BAB I PENDAHULUAN. sektor yang memegang peranan penting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk

22  Download (0)

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris di mana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk Indonesia. Minimnya jumlah lahan pertanian yang semakin berkurang menyebabkan masalah baru pada bidang pertanian. Lahan pertanian yang semula berfungsi sebagai media bercocok tanam, berangsur-angsur berubah menjadi multifungsi dalam pemanfaatannya.

Perubahan spesifik dari penggunaan lahan pertanian menjadi nonpertanian mendatangkan masalah yang serius, mengingat kebutuhan akan lahan yang semakin hari semakin bertambah. Hal ini mempengaruhi jumlah produksi tanaman pangan yang dihasilkan. Ketersediaan lahan untuk usaha pertanian merupakan salah satu syarat dalam produksi pangan. Seiring bertambahnya waktu, pertumbuhan populasi, dan pertambahan jumlah penduduk yang semakin tidak terkendali menyebabkan meningkatnya kebutuhan pangan rakyat. Maka ketersediaan lahan menjadi semakin penting dalam pemenuhan pangan.

Kedaulatan pangan hanya akan menjadi retorika dan cita-cita belaka sampai kapanpun, apabila tidak terdapat perubahan politik atas akses dan penguasaan lahan.

(2)

2

Realita yang ada di lapangan tidak sesuai dengan isi nawacita yang telah disampaikan oleh Presiden Jokowi.1 Adapun isi Nawacita yang sampaikan pada bidang ekonomi sebagai berikut:

Kami akan membangun kedaulatan Pangan berbasis pada Agribisnis Kerakyatan melalui: (1) Penyusunan kebijakan pengendalian atas import pangan melalui pemberantasan terhadap 'mafia' impor yang sekedar mencari keuntungan pribadi/kelompok tertentu dengan mengorbankan kepentingan pangan nasional.

Pengembangan eksport pertanian berbasis pengolahan pertanian dalam negeri, (2) Penanggulangan Kemiskinan pertanian dan dukungan re-generasi petani melalui:

a) Pencanangan 1.000 desa berdaulat benih hingga tahun 2019. b) Peningkatan kemampuan petani, organisasi tani dan pola hubungan dengan pemerintah, terutama pelibatan aktif perempuan petani/pekeria sebagai tulang punggung kedaulatan pangan. c) Pembangunan irigasi, bendungan, sarana jalan dan transportasi, serta pasar dan kelembagaan pasar secara merata. Rehabilitasi jaringan irigasi yang rusak terhadap 3 juta ha pertanian dan 25 bendungan hingga tahun 2019. d) Peningkatan pembangunan dan atraktivitas ekonomi pedesaan yang ditandai dengan peningkatan investasi dalam negeri sebesar 15 persen tahun dan rerata umur petani dan rakyat Indonesia yang bekerja di pedesaan semakin muda. (3) komitmen kami untuk implementasi reforma agrarian melalui: a) Akses dan Aset reform Pendistribusian asset terhadap petani melalui distribusi hak atas tanah petani melalui land reform dan program kepemilikan lahan bagi petani dan buruh tani, menyerahkan lahan sebesar 9 juta ha, b) Meningkatnya akses petani gurem terhadap kepemilikan lahan pertanian dari rata-rata 0.3 hektar menjadi 2.0 hektar per KK tani, dan pembukaan 1 juta ha lahan pertanian kering di luar Jawa dan Bali. (4) Pembangunan Agri-Bisnis Kerakyatan melalui Pembangunan Bank Khusus untuk Pertanian, UMKM dan Koperasi.

Total lahan sawah di Indonesia berdasarkan hasil Audit Kementerian Pertanian pada tahun 2012 adalah 8.132.642 hektare, yang terdiri atas 54% sawah beririggasi (seluas 4.417.582 hektare) dan 46% nonirigasi (seluas 3.714.764 hektare). Total luas lahan sawah terluas berada di Jawa yakni 3.444.579 hektar, kemudian disusul Sumatra 2.224.832 hektar, Kalimantan 1.032.117 hektar, Sulawesi 919.963 hektar, Bali Nusa Tenggara 462.686 hektar, Papua dan Maluku

1 Jappy Pellokila, “Jalan Perubahan Untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian”, (Nawacita Jokowi, 2014), 33.

(3)

3

46.466 hektar.2 Di Jawa, Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki luas lahan sawah terbesar berdasarkan data luas dan alih fungsi lahan sawah pada tahun 2012 yakni seluas 1.152.875 hektar.3

Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang berfungsi sebagai lumbung pangan nasional karena kontribusi pengadaan pangan yang sangat besar, yaitu sebesar 17% dari total nasional. Namun di tahun 2014 produksi pangan di Provinsi Jawa Timur sedang mengalami penurunan, terutama produksi padi. Di tahun yang sama, penurunan juga dialami oleh Kabupaten Gresik sebagai salah satu kontributor padi bagi Jawa Timur sebesar 2%. Berdasarkan situs resmi Kabupaten Gresik dikatakan bahwa Kabupaten Gresik surplus padi sebesar 129 ribu ton, hal tersebut belum sesuai dengan target produksi yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 382 ribu ton. Penyebab menurunnya produksi pangan di Kabupaten Gresik dikarenakan banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi industri.4

Beralihnya fungsi lahan pertanian menjadi industri menyebabkan berkurangnya areal lahan pertanian yang ada di Kabupaten Gresik. Dari data sensus dapat diketahui luas lahan pertanian di Kabupaten Gresik sebesar 36.000 hektar sekarang menjadi 10.000 hektar. Penyempitan lahan pertanian seluas 26.000 hektar membuat para petani harus bekerja lebih ekstra keras lagi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Penyempitan lahan pertanian tersebut terjadi karena

2 Gatot Irianto, Lahan dan Kedaulatan Pangan, (Jakarta:: Gramedia Pustaka Utama, 2016), 43.

3 Ibid., 54.

4 Naning Khoirun Nisa, “Motivasi Petani dalam Menanam Komoditas Pada Daerah Lumbung Padi di Kabupaten Gresik” Jurnal Swara Bhumi, Vol.3 No. 3 (Desember 2015), 81.

(4)

4

lahan pertanian yang ada telah berubah menjadi kawasan industri. Salah satu daerah di Kabupaten Gresik yang pada mulanya merupakan daerah pertanian kemudian menjadi industri adalah Kecamatan Bungah.5

Dari data sensus pertanian yang dikeluarkan oleh BPS Kabupaten Gresik pada tahun 2013 dapat diketahui bahwa jumlah usaha pertanian mengalami banyak penurunan. Pada sensus tahun 2003 usaha pertanian sebanyak 133.624 sedangkan pada tahun 2013 menjadi 102.330, jika dirata-rata setiap tahunnya mengalami penurunan sebesar 2.34 persen per tahun.6 Menurunnya lahan pertanian yang ada terjadi karena pembangunan industri yang semakin pesat di Kabupaten Gresik.

Kecamatan Bungah merupakan wilayah yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Di samping itu pula alasan wilayah tersebut sangat cocok untuk didirikan pabrik adalah karena cukup strategis dan merupakan wilayah pantura.

Selain itu juga di wilayah ini akan dibangun pelabuhan internasional.

Pembangunan pelabuhan internasional membawah efek domino munculnya pembangunan pabrik-pabrik di sekitar pelabuhan tersebut. Hal ini membuat para investor yang ingin menanamkan modal di Kecamatan Bungah semakin banyak.

Pada mulanya para petani enggan menjual tanah mereka, tetapi setelah harga lahan pertanian melambung tinggi membuat para petani tergiur untuk menjualnya.

Selain itu juga ditambah dengan melangitnya pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Kabupaten Gresik membuat petani merasa terbebani dengan

5 http://www.beritagresik.com/home/berita-gresik/503/penyempitan-lahan-tantangan- peningkatan-hasil-pertanian-gresik.html (Senin, 10 Oktober 2016, 14.02).

6 http://www.bpsgresik.com/home/bps-gresik/2013/hasil-sensus-pertanian-2013.html (senin, 10 Oktober 2015, 13.45).

(5)

5

pembayaran tersebut, mengingat hasil jual yang diperoleh dari produksi padi tidak seberapa. Namun ada beberapa dari petani yang tidak mau menjual lahan mereka, karena merasa apabila menjual lahan maka akan banyak pabrik yang didirikan disekitar lokasi tempat tinggal. Hal ini sangat berdampak pada kondisi lingkungan yang ada dan juga tidak akan ada lagi produktifitas padi karena pencemaran limbah pabrik. Mereka berusaha untuk mempertahankan lahan pertanian demi anak cucu di masa depan. Jika lahan pertanian sudah tidak ada, maka apa yang akan dimakan di masa depan nanti. Dalam kondisi seperti ini, pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik justru tidak melakukan upaya untuk melindungi lahan pertanian yang ada di Kecamatan Bungah. Namun dari pihak pemerintah malah memberikan bantuan kepada para petani yang sudah menjual lahan pertaniannya dengan bantuan sembako. Padahal sebelum petani menjual lahan pertaniannya, mereka tidak pernah mendapat bantuan berupa sembako dari Pemkab Gresik.

Dalam Peraturan daerah Kabupaten Gresik Nomor 8 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tahun 2010-20307 dijelaskan, bahwa untuk pembangunan yang ada di Kabupaten Gresik dengan memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lokasi untuk investasi pembangunan industri sendiri juga sudah ditentukan, agar keterpaduan pembangunan antar sektor dapat terwujud yang nantinya akan dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Namun realita yang ada di lapangan tidak demikian,

7 Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2011 Kabupaten Gresik tentang Rencana Tata Ruang wilayah.

(6)

6

banyak ruang terbuka hijau yang mulai didirikan pabrik, khususnya di wilayah Kecamatan Bungah. Dalam Perda No. 8 Tahun 2011 tidak terdapat program pembangunan industri di Kecamatan Bungah, program pembangunan industri diperuntukan di lokasi Kecamatan Manyar dan Panceng. Namun karena tanah yang ada adalah milik perseorangan, jadi terkait penjualan lahan juga menjadi hak perseorang dari pemilik tanah tersebut untuk menjual atau tidak. Hal tersebut juga dipicu dengan tingginya harga tanah yang ditawarkan oleh investor. Negara dalam hal ini tidak terlihat perannya terkait dengan penjualan lahan pertanian tersebut.

Selain itu juga negara memberikan izin kepada para investor untuk mendirikan industri di lahan petanian tersebut. Dari sini dapat dilihat bahwa negara mencoba menghegemoni masyarakat, agar mereka mau mematuhi semua keinginan dan dapat menginternalisasi nilai-nilai serta norma yang ada.

Menurut Anthoni Gramsci, seseorang yang dikuasai harus mematuhi penguasa, tidak hanya itu mereka juga harus menginternalisasi nilai-nilai (norma) dari sang penguasa dan juga harus memberi persetujuan. Inilah yang dimaksud oleh Gramsci sebagai hegemoni. Gramsci mendudukan hegemoni sebagai supremasi kelompok atas kelompok lainnya dalam bentuk kekuasaan. Melalui konsep ini Gramsci beragumentasi bahwa kekuasaan dapat abadi paling tidak membutuhkan dua cara yakni, memaksa pranata-pranata yang ada untuk tetap mendukung dan membujuk masyarakat beserta pranata-pranata untuk tetap taat pada mereka yang berkuasa.8

8 Nur Syam, Model Analisis Teori Sosial, (Surabaya: Putra Media Nusantara, 2009), 297.

(7)

7

Dapat diketahui bahwa implikasi perubahan fungsi lahan pertanian yang tidak terkendali dapat mengancam kapasitas penyediaan pangan, dan bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian sosial dan kemiskinan struktural secara berkepanjangan. Luas area lahan pertanian di Kecamatan Bungah dari tahun ke tahun mengalami penyusutan. Hal ini perlu mendapat perhatian secara serius, demi keberlangsungan pangan yang ada. Maka dari itu, perlu adanya penelitian secara lebih mendalam.

Relasi negara dan masyarakat dalam politik pangan merupakan hal yang menarik untuk diteliti karena dalam prakteknya negara banyak menghegemoni masyarakat untuk mendapatkan lahan pertanian. Berdasarkan realitas di atas, peneliti ingin mengetahui bentuk relasi yang terjadi antara pemerintah kabupaten Gresik dengan masyarakat petani di Kecamatan Bungah dalam politik pangan.

Oleh karena itu, peneliti mengambil penelitian skripsi dengan judul “Relasi Negara dan Masyarakat dalam Politik Agraria (Studi Kasus Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik).”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana problem peruntukan lahan pertanian di Kecamatan Bungah?

2. Bagaimana bentuk hegemoni negara dalam politik agraria di Kecamatan Bungah?

3. Bagaimana relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria di Kecamatan Bungah?

(8)

8

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian yang hendak dicapai sebagai berikut:

1. Menganalisis problem peruntukan lahan pertanian di Kecamatan Bungah.

2. Menganalisis tentang bentuk hegemoni negara dalam politik agraria di Kecamatan Bungah.

3. Menghasilkan deskripsi tentang relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria di Kecamatan Bungah.

D. Kegunaan Penelitian

1. Secara teoritis, tulisan ini dapat memberikan landasan berfikir baru dalam menanggapi segala permasalahan yang terkait dengan politik agraria. Isu-isu yang berkaitan dengan problem peruntukan lahan pertanian di Kecamatan Bungah dan mengetahui relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria di Kecamatan Bungah.

2. Secara praktis, manfaat tulisan ini dapat berimplikasi bagi pembaca khususnya:

a. Mahasiswa Prodi Politik Islam dapat mengetahui prolem peruntukan lahan pertanian sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan keilmuan dalam bidang akademis dan mengetahui bentuk relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria di Kecamatan Bungah. Dan juga mengetahui bentuk hegemoni negara dalam politik agraria di Kecamatan Bungah.

(9)

9

b. Pembaca pada umumnya dapat digunakan sebagai bahan analisa dan wacana untuk mengetahui relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria, sehingga dapat mengetahui secara mendalam problem peruntukan lahan pertanian dan bentuk hegemoni negara dalam politik agraria di Kecamatan Bungah.

E. Penelitian Terdahulu

Untuk menjadi bahan kajian dalam penelitian skripsi ini peneliti menggunakan buku-buku, artikel-artikel atau catatan tertulis lainnya yang berkaitan dengan penelitian judul skripsi. Selain itu, peneliti manjadikan buku- buku karya asli petani dan penguasa sebagai rujukan untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran sehingga mendapat sumber bacaan yang otentik.

Buku karya Mustain yang berjudul “Petani vs Negara (Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara)” (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007)9 yang mengkaji tentang perilaku resistensi petani kepada negara sebagai bentuk ketidakpuasan petani karena tidak terjaminnya kehidupan yang ada. Resistensi dilakukan karena mereka beranggapan bahwa semua kebijakan yang dibuat oleh negara hanya untuk menghegemonik dan tidak pernah menguntungkan petani kecil.

Selanjutnya, buku karya Noer fauzi yang berjudul: “Petani dan Penguasa (Dinamika PerjalananPolitik Agraria Indonesia)” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

9 Mustain, Petani vs Negara (Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara), (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 5.

(10)

10

1999)10 yang mengkaji tentang nasib petani dalam skenario politik agraria sepanjang zaman sejarah yang berubah, mulai dari zaman feodalisme sampai pada reformasi dewasa ini. Selain itu juga berisi tentang dinamika nasib petani dari zaman ke zaman dengan banyaknya praktik politik agraria kapitalis yang dilakukan oleh pemerintah.

Selain itu, skripsi yang ditulis oleh Fransiskus X. Gian Tue Mali pada tahun 2015 yang dituangkan dalam bentuk jurnal yang berjudul “Negara vs Masyarakat: Konflik Tanah di Kabupaten Naggeko Nusa Tenggara Timur”.11 Skripsi ini meneliti tentang ini konflik lahan yang terjadi di Kabupaten Nageko yang terjadi karena kesalahan pengaturan dalam kepemilikan lahan. Dalam pelaksanaannya banyak menyimpang dari Undang-undang dan Peraturan Presiden. Selain itu juga pengadaan tanah yang ada banyak digunakan untuk kepentingan umum dan juga terdapat kepentingan pribadi di dalamnya, sehingga menyebabkan munculnya banyak konflik. Akibatnya hubungan yang terjalin antara masyarakat dan negara di Kabupaten Nagekeo menjadi tidak singkron karena banyaknya kepentingan pribadi yang diwujudkan, daripada kepentimgan umum.

Skripsi yang ditulis oleh Muhamad Dika Yudhistira pada tahun 2013 yang berjudul “Analisis Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Bekasi Jawa Barat (Studi Kasus Desa Sriamur Kecamatan

10 Noer fauzi, Petani dan Penguasa (Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), v.

11 Fransiskus X. Gian Tue Mali, “Negara vs Masyarakat: Konflik Tanah di Kabupaten Naggeko Nusa Tenggara Timur” Jurnal Kajian Politik dan Masalah Pembangunan, Vol.

11 No. 2 (Desember, 2015), 1657.

(11)

11

Tambun Utara)”.12 Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa pola alih fungsi lahan pertanian yang terjadi diawali dengan alih kekuasaan lahan dari petani kepada pihak lain. Petani menjual lahan pertanian kepada para investor dan kemudian dialihfungsikan menjadi pemukiman atau industri. Adapun yanag menjadi faktor utama banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi karena kepemilikan lahan dari petani yang dijual kepada para invesrtor. Adapun latar belakang penjualan tersebut karena jumlah tanggungan petani lebih tinggi daripada proporsi pendapatan usaha tani.

Selain itu juga terdapat skripsi yang ditulis Amrisal pada tahun 2013 yang dituangkan dalam sebuah jurnal berjudul “Tahapan Konflik Agraria antara Masyarakat dengan Pamerintah Daerah (Studi: Konflik Masyarakat Nagari Abai dengan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan Mengenai Hak Guna Usaha PT.

Ranah Andalas Plantation)”13. Dalam penelitian ini membahas tentang adanya kepincangan diantara pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah setempat menyerahkan tanah masyarakat kepada pihak investor agara terjalin kerjasama antara pemerintah dengan pemilik modal. Namun hal ini mendapat penolakan dari masyarakat karean kerjasama investasi yang dilakukan tidak memiliki kesepakatan yang jelas. Dalam kerjasama tersebut investor hanya memberikan ganti rugi tanah masyarakat yang digunakan. Masyarakat mencoba untuk

12 Muhamad Dika Yudhistira, Analisis Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Bekasi Jawa Barat (Studi Kasus Desa Sriamur Kecamatan Tambun Utara), (Skripsi: Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor), 2013.

13 Amrisal, Tahapan Konflik Agraria antara Masyarakat dengan Pamerintah Daerah (Studi: Konflik Masyarakat Nagari Abai dengan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan Mengenai Hak Guna Usaha PT. Ranah Andalas Plantation), (Skripsi: Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas Padang), 2013.

(12)

12

menunntut pemerintah agar tidak memberikan izin kepada para investor untuk mendirikan perusahaan didekat pemukiman warga karena akan berdampak pada lingkungan. Namun pemerintah malah memberikan perizinan kepada investor untuk memperoleh hak atas tanah dan membiarkan masyarakat kehilangan tanah mereka.

Dari beberapa penelitian terdahulu yang telah disebutkan sebelumnya, pembahasan yang ada hanya terkait masalah konflik lahan dan tidak menyentuh ke arah politik agraria secara menyeluruh. Misal penelitian yang dilakukan oleh Fransiscus, yang membahas negara vs masyarakat yang mana di dalam pembahasannya hanya melihat bahwa terdapat kesalahan pengaturan penggunaan tanah yang banyak menyimpang dari undang-undang yang berlaku. Penyebab banyaknya penyimpngan tersebut karena kepentingan yang ada. Sayangnya, dalam penelitian itu tidak menyentuh bagaimana dan seperti apa seharusnya sikap pemerintah dalam mempertahankan tanah yang ada.

Penelitian ini membahas lebih mendalam tentang masalah agraria khususnya masalah tanah dengan melihat beberapa poin yang penting dalam agaria, yakni politik agaria. Bagaimana politik agaria menjadi hal yang paling dominan dalam ketersediaan dan ketercukupan pangan. Penelitian ini juga mengkaitkanrelasi antara negara dan masyarakat dalam politik agaria, bagaimana hubungan antara keduanya harus terjalin demi terealisasinya program politik agaria. Sehingga dalam penelitian ini akan mendapatkan proses analisis yang berbeda dan akan mendapatkan kesimpulan yang berbeda. Maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini adalah penelitian yang baru, dan belum pernah

(13)

13

dilakukan. Karena memakai alat analisis yang berbeda dan memberikan sebuah jawaban, dan kesimpulan yang berbeda.

F. METODE PENELITIAN

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria (studi kasus alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik). Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) sesuai dengan obyek yang dipilih sebagai deskripsi komunitas secara langsung (data sebenarnya) di lapangan.14 Penelitian yang berjenis penelitian lapangan ini dengan memaparkan serta mengkaji sumber-sumber data yang terdiri dari literatur-literatur ataupun referensi-referensi yang berkaitan dengan judul penelitian, di samping itu juga lewat tanya-jawab dengan informan.

Metode penelitian kualitatif dipilih karena metode ini memiliki varian yang beragam untuk menganalisis secara mendalam masalah yang terjadi, agar dapat melihat kenyataan-kenyataan yang ada pada obyek penelitian sehingga dapat menjelaskan kenyataan tersebut secara ilmiah. Metode sangat penting

14 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2007), 81.

(14)

14

dalam sebuah penelitian sebab tujuan utama penelitian adalah untuk memecahkan masalah. 15

Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuh harus relevan dengan masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian yang digunakan. Metode penelitian tersebut terdiri atas: lokasi penelitian, tipe penelitian dan dasar penelitian, sumber data, teknik pengmpulan data, teknik pemilihan informan, dan metode analisis data. Metode ini sangat berguna dalam penelitian kualitatif untuk mendapatkan variasi permasalahan karena berkaitan dengan tingkah laku manusia (perilaku).

Metode kualitatif dalam penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk deskripsi. Dalam penelitian ini dilakukan deskripsi untuk mendapatkan informasi yang mendalam. Laporan penelitian ini disusun dalam bentuk narasi bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik secara otentik.16 Dengan demikian, fokus analisis penelitian ini adalah relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria di Kecamatan Bungah.

Selain itu, penggunaan metode kualitatif juga sebagai cara peneliti untuk berfikir secara induktif, yaitu peneliti menangkap berbagai fakta atau fenomena-fenomena sosial melalui pengamatan di lapangan, kemudian menganalisanya dan berupaya melakukan penarikan kesimpulan berdasarkan apa yang diamati. Penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berwujud

15 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-Format Kuantitatif dan Kualitatif (Surabaya: Airlangga University Press, 2001), 17.

16 Tim Penyusun, Pedoman Penelitian Karya Ilmiah (Kediri: STAIN Kediri, 2007), 3.

(15)

15

kata-kata tertulis atau lisandari orang dan perilaku yang diamati (observable).17

Jadi diharapkan dengan metode penelitian ini, peneliti akan mudah untuk menggambarkan hasil penelitian. Selain itu dengan pendekatan kualitatif, peneliti mendapatkan data berupa hasil wawancara dengan narasumber yang sudah ditentukan untuk dikelola, di mana peneliti tetap kritis terhadap data yang didapatkan.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian mengambil lokasi di Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Lokasi penelitian itu dipilih karena dari daerah tersebut banyak memiliki lahan pertanian dan sekarang beberapa lahan sudah beralih fungsi menjadi pabrik. Jumlah lahan pertanian ditiap tahunnya mengalami penyusutan dan mengakibatkan produksi padi menurun. Sedangkan waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 sampai pada bulan Januari 2017. Waktu pelaksanaan tersebut dilakukan berdasarakan surat izin penelitian yang diberikan oleh Bapeda (Badan Pemerintahan Daerah) Kabupaten Gresik.

17 Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 5.

(16)

16

3. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:

a. Sumber Primer

Sumber primer merupakan sumber data utama (sumber data orang pertama) dan kebutuah mendasar dari penelitian ini. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara dengan informan saat terjun langsung kelapangan tempat penelitian. Informan adalah sumber utama dalam penelitian. Informan dipilih berdasarkan kebutuhan, serta berkaitan dengan tema penelitian.18

Kriteria sumber data primer adalah orang yang berpengaruh (pemerintah) dan mampu mengeksplor data-data yang mendukung judul skripsi ini serta masyarakat yang menjual lahan pertanian untuk menyamakan persepsi dengan pemerintah. Selanjutnya untuk lebih menguatkan data, maka peneliti menambahkan lagi masyarakat petani sebagai narasumber. Alasan memilih sumber primer karena membutuhkan informan untuk data-data skripsi sesuai judul tersebut agar data-data yang di dapat menjadi valid.

b. Sumber Sekunder

Sumber data sekunder diperoleh dari hal-hal yang berkaitan dengan politik pangan, antara lain berasal dari buku, jurnal, artikel, majalah online, dan browsing di internet.

18 Ibid., 7.

(17)

17

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yakni membicarakan tentang bagaimana cara mengumpulkan data. Penelitian ini menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data antara lain sebagai berikut:

Pertama, tahapan participant observation (observasi). Metode

observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan pengamatan menggunakan panca indera. Marshall menyatakan bahwa,

“Through observation, the researcher learn about behavior and the meaning attached to those behavior”. Melalui observasi, peneliti belajar tentang

perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.19 Adapun observasi yang dilakukan peneliti termasuk dalam jenis observasi non-partisipatif. Dalam metode ini, peneliti tidak hanya mengamati obyek studi tetapi juga mencatat hal-gal yang terdapat pada obyek tersebut. Selain itu metode ini peneliti gunakan untuk mendapatkan data tentang situasi dan kondisi secara universal dari obyek penelitian, yaitu letak geografis atau lokasi penelitian.

Kedua, tahapan wawancara. Wawancara atau interview adalah sebuah

dialog yang dilakukan secara mendalam (in-depth interview) oleh pewawancara untuk memperoleh keterangan atau informasi dari terwawancara.20 Adapun wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara terbuka. Wawancara terbuka adalah suatu metode wawancara yang para subjeknya mengetahui bahwa mereka sedang diwawancarai, serta

19 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan…, 82.

20 Fadjrul Hakam Chozin, Cara Mudah Menulis Karya Ilmiah (Tropodo: Alpha, 1997), 64.

(18)

18

mengetahui pula maksud dan tujuan wawancara yang peneliti lakukan. Dalam wawancara terbuka, peneliti melakukan in-depth interview.

5. Teknik Pemilihan Informan

Informan penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan

pertimbangan tertentu.21 Sehingga dalam menentukan informan penelitian, peneliti memilih berdasarkan beberapa pertimbangan atas kedudukannya dalam negara. Dari sini peneliti menentukan informan berdasarkan sumber- sumber berikut:

Pertama, dari unsur negara yakni badan legislatif yakni Anggota

DPRD Kabupaten Gresik Komisi C dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Bungah, Ketua Seksi Ketersediaan Pangan Kabupaten Gresik, dan dua orang Kepala Desa yang berada diwilayah Kecamatan Bungah pesisir utara. Adapun Kepala Desa yang menjadi informan dibagi menjadi dua yakni Kepala Desa yang berada di wilayah penjualan lahan dan yang bersangkutan dalam penjualan lahan. Kedua, masyarakat petani Kecamatan Bungah yang terkena dampak penjualan lahan. Masyarakat petani dalam hal ini dibagi menjadi tiga yakni, masyarakat petani yang memiliki lahan dan bekerja sebagai petani, masyarakat petani yang memiliki lahan dan tidak bekerja

21 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan…, 85.

(19)

19

sebagai petani, dan masyarakat petani yang tidak memiliki lahan dan bekerja sebagai petani.

6. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.22 Model analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah model interaktif. Model inilah yang kemudian dipakai untuk menganalisa data-data yang diperoleh di lapangan. Model interaktif terdiri dari tiga hal utama, yaitu; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Ketiga kegiatan tersebut adalah kegiatan sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk sejajar untuk membangun wawasan umum yang disebut analisis.23 Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model analisis data kualitatif tersebut sebagai berikut:

a. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses pemilih, pemfokusan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakkan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis dari lapangan (field notes). Reduksi

22 Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif..., 18.

23 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif (Jakarta: Erlangga, 2011), 39.

(20)

20

data berlangsung terus-menerus selama penelitian berlangsung. Peneliti menyeleksi setiap data yang didapatkan di lapangan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang telah dan sedang dilakukan. Seleksi data dilakukan atas dasar data yang didapat sesuai dengan pokok penelitian yang diteliti. Kemudian peneliti meringkas data yang telah diseleksi dengan uraian yang singkat agar mudah dipahami. Dengan demikian, proses reduksi data bertujuan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang bagian data yang tidak diperlukan, serta mengorganisasi data sehingga memudahkan penarikan kesimpulan, kemudian dilanjutkan dengan proses verifikasi. Misalnya data seperti problem peruntukan lahan pertanian dan respon negara terkait kurangnya lahan pertanian. Peneliti mencari data kepada informan terkait dengan tema di atas, kemudian menyeleksi dat yang diperoleh tersebut sesuai dengan kebutuhan penelitian.

b. Penyajian Data

Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam penyajian data, peneliti akan lebih mudah memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Artinya, setelah proses reduksi selesai dilakukan, peneliti menyajikan data secara terstruktur.

Misalnya data disusun sesuai dengan rumusan masalah di atas. Seperti data peruntukan lahan pertanian dan masyarakat petani.

(21)

21

c. Verifikasi atau Penarikan Kesimpulan

Upaya penarikan kesimpulan dilakukan peneliti secara terus- menerus selama berada di lapangan. Peneliti menginterpretasi data yang telah tersaji, kemudian merumuskan pola dan tema, melihat data dan mencoba mereduksinya kembali, sehingga proses ini merupakan proses yang interaktif. Proses verifikasi hasil temuan dilakukan secara selintas dengan mengingat hasil temuan-temuan terdahulu dan melakukan cek silang (cross check) dengan temuan lainnya. Dengan melakukan verifikasi, peneliti dapat mempertahankan dan menjamin validitas dan reliabilitas hasil temuan. Selain itu, peneliti menanyakan kembali kepada narasumber terkait dengan hasil wawancara.

G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Guna mempermudah dalam memahami penelitian skripsi ini, sistematika pembahasan penelitian ini terdiri dari beberapa komponen yang sistematis terbagi menjadi lima bab masing-masing terdiri dari sub bab yang saling berkaitan satu sama lain. Kerangka penelitiannya sebagai berikut:

Bab pertama, pendahuluan yang merupakan gambaran umum dan pengantar pembahasan terdiri atas, latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua, merupakan kerangka konseptual berisi tentang agraria meliputi makna agraria, pertanian dan lahan pertanian, Alih Fungsi Lahan Pertanian, pola

(22)

22

dan karakteristik alih fungsi lahan, faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian, dan politik agraria. Selain itu juga di bab ini juga menerangkan teori yang digunakan yakni teori hegemony Anthony Gramsci

Bab ketiga, merupakan paparan data dan temuan data penelitian yang berisi tentang gambaran umum lokasi penelitian yang meliputi letak geografis, jumlah penduduk, kondisi ekonomi, kondisi sosial dan keagamaan, kondisi kesehatan, badan susunan organisasi Kecamatan Bungah. Sedangkan penyajian data berisi tentang kondisi lahan pertanian, dan dampak sosial ekonomi alih fungsi lahan pertanian menjadi industri.

Bab keempat, tentang problem peruntukan lahan pertanian di Kecamatan Bungah, bentuk hegemoni negara dalam politik agraria di Kecamatan Bungah, dan relasi negara dan masyarakat dalam politik agraria di Kecamatan Bungah.

Bab kelima, merupakan penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran atau rekomendasi hasil penelitian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di