• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : ANDRY PANDAPOTAN PURBA A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh : ANDRY PANDAPOTAN PURBA A"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

PEPAYA CALIFORNIA (Kasus: desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, Jawa Barat )

Oleh :

ANDRY PANDAPOTAN PURBA A 14105512

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(2)

Oleh :

ANDRY PANDAPOTAN PURBA A 14105512

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(3)

ANDRY PANDAPOTAN PURBA. Analisis Pendapatan Usahatani dan Saluran Pemasaran Pepaya California (Kasus: desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, Jawa Barat). (Dibawah bimbingan ANDRIYONO KILAT ADHI)

Pepaya merupakan tanaman buah berupa herba dari famili Caricaceae dan merupakan komoditi hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Salah satu jenis pepaya yang saat ini digemari petani untuk dikembangkan adalah pepaya California. Pepaya California merupakan varietas pepaya baru yang kini digemari para petani karena menjanjikan keuntungan. Adanya permintaan dari supermarket yang berkelanjutan terhadap pepaya California, dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani untuk melakukan kegiatan usahatani pepaya California tersebut. Adanya luas lahan yang tidak seragam yang dimiliki setiap petani, akan menyebabkan jumlah produksi yang dihasilkan juga berbeda. Tinggi rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh para petani untuk melakukan kegiatan usahatani pepaya California tersebut, juga sangat berpengaruh terhadap besarnya jumlah produksi yang dihasilkannya. Besarnya tingkat penggunaan input (seperti pupuk, bibit dan tenaga kerja) akan berpengaruh terhadap tingkat pendapatan yang diperoleh masing-masing petani. Selain itu, penetapan harga jual pepaya California yang dilakukan oleh para petani akan mempengaruhi besarnya tingkat pendapatan yang diperoleh.

Efisien atau tidaknya suatu saluran pemasaran, dipengaruhi oleh lembaga- lembaga pemasaran yang terkait di dalamnya. Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam memasarkan pepaya dari petani hingga konsumen akhir adalah:

produsen atau yang disebut sebagai petani, supplier dan pedagang pengecer. Dari permasalahan tersebut, maka dilakukan analisis pendapatan usahatani pepaya California untuk melihat berapa tingkat pendapatan usahatani pepaya California tersebut dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Selain itu, perlu juga dilakukan analisis saluran pemasaran, untuk mengetahui bagaimana bentuk saluran pemasaran California yang ada di lokasi penelitian.

Penelitian dilakukan di desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan wawancara langsung dengan petani, sedangkan data sekunder diperoleh dari BPS dan sumber lain yang relevan.

Produksi rata-rata pepaya California yang dihasilkan oleh petani

responden adalah sebanyak 65.296 kg dengan luas lahan rata-rata 0,94 hektar

(ha). Harga jual rata-rata pepaya California adalah Rp. 1.930 per kg, sehingga

rata-rata penerimaan yang diperoleh petani responden selama satu tahun adalah

sebesar Rp. 126.021.280. Biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani responden

adalah Rp. 31.125.475 per tahun, sehingga pendapatan atas biaya tunai adalah

sebesar Rp 94.895.805 per tahun. Sedangkan pendapatan atas total biaya untuk

luas lahan rata-rata 0,94 hektar dengan rata-rata produksi 65.296 kg dan jumlah

total biaya Rp 35.061.375 adalah sebesar Rp 90.959.905. Nilai R/C atas biaya

total yang diperoleh adalah sebesar 3.59 dan nilai R/C atas biaya tunai adalah

sebesar 4.05.

(4)

hektar). Luas lahan rata-rata yang dimiliki petani skala kecil adalah 0,35 hektar, petani skala menengah 1,15 hektar, sedangkan luas lahan rata-rata petani skala besar adalah 2,5 hektar. Dari hasil analisis R/C yang dilakukan, diketahui bahwa petani responden skala menengah memiliki nilai R/C yang lebih besar yaitu untuk R/C atas biaya tunai sebesar 5,66 dan untuk R/C atas total biaya sebesar 4,86.

Perhitungan pendapatan responden berdasarkan luas lahan tersebut juga dikonversikan ke dalam luasan satu hektar dengan tujuan untuk melihat faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani tersebut untuk luasan per hektar. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat keefisienan petani responden tersebut dalam melakukan kegiatan usahatani pepaya California.

Hasil analisis menunjukkan nilai R/C atas biaya tunai dan nilai R/C atas total biaya yang diterima oleh petani skala menengah juga lebih besar dibandingkan petani skala besar dan petani skala kecil (untuk luasan 1 ha). Petani skala menengah memperoleh nilai R/C atas biaya tunai sebesar 5,66 dan nilai R/C atas total biaya sebesar 4,86. Petani skala besar memperoleh nilai R/C atas biaya tunai sebesar 3,58 dan nilai R/C atas total biaya sebesar 3,15. Sedangkan petani skala kecil memperoleh nilai R/C atas biaya tunai sebesar 3,55 dan nilai R/C atas total biaya sebesar 2,95. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa kegiatan usahatani pepaya California untuk luas lahan satu hektar yang dilakukan oleh petani skala menengah lebih efisien dibandingkan petani skala lain. Untuk luasan tersebut, jumlah tanaman yang lebih efisien untuk diusahakan adalah sebanyak 1.587 pohon dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m.

Berdasarkan keseluruhan nilai R/C yang diperoleh petani responden (nilai R/C > 1), maka dapat dikatakan bahwa kegiatan usahatani pepaya California sangatlah menjanjikan keuntungan. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani responden di desa Cimande dan desa Lemahduhur adalah: luas lahan, jumlah tanaman per hektar, jarak tanam, penggunaan bibit, penggunaan pupuk kompos, penggunaan pupuk NPK dan penggunaan tenaga kerja luar keluarga (TKLK).

Dari 10 orang petani responden, terdapat dua pola saluran pemasaran

pepaya California. Pola saluran pemasaran yang paling banyak digunakan adalah

pola saluran pemasaran I (90 persen). Sedangkan petani yang memilih pola

saluran pemasaran II sebesar 10 persen, dimana petani tersebut langsung

memasarkan produknya ke pabrik. Besarnya bagian yang diterima oleh petani

(farmer’s share) pada pola saluran pemasaran I adalah Rp 1900 (25,33 persen)

dari harga jual pedagang pengecer. Sedangkan pada pola saluran II, petani

memperoleh farmer’s share sebesar Rp 2200 (100 persen) dari harga beli

konsumen akhir. Untuk analisis rasio keuntungan dan biaya, petani pada pola

saluran II memperoleh keuntungan terbesar yaitu 8,73. Artinya adalah petani

tersebut memperoleh keuntungan sebesar 8,73 untuk setiap rupiah yang

dikeluarkan. Sedangkan rasio antara keuntungan dan biaya yang diperoleh petani

pola saluran II adalah sebesar 4,39 untuk setiap rupiah yang dikeluarkan.

(5)

PEPAYA CALIFORNIA (Kasus: desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, Jawa Barat )

Oleh:

ANDRY PANDAPOTAN PURBA A 14105512

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(6)

Nama : Andry Pandapotan Purba

NRP : A14105512

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Andriyono Kilat Adhi NIP. 131 410 931

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus : 10 Mei 2008

(7)

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI SAYA YANG BERJUDUL ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN SALURAN PEMASARAN PEPAYA CALIFORNIA (KASUS: DESA CIMANDE DAN DESA LEMAHDUHUR, KECAMATAN CARINGIN, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Mei 2008

ANDRY PANDAPOTAN PURBA

(A14105512)

(8)

Penulis dilahirkan di Padangsidempuan, Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 16 Maret 1984, merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan bapak B. Purba dan ibu N. Br. Hutagalung.

Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD swasta Xaverius Padangsidempuan tahun 1996, kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) swasta Kesuma Indah Padangsidempuan dan lulus pada tahun 1999. Kemudian penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 2 Padangsidempuan dan lulus pada tahun 2002.

Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program

Diploma III Agribisnis Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor,

dan lulus pada tahun 2005, kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Program

Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian

Bogor.

(9)

Penulisan skripsi ini tidak dapat selesai tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan yang berbahagia ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Papa dan mama saya tercinta yang selalu memberikan dukungan dalam segala hal, terutama dalam doa dan nasehatnya. Khusus untuk Ibunda tercinta yang selama masa hidupnya selalu mendoakan, memperhatikan dan memberikan kasih sayangnya kepadaku. Buat kakakku tersayang kak Anna, dan juga adik- adikku Ferry, Gunawan, Nancy dan Nanda yang selalu memberikan motivasi, semangat dan juga doa. Juga buat kakak iparku keluarga besar K. Sinaga dan keluarga besar T. Bancin beserta keponakan-keponakanku Derlina, Almando, Agnesia dan Devi atas doa, bimbingan dan dukungan yang telah diberikan kepada saya.

2. Bapak Dr. Ir. Andriyono Kilat Adhi, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, saran, arahan dan dorongan kepada saya dalam penyelesaian skripsi ini.

3. Ibu Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS atas kesediaannya sebagai dosen evaluator pada saat kolokium.

4. Ibu Dr. Ir. Anna Fariyanti, MS atas kesediannya sebagai dosen penguji utama.

5. Bapak Arif Karyadi Uswandi, SP atas kesediaannya sebagai dosen penguji Komisi Pendidikan.

6. Thomson Berutu, Amd atas kesediaannya sebagai pembahas dalam seminar.

(10)

dan informasi yang saya butuhkan dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Teman seperjuanganku Ebrinedy Haloho atas kekompakan dan kerjasamanya dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Budi, Binharto, Dedy, David, Erick, Ilham, Juan dan Majus yang telah membantu saya dalam melakukan penelitian.

10. Semua teman-teman di wisma Borobudur atas bantuan yang telah diberikan.

11. Semua pihak yang belum dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu saya dalam hal apapun.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pihak yang membacanya dan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan tuntunan dalam pelaksanaan penelitian selanjutnya.

Bogor, Mei 2008

Penulis

(11)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan kasih karunia-Nya yang begitu besar dan luar biasa, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul analisis pendapatan usahatani dan saluran pemasaran pepaya California (kasus: desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, Jawa Barat). Skripsi ini menganalisis tentang pendapatan usahatani pepaya California yang ada di desa Cimande dan desa Lemahduhur, serta menganalisis sistem pemasarannya.

Skripsi ini merupakan hasil karya penulis guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Melalui skripsi ini, penulis mencoba memberikan gambaran dalam mencari alternatif untuk mengambil keputusan dalam melakukan kegiatan usahatani pepaya California melalui pendekatan teori usahatani dan pemasaran.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dalam penyajian materi maupun ide-ide pokok yang penulis sampaikan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan selanjutnya pada masa yang akan datang. Akhirnya, penulis berharap agar skripsi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pembacanya.

.

Bogor, Mei 2008

Penulis

(12)

DAFTAR TABEL ...xiv

DAFTAR GAMBAR...xv

DAFTAR LAMPIRAN ...xvi

I. PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Perumusan Masalah ...5

1.3. Tujuan Penelitian ...8

1.4. Manfaat Penelitian ...9

II. TINJAUAN PUSTAKA ...10

2.1. Tinjauan Umum Komoditi Pepaya ...10

2.2. Syarat Tumbuh ...12

2.3. Budidaya Pepaya California ...13

2.3.1. Persiapan Bibit ...13

2.3.2. Persemaian ...13

2.3.3. Penanaman ...14

2.3.4. Pemeliharaan ...14

2.3.5. Panen dan Pasca Panen ...14

2.4. Studi Penelitian Terdahulu ...15

III. KERANGKA PEMIKIRAN ...19

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ...19

3.1.1. Pendapatan dan Biaya Usahatani...19

3.1.2. Konsep Pemasaran...20

3.1.3. Lembaga dan Fungsi-Fungsi Pemasaran...22

3.1.4. Analisis Saluran dan Efisiensi Pemasaran ...24

3.1.4.1. Farmer’s Share ...27

3.1.4.2. Margin Pemasaran ...27

3.1.4.3. Rasio Keuntungan dan Biaya ...29

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ...29

IV. METODE PENELITIAN...32

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ...32

4.2. Jenis dan Sumber Data...32

4.3. Metode Pengambilan Responden ...33

4.4. Metode Pengumpulan Data ...34

(13)

4.5.1. Analisis Pendapatan Usahatani ...35

4.5.2. Analisis Lembaga dan Saluran Pemasaran ...36

4.5.3. Analisis Efisiensi Pemasaran...36

4.5.3.1. Analisis Farmer’s Share...37

4.5.3.2. Marjin Pemasaran ...37

4.5.3.3. Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya ...39

4.6. Defenisi Operasional ...40

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ...41

5.1. Lokasi dan Kondisi Geografis Penelitian ...41

5.2. Keadaan Penduduk ...42

5.3. Karakteristik Responden Petani Pepaya California...44

5.3.1. Status Kepemilikan Usaha ...44

5.3.2. Tingkat Pendidikan dan Umur Petani Responden ...45

5.3.3. Tingkat Penggunaan Input, Jumlah Penerimaan dan Pola Saluran Pemasaran ...46

5.4. Teknik Budidaya Pepaya California...47

5.4.1. Persiapan Bibit...47

5.4.2. Persemaian...48

5.4.2.1. Pengisian Media Tanam Ke Polibag ...48

5.4.2.2. Penyemaian...48

5.4.3. Penanaman...49

5.4.3.1. Pembuatan Lobang Tanam dan Penanaman ...49

5.4.4. Pemeliharaan ...49

5.4.4.1. Penyiraman, Penyulaman dan Penyiangan ...49

5.4.4.2. Pemupukan, Pembumbunan, dan Pengendalian Hama dan Penyakit...50

5.4.5. Panen dan Pasca Panen ...51

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ...53

6.1. Analisis Pendapatan Usahatani Pepaya California...53

6.1.1. Penerimaan Usahatani...54

6.1.2. Biaya Usahatani ...54

6.2. Analisis Pendapatan Usahatani Pepaya California Berdasarkan Skala Usaha...59

6.3. Analisis Lembaga dan Saluran Pemasaran ...64

6.3.1. Fungsi Pemasaran ...65

6.3.2. Efisiensi Pemasaran ...69

6.3.2.1. Farmer’s Share ...69

6.3.2.2. Marjin Pemasaran...69

6.3.3. Analisis Efisiensi Pemasaran...72

(14)

7.1. Kesimpulan ...73

7.2. Saran ...75

DAFTAR PUSTAKA ...76

LAMPIRAN ...78

(15)

Nomor Halaman

1. Komposisi Buah dan Daun Pepaya ...2

2. Perkembangan dan Peningkatan Produktivitas, Luas Panen

dan Produksi Pepaya Indonesia Tahun 2000 – 2005 ...3 3. Konsumsi Buah Pepaya Per Kapita di Indonesia Tahun 2002-2005 ... 3 4. Perkembangan Ekspor dan Impor Buah Pepaya di Indonesia

Tahun 2002 - 2005 ...4 5. Jumlah Penduduk di Desa Cimande dan Desa Lemahduhur Tahun 2007

Menurut Mata Pencaharian... 43 6. Jumlah Responden Petani Pepaya California Berdasarkan Skala Usaha

dan Status Kepemilikan Usaha di Desa Cimande

dan Desa Lemahduhur... 44 7. Jumlah Responden Pepaya California Berdasarkan Umur dan Tingkat

Pendidikan Umur di Desa Cimande dan Desa Lemahduhur ... 45 8. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengeluaran,

Jumlah Produksi dan Tingkat Penerimaan ... 46 9. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pola

Saluran Pemasaran ... 47 10. Rata-rata Pendapatan Petani Responden Untuk Luas Lahan

0,94 Hektar Tahun 2007-2008 (1 Tahun)... 55 11. Rata-rata Nilai Penyusutan Peralatan Usahatani Pepaya California

Per Tahun... 57

12. Perbandingan Pendapatan Petani Responden Berdasarkan Skala

Usaha Untuk Luasan Lahan 1 Hektar Dalam Waktu Satu Tahun ... 60 13. Fungsi Pemasaran Pada Lembaga Pemasaran Pepaya California

di Desa Cimande dan Desa Lemahduhur ... 66 14. Analisis Marjin Pemasaran Pepaya California di Desa Cimande

dan Desa Lemahduhur... 70

(16)

Nomor Halaman 1. Buah dan Pohon Pepaya California ...5 2. Konsep-konsep Inti Pemasaran ...21 3. Hubungan Antara Margin Tataniaga, Nilai Margin Tataniaga

serta Marketing Cost and Charge ...28

4. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ...31

5. Saluran Pemasaran Pepaya California di Lokasi Penelitian ...65

(17)

Nomor Halaman

1. Peta Wilayah Kecamatan Caringin ...78

2. Masing-masing Umur Tanaman, Luas Lahan, Jarak Tanam, Jumlah Tanaman dan Jumlah Produksi Pepaya California, Serta Pendapatan Yang Dihasilkan Petani Responden Dalam

Waktu Satu Tahun di Daerah Penelitian ...79 3. Potensi Sumberdaya Tiap-tiap Desa di Kecamatan Caringin,

Kabupatan Bogor, Jawa Barat ... 80 4. Penjabaran Tentang Biaya Yang Dikeluarkan Oleh Masing-masing

Petani Responden... 81 5. Pendapatan Petani Responden Berdasarkan Skala Usaha (Luas Lahan)

Dalam Waktu Satu Tahun ... 86 6. Perincian Penerimaan, Biaya dan Pendapatan Petani Berdasarkan

Skala Usaha Per Hektar Dalam Waktu Satu Tahun... 88

7. Kuisioner Penelitian ... 90

(18)

1.1. Latar Belakang

Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai iklim tropis, berpeluang besar bagi pengembangan budidaya tanaman buah-buahan, terutama buah-buahan tropika. Buah-buahan merupakan salah satu komoditi pertanian yang penting dan terus ditingkatkan produksinya baik untuk memenuhi konsumsi dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan terhadap buah-buahan yang semakin tinggi juga dapat membuka peluang bagi peningkatan agribisnis buah sehingga diharapkan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya terutama dalam mengatasi perdagangan bebas saat ini. Peningkatan kualitas buah merupakan salah satu upaya dalam mengatasi persaingan tersebut disamping peningkatan produksi dan efisiensi usaha.

Salah satu jenis tanaman buah-buahan yang sangat digemari oleh masyarakat adalah pepaya. Pepaya (Carica papaya L.) adalah tumbuhan yang berasal dari Meksiko bagian Selatan dan bagian Utara dari Amerika Selatan dan kini telah tersebar luas di seluruh dunia. Pepaya merupakan tanaman buah berupa herba dari famili Caricaceae dan merupakan komoditi hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Sebagai buah segar, pepaya relatif disukai semua lapisan masyarakat

karena cita rasanya yang enak, kaya vitamin A, B dan C yang sangat dibutuhkan

oleh tubuh manusia. Buah pepaya mengandung enzim papain yang sangat aktif

dan memiliki kemampuan mempercepat proses pencernaan protein, karbohidrat

dan lemak. Bagian tanaman pepaya lainnya juga dapat dimanfaatkan, antara lain

(19)

2

sebagai obat tradisional, pakan ternak dan kosmetik. Pepaya juga dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan dan minuman yang diminati pasar luar negeri seperti olahan puri, pasta pepaya, manisan kering, manisan basah, saus pepaya dan juice pepaya. Bahkan bijinyapun dapat diolah lebih lanjut menjadi minyak dan tepung.

1

Komposisi buah dan daun pepaya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi buah dan daun pepaya

Unsur Komposisi Buah Masak Buah Mentah Daun

Energi (Kal) 46 26 79

Air (gr) 86,7 92,3 75,4

Protein (gr) 0,5 2,1 8

Lemak (gr) - 0,1 2

Karbohidrat (gr) 12,2 4,9 11,9

Vitamin A (IU) 365 50 18.250

Vitamin B (mg) 0,04 0,02 0,15

Vitamin C (mg) 78 19 140

Kalsium (mg) 23 50 353

Besi (mg) 1,7 0,4 0,8

Fosfor (mg) 12 16 63

Sumber: Direktorat Gizi, Depkes RI, 1979

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kandungan gizi tertinggi yang terdapat dalam buah pepaya adalah vitamin A, yaitu 365 IU pada buah masak, 50 IU pada buah mentah, dan 18.250 IU pada daun. Hal ini dapat menunjukkan bahwa buah pepaya sangat penting dikonsumsi oleh manusia.

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi buah tersebut, dapat meningkatkan permintaan terhadap pepaya sehingga jumlah pasokan pepaya juga harus ditingkatkan. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan pengembangan budidaya pepaya dan peningkatan produktivitas dengan cara efisiensi produksi dan perluasan skala usaha. Perkembangan dan peningkatan produktivitas, luas panen dan produksi pepaya Indonesia disajikan pada Tabel 2.

1

Agribisnis Budidaya Pepaya dan Papain. http://www.cianjur.go.id. 20 Oktober 2007.

(20)

Tabel 2. Perkembangan dan peningkatan produktivitas, luas panen dan produksi pepaya Indonesia Tahun 2000-2005

Produktivitas Luas Panen Produksi

Tahun

(Ton/Ha) Peningkatan

(%) (Ha) Peningkatan

%) Ton Peningkatan

(%)

2000 48,30 - 8.886 - 429.207 -

2001 48,79 1,02 10.259 15,45 500.571 16,63

2002 58,87 20,65 10.280 0,20 605.194 20,90

2003 67,35 14,40 9.306 -9,47 626.745 3,56 2004 80,21 19,09 9.134 -1,85 732.611 16,89 2005 69,64 -13,17 7.879 -13,74 548.657 -25,11 Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura (2006)

Tabel 2 menunjukkan produksi pepaya dari tahun 2000 hingga tahun 2004 mengalami peningkatan, walaupun kenyataannya jumlah luas panen pada tahun 2003 hingga tahun 2005 mengalami penurunan. Pada tahun 2005 jumlah produksi pepaya di Indonesia menurun hingga 25,11 persen, dimana pada tahun 2005 luas panen juga menurun hingga mencapai 13,74. persen dari tahun 2004. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya petani yang menjual lahannya kepada pihak- pihak tertentu untuk dijadikan sebagai pemukiman penduduk ataupun sebagai bisnis.

Peluang pengembangan pepaya di Indonesia tidak lepas dari tingkat konsumsi masyarakat akan buah pepaya tersebut. Konsumsi buah pepaya di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Konsumsi Buah Pepaya Per kapita di Indonesia Tahun 2002-2005

Tahun Jumlah (kg) Persentase (%)

2002 2,24 -

2003 2,44 8,93

2004 2,34 -4,10

2005 2,29 -2,14

Sumber: Data Susenas, 2007

Tabel 3 dapat dilihat bahwa konsumsi buah pepaya per kapita di Indonesia

pada Tahun 2003 mengalami peningkatan sebesar 8,93 persen dari tahun 2002.

(21)

4

Namun pada tahun-tahun berikutnya konsumsi pepaya mengalami penurunan.

Bahkan pada tahun 2005, konsumsi pepaya di Indonesia hanya sebesar 2,29 kg per kapita per tahun. Hal ini seiring dengan penurunan jumlah produksi dan luas panen yang terbesar pada tahun tersebut. Selain itu, menurunnya jumlah dan nilai ekspor maupun impor dapat menyebabkan jumlah konsumsi buah pepaya tersebut menjadi menurun (Tabel 4).

Buah pepaya telah menjadi komoditi perdagangan Internasional saat ini dan menjadi produk ekspor beberapa negara produsen di kawasan Asia seperti Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia. Pada kenyataannya buah pepaya belum menjadi produk ekspor unggulan Indonesia yang dapat diandalkan karena produksinya masih terbatas dan bahkan belum mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Tabel 4. Perkembangan ekspor dan impor buah pepaya di Indonesia Tahun 2002- 2005

Ekspor Impor

Barat Bersih Nilai Berat Bersih Nilai

Tahun

(Kg) % (US$) % (Kg) % (US$) %

2002 3.287 - 6.643 - - - - -

2003 187.972 5.618,65 231.350 3.382,61 298.834 - 79.573 - 2004 524.686 179,13 1.301.371 462,51 1.789.880 498,95 520.892 554,61 2005 60.485 -88,47 112.597 -91,35 141.421 -92,10 45.568 -91,25 Sumber: Badan Pusat Statistik (2006)

Berdasarkan Tabel 4 di atas dapat dilihat peningkatan ekspor pepaya

tertinggi terjadi tahun 2003 sebesar 5.618,65 persen, sedangkan pada tahun 2005

terjadi penurunan sebesar 88,47 persen. Peningkatan ekspor pepaya tersebut dapat

disebabkan oleh adanya perbaikan varietas bibit pepaya yang disesuaikan dengan

selera konsumen. Selain itu, nilai tukar luar negeri yang relatif lebih tinggi dapat

mendorong pengusaha untuk melakukan ekspor pada tahun tersebut. Semakin

meningkatnya permintaan buah pepaya dalam negeri, menyebabkan Indonesia

(22)

harus mengimpor dari luar agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Peningkatan impor pepaya tertinggi terjadi pada tahun 2004 sebesar 498,95 persen, hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan nilai impor pada tahun tersebut yaitu sebesar 554,61 persen dari nilai impor pada tahun 2003.

1.2. Perumusan Masalah

Pepaya merupakan tanaman buah berupa herba dari famili Caricaceae dan merupakan komoditi hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Salah satu jenis pepaya yang saat ini digemari petani untuk dikembangkan adalah pepaya California.

Gambar 1. Buah dan Pohon Pepaya California

(23)

6

Gambar 1 dapat dilihat bahwa pepaya California memiliki ukuran yang relatif kecil. Daging buahnya yang merah dan rasanya yang manis menjadikan buah ini memiliki keunggulan tersendiri. Berat buah pepaya California berkisar antara 0,5 hingga 2,0 kg per buahnya, dan tinggi pohonnya dapat mencapai 0,7 hingga 2 meter di atas permukaan tanah.

Pepaya California merupakan varietas pepaya baru yang kini sangat digemari para petani karena menjanjikan keuntungan. Tempat penanaman pepaya California diantaranya terletak di desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pepaya California adalah varietas pepaya baru yang memiliki keunggulan buah tersendiri, rasanya lebih manis, lebih tahan lama, dan bisa dipanen lebih cepat dibandingkan pepaya varietas lain. Pepaya California banyak diminati karena ukurannya tidak terlalu besar, kulitnya lebih halus dan mengkilat. Pohon pepaya California sudah bisa dipanen setelah berumur sembilan bulan, dan pohonnya dapat berbuah hingga umur empat tahun. Dalam satu bulan, pohon pepaya California tersebut bisa dipanen sampai delapan kali.

Adanya permintaan dari supermarket yang berkelanjutan terhadap pepaya California, dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani untuk melakukan kegiatan usahatani pepaya California tersebut. Bahkan, adanya petani responden yang mengalihkan usahanya untuk mencoba melakukan usahatani pepaya California dapat memberikan gambaran bahwa usahatani tersebut sangat digemari para petani tersebut.. Hal ini disebabkan oleh usahatani tersebut dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi.

Jumlah produksi pepaya California yang dihasilkan petani sangat

dipengaruhi oleh luas lahan yang dimilikinya. Adanya luas lahan yang tidak

(24)

seragam yang dimiliki setiap petani, akan menyebabkan jumlah produksi yang dihasilkan juga berbeda. Tinggi rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh para petani tersebut untuk melakukan kegiatan usahatani pepaya California tersebut, juga sangat berpengaruh terhadap besarnya jumlah produksi yang dihasilkannya. Hal tersebut akan mempengaruhi tingkat penerimaan yang diperoleh petani tersebut.

Karakteristik pepaya yang cepat mengalami kematangan dan kerusakan buah, menyebabkan petani tersebut memerlukan pemasaran yang cepat, karena jika penanganannya tidak cepat dapat menimbulkan biaya penyusutan berupa penurunan harga karena kondisi pepaya yang tidak segar lagi. Jauhnya daerah pemasaran dari sentra produksi memungkinkan timbulnya risiko yaitu: (1) apabila petani tersebut langsung menjual produknya ke konsumen akhir akan memerlukan biaya transportasi yang tinggi, (2) apabila petani menjual hasil produksinya di daerahnya, maka petani tersebut akan menerima harga jual yang terlalu rendah.

Efisien atau tidaknya suatu saluran pemasaran, dipengaruhi oleh lembaga- lembaga pemasaran yang terkait di dalamnya. Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam memasarkan pepaya dari petani responden hingga konsumen akhir adalah: produsen atau yang disebut sebagai petani responden, supplier dan pedagang pengecer. Lembaga pemasaran yang berfungsi sebagai penghubung akan membentuk pola saluran pemasaran pepaya California tersebut.

Diantara lembaga pemasaran yang ada, posisi petani adalah yang paling

rendah. Rendahnya posisi tersebut disebabkan oleh kebutuhan rumah tangga yang

mendesak sementara daya beli relatif rendah. Selain itu, kurang tersedianya sarana

transportasi dan informasi mengenai harga pasar menyebabkan petani mengalami

(25)

8

kesulitan dalam menetapkan harga jualnya sehingga terjadi perbedaan harga cukup besar antara harga yang diterima petani dan harga yang diterima pengecer.

Harga jual di tingkat petani responden yang berkisar antara Rp 1900 hingga Rp 2200 per kg, cukup jauh bedanya dengan harga jual pedagang pengecer sebesar Rp 7500. Hal ini menyebabkan bagian yang diterima petani menjadi rendah, sehingga perumusan masalah yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Berapa tingkat pendapatan usahatani pepaya California di daerah penelitian dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya?

2. Bagaimana bentuk saluran pemasaran pepaya California dari petani/produsen sampai ke konsumen akhir di daerah penelitian?

3. Apakah sistem pemasaran, saluran pemasaran mulai dari produsen kepada konsumen akhir pada setiap lembaga sudah efisien?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan diatas maka penelitian ini diharapkan bertujuan untuk:

1. Menganalisis pendapatan usahatani pepaya California di daerah penelitian dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. Mengetahui bentuk saluran pemasaran pepaya California yang terjadi di daerah penelitian.

3. Menganalisis efisiensi pemasaran pepaya California dengan pendekatan

fungsi-fungsi pemasaran, lembaga pemasaran, saluran pemasaran, analisis

farmer’s share, analisis marjin pemasaran dan analisis keuntungan dan biaya.

(26)

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan bagi pihak dalam mengambil keputusan untuk melakukan kegiatan budidaya pepaya California.

2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang ingin mengetahui saluran pemasaran pepaya California di desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor.

3. Sebagai bahan informasi bagi pelaku pasar dalam memilih saluran pemasaran serta menjadi bahan pertimbangan bagi pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan yang berkenaan dengan pemasaran pepaya California.

(27)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Komoditi Pepaya

Pepaya (Carica papaya L.), salah satu buah introduksi yang telah lama dikenal berkembang luas di Indonesia, merupakan tanaman monodioecious (berumah tunggal sekaligus berumah dua). Pepaya adalah jenis tanaman herba, batangnya berongga biasanya tidak bercabang dan tingginya dapat mencapai 10 meter. Daunnya merupakan daun tunggal dan berukuran besar, tangkai daun berukuran panjang dan berongga. Bunganya terdiri dari tiga jenis yaitu: bunga jantan, bunga betina dan bunga sempurna. Bentuk buah beragam dari yang bentuknya bulat sampai lonjong. Sentra produksi pepaya antara lain Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Bali, NTB (Kalie, 2007).

Buah pepaya memiliki banyak varietas, pengelompokan tanaman pepaya ke dalam beberapa varietas didasarkan pada bentuk, ukuran, warna dan tekstur buahnya. Jenis pepaya yang banyak dikenal orang di Indonesia, yaitu: 1 Pepaya semangka, memiliki daging buah berwarna merah semangka, rasanya manis. 2) Pepaya burung, warna daging buah kuning, harum baunya dan rasanya manis- asam. Varietas yang mulai dikembangkan saat ini adalah pepaya Meksiko.

Pepaya Meksiko sering disebut pepaya varietas Solo atau pepaya tunggal karena memiliki ukuran buah yang kecil-kecil dan hanya cukup untuk satu orang.

Ukuran buahnya kecil dan bentuknya mirip buah alpukat, bulat berleher. Daging buahnya berwarna kuning dan rasanya manis. Berat per buahnya sekitar 0,5 kg.

Jenis pepaya ini tahan terhadap kerusakan selama pengangkutan.

(28)

Menurut Gita (2005), bahwa buah pepaya yang dibudidayakan petani dan dinikmati oleh konsumen terdiri dari jenis pepaya eksotik dan jenis pepaya lokal.

Jenis pepaya eksotik terdiri dari jenis pepaya California, pepaya Hawai (Solo, Honolulu, Pontianaka, Medan, Taiwan, Jumbo) yang mempunyai ukuran relatif kecil- sedang (0,5-1,5 kg), sedangkan untuk jenis pepaya lokal yang terdiri dari pepaya Malang, pepaya Bangkok, Bogor, Pepaya Paris, pepaya Jinggo mempunyai ukuran relatif besar (>2 kg). Pepaya lokal merupakan pepaya yang sudah lama dibudidayakan petani dan konsumen sudah umum mengkonsumsinya.

Pepaya bangkok memiliki karakteristik antara lain buah buah berbentuk panjang besar dan lancip pada bagian ujung, permukaan buahnya tidak rata dan kulit luarnya relatif tipis, daging buah berwarna jingga kemerahan, keras dan memiliki rasa manis Selanjutnya Gita menambahkan bahwa pepaya eksotik merupakan jenis pepaya yang memiliki beberapa perbedaan dibandingkan jenis pepaya lokal antara lain: jarang dibudidayakan, bentuknya unik dengan ukuran buah kecil- sedang, kulit buah halus, warna daging buah jingga-merah segar, rasa manis dan tekstur buah lembut. Secara umum pepaya eksotik belum terlalu dikenal konsumen sehingga konsumen memperoleh informasi dari toko buah yang dikunjunginya.

Pusat Kajian Buah-buahan Tropika Institut Pertanian Bogor (IPB )

mengatakan bahwa seiring meningkatnya permintaan pepaya, tentu akan

meningkatkan jumlah pasokan. Melihat kondisi pasokan pepaya yang masih

sangat kurang pada saat ini, maka perlu ada terobosan dalam pengembangan

pepaya di tanah air. Upaya itu salah satunya melalui perbaikan varietas bibit

pepaya yang disesuaikan dengan selera konsumen. Saat ini, masih banyak pepaya

(29)

ukuran besar di pasaran yang tidak dapat habis sekali makan. Inilah yang tidak disukai konsumen karena biasanya jika tersisa, tingkat kesegaran pepaya akan menurun. Selain itu, cara penyajian yang harus dikupas dulu kulitnya sebelum dimakan membuat konsumen ragu akan kebersihan proses pengupasannya.

Karena itu Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB sudah berhasil melakukan inovasi menemukan buah pepaya yang berukuran kecil dan bisa dimakan sekali saji. Jenis ini diberi nama IPB 1 (Arum), IPB-2, IPB 3, IPB 5, dan IPB 7, serta yang terakhir IPB 9. Jenis Pepaya IPB-1 mempunyai karakteristik kecil dengan bobot 0,5 kg, memiliki tekstur yang lembut, rasanya manis, harum dan genjah (mudah berbuah), sedangkan untuk pepaya IPB-2 memilki karakteristik fisik buah lebih besar dari IPB-1, dagingnya berwarna merah jingga serta kulitnya hijau. Kedua varietas ini sudah dapat dinikmati masyarakat luas, terutama masyarakat sekitar Bogor.

2.2. Syarat Tumbuh

Tanaman pepaya merupakan tanaman buah-buahan tropika yang beriklim basah, tumbuh subur pada daerah yang memilki curah hujan 1000-2000 mm/tahun. Angin diperlukan untuk penyerbukan bunga, agar tanaman pepaya tumbuh dengan baik maka angin tidak boleh terlalu kencang. Suhu udara optimum untuk pertumbuhan pepaya berkisar antara 22-26

o

C dengan kelembaban udara sekitar 40%. Tanah yang baik untuk tanaman pepaya adalah tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus dan memiliki daya menahan air yang tinggi.

Derajat keasaman tanah ( pH tanah) yang ideal adalah netral dengan pH 6-7.

Kandungan air dalam tanah merupakan syarat penting dalam kehidupan

tanaman ini. Air menggenang dapat mengundang penyakit jamur perusak akar

(30)

hingga tanaman layu (mati). Apabila kekeringan air, maka tamanan akan kurus, daun, bunga dan buah rontok. Tinggi air yang ideal tidak lebih dalam daripada 50–150 cm dari permukaan tanah. Pepaya dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 700 m–1000 m di atas permukaan laut.

2.3. Budidaya Pepaya California

Menurut Sari (2005), kegiatan budidaya pepaya California meliputi:

persiapan bibit, persemaian, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen.

2.3.1. Persiapan Bibit

Persiapan bibit untuk budidaya pepaya California diambil dari pohon induk yang sudah berumur dua tahun dan masak di pohon atau buahnya sudah cukup tua dengan kriteria rasa buah manis, berkulit halus, bebas hama dan penyakit dan dipilih dari buah yang bentuknya lonjong. Biji diambil dari bagian buah yang di tengah, kemudian dicuci dan dibersihkan lapisan kulit bijinya.

Setelah itu, biji direndam dalam toples yang berisi air selama satu malam dan dijemur di bawah sinar matahari selama dua hari untuk kemudian siap untuk digunakan.

2.3.2. Persemaian

Proses persemaian dimulai dari mengisi media ke dalam polibeg, dimana

media tanamnya adalah tanah yang cukup gembur dan dicampur dengan pupuk

kompos. Setelah itu, dilakukan penyemaian dengan memasukkan satu biji benih

(bibit) pepaya ke dalam polibeg yang sudah berisi tanah dengan kedalaman 0,5

hingga 1 cm.

(31)

2.3.3. Penanaman

Sebelum dilakukan penanaman, lahan perlu dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan membuat lubang tanam. Penanaman dilakukan setelah bibit siap tanam dan telah berumur 45 hari setelah semai. Bibit yang siap dipindahkan harus sudah mempunyai ketinggian tanaman berkisar antara 12 hingga 15 cm dan tidak menunjukkan gejala terserang hama dan penyakit.

2.3.4. Pemeliharaan

Pada proses pemeliharaan perlu dilakukan dengan berbagai kegiatan yaitu:

penyiraman, penyulaman, penyiangan, pemupukan, pembumbunan dan pengendalian hama dan penyakit. Kegiatan pemeliharaan ini harus lebih teliti dilakukan agar jumlah dan kualitas produksi buah pepaya California yang dihasilkan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pasar.

2.3.5. Panen dan Pasca Panen

Pemanenan pepaya California yang paling ideal adalah pada pagi hari dan dapat dilakukan seminggu sekali tergantung pada tingkat kematangan buah.

Pepaya California dapat dipanen pada umur 10 bulan setelah tanam. Teknik

pemanenan dapat dilakukan dengan langsung memetik buah, kemudian

dikumpulkan dalam keranjang dan disimpan di tempat yang teduh. Getah buah

dibiarkan keluar agar tidak mengenai kulit buah. Buah yang sudah dikumpulkan

kemudian diangkut dari kebun ke bangsal pengolahan dengan menggunakan

mobil angkutan. Di bangsal pengolahan buah-buahan tersebut disimpan untuk

dihitung dari hasil panen yang didapat. Bentuk buah pepaya California dapat

beragam mulai dari yang bentuknya bulat hingga bentuk lonjong.

(32)

Sortasi dan grading dilakukan berdasarkan jenis buah dengan cara yang sederhana, yaitu berdasarkan ukuran, bentuk dan tingkat kerusakan buah. Buah yang termasuk dalam grade A memliki kriteria: bobot berkisar antara 500-1000 gram dengan bentuk buah lonjong dan berkulit mulus. Sedangkan untuk buah grade B memiliki kriteria: bobot buah berkisar antara 1000-2000 gram, dengan bentuk buah lonjong dan berkulit mulus. Kegiatan selanjutnya adalah mencuci buah pepaya California, kemudian dikemas dalam kotak kemasan. Setelah dilakukan pengemasan, pepaya siap untuk diangkut dan dipasarkan.

2.4. Studi Penelitian Terdahulu

Beberapa judul penelitian sebelumnya tentang pendapatan usahatani dan saluran pemasaran, diantaranya adalah :

Analisis Saluran Pemasaran Manggis di Desa Puspahiang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang diteliti oleh Rahmawati (1999).

Pelaku pemasaran yang terlibat menyalurkan komoditi manggis dari petani adalah

bandar kampung, pedagang pengumpul (pengepul), pedagang grosir serta

pengecer dimana untuk pasar luar negeri terdapat peran eksportir. Petani sistem

panen sendiri yang menjual ke bandar kampung sebanyak 3 orang (10%),

sedangkan yang menjual ke pengepul sebanyak 8 orang (26,67%). Harga beli

bandar kampung dari petani sebesar Rp 623,68 per kg sedangkan bandar kampung

menjual ke pengepul dengan harga Rp 1.000 per kg untuk manggis lokal dan Rp

2.416,67 perKg untuk manggis kualitas ekspor. Adanya manggis kualitas ekspor

menyebabkan keutungan bandar kampung meningkat menjadi Rp 1.192,68 per kg

dengan rasio keuntungan yang lebih besar dibandingkan saluran lainnya, yaitu

sebesar 1,99. Farmer share tertinggi yang diterima petani sebesar 44,37 %

(33)

terdapat pada saluran pemasaran V (petani – pengepul – pengecer), dan yang terendah adalah sebesar 3,99 % terdapat pada saluran pemasaran VIII yaitu mulai dari petani – pengepul – eksportir.

Penelitian yang dilakukan oleh Sitompul, R. P (2007) mengenai analisis usahatani dan tataniaga ikan hias maskoki oranda di desa Parigi Mekar, kecamatan Ciseeng, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa saluran tataniaga melibatkan petani, pedagang pengumpul, supplier, dan konsumen akhir/hobis. Harga jual anakan Ikan Maskoki Oranda di tingkat petani pembenihan ke petani pembesaran berkisar antara Rp 130 sampai dengan Rp 150 per ekor. Harga jual Ikan Maskoki Oranda di tingkat petani pembesaran ke pedagang pengumpul berkisar antara Rp 800 sampai dengan Rp 950 per ekor. Harga yang berlaku di tingkat supplier ke pedagang pengecer berkisar anatara Rp 1.400 sampai dengan Rp 1.500 per ekor, sedangkan di tingkat pedagang pengecer ke konsumen akhir berkisar antara Rp 2.000 sampai dengan Rp 2.500 per ekor. Farmer’s share yang diterima petani pada pola 1 dan 2 yaitu masing-masing sebesar 39,5%. Pada pola 3, rata-rata harga jual petani adalah sebesar Rp 1.116,7 per ekor, sedangkan rata-rata harga yang dibayar oleh konsumen akhir sebesar 1.250,00 per ekor. Farmer’s share yang diterima petani pada pola 3 adalah sebesar 89,3%, merupakan saluran tataniaga yang paling menguntungkan bagi petani, karena saluran tataniaga Ikan Hias Maskoki yang paling pendek dan efisien (Petani → pedagang pengecer → konsumen/hobis).

(Farmer’s share yang tinggi dapat dicapai jika petani mampu mengefisienkan

saluran tataniaga dan meningkatkan kualitas produknya.

(34)

Sedangkan judul penelitian terdahulu tentang buah pepaya adalah: Analisis Kelayakan Finansial dan Kesempatan Kerja Pada Usahatani Pepaya yang diteliti oleh Halisah, S (2006). Hasil analisis kelayakan finansial pada penelitiannya menunjukkan bahwa usahatani pepaya yang dilaksanakan di kebun percobaan Cikarawang layak dan menguntungkan untuk dikembangkan. Nilai NPV yang diperoleh lebih besar dari nol, yaitu Rp 11.621.597,55, nilai net B/C lebih besar dari satu, yaitu 1,44, tingkat IRR yang lebih besar dari pada tingkat diskonto (11,47 %), yaitu 40 persen, dan nilai payback period yang masih berada dalam rentang waktu umur proyek, yaitu 3 tahun 2 bulan. Sedangkan untuk analisis sensitivitas yang dilakukan terhadap penurunan tingkat hasil produksi sebesar 16,67 persen menunjukkan kondisi tidak layak dan tidak menguntungkan untuk dilaksanakan. Namun jika lahan yang digunakan adalah hasil sewa, maka analisis sensitivitasnya menunjukkan kondisi usahatani pepaya yang dilaksanakan tetap layak dan menguntungkan untuk diusahakan. Berdasarkan hasil analisis switching value, penurunan hasil produksi dan harga jual output maksimum yang dapat ditoleransi masing-masing adalah sebesar 12,75 persen, sedangkan peningkatan dari harga pupuk dan obat-obatan yang maksimal adalah sebesar 59 persen.

Berdasarkan ketiga variabel yang diuji, maka dapat dikatakan bahwa variabel

yang relatif peka terhadap perubahan adalah: penurunan hasil produksi dan harga

jual output, sementara peningkatan dari harga input pupuk dan obat-obatan relatif

kurang peka. Berdasarkan hasil analisis kesempatam kerja dengan luas lahan 0,85

hektar, dibutuhkan 356, 15 hari kerja per tahun sehingga tenaga kerja yang dapat

terserap dari kegiatan usahatani tersebut adalah 1,19 orang per tahun. Apabila

dilakukan pengembangan investasi pada usahatani pepaya tersebut maka akan

(35)

menambah penyerapan tenaga kerja yang akhirnya membuka kesempatan kerja pada masyarakat sekitar kebun.

Penelitian yang dilakukan Gita (2005) tentang Analisis Faktor-Faktor

Yang Mempengaruhi Proses Keputusan Pembelian Pepaya Eksotik Dibandingkan

Dengan Pepaya Lokal, menunjukkan hasil bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi proses keputusan pembelian pepaya eksotik adalah: faktor

promosi, alokasi dana, keluarga dan kualitas pepaya. Sedangkan faktor-faktor

yang mempengaruhi proses keputusan pembelian pepaya lokal adalah faktor

promosi, pengambil keputusan, keluarga, pakerjaan dan ketersediaan pepaya jenis

lain. Alat analisis yang digunakan adalah Analisis Faktor dan Analisis Konjoin.

(36)

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis merupakan suatu kerangka yang mengungkapkan teori dan konsep untuk menjawab pokok permasalahan dalam penelitian.

3.1.1. Pendapatan dan Biaya Usahatani

Soeharjo dan Patong (1973) mendefenisikan pendapatan sebagai balas jasa dari kerja sama faktor – faktor produksi lahan, tenaga kerja, modal, dan pengelolaan (manajemen). Pendapatan dapat didefenisikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dari biaya yang dikeluarkan.

Besarnya pendapatan usahatani tergantung pada besarnya penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu tertentu. Penerimaan merupakan hasil kali jumlah produksi total dan harga jual per satuan. Sedangkan pengeluaran atau biaya adalah nilai penggunaan sarana produksi, upah dan lain-lain yang dibebankan pada proses produksi yang bersangkutan. Besar kecilnya tingkat pendapatan yang diperoleh petani dipengaruhi antara lain : (1) skala usaha, (2) ketersediaan modal, (3) tingkat harga output, (4) ketersediaan tenaga kerja keluarga, (5) sarana transportasi, (6) sistem pemasaran, (7) kebijakan pemerintah dan sebagainya (Soekartawi dkk, 1986).

Biaya usahatani dapat berbentuk biaya tunai dan biaya yang

diperhitungkan. Biaya tunai adalah biaya yang dibayar dengan uang, seperti biaya

pembelian sarana produksi, biaya pembelian bibit, pupuk dan obat-obatan serta

biaya upah tenaga kerja. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung

(37)

berapa sebenarnya pendapatan kerja petani, modal dan nilai kerja keluarga.

Tenaga kerja keluarga dinilai berdasarkan upah yang berlaku. Biaya penyusutan alat-alat pertanian dan sewa lahan milik sendiri dapat dimasukkan dalam biaya yang diperhitungkan. Biaya dapat juga diartikan sebagai penurunan inventaris usahatani. Nilai inventaris suatu barang dapat berkurang karena barang tersebut rusak, hilang atau terjadi penyusutan.

Analisis pendapatan pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi kegiatan usaha pertanian dalam satu tahun, dengan tujuan untuk membantu perbaikan pengelolaan usahatani. Aspek yang digunakan adalah harga yang berlaku, dan penyusutan akan diperhitungkan pada tahun tersebut untuk memperoleh keuntungan maksimum. (Hernanto, 1989).

Salah satu ukuran efisiensi adalah penerimaan untuk rupiah yang dikeluarkan (revenue-cost ratio atau R/C ratio). Analisis R/C digunakan untuk mengetahui keuntungan relatif usahatani berdasarkan perhitungan finansial, dimana R/C ratio dapat menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh dengan pengeluaran dalam satu satuan biaya. Apabila nilai R/C ratio > 1, berarti penerimaan yang diperoleh lebih besar daripada tiap unit biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh penerimaan tersebut. Apabila nilai R/C ratio < 1 maka tiap unit yang dikeluarkan akan lebih besar daripada penerimaan yang diperoleh.

Sedangkan untuk kegiatan usaha yang memiliki R/C rasio = 1, berarti kegiatan usaha berada pada keuntungan normal (normal profit).

3.1.2. Konsep Pemasaran

Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang membuat

individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta inginkan

(38)

lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.

Pemasaran umumnya dilihat sebagai tugas menciptakan, mempromosikan, serta menyerahkan barang dan jasa ke konsumen dan perusahaan lain. Pemasaran yang efektif dapat dilakukan melalui banyak bentuk. Pemasaran diawali dengan pemahaman tentang kebutuhan, keinginan dan permintaan konsumen akan produk dimana konsumen mengharap nilai produk tersebut bermanfaat serta sesuai dengan biaya atau pengorbanan yang dikeluarkan. Produk tersebut dapat dijumpai di pasar dalam sebuah transaksi dengan produsen/pemasarnya. Adanya kebutuhan dan keinginan manusia menimbulkan permintaan terhadap produk tertentu yang didukung oleh kemampuan membeli. Produk tersebut diciptakan untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan manusia, sehingga timbul proses pertukaran untuk memperoleh produk yang diinginkan atau dibutuhkan dengan menawarkan sesuatu sebagai gantinya (Kotler, 2002).

Menurut Kotler (1987), konsep pemasaran yakin bahwa pencapaian sasaran organisasi tergantung pada penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran dan penyampaian kepuasan yang didambakan itu lebih efektif dan efisien ketimbang pesaing.

Tataniaga merupakan suatu kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran, yaitu meliputi Gambar 2. Konsep-Konsep Inti Pemasaran (Kotler, 1987)

pasar

Kebutuhan, keinginan

dan permintaan

produk Nilai

kepuasan, dan mutu

Pertukaran, transaksi,

dan

hubungan

(39)

kegiatan untuk memindahkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen.

Pengertian tataniaga dapat dilihat dengan pendekatan manajerial (aspek pasar) dan aspek ekonomi. Berdasarkan aspek manajerial, tataniaga merupakan analisis perencanaan organisasi, pelaksanaan dan pengendalian pemasaran untuk menentukan kedudukan pasar. Ditinjau dari aspek ekonomi, tataniaga merupakan distribusi fisik dan aktivitas ekonomi yang memberikan fasilitas-fasilitas untuk bergerak, mengalir, dan pertukaran komponen barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Selain itu, tataniaga merupakan kegiatan produksi karena meningkatkan, menciptakan nilai guna bentuk, waktu, tempat, dan kepemilikan.

Tataniaga pertanian dapat diartikan sebagai semua bentuk kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik dari barang- barang hasil pertanian dan kebutuhan usaha pertanian dari tangan produsen ke konsumen, termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan bentuk dari barang untuk mempermudah penyalurannya dan memberikan kepuasaan yang lebih tinggi kepada konsumen (Limbong dan Sitorus, 1987).

3.1.3. Lembaga dan Fungsi-Fungsi Pemasaran

Hanafiah dan Saefuddin (1983), menjelaskan bahwa lembaga tataniaga

adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga

dimana barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. Lembaga tataniaga

ini bisa termasuk golongan produsen, pedagang perantara, dan lembaga pemberi

jasa. Tugas lembaga pemasaran adalah menjalankan fungsi-fungsi tataniaga serta

memenuhi keinginan konsumen semaksimal mungkin. Konsumen memberikan

balas jasa kepada lembaga pemasaran berupa marjin pemasaran.

(40)

Limbong dan Sitorus (1987), dalam pemasaran barang atau jasa terlibat beberapa badan mulai dari produsen, lembaga-lembaga perantara dan konsumen.

Karena jarak antara produsen yang menghasilkan barang atau jasa sering berjauhan dengan konsumen, maka fungsi badan perantara sangat diharapkan kehadirannya untuk menggerakkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut dari titik produksi ke titik konsumsi. Lembaga pemasaran merupakan suatu lembaga dalam bentuk perorangan, perserikatan atau perseroan yang akan melakukan fungsi- fungsi pemasaran yang berusaha untuk memperlancar arus/gerak barang dari produsen sampai tingkat konsumen melalui berbagai kegiatan/aktifitas. Lembaga- lembaga tersebut juga berfungsi sebagai sumber informasi mengenai suatu barang dan jasa.

Ada tiga kelompok yang secara langsung terlibat dalam penyaluran barang/jasa mulai dari tingkat produsen sampai tingkat konsumen, yaitu: (1) pihak produsen, (2) lembaga-lembaga perantara dan (3) pihak konsumen akhir. Pihak produsen adalah pihak yang memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan, seperti: petani sayur, petani buah, pabrik rokok,dll. Pihak lembaga perantara adalah yang memberikan pelayanan dalam hubungannya dengan pembelian dan atau penjualan barang/jasa dari produsen ke konsumen, yaitu pedagang besar (wholesaler) dan pedagang pengecer (retailer). Sedangkan konsumen akhir adalah pihak yang berlangsung menggunakan barang/jasa yang dipasarkan. Konsumen akhir ini dapat terdiri dari rumah tangga dan perusahaan-perusahaan.

Limbong dan Sitorus (1987), mendefenisikan fungsi tataniaga sebagai

kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang dapat memperlancar proses

(41)

penyampaian barang atau jasa. Fungsi-fungsi tataniaga dapat dikelompokkan atas tiga fungsi yaitu:

1. Fungsi pertukaran adalah kegiatan yang memperlancar perpindahan hak milik barang dan jasa yang dipasarkan. Fungsi pertukaran ini terdiri dari dua fungsi yaitu fungsi pembelian dan fungsi penjualan.

2. Fungsi fisik adalah semua tindakan yang langsung berhubungan dengan barang dan jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat, bentuk, dan waktu.

Fungsi ini terdiri dari fungsi penyimpanan, fungsi pengangkutan, dan fungsi pengelolaan.

3. Fungsi fasilitas adalah semua tindakan yang bertujuan untuk memperlancar kegiatan pertukaran yang terjadi antara produsen dan konsumen. Fungsi fasilitas terdiri dari fungsi standarisasi dan grading, fungsi penanggungan resiko, fungsi pembiayaan, dan fungsi informasi pasar.

Menurut Mubyarto (1994), fungsi-fungsi tataniaga adalah mengusahakan agar pembeli atau konsumen memperoleh barang yang diinginkan pada tempat, waktu, dan harga yang tepat. Fungsi-fungsi tataniaga dalam pelaksanaan aktifitasnya dilakukan oleh lembaga-lembaga tataniaga. Lembaga tataniaga ini yang akan terlibat dalam proses penyampaian barang dan jasa dari produsen sampai ke tangan konsumen.

3.1.4. Analisis Saluran dan Efisiensi Pemasaran

Saluran pemasaran adalah beberapa organisasi yang saling bergantung dan

terlibat dalam proses mengupayakan agar produk atau jasa tersedia untuk

dikonsumsi. Keputusan-keputusan saluran pemasaran termasuk diantara

keputusan paling penting yang dihadapi konsumen. Saluran yang dipilih sangat

(42)

mempengaruhi keputusan pemasaran lainnya. Saluran pemasaran melaksanakan tugas memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Hal itu mengatasi kesenjangan waktu, tempat, dan kepemilikan yang memisahkan barang dan jasa dari orang-orang yang membutuhkan atau menginginkannya (Kotler, 2002).

Limbong dan Sitorus (1987) mendefinisikan saluran tataniaga sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk menyampaikan barang dan jasa dari produsen ke tangan konsumen yang didalamnya terlibat beberapa lembaga tataniaga yang menjalankan fungsi-fungsi tataniaga. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih saluran tataniaga yaitu adanya pertimbangan pasar, yang meliputi konsumen sasaran akhir mencakup pembeli potensial, konsentrasi pasar secara geografis, volume pesanan, dan kebiasaan pembeli.

1. Pertimbangan barang, yang meliputi nilai barang per unit, besar dan berat barang, tingkat kerusakan, sifat teknis barang, dan apakah barang tersebut untuk memenuhi pesanan atau pasar.

2. Pertimbangan internal perusahaan, yang meliputi sumber permodalan, kemampuan dan pengalaman manajemen, pengawasan penyaluran, dan pelayanan penjualan.

3. Pertimbangan terhadap lembaga perantara, yang meliputi pelayanan lembaga perantara, kesesuaian lembaga perantara dengan kebijaksanaan produsen, dan pertimbangan biaya.

Tataniaga disebut efisien apabila tercipta keadaan dimana pihak-pihak

yang terlibat baik produsen, lembaga-lembaga tataniaga maupun konsumen

memperoleh kepuasan dengan aktivitas tataniaga tersebut (Limbong dan Sitorus,

1987). Indikator-indikator yang digunakan dalam menentukan efisiensi tataniaga

(43)

adalah marjin tataniaga, harga tingkat konsumen, tersedianya fasilitas fisik tataniaga, dan intensitas persaingan pasar.

Margin tataniaga besar tidak selamanya menunjukkan saluran tidak efisien, maka perlu mempertimbangkan aspek-aspek berikut :

1. Penggunaan teknologi baru dalam proses produksi dapat menekan biaya produksi, sehingga margin pemasaran menjadi lebih besar.

2. Adanya kecenderungan konsumen untuk mengkonsumsi yang lebih siap dinikmati, walaupun harga lebih mahal.

3. Adanya spesialisasi produksi dari suatu daerah sehingga membentuk daerah- daerah sentral produksi, sehingga akan menaikkan daerah tataniaga.

4. Adanya tambahan biaya pengolahan dan penyimpanan untuk meningkatkan kegunaan bentuk.

5. Meningkatkan upah buruh dan tenaga kerja.

Penyediaan fasilitas untuk pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan dianggap dapat digunakan untuk melihat efisiensi tataniaga. Kurangnya ketersediaan fasilitas fisik terutama pengangkutan diidentikkan dengan ketidakefisienan proses tataniaga.

Mubyarto (1989) mangungkapkan bahwa sistem tataniaga dikatakan

efisien apabila memenuhi dua syarat yaitu mampu menyampaikan hasil-hasil dari

petani produsen kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya, dan mampu

mengadakan pembagian yang adil bagi seluruh harga yang dibayarkan oleh

konsumen terakhir dalam kegiatan produksi. Efisiensi tataniaga dapat dibagi

menjadi dua kategori, yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi

ekonomi (harga). Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi

(44)

operasional pada proses tataniaga suatu produk yaitu analisis marjin tataniaga, farmer’s share serta rasio keuntungan dan biaya.

3.1.4.1. Farmer’s Share

Salah satu indikator yang berguna dalam melihat efisiensi kegiatan tataniaga adalah dengan membandingkan bagian yang diterima petani (farmer’s share) terhadap harga yang dibayar konsumen akhir. Bagian yang diterima lembaga tataniaga sering dinyatakan dalam bentuk persentase (Limbong dan Sitorus, 1987).

3.1.4.2. Margin Pemasaran

Marjin adalah perbedaan harga atau selisih harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima petani produsen, atau dapat juga dinyatakan sebagai nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan tataniaga sejak dari tingkat produsen sampai ke titik konsumen akhir. Kegiatan untuk memindahkan barang dari titik produsen ke titik konsumen membutuhkan pengeluaran baik fisik maupun materi.

Pengeluaran yang harus dilakukan untuk menyalurkan komoditi dari produsen ke

konsumen disebut sebagai biaya tataniaga. Adanya perbedaan kegiatan dari setiap

lembaga akan menyebabkan perbedaan harga jual dari lembaga yang satu dengan

lembaga yang lain sampai ke tingkat konsumen akhir. Semakin banyak lembaga

yang terlibat dalam penyaluran suatu komoditi dari titik produsen sampai titik

konsumen, maka akan semakin besar perbedaan harga komoditi tersebut di titik

produsen dibandingkan dengan harga yang akan dibayar oleh konsumen

(Limbong dan Sitorus, 1987).

(45)

Menurut Dahl dan Hammond (1977), marjin pemasaran sebagai perbedaan harga ditingkat petani (Pf) dengan harga pedagang pengecer (Pr).

Marjin pemasaran ditentukan oleh struktur pasar dimana kegiatan pemasaran terjadi. Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah produk yang dipasarkan. Nilai margin tataniaga (value of marketing margin) merupakan perkalian antara marjin tataniaga dengan jumlah produk yang dibayarkan (Pf-Pr) x Qr,f yang mengandung pengertian marketing cost dan marketing charge seperti yang terlihat pada Gambar 3. Secara grafis marjin tataniaga dapat digambarkan sebagai berikut (Dahl dan Hammond, 1977)

Harga

Sr

Pr Sf C A

Pf Dr B

Df 0 Qr, f

Gambar 3. Hubungan Antara Margin Tataniaga, Nilai Marjin Tataniaga serta Marketing Cost and Charge

Keterangan :

A = Nilai marjin pemasaran ((Pr-Pf).Qr,f) B = Marketing cost and Marketing charge C = Marjin pemasaran (Pr-Pf)

Pr = Harga di tingkat pedagang pengecer

Pf = Harga di tingkat petani

(46)

Sr = Supply di tingkat pengecer (derived supply) Sf = Supply di tingkat petani (primary supply) Dr = Demand di tingkat pengecer (derived demand) Df = Demand di tingkat petani (primary demand)

Qr,f = Jumlah keseimbangan di tingkat petani dan tingkat pengecer.

Besarnya marjin tataniaga pada suatu saluran tataniaga tertentu dapat dinyatakan sebagai jumlah dari marjin pada masing-masing lembaga tataniaga yang terlibat. Rendahnya biaya tataniaga suatu komoditi belum tentu dapat mencerminkan efisiensi yang tinggi.

3.1.4.3. Rasio Keuntungan dan Biaya

Tingkat efisiensi tataniaga dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga mendefenisikan besarnya keuntungan yang diterima atas biaya tataniaga yang dikeluarkan. Dengan demikian semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan dan biaya, maka dari segi operasional sistem tataniaga akan semakin efisien (Limbong dan Sitorus, 1987).

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Sebagai buah segar, pepaya relatif disukai semua lapisan masyarakat

karena cita rasanya yang enak, kaya vitamin A, B dan C yang sangat dibutuhkan

oleh tubuh manusia. Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan

pentingnya gizi buah tersebut, dapat meningkatkan permintaan terhadap pepaya

sehingga jumlah produksi pepaya juga harus ditingkatkan. Salah satu cara untuk

meningkatkan produksi pepaya adalah dengan teknik budidaya yang tepat.

(47)

Penanganan yang baik mulai dari prapanen, masa panen dan pascapanen sangat diperlukan agar pepaya yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Salah satu jenis pepaya yang saat ini digemari oleh petani untuk dikembangkan karena memiliki peluang bisnis yang menjanjikan adalah pepaya California. Tempat kegiatan bisnis budidaya pepaya California diantaranya terdapat di desa Cimande dan desa Lemahduhur, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pepaya California adalah varietas pepaya baru yang memiliki keunggulan buah tersendiri. Rasa buah yang lebih manis, daya tahan lebih lama, dan bisa dipanen lebih cepat dibandingkan pepaya varietas lain (umur produksi lebih cepat) menjadikan petani berminat untuk membudidayakannya. Disamping itu, harga jual yang lebih tinggi dapat meningkatkan keinginan petani untuk mengusahakan pepaya tersebut, agar keuntungan yang diperoleh dapat semakin meningkat.

Salah satu cara petani untuk memperoleh imbalan berupa uang dari usahataninya adalah dengan memasarkan hasil produksi pepaya California tersebut. Sistem pemasaran yang efisien sangat mempengaruhi tingkat pendapatan petani. Agar sistem pemasaran dapat seefisien mungkin dilakukan, maka petani harus memilih saluran pemasaran yang tepat sehingga mampu menekan biaya pemasaran. Pemasaran yang efisien dapat dilihat dari analisis saluran pemasaran dan efisiensi pemasaran yang meliputi analisis farmer’s share, analisis marjin pemasaran dan analisis keuntungan dan biaya.

Analisis pendapatan usahatani dapat digunakan untuk mengukur tingkat

keuntungan yang diterima petani atas biaya yang dikeluarkan. Kemudian

digunakan analisis rasio R/C untuk mengetahui apakah usahatani pepaya

California tersebut menguntungkan atau tidak. Jika usahatani tersebut

Gambar

Tabel 1. Komposisi buah dan daun pepaya
Tabel  2.  Perkembangan  dan  peningkatan  produktivitas,  luas  panen  dan  produksi    pepaya Indonesia Tahun 2000-2005
Tabel 4. Perkembangan ekspor dan impor buah pepaya di Indonesia Tahun 2002-    2005
Gambar 1. Buah dan Pohon Pepaya California
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tingginya pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani peserta KKPA dikarenakan penerimaan total usahatani petani peserta KKPA (Rp 35 745 362) lebih besar dari

Pendapatan atas biaya tunai diperoleh dari hasil pengurangan dari penerimaan petani terhadap semua komponen biaya yang dikeluarkan petani dalam bentuk tunai

Total biaya tetap dapat diperoleh dari biaya ternak kambing di tambah dengan keseluruhan biaya-biaya yang nilainya tetap yang dikeluarkan oleh responden

Untuk melihat Total biaya produksi petani kopra di Desa Paslaten satu Kecamatan Tatapaan dapat dilihat pada Tabel 7. Penerimaan

Sedangkan pendapatan petani diperoleh dari selisih penerimaan dengan pengeluaran (biaya produksi keseluruhan) selama setahun. Biaya dan Keuntungan Tataniaga Biaya

Pendapatan merefleksikan nilai yang diperoleh petani dari penerimaan dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam melakukan usahatani pepaya

Biaya Pengeluaran Responden Pada Pola Hutan Pinus Murni Total biaya pengeluaran dari responden pada lokasi penelitian pada pola agroforestry dapat dilihat pada Tabel 10... Biaya

Pendapatan petani adalah imbalan yang diterima oleh petani dari hasil kegiatan usahatani yang diperoleh dari selisih penerimaan / pendapatan kotor petani dengan total biaya produksi