saat tender, pemesanan, maupun

penyimpanan, terutama untuk bahan strategis seperti semen, besi beton, dan

plywood.

Oleh karena itu, pengelolaan bahan perlu dilakukan dengan baik, dengan

cara menerapkan kebijakan dalam pengadaan bahan konstruksi, baik pada proyek

(67)

1.2 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penulisan tugas akhir ini adalah menganalisis kebijakan pada

proses pengadaan bahan konstruksi yang digunakan kontraktor di

lapangan/proyek.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat luasnya cakupan pada tahap pengadaan bahan konstruksi pada

proyek konstruksi ini, maka dilakukan pembatasan ruang lingkup pembahasan

sebagai berikut :

- Pada proyek Campus Center ITB, Jalan Ganesha No. 10 Bandung.

- Total volume kebutuhan bahan dan biaya kebutuhan bahan pada proyek Campus

Center ITB tidak dibahas, karena pada tugas akhir ini hanya membahas

kebijakan pada proses pengadaan bahan konstruksi yang dilakukan di proyek

tersebut.

- Mutu bahan tidak dibahas, karena dianggap sesuai dengan spesifikasi yang

direncanakan.

- Material bahan yang digunakan dianggap tersedia dipasaran sehingga tidak

memerlukan bahan pengganti.

1.4 Sistematika Penelitian

Sistematika pembahasan dari penulisan tugas akhir ini adalah sebagai

(68)

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini membahas mengenai latar belakang, maksud dan tujuan permasalahan,

pembatasan masalah, dan sistematika penulisan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan tentang studi pustaka dan landasan teori mengenai

pokok-pokok masalah yang akan dibahas.

BAB 3 STUDI KASUS

Bab ini membahas tentang proses pengadaan bahan yang sedang berlangsung

pada proyek konstruksi dan segala hal yang mendukung kelangsungan proses

pengadaan bahan di proyek.

BAB 4 ANALISIS MASALAH

Bab ini membahas tentang analisis yang mengacu pada landasan teori yang

tercantum pada BAB 2 tentang kebijakan pada proses pengadaan bahan konstruksi

di lapangan, yang mana data teknisnya bisa dilihat pada BAB 3.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi mengenai kesimpulan dan saran yang dapat diambil setelah

(69)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Walaupun perencanaan bahan/material sudah dibuat diawal oleh PT.PP

selaku kontraktor, mulai dari penjadwalan pendatangan material sampai

pembuatan SPP, tetapi masih saja ada keterlambatan pekerjaan di proyek,

(70)

proyek. Biasanya keterlambatan ada karena adanya approval material

keramik yang terlalu lama mengendap di perencana/pihak ITB, approval

material baja yang semula akan di galvanization ternyata hanya di cat saja,

proses perubahan RAB tambah kurang dari bata ke celcon dan kembali ke

bata lagi, negosiasi harga yang belum putus dengan sub kontraktor untuk

bahan list plafond karena adanya perubahan design dari perencana dan

lainnya (bisa dilihat pada Lampiran 26, halaman 151).

2. Pengontrolan langsung yang dilakukan oleh petugas gudang ke lapangan,

dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang

pengalokasian bahan dan mencegah terjadinya penyimpanan dalam

pemakaian bahan yang sudah dikeluarkannya. Tapi hal tersebut belum

dilakukan, karena percaya akan SDM yang dipekerjakan.

3. Metode Pengendalian yang dilakukan oleh kontraktor dalam proses

pengadaan bahan di proyek adalah rapat harian, tetapi secara tidak langsung

kontraktor telah menerapkan metode lain yaitu MRP pada buku khusus

permintaan material proyek. Sehingga metode pengendalian yang dilakukan

kontraktor tersebut sudah tepat guna, terbukti bahwa keterlambatan yang

terjadi di proyek bukan karena kesalahan membuat jadwal pendatangan

bahan, tapi karena hal lain, seperti yang telah disebutkan pada nomor 1

(71)

4. Secara keseluruhan proses pengadaan bahan konstruksi yang dilakukan

kontraktor PT.PP pada proyek Campus Center ITB sudah baik, karena

PT.PP telah menyiapkannya dengan matang, melalui surat-surat penting dan

prosedur/kebijakan yang telah diterapkan PT.PP dilapangan.

5.2 Saran

1. Sebaiknya pengontrolan langsung harus dilakukan oleh petugas gudang ke

lapangan, agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang pengalokasian bahan

dan mencegah terjadinya penyimpanan dalam pemakaian bahan yang sudah

dikeluarkannya.

2. Sebaiknya komunikasi antara PT.PP selaku kontraktor dan pihak ITB selaku

perencana lebih dipertajam lagi atau dilakukan komunikasi sesering

mungkin agar semua detailnya menjadi lebih jelas dan untuk memperkecil

waktu keterlambatan pekerjaan di proyek.

3. Untuk penelitian lebih lanjut, disarankan untuk membahas tentang kebijakan

pada proses pengadaan bahan konstruksi, pada pembangunan jalan atau

jembatan layang dan biaya yang mencakup pengadaan bahan konstruksi.

(72)

1. Barrie, Donald S., Paulson, Boydc.,JR., Sudinarto. (1990), Manajemen Konstruksi Profesional, Erlangga, Jakarta

2. Ervianto, Wulfran I. (2002), Manajemen Proyek Konstruksi, Andi, Yogyakarta

3. Ervianto, Wulfran I. (2004), Teori-Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi, Andi, Yogyakarta

4. Herjanto, Eddy (1999), Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi kedua, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

5. Indrajit, Richardus Eko, Djokopranoto, Richardus (2003), Manajemen Persediaan, Grasindo, Jakarta

6. Lock, Dennis (1992), Manajemen Proyek, Erlangga, Jakarta

7. PT PP (PERSERO) – GENERAL CONTRACTOR. (2003), Buku Referensi

Untuk Kontraktor Bangunan Gedung Dan Sipil, PT Gramedia Pustaka

Utama, Jakarta

8. Soeharto, Iman (1995), Manajemen Proyek (Dari Konseptual Sampai Operasional), Erlangga, Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur dan sistem pengendalian intern yang diterapkan dalam pengadaan alat tulis kantor di PT.. TASPEN (Persero)

Tetapi untuk bahan bangunan yang jumlah dan waktu permintaannya tidak konstan maka perencanaan persediaan dalam manajemen material tidak dapat diterapkan pada

Dalam suatu proyek konstruksi biasanya digunakan jasa kontraktor utama atau main contractor, namun dalam beberapa proyek konstruksi ada pula yang menggunakan kontraktor lebih

Dalam bidang jasa konstruksi, tender dilakukan oleh pemberi tugas atau pemilik proyek dengan mengundang beberapa perusahaan jasa konstruksi atau kontraktor untuk

Hasil keseluruhan data yang diperoleh dari wawancara dan observasi mengenai Implementasi pengendalian keselamatan kerja untuk pekerjaan beton dan pekerjaan bata pada

Organisasi proyek dan kantor pusat merupakan dua tingkatan manajemen dalam kontraktor yang memiliki lingkup dan tugas yang berbeda. Namun sebagai satu kesatuan manajemen,

Sehubungan dengan adanya pengembangan PT Pelabuhan Indonesia III Persero sebagai Pemilik Proyek dan PT Wijaya Karya Persero Tbk sebagai Kontraktor di Pelabuhan Bagendang Kalimantan

Dokumen ini membahas pentingnya pengendalian mutu dalam proyek konstruksi melalui penerapan sistem kendali mutu yang sistematis dan standarisasi prosedur untuk mencapai hasil yang