BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, dan kebaruan penelitian.

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, dan kebaruan penelitian.

A. Latar Belakang

Penggunaan aktivitas alat suntik di rumah sakit, klinik dan laboratorium hampir selalu digunakan oleh tenaga kesehatan (Ulbrich et al., 2020). Tenaga kesehatan yang menggunakan alat suntik secara berulang-ulang memiliki peningkatan risiko untuk gangguan muskuloskeletal (MacDonald dan Keir, 2018). Gangguan muskuloskeletal yang terjadi akibat pekerjaan telah terbukti lebih parah dari cidera atau penyakit lainnya. Gangguan muskuloskeletal juga membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama daripada cidera atau penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan (Gallagher dan Heberger, 2013). Dokter, perawat, teknisi farmasi dan teknisi layanan laboratorium sering melakukan pekerjaan menggunakan alat suntik. Penggunaan alat suntik secara berulang-ulang diantaranya untuk mengambil cairan obat dan memberikan obat kepada pasien (Ulbrich et al., 2020).

Penggunaan alat suntik secara berulang-ulang, digunakan dalam waktu yang lama, kurangnya istirahat dalam melakukan aktivitas pekerjaan dan postur tangan yang canggung termasuk faktor risiko gangguan muskuloskeletal (MacDonald dan Keir, 2018). Perawat, dokter, teknisi laboratorium di pusat-pusat perawatan kemoterapi, melakukan pencampuran dan pemberian obat-obatan kepada pasien secara teratur dengan waktu yang lama, aktivitas tersebut mengakibatkan peningkatan risiko ketegangan otot yang terjadi pada tenaga kesehatan. Untuk memberikan obat-obatan kepada pasien kemoterapi tenaga kesehatan secara manual memberikan suntikan hingga 30 menit dan memastian aliran infus yang bekerja 1-2 ml per menit tersebut lancar. Sebuah penelitian ditemukan pada ekstremitas atas perawat kesehatan kemoterapi mengalami gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan dikarenakan menggunakan alat suntik yang berulang-ulang (MacDonald dan Keir, 2018).

Alat suntik membutuhkan kekuatan tinggi, kekuatan-kekuatan ini dikombinasikan dengan

(2)

postur yang canggung, tangan kurang istirahat dan hal tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan (Hansson et al., 2009).

Meskipun terdapat sedikit penelitian yang tersedia tentang penggunaan alat suntik, penelitian tersebut mirip dengan penggunaan pipet, di mana ibu jari sering mengoperasikan plunger secara manual (Asundi et al., 2005). David dan Buckle (1997) menggunakan data kuesioner dari 80 pipet pengguna (ilmuwan dan teknisi laboratorium) dan 85 pengguna non pipet (manajer dan sekretaris) dan menemukan peningkatan keluhan tangan seiring lamanya pemipetan. Pada saat memipet lebih dari 30 menit, 30% dari responden melaporkan keluhan tangan, dengan kemungkinan rasio 6,43 (MacDonald dan Keir, 2018). Data maksimum EMG untuk memegang yaitu 24,9%, untuk menahan 22,1%, untuk injeksi yaitu sebesar 9,1% dan menarik sebesar 19,8% (MacDonald dan Keir, 2018). Rodgers (1997) menyarankan pedoman level tegangan khusus untuk tugas pengulangan harus kurang dari 20%.

Aktivitas menyuntik merupakan aktivitas yang umum terjadi di Rumah Sakit.

Berdasarkan pengamatan di Rumah Sakit swasta di Surakarta, di ruangan penyakit dalam pada kelas III, terdapat rata-rata pasien yang akan mengalami proses penyuntikan yaitu 40 pasien. Proses penyuntikan kepada pasien rata-rata dilakukan yaitu 3 kali dalam sehari.

Perawat mempersiapkan pengambilan obat ke 40 pasien terlebih dahulu, setelah semua obat dipersiapkan selanjutnya perawat memberikan obat kesemua pasien tersebut. Proses penyuntikan dari persiapan sampai dengan selesai penyuntikan membutuhkan waktu rata- rata 40 menit dalam sekali proses penyuntikan. Proses ini dilakukan perawat rata-rata sehari 3 kali yaitu pada waktu pagi, siang dan malam.

Dari kasus tersebut perawat melakukan gerakan yang berulang-ulang untuk pengambilan obat dan pemberian obat kepada pasien. Aktivitas yang berulang-ulang terkait penggunaan alat suntik, dapat mengakibatkan gangguan muskuloskeletal. Ekstensi plunger jarum suntik bisa berat di tangan, pergelangan tangan, lengan bawah, siku, bahu dan mungkin termasuk faktor risiko gangguan muskuloskeletal termasuk kekuatan tinggi, pengerahan tenaga berulang, pengerahan tenaga yang lama, kurang istirahat di antara pengerahan tenaga, dan sikap tangan yang canggung (Nimunkar et al., 2017). Farmasi, perawat laboratorium, dan perawat di pusat perawatan kemoterapi mencampur dan mengelola obat-obatan secara teratur

(3)

dan berhubungan dengan peningkatan risiko regangan otot (MacDonald dan Keir, 2018).

Oleh karena itu untuk mengurangi adanya resiko gangguan muskuloskeletal, dapat menggunakan portable E-syringe yang dirancang untuk meminimalkan penggunaan otot yang terlalu besar (Ulbrich et al., 2020).

Portable E-Syringe adalah alat yang digunakan untuk melakukan penarikan obat (aspirasi) dan pengeluaran obat (injeksi) dengan menggunakan alat suntik. Portable E- syringe dapat digunakan untuk pengambilan obat atau cairan yang akan diberikan kepada pasien dan dapat digunakan untuk pencampuran obat atau cairan pada farmasi laboratorium.

Portable E-syringe diperlukan oleh perawat maupun farmasi laboratorium karena portable E-syringe berfungsi hampir sama seperti syringe pump, yaitu alat kesehatan yang digunakan untuk mengatur proses penyuntikan masuknya cairan obat ke dalam tubuh pasien dengan kuantitas dan waktu tertentu, sehingga tanpa berulang kali melakukan penyuntikan kepada pasien. Portable E-syringe dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat digunakan jika terjadi bencana alam ataupun keadaan darurat lainnya. Pada saat ini poduk portable E-syringe belum terdapat dipasaran, sehingga sangat penting untuk melakukan pengujian usability portable E-syringe dan membandingkan dengan alat suntik konvensional (Ulbrich et al., 2020).

Kualitas produk portable E-syringe merupakan sangat penting untuk diujikan, dikarenakan sampai saat ini belum ada pengujian usability tentang portable E-syringe untuk tenaga kesehatan. Pada aspek kualitas produk diantaranya harus memiliki fitur yang berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuannya, dapat dijalankan atau digunakan dengan mudah oleh penggunanya, dapat memudahkan pengguna untuk mengoperasikan portable E- syringe dimanapun dan kapanpun. Salah satu aspek yang dinilai penting bagi kualitas sebuah produk adalah usability. Usability merupakan aspek yang mengukur seberapa mudah pengguna dapat mempelajari dan menggunakan produk untuk mencapai tujuannya serta tingkat kepuasan pengguna terhadap produk tersebut. Aspek ini juga dapat memberikan gambaran apakah portable E-syringe ini cocok dan disukai oleh penggunanya atau tidak (Dumas dan Redish, 1999).

Untuk mengetahui apakah portable E-syringe tersebut dapat dikatakan berkualitas adalah dengan melakukan pengujian pada aspek-aspek kualitas tersebut. Aspek-aspek

(4)

kualitas yang akan diujikan antara lain learnability, memorability, efficiency, error dan satisfaction. Salah satu hasil riset pada aspek learnability yaitu kemudahan menggunakan portable E-syringe beserta fitur-fitur yang ada. Pada aspek memorability hasil yang didapatkan yaitu dapat mengingat penggunaan portable E-syringe dengan mudah. Aspek efficiency salah satu hasil yang didapatkan yaitu menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan portable E-syringe dengan cepat. Pada aspek error hasil yang dapat ditunjukkan yaitu ditemukan fitur yang tidak berjalan sesuai dengan fungsi yang diharapkan. Pada aspek satisfaction hasil yang didapatkan antara lain kenyamanan atau kepuasan dalam menggunakan portable E-syringe (Nielsen, 1994).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Setyaningsih (2012) melakukan pengujian usability tentang alat pemantau infus jarak jauh. Dari hasil penelitian didapatkan 75%

perawat membutuhkan alat pemantau infus jarak jauh setelah dilakukan pengujian usability, 75% perawat memperoleh kemudahan dalam melakukan pekerjaan pemantauan pemberian cairan infus kepada pasien. Terdapat empat metode untuk menguji usability yaitu dengan metode model/metric based, inspection, testing dan inquiry (Zaphiris dan Kurniawan, 2007).

Metode Nielsen Attribute of Usability tergolong dalam metode testing karena dalam metode ini mengobservasi pengguna saat berinteraksi dengan portable E-syringe yaitu mengumpulkan dan menganalisa data untuk mengidentifikasi masalah. Metode Nielsen Attribute of Usability digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai pembuktian mengenai seberapa usable portable E-syringe yang diujikan tersebut dan sebagai faktor kepuasan pengguna mengenai portable E-syringe secara keseluruhan.

Dengan adanya inovasi portable E-syringe dan seiring berkembangnya kemajuan teknologi, untuk dapat menyediakan produk yang memberikan kemudahan tenaga kesehatan dalam menggunakan alat suntik, penelitian ini dilakukan untuk pengujian portable E-syringe pada aspek usability dengan kuesioner Nielsen Attribute of Usability berdasarkan Nielsen model. Pengujian usability mengacu pada evaluasi sistem yang melibatkan peserta yang mewakili populasi target pengguna, dimana tugas mereka mewakili dalam penggunaan sistem baru yang diperkenalkan dalam konteks klinis tertentu (Kushniruk dan Patel, 2003).

(5)

Dalam penelitian ini peserta atau responden yang terlibat adalah para perawat di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret yang telah terbiasa bekerja dengan menggunakan alat suntik.

Dalam penelitian eksperimen ini, pengujian usability menggunakan desain dari peneliti yaitu Portable E-syringe berbasis usability testing, dimana metode tersebut merupakan metode evaluasi kegunaan yang dapat diaplikasikan di rumah sakit dengan mengumpulkan data dari responden melalui pengujian secara langsung dan pengisian kuesioner (Nielsen, 1994).

Sehingga dari hasil analisa tersebut dapat diketahui kepuasan pengguna, perbandingan aktivitas penggunaan portable E-syringe dan alat suntik konvensional serta waktu yang dibutuhkan untuk mengisi dan mengeluarkan portable E-syringe dan alat suntik konvensional. Kebaruan dalam penelitian ini adalah desain dari peneliti yaitu Portable E- syringe dengan pengujian usability dapat mengetahui kepuasan pengguna, perbandingan aktivitas otot dan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi dan mengeluarkan dengan alat suntik konvensional serta portable E-syringe diperbaiki dari keluhan perawat yang nantinya dapat memudahkan tenaga kesehatan dan meminimalkan kelelahan serta ketegangan otot yang terjadi.

B. Kebaruan Penelitian

Pada penelitian ini akan dilakukan menguji dan membandingkan portable E-syringe dengan mengurangi ketegangan otot dan kelelahan yang ditimbulkan akibat pekerjaan yang berulang-ulang oleh tenaga kesehatan. Pada penelitian ini menggunakan metode usability untuk mengetahui seberapa mudah responden atau perawat dalam menggunakan portable E- syringe dan dihasilkan aktivitas otot penggunaan portable E-syringe dan alat suntik konvensional serta waktu yang dibutuhkan untuk mengisi dan mengeluarkan alat suntik yang bervolume 3 mL, 5 mL dan 10 mL. Selain itu portable E-syringe ini menggunakan sistem elektro yang menjadikan tenaga kesehatan lebih mudah menggunakan atau mengoperasikannya. Berikut merupakan peta riset dalam penlitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.1

(6)

Tabel 1.1 Peta Riset

Peneliti

Pengumpulan Data Metode

Perancangan alat jarum suntik Berdasarkan terjadinya gangguan muskuloskeletal Penggunaan jarum suntik umum Observasi Interview Sumber Ilmiah Anova t-test Analisis Regresi Prevalensi Ratio Pengujian Usability

Robinson et al.,

(2000)

Ostensvik et al.,

(2007)

Doheny et al.,

(2007)

Hansson et al.,

(2008)

Lin dan Chen.

(2009)

Nordander et al.,

(2009)

Sheikhzadeh et

al., (2012)

(7)

Tabel 1.1 Peta Riset (lanjutan)

Peneliti

Pengumpulan Data Metode

Perancangan alat jarum suntik Berdasarkan terjadinya gangguan muskuloskeletal Penggunaan jarum suntik umum Observasi Interview Sumber Ilmiah Anova t-test Analisis Regresi Prevalensi Ratio Pengujian Usability

Gallagher et al., (2012)

Potvin. (2012)

Finneran dan O’Sullivan

(2013)

Occhionero et al., (2014)

Nimunkar et al., (2017)

Macdonald et al., (2017)

MacDonald dan Keir (2018)

Ulbrich et al., (2020)

Penelitian ini

(8)

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, pokok permasalahan dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana hasil pengujian usability portable E-syringe untuk tenaga kesehatan?

2. Bagaimana pengujian usability dapat digunakan untuk memperbaiki portable E- syringe?

3. Bagaimana hasil perbandingan alat suntik konvensional dan portable E-syringe oleh tenaga kesehatan?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendapatkan hasil pengujian usability portable E-syringe menggunakan kuesioner Nielsen Attribute of Usability berdasarkan Nielsen Model.

2. Mendapatkan keluhan dari pengujian usability untuk memperbaiki portable E- syringe.

3. Mendapatkan hasil perbandingan aktivitas otot dari electromyogram dan waktu pengujian usability portable E-syringe dan alat suntik konvensional.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah portable E-syringe dapat diaplikasikan atau digunakan oleh tenaga kesehatan daripada menggunakan alat suntik konvensional dan pengujian usability dapat mengetahui kemudahan portable E-syringe serta kepuasan pengguna.

Figur

Tabel 1.1 Peta Riset

Tabel 1.1

Peta Riset p.6
Tabel 1.1 Peta Riset (lanjutan)

Tabel 1.1

Peta Riset (lanjutan) p.7

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di