• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 Kondisi Fisik Lokasi Studi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3 Kondisi Fisik Lokasi Studi"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

3 Kondisi Fisik Lokasi Studi

Sebelum pemodelan dilakukan, diperlukan data-data rinci mengenai kondisi fisik dari lokasi yang akan dimodelkan. Ketersediaan dan keakuratan data fisik yang digunakan akan sangat berpengaruh pada hasil akhir pemodelan.

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai kondisi fisik dari lokasi studi berdasarkan data- data yang berhasil dikumpulkan serta proses pengolahan data yang dilakukan untuk mempersiapkan pemodelan.

3.1 Kondisi Eksisting Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu

Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu adalah salah satu cabang pelabuhan di bawah pengelolaan PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia II dan merupakan pelabuhan kelas II.

Pelabuhan ini mempunyai posisi yang sangat strategis berhadapan dengan Samudera Indonesia, sebagai pelabuhan alam yang sangat terlindung dari gangguan gelombang laut karena antara kolam pelabuhan dan laut dibatasi oleh lidah pasir yang lebarnya

Bab

3

(2)

pelabuhan pada tahun 1983. Akan tetapi dikarenakan pola transport sedimen yang sangat besar dan cepat, pendangkalan terus terjadi terutama di sekitar alur masuk pelabuhan.

Fasilitas pelabuhan yang dimiliki hingga saat ini cukup memadai untuk menampung kegiatan operasional pelabuhan, antara lain fasilitas dermaga Samudera (panjang 165 m), Dermaga Nusantara (panjang 84 m), dan Dermaga Lokal (panjang 124 m) serta mempunyai conveyor belt untuk pemuatan batu bara dengan kapasitas 500 ton/jam dan kapasitas 1000 ton/jam.

Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu memiliki tanah pelabuhan dengan luas 1.192,6 Ha.

Sedangkan luas perairan luar adalah 2.183,47 Ha dan perairan dalam 1.000 Ha dengan kedalaman 2 – 12 m LLWL. Fasilitas dermaga yang ada di Pelabuhan Bengkulu dibedakan menjadi dermaga Samudra, Dermaga Nusantara, dan Dermaga Lokal. Data dermaga tersebut dapat dilihat di Tabel 3.1. Fasilitas tanah, lapangan dan gudang penumpukan di Pelabuhan Bengkulu dapat dilihat di Tabel 3.2.

Selain itu, pemanfaatan teknologi dapat dilihat dengan adanya fasilitas peralatan perkapalan dan bongkar muat serta fasilitas telekomunikasi sebagai fasilitas yang membantu kegiatan operasional pelabuhan. Fasilitas bongkar muat dapat dilihat pada Tabel 3.3, dan fasilitas perkapalan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.1 Fasilitas Dermaga yang Ada di Pelabuhan Bengkulu Jenis Dermaga Panjang (m) Lebar (m) Kedalaman (m) Dermaga Samudra 165 18 -10 m LWS Dermaga Nusantara 84 18 -7 m LWS Dermaga Lokal 124 10 -3 m LWS Sumber: Data Fasilitas dan Kegiatan Operasional Cabang Pelabuhan

Bengkulu Periode: Tahun 2001 s.d. 2005

Tabel 3.2 Fasilitas Tanah, Lapangan dan Gudang Penumpukan di Pelabuhan Bengkulu No Nama Fasilitas Panjang (m) Lebar (m) Luas

1 Tanah Daratan - - 1.192,6 Ha

2 Kolam pelabuhan

- Perairan dalam - - 1000 Ha - Perairan luar - - 2.183,47 Ha 3 Gudang samudera 70 35 2.450 M2 4 Gudang Lokal 50 35 1.750 M2 5 Lapangan Penumpukan

- Lapangan Samudera - - 1.100 M2 - Nusantara - - 6.772 M2 Sumber: Data Fasilitas dan Kegiatan Operasional Cabang Pelabuhan

Bengkulu Periode: Tahun 2001 s.d. 2005

(3)

Tabel 3.3 Fasilitas Bongkar Muat yang Ada di Pelabuhan Bengkulu

No Nama Fasilitas Jumlah Satuan Kapasitas Keterangan

1 Conveyor Belt

- Conveyor belt A 1 unit 500 T/JAM Baik - Conveyor belt B 1 unit 1.000 T/JAM Baik 2 Crane IHI 1 unit 25 TON Baik 3 Forklift Datsun 3 unit 2 TON Baik Forklift Toyota 1 unit 3 TON Baik

4 Hoper Box 4 buah 8 TON Baik

5 PMK 1 unit 5 TON Baik

6 Bak Reservoir

- Dermaga Samudera 1 unit 50 TON Baik - Dermaga Nusantara/Lokal 1 unit 100 TON Baik Sumber: Data Fasilitas dan Kegiatan Operasional Cabang Pelabuhan Bengkulu

Periode: Tahun 2001 s.d. 2005

Tabel 3.4 Fasilitas Perkapalan yang Ada di Pelabuhan Bengkulu

No Nama Fasilitas Jumlah Satuan Kapasitas Keterangan 1 Kapal tunda 1 unit 1.160 HP Baik

2 Kapal pandu 1 unit 400 HP Baik Sumber: Data Fasilitas dan Kegiatan Operasional Cabang Pelabuhan Bengkulu Periode:

Tahun 2001 s.d. 2005

Selain fasilitas-fasilitas diatas, pengelola Pelabuhan Pulau Baai juga menyediakan jasa kepelabuhanan bagi pengguna Pelabuhan Pulau Baai. Jasa kepelabuhanan itu diantaranya:

a). Jasa pelayanan kapal :

labuh, tambat, pemanduan dan penundaan kapal

(4)

d). Persewaan tanah e). Bidang usaha terminal

Pelabuhan Bengkulu memiliki Perusahaan Bongkar Muat (PBM) yang dikelola oleh Sub. Divisi Usaha Terminal yang menangani kegiatan bongkar muat barang antara lain handling batu bara, CPO, container, alat berat dan barang lainnya.

Sedangkan kinerja pelayanan kapal dan produktivitas bongkar muat pelabuhan di Pelabuhan Bengkulu disajikan dalam Tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.5 Kinerja Pelayanan Kapal di Pelabuhan Bengkulu TAHUN NO URAIAN SAT

2001 2002 2003 2004 2005 (MEI) 1 Kapal Luar Negeri

a. Turn Round Time (TRT) jam 120.00 91.00 85.00 60.00 48.00 b. Waiting Time (WT) jam 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 c. Berthing Time (BT) jam 90.00 75.00 65.00 31.00 28.00

2 Kapal Dalam Negeri a. Turn Round Time (TRT) jam 89.00 85.00 75.00 60.00 51.00 b. Waiting Time (WT) jam 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 c. Berthing Time (BT) jam 77.00 58.00 52.00 37.00 26.00 Sumber: Data Fasilitas dan Kegiatan Operasional Cabang Pelabuhan Bengkulu

Periode: Tahun 2001 s.d. 2005 (Mei)

Dari uraian diatas jelas terihat bahwa hambatan utama upaya pengembangan Pelabuhan Pulau Baai bukan dari segi fasilitas pelabuhan yang ternyata telah cukup memadai, akan tetapi muncul dari permasalahan sedimentasi yang mengganggu aktivitas kepelabuhanan.

3.2 Kondisi Hidro-Oseanografi Pelabuhan Pulau Baai

3.2.1 Gelombang

Mengingat pengukuran gelombang secara langsung di lapangan membutuhkan biaya yang sangat mahal, maka data gelombang untuk jangka waktu lama diperoleh dari peramalan berdasarkan data angin (hindcasting). Demikian juga untuk studi ini, data gelombang yang diperoleh dari hasil hindcasting. Data angin yang digunakan untuk peramalan gelombang dalam studi ini merupakan data angin hasil pencatatan stasiun meteorologi Pulau Baai, Bengkulu. Garis besar metode peramalan gelombang dengan hindcasting telah diuraikan dalam bab sebelumnya.

(5)

Data angin yang akan digunakan adalah data angin jam-jaman hasil pencatatan stasiun meteorologi Pulau Baai dari tahun 1996 sampai dengan 2005. Distribusi arah angin harian maksimum disajikan dalam Tabel 3.6 dan Windrose dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Tabel 3.6 Distribusi Arah Angin di Perairan pelabuhan Pulau Baai (1996 – 2005)

Persentase Arah

< 5 5-10 10-15 15-20 > 20 Total

Utara 2.51 2.11 0.31 0.03 0.01 4.98

Timur Laut 1.40 0.60 0.05 0.00 0.00 2.05

Timur 0.70 0.39 0.04 0.00 0.00 1.13

Tenggara 1.06 1.21 0.34 0.08 0.00 2.69

Selatan 2.31 6.40 2.62 0.63 0.06 12.03

Barat Daya 0.97 1.95 0.24 0.02 0.00 3.18

Barat 2.51 6.11 0.96 0.13 0.03 9.75

Barat Laut 1.16 2.47 0.62 0.12 0.02 4.39

Berangin = 40.19

Tidak Berangin = 59.65

Tidak Tercatat = 0.16

Total = 100.00

Sumber: Hasil perhitungan

(6)

Distribusi Kecepatan dan Arah Angin Jam-jaman 1996-2005

Lokasi: Bengkulu

Jenis tongkat menunjukkan kecepatan angin dalam knot.

Panjang tongkat menunjukkan persentase kejadian.

U

S

B T

TG BD

TL BL

0%

10%

20%

30%

40%

Tidak Berangin = 59.65% Tidak Tercatat = 0.16%

Gambar 3.1 Windrose Pelabuhan P. Baai Bengkulu

(7)

Untuk melakukan peramalan gelombang di suatu perairan diperlukan masukan berupa data angin dan peta batimetri. Interaksi antara angin dan permukaan air menyebabkan timbulnya gelombang (gelombang akibat angin atau wind induced waves). Peta perairan lokasi dan sekitarnya diperlukan untuk menentukan besarnya “fetch” atau kawasan pembentukan gelombang. Fetch adalah daerah pembentukan gelombang yang diasumsikan memiliki kecepatan dan arah angin yang relatif konstan. Adanya kenyataan bahwa angin bertiup dalam arah yang bervariasi atau sembarang, maka panjang fetch diukur dari titik pengamatan dengan interval 5°.

Panjang fetch dihitung untuk 8 arah mata angin. Untuk kasus pelabuhan Pulau Baai, fetch efektif yang diperhitungkan hanya 7 (lima) arah tanpa arah arah timur, karena pada arah tersebut diasumsikan pantai yang tidak mempunyai daerah pembentukan gelombang.

Panjang fetch efektif dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

∑ ∑

=

i i i i

Lf Lf

α α

cos

cos

.

dimana:

Lfi = Panjang fetch ke-i

αI = Sudut pengukuran fetch ke-i

I = Jumlah pengukuran fetch

Jumlah pengukuran “i” untuk tiap arah mata angin tersebut meliputi pengukuran- pengukuran dalam wilayah pengaruh fetch (22,5° searah jarum jam dan 22,5° berlawanan arah jarum jam dari masing-masing arah mata angin). Peta fetch untuk kawasan perairan Pelabuhan Baai ditampilkan pada Gambar 3.2.

(8)

Gambar 3.2 Peta fetch untuk kawasan perairan pelabuhan Pulau Baai.

Hasil pengukuran panjang fetch efektif disajikan dalam Tabel 3.7 berikut ini.

Tabel 3.7 Panjang Fetch Efektif Lepas Pantai Pulau Baai No. Arah Panjang Feff (km)

1 Utara 21,03

2 Timur Laut 5,17

3 Timur 0

4 Tenggara 176,76 5 Selatan 1450,49 6 Barat Daya 1281,1

7 Barat 823,67

8 Barat Laut 245,87

Hasil penaksiran gelombang berdasarkan data angin tersebut disajikan dalam Tabel 3.8 dan Gambar 3.3 berikut ini.

(9)

Tabel 3.8 Persentase Distribusi Gelombang di Perairan pelabuhan Pulau Baai berdasarkan Peramalan Data Angin (1996 – 2005)

Tinggi Gelombang (m) Arah

< 0.5 0.5-1.0 1.0-1.5 1.5-2.0 2.0-2.5 > 2.5 Total Utara 3,712 1,247 0,034 0,000 0,000 0,000 4,99 Timur Laut 2,067 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 2,07 Timur 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,00 Tenggara 1,713 0,592 0,184 0,054 0,064 0,090 2,70 Selatan 3,015 2,614 1,965 1,438 1,512 1,503 12,05 Barat Daya 2,268 0,796 0,115 0,000 0,000 0,003 3,18 Barat 3,854 3,803 1,576 0,356 0,124 0,050 9,76 Barat Laut 2,390 1,233 0,456 0,146 0,130 0,042 4,40

Bergelombang = 39,15

Tidak Bergelombang (calm) = 60,81

Tidak

Tercatat = 0,04

T o t a l = 100,00

Sumber: Hasil perhitungan

(10)

Distribusi Tinggi dan Arah Gelombang di Lepas Pantai Pulau Baai Diramal Berdasarkan Data Angin Jam-jaman di Bengkulu

Total 1996-2005

Jenis tongkat menunjukkan tinggi gelombang dalam meter.

Panjang tongkat menunjukkan persentase kejadian.

U

S

B T

TG BD

TL BL

0%

10%

20%

30%

40%

Calm = 60.81% Tidak Tercatat = 0.04%

Gambar 3.3 Waverose Pelabuhan P. Baai Bengkulu

(11)

3.2.2 Pasang Surut

Kondisi pasang surut di lokasi studi dapat diketahui dengan melakukan pengolahan data- data pasang surut yang tersedia. Data pasang surut mentah yang tersedia adalah data elevasi muka air hasil peramalan Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI-AL dan data elevasi muka air hasil peramalan perangkat lunak NAOTIDE.

Tabel dan Grafik time series dari elevasi muka air hasil peramalan DISHIDROS dan Naotide pada bulan Januari 2007 disajikan pada Tabel 3.9 dan Gambar 3.4 berikut ini.

Tabel 3.9 Elevasi Muka Air Pulau Baai Bulan Januari 2007 Hasil Peramalan DISHIDROS dan NAOTIDE

Elevasi Muka Air (m)

Terhadap LLWS Terhadap MSL Jam

ke-

DISHIDROS Naotide DISHIDROS Naotide

0 0,5 0,46171 -0,2 -0,23829 1 0,7 0,55685 0 -0,14315 2 0,8 0,63972 0,1 -0,06028 3 0,8 0,68545 0,1 -0,01455 4 0,8 0,68113 0,1 -0,01887 5 0,7 0,62919 0 -0,07081

: : : : :

739 1 0,94547 0,3 0,24547 740 0,8 0,73663 0,1 0,03663 741 0,5 0,53026 -0,2 -0,16974 742 0,4 0,36754 -0,3 -0,33246 743 0,3 0,27855 -0,4 -0,42145

(12)

Perbandingan Elevasi Muka Air Hasil Peramalan DISHIDROS dan Naotide

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6

0 100 200 300 400 500 600 700 800

Waktu

Elevasi terhadap LLWS (m)

Naotide DISHIDROS

Gambar 3.4 Elevasi muka air hasil peramalan DISHIDROS & NAOTIDE

Dari tabel dan gambar diatas terlihat tidak ada perbedaan yaang signifikan antara data peramalan DISHIDROS dan NAOTIDE. Error atau kesalahan relatif dari kedua data tersebut dihitung dengan persamaan berikut:

⎥⎥

⎢⎢

⎡ −

=

= N

i

i s

TP Error N

1

% 100

1

η η

*

Dimana:

N = jumlah data

η

= elevasi muka air Naotide

η

= data elevsi muka air DISHIDROS

TP = Tunggang pasang

Dari hasil perhitungan didapatkan error sebesar 4,4%.

Pengolahan data pasang surut yang dilakukan dalam studi ini meliputi penentuan komponen-komponen pasang surut, penentuan jenis pasang surut di lokasi tinjauan dan penentuan elevasi acuan pasang surut. Analsis data pasang surut tersebut dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ERG-Tide.

Setelah data pasang surut didapatkan, langkah analisis pertama yang dilakukan adalah

(13)

penguraian data pasang surut menjadi komponen-komponennya. Metoda yang digunakan untuk penguraian pasang surut ini yaitu dengan metoda least square. Hasil dari analisis penguraian ini, berupa amplitudo dan fasa dari tiap komponen pasang surut, disajikan pada Tabel 3.10.

Tabel 3.10 Komponen-Komponen Pasang Surut

S0 M2 S2 N2 K2 K1 O1 P1 M4 MS4

A(cm) 77,10 31,93 14,5 8,78 5,67 18,17 8,08 4,46 0,91 0,11 g (o) 0 73,27 237,56 120,04 267,59 203,03 220,2 133,6 214,58 121,08 Sumber: Hasil perhitungan.

Berdasarkan nilai amplitudo dari komponen pasang surut utama, dapa ditentukan jenis pasang surut di lokasi studi, yaitu dengan mencari nilai bilangan Formsal (NF).

57 , 5 0 , 14 93 , 31

08 , 8 17 ,

18 =

+

= + NF

Kriteria jenis pasang surut adalah sebagai berikut

Tabel 3.11 Kriteria Jenis Pasang Surut

NF Jenis Pasut

< 0,25 Semi diurnal (harian ganda) 0,25 - 1,5 campuran (condong ke harian ganda)

1,5 - 3,0 campuran (condong ke harian tunggal)

> 3,0 Diurnal (harian tunggal)

Dari perhitungan diatas maka diketahui jenis pasang surut di lokasi tinjauan adalah

2 2

1 1

S M

O NF K

+

= +

(14)

Tabel 3.12 Harga Elevasi-Elevasi Acuan di Perairan Pelabuhan Baai No Elevasi Acuan Hasil Penaksiran (cm)

1 HHWL Highest High Water Level 82,64 2 MHWS Mean High Water Spring 68,45 3 MHWL Mean High Water Level 35,31

4 MSL Mean Sea Level 0.00

5 MLWL Mean Low Water Level -36,05 6 MLWS Mean Low Water Spring -57,14 7 LLWL Lowest Low Water Level -72,58 Sumber: Hasil perhitungan

Tunggang Pasut Maksimum = HHWL – LLWL = 155,22 cm

Definisi elevasi acuan yang berlaku selama perioda waktu pengamatan adalah sebagai berikut:

HHWL (highest high water level), muka air tertinggi.

MHWS (mean high water spring), rata-rata muka air tinggi saat pasang tinggi (spring).

MHWL (mean high water level), rata-rata seluruh muka air tinggi.

MSL (mean sea level), rata-rata seluruh muka air yang terjadi.

MLWL (mean low water level), rata-rata seluruh muka air rendah.

MLWS (mean low water spring), rata-rata muka air rendah saat pasang tinggi (spring).

LLWL (lowest low water level), muka air terendah.

Grafik probabilitas terlampaui dari elevasi-elevasi acuan diperlihatkan pada Gambar 3.5.

Grafik Probabilitas Terlampaui

-100 -75 -50 -25 0 25 50 75 100

0 20 40 60 80 100

Probabilitas terlampaui (%)

EMA terhadap MSL (cm)

Gambar 3.5 Probabilitas terlampaui elevasi-elevasi acuan pasang surut di Pulau Baai.

(15)

3 Kondisi Fisik Lokasi Studi ... 1

3.1 Kondisi Eksisting Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu... 1

3.2 Kondisi Hidro-Oseanografi Pelabuhan Pulau Baai... 4

3.2.1 Gelombang ... 4

3.2.2 Pasang Surut... 11

Gambar 3.1 Windrose Pelabuhan P. Baai Bengkulu... 6

Gambar 3.2 Peta fetch untuk kawasan perairan pelabuhan Pulau Baai. ... 8

Gambar 3.3 Waverose Pelabuhan P. Baai Bengkulu... 10

Gambar 3.4 Elevasi muka air hasil peramalan DISHIDROS & NAOTIDE ... 12

Gambar 3.5 Probabilitas terlampaui elevasi-elevasi acuan pasang surut di Pulau Baai. ... 14

(16)

Tabel 3.1 Fasilitas Dermaga yang Ada di Pelabuhan Bengkulu... 2

Tabel 3.2 Fasilitas Tanah, Lapangan dan Gudang Penumpukan di Pelabuhan Bengkulu 2 Tabel 3.3 Fasilitas Bongkar Muat yang Ada di Pelabuhan Bengkulu ... 3

Tabel 3.4 Fasilitas Perkapalan yang Ada di Pelabuhan Bengkulu ... 3

Tabel 3.5 Kinerja Pelayanan Kapal di Pelabuhan Bengkulu ... 4

Tabel 3.6 Distribusi Arah Angin di Perairan pelabuhan Pulau Baai (1996 – 2005) ... 5

Tabel 3.7 Panjang Fetch Efektif Lepas Pantai Pulau Baai ... 8

Tabel 3.8 Persentase Distribusi Gelombang di Perairan pelabuhan Pulau Baai berdasarkan Peramalan Data Angin (1996 – 2005)... 9

Tabel 3.9 Elevasi Muka Air Pulau Baai Bulan Januari 2007 Hasil Peramalan DISHIDROS dan NAOTIDE ... 11

Tabel 3.10 Komponen-Komponen Pasang Surut ... 13

Tabel 3.11 Kriteria Jenis Pasang Surut ... 13

Tabel 3.12 Harga Elevasi-Elevasi Acuan di Perairan Pelabuhan Baai... 14

Gambar

Tabel 3.2   Fasilitas Tanah, Lapangan dan Gudang Penumpukan di Pelabuhan Bengkulu  No  Nama Fasilitas  Panjang (m)  Lebar (m) Luas
Tabel 3.3 Fasilitas Bongkar Muat yang Ada di Pelabuhan Bengkulu
Tabel 3.5   Kinerja Pelayanan Kapal di Pelabuhan Bengkulu  TAHUN  NO URAIAN  SAT
Tabel 3.6  Distribusi Arah Angin di Perairan pelabuhan Pulau Baai (1996 – 2005)
+7

Referensi

Dokumen terkait

sifat aktifitas jaringan ini yang digunakan sebagi pola dalam menentukan sebuah sistem network forensic, untuk mendeteksi adanya serangan atau tidak pada sebuah rekaman

3.10.2 mengidentifikasi dan Mendiskusikan konsep momentum, impuls, hubungan antara impuls dan momentum serta hukum kekekalan momentum dalam berbagai penyelesaian masalah..

Pembuatan alat sensor suara dari fonokardiograf ini tergantung pada teknik perancangan dari mikrofon tidak mengubah getaran akustik menjadi tegangan listrik yang serupa untuk

Keenam unsur manajemen tersebut juga berlaku penuh pada manajemen pendidikan, semua sumber daya yang dimiliki harus digunakan secara efektif dan efisien dalam

Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company) adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara Finance lease maupun Operating

Dari hasil observasi diperoleh data bahwa pelaksanaan pembelajaran fiqh, al Qur’an hadis, Aqidah Akhlak, SKI dan Ba- hasa Arab kelas 3 di MI Walisongo Ngaliyan berjalan baik dan

Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2007 tentang

Pada tindak pidana lain yang tidak masuk pada yang diterangkan pada butir a dan b tersebut di atas, tidak dapat terjadi pengulangan. Faktor lebih dari satu kali melakukan tindak pida