CIDERA OLAHRAGA PANAHAN DAN UPAYA PENCEGAHANNYA
Suntoro1, Siti Yulia Sari2, Mohamad Da`I3
1,2,3Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Universitas Nahdlotul Ulama` Sunan
Giri Bojonegoro, Jawa Timur , Indonesia
Email: [email protected] [email protected] [email protected]
Abstrak
Seorang pemanah memiliki potensi tinggi mengalami cidera pada daerah bahu, pada saat lengan melakukan tarikan (drawing). Gerakan tarikan membutuhkan kekuatan lengan yang terjadinya secara berulang ketika menarik tali busur. Upaya pencegahan yang mungkin bisa dilakukan adalah mencoba untuk melakukan sikap berdiri (stance) dengan sempurna sehingga didapatkan keseimbangan yang kokoh. khususnya jika posisi badan pemanah cenderung lebih condong kearah depan. Posisi lengan yang benar diharapkan bisa meminimalkan kekuatan yang dibebankan pada otot bahu dan tendon untuk meminimalisir terjadinya cidera. Program latihan kekuatan otot perlu ditingkatkan pada pemanah untuk meminimalisir terjadinya cidera, seperti latihan peregangan (stretching) kurang lebih 15 menit sebelum mulai menembak. Penggunaan alat bantu seperti elastic tubing/rubber berguna untuk menjadi tahanan dalam upaya meregang dan memperkuat otot lengan bagian atas. Latihan seperti ini bisa dilakukan selama 3 set setiap hari dimana setiap 3 set terdiri atas 15 repetisi.
Kata kunci –Olahraga, pencegahan, cidera, dan panahan
Abstract
An archer has a high potential for injury to the shoulder area when the arm is drawing. The pulling motion requires the repetitive force of the arm when pulling the bowstring. Possible preventive measures are to try to do a perfect stance so that you get a solid balance. especially if the archer's body position tends to lean more forward. It is hoped that the correct arm position will minimize the force exerted on the shoulder muscles and tendons in order to minimize the occurrence of injury. Muscle strength training programs need to be improved for archers to minimize the occurrence of injury, such as stretching exercises for about 15 minutes before starting to shoot. The use of assistive devices such as elastic tubing / rubber is useful as resistance in an effort to stretch and strengthen the muscles of the upper arm. Exercises like this can be done for 3 sets every day where every 3 sets consists of 15 reps.
Key words- Sports, prevention, injury and archery
PENDAHULUAN
Olahraga merupakan suatu aktivitas fisik yang dilakukan oleh manusia demi tercapainya suatu tujuan tertentu (Faris Naufal et al., 2019), Adapun panahan merupakan cabang olahraga statis yang membutuhkan kondisi fisik yang sangat baik khususnya pada daya tahan tubuh, di dalam kelompok otot tubuh bagian atas. Kekuatan daya tahan ialah suatu reaksi otot untuk menahan beban atau kelelahan selama aktivitas berlansung.
kekuatan daya tahan di susun dari dua komponen fisik yaitu daya tahan dan kekuatan.
Daya tahan dan kekuatan otot dalam olahraga panahan sangat penting untuk menarik tali busur yang dilakukan secara berulang – ulang dalam rentan waktu yang hampir lama.
Ketika melakukan gerakan menarik tali busur dengan lengan penarik otot – otot pada lengan akan mengalami kontraksi, oleh sebab itu lengan yang dipakai menarik tali busur harus dijaga atau diperkuat untuk menahan tarikan pada tali busur terutama melakukan tarikan untuk yang pertama kali. Ketika gerakan menarik tali busur lengan yang menarik harus sejajar pada dagu dan jari tangan menempel dibawah dagu (anchoring) dan lengan yang memegang busur harus benar-benar lurus dan kuat. Secara kinesiologi, otot-otot utama dari ekstermitas atas yang terlibat dalam proses memanah seperti otot-otot leher, bahu,biseps, triseps, lengan bawah, pergelangan tangan, perut dan otot -otot togok (Faris Naufal et al., 2019)
Pada posisi lengan menarik tali busur (drawing) bagian tubuh yang perlu diperhatikan adalah otot – otot sendi bahu, karena pada daerah tersebut akan mendapat tekanan yang besar saat melakukan gerakan memanah, sehingga beresiko besar mengalami cidera. Susunan tulang lengan dan pergelangan tangan juga harus mendapat perhatian dalam panahan, karena susunan tulang lengan yang tidak searah dengan otot – otot mengakibatkan lengan akan bekerja ekstra dalam menahan beban dari busur. Jika posisi lengan penahan busur sudah sejajar lurus maka gerakan memanah akan lebih efisien artinya tenaga yang dikeluarkan pada saat memanah akan menjadi lebih efisien, tentunya dengan timing yang tepat.
Supaya gerak memanah itu efisien tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemanah, sehubungan dengan hal tersebut, (Faris Naufal et al., 2019) mengatakan Penentuan dari olahraga panahan adalah pada saat release yang didukung oleh fase-fase memanah sebelumnya terutama mulai dari drawing. Dalam olahraga panahan, gaya yang bekerja pada tulang harus dimaksimalkan dibanding gaya yang bekerja pada otot yang
berguna mengurangi dampak cedera pada pemanah. Pergerakan yang benar pada olahraga panahan adalah poros gerak 1 dan poros gerak 2. Poros satu ialah posisi bahu dan posisi lengan penahan busur berada pada satu garis lurus. Poros dua ialah posisi panah dan lengan yang digunakan untuk menarik harus sejajar pada satu garis lurus.
Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik penjelasan bahwa gerakan memanah melibatkan struktur anatomi tubuh terutama pada struktur lengan, dimana agar beban dari busur ditopang oleh lengan yang menahan busur, otot lengan yang bekerja tidak terlalu berat dan tidak akan menyebabkan terjadinya cidera. Usaha yang dapat dilakukan agar bisa melakukan olahraga panahan dengan baik dan benar ialah melatih otot – otot lengan, adapunotot-otot utama yang harus dilatih dan dikembangkan ialah otot-otot bahu, otot leher, biceps, triceps, otot lengan bagian bawah, oto pergelangan tangan, otot diafragma.
METODE
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan literatur review melalui beberapa jurnal mengenai aktivasi otot saat memanah serta kemungkinan cidera yang dialami atlit panahan dan cara penanganannya. Kriteria jurnal yang dipakai adalah sistem kerja otot ketika melaksanakan kegiatan memanah dan kemungkinan cidera yang dialamai atlet panahan. Kriteria eksklusi adalah jurnal yang tidak menggunakan bahasa inggris dan jurnal yang ditampilkan tidak full teks.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penentuan dari olahraga panahan adalah pada saat release yang didukung oleh fase-fase memanah sebelumnya terutama mulai dari drawing (Faris Naufal et al., 2019).
Dalam olahraga panahan, gaya yang bekerja pada tulang harus dimaksimalkan dibanding gaya yang bekerja pada otot yang berguna mengurangi dampak cedera pada pemanah.
Bagian tubuh yang cenderung banyak mengalami cidera dalam olahraga panahan adalah daerah bahu, Cedera yang terjadi pada tubuh mengakibatkan timbulnya nyeri, panas, merah, bengkak, dan tidak dapat berfungsi baik pada otot, tendon, ligamen, persendian ataupun tulang akibat aktivitas gerak yang berlebihan atau kecelakaan (Mira et al., n.d.). Pada saat lengan melakukan tarikan (drawing) lengan melakukan gerakan secara horizontal, sehingga struktur otot dan persendian pada bahu terganggu.. Hal tersebut dikarenakan sikut lengan penarik diangkat lebih dari 90 derajat. Faktor lain yang
bisa menyebabkan terjadinya cidera adalah gerakan menarik busur yang dilakukan dengan frekwensi yang tinggi. (Setiawan, 2011) mengatakan penyebab timbulnya cedera olahraga adalah trauma langsung/benturan langsung pada yang melakukan aktivitas olahraga dapat mengalami cedera karena trauma/benturan langsung yang menyebabkan cedera olahraga akut atau akibat latihan yang berlebih/overuse yang menyebabkan cedera kronis.
Olahraga panahan adalah olahraga yang dilakukan oleh diri sendiri sehingga kemungkikan terjadinya cidera sebagian besar disebabkan karena pengulangan gerakan sehingga mengakibatkan cidera pada otot dan tendons pada bahu orang tersebut.
(Maghfiroh et al., 2015) mendistribusikan sampel berdasarkan cidera bahu dalam tabel berikut :
Tabel 1. Distribusi sampel berdasarkan cidera bahu
Variabel Frekuensi Presentase
Ya Tidak
54 26
67.5 32.5
Tidak Ya
52 28
65 35
Tidak Ya
18 62
22.5 77.5
Baik Rendah
69 11
86.3 13.8
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa dari 52 atlet yang melakukan pemanasan dengan baik ada 24 atlet n (46%) tidak mengalami cedera bahu dan 28 atlet (56%) mengalami cedera bahu, kemudian dari 28 atlet yang kurang pemanasan ada 2 atlet (7%) tidak mengalami cedera bahu dan 26 atlet (93%) mengalami cedera bahu. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,0000 ( p < 0,05) artinya ada hubungan yang bermakna antara kurang pemanasan dengan cedera bahu (Maghfiroh et al., 2015)
Jika pengulangan gerak dilakukan secara berlebihan bisa mengakibatkan otot akan spasme dan bisa terkena cidera, cidera diawali dengan rasa sakit pada bagian bahu dan jika terus digunakan akan mengakibatkan cidera menjadi lebih buruk. Hal semacam
ini secara umum disebabkan karena serabut otot dan tendons robek. Jika pemanah menghindari rasa sakit dengan memposisikan bahu pada posisi, m a k a y a n g t e r j a d i a d a l a h pemanah akan kesakitan dan otot menjadi lemah dan tidak mampu digunakan dengan baik. Otot – oto pada bahu akan kehilangan stabilitas, sehingga tidak bisa berfusi secara normal. Hal ini akan menyebabkan penurunan performa atlit.
Aspek pertama yang harus diperhatikan adalah mencoba untuk mencegah cidera pada saat pemanah melakukan stance khususnya jika seseorang lebih cenderung condong kearah target. Terlalu banyak condong kearah target akan menciptakan sudut pada ligament acromioclavicular yang berdapak pada otot biceps dan tendon supraspinatus (Siff, 1993). Beberapa pengaruh yang dihasilkan oleh peningkatan sikut lengan pada saat menarik dengan meningkatnya abduksi (Siff, 1993). Aspek lainnya yang harus diperhatikan adalah beberapa ekstensi horizontal yang dicapai dan apakah hal tersebut cukup untuk meminimalkan gaya (force) pada tendon untuk mengurangi cidera (Siff, 1993). Perbedaan antara ekstensi horizontal yang tidak kuat dan ekstensi yang lebih tepat pada tarikan penuh (full draw). Program latihan penguatan otot pada atlet panahan harus dilakukan dengan frekwensi yang lebih tinggi agar meminimalisir terjadinya cidera. Latihan peregangan (stretching) otot – otot tubuh bagian atas bisa dilakukan sebelum melakukan aktifitas memanah hal tersebut akan membantu mencegah cidera pada pada bagian leher, bahu dan punggung. Peregangan ini dilakukan dengan jangka waktu 15 menit sebelum memulai memanah. Jenis alat yang bisa digunakan untuk latihan sebelum memanah biasanya dengan menggunakan elastic tubing/rubber,. Latihan tersebut bisa disarankan, dan bisa dilakukan setiap hari selama 3 set sebanyak 15 repetisi dalam setiap setnya, dengan melakukan latihan tersebut diharapkan ketahanan secara perlahan akan meningkat dan kekuatan akan meningkat.
SIMPULAN
Cedera olahraga panahan memerlukan pengelolaan yang baik agar atlet dapat kembali berprestasi. Untuk mencapai tujuan tersebut pengelolaan cedera olahrga panahan harus didukung oleh berbagai disiplin ilmu atau profes, pada olahraga panahan bagian tubuh yang paling sering terjadi cidera adalah bagian bahu. Hal tersebut terjadi karena olahraga panahan lebih banyak menggunakan bahu untuk melakukan olahraga tersebut.
Adapun upaya untuk mencegah terjadinya cidera bahu pada olahraga panahan adalah dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu, selain itu juga bisa dilakukan penguatan
pada otot –otot bagian bahu dan yang terakhir dengan memperbaiki teknik saat memanah, dengan hal – hal tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cidera pada olah olahraga panahan.
DAFTAR PUSTAKA
Faris Naufal, A., Afriani Khasanah, D., Studi Fisioterapi, P., Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl Yani Trombol, F. A., & Tengah, J. (2019). ANALISIS AKTIVASI OTOT PADA OTOT EKSTERMITAS ATAS SAAT MEMANAH MENGGUNAKAN ELEKTROMIOGRAFI: REVIEW ANALYSIS MUSCLE ACTIVATION OF UPPER LIMB MUSCLE DURING ARCHERY SHOOTING WITH ELECTROMYOGRAPHY: REVIEW 1). In The 9th University Research Colloqium (Urecol) (Vol. 9, Issue 1).
http://eproceedings.umpwr.ac.id/index.php/urecol9/article/view/555 Maghfiroh, I. N., Muryono, S., & Setiawan, M. R. (2015). Faktor Risiko yang
Berhubungan dengan Cedera Bahu pada Pemain Bulutangkis di Kota Semarang.
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah, 2(1), 1–6.
Mira, O. :, Nindyowati, H., Priyonoadi, B., Kesehatan, P., Rekreasi, D., & Uny, F. (n.d.).
TINGKAT KECEMASAN ATLET AEROMODELLING KELAS FREE FLIGHT SETELAH MENGALAMI CEDERA BAHU MENJELANG PERTANDINGAN.
Setiawan, A. (2011). Faktor Timbulnya Cedera Olahraga. Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, 1(1). https://doi.org/10.15294/miki.v1i1.1142
Siff, M. (1993). Strength-endurance. Fitness & Sports Review International, 28(3), 78–
80.